Anda di halaman 1dari 50

GLAUKOMA FAKOLITIK OS+ KATARAK SENILIS

IMATUR OD

Dosen pembimbing :
Dr. H. Djarizal, Sp.M, MPH
Oleh ;
Widya Febriza, s.Ked

BAB I
LAPORAN KASUS
IDENTIFIKASI
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Bangsa
Pekerjaan
Pendidikan
Alamat

: Ny. Sanida
: 68 tahun
: Perempuan
: Islam
: Indonesia
: IRT
: Tamat SD
: Jelutung RT 04. Kota Jambi

ANAMNESIS (Autoanamnesis)
Keluhan Utama

Mata kiri merah sejak 3 hari yang lalu


Riwayat Perjalanan Penyakit

Pasien datang ke poliklinik mata dengan keluhan


mata kiri merah dan terasa nyeri sejak 3 hari
yang lalu. Nyeri pada mata kiri dirasakan
menjalar kekepala dan semakin hari semakin
parah. Pasien juga mengeluhkan adanya mual
dan muntah 2 hari yang lalu.

1 tahun yang lalu, penglihatan mata kiri dan

kanan kabur. Pasien merasa seperti melihat ada


asap atau berkabut, ,Mata kiri lebih parah
dibandingkan mata kanan. Pasien juga sering
mengeluhkan matanya silau, agak berair. Gatal
pada mata (-), kotoran mata (-), melihat pelangi ().
3 bulan terakhir pasien merasakan
penglihatannya pada mata kiri semakin kabur,
pandangan berasap dirasakan semakin tebal,
penderita mengaku hanya bisa melihat pada
jarak 1 meter, sedangkan mata kanan dirasa
lebih baik dibanding mata kiri.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat trauma (-)
Riwayat Penyakit Sistemik :
Riwayat Hipertensi (-)
Riwayat penyakit Diabetes Mellitus (-)
Riwayat Penyakit dalam Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti
pasien
Riwayat Gizi
Keadaan Sosial Ekonomi

: Baik
: Menengah

Status Generalis

Keadaan umum
: tampak baik
Kesadaran
: kompos mentis
TB / BB
: 158 cm / 60 kg
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 84 x/menit
Respiratory rate
: 24 x/menit
Suhu
: afebris
Penyakit Sistemik

Tidak ada keluhan

STATUS OPHTALMOLOGIKUS
OD

OS

Visus Dasar

6/60

1/300

TIO : Digital

N +2

Ortoforia

ortoforia

Kedudukan bola mata

Pergerakan bola mata


Duksi : baik
Versi : baik

Duksi : baik
Versi : baik
Dilatasi pupil

keruh
Arkus senilis

keruh sebagian

Injeksi ciliare

Silia

Trichiasis (-)

Trichiasis (-)

Palpebra Superior

edema (-)

edema (-)

Palpebra Inferior

edema (-)

edema (-)

Konjungtiva tarsus

Papil (-), folikel (-), lytiasis (-).

Papil (-), folikel (-), lythiasis (-)

Konjungtiva Bulbi

Injeksi (-), hiperemis (-), jar fibrovaskuler Injeksi (+), hiperemis (+) , jar
(-)

fibrovaskuler (-)

Kornea

Jernih

Jernih, udem kornea (+)

Bilik Mata Depan

Sedang

sedang, flare (-)

Iris

Kripta iris normal

Kripta iris normal

Pupil

Bulat, Isokor, RC (+)

Bulat, middilatasi, RC (+)

Diameter

3 mm

5 mm,

Lensa

Keruh sebagian, iris shadow test (+)

Keruh keseluruhan, iris shadow test (-)

TONOMETRI
SCHIOTZ

Tidak dilakukan

Beban 5,5 GM /0= 41,5


mmHg

Beban 10 GM /4 = 43,4
mmHg

RESUME
Seorang perempuan (68 tahun) datang ke

poliklinik mata dengan keluhan mata kiri merah


dan terasa nyeri sejak 3 hari yang lalu. Nyeri
pada mata kiri dirasakan menjalar kekepala dan
semakin hari semakin parah. Pasien juga
mengeluhkan adanya mual dan muntah 2 hari
yang lalu.
1 tahun yang lalu, penglihatan mata kiri dan
kanan kabur. Pasien merasa seperti melihat ada
asap atau berkabut, mata kiri lebih parah
dibandingkan mata kanan. Pasien juga sering
mengeluhkan matanya silau, agak berair. Gatal
pada mata (-), kotoran mata (-), melihat pelangi (-

3 bulan terakhir pasien merasakan

penglihatannya pada mata kiri semakin kabur,


pandangan berasap dirasakan semakin tebal,
pasien mengaku hanya bisa melihat pada jarak 1
meter, sedangkan mata kanan dirasa lebih baik
dibanding mata kiri.
Riwayat DM dan HT tidak ada. Tidak ada
keluarga yang menderita katarak.

Pada pemeriksaan fisik, secara umum tampak

baik, dan status optalmologikus ditemui mata


kanan : VOD 6/60 dan VOS 1/300. Dari
pemeriksaan eksternal dan slit lamp didapatkan,
tampak injeksi ciliar pada mata kiri, kornea jernih
dan udem(+), pupil OD isokor bentuk bulat
dengan diameter 3 mm, pupil OS middilatasi
dengan diameter 5 mm, RC(-). lensa OD tampak
keruh sebagian dan iris iris shadow test (+), lensa
OS tampak keruh keseluruhan, iris iris shadow
test (-).

DIAGNOSIS KERJA
Glaukoma fakolitik OS + katarak senilis Immatur
OD

ANJURAN PEMERIKSAAN
USG mata
Biometri
Gonioskopi
PENATALAKSANAAN
Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tablet
Asetazolamid 3x250 mg
Timolol 0,5 % ED 2x1 tts OS
Xitrol ED 4x1 tts OS
Aspar K 300 mg tablet 1x1
Jika TIO < 30 mmHg, segera lakukan operasi katarak.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

Tinjauan pustaka
Anatomi Lensa

Lensa adalah suatu


struktur
bikonveks,
avaskular,
tidak
berwarna dan hampir
transparan sempurna

Fisiologi akuos humor

GLAUKOMA FAKOLITIK
Glaukoma diklasifikasikan menjadi sudut tebuka

dan sudut tertutup dan menjadi primer dan


sekunder.
Salah satu jenis glaucoma sudut terbuka
sekunder yaitu glaucoma fakolitik, yang
merupakan glaucoma akibat induksi lensa.
Glaukoma fakolitik merupakan glaucoma
inflamatorik yang disebabkan oleh kebocoran
protein lensa melalui kapsul lensa katarak matur
atau hipermatur.

Epidemiologi
Glaukoma menjadi penyebab kebuataan yang

paling penting seiring dengan bertambahnya


populasi dunia.
bulletin WHO 2004 menunjukkan bahwa
glaucoma kini menjadi penyebab kebutaan
secara global setelah katarak.
Riskesdas 2007 prevalensi nasional glaucoma
adalah 0,5 % dan prevalensi di Indonesia
sebesar 4,6 %.

Etiologi
Katarak matur ( terjadi kekeruhan sevcara

keseluruhan)
Katarak hipermatur (korteks mencair dan nucleus
mengambang secara bebas)
Katarak imatur yang mencair secara fokal (jarang
terjadi)
Lensa katarak yang dislokasi dalam vitreus.

Manifestasi klinis
terjadi pada orang tua
Adanya riwayat penglihatan kabur secara

perlahan
timbulnya onset akut nyeri yang tiba-tiba,
hyperemia konjungtiva
penurunan visus lebih lanjut.
Persepsi cahaya menjadi tidak akurat karena
kepadatan katarak.
Rasa sakit mengenai sekitar mata dan bisa pada
daerah belakang kepala.
Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala
gastrointestinal berupa mual dan muntah

patogenesis
Karena kerusakan kapsul lensa, substansi lensa

keluar
akan dirabsorbsi oleh serbukan fagosit atau
makrofag yang banyak di COA
serbukan ini
sedemikian banyaknya
menyumbat sudut COA
glaukoma.
Substansi lensa yang keluar
menumpuk
disudut COA terutama bagian kapsul lensa
Terjadi sumbatan
glaukoma.

