Anda di halaman 1dari 120

Deskripsi dan Analisis

APBD 2012

Daftar IsI

DAFTAR

ISI

iii

DAFTAR TABEL

 

vi

DAFTAR GRAFIK

vii

KATA PENGANTAR

xi

EKSEKUTIF SUMMARY

xiii

BAB

I PENDAHULUAN

1

 

A. Latar Belakang

1

B. Gambaran Umum APBD 2012

2

C. Trend APBD 2009 – 2012

5

BAB II

ANALISIS PENDAPATAN DAERAH

15

A. Rasio Pajak (Tax Ratio)

15

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

16

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

18

3. Pemerintah Provinsi

19

4. Per Wilayah

20

 

B. Pajak per Kapita (Tax per Capita)

21

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

22

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

23

3. Pemerintah Provinsi

24

4. Per Wilayah

25

 

C. Ruang Fiskal (Fiscal Space)

26

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

26

2. Pemerintah Kabupaten/ Kota Se-Provinsi

28

3. Provinsi

Pemerintah

29

4. Per Wilayah

30

D.

Rasio Ketergantungan Daerah

32

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

32

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

33

3. Provinsi

Pemerintah

35

4. Per Wilayah

35

BAB III

ANALISIS BELANJA DAERAH

38

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

39

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

40

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

42

3. Provinsi

Pemerintah

44

4. Per Wilayah

45

B. Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Daerah

47

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

48

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

49

3. Provinsi

Pemerintah

50

4. Per Wilayah

51

C. Rasio Belanja Modal terhadap Jumlah Penduduk

52

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

52

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

53

3. Provinsi

Pemerintah

55

4. Per Wilayah

56

D. Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Daerah

56

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

57

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

58

3. Provinsi

Pemerintah

59

4. Per Wilayah

60

BAB IV

ANALISIS DEFISIT DAN PEMBIAYAAN DAERAH

62

A.

Defisit

62

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

63

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

63

 

3.

Pemerintah

Provinsi

64

4.

Per Wilayah

65

5.

Daerah dengan Defisit yang belum ter-cover oleh pembiayaan

67

B. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

68

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

69

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

70

3. Provinsi

Pemerintah

70

4. Per Wilayah

 

71

5. Daerah yang menganggarkan Surplus Penerimaan dalam APBD

72

C. Penerimaan Pembiayaan yang berasal dari Pinjaman

75

 

1.

Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

75

2.

Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

76

3.

Pemerintah Provinsi

77

4.

Per Wilayah

78

5.

Daerah yang Melampaui Batas Maksimal Defisit yang Dibiayai Pinjaman

79

D. Dana Idle

 

81

BAB V

REALISASI APBD

83

A. Realisasi APBD 2009 – 2010

83

B. Realisasi Penyerapan Belanja Daerah Secara Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota Seluruh Provinsi Tahun Anggaran 2011 per Bulan

91

C. Realisasi Penyerapan Belanja Daerah Secara Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota Seluruh Provinsi Tahun Anggaran 2012 Triwulan I

93

DAFTAR PUSTAKA

 

95

UCAPAN TERIMA KASIH

96

Daftar tabel

Tabel 1.1.

Pembiayaan Daerah

4

Tabel 1.2.

Rata-rata pertumbuhan (2009 – 2012) SiLPA dan Pinjaman

Provinsi yang memiliki Rasio Pajak di atas rata-rata Agregat

Tabel 2.1.

Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Provinsi, Kabupaten dan Kota

12

18

Tabel 2.2.

Provinsi yang memiliki Ruang Fiskal diatas rata-rata Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

28

Tabel 4.1.

Daerah dengan Defisit Belum Ter-cover oleh Pembiayaan

67

Tabel 4.2.

Daerah yang Menganggarkan SiLPA Tahun Berkenaan dalam APBD (Lebih dari Satu Miliar)

73

Tabel 4.3.

Daerah dengan % Pinjaman di atas Ketentuan PMK No. 127/

PMK.07/2011

80

Tabel 5.1

Komposisi Belanja Lainnya pada APBD dan Realisasi APBD Tahun 2009

87

Daftar GrafIk

Grafik 1.1.

Komposisi Pendapatan Daerah

3

Grafik 1.2.

Komposisi Belanja Daerah

 

4

Grafik 1.3.

Trend APBD

 

5

Grafik 1.4.

Trend Komposisi Pendapatan Daerah TA 2009 – 2012

6

Grafik 1.5.

Rata-rata pertumbuhan (2009 – 2012) Pendapatan Daerah per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

8

Grafik 1.6.

Trend Belanja Daerah TA 2009 – 2012

9

Grafik 1.7.

Rata-rata pertumbuhan (2009 – 2012) Belanja Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

11

Grafik 2.1

Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

17

Grafik 2.2.

Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi

19

Grafik 2.3.

Rasio Pajak Pemerintah Provinsi

20

Grafik 2.4.

Rasio Pajak per Wilayah

 

21

Grafik 2.5.

Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

22

Grafik 2.6.

Rasio Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi

23

Grafik 2.7.

Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi

24

Grafik 2.8.

Rasio Tax per Kapita Per Wilayah

25

Grafik 2.9.

Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

27

Grafik 2.10.

Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi

28

Grafik 2.11.

Ruang

Fiskal

Pemerintah

Provinsi

30

Grafik 2.12.

Ruang Fiskal Per Wilayah

31

Grafik 2.13.

Rasio Ketergantungan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

33

Grafik 2.14.

Rasio Ketergantungan Pemerintah Kabupaten dan kota Se- Provinsi

34

Grafik 2.15

Rasio Ketergantungan Pemerintah Provinsi

35

Grafik 2.16.

Rasio Ketergantungan Per Wilayah

36

Grafik 3.1.

Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

41

Grafik 3.2.

Rasio Jumlah Guru terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

42

Grafik 3.3.

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

43

Grafik 3.4.

Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD Pemerintah Kabupaten

dan Kota se-Provinsi

44

Grafik 3.5.

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

45

Grafik 3.6.

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

46

Grafik 3.7.

Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah

47

Grafik 3.8.

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

49

Grafik 3.9.

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

50

Grafik 3.10.

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

51

Grafik 3.11.

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

52

Grafik 3.12.

Rasio Belanja Modal per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan

Kota

53

Grafik 3.13.

Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

54

Grafik 3.14.

Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Provinsi

55

Grafik 3.15.

Rasio Belanja Modal per Kapita per Wilayah

56

Grafik 3.16.

Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

58

Grafik 3.17.

Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

59

Grafik 3.18.

Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

60

Grafik 3.19.

Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

61

Grafik 4.1.

Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan, Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

63

Grafik 4.2.

Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

64

Grafik 4.3.

Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

65

Grafik 4.4.

Rasio Defisit/Pendapatan Per Wilayah

66

Grafik 4.5.

Rasio SiLPA terhadap Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

69

Grafik 4.6.

Rasio SiLPA terhadap Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

70

Grafik 4.7.

Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

71

Grafik 4.8.

Rasio SiLPA terhadap Belanja per Wilayah

72

Grafik 4.9.

Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

76

Grafik 4.10.

Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

77

Grafik 4.11.

Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

78

Grafik 4.12.

Rasio pinjaman/pendapatan per wilayah

79

Grafik 4.13

Dana Pemda di Perbankan per Bulan

81

Grafik 4.14.

Dana Pemda di Perbankan agregat Kabupaten/kota/Provinsi

82

Grafik 5.1.

Realisasi APBD Tahun 2009 dan 2010

83

Grafik 5.2.

Komposisi Pendapatan APBD dan Realisasi APBD Tahun 2009

84

Grafik 5.3.

Komposisi Pendapatan APBD dan Realisasi APBD Tahun 2010

85

Grafik 5.4.

Komposisi Belanja APBD dan Realisasi APBD Tahun 2009

86

Grafik 5.5 .

Komposisi Belanja APBD dan Realisasi APBD Tahun 2010

88

Grafik 5.6.

Surplus/Defisit APBD dan Realisasi APBD Tahun 2009-2010

89

Grafik 5.7.

SiLPA tahun 2009-2010

90

Grafik 5.8.

Pinjaman tahun 2009-2010

91

Grafik 5.9.

Realisasi Penyerapan Belanja Daerah Secara Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Seluruh ProvinsiTahun 2011

93

Grafik 5.10.

Perbandingan Realisasi Belanja APBD 2012 Triwulan I

94

Grafik 5.11.

Realisasi Belanja Bulan Maret 2012 per Provinsi

94

kata PeNGaNtar

Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal telah meningkatkan peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam mengelola pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Sebagai konsekuensi pembebanan tugas dan tanggung jawab ke daerah yang semakin besar, kepada daerah telah diserahkan sumber pendanaan yang terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, baik melalui skema transfer maupun penyerahan kewenangan perpajakan daerah dan retribusi daerah. Pengelolaan dana tersebut sudah seharusnya dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas belanja daerah (quality of spending), dengan memastikan dana tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk program dan kegiatan yang memiliki nilai tambah besar bagi masyarakat.

Dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, diharapkan agar pemerintah daerah yang berada lebih dekat dengan masyarakat mampu secara cepat menyerap aspirasi dari bawah dan sekaligus memenuhi kebutuhan riil masyarakat lokal. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah perlu menerapkan kebijakan-kebijakan yang kondusif terhadap pembangunan ekonomi dan terus mendorong peningkatan kualitas layanan publik, baik melalui kebijakan fiskal maupun kebijakan non fiskal.

Dalam konteks kebijakan fiskal, pemerintah daerah selama ini mengelola dana yang dikelolanya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang sekaligus menjadi instrument vital bagi kebijakan publik di daerah. APBD yang ditetapkan dengan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menunjukkan sumber-sumber pendapatan daerah, berapa besar alokasi belanja untuk melaksanakan program/kegiatan, serta pembiayaan yang muncul bila terjadi surplus atau defisit.

Dengan jumlah daerah yang telah mencapai 524 daerah saat ini, maka informasi mengenai APBD secara nasional sangat diperlukan guna menunjang

ketepatan pengambilan kebijakan di bidang hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Dalam konteks itulah, buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kondisi fiskal atau keuangan seluruh daerah berdasarkan data yang berasal dari APBD Tahun Anggaran 2012 dari seluruh pemerintah provinsi, kabupaten dan kota. Dari data yang disampaikan melalui Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) inilah kemudian disusun informasi dan analisis atas APBD seluruh daerah. APBD ditelaah berdasarkan aspek pendapatan, belanja, surplus/defisit dan pembiayaan daerahnya. Dalam buku ini juga digunakan beberapa data sekunder lainnya berupa data anggaran pada tahun-tahun sebelumnya, realisasi APBD, ataupun data sosial ekonomi lainnya. Buku ini akan menyajikan berbagai rasio keuangan yang dapat dilihat baik secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota), per provinsi, kabupaten dan kota per provinsi maupun berdasarkan wilayah (Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara-Maluku-Papua).

Kami mengharapkan agar buku Deskripsi dan Analisis APBD 2012 ini dapat bermanfaat bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan baik di pusat maupun di daerah sebagai bahan masukan dalam pengambilan kebijakan yang terkait dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

Jakarta,

Juni 2012
Juni 2012

Marwanto Harjowiryono NIP 19590606 198312 1 001

Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan

eksekUtIf sUMMarY

Dalam melakukan analisis pendapatan, terdapat empat rasio yang akan dilihat secara detail, yaitu rasio pajak (tax ratio), rasio pajak per kapita (tax per capita), ruang fiskal (fiscal space), serta ketergantungan fiskal. Dua rasio pertama menyoroti pajak daerah sebagai sumber utama PAD yang diperbandingkan dengan PDRB dan jumlah penduduk, sedangkan dua rasio terakhir membahas pengelolaan pendapatan daerah untuk memenuhi kebutuhan belanjanya serta kemampuan daerah dalam menghasilkan pendapatan daerah dengan tidak tergantung dari pihak eksternal.

Secara agregat provinsi, kabupaten, dan kota, provinsi yang mempunyai rasio pajak tertinggi adalah Provinsi Bali. Tingginya rasio pajak ini karena penerimaan pajak daerah di provinsi, kabupaten dan kota se-provinsi Bali cukup besar. Kontribusi utama penerimaan pajak daerah di Provinsi Bali adalah dari sektor industri pariwisata. Sementara itu, provinsi yang memiliki rasio pajak paling rendah adalah Provinsi Papua. Diilihat dari aspek pajak per kapita secara keseluruhan, Provinsi DKI Jakarta merupakan daerah yang memiliki rasio pajak per kapita tertinggi, yang berarti setiap penduduk yang ada di Provinsi DKI Jakarta memiliki kontribusi besar dalam menghasilkan penerimaan daerah berupa Pajak Daerah. Sementara itu, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki rasio pajak per kapita terendah dari 33 provinsi di Indonesia.

Ruang fiskal (fiscal space) merupakan suatu konsep untuk mengukur fleksibilitas yang dimiliki pemerintah daerah dalam mengalokasikan APBD untuk membiayai kegiatan yang menjadi prioritas daerah. Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, Provinsi Kalimantan Timur mempunyai ruang fiskal tertinggi. Sementara itu, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang memiliki ruang fiskal terendah. Bagi pemerintah daerah memiliki ruang fiskal yang terbatas, diperlukan kejelian dan strategi yang tepat dalam mengalokasikan

belanjanya pada kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas daerah dan mempunyai daya ungkit (leverage) yang tinggi bagi perekonomiannya.

