Anda di halaman 1dari 11

MODUL

AKHLAQ DAN TASAWUF

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang
baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap Rahmat Allah dan
kedatangan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah. 1

QS

al-Ahzab (33): 21
Membangun manusia seutuhnya, tidaklah semudah membalikkan telapak
tangan, bukan pula masalah pendidikan dan pengajaran semata melainkan pula
menyangkut aspek lain dari sisi kehidupan manusia sepanjang hidupnya. Karenanya
pembinaan manusia seutuhnya (Insaan Kaamil) tidak bisa mengeyampingkan nilai
aklaq dan tasawwuf, sebab bagaimanapun merupakan filar-filar dari suatu fenomena
perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam dari suatu bangsa. Syauqi Beik
(Penyair Mesir yang wafat tahun 1932) mengatakan: Hanya saja bangsa itu kekal,
selama berakhlaq. Bila akhlaqnya telah lenyap, maka lenyap pula bangsa itu.1
Begitupula mengenai kajian tasawwuf dalam Islam merupakan sumber dari
pada

nilai

yang

memberikan

ikatan

moral

pada

kehidupan

manusia

yang

menganjurkan bagaimana agar manusia menjadi insan yang berbudi baik sebagai
makhluk sosial, maupun sebagai hamba Allah dalam hubungannya dengan Khaliq
Sang Pencipta.2
A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP AKHLAQ
Ahmad Muhammad AL-Hufy mengatakan : akhlak yang telah dibicarakan
orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian, tidak seorang pun terlepas dari
padanya. Karena dari padanya ada yang baik dan yang buruk seperti : jujur dan dusta,
amanat dan khianaat, keimanan dan kekufuran, berani dan penakut. Oleh karenanya
akhlaq itu memerlukan pengertian secara etimologis maupun terminologis.3

Kata akhlaq ( ) berasal dari kara Khalaqa ( ) dengan akar kata


Khuluqan ( ) yang berarti: perangai, tabiat, dan adab; atau dari kata Khalqin (
) yang berarti : kejadian, buatan atau ciptaan. Jadi secara etiologis akhlaq ( )
berarti perangai, adat, tabiat atau sistem perilaku yang dibuat.4
Dengan demikian secara ke-bahasa-an akhlaq bisa baik dan bisa buruk,
tergantung kepada tata nilai yang dijadikan landasan atau tolok ukurnya. Di Indonesia
kata akhlaq selalu berkonotasi positip. Orang yang baik sering kali disebut berakhlak,
sementara orang yang tidak berbuat baik disebut orang yang tidak berakhlaq.5
Adapun secara terminologis (istilah) para Ulama Akhlaq merumuskan
definisinya dengan berbeda-beda tinjauan yang dikemukakannya, antara lain : AlQurthuby mengatakan : suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab
kesopananya disebut akhlaq, karena perbuatan itu termasuk bagian dari
kejadiannya.
Muhammad bin Ilaan Ash-Shadieqy mengatakan : Akhlaq adalah suatu
pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik
dengan cara yang mudah tanpa dorongan dari orang lain.
Ibnu Maskawaih mengatakan : Akhlaq adalah bentuk kejiwaan yang
bertanam dalam diri manusia, yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk,
terpuji dan tercela dengan cara yang disengaja.
Imam AL-Ghazaaly mengatakan : Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam
dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang
dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama. Maka jika sifat
tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan
norma agama, dinamakan akhlaq yang baik. Tetapi manakala ia melahirkan
tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlaq yang buruk. 6
Dari beberapa definisi tersebut diatas, dapatlah disimpulkan bahwa akhlaq
adalah perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya. Maka gerakan
reflek, denyut jantung dan kedipan mata tidak dapat disebut akhlaq, karena gerakan itu
tidak diperintah oleh unsur kejiwaan.
Itulah sebabnya, mengapa Rasulullah SAW bersabda mengenai pengertian alIhsan ( akhlaq ) :





Artinya: Ihsan itu ialah memuja Allah seakan kamu memandang-Nya maka
jikalau kamu belum (tidak) memandang-Nya maka sesungguhnya Ia
memandangmu. (HR. Muslim)7

