0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
921 tayangan25 halaman

Trauma Mata Akibat Radiasi UV

Referat ini membahas tentang trauma mata fisik akibat radiasi sinar matahari yang meliputi pengesahan dari pembimbing, kata pengantar, daftar isi, dan bab pendahuluan yang membahas latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penulisan referat.

Diunggah oleh

soniahermawan1792
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
921 tayangan25 halaman

Trauma Mata Akibat Radiasi UV

Referat ini membahas tentang trauma mata fisik akibat radiasi sinar matahari yang meliputi pengesahan dari pembimbing, kata pengantar, daftar isi, dan bab pendahuluan yang membahas latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penulisan referat.

Diunggah oleh

soniahermawan1792
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LEMBAR PENGESAHAN

Judul referat Trauma Mata Fisik Akibat Radiasi Sinar Matahari telah
diperiksa dan disetujui sebagai salah satu tugas baca dalam rangka
menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter Muda di bagian Ilmu Kesehatan
Mata.

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Hadi Soesilo, Sp.M

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkah dan rahmatNya, kami bisa menyelesaikan referat dengan
topik Trauma Mata Fisik Akibat Radiasi Sinar Matahari dengan lancar.
Referat ini disusun sebagai salah satu tugas wajib untuk menyelesaikan
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Mata RSAL Dr Ramelan
Surabaya, dengan harapan dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu yang
bermanfaat bagi pengetahuan penulis maupun pembaca.
Dalam penulisan dan penyusunan referat ini tidak lepas dari
bantuan dan dukungan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan
terima kasih kepada:
a. dr. Hadi Soesilo, Sp.M, selaku Pembimbing Referat.
b. Para dokter Spesialis Mata RSAL dr Ramelan Surabaya.
c. Para perawat dan pegawai di Departemen Kesehatan Mata RSAL
dr. Ramelan Surabaya.
Kami menyadari bahwa referat yang kami susun ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun dari semua pihak
sangat diharapkan. Semoga referat ini dapat memberi manfaat.

Surabaya, Februari 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................i
KATA PENGANTAR.....................................................................................iii
DAFTAR ISI...iii
BAB I............................................................................................................1
PENDAHULUAN..........................................................................................1
1.1

Latar Belakang.............................................................................

1.2

Rumusan Masalah.......................................................................

1.3

Tujuan..........................................................................................

1.3.1 Tujuan Umum...............................................................................4


1.3.2 Tujuan Khusus.............................................................................4
BAB II...........................................................................................................5
TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................5
2.1. Anatomi Mata....................................................................................
2.2. Fisiologi Mata (Guyton, 2007)...........................................................
2.3. Trauma Mata Fisik............................................................................
BAB III........................................................................................................19
KESIMPULAN DAN SARAN......................................................................19
3.1

KESIMPULAN............................................................................

3.2

SARAN.......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ..21

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Mata merupakan salah satu panca indra yang sangat penting
untuk kehidupan manusia. Terlebih-lebih dengan majunya teknologi,
indera penglihatan yang baik merupakan kebutuhan yang tidak dapat
diabaikan. Mata merupakan bagian yang sangat peka. Walaupun mata
mempunyai sistem pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita,
kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks
memejam atau mengedip, mata masih sering mendapat trauma dari
dunia luar. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata
dan kelopak, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan
dapat

mengakibatkan

atau

memberikan

penyulit

sehingga

mengganggu fungsi penglihatan. Trauma pada mata memerlukan


perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih
berat yang akan mengakibatkan kebutaan. (Sidarta, 2012)
Kemajuan

mekanisasi

dan

teknik

terlebih-lebih

dengan

bertambah banyaknya kawasan industri, kecelakaan akibat pekerjaan


bertambah banyak pula, juga dengan bertambah ramainya lalu lintas,
kecelakaan di jalan raya bertambah pula, belum terhitung kecelakaan
akibat perkelahian, yang juga dapat mengenai mata. Pada anak-anak
kecelakaan mata biasanya terjadi akibat kecelakaan terhadap alat dari
permainan yang biasa dimainkan seperti panahan, ketapel, senapan
angin, tusukan dari gagang mainan dan sebagainya. (Vaughan, 2007)
Trauma okular adalah

penyebab kebutaan yang

cukup

signifikan, terutama pada golongan sosioekonomi rendah dan di


negara-negara berkembang. Kejadian trauma okular dialami oleh pria
3 sampai 5 kali lebih banyak daripada wanita. Trauma pada mata
1

