Anda di halaman 1dari 163

BUKU PEGANGAN

TENAGA
LISTRIK
JILID II
TEKNIK
DR. A. ARISMUNANDAR
DR. S. KUWAHARA
-ffi
e
iiii:.l
.'.i::ifi
iil.'.,':,:l
:iri.l::s
t * I
-.
O
'-..,
::ii
-
i;
l==
r,'rl rT
IX-t r;lt
i.vt r-1t
v\t!t
t\-/l lt-d
rtal
iiil:l ..:r.r..
ffiffi
ffiffi
,..'
1
--
--
--
--
r-Irt
USTAKAAN
RSIPAN
TWATIMUR
I
:
.3 SALUFII\N
TRA,NSMISI
BUKU PEGAI.{GA[{
TEKNIK
TENAGA
TISTRIK
JILID II: SALURAN TRANSMISI
OLEH
Dn. AnroNo ARTsUUNANDAR, M.A.Sc.
Dn. Susuuu Kuwanen.l
Executive Director, Electric Power Development Co., Ltd. (EPDC)
Tokyo, Japan
Cetakan
Ketujuh
PT PRADNEA BRA}TITA
JAKA
R TA
Perpustakaan Nasional : katalog dalam terbitan (KDT)
Arismunandar, Artono
Buku pegangan teknik tenaga listrik / Artono Aris-
munandar, Susumu Kuwahara, - Cet. 7.- Jakarta: Pradnya
Paramita,2004
3
jil.
: 26 cm.
Isi : Jil. I. Pembangkitan dengan tenaga air :
Jil. II Saluran Transmisi; Jil. III Gardu Induk.
rsBN 979-408-176-0 (iil. 1).
rsBN e79-408-t77-9 (iil. 2).
rsBN 979-408-t78-7 (iil. 3).
1. Listrik, Tenaga. I. Judul. II. Kuwahara, Susumu.
621.31
BUKU PEGANGAN TEKNIK TENAGA LISTRIK II
Oleh : DR. Artono Arismunandar M.A. Sc.
DR. Susumu Kuwahara
@
Association for International Technical Promotion
@
Hak Cipta dilindungi undang-undang
Diterbitkan oleh : PT Pradnya Paramita
JalanBungaS-8A
Jakarta l3I4O
Anggota IKAPI
Cetakan Ketujuh : 2004
Dicetak oleh : PT Percetakan Penebar Swadaya
v4L.W( lBrc (PPo
Lb
PRAKATA
Penulisan buku ini didorong oleh keinginan penulis untuk ikut mengisi kelangkaan
kepustakaan teknik, ltrususnya teknik tenaga listrik, dalam bahasa Indonesia. Kelangkaan
(scarcity) ini disebabkan karena berbagai hal, antara lain, karena mereka yang mendalami
persoalannya biasanya terlalu sibuk untuk dapat menyisihkan sebagian waktunya guna
menulis buku, atau karena mereka menganggapnya kurang menguntungkan dilihat dari
segi keuangan. Sebab yang lain adalah terbatasnya pasaran, yang dipengaruhi oleh
jumlah
tenaga ahli dan tenaga kejuruan (yang merupakan lingkungan pembaca buku-buku teknik)
yang relatif kecil, serta iklim masyarakat yang memang belum gandrung-buku (book-minded).
Daya beli masyarakat yang masih terbatas
juga
merupakan faktor yang menentukan.
Berhubung dengan hal-hal di atas, maka penulis bersedia mempertimbangkan tawaran
Tuan Koichi Fukui, Sekretaris Jenderal Badan Promosi Teknik Internasional (AITEP Jepang),
untuk bersama seorang pengarang Jepang menulis sebuah buku pegangan dalam bidang
teknik tenaga listrik. Badan ini merupakan organisasi tanpaJaba (non-profit) yang pembentu-
kannya disahkan oleh Menteri Luar Negeri Jepang pada tanggal 6 Desember 1967. Tujuannya
adalah ikut membantu perkembangan
ekonomi wilayah Asia Tenggara dengan cara menerbit-
kan buku-buku pegangan dalam bidang teknik yang ditulis bersama (co-authorship) oleh
pengarang-pengarang
Jepang dan penulis-penulis wilayah dalam bahasa tersebut terakhir.
Oleh karena tujuannya yang baik itu serta mengingat akan kekosongan akan kepustakaan
teknik tenaga listrik yang kian hari kian terasa, maka tawaran Tuan Fukui sungguh menarik
bagi penulis ini waktu itu. Namun, bila penulis teringat akan kenyataan bahwa tidak mungkin
merubah
jumlah jam
dalam sehari serta kesibukan-kesibukan
penulis sebagai scorang admi-
nistrator, maka uluran tangan persahabatan itu berat rasanya untuk dircrima. Pcnulis ini
memerlukan waktu berpikir beberapa malam untuk menimbang-nimbang manfaat buku ini
bagi masyarakat luas pada umumnya, dunia teknik tenaga listrik pada khususnya, dibanding-
kan dengan kelipat-gandaan usaha yang harus diberikan oleh penulis untuk menyisihkan
scbagian kecil dari waktunya bagi buku ini. Setelah merundingkan masalahnya dengan atasan-
nya, Ir. Abdul Kadir, Direktur Utama Perusahaan Umum Listrik Negara, serta bcrkat
pc-
ngertian, dorongan dan izin beliau, penulis berketetapan untuk membantu usaha badan
pro-
mosi tersebut terdahulu. Demikianlah, maka naskah perjanjian kerjasama ditandatangani
pada tgl 27 September l97l,dua bulan sesudah Tuan Fukui menyodorkannya kepada
penulis.
Buku ini didasarkan atas naskah dalam Bahasa Inggeris berjudul ELECTRIC POWER
ENGINEERING HANDBOOK yang ditulis olch Dr. Susumu Kuwahara, salah seorang
Direktur dari Electric Power Development Company, Ltd. (EPDC), satu-satunya perusahaan
listrik yang dimiliki negara di Jepang. Oleh karena itu, mudah dimengerti mcngapa dasar
penulisannya adalah keadaan di Jepang sendiri. Dalam BUKU PEGANGAN TEKNIK
TENAGA LISTRIK ini dicoba menyesuaikan penulisannya dengan keadaan di Indoncsia-
tentu saja dalam batas-batas kemungkinan yang ada-serta melcngkapinya dengan keadaan
di negara-negara lain di luar Jepang, baik yang didapat dari kepustakaan, maupun dari pe-
ngalaman kcrja
penulis ini sendiri di Kanada dan Amerika Serikat. Penyesuaian dengan keada-
an Indonesia tidak mudah karena ketentuan-ketentuan,
peraturan-peraturan dan standar-
(4) Pralata
standar kurang sekali, tidak ada atau belum ada. Lagi pula,
konsultasi penulis dengan ling-
kungan teknik yang lebih luas mengenai pengalaman-pengalaman praktis
dalam bidang
tenaga listrik di Indonesia dewasa ini belum dimungkinkan. Kekurangan ini diharapkan
dapat diatasi pada
edisi berikutnya.
Buku pegangan (handbook) yang lengkap mengenai teknik tenaga listrik seharusnya
memuat segala aspek pembangkitan (generation), transformasi, penyaluran (transmission)
dan distribusi tenaga listrik. Namun, karena berbagai hal,
pada
tahap pertama
ini hanya
akan diterbitkan tiga
jilid, yakni:
I. Pembangkitot dengan Tenaga Air.
U. Saluran Transmisi.
IIII. Gardu Induk.
Jilid I memuat hal-hal yang berhubungan dengan berbagai aspek pembangkitan tenaga listrik
dari tenaga air, mulai dari prinsipprinsipnya, hubungannya dengan aliran sungai, perencana-
an pusat listrik tenaga air (PLTA), bangunan sipilnya, turbin air, pembangkit, pembangunan
dan pengujiannya
bila selesai, sampai kepada operasi serta pemeliharaannya.
Jilid II berisi
berbagai aspek penyaluran tenaga listrik, antara lain tentang penghantar,
isolator, bangunan
penopang, karakteristik listrik, gangguan-gangguan dan pengamanannya, perencanaan
dan
konstruksinya, serta penyaluran
bawah-tanah. Jilid III menyangkut alat-peralatan serta hal-
ikhwal dalam gardu induk, misalnya tentang peralatan listrik yang ada, rangkaiannya, isolasi,
dan sebagainya. Karena sifat penerbitannya sebagai satu buku, tetapi yang terbagi menjadi
tiga
jilid
agar dapat dicapai oleh daya-beli masyarakat, maka apa yang sudah diuraikan dalam
jilid
yang satu tidak akan dibahas lagi dalam
jilid yang lain. Contohnya, koordinasi isolasi
yang dibahas dalam Jilid III tidak akan diungkapkan lagi dalam
jilid-jilid
yang lain, meskipun
ceritanya berlaku pula
di sana.
Buku ini ditujukan kepada masyarakat luas yang ingin mengetahui sedikit-banyak tentang
teknik tenaga listrik. Namun, pemanfaatannya
secara optimal baru akan terasa bila pembaca
memiliki pengetahuan sekurang-kurangnya sederajat dengan sarjana muda teknik tenaga
listrik. Dalam rangka partisipasi penulis dalam pembinaan bahasa nasional, maka dalam
buku ini diusahakan sebanyak mungkin penggunaan istilah-istilah Bahasa Indonesia, baik
yang sudah lazim dipakai, maupun yang di sana-sini baru kadang-kadang saja digunakan oleh
para teknisi Indonesia. Apabila dalam hal terakhir ini penulis
dianggap terlalu berani, maka
penulis bersedia menerima kecaman yang membangun dari para pembaca. Yang penting
adalah bahwa dari kecaman-kecaman ini akan lahir istilah-istilah yang definitip, sehingga
lambat-laun Bahasa Indonesia dapat berkembang menjadi bahasa teknik dan ilmu pengetahu-
an, setaraf dengan bahasa-bahasa lain di dunia. Seperti telah disinggung di atas, buku ini
masih
jauh
dari sempurna. Scbabnya adalah waktu persiapannya yang terlalu singkat, sehingga
kurang kesempatan untuk melihat sampai di mana kondisi-kondisi yang berlaku di luar
negeri (terutama Jepang dan Amerika Serikat) dapat diterapkan di Indonesia. Tetapi penulis
bcserta rekan-rekannya bersedia mencantumkan nama mereka pada buku ini karena mereka
yakin bahwa adanya sesuatu pegangan, standar atau ketentuan, lebih baik dari pada ketiadaan
pegangan sama sekali. Yang
jelas,
di dalam buku ini ada satu pegangan yang menurut penda-
pat penulis penting artinya bagi kaum teknisi lndonesia, yaitu adanya uraian tentang pemeli-
haraan (maintenance) dalam tiap-tiap
jilid.
Mudah-mudahan dari satu segi ini saja buku ini
sudahboleh dikatakan ada gunanya.
Sebagai buku pegangan, presentasi dalam buku ini ditekankan pada pokok-pokok yang
diperlukan dalam praktek teknik tenaga listrik sehari-hari. Oleh sebab itu di sini akan lebih
Prakata
banyak terlihat tabcl-tabel dan gambar-gambar
dari pada
rumus-rumus yang
rumit; apabila
persamaan-persamaan
diperlukan
juga,
maka penurunannya
tidak diberikan oleh karena hal
ini sudah ada dalam karya yang
direferensikan. Dalam penentuan
bahan referensi, yang
dipertimbangkan adalah kebenaran isi dan kepentingannya. Meskipun penutis
sudah berusaha
untuk memasukkan semua karya asli yang penting
sebagai referensi dalam buku ini, masih
ada kemungkinan bahwa beberapa diantaranya belum tersebut. Bila yang terakhir ini terjadi,
penulis
mohon dimaafkan.
Di atas disinggung bahwa pada tahap pertama
ini hanya akan diterbitkan sebagian saja
dari bahan'bahan yang seharusnya ada dalam suatu buku pegangan
tentang teknik tenaga
listrik. Bagian'bagian yang lain, misalnya yang menyangkut pembangkitan
tenaga Iistrik dari
tenaga termis (uap, diesel, gas, nuklir, panas bumi) serta distribusi tenaga listrik akan diterbit-
kan pada waktunya, bila keadaan telah memungkinkan. Karena berbagai hal, antara lain,
berlakunya Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, bagian-bagian yang sudah dapat
diterbitkanpun tidak keluar menurut urutan nomor
jilidnya.
Sangat besar kemungkinannya
bahwa Jilid Il akan terbit paling awal.
Buku ini merupakan hasil karya sebuah kelompok Jepang-lndonesia yang terdiri dari Dr.
S. Kuwahara tersebut terdahulu, dibantu oleh Tuan-Tuan Toshiyasu Tako, Hiroshi Horie
dan Bunichi Nishimura, serta pejabat-pejabat
Lembaga Masalah Ketenagaan, yakni
Ir. Ibnu
Subroto, Ir, Supartomo, Ir. Komari dan penulis sendiri. Tanpa kerjasama yang baik, buku
ini tidak mungkin dapat muncul dalam bentuknya yang sekarang ini. Dalam hal terakhir,
kepercayaan penerbit kepada penulis juga
merupakan faktor pendorong yang tak ternilai
artinya. Para penulis sangat berterima-kasih kepada Ir. Abdul Kadir, Direktur Utama Peru-
sahaan Umum Listrik Negara, atas pengertian yang baik, pemberian izin pencrbitan
serta sam-
butan beliau untuk buku ini; dan kepada Tuan Haruki Watanabe, Penasehat Ahli (Pemerintah
Jepang) pada Lembaga Masalah Ketenagaan, atas bantuan serta
jasa-jasanya
dalam berbagai
bentuk. Penulis Prakata ini berhutang budi kepada kedua orang tuanya yang telah banyak
memberikan dorongan kepada anak-anak mereka untuk maju dan berguna bagi masyarakat.
Akhirulkalam, penulis ini ingin menyampaikan penghargaan
dan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada isteri dan anak-anaknya yang telah banyak mengorbankanjam-jam rekreasi,
hari-hari Minggu dan hari-hari libur untuk kepentingan penulisan
buku ini oleh suami dan
ayah mereka; dan khusus kepada isterinya atas pengertiannya yang mendalam serta bantuan-
nya yang
tak terhingga dalam pengerjaan gambar-gambar,
tabel-tabel dan daftar-daftar.
Jokarta, Agustus 1972.
6)
/4/;,n,
"a.J-
IID
A. Ansxuxaxom
SAMBUTAN
Buku-buku dalam bidang teknik yang ditulis dalam Bahasa [ndonesia sedikit sekali
jumlahnya.
Buku-buku dalam bidang teknik tenaga listrik (electric power
engineering) pada
umumnya, yang mencakup hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang sarjana muda ke atas
pada khususnya, boleh dikatakan tidak ada. Padahal, kebutuhan akan buku-buku tadi makin
hari makin terasa. Betapa tidak. Permintaan masyarakat akan tenaga listrik melonjak dengan
pesat, meskipun kemampuan Negara memenuhinya masih terbatas. Sesudah mengalami rpasa
suram sebelum tahun 1966, sekarang sudah mulai terlihat titik-titik terang, meskipun belum
sepenuhnya memenuhi harapan masyarakat. Dari Anggaran Pembangunan Lima Ta'hun
(PELITA)
Pertama didapatkan dana untuk menambah kapasitas terpasang schingga
jumlah-
nya pada tahun 1974 akan mencapai kurang lebih I
juta
kilowatt. Jumlah anggaran yang
disediakan dalam PELITA Kedua diharapkan akan bertambah besar, berhubung dengan
meningkatnya peranan
sektor tenaga listrik karena aksentuasi PELITA Kedua, Ketiga, dan
seterusnya, pada
industrialisasi secara bertahap. Dengan perkembangan
ekonomi sebesar 7
/.
setahun dalam PELITA Kedua, diharapkan akan dicapai laju pertumbuhan sektor tenaga
listrik sebesar 12,51setahun, sehingga
jumlah
daya terpasang pada akhir masa PELITA
tersebut akan meniapai 1,75
juta
kilowatt.
Oleh karena itu, kami menyambut dengan gembira terbitnya buku ini di tengah-tengah
kita. BUKU PEGANGAN TEKNIK TENAGA LISTRIK ini berguna sekali bagi mereka
yang ingin mcngetahui sedikit-banyak mengenai teknik tenaga listrik, serta bagi para sarjana
dan sarjana muda teknik tenaga listrik yang ingin mempelajari kembali hal-hal yang telah
mereka perdapat
di bangku kuliah guna
kepentingan kerja praktek mereka sehari-hari.
Meskipun dalam buku ini masih banyak digunakan ketentuan-ketentuan serta norma-norma
Iuar negeri, tetapi hal ini tidak mengurangi nilainya sebagai buku, karena prinsipprinsip yang
digunakan tetap berlaku. Penggunaan ketentuan serta norma tadi semata-mata adalah karena
belum adanya ketentuan dan norma Indonesia sendiri. Bila pengaturan di Indonesia kelak
diadakan, maka prinsip yang universil ilu tentu saja akan diterapkan pada ketentuan dan
norma Indonesia.
Sekian sambutan kami. Kami ucapkan "selamat'atas terbitnya buku ini. Semoga buku-
buku lain menyusul.
Jakarta, September 1972 hnusrxmx Unuu Lrsrnrr Nnclu
Direksi
Direktur Utama.
DAFTAR ISI
PRAKATA
(3)
SAMBUTAN
....(7)
DAFTAR TABEL
......
(ls)
DAFTAR GAMBAR
BAB 1. KARAKTERISTIK I.'MI.'M SALURAN TRANSI\{ISI
l.l Umum
1.2 Sistim Tenaga Listrik
1.3 Tegangan Transmisi
1.4 Jatuh Tegangan ..
1.5 Hilang-Daya dan Daya-Guna Transmisi
1.5.1 Hilang-Daya Tahanan
1.5.2 Hilang Korona
1.5.3 Hilang Kebocoran pada Isolator.. ...
1.5.4 Hilang-Hilang I-ain
1.5.5 Daya-Guna Transmisi .. ...
1.6 Referensi
BAB 2. PENGHANTAR I'NTUK SALURAN TRANSMISI
UDARA
Kelasifikasi Kawat Penghantar
2.1.1 Ktasifikasi Kawat menurut Konstruksinya .. .
2.1.2 Klasifikasi Kawat menurut Bahannya
2.1.3 Sifat-Sifat Kawat Logam
Karakteristik Penghantar
2.2.1 Karakteristik Listrik
2.2.2 Karakteristik Mekanis
2.2.3 Kapasitas Penyaluran Arus dari Penghantar.
Andongan (Sag) Penghantar
2.3.1 Penghantar Ditunjang oleh Tiang
yang sama Tingginya'
2.3.2 Penghantar Ditunjang oleh Tiang yang tidak sama Tingginya
' '
PerlengkapanPenghantar ...
2.4.1 Sambungan Penghantar (Joints)
2.4.2 Perentang(Spacer)
2.4.3 Batang-Batang Pelindung
(Armor Rods) .... .
2.4.4 Peredam(Danpers)
Referensi
BAB 3. ISOLTTOR PORSELIN
Jenis Isolator Porselin
Karaktcristik Isolator
(17)
I
I
2
2
3
3
4
4
4
5
5
2.r
2.3
7
7
E
l0
l3
l3
t4
15
l8
l8
l9
20
20
2l
2t
2t
2L
23
u
24
3.1
3.2
3.2.1 Karakteristik Listrik
(10)
Daftar Isi
3.2.2 Karakteristik Mekanis
3.2.3 Pengujian Isolator
3.3 Pasangan Isolator
3.3.1 Pasangan Isolator
3.3.2 Tanduk Api dan Cincin Perisai
3.3.3 Jepitan
3.4 Pengotoran Isolator
3.4.1 Karakteristik Lompatan Api dari Isolator Kotor
3.4.2 Kelasiflkasi Daerah-Daerah Pengotoran
3.4.3 Cara-Cara Penanggulangan Pengotoran Garam dan Debu
Pemburukan Isolator
Referensi
3.5
3.6
25
28
28
28
28
29
29
30
3l
3l
32
32
BAB 4. KONSTRUKSI PENOPANG SALURAN TRANSIUISI
4.1 Jenis Penopang
4.1.1 Menara Baja dan Tiang Baja
4.1.2 Tiang Beton Bertulang
4.1.3 Tiang Kayu
4.2 Beban pada Konstruksi Penopang .. .
37
4.2.1 Tekanan Angin 37
4.2.2 Kuat-Tarik Penghantar 40
4.2.3 Tegangan pada Bagian-Bagian Baja
Menara Baja Transmisi
4.3.1 Rencana Menara Baja Transmisi
4.3.2 Pondasi Menara
4.4 Tiang Transmisi Baja
33
33
34
35
4t
42
42
44
4.3
4.4.1 Perencanaan Tiang
4.4.2 Pondasi Tiang.
4.5 Tiang Beton Bertulang
4.5.1 Perencanaan Tiang
4.6 Tiang Kayu
4.6.1 Perhitungan Tegangan
4.6.2 Pondasi dan Kawat Penguat
4.7 Referensi
45
45
47
47
47
48
48
50
5l
BAB 5. KARAI(TERISTIK LISTRIK DARI SALURAN TRANSMISI
5.1 Konstanta Saluran
5.1.1 Tahanan 53
5.1.2 lnduktansi 53
5.1 .3 Kapasitansi 55
5.2 Gejala Korona 56
5.2.1 Tegangan Kritis untuk Gejala Korona 56
5.2.2 Hilang-Korona .. . .. ... . . 57
5.2.3 Berisik Korona .. r .,. 57
53
Daftar Isi
5.3 Karakteristik Penyaluran Daya .
5.3.1 Saluran Transmisi Jarak-Pendek
5.3.2 Saluran Transmisi Jarak-Menengah
5.3.3 Saluran Transmisi Jarak-Jauh
5.3.4 Diagram Lingkaran Daya
5.3.5 Hilang-Daya (Rugi) Transmisi
Stabilitas Sistim Transmisi
5.4.1 Stabilitas Keadaan-Tetap .. .
5.4.2 Stabilitas Peralihan
Kapasitas Saluran Transmisi
5.5.i
'"Cara
Pembebanan Impedansi Surja
5.5.2 Cara Koeffisien Kapasitas . . ..
Pembumian (Pentanahan) Titik Netral
5.6.1 Macam Sistim Pembumian
5.6.2 Perbandingan Sistim Pentanahan Titik Netral
5.7 Referensi
5.4
5.5
5.6
(ll)
58
58
59
59
6t
62
62
63
64
65
6s
66
66
66
67
67
BAB 6. GANGGUAN PADA SALURAN TRANSIVIISI DAN INTERFERENSI
PADA SALURAN KOMUNIKASI KARENA INDUKSI MAGNETIS
6.1 Sebab-Sebab Gangguan pada Saluran Transmisi 69
6.2 Jenis Gangguan .. 69
6.3 Cara Menghitung Hubung-Singkat 7l
6.3.1 Satuan Perhitungan 7l
6.3.2 Perhitungan Hubung-Singkat Tak-Seimbang dengan Cara Komponen
Simetris 7l
6.3.3 Cara Menghitung Tegangan dan Arus pada Titik Gangguan 72
6.3.4 Cara Menghitung Arus Hubung-Singkat 3-Fasa 73
6.3.5 Cara Menghitung Arus Tanah 75
6.4 Interferensi Elektro-Magnetis terhadap Saluran Komunikasi 76
6.4.1 Tegangan Induksi Elektro-Magnetis karena Arus Urutan Nol .. 76
6.4.2 Cara Melindungi terhadap Induksi Elektro-Magnetis.. 77
6.4 Referensi 77
BAB 7. PENERAPAN RELE PENGAMAN
Umum
7.1 .l Pertimbangan mengenai Kemampuan Pengamanan
7.1.2 Pertimbangan mengenai Kondisi Sistim Tenaga
7.1 .3 Contoh Penerapan Sistim Pengamanan
Pengamanan menurut Jenis Rangkaian Saluran Transrnisi.
7.2.1 Saluran Radial
'7.2.2
Saluran Tertutup
7,2.3 Saluran Ganda Sejajar dengan Dua Terminal . . . .
7.2.4 Saluran Banyak-Terminal
79
19
80
80
87
87
E8
8E
88
E9
7.1
7.2
7.2.5 Saluran Kabel.
(12) f,hftar Isi
7.2.6 Saluran dengan Kapasitor Seri
7.3 Pengamanan menurut Sistim Pembumian
1,i:L
:llll:ffii"'ffi'ff
";;;;;;;;
:::::::::::::::::::: ::::: : ::
7.3.3 Sistim Pembumian dengan Gulungan Petersen
7.3.4 Sistim Pembumian Langsung (Effektip)
Penutupan Kembali 9l
7.4.1 BeberapaDefinisi ......:..,....... 91
7.4.2 Jenis Sistim Penutupan Kembali 92
Rele Pelepas Sistim 93
7.5.1 Sistim Pelepas Hubung-Singkat Tetap 94
7.5.2 Sistim Pelepas Keadaan Tak-Serempak . . . . 94
7.5.3 Sistim Pelepas Frekwensi Tak-Normal 94
Referensi 94
BAB 8. PERENCANAAN DAN KONSTRUKSI SALURAN UDARA
Perencanaan Listrik
8.1.1 Tegangan Transmisi dan Jumlah Saluran
8.1.2 Perencanaan Isolasi Saluran Transmisi
8.1.3 Perencanaan Tahan Petir .
Perencanaan Mekanis
8.2.1 Tekanan Angin
8.2.2 Penghantar
Pemilihan Konstruksi Penopang
8.3.1 Jenis Konstruksi....
8.3.2 Macam Beban Konstruksi
Pembangunan Saluran Udara
8.4.1 Survey ...... 106
8.4.2 Pondasi Menara dan Tiang Baja .. .. .. 107
8.4.3 Pendirian Tiang dan Menara Baja .. .. .. 108
8.4.4 Pendirian Tiang Kayu dan Tiang Beton . . .. .. 109
8.4.5 Pemasangan Kawat .. .. .. 109
8.5 Referensi .... lll
89
89
89
89
90
90
7.4
7.5
7.6
E.l
8.2
8.3
8.4
95
95
95
100
t02
102
102
105
r05
r06
r06
BAB 9. PEMELIHAR.AAN SALI.JRAN TRANSNflSI
9.1 Tujuan Pemeliharaan.....
9.3 Pekerjaan Patroli dan Inspeksi ....
9.3.1 Pekerjaan Patroli
9.3.2 Pekerjaan Inspeksi
9.4 PekerjaanPemeliharaan .. 116
9.4-1 TujuandanJenisPeket'aan
...... 116
9.4.2 PekerjaanpadaKonstruksiPenopang .... .... 116
9.4.3 Pekerjaanpadalsolator .... .... 116
l13
l13
lt4
l14
ll5
L,-r
I
2
3
4
DAFTAR GAMBAR
Pengaruh Ketakmurnian terhadap Konduktivitas Listrik untuk Tembaga ..
Pengaruh Ketakmurnian terhadap Konduktivitas Listrik untuk Aluminum. .
Karakteristik Mekanis dan Listrik dari Kawat Tembaga Hard-Drawn
Hubungan antara Diameter dan Karakteristik Mekanis serta Listrik untuk Kawat
Tembaga Hard-Drawn 15
Hubungan antara Jumlah Jam Pendinginan dengan Konduktivitas Kawat
Tembaga Hard-Drawn 16
Hubungan antara Suhu Pendinginan dan Karakteristik Mekanis Kawat Tembaga
Hard-Drawn
16
(a) Tiang Penunjang sama Tingginya .. 18
(b) Tiang Penunjang tidak sama Tingginya 19
Sambungan Kompressi untuk A.C.S.R. ... 20
Perentang Per Jenis Ball & Socket untuk Kawat-Berkas 20
Batang Pelindung
2l
Peredanr Stockbridge 2l
Isolator Gantung 250 mm 23
Isolator Jenis Pasak 23
Isolator Batang Panjang. 23
Isolator Pos Saluran 23
Distribusi Tegangan pada Gandengan lsolator (Tanpa Tanduk Busur Api) 24
Distribusi Tegangan Pada Gandengan Isolator (Dengan Tanduk Busur Api) 24
Diagram Distribusi Kekuatan Mekanis pada Isolator Gantung 250 mm 25
Karakteristik Lompatan Api Isolator Gantung 250 mm 2E
Gandengan Isolator Gantung Tunggal 29
Gandengan Isolator Tarik Tunggal .. .. 30
Gandengan Isolator Tarik Ganda 30
Karakteristik yang Direkomendasikan untuk Perencanaan Tegangan Ketahanan
Isolator Gantung 250 mm 3l
Karakteristik yang Direkomendasikan untuk (Perencanaan) Tegangan Ketahanan
Isolator Batang-Panjang (Long-Rod) ..
l4
t4
l5
7
8.
9
l0
ll
t2
l3
t4
l5
l6
t7
l8
l9
20
2t
22
23
24
28
29
30
3l
32
33
34
25 Jenis-Jenis Menara Baja
26 Jenis-Jenis Tiang-Baja
27 Kelasifikasi Tiang Baja
3l
34
34
34
39
40
40
45
47
,t8
54
Bertulang dan Tiang Kayu menurut.Cara
Menghimpunnya .
Koeffisien Tahanan untuk Menara Persegi
Pondasi Menara Baja
Pondasi Tiang Baja
Penampang Tiang Beton Bertulang
Susunan Kawat untuk Saluran Ganda
47
48
49
50
5l
52
53
v
55
56
57
58
59
60
(18) Dafatr Gambar
35 Rangkaian dengan Saluran Kembali lewat Tanah 54
36 Susunan Penghantar 55
37 Faktor Koreksi Berisik Korona 58
38 Rangkaian Ekivalen untuk Saluran Transmisi Jarak-Pendek .. . . 58
39 Rangkaian Ekivalen untuk Saluran Transmisi Jarak-Menengah. . . 59
N Diagram Lingkaran Daya . ....... 6l
4l Diagram Lingkaran Hilang-Daya 62
42 RangkaianKonstantaKutub'Empat... ....... 62
43 Diagram Lingkaran Daya untuk Tegangan Pengiriman dan Penerimaan Konstan. . 63
U I-engkung Daya Sebagai Fungsi Perbedaan Sudut Fasa 63
45 Hubungan antara Daya dan Sudut Fasa dalam Cara Sama-Lu?s .. 64
K Hubungan antara Daya dan Sudut Fasa bila Terjadi Hubung-Singkat yang
Kemudian Ditiadakan 64
Koeffisien Pembebanan Impedansi Surja 65
Sistim Pembumian 66
Data Gangguan di Jepang menurutSebabnya(1955- 1964) . ....... 70
Data Gangguan di Jepang menurut Jenisnya
(1955
-
1964)
Data Cangguan di Jepang menurut Akibat (Kerusakannya) terhadap Peralatan
(ress
-
r964)
Lengkung Arus Hubung Singkat Tiga-Fasa
Nilai K.
Posisi Saluran Transmisi Tenaga terhadap Saluran Komunikasi
Pengamanan Saluran dengan Rele Arus Lcbih .
Pengamanan Saluran dengan Rele Jarak
(a) Sistim Rele Pilot-Kawat dengan Prinsip Tegangan Berlawanan
(b) Sistim Rele Pilot-Kawat dengan Prinsip Arus Bersirkulasi .
Prinsip Perbandingan Arah pada Sistim Rele Carrier
Prinsip Perbandingan Fasa pada Sistim Rele Carrier
(a) Prinsip Transferred Tripping pada Sistim Rele Carrier untuk Pengamanan
Saluran
(b) Prinsip Transferred Tripping pada Sistim Rele Carrier dalam hal Hubung-
Singkat pada Transformator
(a) Diagram Urutan Waktu Penutupan Kembali Pemutus Beban
(b)
Contoh Waktu Tanpa-Tegangan Minimum... 92
62 Contoh Diagram Jarak-Bebas 98
63 Besarnya Arus Petir yang Diukur pada Menara Baja . . l0l
64 Effisiensi Perisaian Sebuah Karvat Tanah .. .. .. l0l
65 Perisaian 100/. dari Kawat Tanah Ganda . . . . .. l0l
66 Diagram Toleransi Menara .. . . .. 107
67 Pondasi Beton dengan Penggalian Biasa ...... 107
68 Penggalian Tabung Pondasi ...... 108
69 CaraMendirikanTiangdenganMenegakkannya..
.... 109
70 Dua Cara Mcndirikan Tiang dengan Menggantungkannya .. 109
7l CaraPemasanganKawat....
.... ll0
72 Pasangan Drum dan Penegang Kawat
'.
ll0
73 CaraMenegangkanKawat ....
.. 110
70
70
75
75
77
83
83
85
85
85
86
87
87
92 6l
Ehftar Gambar
(1e)
74 Contoh Bagan Organisasi Dinas Pemeliharaan .. ll4
7 5 Alat Pencuci Isolator untuk Saluran Bertegangan (Hot Linc) . . . . . . I 17
76 Prinsip Kerja Penemu Gangguan Jenis B .. . . . . 120
77 Prinsip Kerja Penemu Gangguan Jenis C .. . . .. 120
78 Prinsip Kerja Penemu Gangguan Jenis F .. .. .. l2l
79 Peralatan Pengait untuk Komunikasi Pembawa (PLC) .. .... 127
80 Peralatan Pengait (Coupling Equipment) dalam Gardu .. .. .. 128
l
8l Sistim Rangkaian Transmisi dengan Pembawa (PLC) .. 129
82 Contoh Konstanta Attenuasi Saluran Transmisi ...... l2g
83 Contoh Peralatan Radio .. 132
I
(a) Peralatan Radio 60/150 MH Band VHF untuk Stasion Tetap dan Stasion
Pangkalan ...... 132
(b) Peralatan Radio 150 MH Band VHF untuk Stasion Mobil ....., 132
(c) Peralatan Radio 150 MH Band VHF untuk Stasion Jinjingan. ... 132
(d) Peralatan Radio 7000 MH Band All Solid State Microwave Repeater ., 132
Contoh Antena . . .. 133
Contoh Sistim Komunikasi Radio Mobil untuk Pemeliharaan Saluran
Lintasan Gelombang Mikro yang Dipantulkan oleh Reflektor Pasif
Reflektor Pasif (A) dan Antena Parabolis (B) Gelombang Mikro . . . . 136
Contoh Konfigurasi Sistim Bawah-Tanah . . .. .. 138
F4
85
86
8'7
88
i34
136
Daftar Isi
9.4.4 Pekerjaan pada Kawat Penghantar
9.4.5 Pekerjaan pada Saluran Bertegangan
(t 3)
Il6
tt7
ll8
ll8
137
137
137
r38
r39
l4l
t43
t43
143
r44
t44
9.5
9.6
Biaya Pekerjaan Pemeliharaan
Penemu Gangguan
9.6.1 Tujuan dan Sifat .. ll8
9.6.2 PenemuGangguanJenisB
...... ll9
9.6.3 Penemu Gangguan Jenis C . ! .. . t ...... l2l
9.6.4 Penemu Gangguan Jenis F .. .... l2l
9.7 Referensi
....121
BAB 10. TELEKOMI.JNIKASI UNTUK INDUSTRI TENAGA LISTRIK
I0.l Kelasifikasi .. ...... 123
10.1.1 Komunikasi untuk Pembagian Beban .. 123
10.1.2 Komunikasi untuk Pemeliharaan .. . . .. 123
10.1.3 Komunikasi untuk Keperluan Administratip .. 123
10.1.4 Jenis Fasilitas
...... 123
10,2 Komunikasi dengan Kawat . . .. . . 125
10.2.1 Saluran Telekomunikasi .. 125
10.2.2 Sistim Transmisi
..,. l1s
10.3 Komunikasi dengan Pembawa Saluran Tenaga .. .... 125
10.3.1 Peralatan Pengait
.. l2S
10.3.2 Rangkaian Transmisi . . .. 128
10.3.3 Peralatan PLC
.... 129
10.4 Komunikasi Radio.
....... 129
10.4.1 Komunikasi VHF .. 133
10.4.2 Komunikasi Gelombang Mikro .. 134
10.5 Referensi . ...
. . .. .. 136
BAB 1I. SALURAN TRANSMISI BAWAH-TANAH
I l.l Sistim Transmisi
Il.l.l Sistim Listrik
I 1.1.2 Konfigurasi Sistim
ll.2 Kelasifikasi Kabel'fenaga
ll.3 Sistim Menaruh Kabel .
I 1.4 Kapasitas Transmisi
ll.5 Pemeliharaan .
I 1.5.1 Patroli dan Inspeksi ....
11.5.2 Pengukuran Isolasi ....
11.5.3 Pengukuran Lokasi Gangguan
I 1.6 Referensi
DAFTAR ISTILAH
..
".
I45
DAFTAR TABEL
I Sifat-Sifat Fisik Kawat Tanpa Isolasi (Bare) 8
2 Kawat Tembaga Tanpa Isolasi (Bare) 9
3 Kabel Tembaga Berlilit Tanpa Isolasi (Bare, Stranded) . l0
4 Kabel Tembaga Berlilit Hard-Drawn untuk Saluran Udara ll
5 Kawat Aluminum Hard-Drawn ll
6 Kabel ACSR (Aluminum Cable Steel Reinforced) 12
7 Kawat Aluminum Campuran Hard-Drawn 12
8 Kabel Aluminum Campuran Berlilit Hard-Drawn 13
9 Kabel Baja Galvanisasi Berlilit
untuk
Saluran Udara 13
l0 Telangan-Tarik dan Pemanjangan untuk Kawat Aluminum Hard-Drawn dan
Kawat Baja Galvanisasi
I I Kapasitas Penyaluran Arus untuk Berbagai Penghantar Saluran Udara 16
12 Karakteristik Lompatan Api Isolator Gantung 250 mm 26
13 Karakteristik Isolator Jenis Pasak (Pin Type) 27
14 Karakteristik Isolator Jenis Batang-Panjang (Long Rod) 27
15 Karakteristik Isolator Jenis Pos Saluran (Line Post) 27
16 Kelasifi.kasi Daerah Pengotoran 3l
17 Perbandingan Sifat dan Kekuatan Tiang Kayu Amerika dan Indonesia 36
l8 Tekanan Angin dan Koeffisien Tahanan (pada 40 m/s) 38
19 Tekanan Angin Ekivalen pada Menara Bqja 39
20 Nilai-Nilai K, Ko, Kp K2 .... . . . ....... 42
2l Gawang Standar 42
22 Lebar Kaki (Stance) Menara Baja 43
23 Kombinasi Beban pada Menara Baja 43
24 Kondisi-Kondisi untuk Perhitungan Pondasi 4
25 Kombinasi Beban pada Tiang Baja .. 45
26 Nilai I pada Kawat Lilit.. 54
27 Faktor Permukaan Kawat 56
28 Konstanta Kutub-Empat untuk Berbagai Rangkaian 60
29 Perbandingan Berbagai Sistim Pembumian (Pentanahan) .... 68
30 Rumus-Rumus untuk Perhitungan Tegangan dan Arus Hubung-Singkat
3l Reaktansi Mesin Serempak(%)
32 Reaktansi Transformator (%)
33 Sistim Pengamanan Saluran Transmisi
34 Kelasifikasi Rele Jarak
35 Jumlah Isolator Saluran Yang Diperlukan Guna Pengamanan terhadap Surja
Hubung (Tanpa
Tanduk Api) . 96
36 Jumlah Isolator Yang Diperlukan dan Lebar Sela Tanduk Guna Pengamanan
terhadap Surja Hubung ..... 97
37 Jarak Isolasi Standar dan Jarak Isolasi Minimum 97
l5
73
74
74
8l
82
38 Jarak-Bcbas Tegak terhadap Tanah 99
(16)
Dafrsr Teble
39 Jrrrnllh Isolator Gantung Standar dalam suatu Gandcngan untuk Kcadaan
Udara C,cmar ...... t00
0 Nilai Tahanan Spcsifik bsrbagai Jqnis Tanah .... 102
4l Tekanan Angin untuk Perencanaan (Keccpatan Angin 40 m/s) . . . . . . 103
42 Batas Harga Tegangan Harian (EDS) schingga Tidak Terjadi Pemutusan Kawat
karena Lctih ...... 105
43 ContohMasalnspcksi .... ll5
U Biaya Pemeliharaan(I-angsung) Saluran Transmisi di Jepang ...... ll8
45 Penemu Gangguan .. ll9
6 Jenis Fasilitas Telekomunikasi untuk Industri Tenaga Listrik ...... 124
47 Karakteristik dan Struktur Kabel Tclekomunikasi .... 126
48 Contoh Spesifikasi Peralatan Pembawa Saluran Tenaga (LPC) .. .... 130
49 Contoh Spesifikasi Pcralatan .... l3l
50 Kelasifikasi Kabel dan Tegangannya .. .. .. .. .. 139
5l Ciri Bebcrapa Sistim Menaruh (Lay) Kabel .. .. 140
52 Contoh Arus yang Diperbolehkan untuk Kabel ...... 142
53 Contoh Frekwensi Inspcksi Saluran Bawah Tanah .... 144
KARAKTERISTIK UMUM
SALURAN TRANSMISI
1.1 Umum
Pusat-pusat listrik, biasa
juga
disebut sentral-sentral listrik (electric power stations),
terutama yang menggunakan tenaga air, biasanya
jauh
letaknya dari tempat-tempat
dimana tenaga listrik itu digunakan. Karena itu, tenaga listrik yang dibangkitkan
harus disalurkan melalui kawat-kawat (saluran-saluran) transmisi. Saluran-saluran ini
membawa tenaga listrik dari Pusat-Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) atau Pusat-Pusat
Listrik Tenaga Termis (PLTT) ke pusat-pusat beban (load centers), baik langsung
maupun melalui saluran-saluran penghubung, gardu-gardu induk (substations) dan
gardu-gardu rele (relay substations)
Saluran transmisi biasanya dibedakan dari saluran distribusi karena tegangannya.
Di Jepang, saluran transmisi mempunyai tegangan 7 kV ke atas, sedang saluran distri-
busi 7 kV ke bawah. Di Amerika Serikat, dikenal tiga
jenis
saluran, yakni, saluran dis-
tribusi dengan tegangan primer 4 sampai 23 kV, saluran subtransmisi dengan tegangan
13 sampai l38kV, dan saluran transmisi dengan tegangan 34,5kV ke atas.r) Saluran
transmisi yang hrtegangan 230 kV sampai 765 kV dinamakan saluran Extra High Volt-
age (EHV),2' yang bertegangan di atas 765 kV dinamakan saluran Ultra High Voltage
(uHv;.,,
Ada dua kategori saluran transmisi:'saluran udara (overhead line) dan saluran
bawah-tanah (underground). Yang pertama menyalurkan tenaga listrik melalui kawat-
kawat yang digantung pada tiang-tiang transmisi dengan perantaraan isolator-isolator,
sedang saluran kategori kedua menyalurkan listrik melalui kabel-kabel bawah-tanah.
Kedua cara penyaluran mempunyai untung-ruginya sendiri-sendiri. Dibandingkan
dengan saluran udara, saluran bawah-tanah tidak terpengaruh oleh cuaca buruk,
taufan, hujan angin, bahaya petir, dan sebagainya. Lagi pula, saluran bawah-tanah
lebih estetis (indah), karena tidak tampak. Karena alasan terakhir ini, saluran-saluran
bawah-tanah lebih disukai di Indonesia, terutama untuk kota-kota besar. Namun;
biaya pembangunannya jauh
lebih mahal daripada saluran udara, dan perbaikannya
lebih sukar bila terjadi gangguan hubung-singkat dan kesukaran-kesukaran.
1.2 Sistim Tenaga Listrik
Menurut
jenis
arusnya dikenal sistim arus bolak-balik (A.C. atau alternating cur-
rent) dan sistim arus searah (D.C. atau direct current). Di dalam sistim A.C, penaikan
dan penurunan tegangan mudah dilakukan yaitu dengan menggunakan transformator.
Itulah sebabnya maka dewasa ini saluran transmisi di dunia sebagian besar adalah
saluran A.C. Di dalam sistim A.C. ada sistim satu-fasa dan sistim tiga-fasa. Sistim tiga-
fasa mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sistim satu-fasa karena (a) daya yang
1.3
Eab l. Karaktcristik Umum Saluran Transmisi
disalurkan lebih bcsar,
(b) nilai sesaatnya (instantaneous value) konstan, dan (c)
medan magnit putarnya mudah diadakan. Berhubung dengan keuntungan-keuntu-
ngannya hampir scluruh pcnyaluran tenaga listrik di dunia dewasa ini dilakukan dengan
arus bolak-balik. Namun, sejak bebcrapa tahun terakhir ini penyaluran
arus searah
mulai dikembangkan di beberapa bagian dunia ini. Penyaluran D.C. mempunyai
keuntungan karcna, misalnya, isolasinya yang lebih sederhana, daya-guna (efficiency)
yang tinggi (karena faktor dayanya l) serta tidak adanya masalah stabilitas, sehingga
dimungkinkan
pcnyaluran jarak jauh.
Namun persoalan ekonominya masih haruq
dipcrhitungkan. Penyaluran tenaga listrik dengan sistim D.C. baru dianggap ekonomis
bilajarak saluran udara lebihjauh dari 640 km atau saluran bawah-tanah lebih panjang
dari 50 km.2r Ini disebabkan karena biaya peralatan pengubah dari A.C. ke D.C.
dan sebaliknya (converter dan inverter equipment) mahal.
Tegangan Transmisi
Untuk daya yang sama, maka daya-guna
penyaluran naik oleh karena hilang-daya
ransmisi turun, apabila tegangan transmisi ditinggikan. Namun, peninggian tegangan
transmisi berarti
juga penaikan isolasi dan biaya peralatan dan gardu induk. Oleh ka-
rena itu, pemilihan tegangan transmisi dilakukan dengan memperhitungkan daya yang
disalurkan,
jumlah
rangkaian,
jarak penyaluran, keandalan (reliability), biaya peralatan
untuk tegangan tertentu, serta tegangan-tegangan yang sekarang ada dan yang diren-
canakan. Kecuali itu, penentuan tegangan harus
juga
dilihat dari segi standarisasi
peralatan yang ada. Penentuan tegangan merupakan bagian dari perancangan sistim
secara keseluruhan.
Di Jepang, tegangan kawat antara dua fasa (line-to-line) pada saluran transmisi
distandarisasikan sebagai berikut :')
Tegangan Nominal (kV): ll
-22 -
33
-
(66, 7'7)
-
| l0
-
(154, 187)
-
(22A, 275)
-
500
Tegangan Kerja Maksimum (kV): ll,5
-
23
-
34,5-69- 80,5
-
l15
-
161- 195,5-
230
-287,5 -
525
Di sesuatu daerah tertentu, hanya dipakai salah satu dari dua tegangan dalam tanda
kurung.
Di negara-negara lain
juga
dipakai tegangan-tegangan nominal 132 kV, 330 kV,
380 kV, 440 kV dan 700 kV.
Meskipun tidak
jelas
menyebutkan keperluannya sebagai tegangan transmisi, di
Indonesia, Pemerintah telah menyeragamkan deretan tegangan tinggi sebagai berikut:5'
Tegangan Nominal Sistim (kV): (30)
-
66
-
l r0
-
(r50)
-
220
-
380- s00
Tegangan Tertinggi untuk Perlengkapan : (36)
-
72,5
-
123
-
( I 70)
-
245
-
420
-
525
Tegangan nominal 30 kV hanya diperkenankan untuk daerah asuhan dimana tegangan
distribusi
primer 20 kV tidak dipergunakan. Tegangan nominal I50 kY tidak dianjurkan
dan hanya diperkenankan berdasarkan hasil studi khusus. Penentuan deretan tegangan
di atas disesuaikan dengan rekomendasi International Electrotechnical Commission.6)
1.4 Jatuh Tegangan
Jatuh tegangan pada saluran transmisi adalah selisih antara tegangan pada pangkal
pengiriman (scnding end) dan tegangan pada ujung penerimaan (recciving end) tenaga
1.5 Hilang-Daya dan Gaya-Guna Transmisi
listrik. Pada saluran bolak-balik besarnya tergantung dari impedansi dan admitansi
saluran serta pada beban dan faktor daya. Jatuh tegangan relatip dinamakan regulasi
tegangan (voltage regulation), dan dinyatakan oleh rumus:
,*
x $o%
(t)
dimana V,: legangan pada pangkal pengiriman
Y,: tegangan pada ujung penerimaan
Untuk
jarak
dekat regulasi tegangan tidak berarti
(hanya beberapa
/o
saja), tetapi
untuk
jarak
sedang dan
jauh
dapat mencapai 5-15|l.
Bila beban pada saluran EHV tidak berat, sistim tenaga dioperasikan pada regulasi
yang konstan, karena pengaruh arus pemuat (charging current) besar. Untuk memung-
kinkan regulasi yang kecil, saluran transmisi dioperasikan
pada tegangan yang konstan
pada ujung penerimaan dan pangkal pengiriman tanpa dipengaruhi oleh beban. Bila
tegangan pada titik penerimaan turun karena naiknya beban, maka dipakai pcngatur
tegangan dengan beban (onJoad voltage-regulator), guna memungkinkan tegangan
sekunder yang konstan, meskipun tegangan primernya berubah.
1.5 Hilang-Daya dan Daya-Guna Transmisi
Hilang-daya (rugi-daya) utama pada saluran transmisi adalah hilang-daya tahanan
pada penghantar. Disamping itu ada hilang-daya korona dan hilang-daya karena kebo-
coran isolator, terutama pada
saluran tegangan tinggi. Pada saluran bawah-tanah ada
hilang-daya dielektrik dan hilang-daya pada sarung kabel (sheath).
1.5.1. Hilang-Daya Tahenan
Hilang-daya tahanan untuk saluran tiga-fasa tiga-kawat untuk saluran transmisi
yang pendek
dinyatakan oleh persamaan:
Pt: 3I2Rl
(2)
sedang untuk saluran panjang dimana arus pemuat diperhitungkan
Pt
:
3Rt(Iz
-
I.I"sin
9,
+
{r31
(3)
dimana Pr
:
hilang-daya tahanan (W)
R
:
tahanan kawat per fasa (O/kn)
/: panjang saluran (km)
cos
9r
:
faktor-daYa beban
.f
:
orus bcban
(A)
/"
:
arus pemuat pada titik pengiriman (A)
Dalath persamaan di atas
jatuh-tegangan
diabaikan, sehingga distribusi arus pemuat
adalah linier. Untuk menghitung hilang-daya pada saluran
jarak jauh
sccara tepat
harus digunakan rumus-rumus tersebut dalam 5.3.5.
Hilang-daya sepcrti dinyatakan di atas dihitung atas dasar I (arus) pada waktu
tertcntu. Dari segi ekonomis, hilang-tenaga tahunan atau hilang-tenaga tahunan rata-
rata pcrlu dipertimbangkan
juga.-Faktor
hilang-tahunan (annual loss factor) adalah
Bab l. Karaktcristik Umum Saluran Transmisi
perbandingan antara hilang tenaga tahunan rata-rata dan hilang-daya pada
beban
maksimum, atau
faktor hilang-tahunan
:
Dalam hubungannya dengan faktor beban (load factor), sering digunakan persamaan
pendekatan (approximate)7)
far:0,3fn
*
0,7Uo),
dimana
,frr
:
faktor hilang-tahunan
fn
:
faklor beban-tahunan
UT
P"- x 8760
dimana Ur
:
tenaga (yang diterima oleh beban) setahun, kwh
P".
:
daya maksimum pada
beban (kW)
8760
: jumlah jam
dalam setahun
Faktor beban dapat didefinisikan secara umum sebagai perbandingan antara beban
rata-rata selama suatu perioda tertentu dan beban puncak yang terjadi dalam perioda
tersebut.t)
Faktor hilang-tahunan terutama dipakai untuk
memungkinkan studi mengenai
evaluasi hilang tenaga; namun, ia dapat
juga
digunakan untuk menetapkan
jam
ekivalen, yaitu
jumlah jam
rata-rata dalam sehari dimana beban puncak harus
dipertahankan sehingga dihasilkan
jumlah
hilang-tenaga yang sama dengan beban
yang berubah (variable load).e) Dengan demikian maka
jam
ekivalen tahunan adalah
,, _
hilang-tenaga tahunan (kWh)
r7
-,'.
-:-j:16*'?::"-:' (7) ,._@
1.5.2. Hileng Korona
Bila garis-tengah (diameter) kawat kecil dibandingkan dengan tegangan transmisi,
maka terjadilah gejala tegangan tinggi yang disebut korona. Korona menyebabkan
hilang-korona yang akan dibahas lebih lanjut dalam 5.2.2. Biasanya gejala korona
baru terjadi bilategangannyamencapaiTTkY atau lebih. Di luar negeri hilang-korona
baru dipertimbangkan
pada ketinggian tertentu dari muka laut dan bila tegangannya
melebihi EHY
(periksa Jilid III, Buku ini).
1.5.3. Hilang Kebocoren pede Isolrtor
Isolator mempunyai hilang-daya dielektrik dan hilang-daya karena kebocoran
(leakage) pada permukaannya. Yang terakhir ini kecil, kecuali bila udaranya kotor
(polluted).
1.5.4. Hilang-Hihng Lein
Kecuali hilang-hilang daya
pada saluran transmisi yang telah disebutkan, terdapat
hilang-hilang daya pada peralatan-peralatan dalam gardu dan pusat-pusat listrik
(misalnya transforurator,
periksa Jilid III, Buku ini).
(4)
(s)
(6)
1.6 Referrnsi
1S.5. Drye-Grnr Trensulcl
Daya-guna (efEciency) saluran transmisi adalah perbandingan antara daya yang
diterima dan daya yang disalurkan
q:*xfio/":ffxtoo%
dimana P,
:
daya yang dircrima (kW)
P,
:
daya yang dikirimkan (kW)
P,
:
hilang-daya (kW)
Daya-guna transmisi rata-rata tahunan dinyatakan oleh
,,:*x
ftol
:
U,r
-wG
dimana U,r: tenaga tahunan yang diterima (kwh)
U,r: tenaga tahunan yang dikirimkan (kWh)
Uxt
:
hilang-tenaga tahunan (kwh)
Referensi
Di dalam Bab I ini digunakan referensi terhadap sumber-sumber yang berasal
dari luar, yang ditandai oleh angka-angka yang dinaikkan (superscript), sebagai berikut:
l) D.N. Reps, "Subtransmission and Distribution Substations", Distribution Systems,
Westinghouse, East Pittsburgh, Pa., USA 1959, Tabel 13, hal. 87.
2) L. O. Barthold, E. M. Hunter, "The Electrical Design of Future EHV Systems:
An Over-All View", Proceedings, American Power Conference, vol. XXIV,
t962.
3) J. G. Anderson, et al, "Ultrahigh-Voltage Power Transmission", Proceedings,
IEEE, vol. 59, No. ll, November 1971, hal. 1548-1556.
4) Japanese Electrotechnical Committee, Standard Voltage, JEC-158, Denki Shoin,
t970.
5) Keputusan Direktur Jendral Tenaga dan Listrik No. 39iK/1971, 16 Mei 1970,
tentang Tegangan Tinggi.
6) Publications 38,International Electrotechnical Commission, Fourth Edition, 1967,
hal.5, ll, 13.
7) F. H. Buller, C. A. Woodrow, "Load Factor: Equivalent Hour Values Com-
pared", Electrical World, vol. 92, No. 2, July 14 1928, hal. 59-60.
8) American Standard Definitions of Electical Terms, Group 35, Generation, Trans-
mission and Distribution, ASA C.42-35-1957.
9) L. W. Manning,
*Load
Characteristics", Distribution Systems. Westinghouse, East
Pittsburgh, Pa., USA" 1959, hal. 28.
(8)
(e)
BAB 2. PENGHANTAR
UNTUK SALURAN
TRANSMISI
UDARA
2,1 Klasifikasi Kawat Penghantar
Penghantar untuk saluran transmisi lewat udara (atas tanah) adalah kawat-kawat
tanpa isolasi (bare, telanjang) yang padat (solid), berlilit (stranded) atau berrongga
(hollow)
dan terbuat dari logam biasa, logam campuran (alloy) atau togam paduan
(composite). Untuk tiap-tiap fasa penghantarnya
dapat berbentuk tunggal maupun
sebagai kawat berkas (bundled conductors). Menurut
jumlahnya
ada berkas yang
terdiri daridua, tiga atau empat kawat. Kawat berkas dianggap ekonomis untuk tega-
ngan EHV dan UHV.I)
2.1.1. Klasifikasi Kawat menurut Konstruksinya
Yang dinamakan kawat padat (solid, wire) adalah kawat tunggal yang padat (tidak
berrongga) dan berpenampang bulat;
jenis
ini hanya dipakai untuk penampang-
penampang yang kecil, karena penghantar-penghantar yang berpenampang besar
sukar ditangani (handle) serta kurang luwes (flexible).
Apabila diperlukan penampang yang besar, maka digunakan 7 sampai 6l kawat
padat yang dililit menjadi satu, biasanya secara berlapis dan konsentris. Tiaptiap
kawat padat merupakan kawat komponen dari kawat berlilit tadi. Apabila kawat-
kawat komponen (component
wire) itu sama garis-tengahnya maka persamaan-per-
samaan berikut berlaku:
N:3n(l*n)*l
D: d(l
*
2n\
A: an
W: wN(t
*
k,)
.R: (l
I
kr)r[N
dimana Y:
jumlah
kawat komponen
7
: jumlah
lapisan kawat komponen
2
:
garis-tengah luar dari kawat berlilit
al: garis-tengah kawat komponen
,{
:
luas penampang
kawat berlilit
ll/
:
berut kawat berlilit
rv
:
trerat kawat komponen per satuan panjang
&r
:
perbandingan
berat terhadap lapisan
R
:
tahanan kawat berlilit
r
:
tahanan kawat komponen per satuan panjang
k,
:
perbandingan
tahanan terhadap lapisan
Kawat rongga (hollow
Conductor) adalah kawat berrongga yang dibuat
(10)
(t l)
(12)
(13)
(t4)
untuk
mendapatkan garis-tengah
luaryang besar. Ada duajenis kawat rongga:
(a) yang rong-
B8b 2. Fcnghantar untuk Saluran Transmisi Udara
ganys dibuat oleh kawat lilit yang ditunjang oleh sebuah batang "I" ([-beam), dan (b)
yang rongganya dibuat oleh kawat-kawat komponen yang membentuk segmen-segmen
scbuah silinder.
I(awat berkas terdiri dari dua kawat atau lebih pada satu fasa, yang masing-
masing terpisah dengan
jarak
tertentu. Kawat berkas mempunyai kelebihan dibanding-
kan dengan kawat padat karena mengurangi gejala korona, mempunyai kapasitansi
yang lebih besar dan reaktansi yang lebih kecil. Pada umumnya kawat berkas digunakan
pada tegangan EHV dan UHV atau pada tegangan transmisi yang lebih rendah bila
dibutuhkan kapasitas saluran yang lebih tinggi.
2.1.2. Khsifikrsi Keret menurut Brbennye
Kawat logan biasa dibuat dari logam-logam biasa seperti tembaga, aluminum,
besi, dsb.
Kawat logam campuran (alloy) adalah penghantar dari tembaga atau aluminum
yang dibcri campuran dalam
jumlah
tertentu dari logam
jenis
lain guna
menaikkan
kekuatan mekanisnya. Yang sering digunakan adalah "copper alloy", tetapi "aluminum
alloy"
juga
lazim dipakai.
Tebel l. Sifet-Sifet Fisik Kewet Tenpa Isolasi
(Bare)
Sifrt
Fisik
Icnir
Krvrtt
Kon-
dukri.
vitrr
(%)
lesi3tivitrs prds
20'c
Kcffi-
iicn
Suhu
fahanar
Berat
Jcnir
Tc8a-
rgan-Tarik
(Tcnsilc
Strcss)
(1.3/mmt)
Batas
Elastis
k8/mm!)
Kocffisicn
El.stisitas
(kB/mm.)
Tirik
Lcbur
("c)
Kocffisicn
Pcmuaian
Linicr
(/dcr)
nar Pa
Spc-
sifik
Resisti-
Yil,as
Massa
(O
mr)
,itas
l3i
AO cm)
padr
20'c
,lrEm-
Intcmstioill
Strndard
Anacalcd Coppcr
Annalcd Coppcr
Hard-Drrvn
Coppcr
Cedmium Coppcr
Sili.on Eronzc
Herd-Drawn
Coppcr Silvcr Altoy
Coppcr Niclrel
Silicon Alloy
lm
l0l-97
9t-96
85
50
't5
96
45
ll()
1,724t
I,7070
t,7774
1,7593
r,7958
2.,OzE,.
3,4t2
l,t3l3
t,795t
I,rl l l
4,3 103
0, I 5!2t
0,15176
0, l 5802
0, I 56,1 I
o, I 5967
0,18033
0,10656
0,1'l(Xz
0, I 5967
0,34062
0,tEl20
0,(n393
0,m397
0,003Et
0.m3E5
0,00377
0,m334
0,00197
0,@177
0,@l8r
0,m177
0,oolr7
t,69
E,19
8,89
8,E9
8,t9
t,89
t,E9
E,E'
25-29,5
34-/18
50-65
50-70
3+-50
70-90
1,2-tt,2
7,5-3 I,5
2812
28{5
7,5-3t ,5
,t0-56
5.mG12.000
9.000-12.r@
0.000-l 3.000
0.000-r 1.000
9.m0-12.500
1.000- I 3.000
r.083
0,00001 7
0,0@017
0,00001 7
0,000017
0,00@17 0,094
Aluminum
Hard-Drrwn
Aluminum Alloy
Thcrmtl Rcristrnt
Aluminum Alloy
5t
52
,t
2,t265
3,3 r 15
2,9726
o,7ffi2
0,t95 l9
0.toat 5
0,0040
0,0035
0.0039
2,70
2,70
2,10
l5-17
ll.5 min.
rr-tt
k.l.9,t
k.1.20
k.t.9,8
k.l.6.300
k.t.7.0q)
k.1.6.5m
658,7 0,000021
0,000021
0,000021
o,2t2
Bcai (lrotr)
Galvenizcd Iron
Grlvenizcd Stccl
G.lvrniz.d StcGl
for A.C.S.R.
l6
ll min
I 2-t
I0,3-r
13,262 t0,3.157
0,006t
0,005
0,005
7,80
7,t0
7,m
35-.a5
l5-.a5
55-100
I 25- r a{l
t7,5-r9,5
17,5-45,0
7(F95
t 5.5q
t 7.r@-20.50(
2l k.l. 100
*,
I.400
r.3@
0,0000 I z
0,00001 2
o,m@u5
0,u3
Coppcr Chd Stccl
Alumioum Clrd
Stcl
tlo
t0
m
{,197 I
,.t523
t,a93r
0,1$55
0,'17?7t
0.r5970
0,m3t
0.q)r6
t,20
t,l5
6,59
80-t l0
too-l 30
t00-r,o
k.l.16.900
k.l. 15.t00
o,oml]
0,0qnt3
.
Istilah sengaja tidak diterjenuhkan karena salinaruya belum serogam
E
TC
-E
8- t t- t- t 8- t- 8.
q
8.
E t R e E t
8. 8. 8- e
E
8-
t
3- R- 3- e.
q q
3.
? A
q
A { t A
q
i i
s. q
.i o' oi.d rs d $ ri ri
j
+
"i
d - ai ci ci
-'
-: -i
i
-: dd d d d dd i d d d d d d dd d d d d
Err
2It
Q Q a O
-
d a I t n F 6
g
-
N 6 !t n F o a Q
=
tli | :t n
g
h 9Q
q
Q
=
N
!! !
n
9EO
E5
r8
iE
EB
!.{
3E
ar
E
tE
E
i!$r
diodooidao-lGadFd6 a oo-oF6?
-i-6o9ha6-oo6-FF66
h l+litaa6oa
aff dd----
j
J J-
-CtoCtOOOO
O OdOdOOOOOO
Ess
q o- q q q q q q q o- c- o- o- o- o- o- q o- o- o. o- q o- q q q q o- oj of o. q q q q q q q q q q q
hhhhcooooooodociooyih6 h h6600eaeQQeoohh6na6 h 6
iE
dE
FE
c,
iE
.E
-o
.=
F.E
:
e i &e
t
E.:'t
a-N6lo6-dFd9aN96-69 O o-dOlah99F
ni d t{ cd d d d J
-'.I.i
di ?i ii
j j
i vi vi d vi .d d d 6 d d d 6 d 6
6o666il!!!!!!lailiii ! lal!?!!!!!
!
* Lg
E,qt
q q q q q q q o- o_ o- q o- o- o- o- o- o- o- q q o- q o- o- o- q q q q
h66h9696O6tsFFFFF
-
OrO@OOE
NNNNNNdddNdNNdddNddN N NdddddNN
c
'rI
EJ
v
is$t
6-F
Fado--6-i
daFh6-aFh
6ddEF--
a
-N
oocrcrcrooFF-F-ahh-oid
i!FoN6lF-FA;h6iOl-6F
?o? 1q nq
-6
Ehloa{d
-
;
-
-
Odd-r--
Is*
"s3B
EEAEEsE:;:rFRi::3Bii
] R3l3*3;;
C
iR
'3e
x)
)c
Ee
c
o
v
r;
ss
ooooooooooooo6600000 0 000000000c
FFFFFFFFFFF FFFNFF69 i99999!O9\9
o66600q6606666666660 6 66464OO600
ri$s
o- o-o-o-o-o-q qq'l.lFlFlo.o.q qqqq o. q
I 88t88ttte8eetrttr3t t t
o-q qq q q q q q o. q q q qo. q o. q q q
sttttttttStStSsttttS

