Anda di halaman 1dari 52

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Nyeri kepala adalah rasa nyeri atau tidak nyaman dibagian atas (superior) kepala yang kadang dapat menyebar ke wajah, gigi, rahang, kuduk dan leher. Nyeri kepala primer adalah nyeri kepala yang tidak jelas terdapat kelainan anatomi atau kelainan struktur atau sejenisnya. Pada jenis ini terjadi perubahan sistem saraf pembuluh darah di otak yang disebabkan berbagai macam faktor. Misalnya perubahan hormonal (terutama siklus hormonal), zatzat kimia dari makanan tertentu, gangguan emosi, gangguan siklus tidur, dan rangsangan cahaya atau bau-bauan tertentu. Nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala yang jelas terdapat kelainan anatomi atau kelainan struktur atau sejenisnya dan bersifat kronis progresif, antara lain meliputi kelainan non vaskuler. B. Klasifikasi Nyeri kepala primer dibagi menjadi: 1. Migren 1.1 Migren tanpa aura Deskripsi: Nyeri kepala berulang dengan manifestasi serangan selama 4-72 jam. Karakteristik nyeri kepala unilateral, berdenyut, intensitas sedang atau berat, bertambah berat dengan aktivitas fisik yang rutin dan diikuti dengan nausea dan/atau fotofobia dan fonofobia. Kriteria diagnostik:

A. Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan yang memenuhi kriteria B-D B. Serangan nyeri kepala berlangsung selama 4-72 jam (tidak diobati atau tidak berhasil diobati) C. Nyeri kepala mempunyai sedikitnya dua diantara karakteristik berikut: 1. Lokasi unilateral 2. Kualitas berdenyut 3. Intensitas nyeri sedang atau berat 4. Keadaan bertambah berat oleh aktivitas fisik atau penderita menghindari aktivitas fisik rutin (seperti berjalan atau naik tangga) D. Selama nyeri kepala disertai salah satu dibawah ini: 1. Nausea dan/atau muntah 2. Fotofobia dan fonofobia E. Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain 1.2 Migren dengan aura Deskripsi: Nyeri kepala berulang di mana didahului gejala neurologi fokal yang reversibel secara bertahap 5-20 menit dan berlangsung kurang dari 60 menit. Gambaran nyeri kepala yang menyerupai migren tanpa aura biasanya timbul sesudah gejala aura.

Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya terjadi 2 serangan yang memenuhi kriteria B B. Migren dengan aura yang memenuhi kriteria b dan c satu diantara 2.1.2.1-2.1.2.6 C. Tidak berkaitan dengan kelainan lain 1.2.1 Migren dengan aura tipikal Deskripsi: Aura tipikal terdiri dari gejala visual dan/atau sensoris dan/atau berbahasa. Yang berkembang secara bertahap, durasi tidak boleh lebih dari 1 jam, bercampur gambaran positif dan negatif, kemudian menghilang sempurna yang memnuhi kriteria 1.1 dari migren tanpa aura Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya terjadi 2 serangan yang memenuhi kriteria B-D B. Adanya aura yang terdiri paling sedikit satu dari di bawah ini tetapi tidak dijumpai kelemahan motorik: 1. Gangguan visual yang reversibel seperti: positif (cahaya yang berkedip-kedip, bintik-bintik, atau garis-garis) dan negatif (hilangnya penglihatan) 2. Gangguan sensoris yang reversibel termasuk positif (pins and needles), dan/atau negatif (hilang

rasa/kebas)

3.

Gangguan sempurna

berbicara

disfasia

yang

reversibel

C. Paling sedikit dua dari dibawah ini: 1. Gejala visual homonim dan/atau gejala sensoris unilateral 2. Paling tidak timbul satu macam aura setelah gradual 5 menit dan/atau jenis aura yang lainnya 5 menit 3. Masing-masing gejala berlangsung 5 dan 60 menit D. Nyeri kepala memenuhi kriteria b-d 1.1 migren tanpa aura dimulai bersamaan dengan aura atau sesudah aura selama 60 menit E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain 1.2.2 Nyeri kepala non migren dengan aura tipikal Deskripsi: Aura berisikan gangguan visual dan/atau gangguan sensoris dan/atau gangguan bicara. Perkembangan gradual durasi tidak melebihi 1 jam, bercampur dengan gambaran positif dan negatif dan berisikan semua dari karakteristik dengan aura yang tidak memenuhi syarat migren tanpa aura Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya serangan yang memenuhi kriteria B-D

B. Adanya aura yang berisikan paling sedikit satu dari dibawah ini tetapi tidak dijumpai kelemahan motorik: 1. Gangguan visual yang berulang seperti: positif (cahaya yang berkedip-kedip, bintik-bintik, garisgaris) dan negatif (hilangnya penglihatan) 2. Gangguan sensoris termasuk positif (pins and needles), dan/atau negatif (hilang rasa) 3. Gangguan bicara disafasia

C. Paling sedikit dua dari dibawah ini: 1. Gejala visual homonim dan/atau gejala sensoris unilateral 2. Paling sedikit 1 gejala aura timbul secara gradual 5 menit dan/atau gejala aura yang lainnya terdapat 5 menit 3. Setiap gejala berlangsung 5 dan 60 menit

D. Nyeri kepala yang tidak memenuhi kriteria b-d pada 1.1 migren tanpa aura yang dimulai selama aura atau diikuti aura selama 60 menit E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain 1.2.3 Aura tipikal tanpa nyeri kepala Deskripsi: Aura yang tipikal berupa gangguan visual dan/atau sensorik dengan atau tanpa gangguan bicara. Timbul secara gradual, durasi tidak melebihi dari 1 jam, campuran gambaran positif

dan negatif dan akan pulih secara reversibel sempurna dan tidak berhubungan dengan nyeri kepala. Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya 2 serangan yang memenuhi kriteria B-D B. Adanya aura paling sedikit satu dari di bawah ini dan tidak dijumpai kelemahan motorik: 1. Gangguan visual yang reversibel seperti: positif

(cahaya yang berkedip-kedip, bintik-bintik, atau garis-garis) dan/atau negatif (hilangnya penglihatan) 2. Gangguan sensoris yang reversibel seperti: positif (pins and needles), dan/atau negatif (hilangnya rasa/numbness/kebas) C. Paling sedikit dua dari dibawah ini: 1. Gejala visual homonim dan/atau gejala unilateral sensoris 2. Paling tidak ada satu gejala aura yang timbul secara gradual 5 menit dan/atau aura yang lainnya 5 menit 3. Setiap gejala berlangsung 5 dan 60 menit

D. Tidak didapati nyeri kepala selama aura atau sesudah timbulnya aura dalam waktu 60 menit E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain

1.2.4 Familial hemiplegik migren (FHM) Deskripsi: Migren dengan aura termasuk kelemahan motorik dan paling tidak ada satu keturunan pertama atau kedua dari keluarga menderita migren dengan aura termasuk kelemahan motorik. Kriteria diagnosis: A. Sekurang-kurangnya serangan yang memenuhi kriteria B dan C B. Adanya aura kelemahan motorik yang reversibel disertai paling sedikit satu dari dibawah ini: 1. Gejala visual yang reversibel sempurna berupa gejala: positif (cahaya yang berkedip-kedip, bintikbintik, atau garis-garis) dan/atau negatif (hilangnya penglihatan) 2. Gejala sensoris yang reversibel berupa gejala: positif (pins and needles), dan/atau negatif (hilangnya rasa/numbness/kebas) 3. Gangguan bicara disfasia yang reversibel

C. Paling sedikit dua dari dibawah ini: 1. Paling tidak ada satu gejala aura yang timbul secara gradual 5 menit dan/atau aura yang lainnya 5 menit 2. Setiap gejala berlangsung 5 dan < 24 jam

3.

