Anda di halaman 1dari 26

DISPUTED PATERNITY

PENDAHULUAN
Ilmu kedokteran forensik tidak saja dipergunakan untuk menyelesaikan kasus pada
korban yang telah meninggal tetapi juga kasus-kasus yang melibatkan orang yang masih
hidup. Forensik klinik sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran forensik dimanfaatkan
untuk mendukung kegiatan penyidikan korban manusia hidup misalnya
dalam identifikasi pelaku tindak kriminal (seperti penganiayaan,
pemerkosaan) dan kasus-kasus yang terjadi pada kehidupan
masyarakat. Analisa forensik dilaksanakan terhadap bukti-bukti untuk membantu
peradilan menemukan fakta-fakta fisik sehingga kasus-kasus kriminal maupun sipil
dapat diselesaikan. Salah satu kasus dibidang hukum yang memerlukan penjelasan
forensik adalah kasus perdebatan status keayahan (disputed paternity).1
Disputed paternity (ragu ayah) adalah usaha untuk mengeksklusi seseorang yang
dituduh sebagai orang tua biologis dari seorang anak.2 Penentuan status keayahan tidak
hanya menyangkut masalah psikologi namun juga penting dalam aspek hukum dan aspek
medis. Dalam aspek hukum masalah ini berhubungan dengan pembuatan akta kelahiran,
hak waris dan pernikahan. Diketahuinya ayah biologis juga berguna dari aspek medis
dalam hal pendonoran darah atau transplantasi organ.
Penentuan status keayahan terhadap seorang anak dapat dilakukan dengan metode
paling sederhana yaitu dengan menentukan atau mencocokkan tingkat kesuburan atau
fertilitas seorang pria yang di tuduh sebagai ayah dan waktu terjadinya konsepsi. Selain
itu kasus-kasus disputed paternity juga dapat diselesaikan dengan melakukan tes
paternitas, yaitu suatu tes untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis
dari seorang anak. Pemeriksaan tes paternitas penting dilaksanakan pada kasus-kasus
dimana seorang wanita yang pernah melakukan hubungan intim dengan lebih dari satu
orang pria pada saat yang berdekatan, kemudian wanita tersebut hamil tanpa diketahui
siapa sebenarnya ayah biologis anak. Dapat pula terjadi seorang wanita menuduh seorang
pria sebagai ayah dari anaknya, sedangkan pria tersebut menyangkal telah menghamili si
wanita. Selain itu, tes paternitas diperlukan pula untuk menentukan hubungan anak-ayah

1
dalam menentukan ahli waris maupun urusan klaim asuransi. Terdapat berbagai jenis
metode tes paternitas yaitu metode konvensional dengan analisis fenotip pada berbagai
sistem golongan darah dan metode forensik molekular yaitu dengan tes DNA. Analisis
fenotip hanya dapat memberikan jawaban pasti jika si X bukan ayah si anak, sedangkan
tes DNA didasarkan pada analisis informasi genetik yang sangat spesifik dalam
membedakan ciri setiap individu sehingga dapat menentukan identitas seseorang hampir
100 % pasti sebagai ayah biologis si anak.3

ISI
2.1 Definisi Disputed Paternity
Disputed paternity adalah usaha untuk mengeksklusi seseorang yang dituduh sebagai
orang tua biologis dari seorang anak.2

2.2 Metode Penentuan Status Keayahan dalam Kasus Disputed Paternity


Metode penentuan status keayahan dalam menyelesaikan kasus disputed paternity dapat
dilakukan dengan beberapa cara yaitu: menentukan tingkat fertilitas laki-laki yang
dituduh sebagai ayah, mencocokkam waktu konsepsi dan melakukan tes paternitas.

2.2.1 Tingkat Fertilitas


Tingkat fertilitas atau kesuburan seorang laki-laki penting diketahui untuk menentukan
seseorang dinyatakan pasti bukan ayah biologis seorang anak atau mungkin merupakan
ayah biologis yang diduga. Laki-laki yang dinyatakan infertil dari hasil pemeriksaan
dapat mengeksklusi laki-laki tersebut dari dugaan sebagai ayah biologis seseorang anak.
Penyebab infertilitas pada pria diklasifikasikan berdasarkan gangguan produksi
sperma, gangguan fungsi sperma, gangguan transportasi sperma, dan penyebab idiopatik.
Gangguan produksi sperma dapat terjadi pratestis, di daerah testis dan organ di luar
testis. Kelainan pratestis misalnya hipogonadisme, kelebihan estrogen, kelebihan
androgen, kelebihan glukokortikoid, dan hipotiroidisme, sedangkan kelainan di daerah
testis misalnya gangguan maturasi, hipospermatogenesis, sindroma sel sertroli, sindroma
klinefelter, kriptokidisme, orkhitis dan lain-lain. Kelainan di luar organ testis seperti
varikokel dan hidrokel dapat menyebabkan gangguan produksi sperma. Gangguan fungsi

2
sperma dapat disebabkan oleh adanya pyospermia, hemospermia, adanya antibodi anti
sperma, nekrozoospermia, astenozoospermia. Gangguan transportasi sperma yang dapat
menyebabkan terjadinya infertilitas berupa kelainan anatomi dari saluran-saluran yang
dilewati sperma. Kelainan anatomi dapat berupa agenesis vas deferens maupun vesika
seminars, hipospadia, obstruksi vas deferens/epididimis yang bisa disebabkan TB
epididimis, gonokokal epididimis, pasca trauma, klamidial epididimis, serta mikoplasma
epididimis. Kelainan anatomi dapat karena tindakan vasektomi.4
Analisis semen merupakan tes yang paling penting untuk menetapkan pria infertil.
Prosedur standar pemeriksaan semen meliputi diskripsi plasma semen, konsentrasi
sperma, motilitas, morfologi, hitung sel selain sperma, dan tes antibodi yang melapisi
sperma. Dari analisis semen didapatkan informasi tentang siklus hormon reproduksi pria,
spermatogenesis dan terbukanya saluran reproduksi pria.3 Harga normal hasil
pemeriksaan analisis semen adalah sebagai berikut:5
1. Volume : 2 ml atau lebih (2-6 ml), bila < 1 ml disebut hipospermia dan > 6 ml
disebut hiperspermia.
2. Warna : putih kanji, putih keabuan, putih kekuningan.
3. Bau : Khas.
4. pH : 7,2-7,8.
5. Viskositas 1-2 detik.
6. Konsentrasi spermatozoa : 20 juta/ml atau lebih.
7. Motilitas spermatozoa : Gerak (gerak sangat cepat + gerak kurang cepat) > 50 %
atau gerak sangat cepat > 25 % (dalam 60 menit post ejakulasi).
8. Morfologi normal spermatozoa : 30 % atau lebih.
9. Vitalitas spermatozoa : > 75 % hidup.
10. Leukosit : < 1 juta /ml.
Pada analisis semen, disebut azoospermia jika tidak ada sperma sama sekali pada
semen yang mungkin disebabkan pretestikuler, testikuler, dan post testikuler.
Oligospermia jika parameter semen lain normal kecuali jumlah spermatozoa yang
jumlahnya 40 juta/ejakulat atau 20 juta/ml. Astenozoospermia diindikasikan jika
motilitasnya kurang dari 50 % yang progresif. Teratozoospermia jika morfologi
abnormal sperma lebih dari 50 %. 4

3
Laki-laki yang dinyatakan infertil dari hasil pemeriksaan dapat mengeksklusi laki-
laki tersebut dari dugaan sebagai ayah biologis seseorang anak.