!
6
A
J
r-
E9
.o-
?d
i
i$s
dat96FF-O
F60-6660!FO-66tsts6
hNFh96dao--l-6-Filvr-F a FaNF6A6!_
^
-
d d a I h I F 6
-
{ d 9. q d- 9- O- q 9. @- 6- d- q 9-
--
rr} Yl !. o: sl
dddo'ddddd
ji.i.i.idiiviF.cd j
: N Fif S S ip ;
! $
3,
E t!
E.{}
n99;8eBRN-6arr!666
i"j
j j
iei..iFjoiod dvi.d
j;
d
j ja
e o
Nl;a66FoOa@-6aNh6F{ h !
rE,dNalh.-=:
j
+
N
i6OO-S496
d6-6O66hF{dd!O66F?6
h-F!l-OdFOF6!-il@FFO
-dd6!hgF6OaF-9d-!FhN
OOOOOOOOOq!-Ndath9-
-?
!.i
3i
a6doo---- a S
66d6{6a6-
-
s33F83!s:!3:ESSREFE t
g
N I 6
-
O a N ? F h I F d C\ 6 I o I O 6 e i ! 6 Y)
-iq!--.
@. qvI r.nq.l---
1
o-
bohENn--!--o
j@F6FidFFi
o hraNNd---OOOOOOOOO O O
COQI!Oh-Fl-Fhi6NN--
- C6hi6NddE:E
-.i
I
c
E.*a
,EC
,E!
-dh6qen-a -
3
!N6a6N6-^
-
xsF33FF38ESt8B3f,35B 3 F
-.qc.5.s.=.\F-3.aqG.r.8.a:.:.{5.3. i
r.G"qaqqR.e.3.q8.Et8.t3.B.8.5. E
q.
6@oo6@r!ohdaoo9hl6dai- i ooooooooooooooooooo o o
-ts6666dd---
'ib
c o^
OEE
EEc
66066 6 0
8ttt8tttt88383383388 3 388S88855655E5tt8t8 t t
oooooooooooooooooooo o ooooooooooooooooooo o o
+t + # + + + +l + + + + # +r + + + + + +1 + + + + + +r +i + + + tl # + + + + + + +1 + + + +
*!o
6EE
t q
?.
q g.
a ? i
=q
i -q i
R.
4
8,
i ?
8. 8. e.
e
8.
t ? i.
q
^8.
I i 1 !. i I i i I I :. : :. i :
9
2.1 Klasifikasi Kawat Fcnghantar
al
!i
e
E
6
E
D
t
A
!l
tr
c
E
I
E
at
F
I
D
I
I
N
x
a
li
l0 Eab 2. Pcnghantar untuk Saluran Transmisi Udara
Kawat logam paduan (composite) adalah penghantar yang terbuat dari dua
jenis
logam atau lebih yang dipadukan dengan cara kompressi, peleburan (smelting) atau
pengelasan (welding). Dengan cara demikian maka dikenal kawat baja berlapis tem-
baga atau aluminum.
Kawat lilit cantpuraz adalah kawat yang lilitannya terdiri dari dua
jenis
logam
atau lebih. Yang paling terkenal adalah kawat ACSR (aluminum cable steel reinforced)
dan "aluminum alloy cable steel reinforced".
Beberapa sifat fisik dari kawat tanpa isolasi (bare) untuk berbagai macam bahan
tertera pada Tabel l.
2,1.1. Sifet-sifet Kawat Logam
Kawat tembaga tarikan (hard-drawn) banyak dipakai pada saluran transmisi
karena konduktivitasnya tinggi, meskipun kuat-tariknya (tensile strength) tidak cukup
tinggi untuk instalasi tertentu (periksa Tabel 2, 3 dan 4).
Dibandingkan dengan kawat tembaga tarikan (hard-drawn), konduktivitas kabel
Aluminum Cable Steel Reinforced (ACSR) lebih rendah, meskipun kekuatan meka-
nisnya lebih tinggi dan lebih ringan, sehingga banyak dipakai sebagai saluran transmisi.
Karena garis-tengah luarnya lebih besar dibandingkan dengan kawat tembaga-tarikan
untuk tahanan yang sama, ACSR sangat cocok untuk penggunaan pada tegangan tinggi
dilihat dari segi korona. Data-data untuk kabel ACSR dan aluminun dapat dilihat
pada Tabel 5 dan 6.
Kawat tembaga campuran (alloy) konduktivitasnya lebih rendah dari kawat tem-
baga tarikan, tetapi kuat-tariknya lebih tinggi, sehingga cocok untuk penggunaan pada
gawang (span) yang lebih besar.
Tebel 3. Kabel Tembaga Berlilit Tanpa Isolasi (Bare, Stranded)
Ukurrn
Nominrl
(mmr)
Jumhh dan
Diemetcr
Kemt
Gnm)
Luas
Pcnempang
Terhitun3
(mmt)
Berat
(kr/km)
Diamctcr
Luer
(nm)
Tahanan Listrik pada
20'C (O/km)
Kuat-Trrik Mini-
mum (Hard-Drewr
Coppcr Strrndcd
qbk)
(kr)
Anncalcd
Coppcr
Strrndcd
Crblc
Hard-Drawn
Coppcr
Strlnded
Crble
l.0q)
850
725'
600
500
4m
37s
250
7&
tr0
t25
t00
to
60
3t
30
xl
l.l
I
,,5
3,5
2,0
1,1
0.9
t27lx,2
12712,9
9t13,2
9t12.,9
6t
l!,2
5l12,9
6117,6
6t12,3
3712,6
3712,3
t9lt,g
t9l2,o
t912,3
t9l2,o
712,6
712,1
112,O
71t,6
71r,2
7lt,o
1lo,t
710,6
710,5
710,1
t.02t
83t,t
731,8
60t,l
490,6
102,9
323,t
253,5
196,,1
157,7
tzs,5
rm,9
7t,95
59,70
!7,t6
29,09
21,99
l,l,0t
7,917
,,a91
3,5 l9
1,979
r,375
0,87E'
9.315
7,651
6.655
5.16
1,11E
3.654
2,937
2,298
L776
t.390
t.129
907,5
7I O,J
537,0
3}t,{
261,7
r97,9
t26,7
71,19
a9,16
3r,55
17,80
12,37
7,9t l
11,6
31,7
35,2
31,9
28,t
26,1
23,1
20,7
18,2
r6, t
t4,5
t 3,0
I t,5
t0,0
7,t
6,9
6,0
4.t
3,6
3,0
2,1
1,8
t,5
t,2
0,0173
0,02r I
0,02.1t
0,0293
0,0159
0,0436
0,05/13
0,0694
0.0893
0,1 t4
0,! 39
0,171
o,22t
0,292
0,'t70
0,@0
0,793
1,21
2,20
3,t7
1,96
t,E2
12,7
20,0
0,0179
0,o2t7
0,02/t8
0,0303
0,0370
0.oa50
0,0560
0,0715
0,0920
0,r tt
0, l/t3
0,1?8
0,22t
0,301
0,{8tt
0,61t
0,ilr
t,z9
2,30
,,31
5,17
9,t8
tt,2
m,7
40.1@
33.m0
28.7@
23.7@
t9.!m
t5.9S
t2.900
10.2@
7.t30
6.100
4.960
{.020
!. r60
2.11O
t.ato
t.t70
8tt
574
t26
xt1
Irflt
82
s7
l6
2.1 Klasifikasi Kawat Penghantar
lt
Kawat aluminum carnpuran (alloy) ini mempunyai kekuatan mekanis yang lebih
tinggi dari kawat aluminum murni, sehingga sebagai "aluminum alloy cable steel rein-
forced" ia dipakai untuk gawang (span) yang
lebih besar dan untuk kawat tanah
(overhead ground wire). Bila diperlukan kapasitas penyaluran arus yang lebih besar
dapat dipakai kawat "heat-proof aluminum alloy" yang mempunyai daya tahan yang
lebih besar terhadap panas.
Datadata mengenai kawat aluminum campuran dapat
dilihat pada
Tabel 7 dan 8.
Karena kawat baja mempunyai kuat-tarik yang lebih tinggi, maka ia banyak dipa-
kai untuk gawang yang
besar atau untuk kawat tanah, meskipun konduktivitasnya
rendah. Untuk menghindarkan
dari karat, kawat baja biasanya digalvanisasikan (perilsa
Tabel 9).
Kawat baja berlapis tembaga (copper clad steel, Tabel l) mempunyai kekuatan
mekanis yang
besar, dan biasanya dipakai untuk gawang yang
besar atau sebagai
kawat tanah.
Kawat baia berlapis aluminum (aluminum
clad steel, Tabel l) mempunyai kekuatan
mekanis yang
besar, tetapi konduktivitasnya lebih kecil dibandingkan dengan yang
berlapis tembaga meskipun ia lebih ringan. Kawat campuran aluminum ini dipakai
untuk gawan9yang
besar, untuk kawat-tanah dan sebagai inti kawat
"greased alumi-
num cable steel reinforced".
Tabel 4. Kabet Temhga Berlilit Hard-Drawn untuk Sduran Udan
Ukuran
Nominal
(mm2)
Jumlah dar
Diameter
Kawat
(mm)
Luas Penam-
pang
Ter-
hitung
(mmz;
Tahanan
Listrik
pada
20'C
(o/km)
Kuat
Tarik
(kg)
Diamcter
Luar
(mm)
Bcrat
(ke/km)
Panjeng
Standar
(m)
240
200
180
150
125
100
75
55
45
38
30
22
1914,O
1913,1
1913,5
1913,2
t9l2,e
114,t
713,7
713,2
712,9
112,6
712,3
712,0
238,8
20/,3
182,E
r 52,8
125,5
t 0l,6
75,25
56,29
46,24
37,16
29,@
2t,99
0,07531
0,08804
0,09838
o,ll77
0,1433
0,t170
0,2390
0,3195
0,3E90
0,4840
0,6185
0,8178
9.1E0
7.9t0
7.120
5.990
4.9@
3.880
2.910
2.21O
1.830
t.480
l.170
890
20,0
18,5
I 7,5
16,0
14,5
12,9
l l,l
9,6
E,7
7,8
6,9
6,0
2.148
1.838
1.645
t.375
t.tD
914,5
677,0
506,4
416,0
334,4
261,7
197,9
600
700
800
1.000
l.m0
'600
700
t.m0
1.000
1.000
1.200
t.2N
Tabel 5. Karat Aluminum flatd-Drewa
)irmctcr Tolcransi
(mm) Diameter
(mm)
Tcgan3an Tarik
(kg/mmt)
Pemrnja-
lgan Mini.
mum
(%,
Luas
Penamprni
Bcrat
(kg/km)
Kuat-Tr.ik
(kc)
Trhrnrn
LLtrik
(o/tn)
Konduk.
tivitr3
Minimum Rata-rata
(mmt)
Minimum R.t -rati
<%)
1,5
+qO4
1,2
r0,(X
/a,O
t0,O4
3,t
+0,o{
3,7
*0,O{
3,5
to,(x
3,2 +0,0.1
2,9
to'03
2,6
*0,03
2,3
+o'03
2,o
+o'03
t6,1 7
t6,17
t6,17
16,17
16,52
t6,52
t6,52
r5,87
17,2'
t?,93
18,63
16,E7
16,87
.6,t7
6,87
7,23
7,58
7,5t
7,93
8,28
8,98
19,59
u,0
I,O
t,9
1,9
I,E
t,7
t,7
1,6
t,5
1,5
t,l
r5,90
t3,85
t2,57
I l,3a
10,75
9,621
E,O{2
6,6(15
5,3(B
'1,155
t,112
12,93
31,$
33,9r1
30,62
29,03
25,98
21,71
t7,t3
t{,33
tt,xz
t./tt3
257
224
203
183
178
t59
133
ilt
9t,5
7a,5
5t,5
26t
211
2t2
t9t
r85
t69
l,l I
llt
91,0
7t,9
6t.9
t,7t
2,(x
2.2t
2,19
2,63
2,91
3,51
1,2t
5,32
6,m
9,ql
5t,0
6t,0
6t,0
5r,0
6t,0
61,0
6t,0
6t,0
5t,0
6t,0
61.0
l2
Bab 2. Penghantar untuk Shluran Transmisi Udara
Tebcl 5. Krbel ACSR
(Alunlnun Crblc Steel Relnforced)
Tebel 7. Krwet Aluninum Cerpuran Herd'Drawn
Ukur.n
Nominrl
(mmt)
Konttruksi
(Jutnlrh/Dirmct.r
drlrtn mm)
Luas Pcnampang
Tcrhitung
(mmt)
Ku.t-
Tsrik
Minimum
(kg)
Dirmetcr Lurr
(nm)
Bcrat
(kg/km)
Tahanan
Lisrrik
(o/km)
Aluminum Brj. Aluminum Baja
Aluminum Baja
680
5r0
s90
520
4m
.130
120
/tl0
4t0
380
3@
330
330
320
290
290
250
210
210
200
170
t60
140
t20
r20
ll0
97
95
90
80
79
75
u
58
50
48
10
12
25
t9
5111,0
5{/3,t
30/5,0
t4lt,5
30/{,5
5113,2
{14,2
2611,5
,4/3, r
30//1,0
5112,9
2611,0
5112,8
30/3,7
30/3,5
5112,6
2613,5
30/3,2
2613,2
30/2,9
2612,9
3012,6
2612,6
3012,3
tzll,5
2612,3
t213,2
611,5
611,3
6t4,2
t212,9
6/4,0
t212,6
6/3.5
t212,3
613,2
612,9
6i2,6
612,3
612,O
t9t2,1
71t,8
l9/3,0
7l!,5
t912,7
711,2
t912,5
711,5
113,t
t912,1
712,9
7lx,t
712,8
713,7
7lt,s
712,6
712,72
711,2
712,19
712,9
712,26
712,6
712,02
112,t
71r,5
71t,79
713,2
r11,5
I J1,1
| 14,2
712,e
l /4,0
712,6
| 11,5
712,1
rl!,2
| 12,9
| 12,6
| 12,3
tl2,o
678,8
612,1
589,0
5 19,5
177,O
a3,r,3
al r,5
.ll
3,/a
.to7,6
377, r
356,7
126,8
332,5
,22,5
28t,6
286,7
250, r
241,1
209, l
19t,2
t7 t,1
I 59,3
l 38,0
124,7
I 15,5
108,0
96,50
95,40
87,t2
t3,t0
79,26
75,42
63,71
57,1!
/19,86
48,25
39,63
3t,t5
24,91
I 8,t5
t5,95
79.3t
I 14,3
673s
108,t
56,29
91,27
67,15
52,t4
t5,96
16,21
52,81
43,1 l
75,25
67,35
37, l6
lo,6t
56,29
34,09
16,24
2t,08
37,t6
22,14
29,@
67,35
t7,61
56,29
I 5,90
14,52
I 3,85
46,24
12,51
37,16
9,621
29,O9
8,042
6,605
5,309
4,155
3,112
20.3 l 0
18.r50
24.250
t5.6m
20. I 60
I 3.080
I 7.390
l 3.t90
12.2&
15.930
I l 010
10.930
10.290
13,530
12.170
E.964
8.670
t0.210
7.zfi
8.620
6.0r0
6.990
,1.860
5.550
9.590
3.960
8.050
3.t80
2.9t0
8.770
6.8?0
2.510
5.510
1.980
/1.340
1.650
r.400
l t40
901
69t
36,0
11,2
35,0
3 t,5
3l ,5
2t,8
79,3
28,5
27,9
28,0
26,t
25,1
25,2
25,9
21,5
21,1
22,16
22,1
20,27
20,3
I 8,38
I t,2
16,/t6
t6,l
t7,5
t4,57
t6,0
I 3,5
t2,9
12,6
r 4,5
12,0
!',,0
10,5
I 1,5
9,6
E,1
7,8
6,9
6,0
lz,o
l !,4
l5,o
10,5
t 3,5
9,6
12,5
10,5
9,3
12,0
8,7
9,3
8,4
u,r
10,5
7.8
t,l6
9,6
7,47
8,7
6,?8
7,8
6,06
6,0
10,5
5,37
9,6
4,5
4,3
1,2
8,7
4,0
1,t
3,5
6,9
3,2
2,9
2,6
2,3
2,O
2.556
2.320
2.688
t.969
2.1'16
1.6.15
r.88]
r.673
t.544
t.720
l,15 I
I .320
L260
l./184
r.328
t.086
I .013
l.l t0
847,0
9l t,?
696,2
732,8
5J8, I
511,7
848,1
43?,0
708,9
385,2
35t,8
335,5
582, t
304,6
46t,O
233, I
366,3
I 94,8
l@,0
t28,6
100,7
76,12
0,0428
0,0474
0,0493
0,0559
0,0609
0,0669
0,0699
0,0702
0,0721
0,0?70
0,08 r 4
0,0888
0,0871
0,09@
0, l0l
0, l0l
0,1 l6
0,1 20
0,1 39
0,r47
0,1 69
0,1 E2
0,210
0,233
0,251
o,269
0,301
0,304
0,329
0,345
0,366
0,380
0,456
0,497
0,589
0,594
0,723
0,900
I,l 5
1,52
Diemcter
(mm)
Tolcransi
Diamctcr
(mm)
Luas
Pcnampang
Tcrhirung
(mmr)
Kual
Tarik
(ks)
TcSangsn
Tarik
Minimum
(k8/mmt)
Pemaniangan
Minimum da-
lam 250 mm
(%)
Bcrst
(kt/km)
Trhanan
Listrik pada
20"c
(o/km)
Minimum
(%)
5.0
1,5
't,0
3,7
3,5
1,2
2,9
2,6
2,1
2,O
+0,04
+0.o4
*0,04
+0,0/t
t0,o{
r0,O{
+0,03
+0,03
+0,03
+0,03
t9,64
15,90
t2,57
10,75
9,62r
t,042
6,605
5,309
't,l
55
t,112
619
501
396
339
303
25t
208
t61
l3l
99
l1
3l
3l
3l
ll
3:
l
(
,5
,5
(
,5
,5
,5
,5
,5
.5
4
1
4
1
1
1
3
3
3
3
53,03
42,9!
33,94
29,03
2s,98
2t,71
17,t3
t4,33
t1,22
6.483
1,69
2,@
2,64
3,08
3,45
4,t2
5,02
6,25
7,98
t0,6
52,0
52,0
52,0
52,0
52,0
52,0
52,0
52,0
52,0
52,0
t-
Tebel E. Kabet Alumhum Csmprra
Bcrllltt Hsrd'Drawr
500
400
400
360
lm
240
200
200
180
t50
t25
100
90
70
55
45
38
30
aa
l6
t2
IO
6t13,2
6t12,9
3713,7
3713,s
r713,2
l9/4,0
3712,6
t911,7
t913,5
t913,2
t9l?,e
t912,6
7l4,O
711,s
't
13,2
712,9
112,6
112,3
112,0
312,6
312,3
312.O
190,6
4p.2,9
397,8
356,0
297,6
238,6
196,4
20!.,1
182,t
1s2,8
125,s
r00,9
87,99
67,35
56,29
46,24
17,16
29,09
2t,99
t 5,93
12,47
9,426
r3.8q)
I 1.,120
I t.290
t0.090
8.420
6,770
5.560
5.8qt
5.1 80
4.330
3.560
2.860
2.490
1.910
1.590
t.3r0
1.050
825
624
451
354
267
28,t
25,t
25,9
24,5
22,1
m.0
18,2
r8,5
17,5
15,0
14,5
13,0
12,0
10,5
9,6
8,?
7,8
6,9
6,0
5,6
5,0
4,3
1.351
l 109
t,v92
977,6
8r5,9
652,5
s39,2
558"2
199,5
4t7,1
112,8
275,5
240,1
It4,0
153,8
t26,3
101,5
79,48
60,09
,13,51
3.1,06
25,75
0,0689
0,0839
0,0847
0,0948
0,1 13
0,141
o,112
0,164
0,t84
0,2t9
0,267
0,333
0,382
0,499
0,595
o,726
0,9(x
I,l5
1,53
2,tt
2,69
3,58
2.2 Karakteristik
Pengbantar
Tabel 9. Kabel Baja Galvanisasi Berlilit untuk Saluran Udara
2.2 Karakteristik Penghantar
2.2,1. Kerekteristik Listrik
Tahanan R dari sebuah penghantar sebanding dengan panjangnya ldan berbanding
terbalik dengan luas penampangnya A:
13
R:+
dimana p adalah resistivitasnya.
Konduktivitas (C%) berbanding teroalik dengan resistivitas:
(ls)
Ukuran
Nominal
(mmz)
Konstruksi
(Jumlah/Dia.
meter dalam
mm)
Luas
Penampang
Terhitung
(mm2)
Diamcter
Luar
(mm)
Bcrat
(ke/km)
Kuat.
Tarik
(kc)
Kawat Pad.t
Diamctcr
(mm)
Tolcransi
Dirmctcr
(+
mm)
Kuat-
Tarik
Pcnanje-
a8a! Mini. Tegangar
Tarik
250 mm
(v) (ks) (k8/mmr
r35
u0
90
70
55
45
38
30
22
715,O
714,s
714,o
713,5
713,2
712,9
712,6
112,!
712,o
t37,4
I il,3
87,99
67,1s
56,30
46,24
37, r6
29,O9
21,99
15,0
I 3,5
12,0
10,5
9,6
8,7
7,8
6,9
6,0
1,092
884,4
698,?
535,0
447,3
367,1
295,3
23 t,0
t74,7
l5..l0O
12.5@
9.8m
7.5&
6.300
5.200
4.1E0
3.270
2.170
5,0
4,5
4,0
3,5
3,2
2,9
2,6
2,3
2,O
0,l3
0,10
0,10
0,10
0,08
0,0E
0,(x
0,06
0,06
2.450
1,990
1.570
1.2m
1.000
826
&
519
393
,1,0
4,O
4,0
4,0
{,0
3,0
3,0
3,0
3,0
t25
:
l/58 x
f{o/m.mm,)
(16)
l4
B8b 2. Pc,nghantar untuk Saluran Transmisi Udara
Konduktivitas biasanya besar bila kemurnian bahan tinggi dan berkurang bila
jumlah
campuran bertambah;
periksa Gbr. I dan Gbr. 2.
Tahanan berubah dengan suhu sesuai dengan
persamaan:
R,: R,.[l
*
c(t
-
lo)]
dimana R,
:
tahanan
pada suhu roC
R.
:
tahanan
pada suhu IooC
o
:
koefisien suhu massa konstan
(17)
Apabila diperlukan
perhitungan yang lebih teliti, digunakan
persamaan yang menun-
jukkan
ketergantungan a dari suhu:
I
d,:TirrF7_rll
dimana a
:
koefisien suhu
pada suhu standar 20"C (Jepang)
d,
:
koefisien suhu
Pada
/oC
(1 8)
lto
Eto
.:
t
Elo
c
x
0 t 2 3 I 5 6 7 E 9 1011t2 131115
xlr.r.-nmi-r[(%)
Gbr. 1 Pengaruh Ketakmurnian terha-
dap Konduktivitas Listrik untuk
Tembaga.
2.2.2. Karekteristik Mekanis
Untuk kawat komponen
f
:
47,1
-
l,ld
(kg/mm'z)
Untuk kawat lilit
(stra0ded) f
:
0,9aNf
(kg)
0 0,t 0,2 0,3 0,1 0,5
Ketrknmiu (%)
Gbr. 2 Pengaruh Ketakmurnian terha-
dap Konduktivitas Listrik untuk
Aluminum.
Kuat-tarik
(tensile strength) sebuah penghantar naik dengan bertambahnya
jumlah
campuran dan meningkatnya derajat
pengerjaannya (processing). Untuk tembaga
"hard-drawn" berlaku rumus-rumus kuat-tarik sebagai berikut:
(le)
(20)
{
\
l_
-cd
-l
\\t l
AI
\r \l\
p -;--T.-
+
Ar
dimana
2.2 Karakteristik Penghantar 15
af
: garis-tengah
kawat-komponen (mm)
a
:
luas penampang kawat-komponen (mm)
1g:
jumlah
kawat-komponen dalam kawat lilit
Pemanjangan (elongation) menunjukkan elastisitas bahan. Pemanjangan minimum
dari kawat tembaga dinyatakan oleh:
S
:0,24d
+
0,24 (%) (21)
Pemanjangan untuk kawat aluminum "hard-drawn" dan kawat baja yang digalvani-
sasikan tertera dalam Tabel 10. Beberapa data mengenai karakteristik mekanis dan
listrik untuk kawat tembaga "hard-drawn" dapat dilihat pada Gbr. 3, 4, 5, dan 6.
Tabel 10. Tegangan-Tarik dan Pemanjangan untuk Kawat Aluminum Hard-Drawn dan Kawat
Baja Galvanisasi
Kawat Aluminum Hard-Drawn Kawat Baja Galvanisisi
;
Diameter
I
(.*)
Tegangan Tarik
Minimum
(kg/mmz)
Pemanjangan'
Minimum
(%)
Diameter
(mm)
Tegangan Tarik
Minimum
(ke/mmz)
Pemanjangan
Minimum
(%)
5,0-3,8
3,8-3,0
3,0-2,8
2,8-2,s
', <_, 1
16,11
16,52
1 6,87
11,23
17,93
2,{J-.1,9
I,8-l,7
1,6
1,5
1,5
5,H,0
4,0-3,0
3,0-2,0
t25
r30
135
5r0
4,5
4,0
R
?
A
o
d
I
s
,
c
I
E
0r
E
i .r4
t
EJO
F
F
22
rrLl
konduktivitrs-
7
l'r]..,*.n
* 'ik
\
\i
l
+
- diameter 2.6 mm-
/\ l
L
-\
pemanlangao
''1-+ -f'-i-,
0 t0 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Berkurangnye penampang (
l)
Gbr. 3 Karakteristik Mekanis dan Lis-
trik dari kawat Tembaga Hard-
Drawn.
Diemeter
Gbr.4 Hubungan antara Diameter dan
Karakteristik Mekanis serta
Listrik untuk Kawat Tembaga
Hard-Drawn.
rl02 3
ta
lz
1l0O
=
oi o'E

