Anda di halaman 1dari 26

TUR P SYNDROME

Ns. Anisa

TUR-P SINDROMA

Pembedahan prostat transuretral (TURP) masih merupakan salah satu terapi standar dari Benigna Prostat Hiperplasi (BPH)

Dalam TURP dilakukan reseksi jaringan prostat dengan menggunakan kauter yang dilakukan secara visual. Reseksi prostat dilakukan dgn menggunakan cairan irigan ( pembilas ) daerah yang direseksi tetap terang.

CAIRAN IRIGASI
Untuk operasi TUR cairan irigasi, al: air steril, glysin 1,2%, 1,5%, atau 2,2%. sorbitol atau manitol 3%. glukose 2,5%-4%. dektrose 5% Cytal (campuran antara sorbitol 2,7% dan manitol 0,54%)

Salin tidak dapat dipakai karena cairan ini merupakan penghantar listrik dan akan mengganggu proses pemotongan dan kauterisasi. (mesin resektoskop yang lebih moderen yang dapat menggunakan salin sebagai cairan irigasinya)

Irigan yg digunakan adalah berupa larutan non ionic tdk tjd hantaran listrik saat op. yaitu H2O steril ( aquades ) Kerugian dari H2O steril : bersifat hipotonik Masuk sirkulasi sistemik mll vena yg terbuka pd saat reseksi. Salah satu komplikasi yang penting dari TURP adalah intoksikasi air dan hiponatremi dilusional yang disebut Sindroma TUR yang bisa berakhir dengan kematian.

DEFINISI

Sindroma TUR adalah suatu keadaan klinik yang ditandai dengan kumpulan gejala akibat gangguan neurologik, kardiovaskuler, dan elektrolit yang disebabkan oleh diserapnya cairan irigasi melalui vena-vena prostat atau cabangnya pada kapsul prostat yang terjadi selama operasi.

INSIDEN Sindroma TUR dapat terjadi pada 2-10% operasi TURP. Penelitian Marrero menunjukkan frekuensi bila:

Prostat yang ukurannya lebih dari 45 gr Operasi yang berlangsung lebih dari 90 menit Pasien yang mengalami hiponatremi relatif Cairan irigasi 30 liter atau lebih

Sebaliknya risiko Sindroma TUR akan menurun bila:


Dipakai cairan irigasi yang tidak menimbulkan hemolisis (isotonik) Tekanan cairan irigasi yang masuk (in flow) dijaga serendah mungkin

GEJALA-GEJALA SINDROMA TUR


Pusing Sakit kepala Mual Rasa tertekan di dada dan tenggorokan Napas pendek Gelisah Bingung Nyeri perut Tekanan darah meningkat Bradikardi

BILA PENDERITA TIDAK SEGERA DI TERAPI


Sianotik, hipotensif dan dapat terjadi cardiac arrest. Gejala neurologis: Mula-mula mengalami letargi kemudian tidak sadar pupil mengalami dilatasi. Dapat terjadi kejang tonik klonik dan dapat berakhir dengan koma

PATOGENESIS
Sejumlah besar cairan dapat diserap selama operasi terutama bila sinus vena terbuka secara dini atau bila operasi berlangsung lama. 20cc /menit (1000-1200cc pada 1 jam pertama operasi), sepertiganya diserap langsung ke dalam sistem vena hiponatremia dilusional

FAKTOR UTAMA YANG MENYEBABKAN TIMBULNYA SINDROMA TURP


Circulatory overload Keracunan air Hiponatremia

CIRCULATORY OVERLOAD
Penyerapan cairan irigasi praktis terjadi pada semua operasi TURP. Diperkirakan terjadi penyerapan sekitar 1 liter cairan irigasi ~ penurunan akut kadar Na sebesar 5-8 mmol/liter. Penyerapan air di atas 1 liter menimbulkan risiko timbulnya gejala sindrom TUR.