Nyeri kepala yang memenuhi kriteria B-D pada 1.1 migren tanpa aura dimulai selama aura atau sesudah onset aura selama 60 menit

D. Paling tidak ada satu dari keluarga keturunan pertama atau kedua yang menderita serangan yang memenuhi kriteria A-E E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain. 1.2.5 Sporadik hemiplegik migren Deskripsi: Migren dengan aura termasuk kelemahan motoric tetapi tidak terdapat keluarga pada keturunan pertama atau kedua yang mempunyai aura termasuk juga kelemahan motorik. Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya 2 serangan yang memenuhi kriteria B dan C B. Adanya aura yang terdiri atas kelemahan motorik yang reversibel sempurna dan disertai paling tidak satu di bawah ini: 1. Gejala visual yang reversibel sempurna seperti: positif (cahaya yang berkedip-kedip, bintik-bintik, atau garis-garis) dan/atau negatif (hilangnya

penglihatan)

2.

Gejala sensoris yang reversibel sempurna termasuk positif: (pins and needles), dan/atau negatif (hilang rasa)

3. 1.2.6

Gangguan bicara disfasia yang reversibel sempurna.

Migren tipe basiler Deskripsi: Migren dengan aura yang berasal dari keterlibatan brain stem dan/atau keterlibatan kedua hemisfer secara simultan tetapi tidak dijumpainya kelemahan motorik. Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya 2 serangan yang memenuhi kriteria B-D B. Dijumpainya paling tidak 2 serangan aura yang reversibel sempurna tanpa ada kelemahan motorik: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Disatria Vertigo Tinitus Hypacusia Diplopia Gejala visual yang simultan kedua lapang pandang temporal dan nasal dari kedua mata. 7. 8. 9. Ataksia Kesadaran menurun Parestesis bilateral simultan

C. Paling sedikit satu dari dibawah ini: 1. Paling tidak satu gejala aura yang timbul secara gradual > 5 menit dan/atau gejala aura lain yang terjadi lebih dari 5 menit 2. Tiap gejala aura berlangsung > 5 menit dan < 60 menit D. Nyeri kepala yang memenuhi kriteria B-D pada 1.1 migren tanpa aura timbul pada waktu bersamaan dengan aura ataupun sesudah onset aura dalam waktu 60 menit E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain. 1.3 Sindroma periodik pada anak yang sering menjadi prekursor migren 1.3.1 Cyclical vomiting Deskripsi: Cyclical vomiting adalah suatu serangan episodik yang berulang, biasanya stereotipik pada pasien secara individual berupa muntah & mual terus menerus. Serangan-serangan tersebut disertai pucat dan lethargi. Diantara seranganserangan didapatkan resolusi gejala yang lengkap. Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan yang memenuhi kriteria B & C B. Serangan episodik, stereotipik pada seseorang berupa mual terus menerus, muntah berlangsung dari 1 jam sampai 5 hari

C. Muntah selama serangan terjadi sekurang-kurangnya 4 kali/jam paling tidak selama 1 jam D. Diantara serangan-serangan tidak terdapat gejala E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain 1.3.2 Migren abdominal Deskripsi: Suatu gangguan idiopatik dan berulang terutama pada anakanak yang ditandai dengan nyeri abdomen bagian tengah, dan manifestasi serangan-serangan berlangsung antara 1-72 jam dengan keadaan normal diantara episode-episode. Intensitas nyeri sedang sampai berat disertai gejala-gejala vasomotor, mual dan muntah. Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya serangan memnuhi kriteria B-D B. Serangan nyeri abdominal berlangsung antara 1-72 jam (tanpa terapi/gagal terapi) C. Nyeri abdominal mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1. 2. 3. Lokasi midline, periumbilikal, atau poorly localized Nyeri tumpul Intensitas sedang sampai berat

D. Selama nyeri abdominal sekurang-kurangnya ada 2 gejala yang menyertai berikut: 1. Anoreksia

2. 3. 4.

Nausea Muntah Pucat

E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain. 1.3.3 Benigna paroksismal vertigo pada anak Deskripsi: Suatu gangguan heterogen dengan karakteristik serangan vertigo episodik rekuren yang terjadi tanpa ada peringatan dan biasanya membaik secara spontan Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya 5 kali serangan yang memenuhi kriteria B B. Episode multipel dan vertigo yang berat, terjadi tanpa peringatan dan membaik spontan setelah beberapa menit sampai beberapa jam C. Pada pemeriksaan neurologis, audiometri dan fungsi vestibular normal selama serangan D. EEG normal 1.4 Migren Retinal Deskripsi: Serangan berulang dari gangguan visual monokuler termasuk skintilasi skotoma atau kebutaan pada serangan migren. Kriteria diagnostik: A. Sekurang-kurangnya 2 serangan memenuhi kriteria B dan C

B. Fenomena visual positif dan/negatif monokuler yang reversibel penuh (misalnya skintilasi, skotoma dan kebutaan) dikonfirmasi dengan pemeriksaan sesuai gambaran pasien dari gangguan lapang pandang monokuler selama serangan C. Nyeri kepala memenuhi kriteria B-D untuk 1.1 migren tanpa aura berlangsungnya tak lebih dari 60 menit D. Pemeriksaan oftalmologi normal diantara serangan E. Nyeri kepala dan gejala visual monokuler tidak berkaitan dengan kelainan lain. 1.5 Komplikasi migren 1.5.1 Migren klonik Deskripsi: Nyeri kepala yang berlangsung 15 hari dengan paling tidak ada 8 hari serangan migren atau probable migraine dalam satu bulan selama lebih dari 3 bulan dan tidak adanya riwayat penggunaan obat berlebihan. Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala (tension type headache and/or migraine) dalam > 15 hari per bulannya, dan berlangsung lebih dari 3 bulan. B. Didapati pada pasien yang mendapat > 5 serangan yang memenuhi kriteria 1.1 migren tanpa aura. 1. Mempunyai gejala paling tidak 2 dari 4 dibawah ini: a. Lokasi unilateral

b. Berdenyut c. Intensitas nyeri sedang-berat d. Bertambah berat apabila melakukan aktivitas fisik rutin seperti berjalan atau naik tangga 2. Mempunyai gejala paling tidak 1 dari 2 dibawah ini: a. Mual dan/atau muntah b. Fotofobia dan fonofobia C. Didapati perbaikan apabila diberi obat triptan atau ergot pada saat serebelum, yang diduga akan timbul gejala B.1 tersebut diatas D. Tidakada penggunaan obat berlebihan dan tidak

berkaitan dengan penyebab gangguan lain. 1.5.2 Status Migrenous Deskripsi: Suatu serangan migren berat yang berlangsung > 7 jam. Karakteristik diagnostik: A. Adanya serangan pada pasien 1.1 migren tanpa aura yang khas seperti serangan sebelumnya kecuali lama

serangannya B. Gambaran nyeri kepala adalah 2 hal berikut ini: 1. 2. Tidak hilang > 72 jam Intensitas berat

C. Tidak berkaitan dengan gangguan lain

1.5.3 Aura persisten tanpa infark Deskripsi: Tanda aura yang persisten lebih dari 1 minggu tanpa adanya gambaran infark pada pemeriksaan radiologis. Gejala aura dapat berupa gejala motorik, sensorik, atau visual. Kriteria diagnostik: A. Adanya serangan pada pasien 1.2 migren dengan aura yang khas seperti serangan sebelumya kecuali satu atau lebih tanda-tanda aura yang berlangsung selama > 1 minggu. B. Tidak berkaitan dengan gangguan lain. 1.5.4 Migrenous infark Deskripsi: Satu atau lebih tanda-tanda aura migren sehubungan dengan lesi iskemia otak pada teritori yang sesuai, dibuktikan dengan pemeriksaan neuroimaging. Kriteria diagnostik: A. Adanya serangan pada pasien migren dengan aura yang khas seperti serangan sebelumnya kecuali satu atau lebih tanda-tanda aura yang menetap lebih dari 60 menit. B. Pemeriksaan neuroimaging menunjukkan infark iskemia dengan area yang sesuai. C. Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain.