x9
3oG;
:- _c
2oEg
aE t
)oda F
!;
U
Az
l:,
l;
2.2.3, Kapasitas Penyaluran Arus dori Penghantar
Arus yang diperbolehkan (allowable current) untuk saluran transmisi udara dibatasi
oleh kenaikan suhu yang disebabkan oleh mengalirnya arus dalam saluran tersebut.
Suhu maksimum yang dapat ditoleransikan dalam waktu singkat tertentu untuk kawat
tembaga hard-drawn, kawat aluminum dan kawat aluminum campuran (alloy) dite-
tapkan pada 100"C (Jepang); periksa Tabel ll.2) Tetapi, karena karakteristik mekanis
dari kawat dan sambungannya
fioints)
memburuk oleh pemanasan, maka 90"c dianggap
sebagai suhu kerja kontinu maksimum untuk penghantar.
0 I 2 J 4 5 6 7 8 9 10 il t2
16
Bab 2. Penghantar untuk Saluran Transmisi Udara
V,'
-f--.
!.-
t
i-
,"
t
t
Brn8rn Tutf,
50
10
^99
a
.:
Ees
!
t
x
30E
I
c
6
208
I
l0
o
1n
E
u
ia
it
'i
20
F
E
I
U
Zto
I
o
0
97
o o,s. t,o 1,5 2,0 2,5 3,0 3,s 4,0 1'5 5'0
Jumhh Jrm Pendinginrn
Gbr. 5 Hubungan antara Jumlah Jam
Pendinginan
dengan Kondukti-
vitas Kawat Tembaga Hard-
Drawn.
0 200 100 5N 600 ],oo0
Suhu Pendinginen ("C)
Gbr.6 Hubungan antara Suhu Pendi-
nginan dan Karakteristik Meka-
nis Kawat Tembaga Hard-
Drawn.
Tabel 11. Kapasitas Penyaluran Arus untuk Berbagai Penghantar Saluran Udara
350'
lt
00'
,'
,
?--
7
L- lim. ter I m
tN"
Macam Penghantar
Ukuran
Nominal
(mm2)
Kapasitas Penyaluran Arus pada Suhu Keliling 40"C (A)
Suhu Maksimum untuk Pem-
bebanan Kontinu 90'C
Sdhu Yang Ditoleransikan
Maksimum 100"C
Hard-Drawn Copper
Stranded Cable
200
150
100
75
55
38
22
660
540
420
350
290
225
160
740
610
470
395
320
245
175
Aluminum Cable
Steel Reinforced
610
s20
410
330
240
160
120
1.070
960
840
720
600
460
390
L210
1.090
940
810
670
510
440
Hard-Drawn Aluminum
Alloy Stranded Cable
300
240
150
100
55
38
620
535
395
310
2t5
165
695
600
450
345
235
185
Hard-Drawn Aluminum
Stranded Cable
150
100
70
55
420
330
265
230
475
365
285
250
2.2 Karakteristik Penghantar
Untuk kawat telanjang (bare) arus yang diperbolehkan dinyatakan oleh rumus:2)
11
, _h"
-
(h,
-ft),
*u
;:
tr*-
rAr
(22)
(23)
ft.
:
0,000576 (W/'C.cmz; (24)
dimana 7
: jumlah
sinar matahari (W/cmr)
0
:
kenaikan suhu ("C)
4:
perbandingan
dengan koefisien radiasi sebuah badan hitam (black
body)
/
:
garis-tengah penghantar (cm)
7
: panjang penghantar (cm)
BR:
tahanan bolak-balik (AC) penghantar dengan panjang I pada suhu
akhir (e)
f
:
tahanan bolak-balik dibagi tahanan searah
I: suhu keliling ("C)
Z: kecepatan angin (m/s)
f
:
arus (A)
Apabila terjadi hubung-singkat pada saluran transmisi, maka suhu penghantar
naik karena arus sesaat dari hubung-singkat tadi. Dalam hal demikian, maka kenaikan
suhu untuk kuat-tarik yang sama dianggap 200"C untuk kawat tembaga hard-drawn
dan 180"C untuk kawat aluminum.3) Nilai arus yang ekivalen dengan batas suhu ini
dinamakan kapasitas penyaluran sesaat. Bila dimisalkan bahwa radiasi panas tidak
terjadi dalam waktu kurang dari 2-3 detik, dan suhu penghantar permulaan adalah
40'C, maka kapasitas itu dinyatakan oleh persamaan-persamaan
sebagai berikut:3)
(l) Untuk kawat tembaga hard-drawn dengan 0
:
160"C
dimana h.:
--J'm.572
lV
p"*ffi:4a
(w/"c'cm2)
fl-*'
=
:
!*
tr
,tl:.'
'
-'
t
I
lt
I: l52,tSl,:fl
(2) Untuk kawat aluminum hard-drawn dengan 0
:
140'C
I
:93,2651,r,T
(3)
Untuk kawat aluminum campuran (alloy) dengan 0: ll0"C
I
:79,2551Jlr
dimana f:arus(A)
0
:
kenaikan suhu ("C)
s: penampang penghantar (mm2)
,
:
waktu pembebanan arus (s)
(2s)
(26\
(27)
iL,!i"
.
t .-'l.
..i;,8
'. r"!
t273+r+A\1 /273+T\.
\m--/-\=m-l
. ?ill
18
2.3
Bab 2. Penghantar untuk Saluran Transmisi Udara
Andongan (Sag) Penghantar
Karena beratnya maka penghantar yang direntangkan antara dua tiang transmisi
mempunyai bentuk lengkung tertentu (catenary curve) yang dapat dinyatakan oleh
persamaan-persamaan tertentu.
2.3.1. Penghrnter Ditunigng oleh Tiang yeng Sama Tingginya
Bila penghantar ditunjang oleh tiang-tiang yang sama tingginya, maka prsarlasr.
nya adalah
(periksa
Gbr. 7(a)):
.I:ccosh*t.l
'e
l:csinh*frl
c
d
:
!
-c
:
c
(coshl!-
-
l) (m)
c: TllY (m)
dimana I: tegangan mendatar dari penghantar (kg)
l4'
:
brurat penghantar per satuan panjang (kg/m)
/
:
panjang penghantar sebenarnya dari titik terrendah sampai titik dengan
koordinat
(x, y) (m)
d
:
andongan (sag) pada titik (x, y) (m)
Pada umumnya bentuk lengkungan penghantar dianggap parabolis, sehingga bila
gawang adalah S
(m), maka andongan (sag) D dan panjang penghantar sebenarnya Lo
dinyatakan oleh
o:${^)
tro:s+W:s+St-l
(28)
(.2e)
(30)
(3 l)
(32)
(33)
Gbr.
(e)
Tiang Pcuniud SsDr Tlrgginya.
2.3 Andongan (Sag) Penghantar 19
2.3,2. Penghantar Ditunjrng oleh fieng yang
Tidrk Sama Tingginya
Apabila tiang-tiang penunjang
tidak sama tingginya maka yang dihitung adalah
andongan yang
miring (obligue), yang dinyatakan oleh rumus
o:ff{^)
(34)
yakni jarak
D antara garis AB (periksa
Gbr. 7(b)) dan garis
singgung pada lengkungan
kawat yang sejajar dengan garis
AB tersebut.
Hubungan antara andongan miring dan andongan pada titik-titik penunjang
dinya-
takan oleh
oo: o(r
-
#|
Do+H:r(,*#)
Tegangan tarik pada
titik-titik penunjang
A dan I dinyatakan oleh
Tt:T+WD
Ta:T+W(Do+H)
(3s)
(36)
(37)
(38)
Gbr. 7(b) Tiang Penunjang Tidak Sama Tingginya.
20
Bab 2. Penghantar untuk Saluran Transmisi Udara
Perlengkapan Penghantar
2.4.1. Sambungan Penghantrr (Joints)
Sambungan
(oints) penghantar harus mempunyai konduktivitas listrik yang
baik serta kekuatan mekanis dan ketahanan (durability) yang tangguh. Sambungan-
sambungan yang biasanya dipakai adalah:
(l) Sambungan kompressi: Di sini kelongsong
(sleeves) sambungan
yang terbuat
dari bahan yang sama dengan
penghantar dipasang
pada sambungan
peng'
hantar dengan tekanan minyak;
periksa Gbr. 8. Cara ini dapat diandalkan
dan banyak dipakai untuk penghantar-penghantar berukuran besar.
KelongsongAluminum
KelongsongBaia A.C.S.R.
Gbr. 8 Sambungan Kompressi untuk A.C.S.R.
Sambungan belit: Dalam hal ini penghantar-penghantar yang hendak
disambung dimasukkan dalam kelongsong berbentuk bulat telor yang kemu-
dian dibelit beberapa kali dengan kunci belit (twisting wrench). Karena pe-
ngerjaannya sederhana dan mudoh, cara ini banyak dipakai untuk kawat lilit
dengan penampang kurang dari 125 mm2.
Sambungan untuk
penghantar yang berlainan: apabila permukaan kontak
antara dua penghantar yang berlainanjenis basah, maka salah satu penghantar
akan berkarat. Oleh karena itu digunakan kelongsong khusus dengan logam
tertentu untuk memungkinkan disambungnya dua penghantar tadi.
d
:25,6 mm untuk A.C.S.R. 330 mm
d
:22,7 mm untuk A.C.S.R. 240 mm
Gbr.9 Perentang Per
ienis
Ball & socket
untuk Kawat-Berkas.
2.4
(2)
(3)
Poros Kawat Baja
2.5 Referensi
2.4.2. Perentang (Spacer)
Untuk sistim kawat-berkas, dipasang perentang (spacer) untuk menghindarkan
agar kawat-kawat penghantar dalam satu fasa tidak mendekat atau bertumbukan
karena gay^-gaya elektromekanis atau angin, periksa Gbr. 9. Perentang ini dipasang
pada
jarak
I 5-40 m satu sama lain di dekat tiang-tiang penunjang dan 60-80 m di tengah
rentangan (midspan).
2,4.3. Batang-batang Pelindung (Armor Rods)
Guna menghindarkan kelelahan penghantar karena getaran (vibrat-ion fatigue)
maka dipasang batang-batang pelindung (arrnor rods) sebagai penguatan di tempat
penghantar digantungkan. Bentuk batang-batang ini terlihat pada Gbr. 10.
2.4,4. Peredam(Dampers)
Peredam (dampers) dipasang dekat pengapit (clamps) untuk menghindarkan
kelelahan kawat-kawat komponen karena getaran (vibration). Banyak
jenis
peredam
yang dikenal, antara lain, Stockbridge (Gbr. ll), torsional, dsb.
Pelinduog
Gbr. l0 Batang Pelindung. Gbr. 11 Peredam Stockbridge.
2.5 Referensi
Di dalam Bab 2 digunakan referensi terhadap sumber-sumber dari luar sebagai
berikut:
l) J. G. Anderson et al, "Ultrahigh-Voltage Power Transmission", Proceedings IEEE,
vol. 59, No. ll, November 1971,hal.1548-1556.
2) Study Committee, Research Report concerning Improvement of Power Transmission
Function, vol. I (Overhead Transmission Lines), Central Research Institute
of Electric Power Industry (Japan), 1965, hal. 15.
3) Handbook of Electrical Engineering, Institute of Electrical Engineers of Japan,
1967, hal. 357.
2t
Kawat Baja
BAB
3. ISOLATOR
PORSELIN
3.1
Jenis Isolator Porselin
Isolator untuk saluran transmisi diklasifikasikan
menurut penggunaan
dan
konstruksinya
menjadi isolator gantang (suspension), jenis pasak (pin-type), jenis
batang
panjang (long-rod)
dan
jenis
pos-saluran (line post).
Gandengan
isolator gantung pada
umumnya dipakai pada
saluran transmisi
tegangan tinggi, sedang isolator batang-panjang dipakai di tempat-tempat dimana
pengotoran
udara karena garam
dan debu banyak terjadi. Keduajenis yang lain dipakai
pada
saluran transmisi yang
relatip rendah (kurang
dari 22-33 kv).
Pada isolator gantung
dikenal dua
jenis,
yakni clevis type dan ball-and-socket type,
yang masing-masing
terbuat dari porselin
dengan tutup (cap) dari besi tempaan (mal-
leable iron) di satu pihak
dan pasak
baja di lain pihak, yang
keduanya diikatkan pada
\s
)-
I
1E6'\-)
2546
(e)
Jenir Clevia
Gbr. 12 Isolator Gantung
5,,'', \
<)__r
.2slo
(b) Jcnic B.ll & Sockcr
250 mm.
(LC{0r0)
Gbr. l4 Isolator
Batang Panjang.
(LP-6,0)
Gbr. 15 Isolator
Pos Saluran.
I6
-.1 F
Gbr. 13 Isolator
Jenis
pasek.
24 Bab 3. Isolator Porselin
porselinnya dengan semen berkwalitas baik. Ukuran yang dikenal adalah dengan
piringan bergaris-tengah 250mm (di Jepang ukuran standar), l80mm,280mm. dan
320 mm, masing-masing dengan gaya mekanis 12000 kg dan 16500 kg (standar), 6000 kg,
21000 kg dan 30000 kg. Isolator gantung digandeng-gandengkan menurut kebutuhan
isolasi karena tegangannya.
Jenis pasak dan line-pos, terbuat dari porselin, yang bagian bawahnya diberi
tutup (thimble, cap) besi cor yang disemenkan
pada porselin serta pasak baja yang
disekrupkan
padanya. Karena
jenis-jenis
ini dipakai sendiri (tidak dalam gandengan)
serta kekuatan mekanisnya rendah, maka mereka tidak dibuat dalam ukuran-ukuran
yang besar.
Jenis batang-panjang mempunyai sedikit bagian logam sehingga tidak mudah
menjadi rusak. Oleh karena rusuknya yang sederhana maka ia mudah tercuci oleh
hujan, sehingga
jenis
ini sesuai sekali untuk penggunaan pada tempat-tempat yang
banyak dikotori
garam dan debu.
Karakteristik Isolator
3.2.1, Karekteristik Listrik
Isolator terdiri dari badan porselin yang diapit oleh elektroda-elektroda. Dengan
demikian maka isolator terdiri dari sejumlah kapasitansi. Kapasitansi ini diperbesar oleh
terjadinya lapisan yang menghantarkan listrik karena kelembaban udara, debu dan
bahan-bahan lainnya pada permukaan isolator tersebut. Karena kapasitansi ini, maka
distribusi tegangan pada sebuah gandengan isolator tidak seragam. Potensial pada
bagian yang terkena tegangan (ujung saluran) adalah paling besar; periksa Gbr. 16.
Dengan memasang tanduk busur api (arcing horn), maka distribusi tegangan diper-
baiki; periksa Gbr. 17.
Tegangan lompatan api (flashover voltage) pada isolator terdiri atas tegangan-te-
gangan lompatan api frekwensi rendah (bolak-balik), impuls dan tembus dalam minyak
(bolak-balik frekwensi rendah). Tegangan lompatan api frekwensi rendah kering adalah
tegangan lompatan api yang terjadi bila tegangan diterapkan di antara kedua elektroda
isolator yang bersih dan kering permukaannya; nilainya konstan serta merupakan nilai
3 1 5 6 7 I 9 l0 ll 12 13tl 15 t6
Nomor Unit Uiung
Selurrn
3.2
12
Uiung
Tenrh
11
l2
I
E
E10
$a
6
${,
F:
sl
a
d=
Ei,
Ez o
&>
G
a30
{2a
a26
221
O .t
v-
2a
ra
lt6
ltl
e ,,
;to
t-
Id
l-6
1t
c2
lo
a
&
Uiuor Turt Nomor Unit Uiung Selurm
Gbr. 16 Distribrsi Tepngan
pada Gan-
dengan Isolator
(TanPa Tanduk
hsur APD.
Gbr. 17 Distribusi legangan pada
Gandengan Isolator (Dengan
Tanduk Busur Api).
"#l^w
t 2 3 1 5 6 7 E 9 l0ll'12 13lll5l6l7lE 19
3.2 Karakteristik Isolator
dasar dari karakteristik isolator. Tegangan lompatan api basah adalah tegangan
lompatan api yang terjadi bila tegangan diterapkan di antara kedua elektroda isolator
yang basah karena hujan, atau dibasahi untuk menirukan keadaan hujan. Di Jepang,
tahanan
jenis (specific resistance, resistivity) air yang dipakai adalah 10000 Ocm dan
jumlah penyiramannya 3 mm/menit.
t )
Tegangan lompatan api impuls adalah tegangan lompatan api yang terjadi bila
tegangan impuls dengan gelombang standar diterapkan. Di Jepang gelombang ini
adalah 1,5 x 40 ps;2) menurut International Electrotechnical Commission
gelom-
bangnya adalah 1,2 x 50 ps.3) Karakteristik impuls terbagi atas polaritas positip dan
negatip. Biasanya, tegangan dengan polaritas positip (yang memberikan nilai lompatan
api yang lebih rendah) yang dipakai. Untuk polaritas positip tegangan lompatan api
basah dan kering sama.
Tegangan tembus (puncture) frekwensi rendah menunjukkan kekuatan dielektrik
dari isolator, dan terjadi bila tegangan frekwensi rendah diterapkan antara kedua elek-
troda isolator yang dicelup dalam minyak sampai isolator tembus. Untuk isolator dalam
keadaan baik tegangan tembus ini lebih tinggi dari tegangan lompatan api frekwensi
rendah, dan nilainya kira-kira 140 kV untuk isolator gantung 250 mm.
3.2.2. Karakteristik Mekanis
Kecuali harus memenuhi persyaratan listrik tersebut di atas, isolator harus memiliki
kekuatan mekanis guna memikul beban mekanis penghantar yang diisolasikannya.
Porselin, sebagai bagian utama sebuah isolator, mempunyai sifat sebagai besi cor,
dengan kuat-tekan (compressive strength) yang besar dan kuat-tarik (tensile strength)
yang lebih kecil. Kuat-tariknya biasanya 40G-900 kgfcm2, sedang kuat-tekannya l0
kali lebih besar.r)
Porselin harus bebas dari lubang-lubang (blowholes), goresan-goresan, keretakan-
keretakan, dsb., serta mempunyai ketahanan terhadap perubahan suhu yang mendadak
dan tumbukan-tumbukan dari luar.
Gaya-tarik terhadap isolator yang telah dipasang relatip besar, sehingga kekuatan
porselin dan bagian-bagian yang disemenkan padanya harus dibuat lebih besar dari
kekuatan bagian-bagian logamnya, periksa Gbr. 18.
Gbr. 18 Diagram Disnibusi Kekuatan Mekanis
pada Isolatoi Gantung 250 mm.
25
KurGParah tron)
bnjtung Brsirn i Contoh
Pek B.sa I
lslator Clcvis{yts 25omm
B Tutup Bcsi TcmPrnl H.ny. Turupnya
c Poerin
I
lrolator U.ii d.n8.n P.gl Khus6 dan Tutup ysng Kurt
26 Bab 3. Isolator Porselin
Kekuatan mekanis dari isolator gantung dan isolator batang-panjang (long-rod)
harus diuji untuk mengetahui kemampuan mekanis dan keseragamannya. Kekuatan
jenis
pin-type dan line-post ditentukan oleh kekuatan pasaknya (pin) terhadap momen
tekukan (bending mcment) oleh penghantar. Pengujian kekuatannya karena itu
dilakukan dengan memberikan beban kawat secara lateral terhadap pasak.
Karakteristik listrik dan mekanis dari isolator gantung, isolator
jenis
pin,
jenis
long-rod dan
jenis
line-post menurut standar Jepang tertera dalam Tabel 12, 13, 14,
dan l5.a-7)
Dalam perencanaan isolasi saluran transmisi udara, tegangan lebih merupakan
faktor penting. Di tempat-tempat dimana
pengotoran udara tidak mengkhawatirkan,
surja-hubung (switching-surge) merupakan faktor
penting dalam penentuan
jumlah
isolator dan
jarak
isolasi. Karakteristik lompatan-api dari surja-hubung lain dari
karakteristik frekwensi rendah dan impuls. Contoh karakteristik lompatan-api untuk
isolator gantung 250 mm terlihat pada Gbr. 19.
Trbet 12. Karakteristik fompatan Api Isolator Gantung 450 mm5'
6)
Catatan: Clevis Type
(JIS C 3810): Kekuatan Elektro-Mekanis:
12.000 kS; Bail & Socket Type
(JIS C SEID: 16.5N ke
Jumlah Piringan
Tegangan Lompatan Api
Frekwensi Rendah
(kV)
Tegangan Lompatan Api
Impuls 50% (kV)
Kering Basah Positip Negatip
,
3
4
5
6
8
9
10
ll
t2
l3
t4
l5
l6
t1
l8
t9
20
2r
22
23
24
25
155
215
270
325
3E0
435
485
540
590
640
690
735
785
830
E75
920
965
l0l0
1055
I 100
I r45
I 190
l23s
1280
90
130
170
2t5
255
295
335
375
415
455
490
525
565
600
635
670
705
140
775
810
845
880
915
950
255
355
40
525
610
69s
780
860
945
r025
r 105
I 185
1265
I 345
1425
I 505
l 585
r665
1745
l 825
1905
l 985
2065
2145
255
345
415
495
585
670
760
845
930
l0l 5
I 105
I 190
1275
I 360
1440
1530
t 6l5
1700
I 785
1870
1955
2040
zt2s
xilo
llodcl
Tcgangan
Nominal
(kv)
Jumlah
Kupingan
Diamctcr
vlaksimum
Tinggi
Tcgangan Lompatan
A,pi Frekwcnsi Rendah
Tegan3rn
Lompatan
Api Impuls
50%
(kY)
Kurt-Psn.
crng (Crn-
tilcvcr)
(ks)
Bcilt dG-
njan Be-
r.n8 BG3i
(kB)
(Sbcd)
Porslin
(mm)
Minimum
(mm)
Maksimufi
(mm)
Kcring Basah
t0
20
30
40
50
60
il
22
:
6
2
3
3
3
4
4
200
240
300
350
400
4t0
r20
245
310
375
4t5
490
2t0
255
330
400
65
515
85
lr0
t35
160
185
2r0
55
75
95
lt5
135
155
120
t60
200
2$
2t0
3m
700
7m
7(x)
850
850
l.(m
3,4
6,1
I t,5
I 7,0
2r,o
38,5
3.2 Karakteristik Isolator
Tabel 13. Karakteristik Isolator Jenis PasakT)
(Pin
Tne)
Tabel 14. Kerakteristik Isolator Jenis Batarry-Penjang
(Iong-Rod)?'
Catatan: Isotator di atas mempunyai clevis(cantolan)pada keduo ujungnya. Ada
jenis yang lain(LE)
dengan clevis pada satu ujung dan mata pada uiung yarrg lain.
Trbcl 15. Ihrektcrlsdk Isoletor Jents Pos Sduran
(Lhc
fcgt'
27
Model
Tegangan
Nominal
(kv)
PanjanS
(mm)
Jumlah
Kupingan
(Shed)
Di.mctcr
Kupingan
(mm)
Diametcf
Badrn
(mm)
TcSirrurn LompataE
Api Frekwemi Rcndgh
Tcgangan
Lompetsn
Impuls
50% Flarh.
over (kU
Ku.t-
Prt h
(tr)
Bcrat
(L3)
Kcring
(kv)
B$rh
(kv)
LC-5505
LC-6507
LC{510
LC-8005
LC-8007
LC-8010
LC-801 3
ic-80t7
LC-8021
LC-E02,1
22
33
66
1)
33
66
77
77
ll0
u0
385
485
5E5
385
/tE5
585
725
875
I,025
t,t 75
5
7
l0
5
7
l0
l3
t7
2t
24
l/45
l.t5
145
160
t60
160
160
160
l@
160
65
55
65
80
80
EO
t0
80
80
EO
il5
t50
t85
ll5
r50
t85
235
285
335
3E5
55
95
125
65
95
t25
t60
200
2$
280
170
230
2Xt
170
230
2q)
380
170
560
650
7,sm
,,500
7,vx)
t\mo
12,m0
t2,000
t2,m0
12,(m
t\mo
t2,mo
7
9
t0
t0
t2
l{
t8
x2
26
t,
Modcl
Icglnai.!.
Nominrl
(Lv)
,urLh Diunaar
Kupirurn
(DE)
Di.mtcr
Brdrn
(em)
Tinssi
(mm)
Tcgangrn Lomprtrn
Api Frckwcnri Xhnd$
TcirnSrn
Lomortrn
Kurt.
Pracrnf D.fri
(t!)
f,upmSJl
(s,hd) Kcrins
(LV)
Belah
(kY)
tnpul3
n%$9
(ts)
LP.IO
LP.2O
LP.30
LP{O
I,l{o
LP.M
It
z2
3l
6
n
1
6
t
t0
t2
t4
ta5
tt0
t60
t6lt
190
t90
6t
?0
x)
t5
lot
r0t
2$
,25
lm
ilt
70
6t0
to
t0t
t3t
170
240
2N
!t(,
7t
tm
125
tf,,
2r0
lm
t6lt
xn
ns
3t5
4
7tD
tu
?m
nn
?u
TN
5,7
7,7
t t.5
t5.l
27,6
3t.t
28
Bab 3. Isolator Porsclin
3.2.3. Penguiirn Isolrtor
Pengujian (rcsting) pada isolator
terdiri dari:
(l) Pengujian konstruksi.
(2) Pengujian semu
(appearance).
(3) Pengujian listrik.
(4) Pcngujian mekanis.
(5) Pengujian elektromekanis.
(6) Pengujian termis.
(7) Pengujian keporian
(porosity).
(8) Pengujian
galvanisasi.
Dalam pembelian isolator,
Perlu
dilakukan
pengujian
jenis
dan
pengu'
jian penerimaan (acceptance) sesuai
dengan cara-cara
yang berlaku.
3.3 Pasangan Isolator
Dalam kategori pasangan isolator
(fittings) termasuk pasangan-pasangan
logam dan
perlengkapan'perlengkapan
lainnya guna menghubungkan
peng-
hantar, isolator dan tiang transmisi.
A-Tc
E-Tq
FiarLatuI+h
nl.rr
Loortrr ScF
Hfur(Nrrrb. lrreD
C
-
Tturulo+iuFt-
rolR-drf
G.t
h)
A
Y
/
%
/
,2
05t01520
Jumhh Pirinjm
Gbr. 19 Karakteristik Lompeten Api
Isolator Gantung 250 rnm.
t
g
$
t2so
o
a
a
?tm
o
E
s
!
a
I
75(r
a
I
t
33.1. Prsengen Isolator
Pasangan isolator terbuat dari besi atau baja tempaan (malleable) yang ukurannya
disesuaikan dengan tegangan,
jenis
dan ukuran
penghantar, kekuatan mekanisnya,
serta konstruksi penopangnya (supporting structure). Dengan demikian maka dikenal
baut-U, klevis (clevis), link, mata
(eye), ball and socket (bola-dan-lekuk), dsb., yang
mudah dihubung-hubungkan,
dan mudah dipertukarkan;
periksa Gbr. 20. Permukaan
pasangan logam ini biasanya digalvanisasikan'
3.3.2. Tanduk Api dan Cincin Perisri
Bila terjadi lompatan api (flashover) pada gandengan isolator, maka isolatornya
akan rusak karena busur apinya. Untuk menghindarkan kerusakan ini, maka pada
gandengan isolator
gantung dan isolator long-rod dipasang tanduk-tanduk api (arcing
horns). Tanduk api dipasang
pada ujung kawat dan ujung tanah dari isolator, serta
dibentuk sedemikian sehingga busur api tidak akan mengenai isolator waktu lompatan
api terjadi. Jarak antara tanduk atas dan bawah biasanya 7185% dari panjang gan'
dengan
(periksa Gbr. 20). Tegangan lompatan api untuk
gandengan isolator dengan
tanduk api ditentukan oleh
jarak
tanduk ini; periksa Bab 8. Tanduk api biasanya
dipakai untuk saluran transmisi dengan tegangan di atas ll0kV,ataudiatas66kV
di daerah-daerah dengan tingkat isokeronik
yang tinggi.
Cincin
perisai (shield ring) dipasang
pada ujung kawat dari isolator untuk men-
cegah tcrjadinya korona pada ujung tcrscbut. Effck
pencegah koronajuga dimiliki oleh
tanduk api.
3.4 Pcngotoranlsolator
htr-U
U-Cl'th
--Pc64rTroddt
Trrdrk Api
29
Grdengrl
lr
tt
!l
Pclugu Tudrk
nlrpit
G6h![
Gbr. 20 Gendengan Isoletm Gentrmg Turggel.
333. Jcpltrn
Untuk penghantar
dipakai pengapit gantungan (suspension clamps) dan pengapit
tarikan (tension elamps) sedang untuk kawat tanah dipakai pengapit sederhana. Ada
dua
jenis,pengapit
gantung, yang satu dengan, dan yang lain tanpa batang pelindung
(armor rods). Pengapit-pengapit dipilih dengan memperhatikan macam dan ukuran
kawat, kuat tarik maksimumnya, serta dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan kerusakan dan kelelahan karena getaran (vibration) dan sudut andongan
dari kawat.
Gandengan isolator gantung tunggal terlihat pada
Gbr. 20, gandengan isolator
tarik tunggal pada Gbr. 21, dan gandengan isolator tarik ganda pada
Gbr. 22, masing-
masing lengkap dengan pasangan isolatornya.
3.4 Pcngotorenlsolator
Tahanan isolasi dari permukaan isolator yang bersih besar sekali. Nilainya menjadi
sangat berkurang menjadi beberapa mega ohm saja, bila permukaannya menjadi kotor
(polluted)
karena isolator tersebut terpasang di daerah-daerah industri atau di tepi laut.
Bila tegangan tinggi diterapkan pada isolator ini, lapisan permukaannya yang lembab
menguap dan menimbulkan busur api setempat, yang kemudian bertambah besar
schingga menimbulkan lompatan api. Mekanisme dari gejala ini sukar diterangkan.
Karakteristik lompatan api yang digunakan sebagai standar perencanaan (design)
didapat dari pengalaman
operasi dan pemeliharaan pada
saluran transmisi, serta dari
30
Bab 3. Isolator Porsclin
data-data
pengujian lompatan api pada isolator yang sengaja (artificially)
dikotori atau
yang dikotori secara alamiah.
3.4.1. Krnlderistih Lomptm Apt drri Isoletor Kotor
Untuk isolator
gantung 250
mm yang dikotori (polluted) berlaku mmus tegangan
lompatan api sbb:r)
":ffi
(3e)
dimana Y: lq$anEan lompatan api minimum untuk
gandengan
isolator gantung
dengan rY
piringan (kY)
W
:
kegadatan adhesi
garam (mg/cm')
K: kepadatan adhesi serbuk
poles (polished) (ngFr
ff:
jrrml4fu piringan isolator
Pada umumnya
garam merupakan
pengotoran terhadap isolator. Namun, untuk
memperhitungkan
pengaruh bahan-bahan
yang tidak dapat dilarutkan, pengujiannya
dilakukan dengan garam dan serbuk
poles (polishing powder).
Kepadatan serbuk /(
dianggap bcrnilai 0,1 mg/cm2.
Grdarrn
Irclrtq
Tuirt ADi
Tr.Lt ADi
Ocvir Lld.
Patrpit Jcoit
fosri
I
l--**", *,,,
I
I
Gtr.21 GenAcogrn Ishtor Tarlk Tuggd. Ghr. /2 Gendeogrn Isolator Tsrik Gerd8.
3,4 Ecngotoran Isolator
Guna menampung perbedaan antara pcrcobaan
dcngan keadaan scbenarnya,
dipakai faktor koreksi fr,
yakni
L _
tegangan ketahanan untuk perencanaan
,.g
(4o)
Pada umumnya dipakai harga k: 1,25, meskipun untuk saluran-saluran transmisi
penting atau tempat-tempat
khusus,
nilai /r diatur menurut kepcrluannya antara 1,0
dan 1,25.
Dalam Gbr. 23 diberikan contoh karakteristik tcgangan ketahanan (withstand
voltage) untuk isolator gantung 250 mm, sedang Gbr. 24 menunjukkan karakteristik
yang sama untuk isolator long-rod.
31
t9
IE
l7
?t6
a
.l
'rs
4
tt1
g
ali
a
4,,
a
i,,
A
7to
I
t
Ee
E
7
Catatan: A, B . ..Pcngotoral Ritgaa
E,F . ..PengolorutBcrat
X.O.d.tu Adt6i Grm (rr/cr!)
Gbr. 2| Ifunktcrlsdf yrrgDlrekom'
drsltrn untuk (Pcrmnren)
Tegrryrn Kctrhanen Isolrtor
Betery-Pen[ng (Irog-R.od).
0,0t 0,02 o,03 4,05 0,07 0,t 0,2 0,3 0s
fcpr&r.r Adhai Gro (rr/c!)
Gbr. Zi Kerelteristikyeng"Dfuekomco"
drsiten untuk Percncemen
Tegangsn Ketehanen Isoletor
Gentung 230 mm.
3.4.2. Klasifikesi Drerrhdrereh Pengotoran
Berdasarkan pengalaman mengenai kerusakan terhadap saluran transmisi, maka
daerah-daerah pengotoran (contamination) dikelasifikasikan menurut Tabcl 16.
Pembagian ini dipengaruhi oleh kondisi geografis, misalnya, daerah yang banyak
mengalami banyak taufan (typhoon), daerah pegunungan, daerah dataran, dsb.
3.4.3. Crn-crre Penrngguhngrn Pengotorrn Genm den l)cbu
Untuk menanggulangi pengotoran yang menyebabkan penurunan tcgangan keta-
Trbel 16. Kdesffittesl Dsr[ PcoSpaoru
Kelasifikasi A B c D E F
Kcpadatan
Adhcsi Garam
(mg,/cm2)
di bawah
0,01 0,014,03 0,0H,06 0,064,12 o,l?4,?s
di etg
0*,
C,D. ..Pcttgotorusa-rt
32 BEb 3. IcoLtor Ponclin
hanan pada Isolator, (periksa
Gbr. 23 dan Gbr. 24) ditempuh cara.cara boikut:
(l) Menambah isolasi (misalnya dengan menambah
jumlah piringan
dalsm
gandengan).
(2) Mencuci isolator, yaitu dengan menyemprotnya dengan air, birsanya dalam
keadaan bertegangan
(hot-line washing).
(3) Memberi lapisan campuran silikon pada isolator untuk mcnangkal air (walcr
rcpcllcnt).
(4) Menurunkan tegangan sistim atau memutuskan arus saluran transniri bila
dipcrkirakan akan terjadi gangguan.
Data-data tentanB pengotoran di Indonesia tidak ada, sehingga urgensi penerapan
cara-cara di atas belum diketahui.
Pemhuuken Isolator
Karena dipakai selama bertahun-tahun, isolator berkurang daya isolasinya,
misalnya, karena mengatarni keretakan pada porselinnya. Proses ini dinamakan pem-
burukan (deterioration) isolator. Sebab-sebab utama dari pemburukan isola.tor adalah
pcngembangan kimiawi dan pengembangan pembekuan dari semen, perbedaan
dari
pcngembangan karena panas di berbagai bagian isolator, pengembangan panas karena
arus bocor dan berkaratnya pasangan-pasangan logam.
Untuk mencegah
proses pemburukan dilakukan hal-hal sebagai berikut:
(l) Meninggikan kuat-mekanis dari bagian porselin.
(2) Membatasi
pengembangan kimiawi dari bagian-bagian semen
(3) Mengecat (buffer paint) bagian-bagian semen
(4) Tidak menggunakan semen di dalam lapisan porsclin.
Isolatorjenis pasak (pin-type) paling banyak mengalami proses pemburukan sehing-
ga sering menyebabkan
gang.guan pada saluran transmisi. Isolator gantung, isolator
long-rod dan isolator line-post
jarang
menyebabkan
gangguan
karena pemburukan.
Dengan kemajuan tcknologi, maka isolator yang dibuat akhir-akhir ini sedikit sekali
mengalami
pemburukan.
Referensi
Rcfcrensi yang digunakan dalam Bab 3 adalah sebagai berikut:
l) Testing Methods of Innlators, Japanese Standards Association, JIS-C-3801, 1966.
2) Impulse Yoltage Testing, Japanese Electrotechnical Committee, JEC-!06, 1944..
3) Rccommcndation on High-Yolta9e Test Techniques, International Elcctrotcchnical
Commission, Publication 60, 1938 (Rcviscd l%2).
4\ 250 mm Clevis-Type Suspension Insulators, Japanese Standards Association, JIS-G
3810, 1966.
5) 250 mm Ball-and-Socket-Type Suspension Insulators, Japanese Standards Associa-
tion, JIS-C-3817, 1971.
6) Iang-Rod Insilators, Japanese Standards Association, JIS-C-3816, 1962.
7) Lin*Post Insulatorn, Japanesc Standards Association, JIS-C-3E12, 1968.
E) Spccial Study Committee, 'Coun&erplan for Salt Pollution of Transmission Linc-,
Results of lYorkshop on Transmission lfues, Electrical Coopcrativc Re*arch
Associatron of Japan, vol. 20, No. 2, April 1964, hal. l0l.
3.5
3.6
4.1
BAB 4. KONSTRUKSI PENOPANG
SALURAN TRANSMISI
Jenis Penopang
4.1.1. Menrn Beie den Tieng Brir
Jenis-jenis bangunan penopang
saluran transmisi yang
dikenal adalah menara-
menara baja, tiang-tiang baja, tiang-tiang bcton bertulang dan tiang-tiang kayu.
Menara baja adalah bangunan tinggi terbuat dari baja
yang
bagian-bagian kakinya
mempunyai pondasi
sendiri-sendiri, sedang tiang baja mempunyai satu pondasi untuk
semua bagian kakinya.
Menara baja untuk saluran transmisi dibagi menurut bentuk dan sifat konstruk-
sinya menjadi menara persegi, menara persegi panjang, menara
jenis
korset, menara
gantry, menara rotasi, menara M.c. dan menara bertali (guyed tower), periksa
Gbr. 25.
Tiang baja terbagi menjadi tiang persegi, tiang segitiga, tiang pipa
baja dan tiang
Panzer, periksa
Gbr. 26.
Menara-menara persegi dan tiang-tiang persegi sama bentuk dan kekuatannya
dan paling banyak disukai" Jenis-jenis ini banyak dipakai untuk saluran transmisi
ganda (double). Menara persegi panjang sama bagian atas dan bawahnya, serta banyak
dipakai untuk saluran tunggal dan saluran banyak (multicircuit). Menara
jenis
korset
sempit di bagian tengahnya, dan biasanya dipakai untuk saluran tegangan tinggi rang-
kaian tunggal (single circuit), serta untuk gawang (span) yang lebar. Menara gantry
digunakan bila saluran menyeberangi
jalan
kereta api,
jalan
raya srta kanal-kanal air.
Menara rotasi adalah menara yang bagian atasnya diputar45o di atas bagian bawahnya.
Menara M.C. terbuat dari pipa-pipa
baja yang diisi beton. Menara bertali mempunyai
konstruksi berengsel yang menunjang beban mekanisnya dengan kawat-kawat penahan
(stay wires).
Tiang-tiang baja segitiga adalah konstruksi yang terdiri dari tiga kaki yang mem-
punyai bagian-bagian segitiga samasisi (equilateral)
dan diagonal-diagonal seperti
pada tiang-tiang persegi. Tiang-tiang
jenis
ini dipakai pada kawat-kawat transrnisi
yang bebannya ringan. Tiang pipa baja dibuat dari pipa baja dengan penampang
bulat.
Tiang Panzer terbuat dari plat-plat baja tipis yang dipasang di tempat dengan penopang
tiang.
Menara-menara transmisi terbagi menurut karakteristiknya menjadi menara baja
kaku (rigid), lentur (flexible)
dan setengahJentur (semi-flexible). Menara kaku diren-
canakan untuk rhenahan beban yang diperkirakan oleh menara itu sendiri, sedang
menara lentur dan setengah-lentur direncanakan tanpa atau scdikit sckali bcban pada
arah kawat.
Menara transmisi baja dibagi menurut objek atau tujuan penggunaannya
sebagai
bagan berikut:
Bab 4. Kmstnrlsi Pcoopang Saluran Transmisi
menara singgung
(tangent tower; diterapkan bila
sudut mendatar kurang dari 3')
Menara-mcnara baja untuk
gawang standar kadang-kadang disebut
juga
menara
standar.
4.1.2. fieng Beton Bertutug
.:
Tiang beton bertulang
(steel reinforced concrete
poles) dapat dikelasifikasikan
menurut cara pembuatannya dan menurut cara menghimpunnya
(assembling). Kelasi-
A
Scgitiga
Jcrds-Jcds Ttrry-EolL
Tuacgal Jcnis H Jcois A
Jenis Gcrbang'
C,V.n KehslEkasl Ttsrg Bots Brtu-
lrng drn Thg IfuYu mcnunat
Cera MeoghlnFnnys.
34
o
Panzer
o
Pipo Baja
T
Persegi
Gbr, 25
tr.
gBHffi
tl
,r--r
tr
GmtrY
Fcryi Fcrt{iDraiuf l(orrt
ffififfi
O
t]
Bcrtali
(GuYcd)
Rotari M. C.
GDt Zt Jcol&Jcnls
Mcnrn B$'
4.1 Jcnis Pcnopang
fikasi menurut objek sama dengan menara baja.
Tiang beton bertulang dikelasifikasikan menurut cara pembuatannya dalam pem-
buatan dipabrik atau pembuatan setempat
(on-site).
Tiangbeton bertulang dikelasifikasikan menurutcaramenghimpunnya sebagai tiang
tunggal,
jenis
H,
jenis
A, atau
jenis gerbang-kuil (shrine'gate), seperti terlihat pada
Gbr.2'1.
4.1..3. Tiang Kayu
Oleh karena penanganannya (handling) yang sederhana dan harganya yangjauh
lebih murah dibandingkan dengan tiang atau menara baja, maka penggunaannya
sangat direkomendasikan untuk Indonesia. Harga yang lebih murah ini disebabkan
karena perencanaan untuk penopang baja biasanya lebih konservatip dibandingkan
dengan perencanaan tiang kayu. Pada umumnya, konstruksi baja direncanakan untuk
dapat menampung secara aman putusnya satu atau dua kawat, sedang konstruksi kayu
tidak. Oleh karena itu, masuk akal bahwa alasan untuk memilih konstruksi baja yang
lebih mahal harus dikaitkan dengan kebutuhan akan perencanaan yang konservatip,
dan bahwa kondisi yang dapat membenarkan pemakaian konstruksi kayu yang lebih
ri-rurah dan berumur lebih pendek dikaitkan dengan bahaya
gangguan yang sifatnya
lebih teoritis. Keuntungan yang lain adalah bahwa kayu merupakan isolasi yang baik
terhadap petir. Tiang kayu yang terhubung seri dengan isolator porselin memberikan
perlindungan terhadap petir yang sama dengan isolator keramik yang ditanahkan
apabila
jumlah
isolator dalam gandengan terakhir ini lebih banyak.
Rencana konstruksi penopang tergantung dari karakteristik penopang tersebut,
artinya apakah ia kaku (rigid) atau ada kelenturannya
(flexible) menurut arah saluran.
Tiang kayu dan beberapa
jenis
konstruksi penopang baja
(periksa 4.1.1) termasuk
dalam kategori terakhir, dan dalam perencanaannya biasanya hanya dihitung tekanan
angin melintang (transverse) terhadap saluran dan konstruksi penopangnya. Tarikan
longitudinal oleh kawat biasanya diseimbangkan pada kedua belah pihak konstruksi.
Tetapi bila satu atau dua kawat putus pada satu pihak, maka terjadilah beban yang
tidak seimbang yang mungkin
jauh
lebih besar dari tekanan angin melintang tadi.
Konstruksi penopang yang lentur
(flexible) dapat menyerap dengan cepat ketidak-
seimbangan ini. Konstruksi pada kedua pihak gawang (span) melentur ke arah gawang-
gawang yang berdekatan, dan pergerakan dari puncak tiang memungkinkan
pengen-
doran tegangan kawat pada gawang-gawang tadi karena andongannya
(sag) bertambah.
Defleksi dari tiang yang kedua dan ketiga sesudah gawang yang lepas
(putus) juga
keiihatan, meskipun defleksinya makin lama makin kecil
lbiasanya
tidak tampak lagi
pada tiang kelima). Makin besar kelenturan konstruksi penopang, makin kecil beban
tambahan yang harus dipikul oleh tiang manapun. Meskipun demikian, diadakan
juga
sekedar kekakuan longitudinal dengan memasang menara-menara penahan (anchoring
towers) yang kaku denganjarak antara 2 km, dengan maksud untuk menahan putusnya
satu (di antara tiga) kawat pada satu pihak atau beban melintang.
Cara menghimpun tiang kayu sama seperti tiang beton, periksa Gbr. 27. Di Amerika
Serikatjenis H telah dipakai untuk saluran dengan kelas tegangan I l0 kV, 132 kV, 154
kV dan 230 kV sejak 42 tahun yang lalu. Berdasarkan atas pengalaman ini, maka
jenis
H
atau
jenis gerbang-kuil telah dipakai untuk saluran dengan tegangan 345 kV sejak l0
tahun y4ng lalu. Penggunaan tiang kayu (biasanya tunggal) untuk saluran 66 kY adalah
35
36 Bab 4. Konstrutsi Pcnopang Saluran Transmisi
hal yang biasa di Amerika Serikat; karena itu penggunaan tiang baja hanya dibenarkan
bila salurannya berat sekali. Bentuk A atau H dipakai bila dikehendaki kekuatan melin'
tang yang lebih besar (1-5 kali) dibandingkan dengan tiang tunggal. Kira-kira 40 tahun
yang lalu di Inggris telah dikembangkan tiang ganda (double-pole structures)
yang lebih
efrsien, misalnya tiang Rutter,"
yang memiliki ketahanan
yang tinggi terhadap kerun-
tuhan karena kekuatannya enam kali lebih besar dari tiang tunggal.
Ada tiga
jenis
kayu yang dipakai sebagai konstruksi pnopang di Amerika Scrikat,
yaitu Douglas Fir
(pohon den), Southern Yellow Pine (sejenis cemara) dan Westcrn
Rcd C.edar
(pohon aras), yang semuanya diawetkan. Penggunaan kayu yang tidak
diawetkan dianggap tidak ekonomis lagi, sesudah persediaan kayu keras (Chestnut dan
Northern Cedar) habis. Pengawetan
(preservative treatment) diperlukan karena kayu
mcnjadi rusak oleh sejenis cendawan
(fungus). Cendawan memerlukan udara, kelem-
babaa dan makanan untuk hidupnya; makanan ini diambilnya dari kayu. Bahan
pc-
ngawct mengandung racun yang mematikan cendawan tadi.
Ada dua kelas pengawet, yaitu yang larut air (water borne) dan yang larut minyak
(oil borne). Pengawet larut air, misalnya CCA (Copper-Chrome-Arsenate), lebih bersih
daripada
pengawet larut minyak, seperti Creosote dan Pentachlorophenol
(PCP).
Kecuali itu, CCA mempunyai daya lekat yang kuat sehingga praktis tidak berkurang
konsentrasinya setelah 20 tahun dan tidak memerlukan
pemeliharaan. Namun, karena
pengalaman lain yang memberikan hasil positip di Amerika Serikat ada kecenderungan
untuk menggunakan
pengawet larut minyak, terutama PCP.
Di Indonesia terdapat berjuta-juta hektar hutan kayu dengan k.l. 90
jenis
kayu
bangunan dan k.l. l0
jenis
kayu yang dapat digunakan sebagai tiang transmisi. Menurut
survey
yang dilakukan oleh Lembaga Masalah Ketenagaan dalam tahun 1961,
jenis
kayu yang banyak dipakai oleh Perusahaan Listrik Negara terutama untuk distribusi
adalah kayu Ulin
(Eusidiroxylon Zwageri), Jati (Tectona Grandis), Rasamala
(Altang-
hia Exelsa Noronha, sejak tahun 1938), Nani
(Metrosideros Petiolata/Vera), Giam
Tsbel 17. Perbanding$ Sifat dgn Kekuaten Tiang Kayu Amerlka
dan
Indonesie
Jcnis Kayu /o
Kelembaban
Berat
Jenis
Gm/cm3)
Tegangan
Serat
(kg/cm2)
Moduius
Elastisitas
(kg/cmz)
Kuat
Tindast
)
(ks/cmz)
d
l.
a)
E
a
T
e
)1
DOUGLAS FTR t2 0,41 548 137.000 522,
SOUTHERN
YELLOW PINE t2 0,51 548 127.m0 498
WESTERN RED
CEDAR
t2 0,33 422 79.(m 353
c
0
6
.E,
g
x
al
v
DAMAR
(Agathis
I-aronthyfolia,
r5,1 0,45 281 54.000 295
RASAMALA
(Altinehia Exelsa
Noronha)
14,1 0.80 575 92.000 598
ULIN
(Eusidi-
roxylon Zwagcri).
I 5,5 1,04 l1t3 184.000 73,4
rr
Crushtng StrcBth; Tckanan Scialo dengan Scrat
(Grain).
,tli r',@!.hr:-trl
..rl. . I
12 Eebro g.dt
Konctrutsi Fcoopang 37
(Cotylebolium
mula Utxylon Pcrc) dan Bakau (Shorea
Elliptica). Kecuali kayu Ulin
yang keras, kayu-kayu lainnya diawetkan dengan berbagai cara.
Perbandingan sifat antara kayu Indoncsia dan Amerika tertera pada
Tabcl 17.
Dari Tabcl ini dapat dilihat bahwe kayu Rasamala mempunyai sifat-sifat yang
me-
nyerupai Douglas Fir dan Southern Ycllow Pine. Menurut pengalaman PLN umur tiang
kayu Rasamala yang
diawctkan berkisar antzra lt-20 tahun. Karena kckcrasan dan
kckuatannya, kayu Ulin dapat digunakan tanpa diawetkan. Kayu Ulin yang
tidak dia-
wetkan rclah dipasang di kota Jepara (Iawa
Tengah) lebih dari 30 tahun yang
lalu dan
masih dalam keadaan baik.
Menurut pengalaman
di Swedia, Amerika Serikat, Australia, dll. penggunaan
tiang kayu ternyata menghasilkan penghematan
biaya investasi yang tidak kecil. Di
Amerika Serikat, penghematan
tiang kayu terhadap tiang baja mencapai l0/. dari
biaya konstruksi (k.1. bcberapa ribu dollar per km).2) Dalam pcnghematan
ini rcrmasuk
pula penghematan
dalam biaya pembebasan tanah untuk
jalur
transmisi. Penghematau
juga
terjadi karena pemeliharaan
hampir dapat diabaikan. Sebaliknya, menara-menara
baja memerlukan pemeliharaan yang tidak kecil. Sesudah 20-125 tahun menara-menara
baja harus dicat kembali seluruhnya. Pengecatan itu perlu diulangi tiap-tiap 7-8 tahun
sesudah itu. Menurut pengalaman,2)
biaya pengecatan
setahun untuk menara 69 kV
sepanjang 350 mil bcrjumlah $70.000. Berdasarkan atas kenyataan di luar negeri ini,
dan pengalaman
dengan tiang distribusi di dalam negeri, maka dewasa ini usaha
memperluas penggunaan
tiang kayu terus dikembangkan.
4,2 Beban pada Konstruksi Penopang
Dalam merencanakan konstruksi-konstruksi penopang (supporting
structure)
diandaikan sesuatu beban tertentu. Beban ini biasanya ditetapkan dalam standar-
standar. Oleh karena standar di lndonesia tidak ada, atau kurang sesuai, dalam buku ini
akan digunakan standar Jepang.
4.2,1. Telonrn Angin
Kecepalan angin untuk perencaruors) di Jepang adalah 40 m/sekon untuk masa
April sampai Nopember, diukur pada ketinggian 15mdi atastanah. Nilai ini didapat
dari penyelidikan
di seluruh negara dengan mengukur keccpatan angin maksimum
rata-rata selama l0 mcnit.
Untuk musim suhu-rendah Desember sampai Maret kecepatan perencanaan
adalah 27 m/sekon.
Apabila kecepatan maksimumnya besar, misalnya pada penyeberangan
sungai
atau untuk ketinggian yang lebih besar, kecepatan perencanaannya
disesuaikan dengan
hasil pengukuran.
Kecepatan naiknya kecepatan angin tergantung dari kondisi permukaan
tanah dan
skala kecepatan angin. Naiknya kecepatan angin di udara dapat ditulis dengan pe6a-
maan yang dihasilkan dari data-data di beberapa negara sebagai berikut:
Yr: Yo(hlh)'i'
dimana Vt: kecepatan angin perencanaan pada ketinggian i meter (m/s)
%
-
kecepatan angin perencanaan
standar (m/s)
io
:
ketinggian standar (15 m)
i
:
tinggi dari permukaan
tanah (m)
(41)
Tabet lE. Tekanan A4in dsn Koefrstcn Talrmn (pedll{l n/s)
Kelasifikasi
Tckanan
Angin
(ks/m2)
Kocffisicn
Tahanan Crtatan
Jcnis
Tiang Baja
Tiang Kayu
80 0,8
Penampang Bulat
80 0,E
Penampang Segitiga atau Jajaran Genjang
190 1,9
Penampang Persegi terdiri dari Pipa-pipa Baja t50 1,5
Lain-
lain
Bila Penguat (Bracing) dipasang pada Arah yang
sama di kedua Muka, Depan dan Belakang, ke arah
Tekanan Angin
220 2,2
Tiang Kisi-kisi Terdiri dan
Baja Siku
LainJain
2& 2,4
Penopang
Tiang Beton Bertulang
Penampang Bulat
80 0,8
LainJain
120 t,2
Menara Baja
Terdiri Pipa-pipa Baja
170 t,7
I-ain-lain
290 2,9
Palang (Travers) pada
Tiang Kayu, Tiang
Baja atau Tiang Beton
Bertulang
Palang Tunggal
160 1,5
[.ain-lain
220 2,2
Jenis Kawat
yang
Direntang
Penghantar Tunggal
100 1,0
Kawat Berkas
90 0,9
Sctiap Dua Kawat Bcrkas
Dipasang Mendatar
dcngan Jarak Kurang dari
Dua puluh kali Diamcter
Pcnghantar
Gandengan Isolator
1,{() 1,4
Hanya untuk Saluran
Tegangan Tinggi Khusus
(,
6
E'
D
C
i
x
o
E'
6
3
F
b
n
o
t,
o
rc
D
E'
GI
(n
D
c
T
E
Fl
c
tr
a
E.
o
#i- ....-;.'- -;;.,-"
4.2 Beban pada Konstruksi Penopang
Beban yang disebabkan karena tekanan angin terhadap konstruksi penopang,
kawat-kawat dan gandengan isolator dinyatakan oleh persamaan:
P
:
Cl(l1z)pY'zls
dimana P: beban karena tekanan angin (kg)
C: koeffisien tahanan yang berubah menurut bentuk barang
Z
:
kecepatan angin (m/s)
/
:
kepadatan udara (kgs/ma)
5
:
permukaan yang kena angin (m2)
Oleh karena harga C berubah dengan barang yang kena angin, maka pengujian-
pengujian di terowongan angin perlu diadakan untuk menentukan koeffisien tahanan
apabila menara baru dibangun. Koeffisien ini sukar ditentukan, apalagi untuk benda-
benda tiga dimensi seperti menara atau tiang baja, karena ia tergantung bukan saja
kepada bentuk seksional dari bagian-
bagiannya, tetapi
juga
kepada faktor
0'7
substansialitas, yaitu perbandingan
antara luas bagian-bagian pada suatu
o,1
panel terhadap luas seluruh panel, dan
faktor magnifikasi, yaitu perbandingan
)
antara
jarak
bagian depan dan bela-
E
"t
kang terhadap lebar bagian. Contoh
E
dari ketergantungan koeffisien tahanan
E
o',
dari substansialitas ini terlihat pada
Gbr. 28. Koeffisien tahanan untuk
o,t
benda-benda yang penampangnya bulat
seperti tiang kayu, pipa-pipa baja dan
kawat-kawattergantungdarikecepatan
0
angin (40 m/s) dan diameter luarnya.
Koeffisien tahanan untuk berbagai
jenis
konstruksi tertera pada Tabel 18.
Untuk kecepatan 2G-40 m/s koeffisien
tahanan dapat dianggap konstan.
Dalam perhitungan tekanan angin untuk menara dan tiang baja daerah proyeksi
dari satu permukaan konstruksi adalah daerah yang terkena angin, dengan menga-
Tabel 19. Tekanan Angin Ekivalen pada Menara Baja
39
(42\
Ar
\
'_I--r--
Ar: Ilt Pmmprn3 yrn3
Torkm Angiu
p
A: Ianr ParmD.r3 SclF-
\
ruhnye(Dimmi
I{r,
\
tor .lcn![ Ar)
\r I
I,5 2,0 2,5 3,O 3,5 1,0
Xefiria Trhrnrn C
Gbr.2t Koeffsien Tahanan untuk
Menara Persegi.
Tinggi Menara
(m)
Menara Sudut Menara Pipa
Biasa
(kg/m2)
Untuk EHV
(ke/m2)
Biasa
(ke/m2)
Untuk EHV
(ke/m2)
kurang dari 40 290 3t0 170 180
50 310 330 180 190
60 330 350 lm 200
'to
370 2t0
80 390 220
40
Bab 4. Konstrutsi Penopang Saluran Transmisi
baikan kemiringan (inclination) bagian-bagian komponennya. Daerah proyeksi (pro-
jected
area) untuk tiang kayu, tiang beton bertulang dan gandengan isolator adalah
daerah konstruksi yang terkena angin.
Untuk perencanaan konstruksi penopang digunakan tekanan angin standar, yang
contohnya tertera dalam Tabel 18. Dalam praktek perencanaan menara-menara tega-
ngan tinggi EHY, menara-menara banyak-rangkaian dan menara-menara penyeberang
sungai atau lembah, tekanan angin untuk menara-menara baja dinaikkan untuk menam-
pung kenaikan kecepatan karena ketinggian tempat serta kenaikan koeffisien tahanan
karena substansialitas menurun. OIeh karena itu untuk menara-menara baja
yang
tingginya lebih dari 40 meter digunakan harga-harga seperti pada Tabel 19.
4.L2. Kuat-TerilPenghenter
Kuat-tarik kerja maksimum untuk kawat yang direntang diandaikan sbb:
(l) kUrang
dad
{,
2 kali kuat-tarik
maksimumnya
(ultimate tensile strength),
untuk
penghantar tembaga "hard-drawn"'
(2)r,rangoua},5kalikuat-tarikmaksimumnya'untukpenghantarlilit.
Bila ada ,udr, .ina"tar
pada saluran
transmisi,
maka terdapal
komponen
goya
mendatar karena tarikan
kawat.
Komponen
ini dinyatakan
oleh rumus
(periksa Gbr'
29\:
(43)
(44)
dalam hal biasa:
H.
:
2P sin 01,
dalam hal khusus:
H,: Pr sin01 *
P, sin0,
dimana
II.
:
komponen
gaya mendatar
(kg)
P
:
tarikan kawat
yang diandaikan
(kg)
Q' 0
P
0z:
sudut-sudut
mendatar
Bebantegakterhadaptitiktopangadalahjumlahberatkawatdangandenganisola.
tor ditambah
dengan
to,,pon"n
regat Oari iarikan
penghantar' Beban tegak
pada
titik B
(Gbr. 30) dinyatakan
oleh
persamaan:
t
w,:
)1$,t w,XS, *
sr) *
P(tao
'r
*
tan d') t
w'
(4'
dimana
7,
:iumlahbcbantcgak(kg)
rl,
:
bcrat
$atuan Penghantar
(kg/m)
,,: u"'li
*t*"'u"'a"-u"oo"J"ii
pada
penghantar'
misalnya
es dan
salju
(kg/m)
:
o untuk
Indonesia
wr
:
berat
gandengan
isolator
(kg)
P
:
tegangBn
kawat
mcndatar
(kg)
h
rdr
Gh.30
Gbr.29
t.2 Bcber pada
Konctnrtli Falopang 4l
Sr, Sz
:
lebar gawang scbclah menyebclah
(m)
6p 6r: sudut tegak terhadap tiang-tiang scbelah menyebclah
Kecuali beban-beban di atas, beban-beban lain scperti beban eksentrik tegak drn
beban-beban tak-seimbang perlu
diperhitungkan bila ada.
4.2.3. Tegrngen pade Begian.Bagian Brie
Tegangan (slress) yang diperbolehkan terhadap bagian-bagian mcnara transmisi
ditetapkan dalam standar-standar. Di Jepang, misalnya digunakan standar-standar
sebagai Ssriftul'r,rt
tegangan-tarik (tensile stress) yang diperbolehkan
(asal
kurang *,
q#)
tegangan-tekan (compression stress) yang
diperbolehkan
tegangan-lentur (bending stress) yang diperbolehkan
tegangan-geser (shearing stress) yang diperbolehkan
r
O,1oa
\
(asal
kuran8 duri
t,sJT
I
tegangan-pikul (bearing stress) yang diperbolehkan
tegangan-lekuk (buckling stress) yang diperbolehkan
dinyatakan oleh persamaan-persamaan berikut:
bila0<l*<A:
(46)
(17)
(48)
6.
1,5
-Oy
_[5
-Oy
_
i;5
:#
(4e)
:
l,loy (50)
(51)
asatA
:"Jffi
dimana
or
:
tegangan lumer (yielding stress) dari bahan (kg/cm,)
oa: tegangan-tarik rnaksimum dari bahan (kgicm,)
Ir
:
perbandingan kerampingan efektip
:
-L.
(53)
[
:
panjang
"buckling" dari bahan (cm)
7
: jari-jari girasi (gyration) dari daerah permukaan
bahan (cm)
.E: modulus elastisitas
:
2,1 x 106 (kg/cmr)
A
:
nilai batas dari l,*
K, Ko, Kr, Kr: koeffisien yang tergantung dari konstruksi dan bentuk bagian
bahan seperti tertera dalam Tabel 20.
Perbandingan kerampingan (lylr) dari bagian-bagian yang tertekan dibatasi oleh
hal-hal sebagai berikut:
(a)
tidak lebih dari 200 untuk bagian-bagian utama (termasuk lengan/palang);
(b) tidak lebih dari 220 untuk bagian-bagian yang tertekan, kecuali bagian-
bagian utama;
o
r,
:
*\K
o
-
K,
(*7",)
-
x,(fu),l
t
bila A
(
.1.:
I nzE
d
vk.
a a
't2
LsL Ak
(52)
42 Eab.l. Kmctrukci Fcoopang Saluran Transmisi
Trbd 20. Nlhl-Nlhl K, X6 K1, K2
Ekscntrisitas x Ko Kt Kz
(t) Kccil sckali, misalnya
peda pipr bqp,
pcnampanS pctscgi,
dsb.
0r6 1,0 0 0,352
(2) Rclatip kccil, misalnya poda bafien-
bagian utama
yang terdiri dsri bqia siku
sama-sisi
@a
satu lapisen.
0,5 0,945 0,0123 0,315
(3)
Bcsar, scpcrti bile bsgian-begian kccil
tcrhubungkan pede satu f,angp.
0'3 0,939 0,424 o
Calatan: Unt*
(3\
digumkor persornun
o*.:#o,
(c) tidak lebih dari 250 untuk bagian-bagian
pelengkap (auxiliary) yang mem-
perkuat bagian-bagian yang tertekan.
Dalam standar-standar ditetapkan ketebalan minimum dari bagian-bagian menara
dan tiang baja sebagai berikut:s)
(a) Untuk lempeng baja biasa: 4 mm untuk bagian-bagian utama dari
(termasuk palang), 5 mm untuk bagian-bagian utama dari menara,
3 mm untuk bagian-bagian lainnya.
(b) Untuk pipa baja: 2 mm untuk bagian-bagian utama dari tiang baja, 2,4 mm
untuk bagian-bagian utama dari menara baja, serta 1,6 mm untuk bagian-
bagian lainnya.
Untuk melindungi bagian-bagian baja dari karat dipakai cara mengecat dan cara
galvanisasi. Cara tcrakhir lebih disukai di Jepang, yaitu dengan "hot-dipping".
4.3 Menara Baja Transmisi
4.3.1. Rencrnr Menere Brie Trrnsmisi
Penentuan gawang (span) standar merupakan kunci dalam perencanaan (design)
menara dan saluran transmisi secara keseluruhan. Oleh sebab itu hal ini harus dite-
tapkan mengingat pertimbangan-pertimbangan ekonomis dilihat dari segi tegangan,
jumlah
rangkaian, konstruksi penghantar dan menara, keadaan udara serta peng-
gunaan tanah. Sebagai contoh, Tabel 2l menunjukkan gawang standar yang dipakai
di Jepang.6)
I*bu kaki (stance) menua ditentukan s@ara ekonomis mengingat
jenis
menara,
beban, tinggi menara,
jenis
bagian-bagian menara, keadaan tanah dan penggunaan
tanah. Untuk menara standar (ienis pcrsegi) lebar kaki ini diberikan dalam Tabel22.
Trbel 21. Gawrqg Strillsr
Tegangan Nominal Gawang Standar
(m)
kurang dari 77 kY 2@-250
r54 kY 250
-
300
275kv 300
-
350
tiang
srta
Jenis Menara kbar IGki
Menara Singgung atau Menara Sudut-Kccil
+
-*
d*i Tinggi Menara
Menara Sudut-Besar atau Menara Ujung
*-*
a"ri Tinggi Menara
4.3 Mcnara Bqia Transnisi
Trbel2e Lebor X.kl (Stuce)
IVlcorrs B{.
Tabel 23. Komblnest Bcban pads Memre Bah
Catatan: Beban yang ditandai dengan o diperhitungkan secara Simultqn.
W,
:
Bcrat Menara, W"
:
Berat Saluran Udara dan Isolator'
Hi
:
Tekanan Angin pada
Menara karena Angin Tegaklurus pda Saluran (atau Sejqlar)
H"
:
Tekanan Angin pada
Saluraa dan Isolator karena Angin Tegaklurus pada
Saluran
Ho: Komponen Mendatar Melintang dari Tegangon Moksimum Saluran kareru Sudut
. Mendatar dari Saluran. (atau Sejajar)
4,e'
:
Gaya Putar (Torsional)
karena Putusnya Kawat
P1
:
TeganganTak-Seimbang
Normal
P2
:
Tegangan Tak-Seimbang karena
putusnya
l(awat
Ada dua
jenis
bebu yang diandaikan (assumed), yang peitama
beban yang nonnal
dimana kawat tidak putus, yang kedua beban tidak normal dimana kawat putus. Dalam
Tabel 23 ditunjukkan contoh berbagai
jenis
beban yang
diterapkan pada
beberapa
jenis
menara. Gaya-gaya yang
tidak seimbang berubah menurut
jenis
menara,
jumlah
rangkaian, dsb. Oleh karena itu hal ini ditetapkan dalam standar-standar.
sesuai dengan kombinasi berbagai beban yang
diandaikan maka gaya yang
bckerja setiap bagian menara dihitung. Harga maksimum dari perhitungan ini ditetap-
kan sebagai tegangan perencanaon
normal dan luar-biasa. Dalam hal palangnya (arms),
nilai yang
tertinggi dari tegangan perencanaan
normal dan tegangan perencanaan
luar-
biasa ditetapkan scbagai tegangan
lrcrencanaan
(design
stress).
43
fair Mann Kondiri
Arah Angi!
Tcrhadap
Kawat
KoEbhrli B.D.a
Bcbro
Vcrtitsl
Bcb.a Mcod.t r
Mclirtrn8
Dcbra ltlcodrler
Ldsiuliorl
Wt w, Ht Ec Ht e Hi Pr Pt
q'
Mcoan SiagCung
atau
Mcorrr Sudut
Noml
Tqst lurut o o o o o
Scjrjrr
o o o o
Kawat Putug
Tcsat luur
o o o o o o o o
Scjsjar
o o o o o o o
Mcaare ujuaS
Norml
Tegak Iuru U o o o
Scjsj.r a)
o o
Krwrt Putu!
Tcgal lurur
o o o o o o
Scjejer
o o o o o
Mcnara Pencgaag
Normal
TcSAk lurut
o o o o
Scjejar
o o
Kswat Putus
T4ak lurut o o U o o o
Scjsjrr
o o o o o o
4 Bab 4. Konstruksi Pcnopang Saluran Transmisi
Perhitungan gaya (tegangan-stress) untuk bagian-bagian menara dilakukan dengan
cara diagramatik dan cara komputasi; cara diagramatik lebih mudah dan lebih disukai.
Dewasa ini perhitungan-perhitungan banyak dilakukan dengan komputer.
Untuk tegangan perencanaan normal, gaya yang diperbolehkan untuk perencanaan
normal adalah sepefti diuraikan dalam 4.2.3, serta untuk gaya perencanaan luar biasa
gaya yang diperbolehkan sebesar I,5 kali gaya normal
juga
dipakai; yang terbesar
diantaranya dipakai untuk penampang bagian-bagian menara.
4.3,2, Pondesi Menara
Kuat-pikul tekanan (compression bearing strength) dari pondasi adalah kuat-pikul
tekanan pada tanah di dasar pondasi. Kuat-pikul angkatan (uplift bearing strength)
dari pondasi adalah
jumlah
berat pondasi, berat tanah pada dasar pondasi serta gaya
tahanan pada permukaan sorong
(sliding surface).
Kuat-pikul mendatar dari pondasi (horizontal bearing strength) terdiri dari kuat-
pikul dari tanah di sisi pondasi serta gaya
Bergeseran
pada dasarnya.
Dengan memperhatikan faktor-faktor seperti tertera dalam Tabel 24 maka perhi-
'tungan
perencqnaan pondasi dilakukan dengan cara berikut:
(l) Perhitungan kuat-pikul untuk pondasi dimana gaya tekan ditambahkan
dinyatakan oleh persamaan:
q:>C+ G_+w"
(54)
F- A
dimana q'
:
kuat-pikul tekanan terhadap tanah (t/m'z)
F: faktor keamanan
C
:
gaya tekan (yang dihitung) oleh menara (t)
G
:
berat pondasi (t)
W,: berat tanah pada pondasi (t)
,{
:
luas permukaan pada dasar pondasi (m2)
(2) Perhitungan kuat-pikul untuk pondasi dimana gaya angkat ditambahkan
dinyatakan oleh persamaan :
,-(v-,-!)-!-9.>
r
(ss)
t-
dimana r'
:
berat tanah per satuan isi ekivalen (t/m3)
Y"
:
isi piramid terbalik pada pondasi dihitung dengan sudut
effektip dari tanah terhadap gaya angkatnya
:
D'(Bz
+
zBD' tan0
*
!
p'r
1un,0) untuk piramid (56)
:
f,
o'g,
+
2BD'tan 0 f
!
o'z tanz 01
untuk teras bundar
(circular core) (51)
V',: isi pondasi di bawah permukaan tanah (mr)
T
:
gaya angkat yang dihitung dari menara (t)
B, D'
: jarak-jarak
seperti pada Gbr. 3l
0: sudut effektip dari tanah yang menentang gaya angkat.
4.4 Tiang Transmisi Baja
Tebel 2|. Kondlsi-Kondlsl Ettt* FerhltumSnn Pondssl
Catatan: Kasus-I: Tanah Keras (di Daerah Pegunungan, dsb)
Kasus-II: Tamh Lembek
(di
Sawah, dsb)
Kosus-III: Tanah Sangat Lembek
(di
Rawa, dsb)
Kasus-IY: Taruh Sangat Lembek dan Banyak Air Memancar Keluar
(3)
Gaya mendatar tergantung dari kea-
daan waktu menimbun tanah kem-
bali (backfilling) dan biasanya diper-
kirakan sebesar
+-l
kuat-tekan
dari tanah. Gaya ini tidak penting
untuk pondasi-pondasi
beton, tetapi
perlu diperhatikan dalam hal pondasi
kerangka baja.
4.4 Tiang Transmisi Baja
4.4.1. PerencenunTirrg
Dalam pemasangan tiang baja harus diperhatikan bagaimana caranya agar peker-
jaan-pekerjaan
pada tiang (termasuk perawatannya) dapat dengan mudah dilakukan;
juga
agar terjamin
jarak-bebas (clearance) dengan penghantar dan kawat
penahan
(guy
wire).
I*bar kaki tiang persegi adalah
t-*
dari tinggi tiang untuk tiang singgung
45
)-
Faktor Kasus-I Kasus-II Kasus-III Kasus.IV
Sudut Efrcktif dari Tekanan terhadap Pcngangkatan 30' 200 100 0'
Bcrat Tanah r'(t/m3) t.6 t,5 l14 l'3
Kuat-Pikul Tekanan
e'(tlmz1
@ 40 20 t0
t,
Gbr.31 Poodrsi Mcnere Blts.
TrDel25. Komblnrsl Beban pede Tlrng Brje
Jcnir
TiuS
Anh Aqia
terhrdrp
Srluna
Konbinri Bcbrn
Bcb.! V.nikrl Bcbrn Mcndrtrr Mcliotru
Bcbrn Mcnd.t t
Londtudinrl
Bcnt BGr.t
firng Pmahantrr
Komponcn
V6tikrl
krnm
Krwrt
Pcnehrn
Tcl(rDra
Anain
prdr
Tirn8
Tckrnen
Anain
p.dr
Kawat
Komponca
MclintroS
krrcnr
Sudut
Mcndrtrr
Tckrnrlt
Atrain
prdr
ThoS
Tc3rnjen
Ujunt drn
Tsrrqrn
Trl-Scim-
b.o3
Tiena
Sifunl
TGt k Lurut o o o o o
Tieni
Sudut
Sejrhr
o o o
Ti.na
Ujunt
Tqrt Iurur
o o o o o o
Scjrhr o o o o
Tirnf
Pcocrrnr
Tqrh lurur
o o o o o o
Sehirr
o o o
J
o o
I "".-
,',: .
1t r;_
.ltrt:i
46
Bab 4. Konstruksi Penopang Saluran Transmisi
(tangent pole) dan tiang sudut (angle pole) serta
{
-{
dari tinggi tiang untuk tiang sudut-
besar dan tiang ujung.
Beban yang diandaikan pada tiang baja serupa dengan beban pada menara baja,
sedang kombinasi bebannya diterapkan pada kondisi bahwa berbagai beban seperti
tertera dalam Tabel 25 dijumlahkan secara simultan'
Kuat-tarik dalam keadaan tidak seimbang karena putusnya penghantar tidak
dipertimbangkan untuk tiang singgung dan tiang sudut; tetapi untuk tiang ujung (dead
end
poles) kuat-tarik tidak seimbang ini dipertimbangkan. Untuk tiang penegang (ten-
sion) beban yang tidak seimbang sebesar
]
dari gaya kerja maksimum diterapkan.
Bila digunakan tali penahan (stay wires) direncanakan
penahanan j dari tekanan
angin terhadap penghantar dan tiang oleh tiangnya sendiri.
Seperti
juga pada menara baja perhitungan tegangan (stress) pada tiang baja dila-
kukan dengan cara diagramatik dan cara komputasi. Karena konstruksinya yang lebih
sederhana, cara komputasi digunakan:
(l) Tegangan
pada bagian-bagian utama:
p,
:z#sec
d+
f,{w,
* zw,)
dinrana Pn: tegangan bagian utama (kg)
ZM
: jumlah
momen terhadap beban mendatar (kg.m)
3
: jarak
antara bagian-bagian utama (m)
W,: berat tiang baja (kg)
ZW":
jumlah
beban tegak dari kawat dan isolator (kg)
c
:
kemiringan bagian utama
nt, n
:
koeffisien
yang tergantung dari
jenis
tiang:
m
--
2n
:
4 untuk tiang persegi dan rn
:
I n
:
3 untuk
tiang segitiga
*
:
*
artinya tegangan-tekan dan-artinya tegangan-tarik
(2) Tegangan pada bagian-bagian
penguat (bracing member)
po:
*zH
sec
B
(se)
dimana Po: gaya terhadap bagian
penguat (kg)
ZH
: jumlah
beban mendatar yang tergantung di atas titik tertentu
(ke)
/
:
sudut gradien terhadap
garis mendatar dari bagian
penguat
z
:
koeffisien
yang tergantung dari
jenis
tiang, seperti pada
bagian utama
Tegangan yong diperbolehkan serta
pemilihan bagian-bagiannya serupa dengan
ketentuan
pada menara-menara baja, meskipun di sini tidak ada pemisahan antara
beban normal dan luar biasa. Semua
perhitungannya dilakukan seperti dalam keadaan
normal pada menara baja.
Gaya tarik pada kawat
penahan (stay-wire) adalah
jumlah
dari
{
kali tekanan
udara terhadap tiang dan kawat, beban sudut mendatar serta kuat-tarik tak-seimbang.
Perhitungan dilakukan dengan beban-beban
tadi pada arah kawat penahan.
Beban tarik yang diperbolehkan
kurang dari 112,5 dari kuat-tarik maksimum dari
kawat penahan dengan harga maksimum 440 kg.
(s8)
I
I
Hl
i
.ii
4.5 Tiang Beton Bertulang
4.4,2. Pondasi Tirng
Ada duajenis pondasi untuk tiang baja: (a) pondasi beton dan (b) pondasi
kerangka
baja. Untuk pondasi
kerangka baja dasarnya diberi kerikil atau beton untuk menguatkan
kuat-pikulnya. Di sisi pondasi
dipasang anker (guy
anchor), periksa
Gbr. 32.
Bagian Utama
Beton
Pelindung Permukaan Tanah
Bagian Anker
Siku ---1
Pelindung
Gbr.32 Pondasi Tiang Baia.
4.5 Tiang Beton Bertulang
4.5,1. PerencanaanTiang
Beban yang diandaikan serta kombinasi-kombinasinya serupa dengan tiang baja.
Oleh karena itu, hanya hal-hal lain yang dianggap perlu terutama dalam hal tiang beton
yang dibuat setempat yang akan diuraikan dibawah.
Tegangan yang diperbolehkanl) untuk tulang (reinforcement)
baja adalah 1800
kglcmz untuk tegangan-tarik dan tegangan-tekan, bila baja SS-41 dipakai. Tegangan
tekan sesudah 4 minggu untuk betonnya adalah 2W-240 kg/cm2. Tegangan tekanan
standar yang
diperbolehkan adalah
I
dari gaya tekanan sesudah 4 minggu. Tegangan
geser yang diperbolehkan adalah 4,Skglcmz bersama dengan tegangan adhesi yang
diperbolehkan sebesar 5,5 kg/cm2.
Kekuatan tiang beton bertulang
jenis
bulat dinyatakan oleh persamaan-persa-
maan:7)
47
O:A
-/V
(60)
(61)
(62\
dimana s
: jaruk
eksentrik ekivalen dari poros tengah penampang (cm)
7'
: jumlah
momen-lentur karena beban yang diandaikan pada titik yang
ditentukan (kg/cm)
19:
jumlah
beban vertikal karena beban yang diandaikan pada titik yang
ditentukan (kg)
o,: tegangan-tekan maksimum dari beton (kg/cmr)
o,: tegangtn-tarik maksimum dari tulang baja (kg/cmr)
48 Brba. Konstrutri EcnopangSalunn Trrnsmfui
r
:
Loefisien
yang untuk perbandingan baja dan beton
:15
p
: garis tcngah tiang
(cm); periksa Gbr. 33
o: dalamnya
penulangan (cm); pcriksa Gbr. 33
5
: jarak
sntara ujung tekanan sampai poros netral yang
dinyatakan olch
pc$amaan
Gbr. Xt Pcormpory
Tierg Bcto Bertuleng'
*
:
!
-
c
*$
a.os"o pengandaian (periksa Gbr. 33)
x:r(I-cosg)
Gt: ltryO
*
cos2
9)
-
9c!6 P
-
rzrcoe
f)
r,: ,"lo(|* .o''r)
-
sin
e
"*
n(|| +
{.*'e)
+
nEPi1+(?)' *
"*,r}]
dimana 7
: jari-jari
tiang (cm)
r,
: jari-jari
sampai titik berat dari tulang baja (cm)
P
: perbandingan pcnulangan
(63)
(64)
(65)
(66)
4.6 fieng Kayu
4.6.1. Pertttungrn Tegrngrn
Kccuali untuk tiang-tiang kayu khusus,
perhitungan tegangan drlakukan atas
dasar tekanan angin tcrhadap kawat dan tiang. Bila ada sudut mendatar dan tegangan
tidak-scimbang
pada gawang yang lebar, tiang harus dilengkapi dengan kawat-kawat
pcnahan. Faktor keamanan untuk tiang kayu adalah 3,0 dan perhitungan gaya dila-
kukan scsuai dcngan
Pc$amaan-persamaan
scbagai berikut:"
(l) Untuk tiang tunggal tanpa kawat penguat:
fi>rcxry
(67)
4.6 Tiang Kayu
Untuk tiang tunggal dengan kawat penguat:
g;
>_ tox2oDoH2 -
t2aj-* o,Ss(Ztodh)
Untuk
jenis
11 atau A tanpa kawat penguat:
or,
,O*4ODoHz -
24Ht
* O,SS(ElOdh)
F"-'-T
Untukjenis II atau A dengan kawat penguat:
(6e)
or,
,O*2ODoH'z -
l2H!
I0,255(2l0dh)
F
-
'-"
Dro
dimana S: gawang pembebanan (m)
af
: garis tengah kawat yang direntang (mm)
lr
:
tinggi titik topang dari kawat (m)
"' :
r'f ;:;ff1'fi"
Pada Permukaan
tanah
2t
:
garis tengah tiang pada puncaknya (cm)
11: panjang
tiang di atas permukaan tanah (m)
d,
:
tegangan-patah (breaking strength) dari tiang (kg/cmr)
F: faktor keamanan dari tiang
i(: koeffisien angin (1,0 atau 0,5)
Di dalam empat persamaan di atas ruas kanan menyatakan beban yang harus di-
pikul, sedang ruas kiri menunjukkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh tiang kayu
untuk memikul beban tadi. Untuk keperluan terakhir ini tiang kayu harus diuji. Di
Amerika Serikat, misalnya, kemampuan tiang kayu dapat diketahui dari hasil pe-
ngujian (dengan Cantilever Method), yaitu dengan menghitung tegangan serat maksimum
(maximum
fibre stress) pada permukaan tanah:t)
32n2Pa
or:
__F_
dimana ot: te9angan serat maksimum pada permukaan
tanah (kg/cm'z)
P: beban pada saat patahnya tiang (kg)
a
: jarak
dari permukaan tanah ketitik pembebanan (cm)
C: keliling (circumference) tiang pada permukaan tanah (cm)
Bila tegangan serat maksimum di tempat patahnya tiang ingin diketahui, maka
rumus yang digunakan adalah:t)
32n2Pa'
or:
-E-
(72)
dimana or: tegangan serat maksimum (kg/cm2)
P: beban pada saat tiang patah (kg)
s'
: jarak
dari titik patah ke titik pembebanan (cm)
C,
:
keliling tiang pada titik patah (cm)
Tegangan serat menyatakan kekuatan tiang kayu, karena tegangan (stress) adalah gaya
dalam (internal
force), yang melawan gaya
luar, per
satuan luas. Gaya luar ini bcrbcntuk
bcban yang disebabkan oleh beratnya kawat dan isolator, tekanan angin, dsb. Oleh
49
(68)
(2)
(3)
(4)
(70)
(71)
50 Bab 4. Konstnrtsi Faropang Saturan Transmisi
karcna gaya luar ini, maka tiang melentur, sehingga tegangan serat maksimum sama
dengan tcgangan lcntur maksimum (ultimate bending strength) atau tegangan lentur
patah, atau, scperti di atas, tegangan patah (breaking strength).
'
Faktor keamanan (safety factor)
^F
dalam persamaan-persamaan
di atas digunakan
sebagai
jaminan
keandalan dan keamanan, karena kekuatan kayu serta konstruksi
tiangnya dipcngaruhi oleh berbagai faktor, dan karena diperlukan toleransi dalam
ketelitian perhitungan, kesalahan pada pengujian, dsb. Karena dalam perencanaan
tiang saluran transmisi selalu diperhitungkan dua keadaan, yaitu keadaan normal
(tanpa kawat putus) dan keadaan abnormal (dengan kawat putus), maka faktor keama-
nannyapun berbeda. Untuk beberapa
jenis
kayu Indonesia direkomendasikan faktor-
faktor keamanan 3,U,2 untuk keadaan normal dan2,4-2,8 untuk keadaan tidak nor-
mal.
Di bcberapa negara yang sudah lama menggunakan tiang kayu, spesifikasi dan
ukuran tiang ditetapkan dalam standar. Di Amerika, tiang kayu dibagi menjadi l0
kelas; pembagiannya diatur sehingga kekuatannya (nominal ultimate strength) sama
untuk semua ukuran panjang dan semua
jenis
untuk kelas yang sama.e) Dalam standar
ini
juga
ditetapkan ukuran keliling tiang 183 cm (: 6 feet) dari pangkalnya, untuk
setiap kelas dan
jenis
kayu dengan kekuatan tertentu. Kekuatan nominal ini didapat
dari pcrhitungan rata-rata yang konservatip dari tegangan serat maksimum dari sejum-
lah tiang kayu
yang
diuji. Ukuran puncak tiang
juga
ditetapkan, tetapi hanya dia-
meter minimumnya saja dan besarnya sama untuk semua
jenis
kayu.
4.6.2. Pondrsi dan Kewet Penguat
Kedalaman tiang kayu ditanam ditentukan dalam standar-standar. Di Jepang
ditentukan bahwa bila panjang tiang kurang dari 15 m, maka
{
dari tiang ditanam
dalam tanab. Bila panjang tiang lebih dari 15 m, maka tiang ditanam sedalam lebih
dari 2,5 m Dita kondisi tanah kurang baik, maka dipakai angker-angker penguat.
Kawat-kawat penahan (stay wire) dipasang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
bcrlaku untuk tiang baja dan tiang beton bertulang.
Kekuatan pondasi tiang kayu sukar dinyatakan dalam angka-angka dan tidak
begitu penting dilihet dari segi keamanan konstruksi seperti pada menara baja. Kega-
galan pondasi tiang kayu, dalam artian seperti pada perencanaan menara baja (yaitu
pergerakan kaki menara dalam tanah), tidak besar akibatnya kecuali bahwa tiang
harus ditegakkan dan kawatnya harus direntang kembali. Atas dasar pemikiran ini
serta pengalaman beberapa puluh tahun, maka di Amerika Serikat kedalaman tiang
kayu ditetapkan sebagai berikut:
Panjang tiang (m): 9.15 10,65 12,20 13,7A 15,25 16,75 18,30 19,80
Kedalaman tanam (m) : I
,68
1,63 I
,83
I
,98
2,12 2,12 2,28 2,43
Kedalaman ini kelihatannya kurang masuk akal oleh karena kekuatan tiang atau
kondisi tanah (seperti pada standar Jepang di atas) tidak diperhatikan. Namun, apa
yang ditetapkan tadi dapat diterima, bila diingat bahwa tujuan penanaman dengan
kedalaman tertentu adalah untuk mencegah terangkatnya tiang (kicking out of) dari
tanah timbunannya, dan bukan untuk mendapatkan pondasi yang kuat (rigid). Sejalan
dengan
jalan
pikiran ini maka, seperti di Jepang, di Amerika Serikat
juga
digunakan
4,7 Referensi
kawat-kawat
penahan (guy
wires) untuk memperkuat pasangan tiang serta
guna mena-
han lenturan karena beban yang berat.
Berdasarkan pengalaman di Swedia dibedakan antara dua
jenis
tanah,
yakni
tanah friksi dan tanah kohesi. Untuk kedua
jenis
tanah ini digunakan pondasi normal
dan pondasi khusus. Dalam kelompok pondasi normal termasuk pondasi dari batu
dan penimbunan kembali dengan tanah. Pondasi khusus digunakan bila kondisi tanah
kurang baik.
4.7 Referensi
Di dalam Bab 4 digunakan referensi terhadap karya-karya sebagai berikut:
l) W. B. Woodhouse, "Overhead Electric Lines", lournal LE.E.E., vol. 67, 1929,
hal. 2l'1.
2) T. W. Schroeder, J. E. O'Neil, "Investigations on Wood Pole 345-kV Test Line",
Proceedings, American Power Codereace, vol. XXII[, 1961, hal, 737-744.
3) Japanese Electrotechnical Committee, Design Standard
for
Steel Transmission
Towers, JEC-127, Denki Shoin. 1965.
4) Japanese Electrotechnical Committee, Design Standard
for
Steel Transmission
Poles, JEC-128, Denki Shoin, 1965.
5) Notice of Ministry of International Trade and Industry regarding the Detailed Tech-
nical Standards of Electrical Installations (Japan), June 1968.
6) Handbook of Electical Engineering, Institute of Electrical Engineers of Japan,
1967, hal. 1202.
"
7) Ibid,hal.1205.
8) Standard Methods of Static Tests of Wood Poles, ASTM Designation: D1036-58,
Adopted, 1938, American Society for Testing Materials, Philadelphia, USA.
9) Specifications and Dimensions
for
Wood Poles,05.l-1963, Approved March 5,
1963, American Standards Assocation.
5l
BAB 5. KARAKTERISTIK LISTRIK DARI
SALURAN TRANSMISI
5.1 Konstanta Saluran
Tahanan, induktansi, kapasitansi dan konduktansi bocor dari saluran transmisi
dinamakan konstanta saluran (line constants). Konduktansi kebocoran pada umumnya
dapat diabaikan dalam perhitungan karakteristik saluran.
5.1.1. Tehenen
Tahanan dari penghantar-penghantar yang sering digunakan tertera dalam Tabel-
Tabel2 sampai dengan 9; nilaitahanan ini berubah dengan suhu menurut rumus
x,
:
R,.
Il + a(t
-
,o)]
dimana R,
:
tahanan pada suhu ,oC
R,,
:
tahanan pada suhu looC
a
:
koeffisien suhu massa konstan
(73)
Penghantar-penghantar dengan garis tengah (diameter) yang besar mempunyai
harga tahanan bolak-balik effektip yang lebih besar karena effek kulit; meskipun
demikian pengaruh ini tidak besar dan dapat diabaikan.
5.1.2, Induktansi
Induktansi kawat tiga-fasa pada umumnya berlainan untuk masing-masing kawat.
Ndmun, karena perbedaannya kecil, nilai induktansi dari penghantar yang ditransposi-
sikan yang diambil, bita ketidak-seimbangannya tidak besar.
Untuk susunan kawat seperti tertera pada Gbr. 34 reaktansi induktip urutan positip
(positive sequence inductive reactance) dari saluran yang ditransposisikan dinyatakan
oleh W. A. Lewis sebagai:r)
x
r.
:
0,004657
f
tos
*ffi(Q/mile)
dimana
/:
frekwensi
$
:
geometric mean distance
:
tffi*4
GMR
:
geometric mean radius
:
i
r
: jari-jari
kawat
K: konstanta
Oleh karena itu maka induktansinya dapat dihitung:
L: l+ 0,4605tog,oi
(mH/km)
dimana /
:
induktansi karena fluks magnet dalam kawat
:
0,05 untuk kawat dengan penampang bulat
(p :
1;
(74)
(75)
(76)
(77)
54
Bab 5. Karaktcristik Listrik Dari Saluran Transrnisi
Harga-harga / untuk kawat lilit tertera dalam Tabel 26. Induktansi urutan negatip sama
dcngan induktansi urutan positip.
Tebel 26. Nilal I rmtuk Krwet Lllit
a
I
Das
I
/l
{ D"o
\t
D*l
\
c
d
\
\\
o\'
/
\
o,,
V
f
rT
ln"
w
-+
rl
Hl
ln"
I"l
Gbr.35 Rangkaian dengan Saluran
Kembali lewat Tanah.
Oleh karena arus melalui tanah, maka induktansi saluran transmisi
yang
memakai tanah sebagai penghantar kembali (return circuit) lebih besar dari
yang diperkirakan bila tanah mempunyai konduktansi tak terhingga. Oleh
sebab itu pula induktansi berubah dengan
jalan
yang dilalui dan frekwensinya.
Untuk saluran transmisi satu-kawat dengan saluran kembali seperti Gbr.
35, nilai induktansi urulan nol dengan arus yang mengalir secara konsentris
pada kedalaman H dinyatakan oleh2)
tzsl
(7e)
Lor
:
o,l
* 0,4605 log,o
h+H
(mH/km)
dimana h+H:2H,
I/.
:
kedalaman relatip
:
300 m untuk lapisan
(stratum)
baru
:
600 m untuk daerah pegunungan
Untuk saluran transmisi 3-fasa satu rangkaian atau 3-fasa dua rangkaian,
induktansi urutan nolnya adalah:
Gbr.34 Susunan Kawat untuk
Saluran
Ganda.
:
!
T
$
Kawat Lilit Tak-Magnetik A.C.S.R.
7 titit l9 lilir 37 lilit 61 lilir
Baja I
Aluminum 5
Baja 7
Aluminum 30
Bajal
Aluminum 54
0,(541 0,0555 0,0529 0,0517 0,u40 o,ull
q0435
5.1 Konstanta Saluran
Lot:0,2
+
0,4&5logn%
Loe
:0,35
+
0,4605 togroW
2t:tDffi,
Bila harga sebenarnya tidak dapat diukur, nilai-nilai
digunakan:
Lo':4'5 mH/km
Lo':7'5 mH/km
5.1.3. Kapasitansi
Bila saluran seimbang (balanced)
maka harga pendekatan (approximate)
untuk kapasitansi (seperti pada induktansi)
dapat digunakan. Untuk penghantar
dengan
jari-jari
r seperti pada Gbr. 36,
maka kapasitansi urutan posilip atau
negalip dinyatakan oleh3)
/- _
0,02413
"'-
r*-9
dimana D:^Wm,:^mil,
Kapasitansi terhadap tanah untuk satu kawat dinyatakan oleh
/- _
o,o24l3
" -
-fr
(pFlkm)
rogroT
(8s)
Harga kira-kira dari 3C dan 6C yaitu kapasitansi gabungan terhadap tanah dari
3 dan 6 kawat dinyatakan oleh
0.07239
""
_,_ _g7r
(pFlkm)
togto
Di
/^ 0.1448
o,L:_
6-4F-
(PFlkm)
to9roV6,rp_i
dimana
55
(83)
(mH/km) (80)
(81)
(82)
berikut dapat
(84)
(86)
(87)
n:
[{n,
I
hz
+
h3) (88)
p':1lffiSox^ymxffm,;E;)l,
(8e)
Kapasitansi positip dan negatip
jarang
dipengaruhi oleh kawat tanah, sehingga
dalam perhitungan
dapat diabaikan. Tetapi, kapasitansi urutan nol naik k;ra-kira 8l
untuk rangkaian tunggal dan kira-kira, l7/, untuk rangkaian ganda bila ada kawat
tanah.
Dtt
Gbr. 36 Susuoan
peaglrentrr.
56
Bab 5. Kar*tcrirlik Li6trik Dari Saluran Transmisi
5,2 Gejala Korona
Untuk saluran transmisi di atas 100 kV, gejala
korona menjadi penting. Gejala ini
menyebabkan hilang-korona (corona
loss) dan gangguan radio
(radio
interference).
5.2.1. Tegrngen Kritis untuh Gcjrla Korona
Gradien tegangan yang menyebabkan gagalnya gaya dielektrik udara adalah
30 kV/cm pada keadaan standar (untuk Jepang 20"C dan 760 mmHg)". Tegangan
dimana korona mulai terjadi disebut tegangan kritis, Gradien tegangannya pada per-
mukaan kawat dinyatakan oleh
Eeo:#a,,r(t-,'#)
dimana d
:
kepadatan udara relatip
:
D
:
tekanan udara (mmHg)
,: suhu udara ("C)
7
: jari-jari
kawat (cm)
(kV/cm nilai effektif)
0,3866
ffii
Gradien tegangan pada permukaan kawat untuk saluran transmisi
takan oleh
. _
0,4343E
"c__
(kv/cm)
r log,o:
dimana E: tegangan fasa (kV)
P
: jarak
ekivalen antara kawat (cm)
Oleh karena itu, tegangan kritis untuk korona dinyatakan oleh
s,:#6,,,(r +
W),be,o*#"
(kv)
Bila dimasukkan faktor permukaan kawat rno (periksa Tabel 27)
udara
pada umumnya maka tegangan kritis dinyatakan oleh
Tsbel27. Faktor Permukaan Kawrt
(e0)
(el)
3-fasa dinya-
(e2)
(e3)
dan keadaan
(e4)
kawat
(es)
Eo
:
4l,Bmon
,6,
,
(,
*
5#)
, bs,o
L
(kv)
Faktor udara rz, adalah 1,0 untuk udara baik dan 0,8 untuk hujan.
Untuk kawat berkas dupleks gradien maksimum pada permukaan
satu
dinyatakan oleh')
D _Er(l
*2rlS)
Lg2
-
2rln
D
W
Kondisi Permukaan Kawat
Halus
Kawat Padat Yang Kasar
Kawat Tembaga Rongga
Kawat Lilit 7
Kawat Lilir 19
-
6l
l,o
0,93
-
0,98
0,90
-
0,94
0,83
-
0,87
0,80
-
0,85
5.2 Gejala Korona
sehingga tegangan kritisnya dapat dihitung
57
, ,
01301
Eo,
:
97,6mom
r|z'trffi
, bgro
f,
(e6)
5.2,2. Hilang Korona
Ada beberapa perhitungan-perhitungan teoritis dan empiris mengenai hilang-
korona, tetapi teorinya masih belum diketahui dengan pasti. Menurut Peek hilang-
korona dinyatakan oleh6']
p
:
r' 6{.f
+ 2rJD-r,(ros,,2)'tr
s
-
m6E's,)t0-z (kw/km-l kawat)
(e7)
sedang menurut SatoT)
,:
*t
* 25)r2(Es
-
moE'oo)to-2
(kw/km-l kawat) (e8)
dimana Eio
:
2l,l kV/cm
A
:
0,448 untuk kawat padat (solid)
:
0,375 untuk kawat lilit
,f
:
frekwensi sumber tenaga (Hz)
m: momr
Rumus-rumus hilang korona yang lain adalah persamaan Peterson, persamaan
Holm dan persamaan
diagramatik dari Caroll.t-e)
5.2.3. Berisik Korons
Berisik korona (corona
noise) merupakan masalah yang serious bagi penerimaan
radio pada frekwensi medium. Karakteristik berisik ini dipengaruhi oleh gradien tega-
ngan pada permukaan kawat, kondisi permukaan kawat dan cuaca sekeliling. Berisik
ini dipancarkan dari permukaan kawat, dan merupakan gejala yang sulit menerang-
kannya. Teorinya belum diketahui secara pasti, serta masih diselidiki terus di beberapa
negara.
Penyelidikan yang dilakukan di Jepang menunjukkan bahwa kuat medan berisik
pada frekwensi I MHz dan
jarak
l5 m dari saluran transmisi dalam cuaca baik dan
berawan adalahro)
No
:
il,
+
3,5(Eg
-
l,
+
nf, (dB) (99)
0dB: lpV
dimana i/,
:
kuat-medan berisik untuk kawat dengan garis-tengah d dan gradien
tegangan pada permukaan kawat E, kV/cm
N,
:
kuat-medan berisik untuk kawat dengan garis-tengah 30 mm dan
gradien tegangan kawat 15 kV/cm; biasanya
^{,
dianggap sama de-
ngan43+2dB
Na
:
faktor koreksi sebagai fungsi garis-tengah, periksa Gbr. 37
Dalam keadaan hujan nilai kuat-medan pada umumnya bertambah besar dengan
kira-kira l0-20d8; dalam keadaan cuaca yang paling buruk kenaikannya malahan
dapat mencapai 25 dB.
B8b 5. Karaktcristik Listrik Dari Saluran Transmisi
Kuat-medan berisik berbanding terbalik dengan tingginya kawat di atas tanah
dan menurun dengan
jarak
tegak lurus dari saluran dipangkatkan dua.
Saluran distribusi yang berdekatan dengan saluran transmisi sangat dipengaruhi
oleh berisik radio karena induksi dan rambatan (propagation) berisik tersebut. Untuk
melindunginya digunakan kabel-kabel yang perisainya (shield) ditanahkan.
l--
Es
Purkel Pcogirimr
Uiung Pocrimru
Gbr. 38 Rangkaian Ekivalen
untuk Sduran Transmisi
Jarak-Pendek.
n2226,o313E12
Gri*Tarrf, Krnt(nl)
Gbr. 37 FektorKorcksiBerlstkKoroor.
5.3 Karakteristik Penyaluran Daya
Dalam mempelajari karakteristik penyaluran daya (yakni tegangan, arus dan hilang-
daya) dalam keadaan normal,lazim diandaikan saluran transmisi dengan (a) rangkaian
yang konstantanya didistribusikan, atau (b) rangkaian yang konstantanya dikonsen-
trasikan (lumped atau concentrated), yaitu bila salurannya pendek.
5.3.1. Selunn Ttensmisi Jarah Pendek
Oleh karena pengaruh kapasitansi dan konduktansi bocor dapat diabaikan pada
saluran transmisi pendek (kurang dari 20
-
30 km), maka saluran tersebut dapat diang-
gap sebagai rangkaian impedansi yang terdiri dari tahanan dan induktansi (periksa
Gbr. 38). Dengan demikian maka impedansi Z dan admitansinya Y dinyatakan oleh
58
0o
*
t-,
I
x
T_,
a
E
tt
Ud.n lril
-'\Y-
I
2
./
Hfir
/
I
qf!
/ -/:J
u-tl
f2
'--a'
r
E,: E,
*
/R cos g,
*
IX sin g,
dengan regulasi tegangan
E,
A
E,:
*
(n cos g,
*
X sin p,)
E, E,
II
Z
,*^,*-J^-lrpt{.
I
Ea
-t2
-16
2:il:(r*jx):R+jX
t:yl:(g+jb):G*jB
dimana r
:
tahanan kawat (O/km)
x
:
reaktansi ltawat
:
2nfL (O/km)
g: konduktansi kawat (U/km)
D
:
suseptansi kawat
:2nfC
(U/km)
Bila kondisi pada ujung penerimaan diketahui, maka hubungan antara tegangan dan
arus dinyatakan oleh
(102)
(103)
(100)
(l0l)
5.3 Karakteristik Penyaluran Daya
59
dimana E,
:
tegangan pada pangkal pengiriman
E,: te+anBan
Pada
ujung
Penerimaan
P
: jumlah
tahanan saluran
((l)
X
: jumlah
reaktansi saluran
(fl)
cos g,
:
faktor daya pada ujung
penerimaan
sin g,
:
faktor-daya buta pada ujung penerimaan
Sebaliknya bila kondisi
pada titik pengiriman diketahui maka
E,
:
E,
-
(/R cos g,
*
IX sin g,)
(104)
5.3.2. Saluran Transmisi Jarak Menengah
Saluran transmisi
jarak-menengah dapat dianggap sebagai rangkaian I atau
rangkaian a,
periksa Gbr. 39. Untuk rangkaian I persamaannya adalah
z12
k .\t? !!:
ft
cos
{,
(a) Rangkalan T
(b) Ranelrltr I
zlz
Gbr. 39 Rangkaien Ekivalen untuk Saluran
Transmisi Jarak-Menengah.
E,:E,(r*T)+i,Z(r*T
i,
:
i,(,
*'4)
+ E,y
Untuk rangkaian z
persamaannya adalah
E,: E,(t
+ze +
i,2
i,: i,(r
-+):
d,v(,
"+)
5.3.3. Saluran Transmisi Jarak Jauh
Untuk saluran transmisi
jarak jauh
konstantanya didistribusikan,
persamaannya menjadi
E,: i,cosh ctl *
i,Zosinh til
i,: i,cosh dI
*
!
sinh cil
'zo
dimana 2o
:
impedansi karakteristik
:
ci
:
konstanta rambatan
:
Jfr
lv
\t
(l0s)
(106)
(r07)
(108)
sehingga
(loe)
(l l0)
(r r l)
(fi2)
60 Bab 5. Karaktcristik Listrik Dari Saluran Transmisi
Tdel 2& Konstrntr Kutub'Enpet untuk Berbagai Rangkaian
hml($ubEor.r
A B c D
lngo.tlEissi !-*_+!!-
z
z o
PEdcl
ImDcd&.i
o v I
-l:E-
TruEfrm.q
e,i 4 fir,
L. ,+
Et .
r'+'l
1*+ 2,$+ff) YI
. . z,Y,
t*
2
Elrb.odirrl[
Tnnsfmi
ilh
I
o o
Km&h
Didiilrihlitr Er
1
Gh/ZV
=o+zl
. z.Y, .
+-Z-+ t
{V7T a*fzv
=2o+
ff
_2,
i
_...,
'
120
'
fi77s*JVT
=vr.+T
. z,Y" .
+
m+
)
ar{fi
=o*{
i,v, .
+--rtr-+ 1
E
E
!i
I
t
E
c
I
B
v
!
!l
E.-Et
---1---4E9--l-
A B c D
A Bt+ A,Zn ct ct+ D,zn
n.
-.i.
=+!F{
a,B,c,D,
-
A,+C,ZB Bt+DZn DI
E#
7-,. Zn
A,+C,ZB
i,+4,2o+
o,z^+i,z-i-
ct D,+ C,Zn
Et
fttA,+c,2-t
|aG,+A,2-+
b,i-+e,2-2-t
CtTtTs
Itb,+i,z-t
A,+it,i, BI CI+ D'YI b,
AI Bt i,+ a,t, D,+ B'Ys
^+hY,
B,
c,+ A,Ys
+ b,*,+ b,t,!,
D+hys
'i
Q:J [:i'r
A,A,+c,i, &AI+D,B' a,c,+ctD, B,C,+ D,DI
t,A,+c,a,
+ i,A,z
s,A,+ b,a,
+ b,A,2
/|c.+c,Dt
+ b,A,2
BIC'+ D'D'
+ b,b,t
T@
E.
l--{',".4 F-
E.
I
i,A,+i,b,
+ A,b,i
b,A,+ b,b,
+b,b,;r
^c,+aD.
+A,b,v
BrCr+ DrDt
+ b,b,ir
[:J
EW
A,tA,t,+c,b,l
+b,tA,i,+b,bs
A,tb,A,+ b,is
+ b,tb,i,+ b, bs
c,tA,A,+ C,b,l
+ b,(4,i,+ i,bs
c.lBtA.+ D,B)
+ it ti,i.+ b,bs
,. f;.b,--f,ih ,.
-
Y!!,c'!:l
b,i.
b,+b,
Cr*CrA
tA,-h6,-b,t
B,+ b,
& Dt* DBt
8,+t,
5.3 Karakterisitk Penyaluran Daya
Persamaan di atas dapat ditulis sebagai
E': AE'
+
ii'
i,:CE,+ Di,
dimana3)
A: b: cosh rit: t
++ +{# +% +
.
i:Zosinhri/
-
2(,
*+ +% *%)
*
c: lsinhd/: r(,
++ +%.+
ffi
+
...
zo
ib-BC:t
Konstanta A, B,C,D disebut Konstanta Kutub-Empat; berbagai konstanta
bermacam-macam impedansi tertera dalam Tabel 28.
5.3.4. Diagram Lingkaran Daya
61
(l l3)
(u4)
(r r5)
(il6)
(r l7)
(r r8)
untuk
(r le)
(120)
(l2r)
(122)
(r23)
(124)
Daya lY, pada titik pengiriman
dan daya W, pada titik penerimaan
terbagi atas
komponen-komponen effektip P, dan P, serta komponen-komponen reaktip
Q,
dan
Q.
menurut persamaan-persamaan
llr: P,
*
iQ,
Ll/,:
p,
*
ie,
dimana (periksa
Gbr. 40):
p,:
p sin (0
_
90"
+
p)
I
m,E!
e,:
p cos (0
-
90"
+
p)
+
il,8?
p,:
p sin (0
*
90.
_
p)
_
mE:
e,
: _
pcos (0
+ 90"
_
f)
+
nftr
dimana p:E,E,fb (125)
0
:
sudut dimana
d
mendahului li,
f
:
sudut ordinat garis
(.ss,, ltR,)
A
E:^-jn
(126)
b
i: ^'
-
jn' (127)
{
:
}.
-,,
(128)
Bb
Gbr. 40 ini dinamakan diagram
Iingkaran daya, yang dapat digu-
nakan sebagai alat untuk menghi-
tung besarnlz P,,
Q,,
P, dan
Q,
untuk beban tertentu. Dari rumus
di atas dapat dilihat bahwa daya
maksimum yang dapat diterima
terjadibila0:fi.
o
(MVA
P
:
EsEnlb
M'
M
sn(^' -
in')t"
cos
{,
:
6.95
-(n -
jn)Ezn
Gbr.40 Diagram Lingkaran DaYa-
62 Bab 5. Karakteristik Listrik Dari Saluran Transmisi
5,3.5. Hileng Deya (Rugi) Transmisi
Hilang-daya
(rugi)
transmisi terdiri dari rugi tahanan, hilang korona dan hilang
kebocoran (leakage loss). Untuk saluran pendek, hilang daya utama adalah rugi taha-
nan; periksa 1.5. Untuk saluran transmisi
jarak jauh,
rugi transmisi dinyatakan oleh
Pt: P,
-
P,
:
m'E?
* mE!
-
2psin (90"
-
p)cos9
(t2e)
Bila tegangan saluran konstan, maka hilang daya dapat dinyatakan hanya sebagai
fungsi dari sudut fasa 0, sehingga diagram lingkaran hilang-daya seperti Gbr. 4l
dapat dipakai.
Dengan cara di atas dapat dihitung angka-angka tahunan sebagai berikut:
Daya penerimaan tahunan
:
Daya penerimaan maksimum x 8760 x faktor
daya tahunan
Hilang-daya tahunan
:
Hilang-daya maksimum x konstanta hilang daya x 8760
Ada beberapa cara untuk menghitung konstanta hilang-daya, satu diantaranya adalah
menurut rumus (periksa 1.5.1.):
-fur
:0,3.fn
*
O,1(fo)'
dimana
/r,
adalah faktor beban-tahunan
(s)
,.
-
t-
Es-
I
l, it c, bt
J-^e"
U
Gbr.42 Rangkaian Konstanta
Kutub-'Empqt.
Gbr.4l Dirgrun Lhgkaran Hilang-
Ilaya-
5.4 Stabilitas Sistim Transmisi
Kemampuan saluran transmisi untuk menyalurkan tenaga listrik secara kontinu
dalam keadaan beban yang konstan ataupun yang berubah sedikit demi sedikit (tidak
mendadak) dinamakan stabilitas keadaan-tetap (steady-state) dari saluran tersebut.
Kemampuan saluran transmisi untuk kembali seimbang bila tiba-tiba terganggu dalam
keadaan-tetap dinamakan stabilitas keadaan-peralihan (transient-state)
saluran ter-
sebut. Daya transmisi dimana stabilitas dapat dipertahankan untuk kedua keadaan
di atas berturut-turut dinamakan batas daya statik dan batas-daya peralihan.
di
a
E
+
aao2
s
t
5.4 Stabilitas Sistim Transmisi
5.4.1. Stgbilites Keadean Tetap
Dimisalkan sebuah rangkaian konstanta kutub-empat seperti Gbr. 42, dengan
tegangan terminal mesin serempak pada titik pengiriman i, dan titik pengiriman d,.
Untuk saluran transmisi biasa tegangan terminal pada titik pengiriman dan penerimaan
dipertahankan (konstan) pada perubahan beban sedikit demisedikit. Dengan demikian
maka dapat digambarkan diagram lingkaran dengan anggapan bahwa 8, adalah impe-
dansi antara titik penerimaan dan pengiriman. Oleh sebab itu, maka persamaan dayanya
adalah
p,
:
p^
sin (0
-
90"
+
p,)
*
m'E?
P,: P^ sin
(0
+ 90"
-
f ,)
* mEl
dimana
P^: E,E,f b
E": E,1'
E,: E,
Lengkung P. dan P. tertera dalam Gbr. 44.
Prt
Pr2
Ez
Et
E1
0 r0z
63
Gbr.43 Diagram Lingkaran Daya un-
tuk Tegangan Pengiriman den
Penerimaan Konstan.
Apabila komponen tahanan
m: m'
:0
fr:90"
sehingga
P,: P,
:
Pada Gbr. 43 bila saluran
gram lingkaran daya tersebut,
titik-titik operasinya berpindah
0+L0.
(130)
(r3r)
(r32)
(133)
(134)
Gbr.
44
Lengkung Daya Sebagai Fung-
si Perbedaan Sudut Fasa'
dari impedansi rangkaian diabaikan, maka
P-sin0
( r3s)
transmisi beroperasi antara titik Eo dan f'o pada dia-
maka keadaan-tetap dapat dipertahankan meskipun
ke E, dan F, sesuai dengan kenaikan fasa menjadi
Ft
Ft
t,,
o
o
I
Psz
Psr
E'rE'
sino
:
&
B8b 5. Karaktcristik
Listrik Dari Saluran Transmisi
Bila sudut fasa dinaikkan
terus sehingga
titik operasinya
berpindah
ke E, dan
Fz(RF.sejajardengansumbuP),makadapatatautidaknyakeadaan-tetapdapat
dipertabankan
tergantung
kepada momen
inersia mesin-rnesin
serempak
pada titik-
titik pengiriman dan
peneri-a"n. Sudut fasa 0.
dimana operasi
keadaan-tetap
dapat
dipertahankan
disebut sudut fasa batas, dan dinyatakan
oleh
persamaan:
5.4.2.
StabilitasPerelihan
Pada waktu saluran
transmisi
beroperasi
,pada beban t'ertentLi dapat terjadi
peru-
bahandayasertasudutfasaSecaratiba.tiba,misalnyakarenaperubahanbebansecara
tiba-tiba,pemutusanrangkaianparalel,hubung-singkatpadasaluran'pemutusandan
penyambungankembalirangkaiansesudahhubung.singkatsertaputusnyakawat.
Dalam keadaan demikian,
rnaka ,alu.an tidak dapat mempertahankan
stabilitasnya
dansinkronisasihilangbilaperbedaanfasamelebihiSuatubatastertentu.
Adabeberapu"u,_"untukmenganalisakeadaanperalihan;disinidigunakancara
sama.luas(equalareamethod).Bilaterjadihubung-singkatpadasalurantransmisi
yang sedang beroperasi
pada daya P. sin
g,
maka terjaCi
perbedaan antara daya ini
dengandayamaksimurndalamkeadaanhubung-singkalP^,sin0;dengandemikian
tano.:ffi$nP,
dimana
lil
:
Iotz
.I
:
Itlofitr inersia
(kg-m')
or:
kecePatan
sudut
(radls)
Bila diandaikan
bahwa
ws
w^
wc
terjadi
percepatan oleh daYa
Po: Po
-
P.rsin0
Sudui Fu
GLr.45 Hubungan antara DaYe dan
Sudut Fasr dalam Cara Sama-
Lrns.
: c,o atau Wo
)
W^,
maka 0^
:
fl,
:
ao atau
Wn))
LYo, maka 0^: r
-
f t
:
Wn, maka
f ,:
nlZ
(136)
(r37)
(t38)
Az
02
0t 0o
0o 0r 0'
Sudut Fur
Gbr.
116
HubunganantaraDayadanSu-
dut Fasa bila Teriadi Hubung-
Singkat
yang kemudian
Ditiadakan.
Par sin 0
5.5 Kapasitas Saluran Traasnisi
65
Dengan demikian maka adanya sudut 0, sehingga persamaan berikut dipenuhi menen-
tukan kondisi stabilitas :
Po(O,
-
0) + P^r1cos 0,
-
cos 0o)
:
g
(r3e)
Dalam Gbr. 45 daya Po yang dipilih sedemikian rupa sehingga luas daerah 0-l-2 sama
dengan daerah 2-3-4 menentukan titik batas stabilitas.
Bila sebuah rangkaian diputus sesudah terjadi hubung-singkat, maka perbedaan
fasa maksimum
0' untuk memungkinkan sistim memiliki kembali stabilitasnya dinya-
takan oleh persamaan (periksa Gbr, 46):
Po(?r- 0) + P^/cos0'- cos0o)
+ f,o1cos0r- cos0'): Q (140)
dengan pengandaian bahwa Po, P^t (waktu hubung-singkat), P.o (sesudah
hubung-
singkat ditiadakan) dan 0o diketahui.
5.5 Kapasitas Saluran Transmisi
Kapasitas saluran transmisi
jarak
dekat dibatasi oleh besarnya arus yang dapat
disalurkan dengan aman dan oleh
jatuh
tegangannya. Untuk saluran transmisi
jarak
jauh
kapasitasnya harus dihitung dengan menggunakan rumus-rumus daya pada titik-
titik pengiriman
dan penerimaan atau dengan memakai diagram lingkaran seperti
diuraikan di atas. Untuk saluran
jarak jauh
pertimbangannya adalah stabilitas perali-
hannya dan besarnya kapasitas pengubah fasa (phase
modifier), oleh karena membe-
sarnya perbedaan sudut fasa antara titik-titik pengiriman dan penerimaan.
Untuk me-
nentukan hal ini perlu dipertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
(a) perbedaan fasa yang serasi antara titik pengiriman dan titik penerimaan
(misalnya,
antara 30'
-
40");
(b) kapasitas yang serasi dari pengubah fasa;
(c) effisiensi penyahrran yang sempurna.
Kriteria untuk menentukan kapasitas saluran dilakukan dengan dua cara:
(l) Pembebanan Impedansi Surja
(Surge
Impedance Loading).
(2) KoeffisienKapasitas.
5.5.1. Cara Pembebanan Impedansi Surja
Beban saluran transmisi P, dinyatakan
oleh persamaan
l@ 2N
3N 1@ 5OO 600
Pmleug Sduu (km)
Gbr. 47 Koefisien Pembebanan Impe-
dansi Surja.
P.:
X
(Mw) (141)
2,8
2,6
i z.t
o
'a
2,2
I
E
2'o
5
r,a
A
I t.c
a'
a
t t,t
I
& t,z
.i
,,0
E
','
i
o,a
0,4
dimana E,
:
tegangan kawat
(line-to-
line) pada ujung peneri-
maan (kV)
Z,
:
impedansi surja dari
saluran (O)
Oleh karena harga ini diperkirakan terlalu
rendah (underestrmated)
maka dipakai
faktor koreksi seperti tertera pada
Gbr. 47.
6
Bsb 5. Karalctcristik Listrik Dari Saluran Transrnisi
5.5r. Cara Kocfisien Ihpocltas
Kapasitas saluran transmisi P, dapat dinyatakan scbagai fungsr dari tegangan pada
ritik penerimaan E (kV) dan panjang I (km):
F2
P
:
kT
(Mw) (142\
dimana k
:
koeffisien kapasitas
:
600 untuk saluran 60 kV
:
800 untuk saluran 100 kV
:
1200 untuk saluran lt$0 kV ke atas
Hasil kedua cara di atas sama untuk panjang saluran kawat tunggal 480 km,
Z,: 4A0 dan /<
:
1200.
Pembumian (Pentanahan) Titik Netral
Untuk saluran transmisi tegangan rendah
jarak-dekat
tidak diharapkan terjadinya
gangguan-gangguan meskipun titik netral tidak ditanahkan
(ungrounded
neutral).
Tctapi hal ini tidak berlaku untuk saluran transmisi tegangan tinggijarak-jauh. Gang-
guan-gangguan yang mungkin terjadi pada saluran-saluran tersebut terakhir ini ber-
sumber pada gangguan stabilitas pada hubung-singkat satu'fasa, gangguan (interfe-
rence) telpon karena induksi, kapasitas interupsi dari pemutus beban yang kurang mema-
dai, serta daya isolasi peralatan yang tidak sesuai.
5.6.1. Mecrm Sistim Pembqmien
Macam sistim
pembumian digolongkan menurut
jenis
impedansi titik netral
terhadap tanah sebagai berikut
(periksa Gbr. 48):
Gbr. 48 Sistim Pembumirn.
(l) sistim tidak ditanahkan
(2,: co'S
(2) sistim ditanahkan langsung
(2, :
0)
(3) sistim pentanahan dengan tahanan
(2,: R)
(4) sistim pentanahan dengan reaktor (2,:
ix)
(5) sistim pentanahan dengan gulungan Petersen
(2,: jx,Zo: a)
Pembumian discbut effektif bila impedansi pentanahannya ditekan, sehingga tega-
ngan pada fasa yang tidak terkena hubung-singkat, bila terjadi hubung-singkat catu
5.6
,r *---7
,-"o-al
i^
5,7 Referensi
fasa, kurang dari 1,3 kali tegangannya dalam keadaan normal (tanpa hubung-singkat).
Kondisi pembumian
effektip didapat bila
xo s x,
(143)
xo < 3xt
0u)
dimana Xo
:
tahanan urutan nol dari rangkaian
Xo
:
reaktansi urutan nol dari rangkaian
Xr
:
reaktansi urutan positip
dari rangkaian
Pada umumnya sistim pembumian
langsung memenuhi kondisi di atas.
5.6.2. Perbandingan Sistim Pentanahan Titik Netral
Bila impedansi titik netral besar, maka arus hubung-singkat untuk hubung-singkat
satu fasa kecil sehingga gangguannya
berkurang kegawatannya. Sebaliknya, hal itu
merugikan dilihat dari segi isolasi peralatan
karena tegangan pada
fasa yang baik
menjadi lebih besar. Bila impedansi titik netral kecil, maka manfaat dan mudaratnya
kebalikan dari apa yang diuraikan tadi.
Itulah sebabnya, maka pemilihan impedansi titik netral harus didasarkan atas
hal-hal di atas, dengan memperhatikan tegangan transmisi, daya yang disalurkan, pan-
jang
saluran, dsb. Dalam Tabel 29 ditunjukkan perbandingan
antara berbagai sistim
pembumian.
5.7 Referensi
Di dalam Bab ini digunakan referensi terhadap karya-karya sebagai berikut:
l) C. F. Wagner, R. D. Evans, Symmetrical Components, McGraw-Hill Book
Company, New York, 1933, hal. l3Gl39.
2) J' R. Carson, "'Wave Propagation in Overhead Wires with Ground Return",
Bell System Technical Journal, Yol. 5, Oct. 1926, hal. 539-555.
3) C. F. Wagner, R. D. Evans, op. cit., hal. 182-196.
4) Japanese Electrotechnical Committee, Standard Atmospheric Condition Denki
Sho-in, 1968.
5) C. F. Wagner, diskusi untuk "Relative Surface Voltage Gradients of Grounded
Conductors", AIEE Transactions, vol. 67, Part II, 1948, hal. 1590.
6) F. W. Peek, Jr., Dielectric Phenomena in High-Voltage Engineering, McGraw-
Hill Book Company, New York, 1929.
1) Calcalation of Corona Loss in Transmission Lines, Technical Report, No. 40,
hal. 3, Institute of Electrical Engineers of Japan, 1960.
8) W. S. Petersen, diskusi untuk "Development of Corona Loss Formula", AIEE
Transactions, vol. 53, 1934, hal. 62-63.
9) J. S. Caroll, M. M. Rockwell, "Empirical Method of Calcuiating Corona Loss
from High-Voltage Transmission Lines" AIEE Transactions, vol. 56, 1937,
hal. 558.
l0) "Transmission", Handbook of Electrical Engineering, Institute of Electrical
Engineers of Japan, 1967, hal. 1162.
67
q
d
E
!,
Ec
:I
oo
Eo.
!
.2
(r)
:
E.F.E
3!!c
? EX:
i:i i
,s-Ed 3=
a- I - E
IEAE!
:E
EE
H
E E: !5
a o.x !
0 c e zt
E
E
a
e
0
.E
.!
3
a
)
.E
,;
E
E
ET
Ee
43
t
E
!
3
I
I
t
a
A
I
! ii
li
>EZ
!:f
i::
iE;
'5,!
r
. E=
J
'D
'I
il
)r :,E
-=
li
o{
ac
LO
lq
3a
i!
c!
.-i
E!
ir Ei E E
9E EEi;
i6iiii
EisgEi
r.l Ei 9 c
lE ii i5
! EEE:E
:oroaa
6 ! 4 AI A l!
a
a
t
a
is
cF-
iE!
!>!
E i
-
Ec
;E3
:
TE
AaB
EE E.
A
'i
Er
O
'I
E
-ri
:.!
rEr
! c
E.-
ii: I
55E;
iEr!
gE:
E
6
t
E
)
,
!
r.ii
{E
rE
EC
EI
g,
(,
u
c
's
EE
d;-
E'
iE
Ed
rf
E'
5
.9
TA
I
c
!i
it
ii:
E: !
Er 3
';'ag
iEi
xc?-
E E= F
.:E! e
t
E
I
.!
!
a
!
E
5
.!
J
)
E
,
J
a
.E
.;
!
E
9E
ET
aE
iP
J!
a
c
!
3
a
E
t
!
E
,
c
o
o
iE
!i
ji
I
I
'i
i
!
I
E
2
r
,t
.!
3,
!
D
I
a
!
E
x
E
a
6
!
3
,
E
d !l
D
6
o
.! a!
Egi
E3!
;i!
=_
t
Ets
cEE
t'i I
! ,.E
r:-
s: r
a
!
a
a
tr
6,
*^
tle
EE
d{
.-_ 6
HC
a6
.EJ
.9
a
c
o
c
I
a
A
E
11
a
!
E
,
p
a
'a
t
c
!
u
'-
>'a
?!
!,
8:
L!
9';
.:a
E.!
a
3
e
A
t
c
_a
i*
i!
,i,
.-o
A'
a!
3i
:!
DJ.
lc
c)
=D
l!
E
4.
a!
ii
gE
..9
E!
!:
JT
='
69
c
E
t
5
a
e
.!?
E!
IE
E{
ii
!:
,v
,a
l!
r=
!D
st
<.
:!
xt
i
tE
i!
5T
--a
E5E
5 t-
-:5;
E -!
-45
lrtE
5.8 5
a! a
o?
uE i
-
I IFi
, I: J
Ei
pi
r -!
-
Ei"Fi
E:;
3 iE"i
E5 ! b
r.a
g.E
!
a
c
a
A