dapat mengenai jaringan di bawah ini secara terpisah atau menjadi


gabungan trauma jaringan mata. Trauma dapat mengenai jaringan
mata: palpebrae, konjungtiva, cornea, uvea, lensa, retina, papil saraf
optik, dan orbita. Trauma mata merupakan keadaan gawat darurat
pada mata. (Klein dkk, 2012)
Bentuk kelainan pada mata yang terkena trauma (trauma oculi)
bisa hanya berupa kelainan ringan saja sampai kebutaan. Trauma
oculi dapat dibedakan atas trauma tumpul, trauma akibat benda tajam
atau trauma tembus, ataukah trauma fisis. Kelainan yang diakibatkan
oleh trauma mata sesuai dengan berat ringannya serta jenis trauma itu
sendiri yang dapat menyerang semua organ struktural mata sehingga
menyebabkan gangguan fisiologis yang reversibel ataupun nonireversibel. Trauma oculi dapat menyebabkan perdarahan, adanya
laserasi, perforasi, masuknya benda asing ke dalam bola mata,
kelumpuhan saraf, ataukah atrofi dari struktur jaringan bola mata.
Jaman sekarang ini mulai banyak insiden trauma oculi akibat
sinar matahari oleh karena sinar ultravioletnya. Mata memiliki
beberapa mekanisme untuk proteksi organ dalam sensitifnya terhadap
efek bahaya dari sinar matahari, antara lain alis, bulu mata, namun, ini
sifatnya terbatas dalam hal proteksi terhadap UV pada suatu kondisi
ekstrim seperti refleksi sinar UV dari salju, air, atau pasir. Karena
keterbatasan yang dipadu dengan paparan ekstrim terhadap sinar UV,
maka terjadi peningkatan insiden penyakit akibat paparan sinar UV,
seperti photokeratitis dan katarak. (WHO, 2001)
Anamnesis dan pemeriksaan fisik oftamologi yang dilakukan
secara teliti untuk mengetahui penyebab, jenis trauma yang terjadi,
serta kelainan yang disebabkan yang akan menuntun kita ke arah
diagnosis dan penentuan langkah selanjutnya. Selain itu dapat pula
dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti: slit lamp, oftalmoskopi
direk maun indirek, tes fluoresensi, tonometri, USG, maupun CT-scan.
2

Penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya


trauma ataupun jenis trauma itu sendiri. (Vaughan, 2007)
1.2

Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari trauma mata fisik?
2. Apa definisi dan macam sinar UV?
3. Apa saja penyakit yang dapat ditimbulkan akibat paparan sinar
UV?
4. Apa itu photokeratitis?
5. Apa etiologi dari photokeratitis?
6. Apa saja gejala dan tanda dari photokeratitis
7. Bagaimana diagnosis photokeratitis?
8. Bagaimana cara mencegah terjadinya photokeratitis?
9. Bagaimana penatalaksanaan photokeratitis?
10. Apa definisi katarak akibat sinar UV?
11. Bagaimana epidemiologi dari Katarak akibat sinar UV?
12. Apa etiologi dari katarak akibat sinar UV?
13. Apa gejala dan tanda dari katarak akibat sinar UV?
14. Bagaimana mendiagnosa katarak akibat sinar UV?
15. Bagaimana penatalaksanaan katarak akibat sinar UV?
16. Bagaimana preventif katarak akibat sinar UV?
17. Apa definisi kerusakan makula akibat sinar UV?

18. Bagaimana epidemiologi kerusakan makula akibat sinar UV?


19. Bagaimana patofisiologi kerusakan makula akibat sinar UV?
20. Apa gejala dan tanda kerusakan makula akibat sinar UV?
21. Bagaimana diagnose kerusakan makula akibat sinar UV?
22. Bagaimana penatalaksanaan kerusakan makula?
23. Bagaimana preventif kerusakan makula?
1.3

Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mempersiapkan calon dokter untuk mengenali dan
mendiagnosa

trauma

fisik

akibat

sinar

matahari

dan

penanganannya
1.3.2 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui seluk beluk sinar ultraviolet dan
penyakit apa saja yang dapat ditimbulkan serta penanganannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Mata