Bagi muslim shalat sebagai pemujaan kepada Allah, pada saat itu hanya jiwa
yang dapat memandang Allah, bukan mata pisik, mata pisik hanya terfokus ke tempat
sujud. Artinya menjiwai suatu perbuatan diri di hadapan Tuhannya.
Oleh karena itu akhlaq sebagai bias atau pancaran dari shalat yang sukses,
ialah menjiwai perbuatan bagaimana yang benar dan baik yang secara simultan jiwa
itu merasakan bahwa diri sedang dipandang / dipantau oleh Allah SWT. Pemantau
Allah SWT tersebut sering disebut muraqabah.
Dorongan jiwa yang melahirkan perbuatan manusia, pada dasarnya bersumber
dari kekuatan batin yang dimiliki oleh setiap manusia, yaitu : (1) Tabiat (pembawaan),
dorongan jiwa yang disebabkan oleh gharizah (nalurih) para ulama menyebutnya
dengan istilah Al-Khalqul Fitriyah. (2) Akal pikiran, dorongan jiwa yang disebabkan
oleh alat kejiwaan, para ulama menyebutnya dengan istilah Al-Khalqul Aqlu. (3) Hati
nurani, dorongan jiwa yang disebabkan oleh faktor Intuitif, para ulama menyebutnya
dengan istilah Al-Khalqul Bashierah.8
Ketiga kekuatan kejiwaan dalam diri manusia inilah yang menggambarkan
hakikat manusia itu sendiri. Maka konsepsi akhlaq dalam Islam selalu memperhatikan
ketiga kekuatan tersebut, agar dapat berkembang dengan baik dan seimbang,
sehingga terwujud manusia yang ideal (Insan Kaamil).
Dengan demikian karena akhlaq adalah sistem nilai yang mengatur pola sikap
dan tindakan manusia di atas bumi, yang bersumber dari Quran dan Sunnah Rasul
serta Ijtihad, maka ruang lingkup akhlaq mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Akhlaq terhadap Allah SWT (Khaliq) antara lain meliputi :
a. Al-Hubb yaitu mencitani Allah SWT melebihi cinta kepada apa dan siapa pun
juga dengan menjadikan firman-Nya, Al-Quran sebagai pedoman hidup dan
melaksanakan segala perintah dan menjauhi laranganNya.
b. Al-Raja, yaitu mengharapkan karunia dan berusaha memperoleh kehidupan,
kecintaan kita kepada Allah SWT diwujudkan dengan cara keridhaan Allah
SWT.
c. As-Syukr, yaitu mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT
d. Qanaah yaitu menerima dengan ikhlas semua Qadha dan Qadar Illahi setelah
berikhtiar dan berusaha maksimal.
e. Memohon ampun hanya kepada Allah SWT
f. At-taubat, bertaubat hanya kepada Allah SWT, taubat yang paling tinggi adalah
taubatan nasuhaa yaitu taubat benar-benar taubat, tidak lagi melakukan
perbuatan

yang

dilarang

Allah

SWT,

dan

dengan

sungguh-sungguh

melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

2. Akhlak terhadap Makhluk, dibagi dua :


a. Akhlak terhadap manusia, dapat dirinci menjadi :
1) Mencintai Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) antara lain :

a) Mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti semua sunah-Nya.


b) Menjadikan Rasulullah sebagai idola, suri teladan dalam hidup dan
kehidupan.
c) Mencintai apa yang disuruh-Nya, tidak melakukan apa yang dilarangNya.
2) Akhlak terhadap Orang Tua (Birrul Walidain), antara lain :
a) Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya.
b) Merendahkan diri kepada keduanya diiringi perasaan kasih sayang
c) Berkomunikasi dengan orang tua dengan khidmat, mempergunakan
kata-kata lemah lembut.
d) Berbuat

baik

kepada

ibu

bapak

dengan

sebaik-baiknya,

tidak

menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat ibu bapak


ridha.
e) Mendoakan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun
seorang atau kedua-duanya telah meninggal dunia.
Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang mengajurkan agar anak

berbakti

kepada ibu-bapaknya, antara lain :