a!
?7
5!
!t
.E
qq
9r
oi
IA
JC
t
i:
cc
.=6
.2A
!
o
I
a
!r
6q
I
!
!
E
a
c
{
E
E
A
a
c
'c
E
I
c
t
c
.A
.^E
iE
gE
.!
'8:
ril
ac
;E i
an=
iiE t
1.a
E.
a,
?!
:i
ae
E'-
Jti
'i4
*3
!
E-
!g
E!
:g
!;
.g5
.9"
iE
!-s
c
q
!
,
,
E
(
,& o
t
o
,
,
D
tE.
EI E
ar.!
i-r
q
i![
.
z2
rt.
,2E
EEi
c
r
&
E
I
2
2t
a
a
c
&
o
E.
oi
v,
i
5
Ef
4C
E
d
aB
!
aE
o
v
c
.E
d
p
ei
3r
rr3
9A
ab
Er
E!
F!
r;.5
!oI
J ii
a
a
d
t
o
!
a
E
t-
1i
3;
.Eo
E'
1C
Cq
ta
d!
ilE
IE
g
E
?
!
a
a
.
l-!
Et
a,4
ei
az
o,
E!
E
c
r!
Er
rI
E-a
E:
5r
5I
ol
II
ED
0
ET
IE
=o
lc
EE
,,2
EJ
i!
E:
:-
t;l
EE
uo
}I
F
?
I
o
a
A
c
x
!
EE
E!
E.q
a,
!l
x'i
a
c
t
a
!
7
E
t
a
i. I
,J
I
E
a
D
2
t
3!
:t
{o
EI
-: .a
1!
.!l
:r
d.=
o
a
ac
'-t
Ir
t:
-x
:l
l.=
it
,E
FE
E!
t.i
:9
6r
t5
a
t
o
E
.2
E
e
a
I
a
!
x
a
a
E
t
ii
68
b
ar
t'
.l
s
.o
!
b
\
E
tt
I
lr
i
t
q
t
s
E
t
E
$
E
{
u
(
s
.I
E
u
:l
tl
tt
E
!l
tt
.t
E
E
cr
p
t
E
.E
t
6
t
q
\
!
.3
.t
I
E
*
:
I
s
B
,!
cl
(,
6l
e)
il