1.5.5

Migraine-triggered seizure Deskripsi: Suatu bangkitan yang dicetuskan oleh migren aura Kriteria diagnostik: A. Migren yang memenuhi kriteria 1.2 migren dengan aura B. Suatu bangkitan yang memenuhi kriteria diagnostik untuk satu tipe serangan epilepsi yang terjadi selama/dalam 1 jam sesudah suatu aura migren.

1.6

Probable migren 1.6.1 Probable migren tanpa aura Kriteria diagnostik: A. Serangan nyeri kepala memenuhi semua kriteria A s/d D dari migren tanpa aura, kecuali ada salah satu yang tidak sama. B. Tidak ada berkaitan dengan kelainan lainnya. 1.6.2 Probable migren dengan aura Kriteria diagnostik: A. Serangan nyeri kepala memenuhi semua kriteria A-D dari migren dengan aura ataupun jenis-jenis dibawahnya, kecuali ada salah satu yang tidak sama. B. Tidak ada berkaitan dengan kelainan lainnya.

1.6.3 Probable migren kronik Kriteria diagnostik: A. Serangan nyeri kepala memenuhi semua kriteria C dan D dari migren tanpa aura dalam waktu > 15 hari/bulannya dan lebih dari 3 bulan. B. Tidak ada berkaitan dengan kelainan leinnya yang terdaftar dalam grup 5-12 , meskipun pada penderita didapati pemakaian obat berlebihan dalam 2 bulan terakhir ini. 2. Tension Type Headache (TTH) 2.1 Tension Type Headache episodik yang infrequent Deskripsi: Nyeri kepala episodik yang infrequent berlangsing beberapa menit sampai beberapa hari. Nyeri bilateral, rasa menekan atau mengikat dengan intensitas ringan sampai sedang. Nyeri tidak bertambah pada aktivitas fisik rutin, tidak didapatkan mual tapi bisa ada fotofobia atau fonofobia. Kriteria diagnostik: A. Paling tidak terdapat 10 episode serangan dengan rata-rata < 1 hari/bulan (< 12 hari/tahun), dan memenuhi kriteria B-D. B. Nyeri kepala berlangsung dari 30 menit sampai 7 hari. C. Nyeri kepala paling tidak terdapat gejala khas: 1. Lokasi bilateral 2. Menekan/mengikat (tidak berdenyut)

3. Intensitasnya ringan atau sedang 4. Tidak diperberat oleh aktivitas rutin seperti berjalan atau naik tangga. D. Tidak didapatkan: 1. Mual atau muntah (bisa anoreksia) 2. Lebih dari 1 keluhan: fotofobia atau fonofobia E. Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain (dalam grup 5-12). 2.1.1 Tension Type Headache episodik yang infrequent

berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteia diagnostik: A. Memenuhi kriteria A-E dari 2.1 B. Nyeri tekan perikranial meningkat pada palpasi manual. 2.1.2 Tension Type Headache episodik yang infrequent tidak berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria diagnostik: A. Memenuhi kriteria A-E dari 2.1 B. Nyeri tekan perikranial tidak meningkat. 2.2 Tension Type Headache Episodik yang Frequent Deskripsi : Nyeri kepala berlangsung beberapa menit sampai beberapa hari. Nyeri kepala bilateral menekan atau mengikat, tidak berdenyut. Intensitas ringan atau sedang, tidak bertambah berat dengan aktivitas fisik rutin, tidak ada mual/muntah, tetapi mungkin terdapat fotofobia/fonofobia.

Kriteria diagnostik : A. Paling tidak terdapat 10 episode serangan dalam 1-15 hari/bulan selama paling tidak 3 bulan (12-180 hari/tahun) dan memenuhi kriteria B-D. B. Nyeri kepala berlangsung selama 30 menit sampai 7 hari C. Nyeri kepala yang memiliki paling tidak 2 dari karakteristik, berikut : 1. Lokasinya bilateral 2. Menekan/mengikat (tidak berdenyut) 3. Intensitas ringan atau sedang 4. Tidak bertambah berat dengan aktivitas fisik yang rutin seperti berjalan atau naik tangga D. Tidak didapatkan : 1. Mual atau muntah (bisa anoreksia) 2. Fotofobia dan fonofobia secara bersamaan E. Tidak berkaitan dengan penyakit lain (dalam group 5-12). 2.2.1 Tension Type Headache episodik yang frequent berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria diagnostik: A. Termasuk dalam kriteria A-E dari 2.2 Tension Type Headache apisodik yang frequent B. Meningkatnya nyeri tekan perikranial pada palpasi normal.

2.2.2 Tension Type Headache episodik yang frequent tidak berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria diagnostik: A. Termasuk dalam kriteria A-E dari 2.2 Tension Type Headache episodik yang frequent B. Nyeri tekan perikranial tidak meningkat. 2.3 Tension Type Headache Kronik Deskripsi: Nyeri kepala yang berasal dari ETTH, dengan serangan tiap hari atau serangan episodik nyeri kepala yang lebih sering yang berlangsung beberapa menit sampai beberap hari. Nyeri kepala bersifat bilateral, menekan atau mengikat dalam kualitas dan intensitas ringan atau sedang dan nyeri tidak bertambah berat dengan aktivitas fisik yang rutin. Kemungkinan terdapat mual, fotofobia atau fonofobia ringan. Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala timbul 15 hari/bulan berlangsung > 3 bulan ( 180 hari/tahun) dan juga memenuhi kriteria B-D. B. Nyeri kepala berlangsung beberapa jam atau terus menerus C. Nyeri kepala memiliki paling tidak 2 karakteristik berikut: 1. Lokasi bilateral 2. Menekan/mengikat (tidak berdenyut) 3. Ringan atau sedang 4. Tidak memberat dengan aktivitas fisik yang rutin

D. Tidak didapatkan: 1. Lebih dari satu: fotofobia, fonofobia atau mual yang ringan 2. Mual yang sedang atau berat maupun muntah E. Tidak ada kaitan dengan penyakit lain (group 5-12) 2.3.1 Tension Type Headache kronik yang berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Karakteristik diagnostik: A. Nyeri kepala yang memenuhi dalam kriteria A-E dari 2.3 CTTH B. Nyeri tekan perikranial yang meningkat pada palpasi manual. 2.3.2 Tension Type Headache kronik yang tidak berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala yang termasuk dalam kriteria A-E dari 2.3 CTTH B. Nyeri tekan perikranial tidak meningkat. 2.4 Probable Tension Type Headache Penderita yang memenuhi satu dari kelompok kriteria ini mungkin juga memenuhi kriteria dari salah satu sub form dari 1.6 probable migren. Dalam hal demikian semua informasi lain yang bisa didapat hanya dipakai untuk menentukan kemungkinan mana yang lebih tepat.

