Anda di halaman 1dari 7

A.

Konsep Dasar Apendisitis


1. Pengertian apendisitis
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
cacing (apendiks). Usus buntu sebenarnya adalah sekum (caecum). Infeksi ini bisa
mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera
untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya (Jong, 2006)
Apendisistis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, biasanya
disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks, obstruksi limfoid, fekalit, benda asing,
dan struktur karena fibrosis akibat peradangan neoplasma (Mansjoer, 2007)
2. Penyebab
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan
sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang
diajukan sebagai faktor pencetus disamping hyperplasia jaringan limfe, tumor
apendiks dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penelitian
epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendistis. Konstipasi akan menaikkan
tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan
meningkatkan pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan
mempermudah timbulnya apendisitis (Sjamsuhidajat, 2004)

3. Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis terbagi atas tiga , yakni :
a. Apendisitis akut radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda
setempat, disertai maupun tidak disertai rangsangan peritoneum lokal

b. Apendisitis rekrens yaitu jika ada riwayat nyeri berulang diperut kanan bawah
yang mendorong dilakukannya apendektomi. Kelainan ini terjadi bila
serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun apendisitis
tidak pernah kembali kebentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan
parut
c. Apendisitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri perut kanan bawah
lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan
mikroskopik (fibrosis menyeluruh di dinding apendiks, sumbatan partial atau
lumen), dan keluhan menghilang setelah apendektomi (Nurarif, 2013)
4.

Patofisiologi
Patologi apendisitis dapat dimulai di mukosa dan kemudian melibatkan

seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24 sampai 48 jam pertama.


Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau
tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari feses), tumor, atau benda
asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri
abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam,
terlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang
terinflamasi berisi pus (Smeltzer & Bare, 2001)

5. Gambaran klinis apendisitis


Pada kasus apendisitis akut klasik, gejala awal adalah nyeri atau rasa tidak
enak di sekitar umbilicus. Gejala ini umumnya berlangsung lebih dari 1 atau 2
hari. Dalam beberapa jam bergerser ke kuadran kanan bawah dengan disertai
anoreksia, mual dan muntah. Dapat juga terjadi nyeri tekan di sekitar titik

McBurney. Kemudian, dapat timbul spasme otot dan nyeri tekan lepas. Biasanya
ditemukan demam ringan dan lukositosis sedang. Penyakit ini sering disertai oleh
hilangnya rasa nyeri secara dramatis untuk sementara (Price, S. A. and Wilson,
2005). Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar
37,5-38,5 derajat celcius (Nurarif, 2013)
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai
akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks
ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut.
a. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal
Yaitu di belakang sekum (terlindung oleh sekum), tanda nyeri perut kanan
bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri
lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti
berjalan, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas
mayor yang menegang dari dorsal
b. Bila apendiks terletak di rongga pelvis
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rectum, akan timbul
gejala dan rangsangan sigmoid atau rectum, sehingga peristaltik meningkat,
pengosongan rectum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare)
c. Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi
peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangan dindingnya (Nurarif, 2013)
6. Penatalaksanaan
Bila diagnosis klinis sudah jelas tindakan paling tepat dan merupakan satusatunya pilihan yang baik adalah apendektomi. Apendektomi merupakan suatu

tindakan pembedahan yang dilakukan pada apendisitis akut, karena terjadi


peradangan dan infeksi dari apendiks vermiformis dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik
laki-laki maupun perempuan (Jong, 2006).
Apendektomi bisa dilakukan secara terbuka ataupun dengan cara
laparoskopi. Bila apendektomi terbuka, insisi McBurney paling banyak dipilih
oleh ahli bedah. Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya dilakukan
observasi dulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi bisa dilakukan bila
dalam observasi masih terdapat keraguan. Jika tersedia laparoskop, tindakan
laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera menentukan akan
dilakukan operasi atau tidak (Sjamsuhidajat, 2004)
Apendektomi direncanakan pada infiltrat periapendikuler tanpa pus yang
telah ditenangkan. Sebelumnya pasien diberi antibiotic kombinasi yang aktif
terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang yaitu sekitar 6
sampai 8 minggu kemudian, dilakukan apendektomi. Pada anak kecil, wanita
hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau
berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya (Sjamsuhidajat, 2004)
Untuk mencapai apendiks ada tiga cara yang secara teknik operatif
mempunyai keuntungan dan kerugian (Mansjoer, 2007):
a.