2.2.2 Konsepsi
Senggama yang diperkirakan dapat menyebabkan terjadinya kehamilan adalah senggama
yang dilakukan di masa subur seorang wanita. Masa subur terjadi pada pertengahan
siklus haid yang sangat dipengaruhi oleh hormon progesteron dan estrogen. Siklus haid
wanita dibagi menjadi tiga fase utama yaitu sebagai berikut :6
1. Fase haid selama 2 sampai 8 hari. Pada waktu itu endometrium dilepas sedangkan
pengeluaran hormon-hormon ovarium paling rendah.
2. Fase proliferasi sampai hari ke-14. Pada waktu itu endometrium tumbuh kembali,
disebut juga endometrium mengadakan proliferasi. Antara hari-12 dan ke-16
dapat terjadi pelepasan ovum dari ovarium yang disebut ovulasi.
3. Fase sekresi terjadinya sesudahnya. Pada waktu itu terjadi peningkatan
pengeluaran hormon progesteron. Di bawah pengaruh progesteron kelenjar
endometrium yang tumbuh berkelok-kelok mulai bersekresi dan mengeluarkan
getah yang nengandung glikogen dan lemak. Pada akhir masa ini stroma
endometrium berubah kearah sel-sel desidua, terutama yang berada di sekitar
pembuluh-pembuluh arterial. Keadaan ini memudahkan terjadinya nidasi.
Masa subur terjadi pada pertengahan siklus ( biasanya pada hari 12 – 16 pada
siklus menstruasi yang teratur). Masa subur yaitu saat terjadinya ovulasi juga dapat
diketahui dari pemeriksaan suhu basal badan dan penilaian getah servik. Suhu basal
tubuh diukur setiap hari mulai terhentinya menstruasi, segera setelah bangun pagi
sebelum bergerak dari tempat tidur, makan atau minum. Saat akan ovulasi terjadi
penurunan suhu dan saat ovulasi terjadi kenaikan suhu basal dimana selisih suhunya
paling sedikit 0,4°C. Pada masa ovulasi elastisitas getah serviks meningkat, getah serviks
pada saat itu dapat diulur dengan pinset atau jari tangan dan tidak putus-putus sampai
sepanjang 10-20 cm.6
Jika pada saat masa subur tersebut seorang wanita melakukan senggama, maka
spermatozoa yang dikeluarkan ke forniks vagina akan dapat menyatu dengan ovum yang

4
saat itu telah siap dibuahi. Dari jutaan spermatozoa hanya satu yang berhasil menyatu
dengan ovum membentuk zigot yang terdiri dari bahan genetik pria dan wanita. 6
Pada manusia terdapat 46 kromosom yang terdiri dari 44 kromosom autosom dan
2 kromosom kelamin. Ovum yang matang memiliki 22 kromosom autosom dan 1
kromosom X sedangkan satu spermatozoa memiliki 22 kromosom autosom dan 1
kromosom X atau Y. Zigot sebagai hasil pembuahan yang memiliki 44 kromosom
autosom dan 2 kromosom X akan tumbuh menjadi janin wanita, sedangkan zigot yang
memiliki 44 kromosom autosom dan 1 kromosom X dan 1 kromosom Y akan tumbuh
menjadi janin laki-laki. Pada saat inilah rangkaian DNA dari ayah dan ibu diturunkan
kepada anaknya, dimana masing-masing pihak memberi 50% terhadap DNA anak. 7
Setelah diketahui masa subur wanita kemudian dicocokkan dengan waktu
terjadinya senggama dan dengan siapa senggama saat tersebut dilakukan. Selain itu juga
dicocokkan usia anak atau usia kandungan dengan perkiraan waktu konsepsi dengan
demikian dapat diketahui adanya kemungkinan bahwa seorang pria yang dituduh
merupakan ayah biologis dari anak.

2.2.3 Tes Paternitas


Tes paternitas adalah tes atau pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah
seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Pemeriksaan forensik serologis yang
pertama kali digunakan untuk menyelesaikan kasus disputed paternity adalah sistem
ABO yang pertama kali ditemukan di Jerman pada tahun 1910. Setelah itu ditemukan
system MNS dan Rhesus pada tahun 1940. Pemeriksaan serologi dengan menggunakan
sistem-sistem ini terutama digunakan untuk mengeksklusi seseorang yang dituduh
sebagai ayah biologis seorang anak atau dapat memastikan bahwa seorang pria pasti
bukan ayah biologis anak tersebut.3
Sejak tahun 1950 penelitian tentang polimorfisme genetik berkembang dengan
sangat pesat, sejak saat itu berbagai antigen sel darah merah dan sel darah putih, enzim
sel darah merah, serta plasma protein diketahui merupakan bentuk alel. Selain itu
diketahui bahwa pada rangkaian DNA seseorang juga terdapat beberapa lokus yang
polimorfis artinya rangkaian DNA di tempat tersbut berbeda antara satu individu dengan
individu lainnya, baik urutan basa DNA maupun panjang DNA. Lokasi-lokasi polimorfis

5
inilah jika dianalisis dengan membandingkan DNA anak, ayah dan ibunya akan
menunjukkan kebenaran pria dan wanita sebagai orangtua kandung. 3

Pengelompokkan sistem yang digunakan dalam tes paternitas di bagi menjadi


empat yaitu :3
1. Sistem sel darah merah terdiri dari: sistem ABO, Rhesus (Rh), MNS, Kell (K),
Duffy (Fy), Kidd (Jk), Lutheran.
2. Sistem biokimia meliputi pemeriksaan plasma protein dan enzim sel darah merah
terdiri dari: haptoglobin (Hp), phosphoglucomutase (PGM), esterase D (EsD),
erythrocyte acid phosphatase (EAP), glyoxalase (GLO), adenosine deaminase
(ADA), adenylate kinase (AK), group specific component (GC), Gm dan KM.
3. Human Leukocyte Antigen (HLA) yang mengidentifikasi antigen pada leukocyte.
4. DNA profiling.
Pada prinsipnya dalam penyelesaian kasus disputed paternity semakin banyak
sistem yang diperiksa, maka peluang untuk memastikan bukan ayah akan semakin besar.
Dengan pemeriksaan semua serologi forensik yaitu pemeriksaan sel darah merah,
biokimia dan HLA maka peluang eksklusi yang memastikan bukan ayah sebesar 99,7 %
dengan pemeriksaan HLA yang memberikan peluang eksklusi tertinggi yaitu sebesar 94
%. Pemeriksaan dengan serologi forensik kurang kuat jika dibandingakan dengan
pemeriksaan DNA yang memiliki peluang memastikan status keayahan sebesar 99,9 %.
Berikut ini tabel peluang eksklusi bukan ayah dari masing-masing sistem pemeriksaan
serologis pada tes paternitas. 3
Tabel 1. Peluang Eksklusi Bukan Ayah3