2.2. Fisiologi Mata (Guyton, 2007)


Fungsi Mata antara lain:
1. Kornea
Bagian ini adalah bagian terluar mata,kornea sendiri memiliki
karakteristik kuat dan tembus terhadap cahaya. Fungsi dari kornea
sendiri adalah menerima serta meneruskan cahaya yang masuk
kemata dan memberikan perlindungan terhadap bagian sensitive mata
yang ada di bawahnya.cahaya yang diterima kornea akan diteruskan ke
bagian dalam mata yang kemudian berakhir di retina.
2. Aqueous humor
Adalah lensa mata dan cairan kornea, fungsinya adalah membiaskan
cahaya kebagian dalam mata

3. Lensa kristalin
Lensa mata ini mempunyai peran yang penting yaitu mengatur letak
bayangan supaya jatuh tepat di bintik kuning. Lensa mata mempunyai
tugas untuk memfokuskan
4. Iris
Selaput ini di bagian tengahnya membentuk celah lingkaran. Fungsi
dari iris adalah memberikan warna mata, dan mengatur perbesaran
pupil (kondisi ini dilakukan untuk membatasi banyaknya jumlah cahaya
yang dapat masuk ke iris). Letaknya sendiri berada di tengah bola
mata dan tepat di belakang kornea. Jenis ras atau bangsa menjadi
faktor yang mempengaruhi warna iris yang beda-beda.
5. Pupil
Adalah celah yang terbentuk akibat iris, fungsi dari celah ini adalah
tempat cahaya masuk. Fungsi dari pupil adalah mengatur jumlah
cahaya yang masuk. Fungsinya ini hampir sama dengan diagfragma
pada kamera atau alat potret. Pupil ini berbentuk seperti celah bulat
yang letaknya berada di tengah iris.
6. Otot mata
Otot ini berfungsi untuk mengatur besar dan kecilnya lensa, selain itu
juga berfungsi sebagai penyangga lensa kristalin.
7. Vitreous humor
Bentuknya seperti cairan bening dan biasanya mengisi rongga mata.
Fungsinya meneruskan cahaya dari lensa menuju ke retina.
8. Retina
Lapisan yang terdapat di bagian belakang dinding bola mata dimana
disitu tempat bayangan akan dibentuk. Istilah lain dari bagian ini
adalah selaput jala, dimana bagian ini adalah bagian yang peka
terhadap cahaya. Terlebih pada bintik kuning, retina sendiri memiliki
fungsi untuk menangkap cahaya dan kemudian meneruskannya

sampai ke saraf mata. Kemudian cahaya akan diterima di ujung-ujung


saraf yang ada di bagian selaput jala.
9. Bintik kuning
Lengkungan yang terdapat di retina dan merupakan bagian yang
paling peka.
10. Syaraf optik
Syaraf ini berfungsi untuk meneruskan rangsang cahaya yang datang
dari retina menuju ke otak. Tugasnya sendiri memang untuk
meneruskan rangsang cahaya supaya sampai ke otak. Saraf optic
membawa semua informasi yang akan diproses di dalam otak. Pada
akhirnya kita dapat melihat suatu objek atau benda.
2.3. Trauma Mata Fisik
2.3.1. Definisi (WHO, 2015)
Trauma pada mata yang disebabkan antara lain oleh radiasi
cahaya UV dan listrik.
2.3.2. Trauma mata fisik akibat sinar UV (WHO, 2015)
Radiasi Ultraviolet terdiri dari sinar dengan energi tinggi yang
berasal dari matahari yang sifatnya invisible. Lebih dari 99%
radiasi UV diabsorpsi oleh struktur mata anterior, meskipun
beberapa dari itu bisa mencapai retina yang peka terhadap cahaya.
Adanya radiasi UV dalam sinar matahari tidak berguna untuk
penglihatan. Ada beberapa alasan yang patut dipertimbangkan
dimana absorpsi UV oleh mata bisa berkontribusi terhadap
perubahan terkait usia pada mata dan beberapa penyakit mata
serius.
Ultraviolet adalah bagian dari spectrum radiasi elektromagnetik
dengan panjang gelombang mulai 100nm hingga 400nm. Ada 3
tipe atau region yaitu:
1. UVA 315-400nm
Radiasi UVA mudah ditransmisikan melalui udara dan gelas.
Bisa penetrasi epidermis dan anterior media oculi. Radiasi UVA
ini memiliki energi lebih rendah, namun penetrasi lebih dalam
dan bisa menyebabkan injuri. Sinar matahari mengandung lebih
7

