Anda di halaman 1dari 10

Egyptian Dermatology Online Journal

Volume 7 Number 2

Evaluasi klinis efektifitas dan keamanan formulasi polyherbal pada acne vulgaris

Dr. Azad Hussain Lone*, Dr. Tanzeel Ahmad. *, Dr Mohd Anwar.*, Dr.
Gh Sofi** and AH Naiyar***
* Dept. of Medicine, National Institute of Unani Medicine, Bangalore-91, India
**Lecturer, Dept. of Pharmacology, National Institute of Unani Medicine, Bangalore-91
*** Dept. of Pharmacology, Ajmal Khan Tibbiya College, Aligarh Muslim University,
Aligarh, India

Abstrak

Latar Belakang : Acne vulgaris adalah gangguan yang paling umum dirawat oleh
dermatologists. Jerawat merupakan penyakit pada bagian pilosebaceous yang ditandai
dengan pembentukan komedo terbuka dan tertutup, papula, pustula, nodul dan kista.

Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai keamanan dan efektifitas dari
formula Polyherbal dibandingkan dengan benzoil peroksida dalam pengobatan acne
vulgaris.

Bahan dan Metode : Studi acak, single blind, standart controlled digunakan di bagian
rawat jalan, National Institute of Medicine Unani, Bangalore. 50 pasien yang didiagnosis
acne vulgaris dimasukkan dalam studi setelah memperoleh informed consent dari mereka.
Pasien ini dibagi secara acak ke dalam kelompok polyherbal dan kelompok benzoyl
peroxide dengan masing-masing 25 pasien dalam setiap kelompok. Dalam kelompok
polyherbal, formulasi Polyherbal diberikan secara lokal sedangkan pasien dari kelompok
benzoil peroksida menerima obat standar topikal untuk jangka waktu 45 hari. Tingkat
keparahan akne vulgaris dan kemanjuran pengobatan dinilai dengan skala penilaian
Cooks acne grasing scale..

Hasil : Pada akhir penelitian, seluruh data ditabulasi dan dianalisis menggunakan uji
statistik. Keduanya baik formulasi herbal dan obat standar sama-sama efektif dan
signifikan secara statistik (p <0,05%) dalam pengobatan acne vulgaris. Tidak ada
perbedaan yang signifikan dengan grading setelah pengobatan antara kelompok
polyherbal dan kelompok benzoil peroksida pada tingkat p 5%. Selanjutnya formulas
Polyherbal ditemukan aman dan cukup diterima dengan baik oleh pasien.

Kesimpulan : Hasil ini menyimpulkan bahwa formulasi Polyherbal dapat digunakan


secara aman dan efektif untuk pengobatan acne vulgaris
Kata Kunci : Acne Vulgaris, Komedo, Benzoyl Peroxide, Formula Polyherbal, Cooks
acne grading skale.

Pendahuluan :
Acne vulgaris adalah penyakit peradangan kronis pada bagian pilosebaceous dan
ditandai dengan adanya

seborrhoea, pembentukan komedo, papula eritematosa dan

pustula, lebih jarang terjadi nodul, pustula dalam, atau pseudocysts dan, dalam beberapa
kasus, disertai dengan jaringan parut [1,2]. Hal ini diyakini sebagai penyakit kulit yang
paling umum. Kondisi ini biasanya dimulai pada masa remaja, puncaknya pada usia 14
sampai 19 tahun dan berakhir pada pertengahan dua puluhan. Jerawat berkembang lebih
awal pada wanita dibandingkan pada laki-laki, yang mungkin mencerminkan onset awal
pubertas pada wanita. Bentuk yang paling parah dari acne vulgaris lebih sering terjadi
pada laki-laki, tetapi penyakit ini cenderung lebih persisten pada wanita [3].

Acne vulgaris adalah salah satu penyakit kulit yang paling umum dengan
prevalensi mencapai 100% di kalangan remaja. Meskipun biasanya kondisi ini terjadi
pada remaja, 8% jerawat terjadi pada dari usia 25-34 tahun dan 3% dari kelompok usia
30-44 tahun [4,5,6,7]. Puncak insidensi jerawat terjadi di pertengahan hingga akhir usia
remaja. Sebanyak 80% sampai 90% dari semua remaja akan memiliki beberapa jenis
jerawat dan 30% akan memerlukan perawatan medis [8]. Jerawat adalah penyakit
polimorfik, yang terjadi terutama pada wajah (99% dari penderita) dan, pada tingkat lebih

