Anda di halaman 1dari 16

PEDOMAN

RAWAT GABUNG

RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BANGLI


JALAN BRIGJEN NGURAH RAI NO 99X BANGLI
TELP/FAX. (0366) 91521, 91002
KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BANGLI
NOMOR ...........TAHUN 2014
TENTANG
PEMBERLAKUAN BUKU PEDOMAN
PENYELENGGARAAN RAWAT GABUNG DI RUMAH SAKIT
DI RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BANGLI TAHUN 2014
DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BANGLI,
Menimbang

: a. bahwa Rumah Sakit Umum Kabupaten Bangli selalu berupaya untuk


meningkatkan kualitas pelayanan sesuai dengan standar pelayanan
kesehatan dan harapan masyarakat;
b. bahwa dalam pelaksanaan kegiatan Rawat Rabung di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Bangli diperlukan Pedoman Rawat Gabung
c. bahwa sehubungan dengan pertimbangan pada huruf a dan b di atas,
dipandang perlu menetapkan memberlakukan Pedoman Rawat Gabung di
Rumah Sakit Umum Kabupaten Bangli;

Mengingat

: 1. Undang undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 12 Tahun
2008 tentang perubahan kedua atas undang undang Nomor 32 tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia


Nomor 4844);
3. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ( Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
4. Undang undang nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit ( Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2001 tentang
Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit daerah;
6. Undang undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran (
Lembaran Negara Rahun 2004 nomor 116 );
7. Undang undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ( Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5063 );
8. Undang undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit ( Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5072 )
9.Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis;

Nomor

10. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (


Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637 );
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 012 Tahun 2012
tentang Akreditasi Rumah Sakit;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691 /
MENKES / PER /VIII/ 2011 Tentang Keselamatan Pasien rumah Sakit;
13.Peraturan
Menteri
kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
290/MENKES/PER/III/2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran;
14.keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
129/MENKES/SK/II/2008 tentang standar Pelayanan Minimal Rumah
Sakit ;

MEMUTUSKAN
Menetapkan

KESATU

:Memberlakukan Pedoman Rawat Gabung di Rumah Sakit


Umum Kabupaten Bangli , diterbitkan oleh Tim Rawat
Gabung Rumah Sakit Umum Kabupaten Bangli;

KEDUA

:Kepala Tim Rawat Gabung bertanggung jawab dalam


mensosialisasikan Pedoman Rawat Gabung ke unit-unit kerja
terkait dan melaporkannya kepada Direktur Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Bangli ;

KETIGA

: keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.


Ditetapkan di Bangli
Pada tanggal, .....................2014
Direktur
Rumah Sakit Umum Kabupaten Bangli

(Dr. I Wayan Sudiana, M.Kes)


NIP. 19661229 199703 1 004

PEDOMAN

PENYELENGGARAAN RAWAT GABUNG

Penulis

Dokumen : Tim Rawat Gabung

Tanggal

:............................2014

Jumlah Halaman

: Halaman

PEDOMAN

PENYELENGGARAAN RAWAT GABUNG

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN.................................................................................

II

STANDAR KETENAGAAN.................................................................

III

STANDAR FASILITAS.........................................................................

IV

TATA LAKSANA RAWAT GABUNG...............................................

LOGISTIK..............................................................................................

VI

KESELAMATAN PASIEN..................................................................

VII

KESELAMATAN KERJA....................................................................

VIII

PENGENDALIAN MUTU...................................................................