banyak UVA daripada UVB. Efek biologis terhadap paparan


yang melalui kornea lalu lensa dan paparan yang tinggi
berkontribusi terhadap formasi katarak dengan membuat
oksidan yang menyebabkan percepatan formasi katarak yang
berakibat kaburnya visus dan kebutaan pada akhirnya.
2. UVB 280-315nm
Radiasi UVB dan UVC ditransmisikan melalui udara, namun
diabsorpsi oleh gelas. Panjang gelombang ini semua diabsorpsi
melalui lapisan ozon. Radiasi UVB yang mencapai bumi ini
sangatlah berbahaya untuk epidermis dan kornea karena
kebanyakan sinar UVB diabsorpsi oleh kornea dan lensa mata,
sehingga bisa merusak jaringan ini namun tidak bagi retina.
Bagaimanapun, retina tetap bisa terusak bila terekspose
dengan UVB. Efek biologisnya adalah bila terkena paparan
terhadap sinar las yang bisa menyebabkan terbakarnya kornea.
3. UVC 100-280nm
Radiasi UVC hampir seluruhnya diabsorpsi oleh lapisan ozon
dan tidak berefek terhadap mata maupun kulit. Namun radiasi
ini bisa menjadi berbahaya bagi epidermis dan kornea ketika
bersamaan dalam sumber komersial seperti lampu merkuri atau
germicidal. Paparan kronik terhadap intensitas akut dari UVC
bisa menyebabkan formasi katarak dan kerusakan retina.
a. Fotokeratitis atau Keratitis Punctata (Brozen, 2014)
Definisi
Fotokeratitis atau keratitis punctata adalah kondisi mata
nyeri yang disebabkan oleh paparan UV terhadap mata
yang tidak terproteksi dengan baik, baik dari sumber natural
(cahaya intens pada ketinggian yang cukup tinggi) atau
sumber artificial (las listrik). Fotokeratitis juga dikenal
sebagai bake eye, corneal flash burns, flash burns,
niphablepsia, atau keratoconjungtivitis photoelectrica.
Kondisi ini bisa mengenai kornea dan konjungtiva, dan
biasanya tidak disadari hingga beberapa jam setelah
paparan.
Etiologi

Paparan apapun yang intens terhadap sinar UV bisa


mengarah pada keratitis punctata. Penyebab yang umum
adalah pengelas yang tidak menggunakan proteksi mata,
seperti helm dan penutup mata saat bekerja. Ini dinamakan
sebagai arc eye, dimana fotokeratitis akibat paparan
terhadap sinar matahari yang terefleksi dari es dan salju,
khususnya saat elevasi , yang dinamakan snow blindness.
Ini juga bisa terjadi saat menggunakan alat tanning (tanning
beds) tanpa pemakaian pelindung mata yang baik. Sumber
natural termasuk cahaya sinar matahari yang terang yang
terefleksi dari salju atau es, atau yang lebih jarang, dari laut
atau pasir. Salju merefleksi sekitar 80% dari radiasi UV
dibandingkan dengan pantai yang kering dan berpasir (15%)
atau busa di laut (25%).
Sign and Symptoms
Gejala antara lain peningkatan air mata, fotofobia, kontriksi
pupil, dan nyeri, perasaan seperti ada pasir di mata.
Diagnosis
Diagnosis yaitu dengan cara fluorescein dye staining yang
menunjukkan adanya area punctata dibawah cahaya
ultraviolet.
Preventif
Injuri bisa dicegah dengan memakai proteksi mata yang
menghambat hampir seluruh radiasi ultraviolet, seperti
menggunakan kacamata saat mengelas dengan saringan
yang baik, seperti helm untuk mengelas, kacamata yang
cukup untuk proteksi ultraviolet, atau snow googles yang
baik.
Manajemen
Manajemen kasus ini yaitu dengan menghindari sumber
ultraviolet, melindungi kornea, dan administrasi dari
analgesik.
Penanganan pertama yaitu dengan membilas mata yang
tersuspek dengan fotokeratitis dengan air bersih atau larutan
saline.
Nyeri akan secara sementara ditingkatkan dengan tetes
mata anestesi untuk pemeriksaan; namun, ini tidak boleh
digunakan untuk treatment secara kontinu sebagai anestesi
9