q)
&
E
6
o
6
00
6l
f
o
a
cl
00
E
ct

o
o\
t\
I
6'
F
6.1
BAB 6. GANGGUAN
PADA SALURAN
TRANSMISI
DAN INTERF'ERENSI
PADA
SALURAN KOMUNIKASI
KARENA INDUKSI MAGNETIS
Sebab.Sebab Gangguan pada
Saluran Transmisi
Oleh karena Ietaknya yang
tersebar di berbagai daerah, maka saluran transmisi
mengalami gangguan-gangguan
baik yang disebabkan oleh alam; maupun oleh sebab-
sebab lain. Dalam Gbr 49 ditunjukkan secara statistis gangguan-gangguan yang terjadi
pada
saluran transmisi di Jepang selama l0 tahun antara tahun 1955 dan tahun 1964.
Gambar ini menunjukkan bahwa pada saluran transmisi di atas l87kV
jumlah
gang-
guannya
adalah l,l per 100 km per tahun; pada llo
-
154 kv adalah 2,4, pada 44
-.7j
kv adalah 5,8, sedang pada
saluran 33kv ke bawah gangguannya
adalah 1,0 per
100 km per tahun. Data gangguan
di Indonesia dewasa ini sedang dalam tarafpengum-
pulan.
Hampir semua gangguan pada saluran 187 kV ke atas disebabkan oleh petir, dan
lebih dari 70/" dari semua gangguan pada
saluran ll0- l54kV disebabkan karena
gejala-gejala
alamiah (petir,
salju, es, angin, banjir, gempa, dsb.) Gejala-gejala alamiah
lain yang terjadi pada saluran 60 kv adalah gangguan oleh binatang (burung,
dsb.). Ka-
rena letaknya di daerah tropis, gangguan
karena es dan salju tidak diharapkan terjadi
di Indonesia (kecuali
di
pegunungan-pegunungan
tinggi di lrian Barat).
Gbr. 50 menunjukkan jenis-jenis
gangguan yang terjadi, sedang Gbr. 5l menun-
jukkan
macam kerusakan yang terjadi sebagai akibat gangguan tadi. Dari
jenis-jenis
gangguan yang terjadi, yang paling besar
jumlahnya
adalah hubung-singkat satu fasa
dengan tanah. Alat yang paling
banyak menderita kerusakan adalah isolator.
Jenis Gangguan
Jenis gangguan
dibagi menjadi dua kategori:
(a)
Hubung-singkat.
(b)
Putusnya kawat.
Dalam kategori pertama
termasuk hubung-singkat
satu atau dua fasa dengan tanah,
hubung-singkat
antara dua fasa, dan hubung-sirtgkat tiga fasa satu sama tain, atau
hubung-singkat tiga-fasa dengan tanah. Seperti terlihat pada
Gbr. 50 hubung-singkat
satu fasa dengan tanah paling
sering terjadi. Dalam kategori kedua termasuk putusnya
satu atau dua kawat.
Kadang-kadang hubung-singkat
dan putusnya
kawat terjadi bersamaan. Kadang-
kala terjadi
juga
hubung-singkat di beberapa tempat sekaligus.
6.2
70
Bab 6. Gangguan
pada Saluran Transmisi
P.d.ot ..
(7J
fr10
Huiu, Arrin, dra GcmprBuui
Es rhn Seliu
Pctir
Gmm,
Debu drn Ges
Pcmburuhen lPhtor
Xekuru3en-kekurengen peda Perrlelen
Discbrbkan oleh Pcrelaten lein
Eutug den Bineteng Lain
Kslahen Menosie
Xeslehen Pekeria Seluren
Persent.se
(
7o)
o301050
Keselahen Lein
Gbr.49 Data Gangguan di Jepang menurut
Sebabnya
(f955-1964).
Persentase
(
%)
o lo 20 30 4t) 5{)
HubunB Singkat
Satu Kawat ke
Tanah
Hubung Singkai
Antara Fasa
Hubung-Singkar
klrene Pembumian
Kawat Putus
Lain-lain
Konstruksi Penopang
tr--
L_--
l.olatn,
l]?:,
=.-
Penshantar
S
F
I
L__
,
t'
Fr
Isoletor dan Peoghanlar
g drbawah 77 kV
.-j I l0-ts4
kv
--l
dirrrr l8l l(V c:= dibeweh 77 kV
r-- ll0-l54kV
-:
diatas lt7 kV
Gbr. 50 Data Gangguan di
JePang menurut Je-
nisnya
(
1955-1964)
Laio-lein
Gbr. 5l Data Gangguan
di
JePang
menurut Aki-
bat
(Kerusakannya)
terhadap
Peralatan
(1955-r964).
6
dibr*rh33kV
nvt 1+77kV
r------r ll0-150 kV
a--"'-r dirtrs lt7 kV
6.3 Cara Mcnghituag Hubung6int$t
6.3 Cerr Menghitung Hubung-Singf,at
6.3.1. Srturn Pcrhitrmgrn
Oleh karena saluran dan sistim transmisi berbeda karakteristiknya pada
berbagai
tempat, maka digunakan satuan m.k.s yang sama pada tempat-tempat terscbut. Oleh
karena kebesarannya yang ribuan kali satuan-satuan yang biasa dipakai, maka dalam
perhitungan hubung-singkat digunakan kebesaran yang sesuai, misalnya I.000.000
kVA. Kebesaran yang dihitung merupakan persentase dari kebesaran referensi itu
(caranya disebut cara persentase) atau merupakan kelipatan dari kebcsaran itu (caranya
disebut cara per-unit).
Nilai 100
f
atau I per-unit (disingkat p.u.)
dipilih untuk dua satuan listrik, misalnya
untuk daya dan tegangan antar-fasa (line voltage), kemudian dicari nilai persentase
atau per-unit dari satuan-satuan lainnya, misalnya arus kawat. Dengan demikian
didapat:
7t
w
Qoon
:
v
Q00%)
x I (tw%) x
JT
Y
Qwn
:
I
0oo%)
x z (tmfl) x
JT
(l4s)
(146)
(147)
(148)
(l4e)
(r s0)
(r 5r)
(152)
Bila hubungan di atas sudah ditetapkan, maka impedansinya dalam persen atau per-
unit dapat dihitung dari persamaan-persamaan berikut:
z(%):'ffixloo
Z(pu)-w
Z(Q):
z@\
:
Apabila MVA dasar atau tegangan dasar dirubah, maka impedansinya disesuaikan
pula:
Impedansi (MVA dasar baru)
:
Impedansi (MvA dasar lama) ,
ffi*Hi@r,",r"
Impedansi (tegangan dasar baru)
:
Impedansi (tegangan dasar lama) .
l$ffifitffi]'
6.3.2, Perhitungen Hubmg-Singket Trt-Selmbrng dengen Crre Komponen
Slmetris
Perhitungan tegangan dan arus pada titik-titik hubung-singkat dapat dilakukan
bila sistimnya sederhana dan seimbang. Namun untuk sistim tiga-fasa yang tidak seim-
bang penghitungannya menjadi rumit. Oleh karena itu sistim tegangan dan arus tiga
fasa yang tidak seimbang itu perlu dirubah lebih dahulu men;adi komponen-kom-
ponen simetris yang seimbang. Penghitungan kemudian dilakukan pada
siscim-sistitl
yang seimbang tadi, lalu hasilnya digabungkan kembali untuk mendapatkan nilai
yang dicari pada sistim yang semula
(yang
tidak seimbang). Suatu kebesaran tiga-fasa
yang tidak seimbang dapat dinyatakan oleh
jumlah
tiga komponen yang seimbang.
ya
72 Bab 6. GanSSuan
pada Saluran Transmisi
Ketiga komponen ini merupakan bagian dari dua sistim tiga-fasa yang perputaran
fasanya berlainan serta sebuah sistim satu fasa.
Komponen-komponen urutan positip (positive-sequence) dinyatakan dengan
subskrip ,1, komponen urutan negatip (negative-sequence) dengan subskrip 2 dan
komponen nol (zero-sequence) dengan subskrip 0. Hubungan antara komponen'
komponen ini dengan komponen-komponen tiga-fasa yang asli (dinyatakan dengan
subskrip-subskrip a, b dan c) dinyatakan oleh persamaan-Persamaan berikut;r)
E,:
E,:
Eo:
i,:
i,:
(ls3)
(154)
io:
!{i,
t-
l-(i,*
ir+ i"1
l3
Olmana a:
-Z:
Z
l
l3
a_:_T_Zl
Sebaliknya dari komponen-komponen simetris dapat pula dihitung tegangan dan
Ir
{r
t.
3-t
*,,
Ir,
E. + dEb+ drE.)l
E"+A2Eb+di")l
.t
E,+ Eb+ E,)
|
;1
az
-d
:l
+aib+,
t;zi i
(i"
(i,
(r5s)
(156)
arus setiap fasa sebagai berikut:
E,: Er+ E, + E,
I
Eo: Eo
-r d,E, -r af
rl
E,: Eo
-+-
dE1 +
d'Er)
i,:ioai,+i,
,l
io: io
-
a2i,
-r
'dirf
i": io
t
di,
-
d'ir)
(157)
(l 58)
Dengan menggunakan substitusi di atas, maka keadaan tak-seimbang pada titik
hubung-singkat untuk sebuah sistim transmisi yang rumit dapat direpresentasikan
oleh sebuah rangkaian ekivalen
yang mensimulasikan keadaan hubung-singkat itu.
Hal ini mempermudah
penyelesaian persoalan dengan rangkaian-rangkaian analop
seperti, misalnya, dengan
penganalisa
jaringan bolak-balik (A.C Network Analyzer),
6.3.3. Cara Menghitung Tegangan dan Arus pada Titik Gangguan
Bila terjadi hubung-singkat
atau kawat putus pada saluran transmisi, maka tega'
ngan dan arus pada waktu gangguan terjadi dihitung dengan rangkaian impedans
komponen simetris sebelum terjadi
gangguan tersebut' Bila impedansi komponen'
komponen adalah Zr, Z, dan Zo, arus gangguan adalah Irt, Irr dan Is1, tegangan gang'
guan adalah E11, Ezrdan Es1, serta tegangan fasa sebelum gangguan adalah Eor,makt
tegangan dan arus komponen simetris dinyatakan oleh rumus-rumus seperti terteru
dalam Tabel 30.2)
Hubung-Singkat Tiga-Fasa
4
;;L"r
ttr: lF:Z
Hubung-Singkat Satu-Fasa ke Tanah
T
irr
:
izr: ior
:
-'
Zt*Zz*Zo
ir: ir, * i* I ior:3iop
Err: Eo,
-
irr2r: E.r=z+*2:=-
Zt-lZz-fZo
E.,:-i.,2,:-
E"tZ'
-
'
Zt*Zz*Zo
Eor:
-iorzo: -=1".--= '
ZtrZr-+70
Hubung-Singkat Dua-Fasa
i,,:
-i"":
-E"J- Zt*Zz
iF:
J5
ilP
Er,
:
Eo,
-
irr7r:
='''2+, Zt*Zz
Hubung-Singkat Dua-Fasa ke Tanah
;
E,t
rrF:-
"
Zt'L Z2Zol(22 +
Zo)
E"r(Z,
-
2'o)
--
ZrZz
-
Ztzo
i-
ZzZo
i-2oi
tzF '-
-
=--l--E-
t
tP
2.2
-f
L6
_
, ,i
-?:!,,
, _
ZtZz + ZtZo a:
ZzZo
'2"' lor:
-=-j-=-ltp
Zz -f Lo
+{
-
Z.I1-.
ZtZzlZtZo*ZzZo
Ert:E,r- irr2,
: ,
24,.L,
ZrZz*ZtZo*ZzZo
Tabel 30. Rumus-Rumus untuk Perhitungan Tegangan dan Arus Hubung-Singkat
6.3.4. Cere Menghitung Arus Hubung-Singkat 3-Fasa
6.3 Cara Menghitung Hubung-Singkat 73
Err:
-
izrz2:
Eor
:
-
iorzo:
2r2oE,,
Z;Z;+Z,Z;TZZ
22208,,
n;+Z,Z;TTil
(e)
Kawat Fasa a purus
i,,
:
E,r(Z, +- Zo)
2'2,lZ;Zo
+ Z;4
-
20E.,
.n--
ZtZz
t
ZrZ, + Z2Zo
-
2zEot
ior:
Er,
-
ErZr* 2rZo * 2r2o
Err: Eot
-
irrZ,
2r2oE,,
2rZz* 2rZo * 2r2o
Er,-Err:-irrZ,
2r2oE,,
:mz;z;w
Eo,-Eor:-ior2o
zr2oE",
:27;27;z7o
(f)
Kawat D dan c putus
i
-i -i
--
Eor-
ttF
:
rzF
:
ror
:
ZJZ;-*
h
ir: i"-3i0,
Er,
-
Err: Eo,
-
irr2,
-
4"
G1 + 2-o)
Zr+Zz*Zo
Er,-Err:-irr2,
:
-
.
ZrF',
Zr*Zz-rZo
Eo,-Eor:-iorZo
:-,
zo,E.,
,
ZriZz*Zo
Maksud menghitung arus hubung-singkat 3-fasa adalah untuk mengetahui kapa-
sitas pemutus-beban
dan pengaturan rele pengaman.
Impedansi saluran transmisi dapat dilihat pada 5.1. Untuk impedansi mesin-mesin
serempak dipakai reaktansi subtransien Xo" dengan mengabaikan tahanannya. Untuk
mesin "salient-pole" tanpa gulungan peredam (damper winding) dipakai O,85Xd"
sebagai reaktansi subtransiennya. Untuk impedansi trafo digunakan reaktansinya
74 B8b 6. Gangguan
pada
Saluran Transmisi
dengan mengabaikan tahanan. Beberapa harga reaktansi mesin serempak dan trafo
tertera dalam Tabel 3l dan Tabel 32.
Arus komponen simetris
do
untuk hubung-singkat 3-fasa dinyatakan oleh per-
samaan
(periksa Tabel 30):
r,o:#T:ffixr,
dimana V: teBangan sistim maksimum
(kV)
/,
:
arus yang bersangkutan dengan
jumlah
seluruh sumber daya sistim
_
kapasitas sistim (kVA)
-*---T-v-
Xr
:
rcaktansi urutan
positip dari sistim dilihat dari titik gangguan (O)
%X,
:
reaktansi diatas dalam persen atas dasar Y dan I
Tabel 31. Reaktansi Mesin Serempak
(%')
Apabila dalam keadaan peralihan (transient) komponen searah dan atenuasi arus
dimasukkan
(periksa Gbr 52), maka nilai efektif
{
dari arus hubung-singkat 3-fasa
dinyatakan oleh persamaan :
3)
r,: AoJffi-(/fff x r,o
dengan harga puncak (crest)
1,.:
^rfTAo(("
-r Kd) x I,o
dimana lo
:
koeffisien yang menyatakan
pengaruh beban pada
singkat, dianggap
:
1,05
K,
:
koeffisien yang menyatakan atenuasi komponen bolak-balik,
periksa
Gbr. 53
Ka
:
koeffisien
yang menyatakan atenuasi komponen searah
4,5
5,0
5,5
7,5
7,5
10
ll
12
l3
t4
(lse)
(160)
(
161)
arus hubung-
Jenis Mesin Xd, Xd,,
Generator Turbin
Generator Salient-Pole dan Motor dengan
Gulungan Peredam
Generator Salient-Pole tanpa
Gulungan Peredam
Pengubah Fasa Serempak
23
-35
20-s0
20-45
30-60
l8
-
30
13
-
35
(:
xd')
l8-38
Tabet 32. Reaktansi Transformator
(7")
Reaktansi
(%)
ll
,,1
33
65
77
ll0
t54
187
220
275
6.3 Crn Mcnshitung HuburUiqtrt 75
Untuk atcnuasi arus hubung-singkat dalam waktu sctengah pcrioda (cyclc) berlaku
hubungan:.'
JWF:t,S
f,.*Iir:l,t
schingga didapat K.
:
I dan
(r:OrE
6.3.5. Crre Meqhtturg AnB Tsrsh
Guna menghitung interferensi
karena induksi clektromagrretis
perlu dihitung arus hubung-singkat
satu-fasa (periksa Tabcl 30):
I,:#z (162)
dimana E
r
:
tegangan fasa maksimum
(kV)
2r,2r,20
:
impedansi komponen simetris
(O)
Dalam pcrhitungan ini diandaikan hal-hal berikut:
(l) Tahanan pcmbumian di tcmpat hubung-singkat diabaikan.
(2) Tahanan penghantar
dan tanah diabaikan (kecuali bile impedansi pembumian
titik netral dari transformator kecil).
(3) Reaktansi hilang-daya dan eksitasi dari transfonnator diabaikan; hanya
rcaktansi bocor yang dipcrhitungkan.
(4) Tahanan gefterator dan mesin serempak pcngubah fasa diabaikan; hanya
reaktansi X) yang diperhitungkan; tetapi untuk sistim yang ditanahkan
penuh .fan bila hubung-singkatnya dapat ditiadakan dalam waktu singkat
dengan pemutus-beban kecepatan tinggi, maka reaktansi yang dipakai
adalah Xj'. Reaktansi urutan negatip dianggap sama dengan X) atau X)' .
(5) Impcdansi beban dianggap tak terhingga besarnya. ,
Bila titik netral dari transformator ditanahkan di bebcrapa tempat, maka pcrhi-
tungan arus hubung-singkat dibuat di beberapa titik hubung-singkat yang dipilih secara
bebas, dan perhitungan arus hubung-singkat rnenuju titik hubung-singkat itu dipcla-
jari.
Ternyata bahwa arus herbung-singkat ini bcrbanding tcrbalik dengan impedansi
urutan nol dari rangkaian pada ke dua bclah
pihak dilihat dari titik hubung-singkat.
terscbut.
\
It-
IlI
Iv
Gbr.52 LeCklrltg Anr H+
hnglttgtnt Tlfe-
Fese.
wtr
GctTrtL-r
M- S.llr..a.ir
Grhrr Hr
ift- S.h.r.?oh
rrn G.ha..
lrrrtr
l/2
gerL&
qLrtcat
0rr ac.r
I
TN
lv
I
ll
ilt
t,0
0,9
0,e
0,7
l' o,o
0,5
0,4
0)
s 6.7
I'olL
r0 tI 12
Gb. s, Nrd r.
6.3 Crn Mqrshitung Hubunginjker
75
Untuk atcnuasi arus hubung-singkat dalam waktu sctengah perioda (cyclc)
berlaku
hubungan:.,
Jffi| F:
t,s
f.
+
.K.: l,t
schingga didapat r(,
:
I dan
Kr: 0,E
6.3.5. Care Meqhtturg Arus Tsrsh
Guna menghitung interferensi
karena induksi elektromagnetis
perlu
dihitung arus hubung-singkat
satu-fasa (periksa Tabel 30):
dimana t,
:
tegangan fasa maksimum (kV)
2
r,
2r,20
:
impedansi komponcn simetris (fl)
Dalam pcrhitungan ini diandaikan hal-hal berikut:
(l)
Tahanan pembumian
di tcmpat hubung-singkat diabaikan.
(2)
Tahanan penghantar
dan tanah diabaikan (kecuali bile impcdansi pembumian
titik netral dari transformator kccil).
(3) Reaktansi hilangdaya dan eksitasi dari transfonnator diabaikan; hanya
reaktansi bocor yang diperhitungkan.
(4) Tahanan generator
dan mesin serempak pengubah fasa diabaikan; hanya
reaktansi X! yang dipcrhitungkan; tetapi untuk sistim yang ditanahkan
penuh dan bila hubung-singkatnya dapat ditiadakan dalam waktu singkat
dengan pemutus-beban
kecepatan tinggi, maka reaktansi yang dipakai
adalah Xj'. Reaktansi urutan negatip dianggap sama dengan X) atxu X)'.
(5) Impcdansi bcban dianggap tak terhingga besarnya.
Bila titik netral dari transformator ditanahkan di beberapa tempat, maka perhi-
tungan arus hubung-singkat dibuat di beberapa titik hubung-singkat yang dipitih sccara
bebas, dan perhitungan
arus hubung-singkat nrcnuju titik hubung-singkat itu dipela-
jari.
Tcrnyata bahwa arus hubung-singkat ini berbanding tcrbalik dengan impedansi
urutan nol dari rangkaian pada ke dua belah pihak dilihat dari titik hubung-singkat.
terscbut.
Wrtn
G-rr?rlbrhr
ll-S.k aa-!r
Grhfr ?rn-r
M.th S.Irf-iC.
trf Grhfr
frnr-r
tn
gerL-
qL&.r
oJlr&ir
T
Itl
IY
t
rl
tIt
5 6.7 e 9 ,0 il t2
I,olI.
Gtr.53 Nfel f.
Gbr.52 Lqfkrry Atu Ho-
hry-Slng}ai Tlrr-
Fere"
76
Bab 5. Gangguan pada
Saluran Transmisi
Interferensi Elektro-Magnetis terhadap Saluran Komunikasi
6.4.1, Tegengan Iuduksi Elektro-Magnetis kerena Arus Unrten Nol
Tegangan induksi elektromagnetis karena arus urutan nol dinyatakan oleh
Y
: jaMlol (Y)
(163)
dimana ar
:
frekwensi sudut
M
:
induktansi bersama (mutual) antara saluran tenaga dan saluran komuni-
kasi (H/km)
:
sfus urutan nol (A)
:
panjang
saluran yang sejajar
Induktansi bersama melalui rangkaian kembali ke tanah dinyatakan oleh persa-
maan Carson-Pollaczeks :
5'5)
u
:
l(zn
atau
ylKl"/b'l(hr-hr), )
*,
-
i(* nr(r'r-+
/,,)))
ro-{
6.4
Io
I
(H/km) (164)
(165)
Persamaan (164) digunakan bila
lKwFr4F,Tij
<
*
sedang persamaan (165) dipakai bila/KD/besar. Dalam persamaan-persamaan
tadi
17: 6tztt*@@ (cm-,)
|
:
1,781I (konstanta Bessel)
(166)
l,
:
tinggi saluran tenaga di atas tanah (cm)
hz: tinggi saluran komunikasi di atas tanah (cm)
6
: jarak
mendatar antara kedua saluran (cm)
a
:
konduktivitas tanah (emu)
a berubah rnenurut keadaan tanah sepanjang saluran transmisi; di Jepang nilainya
kira-kira (0,25-200).tg-tr emu dan tahanan
jenisnya
5-4000Om. Bila tidak ada
harga o yang diketahui dapat digunakan rumus?,
o
:1,5
x l0-r,-/i/ (emu)
(167)
dimana
,f
:
frekwensi sistim tenaga
Bila tidak ada harga o
yangterukur, maka untuk tegangan induksi elektromagnetis
dapat dipakai rumus praktis:
Y: Kfrozl
tv
dimana tr1: (2,5
-
4)'t0-' untuk daerah datar (flat)
: (5
-
8).tg-r untuk daerah pegunungan
Chusus untuk contoh Gbr. 54 berlaku hubunganr)
(r68)
":{#"ercHE
t4t}
x ro-. (H/km)
''+-#r1;p*
tfu (l6e)
6.4 Referensi
dimana suku pertama
adalah
untuk
jarak
100-5000m an-
tara kawat tenaga dan saluran
komunikasi, sedang suku kedua
adalah untukjarak kurang dari
100 m. Pengaruhinduksi untuk
jarak
lebih dari 5000 m diabai-
kan.
Sdunn Xonuikui
Gbr.54 Pcisi Saluran Transmisl Te.
nag! terhsdrp Sduran Komuni-
k8sl.
6.4.L Cen Melindungi terherlap Irdulsi Eleh&omagnetis
Perlindungan terhadap induksi elektromagnetis dapat dilakukan pada saluran
tenaga maupun pada saluran komunikasi. Pada saluran tenaga perlindungannya dila-
kukan dengan:
(a) Membangun saluran tenaga sejauh mungkin dari saluran komunikasi, meski-
pun
segi-scgi tekno-ekonomisnva pcrlu diperhatikan dalam pemilihan lintasan
(route)
bagi saluran-saluran tersebut.
(b) Memasang kawar tanah pada saluran tenaga sehingga tegangan induksi
berkurang.
Perlindungan pada saluran komunikasi dilakukan dengan cara:
(a) Memasang arrester.
(b) Menggunakan transformator yang mengisolasikan (insulating transformers)
interferensi.
(c) Memasang kawat-kawat pelindung (shield wires) dan gulungan-gulungan
pelindung (shielding coils).
(d) Menggunakan kabel yang bertameng (shielded cables) sebagai pengganti
kawat-kawat telanjang.
6.4 Referensi
Di dalam Bab ini digunakan referensi terhadap karya-karya berikut ini:
l) C. F. Wagner, R. D. Evans, Symmetrical Components, McGraw-Hill Book Com-
pany, New York, 1933, hal. lGl7.
2) J. E. Hobson, D. L. Whitehead, "Symmetrical Components", Electrical Trans-
mission and Distribution Reference Book, Westinghouse Electric Corp., East
Pittsburgh, USA, 1950, hal. 25.
3) Special Study Committee, 'Method of Calculation of Short-Circuit Currents in
Transmission Systems", Journal, Institute of Electrical Engineers of Japan, No. 67,
1947, hal. 215.
4) "How to Calculate Short-Circuit Currents in Transmission Systems", Journal,
Electrical Cooperative Research Association (Japan), vol. 20, No. 6, 1964, hal. 10.
5) J. R. Carson, "Wave Propagation in Overhead Wires with Ground Return", Bell
System Technical Journal, vol. 5, Oct. 1926, hal. 539-555.
6) F. Pollaczek,- "ueber das Feld einer Unendlich langen durchflossenen Einfach-
leitung", Elektrische Nachrichten-Technik, vbl.3,-Scpf. 1926, hal. 339.-
"
7) 'Transmission", Handbook of Electrical Engineering,Institute of Electrical Engi-
neers of Japan, 1967, hal. ll7l.
77
7.1
BAB 7. PENERAPAN RELE
PENGAMAN
Unn
Relc pcagaman
untuk caluran transmisi mclindu"g oduran dan pcrabtan tcrhadsp
kcnrcatan dcngan cara mcnghilangkan
gangguan yang tcrjadi 8oc.ra ccpat dan tcpat.
IGcuali itu ia berugaha membatasi dscrah yang tcrkcna gaogguan scminimum munglin
rchingge mutu dan kcaadalan pcnyaluran tcrjamin.
Banyak sckali macam sistim
pcngaman yang diketahui; banyak
juga
&rajat
[gmampuan pcnpmanannys. Untuk esluran transmisi yqng penting scring dipatai
jcnir
'pilot
rrlsy', mcskipua sistim selc arus lcbih (ovcrcurrcnt)
juga
dapat dipakd.
Oleh karcna itu pcmilihan jcnic
rclc pcrlu dilakukan dengan saksama, dengan mcnper-
hatikxn frckwcnsi gangguan, pcntingnya saluran yang hcndak dilindungi, faktor-faktor
tckno-ckonomisnya, kckurangan dan kelcbihanjcnis yang satu tcrhadap yang lain, drb.
7.1.1. Pcrfublau nagcart f,cumporn Pcogurnrn
Ddam pcmilihan rclc dari scgi kcmampuannya urtuk menpmankan sduran
tranrmiri bcberapa pcrtimbangan perlu dipcrhatikan:
(a)
Koordinasi antara kcmampuan kcmbali kc kcadaan normal dan Lcmampuan
mcngctahui adanya gangguan; pcnting sckali bagi sistim rclc pcngilnan
untuk mcngctahui adanya gangguan dan mcngamankannya dcngan mcmpcr-
hatikan kcmampuan untuk lcmbali kc kcadaan normal socara otomatis.
Misalnya, bila sistim Ecnutup kcmbali rangkaian l-fasa (singlc-phasc rcclo-
cing) dipakai, maka sistimnya harus dapat mengctrihui fasa mana yang tcr-
gsnggu.
(b) Kemampuan rlcktip;
gsngguan harus dihilanglan dcngan intcmrpsi tcrbatag
pada dacrah scminidum mungkin, scsudah gangguan itu dikctahui dengan
tcpat. Bila digunakan sistim 'zone-stcp tripping" maka dapat dipakai sistim
rtle arus lcbih atau rple arus lcbih yang mengarah
(dircctional). Untuk saluran
transmisi rangkaian ganda dapat digunakan sistim pengaman yang mcmakai
input sckundcr
(scpcrti
dengan trafo ukur), misalnya dengan sistim pcngaman
arus-rimbang (currcnt-balancc) kalau 'rries tripping" diizinkan. Bila dii-
nginkan pcnjatuhan (tripping) kcccpatan tinggi, dalam hal'scrics tripping"
tidak dipcrbolehkan, maka sistim'pilot rclay' harus digunakan.
(c) Kcpckaan operasi; rele harus bckerja dcngan kcpckaan
(scnsitivity) yang
tinggi, artinya mclalui tegangan dan arus yang dicatat ia harus dapat mengc-
tahui gengguan yang sulit sckalipun dan dengan kcccpaten kerja tertcntu.
(d) Waktu bckcrja; dalam hal tcrtcntu rclc harus bckcrja dalam waktu singkat,
dalam hal yang lain ia harus bekcrja dengan waktu yEng tcrtunda (timc
dclay); scmuanya ini tcrgantung kcpada batas stabilitas dari sistim dan
kcccpaten bckerjanya,alat-alat
pada sistim tsb.
80
Bab 7. PeneraPan
Rcle Pengaman
(e)Pengarnanancadangan(back-up);dalarlrhalreleutamatidakbekerja,harus
ada
pengamun"n
"ioungan
(back-up relay
system)
sehingga
gangguan tetap
dapatdihilangkan.Sistimpengamananrelecadanganinibertugasmenga.
mankandaerahnyasendiri'danmengamankandaerah'daerahyangberte-
tangga
dengannya,
bila
rele dalam
jaerah-daerah
tetangga
tersebut
tidak
bekeda.
7.1.L
Pertimbrngen
mengenri
Kondisi
Sistim
Tenaga
Beberapakondisipadasistimtenagaperludiperhatikandalampenerapanrele:
(a) Daya
terbalik;
tegangan
dan arus
garlgguan
berubah'
dengan
berubahnya
arah daya
(back
power). oleh
t"r.nl
iti1a"
atau tidaknya
perubahan
arah
dayaperludiperhatikanbilasistim..pilotrelay''dipakaipadaterminalbeban
atau terminal
yang berubah
dayanya'
(b) Rangkaian ;;;;"r""'
sejajal
dan
yang bercabang
di tengah;
sistim
penga-
manan
,.iri;;;1;"toi..-piot"ction)
tidak
sesuai untuk saluran
ganda
vang
scjajar
atau bilf sesuatu
cabang
ditrubungkan
pada saluran
tersebut'
Pada
saluran.banyak(multi.circuit)yangsejajarperubahanimpedansiurutan.nol
harus
dicatat
dalam
hal
pembumian
rangkaian
tetangga'
dan adanya
arus
urutan.nolharusdicatatdalamhalberbagaisaluranterpasangpadamenara
yang sama'
Bila suatu
sumber
tenaga
dihubungkan
dengan
cabang
saluran
di tengah,
maka
kemampuan
rele
larak
(distance
relay)
untuk
mengukur
jarak ke
,"nrgut"
berubah
pula; disamping
itu arus
gangguan dalam
daerah
yang oilinauTgi
mengalir
ke tuar dari daerah
tersebut,
sehingga
rele arah
idirectional
relay)
akan terpengaruh'
(e) Sistim
p""l-*i""
dan titik
pembumian;
arus dan tegangan
berubah
dengan
bcrubahnyasistimpembumian(effektipatautidak),sehinggahaliniberpe-
ngaruhpulapadasistimpenga*"n"nnyu.Untuksistimyangditanahkan
effektipsistimrele.jarakseringdipakaidalampengamananterhadaphubung-
singkat'
U;;;k
'i'ti'n
yang tidak
dibumikan
secara
effektip
sistim
relenya
dipilih'"at'nifi"ttrupasehinggareletidakbekerjaterhadaparuspemuat
",",
"'u"'
itp"a"tti
urutan-nol'yang
semu'
karena"arus
hubung-singkatnya
kecif.
Titif
pcmbumiannya
juga penting dalam
pemilihan sistim
pengamanan
tersebut.
1.13.
Contoh
Penerrpn
Sistim
Pengemerrn
Tabcl33mcnunjukkancontohpenerapanrelepengamandanTabel34memberikan
berbagai
jenis rclc;;*;"r"rup"i
U"rU"gai
sistim
Pcngamanan
akan diuraikan
lebih
t
" "'",',',
s isti m rele
arus'lebih.;
sc
perti
it
n
:o-i:.::'^T., :::'" :i":*-,ffi il::;';
dngk{t
d;;
oleh rcle-arah;
bila waktu
bckerjanya
rele-arus-lebih
dipasang
lebihlamamakindckattcmpatnyadsrisumbertcnaga,makahanyarele
arur-teuiivang
-berdekatan
a"ng"r,
ritik
ganggul,r"ng
bekerja'
Dengan
dcmikiarrhanyarangkaianyangrcrkenagangguansajayangdibuka(selected
Eipprng)n"fi"--ftUnbefcrjrpaO"*"ttud"o"*lcbihtertentu'Gbr'55
monuniukkar
lebuah
shtim
yang sumber
tcnsganya
ada di dua ujung;
untuk
eistim
radial,
yritu
yang rum*I
tcnsganya
hrnya
ada di satu
ujung
saja'
7.1 Unun
8l
d
!!
tr
c
E,
d
U
c
d
CI
6,
E
s
t
o
e
E
6
c
EI
a
a)
ta
d
J
tl
q
u,
I
a
a
I
a
J
a
di
o
t)
il
J
I
ai
a)
o
il
a
!t
I
a)
il
It
s
a
I
c
$
t
o,
o
c
!
D
s
c
$
$
F
o
o
&
a
o
o
4
a
5
o
t
t
$
F
o
o
&
3
t
o
o
c
!
-c)
3
ET
g
CI
al
B
I.
q)
o
H
a
D
s
E
E
$
.9
0)
il
3
a
a)
o
c
a
D
s
6
$
$
F
a)
o
d
f
.9
o
*
Il
D
,3
EI
E
$
t
.g
o
4
a
t
a)
o
d
EI
.o
J,,
EE
ga
e.A
.BE
F'l
od
56
ilt
d
6
al
Ir
cl
x
o0
t
(A
&
E
D
,
JI
6
d
o
o
&
x
ai
ql
o
o
c
J
ql
d
o
o
il
d
a)
a,
d
o
t:
?
t)
o
&
&
dl
c
a)
o
c
d
k
tu
o
c
o
,3
a
a)
o
d
-o
a)
Fl
,
a,
o
c
J'
c
c,
t
o
&
al
a)
o
il
J'
d
E
c
e)
o
I
t
c
a)
a)
*
J
d
L
d
a)
o
c
c
a)
o
il
E
E
qt
c
d
tr
d
d
{
tr
o
9r
E
(A
ql
c,
t)
x
qt
x
s
c
(h
&
q
a
D
oa
E
\
q,
a)
il
o
A
0c
tr
qt
o
&
o
E
o0
c
-otr
qo
,ig
co
EE
Eu
AE
pi
^a
rQ
J
cl
G,
()
o
c
00
q
d^
5A
EO
38
eE
E&
{o
HO
$!
TT
I
6!
c
o
o
*
I
ql
d
a)
o
I
o
E
o
=
I
P
d
D
a
Ji
CI
rl
c
d
al
T
E
0
gr
3
d
.9
a,
d
d
d
c
v
a
c
V)
!o
c
a
D
a
..
E
6
a)
4
o
A
{
tr
d
0
d
o
A
{
6^
.oE
co
aE
trO
d ,1.
tr*
Ec
$E
^08
x
c
b
g
a)
&
d
o
l)
&
H
3E
8.9
TE
co
6
,l-
{o
EH
E8
x
d
(,
o
o
I
c
t)
(,
&
J
d
q,
.c
t)
&
CI
a)
o
/,
a)
r:r
,
o
tr
I
a
5c
E.9
;iE
EO
ET
9lo
B!
ig
&
d
c
a)
o
c
tr
c
E.E
'au
,38
a)
fr
Ea
trq
$s
't
ir
E
d
tr
ql
t
d
t<
6
oD
tr
a
7
()
aE
BU
ta,
AE
-
J'
d
tl
c
a
I
qt

