Anda di halaman 1dari 43

Ny.

Lani, wanita, 33 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri BAK sejak
seminggu yang lalu keluhan disertai demam terus menerus, menggigil, rasa
terbakar pada perut bagian bawah, dan berkemih sering tetapi hannya sedikit-
sedikit dan keruh. Sejak sehari yang lalu pasien mengeluh nyeri pada pinggang
kiri, BAB normal. Vital sign: HR 108 kali/menit, RR: 22 kali/menit, T: 38,5 C,
pemeriksaan fisik ditemukan: nyeri tekan supra pubik(+), nyeri ketok CVA
kiri(+), genitalia: dalam batas normal, laboratorium: pemeriksaan darah rutin:
Hb: 11 g/dl, leukosit 12.000, trombosit 200.000, Ht: 38 %. Pemeriksaan urin
rutin warna: kuning muda, keruh, pH: 7, protein(+), nitrat(++), sedimen:leukosit
100/LPB, eritrosit:1-2/LPB, sel epitel: 10-13/LPB, kristal(-), silinder(-). Riwayat
penyakit yang sama sebelumnya disangkal. Apa yang terjadi dengan Ny. Lani?
Bagaimana penetalaksanaannya ?
Klasifikasi istilah
1. Poliklinik
Tempat/fasilitas pelayanan kesehatan yang terdiri dari beberapa petugas medis
1. Berkemih
Proses pengeluaran urine dari kandung kemih
1. Nyeri Bak
Perasaan tidak enak/tidak nyaman saat saat buang air kecil
1. Nyeri tekan supra pubik (+)
Perasaan tidak enak pada daerah abdomen yang terletak di atas sympisis pubic
1. Nyeri ketok CVA kiri (+)
nyeri pada saat perkusi pemeriksaan fisik abdomen pada area costo vertebra
angel.
1. Genitalia
Organ reproduksi
1. Protein
Substansi organisme yang terdiri dari beberapa asam amino sebagai unit
fungsional terkecil
1. Nitrat
( NH4NO3) merupakan padatan berwarna putih berupa kristal yang mudah
menyerap air (higroskopis).

Identifikasi Masalah

1. Ny. Lani, wanita, 33 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri BAK sejak
seminggu yang lalu keluhan disertai demam terus menerus, menggigil, rasa
terbakar pada perut bagian bawah, dan berkemih sering tetapi hannya sedikit-
sedikit dan keruh
2. Sejak sehari yang lalu pasien mengeluh nyeri pada pinggang kiri, BAB normal
3. Vital sign: HR 108 kali/menit, RR: 22 kali/menit, T: 38,5 C, pemeriksaan fisik
ditemukan: nyeri tekan supra pubik(+), nyeri ketok CVA kiri(+), genitalia: dalam
batas normal
4. laboratorium: pemeriksaan darah rutin: Hb: 11 g/dl, leukosit 12.000, trombosit
200.000, Ht: 38 %. Pemeriksaan urin rutin warna: kuning muda, keruh, pH: 7,
protein(+), nitrat(++), sedimen:leukosit 100/LPB, eritrosit:1-2/LPB, sel epitel:
10-13/LPB, kristal(-), silinder(-)
5. Riwayat penyakit yang sama sebelumnya disangkal. Apa yang terjadi dengan Ny.
Lani? Bagaimana penetalaksanaannya ?

Analisis Masalah

1. 1. Ny. Lani, wanita, 33 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan
nyeri BAK sejak seminggu yang lalu keluhan disertai demam terus
menerus, menggigil, rasa terbakar pada perut bagian bawah, dan
berkemih sering tetapi hannya sedikit-sedikit dan keruh
1. Apa anatomi traktus urinarius pada wanita?

Gambar 3. Tractus urinarius wanita
6

1. Ren
- Merupakan organtubuhmanusia yang sangatberperan dalam sistem
ekskresi. Ginjalmempunyai sepasang ginjal yang terletak dibagiankanan-kiri,
bagian yang kiriletaknyalebihkeatas dariygkanan, beratnya 300 g.
- Terletak antara T 12 L3
- Terletak di retroperitoneal.
1. Ureter
Ureter muncul sebagai perpanjangan dari pelvis yang bermuara ke kandung
kemih pada suatu daerah tribone. Air kemih disekresikan oleh ginjal dan
dialirkan ke vesika urinaria (kandung kemih melalui ureter). Ureter terdiri dari 2
saluran pipa masing-masing bersambung melalui ginjal ke vesika urinaria yang
panjangnya kira-kira 25-30 cm dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian
terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Dinding ureter terdiri atas tiga lapisan yaitu lapisan mukosa, otot polos dan
jaringan fibrosa. Fungsi ureter : menyalurkan urine dari ginjal kekandung kemih.
Dimana yang berperan adalah dinding ureter, karena pada lapisan dinding ureter
menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik dalam 5 menit sekali yang akan
mendorong air kemih masuk kedalam kandung kemih.
7

1. Vesika urinaria
Kandung kemih terletak dibelakang simpisis pubis yang merupakan penampung
urine. Selaput mukosa berbentuk lipatan yang disebut rugae (kerutan) yang
disertai dengan dinding otot yang elastis dapat mencembungkan kandung kemih
yang sangat besar dan menampung jumlah urine yang banyak. Kandung kemih
mendapat inervasi baik dari sistem simpatik. Kandung kemih berbentuk seperti
kerucut. Bagian-bagiannya ialah verteks, fundus dan korpus. Bagian verteks
adalah bagian yang meruncing kearah depan dan berhubungan ligamentum
vesika umbilikus medius. Bagian fundus merupakan bagian yang mengahadap
kearah belakang dan bawah. Bagian korpus berada diantara verteks dan fundus.
Bagian fundus terpisah dari rektum oleh spasium rektovesikula yang terisi
olehjaringan ikat, duktus deferens, vesikula seminalis. Dinding kandung kemih
terdiri dari tigalapis otot polos dan selapis mukosa yang berlipat-lipat. Pada
dinding belakang lapisanmukosa, terlihat bagian yang tidak berlipat daerah ini
disebut trigonum liestaudi.
7

1. Urethra
o Urethra pada wanitaPendeknya antara
o Membentang darikandung kemihsampailubangdiantara labia minor sekitar 2,5
cm dibelakangklitoris.
o Berjalantepat di depan vagina.
Pada perempuan, uretra terletak dibelakang simfisis pubis, berjalan miring,
sedikit keatas, panjangnya 3 5 cm. Lapisan urethra wanita terdiri dari tunika
muskularis (sebelah luar)), lapisan spongiosa yang merupakan fleksus dari vena-
vena dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Muara urethra pada
perempuan terletak disebelah atas vagina, antara klitoris dan vagina. urethra
pada perempuan hanya berfungsi sebagai saluran ekskretori.






