0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
199 tayangan39 halaman

Diagnosa dan Penanganan Oftalmopati Graves

Oftalmopati Graves adalah kelainan autoimun yang menyerang jaringan orbital dan periorbital mata yang ditandai dengan edema, proptosis, dan retraksi kelopak atas. Patogenesisnya adalah adanya autoantibodi yang menyerang fibroblast orbital sehingga menimbulkan radang. Gejala klinis utamanya adalah proptosis, retraksi kelopak, dan miopati restriktif. Diagnosis didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penduk

Diunggah oleh

Gunung Pramudito
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
199 tayangan39 halaman

Diagnosa dan Penanganan Oftalmopati Graves

Oftalmopati Graves adalah kelainan autoimun yang menyerang jaringan orbital dan periorbital mata yang ditandai dengan edema, proptosis, dan retraksi kelopak atas. Patogenesisnya adalah adanya autoantibodi yang menyerang fibroblast orbital sehingga menimbulkan radang. Gejala klinis utamanya adalah proptosis, retraksi kelopak, dan miopati restriktif. Diagnosis didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penduk

Diunggah oleh

Gunung Pramudito
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Oftalmopati Graves

Pembimbing:
dr. Evita wulandari, Sp.M

Disusun oleh :
Gunung Pramudito
20164011001
Identitas Pasien

 Nama : Ny. j
 Usia : 46 th
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Pekerjaan : swasta
 Alamat : kuwojo 4/2 dadirejo
 Tanggal periksa : 21-12-2-17
Anamnesis
 Keluhan Utama :
Mata kiri terasa perih dan pegel
 Keluhan Tambahan:

Mata kiri terasa perih , silau jika melihat cahaya,


rongga mata terasa pegal, kadang terasa gatal.
Riwayat penyakit sekarang
 Kurang lebih Sejak 1 tahun, pasien merasa mata
kirinya gatel perih serta berair saat tidur, mata
menonjol, pandangan buram dengan gejala hipertiroid
( tremor, bb turun, berkeringan , jantung berdebar-
debar). Setelah ke dokter pasien didiagnosis
menderita “Grave oftalmopati”. Pasien juga rutin cek
lab dan ke dokter spesialis mata 2 bulan sekali.
 Keluhan sulit untuk menutup bola mata kiri diakui.
Keluhan hambatan pergerakan bola mata disangkal.
Riwayat keluar sekret (-), infeksi kornea (-). Riwayat
kontrasepsi hormonal diakui ( menggunakan KB
suntik). Riwayat Alergi disangkal.
Riwayat penyakit dahulu
 Riwayat Penyakit Tiroid (+)
 Riwayat mengalami hal seperti ini sebelumnya
disangkal
 Riwayat Alergi disangkal
 Riwayat hipertensi disangkal
 Riwayat diabetes mellitus disangkal
Riwayat penyakit keluarga
 Tidak ada anggota keluarga yang mengalami
keluhan serupa
 Riwayat alegi dalam keluarga disangkal
 Riwayat hipertensi dan DM tidak diketahui oleh
pasien
Riwayat personal sosial
 . Kebiasaan merokok dan minum alkohol
disangkal
Pemeriksaan fisik
 STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Nadi : 84 kali/menit
Frekuensi nafas : 20 kali/menit
Suhu : afebris
Kepala : normocephal
Leher : pembesaran KGB dan
tiroid tidak ada
Status Opthalmologis
Mata kanan
Mata kiri
Usulan pemeriksaan
 Pemeriksaan slit-lamp
 Pemeriksaan funduskopi
 Laboratorium darah rutin
 Pemeriksaan Lab TSH FT3 FT4
 CT scan orbita
 Pemeriksaan penglihatan berkala
Diagnosis

Diagnosis Diagnosis
Banding Kerja

• Selulitis orbita • Os Graves


• Tumor orbita Ophthalmopathy
• Graves
Ophthalmopathy
Penatalaksanaan
Farmakologis
• Karbonik anhidrase inhibitor tab 2x250 mg
• Tetes mata lubricants 6 dd os (untuk mencegah kornea yang terpajan menjadi
kering)
• Tetes mata beta bloker 2 dd os ( untuk menurunkan TIO dengan mengurangi
produksi cairan mata)

Non farmakologis
• Penggunaan kaca mata
• Menghindari stress
• Pasien sebaiknnya istirahat cukup dan menghidari aktifitas yang terlalu berat
• Edukasi untuk kontrol rutin meskipun keadaan dirasa membaik
Prognosis
 Quo ad Vitam : dubia ad malam
 Quo ad Functionam : dubia ad bonam
 Quo ad Sanationam : dubia ad bonam
 Quo ad Comesticam: dubia ad malam
TINJAUAN PUSTAKA