Diagnosis
Anamnesis

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
1) Slit Lamp
2) Tonometri
3) Gonioskopi

Diagnosis banding
Glaukomo uveitis (glaukoma fakotoksik)

Glaukoma fakomorfik

Tatalaksana
Menurunkan TIO

Dengan menggunakan agen TIO baik sitemik maupun


topikal
Terapi kausatif pada glaukoma fakolitik adalah
menghilangkan penyebabnya yaitu katarak.
Medikamentosa
1) Penyekat beta (Timolol maleate 0.25% , betaxolol
0.25% dan 0.5%, levobunolol 0.25%)
2) Simpatomimetik (pilocarpine solusi 0.5-6% atau gel
4%, carbachol (0,75-3%).
3) Miotikum, midriatikum, sikloplegi
Konstriksi pupil merupakan tatalaksana glaukoma
primer sudut terbuka.
4) Inhibitor karbonik anhidrase (Supresi produksi
aqueous)

KATARAK
Katarak adalah kekeruhan pada lensa. Katarak

adalah suatu keadaan patologik lensa dimana


lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa
atau denaturasi protein lensa, ataupun terjadi
akibat keduanya

KLASIFIKASI KATARAK
Berdasarkan usia,
katarak dibagi
menjadi:
Katarak kongenital
Katarak juvenil
Katarak presenil
Katarak senil

Berdasarkan Lokasinya,
katarak dibagi
menjadi:
1. Katarak Kapsular
2. Katarak Subkapsular
3. Katarak kortikal
4. Katarak
Supranuklear .
5. Katarak Nuklear
6. Katarak Polar

Klasifikasi katarak berdasarkan


penyebab:
Degeneratif (Katarak Senilis)

Traumatika
Komplikasi akibat penyakit mata lainnya
Penyakit sistemik
Toksin akibat obat-obatan misalnya steroid,

klorpromazin, parasimpatomimetik local dan


amiodarone.
Radiasi
Herediter
sekunder

KATARAK SENILIS
Definisi
Katarak senilis adalah katarak primer yang terjadi
pada usia lebih dari 50 tahun.
Namun, jika disertai dengan penyakit lainnya seperti
diabetes mellitus yang akan terjadi lebih cepat.
Kedua mata dapat terlihat derajat kekeruhan yang
sama atau berbeda.

Epidemiologi Katarak senilis


Berbagai
studi cross-sectional melaporkan
prevalensi katarak pada individu berusia 65-74
tahun adalah sebanyak 50%; prevalensi ini
meningkat hingga 70% pada individu diatas 75
tahun.

Klasifikasi Katarak Senilis


Berdasarkan morfologisnya, yakni sebagai
berikut :
Katarak nuclear
Katarak kortikal
Katarak kupuliform
Berdasarkan maturitas yakni sebagai
berikut :
Stadium insipient
Stadium imatur
Stadium matur
Stadium hipermatur

Etiologi Katarak Senilis

Proses pada nukleus


Proses pada korteks

Patofisiologi
Epitel lensa diyakini mengalami perubahan yang
berkaitan dengan usia, khususnya penurunan
kepadatan sel epitel lensa dan penyimpangan
diferensiasi sel serat lensa.
Akumulasi penurunan epitel dalam skala kecil
dapat menyebabkan perubahan pembentukan
serat lensa dan homeostasis,
akhirnya menyebabkan penurunan transparansi
lensa

DIAGNOSIS
Stadium insipient
Stadium imatur
Stadium matur
Stadium hipermatur

Diagnose katarak menjadi sempurna, bila


disebutkan:
Klasifikasi menurut umur
Keadaan stadiumnya
Ada tidaknya intumesens

Penyulit Katarak
Glaucoma , melalui proses :
Fakotopik
Fakolitik
Fakotoksik

Dislokasi Lensa

Pengobatan non-bedah
Pengobatan penyebab dari katarak
Meningkatan kemampuan penglihatan pada
penderita katarak imatur dan katarak insipien
Pembedahan
Indikasi
Sosial
Medis
kosmetik

Intra Capsuler Cataract Ekstraksi


(ICCE)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan

seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh lensa


dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake
dan depindahkan dari mata melalui incisi korneal
superior yang lebar.
Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya
pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi

Extra Capsular Cataract Extraction


(ECCE)
Tindakan pembedahan pada lensa katarak

dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan


memecah atau merobek kapsul lensa anterior
sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat
keluar melalui robekan meninggalkan kapsul
posterior yang masih intak.

Phakoemulsifikasi
Prosedur

ekstrakapsular
dengan
mengemulsifikasi nukleus lensa menggunakan
gelombang ultrasonic (40.000 MHz) kemudian
diaspirasi.

Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat

kecil (sekitar 2-3mm) di kornea.


