Anda di halaman 1dari 25

TELAAH UU RI NO.

32 TAHUN 2009: PERLINDUNGAN DAN


PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
*Corresponding author: Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Jl.
Pemuda No. 10 Rawamangun, Jakarta Timur. Indonesia. Tel.: +62 21 4894909
E-mail address: biologi2011@yahoo.com

MAKALAH AMDAL

Disusun oleh:
Sunani (3425110161)
Lutfi Akhsani (3425110172)
Amaliya Ruhama Putri (3425111400)
Nita Listiyani (3425111402)
Rina Trihandayani P. (3425111424)

JURUSAN BIOLOGI
PRODI BIOLOGI REGULER 2011
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2013
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Telaah UU RI No.32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Penulisan makalah ini merupakan salah satu
tugas mata kuliah AMDAL Jurusan Biologi Universitas Negeri Jakarta pada semester 100.
Makalah ini disusun untuk menerangkan tentang menelaah isi dari UU No.32
Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dan juga untuk
menambah pengetahuan serta wawasan pembaca.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari semua pihak demi penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat, baik untuk tim penyusun
maupun pembaca makalah ini.
Jakarta, Maret 2014

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR..................................................................................................... 2
DAFTAR ISI................................................................................................................... 3
BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................................. 4
BAB II. SUBSTANSI DASAR ..................................................................................... 5
A. Pengertian ................................................................................................................... 5
B. Asas, Tujuan, Dan Ruang Lingkup Lingkungan Hidup Asas lingkungan hidup........ 10
C. Hak, Kewajiban, dan Larangan .................................................................................. 10
BAB III. ANALISI ISI................................................................................................... 13
A. Analisis kekuatan ....................................................................................................... 13
B. Analisi kelemahan ...................................................................................................... 20
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN....................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 25

BAB I
PENDAHULUAN
Penggundulan hutan, lahan kritis, menipisnya lapisan ozon, tumpahan minyak di laut,
ikan mati di anak sungai karena zat-zat kimia, dan punahnya spesies tertentu adalah beberapa
contoh dari masalah-masalah lingkungan hidup. Dalam literatur masalah-masalah lingkungan
dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yaitu pencemaran lingkungan (pollution),
pemanfaatan lahan secara salah (land misuse) dan pengurasan atau habisnya sumberdaya alam
(natural resource depeletion). Akan tetapi, jika dilihat dari perspektif hukum yang berlaku di
Indonesia, masalah-masalah lingkungan hanya dikelompokkan ke dalam dua bentuk, yakni
pencemaran lingkungan (environmental pollution) dan perusakan lingkungan hidup. Pembedaan
masalah lingkungan ke dalam dua bentuk dapat dilihat dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1982
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (UULH) yang kemudian
dicabut oleh Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(UUPLH). Dan di ganti lagi dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; UUPPLH juga hanya mengenal dua bentuk masalah
lingkungan hidup, yaitu: pencemaran lingkungan dan perusakan lingkungan.
Persoalan lingkungan hidup bukan hanya berkaitan dengan persoalan-persoalan tentang
lingkungan hidup manusia atau makhluk hidup lainnya melainkan juga berkaitan dengan
lingkungan non-hayati, saperti air, udara, batu-batuan dan sebagainya, namun sangat erat kaitan
dengan kehidupan manusia dan kehidupan lainnya, bahkan menjadi wadah dari kehidupan atau
hayati tersebut. Akibatnya, kalau lingkungan non-hayati itu mengalami gangguan maka otomatis
kehidupan manusia dan kehidupan lainnya akan menjadi terganggu.

BAB II
SUBSTANSI DASAR
A. Pengertian
Pengertian dalam Lingkungan hidup dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup terdiri atas 127 pasal. Pada pasal 1
butir 1 berbunyi kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan
perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain sedangakan
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (pasal 1 butir 2) adalah upaya sistematis dan
terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah
terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan,
pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hokum.
Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 pasal 1 butir 14 menyebutkan
pengertian Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup,
zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia
sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Sedangkan
pengertian Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan
langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup
sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup (pasal 1 butir 16 dalam
Undang-Undang No. 32 Tahun 2009).

B. Asas, Tujuan, Dan Ruang Lingkup Lingkungan Hidup


Asas lingkungan hidup (Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 pasal 2)
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan asas:
1.

Tanggung jawab negara;


Yang dimaksud dengan asas tanggung jawab negara adalah:

a)

negara menjamin pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik generasi masa
kini maupun generasi masa depan.

b)

negara menjamin hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

c)

negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang


menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakann lingkungan hidup.

