Anda di halaman 1dari 3

Erika-0706291243. Adina Dwirezanti-0706291155. Laras Larasati. S. Frisca L. Tobing-0706291400.

Yudha Virwanto Bagus Triady-0706291483. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

Tugas Politik Internasional


Kelompok: Adina Dwirezanti-0706291155
Erika-0706291243
Laras Larasati
S. Frisca L. Tobing
Yudha Virwanto Bagus Triady-0706291483

Biofuel Dilemma : Alternative Energy Vs Soaring Food Prices

Biofuel dipahami sebagai sumber energi yang berasal dari materi organik1, yang terbuat
dari materi biologis yang telah mati/sumber-sumber non-fosil, seperti jagung, kedelai, tebu,
gandum, dan lain-lain. Biofuel biasa diproduksi dari tumbuh-tumbuhan yang mengalami proses
fotosintesis. Bahan bakar alternatif ini diharapkan dapat menjadi jalan keluar dari ketergantungan
manusia akan minyak bumi dan juga menjadi salah satu cara untuk mengurangi tingkat
pencemaran udara, terutama gas CO yang menjadi sumber utama Gas Rumah Kaca (GRK).
Kelebihan yang terdapat dalam biofuel dibanding dengan bahan bakar fosil adalah tingkat polusi
yang dihasilkan olehnya. Penggunaan biofuel yang menghasilkan lebih sedikit polusi dari fossil
fuel ini juga mulai didukung oleh industri otomotif. Honda Prius, dan Toyota Hybrid adalah
contoh mobil yang eco-friendly dan menggunakan bahan bakar non-fosil.
Keberadaan biofuel semakin dirasa penting karena sumber energi dunia semakin lama
semakin menipis. Masalah pertama yang diharapkan dapat diatasi oleh keberadaan biofuel adalah
masalah energy security. Biofuel dapat menghilangkan ketergantungan negara-negara terhadap
minyak, karena biofuel merupakan sumber energi yang relatif mudah diproduksi oleh semua
negara dunia. Hal kedua yang mendasari urgensi penggunaan biofuel secara masal adalah biofuel
lebih ramah lingkungan karena biofuel menghasilkan emisi CO2 dan gas rumah kaca yang lebih
kecil dibanding bahan bakar petroleum, walaupun hal ini masih menjadi perdebatan. Para
produsen otomotif juga lebih tertarik menggunakan biofuel karena biofuel memiliki kualitas nilai
oktan yang lebih baik sehingga tidak merusak kendaraan. Hal positif keempat dari keberadaan
biofuel adalah ketersediaannya, di mana biofuel berasal dari sumber daya yang dapat
diperbaharui.
Di balik prospek cerahnya, penggunaan biofuel ternyata memiliki dampak lain yang buruk,
yaitu dari segi ketersediaan pangan. Penggunaan biofuel secara massal memiliki sisi negatif bagi
kehidupan masyarakat dunia, khususnya bagi masyarakat di negara berkembang. Permintaan
akan biofuel di negara maju membuat permintaan akan kedelai, jagung, gandum, tebu, dan kelapa
sawit sebagai bahan mentah produksi biofuel ikut meningkat. Padahal, bahan-bahan tersebut
adalah bahan pangan yang krusial, terutama di negara berkembang. Jagung dan gandum adalah
salah satu bahan makanan pokok, sedangkan kedelai ialah bahan mentah dari penganan lain
seperti tahu, tempe, dan susu kedelai, sementara tebu merupakan bahan dasar pembuatan gula
yang keberadaannya sangat krusial bagi pangan dunia, begitu pula dengan kelapa sawit yang
dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan minyak goreng. Kenaikan permintaan bahan
pangan tersebut membuat harga bahan pangan itu meningkat drastis. Lonjakan harga tersebut
sangat menyulitkan masyarakat negara berkembang. Permintaan bahan pangan tersebut
meningkat seiring dengan peningkatan permintaan kebutuhan akan biofuel. Selain itu kelangkaan
bahan pangan juga terjadi karena berbagai lahan dunia dialihfungsikan untuk memproduksi
bahan-bahan pembuat biofuel. Seperti yang terjadi di Amerika Serikat, saat para petani Amerika
Serikat mereduksi lahan pertaniannya sebesar 16% hanya untuk menanam kacang kedelai untuk
kepentingan produksi biofuel2. Hal ini pada akhirnya menimbulkan The Butterfly Effect, berupa
meningkatnya permintaan kedelai di Amerika Serikat yang lantas berbuntut pada peningkatan
harga minyak kedelai di seluruh dunia. Peningkatan tersebut menyebabkan para konsumen
berpindah ke penggunaan minyak kelapa sawit, yang kemudian juga menyebabkan peningkatan
pada harga kelapa sawit di dunia, lalu berbuntut pada peningkatan harga tahu, dan berbagai bahan
pangan yang bersumber dari kedelai dan kelapa sawit. Berbagai protes pada kenaikan harga
pangan pun terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia ketika terjadi protes pada