1. Bagaimana mekanisme berkemih?
Jawab :
Vol. Normal di Vesika Urinaria
300-400 ml
Pons
Cortex serebri
M. Dextrusor
M. Spincter Interna
Tekanan di Vesika urinaria
M. Urethra externa relaksasi
BAK
1. Mengapa Ny. Lani mengalami nyeri pada saat BAK ?
Jawab :
Saat inflamasi pada Vesika Urinaria (Rubor, Tumor, Dolor, Calor, Fungsi Laesa)
penyempitan lumen urethra permukaan yang mengalami inflamasi akan
bersentuhan dengan urin dan menahan tekanan pada lumen yang sempit
Nyeri.

1. Mengapa keluhan disertai demam, menggigil, rasa terbakar pada perut bagian
bawah ?
Jawab :
Demam menandakan telah terjadi ISK atau mekanisme demam
Agen infeksi pada saluran kemih fagosit oleh makrofag pirogen endogen (IL 1)
rangsangan endotel hipothalamus As. Arachidonat pengeluaran PGE2
Set Point Suhu .
Untuk mempertahankan suhu tubuh pada Ny. Lani agar kembali dalam keadaan
konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh Apabila pusat temperatur hipotalamus
mendeteksi suhu tubuh terlalu panas tubuh akan melakukan mekanisme umpan
balik(feed back) Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu tubuh inti telah
melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik
tetap (set point) hipotalamus akan terangsang untuk melakukan serangkaian
mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi
panas dan meningkatkan pengeluaran panas selain itu faktor yang
mempengaruhi suhu tubuh diantaranya sebagai laju cadangan metabolisme
yang disebabkan aktivitas otot akibat adanya kontraksi otot tersebut yang dapat
menimbulkan menggigil.
5


1. Mengapa Ny. Lani sering berkemih tetapi sedikit-sedikit dan keruh ?
Jawab :
Karena telah terjadi reaksi inflamasi pada vesica urinaria yang akan
menyebabkan lapisan mukosa yaitu membrana yang membentuk lipatan pada
dinding terdalam vesica urinaria yang dapat berubah ubah tergantung derajat
ketegangan vesika urinaria mengalami Inflamasi selanjutnya menyebabkan
dinding buli-buli menjadi kemerahan, edema dan hipertensif, jika buli-buli terisi
urin akan mudah terangsang untuk segera mengeluarkan isinya dan keruh
dikarenakn adanya bakteri dan protein dalam urin

1. Apakah ada hubungan antara nyeri saat BAK dengan keluhan yang dialami Ny
Lani? Jelaskan?
Jawab :
Ada, nyeri saat BAK disebabkan karena adanya infeksi pada saluran kemih,
Infeksi tersebut akan menimbulkan respon inflamasi yang kemudian
menyebabkan demam, menggigil dan rasa terbakar seperti yang
dirasakanNy.Lani. Dengan kata lain nyeri BAK adalah salah satu respon tubuh
yang diakibatkan oleh ISK diikuti dengan respon tubuh lainnya yaitu demam,
menggigil, dan rasa terbakar.

1. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan nyeri pada saat BAK ?
- Bakteri E. Coli
- Proteus, Staphylococ dan pesudomonas
Faktor-faktor Predisposisi:
- Obstruksi aliran kemih
- Jenis kelamin
- Umur
Prevalensi ISK yang tinggi pada usia lanjut antara lain disebabkan karena:
o Sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosongan kandung kemih
kurang efektif.
o Mobilitas menurun.
o Pada usia lanjut nutrisi sering kurang baik.
o Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral.
o Adanya hambatan pada aliran urin.
o Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.
- Peralatan kedokteran
- Kandung kemih Neurogenik
- Penyakit ginjal
- Penyakit metabolik
1. 2. Sejak sehari yang lalu pasien mengeluh nyeri pada pinggang kiri,
BAB normal
1. Mengapa Ny. Lani mengalami nyeri pinggang sebelah kiri ?
Jawab :
Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perluasan infeksi ke Saluran Kemih
atas. Sedangkan BAB Normal menunjukkan bahwa Tidak ada infeksi yang
terjadi pada saluran cerna
1. Penyakit apa saja dapat dimanifestasi dengan nyeri pinggang sebelah kiri?
Jawab :
1. Kelinan pada ginjal
o Batu ginjal
o Perdarahan ginjal akibat trauma
o Pielonefritis
1. Kondisi kehamilan
2. Masalah pada organ reproduksi/peranakan
o Kista ovarium
o Endometriosis
o Tumorjinak rahim
1. Tumor lokal pada pinggang ataupun tumor yang bermetastase ke tulang
pinggang
2. Kondisi tulang dan sendi
o Degeneratif ( osteoporosis)
o Redikulopaty lumbar (iritasi saraf akibat rusaknya diskus antar tulang belakang

1. 3. Vital sign: HR 108 kali/menit, RR: 22 kali/menit, T: 38,5 C,
pemeriksaan fisik ditemukan: nyeri tekan supra pubik(+), nyeri ketok
CVA kiri(+), genitalia: dalam batas normal
1. Bagaimana interpretasi Vital Sign?
Jawab :
HR 108x/mnt Normal : 60-100x/mnt Takikardi
RR 22x/mnt Normal : 14-20x/mnt Takipneu
T 38,5 C Normal : 36,6-37,2 C Hipertermi

1. Mengapa HR dan suhu meningkat ?
Jawab :
HR meningkat karena peningkatan metabolisme tubuh yang disebabkan oleh
infeksi sehingga tubuh merespon untuk meningkatkan denyut jantung
Suhu meningkat karena tubuh terpajan infeksi
1. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik ?
Jawab :
Nyeri supra pubik (+) Overdistensi Vesika Urinaria, dan Inflamasi pada Vesika
Urinaria
Nyeri Ketok CVA (+) Pembesaran ginjal karena hidronefrosis tumor ginjal,
Infeksi Ginjal
1. Mengapa nyeri tekan supra pubik (+) ?
Jawab :
Nyeri ketok suprapubik (+): nyeri ini terjadi akibat overdistensi buli-buli yang
mengalami retensi urin atau terdapat inflamasi pada buli-buli (sistitis interstisial,
tuberculosis atau sistosomiasis)

1. Mengapa nyeri ketok CVA kiri (+) ?
Jawab :
CVA adalah salah satu dari dua sudut yang menguraikan ruang atas ginjal. Sudut
dibentuk oleh kurva lateral dan ke bawah dari tulang rusuk terendah dan kolom
vertikal dari tulang belakang itu sendiri. Nyeri ketok CVA saat perkusi adalah
umum ditemukan pada pielonefritis dan infeksi lain dari ginjal dan struktur lain
yang berdekatan
o one of two angles that outline a space over the kidneys. The angle is formed by
the lateral and downward curve of the lowest rib and the vertical column of the
spine itself. CVA tenderness to percussion is a common finding in pyelonephritis
and other infections of the kidney and adjacent structures.
(http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/costovertebral+angle)
Nyeri ketok CVA (+) pada Ny.Lani kemungkinan disebabkan oleh infeksi yang
sudah terjadi di parenkim ginjal yang sebelumnya infeksi tersebut hanya sebatas
ISK bagian bawah. Karena mikroorganisme penyebab ISK akan terus
berkembang dan berjalan ke atas (ascending) bila tidak diatasi dengan baik.


