Anda di halaman 1dari 5

APORAN FIELD LAB BLOK XV UROGENITAL KEGIATAN KIE PENYULUHAN PMS SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENINGKATAN KEJADIAN PMS

PADA REMAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGANYAR

Disusun oleh : Nama : Imam Rizaldi NIM : G0008109 Kelompok : III Instruktur : dr. Ibnu Ridhwan

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2010

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar

Belakang

Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit yang termasuk dalam PMS adalah Sifilis, Gonorhoe, Jengger Ayam, Herpes, dan sebagainya. Cakupan PMS yang diobati di seluruh kabupaten di Indonesia pada tahun 2005-2007 adalah 68,64%, padahal target SPM 100%. Menurut data tersebut maka dapat disimpulkan masih sangat diperlukan promosi kesehatan tentang PMS. Promosi kesehatan sangat penting mengingat tingginya prevalensi penyebaran penyakit dan kurangnya kesadaran akan bahaya dari PMS tersebut. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya promosi kesehatan dalam bidang Penyakit Menular Seksual khususnya HIV/AIDS, meskipun tidak tertutup kemungkinan dengan

yang lainnya. Promosi kesehatan tersebut dapat diaplikasikan dalam beberapa hal, sebagai contoh adalah penyuluhan kepada SMA atau sederajat yang merupakan usia resiko penularan. II. Tujuan Pembelajaran Setelah melakukan kegiatan laboratorium lapangan, diharapkan mahasiswa mampu: 1. Melakukan penyuluhan kesehatan komunitas tentang PMS khususnya HIV/AIDS. 2. Melakukan pendataan tentang keberhasilan program pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS. 3. Memahami tatalaksana HIV/AIDS. 4. Melakukan rujukan kasus spesifik penyakit PMS.

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN


I. Rincian Pelaksanaan Kegiatan 1. Kamis, 22 April 2010 Persiapan : latihan penyuluhan PMS dan pembimbingan oleh dr Ibnu Ridhwan, bertempat di Puskesmas Karanganyar, Kabupaten Karanganyar 2. Kamis, 29 April 2010 Pelaksanaan kegiatan KIE Penyuluhan PMS didampingi oleh Ibu Bidan Lina dan dr. Ibnu Ridhwan bertempat di SMAN 2 Karanganyar II. Hasil Kegiatan Hari Pertama. Kamis, 22 April 2010 Kegiatan hari pertama di Puskesmas Karanganyar adalah latihan penyuluhan PMS di depan dr. Ibnu Ridhwan serta pembekalan juga oleh beliau. Pembekalan tersebut mengenai keadaan secara umum remaja di Karanganyar dan koordinasi dengan sekolah yang akan dilakukan

penyuluhan. Selain itu diberikan pula bimbingan mengenai teknis penyuluhan dan materi yang akan diberikan pada minggu depan, 29 April 2010. Adapun materi yang kira-kira diberikan adalah sebagai berikut: Inti terpenting dari penyuluhan adalah prevention dan promotion. Penggunaan bahasa yang dapat dimengerti oleh penerima pesan. Perbaikan materi penyuluhan untuk lebih ditekankan pada norma agama dan kesusilaan. Hari Kedua. Kamis, 29 April 2010 Kegiatan pada hari kedua adalah penyuluhan pada salah satu Sekolah Menengah Atas di Karanganyar yaitu SMAN 2 Karanganyar. Penyuluhan dilakukan dengan bimbingan dari dr. Ibnu Ridhwan dan Ibu Bidan Linda. Pada kegiatan ini kelompok kami dibagi menjadi dua tim yang akan memberikan penyuluhan pada siswa di dua kelas yaitu kelas X1 dan X5. Materi penyuluhan berkisar tentang Penyakit Menular Seksual seperti GO, sifilis dan HIV/AIDS. Penyampaian materi dilaksanakan dengan menggunakan powerpoint sebagai media. Penyuluhan kepada para siswa kelas X dilaksanakan sekitar 1 jam. Penyuluhan PMS yang dilakukan mendapat umpan balik yang bagus baik dari para siswa.