Rasio ketergantungan daerah dicerminkan oleh rasio PAD terhadap total pendapatan, serta rasio transfer terhadap total pendapatan. Dua rasio tersebut memiliki sifat berlawanan, yaitu semakin tinggi rasio PAD semakin rendah ketergantungan daerah dan sebaliknya untuk rasio transfer, semakin tinggi rasio transfer semakin tinggi ketergantungan daerah. Untuk rasio PAD, Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio tertinggi secara nasional, Provinsi Bali untuk kabupaten/ kota per provinsi, Jawa Timur untuk per pemerintah provinsi dan Jawa Bali untuk kewilayahan. Sementara itu rasio PAD yang terendah secara nasional, serta per pemerintah provinsi adalah adalah Provinsi Papua Barat, untuk kabupaten/kota per provinsi adalah Provinsi Maluku sedangkan untuk per wilayah adalah Nusa Tenggara Maluku Papua. Posisi tertinggi dan terendah rasio transfer umumnya berkebalikan dengan posisi yang bersangkutan pada rasio PAD.

Terkait dengan belanja daerah, analisis meliputi rasio belanja pegawai terhadap total belanja, termasuk di dalamnya rasio jumlah guru terhadap jumlah PNSD, rasio belanja modal per total belanja daerah, rasio belanja modal per jumlah penduduk, serta rasio bantuan sosial terhadap total belanja daerah. Semua rasio tersebut menunjukkan kecenderungan pola belanja daerah, apakah suatu daerah cenderung mengalokasikan dananya untuk belanja yang terkait erat dengan upaya peningkatan ekonomi seperti Belanja Modal atau untuk belanja yang sifatnya untuk pendanaan aparatur seperti Belanja Pegawai. Pentingnya mengamati berapa proporsi gaji guru dalam Belanja Pegawai adalah karena selama ini banyak pihak yang menyoroti dan mengkritisi mengenai jumlah Belanja Pegawai yang dinilai terlalu besar dalam APBD. Banyak pihak menyampaikan bahwa hal ini mengakibatkan berkurangnya alokasi untuk Belanja Modal, yang dipandang lebih mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemenuhan pelayanan publik kepada masyarakat.

Untuk belanja pegawai, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rasio belanja pegawai tertinggi untuk agregat pemda provinsi kabupaten dan kota.

Sementara itu, rasio belanja pegawai terendah untuk seluruh pemda per provinsi kabupaten dan kota adalah Provinsi Papua Barat. Sedangkan agregat provinsi, kabupaten dan kota yang memiliki rasio jumlah guru terhadap total PNSD paling besar adalah Provinsi Banten, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling kecil adalah Provinsi Papua Barat.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa wilayah Sulawesi mengalokasikan Belanja Pegawai tertinggi, namun jumlah guru di wilayah Sulawesi adalah yang terendah. Hal ini berarti wilayah Sulawesi memang

mengalokasikan Belanja Pegawai yang bersifat administratif jauh lebih tinggi

di banding wilayah lain di Indonesia. Hal ini patut diperhatikan mengingat

bahwa Belanja Pegawai yang bersifat administratif inilah yang menjadi sorotan masyarakat karena dinilai terlalu “gemuk” dan tidak efisien. Berbeda apabila pembebanan Belanja Pegawai banyak dialokasikan untuk gaji guru yang bersifat wajib dalam rangka menjamin kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat dalam bidang pendidikan.

Kondisi berkebalikan terjadi untuk rasio belanja modal. Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rasio terendah untuk rasio belanja modal, sedangkan

Kalimantan Timur merupakan yang tertinggi secara agregat provinsi, kabupaten, dan kota. Untuk rasio belanja modal per kapita, Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Tengah merupakan yang memiliki rasio tertinggi dan terendah dalam agregat per provinsi, kabupaten, dan kota. Sementara berdasarkan pembagian wilayah, rasio

di Kalimantan merupakan yang tertinggi, dan Jawa Bali (tidak termasuk DKI)

adalah yang terendah.

Rasio belanja bantuan sosial terhadap total belanja daerah secara agregat

provinsi, kabupaten dan kota yang terkecil terdapat pada Provinsi DKI Jakarta, sedangkan daerah yang memiliki rasio belanja bantuan sosial terhadap total belanja daerah terbesar secara agregat adalah Provinsi Aceh. Bantuan Sosial

ini harus dicermati karena berpotensi menimbulkan tumpang tindih kegiatan

dengan kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja perangkat daerah (SKPD), di mana keduanya menggunakan dana dari APBD.

Data APBD menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan daerah untuk menganggarkan defisit dalam APBD-nya. Hal ini terlihat dari 491 kabupaten/kota dan 33 provinsi di Indonesia pada TA 2012 sebanyak 447 daerah menganggarkan defisit dalam APBD-nya, lebih banyak dibanding TA 2011 (438 daerah), sedangkan yang menganggarkan surplus di tahun 2012 sebanyak 68 daerah dan sisanya sebanyak 9 daerah mempunyai anggaran pendapatan dan belanja yang bernilai sama atau berimbang. Fenomena ini menarik untuk dicermati karena sebenarnya secara umum daerah tidak sedang dalam kondisi defisit secara riil. Hal ini terbukti karena dalam realisasinya, pada umumnya daerah mengalami surplus. Begitu juga defisit yang daerah anggarkan pada umumnya dapat ditutup dengan sumber dana internal seperti SiLPA.

Rata-rata rasio defisit secara nasional (agregat kabupaten/kota dengan provinsi) adalah 7,3% dengan kontribusi SiLPA untuk menutup defisit tersebut sekitar 91,3% sedangkan kontribusi penerimaan pinjaman 5,9%. Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah dengan rasio defisit terbesar di mana faktor utama penyebab hal tersebut berasal dari kabupaten/kota di wilayah itu. Kabupaten Mamberamo Tengah merupakan daerah dengan nilai defisit APBD yang tidak ter-cover oleh pembiayaan terbesar yaitu sebesar Rp65,9miliar atau sebesar 8,21% dari anggaran belanja.

Rasio SiLPA terhadap belanja selain menggambarkan besaran belanja yang tertunda pelaksanaannya pada tahun sebelumnya juga menggambarkan jumlah realisasi pendapatan tahun anggaran sebelumnya lebih besar dari proyeksinya. Rasio SiLPA terhadap belanja daerah secara agregat provinsi, kabupaten dan kota tertinggi adalah Provinsi Kalimantan Timur.

Rasio pinjaman terhadap pendapatan APBD secara rata-rata adalah sebesar 0,6%. Nilai tersebut masih jauh lebih kecil dibanding batas pinjaman yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127/PMK.07/Tahun 2011, yaitu 6% total pendapatan. Rasio pinjaman tertinggi adalah DKI Jakarta. Dari 33 wilayah provinsi, terdapat 10 provinsi yang tidak menganggarkan Penerimaan Pinjaman dalam APBD-nya. Secara nasional, defisit APBD 2012 adalah 0,47%

dari perkiraan PDB 2012 dan besarnya rencana penarikan pinjaman daerah adalah Rp3,3 triliun (0,61% dari Pendapatan Daerah), sehingga secara nasional keduanya belum melampaui batas ketentuan yang diatur dalam PMK Nomor

127/PMK.07/2011.

Dana Idle merupakan dana yang tidak atau belum digunakan oleh pemerintah daerah. Dana idle yang dapat dipantau oleh pemerintah pusat dalam tiap bulannya adalah dana idle pemda yang disimpan di perbankan. Dana pemda di perbankan merupakan akumulasi dana pemda baik yang berupa dana cadangan, investasi dan dana idle. Bulan Desember merupakan titik terendah dalam tiap tahunnya dan kembali meningkat pada awal tahun berikutnya. Besaran dana pemda di perbankan pada bulan Desember 2011 lebih besar dibandingkan pada bulan Desember 2010. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan besaran SiLPA tahun berkenaan pada tahun 2011. Untuk tahun 2012 dalam perbandingan per bulan (month-on-month) lebih tinggi dibanding tahun 2011.

Apabila melihat trend Realisasi APBD tahun 2008 s.d. 2010, berkebalikan dengan realisasi pendapatan, realisasi dari belanja hampir selalu lebih kecil dari anggaran yang ditetapkan, kecuali pada pos Belanja Pegawai dan Belanja Lainnya. Dalam anggarannya, defisit APBD 2010 lebih rendah dibanding dengan tahun 2009. Sementara dalam realisasinya, pada tahun 2009 terjadi realisasi defisit yang lebih rendah dan di tahun 2010 justru terjadi surplus. Terjadinya surplus pada tahun 2010 lebih dipengaruhi oleh realisasi pendapatan yang melebihi anggaran, sedangkan porsi surplus yang dipengaruhi oleh tidak terlaksananya belanja mempunyai pengaruh yang lebih kecil.

bab I PeNDaHUlUaN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya pemerintah mempunyai peran sebagai aktor sekaligus fasilitator dalam menggerakkan roda perekonomian. Peran tersebut dilakukan baik oleh pemerintah pusat selaku pengawal perekonomian nasional, maupun pemerintah daerah dalam konteks perekonomian lokal. Peran sebagai aktor terutama akan dilakukan oleh pemerintah melalui belanja-belanja yang mampu secara langsung mendorong pergerakan roda perekonomian, baik di tingkat nasional maupun lokal, semisal melalui pembangunan infrastruktur atau pembangunan sarana layanan publik yang vital. Sementara peran sebagai fasilitator akan lebih banyak ditunjukkan melalui kebijakan-kebijakan yang kondusif terhadap pembangunan ekonomi, baik melalui kebijakan fiskal maupun kebijakan non fiskal.

Dalam konteks pembangunan di daerah, maka kedua peran tersebut di atas akan nampak dalam kebijakan fiskal daerah. Instrumen kebijakan fiskal yang digunakan oleh pemerintah daerah dalam rangka melakukan pelayanan publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi akan tercermin dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). APBD yang direncanakan setiap tahun dengan mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pada dasarnya menunjukkan sumber-sumber pendapatan daerah, berapa besar alokasi belanja untuk melaksanakan program/kegiatan dan sumber-sumber pendapatan, serta pembiayaan yang muncul bila terjadi surplus atau defisit. Sumber pendapatan daerah tentunya masih bersandar pada penerimaan pajak dan retribusi daerah ditambah dengan dana transfer dari pemerintah pusat serta bisa juga berasal dari lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Perwujudan pelayanan publik di daerah tentunya berkorelasi erat dengan kebijakan belanja daerah. Belanja daerah merupakan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendanai seluruh program/kegiatan yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan publik di daerah. Dalam hal penganggaran tentunya bisa terjadi selisih antara pendapatan dan belanja daerah, penyebabnya bisa sangat beragam, akan tetapi surplus atau defisit daerah yang timbul tersebut tentunya perlu disikapi oleh daerah dengan kebijakan pembiayaan daerah. Bila terjadi surplus atau SiLPA maka daerah bisa mengoptimalisasi dana tersebut untuk mendanai belanja kegiatan yang telah direncanakan, akan tetapi bila terjadi defisit maka daerah perlu mencari alternatif pembiayaan lain yang bisa berupa pinjaman daerah atau melakukan penghematan anggaran dengan melakukan penyisiran kegiatan yang tidak perlu dilaksanakan atau ditunda pelaksanannya.

Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kondisi fiskal atau keuangan seluruh daerah di Indonesia dengan berdasarkan data yang terutama berasal dari APBD Tahun Anggaran (TA) 2012 dari seluruh pemerintah provinsi, kabupaten dan kota. Analisis APBD ditelaah berdasarkan aspek pendapatan, belanja, surplus defisit dan pembiayaan daerahnya. Dalam analisis ini juga digunakan beberapa data sekunder lainnya berupa data anggaran sebelum APBD 2012, realisasi APBD, hingga data pendukung lain yang digunakan untuk melakukan analisis time-series. Alat analisis utamanya adalah rasio keuangan yang dilakukan secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota), per provinsi, kabupaten dan kota dan berdasarkan wilayah (Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Maluku Papua).

B. Gambaran Umum APBD 2012

Secara nominal, APBD TA 2012 naik cukup signifikan dibandingkan tahun- tahun sebelumnya. Total pendapatan di tahun 2012 naik dari Rp459,9 triliun di tahun 2011 menjadi Rp551,6 triliun di tahun 2012, demikian juga total belanja naik dari Rp495,3 triliun di tahun 2011 menjadi Rp591,9 triliun di tahun 2012.

Secara umum, kenaikan yang cukup tinggi ini memang didorong oleh kenaikan pagu transfer dari Pusat yang juga naik cukup signifikan di tahun 2012, selain kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang juga cukup tinggi. (Data yang dianalisis menggunakan data APBD yang telah dikonsolidasikan untuk menghilangkan penghitungan ganda atas beberapa reciprocal account).

Grafik 1.1. Komposisi Pendapatan Daerah

account ). Grafik 1.1. Komposisi Pendapatan Daerah Sumber: APBD 2012 (Diolah) Komposisi Pendapatan Daerah pada

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Komposisi Pendapatan Daerah pada APBD TA 2012 secara nasional dapat dibagi dalam 3 (tiga) bagian utama yaitu PAD, Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Grafik 1.1 menunjukkan besaran jumlah uang dan persentase dari ketiga sumber pendapatan daerah. Terlihat bahwa Dana Perimbangan masih mendominasi sumber pendapatan daerah yaitu sebesar sebesar 69,0% atau Rp380,601 triliun, sedangkan PAD hanya sebesar 20,4% atau sebesar Rp112,720 triliun dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah sebesar 10,6% atau sebesar Rp58,262 triliun.