rendah, terjadi pada punggung (60%) dan dada (15%). Pada pria muda, hal ini terjadi
terutama pada wajah, dan pada laki-laki yang lebih tua secara signifikan juga terjadi pada
punggung. Seborrhoea adalah bentuk yang sering terjadi.[1,9].
Patofisiologi jerawat dikaitkan dengan empat faktor etiologi, termasuk :
peningkatan produksi sebum, keratinisasi yang abnormal pada kelenjar pilosebasea,
kolonisasi mikroflora pada folikel (Propionibacterium acnes) dan inflamasi dan respon
kekebalan tubuh. Propionibacterium acnes adalah mikroorganisme utama yang
ditemukan dalam kelenjar pilosebaceous. Perannya dalam patogenesis jerawat mungkin
terkait dengan kemampuannya dalam membuat unit pilosebaceous dan eksis sebagai
biofilm [10,11].
Pengobatan andalan untuk jerawat adalah penggunaan antibiotik topikal dan atau
sistemik, tetapi penggunaan jangka panjang obat menghasilkan efek samping yang
signifikan seperti eritema, terkelupas, terbakar dan kekeringan kulit. Selain itu pada
pengembangan resistensi antibiotik untuk P.acnes membatasi penggunaan antibiotik
topikal. Ada kebutuhan utama untuk mengembangkan pengobatan andalan lain termasuk
obat-obatan herbal untuk pengobatan acne vulgaris.

Untungnya dokter dari Indian

System of Medicine seperti Unani dan Ayurveda telah meracik banyak obat herbo-mineral
untuk pengobatan jerawat sejak jaman dahulu. dengan demikian penelitian ini dilakukan
untuk memvalidasi keamanan dan efektifitas dari Polyherbal Formulasi (Zimade Mohasakrim) dari parameter ilmiah modern. Formulasi yang terpilih untuk studi ini berasal dari
Hamdard Pharmacopoeia of Eastern Medicine dan diperoleh dari departemen Farmasi
NIUM. Bahan-bahannya adalah Iris florentina, daun Azadirachta indica, kulit spesies
Acacia, Abrus precatorious dan Lake salt

masing-masing 50 gram [12]. Cream

polyherbal ini bertindak secara topikal sebagai pembersih, zat anti-inflamasi dan agen
antibakteri. Dalam sebuah percobaan eksperimental, Azadirachta indica menunjukkan
aktivitas antibakteri terhadap berbagai mikroorganisme seperti Staphylococcus,
Enterococcus, Pseudomonas, Escherichia, Klebsiella, Salmonella dan Mycobacterium
[13]. Berbagai uji klinis yang dilakukan menggunakan formula Polyherbal menunjukkan
bahwa ada peningkatan jerawat yang signifikan pada akhir pengobatan [14,15,16].

Bahan dan Metode:


Penelitian ini dilakukan di departemen Kedokteran, National Institute of
Unani Medicine (NIUM), Bangalore dari Maret 2009 sampai Oktober 2010. Secara
acak, single blind dan controlled clinical trial. Pasien yang terdaftar dalam penelitian ini
adalah pasien yang telah didiagnosis acne vulgaris dari departemen rawat jalan
Kedokteran dan Dermatologi, NIUM setelah mendapat informed consent dari mereka.
Para pasien secara klinis dinilai dan didiagnosis berdasarkan sejarah dan pemeriksaan
dermatologis. Semua temuan itu dicatat pada proforma catatan kasus, yang dirancang
untuk penelitian. Total dari 50 pasien yang didiagnosis acne vulgaris dimasukkan
menjadi kriteria inklusi dan secara acak dialokasikan ke dalam kelompok peroksida
polyherbal dan benzoil dengan bantuan Lottrery Method tapi 10 pasien mangkir sehingga
menyisakan 20 pasien dalam setiap kelompok yang menyelesaikan protokol pengobatan.
Para pasien dari kedua jenis kelamin dan usia (12-30 tahun) dilibatkan dalam penelitian
sementara pasien dengan varian lain dari jerawat seperti jerawat fulminans, jerawat
rosacea, jerawat necrotica, ibu hamil dan menyusui, pasien dengan penyakit sistemik,
pasien diabetes, pasien dibawah 12 dan di atas 30 tahun dan pasien dari penyakit penyerta
lainnya dikeluarkan dari penelitian. Pemeriksaan rutin seperti darah lengkap, urine dan
pemeriksaan tinja, gula darah sewaktu, tes fungsi hati , dan tes fungsi ginjal dilakukan
sebelum pengobatan untuk mengecualikan penyakit sistemik lain. Pada kelompok
polyherbal disarankan untuk memakai krim polyherbal ke daerah yang terkena jerawat di
malam hari dan kemudian mencuci area dengan air suam-suam kuku pada pagi. Pasien
kelompok benzoil peroksida disarankan untuk memakai krim Benzoil peroksida sekali di
malam hari. Lamanya pengobatan adalah 45 hari dan follow-up dilakukan setiap minggu.
Penentuan tingkat keparahan akne vulgaris dan efektifitas obat dilakukan dengan
menggunakan Cook System of Acne [17]. Ini adalah skala penilaian yang umum
digunakan untuk evaluasi jerawat yang melibatkan ukuran kerasnya jerawat dengan skala
0-8 yang mengacu pada standar fotografi. Para pasien secara klinis dinilai setiap minggu
dan semua lesi yang ada dihitung di awal dan pada minggu ke 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Respon
dari pengujian kedua obat dan obat standar pada akhir penelitian dicatat pada skala lima
poin yang terdiri sebagai berikut: respon yang sangat baik - peningkatan tiga grade;