6
Sistem Peluang (%)
Antigen sel darah merah
MNS 32.1
Rhesus 28.0
Kidd 19.0
Duffy 18.0
ABO 17.6
Kell 3.3
Lutheran 3.3
Protein Serum
GC 24,7
Hp 17,5
Glm 6.5
Km 6.0
Enzim sel darah merah
PGM 25.3
EAP 21.0
GPT 19.0
Glyoxalase 18.4
Esterase 9.0
AK 4.5
ADA 4.5
Human Leukocyte Antigen (HLA) 94.0
Total kombinasi semua sistem 99.7

Tes paternitas yang sering digunakan untuk untuk menyelesaikan kasus disputed
paternity yaitu metode konvensional dengan analisis fenotip berupa tes golongan darah
sistem ABO, Rhesus, MNS dan tes Human Leukocyte Antigen (HLA) serta tes paternitas
yang menggunakan metode forensik molekular yaitu tes DNA. Analisis fenotip hanya
dapat memberikan jawaban pasti jika si X bukan ayah si anak, sedangkan tes DNA
didasarkan pada analisis informasi genetik yang sangat spesifik dalam membedakan ciri

7
setiap individu sehingga dapat menentukan identitas seseorang hampir 100 % pasti
sebagai ayah biologis si anak.3

2.2.3.1 Sistem ABO


Sistem penggolongan darah yang paling terkenal dan secara medis penting dan pertama
kali dimanfaatkan untuk tes paternitas adalah sistem ABO. Sistem golongan darah ABO
ditemukan pada tahun 1900 dan 1901 di Universitas Vienna oleh Karl Landstainer. 8
Dalam sistem ABO golongan darah dikelompokkan menjadi empat yaitu golongan darah
A, B, AB dan O. Golongan darah didasarkan pada jenis antigen dan antibodi yang
terkandung dalam darahnya, sebagai berikut :9
1. Golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di
permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen
B dalam serum darahnya.
2. Golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah
merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A pada serum
darahnya.
3. Golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B
serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun antigen B.
4. Golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen tetapi memproduksi
antibodi terhadap antigen A dan B.
Pemeriksaan golongan darah ABO sangat mudah dilakukan dan tidak mahal serta
hanya membutuhkan sedikit sampel darah. Serum yang mengandung antibodi anti A
dicampur dengan sampel darah, serum lainnya yang mengandung antibodi anti B
dicampur dengan sisa sampel darah. Jika sampel darah mengalami aglutinasi dengan
penambahan antibodi anti A, tetapi tidak mengalami aglutinasi dengan antibodi anti B
berarti terdapat antigen A tetapi tidak terdapat antigen B sehingga golongan darahnya
adalah A. 8 Keterangan lengkap adanya antigen dan antibodi pada sistem ABO terdapat
pada tabel berikut.7
Tabel 2. Antigen dan Antibodi Pada Sistem ABO7
Group Antigen pada Sel Darah Merah Antibodi (Aglutinin) Serum
O - Anti A dan anti B

8
A A Anti B
B B Anti A
AB AB -

Golongan darah ABO diturunkan melalui gen pada kromosom 9 dan tidak
berubah oleh pengaruh lingkungan selama kehidupan berlangsung. Golongan darah ABO
seseorang ditentukan dengan mewarisi 1 dari 3 alel (A, B atau O) dari tiap orang tua. Alel
A dan B bersifat lebih dominan dari pada alel O. Hal ini menyebabkan seseorang yang
memiliki genotip AO akan memiliki fenotip A, dan seseorang yang memiliki genotip BO
akan memiliki fenotip B sedangkan orang yang memiliki genotip OO akan memiliki
fenotip O. Alel A dan B sama-sama dominan sehingga jika alel A diperoleh dari satu
orang tua dan alel B dari orang tua yang lain maka fenotip yang muncul adalah AB. 6 Dari
hal tersebut diketahui bahwa golongan darah A memiliki dua fenotip yaitu AA dan AO,
golongan darah B juga memiliki 2 genotip yaitu BB dan BO. Sedangkan golongan darah
O dan AB hanya memiliki satu genotip.7,8 Kemungkinan golongan darah anak yang
diwariskan oleh persilangan masing-masing golongan darah orang tua dijelaskan pada
tabel berikut.

Tabel 3. Pewarisan Golongan Darah Kepada Anak8


Ibu/Ayah O A B AB

O O O, A O, B A, B
A O, A O, A O, A, B, AB A, B, AB
B O, B O, A, B, AB O, B A, B, AB
AB A, B A, B, AB A, B, AB A, B, AB

2.2.3.2 Sistem Rhesus


Jenis golongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor rhesus
atau faktor Rh. Golongan darah ini ditemukan oleh Landstainer saat melakukan imunisasi
terhadap kelinci menggunakan darah monyet dan menemukan antisera yang tidak hanya
mengaglutinasi sel darah merah monyet tetapi juga mengaglutinasi sel darah merah dari
85 % populasi manusia.7 Seseorang yang memiliki sel darah merah yang mengalami

9
aglutinasi disebut rhesus positif dan orang yang memiliki sel darah merah yang tidak
mengalami aglutinasi disebut rhesus negatif. Antibodi yang bertanggung jawab terhadap
reaksi tersebut disebut anti Rh. Golongan darah ini memiliki genetik paling komplek
dibandingkan sistem yang lain karena sistem ini melibatkan 45 antigen yang berbeda
pada permukaan sel darah merah yang dikontrol oleh gen pada kromosom satu.10
Tiap orang memiliki sepasang gen darah faktor Rhesus yang dapat dites di
laboratorium untuk mengetahui adanya antigen Rhesus. Jika tes tidak menemukan
antigen, orang tersebut dikatakan memiliki tipe darah Rh negatif (Rh -), dan jika hal yang
sebaliknya terjadi maka dikatakan orang tersebut memiliki tipe darah Rh positif (Rh +).
Tabel berikut memperlihatkan hubungan gen, genotip dan faktor Rhesus.

