Anda di halaman 1dari 23

TEACHING HEALTH ETHICS

The 20-year-old Widow With HIV


and Her New Husband

KASUS :
Seorang janda berumur 20 tahun yang mengidap HIV dan suami barunya

DOKTER :
Berikut tentang seorang wanita muda berumur 22 tahun yang kehilangan suaminya
karena AIDS. Setelah 3 tahun, mertuanya mengajak wanita tersebut kepada kami,
karena ibu mertua ingin sekali menikahkannya dengan putra keduanya. Wanita
tersebut telah menderita HIV positive. Mertua wanita tersebut mendorong putra
mereka ke arah yang buruk. Mereka mungkin menginginkan hidup yang lebih baik
bagi si wanita. Kami menyuruh mereka untuk meneruskannya tanpa memberi
informasi pada mereka mengenai status HIV-nya. Akhirnya, kami kehilangan pasien
dan putra mereka. Dalam kasus seperti ini seseorang harus bekerja sama dengan
keluarga, dan mungkin jika kita mendiskusikan statusnya secara terbuka dengan
keluarga, keputusan mereka mungkin akan berbeda.

I. WHAT IS THE MORAL PROBLEM ?


Apakah keluarga harus diberitahu tentang penyakit yang diderita oleh wanita
tersebut? Bagaimana sikap keluarganya apabila tahu tentang penyakit yang diderita
oleh anak dan menantunya? Bagaimana kehidupan wanita tersebut selanjutnya ?
Apakah setelah diberitahu penyakit wanita tersebut, mertuanya akan membatalkan
pernikahan dengan putra keduanya dan putra keduanya akan hidup ?

1
PENDAHULUAN

Etika kedokteran yang dalam istilah Inggrisnya dikenal dengan “Medical Ethics”
sebenarnya telah lama dikenal, dalam bentuk Sumpah Kedokteran Hippocrates/
Sumpah Hippocrates yang ditulis pada abad ke-5 Sebelum Masehi. Hippocrates
dikenal sebagai Bapak Pengobatan, beliau dilahirkan di Yunani pada 460 SM. Etika
adalah cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode pada tugas manusia
untuk menemukan nilai-nilai moral atau menerjemahkan nilai-nilai itu kedalam
norma-norma etika (etika dasar) dan menerapkannya pada situasi kehidupan konkret
(etika terapan).

Sejak masa Hippocrates ilmu kedokteran sudah menjadi keilmuan yang sangat
dihormati dimana pada masa itu profesi kedokteran sudah diatur dengan sejumlah
peraturan, yang menjabarkan bagaimana seharusnya sikap dan perilaku seorang
dokter. Sebagai seorang dokter merupakan profesi yang seumur hidup akan melekat
pada diri kita untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Setiap perilaku dan sikap
seorang dokter harus berpedoman pada kode etik dan sumpah dokter.

Bioetika merupakan istilah yang masih asing bagi kebanyakan orang, bioetika
pertama kali tahun 1971 oleh ahli kanker Amerika, Van Rensselaer Potter, dalam
bukunya Bioethics : Bridge to the Future. Bioetika bersifat interdisipliner yang ingin
membuka dialog antara berbagai disiplin pada masalah-masalah yang biasa kita
hadapi baik masalah biologi ataupun cabang ilmu kedokteran yang sangat
berkepentingan dalam dialog tersebut, baik pada skala mikro maupun skala makro,
dan dampak yang diakibatkan pada masyarakat luas serta sistem nilainya, baik pada
kini maupun masa akan datang. Empat prinsip bioetika yang mendasar ialah :
1. Respect to autonomy : respect for the individual and their ability to make
decisions with regard to their own health and future. Actions that enhance
autonomy are thought of as desirable and actions that 'dwarf' an individual and
their autonomy are undesirable
2. Non-maleficence: actions intended not to harm or bring harm to the patient and
others
3. Beneficence: actions intended to benefit the patient or others

2
4. Justice : being fair or just to the wider community in terms of the consequences
of an action

Etika bisa didasarkan atau bersumber pada salah satu dari tiga sudut pandang di
bawah ini, atau merupakan gabungan dari ketiga-tiganya, yakni : Sudut pandang
filosofis yang didasarkan pada akal budi; Sudut pandang teologis yang didasarkan
pada iman; Sudut pandang sosio-budaya yang didasarkan pada adat kebiasaan dan
tradisi. Dengan begitu, hubungan dokter-pasien yang didasarkan pada sumber-sumber
pokok moralitas tersebut bisa bersifat sebagai berikut :
1. Muncul dari dirinya sendiri, tentu dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis,
neurologis dan genetis, dan dengan begitu bersifat eksistensialistis dan disertai
oleh perasaan-perasaan moral;
2. Semata-mata merupakan hasil dari akal budi manusia (yang kerap kali disebut
”humanisme sekuler”);
3. Ditentukan oleh situasi sejarah dan didasarkan pada faktor-faktor sosio-budaya,
yaitu adat kebiasaan atau tradisi.
4. Berpusat pada iman dan didasarkan pada prinsip-prinsip religius yang
diwahyukan secara ilahi atau pada interpretasi akal budi manusia tentang wahyu
ilahi itu.

Hubungan dokter-pasien dapat dianggap sebagai suatu hubungan sui generis,


karena ditandai oleh adanya penyakit dan penyembuhannya. Hubungan semacam ini
menuntut sikap berbuat baik, tidak mencari diri sendiri, dan keandalan dalam
menghadapi penyakit sebagai kenyataan. Aturan-aturan yang tercantum dalam
sumpah Hippokrates adalah : Tidak melakukan tindakan yang merugikan pasien;
Memperlakukan pasien menurut tingkat kemampuan dan penilaian dokter yang
terbaik; Tidak pernah meracuni pasien; Tidak pernah melakukan abortus; Tidak
pernah melakukan pembedahan yang tidak termasuk kompetensinya; Tidak pernah
melukai pasien secara pribadi atau melakukan kesalahan seksual terhadap pasien dan
keluarganya; Tidak pernah membocorkan rahasia tentang diri pasien.

Dengan demikian sumpah ini mengandung berbagai prinsip yang mengatur


hubungan dokter-pasien. Prinsip-prinsip tersebut adalah : tidak merugikan, berbuat
baik, konfidensialitas, tidak mencari diri-sendiri, berperilaku jujur, kesetiaan pada

3
kepercayaan yang telah diberikan. Prinsip-prinsip etis utama yang terlibat dalam
hubungan dokter-pasien adalah :
1. Berbuat baik, yaitu tidak melakukan sesuatu yang merugikan, berbuat baik
meskipun berakibat kesusahan bagi sang dokter dan meskipun sang dokter harus
berkorban;
2. Keadilan (yang oleh orang Roma kuno didefinisikan sebagai suum cuique:
memberi haknya kepada setiap orang), yaitu perlakuan yang sama untuk orang
yang sama dalam situasi-situasi yang sama, artinya menekankan persamaan dan
kebutuhan, bukannya jasa, kekayaan, posisi sosial atau kemampuan untuk
membayar.
3. Otonomi, menghindari paternalisme yang kuat, dan otonomi di dalam batas-
batas, yaitu ”berbuat baik” dalam kepercayaan dan tanpa batas, kecuali kerugian
untuk orang lain. Otonomi merupakan prinsip yang mengakui hak setiap pribadi
untuk memutuskan sendiri mengenai masalah kesehatannya, kehidupan serta
kematiannya. Otonomi dapat dikatakan merupakan hak atas perlindungan
privacy.
Prinsip-prinsip etis sekunder dalam hubungan dokter pasien adalah : menepati
janji, mengatakan yang benar, konfidensialitas, dan kesetiaan kepada
kepercayaan yang telah diberikan.

Prinsip-prinsip yang menjadi landasan disusunnya Deklarasi Universal


mengenai bioetika dan hak-hak asasi manusia. Pasal-pasal dalam deklarasi pada
Oktober 2005 tersebut yang berkaitan dengan kasus di atas adalah :
1. Pasal 3. Martabat manusia dan hak-hak asasi manusia.
Martabat manusia, hak-hak asasi manusia dan kebebasan mendasar harus
sepenuhnya dihormati. Kepentingan dan kesejahteraan perorangan seharusnya
diberi prioritas di atas kepentingan satu-satunya dari ilmu pengetahuan dan
masyarakat
2. Pasal 5. Otonomi dan tanggung jawab perorangan.
Otonomi orang untuk mengambil keputusan, sementara mengambil tanggung
jawab untuk keputusan-keputusan tersebut dan menghormati otonomi orang
lain, harus dihormati. Untuk orang yang tidak mampu menjalankan otonomi,
perlakuan khusus harus diambil untuk melindungi hak-hak dan kepentingan
mereka.

4
3. Pasal 6. Kesepakatan. Intervensi kedokteran preventif, diagnostik dan terapeutik
yang mana saja hanya untuk dilaksanakan dengan kesepakatan berinformasi dan
bebas, yang terdahulu dari orang yang berkenaan, didasarkan pada informasi
yang cukup. Kesepakatan seharusnya, di mana sesuai, cepat dan dapat ditarik
kembali oleh orang yang berkenaan pada waktu yang bilamana saja dengan
alasan apapun tanpa kerugian atau rasa menyalahi.
4. Pasal 10. Kesamaan mendasar semua manusia dalam martabat dan hak untuk
dihormati sehingga mereka diberlakukan adil dan merata

5
II. FACTS
Medical dimension
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah menurunnya daya tahan
tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi virus HIV (Human
Immunodeficiency Virus). Seseorang yang terinfeksi HIV dengan mudah dapat
terserang berbagai penyakit lain karena rendahnya daya imunitas tubuh, dan dapat
mengakibatkan kematian.
AIDS dapat didefinisikan sebagai suatu sindrom atau kumpulan gejala penyakit
dengan karakteristik defisiensi imun yang berat, dan merupakan manifestasi stadium
akhir infeksi HIV. Antibody HIV positif tidak identik dengan AIDS, karena AIDS
harus menunjukan adanya satu atau lebih gejala penyakit akibat defisiensi system
imun selular.

Untuk Negara-negara yang mempunyai fasilitas diagnostic yang cukup, definisi


AIDS adalah sebagai berikut:
1. Suatu penyakit yang menunjukan adanya defisiensi imun selular, misalnya
sarkoma Kaposi, atau satu atau lebih infeksi oportunistik yang didiagnostik
dengan cara yang dapat dipercaya.
2. Tidak adanya sebab-sebab lain Imunodefisiensi selular yang diketahui berkaitan
dengan penyakit tersebut

Untuk Negara-negara yang tidak mempunyai fasilitas diagnostic yang cukup,


telah disusun suatu ketentuan klinik sebagai berikut (hasil workshop di Bangui, Afrika
Tengah, bulan Oktober 1985).
1. Dicurigai AIDS pada orang dewasa bila ada paling sedikit dua gejala mayor dan
satu gejala minor dan tidak ada sebab-sebab imunosupresi yang lain seperti
kanker, malnutrisi berat, atau pemakaian kortikosteroid yang lama.
Gejala mayor :
a. Penurunan berat badan lebih dari 10 %
b. Diare kronik lebih dari 1 bulan
c. Demam lebih dari satu bulan (kontinyu atau intermiten)
Gejala minor :
a. Batuk lebih dari 1 bulan

6
b. Dermatitis prunik umum
c. Herpes zoster recurrens
d. Kandidiasis oro-faring
e. Limfadenopati generalisata
f. Herpes simpleks diseminata yang kronik progresif
2. Dicurigai AIDS pada anak, bila terdapat paling sedikit dua gejala mayor dan dua
gejala minor, dan tidak terdapat sebab-sebab imunosupresi yang lain seperti
kanker, malnutrisi berat, pemakaian kortikosteroid yang lama atau etiologi lain.
Gejala mayor:
a. Penurunan berat badan atau pertumbuhan yang lambat dan abnormal
b. Diare kronik lebih dari satu bulan
c. Demam lebih dari satu bulan
Gejala minor:
a. Limfadenopati generalisata
b. Kandidiasis oro-faring
c. Infeksi umum yang berulang
d. Batuk persisten
e. Dermatitis generalisata
f. Infeksi HIV pada ibunya
Kriteria tersebut khusus untuk Negara-negara Afrika yang mempunyai
prevalensi AIDS tinggi, dan belum tentu sesuai untuk digunakan di Indonesia. Di
Indonesia untuk keperluan survailan, dipergunakan pedoman definisi WHO/CDC
yang telah direvisi tahun 1987.

Pertama kali kasus AIDS dilaporkan oleh Center For Disease Control (CDC) di
Amerika Serikat pada sekelompok kaum homoseks di California dan New York City
pada tahun 1981, di mana ditemukan adanya sarcoma Kaposi dan pneumonia
Pneumocystis carinii dan beberapa gejala klinis yang tidak biasa. Kemudian gejala
penyakit tersebut semakin jelas diketahui sebagai akibat adanya kegagalan system
imun, dan karena itu disebut AIDS. Kasus-kasus serupa dengan cepat sekali juga
dilaporkan dari belahan dunia lainya seperti Eropa Barat, Australia, Amerika Latin,
Afrika, dan Asia. Teori tentang adanya factor infeksi sebagai penyebab, baru dapat
dikonfirmasikan pada tahun 1983 dengan dapat di isolasinya virus penyebab AIDS

7
yang sekarang disebut Human Immunodeiciency Virus (HIV), dan tes serologi
pertama kali dapat dilakukan pada tahun 1984.

Dewasa ini dunia tengah mengalami suatu pandemic virus HIV. Pandemi ini
tidak hanya menimbulkan dampak negatif di bidang medis, tetapi juga di bidang
social, ekonomi dan politik. AIDS merupakan masalah global yang penting, dan
merupakan masalah yang sangat kompleks. Masalah pandemic ini terbagi atas tida
aspek epidemic yang timbul secara berkelanjutan di belahan dunia ini, sebagai
berikut:
Epidemic pertama adalah epidemic HIV itu sendiri, yang secara diam-diam
tanpa disadari, dan tanpa diketahui terjadi di masyarakat. Epidemic ini disebut silent
epidemic. Dari peneitian seroarkeologi, ternyata HIV telah ada pada darah beku dari
afrika yang tersimpan sejak tahun 1959. Karena itu silent epidemic diperkirakan telah
terjadi pada akhir enam puluhan atau awal tujuh puluhan.
Epidemic kedua adalah munculnya kasus-kasus AIDS yang terjadi beberapa
tahun kemudian. Hal ini terjadi karena diperlukan waktu beberapa tahun sebelum
seseorang dengan infeksi HIV akan berkembang dan menunjukan gejala-gejala AIDS
yang nyata. Hal ini berkembang cepat pada awal delapan puluhan. Perkembangannya
akan terus berlajut dalam decade mendatang, walaupun seandainya tidak terjadi lagi
penularan baru, karena sejumlah besar HIV akan menjadi sakit dan menunjukan
gejala AIDS.
Epidemic ketiga adalah epidemic reaksi masyarakat terhadap masalah HIV dan
kasus AIDS, sebagai akibat adanya kedua epidemic sebelumnya. Hal ini mulai
nampak sekitar pertengahan tahun delapan puluhan, berupa dampak social, ekonomi,
psikologi, dan bahkan dampak politik. Aspek ketiga epidemic ini akan tergantung dari
kemampuan masyarakat menanggulangi masalah social ini, sehingga dapat mencegah
timbulnya kecurigaan dan diskriminasi, yang berarti terdapat respons positif untuk
pencegahan penularan dan perawatan pada pengidap HIV/AIDS.

HIV terdapat dalam darah dan cairan tubuh seseorang yang telah tertular,
walaupun orang tersebut belum menunjukan keluhan atau gejala penyakit. HIV hanya
dapat ditularkan bila terjadi kontak langsung dengan cairan tubuh atau darah. Dosis
virus memegang peranan penting. Makin besar jumlah virusnya makin besar
kemungkinan ineksinya. Jumlah virus yang banyak ada dalam darah, sperma, cairan

8
vagina dan serviks dan cairan otak. Dalam saliva, air mata, urin, keringat dan air susu
hanya ditemukan sedikit sekali.
Tiga Cara Penularan HIV :
1. Hubungan seksual, baik secara vaginal, oral ataupun anal dengan seorang
pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 80-90 % dari total
kasus sedunia. Lebih mudah terjadi penularan bila terdapat lesi penyakit kelamin
dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genetalis, sifilis, gonorea,
klamidia, kankroid dan trikomoniasis. Risiko pada seks anal lebih besar
disbanding seks vaginal, dan risiko juga lebih besar pada yang insertive. Diketahui
juga bahwa epitel silindris pada mukosa rectum, mukosa uretra laki-laki dan
kanalis servikalis ternyata mempunyai reseptor CD4 yang merupakan target utama
HIV.
2. Kontak langsung dengan darah/produk darah/jarum suntik:
a. tranfusi darah/produk darah yang tercemar HIV, resikonya sangat tinggi,
sampai lebih dari 90 %. Ditemukan sekitar 3-5 % dari total kasus sedunia
b. pemakaian jarum tidak steril/pemakaian bersama jarum suntik dan sempritnya
pada para pecandu narkotik suntik. Risikonya sekitar 0,5-1 %, dan telah
terdapat 5-10 % dari total kasus sedunia.
c. Penularan lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan risikonya
sekitar kurang dari 0,5 % dan telah terdapat kurang dari 1 % dari total kasus
sedunia.
3. Secara vertical dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya, baik selama hamil,
saat melahirkan ataupun setelah melahirkan. Risiko sekitar 25-40 %, terdapat <
0,1 % dari total kasus sedunia.

Luc Montagnier dkk tahun 1983 telah menemukan LAV (Lymphadenopathy


Associated Virus) dari seseorang dengan pembengkakan kelenjar limfe (PGL). Pada
tahun 1984 sejenis virus yang disebut HTVL 3 (Human T cell Lymphotropic Virus
type 3) ditemukan dari pasien AIDS di Amerika oleh Robert Gallo dkk. Kemudian
ternyata bahwa kedua virus tersebut sama, dan oleh Committee Taxonomy
International pada tahun 1985 disebut sebagai HIV (Human Immuno-deficiency
Virus). Sampai tahun 1994 diketahui ada dua subtype yaitu HIV 1 dan HIV 2.
HIV 1 dan HIV 2 merupakan suatu virus RNA yang termasuk retrovirus dan
lentivirus. HIV 1 penyebarannya lebih luas di hampir seluruh dunia, sedangkan HIV 2

9
ditemukan pada pasien-pasien dari Afrika Barat dan Portugal. HIV 2 lebih mirip
dengan Monkey Virus yang disebut SIV (simian Immunodeficiency Virus). Antara
HIV 1 dan 2 intinya mirip, tetapi selubung luarnya sangat berbeda.
HIV mempunyai target sel utama yaitu sel limfosit T4, yang mempunyai
reseptor CD4. Beberapa sel lain yang juga mempunyai reseptor CD4 adalah: sel
monosit, sel makrofag, sel folikular dendritik, sel retina, sel leher rahim, dan sel
langerhans. Penelitian terakir juga menunjukan HIV dapat menginfeksi sel astroglia
otak dan sel endotel saluran cerna walaupun sel tersebut tidak mempunyai reseptor
CD4.

Masa inkubasi adalah waktu dari terjadinya infeksi sampai munculnya gejala
yang pertama pada pasien. Pada infeksi HIV hal ini sulit diketahui. Dari penelitian
pada sebagian besar kasus dikatakan masa inkubasi rata-rata 5-10 tahun, dan
bervariasi sangat lebar, yaitu antara 6 bulan sampai lebih dari 10 tahun. Walaupun
belum ada gejala, tapi yang bersangkutan telah dapat menjadi sumber penularan.
I. Infeksi Akut
Sekitar 30-50 % dari mereka yang terinfeksi HIV akan memberikan gejala infeksi
akut yang mirip dengan gejala infeksi mononucleosis, yaitu demam, sakit
tenggorokan, letargi, batuk, mialgia, keringat malam, dan keluhan GIT berupa nyeri
menelan, mual, muntah, dan diare. Mungkin bias didapatkan adanya pembesaran
kelenjar limfe leher, faringitis, macular rash dan aseptic meningitis yang akan sembuh
dalam waktu 6 minggu. Patogenesis simtom ini tidak jelas diketahui, tapi sangat
mungkin akibat adanya reaksi imun yang aktif terhadap masuknya HIV dalam darah.
Saat ini mungkin pemeriksaan antibody HIV masih negative, tapi pemeriksaan Ag
p24 sudah positif. Pada saat ini dikatakan pasien ini sangat infeksius.
II. Infeksi Kronik Asimtomatik
Fase akut akan diikuti fase kronik asimtomatik yang lamanya bias bertahun-tahun.
Walaupun tidak ada gejala, kita tetap dapat mengisolasi virus dari darah pasien dan ini
berarti bahwa selama fase ini pasien juga infeksius. Tidak diketahui secara pasti apa
yang terjadi pada HIV pada fase ini. Mungkin terjadi replikasi lambat pada sel-sel
tertentu dan laten pada sel-sel lainnya. Tapi jelas bahwa aktivitas HIV tetap terjadi
dan ini dibuktikan dengan menurunnya fungsi system imun dari waktu ke waktu.
Mungkin sampai jumlah virus tertentu tubuh masih dapat mengantisipasi system imun
dalam kompensasi.

10
III. PGL (Pembengkakan Kelenjar Limfe)
Pada kebanyakan kasus, gejala pertama yang muncul adalah PGL. Ini menunjukan
adanya hiperaktivitas sel limfosit B dalam kelenjar limfe, dapat persisten selama
bertahun-tahun, dan pasien tetap merasa sehat. Terjadi progresi bertahap dari adanya
hyperplasia folikel dalam kelenjar limfe sampai timbulnya involusi dengan adanya
invasi sel limfosit T8. ini merupakan reaksi tubuh untuk menghancurkan sel dendritik
folikel yang terinfeksi HIV. Di samping itu infeksi pada otak juga sering terjadi.
Walaupun dikatakan konsentrasi HIV paling banyak dalam likuor serebrospinal,
umumnya sulit mendeteksi kelainan psikoneurologi pada fase ini.
Dengan menurunnya sel limfosit T4, makin jelas nampak gejala klinis yang
dapat dibedakan menjadi beberapa keadaan. Gejala ini dapat dibagi atas:
a. Gejala dan keluhan yang disebabkan oleh hal-hal tidak langsung berhubungan
dengan HIV, seperti: diare, demam lebih satu bulan, keringat malam, rasa lelah
berlebihan,batuk kronik lebih dari satu bulan, dan penurunan berat badan 10 %
atau lebih. Apabila yang mencolok adalah penurunan berat badan, maka ini
merupakan salah satu penyakit indicator AIDS dan disebut slim disease, gejala
ini yang paling banyak terdapat di Afrika.
b. Gejala yang langsung akibat HIV, misalnya: mielopati, neuropati perifer, dan
penyakit susunan saraf otak. Hampir 30 % pasien dalam stadium akhir akan
menderita AIDS dementia kompleks. Yaitu menurun sampai hilangnya daya
ingat, gangguan fungsi motorik dan fungsi kognitif, sehingga pasien sulit
berkomunikasi dan tidak bias jalan
c. Infeksi oportunistik dan neoplasma. Pada stadium kronik simtomatik ini sangat
sedikit keluhan dan gejala yang benar-benar langsung akibat HIV. Sebagian
besar adalah akibat menurunnya sel limfosit T4, sehingga dengan terganggunya
sentral system imun selular ini, maka infeksi oportunistik yang sering dialami
adalah infeksi virus, parasit dan mikobakterium. Neoplasma yang dikenal
sebagai penyakit indicator AIDS adalah sarcoma Kaposi dan limfoma sel B
yang terisolasi di otak dan non Hodgkin limfoma.

Diagnosis AIDS dapat dibuat bila terdapat satu atau lebih gejala penyakit yang
termasuk indicator AIDS dan pemeriksaan laboratorium sebagai bukti adanya infeksi
HIV (seperti yang tercantum dalam lampiran definisi kasus menurut CDC,USA).

11
AIDS diperiksa sesuai dengan metode diagnostic penyakitnya masing-masing,
misalnya: pemeriksaan mikroskopis untuk kandidiasis, PCP, TBC paru, dsb. Kadang-
kadang perlu pemeriksaan penunjang lain, seperti laboratorium rutin, serologis,
radiologist, USG, CT scan, bronkoskopi, pembiakan, hispatologis dan sebagainya.
Penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri dari: pengobatan, perawatan/rehabilitasi dan
edukasi. Pengobatan pada pengidap HIV/ penderita AIDS ditujukan terhadap:Virus
HIV, infeksi oportunistik, kanker sekunder, status kekebalan tubuh, simtomatis dan
suportif, obat Antiretrovirus, Obat-obat untuk Infeksi Oportunistik, Terapi profilaktik,
Obat untuk Kanker Sekunder, Immune Restoring Agents, Pengobatan Simtomatis dan
Suportif.

Perjalanan alamiah penyakit AIDS belum diketahui dengan pasti. Factor-faktor


yang memegang peran untuk timbulnya AIDS pada seorang HIV positif belum
diketahui dengan jelas. Diperkirakan bahwa infeksi HIV yang berulang dan
pemajanan terhadap infeksi-infeksi lain, seperti virus herpes simpleks, CMV, dan
EBV mengakibatkan progresivitas penyakit. Median survival pasien AIDS adalah
antara 1-2 tahun untuk Negara maju dan kurang dari 1 tahun untuk Negara yang
sedang berkembang.

Perawatan dilakukan dengan mengingat prinsip-prinsip isolasi protektif dan


isolasi preventif. Rehabilitasi ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga
atau orang terdekat dengan melakukan konseling yang bertujuan untuk:
1. memberikan dukungan mental-psikologis
2. membantu mereka untuk bisa mengubah perilaku risiko tinggi menjadi perilaku
yang tidak beresiko atau kurang beresiko
3. mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan
kondisi tubuh yang baik
4. membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang berkaitan denan
penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah-masalah pribadi dan
sensitive kepada keluarga dan orang terdekat.

Edukasi pada masalah HIV/AIDS bertujuan untuk mendidik pasien dan


keluarganya tentang bagaimana menghadapi kenyataan hidup bersama AIDS,
kemungkinan diskriminasi dari masyarakat sekitar, bagaimana tanggung jawab

12
keluarga, teman dekat, atau masyarakat lain. Pendidikan juga diberikan tentang cara
hidup sehat, mengatur diet, menghindari kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan,
seperti : rokok, minuman keras, narkotik, dsb.

Sepanjang sejarah penelitian kedokteran, virus HIV merupakan satu-satunya


virus yang diteliti sedemikian luas, namun penelitian itu belum dapat menemukan
obat yang paten, ataupun vaksinnya. Karena itu yang sangat khusus dari HIV/AIDS
ialah tidak ada pilihan lain selain dengan cara pencegahan melalui edukasi atau
pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk mengubah perilaku berisiko tinggi
menjadi perilaku yang kurang berisiko atau tidak berisiko untuk penularan.

Pasien Values and Social Dimension


Pasien adalah manusia yang memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya.
Seberat apapun penyakit dari pasien tetap pasien memiliki hak untuk penghidupan
yang layak dengan kita. Berat ringannya suatu penyakit, menular atau tidaknya suatu
penyakit tidak membuat kita menjadi seseorang paranoid untuk menghindari orang
tersebut karena suatu penyakit yang tidak semua orang tahu bagaimana sebenarnya
penularan dari penyakit tersebut. Hal itu sangatlah tidak adil bagi pasien yang
mengidap penyakit itu, apalagi dia tidak sengaja sampai tertular penyakit itu, apakah
kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia sudah bersikap adil ?
Pasien dengan penyakit menular seperti kasus diatas seringkali menderita
secara mental maupun fisiknya. Pasien tersebut memerlukan perhatian dan motivasi
dari keluarganya melebihi orang-orang yang tidak menderita suatu penyakit.
Bukankah kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk saling menghargai dan
menghargai sesama, si miskin atau si kaya, si sehat ataupun si sakit semuanya sama
di hadapan Tuhan. Jadi kenapa kita harus membuat suatu diskriminasi kepada orang
lain. Apakah bijaksana kita sebagai manusia yang beradab menghukum seseorang
atas suatu penyakit yang bukan dengan sengaja ia terima. Sebagai seorang dokter
yang memiliki kewajiban melindungi kehidupan dari masa pembuahan sampai
kematian. Sebagai seorang dokter dalam pengambilan keputusan merupakan hal
yang sangat sulit, namun hal itu meerupakan konsekuensi dalam profesi kita.

13
Merupakan hal yang sangat sulit bagi seorang dokter dalam memberikan
keputusan mengenai penyakit yang diderita oleh pasien. Seperti pada kasus diatas
sangatlah sulit apakah seorang dokter harus menceritakan penyakit dari pasien
ataukah menyimpan kerahasiaan penyakit pasien seperti yang diminta oleh pasien.
Seorang pasien memiliki hak atas perlindungan privacy, jadi dia berhak meminta
kerahasiaan penyakitnya dari dokter dan dokter juga memiliki kewajiban untuk
menjaga kerahasiaan dari pasien. Untuk itu sangat diperlukan komunikasi yang baik
antara dokter, keluarga pasien dan pasien. Namun dengan menjaga kerahasiaan dari
penyakit pasien menyebabkan kematian bagi orang lain yang tidak tahu tentang
penyakitnya apakah itu dapat dianggap sebagai suatu keadilan? Kembali lagi pada
hubungan ataupun komunikasi antara dokter dan pasien tersebut, diperlukan
pengetahuan yang lebih pada pasien tentang penyakit dan penularannya, dan
dikembalikan lagi pada hati nurani dari pasien tersebut, apakah setelah dijelaskan
cara penularan dari HIV AIDS dia akan mengantisipasi penularan pada orang lain.
Disini sangat diperlukan komunikasi dari dokter dan pasien. Sangatlah sulit menjadi
orang yang baik dan bijaksana tanpa melukai perasaan orang lain.
Komunikasi dan interaksi yang baik dengan pasien sangatlah diperlukan,
seperti pada model IFS yang membantu menganalisis konsekuensi dari aksi pada
tingkat yang beragam dan berbagai daerah. Adanya komunikasi baik searah antara
dokter dengan pasien, pasien dengan keluarga, dan pasien dengan lingkungan.

14
Ethics Tools: The Ethical Grid

Deklarasi Lisabon 1981 menjelaskan secara lebih lengkap tentang hak-hak pasien
yaitu :
1. Pasien berhak atas privacy yang harus dilindungi, ia pun berhak atas
kerahasiaan data-data mediknya
2. Pasien berhak mati secara bermartabat dan terhormat

Organizational Dimension
Dalam Deklarasi Genewa yang terdapat dalam International Code of Medical Ethics
tahun 1947. Sebenarnya, ini adalah semacam pernyataan kembali dari ”Hippocratic
Oath”, dan lebih dikenal sebagai Declaration of Geneva. Selanjutnya, deklarasi ini
telah diamandemenkan di Sydney pada tahun 1968 dan di Venice, Italia pada tahun
1983. Berikut adalah teks lengkap deklarasi ini :

Deklarasi Genewa
Dengan hikmat saya berjanji untuk mendarma baktikan hidup saya untuk
melayani kemanusiaan.
Saya akan menjalankan profesi saya dengan penuh kesadaran dan kehormatan.
Kesehatan pasien saya adalah pertimbangan utama saya.

15
Saya akan menghormati rahasia-rahasia yang dipercayakan kepada saya,
bahkan sampai setelah pasien meninggal.
Saya akan menjaga setinggi-tingginya kehidupan manusia sejak permulaan,
walaupun dalam keadaan terancam, dan saya tidak akan menggunakan pengetahuan
kedokteran saya berlawanan dengan hukum-hukum kemanusiaan.
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien teman sejawat, dan pekerja
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien
Seorang dokter harus bertindak hanya untuk kepentingan pasiennya bila
memberikan perawatan medis yang dapat menimbulkan efek pelemahan kondisi fisik
dan mental pasien.
Seorang dokter harus selalu mengingat kewajiban untuk menjaga kehidupan
manusia.
Seorang dokter harus menjaga kerahasiaan secara mutlak mengenai segala hal
yang ia ketahui tentang pasiennya, bahkan sampai pasien tersebut telah meninggal.
Seorang dokter harus memberikan pertolongan darurat sebagai tugas kemanusiaan,
kecuali dia mengetahui bahwa ada pihak lain yang mau dan mampu memberikan
tindakan yang dimaksud.

Menurut Medical Secrecy (Rahasia Kedokteran) ini disahkan pada tahun 1973
oleh World Medial Association (WMA). Kita, sebagai dokter di Indonesia, sangat
memerlukan referensi Rahasia Kedokteran ini. Hal ini sangat penting untuk bahan
pertimbangan dan antisipasi, mengingat cukup banyak peristiwa yang dialami para
dokter dalam praktek maupun hal lainnya yang memerlukan rujukan yang benar dan
memadai.
Dengan memperhatikan bahwa privasi individu sangat dijunjung tinggi dalam
berbagai masyarakat dan diakui sebagai hak warga-negara; dan
Dengan memperhatikan bahwa sifat kerahasiaan hubungan pasien-dokter
dipandang sangat penting oleh para dokter dan disetujui oleh pasien.
Dengan memperhatikan bahwa ada peningkatan kecendrungan pelanggaran
terhadap kerahasiaan kedokteran;

Dalam kesepakatan WMA (Perhimpunan Dokter Dunia) yang ke-27


menegaskan pentingnya menjaga kerahasiaan medis, bukan sebagai keistimewaan
dokter, tetapi untuk melindungi privasi individu sebagai dasar dari hubungan antara

16
pasien dan dokter, dan meminta Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai wakil dari
penduduk dunia, untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan profesi kedokteran dan
untuk menunjukan cara untuk melindungi hak azasi setiap manusia.
Saja akan merahasiakan segala sesuatu yang saja ketahui karena pekerdjaan
saja dan karena keilmuan saja sebagai dokter;
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila
sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang akan saya ketahui kepada orang
lain karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.

Dalam KODEKI atau Kode Etik Kedokteran Indonesia mengatur hubungan


antar manusia yang mencakup kewajiban secara umum seorang dokter, hubungan
dokter dengan pasiennya, kewajiban dokter terhadap sejawatnya dan kewajiban dokter
terhadap diri sendiri. Menurut KODEKI kewajiban dokter terhadap pasien tecantum
dalam pasal 10, 12, 13 yang berbunyi :
• Pasal 10, setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya
melindungi hidup mahluk insani.
• Pasal 12, setiap dokter harus memberi kesempatan kapada pasien agar
senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasihatnya dalam
beribadat dan atau dalam masalah lain.
• Pasal 13, setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal.

17
III. ASSESSMENT
Wellbeing of the Patient
Pasien yang menderita HIV AIDS mengalami gangguan psikis dan fisik yang lebih,
oleh karena itu dukungan dan motivasi dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat
diperlukan. Perlunya pendidikan mengenai HIV AIDS bagi keluarga dan lingkungan
masyarakat mengenai penularan HIV AIDS sangat diperlukan. Hal itu nantinya
dapat mengubah perilaku masyarakat untuk tidak mendiskriminasi penderita HIV
AIDS.
Ada berbagai macam cara penularan HIV AIDS, baik melalui hubungan
seksual hetero maupun homoseksual, melalui jarum suntik yang pemakaiannya
secara bergantian, melalui donor darah orang dengan HIV AIDS (ODHA) ataupun
melalui ibu yang menderita HIV AIDS kepada janin yang dikandungnya.
HIV AIDS merupakan suatu penyakit yang meyerang kekebalan tubuh manusia
melalui cara penularan di atas. Ada berbagai macam tanda dan gejala orang-orang
yang mengidap HIV AIDS seperti : diare, demam lebih satu bulan, keringat malam,
rasa lelah berlebihan,batuk kronik lebih dari satu bulan, dan penurunan berat badan
10 % atau lebih. Apabila yang mencolok adalah penurunan berat badan, maka ini
merupakan salah satu penyakit indikator AIDS dan disebut slim disease. Gejala yang
langsung akibat HIV, misalnya: mielopati, neuropati perifer, dan penyakit susunan
saraf otak. Hampir 30 % pasien dalam stadium akhir akan menderita AIDS dementia
kompleks. Yaitu menurun sampai hilangnya daya ingat, gangguan fungsi motorik dan
fungsi kognitif, sehingga pasien sulit berkomunikasi dan tidak bisa jalan.
Pada stadium kronik simtomatik ini sangat sedikit keluhan dan gejala yang
benar-benar langsung akibat HIV. Sebagian besar adalah akibat menurunnya sel
limfosit T4, sehingga dengan terganggunya sentral system imun selular ini, maka
infeksi oportunistik yang sering dialami adalah infeksi virus, parasit dan
mikobakterium.
Gejala-gejala diatas biasanya muncul setelah 6 bulan sampai 10 tahun setelah
terinfeksi dengan HIV, namun waktu kemunculannya tergantung pada imunitas dari
orang tersebut. Dalam keadaan sehari-hari penderita HIV AIDS biasanya dapat
beraktivitas seperti orang-orang tanpa HIV AIDS jadi mereka dapat kembali
melanjutkan kehidupannya seperti orang normal, namun mereka memiliki batasan-

18
batasan dalam bertingkah laku agar tidak menularkan virus tersebut kepada orang
lain.
Autonomy of the Patient
Otonomi adalah bentuk kebebasan bertindak dari seseorang dalam mengambil
keputusan sesuai dengan rencana yang ditentukannya sendiri. Otonomi dapat pula
diartikan sebagai hak atas perlindungan privacy. Dalam hubungan dokter dengan
pasien ada otonomi klinis atau kebebasan profesional dari dokter dan kebebasan
terapeutik atau kebebasan diagnostik dari pasien. Kebebasan profesional adalah hak
dokter untuk menyarankan tindakan terbaik bagi pasien menyangkut penyakitnya,
berdasarkan ilmu, ketrampilan dan pengalaman dokter tersebut

Responsibility of the Health Care Professionals


Profesi kedokteran merupakan profesi yang disertai dengan moralitas yang tinggi,
seorang dokter memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Sebagai seorang dokter
harus siap apabila ada pasien yang memerlukan dalam keadaan apapun dan
dimanapun serta menjadikan manusia yang sakit menjadi sehat. Hal itu merupakan
suatu nilai kemanusiaan yang tiada ternilai harganya.
Setiap sikap dan keputusan yang dilakukan oleh seorang dokter harus dilandasi
oleh pengetahuan yang dilandasi oleh nilai etik dalam pandangan pada penderitaan
manusia sebagai obyek medik. Karena apabila pengetahuan yang tidak dilandasi nilai
etik akan menilai manusia sebagai obyek medik yang menyebabkan
terputusnya/melemahnya hubungan antara dokter dan pasien. Seorang dokter yang
melayani pasiennya disamping mengobati masalah fisik yang dialami pasien jugga
mengobati masalah psikis yang dialami pasien, keluarga serta lingkungan masyarakat.

19
IV. DECISION MAKING
Recapitulation Of the Moral Problems
Pada kasus diatas sangatlah sulit pada posisi sebagai seorang dokter, pada kasus
diatas seoranng dokter harus tetap merahasiakan penyakit yang diderita oleh pasien
baik itu dari keluarganya sekalipun, sehingga dengan merahasiakan penyakit dari
pasien tersebut kelanjutan kedepan bagi kehidupan si pasien dan orang yang akan
menjadi pendamping hidupnya kelak, namun disatu sisi lain tidak adil juga bagi
keluarga lain yang tidak tahu apa sebenarnya penyakit si pasien, sehingga keinginan
berbuat baik dan ingin melihat si pasien bahagia akhirnya malah mengakibatkan
orang lain yang tidak tahu menjadi sakit bahkan sampai kehilangan nyawanya.
Alangkah baiknya kalau terjadi hubungan yang baik pada masing-masing keluarga
dan keluarga mau saling memotivasi setiap suka maupun duka yang terjadi pada
masing-masing keluarga.
Seorang dokter tidak boleh memberitahu apapun penyakit yang diderita oleh
pasien, oleh karena itu pada kasus diatas dokter tidak memberitahu keluarga pasien
tentang penyakit yang diderita pasien, namun dokter dapat memberi tahu pasien
tentang bagaimana penyakit yang diderita oleh pasien, cara penularannya dan
bagaimana mengantisipasi terjadinya penularan penyakit tersebut.
Menurut saya setiap dokter pasti memiliki cara pandang dan sikap yang
berbeda dalam menghadapai suatu permasalahan namun bagaimanapun caranya
menyikapi suatu permasalahan mereka memiliki tujuan yang sama yaitu berusaha
menyelamatkan kehidupan setiap insani, pasien yang menderita HIV AIDS
merupakan kasus yang sangat rumit dan sensitif untuk dibicarakan.