Graves OFTALMOPATI
GRAVES OFTALMOPATI
DEFINISI EPIDEMIOLOGI
Tiroid oftalmopati (Graves Mengenai penderita dengan
thyroid-associated atau usia 30- 50 tahun dan kasus
dysthyroid orbitopathy) adalah berat lebih sering dijumpai
suatu kelainan inflamasi pada pasien dengan usia di atas
autoimun yang menyerang
jaringan orbital dan periorbital 50 tahun
mata, dengan karakteristik
retraksi kelopak mata atas,
edema, eritem, konjungtivitis,
dan penonjolan mata
(proptosis)
PATOGENESIS
Autoantibodi menyerang fibroblast pada otot
mata, dan fibroblast tersebut dapat berubah menjadi
sel-sel lemak (adiposit). Sel-sel lemak dan
pembesaran otot dan menjadi radang. Vena-vena
terjepit, dan tidak dapat mengalirkan cairan,
menyebabkan edema.
Gambaran utama adalah distensi nyata otot-
otot okular akibat pengendapan mukopolisakarida.
Mukopolisakarida bersifat sangat higroskopik
sehingga meningkatkan kandungan air didalam
orbita.
Patofisiologi Oftalmopati
 Inflamasi otot ekstraokular, yaitu adanya infiltrasi selular
yang pleomorfik, berhubungan dengan peningkatan sekresi
glikosaminoglikan dan imbibisi osmotik air. Otot-otot
tersebut membesar hingga dapat mencapai 8 kali normal,
lalu menekan nervus optikus. Degenerasi dari serat otot
menyebabkan fibrosis, sehingga terjadi myopati restriktif
dan diplopia.
 Infiltrasi sel inflamasi, yaitu limfosit, sel plasma, makrofag,
dan sel mast dari jaringan intersisial, lemak orbital, dan
kelenjar lakrimal dengan penumpukan glikosaminoglikan
dan retensi cairan. Hal ini menyebabkan volume orbital
meningkat dan secara tidak langsung meningkatkan tekanan
intraorbital yang menyebabkan retensi cairan berlebih.
Manifestasi Klinis pada Mata
 keterlibatan jaringan lunak,
 retraksi kelopak,
 proptosis,
 neuropati optik,
 myopati restriktif.
Keterlibatan Jaringan Lunak
 Hiperemia epibulbar

 Periorbital swelling

 Keratokonjungtivitis limbus superior


Retraksi Kelopak
 Tanda Dalrymple

 Tanda Kocher

 Tanda Von Graefe

Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systematic approach. 7th ed. China: Elsevier. 2011. [ebook]
Proptosis
 Graves ophtalmopaty  60-80%
proptosis

 akibat pergeseran bola mata


kedepan akibat peningkatan
volume orbita yang dikelilingi
oleh struktur keras berupa tulang.

 Proptosis yang berat dapat


menyulitkan penutupan palpebra .
Myopati Restriktif
 Defek elevasi

 Defek abduksi
 Defek depresi

 Defek aduksi

Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systematic approach. 7th ed. China: Elsevier. 2011. [ebook]
 40% pasien.

 Pembesaran otot
ekstraokuler 
membatasi rotasi okuler.

 Diplopia disebabkan
karena fibrosis otot okuler
mencegah ekstensi penuh
ketika otot antagonisnya
berkontraksi.
Neuropati optik
 neuropaty optik  kehilangan penglihatan 
< 5 %.

 karena penekanan saraf optik oleh pembesaran


otot ekstraokuler pada apex orbital 
Disfungsi saraf optik  gangguan penglihatan
(kabur, redup, dan penglihatan gelap)
Perubahan pada mata (oftalmopati
Graves),
menurut the American Thyroid Association
diklasifikasikan sebagai berikut (dikenal dengan
singkatan NOSPECS):
Kelas Uraian:
 0 : No signs and symptoms. Tidak ada gejala dan tanda.