Tabel 4. Gen Rh, Genotip dan Faktor Rhesus


Gen Gen Genotip Faktor Rhesus
Rh- Rh- Rh-/Rh- Rh-
Rh + Rh- Rh+/Rh- Rh+
Rh+ Rh+ Rh+/Rh+ Rh+

Sistem Rhesus terdiri dari sejumlah besar antigen yang berbeda-beda, tetapi untuk
keperluan praktis salah satu diantaranya yaitu Rhesus D yang dianggap paling penting
karena Rhesus D paling kuat dalam merangsang pembentukan antibodi. Untuk
menetapkan penggolongan darah digunakan serum anti D dan untuk mengklasifikasikan
individu-individu sebagai Rhesus positif atau Rhesus negatif digunakan tanda D+ atau
D-. D bersifat dominant terhadap d karena anti d tidak pernah muncul. Rhesus positif
dan rhesus negatif ditentukan oleh gen D dan gen d. Golongan Rhesus positif
mempunyai dua macam genotip yaitu DD dan Dd, sedangkan golongan negatif hanya
mempunyai satu macam genotip yaitu dd. Berikut ini kemungkinan genotif golongan
darah anak dengan sistem Rhesus.11
Orang tua : DD x DD DD x Dd Dd x Dd
Anak : DD DD atau Dd DD atau dd

Orang tua : DD x dd Dd x dd dd x dd

10
Anak : Dd DD atau dd dd

2.2.3.3 Sistem MNS


Sistem MNS terbagi menjadi dua yaitu MN dan Ss. Untuk sistem MN dikenal 3 macam
fenotip yaitu M, N dan MN. Masing-masing fenotip hanya memiliki satu macam genotip
yaitu MM, NN, MN. Pada sistem Ss terdapat dua macam fenotip yaitu S dan s. Fenotip S
mempunyai dua genotip yaitu SS dan Ss, sedangkan fenotip s hanya memiliki satu
genotip ss.8
Pada sistem ini antigen M dan N memiliki dominasi yang sama besar, sedangkan
gen S lebih dominan daripada gen s oleh karena itu gen S disebut gen yang dominan
sedangkan gen s disebut gen yang resesif. Sama seperti pada sistem ABO antigen M dan
N tidak akan timbul pada anak jika orang tuanya tidak memiliki antigen tersebut. Antigen
S dan s ditemukan ada pada darah manusia berhubungan dengan antigen M dan N, tetapi
kepentingan praktisnya sangat kecil. Tabel dibawah ini menunjukkan sistem pewarisan
antigen M dan N.
Tabel 5. Fenotif Anak dari Orang Tua pada Sistem MNS
Fenotif Orang Tua Fenotif Anak
Mungkin Tidak Mungkin
MxM M N, MN
M x MN M, MN N
MxN MN M. N
MN x MN M, N, MN -
MN x N N, MN M
NxN N M, MN

2.2.3.4 Tes Human Leukocyte Antigen (HLA)


Human Leukocyte Antigen (HLA) adalah nama untuk major histocompatibility complex
pada manusia. Gen HLA terdapat pada kromosom 6 dan berfungsi untuk mengkode
antigen presenting cell dan protein atau peptida yang terdapat di dalam sel. Terdapat 6
lokus pada kromosom 6 dimana gen yang memproduksi HLA diwariskan, yaitu : HLA-A,
HLA-B, HLA-C, HLA-DR, HLA-DQ, HLA-DP. Produk gen HLA dapat dibagi menjadi
dua klas. Klas I terdiri dari produk dari gen yang terletak pada lokus HLA-A, HLA-B,

11
HLA-C. HLA ini dijumpai pada semua sel berinti. Klas II terdiri dari antigen yang
diwariskan dari gen yang terletak pada lokus , HLA-DR, HLA-DQ dan HLA-DP. Klas II
hanya diekspresikan pada jenis-jenis sel tertentu, meliputi sel-sel yang menyerupai
makrofag yang disebut antigen presenting cell yaitu pada limfosit-B, makrofag, monosit,
sel dendritik, sel endotel, sel limfosit-T yang teraktifasi.13
Tes Human Leukocyte Antigen adalah tes untuk mendeteksi adanya antigen pada
sel darah putih. Tes HLA biasanya digunakan untuk menentukan kecocokan jaringan
pada transplantasi organ, namun dapat pula digunakan untuk tes paternitas. Secara
fundamental pewarisan gen HLA sama sederhananya dengan pewarisan golongan darah,
namun terdapat gambaran tambahan berupa rangkaian genetik. Pada kasus disputed
paternity tes HLA digunakan sebagai metode eksklusi. HLA dari anak, ibu dan pria yang
diduga sebagai ayah biologis akan dibandingkan, apabila terdapat ketidakcocokan antara
pasangan antigen pria tersebut dengan anak maka pria tersebut dapat dikeluarkan dari
kemungkinan sebagai ayah biologis seorang anak.13
2.2.3.5 Tes DNA
A. Karakteristik DNA
DNA adalah asam nukleat yang mengandung materi genetik dan berfungsi mengatur
perkembangan biologis seluruh kehidupan secara biologis. DNA memiliki struktur
pilinan utas ganda yang terdiri dari komponen gula pentosa (deoksiribosa), gugus
fosfat dan pasangan basa. Pasangan basa pada DNA terdiri dari dua macam yaitu basa
pirin dan pirimidin. Basa pirin terdiri atas adenin (A) dan guanin (G) yang memiliki
struktur cincin ganda sedangkan basa pirimidin terdiri atas sitosin dan timin yang
mempunyai struktur cincin tunggal. Adenin selalu berpasangan dengan timin dan
sitosin selalu berpasangan dengan berpasangan dengan guanin, kedua basa pada
masing-masing pasangan dihubungkan dengan ikatan hidrogen. Kedua rantai berjalan
memilin satu sama lain dalam rantai helix ganda. DNA sebagai pembawa keterangan
genetik dalam sel mempunyai unit esensial berupa kodon yaitu yang merupakan
triplet urutan basa dan masing-masing triplet mengkodekan sebuah asam amino
tertentu. Kode genetik hanya menentukan struktur protein primer. Protein ini dapat
merupakan komponen struktural makromolekul atau enzim yang mengendalikan
sintesis non protein.7