mata mengintervensi penyebuhan kornea, dan bisa


menyebabkan ulser kornea atau bahkan kebutaan.
Kompres dingin dan basah pada mata dan air mata buatan
bisa membantu gejala local ketika gejala timbul. NSAID tetes
mata secara luas digunakan untuk mengurangi inflamasi
dan nyeri pada mata, namun belum diuji dengan trial yang
paten. Medikasi nyeri sistemik diberikan bila nyeri parah.
Penyembuhan biasanya cepat (24-72jam) jika sumber injuri
dihilangkan. Peghindaran injuri selanjutnya dengan
menghindari isolasi di kamar gelap, melepas lensa kontakm
tidak mengusap mata, serta sunglasses hingga gejala
membaik.
b. Katarak akibat sinar UV
Definisi (Taylor, 1988)
Katarak adalah kekeruhan lensa. Katarak memiliki derajat
kepadatan yang bervariasi dan dapat disebabkan oleh
berbagai hal, salah satunya adalah paparan terhadap sinar
UV dalam kualitas dan kuantitas yang cukup tinggi.
Epidemiologi
- Katarak merupakan penyebab kebutaan nomer 1,
dilaporkan terjadi pada 16juta orang di seluruh dunia
-

3 juta kasus katarak di seluruh dunia dapat disebabkan


oleh sinar matahari

80% dari paparan sinar UV seseorang selama seumur


hidup diterima sebelum usia 18 tahun

Etiologi (WHO, 2014)


Sinar dengan panjang gelombang besar yaitu gelombang
radio dan inframerah mempunyai frekuensi dan tingkat
energi yang lebih rendah.Sedangkan sinar dengan panjang
gelombang kecil seperti sinar ultraviolet, sinar x atau sinar
rontgen dan sinar gamma mempunyai frekuensi tingkat
energi yang lebih tinggi.

10

Radiasi ultraviolet pada sinar matahari dikelompokkan


menjadi dua yaitu UV-B (280-315 nanometer) dan UV-A
(315-400 nanometer). UV-B memiliki panjang gelombang
yang lebih pendek karena itu lebih berbahaya.UV-B
kebanyakkan diabsorbsi oleh kornea dan lensa. UV-A
memiliki energy yang lebih rendah tetapi penetrasinya lebih
dalam pada mata. Sinar matahari mengandung UV-A lebih
banyak daripada UV-B. Radiasi ultraviolet terutama UV-B
dapat menyebabkan katarak.
Sign and Symptoms
Pasien katarak biasanya

mengeluhkan

pandangannya

kabur, bertambah buruk jika melihat obyek yang jauh,


penglihatannya ganda. Selain itu pasien juga sering
mengeluhkan silau, penglihatan kurang baik jika melihat
dalam keadaan terang. (Sidarta, 2014).
1. Penurunan visus
Pasien pertama kali akan merasa penglihatannya kabur
selanjutnya pasien akan mengalami penurunan visus. Jenis
katarak yang berbeda memiliki tajam penglihatan yang
berbeda pula. Kekeruhan di axial (nucleus atau area
subkapsular sentral) menyebabkan penurunan visus yang
2.
3.
4.
5.

lebih berat daripada kekeruhan di perifer.(Bradford, 2004).


Silau. ( Sidarta, 2014)
Unilateral
Usia muda
Diplopia monokuler
Pada pasien akan dikeluhkan adanya perbedaan gambar
objek yang dilihat, ini dikarenakan perubahan pada nucleus
lensa yang memiliki indeks refraksi berbeda akibat
perubahan pada stadium katarak. (Bradford, 2004).
Diagnosis
a. Anamnesa
-

Riwayat terpapar sinar matahari langsung

Riwayat pekerjaan dan sosial


11

Riwayat keadaan mata sebelumnya, apa ada riwayat


glaucoma, operasi, ablation retina, atau penyakit mata
lainnya

Riwayat mengenai penyakit dahulu (misal diabetes,


hipertensi)

Keluhan mengenai penglihatan, Lapangan pandang,


nyeri pada satu atau dua mata (RI Cho, 2009)

b. Pemeriksaan fisik
-

Pemeriksaan visus

Pemeriksaan pupil

Ukuran, bentuk, simetris, reaksi terhadap cahaya


Pemeriksaan Oculi Externa

Pemeriksaan segmen mata anterior


Pemeriksaan
segmen
anterior
mata
dilakukan
menggunakan slit lamp untuk dapat mendeteksi jejas
pada konjungtiva, sclera, kornea, iris, lensa. Pada kornea
dan konjungtiva dilihat apa terdapat injeksi, pendarahan,
laserasi, kemosis. Inspeksi iris (warna, defek serta
apakah bentuknya irregular). Pada lensa
dapat
ditemukan subluksasi, dislokasi, pembengkakan, katarak.
(RI Cho, 2009).

