Anda di halaman 1dari 9

PARADIGMA SOSIOLOGI AGAMA

Matakuliah ini Dibuat Guna Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Sosiologi Agama
Dosen Pengampu : M.Abas Mustofa M.Ag

Di Susun Oleh : Kelompok 5


Mashuri : 212 342 8558

PROGRAM ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR


JURUSAN USHULUDDIN
INSTTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
2013
BAB I
1

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah


Sosiologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang membahas perilaku
manusia dalam bermasyarakat.Berbeda dengan psikologi yang merupakan cabang
ilmu pengetahuan yang membahas perilaku manusia sebagai bawaan dari lahir
dan bukan hasil dari interaksi atau hubungan bermasyarakat.Sosiologi juga bukan
cabang dari ilmu filsafat, sosiologi berdiri sendiri sebagai cabang pengetahuan
yang utuh.
Dalam perkembangannya mewujudkan sosiologi sebagai ilmu yang berdiri
sendiri, terdapat berbagai pandangan mengenai pokok persoalan yang dibahas dan
menjadi objek dalam kajian sosiologi.Inilah yang disebut paradigma dalam
sosiologi.Para tokoh sosiologi mempunyai berbagai pandangan mengenai objek
sosiologi sehingga menimbulkan terbentuknya perbedaan paradigma.
Paradigma yang berbeda-beda inilah yang menimbulkan pertanyaan
mengenai mana yang lebih baik dan mana yang mendekati kepada
kebenaran.Bagaimana masing-masing paradigma dalam menanggapi masalah
sosial yang seringkali terjadi di dalam bermasyarakat.Apakah setiap perilaku
seseorang merupaka suatu tindakan sosial. Dalam makalah ini sedikit akan
memberi penjelasan mengenai paradigma sosiologi.

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan paradigma?
b. Bagaimana paradigma para tokoh perintis sosiologi?
c. Bagaimana paradigma para tokoh sosiologi masa kini?
d. Bagaimana perbedaan paradigma dalam sosiologi?
e. Apa kasus paradigma yang ada dalam kehidupan riil?
C. Tujuan
a. Menjelaskan arti dari paradigma.
b. Menjelaskan paradigma para tokoh perintis sosiologi.
c. Menjelaskan paradigma para tokoh sosiologi masa kini.
d. Membedakan paradigma dalam sosiologi. e. Memberikan contoh kasus riil di
masyarakat terkait dengan paradigma dalam sosiologi.
BAB II
PEMBAHASAN

D. Pengertian Paradigma
Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khun di dalam
karyanya The structure of Scientific Revolution. Namun didalam bukunya ini dia
tidak merumuskan secara jelas apa arti dari paradigma. Kuhn sendiri nampaknya
megartikan paradigma sebagai keseluruhan susunan kepercayaan, nilai-nilai serta
teknik-teknik yang sama-sama dipakai oleh anggota komunitas ilmuwan tertentu.1
Sedangkan menurut George Ritzer paradigma adalah pandangan dasar dari
ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari
oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (discipline).2
Jadi istilah paradigma itu diartikan sebagai pandangan mengenai pokok persoalan
yang menjadi pusat perhatian dalam suatu ilmu pengetahuan. Paradigma
menentukan apa yang seharusnya menjadi obyek studi dalam disiplin tertentu.

Paradigma Para Tokoh Perintis Sosiologi Paradigma merupakan suatu


pandangan, yang sangat dimungkinkan satu dengan yang lain memiliki perbedaan
mengenai obyek studi. Terdapat tiga paradigma sosiologi yang berkembang yaitu:
paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, paradigma perilaku sosial.
Paradigma Fakta Sosial Dalam paradigma ini yang menjadi kajian obyek
persoalan berupa fakta sosial.Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, dna
berperasaan yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa
yang mengendalikan.3

Arti penting pernyataan Durkheim ini terletak pada usahanya untuk


menerangkan Bahwa fakta sosial tidak dapat dipelajari melalu intropeksi.Fakta
sosial harus diteliti di dalam dunia nyata sebagaimana orang mencari barang
sesuatu yang lainnya.4
Fakta sosial menurut Durkheim terdiri atas dua macam:5

] George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta:CV Rajawali, 1985),hal.6

Ibid.,hal.8.
] Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta:Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Jakarta, 2004),hal.18
4
George Ritzer, .hal.16
5
Ibid.,hal.17.
3