i:
t
f
C'
F
CI
!
c
a
a
t
E$
E.q
ti .
,a
e3
t
c
c
c
E;
LC
!'
aa
q
E
o
E
al
lr
E
c
!
a
E
d
d
A
a
a0
A
a)
A
E
0
a
(.)
(r)
3
c
lr
82 bb?. hr$oRdohnoe!
Td3a. I&&I*Jflet
bR.b Rnuu D,i.inn
rffd
t- EtYIbe + rst
(C
-
9f)
77777
P
tbM
T.- lzWse + rtlz
(c-r)
Ofrd MIIO
T
-
XrY'
* KtWcg(O
-
c\ + XtIr
I
x
(R
tnnoOU
T-XrY'*KJ'
(f,r :
0)
X1
l:
D*
/R
MHO
T
-
XtY'
* &YIeot(0
-
a)
Kooduktrod
T
*
KrYr * Kfl csO
(c :0r
x
A"
Sucetrri
T-XrYt+XIYIsile
(c
-
9f)
L"
7.t tm
Anb Opcrrd
Rrtr
W.ktu Opcr.li
Gtr.
g,
Pcqamm Salcaa dcogn RdG Aru kblL
hanya relc-anrs.lcbih ya[g dspat mcmcnuhi tugas pcngrmanan tsnpa rclc
arah.
Untuk mcmungtiokan'sclccted trippiag" dari
giansgpsn
dalam waktir
scsingkat 6ung&in, scbaiknya dipakai rele dcngan karaktcristik pcngrnduran
waktu yang
terbalik (inversc tinc dclay), bila
nilai
arus hubungsingtat ditcn-
tukan tcrutama pada
titik gangguan. Bila nilai terscbut ditcntukan dalam
kcadaan operasionil, maka scbaiknya dipatai rplc dengan karaktcristik
pcngunduran
waktu tertentu (definitc timc dclay). Bila arus hubung-singtat
dan arus bcban tidak bcrHa, harus digunakan relc arus-lcbih dengan pcm-
batasan tc6angan (voltage
restraint). Meskipun sistim rclc arus-lcbih ini
scdcrhana dan murah harganya, waktu bekerjanya sering lambat sckali,
schingga ia tidak scsuai untuk
lrcngamanan
sistim-sistim yang banyak bagian-
bagiannya yang harus dijatuhkan (tripd) dan saluran-saluran transmisi
yang penting.
Ssitim rcle aruslebih biasanya dipakai scbagai pcngaman
cadangan pada saluran transmisi tcgangan rendah dan scbagai pcngiaman
sduran distribusi atau bila biaya untuk pcngamanan dcngan rele
jarak
tidak
dapat dipcrtanggung
jawabkan.t)
83
Wrfnu
qpcrlsi
$/ettu Opcnri
lw.r*
opcnsi
t
GL. 56 Pqrrrrn Sdurn dr!.r Rdc J.r.lt
Sictim rclc-jarak; sistim ini dipakai untuk mcngamankan saluran transmisi
tcrhadap hubung-singkat antar-fasa dan antara fasa dcngan tanah (dalam hal
sistim dibumikan effoktip). Gbr. 56 mcnunjukkan contoh penerapan pada
(2)
84
Bab 7. Pencrapan Rclc Pengaman
sistim penjatuhan daerah secara bertingkat (zone tripping). Tingkat pertama
Al
-
Fl dipasang pada jarak
70
-90%
dari daerah yang dilindungi, sehingga
penjatuhan (tripping) dari daerah tersebut berlangsung dengan kecepatan
tinggi. Guna menjamin bekedanya pengamanan disekitar terminal daerah
tersebut, maka diadakan pengamanan tingkat kedua A2
-
F2 yang dipasang
pada jarak
l2O-150% dari daerah tersebut, dengan pengunduran waktu
tertentu. Tingkat ketiga A3
-
F3 dipasang pada jarak yang lebih
jauh
lagi
serta penundaan waktu bekerja yang lebih lama dari tingkat kedua. Kelebihan
sistim ini dibandingkan dengan sistim arus-lebih terletak pada kemampu"ony"
untuk bekerja dengan kecepatan tinggi (karena rele hanya bekerja untuk
daerah yang dilindungi saja), sehingga ia sesuai sekali untuk melindungi
saluran-saluran transmisi. Kelebihannya terhadap sistim rele aruslebih
terletak pada ketidak-tergantungannya pada besarnya arus hubung-singkat.
t )
Namun biayanya lebih mahal. Hal yang perlu dicatat dalam penggunaan
rele-jarak adalah persoalan yang mungkin timbul karena kesalahan dalam
pengukuran jarak,
misalnya, dalam hal saluran transmisi dengan banyak
terminal, karena bercabang di tengah atau bila salah satu terminalnya mem-
punyai sumber daya.
Sistim pengaman seimbang; sistim ini dipakai untuk mengetahui dengan cepat
rangkaian mana yang terganggu dalarn sebuah rangkaian ganda yang sejajar.
Penjatuhan rangkaian yang terganggu dilakukan oleh rele arah atau rele
arus-lebih yang bekerja bila terdapat perbedaan arah atau arus lebih tertentu
dalam kedua rangkaian (terbaca dari trafo arus). Sistim ini tidak dapat bekerja
dengan kecepatan tinggi untuk seluruh daerah yang dilindungi. Kadang-
kadang ia bekerja secara beruntun (series tripping), artinya ujung yang dekat
pada tempat gangguan yang dijatuhkan lebih dahulu, baru ujung yang lain,
meskipun kecepatan menjatuhkannya cukup tinggi. Kelemahan yang lain
adalah bahwa sistim ini tidak dapat dipakai bila hanya satu rangkaian yang
beroperasi dan bahwa kesalahan penjatuhan satu terminal menyebabkan
kesalahan penjatuhan terminal lainnya. Oleh karena itu sistim ini dipakai
pada sistim-sistim saluran transmisi tegangan rendah.
Sistim rele pilot; sistim ini digunakan bila gangguan harus dihilangkan dalam
waktu yang singkat, yaitu dengan mengirimkan isyarat tertentu kepada kedua
ujung saluran. Dilihat dari segi pengiriman isyaratnya dikenal sistim rele
pilot-kawat, sistim rele power-line-carrier (PLC), sistim rele communication-
line-carrier dan sistim rele gelombang-mikro. Berdasarkan prinsip fungsinya
sistim pilot-kawat dibagi menjadi sistim perbandingan arah dan sistim per-
bandingan arus. Sistim carrier dibagi menjadi sistim perbandingan arah,
sistim perbandingan fasa, "transfer tripping" dan kombinasi berbagai sistim
tadi. Berhubung dengan kemampuannya, yaitu dapat menghilangkan gang-
guan dalam waktu yang singkat di daerah yang dilindunginya, maka sistim
rele pilot digunakan pada saluran-saluran transmisi yang penting. Sistim
pilot-kawat dipakai untuk pengamanan
saluran transmisi lewat udara yang
pendek atau melalui kabel, sedang sistim "power-line-carrier" untuk saluran
transmisi udara. Akhir-akhir ini, sistim terakhir tadi
juga
digunakan untuk
saluran transmisi melalui kabel.
(3)
(4)
7.1 Umum
85
Op.C: Gduru Oeonri
Gbr.57(e) Sistim Rele Pllot-Kawot
dengan Prinsip Tegangen
Berlawanan.
Io.C= Gdu:u Parbrbt
Gbr.5(b) Sistin Rele Pilot-Kawat
denSnn Prlnslp Arus Bcrsir-
kutrsl.
Gbr. 57-a menunjukkan cara tegangan-berlawanan
(opposed voltage) dan Gbr.
57-b cara arus-bersirkulasi (circulating current) dari sistim pilot-kawat;r) keduanya
termasuk sistim perbandingan arus. Pada cara pertama, dalam keadaan normal arus
tidak mengalir, sedang pada cara kedua arus mengalir melalui trafo arus dan kawat
pilot. Pada cara pertama, bila terjadi hubung-singkat, maka arus yang mengalir pada
kedua ujung saluran berbeda, sehingga terjadi perbedaan potensial antara ujung yang
satu dengan yang lain. Akibatnya arus mengalir dalam gulungan kerja (operating coil),
sehingga rele bekerja. Pada cara kedua, arus yang mengalir dalam keadaan normal
bekerja pada gulungan penghambat (restraining coil) sehingga rele tidak bekerja. Bila
ada hubung-singkat, terjadi perbedaan arus pada kedua ujung saluran yang menye-
babkan bekerjanya rele oleh gulungan-kerja. Untuk menghindarkan dari pengaruh
induksi, terutama dalam keadaan hubung-singkat, perlu dipasang trafo isolasi. Bila
kawat pilotnya tidak mempunyai isolasi yang cukup terhadap tegangan lebih, maka
mungkin pedu digunakan alat-alat tambahan, misalnya trafo-trafo
pcnetral(neutralizing
transformers), untuk melindungi orang dan peralatan terhadap bahaya tersebut.
Pada cara-cara di atas dipakai saluran komunikasi untuk mengirimkan isyarat-
isyarat, sedang pada sistim "carrier relay" digunakan saluran tenaga
(power line) atau
tidak mengirim isyarat
1fip-16r61 mengirim
isyarat trip-lock
trip tidak dipcrbolchkan trip diperbolehkan
HubungSingkat Didalam Saturan
tidak mengirim isyarat
triplock
trip dipcrbolehkan
-\.
-.-
,__
.s-
\\r.
ridak mengirim isyarat trip-lock
trip diperbolehkan
Hubung-Singkat Diluar Saluran
Gbr. 58 Prinsip Perbandingg Arah pada Sistim Rele Crrrler.
Blb 7. ncocrapen Rolo Pcosrnro
gclombang mitro. Sistim ini mcmdrai tiga cara: sistim perbaadingan
arah, sistim
perbandingrn frsa dan sistim
'transfcr tripping'.
Pada cara pcrtrrndingen
srah (Frikss
Gbr. 58) pilotnya mengisyaratkan kepada
pcralrtan pada satu ujung saluran bagaimana relc-arah mcnanggapi sesuatu hubunl-
singlat pada ujung yang lain. Dalam keadaan nor:oal, tidak ada isyarat pilot yang
dikirimkan dari scsuatu ujung (tcrminal). Bila terjadi hubung-singkat pada
saluran
tctangga (Gbr. 58 atas), sebuah isyarat pilot dikirimkan dari terminal dimana arus
hubung-singkat keluar dari saluran yang dilindungi, yakni
arah tidak-jatuh (non-
Uippiag). Dengan pengiriman isyarat pilot ini maka penjatuhan (tripping) diccgah pada
ujuag yang lain. Bila hubung-singkat terjadi pada saluran yang dilindungi (Gbr. 58
bawah) tidak ada isyarat pilot yang dikirimkan sehingga penjatuhan pemutus
bcban
tcrjadi pada kedua ujung dimana arus hubung-singkat mengalir. Rele yang
dipakai
untuk mclihat arah arus hubung-singkat adalah rele-arah atau rele Mho.
Huhmg$irykat II ltrar Saturan
Hubung-singkat Di dalam Saluran
BrB
Priorites Isyarat Lock
GDr. 59 Prlrlp PerDondingan Fesr pade
Sistim RdG Curlcr.
Prinsip dari sistim perbandingan-fasa terlihat pada
Gbr. 59. Disini pilotnya
dipakai
untuk membandingkan hubungan fasa antara arus yang memasuki satu terminal saluran
dan yang meninggalkan terminal lainnya.r) Besarnya arus tidak dibandingkan. Untuk
hubung-singkat di luar saluran yang dilindungi (Gbr. 59 atas) selalu ada isyarat yang
dikirimkan dari gardu A dan B, karena ada perbedaan fasa antara kedua ujung scbesar
1804. Dengan demikian maka penjatuhan pemutus beban dicegah (blocking, locking).
Sebaliknya untuk hubung-singkat di dalam saluran yang dilindungi arah arus pada
gardu B berubah sehingga gelombang isyarat dari A dan B berimpit. Dengan demikian
maka selama sctengah gelombang dikirim isyarat pencegah (lock)
dan selama setengah
gelombang berikutnya dikirim isyarat penjatuhan (trip) dari satu gardu. Bila selama
setengah gelombang terakhir ini tidak diterima isyarat dari ujung saluran yang
lain
terjadilah penjatuhan pemutus beban.
Sepcrti terlihat pada Gbr. 60 (a) dan (b) sistim
*transferred
tripping" menjatuhkan
pemutus beban pada ujung sendiri bila melihat hubung-singkat pada saluran yang
dilindungi, serta menjatuhkan pemutus bcban pada ujung lainnya dengan mengirimkan
isyarat pembukaan-pindah.
Dari ketiga sistim di atas cara perbandingan arah paling banyak diterapkan. Sis-
tim perbandingan-fasa mempunyai keuntungannya sendiri, tetapi memerlukan "signal
band" yang lebar oleh karena untuk sistim ini diperlukan transmisi isyarat dengan
keccpatan tinggi. Sistim "transferred tripping" (atau remote tripping) digunakan bila
hubung-singkat di daerah yang dilindungi dapat dilihat dari kedua ujung saluran.
Kecuali dalam penggunaan arus urutan-nol untuk menjalankan rele, sistim
Hubung-Singkat Di dalam Saluran
7.2 ncagamanan tnerrurut Jcais Rangtaian Saluran Transmisi
Gh.60(e) Prlnrlp ltrncfcrrod TrlDplry p.dr
Sbdr RclG Crrrlcr rntuk Pqrnrnu Sduren.
Rr: Rcle Difrcrensial pada
Transformator
Gbr.60(b) Hnslp TrrnsfcrrGd TrlDDlE
D.dl
Slstlm Rele Crrrier ddrm hd Hubmg-slnglrt
pdr Trrrformrtor.
pengamanan
terhadap hubung-singkat ke tanah sama saja dengan sistim pengamanan
hubung-sinEkat scpcrti diuraikan di atas. Llntuk hubung-singkat banyak-fasa dikcnal
dua macam sistim pengamanan:
(l)
sistim pembukaan prioritas; di sini penutupan kembali (reclosing) pemutus-
beban adalah untuk tiga-fasa (sesudah pembukaan tiga-fasa). Sistim ini
digunakan untuk pcmbumian tidak effektip. Sistim rele guna melihat adanya
hubung-singkat adalah dari
jenis
fasa-maju (advance-phase priority), jenis
rangkaian (circuit priority) dan
jenis
hubung-singkat yang gawat (severe fault
priority).
(2) sistim pembukaan
fasa yang terkena hubung-singkat; disini penutupan
kembali pemutus-beban
dilakukan hanya sesudah membuka fasa-fasa yang
tcrkena hubung-singkat saja. Sistim ini dipakai pada pembumian langsung
untuk saluran-saluran ganda yang sejajar. Sistim relenya adalah dari
jenis
perbandingan
arah setiap fasa,
jenis jarak
banyak-fasa (polyphase
distance)
dan
jenis jarak
untuk hubung-singkat ke tanah dengan kompensasi arus.
7.2 Pengamanatr menurut Jenis Rangkaian Saluran Transmisi
7.L1. Sdoru Rdid
Pengamanan untuk saluran radial dapat dilakukan dengan rele arus-lebih atau
relc
jarak.
Untuk rele arus-lebih karakteristik terbalik (inverse) dapat dimanfaatkan
kartna arus hubung-singkat berkurang bila
jaraknya
bertambah
jauh
dari sumber
tenaga. Rele arus-lebih dibuat terarah
(directional) untuk menyederhanakan persoalan
mendapatkan selektivitas bila arus hubung-singkat kira-kira sama besarnya dari kedua
jurusan
dilihat dari tempat rele tersebut.') Selektivitas itu tidak mungkin didapatkan
bila rele aruslebih akan membuka pemutus beban untuk hubung-singkat dari mana
saja arahnya. Pada umumnya karakteristik arah ini tidak diperlukan untuk saluran
radial dcngan satu sumber tenaga disatu ujung saja. Namun, pemasangan karakte-
ristik ini dirckomendasikan untuk menampung perubahan pada jaringan
dikemudian
hari.
Bila ada sumber tenaga pada kedua ujung saluran maka yang dipakai haruslah rele
arah atau relc
jarak-arah,
karena arah arus hubung-singkat di gardu tengah berubah
dengan bcrubahnya letak hutnrng-singkat itu. Untuk saluran-saluran yang penting
87
Isyarat
88
Bab 7. Pcnerapan Rclc Pengaman
lebih baik dipakai rele pilot untuk memungkinkan pembukaan pemutus
beban dengan
cepat dan agar letak hubung-singkat lebih mudah dilihat.
7.2.2. Sduren Tertutup
Bila sumber tenaga ada
pada satu tempat dalam saluran tertutup (loop), penga-
manannya dapat dilakukan dengan rele arah yang bekerja bila ada arus hubung-singkat
yang arahnya keluar dari ril (bus) sumber tersebut. Bila sumber tenaganya lebih dari
dua, maka pengamanan itu perlu dilakukan oleh rele
jarak-arah
atau rele pilot.
7.2.3. Seluran Gande Sejejer dengan Dua Terminel
Untuk
pengamanan saluran ini dipakai sistim rele seimbang atau sistim rele pilot.
Sistim seimbang dengan arus (current-balance) tidak dapat dipakai pada gardu beban
karena tugasnya hanya mencari rangkaian yang terkena hubung-singkat dengan mem-
bandingkan arus pada kedua rangkaian tersebut. Dalam hal terakhir ini sistim yang
libih baik lagi adalah sistim yang melihat arus differensial antara kedua rangkaian
sejajar tadi.l) Caranya adalah dengan menyilangkan hubungan trafo arus dari kedua
saluran dan memasang gulungan arus sebuah rele arah secara differensial diantara
hubungan-hubungan trafo arus tadi. Bila arus dalam kedua saluran sama vektorial
tidak ada arus dalam rele arah, karena arusnya hanya berputar melalui trafo arus saja.
Bila karena scsuatu
gangguan arus pada satu saluran menjadi besar, maka arus akan
mcngalir
pada satu
jurusan
dalam rele arah tadi, yang kemudian membuka pmutus
beban pada saluran yang arusnya lebih besar. Sistim rele seimbang ini mempunyai
kelemahan bahwa ia sukar mengetahui keadaan tak seimbang untuk hubung-singkat
yang
jauh
letaknya dari letak gangguan tadi. Dalam hal demikian sistim rele pilot harus
digunakan.
7.2.4. Sduren Brnyak Terminal
Kesukaran dalam
pengamanan saluran yang terminalnya banyak adalah bahwa
pencatatan arus hubung-singkatnya menjadi sulit karena adanya cabang-cabang
(kesulitan timbul, misalnya, karena kesalahan pengukuran
jarak
oleh rele-jarak). Ada
beberapa cara untuk mengatasi kesulitan ini:2)
(l) Saluran diperlakukan seperti saluran sejajar; bila salurannya dapat dianggap
sejajar, maka sistim rele seimbang dapat dipakai, meskipun waktu untuk
menghilangkan
gangguan bertambah lama, karena penjatuhannya beruntun
(series tripping) bila
jumlah
terminal bertambah. Dalam proses penjatuhan
beruntun itu cabang-cabang saluran menjadi tidak seimbang, sehingga untuk
mengatasinya
perlu diusahakan
penjatuhan bersamaan. Oleh karena itu
maka lebih baik digunakan sistim
pilot pcrbandingan arah atau sistim pen-
jatuhan-pindah (remote tripping).
(2) Dihindarkan arus keluar dari rangkaian
yang terhubung-singkat; di sini sistim
yang dipakai adalah yang dapat melihat hubung-singkat dan membuka rang-
kaian tertutup di luar daerah yang dilindungi dengan cpat; dengan demikian
maka mengalirnya arus keluar rangkaian waktu hubung-singkat terjadi dapat
dihindarkan. Kelemahannya adalah bahwa ada
penundaan waktu penghila-
trgan gangguan. Oleh karena itu, bila diperlukan
pembukaan cepat
(high-
spccd tripping), sistim rcle pilot-kawat atau penjatuhan pindah lebih sesuai.
7.3 Pengiamanan menurut Sistim Pembumian
7.L5. Sduren Krbel
Saluran kabel lebih gawat dibandingkan dengan saluran udara karena komplikasi
yang terjadi dalam keadaan transien sesudah terjadi hubung-singkat. Oleh karena itu,
untuk memungkinkan peniadaan gangguan dengan cepat, sistim
yang dipakai haruslah
sistim yang tidak menyebabkan kesalahan operasi karena berubahnya bentuk arus dan
tegangan hubung-singkat pada keadaan transien. Juga, karena arus pemuat dan arus
kompensasi reaktor berbeda pada kedua ujung saluran yang dilindungi, maka kemung-
kinan terjadinya operasi rele karena hubung-singkat di luar daerah
yang dilindungi
harus diperhitungkan. Dalam hubungan ini, maka rele pilot-kawat sering dipakai.
7.2.6. Srlurer dengan Kepesitor Seri
Untuk saluran transmisi dengan kapasitor seri bila pengamanan dengan rele-jarak
dipilih, maka perubahan impedansi karena
pelepasan (discharge) sela pelindrlng perlu
diperhitungkan. Penggunaan rele
jarak
harus diperlengkapi dengan rele arah untuk
melihat arah arus dalam daerah yang dilindungi.
7.3 Pengamanan menumt Sistim Pembumian
7.3.1, Sistim Tek-Ditrnehhn
Untuk sistim yang titik netralnya tidak ditanahkan, adanya hubung-singkat harus
dilihat dari arus pemuat urutan-nol. Dengan menggunakan trafo arus urutan-nol
digerakkan rele arah hubung singkat-tanah (directional ground fault relay), bila arus
pemuatnya cukup besar (beberapa Ampere). Bila trafo arus tadi tidak digunakan maka
rela arah hubung-singkat-tanah tidak dapat melihat adanya gangguan dengan sempurna,
kecuali bila arus pemuatnya beberapa puluh ampere besarnya. Bila arus pemuat tidak
cukup besar, dapat digunakan sistim rele deteksi denyut (pulse detection) yang melihat
fasa dari denyut yang dibangkitkan bila terjadi hubung-singkat. Pada umumnya, kare-
na sukar mengetahui hubung-singkat
pada sistim yang tidak ditanahkan, maka dilihat
dari segi penerapan rele sistim dibumikan lebih baik.
7.1.2- Sistim Pembumien dengrn Tahrnrn
Rele deteksi hubung-singkat-tanah yang digunakan untuk sistim ini adalah rele
tegangan urutan-nol, rele arus-lebih tanah dan rele-arah-tanah
(directional grounding
relay). Kedua rele terakhir ini harus mempunyai kepekaan yang tinggi dan harus dapat
bekerja dengan daya (arus) yang rendah, karena tahanan
yang tinggi dan adanya taha-
nan titik hubung-singkat membatasi besarnya arus hubung-singkat. Bila arus hubUng-
singkat-tanah kecit, ketidak-seimbangan
pada rangkaian sekunder dari trafo arus
menyebabkan kesalahan bekerja rele; sebab itu ketidak-seimbangan harus dihindar'
kan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
(l) SebaLscbab terjadinya arus urutan-nol
yang semu
(apparent): Sebab
yang
pcrtama adalah bahwa dalam rangkaian urutan-nol dari trafo-arus, ada arus
bcban yang mengalir karena tidak seragamnya karakteristik trafo arus setiap
fasa atau karena beban sekunder setiap fasa tidak seimbang. Sebab
yang
kedua terjadi karena transposisi rangkaian sejajar tidak cukup schingga arus
yang mengalir dalam tiap fasa tidak scimbang. Ini menyebabkan terjadinya
89
90 Bab 7. Fcncrapan Rclc Fcngnman
arus urutan-nol scmu. Hal ini
juga
terjadi bila salurannya pendek, karena
impcdansi saluran tiap fasa (termasuk pemutus bcban, isolator dan trafo
arus) berbcda. Sebab
yang lain adalah bahwa karena kejenuhan inti besi nada
trafo atau
generator dan kapasitansi saluran yang tidak seimbang, maka ada
arus dengan komponen frekwensi dasar, komponen harmonik ketiga dan
keempat yang mengalir melalui tdhanan
pcmbumian. Oleh karena arus urutan-
nol yang semu karena sebab-sebab
pertama dan kedua tadi scbanding dengan
arus
yang mengalir dalam saluran transmisi, maka rele dapat bekerja karena
hub:rng-singkat di luar daerah
yang dilindungi. Hal ini perlu diperhatikan
dalam
lrcnerapan
sistim pengamanan yang sesuai.
(2) Sistim rele
pengaman:z) Untuk menaikkan kepekaan rele dan mengurangi
beban trafo arus, maka rele yang terbaik adalah rele-arah hubung-singkat-
tanah. Apabila ada gardu yang tidak mempunyai tahanan pembumian datam
sistim transmisinya,
perlu diadakan sistim penghilang hubung'singkat dengan
deteksi tegangan urutan-nol karena tidak ada arus hubung-singkat-tanah.
Bila diinginkan
penjatuhan cepat dan serentak sistim rele pilot untuk hubung-
singkat-tanah harus digunakan.
7.3.3. Sistim
psm[rrmiu
dengen Gulungrn Petersen
Sistim ini baik sekali guna menanggulangi hubung-singkat satu fasa ketanah yang
scmentara sifatnya karena dapat mematikan busur api yang disebabkan oleh hubung-
singkat itu. Tetapi untuk hubung-singkat yang tetap (permanent) sukar sekali melihat
adanya hubung-singkat itu dari arus urutan-nol
yang mengalir karena arusnya kecil
sekali.3) Hubung-singkat itu tidak dapat dibiarkan begitu saja karena hubung-singkat
itu dapat mengganggu bagian-bagian sistim lainnya. Oleh karena itu hubung-singkat
tetap itu harus dicari dengan menggunakan rele hubung-singkat-tanah. Ada dua cara
penerapan, yaitu cara
penutupan terusan
(continuously closing) dan cara hubung-
singkat..) Pada cara pertama rangkaian tahanan yang dipasang paralel dengan gulungan
Peterscn ditutup terus untuk memungkinkan bekerjanya rele tanah; rangkaian tahanan
itu dibuka untuk hubung-singkat satu fasa, tetapi ditutup lagi bila hubung-singkat-tanah
tidak hilang dalam waktu 3
-
l0 detik. Cara hubung-singkat menutup rangkaian taha-
nan paralel, bila hubung-singkat itu tidak dimatikan secara otomatis oleh gulungan
Petcrscn. Untuk sistim-pertama
perlu dijaga agar rele tidak bekerja untuk hubung-
singkat hubung-singkat
yang bukan satu fasa ke tanah. Oleh karena itu rele ini tidak
boteh bekerja beberapa saat sesudah terlihat tegangan urutan-nol tertentu, karena
saluran transmisi tidak boleh dibuka sebelum hubung-singkatnya dihilangkan dengan
mematikan busur api.
Bila dikehendaki
penggunaan relc-tanah-arah
(directional ground fault relay),
maka karakteristik fasa dari elemen arah itu tidak boleh dipengaruhi oleh komponen
reaktip dari arus hubung-singkat-tanah. Oleh scbab itu rele
jenis
konduktansi lebih
baik.
7.3.* Slstim Pembumien Llngsung
(Efrektip)
Oleh karena besarnya arus hubung-singkat dalam sistim ini, maka hubung-singkat
itu harus scgcra dihilangkan
guna mcnccgah kerusakan pada pcralatan atau intcrfercnsi
7.4 Penutupan Kembali gl
elektromagnetis. Untuk hubung-singkat satu fasa ke tanah arus ini dibatasi besarnya
oleh impedansi saluran transmisi, peralatan
dan tanah; harganya paling
besar di antara
arus sejenis dalam berbagai sistim pembumian
seperti diuraikan di atas.
Dalam penerapan
rele pengaman
terhadap hubung-singkat-tanah
untuk sistim
pembumian
effektip perlu
diperhatikan hal-hal berikut:3)
(l)
Untuk rangkaian ganda
sejajar perlu
ditambahkan rangkaian kompensasi
untuk menghindarkan kesalahan pengukuran jarak
karena impedansi bersama
(mutual inductance) urutan nol. Bila kedua ujung ditanahkan karena satu
saluran tidak bekerja, penyetelan
rele
jarak
mungkin perlu
dirubah
jika
impe-
dansi urutan-nolnya berubah.
(2) Dalam hal hubung-singkat dua-fasa, rele-jarak yang terpasang pada
fasa
'
yang mendahului (leading)
harus mempunyai kondisi operasi dari rele
jarak
dari fasa yang lain untuk perlindungan
tahap pertama yang daerah kprjanya
ada dalam daerah yang dilindungi.
(3) Bila penutupan
kembali satu fasa (single-phase
reclosing) hanya dilakukan
pada fasa yang terkena hubung-singkat untuk hubung-singkat
satu-fasa-ke
tanah, maka pembukaan pemutus beban oleh rele-jarak karena ada hubung-
singkat itu harus dicegah; oleh karena itu perlu
ditambahkan rangkaian
prioritas
terhadap hubung-singkat-tanah.
Untuk itu dapat digunakan rele
tegangan kurang (undervoltage)
dan/atau rele arus-lebih hubung-singkat-
tanah dikombinasikan dengan operasi penghilangan
hubung-singkat.
(4) Rele arus-lebih hubung-singkat-tanah yang
dipakai tidak boleh bekerja
terhadap arus urutan-nol yang ditimbulkan oleh arus-serbu magnetis dari
trafo (magnetic
inrush current). Oleh sebab itu rele harus bekerja terhadap
arus frekwensi dasar saja.
(5)
Pembukaan pemutus-beban
karena bekerjanya rele-jarak hubung-singkat-
tanah harus dicegah; oleh sebab itu ia harus digunakan bersama rele arus-lebih
hubung-singkat-tanah.
Berhubung dengan hal-hal di atas maka, untuk memungkinkan peng-
hilangan hubung-singkat dengan cepat, maka rele
jarak
hubung-singkat-
tanah, sistim perbandingan-fasa,
sistim perbandingan-arah
atau kombinasi-
kombinasinya perlu
digunakan.
7.4 Penutupan Kembali
Bila gangguan pada
saluran transmisi dapat ditiadakan dalam waktu singkat maka
kerusakan pada
saluran dan isolator dapat dikurangi; seringkali saluran dapat dipakai
kembali tanpa menimbulkan bahaya apapun. Oleh karena itu, bila pemutus
beban
yang dibuka waktu terjadi gangguan
dapat ditutup kembali secara otomatis sesudah
sesuatu waktu tertcntu, maka stabilitas dan keandalan sistim dapat dipertahankan.
Proses ini dinamakan penutupan
kembali (reclosing) pemutus
beban.
7.4.1. Bebcnpl lhtulsl
Dalam hubungan di atas perlu
diketahui beberapa definisi yang
diterangkan dengan
Gbr. 6l (a) dan (b) scbagai bcrikut:
(a) Waktu penutupan
kembali (recloslng
timc) adalah waktu antara terjadinya
92
Terminel A
Terminel B
Bab 7. Penerapan Rele Pengama
Wd.tu P6utrD.!
KcnbdiTmiodA
-{
I
Geng3un
t--
I
l-*.*r'il^*J
wektu PJutupea
Kembrli Pcnutr Ecbrn
Gbr.61(a) Diagram Urutan Wsktu
Penutupan Kembali Pemutu
Beban.
gangguan (fault) sampai menutupnya kembali pemutus beban, termasuk
waktu tanpa-tegangan
(no-voltage time) dan waktu tanpa-arus (no-currenl
time).
(b) Waktu tanpa-tegangan adalah waktu saluran yang dilindungi terpptus dari
semua sumber tenaga. Dalam hal penutupan'kembali-cepat (hiSr-speed)
perlu diketahui dengan tepat waktu yang dibutuhkan untuk membasmi
busur api pada saluran tersebut. Contoh waktu tanpa-tegangan minimum
terlihat pada Gbr. 6l (b).5'
(c) Waktu tanpa-arus adalah waktu antara pembukaan pemutus-beban pada satu
terminal saluran dan penutupan pemutus-beban pada semua saluran dalam
daerah yang dilindungi. Dalam hal terminal-banyak, waktu termaksud adalah
waktu sampai arus beban mengalir kembali bila gardu utama ditutqp kem'
bali.
7.4.2. Sistim Penutupan Kembali
Jenis-jenis penutupan kembali yang dikenal adalah penutupan satu-fasa
(hanya
satu fasa yang terkena gangguan yang dibuka lalu ditutup kembali), penutupan tiga-fasa
(untuk tiga-fasa satu rangkaian) dan banyak-fasa
(hanya untuk fasa-fasa yang ter-
ganggu dalam hal gangguan banyak fasa). Mengenai waktu penutupan, ada penutupan
cepat (guna mempertahankan stabilitas sesudah terjadi gangguan) dan penutupan
lambat (low-speed, guna memungkinkan sistim kembali ke keadaan semula secara
otomatis). Sistem yang dikenal adalah:
r
(a)
Sistim penutupan satu-fasa;r) dalam hal hubung-singkat satu-fasa-tafiah,
bila tenaga listrik dapat disalurkan oleh kedua fasa yang sehat dan sinkroni-
sasi dapat dipertahankan,
maka penutupan kembali rangkaian dengan cepat
dimungkinkan bila gangguan dapat ditiadakan. Untuk itu penting sekali
diperhatikan bahwa
penutupan itu dilakukan secepat mungkin sesudah iso-
lasinya kembali kepada keadaan semula, seperti keadaan sebelum ada gang-
guan. Waktu tanpa-tegangan untuk ini makin panjang, bila kembalinya kea-
daan isolasi ke keadaan semula lama, dibandingkan dengan penutupan
tiga-fasa, meskipun faktor-faktor tegangan rangkaian, panjang saluran dan
konstruksi saluran
juga
mempengaruhi. Waktu tanpa-tegangan ini berkisar
antara l5
-
30 gelombang (cycle), termasuk waktu operasi pemutus beban.
Wrktu PoutD.o
Kcmbdi Tsminel B
a1)
lzs
na.
lErs
_rg
-E
t0
I
af
'-
0
Tcrnlrn
otNm3oo
T.ar4u R.rgkriu (ky)
GDr.61(b) Cootoh Wstilu TgtrPe-
Tegrryrn Minimum.
7.5 Rcle Pelepas Sistim
Dalam hal penutupan satu-fasa, operasi rele hubung-singkat-tanah harus
ditangani dengan hati-hati mengingat bahwa ada arus urutan-nol yang
mengalir dalam rangkaian sekunder dari trafo arus karena arus-beban
selama waktu tanpa-tegangan.
Sistim penutupan tiga-fasa
;
t )
disini penutupan dilakukan sesudah pembukaan
tiga-fasa, tanpa memperhatikan fasa mana yang terganggu. Waktu tanpa-
tegangannya dapat dibuat lebih singkat dari penutupan satu-fasa. Pada
penutupan tiga-fasa perlu diketahui apakah benar keadaan sinkron dapat
dipertahankan waktu rangkaiannya dibuka
(tiga-fasa). Untuk rangkaian-
banyak yang sejajar penutupan tiga-fasa satu rangkaian biasanya dapat dila-
kukan bila keadaan sinkron dapat dipertahankan oleh rangkaian lainnya.
Caranya mengetahui adalah dengan mengukur arus pada rangkaian lainnyr
dengan rele daya atau rele arus. Untuk membedakan arus beban dari arus
pemuat pada saluran yang panjang sebaiknya dipakai rele daya. Untuk
rangkaian tertutup (ioop) bagian rangkaian yang akan ditutup dilihat apakah
sudah terhubung pada rangkaian tersebut. Caranya adalah dengan pengiriman
isyarat atau dengan deteksi perbedaan sudut fasa. Dalam cara pertama
isyarat dikirimkan untuk meyakini bahwa semua pemutus beban pada semua
gardu dengan sistim tertutup (loop) benar-benar tertutup. Isyaratnya dikirim
melalui pembawa saluran
(power line carrier) atau pembawa gelombang
mikro. Cara pengukuran perbedaan fasa ada dua macam; yang satu dengan
membandingkan perbedaan fasa tegangan pada kedua terminal yang akan
ditutup, yang lain dengan meyakini keadaan sinkron pada terminal yang satu
bila terminal lainnya ditutup lebih dahulu.
Sistim penutupan banyak-fasa'') di sini yang di tutup kembali adalah saluran-
saluran yang terganggu bila sekurang-kurangnya ada dua fasa normal dalam
rangkaian banyak yang sejajar. Oleh karena itu perlu diketahui dengan tepat
saluran dan fasa mana yang terganggu. Untuk itu perlu digunakan sistim
perbandingan
fasa atau sistim rele pilot untuk hubung-singkat-banyak.
Sistim penutupan bertahap dengan pembukaan menurut prioritas;') di sini
pembukaan dan penutupan kembali disederhanakan yaitu dengan membuka
dan menutup kembali saluran dengan hubung-singkat banyak-fasa, baru
kemudian yang lain, dalam hal hubung-singkat-banyak
(multi-fault). Sistim
ini ada mudaratnya yaitu karena dibutuhkan waktu lama untuk meniadakan
semua gangguan; karenanya hanya dipakai untuk saluran yang kurang pen-
ting.
Penutupan trga-fasa dipaksakan
(forced)5); di sini generator dipaksa untuk
dihubungkan kembali pada suatu sistim tenaga tertentu, atau suatu sistim
dipaksakan untuk dihubungkan dengan sistim yang lain. Untuk memung-
kinkannya diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang peralatan yang
ada dan karakteristik sistim tenaganya; oleh karenanya cara ini tidak dapat
diterapkan secara umum.
7.5 Rele Pelepas Sistim
Perluasan suatu sistim tenaga dengan cara menghubungkannya dengan sistim
93
(b)
(c)
(d)
(e)
94
Bab 7. Pe,nerapan Rele Peng;aman
tenaga yang lain memperbesar kemungkinan terjadinya gangguan. Guna menghindar-
kan hal ini perlu dicari titik keseimbangan antara permintaan dan penyediaan pada
sistim-sistim yang dihubungkan, serta dicari sistim rele pengaman yang memungkinkan
pemutusan hubungan pada titik keseimbangan tadi bila terjadi gangguan. Beberapa
di antara sistim pelepas hubungan tadi diuraikan di bawah ini.5)
7.5.1. Sistim Pelepes Hubung-Singkat Tetep
Di sini rele pengaman memutuskan suatu sistim tenaga bila gangguan yang menye-
babkan hilangnya sinkronisasi tidak dapat ditiadakan dalam batas waktu tertentu.
Sistim yang dipakai adalah kombinasi antara rele
jarak (hubung-singkat), rele tegangan-
kurang serta rele waktu.
7.5.2. Sistim Pelepes Keadten Tak-Serempek
Cara ini membatasi keadaan tak-serempak dengan melepaskan hubungan bila
terjadi gangguan sistim. Sistim yang biasanya dipakai adalah kombinasi antara rele
jarak
kecepatan tinggi dan rele daya
(power relay) atau rele yang bekerja terhadap
perubahan tegangan. Bekerjanya adalah dengan melihat perubahan tempat kedudukan
impedansi secara lambat bila keadaan tidak serempak, sedangkan perubahannya cepat
bila terjadi hubung-singkat.
7.5.3. Sistim Pelepes Frekwensi Tek-Normal
Di sini sistim pengamannya bekerja bila terjadi perubahan frekwensi (naik atau
turun) yang tidak normal. Cara deteksinya adalah dengan rele frekwensi dan rele waktu;
pemasangannya dilakukan di tempat dimana tegangan fasa tidak berubah dengan peru-
bahan beban, oleh karena hal ini dapat menyebabkan kesalahan bekerja rele-rele ter-
sebut.
7.6 Referensi
Dalam Bab ini digunakan referensi-referensi berikut:
l) C. R. Mason, The Art and Science of Protective Relaying, John Wiley and Sons,
Inc., New York, 1956, hal.296,340,94-96, l0l, 310, 332.
2) "Transmission", Handbook of Electrical Engineering, Institute of Electrical Engi-
neers ofJapan, 1967, hal. 1186.
3) R. Willheim, M. Waters, Neutral Grounding in High-Voltage Transmissron, Elsevier
Publishing Co., New York, 1956, hal.482496'
4) "Transmissiort"
,
op. cir., hal. I 187.
5) Ibid., hal. 1188.
BAB 8. PERENCANAAN DAN
KONSTRUKSI SALURAN
UDARA
8.1 Perencanaan Listrik
8.1.1. Tegangan Transmisi dsn Junlah Saluran
Dari segi keandalan (reliability), makin banyak
jumlah
rangkaian makin tinggi
keandalannya, oleh karena rangkaian-rangkaian yang tidak terganggu pada suatu
saluran dengan banyak rangkaian
(multi-circuit) akan dapat menggantikan tugas satu
rangkaian yang terganggu. Sebaliknya, saluran yang hanya terdiri dari satu rangkaian
saja tidak mungkin menyalurkan tenaga listrik bila rangkaian itu terganggu.
Keandalan saluran ganda (double-circuit) yang kedua rangkaiannya terpasang
pada satu menara kurang daripada keandalan saluran ganda yang terdiri dari dua
rangkaian tunggal.
Tegangan transmisi dan
jumlah
rangkaian ditetapkan secara ekonomis dengan
memperhatikan faktor-faktor peningkatan daya transmisi, besarnya hilang daya,
biaya konstruksi, rencana pengembangan sistim dan keandalan sistim transmisi. Pada
umumnya biaya konstruksi saluran untuk tegangan dan ukuran kawat yang sama ada-
lah sbb:
Biaya menara l-rangkaian dengan pasangan
Biaya menara 2-rangkaian dengan pasangan
Biaya menara 2-rangkaian derigan pasangan
Biar'a menara 2-rangkaian dengan pasangan
8.1.2. Perencanran Isolssi Saluron Transmisr
Tegangan-lebih dalam (internal overvoltage) disebabkan karena surja-hubung
(switching
surge, yaitu karena pembukaan atau penutupan pemutus beban) dan karena
berubahnya beban dengan cepat atau karena gangguan pada saluran (hubung-singkat).
Pada sistim yang tidak dibumikan effektip surja-hubung dapat mencapai 3
-
4 kali
tegangan fasa, sedang pada sistim yang ditanahkan effektip kira-kira 3 kali tegangan
fasa.t,2) Besarnya surja hubung dapat dikurangi menjadi 1,8-2 kali tegangan fasa
dengan memasang tahanan paralel dengan pemutus beban waktu menutup pemutus
tersebut. Di Jepang kelipatan surja hubung terhadap tegangan fasa
(disebut
faktor
tegangan lebiht)) adalah 4 untuk sistim tidak ditanahkan; 3,3 untuk sistim dibumikan
melalui tahanan atau reaktor; 2,8 untuk sistim ditanahkan effektip; dan 2,0-2,2
untuk sistim dengan tahanan peredam pada pemutus beban.
Kenaikan tegangan pada fasa-fasa yang sehat tidak terganggu bila terjadi hubung-
singkat satu-fasa ke tanah adalah 0,8 kali tegangan kawat maksimum (tegangan an-
tarfasa) untuk sistim ditanahkan dan 1,0 kali untuk sistim tidak-ditanahkan.
I rangkaian
:
lN%
I rangkaian
:120%
2 rangkaian
:140%
tambahan I rangkaian
:
40%
96
Bab 8. Perencanaan dan Konstruksi Saluran Udara
Perencanaan isolasi saluran transmisi harus didasarkan atas pertimbangan bahwa
isolasi tersebut harus dapat diamankan dan tidak akan mengalami kegagalan karena
tegangan-lebih dalam. Kegagalan terhadap tegangan-lebih luar, terutama karena petir,
juga
harus dibuat seminimum mungkin, karena adanya gangguan petir tidak dapat
dihindarkan.
Tabel 35 menunjukkan standar Jepang tentang
jumlah
isolator gantung 250 mm
yang diperlukan guna ketahanan terhadap surja-hubung tanpa pengotoran udara.r'
Pada umumnya untuk saluran di atas ll0kV dipasang tanduk busur api
(arcinghorn)
pada gandengan isolator guna melindunginya terhadap kerusakan yang disebabkan
karena terjadinya lompatan-api. Panjang sela tanduk ZbiasanyaTS-80%daripanjang
gandengan isolator Zr. Tabel36 menunjukkan
jumlah
isolator dan
jarak
sela tanduk
bila pada gandengan dipasang tanduk.l)
Jarak isolasi antara kawat dan tiqng alav menara direncanakan menurut
jarak
isolasi standar,
jarak
isolasi minimum dan
jarak
isolasi darurat, yaitu guna menampung
kemungkinan ayunan kawat karena angin. Jarak isolasi standar adalah
jarak
antara
kawat penghantar dan menara, yang ekivalen dengan tegangan lornpatan impuls 50)(
dari gandengan isolator.
Tabel 35. Jmlsh Isolator Saluran yang Diperlukan Guna Pengamanan terhadap Surja Hubung
Catatan:
t)
Nilai-nilai dalam tanda kurung adaloh
yang sering dipakai
zt
Nilainya didapat dori memperkalikah tegangan surja hubung dengan 1,2
memperhitungkan
pengaruh ketinggian lokasi,
pengurangan lekanan udara,
yailu gunq
dsb-
(fanpa Tanduk Api)t)
Tegangan Nominal
(kV) ll 22 33 66 110 t54 187 220 2't5
Tegangan Maksimum
yang diper-
bolehkan I/i (kV)
t2 24 36 72 34 120 168 2M 240 300
Tegangan Fasa Maksimum
v- xfig.vl
9,8 19,6 29,4 58.8 58,6 98 t3'l 16'1 196 245
Faktor Tegangan Lebih z 4,0 4,0 4,0 3.3 3.3
-1,
J 2,8 2,8 2,8
Tegangan Surja Hubung
v^*f;xn(kV)
39,2 78,4 t17,6 194 226 324 452 468 549 686
Daya Isolasi
yang Diperluk.ner 1kV)
47,O 94,0 141,0 2'1L 389 543 562 660 824
Jumlah Isolator
Yang
DiPerlukan
(A)
I
(2)
I
2
(4)
3
4 6
(e)
8
(10)
9
(t 2)
ll
(l 5)
l4
Selisih Isolasi dari
(A)
1,66 (r,5r)
0,83
1,01 0.95 105 r,06 (l,07
0,97
l.r2) I ll) I,06
Jumlah Isolator
yang DiPcrlukan
untuk Pemeliharaan
! I I I I I I I
Jumlah Isolator
Yang
Digunakan
(B): (A)
+ t
.,
(3)
2
3
(5)
4
5
'l
(10)
9
(t l)
l0
(l 3)
t2
( l6)
15
Selisih Isolasi dari (B)
3.20 (2,35)
I
,51
1,57
(r.51)
r.22
|,29 l,!8
(1,16)
1,07
|,22)
I
,12
l,l9)
l,l I
I,l 2
l,06
Sistim Pembumian
Tidak Ditanahkan
Melalui Tahanan
atau Reaktor
Effektif
Tegangan Nominal (kV) 66 77 ll0 154 187 zfr 275
Tegangan Ketahanan terhadap
Surja Hubung (kV)
B3 271 389 543 562 6@ 824
ZlZo:
80%
Jumlah Isolator yrn3
Dipcr-
lukan
(5)
4
(6)
5
(r)
1
lo (l l)
t0
(l
3)
t2
(l 7)
l6
Lebar Scla Tanduk
(z :0,82d
(r^l
(or)
0t7
(0,7t)
0,59
(0,94)
0,t2
l,l7
(1,29)
l,l7
(r,52)
1,40
(1,e8)
r,87
ZlZo
:
75%
Jumlah Isolator yang
Dipcr-
lukan
0 (6)
t
(r)
1
l0 ll l3 t7
Lcbar Scla Tanduk
(z
-
0,75zil (mt
0,55 (0,66)
q5,
(0,8t)
O,77
l,(D l,2l 1,43 1,86
8.1 Pcrcncanaan Listrik
Tabel 36. Junhh Isoletor Yery Diperluken den l-ebor Seh Trdulr Gum.Pengrnenen tettedrp
Surie Hubungtt
Calatan: Seperti Catatan pada
Tabel 35
Tebel 37. Jrre} Isolrsi Strndrr drn Jrnk Isolesl Mhlmum
Catatan: Harga dalam tanda kurung adalah yang lazim digunakan
Jarak isolasi minimum adalah
jarak
ketahanan terhadap surja hubung. Di Jepang,
jarak
isolasi standar dan
jarak
minimum tertera pada Tabel 37.
Jarak isolasi darurat adalah
jarak
yang tidak memungkinkan pcrcikan
atau lom-
patan (flashover) antara menaradan kawat pada tegangan maksimum dan tekanan angin
maksimum (a0 m/9.
97
Tegangan Nominal (kV)
ll 22 33 6 77 rt0 154 187 220 275
J
E'=
H<
F2
d;
cL=
trco
d
F
Jumlah Isolator
)
(3)
a
3
(5)
4
s 7 (10;
9
(l l)
t0
03)
t2
(15,
l5
Tegangan Lompatan Api 5O%
untuk Gandengan Isolator (kV)
224
(306)
221
306 (455)
380
455 510 (843)
7&
(e20)
843
(1075)
997
(13r2,
t232
Jarak Isolasi Standar (rn)
0,40
(0,55)
0,40
0,55
10,80)
0,70
o,80
Ll0
1,50)
I,35
11,65)
1,50
(1,e0)
l,'15
(2,30,
2,20
o
la
!
E
(,
F
tr
(t
oo
tr
o
a
ZlZo
80%
Jumlah Isolator
(5.
4
(6:
5
(tJ
7
lo (1
l)
l0
(l
3)
t2
(17,
l6
Sela Tanduk Api (m)
0,59)
0,47
,0,71)
0,59
p,94)
082
l,l7 t,29)
t,l7
(1,r2)
1,40
(1,98;
1,87
Jarak Isolasi Standar
(m)
10,70)
0,55
0,80)
0,70
:1,10)
0,9J
1,35 I,45)
I,35
(r,75)
l,@
{2,25"
2,to
ZlZo
7s%
Jumlah Isolator
5
(6)
J
(E)
7
l0 il l3 t7
Scla Tanduk Api (m)
0,55
p,06)
0,15
p,tt)
o,77
1,09 l,2l 1,43
l,E6
Jarak Isolasi Standar
(m)
0,65
0,75)
0,65
:1,00)
0,90
1,25 1,40 I,60 2,10
Jarak Isolasi Minimum 0.t0 0,15 0,25 0,40 0,45 0,70 l,@ 1,05 t,25 l,@
98
Bab 8. Perencanaan dan Konstruksi Saluran Udara
Bcntuk lengan dari menara atau tiang harus direncanakan sesuai dengan persya-
ratan
jarak
seperti diuraikan di atas; periksa contoh diagram
jarak-bebas (clearance
diagram) Gbr. 52. Untuk menara baja
jenis penggantung (Gbr.
62
(a)) jarak
isolasi
standar ditentukan oleh sudut-ayun karena angin sebesar 0
-
20o, dan
jarak
isolasi
minimum oleh sudut-ayun
(swing angle) sebesar 50'. Untuk
jarak
isolasi darurat sudut-
ayunnya antara 70
-
80".
Jarak isolasi standar untuk menara baja
jenis penegang (strain type: periksa Gbr.
62 (b) adalah 120/" daijarak untuk menara
jenis penggantung, karena berbagai per-.
timbangan instalasinya. Jarak ini diperhitungkan untuk sudut-ayun l5', sedangkan
untuk
jarak
isolasi minimum sudutnya tidak boleh melebihi 40".
Dalam perencanaan saluran transmisi
perlu diperhatikan bahwa tidak boleh
terjadi lompatan antara kawat penghantar, meskipun kawat-kawat itu mendekati satu
sama lain karena tiupan angin
(es dan salju). Jarak antara kowat ditetapkan dengan
mengingat
jarak
isolasi antara menara dap kawat,
jarak yang optimum dilihat dari segi
perawatannya, tegangan transmiSi, lebar gawang, macam dan ukuran kawat, keadaan
cuaca,
geografi setempat dll.
Dalam hubungan di atas dikenal
(a) jarak
mendatar, (b)
jarak
tegak, (c) jarak
miring (offset) dan (d) jarak
bila gawangnya lebar (long span).
Jarak ke Tanah
dari Kawat
Penyambung
Mcnara Baja Jenis Pcnggantung
(Suspension)
275 kY
Menara Baja Jenis
penegang
(Strain)
275 kV
Diagrsm Jarak-Bebas.
Gbr.52 Contoh
8.1 Percncanaan Listrik
Untuk rangkaian ganda yang tersusun tegak dan rangkaian tunggal se-gitiga,
jarak
mendatar adalah
jarak
antara kawat dan menara. Jarak mendatar ini
dapat {irumuskan
dengan persamaan-persamaan,
salah satu diantaranya adalah sbb:6)
c^:aJ7+i+ov
(170)
dimana C^
: jarak
mendatar antara kawat (m)
a
:
konstanta 0,5
-
1,0
,f
:
andongan kawat (m)
;
:
panjang gandengan isolator (m)
D
:
konstanta 0,012
-
0,0007
V
:
tegangan kawat (kV)
Jarak tegak antara kawat biasanya 60
-
l@% dari
jarak
mendatar. Bila ada es
dan salju
jarak
tegak menyempit karena ketidak-seimbangan muatan es dan salju pada
kawat. Oleh karena itu biasanya kawat yang satu tidak dipasang tegak lurus terhadap
yang lain tetapi agak miring (offset).
Untuk saluran-saluran yang lebar gawangnya besar,
jarak
antara kawat perlu
diperbesar karena andongannya lebih besar dan kemungkinan terjadinya persing-
gungan lebih besar pula. Untuk saluran dengan gawang yang menaranya tidak sama
tingginya
jarak
antara kawatnya
juga
harus diperbesar.
Andongan kawat (sag) berubah dengan suhu; periksa 2.3. Oleh karena itu perlu
ada
jarak-beDas (clearance) yang cukup agar kawat tidak menimbulkan gangguan lalu
lintas, kereta api, saluran tilpon dll. yang ada di bawah saluran transmisi terutama bila
suhunya mencapai angka maksimum. Di Jepang
jarak
bebas ini diatur dalam standarT)
seperti tertera dalam Tabel 38. Standar ini agak lunak dibandingkan dengan standar
Amerika.t) Karena ada kemungkinan kejutan listrik oleh induksi di bawah saluran
tegangan tinggi sekali (EHV) maka
jarak
bebas itu perlu diperbesar, apalagi bila saluran
melewati
jalan
darat yang ramai.
Tabel 3E. Jarak-Bbas Tegak tertedep Tanah
Tegangan Iarak-Bebas
Di bawah 35 kV
5 m (5,5 m bila saluran menyeberangi
jalan
kereta api, dan
6 m bila saluran menyeberangi
jalan
raya)
35-l@kv
5 m
(5
m bila saluran digantung di daerah-daerah pcgunu-
ngan yang jarang
didatangi manusia)
Di atas 160 kV
6 m ditambah 12 m untuk setiap l0 kV (5,5 m bila saluran
digantung di daerah-daerah
pegunungan)
Isolator akan terkena pengotoran (pencemaran, pollution) garam dan debu bila
saluran terpasang di dekat laut, di daerah industri atau di daerah yang berdebu. Untuk
mencegah memburuknya karakteristik isolasi karena pengotoran tadi isolator dicuci
atau
(r\apisi
campuran si\ikon. Bila ha\ itu tidah dilakukan, 6aya iso\asinya ditambah
dengan menggunakan isolator anti-kabut atau dengan nenambah
jumlah
isolator
dalam suatu gandengan. Penambahan isolator ini discsuaikan dengan banyaknya
pengotoran garam pada isolator seperti tertera dalam contoh Tabel 39 untuk Jepang,
yang banyak berpengalaman dalaq hal ini.e,
99
100
Bab 8. Perencanaan dan Konstruksi Saluran Udara
Catatan:
*
Jumlah ini ditentukan bukan oleh pengotoran tapi oleh kebutuhan perencanaan isolasi
t.1.3. Perencanlan Tahan-Petir
Ada tiga
jenis
sambaran
petir terhadap saluran transmisi:
(l) Sambaran langsung pada kawat saluran, sehingga lonnpatan pada titik-topang
atau tempat-tempat tertentu dalam gawang (span) tidak dapat dihindarkan.
(2) Sambaran pada menara atau kawat-tanah-atas
(overhead ground-wire) yang
menyebabkan lompatan karena kenaikan
potensial menara oleh sebab
tingginya tahanan kaki menara.
(3) Sambaran
pada kawat-tanah-atas
yang menyebabkan lompatan ke kawat
karena curamnya muka'gelombang
petir.
Untuk mencegah hubung-singkat karena lompatan (flashover) sambaran
petir tadi
perlu diadakan usaha-usaha
pengamanan a.l. dengan selalu mema-
sang kawat tanah, menurunkan tahanan kaki menara, atau memperlebar
jarak
antara kawat tanah dan kawat fasa. Beberapa hal yang berhubungan
dengan pengamanan ini akan diuraikan lebih lanjut.
Polaritas arus petir biasanya negatip. Di beberapa negara tercatat bahwa arus petir
maksimum adalah 160-220 kA.r0) Namun, untuk perencanaan biasanya digunakan
kebesaran antara 60
-
100 kA. Muka
gelombang arus biasanya antara I
-
l0 ps, sedang
waktu sampai setengah-puncak biasanya antara l0
-
100 ps. Beberapa data tentang
besarnya arus petir pada menara baja tertera dalam Gbr' 63'
t r-15)
Satu kawat-tanah digunakan sebagai
perisai terhadap kawat-kawat fasa bagi
saluran-saluran
yang
jarang
terkena petir atau
yang kurang
penting, sedang dua
kawat-tanah digunakan
pada saluran-saluran
yang sering terkena petir atau yang
penting. Pengaruh perisaian dapat dihitung dengan berbagai teori;teori Mita'6)yang
Tebel 39. Jumlah Isolator Gantung Standar dalam suatu Gandengan untuk Keadaan Udara Cemar
Derajat Pengotoran A B c D E
Jumlah Ekivalen Garam
dalam Perencanaan
(mg/muka bawah)
50
(0,0625)
100
(0,
I 25)
200
(0,25)
400
(0,5)
Untuk Saluran Di tepi
Laut
Jenis
Penegang
Jenis
Penggantung
c
ql
00
c
d
o0
o
tr
d
:
'd
rn
i5
J
(,
!
't:
.E
.9
o
ll
'l',
33
6
77
ll0
t54
,,,
)
3+
4
5
7
9
2r
2
3
5
6
8
ll
2t
2
3
6
6
9
t2
2r
2
3
6
7
l0
t4
2
J
4
7
8
ll
l6
2
3
4
8
l0
t4
l9
(!
x
*=
c ):-
.:Ei
#EE
187
220
275
ll
l3
l6
l3
l6
l9
l5
t7
22
l7
20
25
t9
))
28
23
27
34
Tegangan Perencanaan
(kv/disc)
10,3 8,9 7,8 6,8 6,0 5,0
diterapkan di Jepang tertera dalam
Gbr. 64 dan Gbr. 65.
Untuk menghindarkan lompa-
tan pada titik-tengah dalam gawang,
andongan (sag) kawat-tanah dibuat
8O/" dari panjang
kawat (saluran).
Seperti diuraikan di atas, taha-
nan kaki menara perlu dibuat sekecil
mungkin (di
Amerika: kurang dari
l0 ohm)untuk menghindarkan lom-
patan
karena naiknya potensial me-
nara waktu terjadi sambaran petir.
Tahanan ini ditentukan oleh bentuk
fisik tahanan dan tahananjenis dari
tanah, seperti terlihat dari rumus-
rumus berikut:
(l) tahanan berbentuk elektrode
R:
*('"#
-
,)
0r0m.30 1050&70urN
HJ rr (/,)
G\f,
-
KrntTrmh
C
:
Krrrt
(Srlm)
Gbr.6l ffisiensl Perisaien Sebuah
Kawat Tsn$.
t.l Porcncanaan Lktrik
H.t! PmL Antr Pcdr ede
Mun hh
(LA)
Gbr.53 Beearnye Arus Petir yuE
Diukur
pade Memn Boie.
batang ditanam tegak lurus ke dalam tanah:
H,M(n (l7r)
a-
r'
I
D s.t --+-
D
J
il
(
n
--a
Gbr.65 Perlsalrn 1(X)% &rl Karnt
Tanah Gande
l0r
I
I
a
or
ilo
Eso
a
E.
870
tE&
f.l
50
(2) tahanan berbentuk "counterpoisc" (iaringan kawat yang ditanam, menyebar
dari kaki menara):
R:*.n/,"#* r"?*r++)
dimana'untuk rumus-rumus di atas
g
:
tahananjenis dari tanah
(periksa
Tabel
zl0)
7
: jari-jari
elektroda (cm)
;: panjang elektroda (cm)
,
:
dalam penanaman "counterpoise" (cm)
70
&
HlmtWetdod(r20t)
tt
GW-I
*_p__1GW
IE
_tr
HDrHt Dt
m40 80t@N,t0@EOtN
(r72)
t02
Bab 8. Perencanaan dan Konstruksi Saluran Udara
Tebel {0. Nilei Trhanan Spesiftk berbagai Jenis Tanah
Jenis Tanah Resistivitas
(kO-cm)
Sawah, Rawa (Tanah
Liat)
Tanah Garapan (Tanah Liat)
Sawah, Tanah Garapan
(Kerikil)
Pegunungan (Biasa)
Pegunungan (Batu)
Pinggir Sungai
(Berbatu)
0- 15
|
-24
l0
-
100
20
-200
2m
-
500
100
-
500
Bila tahanan dari menara atau tiang tidak cukup rendah, maka penambahan atau
perluasan "counterpoise" dan penambahan batang-batang penghantar dapat membantu
menurunkannya
(sampai kira-kira 20
-
30 ohm). Oleh karena bentuk gelombang arus
petir yang curam mukanya, penurunan tahanan itu tidak berlaku terhadap arus bolak-
balik saja, tetapi
juga penurunan impedansi terhadap arus impuls.
8"2 Perencanaan Mekanis
8.2.1. Tekenan Angin
Dalam perencanaan perlu diperhatikan kekuatan kawat dan menara atau tiang
terhadap beban-beban mekanis yang ada, terutama tekanan angin:
p: ku2
(173)
dimana
P
:
tekanan angin
(kg/m'z)
r'
:
kecepatan angin (mls)
k
:
konstanta
Yang dipakai sebagai standarrT)di Jepang guna perencanaan saluran transmisi adalah
tekanan angin topan (typhoon) dengan kecepatan maksimum rata-rata 40 m/s selama
10 menit atau setengah harga di atas untuk kawat-kawat yang diberati dengan es dalam