Gambar 1. (1) Kolonisasi kuman di sekitar uretra, (2) masuknya kuman melalui
uretra ke buli-buli, (3) penempelan kuman pada dinding buli-buli, (4) masuknya
kuman melalui ureter ke ginjal.

1. 4. laboratorium: pemeriksaan darah rutin: Hb: 11 g/dl, leukosit
12.000, trombosit 200.000, Ht: 38 %. Pemeriksaan urin rutin warna:
kuning muda, keruh, pH: 7, protein(+), nitrat(++), sedimen:leukosit
100/LPB, eritrosit:1-2/LPB, sel epitel: 10-13/LPB, kristal(-), silinder(-)
1. Bagaimana interpretasi pemeriksaan laboratorium ?
Jawab :
Pem. Labor Nomal
Pada
scenario Interpretasi
Hemoglobin Laki-laki dewasa: 11 gr% Menurun
12,5-18,5 gr%

Wanita dewasa:
11,5-16,5 gr%
Leukosit 4000-11.000/mm
3
12.000/mm
3
Meningkat
Trombosit
150.000
450.000 200.000 Normal
Hematokrit
Laki-laki : 47 7%
Wanita : 42 5%
38 %. Normal
Sedimen
Eritrosit
1-3 sel /LPB
(2500/ ml urin) 1-2 /LPB Normal
Sedimen
leukosit
Laki-laki : < 5 sel/
LPB (3000 ml)
Wanita: < 15 / LPB
100 /LPB Meningkat
Urin rutin
Warna : Kuning
muda-tua
tergantung
diuresis dan zat
pelarut dalam urin
warna:
kuning muda,
keruh Abnormal
Ph 4,8 8,0 7 Normal
Protein (-) jernih protein: (+)
(+) Kekeruhan
minimal 10-50
mg%
(++) Keruh nyata,
butiran halus 50-
200 mg%
(+++) Gumpalan
nyata >200-500
mg%
(++++) Gumpalan
besar, mengendap
>500 mg%
Nitrat (-) nitrat (++),
Bakteri batang
penghasil-
pereduksi
nitrit/nitrat.
Sel epitel 1-2 Sel epitel/LPB
10-13 Sel
epitel/LPB Meningkat


1. Mengapa leukosit menigkat ?
leukosit meningkat dikarenakan adnya infeksi sehing leukosit d keluarkan
banyak untuk mempertahan kan tubuh dengan memfagosit fagosit bakteri yang
ad d dalam tubuh
leukosit meningkat menandakan adanya infeksi virus atau bakteri.

1. Mengapa warna urine kuning keruh ?
Jawab :
Keruh Adanya infeksi bakteri yang merusak sel epitel danmenunjukkan adanya
kerusakan pada bagian glomerulus dan tubulus ginjal yang berfungsi sebagai
filtrasi.

1. Apa makna klinis dari protein (+) ?
Jawab :
Proteinuria adalah adanya protein di dalam urin yang melebihi nilai normal yaitu
lebih dari 150 mg/24 jam atau pada anak-anak lebih dari 140 mg/m.
Proteinuria dapat meningkat melalui salah satu cara seperti dibawah ini:
1. Perubahan permeabilitas glomerulus yang mengikuti peningkatan filtrasi dari
protein plasma normal teruratama albumin
2. Kegagalan tubulus mereabsobsi sejumlah kecil protein yang normal difiltrasi
3. Filtrasi glomerulus dari sirkulasi abnormal, low molecular Weight Protein
(LMWP) dalam jumlah melebihi kapasisitas reabsorbsi tubulus
4. Sekresi yang meningkat dari makuloprotein uroepitel dan sekresi IgA
(Imunoglobulin A) dalam respons untuk inflamasi
Proteinuria merupakan manifestasi besar penyakit ginjal dan merupakan
indikator perburukan fungsi ginjal.

1. Apa makna klinis dari nitrat (++) ?
Jawab :
Karena dalam pemeriksaan labor seabagai pemeriksaan penunjang pada
penyakit ginjal. Dasar tes ini adalah bakteri yang dapat mengubah nitrat menjadi
nitrit melalui enzim reduktase nitrat. Enzim ini banyak pada bakteri gram
negative dan tidak ada pada abkteri jenis pseudomonas, staphylococcus albus
dan enterococcus.

1. 5. Riwayat penyakit yang sama sebelumnya disangkal. Apa yang
terjadi dengan Ny. Lani? Bagaimana penetalaksanaannya ?
1. Apa saja pemeriksaan penunjang?
Jawab :
o Pemeriksaan urin segar tanpa putar, kultur urin untuk mencari kuman penyebab
dan sensitivitas kuman terhadap antibiotic yang akan diberikan, serta jumlah
kuman/mL urin.
o intravenous Urografi (IVU) merupakan foto yang dapat menggambarkan
keadaan system urinaria melalui bahan kontras radio-opak. Pencitraan ini dapat
menunjukkan adanya kelainan antomi dan kelainan fungsi ginjal dan saluran
kemih.
o Ultrasonografi (USG) banyak dipakai untuk mencari kelainan-kelainan pada
ginjal, buli-buli, prostat, testis dan pemeriksaan pada kasus keganasan.

1. Apa saja DD dari penyakit Ny Lani ?
Jawab :
- Radang genitalia eksterna
8

- Vulvitis
- Vaginitis
- Sistitis
- PNA
- Sindrome Urethra
- Peritonitis
- Gonore

1. Apa yang terjadi pada Ny. Lani?
Jawab :
ISK bawah (Cystitis) suspect Pyelonephritis
1. Bagaimana tatalaksana ?
Jawab :
Infeksi saluran kemih (ISK) bawah
Pada uncolpicated sistitis cukup diberikan terapi dengan antimikroba dosis
tunggal atau jangka pendek(1-3) hari. Tetapi jika hal ini tidak memungkinkan
maka dipilih antimikroba yang cukup sensitive terhadap kuman E. Coli antara
lain : nitrofurantoin, trimetroprim-sulfametoksazol, atau ampisilin. Kadang-
kadang diperlukan obat golongan atikolinergik seperti propantheline
bromideuntuk mencegah hiperiritabilitas vesica urinaria dan fenazopiridin
hidrokloridasebagai antiseptic pada saluran kemih
Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam dengan antibiotik
tunggal : seperti ampisilin 3 gram, trimetoprin 200 mg
Infeksi berulang:
o Disertai faktor predisposisi.terapi antimikroba yang intensif diikuti koreksi faktor
resiko
o Tanpa faktor predisposisi
- asupan cairan banyak
- Cuci setelah senggama diikuti terapi antimikroba takaran tunggal (trimetoprim
200 mg)
o Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan

Infeksi saluran kemih (ISK ) atas
Pielonefritis akut.Umumnya pasien dengan piolefritis akut memerlukan rawat
inap untuk memelihara satus hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling
sedikit 48 jam. Indikasi rawat inap
Indikasi rawat inap pasien dengan pielonefritis akut
o Kegagalan mempertahankan hidrasi normal atau toleransi terhadap
antibiotika oral
Pasien sakit berat atau debilitaasi
Terapi antiboitik aral selama rawat jalan mengalami gangguan
Diperluakn investigasi lanjutan
Faktor predisposisi untuk ISK tipe berkomplikasi
Komorbiditas seperti kehamilan , diabetes melitus, usia lanjut

The infectious disease society of america menganjurkan satu dari tiga alternatif
terapi antibiotik IV sebagai terapi awal selama 48 72 jam sebelum di ketahui
MO sebagai penyebabnya :
o Fluorokuinolon
o Amiglikosida dengan atau tanpa ampisilin
o Sefalosporin dengan spejtrum luas dengan atau tanpa amonoglikosida

1. Bagaimana komplikasi ?
Jawab :
Komplikasi Isk tergantung dari tipe yaitu ISK tipe
sederhana (uncomplicated)dan tipe berkomplikasi (complicated).
a) ISK sederhana (uncomplicated). Isk akut tipe sederhana (sistitis) yaitu non
obstruksi atau bukan perempuan hamil merupakan penyakit ringan (self limited
disease) dan tidak menyebabkan akibat lanjut jangka lama.
b) ISK tipe berkomplikasi (complicated)
o ISK selama kehamilan. ISK selama kehamilan dari umur kehamilan;
Tabel 1. Morbiditas ISK selama Kehamilan
Kondisi Risiko potensial
Basiluria Asimtomatik tidak diobati
Pielonefritis
Bayi Prematur
Anemia
Pregnancy-incuded hypertension
ISK trimester III
Bayi mengalami retardasi mental
Pertumbuhan bayi lambat
Cerebral plasy
Fetal death

o ISK pada Diabetes melitus.
Komplikasi emphysematous cystitis, pielonefritis yang terkait spesies kandida
dan infeksi Gram-negatif lainnya dapat dijumpai pada DM.
Komplikasi ISK pada Ny. Lani termasuk dalam ISK tipe sederhana
(uncomplicated). Selain itu, Basiuluria asimtomatik (BAS) merupakan risiko
untuk polinefritis diikuti penurunan laju filtrasi glomerulus (LGF).

1. Bagaimana prognosis ?
Jawab :
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam: dubia ad bonam



Kerangka Konsep
Keluhan Umum nyeri BAK

Ny. Lani usia 33 Thn datang ke poliklinik
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Labor
o 1 minggu yang lalu :
- Nyeri BAK
- Demam dan Menggigil
- Rasa terbakar pada perut bawah
- Berkemih sedikit-sedikit dan sering serta keruh
o 1 hari yang lalu :
- Nyeri BAK
- Nyeri pinggang kiri
Vital sign :
o Hr: 108 kali/menit,
o RR: 22 kali/menit
o T: 38,5 C,
o Nyeri tekan supra pubik (+),
o Nyeri ketok CVA kiri (+)

o Pemeriksaan darah rutin:
- leukosit: 12.000,
o Pemeriksaan urin rutin:
- Warna: kuning muda, keruh,
- Ph: 7,
- Protein: (+),
- Nitrat (++),
- Sedimen: leukosit: 100 /LPB,
- Sel epitel: 10-13/ LPB, kristal: -, silinder: -.

DD
Sistitis
PNA
Sindrome Urethra
Peritonitis
Appendixitis
GO


ISK
DD
Mekanisme
PATOFISIOLOGI
KOMPLIKASI
TATA LAKSANA
PENCEGAHAN
PROGNOSIS
DIAGNOSIS
DEFINISI
ETIOLOGI
EPIDEMIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
Hipotesis
Ny. Lani mengalami pyelonefritis akut
Sintesis
Ny. Lani 33 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri BAK sejak
seminggu yang lalu. Dari hasil anamnesis ini, ada beberapa hal yang dapat
dipikirkan oleh dokter, diantaranya. Ny. Lani adalah seorang wanita, dengan
keluhan nyeri ketika BAK. Nyeri saat BAK ini dapat disebabkan infeksi pada
saluran kemih.
Sebelum membahas tentang kondisi patologis Ny. Lani, maka perlu diketahui
terlebih dahulu tantang anatomi dari saluran kemih. Saluran kemih atau yang
dikenal sebagai tractus urinarius secara anatomi terdiri dari 4 organ atau bagian
yang letaknya paling atas/cranial hingga yang terletak paling bawah
/caudalyaitu :
1. 1. Ginjal
Berfungsi untuk menyaring darah dan membentuk urin.
1. 2. Ureter
Berfungsi untuk mengalirkan urin dari ginjal menuju buli-buli/kandung kemih
1. 3. Vesica urinaria/kandung kemih
Berfungsi untuk menampung urin sementara, kemudian berfungsi untuk
mengeluarkan urin.
1. 4. Uretra
Berfungsi sebagai saluran akhir tempat keluarnya urin.
Struktur anatomi dari organ tersebut terlihat dalam gambaran anatomi berikut
ini:
Gambar 1. Anatomi tractus urinarius wanita(Guyton, 2008)
Urin yang dibentuk oleh ginjal berasal dari darah yang mengalir ke dalam ginjal.
Mekanisme keseimbangan antara masukan (input) cairan dan keluaran (output)
oleh ginjal berupa urin ini disebut sebagai suatu mekanisme hemodinamikcairan.
Makanisme pembentukan urin terjadi di dalam ginjal. Ginjal terdiri dari sekitar 2
juta nephron yaitu unit fungsional dari ginjal. Tiap nephron terdiri dari :Kapsula
bowmans bentuk spheris
menutupi glomerulus.Kaps.bowmans danglomerulus secara histologis
disebut renal korpuculum/malphigian corpuscle.
Komponen nefron yang kedua adalah tubulus kontortus proksimal, ketiga
adalah Loops of henle yang kemudian dibedakan menjadi loop henle segmen
tebal dan segmen tipis. Yang terakhir adalah tubulus kontortus distalis.
Pada glomerulus akan terjadi filtrasi darah menghasilkan urin primer, kemudian
akan mengalami reabsorbsi pada tubulus proksimal disertai dengan sekresi dari
pembuluh darah di sekitar tubulus pproksimal. Selanjutnya urin primer ini akan
mengalami pengenceran atau pengentalan pada loop of henle yaitu suatu tabung
yang sangat sensitive dan permeable terhadap air karena hanya dilapisi oleh satu
lapis sel endotel.
Selanjutnya urin ini akan menjadi urin sekunder untuk berikutnya menuju
tubulus distal, pada daerah ini, urin akan mengalami proses reabsorbsi dan
sekresi terhadap elektrolit dan air. Sehingga menghasilkan urin yang sebenarnya.
Yang mengalir kedalam tubulus kolectivus. Untuk berkumpul di dalam kandung
kemih. Penjelasan lebih rinci tentang kandungan urin, elektrolit dan komponen
lain yang di filtrasi, reabsorbsi, disekresi dan dieksresikan akan dijelaskan dalam
gambar berikut ini.