Respon baik- peningkatan dua grade; Respon jelek - peningkatan satu grade; Tidak ada
respon - tidak ada peningkatan grade dan Worse grade - peningkatan grade.

Analisis statistik:
Pada akhir penelitian, seluruh data ditabulasi dan dianalisis dengan menggunakan
program SPSS terdaftar (Versi 17, Produsen adalah SPSS Inc., 233 South Wacker Drive,
11th Floor. Chicago). Untuk data kuantitatif, digunakan Man Whiteney U Test dan
Wilcoxan Syned rank test sedangkan untuk data kualitatif, digunakan Chi Square Test.
Tingkat signifikansi dinilai pada p <0,05 dan sangat signifikan pada p <0,01.

Hasil:
Pengamatan demografis dalam penelitian ini menunjukkan insiden tertinggi dari
jerawat pada kelompok usia 17-21 tahun (42,5%) sedangkan yang paling sedikit terlihat
pada kelompok usia 27-31 tahun. (7,5%) 25 (62,5%) pasien adalah perempuan dan 15
(37,5%) pasien adalah laki-laki dan 1/3 pasien memiliki onset jerawat pada kelompok
usia 12-16 tahun. Sebagian besar pasien yang terdaftar adalah mahasiswa dan 67%
berasal dari kelompok berpenghasilan menengah. Sebuah riwayat keluarga positif tercatat
dalam 24 (60%) pasien. Premenstrual flare up jerawat tercatat di 45% perempuan dan
faktor yang paling berpengaruh dicatat. Sejauh ini juga diperhatikan kebiasaan diet pada
18 (45%) pasien yang non-vegetarian dan 12 (30%) adalah vegetarian dan 10 (25%).
yang memiliki kebiasaan diet campuran. Mengenai lokasi lesi, lokasi yang paling umum
diamati adalah Wajah (55%), diikuti oleh wajah dan punggung(22%), wajah dan dada
(17,5%) dan hanya 7,5% pasien menunjukkan lesi di wajah dan bahu. (Tabel-1)
Parameter