 1 : Only signs no symptoms. Hanya ada tanda tanpa


gejala (berupa upper lid retraction, stare, lid lag)
 2 : Soft tissue involvement with signs and symptoms.
Perubahan jaringan lunak orbita, dengan tanda dan
gejala seperti lakrimasi, fotofobia, dan pembengkakan
palpebra atau konjungtiva.
 3 : Proptosis (dapat dideteksi dengan Hertel
exphthalmometer).
 4 : Extraocular muscles involvement.
Keterlibatan otot-otot ekstra okular.
 5 : Corneal involvement. Perubahan pada
kornea (keratitis).
 6 : Sight loss due to optic nerve involvement.
Kebutaan (kerusakan nervus optikus)
DIAGNOSIS BANDING
 Selulitis orbita
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif jaringan ikat longgar intraorbita di
belakang septum orbita. Kuman penyebab biasanya adalah pneumokok, streptokok, atau
stafilokok dan berjalan akut. Bila terjadi akibat jamur dapat berjalan kronik. Masuknya kuman ini
ke dalam rongga mata dapat langsung melalui sinus paranasal, penyebaran melalui pembuluh
darah atau akibat trauma.
Selulitis orbita akan memberikan gejala demam, mata merah, kelopak mata edema,
mata proptosis, tajam penglihatan menurun. Tanda-tanda tersebut muncul pada bola mata yang
sakit saja sedangkan pada OG biasanya gejala muncul pada kedua mata. Pada pemeriksaan
laboratorium didapatkan leukositosis sebagai penanda infeksi sedangkan pada OG tidak, dan
pemeriksaan T3, T4 dan TSH dalam batas normal.
 Tumor orbita
Tumor orbita adalah tumor yang terletak di rongga orbita. Rongga orbital dibatasi
sebelah medial oleh tulang yang membentuk dinding luar sinus ethmoid dan sfenoid. Gejala klinis
terdiri atas proptosis yang biasanya unilateral sesuai tempat tumor menyerang. Palpasi bisa
menunjukkan massa yang menyebabkan distorsi kelopak atau bola mata. Ketajaman penglihatan
mungkin terganggu langsung akibat terkenanya saraf optik atau retina, atau tak langsung akibat
kerusakan vaskuler. Saat dilakukan pemeriksaan CT scan terlihat lokasi massa tumor orbita dan
dapat membedakan apakah proptosis disebabkan oleh karena pembesaran otot dan lemak seperti
pada OG atau karena adanya tumor. Pemeriksaan T3, T4 dan TSH juga pada kadar yang normal.
TATALAKSANA
Prinsip manajemen dan penatalaksanaan
oftalmopati Grave’s:
- T : Tobacco abstinence

- E : Euthyroidism must be achieved

- A : Artificial tears

- R : Referral to a specialist centre with


experience

•Bartalena L, Marcocci C, Tanda L, et al. Management of thyroid eye disease. Eur J Med Mol Imaging. 2002;29:S458-65.
 Keterlibatan jaringan lunak
 NSAID/steroid topikal maupun oral
 Lubrikan
 Lateral tarsorrhaphy

•Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systematic approach. 7th ed. China: Elsevier. 2011. [ebook]
 Retraksi kelopak dan miopati restriktif
 Mullerectomy merupakan tindakan pembedahan
dengan melakukan disinsersi otot Muller
 Reseksi retraktor kelopak bawah
 Injeksi botox
 Guanethidine 5% eyedropsGuanethidine 5%
eyedrops dapat digunakan untuk mengurangi
retraksi akibat reaksi berlebih dari otot Mulle

•Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systematic approach. 7th ed. China: Elsevier. 2011. [ebook]
 Injeksi botox :
 Bertujuan melumpuhkan
otot retraktor
 Bertahan 3-4 bulan
 Diberikan transcutaneus

•Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systematic approach. 7th ed. China: Elsevier. 2011. [ebook]
 Proptosis dan neuropati optik
 Terapi medikamentosa
 Steroid sistemik
 1-1,5 mg/kgBB prednisone p.o.
 500 mg metilprednisolone dalam 200-500 ml normal saline IV
 Radioterapi
 Ajuvan dari penggunaan steroid
 Perbaikan diharapkan dalam 6 minggu dengan perbaikan maks 4
bulan
 Terapi kombinasi
penggunaan Azothiaprine dengan prednisolon dosis rendah
lebih efektif daripada terapi tunggal

•Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systematic approach. 7th ed. China: Elsevier. 2011. [ebook]
 Dekompresi pembedahan
 Pengangkatan dinding lateral (Kronlein procedure)
 Pengangkatan dinding superior (Naffziger procedure)
 Pengangkatan dinding medial (Sewell procedure)
 Pengangkatan dasar rongga orbital (Walsh-Ogura
procedure)

•Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systematic approach. 7th ed. China: Elsevier. 2011. [ebook]
PROGNOSIS
Prognosis umumnya baik. Kebanyakan pasien tidak memerlukan
tindakan pembedahan. Faktor-faktor resiko untuk tiroid oftalmopati yang
progresif dan berat yang membuat prognosis menjadi buruk antara lain:

Jenis kelamin laki-laki
Usia lebih dari 50 tahun
Onset gejala cepat dibawah 3 bulan
Merokok

Diabetes
Hipertiroidisme berat atau tidak terkontrol
Kemunculan miksedema pretibia

Kadar kolesterol tinggi (hiperlipidemia)


Penyakit pembuluh darah perifer.
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai