Anda di halaman 1dari 6

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas
Indonesia

Tugas Review II Mata Kuliah Hubungan Luar Negeri dan Keamanan AS


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber Bacaan : Roger C. Altman, “The Great Crash, 2008: A Geopolitical Setback for the West” dalam Foreign Affairs Vol.
88 No. 1, Januari/Febuari 2009, hal. 2-14.

Posisi Amerika Serikat dalam Sistem Perekonomian dan Keuangan Internasional Paska Krisis
Finansial 2008, Tetap Dominan atau Tergantikan?

Selama beberapa periode, dominasi Amerika Serikat dalam sistem perekonomian dan keuangan
dunia tidak dapat disangkal. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, didorong keaktifannya dalam perdagangan
bebas—dalam bentuk ekspor barang dan jasa yang masif—serta keaktifannya dalam pembuatan berbagai
kebijakan-kebijakan perdagangan dan moneter internasional, menjadikan Amerika Serikat (AS) sebagai
negara yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tapi juga merupakan negara yang menjadi pusat
perekonomian dan keuangan internasional. Hingga tahun 2007, AS dengan kokoh berhasil mempertahankan
posisinya sebagai pusat perekonomian dan keuangan internasional. Namun krisis finansial yang terjadi pada
tahun 2008 seakan menggoyahkan posisi AS sebagai pusat ekonomi dunia. Perekonomian dalam negeri AS
hancur, yang lantas berbuntut pada pengurangan peran AS dalam sistem ekonomi dan keuangan
internasional.
Dalam tulisannya yang berjudul The Great Crash, 2008: A Geopolitical Setback for the West, Roger
C. Altman menceritakan sebab-sebab kejatuhan perekonomian AS. Menurut Altman, krisis yang pada saat
itu menimpa AS lebih disebabkan karena tingkat suku bunga yang terlalu rendah dan tingkat likuiditas yang
tidak dapat diprediksi sebelumnya. Tingkat suku bunga yang sangat rendah ini lantas menyebabkan
peningkatan jumlah kredit yang cukup signifikan di kalangan masyarakat AS. Masyarakat AS
berbondong-bondong mengajukan permohonan kredit untuk berbagai kebutuhan, tanpa menyadari
kemampuan ekonomi mereka sendiri. Kredit perumahan merupakan bentuk kredit yang paling banyak
diminati masyarakat AS kala itu. Tingginya minat warga AS pada kredit perumahan lantas mendorong para
pengembang (developer) untuk terus membangun berbagai rumah, apartemen, dan kondominium. Dalam
pembangunan berbagai usaha properti ini, para developer memanfaatkan pinjaman dari berbagai lembaga
pemberi kredit. Seiring dengan meningkatnya jumlah properti tersebut, harga properti yang tadinya tinggi
mulai mengalami penurunan. Para pemilik usaha properti pun harus mengalami kerugian, banyak dari
Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