III. Kendala
1. Masih kurang adanya kesadaran dari masyarakat untuk memelihara kesehatan reproduksi khususnya dalam hal pencegahan terhadap bahaya Penyakit menular Seksual. 2. Keterbatasan informasi dan data mengenai jumlah pasien atau kemungkinan penderita dengan Penyakit Menular seksual. Hal ini diakibatkan karena kurang adanya kerjasama antara pasien berhubungan dengan pihak puskesmas. 3. Adanya rasa tabu dalam membicarakan masalah kesehatan reproduksi dan Penyakit Menular Seksual sehingga pelaporan kepada puskesmas mengenai penderita PMS sangat minim (apabila ia terjangkit).

BAB III PEMBAHASAN


Puskesmas Karanganyar sampai saat ini belum secara pasti menemukan kasus pasien dengan HIV positif dan AIDS. Adapun pasien yang datang yang berhubungan dengan PMS adalah pasien dengan gejala Gonnorhoe. Puskemas Karanganyar mendiagnosis pasien berdasarkan keluhan klinis dan dengan laboratorium. Pada daerah Karanganyar yang mempunyai kemungkinan terbesar penderita dari PMS adalah pekerja WTS beserta pelanggannya dan supir bus atau truk. Oleh karena itu telah diadakan cek kesehatan secara rutin oleh puskesmas dengan orang yang mempunyai kemungkinan terhadap penyebaran PMS tersebut. Terdapat kendala dalam pengumpulan data mengenai PMS dikarenakan karena kurang adanya kerjasama dari masyarakat sekitar. Kurang adanya kesadaran dari masyarakat sekitar sangat berkaitan dengan karakter masing-masing. Mayoritas masyarakat masih menganggap hal tersebut adalah sebagai hal yang tabu sehingga mereka lebih memilih untuk mengobati sendiri dengan obata bebas. Hal ini seperti inilah yang menjadikan orang tersebut menjadi resisten terhadap obat tersebut. Resiko penderita PMS di kabupaten Karanganyar terbesar condong ke remaja dan dewasa muda. Oleh karena itu dengan bekerja sama dengan pihak UKS dan PromKes dari Puskesmas Karanganyar dilakukan penyuluhan kepada siswa kelas X SMAN 2 Karanganyar. Materi yang disuluhkan adalah Penyakit Menular Seksual mulai dari verview tentang PMS hingga beberapa contoh PMS seperti GO, Sifilis, AIDS dan Herpes Materi tentang PMS yang disampaikan adalah mengenai pengertian, pencegahan, dan pengobatan. Selama penyuluhan berlangsung terdapat simpati yang baik dari siswa, terutama siswa putra. Dari pertanyaan dan reaksi dari siswa yang mendapat penyuluhan, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa para siswa ini tidak pernah mendapatkan pendidikan mengenai sex yang seharusnya diberikan sejak dini. Oleh karena itulah penyuluhan PMS ini sebenarnya diadakan untuk mengenalkan secara dini mengenai sex dan bahaya sex bebas, sehingga kunci dan tujuan utama dari penyuluhan PMS adalah agar dapat

tertanam dalam pikiran target penyuluhan mengenai pencegahan PMS dan bukannya pengobatan PMS.

BAB IV PENUTUP
I. Kesimpulan 1. Masyarakat masih menganggap pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi dan Penyakit Menular Seksual sebagai suatu hal yang tabu. 2. Kurangnya penyuluhan kepada masyarakat agar membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya dari PMS. 3. Data yang ada kurang lengkap karena banyak masyarakat yang kurang peduli PMS dan hanya mengkonsumsi obat warung (bagi penderita). II. Saran 1. Untuk pihak Puskesmas, sebaiknya berkoordinasi dengan ketua RT atau ketua RW setempat untuk mengadakan penyuluhan secara rutin dan berkala sehingga masyarakat di semua kalangan dapat terjangkau dan mengetahui masalah Penyakit Menular Seksual. 2. Penyuluhan mengenai penyakit apapun sangat penting mengingat bahaya dari masingmasing penyakit sehingga dapat menyebabkan infeksi lanjut.

Daftar Pustaka
Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit edisi 6. Jakarta: EGC. Tim Field Lab. 2009. Penyulihan Kesehatan: Penyakit Menular Seksualitas (PMS). Surakarta: FK UNS.