Q.S. Lukman (31) : 14 yang artinya :
Dan Kami wajibkan manusia (taat) kepada ibu-bapaknya, ibunya
telah mengandung dia dalam keadaan lemah bertambah lemah,
sedang putus susunya adalah dua tahun (Kami perintah),
hendaklah kami bersyukur kepada-Ku dan ibu-bapakmu,
kepadakulah tempat kembali.
Tidak sedikit anak yang kurang hormat kepada dua orang tuanya, salah
satu penyebabnya adalah kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai
agama. Dalam agama diajarkan bahwa ada 3 (tiga) kriteria orang tua :
(1) Orang tua kandung, yakni ibu dan bapak (Biruul Walidain);
(2) Orang tuaa angkat;
(3) Mertua (bila sudah menikah). Bila seseorang sudah menikah, maka
kedudukan mertua sama dengan kedua orang tua kandung. Ia harus
dihormati dan dikasihi.
3. Akhlak terhadap diri sendiri, antara lain :
a) Memelihara kesucian diri

b) Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh kelihatan, menurut hukum
dan akhlak Islam).
c) Jujur dalam perkataan dan berbuat Ikhlas dan rendah hati
d) Malu melakukan perbuatan jahat
e) Menjauhi dengki dan menjauhi dendam
f) Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain
g) Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia
4. Akhlak terhadap keluarga, karib kerabat, antara lain :
a) Saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga
b) Saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak
c) Berbakti kepada ibu dan bapak
d) Mendidik anak-anak dengan kasih sayang
e) Memelihara hubungan silaturahmi dan melanjutkan silaturahmi yang
dibina orang tua yang telah meninggal dunia
5. Akhlak terhadap Tetangga, antara lain :
a) Saling mengunjungi
b) Saling bantu di waktu senang lebih melebihi tatkala susah
c) Saling beri-memberi, saling hormat-menghormati
d) Saling menghindar pertengkaran dan permusuhan
6. Akhlak terhadap masyarakat, antara lain :
a) Memuliakan tamu;
b) Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat
bersangkutan.
c) Saling menolong dalam melakukan kebajikan dan taqwa
d) Menganjurkan anggota masyarakat termasuk sendiri berbuat baik dan
mencegah diri sendiri dan orang lain melakukan perbuatan jahat
(mungkar).
e) Memberi makan fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan
kehidupannya.
f) Bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.
g) Mentaati putusan yang telah diambil
h) Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang
diberikan seseorang atau masyarakat kepada kita
i) Menepati janji
b. Akhlak terhadap Lingkungan Hidup (Bukan Manusia), antara lain :
1) Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup;

2) Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, fauna dan
flora (hewan dan tumbuh-tumbuhan) yang sengaja diciptakan Tuhan untuk
kepentingan manusia dan makhluk lainnya;
3) Sayang pada sesama makhluk.9
B. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP TASAWUF
Sejak dulu hingga sekarang, pembahasan tentang asal kata Tasawuf belum
pernah mencapai kata sepakat. Para ahli berbeda pendapat tentang kata itu,
dijelaskan oleh Syekh Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah bahwa perbedaan itu
disebabkan karena adanya kata yang dinisbahkan kepada kata sesuatu.10 Ada yang
dinisbahkan kepada kata safa dan safw yang artinya bersih dan suci. Maksudnya,
kehidupan seorang sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Suci, sebab Tuhan tidak bisa
didekati kecuali oleh orang yang suci.11
Adapun tentang definisi tasawwuf (sufi) itu sendiri ada beberapa pendapat yang
dikemukakan oleh sejumlah tokoh sufi. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Zakaria al-Anshori : Tasawuf ialah suatu ilmu yang menjelaskan hal ihwal
pembersih jiwa dan penyantun akhlaq baik lahir maupun bathin, guna memperoleh
bidah dan tidak meringankan ibadah.
2. Abul Qasim al-Qashairi (W. 465H/1072M) : Tasawuf ialah menerapkan ajaran AlQuran dan Sunnah Nabi secara tepat, berusaha menekan hawa nafsu, menjauhi
bidah dan tidak meringankan ibadah Abul Qasim al-Qashairi (W. 465H/1072M) :
Tasawuf ialah menerapkan ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi secara tepat,
berusaha menekan hawa nafsu, menjauhi bidah dan tidak meringankan ibadah.
3. Bisyr bin Harits al-Hafi (W.227H/841 M) : Seorang sufi ialah yang telah bersih
hatinya, semata-mata untuk Allah SWT.
4.