1
United Nations. Sustainable Bioenergy : A Framework for Decision Makers.
2
Elizabeth Chiles Shelburne. The Great Disruption. http://www.theatlantic.com/doc/200809/food-scarcity, diakses
pada 12 November 2008, pukul 20.08
Erika-0706291243. Adina Dwirezanti-0706291155. Laras Larasati. S. Frisca L. Tobing-0706291400.
Yudha Virwanto Bagus Triady-0706291483. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

kenaikan besar-besaran pada harga tahu yang merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat
Indonesia. Tidak hanya melahirkan berbagai protes, kenaikan harga juga menyebabkan terjadinya
penurunan sistem imun dan daya intelejensia pada anak-anak di bawah umur dua tahun yang
disebabkan karena terjadinya malnutrisi pada anak-anak tersebut karena rendahnya daya beli
masyarakat membuat masyarakat tidak mampu membeli bahan makanan bergizi. Sehingga dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan keberadaan biofuel mengancam ketersediaan pangan dunia
dikarenakan harganya yang semakin meroket, yang kemudian berbuntut pada terjadinya
malnutrisi masyarakat dunia.
Fenomena dilema biofuel ini merupakan hal pelik yang tidak mudah diselesaikan. Bila
menggunakan kerangka politik internasional, yang dimengerti sebagai perwujudan aksi reaksi
atas interaksi tiap aktor hubungan internasional, fenomena maraknya biofuel ini adalah cerminan
kondisi politik internasional saat ini. Negara maju terutama negara adidaya Amerika Serikat
sangat gencar dalam mempopulerkan penggunaan biofuel secara masal. Untuk mendukung
program pemasaran biofuel ini, Amerika Serikat membutuhkan dukungan dari berbagai negara
dunia. Terlebih dalam hal pengadaan bahan dasar pembuatan biofuel, seperti gandum, kedelai,
dan kelapa sawit. Sebagai negara yang sangat concern terhadap energy security-nya, pengadaan
biofuel mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat
menelurkan beragam kebijakan dalam rangka menyukseskan program biofuel ini. Amerika
Serikat telah lama mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menggalakkan penggunaan biofuel
di AS, antara lain Clean Air Act pada tahun 1990 dan Energy Policy Act tahun 20053. Kebijakan-
kebijakan itu antara lain tentang dukungan untuk riset biofuel, keringanan pajak dan pinjaman
untuk biofuel, dll. Intinya,. AS sangat mendukung penggunaan biofuel untuk kebutuhan dalam
negeri. Clean Air Act menyerukan agar bahan bakar yang ramah lingkungan dijual di sembilan
daerah dengan tingkat pencemaran udara terburuk, dan Ethanol adaah salah satu bahan bakar ini.
Sedangkan Energy Policy Act antara lain perubahan Biomass Research & Development Act tahun
2000, Jaminan Pinjaman, Kredit Pajak, dll. Amerika Serikat juga mendorong agar biofuel
digalakkan, karena menurut Edward Schafer, Mentan AS, biofuel mengurangi penggunaan
minyak bumi sampai satu juta barel per hari4.
Kebijakan negara maju mengenai biofuel ini tak urung mendapat reaksi negatif dari
negara berkembang yang merasa dirugikan akan naiknya harga bahan pangan dunia. Salah satu