mereka lantas tidak dapat mengembalikan pinjaman yang diberikan lembaga pemberi kredit, yang lantas
menyebabkan kehancuran secara menyeluruh pada sektor keuangan AS. Resesi ini lantas menyebar pada
seluruh dunia, karena ternyata kredit para developer tersebut lantas diubah dalam bentuk surat berharga oleh
lembaga pemberi kredit dan dijual dalam pasar saham internasional, sehingga krisis yang tadinya hanya
dialami oleh masyarakat dan perusahaan-perusahaan AS lantas menyebar ke seluruh dunia melalui
pergerakan surat-surat berharga tersebut.
Kehancuran pada sektor keuangan AS melahirkan ketakutan pada diri masyarakat AS;
ketidakpercayaan pada bank-bank yang ada menyebabkan penarikan uang besar-besaran dari nasabah AS di
berbagai bank-bank di AS. Masyarakat AS juga lantas mengurangi konsumsi mereka, sambil terus
meningkatkan tabungan mereka. Pengurangan pada tingkat konsumsi ini menyebabkan perekonomian AS
semakin lemah. Pertumbuhan ekonomi yang semakin negatif memaksa para pemilik modal untuk memecat
karyawannya karena produknya tidak laku di pasaran. Tingkat pengangguran meningkat. AS pun mengalami
masa kehancuran perekonomian, yang dikenal dengan sebutan resesi ekonomi. Untuk keluar dari resesi
ekonomi ini, Altman menyebutkan cara satu-satunya adalah dengan memperkecil tingkat suku bunga, seperti
yang dulu diterapkan AS pada masa Depresi Ekonomi. Akan tetapi, cara ini dinilai tidak efektif karena
tingkat suku bunga di AS kala itu sudah sedemikian rendah (mencapai angka kurang dari 1% sejak 2001),
sehingga penurunan tingkat suku bunga tidak akan terlalu berpengaruh dalam meningkatkan tingkat
konsumsi masyarakat. Cara kedua adalah dengan menggunakan stimulus keuangan—cara yang menurut
Altman terbukti tidak efektif, yang dibuktikan ketika paket stimulus sebesar 168 bilyun Dollar yang
dikeluarkan pada Febuari 2009 ternyata hanya berhasil meningkatkan GDP AS sebesar setengah dari paket
stimulus tersebut.
Krisis finansial yang terjadi memaksa negara-negara untuk menerapkan standar yang lebih ketat
dalam pemberian kredit, karena jika mau ditilik lebih lanjut, krisis ini terjadi karena lemahnya regulasi
dalam pemberian kredit. Krisis finansial ini kemudian juga memaksa negara-negara yang terkena dampak
krisis tersebut untuk memfokuskan kegiatan perekonomiannya untuk mencukupi kebutuhan domestik
rakyatnya. Langkah ini telah diterapkan oleh Presiden AS Barack Obama, Presiden Perancis Nicholas
Sarkozy dan Perdana Menteri Italia Silvio Berusconi yang menyatakan keinginan mereka untuk menerapkan
proteksi pada beberapa perusahaan domestik mereka—langkah yang berlawanan dengan kebijakan
liberalisme yang biasa dianut negara-negara tersebut. Dampak selanjutnya dari krisis finansial ini adalah
Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

negara-negara Barat—terutama AS—menjadi kehilangan kapabilitas untuk „bermain‟ secara aktif dalam
sistem perekonomian dan keuangan internasional. Altman menyebutkan bahwa krisis ini menyebabkan AS
seakan masuk ke dalam fase pembatasan kekuatan, fase di mana AS harus membatasi penggunaan
power-nya di dunia internasional. Altman juga mengatakan bahwa krisis finansial ini melemahkan pasar
modal AS, sehingga kapabilitas AS dalam menyediakan modal besar bagi keuangan internasional—yang
berhasil membuat AS melebarkan pengaruhnya di tingkat global—kini mulai goyah. Dampak ketiga dari
krisis finansial ini adalah mulai dipertanyakannya kredibilitas AS sebagai negara pengusung kapitalisme
berbasis pasar bebas. Sistem finansial AS dianggap telah gagal. Lebih lanjut lagi, krisis tersebut memaksa
AS dan negara Eropa lainnya untuk mulai berfokus pada usaha-usaha intervensi ekonomi secara nasionalis,
usaha yang sebenarnya berlawanan dengan doktrin pasar bebas yang selama ini diusung AS.
Selain menimpa AS dan berbagai negara Eropa, krisis finansial yang terjadi pada tahun 2008 ini juga
menghancurkan negara belahan dunia lain, seperti di Rusia, negara-negara Eropa Timur, dan negara-negara
Asia lainnya. Di antara negara-negara yang mengalami kehancuran akibat krisis finansial tersebut, Cina dan
India disebut-sebut merupakan negara yang mampu bertahan dalam krisis kemarin. Hal ini dikarenakan
sistem keuangan tidak terlalu berperan dalam kegiatan perekonomian kedua negara tersebut. Cina juga
merupakan negara dengan anggaran belanja yang surplus, yang menyebabkan pemerintahannya jarang sekali
berhutang pada dunia internasional. Tingkat Foreign Direct Investment yang tinggi pada Cina juga
menyebabkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut relatif stabil. Berbagai kondisi tersebut membuat Cina
semakin dominan dalam sistem perekonomian internasional, pengaruh Cina di tingkat global pun semakin
meningkat seiring dengan kejatuhan AS dalam sistem perekonomian dan keuangan internasional.
Dari tulisan di atas, penulis menangkap kesan bahwa Altman berusaha mengatakan AS kini sudah
tidak lagi menjadi pusat dari sistem perekonomian dan keuangan internasional. Hal ini dikarenakan krisis
finansial yang terjadi pada tahun 2008 lalu telah menghancurkan kondisi perekonomian domestik AS,
sehingga AS seperti kehilangan kekuatan untuk terus bermain dalam dunia internasional. Krisis tersebut juga
menyebabkan AS kehilangan kredibilitas sebagai penggagas dan pelaksana prinsip-prinsip kapitalisme,
karena prinsip kapitalisme yang seakan tanpa regulasi itu terbukti malah menghancurkan perekonomian dan
keuangan AS sendiri. Menanggapi pesan yang berusaha disampaikan Altman tersebut, penulis cenderung
tidak setuju dengan anggapan Altman yang mengatakan pusat perekonomian dan keuangan dunia telah
berpindah dari AS. Memang, menurut penulis, AS sekarang sedang berada dalam posisi yang kurang
Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