Penatalaksanaan
a. Teknik pembedahan :

ICCE (Intracapsular Cataract Extraction)


Prosedur ini mengeluarkan massa lensa beserta kapsulnya.
ICCE dilakukan jika ada dislokasi lensa ke anterior dan
zonula dalam keadaan tidak stabil.Namun cara ini mulai
ditinggalkan karena mempunyai komplikasi yang relatif tinggi
oleh karena lebar insisi yang dibutuhkan cukup lebar.

12

ECCE (Extracapsular Cataract Extraction)


Pada prosedur ini, massa lensa dikeluarkan dengan
merobek kapsul bagian anterior dan meninggalkan kapsul
bagian posterior. Kapsul bagian posterior memungkinkan
menjadi tempat implantasi lensa buatan. ECCE dilakukan
jika kapsul lensa masih intak

dan masih disangga oleh

zonula dengan baik.

Gambar 2.10

Teknik extracapsular cataract extraction

MSICS (Manual Small Incision Cataract Surgery)


Teknik ini adalah lanjutan dari ECCE, dimana seluruh lensa
dikeluarkan dari mata melalui scleral tunnel. Keuntungan
dari teknik ini adalah tidak dibutuhkannya penjahitan.

Phacoemulsification (Phaco)
Teknik ini paling sering digunakan di negara berkembang.
Dimana membutuhkan alat khusus untuk mengemulsifikasi
lensa. Setelah di emulsifikasi, lensa akan mudah di aspirasi.
Keuntungannya tentu lebar insisi lebih pendek. (Khurana,
2007).

13

Gambar 2.11Teknikpembedahankatarakphacoemulsification
b. Tipe lensa intraokuler (IOL)

Anterior chamber IOL


Lensa tipe ini diletakkan di depan iris dan disangga di sudut
bilik mata depan. Contoh lensa tipe ini adalah Kelman
Multiflex.

Iris supported lenses


Lensa tipe ini difiksasi pada iris. Contoh lensa tipe ini adalah
Singh and Worsts iris claw lens.

Posterior chamber lenses


Lensa tipe ini diletakkan dibelakang iris dan disangga pada
sulcus siliaris. Lensa tipe ini terdiri dari beberapa macam
yaitu:

Rigid : Penempatan lensa tipe ini membutuhkan insisi yang


lebih besar daripada diameter lensa (3mm). Keuntungan
adalah tersedia secara banyak dan relatif lebih murah.

Flexible : Lensa tipe ini bisa dilipat dengan forceps atau


injector, sehingga insisi yang dilakukan lebih kecil. Terbuat
dari silikon, atau akrilik, atau hidrogel. (Khurana, 2007).

c. Komplikasi operasi

14

Ruptur dari kapsul posterior : komplikasi ini bersifat serius


karena dapat terjadi resiko kehilangan vitreous body, yang
bisa menyebabkan perdarahan dan lepasnya retina.

Suprachoroidal Haemorrhage

Endophtalmitis

d. Prognosis pembedahan
Baik, pada 90% pasien yang menjalani pembedahan
menunjukkan peningkatan visus secara signifikan.
Preventif
katarak secara umum tidak dapat dicegah karena penyebab
utama terjadinya katarak adalah faktor usia, namun dapat
diakukan pencegahan pada hal-hal yang memperberat
seperti mengontrol penyakit metabolik, mencegah paparan
langsung terhadap sinar ultraviolet dengan menggunakan
kacamata

gelap

dan

sebagainya.

Pemberian

intake

antioksidan (seperti asam vitamin a,c dan e) secara teori


bermanfaat.
Bagi perokok, diusahakan berhenti merokok karena rokok
memproduksi radikal bebas yang meningkatkan resiko
katarak. Selanjutnya, juga dapat mengkonsumsi makanan
bergizi yang seimbang. Memperbanyak porsi buah dan
sayuran.

Lindungi

juga

diri

dari

penyakit

diabetes.