Grafik 1.2. Komposisi Belanja Daerah

Grafik 1.2. Komposisi Belanja Daerah Sumber: APBD 2012 (Diolah) Belanja Daerah secara nasional pada TA 2012

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Belanja Daerah secara nasional pada TA 2012 mencapai Rp591,887 triliun. Belanja Pegawai porsinya masih dominan yaitu mencapai 44,1% atau sebesar Rp261,153 triliun. Belanja Modal mencapai Rp137,438 triliun atau sebesar 23,2%. Belanja Barang dan Jasa mencapai Rp71,071 triliun atau 12,0%.

Tabel 1.1. Pembiayaan Daerah (Juta Rupiah)

Pembiayaan

40.998.593

Penerimaan Pembiayaan

52.001.860

Pengeluaran Pembiayaan

11.003.266

Defisit pada APBD secara nasional yang mencapai Rp40,304 triliun, yang selanjutnya oleh Daerah, defisit tersebut ditutup dengan berbagai jenis sumber pembiayaan. Total Pembiayaan Daerah secara nasional mencapai Rp40,998 triliun dengan Penerimaan Pembiayaan (SiLPA, Pinjaman dan lain-lain) mencapai

Rp52,002 triliun serta Pengeluaran Pembiayaan dianggarkan sebesar Rp11,003 triliun.

C. Trend APBD 2009 – 2012

Berdasarkan data APBD TA 2009 hingga 2012 yang telah dikonsolidasikan maka kita bisa mendapatkan gambaran sebagai berikut:

Grafik 1.3. Trend APBD (dalam miliar rupiah)

berikut: Grafik 1.3. Trend APBD (dalam miliar rupiah) Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Dari grafik tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa setiap tahun sejak 2009 hingga 2012 seluruh daerah di Indonesia menganggarkan kenaikan Pendapatan Daerah yang secara rata-rata peningkatannya mencapai 14,7% per tahun. Peningkatan pendapatan tertinggi adalah pada tahun 2012 sebesar 19,9%, di mana Pendapatan Daerah pada tahun 2011 sebesar Rp459,9 triliun meningkat menjadi sebesar Rp551,6 triliun pada tahun 2012.

Secara nasional trend anggaran Belanja Daerah mengalami rata-rata peningkatan dari tahun 2009 hingga 2012 sebesar 12,8%. Belanja Daerah yang dianggarkan pada tahun 2011 sebesar Rp495,3 triliun meningkat 19,5% pada tahun 2012 menjadi sebesar Rp591,9 triliun.

Trend defisit yang dianggarkan daerah cenderung fluktuatif. Pada tahun 2009 hingga 2011 cenderung terus mengalami penurunan, akan tetapi pada tahun 2012 defisit anggaran meningkat sebesar 13,9%. Trend peningkatan Pembiayaan Netto juga relatif sama polanya. Peningkatan persentase Pembiayaan Netto pada tahun 2012 adalah sebesar 13,5%.

Grafik 1.4. Trend Komposisi Pendapatan Daerah TA 2009 – 2012 (dalam miliar rupiah)

Pendapatan Daerah TA 2009 – 2012 (dalam miliar rupiah) Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Komposisi setiap jenis Pendapatan Daerah beserta trend-nya terlihat pada tabel diatas. Secara nasional porsi Dana Perimbangan masih dominan setiap tahunnya, akan tetapi terlihat laju peningkatannya lebih rendah bila dibandingkan

laju peningkatan PAD. PAD terus mengalami peningkatan dimana pada tahun

2009

PAD seluruh daerah secara nasional mencapai Rp62,7 miliar dan di tahun

2012

meningkat menjadi Rp112,7 miliar rupiah. Peningkatan tersebut secara

rata-rata dari tahun 2009 hingga 2012 adalah sebesar 21,7%, peningkatan dari tahun 2011 hingga ke 2012 adalah sebesar 24,7%.

Dana Perimbangan secara nasional setiap tahunnya mengalami peningkatan, di mana pada tahun 2009 dana perimbangan hanya Rp285,0 triliun terus meningkat menjadi Rp380,6 triliun di tahun 2012. Rata-rata peningkatan dana perimbangan dari tahun 2009 hingga 2012 hanya di kisaran 10,3%. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 16,3% apabila dibandingkan dengan anggaran Dana Perimbangan di tahun 2011.

Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah juga menunjukkan tren peningkatan dari tahun 2009 hingga 2012. Pada tahun 2009 secara nasional Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah masih di kisaran Rp19,5 triliun, kemudian mengalami rata-rata peningkatan per tahunnya sebesar 47,2%, sehingga di tahun 2012 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah mencapai Rp58,0 triliun. Persentase peningkatan tertinggi terjadi pada tahun anggaran 2011 yaitu sebesar 89,7% dibandingkan anggaran tahun sebelumnya dan di tahun 2012 dianggarkan meningkat 38,3%.

Grafik 1.5. Rata-rata pertumbuhan (2009 – 2012) Pendapatan Daerah per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Pendapatan Daerah per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Berdasarkan data trend 2009 hingga 2012 maka kita juga bisa melihat gambaran tingkat pertumbuhan total Pendapatan Daerah beserta komponen utamanya yaitu PAD dan Dana Perimbangan. Secara agregat pendapatan seluruh daerah per provinsi dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan total pendapatan daerah yang tertinggi adalah di Provinsi Banten (19,6%), lalu diikuti oleh Provinsi Bali (19,5%) dan Provinsi Sumatera Utara (19,4%). Sedangkan rata-rata pertumbuhan Pendapatan Daerah yang terendah adalah di Provinsi Sulawesi Utara (9,9%), Provinsi Maluku Utara (10,0%), dan Povinsi Kalimantan Timur (10,0%).

Bila dilihat berdasarkan rata-rata pertumbuhan PAD per tahunnya yang tertinggi adalah terdapat di Provinsi Kalimantan Timur sebesar 35,2%, lalu diikuti oleh Provinsi Kalimantan Barat yaitu sebesar 31,6%, dan Provinsi Jawa Timur yaitu sebesar 31,5%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan PAD yang terendah yaitu di bawah 10% terdapat di Provinsi Aceh yaitu di kisaran 5,0%, Provinsi Bengkulu

sebesar 5,8%, Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 7,0% dan Provinsi Riau sebesar 8,7%.

Di sisi lain rata-rata pertumbuhan Dana Perimbangan dari tahun 2009 hingga 2012 cenderung tidak terlalu tajam fluktuasinya antar provinsi yaitu di kisaran 7,5% hingga 15%, dengan pengecualian Provinsi DKI Jakarta dengan rata-rata pertumbuhan Dana Perimbangan -1,1%.

Grafik 1.6. Trend Belanja Daerah TA 2009 – 2012 (dalam miliar rupiah)

Trend Belanja Daerah TA 2009 – 2012 (dalam miliar rupiah) Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 -

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Berdasarkan tabel di atas maka dapat kita amati porsi tiap jenis Belanja Daerah setiap tahun dan trend kenaikan/penurunannya antar tahun. Bila dicermati Belanja Pegawai (langsung dan tidak langsung) secara nasional cenderung terus meningkat dari tahun 2009 hingga 2012, di mana pada tahun 2009 total Belanja Pegawai secara nasional baru mencapai angka Rp180,4

miliar rupiah dan di tahun 2012 meningkat menjadi Rp261,1 miliar rupiah. Rata- rata peningkatan Belanja Pegawai mencapai 13,1%. Pada tahun 2012 Belanja Pegawai mengalami peningkatan sebesar 14,0% dibandingkan dengan tahun

2011.

Besarnya Belanja Barang dan Jasa juga mengalami peningkatan setiap tahunnya, pada tahun 2009 total Belanja Barang dan Jasa secara nasional di kisaran Rp79,6 miliar rupiah dan pada tahun 2012 telah meningkat menjadi Rp122,2 miliar rupiah. Peningkatan Belanja Barang dan Jasa secara rata-rata dari tahun 2009 hingga 2012 adalah sebesar 13,0%.

Fenomena yang agak berbeda terlihat dari trend Belanja Modal TA 2009 hingga 2012, di mana secara rata-rata mengalami peningkatan di kisaran 7,7% dari tahun 2009 hingga 2012. Namun demikian, bila dilihat secara nominal, maka trend tersebut cenderung fluktuatif, dimana pada tahun 2009 total Belanja Modal mencapai Rp114,6 miliar rupiah lalu mengalami penurunan di tahun 2010 yaitu hanya sebesar Rp96,2 miliar rupiah, kemudian mengalami peningkatan di dua tahun terakhir hingga mencapai Rp137,4 miliar rupiah di tahun 2012.

Belanja Lain-Lain juga cenderung fluktuatif, di mana pada tahun 2009 Belanja Lain-Lain secara total mencapai Rp40,60 miliar lalu naik menjadi Rp50,11 miliar di tahun 2010. Selanjutnya total Belanja Lain-Lain di tahun 2011 turun lagi menjadi Rp48,4 miliar dan akhirnya pada tahun 2012 total anggaran Belanja Lain-Lain meningkat menjadi Rp96,1miliar. Secara rata-rata peningkatan total Belanja Lain-Lain pada tahun 2009 hingga 2012 adalah sebesar 22,3%.

Grafik 1.7. Rata-rata pertumbuhan (2009 – 2012) Belanja Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Belanja Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Berdasarkan grafik 1.7 kita bisa melihat gambaran rata-rata tingkat pertumbuhan total Belanja Daerah beserta komponen utamanya yaitu Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, serta Belanja Modal dari tahun 2009 hingga ke 2012. Secara agregat per propinsi, rata-rata pertumbuhan total belanja daerah yang tertinggi adalah di Provinsi Banten (19,6%), lalu diikuti oleh Provinsi Lampung (18,2%) dan Provinsi Bali (17,3%). Sedangkan rata-rata pertumbuhan Belanja Daerah yang terendah terdapat di Provinsi Aceh (4,2%), Provinsi Kalimantan Tengah (6,9%), dan Provinsi Kalimantan Timur (7,6%).

Bila dilihat berdasarkan rata-rata pertumbuhan Belanja Pegawai per tahunnya yang tertinggi adalah terdapat di Provinsi Maluku yaitu sebesar 17,5%, lalu diikuti oleh Provinsi Gorontalo yaitu sebesar 16,7%, dan Provinsi Kalimantan Selatan yaitu sebesar 16,5%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan Belanja Pegawai yang terendah terdapat di Provinsi Riau yaitu di kisaran 9,7%, Provinsi Sumatera Selatan sebesar 10,0%, dan Provinsi Aceh sebesar 10,7%.

Rata-rata pertumbuhan Belanja Barang dan Jasa yang tertinggi terdapat di Provinsi Banten yaitu sebesar 29,5%, Provinsi Aceh sebesar 24,6%, dan Provinsi Kepulauan Riau sebesar 23,4%. Sedangkan rata-rata pertumbuhan Belanja Barang dan Jasa yang terendah terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah yaitu sebesar 5,1%, Provinsi Maluku yaitu sebesar 7,4% , dan Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 7,6%.

Rata-rata pertumbuhan Belanja Modal yang tertinggi terdapat di Provinsi Lampung yaitu sebesar 34,5% lalu diikuti oleh Provinsi Jateng sebesar 25,6% dan Provinsi Banten sebesar 25,3%. Rata-rata pertumbuhan Belanja Modal yang terendah terdapat di Provinsi Aceh yaitu -24,5%, lalu Provinsi Bangka Belitung sebesar -4,5% dan Provinsi Kepulauan Riau sebesar -2,0%. Menarik dicermati selain tiga provinsi dengan rata-rata pertumbuhan terendah tersebut masih ada 5 provinsi lagi yang rata-rata pertumbuhannya di kisaran 1,0% hingga -2,0%. Provinsi NAD relatif terus menurun Belanja Modalnya karena pembangunan infrastruktur sejak terjadinya tsunami di sana lebih dominan berasal dari bantuan hibah yang masuk pada Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah.

Tabel 1.2. Rata-rata pertumbuhan (2009 – 2012) SiLPA dan Pinjaman Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

No

Se-Provinsi

SiLPA

Pinjaman

No

Se-Provinsi

SiLPA

Pinjaman

 

(%)

(%)

 

(%)

(%)

1

Aceh

-35.00

11.69

18

Papua

3.69

-24.24

2

Babel

-21.79

 

19

Bali

3.75

597.62

3

Kalteng

-17.02

-91.42

20

Jateng

4.13

5.03

4

Bengkulu

-16.58

 

21

Maluku

5.59

-73.97

5

Sultra

-13.28

10.54

22

Jabar

7.03

88.78

6

Sumbar

-10.92

12.96

23

Papbar

11.00

23.40

7

Jambi

-8.38

-85.39

24

NTT

12.50

61.59

8

Kaltim

-3.45

-37.85

25

Malut

15.02

22.63

No

Se-Provinsi

SiLPA

Pinjaman

No

Se-Provinsi

SiLPA

Pinjaman

 

(%)

(%)

 

(%)

(%)

9

Sulsel

-2.21

9.24

26

Banten

18.33

-100.00

10

Sumut

-1.79

265.35

27

Sumsel

19.11

-51.47

11

Kepri

-1.13

-35.46

28

Sulteng

19.56

-52.25

12

DIY

-0.56

-100.00

29

Lampung

30.63

-33.56

13

NTB

0.42

153.60

30

DKI

35.64

 

14

Kalsel

0.87

-14.51

31

Sulut

44.22

 

15

Jatim

1.19

-17.26

32

Gorontalo

47.64

-25.00

16

Riau

1.77

-100.00

33

Sulbar

57.80

93.41

17

Kalbar

2.45

46.24

 

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2009 - 2012 (Diolah)

Di sisi Pembiayaan Daerah, berdasarkan trend APBD 2009 – 2012 maka kita bisa mendapatkan gambaran mengenai rata-rata pertumbuhsan SiLPA dan Pinjaman Daerah agregat provinsi, kabupaten dan kota. Rata-rata pertumbuhan SiLPA yang terendah terdapat di Provinsi Aceh yaitu -35,0%, lalu diikuti oleh Provinsi Bangka Belitung sebesar -21,8%, dan Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 17,0%. Kecenderungan pertumbuhan SiLPA yang negatif setiap tahunnya bisa diartikan bahwa dalam proses perencanaan anggaran seluruh pemerintah daerah di provinsi tersebut lebih mengedepankan kehati-hatian dalam melakukan estimasi terhadap sumber pendanaan yang akan diterima pada saat anggaran tahun berjalan.

Sedangkan rata-rata pertumbuhan SiLPA yang tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Barat yaitu sebesar 57,8%, Provinsi Gorontalo yaitu sebesar 47,6%, dan Provinsi Sulawesi Utara yaitu sebesar 44,2%. Kecenderungan ini bisa diartikan bahwa pemerintah daerah di provinsi tersebut lebih optimis dalam estimasi atas dana yang akan diterima pada tahun anggaran berjalan akan tetapi kurang

progresif mengalokasikannya dalam jenis belanja untuk mendanai kegiatan layanan publik di APBD-nya.

Di sisi Pinjaman Daerah, maka terlihat bahwa tidak terdapat pola yang jelas dalam hal rata-rata pertumbuhan Pinjaman Daerah. Sebagian besar daerah cenderung memiliki rata-rata pertumbuhan pinjaman daerah yang negatif, bahkan ada beberapa provinsi (Daerah Istimewa Yogyakarta, Riau, dan Banten) yang mencapai rata-rata pertumbuhan -100% yang berarti bahwa satu atau lebih pemerintah daerah di provinsi tersebut dulu pernah meminjam akan tetapi setelah itu tidak pernah lagi merealisasikan pinjaman daerah sebagai salah satu sumber pembiayaan daerahnya.

Rata-rata pertumbuhan pinjaman daerah yang tertinggi terdapat di Provinsi Bali yang hampir mencapai 600%, lalu diikuti Provinsi Sumatera Utara yang mencapai 256,3% dan Provinsi Nusa Tenggara Barat yang hampir mencapai 153,6%. Ketiga provinsi ini memang relatif memiliki rata-rata pertumbuhan SiLPA yang rendah yaitu secara berturut-turut adalah 3,7%, -1,8%, dan 0,4%, sehingga wajar bila mereka mengedepankan sumber pembiayaan yang berasal dari Pinjaman Daerah.

bab II aNalIsIs PeNDaPataN DaeraH

Analisis Pendapatan Daerah bertujuan untuk menganalisis komponen Pendapatan Daerah sebagai sumber penerimaan daerah dalam rangka menutupi kebutuhan belanjanya. Analisis ini penting dalam rangka melihat gambaran kondisi pendapatan daerah pada 524 pemerintah provinsi/kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang ditinjau dari berbagai sudut pandang.

Dalam melakukan analisis pendapatan, terdapat empat rasio yang akan dilihat secara detail, yaitu rasio pajak (tax ratio), rasio pajak per kapita (tax per capita), ruang fiskal (fiscal space), serta ketergantungan fiskal. Dua rasio pertama menyoroti pajak daerah sebagai sumber utama PAD yang diperbandingkan dengan PDRB dan jumlah penduduk, sedangkan dua rasio terakhir membahas kemampuan daerah dalam menghasilkan Pendapatan Daerah untuk memenuhi kebutuhan belanjanya serta kemampuan daerah dalam menghasilkan Pendapatan Daerah dengan tidak tergantung dari pihak eksternal.

A. Rasio Pajak (Tax Ratio)

Rasio pajak (tax ratio) merupakan rasio yang menggambarkan perbandingan jumlah penerimaan pajak dengan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara dalam satu tahun. Sementara itu, di tingkat daerah rasio pajak merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Rasio pajak dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak, mengukur kinerja perpajakan, dan melihat potensi pajak yang dimiliki.

PDRB sangat erat kaitannya dengan pajak daerah. PDRB menggambarkan kegiatan ekonomi masyarakat yang jika pertumbuhannya baik akan menjadi potensi penerimaan pajak di wilayah tersebut. Ada 2 jenis perhitungan PDRB

yang digunakan di Indonesia, yaitu PDRB atas dasar harga berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku merupakan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun dan pada umumnya digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi yang terjadi di suatu wilayah. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar penghitungannya dan pada umumnya digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi yang terjadi di suatu wilayah dari tahun ke tahun. PDRB yang akan digunakan dalam analisis ini adalah PDRB atas dasar harga berlaku.

Perhitungan rasio pajak di berbagai wilayah di Indonesia akan memberikan gambaran hubungan antara penerimaan pajak daerah di wilayah tersebut dengan PDRB-nya, menilai kondisi suatu daerah, dan membandingkannya dengan daerah lain.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.1 menunjukkan rasio pajak agregat provinsi, kabupaten dan kota pada 33 Provinsi seluruh Indonesia. Dari grafik dapat dilihat bahwa provinsi yang mempunyai rasio pajak tertinggi adalah Provinsi Bali yaitu sebesar 3,9%. Tingginya rasio pajak ini karena penerimaan pajak daerah di Provinsi Bali cukup besar dan PDRB-nya tidak terlalu besar. Kontribusi utama penerimaan Pajak Daerah di Provinsi Bali adalah dari sektor industri pariwisata.

Sementara itu, provinsi yang memiliki rasio pajak paling rendah adalah Provinsi Papua yaitu sebesar 0,4%. Kondisi ini diakibatkan rendahnya penerimaan pajak daerah di provinsi tersebut. Patut disadari bahwa kewenangan perpajakan daerah yang diberikan kepada daerah memang relatif terbatas. Sumber Pajak Daerah yang cukup dominan bagi daerah memang lebih banyak bias kekotaan, seperti Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Reklame dan lain-lain. Untuk itulah, daerah-daerah yang memang unsur kekotaannya tidak terlalu tinggi seperti di Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Barat, harus sangat

jeli untuk melihat peluang, seperti melalui pengembangan potensi wisata yang dapat menghasilkan penerimaan pajak dari hotel dan restoran.

Grafik 2.1 Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.1 Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) Jika dilihat dari

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Jika dilihat dari penerimaan pajak daerahnya, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta merupakan daerah yang memiliki penerimaan pajak daerah tertinggi. Namun demikian, PDRB Provinsi DKI Jakarta juga yang paling tinggi diantara 33 provinsi lainnya. Hal inilah yang menyebabkan rasio pajak Provinsi DKI Jakarta menjadi rendah.

Berdasarkan data rasio pajak di 33 provinsi, diperoleh gambaran bahwa rata-rata rasio pajak daerah secara nasional sebesar 1,39%. Adapun provinsi yang memiliki rasio pajak di atas rata-rata nasional sebanyak 14 provinsi sebagaimana terlihat pada tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1. Provinsi yang memiliki Rasio Pajak di atas rata-rata Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota (%)

No

Nama Daerah

Rasio

No

Nama Daerah

Rasio

1

Provinsi Bali

3,9

8

Provinsi DI Yogyakarta

1,7

2

Provinsi

Maluku

2,4

9

ProvinsiMaluku Utara

1,7

3

Provinsi Kalimantan Selatan

2,3

10

ProvinsiKalimantan Timur

1,6

4

Provinsi Banten

2,1

11

Provinsi Kalimantan Barat

1,6

5

Provinsi Gorontalo

1,8

12

Provinsi Bangka Belitung

1,5

6

Provinsi Bengkulu

1,7

13

Provinsi Sumatera Selatan

1,4

7

Provinsi Sulawesi Selatan

1,7

14

Provinsi Sumatera Utara

1,4

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Grafik 2.2 memperlihatkan rasio pajak per pemerintah kabupaten dan kota untuk masing-masing wilayah provinsi. Rasio pajak pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-Provinsi Bali menunjukkan angka yang paling tinggi, yaitu sebesar 2,3%.Tingginya rasio tersebut dapat disebabkan tingginya pajak daerah pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi tersebut yang berasal dari sektor pariwisata. Sementara itu, rasio pajak terendah terdapat pada pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Riau, yaitu sebesar 0,1%. Rendahnya angka tersebut disebabkan oleh rendahnya potensi penerimaan pajak daerah kabupaten kota. Potensi penerimaan yang tinggi di Provinsi Riau adalah dari sektor pertambangan yang merupakan sumber penerimaan Negara yang selanjutnya akan menjadi sumber pendapatan bagi hasil sumber daya alam (DBH SDA) yang dalam rasio ini tidak dihitung.

Grafik 2.2. Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)

Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3.

Pemerintah Provinsi

Sebagaimana terlihat pada Grafik 2.3, untuk seluruh pemerintah provinsi di Indonesia, rasio pajak tertinggi dicapai oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu sebesar 2,1%. Tingginya angka tersebut disebabkan tingkat PDRB Provinsi Kalimantan Selatan cukup rendah dan pajak daerah yang cukup tinggi. Sementara itu, rasio pajak terendah dari ke-33 pemerintah provinsi tersebut adalah Pemerintah Provinsi Papua (0,2%). Rendahnya rasio tersebut disebabkan karena penerimaan pajak daerah yang sangat rendah.

Grafik 2.3. Rasio Pajak Pemerintah Provinsi

Grafik 2.3. Rasio Pajak Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) 4. Per Wilayah Grafik 2.4 menunjukkan

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4. Per Wilayah

Grafik 2.4 menunjukkan bahwa berdasarkan pada pembagian 5 wilayah di Indonesia, rasio pajak untuk wilayah Kalimantan merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan 4 wilayah lainnya yaitu sebesar 1,68%. Adapun rata-rata rasio pajak per wilayah di Indonesia sebesar 1,26%.

Penerimaan pajak daerah di wilayah Kalimantan sebenarnya berada di bawah wilayah Jawa-Bali. Tingginya rasio pajak di wilayah Kalimantan disebabkan nilai PDRB wilayah tersebut cukup rendah jika dibandingkan dengan nilai PDRB wilayah Jawa-Bali.

Grafik 2.4. Rasio Pajak per Wilayah*)

Grafik 2.4. Rasio Pajak per Wilayah*) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta B.

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

B. Pajak per Kapita (Tax per Capita)

Pajak per kapita (tax per capita) memang belum banyak digunakan dalam menghitung tingkat keberhasilan pajak sebagai sumber pendapatan daerah. Namun, pajak per kapita dapat digunakan sebagai alternatif alat hitung efektifitas pemungutan pajak daerah. Pajak per kapita merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak yang dihasilkan suatu daerah dengan jumlah penduduknya. Pajak per kapita menunjukkan kontribusi setiap penduduk pada pajak daerah.

Menurut Gregory N. Mankiw 1 , rasio pajak per PDB merupakan ukuran yang paling umum digunakan. Namun, semakin tinggi tingkat persentase pajak akan semakin menurunkan GDP penduduk setempat sehingga ukuran tersebut akan dapat terlihat bias. Untuk tujuan tertentu, seperti statistik yang lebih baik,

1 http://gregmankiw.blogspot.com/2010/03/taxes-per-person.html

pajak per kapita (Greg menyebutnya pajak per personal (tax per person)) dapat digunakan. Pajak per kapita dapat dihitung dengan mengalikan rasio pajak dengan PDRB per kapita sehingga diperoleh pajak/PDRB x PDRB/personal = pajak/personal.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Pajak per kapita secara keseluruhan yang dapat dilihat pada Grafik 2.5 menunjukkan bahwa Provinsi DKI Jakarta merupakan daerah yang memiliki rasio pajak per kapita tertinggi, yaitu sebesar Rp1.276.186 yang berarti setiap penduduk yang ada di Provinsi DKI Jakarta memiliki kontribusi sebesar Rp1.276.186 dalam menghasilkan penerimaan daerah berupa pajak daerah. Sementara itu, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki rasio pajak per kapita sebesar Rp74.361 dan merupakan terendah dari 33 provinsi di Indonesia. Grafik tersebut juga menggambarkan bahwa lebih banyak daerah yang berada di bawah rata-rata nasional, sebesar Rp337.731. Sebanyak 25 provinsi memiliki rasio pajak per kapita di bawah rata-rata nasional, sedangkan hanya terdapat 8 provinsi yang berada di atas rata-rata nasional.

Grafik 2.5. Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) 2 2 Deskripsi

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

2.

Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Grafik 2.6. Rasio Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi *)

Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Grafik 2.6. menunjukkan pajak per kapita seluruh kabupaten kota di setiap provinsi, kecuali DKI Jakarta yang tidak diikutsertakan. Rata-rata rasio pajak per kapita adalah Rp79.643 per kapita dengan 8 (delapan) provinsi berada di atas rata-rata, sedangkan sisanya sebanyak 24 provinsi berada di bawahnya. Kondisi tersebut menunjukkan terdapat ketimpangan antar daerah, meskipun tidak sebesar rasio pajak per kapita seluruh provinsi kabupaten kota. Rasio tertinggi terdapat di Provinsi Bali dengan rasio Rp485.805 diikuti Kepulauan Riau (Rp362.037) dan Kalimantan Timur (Rp138.778). Sementara itu, Provinsi Sulawesi Barat memiliki rasio terendah dengan rasio sebesar Rp16.436 per kapita. Besar kecilnya rasio dari daerah-daerah tersebut tergantung pada besar kecilnya basis pajak yang dimiliki daerah-daerah tersebut serta jumlah penduduk daerah tersebut.

3.

Pemerintah Provinsi

Pajak per kapita pada seluruh pemerintah provinsi sebagaimana yang digambarkan pada Grafik 2.7 menunjukkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merupakan daerah yang memiliki pajak per kapita terbesar, sama dengan pajak perkapita pada agregat provinsi, kabupaten dan kota yaitu sebesar Rp1.276.186 per kapita, sedangkan Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki rasio terendah sebesar Rp52.478. Kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan yang cukup besar dengan perbedaan antara yang tertinggi dan terendah sebesar 24,3 kali. Grafik tersebut juga menunjukkan bahwa rata-rata rasio sebesar Rp260.501 per kapita dengan 22 daerah berada di bawah rata-rata, sedangkan 11 daerah berada di atasnya.

Grafik 2.7. Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi

Grafik 2.7. Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) 2 4 Deskripsi dan

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4.

Per Wilayah

Grafik 2.8 memperlihatkan rasio pajak per kapita per wilayah yang dibagi menjadi 5 wilayah, terdiri atas Nusa Tenggara Maluku Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa Bali. Grafik tersebut menunjukkan kondisi yang lebih berimbang antar wilayah, dengan rasio tertinggi berada di wilayah Kalimantan (Rp564.910 per kapita) dan rasio terendah di wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua (Rp127.929 per kapita). Dua wilayah, Kalimantan dan Jawa Bali berada di atas rata-rata yang sebesar Rp325.363 per kapita, sedangkan tiga wilayah lain berada di bawah rata-rata. Namun demikian, terdapat perbedaan kondisi antara Kalimantan dengan Jawa Bali meskipun keduanya memiliki rasio tinggi. Tingginya rasio pajak per kapita di Jawa Bali lebih banyak disebabkan oleh besarnya jumlah pajak daerah yang diterima yang diimbangi dengan besarnya jumlah penduduk, sedangkan tingginya rasio pajak per kapita di Kalimantan lebih banyak disebabkan oleh rendahnya jumlah penduduk yang menjadi pembagi rasio tersebut.

Grafik 2.8. Rasio Tax per Kapita Per Wilayah*)

tersebut. Grafik 2.8. Rasio Tax per Kapita Per Wilayah*) Sumber: APBD 2011 (Diolah) *) Tidak termasuk

Sumber: APBD 2011 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

C. Ruang Fiskal (Fiscal Space)

Ruang fiskal (fiscal space) merupakan suatu konsep untuk mengukur fleksibilitas yang dimiliki pemerintah daerah dalam mengalokasikan APBD untuk membiayai kegiatan yang menjadi prioritas daerah. Semakin besar ruang fiskal yang dimiliki suatu daerah maka akan semakin besar pula fleksibilitas yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk mengalokasikan belanjanya pada kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas daerah seperti pembangunan infrastruktur daerah. Ruang fiskal diperoleh dengan cara mengurangi total Pendapatan Daerah dengan pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked) serta belanja yang sifatnya mengikat seperti Belanja Pegawai dan Belanja Bunga.

Efektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran di daerah juga mendukung terciptanya ruang fiskal. Pemerintah daerah diharapkan dapat memanfaatkan ruang fiskal yang dimiliki untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerahnya. Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan dapat membuat kebijakan yang mampu menciptakan iklim perekonomian yang kondusif. Sektor riil seperti perdagangan dan perkembangan usaha kecil dan menengah yang selama ini masih belum optimal, harus diberi dukungan kebijakan dari pemerintah.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Ruang fiskal per provinsi menunjukkan persentase ruang fiskal seluruh pemda pada suatu provinsi. Ruang fiskal per provinsi merupakan total Pendapatan Daerah dikurangi dengan pendapatan hibah, pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked), dan belanja wajib (Belanja Pegawai dan Belanja Bunga) yang berasal dari akumulasi APBD 2012 seluruh pemda di suatu provinsi dan dibagi dengan total pendapatannya.

Grafik 2.9. Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

2.9. Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) Dari perhitungan tersebut,

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Dari perhitungan tersebut, sebagaimana digambarkan pada Grafik 2.9, dapat terlihat besaran 33 ruang fiskal per provinsi tahun 2012. Dari keseluruhan provinsi yang ada di Indonesia, Provinsi Kalimantan Timur mempunyai ruang fiskal tertinggi yaitu mencapai 62,5%. Sementara itu, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) merupakan daerah yang memiliki ruang fiskal terendah yaitu sebesar 22,5%. Dengan demikian, Provinsi NAD harus memanfaatkan ruang fiskal yang ada dengan baik dengan merencanakan belanja daerahnya yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dari keseluruhan ruang fiskal provinsi di seluruh Indonesia tersebut, dapat diperoleh rata-rata nasionalnya yaitu sebesar 37,85% di mana terdapat 14 provinsi yang berada di atas rata-rata nasional dengan urutan sebagai berikut:

Tabel 2.2. Provinsi yang memiliki Ruang Fiskal diatas rata-rata Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota (%)

Nama Daerah

Ratio

Nama Daerah

Ratio

Provinsi Kalimantan Timur

62,55

Provinsi Maluku Utara

44,82

Provinsi DKI Jakarta

57,76

Provinsi Bangka Belitung

43,91

Provinsi Kepulauan Riau

53,39

Provinsi Kalimantan Barat

42,90

Provinsi Riau

51,74

Provinsi Papua Barat

42,70

Provinsi Sumatera Selatan

47,74

Provinsi Jambi

40,77

Provinsi Kalimantan Tengah

46,82

Provinsi Papua

38,85

Provinsi Banten

46,03

Provinsi Kalimantan Selatan

37,95

2. Pemerintah Kabupaten/ Kota Se-Provinsi

Grafik 2.10. Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)

Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Ruang fiskal seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota pada suatu provinsi dapat digambarkan pada grafik 2.10. Berdasarkan hasil analisis, ruang fiskal tertinggi untuk kabupaten dan kota terdapat di Provinsi Kalimantan Timur yaitu sebesar 60,6%. Tingginya angka ini dapat disebabkan oleh pendapatan yang tidak dibatasi penggunaannya yang didominasi oleh sektor pertambangan dan migas serta sektor kehutanan. Adapun ruang fiskal terendah terdapat pada kabupaten dan kota yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu sebesar 19,9%. Rendahnya angka ini dapat disebabkan tingginya pendapatan yang bersifat earmarked serta belanja wajib, khususnya Belanja Pegawai.

3. Pemerintah Provinsi

Ruang lingkup analisis ini adalah ruang fiskal pada masing-masing pemerintah provinsi. Pemerintah Provinsi Banten memiliki ruang fiskal yang tertinggi yaitu sebesar 86,1%. Jika dilihat dari APBD Provinsi Banten, dapat terlihat bahwa PAD Provinsi Banten lebih tinggi dibandingkan dengan penerimaan dana transfer dari pemerintah pusat. Belanja wajib Pemerintah Provinsi Banten, khususnya Belanja Pegawai jumlahnya juga tidak terlalu besar. Hal inilah yang membuat ruang fiskal Pemerintah Provinsi Banten menjadi tinggi. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Banten perlu memanfaatkan ruang fiskal yang tinggi tersebut untuk kegiatan yang dapat memacu pembangunan di daerahnya sehingga diharapkan dengan dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Lebih lanjut, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada sektor-sektor tertentu juga akan meningkatkan potensi penerimaan pajak daerah.

Sementara itu, Pemda Provinsi NAD mempunyai ruang fiskal yang terendah yaitu sebesar 17,3%. Hal ini disebabkan karena kontribusi terbesar pada Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi NAD adalah pendapatan dari dana otonomi khusus yang sudah dibatasi penggunaannya.

Gambaran selengkapnya tentang ruang fiskal masing-masing pemerintah provinsi di Indonesia dapat dilihat pada Grafik 2.11.

Grafik 2.11. Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi

Grafik 2.11. Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) 4. Per Wilayah Untuk menghitung ruang

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4. Per Wilayah

Untuk menghitung ruang fiskal berdasarkan pada pembagian 5 wilayah, maka wilayah Indonesia dibagi menjadi 5 yang terdiri atas Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Maluku Papua. Selanjutnya, seluruh pendapatan dikurangi pendapatan hibah, pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya serta belanja wajib dari APBD seluruh pemda satu wilayah dan kemudian dibagi total pendapatan dimaksud.

Dari penghitungan tersebut, secara berurutan dari ruang fiskal yang paling besar adalah Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara Maluku Papua, Jawa Bali, dan Sulawesi sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 2.12.

Grafik 2.12. Ruang Fiskal Per Wilayah*)

Grafik 2.12. Ruang Fiskal Per Wilayah*) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta Besarnya

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Besarnya ruang fiskal pada wilayah Kalimantan yaitu sebesar 51,35%, menunjukkan bahwa sebagian besar daerah di wilayah Kalimantan mempunyai ruang fiskal yang cukup untuk melakukan belanja pemerintah (government spending) dalam rangka pembangunan di daerahnya. Kebutuhan dasar daerah untuk belanja pegawai/gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah telah terpenuhi dan masih tersisa dana yang dapat digunakan untuk pembangunan di daerah. Ruang Fiskal yang tinggi sangat menunjang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula dengan semakin meningkatnya percepatan pembangunan di daerah yang bersangkutan.

Sementara itu, wilayah yang memiliki ruang fiskal terendah adalah Sulawesi yaitu sebesar 31,48%. Hal ini menunjukkan sebagian besar daerah di wilayah Sulawesi memiliki ruang fiskal yang terbatas untuk melakukan belanja pemerintah dalam rangka pembangunan di daerahnya. Dengan segala keterbatasan yang ada tersebut, diharapkan agar pemda di wilayah Sulawesi dapat lebih jeli dalam mengalokasikan belanjanya pada kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas daerah dan mempunyai daya ungkit (leverage) yang tinggi bagi perekonomiannya.

D. Rasio Ketergantungan Daerah

Rasio ketergantungan daerah menggambarkan tingkat ketergantungan suatu daerah terhadap bantuan pihak eksternal. Semakin tinggi ketergantungan suatu daerah, semakin tinggi tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak eksternal. Rasio ini ditunjukkan oleh rasio PAD terhadap total pendapatan serta rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Dua rasio yang mewakili tersebut, meskipun menunjukkan ketergantungan daerah, namun memiliki makna yang berbeda atas angka-angkanya. Rasio PAD terhadap total pendapatan memiliki makna yang berkebalikan dengan rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Semakin besar angka rasio PAD maka ketergantungan daerah semakin kecil. Sebaliknya, makin besar angka rasio dana transfer, maka akan semakin besar tingkat ketergantungan daerah dalam mendanai belanja daerah. Oleh karena itu, daerah yang memiliki tingkat ketergantungan yang rendah adalah daerah yang memiliki rasio PAD yang tinggi sekaligus rasio dana transfer yang rendah.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Ruang lingkup analisis ini adalah rasio ketergantungan daerah seluruh pemda di suatu provinsi. Penghitungannya dilakukan dengan menjumlahkan PAD seluruh pemda pada satu provinsi kemudian membaginya dengan total pendapatan untuk wilayah yang sama. Hal yang sama juga berlaku untuk rasio dana transfer. Dari perhitungan tersebut diperoleh potret rasio PAD dan dana transfer terhadap pendapatan seluruh pemda yang dikelompokkan per provinsi sebagaimana yang ditunjukkan pada Grafik 2.13. Grafik tersebut juga memperlihatkan bahwa DKI Jakarta memiliki rasio PAD yang paling tinggi, yaitu sebesar 61,0%, sekaligus rasio dana transfer terendah yaitu sebesar 29,7%. Sementara itu, Provinsi Papua Barat memiliki rasio PAD terendah sebesar 3,3% dan Provinsi Papua memiliki rasio dana transfer tertinggi sebesar 95,3%. Hal ini menunjukkan bahwa, DKI Jaya memiliki ketergantungan daerah yang paling rendah dibandingkan provinsi-provinsi yang lain. Sebaliknya, Provinsi Papua Barat menunjukkan tingkat ketergantungan yang paling tinggi dari sisi PAD yang dihasilkan dan Provinsi Papua dari sisi dana transfer yang diterima dari pusat.

Rendahnya tingkat ketergantungan di Provinsi DKI tersebut disebabkan oleh tingginya sumber-sumber PAD khususnya dari pajak daerah dan retribusi daerah. Sementara itu, Provinsi Papua Barat memiliki tingkat ketergantungan tertinggi disebabkan oleh rendahnya PAD, khususnya pajak daerah dan retribusi daerah di wilayah tersebut, dan Provinsi Papua memiliki ketergantungan yang tinggi karena tingginya dana transfer yang diterima.

Grafik 2.13 juga menunjukkan bahwa sebanyak 8 daerah memiliki rasio PAD terhadap pendapatan di atas rata-rata nasional yang sebesar 15,9%, dan sebanyak 13 daerah memiliki rasio transfer terhadap pendapatan di bawah rata-rata2 nasional (79,3%). Secara keseluruhan, grafik tersebut menunjukkan tingkat ketergantungan daerah seluruh provinsi di Indonesia sebagaimana digambarkan berikut ini.

Grafik 2.13. Rasio Ketergantungan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Rasio Ketergantungan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten dan Kota

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Pada Grafik 2.14 nampak bahwa rata-rata rasio PAD terhadap pendapatan adalah 8,4% sedangkan rasio dana transfer terhadap pendapatan adalah 86,5%.

Sementara itu, rasio PAD terhadap pendapatan tertinggi terdapat pada seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Bali yaitu sebesar 27,3 % sedangkan yang terendah adalah di pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Maluku sebesar 2,9%. Dari rasio dana transfer dana pusat ke daerah, yang tertinggi adalah pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Papua sebesar 95,6% dan terendah di pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Bali yaitu 64,1%.