2.4.1 Probable Tension Type Headache episodik yang infrequent Kriteria diagnostik: A. Episode yang memenuhi semua kriteria A-D dari 2.1 ETTH kecuali satu kriteria saja B. Episodenya tidak memenuhi kriteria dari 1.1 migren tanpa aura C. Tidak berkaitan dengan penyakit lain. 2.4.2 Probable Tension Type Headache episodik yang frequent Kriteria diagnostik: A. Episodenya memenuhi semua kecuali satu dari semua kriteria A-D dari 2.2 Tension Type Headache episodik yang frequent B. Episodenya tidak memenuhi kriteria 1.1 migren tanpa aura C. Tidak berkaitan dengan penyakit lain. 2.4.3 Probable Tension Type Headache kronik Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala dalam rata-rata > 15 hari/bulan selama > 3 bulan (> 180 hari/tahun) dan memenuhi kriteria B-D B. Nyeri kepala berlangsung beberapa jam atau terus menerus C. Nyeri kepala memiliki paling tidak dua dari karakteristik berikut: 1. Bilateral

2. 3. 4.

Menekan/mengikat (tidak berdenyut) Intensitas ringan atau sedang Tidak diperberat oleh aktivitas fisik yang rutin (berjalan atau naik tangga)

D. Tidak didapatkan: 1. Tidak lebih dari satu gejala fotofobia, fonofobia atau mual yang ringan 2. Mual yang sedang atau berat maupun muntah

E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain tapi ada tau telah ada dalam dua bulan terakhir penggunaan obat yang berlebihan yang memenuhi kriteria 8.2 Medication overuse headache. 3. Nyeri kepala klaster dan sefalgia trigeminal-otonomik yang lain 3.1 Nyeri kepala klaster Definisi: Nyeri kepala yang hebat, nyeri selalu unilateral di orbita, supraorbital, temporal atau kombinasi dan tempat-tempat tersebut, berlangsung 1-180 menit dan terjadi dengan frekuensi dari sekali sekali tiap dua hari sampai 8 kali sehari. Serangan-serangannya disertai satu atau lebih sebagai berikut: semuanya ipsilateral: injeksi konjungtival, lakrimasi, kongesti nasal, rhinorrhea, berkeringat di kening dan wajah, miosis, ptosis, oedema palprebra. Selama serangan sebagaian besar pasien gelisah atau agitasi.

Kriteria diagnostik: A. Paling sedikit 5 serangan yang memenuhi kriteria B-D B. Nyeri hebat atau sangat hebat di orbita, supra orbita dan/atau temporal yang unilateral, berlangsung 15-180 bila tak diobati C. Nyeri kepala disertai setidak-tidaknya satu dari sbb: 1. Injeksi konjungtiva dan/atau lakrimasi ipsilateral 2. Kongesti nasal dan/atau lakrimasi ipsilateral 3. Edema palpebra ipsilateral 4. Dahi dan wajah berkeringat ipsilateral 5. Miosis dan/atau ptosis ipsilateral 6. Perasaan kegelisahan atau agitasi D. Serangan-serangan mempunyai frekuensi: dari 1 kali setiap hari sampai 8 kali per hari E. Tidak berkaitan dengan gangguan lain. 3.1.1 Nyeri kepala klaster episodik Deskripsi: Serangan nyeri kepala klaster yang terjadi pada periode yang berlangsung 7 hari sampai 1 tahun, dipisahkan oleh periode bebas nyeri yang berlangsung 1 bulan atau lebih lama. Kriteria diagnostik: A. Serangan-serangan yang memenuhi kriteria A-E untuk 3.1 nyeri kepala klaster

B. Paling sedikit dua periode klaster yang berlangsung 7365 hari dan dipisahkan oleh periode remisi bebas nyeri > 1 bulan. 3.1.2 Nyeri kepala klaster kronik Deskripsi: Serangan nyeri kepala klaster terjadi lebih dari 1 tahun tanpa remisi disertai remisi-remisi yang berlangsung kurang dari 1 bulan Kriteria diagnostik: A. Serangan-serangan yang memenuhi kriteria A-E untuk 3.1 nyeri kepala klaster B. Serangan berulang lebih dari 1 tahun tanpa periode remisi atau dengan periode remisi yang berlangsung kurang dari 1 bulan. 3.2 Hemikrania paroksismal Deskripsi: Hemikrania paroksismal adlah serangan nyeri kepala dengan karakteristik gejala dan tanda yang seruoa dengan nyeri kepala klaster tetapi berlangsungnya lebih pendek dan lebih sering. Kriteria diagnostik: A. Paling sedikit terdapat 20 serangan yang memenuhi kriteria B-D B. Serangan nyeri hebat di orbita, supraorbital, atau temporal yang bersifat unilateral dan berlangsung selama 2-30 menit C. Nyeri kepala disertai setidaknya satu dari gejala berikut:

1. Injeksi konjungtiva dan/atau lakrimasi ipsilateral 2. Kongesti nasal dan/atau rhinorea ipsilateral 3. Edema palpebral ipsilateral 4. Keringat di dahi dan/atau wajah ipsilateral 5. Miosis dan/atau ptosis ipsilateral D. Frekuensi serangan lebih dari 5 kali per hari untuk lebih dari separuh waktu, meskipun periode dengan frekuensi lebih rendah dapat terjadi E. Serangan dapat dicegah secara komplit dengan dosis terapi indometasin F. Tidak berkaitan dengan gangguan lain. 3.2.1 Hemikrania paroksismal episodik Deskripsi: Serangan hemikrania paroksismal yang berlangsung dalam periode 7 hari sampai 1 tahun, dan dipisahkan oleh periode bebas nyeri yang berlangsung selama 1 bulan. Kriteria diagnostik: A. Serangan yang memenuhi kriteria A-F pada 3.2 hemikrania paroksismal B. Setidaknya terdapat 2 periode serangan yang

berlangsung 7 sampai 365 hari dan dipisahkan oleh periode remisi bebas nyeri yang 1 bulan.