1. Dalam bentuk material. Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap dan
diobservasi. Contohnya arsitektur dan normahukum.
2. Dalam bentuk non material. Yaitu sesuatu yang dianggap nyata (external).
Contohnya adalah egoism, altruism dan opini.
Secara garis besar pusat perhatian paradigma ini adalah struktur sosial dan
pranata sosial.Dalam sosiologi modern pranata sosial cenderung dipandang
sebagai antar hubungan norma-norma dan nilai-nilai yang mengitari aktifitas
manusia

atau

kedua

masalahnya.6

Contohnya

keluarga,

pemerintahan,

agama.Sedangkan jaringan hubungan sosial di mana interaksi sosial berproses dan


menjadi terorganisir serta melalui mana posisi-posisi sosial dari individu dan subkelompok dapat dibedakan, sering di sebut struktur sosial.7
Ada empat teori yang tergabung dalam paradigma ini:8
Teori fungsionalisme struktural yang menekankan kepada keteraturan dan
mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Ilmuwan dari
teori ini adalah Robert K.Merton. Masyarakat berada dalam kondisi statis dan
bergerak dalam kondisi seimbang.
Teori konflik dibangun untuk menentang secara langsung teori fungsionalisme
struktural. Masyarakat senantiasa berada dalam otoses perubahan yang ditandai
oleh pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya.
Teori system
Teori sosiologi mikro
Yang dominan dalam teori di atas adalah kedua yang disebutkan mul-mula.
Metode yang digunakan dalam paradigma ini adalah menggunakan metode
kuesioner dan interview dalam penelitian empiris.Karena sebagian fakta sosial
merupakan sesuatu yang dianggap nyata.Sehingga tidak cocok menggunakan
metode observasi yang mempelajari gejala aktual saja.

E. Paradigma Definisi Sosial


Berbeda dengan Durkheim yang membedakan antara struktur dan pranata sosial,
Weber tidak memisahkan dengan tegas struktur dan pranata sosial secara tegas.
6

George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta:CV Rajawali, 1985),hal.23
Ibid.,hal.22
8
Ibid.,hal.24
7

Pokok persoalan yang dibahas dari paradigma ini adalah sosiologi sebagai studi
tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Yang dimaksudkannya dengan
tindakan sosial itu adalah tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai
makna atau arti subyetif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.9
Tindakan sosial yang dimaksudkan Weber bisa berupa tindakan yang nyata-nyata
diarahkan kepada orang lain ada juga tindakan yang berupa membatin atau
bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh situasi positif.
Weber mengemukakan ada lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian
sosiologi yaitu:10
Tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung makna subyektif. Ini
meliputi berbagai tindakan nyata.
Tindakan nyata yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif.
Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja
diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam
Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain
itu.
Selain dari ciri diatas tindakan sosial juga bisa dibedakan dari sudut waktu.
Tindakan sosial yang diarahkan kepada waktu sekarang atau yang akan datang.
Ada tiga teori yang masuk dalam paradigma ini yaitu:11
Teori aksi
Teori interactionism
Fenomenologi
Ketiganya mempunyai persamaan pandangan bahwa manusia adalah actor
yang kreatif dari realitas sosial, dan realitas sosial bukan merupakan alat yang
statis yang dipaksakan sepenuhnya oleh fakta sosial tidak sepenuhnya ditentukan
oleh noram-norma dan nilai yang ada.
Metode yang digunakan untuk penelitian

cenderung menggunakan metode

observasi. Alasannya adalah untuk dapat memahami realitas intrasubjectiv dan

]Ibid.,hal.44

10

George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta:CV Rajawali, 1985),hal.45

11

Ibid.,hal.49

intersubjective dari tindakan sosial dan interaksi sosial.Metode kuesioner dan


eksperimen dirasa kurang relevan karena dapat mengganggu spontantas sikap si
aktor.

F. Paradigma Perilaku Sosial


Skinner melihat dua paradigma yang lain, fakta sosial dan definisi sosial sebagai
perspektif yang bersifat mistik, dalam teka-teki, tidak dapat diterangkan secara
rasional. Yaitu pada eksistensi objek studinya.
Ide pengembangan paradigma ini dari awal dimaksudkan untuk menyerang kedua
paradigma lainnya.Sehingga tidak diherankan terdapat perbedaan pandangan
antara paradigma perilaku sosial dengan fakta sosial dan definisi sosial.
Pokok persoalan pada paradigma ini memusatkan perhatian kepada hubungan
atara individu dan lingkungannya. Lingkungan itu terdiri atas:
Bermacam-macam obyek sosial
Bermacam-macam obyek non sosial
Tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor
lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat sehingga ada hubungan antara
tingkah laku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan.
Teori yang termasuk dalam paradigm ini yaitu: 12
Teori behavioral sosciology mencoba menerangkan tingkah laku yang terjadi di
masa sekarang melalui kemungkinan akibatnya yang terjadi di masa yang akan
datang. Reinforcement yang dapat diartikan sebagai ganjaran
Teori exchange dibangun sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, terutama
menyerang ie Durkheim. Selama interaksi berlangsung akan timbul suatu
fenomena yang baru.
Metode yang digunakan untuk meneliti paradigma ini yaitu dengan
menggunakan metode obsevasi, kuesioner, dan interview.Namun paradigma ini
lebih menyukai eksperimen di laboratorium sebagai metodenya.
Wright Mills dan Peter Berger.13
Berpandangan bahwa untuk memahami apa yang terjadi di dunia maupun
apa yang ada dalam diri sendiri manusia memerlukan apa yang dinamakannya
12

George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta:CV Rajawali, 1985),hal.85
Kumanto Sunarto, Pengantar Sosiologi ,., hal. 13.