IX

PENUTUP.............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Selama belum ada Rawat Gabung (RG) kita mengenal Rawat Pisah (RP). Ibu dan anak
tidur di ruang yang berbeda. Hanya pada jam tertentu untuk menyusu, bayi diantar kepada ibunya
sekitar 20 30 menit. Sebelum dan sesudah menyusu bayi ditimbang dulu, bila timbangan tidak
naik sesuai dengan kebutuhan bayi, otomatis ditambah dengan susu formula pakai botol dan dot.
Hal ini membuat bayi malas untuk mengisap pada buah dada ibu karena bayi harus kerja lebih
keras. Akibatnya pada waktu menyusu bayi sering kali malah tidur. Demikian seterusnya sehingga
produksi ASI semakin berkurang karena tidak ada rangsangan. Pada malam hari biasanya bayi
tidak disusui. Kalau menangis, diberi susu formula maka buah dada juga sering bengkak dan
panas. Hal ini menambah problem tersendiri. Lama kelamaan ibu jadi yakin bahwa ASI-nya tidak
mencukupi, maka memberi susu formula dengan segala akibat yang kurang menguntungkan
daripada pemberian ASI.
Tahun 1978 Perdhaki bersama The United Nations Childrens Fund (UNICEF) dan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melaksanakan seminar memperkenalkan RG.
Direksi PKSC menugaskan saya, Sr. Arnolfine Simamora, CB, untuk mengikuti seminar itu yang
diadakan di Auditorium Pelayanan Kesehatan Sint Carolus (PKSC). Dari berbagai negara
UNICEF memperlihatkan foto foto balita yang kekurangan gizi terutama karena kurang
pengertian akan usaha usaha untuk memperbanyak produksi ASI. Foto foto itu sangat
memilukan hatiku, sehingga saya berniat untuk memulai RG. Ditambah lagi dengan penelitian
yang dilakukan YLKI bahwa dari Sembilan merk susu bayi yang beredar, hanya dua merk yang
bebas hama. Tentunya hama hama itu membuat bayi mudah mencret.\

Rawat gabung adalah membiarkan ibu dan bayinya bersama terus menerus.
Pada rawat gabung / rooming-in bayi diletakkan di box bayi yang berada di dekat
ranjang ibu sehingga mudah terjangkau. Ada satu istilah lain, bedding-in, yaitu bayi
dan ibu berada bersama-sama di ranjang ibu
Rawat Gabung selama di rumah-sakit merupakan perlakuan yang mutlak
dilakukan jika ingin sukses menyusui. Rawat gabung adalah kegiatan perawatan yang
membiarkan ibu dan bayinya bersama secara terus menerus selama dirumah sakit.
Pelayanan yang ini berupa peletakan bayi pada box bayi yang berada di dekat
ranjang ibu sehingga mudah terjangkau. Ada satu istilah lain darirooming
in yakni, bedding in, yaitu bayi dan ibu berada bersama-sama diranjang ibu.
Secara teori rawat gabung dibedakan dalam dua dua jenis, yakni :

Rawat gabung penuh. Prosedur ini dilakukan jika ibu dan bayi bersama terus
menerus selama 24 jam sehari.
Rawat gabung parsial. Pelayanan ini dijalankan saat ibu dan bayi kadang perlu
dipisahkan untuk alasan tertentu.

Selama lebih dari 30 tahun, RS Bunda Jakarta tidak mengenal istilah rawat gabung
(rooming in) untuk ibu dan bayi. Dahulu, ruang bayi (tempat berkumpulnya semua bayi)
diadakan untuk membantu agar ibu dapat beristirahat dengan baik selama dalam
perawatan pasca melahirkan di rumah-sakit.
Pemikiran banyaknya pengunjung saat besuk, juga menjadi kekhawatiran bayi tertular
penyakit yang berasal dari pengunjung. Sesuai perkembangan tentang fisiologi bayi baru
lahir, para dokter dan paker anak mengubah tata laksana bayi baru lahir yang sehat.
Pemisahan bayi dan ibu justru merugikan bayi dan ibu. Proses pemisahan ini akan
mempersulit ibu dalam menyusui, dan reflex primitive bayi. Misalnya rooting (sucking
reflex) bayi. Kolostrum (ASI awal yang dikeluarkan ibu) menjadi tertunda didapatkan
bayi.
AGuna mendapatkan efek rawat gabung yang optimal, informasi keuntungan
pelayanan ini sebaiknya disampaikan jauh sebelum kelahiran (biasanya disampaikan
dalam kelas antenatal).
Rawat Gabung
Perawatan di rumah-sakit sejak kelahiran bayi merupakan kondisi yang memudahkan
ibu dan bayi kelak menyusui. Perawatan selama 3-4 hari dirumah-sakit pasca melahirkan
sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membimbing ibu menyusui. Pelayanan ini
kelihatannya sederhana. Namun, pelayanan ini sangat membantu ibu dan bayi untuk
sukses melewati masa-masa sulit di awal kelahiran. Pelayanan ini dapat membuat ibu
menjadi lebih percaya diri dalam memulai menyusui. Merombak atau menghilangkan
ruang bayi di sebuah rumah-sakit yang telah bertahun-tahun ada, bukan pekerjaan yang
sederhanan. Beberapa kondisi yang harus dipersiapkan adalah bimbingan tenaga
kesehatan atau konselor laktasi yang dimiliki RS, khususnya RS Bunda Jakarta sangat
berperan dalam kegiatan meyusui dari hari ke hari di RS. Dengan menyiapkan para tenaga
perawat dan menghilangkan pemikiran mereka, rooming in membuat mereka menjadi
lebih repot. karena mesti 'bolak-balik' ke ruang ibu untuk berbagi macam alasan.
Menekankan pada tenaga kesehatan tentang pentingnya edukasi sebelum kelahiran pada
ibu hamil agar proses rawat gabung (rooming in) dapat terselenggara dengan baik. Ibu
mengerti mengapa berada di satu ruangan dengan bayi merupakan hal yang penting dan
sangat diperlukan untuk sebuah proses menyusui. Mengganti popok (diapers),
memandikan bayi sebaiknya dilakukan di ruangan ibu. Bayi tidak perlu di dorong ke
kamar bayi lagi untuk sekedar ganti popok. Jika perlu membimbing orangtua sejak di RS
melakukannya mandiri.
Rawat gabung merupakan pilihan terbaik untuk merawat bayi dan ibu yang sehat
karena dapat meningkatkan pemberian ASI, mengurangi risiko infeksi, meningkatkan
ikatan antara ibu dan bayi, dan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan rumah
sakit. Mengadakan program rawat gabung di rumah sakit membutuhkan komitmen yang
kuat dari pihak penyelenggara pelayanan kesehatan, pengetahuan yang cukup bagi para
petugas kesehatan dan pendampingan bagi para ibu dan keluarganya. Tidak ada kata sulit
untuk memulai, yang dibutuhkan hanya tekad yang kuat. Saat ini Kementerian Kesehatan
telah menentukan bahwa Rawat Gabung menjadi item untuk akreditasi rumah sakit.