menguntungkan karena didera krisis, yang mengakibatkan dirinya belum bisa sevokal dahulu dalam dunia
internasional. Akan tetapi, hingga tulisan ini dibuat, AS terus menunjukkan perubahan yang positif dalam
usahanya memperbaiki keadaan domestiknya. Hal ini dibenarkan oleh Menteri Keuangan AS Timothy
Greathner yang mengatakan bahwa keadaan ekonomi dan keuangan AS sudah semakin stabil dan menguat.1
Sebuah survey yang diadakan Federal Reserve pada awal September 2009 menyebutkan bahwa
perekonomian di berbagai negara bagian AS kembali tumbuh, lima dari 12 bank-bank regional AS
dilaporkan sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan diri, sementara tujuh bank lainnya sedang berusaha
kembali menstabilkan perekonomiannya. 2 Data yang diperoleh hingga Maret 2009 juga menunjukkan
bahwa tingkat konsumsi masyarakat AS semakin meningkat.3 Peterson Institute for International Economics
juga memprediksi pertumbuhan Growth Domestic Product AS akan meningkat dari -2,4% untuk tahun 2009
menjadi 4% pada akhir tahun 20104, sebuah prediksi yang tentunya dikeluarkan dengan melihat perubahan
positif dari pertumbuhan ekonomi AS paska krisis.
Berbagai kemajuan yan dialami AS tersebut tentu bukan merupakan hal yang mudah. Berbagai usaha
telah dilakukan pemerintah AS, mulai dari pemberian stimulus keuangan—yang oleh Altman dinilai tidak
efektif, tapi oleh International Monetary Fund (IMF) disebut sebagai langkah yang “well targeted, timely,
diversified and sizeable”5—sampai pada sebuah tes yang dilakukan pada bank AS yang dinamakan the bank
stress tests, yang berfungsi untuk menguji kesiapan sebuah bank dalam menghadapi situasi krisis. Tes yang
diadakan oleh Federal Reserve dan Departemen Keuangan AS tersebut terbukti meningkatkan stabilitas
institusi finansial AS6, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat AS pada institusi-institusi finansial
AS. Kedua usaha tersebut hanya segelintir dari banyaknya usaha yang telah diterapkan pemerintah AS demi
memulihkan kondisi perekonomian dan keuangan AS paska krisis.
Penulis juga ingin berkomentar pada anggapan Altman yang menyatakan bahwa Cina memiliki
kemungkinan besar untuk menggantikan posisi AS sebagai pusat dari sistem perekonomian dan keuangan
1
Martin Crutsinger, Geithner Sees Sign that US Economy is Stabilizing. http://www.huffingtonpost.com/2009/05/31/
geithner-sees-signs-that-_n_209488.html, diakses pada 18 Oktober 2009, pukul 07.16.
2
Earth Times, Fed Says US Economy Stabilizing, Picking Up in Most Regions. http://www.earthtimes.org/articles/show/
284985,fed-says-us-economy-stabilizing-picking-up-in-most-regions.html, diakses pada 18 Oktober 2009, pukul 07.18.
3
Michael Mussa, World Recession and Recovery: A V or an L? http://www.iie.com/publications/papers/mussa0409.pdf, diakses
pada 18 Oktober 2009, pukul 09.05.
4
Peterson Institute for International Economics, Global Economic Prospects. http://www.iie.com/research/topics/hottopic.cfm?
HotTopicID=13, diakses pada 18 Oktober 2009, pukul 11.04.
5
IMF Survey Magazine, U.S. Economy Seen Stabilizing, But Risks Remain. http://www.imf.org/external/pubs/ft/survey/
so/2009/CAR061509A.htm, diakses pada 18 Oktober 2009, pukul 07.17.
6
Ibid.
Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