3.2.2 Hemikrania paroksismal kronik Definisi: Serangan hemikrania paroksismal yang terjadi lebih dari 1 tahun tanpa remisi atau dengan remisi yang berlangsung kurang dari 1 bulan. Kriteria diagnostik: A. Serangan yang memenuhi kriteria A-F pada 3.2 hemikrania paroksismal B. Serangan berulang lebih dari 1 tahun tanpa periode remisi atau dengan periode remisi yang berlangsung kurang dari 1 bulan. 3.3 SUNCT (Short lasting Unilateral Neuralgiform headache attacks with Conjungtival injection and Tearing) Deskripsi: Sindrom yang karakteristik terdiri dari serangan nyeri unilateral yang berlangsung singkat yang jauh lebih cepat dari yang Nampak pada sefalgia trigeminal otonomik lainnya dan sangat sering disertai terutama oleh lakrimasi dan mata kemerahan ipsilateral. Kriteria diagnostik: A. Setidaknya ada 0 serangan yang memenuhi kriteria B-D B. Serangan kepala unilateral yang bersifat tajam (seperti tertusuktusuk) atau berdenyut disekitar orbita, supraorbital, atau temporal yang berlangsung selama 5 sampai 40 detik C. Nyeri disertai efek injeksi konjungtiva dan lakrimasi ipsilateral

D. Serangan terjadi dengan frekuensi 3 sampai 200 kali per hari E. Tidak berkaitan dengan gangguan lain. 3.4 Probable Sefalgia Trigeminal Otonomik Deskripsi: Serangan nyeri kepala yang diduga keras sebagai subtipe dari sefalgia trigeminal otonomik akan tetapi tidak persis memenuhi kriteria diagnostik dengan segala yang tercantum tersebut diatas. Kriteria diagnostik: A. Serangan memenuhi semua kecuali satu dari kriteria spesifik untuk satu dari subtipe STO B. Tidak berkaitan dengan gangguan lain. 3.4.1 Probable nyeri kepala klaster Kriteria diagnostik: A. Serangan-serangan memenuhi semua kecuali satu dari kriteria A-D untuk 3.1 nyeri kepala klaster B. Tidak berkaitan dengan gangguan lain. 3.4.2 Probable hemikrania paroksismal Kriteria diagnostik: A. Serangan memenuhi semuanya kecuali satu dari kriteria A-E untuk 3.2 hemikrania paroksismal B. Tidak berkaitan dengan gangguan lain.

3.4.3 Probable SUNCT Kriteria diagnostik: A. Serangan-serangan memenuhi semuanya kecuali satu dari kriteria A-E untuk 3.3 SUNCT B. Tidak berkaitan dengan gangguan lain. 4. Nyeri kepala primer lainnya 4.1 Primary stabbing headache Deskripsi: Nyeri kepala seperti ditusuk yang timbulnya spontas, sepintas, terlokalisir, tanpa didasari penyakit organik atau gangguan saraf otak. Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala timbul sebagai nyeri tusuk tunggal atau serial beberapa kali dalam sehari memenuhi kriteria B-D B. Predominan terasa di daerah distribusi persarafan N.V.1 (daerah orbita, temporal dan parietal) C. Berlangsung beberapa detik dan berulang dengan frekuensi tidak teratur, sekali atau beberapa kali perhari D. Tanpa gejala penyerta E. Tidak berkaitan dengan penyakit lainnya. 4.2 Primary cough headache Deskripsi: Nyeri kepala dicetuskan oleh batuk atau mengejan, tanpa dijumpai gangguan intrakranial.

Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala yang memenuhi kriteria B dan C B. Awitan mendadak, berlangsung satu detik sampai 30 menit C. Hanya disebabkan atau timbulnya berhubungan dengan batuk, mengejan atau valsava manoeuvre D. Tidak berkaitan dengan penyakit lainnya. 4.3 Primary exertional headache Deskripsi: Nyeri kepala yang dicetuskan oleh setiap bentuk aktivitas fisik/exercise (contoh: Weight-lifters Headache) Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala berdenyut yang memenuhi kriteria B dan C B. Berlangsung 5 menit sampai 48 jam C. Disebabkan dan timbul selama/setelah aktivitas fisik yang berlebihan D. Tidak berkaitan dengan penyakit lainnya. 4.4 Nyeri kepala primer sehubungan dengan aktivitas seksual Deskripsi: Nyeri kepala dicetuskan oleh aktivitas seksual, yang diawali dengan nyeri tumpul bilateral saat terjadinya peningkatan kenikmatan seksual dan mendadak intensitas nyeri meningkat saat orgasme, tanpa dijumpai gangguan intrakranial.

4.4.1 Nyeri kepala preorgasmik Kriteria diagnostik: A. Nyeri tumpul dirasakan pada kepala dan leher

sehubungan dengan kontraksi otot leher dan/atau rahang yang memenuhi kriteria B B. Timbul saat melakukan aktivitas seksual dan nyeri meningkat seiring dengan kenikmatan seksual yang dirasakan C. Tidak berkaitan dengan penyakit lainnya. 4.4.2 Nyeri kepala orgasmik kriteria diagnostik Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala hebat mendadak seperti meledak, yang memenuhi kriteria B B. Terjadi pada saat orgasme C. Tidak berkaitan dengan penyakit lainnya. 4.5 Hypnic headache Deskripsi: Serangan nyeri kepala bersifat tumpul dan selalu menyebabkan pasien terbangun dari tidurnya. Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala tumpul yang memenuhi kriteria B-D B. Berlangsung hanya saat tidur dan membangunkan pasien C. Minimal dua dari karakteristik berikut: 1. Timbul >15 kali perbulan

2. Berlangsung 15 menit setelah terbangun 3. Timbul pertama kali setelah usia 50 tahun D. Gejala otonomik tidak ada dan tidak lebih dari satu gejala nausea, fotofobia atau fonofobia E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain. 4.6 Primary thunderclap headache Deskripsi: Intensitas nyeri sangat hebat, timbul mendadak menyerupai ruptur aneurisma serebral. Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala hebat yang memenuhi kriteria B dan C B. Mempunyai karakteristik seperti dibawah ini: 1. Timbul mendadak, dengan intensitas nyeri mencapai maksimal dalam waktu singkat kurang dari satu menit 2. Berlangsung satu jam sampai 10 hari C. Tidak akan berulang secara teratur dalam minggu atau bulan berikutnya D. Tidak berkaitan dengan penyakit lainnya. 4.7 Hemikrania kontinua Deskripsi: Nyeri kepala unilateral yang selalu persisten dan responsif terhadap indometasin. Kriteria diagnostik: A. Nyeri kepala lebih dari 3 bulan yang memenuhi kriteria B-D

B. Semua yang mempunyai karakteristik dibawah ini: 1. Nyeri kepala unilateral (tanpa side-shift) 2. Dirasakan setiap hari dan kontinyu tanpa masa bebas nyeri 3. Dengan intensitas nyeri derajat sedang diselingi episode nyeri hebat C. Saat episode nyeri hebat timbul, pada sisi ipsilateral didapatkan salah satu gejala otonom berikut ini: 1. Konjungtivikal injeksi dan/atau lakrimasi 2. Nasal kongesti dan/atau rhinorrhea 3. Ptosis dan/atau miosis D. Mempunyai respon komplet terhadap indometasin E. Tidak berkaitan dengan penyakit lainnya. 4.8 New daily persistent headache (NDPH) Deskripsi: Nyeri kepala dirasakan sepanjang hari tanpa mereda sejak awal serangan (pada umumnya dalam 3 hari). Nyerinya khas bilateral, seperti ditekan atau ketat dengan intensitas nyeri derajat ringan sampai sedang. Dapat dijumpai fotofobia, fonofobia atau nausea ringan. Kriteria diagnoostik: A. Nyeri kepala berlangsung > 3 bulan dan memenuhi kriteria B-D B. Nyeri kepala dirasakan sepanjang hari tanpa mereda sejak awitan atau < 3 hari setelah awitan C. Minimal terdapat dua karakteristik nyeri:

1. Lokasi bilateral 2. Kualitas menekan/ketat (tidak berdenyut) 3. Intensitas ringan-sedang 4. Tidak diperberat dengan kegiatan aktivitas rutin sperti berjalan atau naik tangga D. Mempunyai kedua gejala berikut: 1. Salah satu dari fotofobia, fonofobia atau nausea ringan 2. Tanpa dijumpai nausea derajat sedang atau berat ataupun muntah E. Tidak berkaitan dengan penyakit lainnya. Nyeri kepala sekunder dibagi menjadi: 5. Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher 5.1 Nyeri kepala akut pasca trauma 5.1.1 Nyeri kepala akut pasca trauma yang berkaitan dengan trauma kapitis sedang atau berat 5.1.2 Nyeri kepala akut pasca trauma yang berkaitan dengan trauma kapitis ringan 5.2 Nyeri kepala kronik pasca trauma 5.2.1 Nyeri kepala kronik pasca trauma yang berkaitan dengan trauma kapitis sedang atau berat 5.2.2 Nyeri kepala kronik pasca trauma yang berkaitan dengan trauma kapitis ringan 5.3 Nyeri kepala akut yang berkaitan dengan whiplash injury headache

5.4

Nyeri kepala kronik yang berkaitan dengan whiplash injury headache

5.5

Nyeri kepala yang berkaitan dengan hematoma intrakranial traumatik 5.5.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hematoma epidural 5.5.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hematoma subdural

5.6

Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang lainnya 5.6.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang lainnya 5.6.2 Nyeri kepala kronik yang berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher yang lainnya

5.7

Nyeri kepala pasca kraniotomi 5.7.1 Nyeri kepala pasca kraniotomi akut 5.7.2 Nyeri kepala pasca kraniotomi kronik

6.

Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan vaskuler kranial atau servikal 6.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan stroke iskemik dan transient ischemic attacks 6.1.1 Nyeri kepala yang berkaitan denan stroke iskemik (infark serebri) 6.1.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan Transient Ischemic Attacks (TIA) 6.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan perdarahan intrakranial nontraumatik

6.2.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan perdarahan intraserebral 6.2.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan perdarahan subarachnoid 6.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan Unruptured maiformasi vaskuler 6.3.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan aneurisma vaskuler 6.3.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan arterio-venus malformasi 6.3.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan fistula arterio-venous dural 6.3.4 Nyeri kepala yang berkaitan dengan angioma kavernosus 6.3.5 Nyeri kepala yang berkaitan dengan ensefalotrigeminal atau leptomeningeal angiomatosis 6.4 Nyeri kepala yang berkaitan dengan arteritis 6.4.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan giant cell arteritis 6.4.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan angiitis sistem saraf pusat primer 6.4.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan angiitis sistem saraf pusat sekunder 6.5 Nyeri arteri karotis atau vertebral 6.5.1 Nyeri kepala daripada nyeri fasial atau leher yang berkaitan dengan diseksi arterial 6.5.2 6.5.3 6.5.4 Nyeri kepala pasca endarterektomi Nyeri kepala angioplasty karotis Nyeri kepala yang berkaitan dengan prosedur endovaskuler intracranial

6.5.5 6.6 6.7

Nyeri kepala angiografi

Nyeri kepala yang berkaitan dengan thrombosis venosus serebral Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan vaskuler intrakranial lainnya 6.7.1 CADASIL (Cerebral Autosomal Dominant Arteriopathy with Subcortical Infarctsand Leukoencephalopathy) 6.7.2 MELAS (Mitochondrial Encephalopathy, Lactic Acidosis and Stroke like episodes) 6.7.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan angiopati benigna sistem saraf pusat 6.7.4 Nyeri kepala yang berkaitan dengan apopleksi hipofise

7.

Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan non vaskuler intracranial 7.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan peninggian tekanan cairan serebrospinal 7.1.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hipertensi intrakranial idiopatik 7.1.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hipertensi intrakranial sekunder akibat faktor metabolik, toksik ataupun hormonal 7.1.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hipertensi intrakranial sekunder akibat hidrosefalus 7.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan penurunan tekanan cairan serebrospinal 7.2.1 7.2.2 Nyeri kepala pasca pungsi dural Nyeri kepala fistula likuor serebro spinal

7.2.3

Nyeri kepala yang berkaitan dengan penurunan cairan serebrospinal spontan (idiopatik)

7.3

Nyeri kepala yang berkaitan dengan penyakit inflamasi yang non infeksius 7.3.1 7.3.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan Neurosarkoidosis Nyeri kepala yang berkaitan dengan aseptik (non infeksius) meningitis 7.3.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan penyakit inflamasi non infeksius yang lainnya 7.3.4 Nyeri kepala yang berkaitan dengan limfositik hipofisitis

7.4

Nyeri kepala yang berkaitan dengan neoplasma intrakranial 7.4.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan peninggian tekanan intrakranial atau hidrosefalus oleh sebab neoplasma 7.4.2 7.4.3 Nyeri kepala yang berkaitan langsung dengan neoplasma Nyeri kepala yang berkaitan dengan karsinomatous meningitis 7.4.4 Nyeri kepa yang berkaitan dengan hiper/hiposekresi hipotalamus atau hipofise

7.5 7.6

Nyeri kepala yang berkaitan dengan injeksi intratekal Nyeri kepala yang berkaitan dengan epileptic seizure 7.6.1 7.6.2 Hemikrania epileptika Nyeri kepala post-seizure

7.7

Nyeri kepala yang berkaitan dengan Chiari malformation type I (CM1)

7.8

Sindrom nyeri kepala dan deficit neurologi yang sepintas disertai limpositosis likuor serebro spinal

7.9

Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan non vaskuler intrakranial lainnya.

8.

Nyeri kepala yang berkaitan dengan substansi atau withdrawal nya 8.1 Nyeri kepala akibat induksi penggunaan atau pemaparan substansi akut 8.1.1 Nyeri kepala akibat induksi nitricoxide donor (NO) 8.1.1.1.1 Nyeri kepala Immediate akibat induksi NO donor 8.1.1.1.2 Nyeri kepala delayed akibat NO donor 8.1.2 Nyeri kepala akibat induksi phosphodiesterase (PDE) inhibitor 8.1.3 8.1.4 Nyeri kepala akibat induksi carbon monoxide Nyeri kepala akibat induksi alkohol 8.1.4.1 8.1.4.2 8.1.5 Nyeri kepala immediate akibat induksi alkohol Nyeri kepala delayed akibat induksi alkohol

Nyeri kepala akibat induksi komponen makanan dan zat adiktif 8.1.5.1 Nyeri kepala akibat induksi monosodium

glutamat 8.1.6 8.1.7 8.1.8 Nyeri kepala akibat induksi kokain Nyeri kepala akibat induksi kanabis Nyeri kepala akibat induksi histamin 8.1.8.1 Nyeri kepala immediate akibat induksi histamin

8.1.8.2 8.1.9

Nyeri kepala delayed akibat induksi histamin

Nyeri kepala akibat induksi calcitonin gene related peptide (CGRP) 8.1.9.1 8.1.9.2 Nyeri kepala immediate akibat induksi CGRP Nyeri kepala delayed akibat induksi CGRP

8.1.10

Nyeri kepala akut akibat reaksi tidak baik yang dapat dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan untuk indikasi lain

8.1.11

Nyeri kepala akut akibat induksi penggunaan substansi atau pemaparannya berilah nama substansi secara spesifik