negara berkembang yang mengeluarkan aksi protes terhadap kebijakan negara maju ini adalah
Indonesia. Peningkatan permintaan bahan pangan untuk biofuel dinilai tidak tepat karena dapat
me
Senada dengan Pemerintah Indonesia, Presiden Kuba Fidel Castro juga tidak menyetujui
penggunaan biofuel secara masal ini. Castro mengatakan, “The sinister idea of converting food
into combustibles was definitively established as the economic line of foreign policy of the United
States”5—ide bodoh untuk mengubah makanan menjadi bahan bakar merupakan basis ekonomi
dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ucapan Castro seakan mengisyaratkan fokus
kebijakan ekonomi Amerika Serikat adalah memasalkan penggunaan biofuel, demi kepentingan
energy security-nya dan mengurangi ketergantungan Amerika Serikat pada bahan bakar minyak.
Reaksi lain dari aksi penggunaan biofuel secara masal juga datang dari India, Thailand,
dan Pakistan. Sehubungan dengan naiknya permintaan akan bahan dasar biofuel—yang juga
merupakan bahan pangan utama masyarakat dunia—ketiga negara tersebut memberlakukan
berbagai larangan ekspor pada bahan-bahan pertanian mereka. Hal itu dilakukan agar kebutuhan
pangan mereka tetap terpenuhi. Pelarangan ekspor bahan pertanian yang dilakukan ketiga negara
itu kemudian berdampak pada semakin berkurangnya persediaan bahan-bahan pertanian tersebut
di pasaran dunia, mengingat ketiga negara tersebut merupakan pengekspor utama berbagai hasil
pertanian bagi pasaran dunia.
Dari penjelasan di atas, penulis lantas menyimpulkan bahwa isu biofuel ini merupakan
problematika krusial yang sangat dilematis. Di satu sisi, keberadaan biofuel sangat dibutuhkan
untuk mengurangi ketergantungan masyarakat dunia pada sumber-sumber fosil yang tidak dapat
diperbaharui, keberadaan biofuel juga dapat mengurangi polusi yang ditimbulkan dari bahan
bakar konvensional tersebut. Namun di sisi lain, keberadaan dan penggunaan biofuel secara
masal mengancam stabilitas dan persediaan bahan pangan dunia, yang disebabkan karena
meningkatnya permintaan bahan pangan tersebut yang lalu berbuntut pada meningkatnya harga
3
Jetta Wong, US Biofuel Policy Instrument. http://files.eesi.org/jw_berlin_121307.pdf, diakses pada 7 Desember
2008, pukul 06.54.
4
Ibid.
5
Castro Hits Out at US Biofuel Use. http://news.bbc.co.uk/2/hi/americas/6505881.stm, diakses pada 12 November
2008, pukul 21.34.
Erika-0706291243. Adina Dwirezanti-0706291155. Laras Larasati. S. Frisca L. Tobing-0706291400.
Yudha Virwanto Bagus Triady-0706291483. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik . Universitas Indonesia

bahan-bahan tersebut. Berbagai pro dan kontra terus mewarnai isu biofuel ini, negara-negara
dunia pun terpecah menjadi dua kubu yang saling berseberangan, pihak pro dan pihak kontra.
Entah sampai kapan kontroversi ini akan berlangsung, yang jelas pengadaan sumber energi
alternatif yang baru dan berorientasi lingkungan serta tidak berefek negatif merupakan hal yang
mutlak diinginkan negara-negara dunia.