musim dingin. Tekanan angin dengan kecepatan 40 m/s diambil dari Tabel4l. Harga-
harga yang lebih tinggi digunakan bila kecepatan angin lebih tinggi atau bila menaranya
(baja) lebih tinggi dari normal.
8.2.2. Penghantar
Penghantar harus cukup aman dalam menyalurkan tenaga listrik dilihat dari segi
beban-beban mekanis
yang diharapkan. Untuk itu daya kerja maksimum pada kawat
harus ditambahdenganfaktor keamanan 2,2 untuk kawat tembaga tarikan-keras (hard-
drawn) dar. 2,5 untuk kawat ACSR serta kawat-kawat lainnya. Bila tarikan sehari-hari
pada kawat besar, maka penghantar mudah menjadi letih karena getaran; hal ini perlu
diperhatikan dalam mempertimbangkan besarnya kekuatan kerja maksimum.
Apabila tegangan kerja maksimum telah ditetapkan, rnaka andongan dan tegangan
tarik kawat dalam berbagai kondisi dapat dihitung. Untuk kawat yang membentuk
lengkung parabolis andongan dan tarikannya adalahrt)
D:
(174)
(175)
6qrs'
8.f
,
fltL
-
(K
-
qrE)\:
u
Kelasifikasi Obyek yang Terkena
Tekanan Angin per m2 pada
Permukaan Proyeksi
aa
d
a
o
o
lu
o
v
Tiang Kayu
80 kg
Tiang Baja
Bulat
80 kg
Segitiga atau Belah Ketupat 190 kg
Persegi, terdiri dari Pipa-pipa Baja 150 kg
Lain-lain
Bila Pgrtr., dipasang pada Dua Muka
(Depan
dan Belakang) menghadap
angin 240 kg; untuk yang lain
Tiang Beton
Bertulang
Bulat
80 kg
Lain-lain
120 ke
Menara
Baja
Terdiri dari Pipa-pipa Baja l70kg
Lain-lain
290 kg
bt)
Ld
!str
-=
cltr
>d
6.9
vo
Kawat Berkas (Setiap
Dua Kawat Berkas dipasang
Mendatar dengan Jarak kurang dari Duaputuh
kali Diarneter Kawat)
90 kg
Lain-lain
I00 kg
Pasangan Isolator (untuk
Tegangan Tinggi) 140 kg
Palang pada Tiang Kayu dan Tiang Baja (jenis
bular) dan
Tiang Beton Bertulang (untuk Tegangan Tinggi)
160 kg; satu palang
220 kg; palang bertopang
8.2 Perencanaan Mekanis
Tabel 41. Tekanan Angin untuk Perencanaan (Kecepatan
Angin
,l()
m/s)
K:fr-
103
(176)
(177)
,
-
62qlszE
24
dimana D
:
andongan (sag) (m)
f2
:
tegangan tarik terhadap andongan D (kg/mmr)
6
:
W"lA
(178)
W": berat kawat (kg/m)
.,{
:
luas penampang
kawat (mm2)
gz
:
koeffisien beban yang bersangkutan dengan andongan tertentu
S
:
lebar gawang (m)
a
:
koeffisien suhu linier (l/"C)
I
:
perbedaan
suhu keadaan terburuk dan suhu pada andongan tertentu
("c)
E: koeffisien elastisitas kawat (kg/mmr)
.fi:
TIA
104
Bab t. Fercncanaan dan Konstruksi Saluran Udara
I
-
tcgangan tarik kerja maksimum
(kg)
{r
-
koeffisien beban pada keadaan terburuk
Kocffisien beban dihitung dari perbandingan antara beban akhir (resultant load)
dari kawat terhadap beban kawat:
Q:
Wlll'
W:JW
dimana
{:
kocffisien beban
lz: bcban akhir (kglm)
W,
:
br,ral kawar
ttdm)
I/,
:
beban angin terhadap kauret (kg/m)
lat
:
beban tcgaklurus, misalnya karena es (kg/m)
Bila angin meniup secara konstan dan tegaklurus pada kawat, maka kawat tersebut
akan bcrgetar naik turun karena ada perputaran udara di belakang kawat tersebut.
Bila getaran ini sama frekwensinya dcngan frekwensi osilasi alamiah (natural) dari
kawat, maka terjadilah gelomoang-gelombang berdiri (standing wave) antara titik-titik
topang, yang dapat menyebabkan
putusnya kawat karena letih. Gejala ini dapat terjadi
bila kawatnya ringan dan regangan t2nknya besar.
Frekwensi osilasi alamieh dari kawat dinyatakan oleh rumus
r-
I
ln
t"-anlw
sedang frekwensi karena angin oleh rumus
[.:
kalD
dimana /: panJang saluran tertutup
(m)
T: tegangan kawat
(kg)
o
: gravitas (9,8 mis2)
l4t
:
berut kawat
(kg/m)
o
:
kecepatan angin
(mys)
k
:
konstanta
(dranggap
-
lB5)
Resonansi terjadi bila
t
-t
Jc
-
lt
(r8 l)
(r82)
(183)
dihitung dari rumus
(r84)
Untuk menghilangkan
getaran dipasang peredam (dampers) yang bertugas me-
nyerap tenaga getaran tadi. Kecuali itu untuk menguatkan kawat pada titik-titik topang-
(l 7e)
(l
80)
sedang panjang rangkaian resonansi
I-
D
14
'-
7{u\lw
8.3
8.3 Pcmilihan Konstruksi Pcnopang
105
nya dipasang batang pelindung (armor rods). Pada umumnya, pemutusan
kawat karena
getaran tidak akan terjadi bila tegangan harian (everyday
stress, disingkat EDS) tidak
melebihi harga-harga tersebut dalam Tabel 42. Karena tekanan angin yang relatip
tendah, maka pemutusan
kawat karena getaran diperkirakan tidak akan terjadi di Indo-
nesia.
Tabe! 42. Betes Harge Tegangan Harian (EDS)
sehingga Tidak Terjadi
pemutu$n
Keml kerene Letih
Kawat
Saluran
Tanpa
Pengamanan
Saluran
dengan
Batang
Pelindung
Saluran
dengan
Percdam
Saluran dengar
Batang
Pelindung
dan Peredam
Tembaga
26
ACSR
l8 22 24 24
Aluminium t7
Aldrey t8 26
Baja
(i)
Pengapit Kaku ll
(ii)
Pengapit Osilasi l3
Pemilihan Konstruksi Penopang
8.3.1. Jenis Konstruksi
Pemilihan dari segi
jenis
konstruksi (periksa Bab 4) harus.dilakukan secara eko-
nomis dengan memperhatikan faktor-faktor pentingnia
saluran, lintasan penyaluran,
pengangkutan
serta keadaan cuaca (terutama
bila cuaca buruk sering terjadi).
Menara baja biasanya digunakan pada saluran-saluran terpenting di atas 66 kV.
Menara baja ini baik sekali terutama karena dapat diandalkan pada bcban-beban
yang gawat (penampang
kawat besar, tarikan besar, angin kencang, gawang lebar)
serta memungkinkan penggunaan menara-menara yang lebih tinggi daripada normal
untuk keperluan-keperluan tertentu. Daya tahannya biasanya 45 tahun, srta pera-
watannya sederhana.
Tiang baja lebih rendah kekuatannya dibandingkan dengan mensra baja, sehingga
digunakan bila beban mekanis tidak besar. Di Jepang tiang baja digunakan untuk salu-
ran transmisi sampai 77 kV dengan gawang kurang dari 150 m. Akhir-akhir ini ada
kecenderungan
menggantikan tiang baja dengan tiang beton atau tiang kayu, meskipun
tiang baja tetap dipakai bila diinginkan masa-tahan yang lebih lama atau bita situasi
pengangkutan
sulit. Di Eropa dan Amerika Serikat tiang baja bertali
(guyed)
kadang-
kadang dipakai pada saluran tegangan tinggi bila tekanan angin tidak kencang,
jalan
(route)
saluran mudah dan lurus serta karena perawatannya mudah.
Keunggulan tiang beton bertulang dibandingkan dengan konstruksi lainnya adatah
karena daya tahannya yang boleh dikatakan permanen. Tetapi karena luar biasa berat-
106
Bab 8. Fcrcncanaan dan Konstn*si lhluran U&ra
nya, ia hanya dapat dipakai
pada saluran-saluran
yang mudah dicapai dengan kenda-
raan.
Kcunggulan tiang kayu adalah karena mudahnya membuat dan harganya murah
sekali dibandingkan dengan konstruksi-konstruksi
lainnya. Oleh karena itu penerapan-
nya di Indonesia sedang diselidiki dan dikembangkan seluasJuasnya.
t.3.2. Mecem Bb.n Konstrulsl
perencanaan
konstruksi didasarkan atas hban tertentu. Di Jepang ketentuan tentang
hal ini diatur dalam standar-standar. Untuk menara baja dikenal klasifikasi berikut:7'
(1) Menara singgung
(Jenis A): dipasang menurut garis lurus, dengan bagian
yang bersudut mendatar kecil (biasanya 3' untuk
gawang standar).
(2) Menara sudut
(Jenis B dan C): dipasang dengan sudut mendatar tertentu;
jenis
B sudutnya 20o dan
jenis
C sudutnya 30'.
(3) Menara ujung
(Jenis D): dipasang
pada ujung (dead end) semua kawat peng-
hantar dan kawat tanah, sehingga
perlu memiliki ketahanan yang besar.
(4) Menara
penegang (tension towers): digunakan sebagai
penguat (reinforce-
ment) di beberapa tempat
pada saluran,
yaitu bila
pada menara singgung
terjadi tarikan
yang tidak seimbang karena
perbedaan lebar gawang yang
bersampingan.
(5) Menara khusus: digunakan
pada penyeberangan sungai atau lembah atau
bila dipandang
Perlu.
Penerapan hal-hal di atas dapat dilihat
pada diagram toleransi menara seperti
tertera
pada Gbr. 66. Dari sini dapat disimpulkan bahwa untuk sesuatu
jenis
menara
makin lebar gawangnya makin
kecil sudut mendatarnya.
Pembangrman Saluran Udara
t.4.1. Survey
Pemilihan lintasan
yang akan dilalui saluran transmisi merupakan
persoalan pokok
bagi pembangunan saluran tersebut. Untuk ini perlu diadakan studi dan survey
yang
mendalam
guna memungkinkan
pembangunan saluran secara ekonomis dan dapat
diandalkan, baik dilihat dari
pcmbangunannya sendiri, maupun dari perawatannya
nanti. Faktor-faktor
yang terpenting adalah:
(t) Kcadaan cuaca
(angin, hujan, salju,
petir, dsb.)
(2) Keadaan tanah
(kemungkinan longsoran, banjir, rawa, dsb.)
(3) Kondisi
pengangkutan (pengangkutan barang dan bahan bagi
pembangunan
dan
pcrawatan).
(4) I*tak terhadap bangunan-bangunan
lain
(saluran telekomunikasi, simpangan
jalan
raya,
jalrn
kereta aPi, dsb.).
(5) Bangunan
perumahan (dijauhkan dari
perumahan manusia).
Dari hasil survey ditentukan tinggi konstruksi,
jenis
menara dan cara menggan'
tungkan kawat-kawat
penghantarnya. Pada pokoknya kegiatan survey itu meliputi
hal-hal berikut:
(a) Survey
garis pusat: di sini garis pusat (centerline) saluran ditetapkan; demikian
pula kcdudukan konstruksi
penopangnya terhadap
garis pusat tersbut.
(b) Survcy
profil:di sini
pcrbedaan tinSgi permukaan tanah dan lebar
gawang
8.4
(,
c
t
c
o
E
5
!
)
tn
t.4 Fcmbangtnan Saluran Udrn
W
(penampang
tegak) ditetapkan sepanjang garis pusat
tadi.
(c)
Survey tampak atas (plan survey): keadaan 50-l0Om dikirikanangaris
pusat
diperiksa.
(d)
Survey lokasi menara (tower
site study): di sini
jumtah
tanah galian,
cara
pembuatan pondasi,
dsb. diselesaikan.
(e) Survcy khusus: yang
dilakukan adalah penyelidikan
khusus dalam penye-
berangan sungai, pertcmuan dengan saluran lain, perhitungan
induksi elek-
tromagnetik terhadap saluran komunikasi, dsb.
Balok Beton
Siku
Pembumian
tN 2@ 3@ 100
Lebar Gawang
(m)
Gbr.65 Dirgrsm Toleransi Menan
8.4.2. Pondasi Menrre dm Tiang Beja
Pekerjaan-pekerjaan pondasi yang terpenting meliputi pemberian tanda-tanda,
penggalian, pemasangan tonggok (stub setting), pengecoran
beton, pengurukan, dsb.
Pemberian tanda-tanda (staking) dilakukan menurut rencana pondasi dengan
mengingat tanda pusat (center peg) dari menara dan saluran.
Penggaliannya dilakukan dengan berbagai cara tergantung dari kondisi tanahnya.
Dalam-penggalian serta lebar dasar lobangnya harus sesuai dengan yang telah diren-
canakan. Ada lima cara penggalian:
(l) Penggalian biasa (plain
excavation), yaitu penggalian
biasa, tanpa persyaratan
tertentu; kemiringan tebingnya tertentu, periksa
Gbr. 67.
(?l
Penggalian dengan penguatan kayu (timbering
excavation), yaitu
dengan
menanamkan balok-balok kayu ke dalam tanah agar tidak terjadi kelongsoran
waktu penggalian;
diterapkan bila tanahnya mudah longsor dan mengeluar-
kan air.
(3)
Penggalian dengan tong kayu
(pail
excavation), dilakukan bila tanahnya
mudah longsor dan banyak sekali mengeluarkan air. Sebuah tong kayu tanpa
dasar dipasang dan penggeliannya
dilakukan di dalam air, Akhirnya dicor
bcton pada
dasar tong ini untuk mcnghentikan aliran air tcrscbut.
(4) Penggalian dengan tabung silindcr (case
excavation), dilakukan untuk pcng-
galian
di sungai, bila cara dcngan cmber tidak mungkin. Di sini scbuah tabung
Gbr.67 Pondrsl Beton dangan Peng-
gdisn
Bitsr"
3e[
108 Bab 8. Perencanaen dan Konstruksi Saluran Udara
silinder tanpa dasar
yang dibuat
dari beton bertulang ditcmpatkan
dan penggaliannya dilakukan di
dalam tabuog itu. Tabung itu sen'
diri dibenamkan ke dalam sungai
dengan beban mekanis,
Periksa
Gbr. 68.
(5) Penggalian sumber
(well point ex-
cavation), dilakukan
pada tanah
pasir yang berair. Sejumlah
PiPa
ditanam di dalam tanah di sekitar
tempat
yang akan digali' Kemu-
dian air yang dikandung di dalam
tanah disedot dari pipa-PiPa tadi
oleh sebuah
pompa. Bila tanahnYa
sudah kering maka penggaliannYa
dapat dilakukan dengan cara
(l).
Tahap berikutnya adalah pemasangan
tonggok (stub). Tonggok ini dipasang
pada
balok beton yang ditempatkan
pada dasar
pondasi (periksa Gbr. 67). Bila tanahnya
tidak kokoh atau bila pondasinya berkisi
(grillage), maka ditambahkan
pecahan batu
sebagai penguat. Bila kondisi tanah buruk,
Penguat
Tonggok Utama Siku Penyambun8
-
---
Tinggi Air
Maksimum
Beton Bertulang
Dasar Sungai
Tongg:ik Angker
Curveshoe
Batang Baja
Bertulang
Beton Penyumbat Air
Gbr.68 Penggalian Tabung Pondasi.
maka dipasang pancang-pancang (piles)
untuk menguatkan pondasinya.
Pekerjaan beton terdiri dari pengecoran campuran semen, pasir, kerikil (atau
pecahan batu) dan air dalam perbandingan tertentu dalam cetakan plat baja atau kayu.
Pengurukan kembali penting artinya bagi kekuatan pondasi. Karena itu dalam
pengurukan kembali tanahnya harus dientakkan
(rammed) sebaik-baiknya dengan
tanah aslinya.
8.4.3. Pendirian Tiang dan Menara Baja
Bila pondasinya selesai, bagian atas konstruksi didirikan. Ada dua cara pendirian'
nya:
(a) Cara menyusun ke atas (assemble).
(b) Cara menarik ke atas (pulling up).
Dalam cara pertama menara disusun ke atas bagian demi bagian. Setiap bagian
digantung dengan pengangkat (lifting rod) untuk kemudian disekerup, bagian yang
satu diatas yang lain.
Cara lain adalah dengan lebih dahulu menyekerup bagian'bagiannya satu sama
lain di tanah, untuk kemudian seluruh menaranya didirikan dengan keran atau mesin
pengangkat lain (winch). Cara ini tepat guna pemakaian dimana alat-alat pengangkat
berat semacam itu mudah diadakan serta mudah dibawa ke tempat-tempat
pendirian
menara. Di daerah
pegunungan yang sukar dicapai bagian-bagian menara diangkut
dengan helikopter lalu disusun di tem,pat dimana menara akan didirikan.
t.4 Pcrnbangunan Saluran Udara
t.44. Pendlrien Tieng f,ryu rilrn fiug Bcton
Uatuk mendirikan tiang kayu atau
tiang beton penggaliannya
dapat dilakukan
dengan cara-cara biasa. Bila kondisi tanah
cukup baik dan daerahnya dapat dicapai
dengan kendaraan, penggalian dapat dila-
kukan dengan mesin bor (auger machinc).
Tiang-tiang didirikan dengan menegakkan-
nya (building-up; periksa
Gbr. 69) atau
dengan cara menggantungkannya (hanging-in; periksa Gbr. 70). Bila kcndaraan dapat
masuk mobil katrol dapat dipakai. Palang-palang (cross-arm, travers) dan pasangan
(fittings) dapat dipasang sebelum tiang didirikan, terutana bila tidak tcrlalu ruwt.
Namun, biasanya karena bcrbagai kesulitan, pasangaa-pasangaonya dipasang scsudah
tiang didirikan.
Polc
Tacklc
Kawat Pcnahan
Tiaog yrnS
dcen
Didirit n
(b)
GDr. 70 Dur Crn Mcuildfrn nrry hgro MrTtrutne[yr"
8.45. Pemrsugu f,rrrt
Kawat mula-mula dipasang pada tian& kcmudian ditariksampai suatu kctegangan
tertntu, Pemasangannya biasanya dilakukan untuk bagian saluran yang panjangnya
k.l. 3 km. Salah satu cara dalam pcnarikan kawat adalah mcnariknya dengan mcsin
melalui penjepit kawat (snatch block) yang tcrpsssng pada sctiap lcngan Eeoara;
periksa Gbr. 71. Kawat-kawat itu ditarik oleh mesin dengan bantuan kawat pcnolong
(messenger wire). Cara lain adalah dcngan mcreatangkan kawat di tanah, lalu me-
pgangkatnya
ke atas tiang. Cara kcdua ini dapat mcnrsak kawat ACSR, dan karcnanya
jarang
dipakai.
Agar supaya tidak tcrjadi kerusakan kawat karcna mcnggoru tanah digunakan
pcncgatrg kawat (tcnsioncr); pcritsa Gbr.72. Bila kawat mcayeberangi saluran-saluran
lain (transmisi,
telpon) atau
jalan
(raya, kcreta api) perlu diadakan
lrcngamanao
scpcr-
lunya agar kawat penghantar Eaupun kawat pcnolong tidak mcngcnai saluran-saluran
tadi.
Pekcdaan pcnegangan
dilakukan pada
sctiap bagian saluran dimana gandeogan
isolator pcncgang
tcrpassng pada Bcnara-mcnara sudut Eaupun mcnara-mcatta
109
Gh. 69 Crn Mdhllcn Tlrry
dcnsae Mcnce*Larya"
Tbcklc
.\
Papan
Pcorhra
ll0 Bab 8. Perencanaan dan Konstruksi Saluran Udara
Kawat
Penolong
Sambungan
Yoke
Sementara
Penjepit
Kawat
Drum
Kawat
Rern
Mesin
Tempal
Beban I-awan
Penggulungan Kawat Tempat Drum
Gbr.7l Cara Pcmasengan Kawat.
3500
Gbr.72 Pasangan Drum dan Penegang Kawat.
gang (tension isulator string), sedang ujung lainnya ditarik oleh sebuah mesin penarik
(winch) sampai suatu andongan tertentu. Ujung ini kemudian dihubungkan dengan
gandengan isolator penegang yang lain. Sesudah kawatnya cukuptegang. ia dipindahkan
pada gandengan isolator gantung dari penjepit kawat pada menara gantung. Sesudah
itu peredam dan batang perisai dipasang.
Kawat No. I
Pcnjcpit Kawat
Mcnara Pcncgang
Menara Gantung / Kawat No- 2
Mcnara PeneSang
Jumpcr Wirc Sambungan
Pcnahan
Bagian yang Scdang
Dircgangkao
Pcngamat
Andongan
Bagian yug
Sclcsai
Ditegangkan
Scmcntari
Kawat No. I dan No. 2 Sudah Ditcntukan
Andongamya, scdang Kawat No. 3 scdang
Dikcrjakan Andongamya
Gbr.73 Cara Menegangkan Kawat.
8.5 Referensi
8.5 Referensi
Dalam Bab ini digunakan referensi terhadap karya-karya sebagai berikut:
l) R. A. Arismunandar, A Method of Switching-Surge Simulation in Electrical h'et-
works,Illinois Institute of Technology, U.S.A,, June 1963, hal. 3.
2) AIEE Committee Report, "switching Surges: L Phase-to-Ground Voltage",
AIEE Transactions, New York, vol. 80, pt. III, June 1961, hal.240-256.
3) Workshop of Insulation Design, Insulation Design of Overhead Transmission Lines,
Technical Report, Institute of Electrical Engineers of Japan, No. 76, 1966,
hal. 10.
4) Ibid., hal. 11.
5) Ibid., hal. l3-15.
6) "Transmission", Handbook of Electrical Engineering, Institute of Electricai Engi-
neers of Japan, 1967, hal ll92.
7) Ministry of International Trade and Industry, Regulation on the Technical Stan-
dardsfor Electrical Installations, No. ll6, 1968, Denki Shoin.
8) National Electrical Safety code, No. 232A (Tabel t), No. 233A (Table
3), No.
23281 (3), No, 23282, Washington, D.C. U.S.A.
9) "Countermeasures
against Salt Pollution in Transmission and Transformation
Installations", lournel, Electrical Cooperative Research Association (Japan),
vol. 20, No. 2, hal. 153.
l0) c. F. wagner, G. D. Mccann (rev. J. M, clayton), "Lighling
phenomena",
Electrical Transmission and Distribution Reference Book, Westinghouse
Electric Corp., East Pittsburgh, U.S.A., 1950, hal. 56G567.
I l) W. W. Lewis, C. M. Foust, "Lightning Investigation on Transmission Lines-
VIIL", AIEE Transactions, vol, 64, 1945, hal. 107-115.
12) E. Hansson, S. K. Waldorf, "An Eight-Year Investigation of Lightning Currents
and Preventive Lightning Protection on a Transmission System", llEE
Transactions, vol. 63, 1944, hal. 251-258.
l3) vis. H. Rokkaku, "Lightning on Transmission Lines", Bulletin, crgre, No.32l,
Paris, 1939.
l4) Grunewald, "Recherches
sur les Perturbations Provoquees par les Oranges et sur
la Protections des Lignes Aeriennes Contre les Oranges", Bulletin, Cigre,
No. 323, 1939.
l5) Edgar Bell, "Lightning Investigations on a 220kV System-IIL- AIEE Transac-
tions, vol.59, 1940, hal,.822.
l6) Mita, "The Effectiveness of Overhead Groundwires for the Protection against
Lightning Strokes", Technical Report, Japan Electrical Testing Laboratory,
vol. 12, 1948, hal. L
l7) Japanese Electrotechnical Committee, Design Standard
for
Steel Transmission
Towers, JEC-127, Denki Shoin, 1965.
l8) "Transmissiorr",
op. cit., hal. 1194.
lll
BAB 9. PEMELIHARAAN
SALURAN
TRANSMISI
9.1 Tujuan Pemeliharaan
Pemeliharaan
peralatan listrik pada umumnya bertujuan:
(a) memungkinkan
penyediaan tenaga listrik kepada para langganan dengan
mutu yang baik serta keandalan
(reliability) yang tinggi;
(b) mempertahankan keadaan peralatan selama mungkin
guna kepentingan
perusahaan sendiri.
Untuk itu pekerja pemeliharaan (maintenance crew) bertugas menghindarkan
terjadinya gangguan (preventip) dan menghilangkan
gangguan yang terjadi dalam
waktu sesingkat mungkin. Karena itu perlu diadakan perbaikan sebelum kerusakan
menjadi parah, agar dengan demikian umur peralatan diperpanjang. Pengalaman
pemeliharaan selama bertahun-tahun banyak memberikan
petunjuk-petunjuk yang
berharga dalam perencanaan peralatan, pemasangan serta pemeliharaannya dikemudian
hari. Adanya penghitung (computer) banyak membantu dalam pengumpulan dan
analisa statistik dari pengalaman-pengalaman tadi. Dengan sistim pengelolaan dengan
bantuan komputer ini pekerjaan pemeliharaan yang paling tepat dapat diatur.
9.2 Organisasi Pekerjaan Pemeliharaan
Pemeliharaan saluran transmisi memerlukan
pengaturan khusus dan organisasi
yang baik karena daerah
jangkaunya jauh.
Pekerjaannya meliputi tugas patroli, inspeksi,
perbaikan, serta tugas-tugas kantor yang menyangkut pendidikan pekerja, pengawasan
administratip atas peralatan kerja, dsb.
Dulu gardu untuk pekerjaan pemeliharaan ini ada untuk setiap
jarak
l0 km
sepanjang saluran transmisi; pekerjaan patroli dan inspeksi dilakukan oleh dua orang
yang berkantor di tempat itu. Sebuah kantor seksi mengawasi beberapa gardu; kantor
ini menjadi pusat dari semua kegiatan pemeliharaan, dengan beberapa tenaga teknik
(linemen) yang diperbantukan di situ. Dengan kemajuan teknologi (kendaraan bermo-
tor, telekomunikasi)
gardu pemeliharaan hanya ada di tempat-tempat yang terpencil,
pegunungan, dsb. Pekerja-pekerja saluran dipusatkan di kantor-kantor dan melakukan
tugasnya dari kantor-kantor ini dengan bantuan kendaraan-kendaraan bermotor.
Tempat kedudukan dan
jumlah pekerja saluran (linemen) ditentukan menurut kebutu-
han dengan mengingat panjang dan
jenis
saluran serta keadaan geografis setempat;
jumlahnya di setiap kantor seksi berkisar antara beberapa sampai 10 orang. Di negara-
negara maju kemampuan seorang pekerja saluran adalah sekitar 10- l5km. Contoh
organisasi pemeliharaan tertera oada Gbr. 74.
tt4
Bab 9. Perneliharaan Saluran Transmisi
SubScksi A
Tcrdiri dari 2 Fckcria Saluran
yang
Mclaksanaken
Tuggs
Patroli dan tnspcksi
Sub seksi D
GDr.74 Contoh Bagsn Orguisrsi D'ims Pemeliharaan.
9.3 Pekerjaan Patroli dan Inspeksi
9.3.1. Pekeriren Patroli
Pekedaan patroli dimaksudkan untuk mencegah terjadinya
gangguan dan meme-
lihara keamanan umum, dengan cara menemukan hal-hal yang kurang atau tidak pada
tempatnya
pada saluran transmisi. Bila hal-hal ini menyebabkan terjadinya
gangguan,
maka dikirimkan regu patroli untuk menemukan
gangguannya dalam waktu sesingkat
mungkin.
Berdasarkan tujuannya dikenal berbagai
jenis patroli sebagai berikut :
(l) Patroli rutin bertujuan mencegah terjadinya
gangguan dengan cara melihat
secara rutin situasi saluran transmisi sepanjang lintasannya
(route). Ada tiga
jenis patroli rutin:
patroli biasa,
patroli tetap dan patroli pencegah. Patroli
biasa bertugas memeriksa semua konstruksi
penopang sepanjang saluran, dan
dilakukan sekali dalam sebulan. Patroli tetap dilakukan terutama untuk
memeriksa situasi di tempat-tempat dimana saluran mendekati bangunan'
bangunan di dekat kota, rumah-rumah serta tempat-tempat
penyeberangan
yang penting. Tergantung dari [eadaannya,
patroli ini dilakukan kadang'
kadang tiga kali seminggu. Patroli pencegah dilakukan untuk musim atau
ma6a tertentu dan bilamana dianggap perlu guna mencegah terjadinya
gangguan, misalnya, musim layangJayang, hujan lebat, angin ribut, topan,
dsb.
(2) Patroli gangguan dikirim bila sudah diketahui terjadinya
gangguan, dengan
tugas memeriksa atau mencari tempat terjadinya
gangguan.
(3) Pdtroli khusus dilakukan oleh Kepala Dinas/Seksi sekali atau dua kali setahun
guna melihat situasi saluran secara keseluruhan, sehingga iadapat memberikan
petunjuk-petunjuk yang berharga bagi para pekerja saluran.
Scksi Pcmcliharaan I
Tcrdiri dari G20 Pckcria Saluran
Mcmba*ahi Sub Scksi'scksi dao
rrcqiadi Pus8t Kcristan Pstroli,
Inspcksi daa Perbaikan-pcrbaikan
9.3 tttcrjuu Prtroli dro InsD&i 115
Pckcrjaan patroli dulu dilakukan olch
pekcrja-pckcrja saluraa dengan bcrjalan
kaki. Dewasa ini, tcrutama di luar ncgeri,
pekcrlran patroli biasa. patroli pcncegah
dan
patroli ganggggsn dilakukan dcngan hclikoptcr,guna mcmuaglintan rasionalisasi
dan efrsicnsi pckcdaan pcmcliharaan pada umumaya. Yang dipakai biasanya adalah
helikoptcrjenis kccil yang dapat mcndckati saluran
padajarak 20 m dcngaa keccpatan
40
-
50 km/jam. Dcngan bantuan videorecordcr situasi yang ditinjau dapat dipcriksa
kcmbali di kantor untuk dianalisa.
9.3.L Pekerlu Inspelsi
Peralatan saluran transmisi (mcnara, isolator, kawat) dapat dilihat keadaannya
sccara umum olch petugas.petugas patroli. Pckcrjaan inspcksi bertugas memeriksa
peralatan tcrscbut sccara teliti,
guna memungkinkan
pcrancangan dan
pclaksanaan
perbaikannya dalam rangka penccgahan gangguan atau kerusakan
yang lebih gawat.
Oleh karena peralatan-peralatan tadi mempunyai bentuk, macam bahan dan fungsi
yang berbcda-beda, maka macam dan cara inspeksinyapun bcrbcda. Oleh karcna umur
dan lingkungan (pengotoran, cuaca) dimana peralatan dipasang berbeda, maka masa
inspeksinya sukar ditetapkan.'Masa inspeksi scperti tertcra pada Tabcl 43 dipakai
scbagai pegangan di luar negeri. Untuk
penerapannya di Indonesia
perlu dipertimbang-
kan faktor daerah tropis (a.1. kelembaban) terhadap
pcralatan.
Inspeksi peralatan yang dilakukan adalah scbagai bcrikut:
(l)
Inspeksi konstruksi penopang terdiri dari pemeriksaan mcnara, tiang, pondasi,
dsb. Menara dan tiang baja serta pondasinya harus diperiksa sesudah hujan
lebat. Yang perlu dilihat adalah apakah
pembuangan airnya cukup baik dan
apakah tanah urukan ikut hanyut, terutama untuk menara yang tertanam
pada lereng-lereng bukit. Juga perlu diperiksa apakah baut dan murnya hilang
atau longgar, mengingat bahwa alat-alat ini bcrtugas memikul beban mekanis
tertentu.
Tiang kayu perlu dipcriksa apakah masih baik'keadaannya atau tidak.
Demikian pula bagian-bagian kawat
penahan (stay-*ire) yang di dekat tanah,
karena bagian-bagian ini mudah rusak
(berkarat).
TrDd *l. Conro[ fdrsa Irupclgt
Obyck Inspcksi Bcnda
yang Dipcriksr Masa Incpcksi
Konstruksi Penopang
Mcoare dan Tiaaf Bfie 3-5trhunsctali
Tiaog Kayu 2-3tehuosckrli
Isolator IsoLtor
yang Ruset 2-3tahunscltali
Pasangan Saluran Pasangan Saluran dan Pcngapit 5-6tahunsckali
Kawat Peryhantar dan
Pcralatan Pclcngkapnya
Kawat Pcnglnntar
Kcwat Tanah Atas
Batary hlindung
ftrcdam
Kelon3son3
5-6tahunsckhli
Lain-lain
l-2tahunsekgli
lr6 Bab9. htihr.taea Srlurutraoisi
(2) InsDG&si isolator
pcrlu dihh*sn hrlot piringan irolator bcrkurang kekua-
t8nnys olch
panag perubahan euhu dan gptaran mckanis. Satu cara memerik-
sanya adalah dcngnn dclihst tcgangan pemuatnya dcngan scla cetus atau
tabung ncon. Cara laia adalah dengan mcngukur tahanan isolasinya. Cara
pertsna dilakutan
pada saluran yang bertogaogan
(hotJine) dan banyak
dilakuksn di luar ncgeri.
9,4 Pekerlaan Pemeliharaan
9.41. Tulurn rilen Jenis Petertun
fujuan pemeliharaan saluran transmisi adalah agar dimungkinkan penyaluran
ta1gulistrik scara kontinu; tujuan ini dicapai dengan memperbaiki, memulihkan dan
mcnyempurnakan keadaaa
pcralatan yang rusak atau terkena gangguan yang diketahui
dari
pekerjaan patroli dan inspeksi. Pekerjaan pemeliharaan dapat dilakukan sendiri
oleh
perusahaan listrih tctapi, seperti terjadi di luar negeri, dapatjuga diborongkan
kepada kontraktor.
Pekerjaan pemeliharaan terdiri dari
pekerjaan pada konstruksi penopang, pada
isolator dan pada kawat saluran. Yang terakhir ini dibagi lagi menjadi pekerjaan waktu
saluran mati (tanpa tegangan, dead-line maintenance) dan waktu saluran bertegangan
(hot-line maintenance). Dalam hal saluran bertegangan
perlu diperhatikan ketentuan-
ketentuan pengamanan agar pekerja saluran tidak terkena kejutan listrik.
9.4.2. Pekeriun padr Konstruksi Penoprng
Meskipun menara dan tiang baja digalvanisasikan, tetapi akan berkarat
juga
sesudah dipakai bertahun-tahun, terutama bila lingkungan udaranya mengandung gas
asam belerang atau gas khlor. Oleh sebab itu konstruksi penopang dilapisi cat anti
karat.
Pada umumnya baut menjadi longgar sesudah dipasang kira-kira 4-6 tahun;
karenanya sesudah itu baut-baut tadi perlu dikuatkan kembali pasangannya.
Tiang kayu biasanya membusuk atau rusak pada bagian-bagian dekat tanah;
karena itu perlu diberi bahan pengawet kayu, geragai (braces) sebagai penguat, atau
diganti bila perlu.
9"43. Pekerfen pedr lsohtor
Bila isolator roemburuk keadaannya, maka ia harus diganti, baik waktu saluran
bertegangan maupun waktu saluran tanpa tegangan. Tegangan lompatan (flashover)
isolator menurut bila ia kotor
(polluted) dan basah, sehingga kemungkinan terhubung-
singkat meningkat. Katena itu isolator yang kotor harus dicuci. Contoh alat pencuci
isolator waktu saluran bertegangan terlihat pada Gbr. 75.
9.4.4. Peleriran
pode Krwet Penghenter
Bila kawat penghantar rusak karena busur api, karena getaran mekanis atau karena
karat, maka ia harus diperbaiki dengan kelongsong reparasi (repair sleeves) atau diganti
(tergaatung dari besarnya kerusakan).
9.4 leiunhlibstlaa
t. Prlrt Pco8uad rmtuk Betrog Oporui
2. ruskri Opcnsi
3. P.srk Fcmbcrncati OPonri
/t
lfckrug Opctr.i
5. Univcrgl Scrgrv
6. Ratrt
7. Pcolsosar Sikrt
8. Roda hrtr
9. Rods BatrnE Pcocken
10. RodsDcbst
ll. Sikat Pcnqrci
Gbr. 75 Ahf Pocrd Inlrtor untuk Selunn Bcrtcgrngrn (Hot
Lh.).
9.{.5. Pekerjeu prdr Sduru Bertegrugrn
Dahulu penggantian isolator, perbaikan pada kawat pOnggantian tiang kayu, dsb.
dilakukan sesudah saluran dimatikan tegangannya. Cara ini dianggap mcrugikan,
sehingga sejak dua puluh tahun terakhir ini pekerjaan pcmcliharaan di luar ncgcri dila-
kukan dengan keadaan saluran bertegangan. Di Jepang pekcrjaan scmacam ini dilaku-
kan sejak tahun 1953, waktu teknik operasi saluran-panas dipraktekkan dan pcralatan-
nya digunakan oleh sejumlah perusahaan listrik. Sekarang prakteknya sudah ditcrapkan
pada saluran 275 kV.
Tujuan utama dari pekerjaan pemeliharaan dengan saluran bertegangan adalah
untuk memungkinkan penyaluran dengan mutu yang baik, artinya tanpa interupsi,
atau mengurangi interupsi seminimal mungkin. Ini berarti
juga pemberian pclayanan
(service) yang sebaik-baiknya kcpada langganan, pengurangan ketidak-nikmatannya
(inconvenience)
bita tidak ada aliran listrik, dsb. Bagi langganan niaga (oommercial)
dan industri pekcrjaan saluran-panas mempunyai manfaat bahwa mereka tidak diku-
rangi effisiensi-kerjanya karena aliran listrik diputus. Hal ini
jelas
bagi industri-industri
yang banyak'makan-listrik" scpcrti pabrik baja, pabrik kimia, dan bengkel, maupun
yang karena keamanan tcrgantung pada listrik, sepcrti lampu lalu-lintas.
Bagi perusahaan listrik scndiri, manfaat bekerja dengan saluran bertcgangan adalah
tidak adanya rugi-rupiah karcna listrik mati, mengurangi kecelakaan karcna tidak ada
lagi keragu-raguan apakah salurannya mati atau bertegangan, dan meningkatkan
keamanan karena para pekerja
tidak
perlu terburu-buru menyelcsaikan
pekcrjaannya
sebab "waktu-mati" sudah habis.
f)i Jepang, pckcrjaan dengan saluran
panas meliputi penggantian piringan isolator
pada gaodcngan isolator; pcnggantian isolator
jenis pasak (pin); pemasangan,
Ircng-
gantian
dan pengecatan pcrcdem (dampen); pcnggantian jepitaa (clamps); penggantian
tiang kayu; dan pcrbaikan pads,k8wat pcngbantar.
t17
118
9.5
B8b 9. Pcm3lihdeso Salunn Transmisi
Tadinya peralatan yang digunakan untuk pekerjaan di atas dibuat di Amerika
Scrikat (pcrusahaan A. B. Chance) dan diimpor ke Jepang. Sekarang Jepang dan
negara-negara lain sudah banyak menghasilkannya sendiri.
Biaye Pekerjaan Pemeliharaan
Biaya pemeliharaan yang langsung
(kecuali depresiasi) terdiri dari: ,
(l) Biaya personil, yaitu gaji, upah, tunjangan, dll. dari semua pegawai dan
pekerja di Kantor Dinas, Kantor Seksi, dsb., maupun yang dibayarkan
kepada
pihak luar.
(2) Biaya untuk minyak dari berbagai
jenis
dan keperluan
(switchgear, machine)
pemeliharaan.
(3) Biaya barang konsumtip, misalnya kertas, pakaian kerja, bahan bakar, dsb.
(4) Biaya perbaikan, yaitu semua biaya untuk perbaikan, termasuk biaya bahan,
barang, pemasangan, pembuatan, pengangkutan, upah pekerja, biaya perjala-
nan pekerja, dsb.
(5) Biaya sewa, yaitu untuk tanah, gedung, gudang, dsb.
(6) Biaya lain-lain, misalnya untuk asuransi, tilpon, dll.
(1) Pajak-pajak.
Sebagai perbandingan dapat disebutkan di sini bahwa di Jepang bi aya pemeliharaan
menara baja adalah 1,2
-
l,8l dari biaya pembangunannya. llntuk tiang kayu ang-
kanya adalah 2-3%. Bila biaya konstruksi saluran rangkap (double-circuit) 275 kV
di Jepang adalah k.l. Rp. 20.000.000 per km, maka biaya pemeliharaannya adalah k.l.
Rp. 300.000
per km setiap tahunnya. Dari
jumlah
ini kira-kira 80
-
90
/o
adalah untuk
personil, biaya perbaikan dan pajak. Contoh biaya di Jepang ditunjukkan dalarn Tabel
44.
Tabel 44. Biaya Pemeliharaan
(Langsung) Saluran Transmisi di Jepangr)
Pos
Biaya
Catatan
(1000 Rp.)
o/
Pegawai/Pekerja
Rupa-rupa
Bahan I(onsumtip
Perbaikan
Sewa
Iain-lain
Pajak-pajak
5.900
300
1.100
6.400
1.300
900
9.200
23,5
1,5
4,4
25,5
5,2
3,6
36,6
Keterangan
tentang Saluran:
Jarak
:
80 km
Tegangan
:275kY
Jumlah Saluran
: 2
Tanpa Gardu
Jumlah 25.100 100,0
t)
Pada waklu perhitungan dibuat, nilai kira-kira I Yen
:
I Rupiah
9.6 Penemu Gangguan
9.6.1. Tujuan dan Slfat
Eila gangguan pada saluran transmisi dapat diperkirakan, maka waktu pattol.
dapat dikurangi dan perbaikan dapat segera dilakukan. Kebanyakan
gangguan dise'
babkan karena hubung-singkat.
Bila salurannya dibuka oleh pemutus beban, maka
9.6 Fcnemu Gaoggrran 119
isolasi saluran kcmbali seperti semula, schingga tempat
gangguan
tidak mudah dite-
mukan. Olch sebab itu, penemu gangguan (fault locator) perlu memiliki sifat-sifat
berikut:
Trbcl
.|(l.
Pcncnu Cuggurn
Jcnis Sistim Uraian tcntory Sirtim
Cerr Crrr
Mcnghitu"g Stlrt
Pcagaruh
Saluran
C.bcD8
B
Cerricr
atau
Gclombeng
Ultri
Rodck
rcngirim yaag mulai
bckerja karena urja
San33urn
dipasaog pidg
ujunf reluran. ,tn8ta
w8lilu rntar8 tcrjedinfa
rurja
frafguan
dan
pcodrlman
isyarat diu-
kur pada
ujuag
ralunn yaoS
lain
Fooghituog Suris T* Bcr-
pcD8aruh
c
Pengiriman
Kcjut
Pcodriman kdut DC
etsu AC drri titik ukur
den meryukur dcngan
oeilograp (aiau
penghitung)
waktu
kcmbalinya kejut dari
pantulan titik
88488uan
Oaitogrtp Rclc
rtau
Bcnjhitung
nngaruh
Dihilsngksn
krrena
ncnguturan
Difiercnsial
F
Pcngiriman
Kejut
Bcrulang
Scperti Jenis C tctopi
pcngiriman
kcjut
bcrulang-ulang
Osilograp Rclc
atau
Penghitung
Dapat
Dibcdakan
(l)
Selama gangguan
ada (tidak hilang), penemu harus dapat mencari tempat
'
gangguan
itu terjadi.
(2) Penemu tidak boleh dipengaruhi oleh berisik (noises) yang berasal dari
gangguan
tadi.
(3) Penemu harus dapat mencari gangguan
dalam
jarak
100
-
200 km dengan
kesalahan kurang dari 0,5 km.
(4)
Perawatan dan inspeksinya harus scderhana dan keandalannya tinggi.
Bebcrapajenis penemu yang dipakai di Jepang akan diuraikan lebih lanjut; periksa
Tabel 45.t)
9.6.L Penemu Grrygurn Jenis B
Pencmu ini bekerja karena ada surja yang datang dari gangguan. Dalam Gbr. 76,
bila tcrjadi gangguan pada
titik F, maka gelombangaya
merambat melalui saluran
ke
jurusan
A dan B. Surja (surge) yang datang di A atan ditcrima oleh penerima surja,
yang
menyebabkan rangkaian monitor penghambat (delay monitorcircuit) mcngirimkan
gelombang pcmbawa (carricr)
melalui pcmancar gclombang tadi ke saluran transmisi.
Di titik B, bila surja gang'uan
datang dao ditcrima oleh pcnerima
surja, maka
penghitung (couater)
akan mulai menghitung waktu; ia bcrhenti menghitung waktu
scsudah gclombang peEbawa (carrier) dari A datang. Dcngan demikian maka lokasi
120
Bab 9. Perneliharaan Saluran Transmisi
Gulungan Pencegah
(Blocking Coil)
Penerima
Surja
Penerima
fGelombang
lPembawa
Penerima
Surja
Penerima
Gelombang
Pembawa
( l 85.)
A=J
Rangkaian Monitor Penghambat
Gbr.76 Prinsip Kerja Penemu Gangguan .lenis B.
gangguan dapat ditemukan,
1'aitu
dengan menghitung
,TU
lo:
7
dimana 7,
: jarak
dari tempat gangguan sampai tttik A
ln: waktu yang dicatat oleh penghitung
o
:
kecepatan rambatan gelombang gangguan
Cara ini tidak dipengaruhi oleh gangguan-gangguan yang disebabkan oleh pan-
tulan-pantulan dari cabang-cabang pada saluran transmisi, dan karenanya tepat sekali
untuk penerapan pada saluran yang banyak cabangnya. Dewasa ini gelombang mikro
digunakan sebagai
ganti gelombang pembawa saluran tenaga (PLC wave).
Gulungan Choke
Kapasitor Kopling
Pengirim
Kejut
Penguat Penyama
Rclc
Pencatat
OsilograP Braun
GW.77 Prinsip Keria Penemu Ganggusn Jenls C.
Penghrlung
Penguat Penerima
Gangguan
9.7 Refcrensi
9.5.3. Penemu Genggurn Jenis C
Pada cara ini, bila terjadi gangguan pada saluran transmisi, misalnya pada titik F,
Gbr. 77, maka sebuah rele pencatat gangguan (fault locating relay) menggerakkan dua
alat yang menyebabkan (a) dikirimkannya tegangan kejut (pulse) dengan puncak l0 kV
melalui sebuah kapasitor kopling (coupling capacitor), dan
(b) dimulainya sebuah
osilograph Braun. Jarak sampai ke titik F dihitung dari waktu dikirimkannya tegangan
kejut sampai diterimanya kembali pantulannya; waktu ini dibaca pada osilograph,
rzl
,To
lr:
T
(186)
dimaaa I: waktu yang terbaca pada osi-
lograph
u: kccepatan rambatan tega-
ngan kejut
Cara ini sulit diterapkan untuk gang-
guan-gaogguan yang ada di belakang
scsuatu titik pantulan.
Osilo8rap Braun Ferogu&t Pcocrima
Kapasitor
Rclc Pcncatat
Gaogguan
Gbr.7E Prlnstp Kerie Pmu CllSgrra
Jcofu F.
9.6.4 Peoenu Gugguru Jenis F
Prinsip penemu
jenis
F ini sama dengan
jenis
C. Bedanya adalah bahwa pada jenis
F tegangan kejutnya lebih kecil (l
-
5 kU dan dikirimkan berulang-ulang; periksa Gbr.
78. Cara ini relatip tidak terpengaruh oleh berisik (noises), dan peralatannya lebih murah
dan sederhana.
9.7 Referensi
Di dalam Bab ini digunakan referensi terhadap karya-karya sebagai berikut:
l)
*Transmission",
Handbook of Electrical Engineering,Institute of Electrical Engi-
aeers of Japan, 1967, hal. 1215.
BAB 10. TETEKOMUI\IKASI UNTUK
INDUSTRI TENAGA LISTRIK
10.1 Kelasifikasi
Yang termasuk dalam telekomunikasi untuk industri tenaga listrik adalah scmua
fasilitas telekomunikasi yang dipedukan dalam
pengelolaan perusahaan tenaga listrik'
diantaranya yang menyangkut penyedigan dan kebutuhan, opcrasi,
pengamanan dan
pemeliharaan.
Jaringan tclekomunikasi ini mcrupakan sistim syaraf dalam
pengelolaan
perusahaan. Makin maju perusahaannya makin penting adanya fasilitas
yang dapat
diandalkan dan komunikasi yaug ospat. Sistim telekomunikasi ini dapat dibagi menjadi
komunikasi untuk pembagian beban
(load-dirpatching), untuk
pemcliharaan dan
untuk keperluan-keperluan administratip.
10.1.1. Komunikasi untuk Pembrgian Beban
Komunikasi untuk pembagian beban digunakan untuk memungkinkan
pembagian
beban secara cepat dan tidak terganggrr. Oleh karena
pentinpya tclekomunikasi untuk
tugas ini, maka sistimnya tidak boleh digunakan bemama dcngan keperluan lain.
Malahan, perlu diadakan pula sistim cadangan. Dalam kcadaan
gangguan pada sistim
tenaga, bencana alam etau bencana-bencana lainnya, sistim telekomunikasi harus
tetap dapat bekerja *engan sempurna.
Fasilitas telekomunikasi yang sesuai untuk
pembagian beban adalah komunikasi
radio, telekomunikasi lewat pembawa PLC, dsb.
10.1.2. Komunikasi untuk Pemelihrnen
Komunikasi untuk pemeliharaan dimaksudkan guna komunikasi antara
pusst
listrik (power station), gardu (substation), saluran transmisi, saluran distribusi' dll.
Untuk itu biasanya digunakan telekomunikasi dengan kawat bagi sistim tenaga
yang
kecil scrta tclekomunikasi dengan radio atau dengan pembawa saluran tcnaga
(PLC)
bagi sistim tenaga yang bcsar. Komunikasi radio mobil sangat berguna dalam
peme-
liharaan saluran transmisi.
fO.rc. Kommllnsi untuh Keperlurn Adminisfrrtip
Komunikasi untuk keperluan administratip digrnakan dalam
perhubungan antara
kantor pusat, kantor daerah dan kantor cabang. Sering kali saluran komunikasi untut
pemeliharaan digunakan
juga
untuk keperluan administratip. Kadang-kadang
yang
dipakai untuk keperluan terakhir ini adalah saluran komunikasi cadangan
1lttna
tugas-tugas tcrsebut terdahulu.
10.1.4. Jenls Frsilitas
Jenis-jenis fasilitas tclckomunikasi untuk industri hnaga listrik dapat dilihat pada
Tabcl 46.
Bab 10. Tclckomunikasi untuk Industri Tenaga Listrik
124
(n
l(
d
tq
o
o
F
.N
.r2
>a
eX
d-
9a
trcl
J?
.c
o.-
o9
d
l!
<da
OJ
trd
^oo
ll
J(d
,>r
=;i
ZF
+
I
I
I
I
I
I
I
I
(!
3
N
8
t
66
ca
oo
E}E}
E A
E
E E
E$o E$a H 9
f
sE
I
sE
s
F
E
Eq
E
E9 E +^
d r.!r
-q
llo i uiN'
A EE A EE
E^*E
s,5E liE ;=sc
----r--- ---T---
---T--
rrl
I
I rl :=' I
^
I
r a;ot^ E I c E l
I 6 d.-- tr I d d I
: a'E,E
6e I
E E. I
E oF ! ES
&
&
=
I
5 Esx r
E
E EE I
5EE;;BIFiiIi
c Ei:E co tr F
e vtr
|
g glH g:
=s
e
E Eq
g
E EE.5 Eg E P S SE fl
llrttrll
lltt
lllt
ltlt
rlle
tlts
l^*t
H
I a
*E t ^
i I S B.E
d^
ES
:
i
.I?EE 9E
E
I s E=- E?
;1
=
D
=
a3
j
a
g
E E3 8r
=S
rl
llr
l"l
SI iEB T
tr in_ E b.o
tr
2V t 2EF
a
tr
5;.9 63h^ 5^
tri t3=q
n
PE PEEd Pi
-l
et
cl
at
aB
l::
c-o
,H
65v
r 6,-
i6rt
a'9 .2
F
',:i
J
,jt
0
6!
o0
6l
G)
F
6
E
,
o
6l
il
o
x
!)
c)
F
6
al
6
6l
Tr
0
()
\o
!t
t
d
t-
10.3 Komunikasi dengan Pembawa Saluran Tenaga
10.2 Komunikasi dengan Kawat
10.2.1. Saluran Telekomunikasi
Komunikasi dengan menggunakan kawat tidak sesuai untuk pemakaian pada
rangkaian yang penting atau yang
jaraknya jauh,
karena pengaruh yang besar dari
angin ribut, taufan, banjir, interferensi dari saluran ter,aga, dsb. terhadap kawat komu-
nikasi ini. Meskipun demikian, komunikasi
jenis
ini masih dipakai pada jarak pendek
'karena
pertimbangan ekonomis. Komunikasi dengan kabel dipakai karena stabilitasnya
lebih terjamin dibandingkan dengan komunikasi lewat saluran udara. Kerugiannya
adalah bahwa komunikasi dengan kabel lebih ma.hal dan lebih menyulitkan apabila
terjadi kerusakan.
Saluran udara dapat dipasang pada tiang-tiang yang khusus diperuntukkan baginya
dan dapat pula dipasang pada tiang-tiang yang
juga
dipakai untuk keperluan lain,
misalnya tiang distribusi. Yang terakhir ini tentu saja lebih murah. Saluran telpon yang
dipasang pada tiang saluran tenaga biasanya kabel, karena karakteristik listriknya
lebih baik, lagi pula lebih kuat. Beberapa keterangan mengenai kabel telekomunikasi
tertera pada Tabel 47.1)
10.2.2. Sistim Transmisi
Komunikasi dengan kawat terdiri dari dua sistrm, yakni sistim transmisi suara
dan sistim transmisi pembawa. Yang pertama menyalurkan arus untuk komunikasi
sesuai dengan frekwensi suara, sedang yang kedua menyalurkannya sesudah merubah
irekwensi suara menjadi frekwensi gelombang-pembawa. Biasanya daerah frekwensi
untuk komunikasi pernbawa adalah 3
-
60 kHz dengan
jumlah
saluran bicara l-3.
Untuk komunikasi pembawa dapat dipakai saluran udara maupun kabel. Namun
dalam industri tenaga listrik komunikasi dengan pembawa PLC dan komunikasi radio
lebih digemari.
10.3 Komunikasi dengan Pembawa Saluran Tenaga
Telekomunikasi dengan pembawa saluran tenaga (power line carrier, disingkat
PLC) adalah komunikasi dimana arus pembawa (carrier current) ditumpukkan (super-
posed) pada saluran transmisi tenaga, sehingga saluran tenaga ini menjadi rangkaian
transmisi frekwensi tinggi. Jangkau frekwensinya berbeda untuk setiap negara, namun
kebesarannya kira-kira berkisar antara beberapa puluh sampai 500 kHz.
Untuk memungkinkan komunikasi dengan cara ini secara effisien, yaitu dimana
karakteristik penyaluran isyarat lewat pembawa digabungkan dengan karakteristik
penyaluran tenaga pada tegangan tinggi, diperlukan
peralatan pengait (line coupling
equipment).
10.3.1. Peralatan Pengait
Sistim pengaitan (coupling system) diklasifikasikan menurut pengaitan induktip
dan pengaitan kapasitip. Karena
jebakan
saluran (line trap) merupakan impedansi
tinggi terhadap frekwensi pembawa, maka
jebakan
ini diserikan dengan saluran trans-
misi tenaga guna memperbaiki karakteristik penyaluran gelombang-gelombang pem-
bawa. Pengaitan induktip lewat udara menggunakan penghantar yang dipasang
125
126 Bab 10. Telekomunikasi untuk Industri Tenaga Listrik
sejajar dan dongan
jarak
tertentu dari saluran transmisi; sistim ini dipakai untuk me-
ngaitkan peralatan PLC dengan saluran transmisi
pada frekwensi tinggi. Sistim ini
sekarang
jarang
digunakan.
Ada dua
jenis pengaitan dengan kapasitor. Yang pertama adalah sistim pengaitan
dengan kapasitor
jenis penala (tuning type), dimana rangkaian penala (termasuk kapa-
sitor pengait) dikaitkan s@ara seri dengan saluran transmisi. Macam yang kedua adalah
sistim
pengaitan dengan kapasitor
jenis penyaring (filter), dimana pengaitan peralatan
TrDel 47. Ikrelrteristik dar Struktur Kabel Telekomunikssi
(a) Karakteristtk Listik
Hal
Karakteristik
Tahanan Isolasi Di atas 10.000 MO/km
Tahanan Penghantar Di bawah 20,7 O/km
(femperatur 20'C)
Tegangan
IGtahanan
(Withstand)
Antara Penghantar
Dalam dan Luar
AC 3.000 V untuk I menit
Antara Penghantar
Luar dan Kulit Luar
AC 6.000 V untuk I menit
Impedansi Karakteristik Antarazs+fO
Attenuasi
Di bawah 3.7 dB/km
Tahanan Penghantar
Di bawah 29.0 O/km
Tahanan Isolasi
Di atas 10.000 MQ/km
Kapasitansi Elektrostatik Di bawah 50 mpF/km
Tegangan
Ketahanan
(Withstand)
Antara Penghantar AC 2.000 V untuk I menit
Antara Penghantar dan
Tanah
(tanpa Perisaian)
AC 4.000 V untuk I menit
Antara Penghantar
dan Perisai
AC 2.000 V untuk I menit
Antara Perisai dan
Tanah
AC 4.000 Y untuk I menit
Antara Kawat
Penolong dan Tamh
AC 1.000 V untuk I menit
Impedansi
Karakteristik
(o)
I KHz 450
(Standar)
l0 KHz 150
(Standar)
30KTIZ 130
(Standar)
Attenuasi
(dB/km)
lKtlz 0,75
(Standar)
r0KHz 1,7
(Standar)
30 KHz 2,2
(Standar)
Jumlah
Pasanga.n
Diameter Luar
lari Penghantar
(mm)
Tebal Isolasi
Polyethylene
(mm)
Tcbal Vioyl
sheath
(mm)
Diamter
Luar
(mm)
Bcrat
Kira-kira
kg/km
5
l0
15
20
30
50
0,9
0,9
0,9
0,9
0,9
0,9
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
2,O
2,0
2,0
2rl
213
2,5
t4
l8
20
23
27
34
2A
335
455
570
820
t.D0
10.3 Komunikasi dcngan Pembawa Saluran Tcnaga
(D)
Struktur Kabel PYC
(c) Struktur Kabel Koaksial Frekwewi Tinggi untuk
pembawa
(pLC)
t27
, ;,-;:-rl
-
I L--,J I
I I l----
--l
I
r il ii
I I L*"-f r
I
L_____ l
(c)
Dhatr nrff.hr lVld+B[l Tyx Lhc Tnr
c{lroo,rro
I
I KG Frnhtrn LFC
Kanns:
C. . . Krp.dtor hnrti((CouplinS Crfritor)
CF. .. Pm}|fina Pafrit (Couplila Fllt r)
LT . . . Jcb.tm Srluntr (Ljrr Tnp)
l5 ... Pcmiuh
Hal
Standar
Penghantar Dalam
Materid Soft copper berlilit
Diameter Luar Kira-kira 1.2 mm (7/0,4
mm)
Isolasi
Material Polyethylene (fillcd
type)
Tebal Kira-kira 3 mm
Dianreter Luar Standar 7,3 mm
Penghantar Luar Material Soft copper wire braid
Sarung Vinyl (sheath)
Tebal Standar 2,5 mm
Diameter Luar Standar 13,2 mm
Maksimum 14mm
Berat
Kira-kira 220 ks/km
(r) Iffahr Ptrrhn
paji
i!-nlnt
jrccocrl lLr
lneacr
iPcnirit
i i
pclindmi
cct
6(Do:75o i
128 Bab 10. Telekomunikasi untuk I idustri Tcnagt Listrit
PLC dengan saluran dilakukan melalui
penyaring pengait dan kapasitor pengait.
Sistim kedua ini sekarang banyak dipakai;
periksa Gbr. 79.
Kapasitor pengait memisahkan salu-
ran transmisi dari peralatan PLC dan ber-
sama penyaring pengait merupakan
jari-
ngan empat-kutub yang meneruskan
frekwensi tinggi. Yang dipakai biasanya
adalah kapasitor kertas terisi minyak
seperti terlihat pada Gbr. 80, dengan kapa-
sitansi elektrostatis 0,001
-
0,002 pF.
Sebagai penyaring dipakai "band-pass
filter" Rangkaiannya dari
jenis
trafo
seperti terlihat pada Gbr. 79 (b). Ruginya
dalam daerah frekwensi
yang
diteruskan
(passing band) I
-
1,5 dB ke bawah.
Jebakan saluran terdiri dari kumparan
utama yang meneruskan frekwensi niaga,
alat penala yang memberikan impedansi
frekwensi tinggi yang dikehendaki serta
arester yang melindungi peralatan. Contoh
rangkaiannya dapat dilihat pada Gbr. 79
dan Gbr. 80. Induktansi kumparan utama-
nya kira-kira 0,1
-
I mH, sedang impe-
dansi frekwensi tingginya mempunyai
tahanan effektif kira-kira 400
-
600 O.
Gbr. 80 Peralatan Pengait (Coupline
Equipment) dalam Gardu. A:
Jebakan Saluran (Line Trap)
B: Kapasitor Pengait (Coupl-
ing Capocitor) C: Penyarlng
Pengait (Coupling Filter)
Z:4A0d2
Z:600(2
10.3.2. Rengleien Transmisi
Ada 4 sistim rangkaian transmisi PLC, yaitu seperti tertera pada Gbr. 81. Untuk
ke-empat sistim ini karakteristik transmisinya berbeda. Impedansi frekwensi tinggi
dari saluran transmisi berubah menurut komposisi rangkaian dan konstruksi saluran-
nya. Namun harga-harga berikut ini dapat dipakai sebagai patokan:
Untuk pengaitan fasa-tanah
Untuk pengaitan antar-fasa
Attenuasi frekwensi tinggi dari saluran transmisi Io dinyatakan oleh rumus beri-
kut:2)
Lo
:
doll +
2L"
+
Z" (dB)
(187)
dimana do
:
konstanta attenuasi untuk
pengaitan antar-fasa (dB/km); berubah menu-
rut konstruksi saluran transmisi; contoh untuk saluran yang umum
tertera pada Gbr. 82.
/,
:
panjang saluran transmisi
(km)
Z": atenuasi
peralatan pengait per gardu (dB); biasanya diambil 2,5dB
(termasuk rugi dijebakan saluran)
&
w
10.4 Komunikasi Radio t29
LT LT
.r--ffi",
Jlrn-
**cc c
tr--,T*
"'H
U
rR
LJrn
(c) Pcngaitan Antar-Fasa
Ir-1T'
L-.1 rn
r;[
cc
"TR
(b) Pengaitan Dua-Fasa-Ke-Tanah (d) Pengaitan Antar-Rangkaian
Keterangan:
LT . . . Jebakan Saluran
(Line TraP)
CC. . . Kapasitor Pengait Coupling Capacitor)
TR. .. Pcralatan Pembawa
@LC)
Gbr. tl Sistim Rangkeien Transmisi dengen Pembowa (PLC).
cc
TR
cc
TR
(a)
Pengaitan Fasa-ke-Tanah
Z
:
ruSi tambahan dalam
hal pengaitan
fasa-tanah
(dB);
biasanya diambil
5 dB.
10.3.3. Perelaten PLC
Peralatan PLC yang dipakai bia-
sanya adalah
jenis
satu-saluran danjenis
tiga saluran (3rhannel). Contoh spesi-
fikasinya dapat dilihat pada Tabel 48.
Komunikasi Radio
Telckomunikasi dcngan pcsawat
radio banyak
juga
dipakai dalam industri
tenaga listrik seperti tcrlihat
pada Tabcl
46. Pcnggunaannya kclihatantrya tctap
o
r--J-
IN $o xn 2$ tn 350
Br*rd(ll{r)
Gtr. t2 Cffi Kdnir A$cooul
$lrrn TrrmH.
0,11
0,t2
0,10
0,wt
?
c1
E