Jumlah Pasien

Persentase

12-16

12

30%

17-21

17

42,50%

22-26

7,50%

Laki-Laki

15

37,50

Perempuan

25

62,50%

Usia

Gender

F/H
Present

24

60%

Absent

16

40%

Wajah

22

55%

Wajah dan punggung

20%

Wajah dan dada

17,50%

Wajah dan bahu

7,50%

Posisi Lesi

Tabel 1 : Data Demografi


Pengaruh Test dan Pengendalian obat dalam Cooks Acne Grading
Pada kelompok polyherbal, 1 (5%) pasien menunjukkan grade 8, 6 (30%) pasien
menunjukkan grade 6, 10 (50%) pasien menunjukkan grade 4, 3 (15%) pasien
menunjukkan grade 2 dan tidak ada pasien menunjukkan grade 0 pada dasar penilaian
sedangkan pada kelompok benzoyl peroxide, 2 (10%) pasien menunjukkan grade 8, 7
(35%) pasien menunjukkan grade 6, 8 (40%) pasien menunjukkan grade 4,3 (15%) pasien
menunjukkan grade 2 dan tidak ada pasien menunjukkan grade 0 pada dasar penilaian.
Dasar penilaian jerawat vulgaris pada kelompok polyherbal dan benzoil peroksida
dibandingkan dengan menggunakan Man Whiteney test. Tidak ada signifikansi statistik
antara dua kelompok pada 5% tingkat. Pada akhir pengobatan, ada respon yang luar biasa
dalam gradasi jerawat di kedua kelompok. 5 (25%) pasien menunjukkan grade 0, 12
(60%) pasien menunjukkan grade 2, 2 (10%) pasien menunjukkan grade 4, hanya 1 (5%)
pasien menunjukkan kelas 6 dan tidak ada pasien menunjukkan grade 8 setelah perawatan
dalam kelompok polyherbal. (Tabel -2)
Demikian pula pada kelompok benzoil peroksida, 6 (30%) pasien menunjukkan kelas 0,
10 (50%) pasien menunjukkan grade 2, 2 (10%) pasien menunjukkan grade 4, 2 (10%)
pasien menunjukkan grade 6 dan tidak ada pasien menunjukkan grade 8 setelah
pengobatan. (Tabel -3)

Grade

Baseline

Mg. ke 1

No of Pts

Pts.

Mg. ke 2 Mg. ke 3 Mg. ke 4


Pts.

Pts.

Pts.

Mg. ke 5

Mg. ke 6

Pts.

No of Pts

5 (25%)

3 (15%)

11

12 (60%)

10 (50%)

10

2 (10%)

6 (30%)

1 (5%)

1 (5%)

Mg. ke 5

Mg. ke 6

Tabel 2 ; Cooks system of Grading pada Grup test

Grade

Baseline

Mg. ke 1

Mg. ke 2 Mg. ke 3 Mg. ke 4

No of Pts

Pts.

Pts.

Pts.

Pts.

Pts.

No of Pts

6 (30%)

3 (15%)

10 (50%)

8 (40%)

2 (10%)

7 (35%)

2 (10%)

2 (10%)

No = Nomor, Pts = Pasien


Table 3 ; Cooks System of Grading pada grup control

Peningkatan

gradasi

jerawat

pada

kedua

kelompok

dianalisis

dengan

menggunakan Wilcoxan Syned Rank test untuk pencocokan data. Ada bukti kuat dari
perbedaan antara gradasi di awal dan penilaian pada akhir penelitian dengan p <0,001.
Penilaian peningkatan gradasi jerawat,yang dicatat pada skala lima poin, menunjukkan
bahwa di Kelompok polyherbal, respon yang sangat baik terlihat di 6 (30%) pasien,
respon yang baik di 11 (55%) pasien, respon jelek di 2 (10%) pasien dan tidak ada respon
pada 1 (5%) pasien. Sementara di kelompok benzoyl peroxide, respon yang sangat baik
diamati pada 6 (30%) pasien, respon yang baik di 9 (45%) pasien, respon jelek di 4 (20%)
pasien dan tidak ada respon dalam 1 (5%) pasien. (Tabel-4). Secara keseluruhan
Efektivitas kelompok polyherbal dan obat standar dibandingkan menggunakan Chi
Square test. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara grading setelah pengobatan
antara kelompok peroksida polyherbal dan benzoil pada tingkat 5%. Namun uji
signifikansi antara dua proporsi respon jelek di polyherbal dan kelompok benzoyl

peroxide

menunjukkan

bahwa

proporsi

respon

jelek

di

benzoil

peroksida

kelompok secara signifikan lebih besar daripada proporsi respon jelek dalam kelompok
polyherbal.

Keamanan dan toleransi kulit terhadap formulasi polyherbal dan obat standar
dievaluasi dengan menilai adanya eritema, kekeringan, scaling, pembakaran dan pruritus.
Dalam kelompok polyherbal, tidak ada efek samping jelek yang diamati selama dan
sesudah penelitian. Tapi 20% pasien dari benzoil peroksida kelompok merasakan kulit
kering, terasa hangat, iritasi ringan, gatal, kemerahan atau pembengkakan kulit.