Gambar 2. Mekanisme filtrasi, reabsorbsi, sekresi, dan eksresi pada nefron
ginjal(Guyton, 2008)

Gambar 3. Kandungan komponen pembentukan urin(Guyton, 2008)
Setelah memahami tentang mekanisme terbentuknya urin dalam 1 komponen
nefron tersebut di atas, maka penjelasan selanjutnya adalah mengenai fisiologi
miksi atau berkemih. Yang akan dijelaskan berikut ini:
Pengendalian kandung kemih dan pengeluaran air kemih merupakan proses
yang sangat kompleks dan melibatkan persyarafan antara lain:

1. Medulla spinalis
System saraf simpatis kandung kemih berasal dari medulla spinalis segmen
sakralis II-IV yang keluar sebagai pleksus pelvikus dan pleksus sakralia dan
menuju kandung kemih sebagai N. pudendus. Perangsangan system saraf
parasimpatis ini akan menyebabkan kontraksi m. detrusor dan sedikit dilatasi m.
sfingter internum kandung kemih.
Saraf simpatis kandung kemih berasal dari medula spinalis segmen thoracal X-
lumbal I, yang keluar melalui pleksus hipogastrikus menuju kandung kemih.
Reseptor system simpatis terdiri dari alfa () dan beta (). Rersptor terutama
terletak di bagian leher kandung kemih dan otot polos di sekitar pangkalurethra.
Perangsang pada reseptor akan menyebabkan kontraksi bagian bawah kandung
kemih. Sehingga menghambat pengosongan kandung kemih. Inhibisi reseptor
akan menyebabkan relaksasi leher kandung kemih dan bagian
proksimal urethra sehingga terjadi miksi.
Reseptor terutama terletak di bagian korpus kandung kemih. Perangsangan
reseptor mengakibatkan relaksasi otot-otot detrusor, sehingga terjadi
penampungan air kemih dan inhibisi reseptor mengakibatkan kontraksi
ototdetrusor dan peningkatan tekanan di dalam kandung kemih diikuti dengan
pengosongan kandung kemih
1. Pengaturan miksi oleh otak
Pengosongan kandung kemih merupakan reflex medulla spinalis yang bersifat
otomatis. Tetapi hal ini dapat dihambat atau dipermudah oleh pusat-pusat di
otak. Terdapat 3 pusat yang dapat mengendalikan miksi yaitu:
1. Pusat yang menimbulkan miksi terletak di pons anterior dan hipotalamus
posteror
2. Pusat inhibisi miksi terletak di otak tengah. Daerah yang meliputi ketiga tempat
itu disebut pontine micturition centre.

Adapun cara pusat di otak mengatur miksi adalah sebai berikut
1. Pusat inhibisi menghambat reflex miksi dalam beberapa saat hingga kita ingin
miksi
2. Pusat inhibisi akan menghambat miksi walapun telah timbul reflex miksi dengan
jalan kontraksi tonus sfingtereksternum kandung kemih sampai ada tempat dan
waktu yang tepat untuk miksi.
3. Bila tiba waktunya untuk miksi maka pusat-pusat ini akan: mempermudah pusat
miksi di medulla spinalis sakralia untuk ememulai reflex miksi. Menghambat
kontraksi otot spingter externum kandung kemih, sehingga terjadi pengeluaran
air kemih.
Gambar berikut adalah ringkasan dari mekanisme miksi yang normal.
Gambar 4. Fisiologi miksi
Mekanisme yang miksi yang fisiologis ini tidak terjadi pada Ny. Lani. Karena
telah terjadi reaksi inflamasi pada vesica urinarianya, yang akan menyebabkan
lapisan mukosa yaitu membrana yang membentuk lipatan pada dinding
terdalamvesica urinaria yang dapat berubah ubah tergantung derajat
ketegangan vesika urinaria mengalami Inflamasi selanjutnya menyebabkan
dinding vesica urinaria/buli-buli menjadi kemerahan, edema dan hipertensif,
jika buli-buli terisi urin akan mudah terangsang untuk segera mengeluarkan
isinya; Kontraksi vesica urinaria akan menyebabkan rasa sakit/nyeri pada
daerah suprapubik. Hal ini seperti yang terjadi pada Ny. Lani.
Gejala ini disebut Infeksi pada saluran kemih. Infeksi saluran kemih dapat
dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Infeksi saluran kemih bagian atas : Pyelonefritis
2. Infeksi saluran kemih bagian bawah : Cystitis, Uretritis.
Sistitis, dan Uretritis. Nyeri saat BAK dapat terjadi pada seseorang yang
menderita uretritis, sedangkan nyeri setelah BAK dapat terjadi pada sististis.
Untuk itu perlu ditanyakan lebih jelas lagi kapankah rasa nyeri itu muncul.
Infeksi tractus urinarius adalah merupakan suatu keadaan dimana adanya suatu
proses peradangan yang akut ataupun kronis dari ginjal ataupun saluran kemih
yang mengenai pelvis ginjal, jaringan interstisial dan tubulus ginjal
(pielonefritis), atau kandung kemih (Cystitis), dan urethra (uretritis) (Arief
Mansjoer, 2000).
Faktor resiko yang terdapat pada seseorang sehingga ia mudah untuk terkena
infeksi saluran kemih adalah :
1. Wanita cenderung mudah terserang dibandingkan dengan laki-laki. Faktor-
faktor tingkat infeksi yang tinggi terdiri dari urethra dekat kepada rektum dan
kurang proteksi
2. Abnormalitas Struktural dan Fungsional, refluks urine dan peningkatan
tekananhidrostatik. Contoh : strikur,anomali ketidak sempurnaan hubungan
uretero vesicalis
3. Obstruksi Contoh : tumor, Hipertofi prostat, calculus, sebab-sebab iatrogenic
4. Gangguan inervasi kandung kemih Contoh : Malformasi sumsum tulang
belakang kongenital, multiple sklerosis
5. Penyakit kronis Contoh : Gout, DM, hipertensi, Penyakit Sickle cell.
6. Instrumentasi
Contoh : prosedur kateterisasi.
7. Penggunaan fenasetin secara terus menerus dan tidak pada tempatnya