12
Di dalam setiap sel berinti terdapat dua jenis DNA yaitu core DNA (c-DNA)
yang terdapat di dalam inti sel dan mitokondria DNA (mt-DNA) yang terdapat dalam
organel mitokondria. c-DNA merupakan materi genetik yang membawa sifat individu
dan diturunkan dari ayah dan ibu menurut hukum Mendel. Berdasarkan pola
pewarisan ini maka pemeriksaan c-DNA dapat digunakan untuk mencari hubungan
anak-ibu maupun anak-bapak. mt-DNA merupakan materi genetik yang membawa
kode genetik dari berbagai enzim dan protein yang berkaitan dengan proses
pembentukan dan penuaan. Berbeda dengan c-DNA, mt-DNA berbentuk lingkaran
ganda yang hanya diturunkan dari ibu kepada anak, sehingga pemeriksaan mt-DNA
hanya dapat digunakan untuk mencari hubungan anak-ibu. Dalam forensik yang
dimaksud dengan pemeriksaan DNA umumnya merujuk pada pemeriksaan c-DNA
yang penggunannya lebih luas.14
Setiap sel dalam tubuh seseorang memiliki rangkaian DNA identik.
Rangkaian DNA setiap sel disebut kromosom. Setiap kromosom dibagi menjadi
lokus-lokus yang menandai posisi gen dalam kromosom. Gen-gen yang terdapat pada
lokus-lokus ini disebut alel. Jika gen pada satu lokus sama dengan lokus pada
kromosom pasangannya maka disebut alel homozigot, sedangkan jika berbeda disebut
heterozigot. Pada lokasi-lokasi tertentu dalam kromosom terdapat alel-alel yang
sangat spesifik pada setiap individu. Alel dalam tes DNA di definisikan sebagai one
of series of alternative form of gen at specific lokus in a genom. Alel-alel spesifik ini
diturunkan kepada anak dalam proses pembuahan sehingga si anak membawa alel-
alel ini dalam kromosomnya.7
Setiap sel dalam tubuh manusia memiliki 24 pasang kromosom. Pada induk
sel sperma dan sel telur terjadi pembelahan yang disebut meiosis sehingga 24 pasang
kromosom tersebut berpisah sehingga sel-sel induk menghasilkan sel sperma atau sel
ovum yang memiliki 24 kromosom. Pada saat pembuahan sel sperma ayah (24
kromosom) akan bersatu dengan sel ovum ibu (24 kromosom) sehingga kromosom
dari pihak ayah akan berpasang-pasangan dengan kromosom dari pihak ibu dan
membentuk zygot. Pada saat inilah rangkaian DNA dari ayah dan ibu diturunkan
kepada anaknya, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi 50 persen
terhadap DNA anak.7

13
B. Proses Analisis DNA untuk Tes Paternitas
Tes paternitas dengan menggunakan anlisis DNA adalah analisis informasi
genetik yang sangat spesifik dalam membedakan ciri setiap individu sehingga dapat
menentukan identitas seseorang hampir 100 % pasti sebagai ayah biologis si anak,
sedangkan metode konvensional dengan analisis fenotip berupa tes golongan darah
sistem ABO, Rhesus, MNS dan tes Human Leukocyte Antigen (HLA) hanya dapat
mengeksklusi pria yang diduga sebagai ayah biologis. Selain pada kasus disputed
paternity tes DNA juga sangat berguna pada kasus-kasus yang membutuhkan
membuktian forensik. Beberapa kelebihan pemeriksaan DNA dibandingkan dengan
pemeriksaan konvensional lainnya adalah sebagai berikut:14
1. Ketepatan yang lebih tinggi
Sebagai contoh dalam pemeriksaan suatu bercak darah sebelum ditemukannya
pemeriksaan DNA dilakukan pemeriksaan golongan darah. Hasil pemeriksaan
golongan darah yang tidak cocok akan menyebabkan orang yang dicurigai
tersingkir sebagai sumber darah tersebut, namun jika cocok maka merupakan
suatu kemungkinan saja. Sedangkan hasil pemeriksaan DNA terhadap bercak
darah tersebut akan nyaris sempurna dalam menentukan siapa sumber bercak
darah tersebut.
2. Kestabilan yang tinggi
Pada kasus-kasus dimana bukti sebagai sampel sudah membusuk, maka hanya
tes DNA yang masih dapat dilakukan, karena DNA bersifat tahan
pembusukan dibandingkan protein.
3. Pilihan sampel yang luas
Penyebaran DNA hampir pada seluruh bagian tubuh membuat sampel untuk
tes DNA dapat diambil dari berbagai bagian tubuh kecuali sel darah merah.
4. Dapat mengungkap kasus sulit
Hanya tes DNA yang dapat dilakukan untuk pemecahan kasus-kasus sulit
yang tidak dapat dipecahkan oleh metode konvensional antara lain seperti:
penentuan keayahan, kasus incest, kasus paternitas dengan bayi dalam
kandungan, kasus paternitas dengan bayi yang sudah meninggal dan kasus
paternity tanpa kehadiran sang “ayah”.

14
5. Dapat mengungkap kasus perkosaan dengan banyak pelaku, pemeriksaan
DNA dapat memastikan berapa orang pelaku dan siapa saja pelakunya.
6. Sensitifitas yang amat tinggi
Sensitifitas tes DNA dapat mencapai 99,9 %. Tes DNA juga dapat dilakukan
pada sampel dengan jumlah kecil dengan metode PCR.

Analisis DNA untuk tes paternitas meliputi beberapa tahap yaitu tahap
pengambilan spesimen, tahap proses laboraturium, tahap perhitungan statistik dan
pengambilan kesimpulan.
1. Sampel pada tes DNA
Bahan sampel DNA dapat dipilih dari jaringan apa saja, karena DNA dapat
diperoleh dari semua sel berinti. Sel yang tidak memiliki DNA hanyalah sel
darah merah karena sel darah merah tidak memiliki inti. Untuk tes diperlukan
spesimen yang diambil dari ibu, anak dan pria yang diduga sebagai ayah
biologisnya. Tes tidak dapat dilakukan jika spesimen tidak lengkap, misalnya
tanpa spesimen yang diambil dari ibu. Kalaupun dilakukan, kesimpulan tes yang
akan diperoleh sangat rendah yaitu kurang dari 50 %. 15
Hal yang paling penting pada tahap pengambilan bahan atau spesimen
adalah jangan sampai terjadi kontaminasi. Artinya spesimen yang akan
diperiksa tercampur dengan spesimen individu lain sehingga mengakibatkan
kesalahan pengambilan kesimpulan dalam menentukan siapa ayah biologis anak
tersebut. Bahan sampel setelah dikumpulkan harus diberi perlakuan tertentu
agar tidak rusak. Secara umum DNA dapat rusak akibat pengaruh lingkungan
seperti paparan sinar matahari, terkena panas, bahan kimia, air dan akibat kerja
enzim DNAase yang terdapat dalam jaringan sendiri. Untuk itu terhadap
berbagai bahan sampel tersebut harus diberi perlakuan sebagai berikut:15
1. Jaringan
Untuk bahan sampel yang segar, sampel terbaik adalah jaringan limpa,
kelenjar getah bening dan hati. Sedangkan untuk bahan yang telah busuk,
otak yang terbaik meskipun kondisinya telah mencair. Bahan sampel

15
diambil, dibungkus kertas alumunium dan dibekukan pada suhu dibawah
20°C.
2. Darah
Darah cair diberikan pengawet EDTA, dan disimpan dalam termos es atau
lemari es. Alternatif lain, bahan diserap dengan kain kasa lalu dikeringkan.
Bercak kering dapat dikerok dengan scalpel, dibawa dengan bendanya atau
diusap dengan kain kasa basah lalu dikeringkan.
3. Cairan mani
Diserap dengan kain kasa kemudian dikeringkan
4. Tulang, Gigi dan Rambut
Dibungkus dengan kertas alumunium dan disimpan pada suhu di bawah
20°C. Bahan yang telah dikeringkan dapat disimpan pada suhu kamar.
Sampel rambut diambil 10 – 15 helai beserta akarnya. Sampel gigi dipilih
paling sedikit empat, molar jika mungkin. Sampel gigi sebaiknya tidak rusak
oleh endodontia. Sampel tulang sebaiknya dari femur.

2. Teknik Analisis DNA


a. Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP)
Teknik pertama yang digunakan analisa DNA dalam bidang forensiik adalah
RFLP. Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Leght
Polymorphism (RFLP) adalah suatu polimorfisme DNA yang terjadi akibat
variasi panjang fragmen DNA setelah dipotong dengan enzim retriksi tertentu
menjadi fragmen Variable Number Of Tandem Repeat (VNTR). Teknik ini
dilakukan dengan memanfaatkan enzim retriksi yang berfungsi memotong DNA
pada tempat-tempat tertentu dengan cara mengenali urutan basa tertentu seperti
AATT. Urutan basa tersebut disebut sebagai recognition sequence. Enzim yang
berbeda memiliki recognition sequence yang berbeda. Enzim ini lalu memotong
DNA menjadi segmen-segmen yang berbeda. Panjang segmen tersebut
bervariasi pada tiap orang, hal ini disebabkan karena titik potong enzim yang
berbeda dan panjang segmen antara titik potong juga berbeda. Analisa yang
dihasilkan adalah variasi pada panjang fragmen DNA yang telah ditentukan.

16
Setelah selesai, pola RFLP tampak seperti kode batang (bar code). Saat
membandingkan hasil analisa dua sampel, pola batang pada autoradiograf
dibandingkan untuk menentukan apakah kedua sampel tersebut berasal dari
sumber yang sama.15,16
Proses pada teknik Restriction Fragment Leght Polymorphism
(RFLP) diawali dengan proses pemotongan dengan menggunakan enzim retriksi
tertentu. Kemudian dengan menggunakan gel yang dialiri arus listrik, potongan
DNA diurutkan berdasarkan panjangnya. Proses ini dinamakan electrophoresis,
prinsip pada proses in adalah potongan DNA yang lebih pendek bergerak lebih
cepat daripada yang lebih panjang. Untuk mendeteksi adanya segmen yang
bersifat polimorfik maka dilakukan suatu prosedur yang disebut sebagai
Southern Blooting. Dalam prosedur ini pada gel ditambahkan suatu zat kimia
yang berfungsi untuk memisahkan rantai ganda menjadi rantai tunggal,
kemudian membran nilon diletakkan diatas gel dan bahan penyerap diatas
membran nilon. Cairan akan bergerak ke dalam bahan penyerap bersama
potongan DNA rantai tunggal. Kemudian dengan menggunakan fragmen
pendek DNA (DNA probe) yang mengandung petanda radioaktif maka akan
dideteksi DNA yang berasal dari lokasi pada genome yang memiliki ciri yang
jelas dan sangat polimorfik. Pada proses ini DNA probe akan berikatan dengan
potongan DNA rantai tunggal dan membentuk DNA rantai ganda pada bahan
nilon. DNA probe yang tidak berikatan akan dicuci. Membran nilon yang berisi
potongan DNA yang telah ditandai dengan DNA probe selanjutnya ditransfer
pada selembar film X-ray. Pada proses ini akan tampak hasil berupa kode
batang yang disebut autorad. Pola inilah yang dibandingkan untuk mengetahui
apakah kedua sampel bersal dari sumber yang sama. Pada teknik RFLP tidak
hanya digunakan satu DNA probe, diamana DNA probe yang berbeda menandai
lokus yang berbeda. 15,16
Walaupun penggunaanya telah mulai digeser oleh teknologi baru
RFLP tetap adalah teknik terbaik untuk diskriminasi masing-masing lokus. Hal
ini disebabkan oleh karena lokus-lokus yang dipergunakan untuk RFLP dapat
menunjukkan ratusan variasi untuk tiap lokus. Dengan demikian jika dua

17
sampel berasal dari sumber yang berbeda, RFLP dapat membedakannya
menggunakan jumlah lokus yang lebih sedikit. RFLP dapat menentukan apabila
sebuah sampel berasal dari lebih satu sumber dan dapat membedakan
sumbernya dengan baik. Tingginya daya diskriminasi teknik ini disebabkan oleh
hipervariabilitas pada tiap lokus dan kemampuan untuk memeriksa lebih dari
satu lokus. Kelemahan teknik ini adalah memerlukan sampel DNA dalam
jumlah lebih besar dan harus dalam kondisi baik jika dibandingkan dengan
teknik menggunakan PCR. Teknik ini juga membutuhkan lebih banyak tenaga.

b. Polymerase Chain Reaction (PCR)


Metode analisa DNA yang selanjutnya adalah Polymerase Chain Reaction
(PCR) yaitu suatu metode untuk memperbanyak fragmen DNA tertentu secara
in vitro dengan enzim polymerase DNA. Teknik ini didesain agar yang
diperbanyak hanya segmen tertentu dari sampel dengan tingkat akurasi yang
tinggi, sehingga dapat diperoleh informasi dari sampel yang jumlahnya sedikit
atau bahkan pada sampel DNA yang sudah mulai terdegradasi.15,16
Sampel DNA yang disiapkan dengan metode PCR dapat diananlisis
menggunakan beberapa cara. Secara umum variasi per lokus sampel DNA yang
disiapkan melalui PCR lebih rendah daripada variasi pada RFLP. Dengan
demikian hasil dapat diperoleh dari sampel yang kurang secara kualitas maupun
kuantitas namun kekuatan deskriminasinya lebih rendah dengan jumlah lokus
yang sama. Kekuatan metode analisis PCR adalah kemampuan untuk
menganalisa beberapa lokus secara bersamaan dengan proses yang otomatis.15
Proses yang terjadi pada teknik ini serupa dengan cara DNA
memperbanyak jumlahnya dalam sel. Ada tiga tahap yang dilakukan di
laboraturium. Pertama, proses yang dinamakan denaturation yaitu segmen atau
urutan DNA rantai ganda dipisahkan menjadi dua rantai tunggal dengan cara
memanaskan. Kedua proses Annealing atau Hybridization, pada proses ini
setiap rantai tunggal tersebut dipersiapkan dengan cara mengikatkannya dengan
DNA primer. DNA primer adalah DNA pendek yang dibuat secara sintetis yang
menunjukkan urutan DNA yang akan diperbanyak. Proses ketiga disebut
Extension yaitu enzim DNA polymerase ditambahkan bersama dengan sejumlah

18
basa bebas dari keempat jenis basa DNA dilanjutkan dengan proses replikasi.17
Keunggulan PCR dibandingkan RFLP adalah:
1) Simpel dan mudah dilaksanakan di laboraturium
2) Hasil diperoleh dalam waktu singkat (dalam beberapa hari)
3) Oleh karena kapasitas produksi segmen DNA yang tidak terbatas
maka metode yang berdasarkan PCR memungkinkan untuk
menganalisa DNA dalam jumlah sangat sedikit.

Kekurangan metode PCR adalah:


1) Mudah terkontaminasi
Kontaminasi merupakan masalah yang besar pada PCR karena
sistem ini memperbanyak DNA yang ada dengan tingkat akurasi
yang tinggi. Sebuah molekul DNA dapat menjadi jutaan bahkan
milyaran DNA dalam waktu tiga jam, jika ada sebuah molekul DNA
bakteri atau kontaminan lain tercampur maka molekul tersebut juga
akan diperbanyak dalam laju yang sama sehingga akan terjadi salah
kesimpulan.
2) Kebanyakan lokus dalam PCR memiliki alel lebih sedikit
dibandingkan VNTR pada metode RFLP.
3) Tidak seperti VNTR yang menggunakan area yang tidak
berfungsi, beberapa lokus dari PCR adalah gen yang fungsional, ini
berarti telah terjadi seleksi alam yang menyebabkan perbedaan yang
lebih besar dari subgroup populasi.

c. STRs (Short Tandem Repeats)


Metode STRs (Short Tandem Repeats) adalah salah satu metode analisis yang
berdasar pada metode Polymerase Chain Reaction (PCR). STRs (Short Tandem
Repeat) adalah suatu istilah genetik yang digunakan untuk menggambarkan
urutan DNA pendek (2 – 5 pasangan basa) yang diulang. Genome setiap
manusia mengandung ratusan STRs. Metode ini paling banyak dikembangkan
karena metode ini cepat, otomatis dan memiliki kekuatan diskriminasi yang

19
tinggi. Dengan metode STRs dapat memeriksa sampel DNA yang rusak atau
dibawah standar karena ukuran fragmen DNA yang diperbanyak oleh PCR
hanya berkisar antara 200 – 500 pasangan basa. Selain itu pada metode ini dapat
dilakukan pemeriksaan pada setiap lokus yang memiliki tingkat polimorfisme
sedang dengan memeriksa banyak lokus dalam waktu bersamaan. Teknik yang
digunakan adalah multiplexing yaitu dengan memeriksa banyak lokus dan
berbeda pada satu tabung. Dengan cara ini dapat menghemat waktu dan
menghemat sampel.
Analisis pada teknik ini didasarkan pada perbedaan urutan basa STRs dan
perbedaan panjang atau pengulangan basa STRs.15

d. Y- STRs (Y-Short Tandem Repeats)


Y- STRs adalah STRs yang ditemukan pada kromosom Y. Y- STRs dapat
diperiksa menggunakan jumlah sampel kecil dan rusak dengan metode dan alat
yang sama dengan pemeriksaan STRs pada kromosom autosomal. Karena
kromosom Y hanya terdapat pada pria maka Y- STRs dapat berguna untuk
menyaring informasi genetik yang spesifik dari pria yang yang menjadi sampel.
Pemeriksaan Y- STRs dapat digunakan untuk memeriksa sampel tanpa sperma
yang bercampur antara sampel laki-laki dan perempuan, seperti sampel darah
atau air liur yang diambil dari korban kasus perkosaan. Pemeriksaan ini juga
dapat mendeteksi profil pria ketika hanya profil wanita yang tampak jelas saat
menggunakan STRs. Karena kromosom Y tidak mempunyai homolog pada
genom manusia, maka disebut hemizygous. Kromosom Y tidak mempunyai
partner yang sama seperti pada kromosom autosomal. Walaupun ia berpasangan
selama pembelahan sel, rekombinasi genetik yang terjadi hanya sedikit atau
yidak ada sama sekali, hal ini diwariskan kepada keturunannya. Y- STRs sangat
berguna untuk menyelesaikan kasus disputed paternity pada anak laki-laki,
karena kromosom Y diturunkan oleh ayah kepada anak laki-laki.15

d. mtDNA (Mitochondrial DNA)

20
Aplikasi penggunaan mitokondria DNA (mtDNA) dalam identifikasi forensik
dimulai pada tahun 1990. Mitokondria adalah partikel intraselular yang terdapat
di luar nukleus dalam sitoplasma sel. Mitokondria mengandung DNA kecil
berupa molekul berbentuk sirkular yang terdiri dari 16569 pasangan basa yang
dapat diidentifikasi. Setiap sel mengandung 100 – 1000 mitokondria.
Ciri khas dari mtDNA adalah pola penurunannya. Tidak seperti DNA inti
yang tersusun dari kombinasi separuh DNA orang tua, mitokondria DNA hanya
mengandung DNA ibu. Mitokondria diturunkan melalui sel telur tidak melalui
sperma walaupun sperma secara struktural juga mengandung mitokondria dalam
jumlah kecil, hal ini disebabkan karena bagian mitokondria sperma tidak masuk
ke dalam sel telur sehingga hanya mitokondria ibu yang secara normal
diturunkan pada anaknya.15
Mitokondria DNA bersifat seperti kromosom Y yang tidak mempunyai
homolog pada genom manusia, maka disebut hemizygous hal ini menyebabkan
Mitokondria DNA dan Kromosom Y diturunkan secara spesifik. Jika dari
pemeriksaan Mitokondria DNA dapat mengetahui garis ibu, maka dari
pemeriksaan Kromosom Y dapat mengetahui garis ayah pada anak laki-laki.
Perbedaan yang terlihat bahwa Mitokondria DNA adalah marker sitoplasmik
yang diturunkan ibu kepada semua anaknya sedangkan Kromosom Y adalah
marker nuklear yang hanya diturunkan seorang ayah pada anak laki-lakinya.15

e. CODIS (Combined DNA Index System)


CODIS merupakan analisis DNA yang baru dikembangkan FBI. FBI memilih
13 STR yang digunakan sebagai deretan lokus utama standar dan meningkatkan
pengembangan kemampuan laboraturium untuk melakukan pemeriksaan pada
lokus tersebut. Laboratorium di seluruh dunia menggunakan lokus yang sama.
Penggumpulan 13 lokus utama meningkatkan kemampuan diskriminasi.
Kemungkinan ditemukan kecocokan antara dua orang yang tidak berhubungan
berdasarkan random di Caucasian Amerika adalah satu diantara 575 trilyun.
Angka kemungkinan ini lebih kecil dibandingkan UK system.18,19 FBI secara
aktif dilibatkan dalam pengumpulan data frekuensi populasi pada grup dan