!
fl
a
I
I
!
0,u
0,02
t
,ffiB
10.{
o
o
c
d
9
tr
dl
E
6
e
o
>|
ah
x
o
Eg
v)i
v)a
t\
E
e
EP
(JF
s-.;
3E
N
J(
cf
I
o
N
Ja
o
d
+
\o
N
a
lJr
U
,a
!
6l
E
la
E
t
o
,
c
q,
()
o
d
'
o

tl
t!
(n
E
o
a
6l
ts
o
(A
t

c
6t
U
d
d
ah
ct
E
l)
u.
Q
r(
t)
ra*
th
=.
(nn
(rl
I
U
d
E
.Aa
c.f
N
JI
o
r\
I
JI
o-
o
n
al
(n
q.
Q
tr
tr
E
cl
E
tr
E
$
o
q!
(l
U
A
fi,
B
o
6
o
(,
(h
E
o
a
an
)
E
o
o
=.
o
c
c
d
I
tr
d
a
cl
v?
E
l)
x
cl)
x
o
oE
ad

N
JI
t
N
J'
t
N
I
d
N
&
o
o
+
6
6l
a
IL
a
lq
E
tr
E
!
F
N
E
Et
,!,

t
E
ta

!t
()
.d
s,
(J
a
7
o
o
N
B
o
N
o
q,
a
rt
a
s,
o
v)
o
c
c
6l
o
G
nt
a
cl
u)
E
o
a
x
q)
EB
a6
N
J(
N
N
x
o
N
I
st
N
.la
o
o
+
N
(h
l&
l
E
cd
Gl
E
trl
\o
o
2
o
d
U
o
ql
7
o
o
g
s
cax
uS
=O
od
o-
t B=
$EE
FN
I
ol
ctl
.l
l
t_
td
Ili
l.E
tE
U'
'6
.E
c
d
t-
.E
o
t)
a
o
q
E
qt
G,
E
!
tr
.d
Fq
x
3
o
d
o
IL
('
lr
.E
o
z
(6
io
!
,
E
d
ct
a
o
a.
o
i-
tr
ql
I
a
o
CI
o
t
o
tlr
d
l.
o0
tr
A
a
e
7
cl
6l
.E
a
tr
o
q
o
F
C.
t
a
d
cn
tr
=.d
0a
{.u
:*
,3!
EA
6fl
J
k
i
d
to
6l
c
o
F
3
v1
cn
,it
cl
Ji
JI
r.l
6l
60
d
E
{)
F
c
.d
c!
&
d
E
o
I
e!
(,
GI
d
U
c
d
o6'
E
=r!
,o
,E
c
qt
F
G,
J(
o0
.E
t-
B8b lO. Tclclcomnnikasi uutuk Indurtri Tenaga Listrik
130
U
*
c
B
i
E
o
tr
!l
E
a
c
o
a
!
E
E
a)
e
A
c
t
E
a)
A
D
c
&
GI
0
t
o
o
o
U
O
t
o
tt
6
tr
d
>
ll
c
E
!
e
a
10.4 Komrmikasi Radio r3l
E
EI
d
E
N
I
E
F
A
6l
o
F.
o
ql
a
3Ei
EI
t
N
!t
o
8
o
N
I
a
C)
'
.!
o
IL
a)
o
>l
E'
o
o
o
ts
a
CA
(,
B
I
d
o
d
ql
o
o
a)
GI
(A
!
o
t1)
ql
tr
o
at
o
5(l
3E
g
trl
E
o\
x
o
q
a
A
!
(,
tr
N
I
t
ao
i;A

E
^E
-=o
al El
u4,
tr
E
6l
5b
a,EB
a<o
o
$
lL
EB,
.)r
'6
o7 f 6
EE Bg
tt l)v,E
qi
>
I
,. \o
Xe
A
d
o
l<
o
o
s
a
!-E
sigg
lq
E
x
o
a
A
i!
(.)
!t
N
oi
d
6
qi
IL
.c
o
la
de
eE
t
ot
B'I
atA
d
'
o
I
t.l
o
a
(,
d
U
n
c)
Gt
(a
E
o
rh
(,
E
o
a
El$ss
tr
E
cl
I
\E}
9il
'4tr
(d:=
th.=
CI
tr
.s, 5
;<
tq
E
N
x
o
o
.E
cl)
U
,
cl
IL
-9
IEc
6 ex 5
oS
dt Bi
!
tr
(,
E
N
o
o'=
3S
A;A
66
?{
a
E
N
x
o
a
E
v)
O ql
6
qt
-9
EEEe
dE.IB
8=
'ql
;B tsF
st
,ta
b0
tr
(|
Fr
tr
o
d
t,
(n
-tr
tsc
,n)
tr<
tr
E
(\l
()
,
d
tlr
H
3
o
o9
E8
da
sl
B
I
o
(n
d
a
o
(l
U)
E
o
IA
d
E
o
u2
s,
ot
Ei
g
i58{
la
E,
t4
a
a
a
.d
t
N
:
o
\o
o
6l
o
k
o
dt
u1
trd
9tr
5'aE
odE
nl{
a
I
o\
x
o
o
o
d
d
x
o
A
E
a
U
\o
d
d
tli
a)
>r
E
o
o
.ct
h
a6
s,
o
I
U
d
d
U
n
o
(,
(h
t
o
4
d
a
c
o
U)
o
E.d
qtr
-E
aE
t)dE
e,!(
tr
E
6
I
\o
!
d
ttl
o
d
a)
at
o
o
E
o
'r,
6
c
a
F.
o
o
2
2.e
!.n
<()
E
d
I{
a
0
E
dl
a
{2
n'
.dO
=(l
E6
ql
E
o
E
o
C')
6
c,
o
c
o
A
a
sl
tr
6t
*
cl
t<
A(
'E
;I
d
o0
d
E
o
F
3
E
)
a
c
qt
r!
d
U
cl
a
o
o
o
4
ql
&
6l
rt
!t
g)
L
0
d
.it
(E
t
o
E
o
E
o
(J
o\
!
E
JT
cl
li
tT2
Bab lO. Telckomunikasi untuk Industri Tenaga Listrik
akan mcmegang
peranan penting, terutama karena keunggulannya dalam keadaan ben-
cana alam (angin topan, banjir) dibandingkan dengan komunikasi melalui kawat. Speci'
fikasinya bcrubah dengan frokwensi kerja
yang digunakan,
yaitu frekwensi tinggi sekali
OHn
kc ates. Contoh spesifikasi
peralatan komunikasi radio tertera pada Tabel 49.
(b)
Peralatan Redio 150 MIlz Brnd
VHF untuk Stasion Mobil.
(r) P.rd,rr.! Rrdio 60/150 MHz Band
VHF untuk Sts3ion Tctsp dan
Strsion Pangkrlan.
(d) Peralatan Radio 7000
MHz Band All Solid
State Microwave
RePeater.
Pcralatan Radio t50 MI{z
Band
VHF untuk Stasion Jinjingalr.
(c)
Gbr. t3 CmtohPereletan
Radio.
10.4 Komunikasi Radio
133
10.4.1. f,omunlkasl VHf,'
Frekwensi yang paling sering dipakai adalah antara 40-70 MHz dan 150- 160
Hz. Pancaran gelombang radio VHF (30
-
300 MHz)r) merupakan
pancaran dengan
gelombang langsung (direct wave), gelombang pantulan (reffected wave) dalam
jarak
yang masih dapat dilihat (within line-of-sight distance), dan
gelombang lenturan (dif-
fracted wave) di luar
jarak
yang dapat dilihat (beyond line-of-sight distance). Karena
jarang
ada pancaran
ionosfir untuk gelombang pendek, maka komunikasi ini tidak
dapat dipakai untuk
jarak jauh.
Namun, sering kekuatan medan gelombang lenturan
besar sekali, misalnya bila
jalan pancaran itu dipotong oleh gunung yang terjal. Dalam
hal demikian, komunikasinya dimungkinkan untuk
jarak jauh, yaitu kira-kira 100 km
di luarjarak yang dapat di lihat.
Komunikasi radio VHF dari stasion ke stasion digunakan untuk kepentingan
lokal dengan I
-
6 saluran (CH). Contoh pemancar, penerima dan antena radio terlihat
pada
Gbr. 83 dan Gbr. 84.
(a)
Whip Antenna
(d) 3-Element Yagi Antcnna
Parabolic Reflctor
,rt RrdLtor
Rcdetor
(b) Brown Antenna
(c) Triple Skirt Antenna
(fl Dipole Antenna dengan
Corner Reflector
Gbr. t4 ContohAnteone"
Telekomunikasi radio mobil YHF sangat penting artinya bagi perusahaan
listrik
terutama dalam pemeliharaan
saluran transmisi dan distribusi. Untuk pekerjaan tadi
ada tiga
jeais
stasion. Yang perfama
adalah stasion
jinjingan
(portable station) yang
Kin-kin
I
1t
Kin{dtt
-_l...
l1
f--
I
7l'
ll
I
lY Bab 10. Telckmunikasi untuk Industri Tenaga Listrik
dapat dibawa oleh seorang
pekerja, yang kedua yang dipasang dalam kendaraan
lmbbite
station) dan yang ketiga adalah stasion
pangkalan (base) yang dipakai di kantor
(gardu) seksi pemeliharaan guna komunikasi dengan stasion
jinjingan
dan stasion mobil
tadi. Sistim komunikasinya biasanya simplek
(simplex, atau press-to-talk), dimana
pembicaraan dilakukan bergantian.
Kadang-kadang stasion
pangkalan dipasang di tempat yang paling tinggi
(tidak
di kantor seksi) untuk memungkinkan komunikasi dengan
jarak pancaran yang lebih
jauh.
Station pangkalan di tempat yang tertinggi ini biasanya tidak berawak. Contoh
komunikasi raclio untuk pemeliharaan tertera pada Gbr. 85.
Streioo Mobil
-l-\
f,lJ, \
lrl
x /
Gudu ReleYangTidek
Diiag
Snrio Prn:Lrlrn
Stesion Mobil
Keterangan :
T,.,PemencarRadioVHF
\.
. . Pererima Rrdio VHF
PLC. . . Pereletan Telpon PLC
f@'
. .Peraleten
Pengait (Coupting)
fr' fz,,
, Frekwensi
Control Box
Xntor Dius Peme[harean Srluran Tmnsmiai
Gbr. E5 Contoh Sistim Komunikasi Radio Mobil untuk Pemeliharaan Saluran.
10.4,2. Komunikasi Gelombang Mikro
Jangkau frekwensi untuk komunikasi dengan gelombang mikro (microwave)
adalah 300
-
3000 MHz
(dinamakan ultra-high frequency, disingkat UHF) dan 3000
-
30000 MHz (dinamakan super-high frequency, disingkat SHF;.e' Frekwensi UHF ke
atas dinamakan
gelombang mikro, meskipun
ada
juga yang menggunakan batas 1000
MHz. Frekwensi yang biasanya digunakan oleh perusahaan listrik adalah frekwensi
sekitar
(band) 400 MHz, 2000 MHz dan 7000 MHz.
Spesifikasi
peralatan yang digunakan untuk komunikasi radio pada frekwensi
sekitar 400 MHz terlihat pada Tabel 49. Pancaran gelombangnya terbatas pada
jarak
yang dapat dilihat, yaitu untuk komunikasi antara stasion dengan rangkaian komuni-
kasi multiplek di bawah 24 saluran
(CH). Akhir-akhir ini, sistim ini banyak dipakai
guna komunikasi radio mobil untuk pemeliharaan saluran tenaga di sekitar kota
(suburb). Cara kerjanya sama dengan komunikasi VHF.
Telekomunikasi dengan
gelombang mikro digunakan untuk saluran-saluran
komunikasi
yang terpenting
yang memerlukan saluran bicara banyak. Dalam hal demi-
kian, biaya
pembangunan untuk setiap saluran bicara paling murah dibandingkan
10.4 Komuitasi Radio 135
.dcagsa
mctode komuoikasi yang lain. Kcuntuagan yang lain adalah bahwa bcrisiknya
scdikit, mutu auaranya baik dan keandalaanya tiaggi.
Dib.ldingkan dcngan komunikasi PLC, komunikasi gelombang mikro lebih
6!nh, karcna harga kapasitor pcngait dan
jcbakan
saluran pada komunikasi PLC
E brl. Kecusli itu, untuk PLC dibutuhkan peralatan yang penguatannya besar karena
bcsarnya tctarryan berisik korona terutama pada tcgangan tinggi sekali. Oleh karena
itrt, bila saluran bicaranya enam atau lcbih, komunikasi gelombang mikro lebih ekono-
mis dan lebih stabil.
Gclombang mikro dipancarkan menurut garis lurus (seperti cahaya). Oleh karena
itu pancaran gelombang
mikro tcrbatas pada pancaran gelombang langsung dalam
batas
jarak yang
dapat dilihat (kecuali pancaran gelombang tcrpencar di troposfir).
Ini berati, bahwa rugi pancaran (propagation loss) antara titik pancaran dan titik
pcncrima berubah-ubah tcrgantung dari refraksi di udara (yang merupakan fungsi
dari suhu di tanah, tctaaan udara, telcmbaban, kcdudukan geografis) serta pengaruh
gelombang pantulan
Geflcctcd).
Fluktuasi iui dinamakan
gejala menchilang (fading).
Makin
jauh jarak pancaran gclombang radio dan makin tinggi frekwensinya, makin
bcsar gcjala menghilanpya.
Di angkasa bcbas (frcc space) dimana pengaruh apapun terhadap pancaran gelom-
bang tidak ada, nilai rata-rata dari rugi pancaran radio antara dua titik dinyatakan oleh
tumus:.)
ll
:
l0logro(4ttdl7). (dB)
dimana I
:
ru8r pancarso angkasa bebas (dB)
1
:
panjaog gelombang (m)
d:
jarak
antara titik pancaran
dan titik penerima (m)
(188)
Dalam pembaagunan
rangkaian gelombang
mikro, stasion radionya harus diletakkan
di tempat dirnana gejala
menghilang tidak akan banyak terjadi. Rangkaian itu
juga
harus direncanakan dengan memperhitungkan terjadinya nrgi-pancaran karena gejala
menghilang tadi.
Sebagai antena gelombang
mikro diguaakan lensa elektromapetik, antena reflektor
tanduk atau antena parabolis.
Karena pertimbangan
ekonomis antena yang terakhir
banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan listrik. Setiap antena ini dapat disesuaikan
(matched) dengan kearahan (directivity) yang teliti dan perolehan daya (power gain)
yang tinggi. Ciri telekomunikasi gelombang mikro dimungkinkan oleh mutu antena ini.
Seperti terlihat pada Gbr. 84 antena parabolis (parabolic
antenna) terdiri dari reflektor
parabolis dan radiator primer yang meradiasikan gelombang-gelombang
ke reflektor.
Gelombang-gelombang radio yang direfleksikan kemudian dipancarkan ke depan dengan
arah yang tepat. Perolehan di depan antena dinyatakan oleh persamaan:5)
G
:
l0 logro
{@Dl
7),9,J
(dB)
dimana 6: perolehan (gain)
mutlak (dB)
p
: garis tengah permukaan (celah) artena (m); biasanya 2
-
3 m
I
:
panjang gelombang (m)
g,
:
koeffisien perolehan (biasanya 0,5
-
0,65)
Sebagai saluran penghubung (feeder line) biasanya dipakai kabel koaksial untuk
frekwensi sekitar 2000 MHz, sgdang
penuntun-gelombang (wave guide) persegi,
eliptis
(l8e)
136
Erb 10. Tolc&munil$i untut"Indurtri TcoagB Lirtrik
ateu buht diprlri untul fretrcnsi sckitar 7000 MHz. Scperti tolihat pada Gbr. 86
uotuk memundrinltan pemantulea gelombang Denurut arah tcrtcntu digunakan reflck-
tor logan deter yang dinanatan rtf,ektor pasip. Reflcktor ini biasanya bcrukuran
3m x 4a, 4m x 6m atau 6m x tm. Contoh
pcnasangan
tcrlihat pada Gbr. 87.
hralataa tdclomunikaci
gptombang nitro tcrdiri dari pesawat pemancar dan
pcnedma radio,
pcsawst pGngulang (repeatcr) dan alat frckwensi-pcmbawa.
Dewasa
ini scmue penlatan iai sudah ditramirtortan. Contoh pesawat pcngulang
keadaan
padat (solid statc) tcrlihat
pada Gbr. t3. Pesawat pengulang biasanya manggunakan
eistim rle detcttip
(iletcctive rtlay systcn) y'qg mcncrima gclombang
mikro, men-
denodulacitannya, mcngambil bagan videonya, lalu mcmaacarkannya kembali
scsudah memodulasikannya lagi. Ada
juga
sigtim hetcrodio, ym8 menguatkan gelom-
bang mikro yang ditcrima sesudah mcngubah frekwensinya menjadi VHF, lalu meman-
crrkannya kembali scsudah merubah frekwensinya mcnjadi gelombang
mikro. Sistim
tcrathr ini
jarang
dipakei oleh
perusahran-pcnrsehaan
listrik.
t
lfl:
r-
(r)
_lflr_fe
3:+'.--+.
'
\.
-)L (b,
& ...?/
T...ArrlrLL
t,..frrDrrb
Gf,r.ff Ibr Gr|r!ry Mllro
n
DhrtLrr olA Xrdolt-
E Prrfi,
10.5 Referensi
Glr. t7 lfflrPrd(A)drnAtrt ol
Mlb (B)
Cdmtrq ltF
ho (nrd rcodstha Lh,
hr GeNoDog).
Di ddem Bab ini digunakan rpferensi tcrhadap karya-karya berikut ini:
l) Standards Committee, Standard
for
Yinyl-Sheathed Cable Insulated with Poly-
Ethylene used
for
Communication in Electric Power Systems, and Standard
for
Coatcial Cable
for
High-Frequency Canier Communication in Electric Power
Systems, Combined Committee of Electric Power Companies (Japan),
1965.
2) Institute of Elcctrical Engineers of Japan, Standard Yalues
for
the Design of Carrier
Cdmmunicalion in Electric Power Systems andfor the Estimation of Power Line
Characteristics, Denki Joho Ltd., 1968.
3) Archer E. Knowlton, Standard Handbook
for
Electrical Engineers, 8th Edition,
McGraw-Hill Book Co., New York, 194E, Table 24-1, hal.2146.
4) "Propagation and Antenna", Handbook of Electronics Communication
Engineering,
Institute of Elcctronics Communication of Japan, 1967, hal. 753.
5) Ibid., hal. 794.
l&
BAB 11. SALURAN TRANSMISI
BAWAH TANAH
11.1 Sistim Transmisi
11.1.1. Sistim Listrik
Sistim listrik dari saluran transmisi bawah-tanah dengan kabel banyak ragamnya.
Dahulu, sistimnya di Jepang adalah sistim tiga-fasa tiga-kawat dengan netral yang
tidak ditanahkan. Sekarang, sistim pembumiannya adalah dengan tahanan tinggi atau
dengan reaktor kompensasi, untuk mengkompensasikan arus pemuat pada kabel guna
menjamin bekerjanya rele serta guna membatasi besarnya tegangan lebih. Di Eropa
sistim pembumian dengan reaktor banyak dipakai, sedang di Amerika sistim pembumian
langsung atau sistim pembumian dengan tahanan yang kecil banyak digunakan. Juga
di Jepang sekarang banyak terlihat sistim Amerika yang terakhir itu dipakai, terutama
untuk saluran kabel di atas 66 kV.
11.1.2. Konfigurasi Sistim
Dibandingkan dengan sistim transmisi atas-tanah (udara),
sistim bawah-tanah
mempunyai kelemahan dilihat dari segi terbatasnya kemampuan penyaluran dan
perbaikan gangguar.
Namun penerapannya terutama di kota-kota tidak dapat lagi
dihindarkan. Oleh karena itu untuk memungkinkan keandalan (reliability) yaDg tinggi
perlu
diusahakan komposisi yang lain daripada penyaluran
lewat udara, beberapa
diantaranya terlihat pada Gbr. 88.
Pada srstiz berturutan saluran yang keluar dari
gardu primer menyarurkan tenaga
listrik kepada konsumen melalui gardu-gardu
sekunder yang
letaknya berturutan
(tandem);
Ircmutus
beban dipasang pada setiap ujung bagian saluran pada sctiap gardu.
Sistim ini menguntungkan dilihat dari segi ekonomis, karena
jumlah
lintasan (route)
dan
jumlah
kabel kecil. Tetapi bila sistimnya menjadi besar, maka arus yang diperboleh-
kan untuk setiap kabel menjadi kecil, karena
jumlah
kabel scjajar menjadi banyak.
Kccuali itu
jumlah
bagian saluran yang harus diputuskan bertambah, operasi relc
tidak dapat lagi diandalkan atau waktu berlangsunpya gangguao bertambah lama.
Ini bcrarti bahwa secara kescluruhan keandalan sistim mcnurun. Tambahan lagi,
karuna
jumlah
pemisah (switches) bertambah, maka instalasi gardu menjadi rumit dan
mahal.
Srrrim baryak-termirul
Qrultitermrhcl)
menlanrpai sistim berturutao di atas. Be-
danyaadalahbahwadi sini setiap saluran dihubungkan dcngan trafo, sedang pemutus
bcban hanya dipasang pada ujung gardu primcr.
Pada sisfim bctturutan, scsuatu saluran
selalu mcrupakan pcnghubung antara dua gardu.
Pada sistirz rotgkaian tertutup (loop) gada-gadu
di.hubungkan satu sama lain
sehingga scmuanya nembcntuk rangkaian yang
tertutup. Sistim ini sccara ekonomis
menguntungkan dan rssionil, karena gang;guan tcrbatas pada saluran yang terganggu
138 Bab 11. Saluran Transmlsi Bawah-Tanah
saja. Bila ada gangguan saluran ini saja yang diputuskan, sedangkan saluran yang lain
masih mendapat tenaga dari sumber lain dalsm rangkaian yang tidak tcrganggu.
,Srrrrrr
jaringan (spot network)t) menyerupai sistim banyak.tcrminal. Bedanya
adalah bahwa di sini apabila terjadi gangguau pada sesuatu saluran atau trafo, maka
pelindung jaringan
(network protcctor) sckundcr akan bekerja dan memutuskan aliran
pada saluran yang terganggu. Tctapi karena semua bagian sekunder tcrhubung paralel,
maka penyediaan tenaga listrik tidak akan terganggu. Sistim ini tepat untuk penyediaan
tenaga listrik pada gedung-gedung.
Pada siqrha radial *btah gardu primer menyalurkan tenaga listrik secara radial
melalui gardu-gardu sckunder kepada konsumen, semuanya secara tcrpisah satu sama
lain. Sistim ini scring dikombinasikan dengan sistim berturutan atau sistim banyak-
terminal.
(c) Sistim Radial
O)
Sistin Baoyak-Tcminal
!ls
ss
(c)
Sistim Rangkaiaa TcrtutuP
PS
:
Gardu Primer
SS: GarduSckundcr
S
:
Gardu
CB
:
Pcmutus Bcban
C: Konsumcn
NP
:
Pclindung Jarincan
(d) Sistim JaringnD
Gbr. tt Cmtoh Konffgurasl Sidn BtrrhTsmh.
11.2 Kelasiftkasi Kabet Tenaga
Untuk
penyaluran tenaga listrik di bawah tanah digunakan kabel tenaga (power
cable). Jenis kabel tenaga banyak sekali; namun demikian dapat dikelasifikasikan
rnenurut kelompok-kelompok
berikut
(periksa Tabel 50):
(l) Kelompok menurut kulit
pelindungnya (armor), misalnya, kabel bersarung
timah hitam
(lead sheathed), kabel bcrkulit pita baja (steel-tape annored),
(a)
Sistim Bcrturutaa
11.3 Sistim Menaruh Kabel
Tebel 50. Kelasiffkasi Krbel dar Tegangennya
Kelasifkasi
Tegangan yang
Diterapkan
Catatan
belt di bawah l0 kV
minyak harus diganti
bila kabel dipasang
miriog
(slope)
H
di bawah 35 kV
SL
butyl
rubbcr
sesuai untuk pasang3n
miring
(slope)
polycthylcne
tekaoso
8ns
rendah
jqds pips
diisi
gar @- l50kv
jeob
pieo diisi grs
dqrotchnrtr
60
-
200 kv
lcbih murah dsri
itois
yaag diisi minyak
jcnir pipr diid mioysk di atas 60 kV
scsuai rmtuk tcgangan
tinggi sckali
(EII9
OF di atas 20 kV
kabcl berkulit kawat baja
(steel-wire armored), kabel berkulit kawat-tembiiga
(copper-wire armored), kabel berkulit baja tahan karat (stainless steel arnc-
rcd), kabel bcrkulit kawat aluminum
(aluminum'wirc armored), kabel
bersarung guni (jute), dan kabel tahan karat.
@
Kelompok memtrut konstruksinya, misalnya, kabel plastik dan karet (jenis
BN, EV, CV), tabel padat (jenis belt, H, SL, SA), kabel
jenis
datar (flat-type),
kabcl minyak (oil-filled), kabel pipa (pipe-type;misalnya, berisi
gas
:
gas
fillcd, gas tckan
:
gas compression, berisi minyak: oil filled), kabel berisi
$s
tekanan rendah (low pressure gas filled), kabel tekan (self-contained
compression).
(3) Iklompok merurut penggtnun, misalnya, kabel saluran(duct draw-in), kabel
taruh (difct-laying), kabel laut (submarine), kabel corong utama
(main shaft),
kabcl udara (overhead).
Kabcl (isolasi) kertas yang diresapi minyak (oil impregnated) biasanya digunakan
untuk saluraa transmisi bawah tanah, meskipun untuk tegangan di bawah 35 kV kabel
plastit atau karet butyl
juga
dipakai. Sebagai
penghantar biasanya digunakan kawat
tcmbap bcrlilit (annealed stranded), meskipun kawat aluminum berlilit
(karena ringan)
juga
diparai untuk kabcl ud3ra. Sebagai
pembungkus sering digunakan timah hitam,
mcskipun aluminum sckarang
juga
disukai, bukan saja untuk kabel udara, tetapi
juga
utuk tabcl minyak. Scbagar kulit pelindung digunakan
pita baja untuk kabel tiga-
karyat yaat ditaruh langsung dan kawat baja untuk kabel tiga-kawat
yang ditaruh
di dasor laut. Krwat tcmbaga, kawat baja tahan karat dan kawat aluminum digunakan
bila kabcl satu-kawat dipasang dengan tarikan.
Sfudn Mcnaruh Kabel
Ada berbcgai cara menaruh kabcl scbagai berikut (periksa Tabel Sl)zt;
(l) Caru mawuh langsung (direct laying), yaitu dimana kabel ditanam langsung
139
u3
Hd
Sistim Mcnanfi
Langsung
Sistim Pipa
Sistim Tcrusan
Tcrtutup
Eiaya Pembangunan dan
Waktu
kccil stsk bcsar bcsar
Penggantian dan Pcrluasan sukar mudah mudah
Perbaikan Ganglguan sukar mudatr mudah
Kapasitas Arus besar kccil bcsar
Kcrusakan Luar scnng agak sering
jarang
Elastisitas Kabel kecil kecil besar
t40 Bab ll. Saluran Transmisi Bawah-Tanah
Tabcl5l. CIrf Beterana Slsdm l\ileuaruh (Lay) Kabd
dalam tanah. Kadang-kadang, seperti di Jepang, kabel ini lebih dahulu ditaruh
dalam pipa tanah genting atau pipa beton, dan kemudian baru ditanam dalam
tanah. Kabel itu ditanam kira-kira 1,2 meter bila dikhawatirkan adanya
tekanan-tekanan mekanis, dan kira-kira 0,6 meter di tempat lain dimana
kemungkinan itu tidak ada. Di Jepang sistim ini digunakan bila
jumlah
kabel yang ditanam kurang dari lima. Penanaman kabel langsung tanpa pipa
banyak dipraktekkan di Eropa.
Sistim pipa (duct line), yang menggunakan pipa-pipa beton bertulang atau
asbes-semen atau baja atau PVC keras, yang ditanam dan dihubungkan de-
ngan lubang-lubang kerja (manholes) berjarak 100-200 meter. Kabel ditarik
dalam pipa-pipa ini dan dihubungkan melalui lubangJubang kerja tadi. Cara
ini dipakai dalam penaruhan kurang dari 16 kabel. Bila ditarik satu kabel
satu-kawat
(single-cored)
ke dalam pipa, maka yang dipakai adalah pipa non-
magnetik untuk mengurangi rugi daya dan mencegah bcrkurangnya kapasitas
penyaluran.
Sistim terusan tertutup, yaitu dimana kabel ditaruh dalam terowongan yang
melalui lubang-lubang kerja, seperti pada sistim pipa. Cara ini dipakai bila
jumlah
kabelnya melebihi 20 buah. Penaruhan kabel dalam lombong (pit)
dengan tutup di gardu termasuk sistim ini
juga.
Kadang-kadang kabel-kabel
tenaga ditaruh bersama dengan kabel telpon, pipa air, saluran pembuang,
dan pipa gas di dalam satu terowongan. Dalam terowongan dipasang berba-
gai instalasi, yaitu untuk pembuangan air, penerangan listrik, ventilasi, dll.
Pompa pembuangannya berkapasitas 0,5
-
2 HP dan kolam pembuangnya
cukup untuk menampung kira-kira 2m3; pompanya harus dapat bekerja
secara otomatis menurut tinggi rendahnya air dalam terowongan. Lampu-
lampu fluoresen 20 W dipasang pada
jarak
20
-
30 meter untuk memudahkan
patroli dan inspeksi harian (iluminasi pada lantai kira-kira 5
-
l0 lux). Ven-
tilasinya diperlukan untuk menukar udara yang panas dan lembab, yang
merusak kabel serta mengganggu kesehatan para pekerja. Ventilasi alamiah
dimungkinkan bila terowongan panjangnya tidak lebih dari 200 meter. Untuk
terowongan yang lebih panjang dipakai
peniup (blower) yang kapasitasnya
0,5
-
20 HP yang mampu meniup angin dengan kecepatan 10
-
60 meter per
menit.
(2)
(3)
ll.4 Kapasitas Transmisi l4l
Sistim menaruh kabel dipilih berdasarkan pertimbangan ekonomi, termasuk
kemungkinan perluasan di kemudian hari, serta aspek pemeliharaannya. Dalam hal
terakhir termasuk pula waktu mengatasi gangguan, gangguan terhadap daerah atau
lalu-lintas, dsb. Untuk
jalan-jalan yang tidak keras (jalan kerikil,
jalan
aspal biasa,
jalan
orang),
jalan
yang sempit dan
pemasangan sementara, atau bila ada banyak belo-
kan dimana kabel hendak ditaruh, maka cara menaruh langsungpalingtepat. Sebaliknya
bila tidak ada lintasan (route) lain, atau bila diperkirakan bahwa perlu ditaruh lebih
dari 20 kabel dalam waktu tidak lama
(10
tahun), maka sistim terowonganlah yang
digunakan.
11.4 Kapasitas Transmisi
Kapasitas penyaluran lewat kabel ditentukan oleh besarnya arus yang diper-
bolehkan. Arus yang diperbolehkan adalah arus yang menyebabkan kenaikan suhu
penghantar sehingga suhunya lebih rendah dari suhu pcnghantar yang diperbolehkan.
Kenaikan suhu itu disebabkan oleh berbagai rugi-daya, a.l. rugi kawat, rugi dielektrik,.
rugi kulit, rugi bahan pipa, dsb. Arus yang diperbolehkan terbagi menjadi tiga macam
menurut lamanya arus mengalir: kontinu, singkat, dan hubung-singkat. Tabel 52
menunjukkan berbagai arus yang diperbolehkan untuk bermacam-macam kabel.t-')
Oleh karena kenaikan suhu itu analog dengan
jatuh
tcgangan dalam rangkaian
listrik, maka arus kontinu yang diperbolehkan dapat ditulis sebagait)
(le0)
dimana 7i
:
suhu kontinu tertinggi yang diperbolehkan
('C)
Ic
:
suhu dasar tanah
("C) dimana kabel diletakkan; di Tokyo Tt
:
12
-
25'C untuk tanah atau 30-40'C untuk udara
7
: jumlah
inti (kawat) kabel
r
:
tahanan efrektif penghantar (O)
X,r
:
tahanan termis keseluruhan ("-cmfM)
Wt: ruEi dielektrik (flcm)
Arus singkat yang diperbolehkan (short-time allowable current) adalah arus beban
lebih (overload) yang diperbolehkan pada keadaan saluran normal untuk waktu yang
singkat. Kasus ini hanya terjadi beberapa kali saja setahun dan hanyA untuk waktu
yang. singkat. Oleh karena itu, meskipun penghantar menjadi panas, ia tidak mem-
bahayakan isolasi. Salah satu rumus arus singkat yang diperbolehkan adalah:6)
,:Jffi
P:*l#h+4,,*ol (rel)
dimana 4
-
jumlah
inti (kawat) kabel
r.r
:
tahanan effektip pcnghantar pada suhu maksimum yang diperbolehkan
dalam waktu yang singkat
(O)
I,
:
suhu penghantar maksimum yang diperbolehkan dalam wottu yang
singkat ("C)
Ir
:
suhu penghantar
sebelum arus maksimuo yang diperbolehkan dalam
waktu singtat mcn8plir
fQ
142
Bab ll. Saluran Transmisi Bawah-Tcnah
4r:
tahanan termis dari kabel (andaikan ditaruh) di udara
f<m/Sf)
f
:
kebalikan dari konstanta waktu kabel (kira-kira 0,6)
,
:
waktu berlakunya arus yang diperbolehkan (iam)
/o
:
irus sebelum arus yang diperbolehkan mengalir
(A)
r..o: tahanan effektip penghantar sebelum arus yang diperbolehkan me-
ngalir (O)
Trbel 52. Contoh Ans yang Diperbolehkan untuk Kabel
(a) Standar Jepang
Kelasifikasi Kabel Kontinu
("C) Singkat ('C)
Hubung-
Singkat
("C)
Padat
6 kV atau kurang 80 95
200
di bawah 20 kV 75 90
20 kv 70 85
30 kv CI 80
BuUl Rubbcr,
Crosslinked Polyethylene
80 95 2n
Gas Tckanan Rendah 75 90 200
OF
80 90 150
Jcnis Pipa EO 90 200
(b) Standar Amerika
Kelasifikasi Kabel Kontinu
('C) Singkat
("C)
Padat
Satu-Inti
dan Dengan
Perisai
1
-9kV
85 105
l0-17kv 80 100
18-29kV 75 95
30-39kY 70 90
40- 49 kV 65 85
50- 59 kV 60 75
60-69kV
55 70
Multi-Core
Belr Type
lkv
2-9kV
t0-15kv
85
80
75
105
100
95
OF
l00jam 300jan
15-l7kv E5 r05 100
18-39kV EO lm 95
zl0
-
162 kV 75 95 90
163
-
230 kV 70 90 85
ll.5 Pcmcliharaan
143
Rumus di atas mengabaikan kcnaikan suhu tanah; namun kesalahannya tidak
besar untuk waktu bebcrapa
jam,
karcna kapasitas termis tanah besar sekali (l/20
dari kabel).
Perhitungan arus hubung-singkat yang diperbolehkan (short-circuit allowablc
current) dipakai untuk memilih penghantar yang dapat menahan arus yang mengalir
pada waktu terjadi hubung-singkat. Oleh karena kemungkinan tedadinya kecil sekali
dan waktunyapun singkat, maka suhu penghantar yang diperbolehkan dapat dibuat
tinggi. Apabila panas yang ditimbulkan semuanya tersimpan dalam penghantar dan
dalam minyak isolasi di dalam penghantar karena waktunya singkat sekali, maka arus
hubung-singkat yang diperbolehkan dapat dinyatakan oleh6,
P
:L\-*
crsr,n'#*,
(te2)
dimana Cr
:
kapasitas panas per satuan isi tembaga (3,4 lV-s/cmt/')
Cz
:
kapasitas panas per satuan isi minyak (1,9 %s/cmr/)
Sr
:
isi pcnghantar per satuan panjang (cmt/cm)
Sz
:
isi minyak dalam penghantar per satuan panjang (cmr/cm)
c
:
koeffisien suhu dari tahanan penghantar
,ro
:
tahanan penghantar pada 20'C (O/cm)
,
:
waktu berlangsung (dctik)
0r
:
suhu penghantar
scbelum arus mengalir ("C)
0,
:
suhu penghantar yang diperbolehkan pada hubung-singkat ('C)
Rumus di atas tidak berlaku untuk kabel plastik, kabel karet dan kabel yang
sedikit berisi minyak, karena kabel yang padat semacam itu panasnya hanya tersimpaa
dalam penghantar.
11.5 Pemeliharaan
11.5.1. Prtrolt du Inspehsi
Dalam rangka pemeliharaan
dikenal dua
jenis
patroli (periksa juga
Bab 9): pertam&,
yang bcrsifat mencegah (prevention)
terjadinya gangguan, misalnya dengan melihat
hal-hal yang abnormal pada lintasan kabel, pada tempat terminal, pada
indikator
minyak (tinggi dan tekanan); dan kedua, dengan melihat hal-hal yang abnormal,
apabila diketahui ada gangguan
terjadi.
Pekerjaan inspeksi meliputi pemeriksaan hal-hal yang tidak dapat dikctahui dari
pekerjaan patroli, misalnya pemeriksaan adanya gas dalam lombong kerja (manhole),
pemeriksaan
instalasi kabel secara teliti, pemeriksaan dan pengujian pesawat
alarm,
pcmeriksaan
isolasi, pcnyelidikan
volume minyak pada terminal sambungan kabcl.
pemeriksaan
suhu, dsb. Frckwensi inspeksi dapat dilihat dalam Tabel 53.
11.5.2. Pengukuren Isolesi
Kabel-kabel yang terisi gas
atau minyak, serta kabel pipa dan sebangsanya
jarang
menurun kekuatan isolasinya; sekalipun itu terjadi, peringatan (alarm)
akan terdengar
atau terlihat terlebih dahulu, yaitu karena ada kebocoran gas atau minyak. Keadaannya
tidak demikian pada
kabel yang isolasinya padat,
karena mereka menyerap air, sehingga
kckuetan isolasinya makin lama makin buruk. Oleh sebab itu isolasinya perlu diukur
t4
Eab ll. Salurao rlrosmisi Bawalr-Tanah
Teble 53. Contoh Frekwcnsl ltrspckd Ssluren Bowah Tanah
Jenis Pekerjaan Inspeksi Frekwensi Ihspeksi
Gas dalam Lubang Kerja 2 kali setahun
Bagian Dalam Lubang Kerja I kali dalam tiga tahun
Jembatan dengan Kabel I kali dalam tiga tahun
Terminal Sambungan I kali dalam dua tahun
Peralatan Kabel
yang Khusus 4 kali setahun
secara berkala menurut cara-cara berikut:
(l) Cara Komponen Searah (d.c.): di sini tegangan bolak-balik diterapkan pada
kabel, lalu diukur besar, arah serta variasi setiap
jam
dari komponen searah
(d.c.)
dari arus bocor dan arus pemuat yang mengalir.
@
Cara Korona: di sini tegangan bolak-balik
(a.c.) atau searah (d.c,) diterapkan,
lalu diukur
jumlah
denyut korona (corona pulses) sebagai fungsi dari tega-
ngan, yang melebihi
jumlah
tertentu dalam satu
jam.
(3) Cara Pengukuran Tahanan Isolasi: di sini tahanan isolasi dapat diukur dengan
Megger, meskipun karakteristiknya kurang
jelas
dibandingkan dengan cara
penerapan tegangan; dalam cara terakhir ini diterapkan tegangan searah
(10, 30 dan 50 kV untuk kabei 20 kV) Ialu diukur besar, variasi dan ketidak-
seimbangan tiga-fasa dari tahanan isolasi sebagai fungsi dari tegangan dan
waktu.
(4) Cara Pengukuran tan-6: di sini diukur tan-d dari isolasi kabel sebagai fungsi
dari tegangan dan suhu.
11.5.3. Pengukuran Lokasi Gangguan
Ada dua
jenis gangguan: yang bersifat listrik dan yang bukan-listrik
(kebocoran
minyak atau gas). Yang pertama ditentukan dengan mengukur konstanta saluran-
nya, sedang yang kedua ditentukan dengan mengukur
jatuh-tekanannya.
Sebab-sebab
gangguan banyak ragamnya, a.l. pekerjaan galian konstruksi oleh perusahaan-perusa-
haan lain, memburuknya isolasi, berkaratnya sarung pelindung (sheath),
kurang sem-
purnanya pekerjaan sambungan atau di tikungan, kurang sempurnanya pembuatan
kabel, pengotoran (contamination) garam dan debu, getaran lapisan pelindung, dsb.
11.6 Referensi
Di dalam Bab ini digunakan referensi terhadap karya-karya sebagai berikut:
l) D. N. Reps, "secondary Network Systems", Distribution Systems. Westinghouse
Electric Corp., East Pittsburgh, 1959, hal. 182-183'
2) "Transmission", Handbook of Electrical Engineering, Institute of Electrical Engi-
neers of Japan, 1967, hal. 1223.
3) Allowuble Current
for
Power Cobles. JCS 168-A, Association of Electric Wire
Industries of Japan, 1967.
Specifications AEIC-1961, Association of Edison Illuminating Companies (U.S.A.)
"Transmissiofr", op. cit., hal. 1224.
Ibid.,hal.1226.
4)
5)
6)
DAFTAR ISTILAH
Dalam rangka pembinaan
bahasa nasional dalam buku ini diusahakan sebanyak
mungkin penggunaan
istilah-istilah dalam Bahasa Indonesia, baik yang sudah lazim
dipakai, maupun yang di sana-sini baru kadang-kadang saja digunakan olch para
teknisi. Oleh sebab itu, apa yang tertera di bawah ini baru merupakan usul atau sum-
bangan pikiran bagi perbendaharaan istilah teknik untuk digunakan bila benar, atau
diganti kalau dianggap salah. Apabila pembakuan (standardization) istilah teknik
listrik sudah menjadi kenyataan kelak, maka penulis
akan memakainya sccara konsck-
wen.
INDONESIA INGGRIS
(A)
admitansi admittance
andongan
sag
arus current
arus yang diperbolehkan allowable currcnt
arus pemuat
charging current
arus bolak-balik alternating current
arus searah direct current
arus tukar lihat "arus bolak-balik"
atenuasi attenuation
(B)
bagian penguat
bracing inember
barang besi hardware
batang pelindung
armor rod
batas elastis elasticity limit
beban load
beban lawan countenreight
berat
jenis
specific gravity, density
berisik korona corona noise
berisik noise
besi tempaan
malleable iron
beton pelindung
mulching concretc
(D)
daya power
daya-guna
efficiency
denyut korona corona putdes
146 Daftar Istilah
G)
faktor beban
faktor daya
faktor hilang tahanan
faktor keamanan
faktor tegangan lebih
frekwensi
(c)
gardu induk
gaya putar
gangguan radio
garis pusat
garis-tengah
gawang
gejala menghilang
gelombang berdiri
gelombang lenturan
gelombang mikro
gelombang pantulan
gulungan
gulungan keda (operasi)
gulungan pengbambat
gulungan pelindung
gulungan peredam
(H)
hilang daya transmisi
hilang kebocoran
hilang korona
hilang tenaga
hubung singkat
(r)
impedansi
impedansi surja
induktansi
isolator
gantung
isolator
jenis
batang-panjang
isolatorjenis pasak
isolator
jenis pos saluran
(o
jam
ekivalen tahunan
(K)
kapasitansi
kapasitor
load factor
power factor
annual loss factor
safety factor
overvoltage factor
frequency
substation
torsional force
radio intcrference
center linc
diameter
span
fading
standing wave
diffracted wave
micro wave
reflected wave
coil, winding
operatingcoil
restraining coil
shielding coil
damper winding
transmission loss
leikage loss
corona loss
energy loss
short-circuit
impedance
surge impedance
inductance
suspension insulator
long-rod insulator
pin-type insulator
line-post insulator
annual equivalent hour
capacitance
capacitor
Daftar Istilah 147
kawat
kawat pelindung
kawat penolong
kawat tanah
kawat telanjang
kawat berlilit
kawat berkas
kawat komponen
kawat paduan
kawat rongga
kawat campuran
kawat padat
keandalan
keadaan tetap
keadaan peralihan
kearahan
kepekaan
kelongsong reparasi
keporian
konduktivitas
konduktansi
koeffisien suhu
koeffisien elastisitas
koefffrsien pemuaian linier
konstanta saluran
komponen simetris
kuat patah
kuat pikul
kuat pikui tekanan
kuat pikul angkatan
kuat tindas
kuat tarik
kuat pancang
kuat patah
kuat tarik maksimum
kuat tekan
kupingan (isolator)
kisi-kisi
(r)
lebar kaki menara
lintasan
lombong kcrja
lompatan api
lubang tcrja
conductor, wire
shield wiro
messenger wire
ground wire
bare conductor
stranded conductor
bundled conductor
component wire
composite conductor
hollow conductor
alloy conductor
solid conductor
reliability
steady state
transient state
directivity
sensitivity
repair sleeves
porosity
conductivity
conductance
temperature coeftcient
elasticity coefficient
coefficient of linear expansion
line constants
symmetrical component
breaking strength
bearing strength
compression bearing strength
uplift bearing strength
crushing strength
tensile stress
tensile strength
cantilever strength
breaking strength
ultimate tcnsilc strcngth
compressive strength
shed
lattice
stance of tower
routc
manholc
flashover
manholc
148 Daftar Istilah
(M)
menara
menara penegang
menara singgung
menara sudut
menara ujung
momen tekukan
mesin
pengangkat
mesin serempak
muatan
(N)
nilai sesaat
(P)
palang
papar penahan
panas
jenis
panas spcsifrk
pangkal pengiriman
pasak pengunci
pasangan
pancang
pekerja saluran
pcneBu ganSguan
pcnala
pcnyaring
pancaran
pantulan
pengait
pcngapit
penjepit kawat
penegang kawat
penghitung
penguat penerima
penguat penyama
pelindung
jaringan
pengubah fasa
pembagian beban
pembumian
pentanahan
pemutus beban
pemutus beban cepat
penutup cepat
pemanjangan
pemisah
pembawa saluran tenaga
tower
tension tower
tangent tower
angle tower
dcad-cnd tower
bending moment
winch
synchronous machinc
charge
instantaneous value
cross-ann
butting board
specific heat
spccific heat
scnding end
lock pin
fitting
pile
lineman
fault locator
tune, tuning
filter
propagation
reflection
coupling
clamp
snatch block
tensioner
counter
receiving amplifrer
matching amplifier
network protector
phase modifier
load dispatching
grounding
grounding
circuit breaker
high.speed circuit brcakcr
high-speed recloser
elongation
disconnect switch
power line carrier (PLC)
Daftar Istilah
penuntun gelombang
peredam
Ircrentang
peralatan pengait
permitivitas
peralatan pengubah AC ke DC
peralatan pcngubah DC ke AC
perolehan daya
pusat beban
pusat-pusat listrik
Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA)
Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU)
Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD)
Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG)
Pusat Listrik Tenaga Termis (PLTCI
perbandingan kerampingan
(R)
rambatan
rangkaian monitor penghambat
rangkaian ganda
rangkaian tunggal
reaktansi
regulasi tegangan
rele arah
rele
jarak
rele arus lebih
rele tegangan lebih
rele reaktansi
rele tahanan
rele offset-Mho
rele Mho
rele impedansi
rele konduktansi
rele srrseptansi
rele pilot-kawat
rele gelombang mikro
rele pembawa saluran
rele daya
rele tegangan kurang
rele frekwensi
rele waktu
rele pencatat gangguan
resistivitas
rugi daya transmisi
rugi pancaran
wave guide
damper
spacer
line coupling equipmcnt
permittivity
converter
inverter
power gain
load centre
power stations
hydro power stations
steam power stations
diesel power stations
gas-fired power station
thermal power station
slenderness ratio
propagation
delay monitor circuit
double circuit
single circuit
reactance
voltage regulation
directional relay
distance relay
overcurrent relay
overvoltage relay
reactance relay
resistance reiay
Offset-Mho relay
Mho relay
impedance relay
conductance relay
susceptance relay
wire-pilot relay
microwave relay
power line carrier relay
power relay
undervoltage relay
frequency relay
time relay
fault locating relay
resistivity
transmission losc
propagation loss.
t49
150
Deftsr Ictilah
rugi tahanan
(s)
saluran bawah tanah
saluran ganda
saluran komunikasi
saluran panas
saluran bertegangan
saluran pcnghubung
saluran tertutup
saluran udara
saluran transmisi
sarung (kabel)
scmu
scntral listrik
siku pelindung
sistim banyak-tcrminal
sistim berturutan
sistim
jaringan
sistim rangkaian teftutup
stabilitas peralihan
stabilitas tetap
stasion
jinjingan
stasion mobil
stasion
Pangk6lga
stasion tetap
sudut ayun
surja hubung
surja
survey
garis pusat
suwey lokasi menara
survey profil
sunyey tampak atas
suseptansi
G)
tahanan
tahanan
jenis
tanduk (busur) api
tangkai operasi
tegangan
tegangan harian
tegangan kejut
tegangan keluk
tegangan lebih
trgangan lebih dalam
tegangan lumer
resistancc loss
underground line
double+ircuit transmission line
communication channel
hot-line
hotJine
feeder line
loop transmission line
overhead line
traasmission line
(cable) sheath
appearance
lilwt Pusat Listrik
mulching angle
multi-terminal system
tandem system
spot-network system
loop system
transicnt stability
steady state stability
portable station
mobile statioh
base station
fixed station
swing angle
switching surge
surge
center linc survey
tower site study
profiIe suryey
plan survey
susceptance
resistance
resistivity
arcing horn
operating shaft
voltage
everyday stress (EDS)
pulse voltage
buckling stress
overoltage
internal ovenoltage
yielding stress
tegangan lentur
tegangan patah
tegangan pikul
tegangan ketahanan
tegangan perencanaan
tegangan geser
tegangan tarik
tegangan tekan
tegangan serat
titik Iebur
tonggok
tonggak
tenaga
(u)
ujung penerimaan
urutan negatip
urutan positip
urutan nol
Daftar Istilah
bending stress
breaking strength
bearing stress
withstand voltage
design stress
shearing stress
tensile stress
compression stress
frbre stress
melting
point
stub
pile
energ]
receiving end
negative sequenc.e
positive sequence
zero sequence
l5l
ti
.' :::.-J !-4*
:1
rt
1;..: i
iii.: ;rl .
fl.
H
tl.
i
!"