internasional. Walaupun Cina merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar saat ini, penulis
berpendapat Cina masih belum mampu menggantikan posisi AS tersebut. Hal ini dikarenakan Cina masih
terbilang miskin jika dibandingkan dengan AS. Kondisi sosial domestik Cina pun masih relatif tidak stabil.
Begitu pula dengan sisi penguasaan teknologi Cina, yang masih kalah jauh dibandingkan dengan AS.
Berbagai kekurangan Cina tersebut membuat penulis merasa masih belum tiba saatnya bagi Cina untuk lebih
„bermain‟ dalam dunia internasional. Cina masih akan lebih memfokuskan diri untuk membenahi kondisi
dalam negerinya, atau meminjam istilah Anatole Kaletsky: China is... too inward-looking to be a credible
economic leader.7 Matthew J. Burrows dan Jennifer Harris juga mengatakan Cina masih membutuhkan
konsentrasi lebih untuk memperbaiki keadaan domestiknya, terutama karena pertumbuhan jumlah
penduduknya yang tidak dapat diperkirakan serta kondisi politiknya yang masih tidak stabil.8
Alasan selanjutnya yang juga membuat penulis merasa AS masih dapat mempertahankan posisinya
sebagai pusat perekonomian dan keuangan internasional adalah karena hingga saat ini, Dollar sebagai mata
uang AS masih merupakan alat tukar global yang paling stabil. Untuk menjadi sebuah alat tukar global,
sebuah negara haruslah memiliki fondasi moneter dan fiskal yang kuat, dan hal itu hanya dimiliki oleh AS
sebagai negara adidaya, atau oleh Cina.9 Kemungkinan mata uang Cina, Yuan menjadi alat tukar global
lantas diperkecil dengan fakta bahwa Yuan tidak dapat dimiliki oleh investor asing secara legal. Sehingga
dari sisi alat tukar internasional, AS masih memegang kekuasaan.
Alasan lain yang juga membuat penulis berpendapat bahwa AS akan tetap dominan dalam sistem
perekonomian dan keuangan internasional adalah karena AS selama ini sudah membuktikan keberhasilannya
untuk bertahan dalam berbagai krisis yang pernah terjadi. Selain berhasil pulih dari Depresi Ekonomi pada
tahun 1930-an, AS terbukti mampu bertahan pada kasus oil shocks pada 1970-an, di mana AS merupakan
negara yang paling cepat pulih dari keterpurukan jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang
bergantung pada minyak, seperti Jepang dan berbagai negara Eropa. AS juga terbukti mampu bertahan dari
kejatuhan sistem Bretton Woods pada 1971, AS bahkan masih sanggup meyakinkan negara-negara lain
untuk tetap menggunakan Dollar sebagai alat tukar global kala itu. Kehancuran yang mendera Eropa pada
resesi trans-Atlantik pada tahun 1980-an—yang dikenal dengan sebutan Eurosclerosis—juga berhasil dilalui
7
Anatole Kaletsky, America Will Still Rule the Post-Crisis World. http://www.timesonline.co.uk/tol/comment/columnists/
anatole_kaletsky/article6236597.ece, diakses pada 16 Oktober 2009, pukul 21.43.
8
Matthew J. Burrows dan Jennifer Harris, Revisiting the Future: Geopolitical Effects of the Financial Crisis, http://www.twq.com
/09april/docs/09apr_Burrows.pdf, diakses pada 18 Oktober 2009, pukul 07.07.
9
Anatole Kaletsky, loc.cit.
Page | 5
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

AS. 10 Resesi ekonomi yang terjadi pada tahun 1990-an juga tidak membuat AS lantas jatuh dari
singgasananya sebagai pusat sistem perekonomian dan keuangan dunia, AS justru berhasil memasuki era
long productivity boom sementara rivalnya, Jepang, memasuki era stagnasi kala itu. Berbagai krisis yang
telah dilalui AS tersebut membuat penulis yakin, AS kini pasti dapat kembali bangkit dari keterpurukan dan
kembali menjadi penguasa dalam sistem perekonomian dan keuangan dunia.
Gabungan dari berbagai faktor tersebut (faktor kemajuan kondisi AS paska krisis, ketidaksiapan Cina
menggantikan posisi AS, masih kuatnya USD sebagai alat tukar global, serta faktor historis yang
membuktikan AS mampu bertahan di berbagai krisis sebelumnya), membuat penulis berpendapat AS akan
tetap mampu menguasai sistem perekonomian dan keuangan internasional di masa depan.

10
Ibid.
Page | 6