Arguments
Pasien memiliki hak privacy yang harus dihormati oleh seorang dokter dan dokter
juga memiliki kewajiban untuk menjaga segala hal yang ia tahu tentang pasiennya
sampai pasien itu meninggal.
Pada kasus diatas, dokter sudah tentu telah melakukan tindakan yang sesuai
dengan prosedur dan dalam hal ini seorang dokter telah melakukan prinsip berbuat

20
baik dan melindungi privacy dari pasien, dokter tidak mungkin memberitahu kepada
keluarga pasien tentang penyakit si pasien apabila pasien memang tidak
menginginkan keluarganya tahu tentang penyakitnya, disinilah diperlukan suatu
komunikasi yang baik antara dokter dan pasien agar dokter tidak menyakiti hati si
pasien dan si pasien juga tidak menyakiti dan merugikan oranglain. Pada kasus
diatas kita tidak dapat menyalahkan siapapun tentang apa yang telah terjadi pada si
pasien dan suami barunya yang merupakan adik iparnya, karena apabila dokter
memberitahu keluarganya tentang penyakit si pasien, itu akan melanggar kode etik
kedokteran, tetapi apabila si pasien mau berkomunikasi dengan keluarganya tentang
apa penyakitnya mungkin saja keputusan ibu mertuanya untuk menikahkannya
dengan adik iparnya akan difikirkan lagi, hal itu sebenarnya tergantung dari hati
nurani dari si pasien dan keikhlasan keluarganya dalam menerima apapun keadaan
dari si pasien.

Decision
Menurut saya keputusan yang telah dilakukan oleh dokter pada kasus diatas sudah
tepat, sebagai seorang dokter kita tidak boleh memberitahu apapun tentang segala
sesuatu yang berhubungan dengan pasien meskipun sampai pasien tersebut
meninggal karena hal tersebut melanggar kode etik dan sumpah kedokteran serta hal
tersebut dapat mengganggu kehidupan sosial dari pasien, apabila kita dengan
seenaknya memberi tahu kepada oranglain tentang penyakit yang diderita oleh si
pasien apalagi pasien tersebut seperti kasus di atas, sudah barang tentu hal tersebut
akan lebih menyakiti psikis dan fisik dari pasien itu, bisa saja ia akan dikucilkan dari
masyarakat dan akan kehilangan pekerjaannya. Yang paling utama yang harus kita
lakukan kepada pasien adalah memberikan edukasi yang baik kepada si pasien
tentang penyakitnya, bagaimana cara penularan ddan mengantisipasi terjadinya
penularan. Komunikasi kepada keluarga sangat diharapkan tidak oleh dokter tapi
oleh pasien sendiri, dan apabila ia ingin menikah lagi alangkah baiknya apabila ia
mau terbuka dan jujur kepada suaminya tentang penyakitnya. Apalagi kita tahu
penularan HIV AIDS dapat melalui hubungan seksual, sekarang tergantung dari hati
nurani pasien apakah dia mau terbuka dan jujur pada suaminya sehingga dia tidak
menjerumuskan orang yang dicintainya ke suatu jurang yang nantinya dapat

21
mengakibatkan kematian, apalagi kalau sampai hasil buah cinta mereka sehingga
melahirkan seorang anak, lalu bagaimana dengan si anak? Bukankah sudah pasti si
anak akan tertular, dengan demikian apakah si pasien tidak saja menghilangkan satu
kehidupan, tetapi dua kehidupan sekaligus. Apakah itu mulia ? Apabila si pasien
tetap tidak mau untuk memberitahu keluarganya ia harus bersiap menanggung semua
risiko yang dapat terjadi kepadanya dan pendamping hidupnya yang baru.

Evaluation
Dilema Medical Ethics yang masih sulit dipecahkan di Indonesia adalah masalah
HIV/AIDS. Seperti yang telah kita ketahui masalah HIV sangat sensitif di telinga kita.
Banyak pro dan kontra terjadi di masyarakat tentang kehidupan sosial dari orang
dengan HIV AIDS hal tersebut tidak dapat kita pungkiri. Setiap orang yang
mendengar kata HIV AIDS pasti langsung memandang sebelah mata, meskipun
banyak kampanye tentang HIV AIDS telah dilakukan terutama mengenai cara
penularan yang berdampak nantinya masyarakat tidak mendiskriminasikan orang.
Disinilah seorang dokter dituntut untuk selalu mengadakan suatu komunikasi
yang sangat baik kepada pasien, seorang dokter juga harus menjamin penghormatan
terhadap martabat manusia, perlindungan hak-hak asasi manusia dan kebebasan
dasar, serta seorang dokter juga harus menghormati otonomi pasien, melakukan
perbuatan baik kepada pasien dengan mengusahakan yang terbaik tanpa merugikan
pasien, pada kasus diatas tugas seorang dokter terutama pemberian edukasi tentang
apa penyakit si pasien, bagaimana cara penularannya dan cara mengantisipasi agar
tidak terjadi penularan. Dokter tidak berhak memberitahu tentang penyakit yang
diderita oleh pasien kepada keluarganya, tetapi pasienlah yang seharusnya memberi
tahu apa yang dia derita kepada keluarganya, apabila telah dilakukan kembali lagi
pada peran dokter dalam berkomunikasi dengan keluarga pasien mengantisipasi
terjadinya diskriminasi pada pasien.
Adanya kesamaan mendasar semua manusia dalam hak dan martabat untuk
dihormati oleh setiap insani yang ada di dunia, sehingga dapat diperlakukan adil dan
merata dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Maertens, dkk. Bioetika Refleksi atas Masalah Etika Biomedis. Gramedia


Jakarta. 1995

2. Nazif Amrul Hidayat. Bioetika dan hak-hak Azasi Manusia. Komisi Bioetika
nasional. 2007

3. Wiradarma Danny. Etika Profesi Medis. Universitas Tri Sakti. 1999

4. Taher. Medical Ethics. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2003

5. Majelis Kehormatan Etika Kedokteran Indonesia. KODEKI dan Pedoman


Penatalaksanaan KODEKI Indonesia. Ikatan Dokter Indonesia. 2002

6. Steinkamp Nobert. Clinical Ethics Consultation First International Assessment


Summit April. University Medical Centre Nijmegen. 2003

7. Green Ben. Medical ethics. http://www.priory.com/pme.htm. Version 2.0


Published July 2001

8. Rafei Muchtar Uton. Reproductive Health and HIV/AIDS


http://www.searo.who.int/en/Section1081/Section1090.htm. Last update 16
November 2006.

9. HIV AIDS http://www.searo.who.int/en/Section1081/Section1090.htm. Last


update 26 April 2006.

10. Guidance on Ethics and Equitable Access to HIV Treatment and Care
http://www.who.int/ethics/en/ethics equity_HIV e.pdf. Last Update 2006

23