Kemudian diketahui juga dari anamnesis bahwa warna urin Ny. Lani keruh. Hal
ini dikarenakan telah terjadi infeksi pada saluran urinariusnya, sehingga
diperlukan analisa laboratorium terhadap kandungan urin Ny. Lani yang keruh
tersebut.
Gejala klinis infeksi saluran air kemih bagian bawah secara klasik yaitu nyeri bila
buang air kecil (dysuria), sering buang air kecil (frequency), dan ngompol
(enuresis). Gejala infeksi saluran kemih bagian bawah biasanya panas tinggi,
gejala gejala sistemik, nyeri di daerah pinggang belakang. Namun demikian sulit
membedakan infeksi saluran kemih bagian atas dan bagian bawah berdasarkan
gejala klinis saja. Sehingga diperlukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang lanjutan.
Mekanisme terjadinya infeksi saluran kemih akan sesuai dengan gejala klinis
yang ditimbulkannya. Infeksi dapat terjadi melalui penyebaran hematogen
(neonatus) atau secara asending (anak-anak). Faktor predisposisi infeksi adalah
fimosis, alir-balik vesikoureter (refluks vesikoureter), uropati obstruktif, kelainan
kongenital buli-buli atau ginjal, dan diaper rash. Patogenesis infeksi saluran
kemih sangat kompleks, karena tergantung dari banyak faktor seperti faktor
pejamu (host) dan faktor organismenya. Bakteri dalam urin dapat berasal dari
ginjal, pielum, ureter, vesika urinaria atau dari uretra.
Beberapa faktor predisposisi ISK adalah obstruksi urin, kelainan struktur,
urolitiasis, benda asing, refluks atau konstipasi yang lama. Pada bayi dan anak
anak biasanya bakteri berasal dari tinjanya sendiri yang menjalar secara
asending. Bakteri uropatogenik yang melekat pada pada sel uroepitelial, dapat
mempengaruhi kontraktilitas otot polos dinding ureter, dan menyebabkan
gangguan peristaltik ureter. Melekatnya bakteri ke sel uroepitelial, dapat
meningkatkan virulensi bakteri tersebut
Mukosa kandung kemih dilapisi oleh glycoprotein mucin layer yang berfungsi
sebagai anti bakteri. Robeknya lapisan ini dapat menyebabkan bakteri dapat
melekat, membentuk koloni pada permukaan mukosa, masuk menembus epitel
dan selanjutnya terjadi peradangan. Bakteri dari kandung kemih dapat naik ke
ureter dan sampai ke ginjal melalui lapisan tipis cairan (films of fluid), apalagi
bila ada refluks vesikoureter maupun refluks intrarenal. Bila hanya buli buli yang
terinfeksi, dapat mengakibatkan iritasi dan spasme otot polos vesika urinaria,
akibatnya rasa ingin miksi terus menerus (urgency) atau miksi berulang kali
(frequency), sakit waktu miksi (dysuri). Mukosa vesika urinaria menjadi edema,
meradang dan perdarahan (hematuria).
Infeksi ginjal dapat terjadi melalui collecting system. Pelvis dan medula ginjal
dapat rusak, baik akibat infeksi maupun oleh tekanan urin akibat refluks berupa
atrofi ginjal. Pada pielonefritis akut dapat ditemukan fokus infeksi dalam
parenkim ginjal, ginjal dapat membengkak, infiltrasi lekosit polimorfonuklear
dalam jaringan interstitial, akibatnya fungsi ginjal dapat terganggu. Pada
pielonefritis kronik akibat infeksi, adanya produk bakteri atau zat mediator
toksik yang dihasilkan oleh sel yang rusak, mengakibatkan parut ginjal (renal
scarring).
Diagnosis infeksi saluran kemih dapat ditegakkan dengan cara
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik telah dilakukan pada Ny. Lani.
Adapun pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan padanya
antara lain adalah :
1. Biakan air kemih :
Dikatakan infeksi positif apabila :
- Air kemih tampung porsi tengah : biakan kuman positif dengan jumlah
kuman 10
5
/ml, 2 kali berturut-turut.
- Air kemih tampung dengan pungsi buli-buli suprapubik : setiap kuman
patogen yang tumbuh pasti infeksi. Pembiakan urin melalui pungsi suprapubik
digunakan sebagai gold standar.
Dugaan infeksi :
- Pemeriksaan air kemih : ada kuman, piuria, torak leukosit
- Uji kimia : TTC, katalase, glukosuria, lekosit esterase test, nitrit test.
Mencari faktor resiko infeksi saluran kemih :
- Pemeriksaan ultrasonografi ginjal untuk mengetahui kelainan struktur
ginjal dan kandung kemih.
- Pemeriksaan Miksio Sisto Uretrografi/MSU untuk mengetahui adanya
refluks.
- Pemeriksaan pielografi intra vena (PIV) untuk mencari latar belakang
infeksi saluran kemih dan mengetahui struktur ginjal serta saluran kemih.
Setelah diagnosis ditegakkan, maka langkah berikutnya yang harus dilakukan
dokter adalah mempersiapkan rencana terapi pada Ny. Lani. Tatalaksana ini
harus dilakukan denagn baik untuk mendapatkan hasil yang optimal sehingga
dapat mencegah terjadinya komplikasi.
Ada 3 prinsip penatalaksanaan infeksi saluran air kemih :
- Memberantas infeksi
- Menghilangkan faktor predisposisi
- Memberantas penyulit
1. Medikamentosa
Penyebab tersering ISK ialah Escherichia coli. Sebelum ada hasil biakan urin dan
uji kepekaan, untuk eradikasi infeksi akut diberikan antibiotik secara empirik
selama 7-10 hari. Jenis antibiotik dan dosis dapat dilihat pada lampiran jenis dan
dosis antibiotik untuk terapi ISK
Tabel 1: Dosis antibiotika pareneteral (A), Oral (B), Profilaksis (C)
Obat
Dosis
mg/kgBB/hari Frekuensi/ (umur bayi)
(A) Parenteral
Ampisilin

100

tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)

tiap 6-8 jam (bayi > 1 minggu)
Sefotaksim

150

dibagi setiap 6jam.