2. Kelestarian dan keberlanjutan;


Yang dimaksud dengan asas kelestarian dan keberlanjutan adalah bahwa setiap
orang memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan
terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya
dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup.
3. Keserasian dan keseimbangan;
Yang dimaksud dengan asas keserasian dan keseimbangan adalah bahwa
pemanfaatan lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti
kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan perlindungan serta pelestarian ekosistem.
4. Keterpaduan;
Yang dimaksud dengan asas keterpaduan adalah bahwa perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dilakukan dengan memadukan berbagai unsur atau
menyinergikan berbagai komponen terkait.
5. Manfaat;
Yang dimaksud dengan asas manfaat adalah bahwa segala usaha dan/atau kegiatan
pembangunan yang dilaksanakan disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan
lingkungan hidup untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan harkat manusia
selaras dengan lingkungannya.
6. Kehati-hatian;
Yang dimaksud dengan asas kehati-hatian adalah bahwa ketidakpastian mengenai
dampak suatu usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi bukan merupakan alasan untuk menunda langkahlangkah meminimalisasi atau menghindari ancaman terhadap pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup.
6

7. Keadilan;
Yang dimaksud dengan asas keadilan adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap
warga negara, baik lintas daerah, lintas generasi, maupun lintas gender.
8. Ekoregion;
Yang dimaksud dengan asas ekoregion adalah bahwa perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan karakteristik sumber daya
alam, ekosistem, kondisi geografis, budaya masyarakat setempat, dan kearifan local
9. Keanekaragaman hayati;
Yang dimaksud dengan asas keanekaragaman hayati adalah bahwa perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan upaya terpadu untuk
mempertahankan keberadaan, keragaman, dan keberlanjutan sumber daya alam
hayati yang terdiri atas sumber daya alam nabati dan sumber daya alam hewani yang
bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk
ekosistem.
10. Pencemar membayar;
Yang dimaksud dengan asas pencemar membayar adalah bahwa setiap
penanggung jawab yang usaha dan/atau kegiatannya menimbulkan pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup wajib menanggung biaya pemulihan
lingkungan.
11. Partisipatif;
Yang dimaksud dengan asas partisipatif adalah bahwa setiap anggota masyarakat
didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan
pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
12. Kearifan lokal;
Yang dimaksud dengan asas kearifan lokal adalah bahwa dalam perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku
dalam tata kehidupan masyarakat.
13. Tata kelola pemerintahan yang baik; dan

Yang dimaksud dengan asas tata kelola pemerintahan yang baik adalah bahwa
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dijiwai oleh prinsip partisipasi,
transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan keadilan.
14. Otonomi daerah
Yang dimaksud dengan asas otonomi daerah adalah bahwa Pemerintah dan
pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang
perlindungan

dan

pengelolaan

lingkungan

hidup

dengan

memperhatikan

kekhususan dan keragaman daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik


Indonesia.

Tujuan lingkungan hidup (Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 pasal 3)


Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan:
1. melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup;
2. menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;
3. menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem;
4. menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;
5. mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup;
6. menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa depan;
7. menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian
dari hak asasi manusia;
8. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana;
9. mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan
10. mengantisipasi isu lingkungan global.
11. Ruang Lingkup lingkungan hidup (Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 pasal 4)
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:
1. perencanaan;
2. pemanfaatan;
3. pengendalian;
8

4. pemeliharaan;
5. pengawasan; dan
6. penegakan hukum.
C. Hak, Kewajiban, dan Larangan
Hak (Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 pasal 65)
1.

Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat
sebagai bagian dari hak asasi manusia.

2.

Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup,


akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas
lingkungan hidup yang baik dan sehat.

3.

Setiap orang berhak mengajukan usulan/atau keberatan terhadap


rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak
terhadap lingkungan hidup.

4.

Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan


pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

5.

Setiap

orang

berhak

melakukan

pengaduan

akibat

dugaan

pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.


Kewajiban (Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 pasal 67-68)
Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta
mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
Pasal 68 Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban:
1. memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup secara benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu;
2. menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup; dan
3. menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup.
Larangan (Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 pasal 69)
Setiap orang dilarang:
9

1. melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan


lingkungan hidup;
2. memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang-undangan ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia ke media lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia;
4. memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
5. membuang limbah ke media lingkungan hidup;
6. membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;
7. melepaskan produk rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan;
8. melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar;
9. menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal; dan/atau
10. memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak
informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar.
Peran Masyarakat (Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 pasal 70)
Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk
berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Peran masyarakat dapat berupa:


1. pengawasan sosial;
2. pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan/atau
3. penyampaian informasi dan/atau laporan.

Peran masyarakat dilakukan untuk:


a. meningkatkan kepedulian dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup;
b. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan;
c. menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat;

10

d. menumbuhkembangkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan


pengawasan sosial; dan
e. mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka
pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Sanksi Administratif
Sanksi administratif terdiri atas: (pasal 76 ayat (2))
a. teguran tertulis;
b. paksaan pemerintah;
c. pembekuan izin lingkungan; atau
d. pencabutan izin lingkungan.
Penyelesaian Sengketa Lingkungan ( pasal 84)
1. Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui
pengadilan atau di luar pengadilan.
2. Pilihan penyelesaian sengketa lingkungan hidup dilakukan secara suka
rela oleh para pihak yang bersengketa.
3. Gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya
penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang dipilih dinyatakan tidak
berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa.
Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan dilakukan untuk
mencapai kesepakatan mengenai:
1. bentuk dan besarnya ganti rugi;
2. tindakan pemulihan akibat pencemaran dan/atau perusakan;
3. tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terulangnya pencemaran
dan/atau perusakan; dan/atau
4. tindakan untuk mencegah timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan
hidup.

11

Penyelesaian sengketa di luar pengadilan tidak berlaku terhadap tindak pidana


lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Dalam penyelesaian
sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan dapat digunakan jasa mediator dan/atau
arbiter untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup.

12

BAB III
ANALISIS ISI
A. Analisis Kekuatan
UU No 32 tahun 2009 merupakan UU pengganti UU No. 23 Tahun 1997 Mengapa perlu
ada revisi UU PLH yang melahirkan UU No 32 tahun 2009? Ilyas Asaad, menuturkan bahwa
argumen paling mendasar dari revisi tersebut adalah ketidakmampuan UU lama dalam
menjawab berbagai problem LH di Indonesia. Setelah dua belas tahun diberlakukan,
kerusakan lingkungan masih dominan, begitu pula dengan kasus-kasus lingkungan yang
tidak pernah bisa diselesaikan dengan baik, tegasnya.
Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) melalui laporan Status Lingkungan Hidup
Indonesia (SLHI) 2006 mencatat bahwa telah terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup
pada tahun 2006 disebabkan karena terjadi peningkatan polutan secara signifikan di media air
dan udara. Selain itu, terjadi juga peningkatan kasus pencemaran limbah domestik dan
limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Data SLHI 2006 juga menunjukkan bahwa kerusakan lahan dan hutan di Indonesia telah
mencapai 59,2 juta hektar dengan laju deforestasi sekitar 1,19 juta hektar per tahun.
Percepatan pengurangan hutan yang tinggi ini memiliki efek yang signifikan terhadap
keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan. Kerusakan lahan dan hutan secara umum
disebabkan karena berbagai hal seperti kebakaran hutan dan lahan,illegal logging,
perambahan lahan, konversi (alih fungsi) lahan dan kegiatan pertambangan.
Krisis lingkungan yang terus meningkat serta banyaknya sengketa LH yang berujung
bebas menjadi preseden buruk yang mengancam eksistensi lingkungan dan manusia. Salah
satu problem mendasar adalah lemahnya konstitusi hukum yang berdampak pada penaatan
lingkungan yang rendah. Selain penguatan institusi maupun kordinasi antar lembaga terkait
yang mesti dilakukan, ternyata diperlukan penguatan rule of the game yang bisa mengatur
seluruh persoalan lingkungan.
UU No 32 tahun 2009 menjadi harapan baru bagi keberlanjutan lingkungan hidup.
Penguatan dan idealisme UU baru tersebut sesungguhnya sangat berdasar secara filosofis dan
sangat tidak berlebihan apalagi politis. Dalam UU Dasar 1945 Pasal 28 ayat (1) menyebutkan
bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal dan mendapatkan
13

lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Amanah UU 1945 tersebut jelas memandang bahwa kebutuhan mendapatkan lingkungan
yang sehat adalah salah satu hak asasi. Negara berkewajiban memberi perlindungan dan
jaminan lingkungan sehat, oleh sebab itu negara harus memiliki otoritas kuat dalam
mengelola dan melindungi LH.
Pasal 33 ayat (1) semakin menegaskan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan
berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi-berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Dasar hukum tersebut di atas jelas menginspirasi betapa perlunya negara membuat aturan
yang kompleks yang berorientasi jangka panjang. Sejak tanggal 3 Oktober 2009, UndangUndang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) telah dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku lagi, yang kemudian digantikan dengan hadirnya Undang-Undang
No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).
Undang-undang ini terdiri dari 17 bab dan 127 pasal yang mengatur secara lebih
menyeluruh tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Perbedaan mendasar
kedua UU tersebut adalah adanya penguatan yang terdapat dalam Undang-Undang 32 tahun
2009 tentang prinsip-prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
didasarkan pada tata kelola pemerintahan yang baik karena dalam setiap proses perumusan
dan penerapan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta
penanggulangan dan penegakan hukum mewajibkan pengintegrasian aspek transparansi,
partisipasi, akuntabilitas, dan keadilan.
Ilyas Asaad mengakui bahwa kelahiran UU No 32 tahun 2009 ini adalah sesuatu yang
memang mutlak dilakukan untuk mengakhiri problematika LH yang semakin mencemaskan.
UU baru ini sangat sempurna dan mengatur segala hal yang dianggap kurang terutama
dalam UU lama. Perubahan mendasar sangat jelas pada perencanaan, pemanfaatan,
pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.
Meskipun terlihat sangat protektif dan tegas, namun Ilyas Asaad membantah jika UU No
32 tahun 2009 akan menghambat laju investasi dan pembangunan ekonomi, sebagaimana
wacana yang berkembang terutama dari kalangan dunia usaha. Justru, kata Ilyas, UU tersebut

14

memberi garansi kepada dunia usaha dalam keberlanjutan industrinya, sepanjang memamg
tetap konsisten memperhatikan aspek LH.
Menurut Anggota Komisi VII DPR-RI, Ismayatun, UU No 32 tahun 2009 ini menjadi
kekuatan hukum yang cukup kuat kepada KLH, sebab KLH akan punya kekuatan untuk
mengkategorisasikan perbuatan yang dilakukan oleh pelaku pencemaran atau perusak
lingkungan sebagai sebuah pelanggaran pidana. Ini suatu hal yang luar biasa tuturnya.
Soal resistensi dari kalangan pengusaha khususnya Migas, Ismayatun mengakui, wacana
itu lebih disebabkan oleh belum maksimalnya sosialisasi. Jika sosialisasi dilakukan
mengenai isi UU ini maka akan mengubah pandangan mereka bahwa itu tak akan merugikan
kepentingan mereka. . UU ini harus mereka hormati, karena ini untuk kepentingan
pelestarian lingkungan. Jadi banyak industri yang gerah dengan UU PPLH ini, sebenarnya
bukan untuk mengurangi produksi tetapi ini untuk mendisiplinkan mereka. Ini adalah untuk
pembinaan dan sebagai langkah preventif. Ini ketakutan yang tidak beralasan saja.
Hal yang sama dikemukanan Pakar Hukum Lingkungan, Dr. Asep Warlan, menurutnya
UU No 32 tahun 2009 akan mendorong wacana pembangunan berkelanjutan(sustainable
development), sebab semua kalangan usaha akan memiliki kesadaran penuh atas pengelolaan
lingkungan berwawasan masa depan. Munculnya polemik seputar UU tersebut, menurut
Asep Warlan, lebih disebabkan oleh belum adanya pemahaman mendalam.
Itulah sebabnya, tahap pertama yang dilakukan KNLH sekarang ini adalah melakukan
sosialisasi secara berkesinambungan kepada seluruh komponen, terutama institusi terkait
agar terwujud kesamaan persepsi dalam memahami UU No 32 tahun 2009.
Keistimewaan UU 32 tahun 2009
UU No 23 tahun 1997 dianggap memiliki banyak kelemahan terutama dalam hal
penanganan kasus sengketa lingkungan hidup. Kalau ditelusuri lebih jauh, kata Ilyas Asaad,
diidentifikasi setidaknya tiga masalah mendasar yang terlupakan dalam UU 23 tahun 1997.
Pertama, persoalan subtansial yang berkaitan dengan; pendekatan atur dan awasi (command
and control) Amdal maupun perizinan; lemahnya regulasi audit lingkungan; belum
dijadikannya Amdal sebagai persyaratan izin dan tidak tegasnya sanksi bagi pelanggaran
Amdal; penormaan yang multi tafsir; lemahnya kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil
(PPNS) dan Pegawai Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH); delik pidana yang belum
15

mengatur hukuman minimum; multi tafsir soal asas subsidiaritas dan belum adanya regulasi
aturan yang spesifik yang berhubungan dengan perubahan iklim dan pemanasan global.
Kedua, masalah struktural yaitu berhubungan dengan paradigma pembangunan
berkelanjutan (sustainable

development) yang

belum

dijadikan maenstream dalam

memandang lingkungan. Problem ketiga adalah problem kultural yaitu masih rendahnya
kesadaran masyarakat tentang lingkungan.
UU No 32 tahun 2009 tidak sekedar menyempurnakan sejumlah kelemahan mendasar
dalam UU sebelumnya, tetapi juga secara komprehensif mengatur segala hal yang berkaitan
dengan problem lingkungan. UU ini pada akhirnya akan berorientasi pada penguatan
institusional terutama KLH dan peran seluruh elemen untuk memandang kasus lingkungan
sebagai problem bersama yang subtansial.
Perubahan cara pandang dari pola pikir lama yang memandang bahwa tanggungjawab
kelestarian dan pengelolaan lingkungan hanya terbatas pada KLH, kemudian lebih diarahkan
pada kesadaran kolektif dan penguatan kordinasi seluruh pihak penegak hukum, terutama
dalam hal menyamakan persepsi tentang definisi pencemaran lingkungan.
Kalau kita menelaah lebih menyeluruh maka terdapat sejumlah keistimewaan
mendasar dari UU No 32 tahun 2009 yang diharapkan tidak sekedar ideal di atas kertas tetapi
bisa diimplementasikan secara nyata. Dalam aturan yang baru tersebut, terdapat pengaturan
yang jelas antara kewenangan pusat dan daerah dalam hal pengawasan LH. Penguatan
instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, yang meliputi;
instrumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), tata ruang, baku mutu lingkungan
hidup, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, AMDAL, upaya pengelolaan lingkungan
hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup, perizinan, instrumen ekonomi lingkungan
hidup, peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup, anggaran berbasis
lingkungan hidup, analisis risiko lingkungan hidup, dan instrumen lain yang sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Keistimewaan