Abu Husain An-Nuri (W.295H/ 908 M) : Kaum sufi itu ialah kaum yang hatinya suci
dari kotoran basariyah (hawa nafsu kemanusiaan) dan kesalahan pribadi. Ia harus
mampu membebaskan dari syahwat sehingga ia berada pada shaf pertama dan
mencapai derajat yang mulia dalam kebenaran.

5. Harun Nasution dalam bukunya Falsafat dan Mistisme dalam Islam menjelaskan
bahwa, tasawuf itu merupakan suatu ilmu pengetahuan dan sebagai ilmu
pengetahuan, tasawuf atau sufisme mempelajari cara dan jalan bagaimana
seorang Islam dapat sedekat mungkin dengan Tuhan.
Dari berbagai definisi yang berbeda-beda tersebut, kiranya dapat ditarik suatu
kesimpulan tentang pengertian tasawuf itu sebagai berikut :

Tasawuf ialah suatu ilmu pengetahuan yang membahas dan mempelajari tentang jalan
atau cara yang ditempuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jalan atau cara
yang dimaksud dengan melalui pembersih rohani, peningkatan amal saleh, berakhlak
mulai dan tekun melakukan ibadah menurut contoh Rasulullah SAW disertai dengan
melakukan zuhd, berkhlawat dan kontemplasi.12
Pembagian Tasawuf yang ditinjau dari lingkup pembahasannya, maka dapat
menghasilkan Tasawuf Aqidah (mengenai hakikat keimanan), Tasawuf ibadah
(mengenai rahasia ibadah) dan Tasawuf Akhlaq (mengenai masalah jiwa). Tetapi bila
ditinjau dari sisi corak pemikiran atau konsepsi (teori-teori) yang terkandung di
dalamnya, maka hal itu bisa menjadi Tasawuf Sunny (disebut juga dengan tasawuf
salafy) dan Tasawuf Falsafy (disebut juga dengan ajaran yang sudah dimasuki oleh
teori-teori filsafat).13
C. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN AKHLAK
Untuk mengetahui hubungan Akhlaq dengan tasawuf dalam Islam, maka ada
beberapa pernyataan

yang dapat dijadikan keterangan; misalnya Ulama yang

mengatakan bahwa akhlaq itu merupakan pangkal tolok Tasawuf, sedangkan Tasawuf
adalah batas akhir Tasawuf.
Begitu juga halnya pernyataan Al-Kattaniy yang telah dikemukakan oleh Iman
Al-Ghazaliy, yang menyatakan hubungan yang sangat erat antara Akhlaq dengan
Tasawuf, yang dilukiskan dalam pernyataannya yang berbunyi :
Artinya :
Tasawuf itu adalah budi pekerti, barang siapa yang menyiapkan bekal atasmu
dalam budi pekerti, maka ia menyiapkan bekal atas dirimua dalam tasawuf.14
Untuk lebih jelasnya membicarakan hubungan tasawuf akhlaq dengan
tasawuf, memperhatikan beberapa istilah dalam tasawuf. Yaitu istilah At-Takhali; yang
dimaksudnya sebagai upaya pembersih diri dari sifat-sifat tercela, istilah At-Tahalli,
yaitu upaya pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, dan At-Hajali, yaitu penyaksian hati
ketika mendapat kenyataan Tuhan. Dan ketika hamba melakukan At-Takhalli dan AtTahalli (Menyinari hatinya dengan sifat-sifat terpuji), maka ia masih mengamalkan
ajaran Akhlaq. Tetapi ketika hamba melakukan At-Tahalli (dalam arti mengamalkan
Syari-at, Tarekat, Hakekat dan Marifat), maka ia telah memasuki ajaran Tasawuf. Dan
bila hamba itu sudah sampai pada tahapan Marifat, maka ia pasti mencapai tingkatan
At-Tajalli, yaitu perolehan pancaran cahaya yang bersumber dari Allah SWT; apakah
hamba itu mendapatkan Tajalli dengan Perbuataa-Nya (at-Tajalli Bi-Afaalihi), Tajalli
dengan Nama-Nya (at-Tajalli Bi-Asmaaihi), Tajalli dengan sifat-Nya (at-Tajalli BiShifaaaatihi) ataupun ia mendapatkan Tajalli dengan Dzat-Nya (at-Tajalli Bi-Dzaatihi). 15