Gentamisin 5
tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
tiap 8 jam (bayi > 1 minggu)
Seftriakson 75 sekali sehari
Seftazidim

150

dibagi setiap 6 jam


Sefazolin

50

dibagi setiap 8 jam

Tobramisin

5

dibagi setiap 8 jam

Ticarsilin

100

dibagi setiap 6 jam


(B) Oral
Rawat jalan antibiotik oral (pengobatan standar)
Amoksisilin

20-40
mg/Kg/hari

q8h

Ampisilin

50-100
mg/Kg/hari

q6h

Amoksisilin-asam
klafulanat
50 mg/Kg/hari

q8h

Sefaleksin 50 mg/Kg/hari q6-8h
Sefiksim

4 mg/kg

q12h

Nitrofurantoin*

6-7 mg/kg

q6h
Sulfisoksazole*

120-150

q6-8h
Trimetoprim*

6-12 mg/kg

q6h
Sulfametoksazole 30-60 mg/kg q6-8h
*
Tidak direkomendasikan untuk neonatus dan penderita dengan
insufisiensi ginja

(C) Terapi
profilaksis
Nitrofurantoin*

1 -2 mg/kg

(1x malam hari)

Sulfisoksazole*

50 mg/Kg

Trimetoprim*

2mg/Kg

Sulfametoksazole 30-60 mg/kg



1. Bedah
Koreksi bedah sesuai dengan kelainan saluran kemih yang ditemukan untuk
menghilangkan faktor predisposisi..
1. Suportif
Selain pemberian antibiotik, penderita ISK perlu mendapat asupan cairan cukup,
perawatan higiene daerah perineum dan periuretra, pencegahan konstipasi.
Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya dll). Rujukan ke
Bedah Urologi sesuai dengan kelainan yang ditemukan. Rujukan ke Unit
Rehabilitasi Medik untuk buli-buli neurogenik. Rujukan kepada SpA(K) bila ada
faktor risiko.
Tatalaksana yang telah dilakukan dokter kepada Ny. Lani membutuhan
pemantauan lebih lanjut. Dalam 2 x 24 jam setelah pengobatan fase akut dimulai
gejala ISK umumnya menghilang. Bila gejala belum menghilang, dipikirkan
untuk mengganti antibiotik yang lain sesuai dengan uji kepekaan antibiotik.
Dilakukan pemeriksaan kultur dan uji resistensi urin ulang 3 hari setelah
pengobatan fase akut dihentikan, dan bila memungkinkan setelah 1 bulan dan
setiap 3 bulan. Jika ada ISK berikan antibiotik sesuai hasil uji kepekaan.
Bila ditemukan ada kelainan anatomik maupun fungsional yang menyebabkan
obstruksi, maka setelah pengobatan fase akut selesai dilanjutkan dengan
antibiotik profilaksis (lihat lampiran). Antibiotik profilaksis juga diberikan pada
ISK berulang, ISK pada neonatus, dan pielonefritis akut.
Pentingnya tatalaksana yang adekuat adalah untuk menghilangkan gejala, dan
mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi yang dapat terjadi seperti
:Pielonefritis berulang dapat mengakibatkan hipertensi, parut ginjal, dan gagal
ginjal kronik (Pielonefritis berulang timbul karena adanya faktor predisposisi).
DEFINISI
Infeksi saluran kemih adalah suatu keadaan terjadinya peradangan oleh
mikroorganisme pada system perkemihan. Bermacam-macam mikroorganisme
dapat menyebabkan ISK. Penyebab terbanyak adalah Gram-negatif termasuk
bakteri yang biasanya menghuni usus yang kemudian naik ke sistem saluran
kemih. Dari gram-negatif Escherichia coli menduduki tempat teratas.Sedangkan
jenis gram-positif lebih jarang sebagai penyebab ISK
sedangkan enterococcusdan staphylococcus aureus sering ditemukan pada
pasien dengan batu saluran kemih. Selain itu terdapat faktor predisposisi yang
dapat mempermudah terjadinya ISK:
1) Bendungan aliran urin
o Anomali Kongenital
o Batu saluran kemih
o OKlusi ureter (sebagian atau total)
2) Refluks vesikoureter
3) Urin sisa dalam buli-buli karena
o Neurogenic bladder
o Struktur uretra
o Hipertrofi prostat
4) Gangguan metabolic
o Hiperkalsemia
o Hipokalemia
o Agamaglobulinemia
5) Instrumental
o Kateter
o Dilatasi uretra
o Sistoskopi
6) Kehamilan
o Faktor statis dan bendungan
o pH urin yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman

Klasifikasi dari ISK adalah sebagai berikut:
o Infeksi Saluran kemih bawah
Presentasi Klinis ISK bawah tergantung dari gender
Perempuan
- Sistitis. Sistitis adalah presentasi kilnis infeksi kandung kemih disertai
bakteriuria bermakna
- Sindroma Uretra Akut (SUA). SUA adalah presentasi klinis sistitis tanpa
ditemukan MO (steril), sering dinamakan sistitis bakterialis.
-
Laki-laki
Presentasi klinis ISK bawah pada laki-laki mungkin sistitis, prostatitis,
epidimidis, dan uretritis
o Infeksi Saluran Kemih atas
Pielonefritis Akut (PNA) adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang
disebabkan oleh infeksi bakteri
Pielonefritis Kronik (PNK) mungkin akibat dari infeksi bakteri
berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan
refluks vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti
pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai PNK yang spesifik.

Sistitis akut adalah inflamasi akut pada mukosa buli-buli yang sering disebabkan
oleh proses infeksi oleh bacteria. Mikroorganisme penyebab infeksi ini terutama
adalah E.Coli, Enterococci, Proteus, dan Stafilococcus aureus yang masuk ke
buli-buli terutama melalui uretra. Sistitis akut akan mudah terjadi jika
pertahanan local tubuh menurun, yaitu pada DM atau trauma local minor seperti
senggama.
Wanita lebih sering mengalami serangan sistitis daripada pria karena uretra
wanita lebih pendek daripada pria. Disamping itu getah cairan prostate pada pria
mempunyai sifat bakterisidal sehingga relative tahan terhadap infeksi saluran
kemih. Diperkirakan bahwa paling sedikit 10-20% wanita pernah mengalami
serangan sistitis selama hidupnya dan kurang lebih 5% dalam satu tahun pernah
mengalami serangan ini.

Beberapa DD dari sistitis akut:
o SUA (Sindroma Uretra Akut)
o PNA (Pielonefritis Akut)

Berikut gambaran klinis dari sistitis akut:
o Nyeri tekan supra pubik
o Disuria (rasa sukar kencing serta perasaan terbakar atau panas pada saluran
kencing/urethra atau di mulut luar uretra)
o Frekuensi akibat reaksi inflamasi pada mukosa buli-buli menyebabkan jkia buli-
buli terisi urine akan mudah terangsang untuk mengeluarkan isinya
o Hematuria
o Urgensi
o Stranguria (perasaan susah kencing atau kencing disertai kejang otot panggul)
Jarang disertai demam, mual, muntah, badan lemah, dan kondisi umum yang
menurun. Jika disertai dengan demam dan nyeri pinggang perlu difikirkan
adanya penjalaran infeksi ke saluran kemih bagian atas.
Patogenesis
Infeksi saluran kemih terjadi pada saat MO masuk ke dalam saluran kemih
dan berbiak di dalam media urine dengan cara:
Ascending
Hematogen
Lymfogen
Eksogen
Gambar 1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih, (1)
Kolonisasi kuman di sekitar uretra, (2) masuknya kuman melalui uretra ke buli-
buli, (3) penempelan kuman pada dinding buli-buli, (4) masuknya kuman
melalui ureter ke ginjal.