B. TUJUAN PEDOMAN
a. Tujuan Umum
RG bertujuan untuk penggalakan ASI. Agar berhasil perlu didukung oleh
usaha usaha lainnya, yang telah dimulai sejak perawatan pre natal, selama
nifas dan dilanjutkan di bagian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada
penimbangan bayi.
b. Tujuan Khusus
1. Perawatan pra natal
Pada perawatan pra natal, diberikan kursus tentang gizi seimbang
untuk ibu hamil.
Perawatan buah dada, terutama kebersihan sekitar areola mammae dan
putting susu agar terbentuk dan kenyal, sehingga tidak mudah lecet
bila diisap bayi.
Senam kehamilan, yang tujuannya terutama untuk latihan pernafasan
dan agar otot otot pinggul tidak kaku.
2. Di kamar bersalin
Ibu dan bayi segera dibersihkan, kemudian bayi segera menyusu.
Sangat mengagumkan ternyata bayi sangat cekatan, langsung pandai
menghisap. Dengan adanya isapan bayi, rangsangan diteruskan ke
hypophyse sehingga mengeluarkan oxitocyn yang merangsang
kontraksi uterus, dengan demikian pendarahan berkurang.
3. Di ruang perawatan : RG
Dianjurkan agar ibu menyusui setiap kali bayi membutuhkan.
Bagi ibu yang melahirkan anak pertama, masih perlu bantuan dan
bimbingan.
Hari kedua dilakukan perawatan buah dada (breast care), untuk
merangsang keluarnya ASI dan mencegah pembengkakan buah dada.
Senam post partum dimulai pada hari kedua, untuk membantu
kontraksi uterus dan melemaskan otot otot dasar panggul.
Ibu belajar merawat bayinya, sehingga pada waktu pulang sudah
terlatih.
Bila bayi haus, ibu bisa memberikan air putih dengan sendok agar pada
waktu menyusui berikutnya bayi akan menghisap lebih kuat.
4. Tindak lanjut KIA
Setelah ibu pulang, setiap kali datang ke KIA untuk menimbang
bayi, motivasi pemberian ASI tetap dilanjutkan. Sering ibu merasa
ASI-nya kurang, bila bayinya sering menangis. Sering bayi
menangis karena haus, bukan karena lapar terutama di daerah

panas seperti di Jakarta. Dengan memberi minum air putih sudah


cukup. Selama berat badan bayi naik sesuai dengan perkembangan
bayi, berarti ASI masih cukup dan tidak perlu ditambah dengan
susu formula. Sesudah bayi berumur 6 bulan sudah diberi makanan
padat, dengan sendirinya kebutuhan ASI berkurang.