(Mahendra, 2014)

c. Kerusakan Makula akibat sinar matahari langsung


Definisi

15

Trauma yang terjadi akibat sinar infra merah pada saat


menatap gerhana matahari. Kerusakan ini dapat terjadi
akibat terkonsentrasinya sinar infra merah terlihat. Kaca
yang

mencair

seperti

yang

ditemukan

di

tempat

pemanggangan kaca akan mengeluakan sinar infra merah


pada saat menatap gerhana matahari.
Etiologi
Radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sinar ultraviolet
Epidemiologi
Penelitian pada 1999, setelah fenomena gerhana matahari
di Eropa. Dari kelompok yang mengalami gejala gangguan
itu, 20 pasien melaporkan nyeri pada mata, 20 lainnya
mengalami masalah penglihatan. Tujuh bulan kemudian, 12
orang yang mengalami masalah penglihatan dapat melihat
secara normal meski masih melihat bayangan berbentuk
sabit dalam cahaya redup.
Patofisiologi
Paparan

sinar

matahari

berlebih

pada

mata

bisa

menyebabkan cedera pada mata yang disebut retinopathy.


Retinopathy terjadi saat sel-sel pendeteksi cahaya dalam
retina mata mengalami kerusakan akibat terlalu banyak
cahaya intens yang masuk mata. Cedera mata ini biasanya
tidak disertai oleh rasa sakit, sehingga banyak orang yang
tidak sadar saat melihat matahari mata mereka mengalami
cedera. Retinopathy lebih mudah terjadi saat seseorang
melihat gerhana matahari, bahkan bisa menyebabkan
kebutaan. Ketika keadaan mulai gelap akibat matahari
semakin tertutup oleh bulan, pupil secara otomatis akan
membuka lebih lebar dan memungkinkan lebih banyak

16

cahaya masuk agar mata bisa melihat. Saat hal tersebut


bisa membuat mata menjadi tidak sensitif.
Saat matahari tiba-tiba mulai muncul kembali, pupil mata
masih dalam posisi terbuka lebar dan sulit berkedip.
Sehingga sinar matahari yang intens dalam jumlah besar
akan langsung 'menghantam' retina dan menyebabkan
retinopathy, bahkan kebutaan bila orang tersebut tidak
segera berpaling dari matahari.
Sign and Symptoms
1. Nyeri pada mata
2. Visus berkurang
3. Skotoma sentral
4. Afterimage negatif (biasanya setelah melihat matahari)
5. Silau
6. gatal dan berair
Diagnosa
Anamnesis
-

Kejadian secara terperinci

Mekanisme terjadinya luka

onset, tempat kejadian, riwayat oftalmologis sebelumnya

Penglihatan sebelum kejadian trauma

Pengobatan mata yang pernah/sedang dijalani


Pemeriksaan Fisik
o Inspeksi kepala, kulit kepala, wajah, jaringan periorbital,
kelopak
o Inspeksi bola mata tanpa pembesaran
o

Palpasi kepala, wajah, jaringan lunak periorbital

17

o Pemeriksaan tajam penglihatan dan pupil (RAPD)


o Pemeriksaan gerakan mata
o Slit lamp
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan oftalmoskopi : spot kecil pada/sekitar fovea,
dikelilingi edema makula
2. Fotokeratitis= flash burn, snow blindness, welders eye,
pada pemeriksaan nyeri (Jika sangat nyeri digunakan
anestetik topical sebelum pemeriksaan)
mata

berair,

tidak

nyaman

pada

cahaya

terang,

blefarospasme
Pemeriksaan Fluorescein : punctat
Penatalaksanaan
-

Nyeri : kompres es dan pemberian morphin dengan dosis


0,05mg/kg IV

Salep

antibiotic sistemik dan

terbentuknya

jaringan

parut

di

local

untuk mencegah

macula

dan

untuk

menghentikan radang
Pencegahan
Untuk melihat gerhana matahari dengan mata telanjang,
yakni memakai kacamata las atau kacamata dengan kaca
yang lebih gelap.