Grafik 2.14. Rasio Ketergantungan Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)

Ketergantungan Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3.

Pemerintah Provinsi

Grafik 2.15 Rasio Ketergantungan Pemerintah Provinsi

Grafik 2.15 Rasio Ketergantungan Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) Rata-rata rasio PAD terhadap

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Rata-rata rasio PAD terhadap pendapatan adalah 37,1% dan untuk rasio dana transfer terhadap pendapatan sebesar 60,4%. Untuk Rasio PAD, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memiliki angka tertinggi, yaitu sebesar 78,7%, sedangkan terendah dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat (3,45%). Sebaliknya, rasio dana transfer tertinggi terhadap total pendapatan adalah Provinsi Papua Barat sebesar 96,5% dan terendah adalah Provinsi Jawa Timur, yaitu sebesar 21,1%. Selain itu,15 pemerintah provinsi memiliki rasio dana transfer di bawah rata-rata nasional, dan sebanyak 17 pemerintah provinsi memiliki rasio PAD terhadap Pendapatan di atas rata-rata nasional. Kondisi di atas berarti bahwa daerah-daerah tersebut memiliki ketergantungan terhadap pihak eksternal di bawah rata-rata. Gambaran lengkap ditunjukkan oleh grafik 2.15.

4.

Per Wilayah

Analisis rasio ketergantungan daerah berdasarkan wilayah terbagi menjadi lima yaitu Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa

Tenggara Maluku Papua. Pengelompokan wilayah tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan seberapa besar ketergantungan daerah pada lima kelompok wilayah yang berbeda. Berikut analisis terkait rasio ketergantungan daerah untuk ke-5 wilayah dimaksud sebagaimana nampak pada Grafik 2.16.

Grafik 2.16. Rasio Ketergantungan Per Wilayah*)

2.16. Grafik 2.16. Rasio Ketergantungan Per Wilayah*) Sumber: APBD 2012 (Diolah) Berdasarkan pembagian 5 wilayah,

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Berdasarkan pembagian 5 wilayah, rasio PAD terhadap total pendapatan wilayah Jawa Bali mempunyai rasio yang paling tinggi dibandingkan dengan 4 wilayah lainnya yaitu sebesar 29,9%. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan daerah-daerah di wilayah Jawa Bali dalam menghasilkan sumber-sumber PAD relatif cukup tinggi. Hal ini berbeda dengan wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua yang mana rasionya sangat rendah yaitu sebesar 6,3%. Namun demikian, secara umum ke-5 wilayah tersebut masih memiliki rasio PAD terhadap total pendapatan rata-rata di bawah 50% (tepatnya 15,8%) yang artinya masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap pemerintah pusat atau memiliki rasio ketergantungan daerah yang rendah.

Berdasarkan rasio transfer terhadap pendapatan, sebagaimana ditunjukkan Grafik 2.16, wilayah Jawa Bali memiliki angka yang paling rendah yaitu 62,9%. Dengan demikian, berdasarkan rasio tersebut, wilayah Jawa Bali memiliki tingkat tingkat ketergantungan dengan dana pusat yang paling rendah. Rasio dana dana transfer tertinggi terdapat di wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua sebesar 92,0% yang sekaligus menunjukkan daerah yang memiliki rasio ketergantungan daerah tertinggi.

bab III aNalIsIs belaNJa DaeraH

Sejak dilaksanakannya kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal pada tahun 2001, anggaran Belanja Daerah dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari sisi besaran alokasi dana yang dibelanjakan. Belanja Daerah digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.

Anggaran Belanja Daerah akan mempunyai peran riil dalam peningkatan kualitas layanan publik dan sekaligus menjadi stimulus bagi perekonomian daerah apabila terealisasi dengan baik. Dengan demikian, secara ideal seharusnya Belanja Daerah dapat menjadi komponen yang cukup berperan dalam peningkatan akses masyarakat terhadap sumber-sumber daya ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Pada gilirannya, apabila kesejahteraan masyarakat telah meningkat maka diharapkan akan berdampak kepada perekonomian daerah secara luas.

Untuk menggambarkan seberapa besar belanja pemerintah daerah yang digunakan dalam upaya untuk menyejahterakan penduduk di suatu daerah, dapat digunakan berbagai macam tool misalnya dengan pengukuran rasio Belanja Daerah terhadap jumlah penduduk (Belanja Daerah per kapita). Semakin besar nilai rasio Belanja Daerah per kapita, semakin besar besar belanja yang dikeluarkan untuk menyejahterakan satu orang penduduk wilayah tersebut sehingga semakin besar kemungkinan tercapainya. Sebaliknya, semakin kecil angka rasionya, semakin kecil dana yang disediakan pemda untuk menyejahterakan penduduknya.

Namun demikian, rasio ini sebaiknya juga dirinci lagi menjadi per jenis belanja sehingga akan lebih memperlihatkan kontribusi dari setiap jenis belanja sebagai faktor yang mendorong peningkatan kualitas layanan publik. Berbagai macam pengukuran rasio belanja akan dipaparkan pada bab ini. Pada prinsipnya, dalam tataran kebijakan, untuk menuju pelaksanaan Belanja Daerah yang berdampak positif kepada masyarakat perlu diupayakan agar pemerintah daerah mempercepat realisasi belanjanya dan menjalankan kebijakan belanja yang baik, antara lain dengan mendorong agar proses penetapan Perda APBD dapat dilakukan secara tepat waktu, menetapkan anggaran Belanja Modal yang lebih besar dan tepat sasaran, mempertajam penggunaan anggaran Belanja Pegawai, dan sebagainya.

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah digunakan untuk mengetahui proporsi Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah. Data Belanja Pegawai yang digunakan adalah Belanja Pegawai langsung dan Belanja Pegawai tidak langsung. Rasio ini menggambarkan rasio Belanja Pegawai terhadap Belanja Daerah. Semakin tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Pegawai. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil angka rasio Belanja Pegawai maka semakin kecil proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Pegawai APBD.

Mengingat bahwa jumlah PNSD saat ini sebagian besar adalah guru, maka penting juga untuk dilihat proporsi jumlah guru terhadap total pegawai negeri sipil daerah (PNSD). Hal ini penting untuk melihat seberapa besar komposisi guru terhadap jumlah PNSD secara keseluruhan. Dengan diketahuinya rasio jumlah guru terhadap total PNSD, dapat diperkirakan proporsi Belanja Pegawai yang digunakan untuk membayar gaji guru di suatu daerah.

Pentingnya mengamati berapa proporsi gaji guru dalam Belanja Pegawai adalah karena selama ini banyak pihak yang menyoroti dan mengkritisi mengenai jumlah Belanja Pegawai yang dinilai terlalu besar dalam APBD. Banyak

pihak menyampaikan bahwa hal ini mengakibatkan berkurangnya alokasi untuk Belanja Modal, yang dipandang lebih mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemenuhan pelayanan publik kepada masyarakat. Namun demikian, apabila ditinjau dari sisi kewajiban pemda dalam peraturan perundangan bahwa Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dengan prioritas kepada pelaksanaan urusan daerah yang sifatnya wajib, maka sebenarnya belanja untuk guru sebenarnya mendukung pencapaian tujuan tersebut. Pembebanan gaji guru bersifat wajib dalam rangka menjamin kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat dalam bidang pendidikan. Pembebanan gaji guru menjadi sangat krusial karena guru adalah ujung tombak langsung dalam pemenuhan pelayanan dasar pendidikan.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

1.1. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah adalah 44,71%. Rasio Belanja Pegawai agregat provinsi, kabupaten, dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 13 provinsi rasionya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 20 provinsi yang lain memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai paling kecil adalah Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 25,2%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan rasio sebesar 58,6%.

Selain itu, Grafik 3.1 menunjukkan bahwa terdapat 10 provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai lebih dari 50,0%. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian, karena secara implisit provinsi-provinsi tersebut hanya menganggarkan sebagian kecil APBD-nya untuk jenis-jenis belanja selain Belanja Pegawainya. Hal ini akan menyebabkan keterbatasan program dan kegiatan daerah di luar belanja pegawai yang bisa didanai, khususnya dalam mendukung pemenuhan layanan publik.

Grafik 3.1. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) 1.2. Rasio Jumlah Guru

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

1.2. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio jumlah guru terhadap total PNSD adalah 47,6%. Rasio jumlah guru terhadap total PNSD agregat provinsi, kabupaten, dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 16 provinsi rasionya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 17 provinsi yang lain memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio paling kecil adalah Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 37,5%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Banten dengan rasio sebesar 63,2%.

Grafik 3.2. Rasio Jumlah Guru terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: DJPK (Data Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten dan

Sumber: DJPK (Data Diolah)

2.

Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

2.1.

Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Grafik 3.3 memperlihatkan rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total belanjanya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi di atas 30,0%, dengan rata-rata sebesar 50,9%. Dengan demikian, rata-rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi mengalokasikan lebih dari setengah Belanja Daerahnya untuk membayar Belanja Pegawai daerah. Dari angka rata-rata tersebut, sebanyak 12 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih rendah dan 20 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih besar. Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-Provinsi DIY yang memiliki rasio Belanja Pegawai terbesar yaitu sebesar 67,3%, sedangkan yang memiliki rasio Belanja Pegawai terhadap

Belanja Daerah terkecil adalah pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se- Provinsi Kalimantan Timur dengan rasio sebesar 31,0%.

Grafik 3.3. Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

2.2. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Grafik 3.4 memperlihatkan rasio jumlah guru pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total PNSD-nya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio jumlah guru terhadap total PNSD kabupaten dan kota se- provinsi di atas 30,0%, dengan rata-rata sebesar 51,5%. Dengan demikian, rata- rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi mengalokasikan lebih dari setengah Belanja Pegawai daerahnya untuk membayar gaji guru daerah.

Rasio jumlah guru terhadap total PNSD agregat kabupaten dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 16 provinsi rasio jumlah guru terhadap total

PNSD-nya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 16 provinsi yang lain memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio paling kecil adalah Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 39,4%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Banten dengan rasio sebesar 66,2%.

Grafik 3.4. Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Total PNSD Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: DJPK (Data Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: DJPK (Data Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Rasio Belanja Pegawai pemerintah provinsi di Indonesia memiliki persentase rata-rata sebesar 21,0%. Sebanyak 15 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih rendah dibandingkan rata-rata rasio tersebut dan sedangkan 18 provinsi lainnya di atas rata-rata. Grafik 3.5 memperlihatkan bahwa pemerintah provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai terbesar adalah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan rasio sebesar 33,7%, sedangkan pemerintah provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai terkecil adalah Pemerintah Provinsi Papua Barat yang sebesar 9,2%. Propinsi DKI Jakarta memiliki proporsi tertinggi

untuk Belanja Pegawai adalah karena di dalam propinsi DKI termasuk Belanja Pegawai yang bagi propinsi lain disetarakan sebagai pegawai kabupaten/kota. Grafik tersebut menunjukkan bahwa rasio Belanja Pegawai pemerintah provinsi relatif lebih rendah daripada rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan kota se-provinsi.

Grafik 3.5. Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) 4. Per Wilayah 4.1.

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4.

Per Wilayah

4.1.

Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Grafik 3.6 memperlihatkan rasio Belanja Pegawai per wilayah terhadap total Belanja Daerahnya. Terlihat bahwa wilayah Sulawesi memiliki rasio Belanja Pegawai tertinggi, yaitu sebesar 50,4% sedangkan wilayah Kalimantan memiliki rasio yang terendah dengan angka sebesar 36,0%. Selain wilayah Kalimantan, wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua, Sumatera, dan Jawa Bali memiliki angka rasio Belanja Pegawai per wilayah terhadap total Belanja Daerahnya di bawah 50,0%. Dengan demikian, wilayah Sulawesi mengalokasikan lebih dari setengah Belanja Daerahnya untuk membayar Belanja Pegawai dan memiliki lebih sedikit

porsi Belanja Daerah yang dapat digunakan untuk mendanai program/kegiatan non pegawai.

Grafik 3.6. Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah*)

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah*) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

4.2. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Grafik 3.7 memperlihatkan rasio jumlah guru terhadap total PNSD per wilayah. Rasio jumlah guru terhadap total PNSD per wilayah di Indonesia memiliki persentase rata-rata sebesar 48,5%. Terlihat bahwa wilayah Jawa Bali memiliki rasio jumlah guru tertinggi, yaitu sebesar 53,9%, sedangkan wilayah Sulawesi memiliki rasio yang terendah dengan angka sebesar 45,7%. Dengan demikian, wilayah Jawa Bali mengalokasikan lebih dari setengah Belanja Pegawainya untuk membayar Belanja Pegawai untuk guru daerah.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa wilayah Sulawesi mengalokasikan Belanja Pegawai tertinggi, namun jumlah guru di wilayah

Sulawesi adalah yang terendah. Hal ini berarti wilayah Sulawesi memang mengalokasikan Belanja Pegawai yang bersifat administratif jauh lebih tinggi di banding wilayah lain di Indonesia. Hal ini patut diperhatikan mengingat bahwa Belanja Pegawai yang bersifat administratif inilah yang menjadi sorotan masyarakat karena dinilai terlalu “gemuk” dan tidak efisien.