lainnya

adalah

pendayagunaan

perizinan

sebagai

instrumen

pengendalian. Perizinan lingkungan menjadi syarat utama berdirinya suatu badan usaha,
ketika suatu perusahaan tidak memenuhi syarat lingkungan maka dinyatakan tidak bisa
menjalankan usaha. Izin lingkungan yang bermasalah bahkan bisa membatalkan pendirian
usaha.
16

Adanya pendayagunaan pendekatan ekosistem (eco region) juga menjadi fokus utama
UU No 32 tahun 2009. Memuat pula tentang kepastian dalam merespons dan mengantisipasi
perkembangan lingkungan global dan penguatan demokrasi lingkungan melalui akses
informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan serta penguatan hak-hak masyarakat dalam
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Hal paling mendasar adalah penegakan hukum perdata, administrasi, dan pidana
secara lebih jelas. Ditunjang pula dengan penguatan kelembagaan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup yang lebih efektif dan responsif dan penguatan kewenangan
Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)
lingkungan hidup.
Undang-Undang ini memberikan kewenangan yang luas kepada Menteri untuk
melaksanakan seluruh kewenangan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup serta melakukan koordinasi dengan instansi lain. Pemerintah memberi
kewenangan yang sangat luas kepada pemerintah daerah dalam melakukan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup di daerah masing-masing yang tidak diatur dalam UndangUndang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Perlu Keberpihakan Anggaran
Pada akhirnya, diperlukan semacam political will dari pemerintah untuk menyediakan
akses pendanaan yang memadai. Problemnya selama ini, seperti diakui Ilyas Asaad adalah
minimnya anggaran dari porsi APBN untuk KLH. Bahkan kementrian lingkungan
diposisikan dalam klaster institusi yang lebih rendah dibandingkan kementrian lainnya. Hal
ini menyebabkan kebuntuan pada program pengelolaan maupun perlindungan lingkungan.
Pada saat yang sama, support pemerintah daerah memang belum memadai. Itulah sebabnya,
UU baru ini memprioritaskan peran daerah untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan
lingkungan maupun pendanaan.
Problem minimnya anggaran lingkungan hidup juga dinilai sangat mendasar oleh
Asep Warlan. Ia membandingkan antara kasus terorisme yang penganggarannya bahkan
unlimited karena ada pemahaman bahwa terorisme adalah problem sangat berbahaya. Toh,
kata Asep Warlan, kerusakan lingkungan juga adalah teror yang jauh lebih mengancam.
Kalau setiap hari terjadi pengrusakan lingkungan, maka itu sama artinya dengan
17

menghancurkan masa depan anak cucu kita-dan bukankah itu kejahatan besar dan sekaligus
teror yang jauh lebih mengerikan. Lalu mengapa alokasi anggarannya sedikit?
Tanpa pendanaan yang memadai, Asep Warlan bahkan pesimis bila mengharapkan
perbaikan signifikan dengan sekedar berharap pada penguatan teks perundang-undangan.
Menurutnya, kelahiran UU baru ini dengan sendirinya akan mengubah perspektif pemerintah
dan dapat memberi alokasi anggaran yang mendukung implementasi perlindungan
lingkungan.
Anggota Komisi VII DPR RI dan Badan Anggaran DPR RI, Ismayatun, ketika
ditanya soal anggaran KLH mengatakan bahwa pihaknya akan terus memperjuangkan
penganggaran yang memadai. Tetapi, dengan catatan KLH sendiri harus berusaha lebih baik.
Apalagi ketika laporan keuangannya dianggap mengalami disclaimer oleh BPK, sebab akan
sulit diperjuangkan di parlemen.
Ismayatun menegaskan bahwa berangkat dari filosofi kelahiran UU 32 yang
menempatkan lingkungan hidup sebagai hal yang sangat penting dan urgen untuk mendapat
perhatian, sehingga lembaga yang menaungi pelestarian lingkungan hidup perlu diberi
kekuatan yang besar. Baik itu kekuatan hukum, SDM, anggaran dan yang penting adalah
kekuatan koordinasi. UU PPLH ini akan menjadi tonggak baru yang dapat menjadi kekuatan
mumpuni.
KLH sendiri terus mencoba meyakinkan pemerintah dalam hal peningkatan porsi
anggaran, terutama sejak pengesahan UU No 32 tahun 2009. Menurut Ilyas Asaad, ada
sejumlah penjabaran teknis yang wajib didukung pendanaan dan itu sangatlah rasional.
Sertifikasi hakim misalnya, membutuhkan dana yang tidak sedikit sebab sifatnya kerjasama
lintas institusi. Belum lagi perbaikan sumber daya PPNS dan dana sosialisasi. Tetapi, itulah
resiko dari sebuah itikad baik untuk perubahan penting di negara ini tegas Ilyas.
Apakah ada jaminan perubahan?
UU No 32 tahun 2009 memang sangatlah ideal di atas kertas, tetapi apakah ada
jaminan jika pemberlakuan UU tersebut kerusakan dan pencemaran lingkungan bisa
dihilangkan? Pertanyaan ini memang bernada pesimis, tetapi bermunculan dari banyak
kalangan setiap kali sosialisasi digelar. Ilyas Asaad mencoba optimis bahwa perubahan
mendasar tidak bisa menunggu waktu dan harus ada keberanian dari pemerintah.

18

Saya yakin betul, kasus pencemaran lingkungan bisa diminimalisir dengan UU baru
ini. Karena itu optimalisasi dalam hal anggaran, sosialisasi dan kordinasi kelembagaan
menjadi prasyarat penting.
Berapa lama proses penguatan dilakukan untuk membenahi segala hal yang berkaitan
dengan UU ini? Ilyas Asaad mengakui bahwa memang diperlukan waktu yang cukup
panjang. Untuk sekedar meyakinkan kalangan internal saja tidaklah sebentar, apalagi
meyakinkan pihak luar. Belum lagi membangun kordinasi lintas institusi seperti dengan
kehakiman, kejaksaan dan kepolisisian.
Pasca pengesahan UU No 32 tahun 2009, KLH sudah berhasil melakukan program
sertifikasi hakim. Program ini bertujuan untuk memberi pemahaman yang kuat bagi para
hakim tentang lingkungan agar pada saat memutuskan kasus lingkungan tidak sekedar
mempersandingkan fakta hukum dalam persidangan, tetapi bisa menelaah sendiri fakta
lingkungannya.
Kelak, seluruh kasus lingkungan yang diperadilankan hanya bisa ditangani oleh
hakim yang bersertifikasi lingkungan. Hakim bersertifikasi harus diberi insentif yang layak
dan tentu saja diperlukan anggaran besar. KLH juga telah menyusun program sertifikasi jaksa
dan sertifikasi kepolisian. Program ini memang berat, karena berkaitan dengan pemahaman
lingkungan. Kepolisian misalnya tidak hanya mengurusi lingkungan, tetapi berbagai macam
kasus kriminal misalnya.
Kalau pemahaman para penegak hukum sudah terkordinasi dengan baik, maka
peradilan mengenai sengketa lingkungan pasti bisa memberi hasil memuaskan. Apalagi
ditunjang oleh UU yang tegas dan tidak multi tafsir lagi.
Penguatan SDM para PPNS di daerah pun wajib dibenahi tegas Ilyas. Kuatnya
kewenangan PPNS sesuai amanah UU No 32 mensyaratkan perlunya peningkatan kapasitas
PPNS. Bisa dibayangkan, ketika PPNS diberi kewenanangan untuk menangkap dan menahan
pelaku perusak lingkungan. Karena itu program sertifikasi aparat hukum dan rekrutmen
PPNS akan menjadi program berkesinambungan KLH untuk membangun kapasitas
kelembagaan.
Pakar hukum lingkungan seperti Asep Warlan sendiri membayangkan kelak pidana
lingkungan disejajarkan dengan pidana korupsi. Harusnya ada Tindak pidana khusus
lingkungan yang secara spesifik mengenai peradilan lingkungan. Tetapi, sebagai langkah
19

awal, pemahaman dan penguatan kapasitas pihak-pihak terkait setidaknya sudah cukup
mumpuni untuk mengawali tonggak baru pengendalian kasus lingkungan.
Harapan baru terlahir dari UU No 32 tahun 2009, sekali lagi diperlukan political
will dari pemerintah.

B. Analisis Kelemahan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup sebagai pembaruan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup tentu saja diharapkan dapat lebih melindungi lingkungan
hidup sebagai hasil kerjasama antara masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah. Namun, pada
kenyatannya, ternyata masih saja terjadi perusakan dan pencemaran lingkungan oleh pelaku
usaha.
Dengan demikian maka perlu adanya evaluasi penyebab terjadinya perusakan dan
pencemaran lingkungan meskipun negara kita telah memiliki aturan yang bisa dibilang cukup
sempurna. Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan
UUPLH ini, maka harus ada keseimbangan peran serta kesungguhan dalam melaksanakan
hak dan kewajiban masing-masing subjek sehingga UU PPLH ini benar-benar dapat
dilaksanakan dengan baik.
Memang tidak ada yang sempurna, tapi pada dasarnya kita semua harus
melaksanakan segala-sesuatu dengan sebaik-baiknya, masyarakat jangan hanya bisa
menyalahkan pemerintah, atau sebaliknya pemerintah menyalahkan masyarakat karena
kurangnya pengawasan terhadap pencemaran atau perusakan yang terjadi akibat dari suatu
industri.
1. Peran pemerintah terutama dalam hal pengawasan harus terus digalakkan.
Berbagai tugas pemerintah dengan jelas diatur dalam UU PPLH, dalam Bab IX
diatur mengenai Tugas dan Wewenang Kepala Daerah, dan dalam Bab XII UU PPLH
diatur mengenai pengawasan dan Sanksi Administratif. Aturan ini menjadi acuan bagi
pemerintah untuk melaksanakan tugasnya terutama dalam memberikan izin usaha.
Penting pula bagi pemerintah untuk melaksanakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
(KLHS) serta analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal) sehingga perusahaan
20