Dari uraian ini, dapat dilihat dengan jelas bahwa hubungan akhlaq dengan
tasawuf sangat erat, di mana akhlaq merupakan pangkal tolah tasawuf, sedangkan
tasawuf merupakan batas akhir akhlaq. Atau dengan kata lain, akhlaq merupakan
sarana tasawuf, sedangkan tasawuf merupakan tujuan sementara akhla. Karena
tujuan akhirnya adalah kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat (As-Saadah)
menurut Ulama Tasawuf Sunniy, atau menjadi manusia idela (al-Insaaanul Kaamil)
menurut Ulama Tasawuf Falsafiy.16
D. UKURAN BAIK DAN BURUK
Ukuran baik dan buruk dalam akhlak adalah ketentuan-ketentuan dari Allah
SWT dan Rasul-Nya yang baik sesuai dengan kehendak-Nya. Allah SWT berfirman
yang artinya Hanya yang datang dari sisi Allah yang baik bagimu, jika kalian
mengetahui (Q.S. An-Anhl : 895).
Ukuran baik dan buruk dalam fisafaat etika tidak selalu sejalan dengan ajaran
Islam, karena tidak mengantarkan manusia kepada sesuatu kehidupan yang benarbenar damai dan harmonis, karena ukuran-ukuran itu mengandung kelemahan bila
dibandingkan dengan kebenaran wahyu Illahi, misalnya : aliran Vitalisme, aliran
utilitarisme, aliran hedonisme, aliran sosialisme dan aliran humanisme.17
Bagi kita sebagai seorang beriman penilaian tentang baik atau buruknya suatu
perbuatan tidak tergantung pada pendapat, pemikiran, kelompok, dan golongan
tertentu. Untuk menilai baik buruknya sesuatu tolok ukurnya atau barometernya yaitu
Al-Quran dan Sunnah Rasul.18
Apa yang dipandang baik dan buruk menurut kedua sumber itu, mutlak kita
harus mendengar dan taat secara utuh.
E. UKURAN BAIK DAN BURUK DALAM ISLAM
Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah untuk memberi petunjuk
kepada manusia jalan mana yang harus ditempuh dalam meniti dan menata kehidupan
sehingga tercipta suatu tatanan hidup yang selaras dengan Sunnatullah (hukum Allah
yang berlaku untuk alam semesta) yang berlaku secara tetap dan umum. Islam
menetapkan norma-norma kehidupan itu sebagai ukuran standar untuk menentukan
apakah suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia itu baik secara individual
maupun kolektif sudah benar atau tidak. Demikian pula secara individual atau kolektif,
ia dapat memastikan apakah tindakan yang diambilnya itu benar atau salah.19
Norma-norma kehidupan yang ditetapkan oleh Islam tersebut, karena datang
dari Allah, bersifat skaral, absolut, imperatif, akurat dan universal. Ia memiliki makna
uhkrawi. Dikatakan sacral, karena norma-norma Islam memiliki keterhubungan dengan