Paling banyak adalah dengan cara ascending. Mula-mula kuman dari anal
berkoloni di uvula kemudian berkoloni di vulva, preputium vagina masuk ke
kandung kemih melalui uretra yang pendek secara spontan atau mekanis
(contoh: senggama, pemasangan kateter, perubahan pH dan flora vulva dalam
siklus menstruasi, dan berkemih yang jarang)

ISK adalah ketidakseimbangan MO penyebab infeksi (agen) dan epitel saluran
kemih (host) pertahanan tubuh me / virulensi agen me
Patogenesis ISK Ascending
Flora usus
Kolonisasi di perirenal & uretra akut
Muncul tipe uropatogenik
Sistitis
Virulensi bakteri (factor agen)
Barier pertahanan mukosa normal
Faktor Penjamu:
- memperkuat perlekatan uroepitelial
- refluks vesikoureter
- refluks intrarenal
- obstruksi saluran kemih
- benda asing (kateter)
Kerusakan membrane mukosa:
- kateter
- batu ginjal
- BPH
- struktur uretra
- neoplasma
Stagnasi urinemikroorganisme
Kuman
Uretra
Erosi
(integritas mukosa terganggu):
- Nyeri
- Disuria (perubahan pola eliminasi urin)
- Hematuria(perubahan pola eliminasi urin)
- Spasme ureter
-

Pintu masuk patogen
infeksi





























Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah sbb:
- Pemeriksaa urine rutin: urine berwarna keruh, berbau, dan pada urinalisis
terdapat piuria, hematuria, dan bakteriuria
- Kultur urine sangat penting untuk mengetahui jenis kuman penyebab infeksi
- Jika sistitis sering mengalami kekambuhan prlu difikirkan adanya kelainan lain
pada buli-buli(keganasan, urolitiasis) sehingga diperlukan pemeriksaan
pencitraan (PIV, USG) atau sistoskopi

Pengobatan
3 prinsip:
- Memberantas infeksi
- Menghilangkan factor predisposisi
- Memberantas penyulit

Reinfeksi berulang
- Asupan cairan yang banyak
- Cuci setelah melakukan senggama
- Terapi antibiotic tunggal:
o Nitrofurantoin 100 mg 2X sehari selama 7 hari
o Trimetropin 160 mg/ sulfamethoxazole 800 mg 2X sehari selama 3 hari
- Analgetik
- Antikolinergik
Propantheline berfungsi untuk mencegah hiperiritabilitas dari buli-buli
- Antiseptic
Fenazopiridin hidroklorida

Tujuan Pengobatan:
o Mencegah dan menghilangkan gejala
o Mencegah dan mengobati bakterimia
o Mencegah dan mengurangi resiko kerusakan jaringan ginjal yang mungkin
timbul dengan pemberian obat-obatan yang sensitive, murah, aman dengan efek
samping yang minimal
Pencegahan
o Minumlah yang cukup, hal ini untuk mengencerkan konsentrasi bakteri di dalam
kandung kemih
o Jangan menahan kencing karena dapat meningkatkan perkembangan bakteri
o Pakailah celana dalam dari bahan koton untuk menjaga area tersebut kering
o Hindari memakai celana yang terlalu ketat yang akan membuat panas &
basah/berkeringat, membuat area tersebut mudah ditumbuhi bakteri
o Untuk wanita cara membersihkan kemaluan mulai dari depan ke belakang, untuk
mengurangi masuknya bakteri dari anus ke saluran kemih
o Jika masalahnya adalah diafragma kontraseps coba ganti yang lain

Komplikasi
Komplikasi ISK tergantung dari tipe yaitu ISK tipe sederhana (uncomplicated)
dan tipe berkomplikasi (complicated)
1. ISK sederhana (uncomplicated). ISK akut tipe sederhana (sistitis) yaitu non-
obstruksi dan bukan perempuan hamil merupakan penyakit ringan (self limited
disease) dan tidak menyebabkan akibat lanjut jangka lama
2. ISK berkomplikasi (complicated)
Komplikasi yang sering muncul adalah pielonefritis, hipertensi, abortus
premature, hambatan pertumbuhan janin dalam kandungan, kematian janin
dalm kandungan, dan anemia

Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam: dubia ad bonam



DAFTAR PUSTAKA

1. Gunawan, Adi. Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Surabaya : Kartika. 2003.
2. Dorland. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Alih bahasa : Andy Setiawan et
al. Jakarta : EGC. 2002.
3. Purnomo B. Basuki. Sistitis Akut. Dalam Buku Dasar-Dasar Urologi. Jakarta :
Sagung Seto. 2011. Hal: 58-59, 61-62.
4. Sumadibrata, Marcellus. Pemeriksaan Abdomen Urogenital dan anorektal,
Infeksi Saluran Kemih. Sudoyo, Aru W, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Jilid III, Edisi IV. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas
Kedokteran UI. 2007. Hal : 51-55, 553-557.
1. Guyton, A.C dan Hall, J., E.Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta :
EGC. 2006
2. Sherwood, Laurele. Fisiologi manusia. Edisi 2. Jakarta : EGC. 2001
3. Anatomi dan Fisiologi Sistem
Urinaria. http://www.scribd.com/doc/29570823/ANFIS-SISTIM-URINARIA. Di
unduh pada tanggal 31 Mei 2011.
4. Richard E. Behrman, Robert M, Kliegman, Ann M. Arvin. Diagnosis Banding
ISK. A. Samik Wahab. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Jakarta: EGC.
2000. Hal : 1866
5. Brauhard BH, Travis BL, 1983. Infection of the urinary tract. In : Kelley VC, ed.
Practice of Pediatrics. Volume VIII. New York : Harper and Row Publ., 1-15.
6. Davis, Gothefors, 1984. Bacterial Infections in the Fetus and Newborn Infant.
Philadelphia : WB Saunders Co., 168.
7. Hanson S, Jodal U, 1999. Urinary Tract Infection. In Barratt TM, Avner ED,
Harmon WE. 4
th
ED. Baltimor, Maryland USA: Lippincott William & Wilkins.,
835-871.
8. Hoberman A, Charron M, Hickey RW et al, 2003. Imaging studies after febrile
urinary tract infection in young children. N Engl J Med ; 348 :195-202.
9. Kempe CH, Silver HK, O,Brien D, 1980. Current Pediatric Diagnosis and
Treatment. 6
th
ed. Singapore : Maruzen Co./Lange Medical Publ., 514.
10. Lambert H, Coulthard M, 2003. The child with urinary tract infection. In : Webb
NJ.A, Postlethwaite RJ ed. Clinical Paediatric Nephrology.3
rd
ED. Great Britain:
Oxford Universsity Press., 197-225.
11. Rusdidjas, Ramayati R, 2002. Infeksi saluran kemih. In Alatas H, Tambunan T,
Trihono PP, Pardede SO. Buku ajar Nefrologi Anak. 2
nd
.Ed. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 142-163.
12. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta : Media
Aesculapius. 2000
13. Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih
Bahasa AdiDharma, Edisi II.P: 329-330.