8.2

Nyeri kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan (Medication Overuse=MOH) 8.2.1 8.2.2 8.2.3 8.2.4 8.2.5 Nyeri kepala akibat penggunaan berlebihan ergotamine Nyeri kepala akibat penggunaan berlebihan triptan Nyeri kepala akibat penggunaan berlebihan analgesik Nyeri kepala akibat penggunaan berlebihan opioid Nyeri kepala akibat penggunaan kombinasi analgesik berlebihan 8.2.6 Nyeri kepala akibat penggunaan obat berlebihan yang berkaitan dengan penggunaan obat kombinasi secara akut (berilah nama substansi secara spesifik) 8.2.7 Nyeri kepala yang berkaitan dengan penggunaan obat berlebihan lainnya

8.2.8

Nyeri kepala Probable penggunaan obat berlebihan (berilah nama substansi secara spesifik)

8.3

Nyeri kepala akibat reaksi tidak baik yang dapat dikaitkan dengan pemberian obat-obatan kronik (berilah nama substansi secara spesifik) 8.3.1 Nyeri kepala akibat induksi hormon eksogen

8.4

Nyeri kepala akibat withdrawl dan ketergantungan substansi 8.4.1 8.4.2 8.4.3 8.4.4 Nyeri kepala kafein withdrawl Nyeri kepala opioids-withdrawl Nyeri kepala oestrogen withdrawl Nyeri kepala yang berkaitan dengan withdrawl penggunaan kronik substansi lainnya (berilah nama substansi secara spesifik)

9.

Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi 9.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi intrakranial 9.1.1 9.1.2 9.1.3 9.1.4 9.1.5 9.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan meningitis bakterial Nyeri kepala yang berkaitan dengan meningitis limpositik Nyeri kepala yang berkaitan dengan ensefalitis Nyeri kepala yang berkaitan dengan abses otak Nyeri kepala yang berkaitan dengan empyema subdural

Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi sistemik 9.2.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi bakteriil sistemik (berilah nama etiologi secara spesifik)

9.2.2

Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi virus sistemik (berilah nama etiologi secara spesifik)

9.2.3

Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi sistemik lainnya (berilah nama etiologi secara spesifik)

9.3 9.4

Nyeri kepala yang berkaitan dengan HIV/AIDS Nyeri kepala pasca-infeksi kronik (berilah nama etiologi secara spesifik) 9.4.1 Nyeri kepala pasca meningitis bakterial kronik

10. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan homeostasis 10.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hipoksia dan/atau hiperkapnia 10.1.1 10.1.2 10.1.3 Nyeri kepala high altitude Nyeri kepala diving Nyeri kepala sleep apnoea

10.2 Nyeri kepala dialisis 10.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hipertensi arterial 10.3.1 10.3.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan pheochromocytoma Nyeri kepala yang berkaitan dengan hipertensif krisis tanpa hipertensi ensefalopati 10.3.3 10.3.4 10.3.5 10.3.6 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hipertensi ensefalopati Nyeri kepala yang berkaitan dengan pre-eklampsi Nyeri kepala yang berkaitan dengan eklampsi Nyeri kepala yang berkaitan dengan respons pressor akut terhadap agen eksogen (berilah nama etiologi secara spesifik)

10.4 Nyeri kepala yang berkaitan dengan hipotiroidsm 10.5 Nyeri kepala yang berkaitan dengan puasa 10.6 Cardiac Cephalagia (berilah nama etiologi secara spesifik) 10.7 Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan homeostasis lainnya (berilah nama etiologi secara spesifik) 11. Nyeri kepala atau nyeri vaskuler yang berkaitan dengan kelainan cranium, leher, mata, telinga, hidung, sinus, gigi, mulut, atau struktur fasial atau kranial lainnya 11.1 Nyeri kepala yang berkaitan dengan tulang cranium 11.2 Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan leher 11.2.1 11.2.2 11.2.3 Nyeri kepala servikogenik (cervicogenicheadache) Nyeri kepala yang berkaitan dengan tendinitis retrofaringeal Nyeri kepala yang berkaitan dengan dystonia kranioservikal

11.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan mata 11.3.1 11.3.2 11.3.3 Nyeri kepala yang berkaitan dengan glaukoma akut Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan refraksi Nyeri kepala yang berkaitan dengan Heteroforia or heterotropia (latent ormanifest squint) 11.3.4 Nyeri kepala yang berkaitan dengan inflamasi okuler (berilah nama etiologi secara spesifik) 11.4 Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan telinga 11.5 Nyeri kepala yang berkaitan dengan rhinosinusitis 11.6 Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan gigi, rahang dan struktur sekitarnya

11.7 Nyeri kepala atau nyeri fasial yang berkaitan dengan kelainan artikulasi temporomandibular 11.8 Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan cranium, leher, mata, telinga, hidung, sinus, gigi, mulut atau struktur fasial atau servikal lainnya (berilah nama etiologi secara spesifik). 12. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan psikiatrik. C. Etiologi Sebagian besar nyeri kepala yang kronis terjadi karena tegangan (kontraksi otot) yang dapat disebabkan oleh: 1. 2. 3. Stres emosional atau kelelahan Menstruasi Rangsangan dari lingkungan (bunyi berisik, kerumunan banyak orang atau cahaya yang terang) Keadaan lain yang dapat menjadi penyebab nyeri kepala adalah: 1. 2. 3. Glaukoma Inflamasi pada mata atau mukosa nasal atau sinus paranasal Penyakit pada kulit kepala, gigi, arteri ekstrakranial, telinga luar atau telinga dalam 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pemakaian obat-obat vasodilator (nitrat, alkohol dan histamin) Penyakit sistemik Hipertensi Peningkatan tekanan intrakranial Trauma atau tumor pada kepala Perdarahan, abses, atau aneurisma intrakranial

10. Trauma atau tumor pada kepala 11. Perdarahan, abses, atau aneurisma intrakranial D. Patofisiologi Nyeri kepala muncul karena perangsangan terhadap bangunan-bangunan di daerah kepala dan leher yang peka terhadap nyeri. Bangunan-bangunan ekstrakranial yang peka terhadap nyeri adalah kulit kepala, periosteum, otototot (m. frontalis, m. temporalis, m. oksipitalis), pembuluh-pembuluh darah (a, frontalis, a. temporalis superfisialis, a. oksipitalis), saraf-saraf (n. frontalis, n. aurikulotemporalis, n. oksipitalis mayor, n. oksipitalis minor). Bangunanbangunan intrakranial yang peka terhadap nyeri adalah meninges (terutama sepanjang arteri-arteri meningeal yang besar dan arteri-arteri besar pada dasar otak, sekitar sinus-sinus venosus, di basis kranii, dan di tentorium serebeli), bagian proksimal atau basal arteri-arteri serebri, vena-vena otak di sekitar sinus-sinus, dan saraf-saraf (n. trigeminus, n. fasialis, n. glosofaringeus, n. vagus, radiks-radiks servikal dua, tiga, dan cabang-cabangnya). Sedangkan bangunan-bangunan yang tidak peka terhadap nyeri ialah parenkim otak, ependim ventrikel, pleksus koroideus, sebagian besar meninges yang meliputi konveksitas otak dan tulang kepala. Bangunan-bangunan ekstrakranial akan dirasakan pada umumnya sebagai nyeri pada daerah yang terangsang. Sedangkan nyeri kepala sebagai akibat perangsangan bangunan intrakranial akan diproyeksikan ke permukaan dan dirasakan di daerah distribusi saraf yang bersangkutan. Perangsangan bangunan supratentorial akan dirasakan sebagai nyeri didaerah frontal, didalam atau belakang bola mata, dan di daerah temporal bawah. Sedangkan