Insisi menurut Mc Burney (Grid Incision/Muscle Spliting Incision)


Sayatan dilakukan pada garis yang tegak lurus pada garis yang

menghubungkan spina iliaka superior (SIAS) dengan umbilicus pada batas


sepertiga lateral (titik McBurney). Teknik inilah yang paling sering dikerjakan
karena keuntungannya tidak terjadi benjolan, trauma operasi minimum pada alat-

alat tubuh dan penyembuhan lebih cepat. Kerugiannya adalah lapangan operasi
terbatas, sulit diperluas dan waktu operasi lebih lama.
b. Insisi menurut Roux (Muscle Cutting Incision)
Lokasi dan arah sayatan sama dengan McBurney, hanya sayatannya
langsung menembus otot dinding perut tanpa memperdulikan arah serabut sampai
tampak peritoneum. Keuntungannya lapangan operasi lebih luas, mudah diperluas,
sederhana dan mudah. Kerugiannya adalah lebih banyak memotong saraf dan
pembuluh darah sehingga pendarahan lebih banyak, masa istirahat pasca bedah
lebih lama karena adanya benjolan., nyeri lebih sering terjadi dan penyembuhan
lebih lama.
c.

Insisi pararektal
Dilakukan sayatan pada garis batas muskulus rektus abdominalis dekstra

secara vertikal dari cranial ke kaudal sepanjang 10cm. Keuntungannya, teknik ini
dapat dipakai pada kasus-kasus apendiks yang belum pasti dan sayatan mudah
diperpanjang. Sedangkan kerugiannya, sayatan ini tidak langsung mengarah ke
apendiks/sekum, memotong saraf dan pembuluh darah lebih banyak, dan menutup
luka operasi diperlukan jaritan penunjang
7. Perawatan pasca apendektomi
Menurut Mansjoer (2007) dan Smeltzer & Bare (2001) perawatan pasien
pasca apendektomi antara lain :
a. Pemantauan kondisi tubuh
Tindakan yang diberikan adalah pemantauan perkembangan tubuh pasca
operasi seperti observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya
perdarahan didalam, syok, hipertermi, gangguan pernafasan

b. Pemberian antibiotik dan analgetik


Tindakan yang dilakukan berupa kolaborasi pencegahan infeksi dan
kolaborasi penanganan nyeri dengan bantuan analgetika. Pemberian antibiotika
dan analgetik diberikan melalui oral maupun IV.
c. Pemberian diit dilakukan secara bertahap setelah pasien flatus
Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan , selama
itu pasien dipuasakan hingga flatus. Bila pasien sudah flatus, pasien
diperbolehkan untuk makan dan minum. Pasien diberikan minum mulai 15ml/jam
selama 4 sampai 5 jam lalu naikkan menjadi 30ml/jam. Pasien diperbolehkan
makan bubur selanjutnya makan biasa. Diit yang disarankan adalah mengandung
cukup energi, protein, lemak dan zat-zat gizi, menghindari makanan yang
merangsang peristaltik (pedas, asam), suhu makanan lebih baik bersuhu dingin.
d. Mobilisasi sedini mungkin secara bertahap
Mobilisasi pasca operasi yaitu pergerakan pada otot otot tubuh yang
dilakukan pasca pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur
(latihan pernapasan, latihan batuk efektif, dan menggerakkan tungkai) sampai
dengan pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan berjalan
keluar kamar (Smeltzer & Bare, 2001). Latihan umum harus dimulai sesegera
mungkin setelah pembedahan, lebih baik 24 jam pertama.
Tahap-tahap mobilisasi pada pasien pasca operasi (Smeltzer & Bare,
2001) meliputi :
1) Pada saat awal (6 sampai 8 jam setelah operasi), pergerakan fisik bisa
dilakukan di atas tempat tidur dengan menggerakkan tangan dan kaki yang

bisa ditekuk dan diluruskan, mengkontraksikan otot-otot termasuk juga


menggerakkan badan lainnya, miring ke kiri atau ke kanan.
2) Pada 12 sampai 24 jam berikutnya atau bahkan lebih awal lagi badan sudah
bisa diposisikan duduk, baik bersandar maupun tidak dan fase selanjutnya
duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang dijatuhkan atau ditempatkan di
lantai sambil digerak-gerakkan.
3) Pada hari kedua pasca operasi, rata-rata untuk pasien yang dirawat di kamar
atau bangsal dan tidak ada hambatan fisik untuk berjalan, semestinya memang
sudah bisa berdiri dan berjalan di sekitar kamar atau keluar kamar, misalnya
ke toilet atau kamar mandi sendiri.
e. Perawatan luka operasi
Menurut Mansjoer (2007) perawatan luka pasca apendektomi dilakukan
pada hari ketiga pasca operasi. Luka jaritan diusahakan tetap kering untuk
mencegah terjadinya infeksi. Berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO)
perawatan luka pasca bedah dari RSUD Wangaya pasien diwajibkan melakukan
kontrol kembali 3 hari setelah keluar dari RS.