Grafik 3.7. Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah*)

3.7. Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah*) Sumber: DJPK (Data Diolah) B. Rasio Belanja

Sumber: DJPK (Data Diolah)

B. Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Daerah

Rasio Belanja Modal terhadap total Belanja Daerah mencerminkan porsi Belanja Daerah yang dibelanjakan untuk membiayai Belanja Modal. Belanja Modal ditambah belanja barang dan jasa merupakan belanja pemerintah daerah yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah, di samping pengaruh dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri. Realisasi Belanja Modal akan memiliki multiplier effect dalam menggerakkan roda perekonomian daerah. Oleh karena itu, semakin tinggi angka rasionya,

diharapkan akan semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, semakin rendah angkanya, semakin berkurang pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 3.8 menunjukkan rasio Belanja Modal terhadap total belanja secara agregat provinsi, kabupaten dan kota. Persentase rasio seluruh provinsi masih di bawah 40,0% dan rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota sebesar 23,4%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 provinsi masih memiliki rasio di bawah rata-rata, sedangkan 13 provinsi berada di atas rata-rata.

Provinsi yang memiliki rasio terendah adalah Provinsi DIY dengan angka sebesar 12,2% sedangkan rasio tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebesar 39,9%. Kondisi di atas menunjukkan sebagian besar provinsi di Indonesia masih menganggarkan Belanja Modal dengan proporsi yang kecil, yaitu dibawah 24,0%. Itu berarti bahwa sebagian daerah masih belum memberikan perhatian yang cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonominya.

Grafik 3.8. Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Terhadap Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber : APBD 2012 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten

Sumber : APBD 2012 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah yang ditunjukkan oleh grafik 3.9 memperlihatkan bahwa secara rata-rata nasional rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah adalah 24,1%. Sebanyak 12 provinsi memiliki rasio Belanja Modal lebih besar dari rata-rata, sedangkan 20 provinsi memiliki rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah yang lebih kecil dari rata-rata. Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Kalimantan Timur memiliki rasio Belanja Modal yang terbesar yaitu sebesar 40,5%, sedangkan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi DI Yogyakarta memiliki rasio terkecil yaitu 12,3%.

Grafik 3.9. Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Profil rasio Belanja Modal pemerintah provinsi terhadap total Belanja Daerahnya dapat dilihat pada Grafik 3.10. Grafik tersebut memperlihatkan kisaran rasio antara 5,9% hingga 32,4% dengan rasio tertinggi di Provinsi DKI Jakarta dan rasio terendah di Provinsi Jawa Tengah. Rata-rata rasio Belanja Modal pemerintah provinsi terhadap Belanja Daerah adalah 17,4% dengan 18 pemerintah provinsi memiliki rasio Belanja Modal lebih kecil dari rata-rata, dan 15 provinsi lebih besar dari rata-rata.

Grafik 3.10. Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) 4. Per Wilayah Grafik 3.11

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4. Per Wilayah

Grafik 3.11 menunjukkan rasio Belanja Modal terhadap total Belanja Daerah di 5 wilayah yaitu Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Maluku Papua. Grafik tersebut memperlihatkan rata-rata rasio 5 wilayah sebesar 24,0%. Dari grafik dapat dilihat bahwa Belanja Modal di 3 wilayah yaitu Jawa Bali, Sumatera dan Sulawesi memiliki rasio lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata rasio. Sedangkan untuk wilayah Kalimantan dan Nusa Tenggara Maluku Papua memiliki rasio lebih besar dari rata-rata rasio. Belanja Modal yang tertinggi terdapat di wilayah Kalimantan yaitu 32,4% dan yang terkecil terdapat di wilayah Jawa Bali yaitu 18,1%.

Grafik 3.11.

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah per Wilayah*)

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah per Wilayah*) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

C. Rasio Belanja Modal terhadap Jumlah Penduduk

Rasio Belanja Modal per kapita menunjukkan seberapa besar belanja yang dialokasikan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur daerah per penduduk. Rasio Belanja Modal per kapita memiliki hubungan yang erat dengan pertumbuhan ekonomi karena Belanja Modal merupakan salah satu jenis belanja pemerintah yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Rasio ini bermanfaat untuk menunjukkan perhatian pemerintah dalam meningkatkan perekonomian penduduknya dari pembangunan infrastruktur yang dikeluarkan.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 3.12 yang menunjukkan rasio Belanja Modal per kapita seluruh provinsi (agregat provinsi, kabupaten dan kota) memperlihatkan bahwa rata-

rata rasio Belanja Modal per kapita adalah Rp1,02 juta. Hanya 9 provinsi yang memiliki rasio Belanja Modal perkapita lebih besar dari rata-rata nasional, dan 24 provinsi memiliki rasio Belanja Modal per kapita lebih rendah dari rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota. Provinsi yang memiliki rasio Belanja Modal per kapita tertinggi adalah Provinsi DKI Jakarta yaitu sebesar Rp4,3 juta, sedangkan yang terendah adalah Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp0,2 juta.

Grafik 3.12. Rasio Belanja Modal per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Modal per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten dan

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Rasio Belanja Modal per kapita kabupaten dan kota se-provinsi menggambarkan besaran Belanja Modal yang dibelanjakan untuk pembangunan infrastruktur kabupaten dan kota di setiap provinsi. Dari data APBD terlihat bahwa provinsi-provinsi yang menganggarkan APBD untuk Belanja Modal yang besar atau di atas rata-rata adalah provinsi yang memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang besar dan atau memperoleh dana perimbangan yang besar dari pusat terutama DBH SDA dan Dana Otonomi Khusus.

Grafik 3.13 menunjukkan rasio Belanja Modal per kapita pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi. Secara nasional rata-rata rasio Belanja Modal kabupaten dan kota se-provinsi adalah Rp0,8 juta. Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi yang memiliki rasio Belanja Modal per kapita lebih rendah dari rata-rata sebanyak 24 provinsi, sedang yang di atas rata-rata sebanyak 8 provinsi. Kabupaten dan kota se-provinsi Papua Barat memiliki rasio Belanja Modal per kapita tertinggi yaitu sebesar Rp3,2 juta sedangkan yang terendah adalah kabupaten dan kota se-Provinsi DIY dengan rasio Rp0,2 juta.

Grafik 3.13. Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

per Kapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3.

Pemerintah Provinsi

Rasio Belanja Modal per kapita pemerintah provinsi ditunjukkan pada Grafik 3.14. Rasio Belanja Modal per kapita pemerintah provinsi memiliki rata- rata nasional sebesar Rp0,2 juta. Sebagian besar pemerintah provinsi memiliki rasio Belanja Modal terhadap jumlah penduduk di bawah rata-rata nasional yaitu 24 provinsi dan hanya 9 provinsi yang memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Pemerintah provinsi yang memiliki rasio Belanja Modal per kapita tertinggi adalah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar Rp1,1 juta sedangkan yang terendah adalah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp0,02 juta.

Grafik 3.14. Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Provinsi

3.14. Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) Bab III - Analisis

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4.

Per Wilayah

Grafik 3.15. Rasio Belanja Modal per Kapita per Wilayah *)

Grafik 3.15. Rasio Belanja Modal per Kapita per Wilayah *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Rasio Belanja Modal per kapita per wilayah yang ditunjukkan pada grafik 3.15 memperlihatkan bahwa Belanja Modal perkapita tertinggi adalah di wilayah Kalimantan sebesar Rp1,6 juta. Hal ini menandakan bahwa anggaran Belanja Modal untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan lebih tinggi di bandingkan dengan daerah lain. Selanjutnya rasio Belanja Modal per kapita terendah adalah di wilayah Jawa Bali yaitu sebesar Rp0,3 juta.

D. Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Daerah

Belanja Bantuan Sosial merupakan salah satu pos dalam belanja tidak langsung. Secara definisi, Bantuan Sosial adalah pemberian bantuan yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif dalam bentuk uang/barang

kepada masyarakat atau organisasi profesi yang bertujuan untuk kepentingan umum. Dalam Bantuan Sosial termasuk antara lain bantuan partai politik sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Bantuan Sosial ini berpotensi menimbulkan tumpang tindih kegiatan dengan kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja perangkat daerah (SKPD), di mana keduanya menggunakan dana dari APBD. Sebagai contoh, Bantuan Sosial kepada masyarakat di lingkungan kumuh, pondok pesantren, bantuan untuk bidang sanitasi, penyediaan akses air bersih, dan sebagainya yang juga dilaksanakan oleh SKPD. Oleh karena itu, perlu adanya pemantauan terhadap jumlah anggaran yang dialokasikan untuk Belanja Bantuan Sosial. Agar pengelolaan Belanja Bantuan Sosial dilaksanakan secara transparan dan akuntabel, saat ini Pemerintah telah menetapkan pengaturannya dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap total Belanja Daerah mencerminkan porsi Belanja Daerah yang dibelanjakan untuk Belanja Bantuan Sosial. Semakin tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Bantuan Sosial dan begitu sebaliknya semakin kecil angka rasio Belanja Bantuan Sosial maka semakin kecil pula proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Bantuan Sosial.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata pengeluaran daerah untuk Belanja Bantuan Sosial adalah 1,13%. Dari 33 provinsi di Indonesia yang memiliki angka rasio dibawah angka rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota ada 22 provinsi dan selebihnya 11 provinsi angka rasionya melebihi angka rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota. Rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap total Belanja Daerah yang terkecil terdapat pada Provinsi DKI Jakarta dengan nilai sebesar 0,09%, sedangkan daerah yang memiliki rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap total Belanja Daerah terbesar secara agregat adalah Provinsi Aceh, yaitu sebesar 3,38%.

Grafik 3.16. Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Terhadap Total Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten dan

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Rasio Belanja Bantuan Sosial pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap Belanja Daerahnya memperlihatkan bahwa secara rata-rata rasio Belanja Bantuan Sosial adalah 1,04% dari Belanja Daerah. Sebanyak 22 provinsi memiliki rasio Belanja Bantuan Sosial yang lebih kecil dari rata-rata dan 10 provinsi memiliki rasio yang lebih besar dari rata-rata. Dari Grafik 3.17 terlihat bahwa pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Papua memiliki rasio Belanja Bantuan Sosial yang tertinggi yaitu 3,36%, sedangkan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Sumatera Selatan memiliki rasio terendah dengan angka sebesar 0,20%.

Grafik 3.17. Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap Belanja Daerah pemerintah provinsi memperlihatkan bahwa secara rata-rata rasio Belanja Bantuan Sosial adalah 1,34% Belanja Daerah. Berdasarkan angka rata-rata rasio Belanja Bantuan Sosial tersebut, sebanyak 24 provinsi memiliki rasio yang lebih kecil dari angka tersebut, dan 9 provinsi memiliki rasio yang lebih besar. Selanjutnya, Grafik 3.18 memperlihatkan bahwa Pemerintah Provinsi Aceh memiliki rasio tertinggi sebesar 6,25%, sedangkan yang terendah, adalah Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara, memiliki rasio sebesar 0%, karena

kedua provinsi ini tidak menganggarkan Belanja Bantuan Sosial dalam APBD

2012.

Grafik 3.18.

Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) 4. Per Wilayah Grafik 3.19

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4. Per Wilayah

Grafik 3.19 memperlihatkan rasio Belanja Bantuan Sosial terhadap total Belanja Daerah per wilayah di Indonesia. Dengan perhitungan rasio ini, wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua memiliki rasio tertinggi (2,17%) diikuti oleh Sumatera (1,16%), sedangkan wilayah yang memiliki rasio Belanja Bantuan Sosial terendah adalah Sulawesi (0,60%).

Grafik 3.19.

Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah per Wilayah *)

Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah per Wilayah *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

bab IV aNalIsIs DefIsIt DaN PeMbIaYaaN DaeraH

A. Defisit

Otonomi daerah yang bergulir dan berlaku efektif mulai tahun 2001 telah memberi ruang kepada pemerintah daerah untuk menerapkan model penganggaran yang tidak hanya berpijak pada model anggaran berimbang saja. Pemerintah daerah bisa menggunakan model penganggaran lain yaitu anggaran surplus dan anggaran defisit dalam APBD-nya. Berbeda dengan anggaran berimbang, model anggaran surplus/defisit memungkinkan anggaran pendapatan suatu pemerintah daerah lebih besar atau lebih kecil dari anggaran belanjanya. Jika anggaran defisit, maka kekurangan pendapatan atas belanjanya akan ditutup dengan pembiayaan yang berasal dari pinjaman atau sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun anggaran sebelumnya, sedangkan bila anggaran surplus maka akan dialokasikan untuk pengeluaran pembiayaan.

Data APBD menunjukkan bahwa adanya kecenderungan daerah untuk menggunakan anggaran defisit dalam APBD-nya. Hal ini terlihat dari 491 kabupaten/kota dan 33 provinsi di Indonesia pada TA 2012 sebanyak 447 daerah menganggarkan defisit dalam APBD-nya lebih banyak dibanding TA 2011 (438 daerah), sedangkan yang menganggarkan surplus di tahun 2012 sebanyak 68 daerah dan sisanya sebanyak 9 daerah mempunyai anggaran pendapatan dan belanja yang bernilai sama atau berimbang.

Fenomena ini menarik untuk dicermati karena sebenarnya secara umum daerah tidak sedang dalam kondisi defisit secara riil. Hal ini terbukti karena dalam realisasinya, pada umumnya daerah mengalami surplus. Begitu juga defisit yang daerah anggarkan pada umumnya dapat ditutup dengan sumber

dana internal seperti SiLPA. Berikut disajikan rasio defisit terhadap pendapatan,

di mana semakin besar rasio tersebut berarti semakin besar pula dana di luar

Pendapatan Daerah (pembiayaan) yang diperlukan guna mendanai belanja.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 4.1. Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan, Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

terhadap Pendapatan, Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) Rata-rata rasio defisit secara

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Rata-rata rasio defisit secara nasional (agregat kabupaten/kota dengan provinsi) adalah 7,3% dengan kontribusi SiLPA untuk menutup defisit tersebut sekitar 91,3% sedangkan kontribusi penerimaan pinjaman dan obligasi daerah

5,9%. Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah dengan rasio defisit terbesar

di mana faktor utama penyebab hal tersebut berasal dari kabupaten/kota di

wilayah itu.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Rasio suplus/defisit dengan total pendapatan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dalam satu provinsi dapat dilihat dalam grafik 4.2 berikut. Rasio tersebut menunjukkan nilai total surplus/defisit seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dalam satu provinsi dibagi dengan total pendapatannya.