13

imajinasi

sosiologi.

Menurut

Mills

sociological

imagination

ini

akan

memungkinkan kita untuk memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi,


dan hubungan antara keduanya.
Menurut Berger :
Tipe ideal seorang ahli sosiologi bertujuan memahami masyarakat. Tujuannya
bersifat Teoritis, yaitu memahami semata-mata. Seorang ahli sosiologi harus
objektif, mengendalikan prasangka dan pilihan pribadi, mengamati secara jelas
dengan menghindari penilaian normatif dan tujuannya harus mengikuti aturan
ilmiah, aturan mengenai pembuktian ilmiah.
Faktor yang mendorong seseorang menjadi ahli sosiologi adalah perhatian yang
intensif, tak henti-henti serta tanpa rasa malu terhadap perilaku manusia.
Letak daya tarik sosiologi adalah dalam mengungkap realitas sosial, seorang ahli
sosiologi menyingkapkan berbagai lapisan tabir, dan penyingkapan tiap helai tabir
menampilkan suatu realitas baru yang tak terduga.

G. Perbedaan Paradigma Dalam Sosiologi


Paradigma perilaku sosial berbeda dengan paradigma definisi sosial yang dinamis
dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam proses interaksi, paradigma perilaku
sosial kurang memiliki kebebasan dan lebih bersifat mekanik. Sedang perbedaaan
dengan paradigma fakta sosial terdapat pada sumber pengendali tingkah laku.
Akibat negatif. Para tokoh sosiologi lebih banyak menggunakan waktu dan
perhatian untuk mempertahankan asumsi dasar mereka terhadap kritik dari
penganut paradigma lain, dariada memusatkan penyelidikan terhadap persoalan
spesifik tertentu. Kecenderungan untuk mnempatkan seorang lawan sebagai antek
dan usaha penganut untuk melebih-lebihkan paradigma yang dianut.Dan juga
kecenderungn penganut paradigma lain untuk menyerang nama baik penganut
paradigma lain.
Akibat positif.Kritik yang relevan dari paradigma yang berlainan, dapat
membantu seorang tokoh untuk menjernihkan pikirannya dan memperbaiki
kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.Perbedaan pendapat antar penganut
paradigma dapat menjernihkan masalah yang diselidiki, yang mungkin
sebelumnya masih kabur. Kritik yang dilancarkan penganut paradigma lain juga
dapat menunjukan premis-premis paradigma lain dapat memberikan sumbangan
yang berharga terhadap pemikirannya.
7

H. Kasus Dalam Kehidupan Riil


Suatu contoh penerapan paradigma dalam kehidupan manusia ialah pada
saat seseorang melempar batu kesungai dengan tanpa memiliki arti ataupun tujuan
untuk menganggu orang lain itu bukan dinamakan tindakan sosial. Namun ketika
batu yang dilempar memiliki tujuan untuk mengganggu orang lain ataupun untuk
menimbulkan reaksi orang lain terhadap batu yang kita lempar maka itu bisa
disebut tindakan sosial. Kasus itu merupakan penerapan dari paradigma definisi
sosial yang dikemukakan oleh Max Weber.Paradigma ini menerangkan bahwa
tindakan sosial ialah sesuatu yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku
orang laindan berorientasi pada perilaku orang lain.

BAB III
PENUTUP

I.

Kesimpulan
Paradigma itu diartikan sebagai pandangan mengenai pokok persoalan yang

menjadi pusat perhatian dalam suatu ilmu pengetahuan. Paradigma menentukan


apa yang seharusnya menjadi obyek studi dalam disiplin tertentu.
Menurut beberapa tokoh perintis dalam sosiologi, ada tiga paradigma yang
berkembang dalam sosiologi, yaitu: paradigma fakta sosial, paradigma definisi
sosial, dan paradigma perilaku sosial.
Menurut tokoh masa kini, seperti Wright Mills berpendapat bahwa
seseorang yang ingin dapat memahami apa yang terjadi di dunia dan apa yang ada
dalam dirinya maka ia memerlukan imajinasi sosiologi (sociological imagination).
Perbedaan paradigma dalam sosiologi antara lain jika pada fakta sosial
objek studinya adalah sesuatu yang nyata dan metode yang digunakan lebih pada
kuesioner dan interview, jika pada definisi sosial objek studinya tindakan
seseorang dan metode yang digunakan dalam penelitian yaitu observasi,
sedangkan pada perilaku sosial objek kajiannya tingkah laku dan perulangannya
dan metodenya menggunakan eksperimen.
Paradigma yang dikemukakan para tokoh mampu menjelaskan kejadian yang
terjadi di dalam kehidupan riil atau nyata di masyarakat.Selain itu paradigma
mampu menjelaskan perbedaan antar masalah
8

DAFTAR PUSTAKA

George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta:CV


Rajawali, 1985.
Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi,Jakarta:Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Jakarta, 2004.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar,Jakarta: Rajawali Pers, 2012.