yang beroperasi adalah perusahaan yang benar-benar telah memenuhi aturan yang
terdapat dalam UU PPLH.
Tidak hanya pada saat awal pendirian dan pemberian izin saja pemerintah
memiliki peran yang penting, tetapi setelah pelaksanaan/pengoperasian industri tersebut
pemerintah juga harus memerhatikan dengan sungguh-sungguh dampak yang
ditimbulkan dari suatu kegiatan industri.
Hal ini menjadi sangat penting, karena pemerintahan yang bersih tentu diperlukan
sehingga tidak ada celah bagi para pelaku usaha nakal untuk mengambil keuntungan bagi
sebagian pihak saja sedangkan masyarakat malah dirugikan.
2. Kemungkinan adanya

pelaku usaha yang tidak melaksanakan kewajibannya

dengan baik.
Dalam Pasal 68 UU PPLH disebutkan bahwa:
Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban:
a. memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup secara benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu;
b. menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup; dan
c. menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup.
Setiap pelaku usaha hendaknya memenuhi kewajiban sebagaimana terdapat dalam
pasal tersebut, terutama dalam memberikan informasi yang dibutuhkan sehingga
pemerintah juga terbantu dalam pengawasan lingkungan dan dapat mempredikisi sejauh
mana kerusakan atau pencemaran lingkungan yang mungkin terjadi sehingga tidak
merugikan banyak pihak.
3.

Dilematis antara pencemaran dan pekerjaan.


Sudah tidak asing lagi, meskipun negara Indonesia yang memiliki banyak
kekayaan alam yang melimpah ternyata di dalamnya masih terdapat masyarakat yang
hidup dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti itu, tentunya masyarakat membutuhkan
pekerjaan sekedar untuk menambal perut.
Keberadaan suatu perusahaan industri di sekitar wilayah pemukiman tentunya
memberikan efek positif untuk mengurangi pengangguran. Masyarakat di sekitar wilayah
21

industri bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan tersebut sebagai ekses dari


adanya Corporate Social Responsibility (CSR), yaitu tanggung jawab perusahaan
terhadap wilayah sekitarnya.
Tidak dapat dipungkiri, hal ini menjadi dilematis karena saat terjadi perusakan
atau pencemaran lingkungan akibat dari kegiatan industri tersebut masyarakat sekitar
tidak mau menggunakan haknya untuk memberikan laporan kepada pemerintah, padahal
dalam Pasal 65 ayat (6) UU PPLH disebutkan bahwa:
Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran
dan/atau perusakan lingkungan hidup.
Ketidakinginan masyarakat untuk melaporkan terjadinya pencemaran atau
perusakan lingkungan hidup ini disebabkan masyarakat membutuhkan perusahaan
industri tersebut sebagai mata pencaharian meskipun pada akhirnya masyarakat sendiri
yang mengalami kerugian dari tercemarnya sumber daya di wilayah tempat tinggal
mereka yang berefek pada banyaknya penyakit yang timbul. Kemiskinan dan kurangnya
lahan pekerjaan menjadi salah satu penyebab tidak maksimalnya keberadaan UU PPLH
ini.
Perlunya peningkatan kesadaran terhadap masyarakat berkaitan dengan terjadinya
pencemaran atau perusakan akibat suatu kegiatan industri, bahwa pendapatan yang
diperoleh tidaklah sebanding dengan kerugian yang akan diderita baik untuk saat ini
maupun untuk saat yang akan datang karena pemulihan terhadap lingkungan hidup yang
rusak/tercemar memerlukan waktu yang tidak sebentar. Apabila kita perhatikan, banyak
pencemaran yang mungkin terjadi di kawasan industri, tak hanya pencemaran tanah, air,
udara pun bisa tercemar. Ketercemaran tersebut memungkinkan banyaknya penyakit yang
timbul, misalnya saja penyakit kulit seperti gatal-gatal, diare akibat konsumsi air yang
tidak bersih, pernafasan pun bisa terganggu dengan tercemarnya udara, yang menjadi
korban tentunya bisa siapa saja.
4. Memperkenalkan UU PPLH ini kepada masyarakat terutama bagi yang masih

awam.
Masyarakat harus mengetahui adanya perlindungan dari pemerintah terhadap
lingkungan hidup serta adanya sanksi bagi para pihak yang melakukan pelanggaran.
22