C. RUANG LINGKUP RAWAT GABUNG


Pelayanan kesehatan yang komprehensif berbasis perlindungan anak bagi bayi baru
lahir dan ibu bersalin di puskesmas dan jaringannya.
1. PELAYANAN KESEHATAN BAYI BARU LAHIR
Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan komprehensif bagi bayi baru
lahir dimulai sejak janin dalam kandungan sampai dengan bayi berumur 28 hari
di puskesmas dan jaringannya, maka setiap tenaga kesehatan harus mematuhi
standar pelayanan yang sudah ditetapkan Standar yang dijadikan acuan antara lain
: Standar Pelayanan Kebidanan (SPK), Pedoman Asuhan Persalinan Normal
(APN), dan Pelayanan Neonatal Esensial Dasar. Pelayanan kesehatan yang
komprehensif bagi bayi baru lahir, diselenggrakan dengan mengikuti hal-hal
sebagai berikut :
Selama kehamilan Ibu hamil harus memeriksakan kehamilan minimal empat kali
di fasilitas pelayanan kesehatan, agar pertumbuhan dan perkembangan janin dapat
terpantau dan bayi lahir selamat dan sehat.
2. TANDA-TAND BAYI LAHIR SEHAT:
Berat badan bayi 2500-4000 gram;
Umur kehamilan 37 40 mg;
Bayi segera menangis ,
Bergerak aktif, kulit kemerahan,
Mengisap ASI dengan baik,
Tidak ada cacat bawaan
3. TATALAKSANA BAYI BARU LAHIR
Tatalaksana bayi baru lahir meliputi:
1. Asuhan bayi baru lahir pada 0 6 jam:
Asuhan bayi baru lahir normal, dilaksanakan segera setelah
lahir, dan diletakkan di dekat ibunya dalam ruangan yang sama.
Asuhan bayi baru lahir dengan komplikasi dilaksanakan satu ruangan
dengan ibunya atau di ruangan khusus.
Pada proses persalinan, ibu dapat didampingi suami.
2. Asuhan bayi baru lahir pada 6 jam sampai 28 hari:
Pemeriksaan neonatus pada periode ini dapat dilaksanakan di
puskesmas/ pustu/ polindes/ poskesdes dan/atau melalui kunjungan
rumah oleh tenaga kesehatan.
Pemeriksaan neonatus dilaksanakan di dekat ibu, bayi didampingi ibu
atau keluarga pada saat diperiksa atau diberikan pelayanan kesehatan.

4. JENIS PELAYANAN KESEHATAN BAYI BARU LAHIR


1. Asuhan bayi baru lahir
Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman Asuhan
Persalinan Normal yang tersedia di puskesmas, pemberi layanan asuhan bayi
baru lahir dapat dilaksanakan oleh dokter, bidan atau perawat. Pelaksanaan
asuhan bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yang sama dengan ibunya
atau rawat gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, bayi berada dalam
jangkauan ibu selama 24 jam). Asuhan bayi baru lahir meliputi:
Pencegahan infeksi (PI)
Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
Pemotongan dan perawatan tali pusat
Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam, kontak
kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan
tubuh bayi.
Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal di
paha kiri
Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di
paha kanan
Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata
antibiotika dosis tunggal
Pemeriksaan bayi baru lahir
Pemberian ASI eksklusif
5. Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi tengkurap di
dada ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk melaksanakan proses IMD.
Langkah IMD pada persalinan normal (partus
spontan):
1. Suami atau keluarga dianjurkan mendampingi ibu di kamar bersalin
2. Bayi lahir segera dikeringkan kecuali tangannya, tanpa menghilangkan
vernix, kemudian tali pusat diikat.
3. Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di dada ibu
dengan KULIT bayi MELEKAT pada KULIT ibu dan mata bayi setingg
puting susu ibu. Keduanya diselimuti dan bayi diberi topi.
4. Ibu dianjurkan merangsang bayi dengan sentuhan, dan biarkan bayi sendiri
mencari puting susu ibu.
5. Ibu didukung dan dibantu tenaga kesehatan mengenali perilaku bayi
sebelum menyusu.
6. Biarkan KULIT bayi bersentuhan dengan KULIT ibu minimal selama SATU
JAM; bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam, biarkan bayi tetap di dada
ibu sampai 1 jam
7. Jika bayi belum mendapatkan puting susu ibu dalam 1 jam posisikan bayi
lebih dekat dengan puting susu ibu, dan biarkan kontak kulit bayi dengan
kulit ibu selama 30 MENIT atau 1 JAM berikutnya.
Setelah selesai proses IMD bayi ditimbang, diukur, dicap/diberi tanda identitas,
diberi salep mata dan penyuntikan vitamin K1 pada paha kiri. Satu jam
kemudian diberikan imunisasi Hepatitis B (HB 0) pada paha kanan.