perangsangan bangunan-bangunan infratentorial dan fosa posterior akan dirasakan di daerah retroaurikuler dan oksipitonukhal. Rasa nyeri yang dirasakan mulai dari hidung, gigi-geligi, sinus-sinus, faring dan mata dapat diproyeksikan ke seluruh daerah ditribusi n. trigeminus yang bersangkutan. Bahkan rasa nyeri dapat dirasakan menjalar ke daerah yang dilayani oleh cabang-cabang lain bila perangsangan cukup kuat. Terjadinya perluasan rasa nyeri ini terjadi karena rangsangan yang tiba juga menjalar ke nukleus-nukleus lain. Demikian juga serabut-serabut sensorik yang berasal dari tiga radiks pertama servikal juga membuat hubungan sinaptik dengan neuronneuron n. trigeminus sehingga rasa nyeri didaerah frontal misalnya dapat dipancarkan ke tengkuk dan sebaliknya. E. Penegakkan diagnosis: Diagnosis nyeri kepala dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik neurologis, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis yang dilakukan baik autoanamnesis maupun alloanamnesis meliputi keluhan utama pasien, Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) yang meliputi alokasi keluhan, kualitas, kuantitas, waktu (onset, durasi, frekuensi, kronologi), faktor yang memperberat, faktor yang memperingan dan keluhan penyerta, Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) serta Riwayat Penyakit Keluarga (RPK). Pemeriksaan fisik neurologis meliputi pemeriksaan mata, leher, pemeriksaan saraf kranialis, pemeriksaan motorik dan sensibilitas. Sedangkan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi spesimen darah, electroenchephalography (EEG), atau CT scan.

F. Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan migren A. Langkah umum Perlu menghindari pencetus nyeri, seperti perubahan pola tidur, makanan, stress, dan rutinitas sehari-hari, cahaya terang, kelap kelip, perubahan cuaca, berada di tempat yang tinggi seperti gunung atau di pesawat udara. B. Terapi abortif 1) Abortif non spesifik: pada serangan ringan sampai sedang atau serangan berat atau berespon baik terhadap obat yang sama dapat dipakai: analgetik OTCs (Over The Counters), NSAIDs (oral) 2) Abortif spesifik: bila tidak respon terhadap analgetik/NSAIDs, dipakai obat spesifik seperti: triptans (naratriptans, rizatriptan, sumatriptan, zolmitriptan). Dihydro ergotamin (DHE), obat golongan ergotamin. C. Terapi preventif/profilaksis Prinsip umum terapi preventif: 1) Mengurangi frekuensi berat dan lamanya serangan 2) Meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan 3) Meningkatkan disabilitas. aktivitas sehari-hari, serta pengurangan

2. Penatalaksanaan Tension Type Headache A. Terapi farmakologikal Pada serangan akut tidak boleh lebih dari hari/minggu 1) Analgetik: aspirin 1000 mg/hari, acetaminophen 1000 mg/hari, NSAIDs (Naproxen 660-750 mg/hari, ketoprofen 25-50 mg/hari, tolfenamic 200 x 400 mg/hari). Pemberian analgetik dalam waktu lama dapat menyebabkan iritasi gastrointestinal, penyakit ginjal dan hepar, gangguan fungsi platelet. 2) Caffein (analgetik ajuvan) 65 mg 3) Kombinasi: 325 aspirin, acetaminophen + 40 mg caffein. Pada tipe kronik: 1) Antidepresan Jenis trisiklik: amitriptilin, sebagai obat terapeutik maupun sebagai pencegahan TTH. Obat ini mempunyai efek analgetik dengan cara mengurangi firing rate of trigeminal nucleus caudatus. Dalam jangka lama semua trisiklik dapat

menyebabkan penambahan berat badan (merangsang nafsu makan), mengganggu jantung, hipotensi ortostatik dan efek antikolinergik seperti mulut kering, mata kabur, tremor dan dysuria, retensi urin, konstipasi. 2) Antiansietas Baik pada pengobatan kronik dan preventif terutama pada penderita dengan kormobid ansietas. Golongan benzodiazepin dan butalbutal sering dipakai. Kekurangannya obat ini bersifat

adiktif, dan sulit dikontrol sehingga dapat memperburuk nyeri kepalanya. B. Terapi non farmakologikal 1) Kontrol diet 2) Terapi fisik 3) Hindari pemakaian harian obat analgetik, sedative dan ergotamine 4) Behaviour treatment C. Terapi preventif farmakologis Pilihan pertama untuk terapi preventif adalah antidepresan trisiklik, amitriptilin (dosis dimulai dari 10-25 mg pada malam hari, jika dosis tersebut belum memberikan efek dosis dapat ditingkatkan secara gradual menjadi 125 mg). Preparat lain yang dapat digunakan sebagai profilaksis terutama untuk CTTH episodic dan migren adalah sodium valproate, venlafaxine, atau topiramat dengan dosis yang sama pada preventif migren. 3. Penatalaksanaan nyeri kepala klaster A. Inhalasi oksigen (masker muka): oksigen 100% 7L/menit selama 5 menit B. Dihydroergotamin (DHE) 0,5-1,5 mg i.v. akan mengurangi nyeri dalam 10 menit, pemberian i.m.dan nasal lebih lama C. Sumatriptan injeksi subkutan 6 mg akan mengurangi nyeri dalam waktu 5-15 menit, dapat diulang setelah 24 jam. Kontra indikasi: penyakit jantung iskemik, hipertensi tidak terkontrol. Sumatriptan

nasal spray 20 mg (kurang efektif disbanding subkutan). Efek samping: pusing, letih, parestesia, kelemahan di muka D. Zolmitriptan 5 mg atau 10 mg peroral E. Anestesi local: 1 ml lidokain intranasal 4% F. Indometasin (rectal suppositoria) G. Opioids (rectal, stadol nasal spray) hindari pemakaian jangka lama H. Ergotamine aerosol 0,36-1,08 mg (1-3 inhalasi) efektif 80% I. J. Gabapentin atau tropiramat Methoxyflurane (rapid acting analgesic): 10-15 tetes pada saputangan dan inhalasi selama beberapa detik.

BAB III KESIMPULAN

1. Nyeri kepala adalah rasa nyeri atau tidak nyaman dibagian atas (superior) kepala yang kadang dapat menyebar ke wajah, gigi, rahang, kuduk dan leher. 2. Nyeri kepala dibedakan menjadi nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder. 3. Sebagian besar nyeri kepala yang kronis terjadi karena tegangan (kontraksi otot) yang dapat disebabkan oleh stres emosional atau kelelahan, menstruasi dan rangsangan dari lingkungan (bunyi berisik, kerumunan banyak orang atau cahaya yang terang). 4. Diagnosis nyeri kepala dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik neurologis, dan pemeriksaan penunjang. 5. Penatalaksanaan nyeri kepala meliputi terapi abortif dan terapi preventif.

DAFTAR PUSTAKA

Ginsberg, Lionel. 2007. Lecture Notes Neurologi. Jakarta: Erlangga Harsono. 2005. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Headache Classification Subcommittee of the International Headache Society. 2004. The International Classification of Headache Disorders. 2nd edition. Cephalgia; 24 (Suppl 1): 1-160 Machfoed, Hasan., Isti, Suharjanti. 2010. Konsensus Nasional III Diagnostik dan Penatalaksanaan Nyeri Kepala. Kelompok Studi Nyeri Kepala

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Surabaya: Airlangga Sidharta, Priguna. 2008. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Jakarta: Dian Rakyat