Allah SWT, sehingga keterikatan (komitmen) padanya merupakan suatu ibadat yang
berdampak pahala dan dosa. Ia juga dikatakan absolut dalam pengertian memiliki
kemutlakan sebagai standar baik atau buruk, benar atau salah secara baku dan tak
berubah, baik karena perbedaan budaya masyarakat maupun perkembangan waktu.
Norma-norma Islam bersifat imperatif karena ia mengikat setiap orang, mereka harus
dan mesti menerapkannya, tanpa pilihan dan tawar menawar. Akurat, dalam arti akan
sangat pas dan tepat sebagai alat untuk mengendalikan perilaku manusia sehingga
selaras dengan kepentingan penataan kehidupan yang damai dan harmonis. Memberi
makna ukhrawi, dalam pengertian bahwa keuntungan dari pelaksanaannya tidak hanya
dirasakan sekarang dan di sini saja tapi juga nanti di sana, diakhirat, dizaman setelah
kematian.20
Norma-norma keislaman ditentukan oleh pola-pola perilaku yang disebut
dengan akhlak. Model-model perilaku yang baik disebut dengan al-akhlaq al-karimah
atau al-akhlaq al-mahmudah dan model-model perilaku yang tidak baik disebut dengan
al-akhlaq al-sayyiah atau al-akhlaw al-madzmumah. Al-akhlaq al-karimah adalah
model-model perilaku untuk memiliki nilai baik dan kebajikan dan menjadi ukuran untuk
menentukan apakah suatu tindakan yang dilakukan itu benar atau salah. Kebaikan
adalah yang sesuai dengan ukuran itu dan keburukan adalah yang bertentangan
dengan itu. Al-akhlaq al-sayyiah adalah model-model perilaku yang memiliki nilai buruk
atau tidak baik. Keburukan adalah penampilan perilaku yang semacam itu dan
kebaikan adalah perilaku yang berbeda dengan itu. Baik buruknya suatu perbuatan
atau tindakan menurut pandangan Islam diukur dari apakah perbuatan itu
menunjukkan al-akhlaq al-karimah atau al-akhlaq al-sayyiah.21
Norma-norma Islam (akhlaq) diwujudkan dalam bentuk perintah dan
larangan, dorongan dan cegahan, pujian dan kecaman, serta harapan dan penyesalan
atas suatu perbuatan yang dilakukan. Yang baik dan benar adalah apa-apa yang
diperintahkan, didorongkan, dipuji dan diharapkan oleh Islam untuk dilakukan. Apa-apa
yang dilarang dan dicegah, dikecam dan diharapkan untuk ditinggalkan, yang buruk
dan tidak baik adalah apa-apa yang dilarang, dicela, dikecam dan tidak diharapkan
untuk dilakukan dan apa-apa yang diperintahkan, didorongkan, dipuji dan diharapkan
untuk ditinggalkan.22

10

DAFTAR KUTIPAN
Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Quran wa Tarjamatu
maaniyatu ila Lughati al-Indunisiya, ( Medinah Munawwarah: khadim al-Haramain
asy-Syarifain, Tahun 1411 H ), h. 168
2
Kahar Masykur, Membina Moral dan akhlak, (Jakarta : Kalam Mulia, 1985),
1

cet. Ke-1. h.3.


3

Rivay Sireragar, Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999), cet. ke-1,

h.xi.
4

Ahmad Muhammad AL Hufy, Akhlak Nabi Muhammad SAW, (Jakarta : PT.

Bulan Bintang, 1978), cet. ke-1, h.13.


5

Zakiah Daradjat, et al, Dasar-dasar Agama Islam, (Jakarta : PT. Bulan

Bintang, 1999), cet. ke-9, h.253.


6

Ibid, h. 253.

Barmawie Umary, Materia Akhlak, (Solo: Ramadhani, 1991), Cet. Ke-10, h.

Mahyuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Kalam Mulia, 1999), cet. ke-3, h.4.

Ibid, h.5.

10

Miftah Faridl, Etika Islam, (Bandung : Pustaka, 1997), cet. ke-1, h.110-181.
11

Saifullah Al-Azis Senali, Tasawuf Jalan Hidup Para Wali, (Surabaya :

Putra Pelajar, 2000), cet. ke-1, h.9.


12

K. Permadi, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Jakarta : Rinika cipta, 1997), cet. ke-

1, h.25.
13
14

Ibid, h.28.

Mahyuddin, Akhlak Tasawuf, op.cit, h.150

15

Ibid, h.151.

16

Ibid, h. 156.

17

Ibid, h. 156.

18

Kunarto, Etika Kepolisian, (Jakarta : PT. Cipta Manunggal, 1997), h. 19.


19

Al-Hamid Al-Husaini, Sekitar Maulid Nabi, (Semarang : CV. Toha Putraa,

1983), h.39.
20

Drs. Zulkabir et. al, Konseptual dan Kontekstual, (Bandung : Itqan, 1993),

cet. ke-1, h.98.


21

Ibid, h.98.

22

Ibid, h.99.