6. Pelaksanaan penimbangan, penyuntikan vitamin K1, salep mata dan imunisasi


Hepatitis B (HB0)
Pemberian layanan kesehatan tersebut dilaksanakan pada periode setelah IMD
sampai 2-3 jam setelah lahir, dan dilaksanakan di kamar bersalin oleh dokter, bidan
atau perawat.
Semua BBL harus diberi penyuntikan vitamin K1 (Phytomenadione) 1 mg
intramuskuler di paha kiri, untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi
vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian BBL.
Salep atau tetes mata diberikan untuk
pencegahan infeksi mata (Oxytetrasiklin 1%).
Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan setelah penyuntikan
Vitamin K1 yang bertujuan untuk mencegah penularan Hepatitis B melalui
jalur ibu ke bayi yang dapat menimbulkan kerusakan hati.
7. PemeriksaanBayi Baru Lahir
Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin kelainan pada
bayi. Risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan,
sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap
tinggal di fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama. Pemeriksaan bayi baru lahir
dilaksanakan di ruangan yang sama dengan ibunya, oleh dokter/ bidan/ perawat.
Jika pemeriksaan dilakukan di rumah, ibu atau keluarga dapat mendampingi
tenaga kesehatan yang memeriksa.
Bayi lahir di fasilitas Kesehatan
Baru lahir sebelum usia 6 jam.
Usia 6-48 jam
Usia 3-7 hari
Minggu ke 2 pasca lahir

Bayi lahir di rumah


Baru lahir sebelum usia 6 jam.
Usia 6-48 jam
Usia 3-7 hari
Minggu ke 2 pasca lahir

Langkah langkah pemeriksaan:


Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak menangis).
Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai pernapasan dan tarikan
dinding dada bawah, denyut jantung serta perut.
Selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah
memegang bayi.
Pemeriksaan fisis yangdilakukan
Lihat postur, tonus dan aktivitas

Lihat kulit

Hitung pernapasan dan lihat


tarikan dinding dada bawah
ketika bayi sedang tidak
menangis.

Keadaan normal
Posisi tungkai dan lengan fleksi.
Bayi sehat akan bergerak aktif.
Wajah, bibir dan selaput lendir,
dada harus berwarna merah
muda, tanpa adanya
kemerahan atau bisul.
Frekuensi napas normal 40-60x/mnt
Tidak ada tarikan dinding dada bawah
yang dalam

Hitung denyut jantung dengan


meletakkan stetoskop di dada kiri
setinggi apeks kordis.
Lakukan pengukuran suhu ketiak
dengan termometer
Lihat dan raba bagian kepala

Lihat mata
Lihat bagian dalam mulut:

Pemeriksaan fisis yangdilakukan

frekwensi denyut jantung normal


120-160 kali per menit

Suhu normal adalah 36,5-37,5


Bentuk kepala terkadang
asimetris karena penyesuaian
pada saat proses persalinan,
umumnya hilang dalam 48 jam.
Ubun-ubun besar rata atau
tidak membonjol, dapat sedikit
membonjol saat bayi menangis.
Tidak ada kotoran/sekret
Bibir, gusi, langit-langit utuh
dan tidak ada bagian yang
terbelah.

Keadaan normal

Masukkan satu jari yang


menggunakan sarung tangan
ke dalam mulut, raba langitlangit.

Nilai kekuatan isap bayi.


bayi akan menghisap kuat jari
Pemeriksa

Lihat dan raba perut.

Perut bayi datar, teraba lemas.