Respon

Grup test

Control grup

Jmlh Pasien

Jmlh Pasien

Sangat Baik

6 (30%)

6 (30%)

Baik

11 (55%)

9 (45%)

Jelek

2 (10%)

4 (20%)

Tidak ada Respon

1 (5%)

1(5%)

Sangat Jelek

Tabel 4 ; Perkembangan

Diskusi :
Penelitian ini dilakukan pada 40 pasien acne vulgaris berusia antara 12-30
tahun untuk membandingkan keamanan dan efektifitas krim Polyherbal dengan obat
jerawat Standard. Dalam penelitian ini, diamati puncak insidensi terjadi pada kelompok
usia 17-21 tahun. Temuan ini menguatkan temuan dari studi epidemiologi bahwa puncak
insidensi timbulnya jerawat ditemukan pada usia antara 14-17 tahun dalam kasus
perempuan dan antara 16 -19 tahun dalam kasus laki-laki [26].
Para pasien di kedua kelompok baik polyherbal dan benzoil peroksida secara
klinis dinilai dengan menggunakan Cooks System of acne Grading. Respon terhadap
obat dinilai dan dicatat dengan skala lima poin dan dianalisis secara statistik. Ada
penurunan

gradasi

jerawat

yang

signifikan

pada

kedua

kelompok.

Setelah

membandingkan respon uji dan kontrol obat-obatan, dinilai tidak ada perbedaan yang

signifikan antara respon pada dua kelompok yang diamati di tingkat p 5% . Dalam
kelompok polyherbal, ada peningkatan yang signifikan dalam penilaian jerawat pada p
<0,001. Peningkatan ini mungkin disebabkan berbagai aktivitas farmakologi dari
bahan krim Polyherbal. Tumbuhan ini memiliki sifat sebagai anti-inflamasi, pembersih,
penyerap, emolien, antiseptik dan properti antimikroba [18,19,20,21]. Tumbuhan ini
mungkin menghambat terjadinya proliferasi dan pertumbuhan mikroflora dalam folikel
dan diakhiri dengan proses inflamasi yang menyebabkan peningkatan secara keseluruhan
pada acne vulgaris di akhir pengobatan. Hal ini senada dengan tindakan farmakologis
yang dijelaskan dalam literatur klasik dari Indian System o Medicine dan telah terbukti di
berbagai studi klinis dan eksperimental [13,14,15,16]. Perbaikan signifikan yang lebih
lanjut dalam flare jerawat adalah melihat kepatuhan sebelumnya dan pengobatan yang
lebih besar. Uji pengobatan ditemukan aman dan cukup diterima dengan baik oleh pasien
karena tidak ada efek samping yang terlihat pada kelompok polyherbal.
Dalam kelompok benzoil peroksida, ada (p <0,001) peningkatan yang signifikan
pada kadar jerawat setelah selesainya pengobatan. Benzoil peroksida bersifat
komedolitik [22] dan bakterisida [23] untuk P. acnes. Ini adalah agen topikal tertua dan
paling banyak digunakan untuk pengobatan non-inflamasi dan peradangan acne vulgaris.
Mekanisme kerja utama bahan kimia ini ditandai dengan pembelahan ikatan oksigenoksigen, yang mengakibatkan produksi radikal bebas benzoil [23]. Hal ini memicu
kaskade kejadian, mengakibatkan pembentukan radikal bebas. Radikal bebas ini
bertindak sebagai exfoliating agen, dimana pori-pori yang terlihat jelas dan peningkatan
turnover kulit: ini membantu mengobati komedo non-inflamasi dari jerawat.
Radikal bebas juga menghancurkan bakteri baik kondisi aerobik dan anaerobik
[24]. Respon obat standar sama dengan formulasi ployherbal tetapi efek samping lokal
seperti

kekeringan,

kemerahan

dan

iritasi

pada

kulit,

gatal-gatal

dan

pemutihan terlihat pada kelompok benzoyl peroxide. Temuan ini sesuai dengan
efek samping yang dijelaskan oleh M Sagransky dan rekan-rekannya [25].

Kesimpulan:
Karena terapi untuk acne vulgaris memiliki keterbatasan di kedokteran barat,
mala obat herbal dapat ditawarkan sebagai terapi alternatif untuk jerawat, penelitian ini

menunjukkan bahwa krim Polyherbal memiliki potensi menggembirakan dalam


pengobatan jerawat dengan hampir tidak ada efek samping. Dalam pembahasan di atas,
dapat disimpulkan bahwa Zimade Mohasa aman dan berbiaya ringan dalam pengobatan
acne vulgaris. Namun, dibutuhkan studi jangka panjang untuk menentukan tingkat
kekambuhan dan efek buruk krim Polyherbal pada jerawat.

Ucapan terima kasih:


Penulis sangat berterima kasih kepada direktur NIUM , Bangalore untuk
penyediaan semua Fasilitas yang diperlukan untuk penelitian dan karya akademis.