Grafik 4.2. Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Pendapatan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Dalam grafik 4.2 terlihat bahwa pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi yang mempunyai nilai rasio di atas 10,0% yaitu di Kepulauan Riau (18,6%), Kalimantan Timur (20,2%) dan Riau (20,0%). Semakin besar rasio tersebut mengindikasikan semakin besar pula rasio pembiayaan yang dibutuhkan guna menutupi kekurangan pendanaan, di mana sebagian besar Penerimaan Pembiayaan didominasi oleh SiLPA dan Penerimaan Pinjaman.

3. Pemerintah Provinsi

Dalam anggaran 2012 terdapat empat provinsi yang menganggarkan surplus dalam APBD-nya, berbeda dengan TA 2011 yang hanya ada satu provinsi yang menganggarkan surplus ( Pemerintah Provinsi Papua).

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau merupakan pemerintah provinsi yang mempunyai rasio defisit paling besar yaitu sebesar 17,2%. Tiga besar berikutnya adalah Pemerintah Provinsi Riau di urutan kedua (16,0%) dan urutan ketiga adalah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (15,4%). Dari 29 pemerintah provinsi yang menganggarkan defisit, hanya tiga provinsi yang menganggarkan Penerimaan Pinjaman sebagai salah satu sumber Penerimaan Pembiayaan

guna membantu menutup defisit, sedangkan lainnya hanya menggunakan SiLPA. Pemerintah provinsi yang menganggarkan pinjaman antara lain adalah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk provinsi yang menganggarkan surplus sebagian besar digunakan untuk Pengeluaran Pembiayaan khususnya dalam Pembentukan Dana Cadangan dan Penyertaan Modal Daerah seperti Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Papua dan Sumatera Selatan.

Grafik 4.3. Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

Surplus/Defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) 4. Per Wilayah Rasio defisit per

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4. Per Wilayah

Rasio defisit per wilayah dapat dilihat dalam Grafik 4.4 yang menunjukkan bahwa Kalimantan merupakan wilayah yang mempunyai rasio defisit terhadap pendapatan paling besar (-11,6%). Dan yang terendah adalah wilayah Nusa Tenggara Maluku Papua (-3,4%). Semakin besar nilai minus rasio berarti semakin besar belanja yang tidak dapat ditutup dari Pendapatan Daerah, sehingga daerah harus mencari penerimaan lain yang berasal dari pembiayaan.

Kalimantan merupakan wilayah yang mempunyai standar deviasi terbesar (13,9%) dibandingkan wilayah lain, hal tersebut menunjukkan kabupaten/kota/ provinsi di Kalimantan mempunyai tingkat variasi yang lebih tinggi dibanding kabupaten/kota/provinsi di wilayah lain. Lima daerah yang mempunyai rasio defisit tertinggi di wilayah Kalimantan adalah Kabupaten Tana Tidung (-59,67%), Kabupaten Bulungan (-59,28%), Kota Tarakan (-45,15%), Kabupaten Malinau (-41,64%) dan Kabupaten Balangan (-40,29%). Sedangkan daerah kabupaten/ kota di wilayah Kalimantan yang mempunyai rasio surplus per belanja tertinggi adalah Kota Samarinda (0,26%), Kota Banjarmasin (0,56%), Kabupaten Banjar (1,40%), Kabupaten Sekadau (1,42%) dan Kabupaten Kutai Barat (1,59%). Sebaliknya Jawa Bali (4,59%) merupakan wilayah yang mempunyai tingkat variansi yang paling homogen dibandingkan wilayah lain (tidak termasuk DKI Jakarta)

Grafik 4.4. Rasio Defisit/Pendapatan Per Wilayah*)

Jakarta) Grafik 4.4. Rasio Defisit/Pendapatan Per Wilayah*) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

5.

Daerah dengan Defisit yang belum ter-cover oleh pembiayaan

Dalam APBD kabupaten, kota dan provinsi terdapat beberapa daerah yang besaran defisit yang dianggarkan tidak bisa ditutup dengan pembiayaan, sehingga defisit ditambah pembiayaan masih bernilai minus. Karena sumber lain penerimaan selain pendapatan adalah berasal dari pembiayaan maka hal tersebut mengundang pertanyaan “Darimana Pemda memperoleh dana untuk menutup defisit?”. Beberapa daerah tersebut dapat dilihat dalam tabel 4.1.

Tabel 4.1. Daerah dengan Defisit Belum Ter-cover oleh Pembiayaan

 

Surplus/Defisit

Pembiayaan

Surplus/Defisit +

NO

Nama Daerah

(Rp)

(Rp)

Pembiayaan

1

Kab. Mamberamo Tengah

-307,708,493,500

241,828,951,398

-65,879,542,102

2

Kab. Nduga

-111,062,254,808

49,843,670,694

-61,218,584,114

3

Kab. Halmahera Utara

-17,258,763,540

-33,072,194,975

-50,330,958,515

4

Kab. Halmahera Barat

-12,136,145,000

-27,000,000,000

-39,136,145,000

5

Kab. Yahukimo

-41,086,352,229

7,163,130,901

-33,923,221,328

6

Kab. Mamberamo Raya

-30,147,604,640

-2,500,000,000

-32,647,604,640

7

Kab. Mamasa

29,932,981,846

-58,802,363,439

-28,869,381,593

8

Kota Gunung Sitoli

-21,109,906,930

0

-21,109,906,930

9

Kab. Aceh Selatan

-28,616,966,431

10,400,000,000

-18,216,966,431

10

Kab. Malang

-115,314,327,564

99,203,511,919

-16,110,815,645

11

Kab. Mamuju Utara

-22,591,292,686

10,087,998,154

-12,503,294,532

12

Kab. Tolikara

-14,726,375,478

3,203,064,000

-11,523,311,478

13

Kab. Padang Lawas

-8,325,178,894

-1,375,843,696

-9,701,022,590

14

Kab. Kepulauan Mentawai

-193,044,679,453

185,899,599,854

-7,145,079,599

15

Kab. Gresik

-26,562,061,375

20,562,061,375

-6,000,000,000

16

Kab. Jayapura

-19,774,282,619

14,774,282,619

-5,000,000,000

17

Kab. Muaro Jambi

-44,333,851,710

42,290,780,966

-2,043,070,744

 

Surplus/Defisit

Pembiayaan

Surplus/Defisit +

NO

Nama Daerah

(Rp)

(Rp)

Pembiayaan

18 Kab. Bener Meriah

0

-2,000,000,000

-2,000,000,000

19 Kab. Lampung Selatan

-33,651,300,000

33,560,300,000

-91,000,000

20 Kab. Tanah Datar

-67,448,573,781

67,358,573,781

-90,000,000

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Dalam tabel di atas dapat dilihat bahwa Kabupaten Mamberamo Tengah merupakan daerah dengan nilai defisit APBD yang tidak ter-cover oleh pembiayaan terbesar yaitu sebesar Rp65,9miliar atau sebesar 8,21% dari anggaran belanja.

B. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

Pelampauan Pendapatan atau penghematan belanja pada realisasi APBD sebelumnya akan menghasilkan sisa dana. Sisa dana tersebut dinamakan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang disingkat SiLPA. Namun demikian, mengingat bahwa APBD TA 2012 dibuat sebelum berakhirnya tahun anggaran maka SiLPA yang terdapat di APBD merupakan nilai estimasi. Semakin besar SiLPA pada dasarnya menunjukkan semakin besarnya dana publik yang belum atau tidak digunakan dalam belanja atau pengeluaran pembiayaan lain sehingga mengendap di kas daerah sebagai dana idle. Rasio SiLPA terhadap belanja menunjukkan porsi belanja yang tertunda. Rasio tersebut dapat dilihat dalam beberapa grafik di bawah ini.

Dalam potret rasio SiLPA tersebut nampak bahwa rasio SiLPA untuk daerah- daerah penghasil SDA yang cukup besar, seperti Kalimantan Timur, Riau dan Kepulauan Riau selalu tinggi. Pada dasarnya terdapat beberapa faktor yang dapat menjelaskan hal tersebut, pertama, daerah yang sumber penerimaan banyak berasal dari SDA pada umumnya menerima DBH mepet pada akhir tahun atau bahkan lewat tahun, sehingga memang tidak sempat terbelanjakan dan menjadi SiLPA. Kedua, daerah-daerah tersebut memang memerlukan

dana idle untuk menjaga likuiditas, utamanya pada awal-awal tahun karena sebagian besar daerah-daerah tersebut hanya menerima DAU yang relatif kecil sementara beban belanja wajib tetap harus dibayarkan sejak awal tahun. Ketiga, terdapat juga kemungkinan bahwa daerah-daerah tersebut memang menumpuk dana idle untuk kepentingan tertentu. Hal ini dapat ditengarai dengan data yang menunjukkan bahwa dana pemda di wilayah tersebut yang tersimpan di Perbankan umum (baik dalam bentuk giro maupun deposito) dari bulan ke bulan (Januari hingga Desember 2012) memang selalu berada di atas angka Rp13 triliun.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 4.5. Rasio SiLPA terhadap Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

SiLPA terhadap Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2012 (Diolah) Rasio SiLPA terhadap belanja

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

Rasio SiLPA terhadap belanja selain menggambarkan besaran belanja yang tertunda pelaksanaannya pada tahun sebelumnya juga menggambarkan jumlah realisasi pendapatan tahun anggaran sebelumnya lebih besar dari proyeksinya. Rata-rata rasio SiLPA terhadap belanja daerah secara agregat provinsi, kabupaten dan kota adalah 7,9% dengan rasio tertingginya adalah Provinsi Kalimantan Timur (18,6%). Sebanyak 12 provinsi mempunyai rasio di atas rata-rata dan 21 provinsi di bawah rata-rata.

2.

Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Grafik 4.6. Rasio SiLPA terhadap Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi *)

Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-Provinsi Kepulauan Riau, Riau dan Kalimantan Timur merupakan daerah-daerah yang terlihat berbeda dibandingkan dengan pemkab dan pemkot di provinsi lain, karena pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di ketiga provinsi tersebut mempunyai rasio SiLPA terhadap belanja di atas 15,0% dan di atas rata-rata yang sebesar 7,6%. Sedangkan kabupaten/kota di Papua Barat mempunyai rasio paling rendah

(1,8%).

3. Pemerintah Provinsi

Terdapat perbedaan pada urutan rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah pada pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi. Dalam rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi yang mempunyai urutan tertinggi (15,6%), Tiga besar berikutnya adalah urutan kedua Provinsi Kalimantan Timur (14,3%)

dan Provinsi Maluku Utara (12,4%) di urutan ketiga, sedangkan provinsi yang mempunyai rasio terendah adalah Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,5%.

Grafik 4.7. Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2012 (Diolah) 4. Per Wilayah Rasio SiLPA

Sumber: APBD 2012 (Diolah)

4. Per Wilayah

Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah tertinggi ada di wilayah Kalimantan (11,6%), rata-rata nasional untuk rasio ini adalah sebesar 7,9%, semakin besar rasio menunjukkan semakin besar dana idle yang tidak dapat dimanfaatkan pada tahun 2011, sedangkan rasio terendah SiLPA terhadap belanja terjadi di wilayah Sulawesi (4,3%). Untuk wilayah lain dapat dilihat dalam grafik di bawah ini.

Grafik 4.8. Rasio SiLPA terhadap Belanja per Wilayah *)

Grafik 4.8. Rasio SiLPA terhadap Belanja per Wilayah *) Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk

Sumber: APBD 2012 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

5. Daerah yang menganggarkan Surplus Penerimaan dalam APBD

Surplus Penerimaan adalah selisih positif antara transaksi pendapatan dan belanja dengan transaksi pembiayaan. Hal ini berarti bahwa terdapat sisa lebih penggunaan anggaran yang akan muncul di akhir tahun anggaran atau dengan kata lain daerah tersebut telah menganggarkan SiLPA tahun berkenaan di awal tahun. Hal tersebut kurang sesuai dengan peran utama pemda karena dana tersebut seyogyanya digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, tidak untuk disimpan.

Tabel 4.2. Daerah yang Menganggarkan SiLPA Tahun Berkenaan dalam APBD (Lebih dari Satu Miliar) (Juta Rupiah)

 

Surplus/

No.

Daerah

Defisit

(Jutaan

rupiah)

Pembiayaan

(Jutaan

rupiah)

Surplus/ Defisit

+ pembiayaan

(Jutaan rupiah)

Belanja

(Jutaan

rupiah)

% thd

Belanja

(%)

1

Kab. Siak

-493,070

602,467

109,397

2,139,849

5.1

2

Prov. Maluku Utara

-45,000

143,000

98,000

1,170,033

8.4

3

Kab. Tanah Laut

-204,049

283,842

79,793

909,162

8.8

4

Kota Dumai

-51,745

118,291

66,546

915,013

7.3

5

Kab. Langkat

-70,714

135,219

64,505

1,382,151

4.7

6

Kab. Indragiri Hilir

-134,305

194,687

60,382

1,445,827

4.2

7

Kab. Boven Digoel

-47,878

108,073

60,195

853,753

7.1

8

Kab. Temanggung

61,188

-4,600