Pengetahuan mengenai undang-undang ini sedikit demi sedikit bisa diperkenalkan dalam
suatu sistem pendidikan maupun pengenalan kepada masyarakat melalui pemerintahan
terkecil (RT/RW). Hal ini tentunya akan membantu pemerintah dalam pelaksanaan UU
PPLH ini, ketika setiap orang semakin mengerti tentang adanya UU PPLH, maka tidak
akan ada lagi pembodohan terhadap pihak-pihak yang kurang mengerti dan pencemaran
lingkungan dapat dikendalikan.
Keseimbangan peranan merupakan hal yang penting dan juga menjadi penentu
suksesnya eksistensi UU PPLH ini. Lingkungan hidup yang sehat tetap dapat tercipta,
dan kegiatan berorientasi profit yang mungkin dapat mencemari lingkungan masih dapat
berjalan dengan batasan baku mutu lingkungan.
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Beragam hasil
alam dapat dimanfaatkan oleh warga negaranya untuk memenuhi kebutuhannya. Seiring
perkembangan zaman, manusia tidak hanya menggunakan hasil alam untuk menjaga
kelangsungan hidupnya saja, akan tetapi manusia zaman sekarang cenderung
memanfaatkan hasil alam secara maksimal untuk dikomersialisasikan demi mendapatkan
keuntungan finansial. Dengan melihat fenomena tersebut, hukum harus berperan sebagai
body guard alam melaui penerapan sanksi-sanksi yang dapat mencegah dan
mengendalikan perusakan dan pencemaran lingkungan.

23

BAB IV
KESIMPULAN
Undang-undang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan salah satu
dari ruang lingkup pidan khusus yaitu peraturan administratif yang memuat ketentuan pidana
Hal ini dapat dilihat dari pengaturan pidana yang dimulai pada pasal 97-120,yang dimulai
dengan menyatkan bahwa segala tindak pidan yang ada dalam UU ini merupakan sebuah
kejahatan. UU ini menjelaskan juga tentang subyek hukum yakni tidak hanya orang
perseorangan akan tetapi juga badan hukum atau koorporasi.
Terdapat beberapa kekhususan dalam undang-undang ini yang pengaturannya tidak diatur
secara terperinci dalam kitab undan-undang hukum pidana,baik itu pidan materil ,maupun pidan
formil antara lain mengenai koorporasi atau badan hukum merupakan subjek hukum dalam
tindak pidana lingkungan dan dalam pidana formil adanya penyidik pejabat negeri sipil yang
didalam KUHAP tidak di sebutkan.
Dengan perkembangan dan aturan khusus yang terdapat dalam UU ini diharapkan
mampu mengurangi kejahatan yang terjadi dalam bidang lingkungan ini dan penguatan
penegakan hukum dalam rangka melakukan upaya preventif serta menghindari kerusakan
terhadap lingkungan hidup.

24

DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang no 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
Undang-undang no 8 tahun 1981 tentang KUHAP
Asshiddiqie, Jimly. 2009. Green Constitution: Nuansa Hijau Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hamzah, Andi. 2005. Penegakan Hukum Lingkungan. Cet.1. Jakarta: Sinar Grafika.
____________.2005. Asas-Asas Hukum Pidana, Cet. 1. Jakarta: Yarsif Watampone.
Hardjasoemantri, Koesnadi. 1999. Hukum Tata Lingkungan. Cet. 14. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI. Eksaminasi Putusan MA N0.
617/K/PID/2004 tentang Tindak Pidana Lingkungan Hidup PT EVERBRIGHT
MEDAN-SUMUT.
Raihan. 2007. Lingkungan Dan Hukum Lingkungan, Cet. 2. Jakarta: Universitas Islam
Jakarta.
Soekanto, Soerjono. 2006. Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia.
Siahaan, N.H.T. 2009. Hukum Lingkungan, Cet. 2. Jakarta: Pancuran Alam Jakarta.
Steni, Bernadius, Susilaningtias. 2007. Tindak Pidana Lingkungan Hidup dan Sumber
Daya Alam dalam Berbagai Undang-Undang Sektoral Dan Upaya Kodifikasi Ke
Dalam RKUHP, Cet. 1. Jakarta: HUMA dan Aliansi Nasional Reformasi KUHP.
Santoso, Mas Achmad dan Anthony LP Hutapea. Tth. Mendayagunakan Mekanisme
alternatif Penyelesaian Sengketa (MAPS) Di Indonesia, Cet. 1. Jakarta: USAID
dengan WALHI.
http://green.kompasiana.com/iklim/2010/08/14/uu-pplh-no-32-tahun-2009-tonggak-barukeberlanjutan-lh-225476.html. Diakses tanggal 2 Maret 2014.

25