18

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1
KESIMPULAN
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak sengaja yang
menimbulkan perlukaan pada mata dan merupakan kasus gawat darurat
mata. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau
menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata.
Trauma mata adalah kondisi mata yang mengalami trauma (rudapaksa) baik
oleh trauma fisis, seperti sinar ultraviolet, gerhana matahari , dan listrik yang
dapat menimbulkan keratitis, katarak. Trauma mata dapat disebabkan oleh
beberapa hal, diantaranya :
1. Trauma fisis akibat sinar ultraviolet terdiri dari sinar dengan energi
tinggi yang berasal dari matahari yang sifatnya invisible.
Fotokeratitis atau keratitis punctata adalah kondisi mata nyeri yang
disebabkan oleh paparan UV terhadap mata yang tidak terproteksi
dengan baik, baik dari sumber natural (cahaya intens pada
ketinggian yang cukup tinggi) atau sumber artificial (las listrik).
Fotokeratitis juga dikenal sebagai bake eye, corneal flash burns,
flash burns, niphablepsia, atau keratoconjungtivitis photoelectrica.
Kondisi ini bisa mengenai kornea dan konjungtiva, dan biasanya
tidak disadari hingga beberapa jam setelah paparan.
2. Trauma fisis akibat gerhana matahari yaitu trauma yang terjadi
akibat sinar infra merah pada saat menatap gerhana matahari.
Cedera ini mengakibatkan Retinopathy lebih mudah terjadi saat
seseorang melihat gerhana matahari, bahkan bisa menyebabkan
kebutaan. Ketika keadaan mulai gelap akibat matahari semakin
tertutup oleh bulan, pupil secara otomatis akan membuka lebih
lebar dan memungkinkan lebih banyak cahaya masuk agar mata

19

bisa melihat. Saat hal tersebut bisa membuat mata menjadi tidak
sensitif.
3.2

SARAN
1. Untuk mengurangi kebutaan akibat trauma mata sangat diperlukan
adanya pengetahuan tentang pentingnya untuk menjaga dan
mencegah

terjadinya

kecelakaan

saat

bekerja

dengan

menggunakan alat alat pelindung untuk keselamatan kerja


umumnya dan memelihara serta mencegah terjadinya trauma
khususnya. Hal ini dapat dilakukan dengn menyelenggarakan
penyuluhan di posyandu, puskesmas, atau tempat tempat
kesehatan lainnya.
2. Perlunya menambah dan menempatkan tenaga-tenaga ahli, seperti
dokter spesialis mata dan perawat mahir, agar penduduk setempat
tidak harus terlalu jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
mata yang bukan kompetensi dokter umum.
3. Masih diperlukan adanya peningkatan faktor sarana dan prasarana
disetiap daerah, agar dapat melayani kebutuhan masyarakat di
bidang kesehatan mata.
4. Pelayanan dan pengobatan gratis, masih sangat diperlukan oleh
masyarakat setempat, mengingat penghasilan masyarakat tersebut
masih digolongkan dengan penghasilan rendah.

20

DAFTAR PUSTAKA
Brozen,

Reed,

2014,

Ultraviolet

Keratitis

(http://emedicine.medscape.com/article/799025-overview)
Dolin, Paul J, 1994, Ultraviolet Radiation and Catharact : a Review of the
Epidemiology

Evidence

(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC504827/?page=1)
Eye Anatomy, Accessed on October 2014 (http://www.harvard-wm.org/thebody-of-human-eyes/human-eye-anatomy-retina/)
Ilyas, Sidarta, 2004,Kelainan Refraksi dan Koreksi Penglihatan,Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Khurana, A.K., 2007, Comprehensive Ophthalmology, 4thEd, New Age
International, New Delhi
Lusby,
Franklin
W,
2014,
Corneal
Injury,
(http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001017.htm)

MedlinePlus

McCarthy, Cathleen, 2002, A Review of the Epidemiologic Evidence Linking


UV
Radiation
and
Catharact
(http://books.google.co.id/books?
hl=en&lr=&id=PqL57IpnMBgC&oi=fnd&pg=PA21&dq=management+cataract+
ultraviolet+exposure&ots=kLjV0Ti5y3&sig=Vee2HkdhvRjyO1kcdsX_jr6JJiQ&r
edir_esc=y#v=onepage&q=management%20cataract%20ultraviolet
%20exposure&f=false)
Taylor, Hugh R dkk, 1988, Effect of Ultraviolet Radiation on Catharact
Formation (http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM198812013192201)
Vaughan, D.G., Asbury T, Riordan, Eva P., 2007, General Ophthalmology .
17th edition,The McGraw-Hill Companies.
Bramy, Biantoro, 2014, Apakah Gerhana Matahari bisa buat buta?
(http://Apakah%20tonton%20gerhana%20matahari%20bisa%20buat
%20mata%20buta%20%20%20%20merdeka.com.html)

21

Fitria, Aldi, 2009, Tesis Prevalensi kebutaan akibat trauma mata di kabupaten
Tapanuli Selatan.
Kartono, Mohamad, 2012, etiologi trauma mata (http://Google Buku.co.id
file:///F:/Documents/Pertolongan%20Pertama%20-%20Kartono%20Mohamad
%20-%20Google%20Buku.html)

22

Anda mungkin juga menyukai