Getaran

ultrasonic akan digunakan untuk


menghancurkan katarak, selanjutnya mesin
PHACO akan menyedot massa katarak yang
telah hancur sampai bersih.

SICS
Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery

(SICS) yang merupakan teknik pembedahan


kecil.
Di negara yang berkembang, teknik ini lebih
dipilih karena biaya yang lebih murah

Pemasangan IOL
Indikasi pemasangan IOL:
Sebaliknya pemasangan IOL dilakukan pada
setiap
operasi
katarak,
kecuali
ada
kontraindikasinya.

komplikasi
Komplikasi preoperati

Komplikasi karena anastesi lokal


Komplikasi tindakan pembedahan
Intra operatif
Pasca operatif

Komplikasi yang berhubungan dengan

pemasangan IOL

PEMBAHASAN
Seorang perempuan (68 tahun) datang ke

poliklinik mata dengan keluhan mata kiri merah


dan terasa nyeri sejak 3 hari yang lalu. Nyeri
pada mata kiri dirasakan menjalar kekepala dan
semakin hari semakin parah. Pasien juga
mengeluhkan adanya mual dan muntah 2 hari
yang lalu.
1 tahun yang lalu, pasien mengeluh penglihatan
mata kiri dan kanan kabur. Pasien merasa seperti
melihat ada asap atau berkabut, mata kiri lebih
parah dibandingkan mata kanan. namun tidak
menganggu kesehariannya maka diabaikan oleh
pasien. Pasien juga sering mengeluhkan
matanya silau, agak berair. Gatal pada mata (-),
kotoran mata (-), melihat pelangi (-).

3 bulan terakhir pasien merasakan

penglihatannya pada mata kiri semakin kabur,


pandangan berasap dirasakan semakin tebal,
pasien mengaku hanya bisa melihat pada jarak 1
meter, sedangkan mata kanan dirasa lebih baik
dibanding mata kiri.
Riwayat DM dan HT tidak ada. Tidak ada
keluarga yang menderita katarak.

Pada pemeriksaan fisik, secara umum tampak

baik, dan status optalmologikus ditemui mata


kanan : VOD 6/60 dan VOS 1/300. Dari
pemeriksaan eksternal dann slit lamp didapatkan,
tampak injeksi ciliar pada mata kiri, kornea jernih,
pupil OD isokor bentuk bulat dengan diameter 3
mm, pupil OS middilatasi dengan diameter 5 mm.
lensa OD tampak keruh sebagian dan iris iris
shadow test (+), lensa OS tampak keruh
keseluruhan, iris iris shadow test (-).

Dari pemeriksaan TIO didapatkan pada pasien ini

hasilnya meningkat yaitu 43,4 mmHg dimana


kondisi tersebut mendukung untuk diagnosis
glaucoma.
Menurut tinjauan pustaka yang telah dibahas
diatas, kondisi yang dialami oleh pasien pada
mata kiri sesuai dengan gejala dari glaucoma
fakolitik sebagai komplikasi dari katarak mataur
ataupun hipermatur, dan mata kanan pasien
mengalami katarak imatur.
Dari anamnesis riwayat penyakit sistemik tidak
ada keluhan, akan tetapi masih diperlukan
pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk penatalaksanaan pada pasien ini adalah

Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tablet,


Asetazolamid 3x250 mg, Timolol 0,5 % ED 2x1
tts OS, Xitrol ED 4x1 tts OS, Aspar K 300 mg
tablet 1x1.
Dimana penggunaan obat-obatan pada pasien
ini telah sesuai dengan kepustakaan yang telah
dibahas sebelumnya.

Asam mefenamat berguna untuk mengurangi

nyeri,
asetazolamid berfungsi sebagai carbonic
anhidrase inhibitor yang menghambat
pembentukan aquos humor dan juga memberikan
efek dieresis.
Aspar K diberikan karena pasien telah
mendapatkan obat anti glaucoma yang bersifat
diuretic, jadi harus diberikan suplemen kalium
untuk menggantikan kalium yang kelouar dari
tubuh karena proses dieresis tersebut.
Xitrol adalah kortikosteroid yang berfungsi untuk
mengurangi nyeri pada mata dan juga
mengurangi inflamasi intraokuler

Terapi kausatif pada glaukoma fakolitik adalah

menghilangkan penyebabnya yaitu katarak

TERIMA
KASIH