21
subgrup populasi yang berbeda. Populasi ini kemudian dibagi lagi, misalnya
data dari Jepang, Cina, Korea dan Vietnam. Pada dunia bagian barat terdapat
data untuk Bahamian, Jamaica dan Trinidadian.18
FBI menyediakan software sebagai fasilitas pada penggunaan CODIS,
termasuk pelatihan penggunaan sistem serta menyediakan dukungan bagi
laboraturium untuk melakukan analisis DNA. CODIS menggunakan dua indeks
atau putunjuk untuk melakukan pemeriksaan pada kasus kriminal dengan
analisis dna. Convicted Offender Index mengandung profil narapidana yang
melakukan tindakan criminal. The Forensic Index mengandung profil DNA dari
fakta yang didapatkan pada kasus criminal misalnya darah atau semen. Kedua
indeks ini didapatkan dengan komputer.18

3. Analisis Hasil Tes DNA


Hasil analisis laboratorium atau profil DNA akan terlihat berupa pita-pita DNA
yang terdapat pada gel poliakrilamid. Pita DNA anak kemudian dibandingkan
dengan pita DNA ayah dan ibunya. Pada kasus paternitas metode analisis yang
dipergunakan adalah analisis AmpFLPs yang menggunakan satu lokus. Dapat
dilihat bahwa masing-masing orang memiliki dua pita sebagai representasi dua
alel yang menggambarkan DNA pada satu pasang kromosom. Salah satu pita
pada kolom DNA anak sama tinggi dengan salah satu pita ibu yang
menunjukkan alel tersebut berasal dari ibu, artinya pita anak yang kedua berasal
dari pihak ayah terlihat bahwa salah satu pita ayah sama tinggi dengan pita
kedua ayah. Kemudian dilakukan perhitungan statistik sehingga dapat diambil
kesimpulan bahwa pria tersebut kemungkinan besar adalah ayah dengan
kemungkinan sekian persen dibandingkan dengan orang lain dalam ras yang
sama.

22
Gambar 1. Perbandingan pola DNA dari dua sampel

Gambar 2. Perbandingan profil DNA dari dua individu yang didapatkan


dengan multiple STRs (Short Tandem Repeats). Setiap marker DNA
ditunjukkan oleh hurup A – J.

KESIMPULAN
Disputed paternity adalah usaha untuk mengeksklusi seseorang dituduh sebagai orang tua
biologis dari seorang anak. Metode penentuan status keayahan dalam menyelesaikan
kasus disputed paternity dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: menentukan
tingkat fertilitas laki-laki yang dituduh sebagai ayah, mencocokkam waktu konsepsi dan
melakukan tes paternitas.

23
Tes paternitas adalah tes atau pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui
apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Tes paternitas yang sering
digunakan untuk untuk menyelesaikan kasus disputed paternity yaitu metode
konvensional dengan analisis fenotipe berupa tes golongan darah sistem ABO, Rhesus,
MNS dan tes Human Leukocyte Antigen (HLA) serta tes paternitas yang menggunakan
metode forensik molekular yaitu tes DNA. Analisis fenotip hanya dapat memberikan
jawaban pasti jika si X bukan ayah si anak, sedangkan tes DNA didasarkan pada analisis
informasi genetik yang sangat spesifik dalam membedakan ciri setiap individu sehingga
dapat menentukan identitas seseorang hampir 99,9 % pasti sebagai ayah biologis si anak.
Terdapat berbagai teknik analisi DNA yaitu Restriction Fragment Leght Polymorphism
(RFLP), Polymerase Chain Reaction (PCR), STRs (Short Tandem Repeats), Y- STRs (Y-
Short Tandem Repeats), mtDNA (Mitochondrial DNA), CODIS (Combined DNA Index
System)

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. Pusdokkes Polri The Indonesian police centre for medical and Health
Service. Available at: http://www. pusdokkes. polri.go .id/ naskah /dokpol/ ladok
poli html. : 21 Mei 2008.
2. Prosedur Tetap Forensik Klinik RSUP. Sanglah Denpasar. Instalasi Forensik Klinik
RSUP Sanglah Denpasar. Denpasar, 2006.
3. Cordner, Stephen D., Plueckhahn Vernon D. Ethics, Legal Medicine and Forensic
Pathology. Melbourne University Press. Australia, 1991
4. H, Hermawanto. DB., Hadiwidjaja. Analisis Sperma dapa Infertilitas Pria.
Available at: http//www.tempo.co,id/medika/arsip/102002/pus-3.htm: 24 Mei 2008.
5. Subratha, M. Analisis Sperma Rutin. Upada Sastra Denpasar. Denpasar, 1999.
6. Wiknjosaatro H. Ilmu Kandungan Edisi 2. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.Jakarta, 1999.
7. Roberts, JA Fraser., Pembrey, Marcus E. Pengantar Genetika Kedokteran. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta, 1995.

24
8. Anonim. ABO Blood Types. Available at http://anthro. Palomar .edu/blood /ABO
system.htm: 21 Mei 2008
9. Anonim. Golongan Darah. Available at: //en.wikipedia.org/wiki/Golongan Darah:
21 Mei 2008.
10. Anonim. Rh Types. Available at: http://antro. Palomar.edu/blood/Rh system.htm:
21 Mei 2008.
11. Knighat, Bernard. Simpson’s Forensic Medicine. Arnold a member of Hodder
Headline Group. New York,1997.
13. Anonim. Human Leukocyte Antigen Test. Available at: http:// www. answer. Com
/topic/ himan-leukocyte-antigen test: 24 Mei 2008.
14. Modul Bahan Ajar, Proyek Pengembangan Kewirausahaan Melalui Integratif Bahan
Ajar Kriminalistik. Buku II. Jakarta: Universitas Indonesia, 2000.
15. Norah Rudin & Keith Inman. Introduction to Forensic DNA Analysis. 2nd ed.
London New York Washington DC: CRC Press LLC, 2002
16. Curran Thomas. Forensic DNA Analisys : Technology and Aplication. Available at:
http ://www. denverda. org/DNA/Forensic_ DNA_ Articles.htm: 29 Mei
2008.
17. Benecke Mark. DNA Typing in Forensic Medicine and in Criminal Investigation: A
Current Survey. Available: http:/ /www. denverda.org /DNA/Forensic _DNA_
Articles. htm: 29 Mei 2008.
18. Samuels Julie E., Asplen Christopher The Future of Forensic DNA Testing, Prediction
of the Research and Development Working Group. Available: http:/ /www.
denverda.org /DNA/Forensic _DNA_ Articles. htm: 29 Mei 2008.
19. Gill Peter., Jobling Mark A. Encoded Evidence : DNA in Forensic Analysis.
Available: http:/ /www. denverda.org /DNA/Forensic _DNA_ Articles. htm: 29
Mei 2008.

Predictions of the
Research and

25
Development
Working Group

26