Lihat tali pusat

Tidak ada perdarahan,


pembengkakan, nanah, bau
yang tidak enak pada tali
pusat.atau kemerahan sekitar
tali pusat

Lihat punggung dan raba tulang


belakang

kulit terlihat utuh, tidak terdapat


lubang dan benjolan pada tulang
belakang

Pemeriksaan ekstremitas atas


dan bawah

Tidak terdapat sindaktili


polindaktili,siemenline, dan
kelainan kaki (pes equino varus
dan vagus

Lihat lubang anus


Hindari memasukkan alat atau
jari dalam memeriksa anus

Terlihat lubang anus dan


periksa apakah mekonium

sudah keluar
Tanyakan pada ibu apakah bayi
sudah buang air besar

Pemeriksaan fisis yang


dilakukan

Keadaan normal

Lihat dan raba alat kelamin luar

Timbang bayi
Timbang bayi dengan
menggunakan selimut, hasil
penimbangan dikurangi
berat selimut

.
Mengukur panjang dan lingkar
Kepala bayi

RAWAT GABUNG
BAYI

biasanya mekonium keluar


dalam 24 jam setelah lahir

Tanyakan pada ibu apakah


bayi sudah buang air kecil
Bayi perempuan kadang
terlihat cairan vagina berwarna
putih atau kemerahan.
Bayi laki-laki terdapat lubang
uretra pada ujung penis.
Teraba testis di skrotum.
Pastikan bayi sudah buang air
kecil dalam 24 jam setelah
lahir.
Yakinkan tidak ada kelainan
alat kelamin, misalnya
hipospadia, rudimenter,
kelamin ganda.
Berat lahir 2,5-4 kg.
Dalam minggu pertama, berat
bayi mungkin turun dahulu
(tidak melebihi 10% dalam
waktu 3-7 hari) baru kemudian
naik kembali
Panjang lahir normal 48-52 cm.
Lingkar kepala normal 33-37
cm.

Ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar,


berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam.
Berikan hanya ASI saja tanpa minuman atau
makanan lain kecuali atas indikasi medis.
Tidak diberi dot atau kempeng.

8. Kunjungan
9. Neonatal
10. Adalah pelayanan kesehatan kepada
11. neonatus sedikitnya 3 kali yaitu:
12. Kunjungan neonatal I (KN1) pada 6 jam
13. sampai dengan 48 jam setelah lahir
14. Kunjungan neonatal II (KN2) pada hari ke
15. 3 s/d 7 hari
16. Kunjungan neonatal III (KN3) pada hari ke
17. 8 28 hari
18. Pelayanan kesehatan diberikan oleh dokter/
19. bidan/perawat, dapat dilaksanakan di
20. puskesmas atau melalui kunjungan rumah.
21. Pelayanan yang diberikan mengacu pada
22. pedoman Manajemen Terpadu Balita Sakit
23. (MTBS) pada algoritma bayi muda
24. (Manajemen Terpadu Bayi Muda/MTBM)
25. termasuk ASI ekslusif, pencegahan infeksi
26. berupa perawatan mata, perawatan tali
27. pusat, penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi
28. HB-0 diberikan pada saat kunjungan rumah
29. sampai bayi berumur 7 hari (bila tidak
30. diberikan pada saat lahir).
31. 28
32. Pencatatan dan
33. Pelaporan
34. Hasil pemeriksaan dan tindakan tenaga
35. kesehatan harus dicatat pada:
36. 1. Buku KIA (buku kesehatan ibu dan anak)
37. Pencatatan pada ibu meliputi keadaan
38. saat hamil, bersalin dan nifas.
39. Pencatatan pada bayi meliputi
40. identitas bayi, keterangan lahir,
41. imunisasi, pemeriksaan neonatus,
42. catatan penyakit, dan masalah
43. perkembangan serta KMS
44. 2. Formulir Bayi Baru Lahir
45. Pencatatan per individu bayi baru
46. lahir, selain partograph
47. Catatan ini merupakan dokumen
48. tenaga kesehatan
49. 3. Formulir pencatatan bayi muda (MTBM)
50. Pencatatan per individu bayi
51. Dipergunakan untuk mencatat hasil
52. kunjungan neonatal yang merupakan
53. dokumen tenaga kesehatan
54. puskesmas
55. 4. Register kohort bayi
56. Pencatatan sekelompok bayi di suatu
57. wilayah kerja puskesmas

58. Catatan ini merupakan dokumen


59. tenaga kesehatan puskesmas