Circulatory overload volume darah meningkat TD menurun payah jantung. Cairan yang diserap akan menyebabkan pengenceran kadar protein serum, menurunnya tekanan osmotik darah. Pada saat yang sama, terjadi peningkatan tekanan darah dan cairan di dorong dari pembuluh darah ke dalam jaringan interstitial udema paru dan cerebri

KERACUNAN AIR
Beberapa pasien dengan sindrom TUR menunjukkan gejala dari keracunan air karena meningkatnya kadar air dalam otak. Gejala keracunan air terjadi bila kadar Na 15-20 meq/liter di bawah kadar normal. Penderita menjadi somnolen, inkoheren dan gelisah. Dapat terjadi kejang-kejang dan koma, dan posisi desereberate. Dapat terjadi klonus dan refleks babinsky yang positif. Terjadi papil udem dan midriasis.

HIPONATREMIA
Na

sangat penting untuk fungsi sel jantung dan otak. Beberapa mekanisme terjadinya hiponatremia pada pasien TUR adalah: Pengenceran Na karena penyerapan cairan irigasi yang besar. Kehilangan Na dari daerah reseksi prostat ke dalam cairan irigasi. Gejala hiponatremia adalah gelisah, bingung, inkoheren, koma, dan kejangkejang.

HIPONATREMIA
Bila

kadar Na di bawah 120 meq/liter, terjadi hipotensi dan penurunan kontraktilitas otot jantung. Bila kadar Na di bawah 115 meq/liter, terjadi bradikardi dan kompleks QRS yang melebar, gelombang ektopik ventrikuler dan gelombang T yang terbalik. Di bawah 100 meq/liter terjadi kejang-kejang, koma, gagal napas, takikardi ventrikel, fibrilasi ventrikel, dan cardiac arrest

PENATALAKSANAAAN MEDIS
Pada

hiponatremia ringan atau sedang, pemberian furosemide intravenous dan infus normosalin mungkin sudah cukup Pada kasus hiponatremi berat diberikan infus 3% saline (hipertonik) sebanyak 150-200 cc dalam waktu 1-2 jam. Pemberian hipertonik saline ini dapat diulangi bila perlu. Kadar elektrolit harus diperikasa tiap 2-4 jam untuk mencegah terjadinya hipernatremia

PENATALAKSANAAAN MEDIS
Pemberian

saline 3% sebaiknya segera digantikan dengan normal saline Bila terjadi udem paru-paru, harus dilakukan intubasi trakeal dan ventilasi tekanan positif dengan menggunakan oksigen 100% Bila terjadi kehilangan darah yang banyak maka transfusi dilakukan dengan menggunakan Packed Red Cells (PRC)

PENCEGAHAN SINDROMA TUR


Identifikasi gejala-gejala awal sindrom TUR diperlukan untuk mencegah manifestasi berat dan fatal pada pasien-pasien dengan pembedahan urologi endoskopik. Bila diketahui adanya hiponatremi yang terjadi sebelum operasi terutama pada pasien-pasien yang mendapat diuretik dan diet rendah garam harus segera dikoreksi. Karena itu pemeriksaan natrium sebelum operasi TUR perlu dilakukan.

PENCEGAHAN SINDROMA TUR


Pemberian antibiotik profilaktik mungkin mempunyai peran penting dalam pencegahan bakteremia dan septicemia. Untuk penderita-penderita dengan penyakit jantung, perlu dilakukan monitoring CVP atau kateterisasi arteri pulmonalis. Tinggi cairan irigasi yang ideal adalah 60 cm dari pasien.

PENCEGAHAN SINDROMA TUR


Lamanya operasi TURP tidak boleh lebih dari 1 jam. Bila diperlukan waktu lebih dari 1 jam, maka TURP sebaiknya dilakukan bertahap. Pemeriksaan natrium serum sebaiknya dilakukan tiap 30 menit dan perlu dilakukan koreksi sesuai dengan hasil serum natrium. Perlu dilakukan pemberian furosemid profilaksis untuk mencegah overload cairan. Perlu dilakukan pencegahan hipotermi misalnya dengan menghangatkan cairan irigasi sampai 37C.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kelebihan volume cairan b.d pengenceran serum plasma Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d hiponatremia saat operasi TURP

INTERVENSI KEPERAWATAN
Awasi TTV Auskultasi paru dan bunyi jantung Kaji tingkat kesadaran, selidiki perubahan mental, adanya gelisah Awasi pemeriksaan laboratorium : Natrium, kalium, albumin, Hb / Ht Monitor intake dan output Berikan obat diuretik Kurangi waktu pelaksanaan operasi