Anda di halaman 1dari 7

Menetukan koefisien distribusi I2 dalam sistem air-kloroform

III. LANDASAN TEORI


Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat
terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut
dari suatu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnya
bahan alami) tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis
atau termis. Misalnya saja, karena komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka
terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang
terlalu rendah (Rahayu. 2009).
Bila senyawa organik tidak larut sama sekali dalam air, pemisahannya akan lengkap.
Namun, nyatanya, banyak senyawa organik, khususnya asam dan basa organik dalam derajat
tertentu larut juga dalam air. Hal ini merupakan masalah dalam ekstraksi. Untuk memperkecil
kehilangan yang disebabkan gejala pelarutan ini, disarankan untuk dilakukan ekstraksi
berulang. Anggap anda diizinkan untuk menggunakan sejumlah tertentu pelarut. Daripada
anda menggunakan keseluruhan pelarut itu untuk satu kali ekstraksi, lebih baik anda
menggunakan sebagian-sebagian pelarut untuk beberapa kali ekstraksi. Kemudian akhirnya
menggabungkan bagian-bagian pelarut tadi. Dengan cara ini senyawa akan terekstraksi
dengan lebih baik. Alasannya dapat diberikan dengan menggunakan hukum partisi (Takeuchi.
2009).
Hukum distribusi atau partisi. Cukup diketahui berbagai zat-zat tertentu lebih mudah larut
dalam pelarut-pelarut tertentu dibandingkan dengan pelarut-pelarut yang lain. Jadi iod jauh
lebih dapat larut dalam karbon disulfida, kloroform, atau karbon tetraklorida. Lagi pula, bila
cairan-cairan tertentu seperti karbon disulfida dan air, eter dan air, dikocok bersama-sama
dalam satu bejana dan campuran kemudian dibiarkan, maka kedua cairan akan memisah
menjadi dua lapisan. Cairan-cairan seperti itu dikatakan sebagai tak-dapat-campur (karbon
disulfida dan air) atau setengah-campur (eter dan air), bergantung apakah satu ke dalam yang
lain hampir tak dapat larut atau setengah larut. Jika iod dikocok bersama suatu campuran
karbon disulfida dan air kemudian didiamkan, iod akan dijumpai terbagi dalam kedua pelarut.
Suatu keadaan kesetimbangan terjadi antara larutan iod dalam karbon disulfida dan larutan
iod dalam air (Vogel. 1986 : 145).
Menurut hukum distribusi Nerst, bila ke dalam kedua pelarut yang tidak saling bercampur
dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian
kelarutan. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. Dalam praktek solutakan
terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut tersebut setelah di kocok dan dibiarkan
terpisah. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap, dan
merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau
koefisien distribusi. Koefisien distribusi dinyatakan dengan berbagai rumus sebagai berikut :
KD = C2/C1 atau KD = Co/Ca

(Soebagio. 2002 : 34).


Jika ke dalam sistem dua fasa cair yang tak dapat saling bercampur ditambahkan zat ketiga
yang dapat melarut pada keduanya maka zat ketiga akan terdistribusi diantara ke dua fasa tadi
dalam jumlah tertentu. Bila larutan jenuh I2 dalam CHCl3 dikocok dalam air yang tidak larut
dalam CHCl3, maka I2 akan terbagi dalam air dan dalam CHCl3. Setelah tercapai
kesetimbangan perbandingan konsentrasi I2 dalam air dan CHCl3 pada temperatur tetap juga
tetap,. Kenyataan ini merupakan akibat langsung hukum termodinamika pada kesetimbangan.
Jika potensial kimia dari solute dalam larutan encer dalam larutan adalah :
U1 = U10 + kT In C1
Dan pada larutan air adalah :
U2 = U20 + kT In C2
(Tim Dosen Kimia Fisik. 2012 : 17).
Jika tidak terjadi asosiasi, disosiasi atau polimerisasi pada fase-fase tersebut dan keadaan
yang kita punya adalah ideal, maka harga KD sama dengan D. untuk tujuan praktis sebagai
ganti harga KD atau D, lebih sering digunakan istilah persen ekstraksi (E). ini berhubungan
dengan perbandingan distribusi dalam persamaan sebagai berikut :
D = (Vw/Vo E)/(100-E) , dimana Vw = volume fase air, Vo = volume fase organik
(Khopkar. 2008 : 91).

IV. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Buret 50 mL 2 buah
b. Corong pisah 250 mL 2 buah
c. Pipet volume 5 mL, 10 mL dan 20 mL
d. Pipet tetes
e. Gelas ukur 10 mL dan 100 mL
f. Batang pengaduk 3 buah
g. Labu erlenmeyer 250 mL bertutup asa 3 buah
h. Labu erlenmeyer 250 mL 3 buah

i. Statif dan klem 4 buah


2. Bahan
a. Larutan jenuh I2 dalam CHCl3
b. Aquades (H2O)
c. Natrium tiosulfat (Na2S2O3) 0,1 N
d. Tissue

V. PROSEDUR KERJA
1. Mengukur 150 mL larutan I2 jenuh dalam CHCl3. Kemudian memasukkan dalam
corong pisah. Menambahkan 100 mL aquades kemudian di kocok dan diamkan,
tunggu sampai tercapai kesetimbangan
2. Memisahkan lapisan atas dan bawah. Masing-masing lapisan dipipet 5 mL,
memasukkan ke dalam erlenmeyer kemudian dititrasi dengan larutan natrium
tiosulfat. Mengulangi sebanyak tiga kali. Mencatat volume tiosulfat yang diperlukan
pada kedua titrasi tersebut.

VI. HASIL PENGAMATAN


150 mL larutan jenuh I2 dalam CHCl3 (ungu) > 100 mL H2O (bening) - terbentuk dua
lapisan (lapisan atas : kuning, bawah : ungu) > terbentuk dua lapisan (atas : orange (air),
bawah : ungu pekat (CHCl3))
Untuk lapisan air 5 mL
Titrasi
I
II
III

V Na2S2O3 0,1 N
0,5 mL
0,5 mL
0,5 mL

Vrata-rata = (0,5+0,5+0,5)mL/3 = 0,5 mL


Untuk lapisan I2 dalam CHCl3 5 mL
Titrasi
I
II
III

V Na2S2O3 0,1 N
18,5 mL
18,0 mL
18,7 mL

V rata-rata = (18,5+18,0+18,7)mL/3 = 18,4 mL

VII. ANALISIS DATA


Dik : N Na2S2O3

= 0,1 N

VI 1 Na2S2O3

= 0,5 mL

VI 2 Na2S2O3

= 0,5 mL

VI 3 Na2S2O3

= 0,5 mL

VII 1 Na2S2O3

= 18,5 mL

VII 2 Na2S2O3

= 18,0 mL

VII 3 Na2S2O3

= 18,7 mL

Dit : KD dari I2 . . . ?
Peny : a. Erlenmeyer I

Konsentrasi I2 pada lapisan air (Ca)


Ca = ((VI 1 x N)Na2S2O3)/(V iod)
= (0,5 mL x 0,1 N)/(150 mL)
= 0,00033 N

Konsentrasi I2 pada lapisan kloroform (Co)


Co = ((VII 1 x N) Na2S2O3)/(V iod)
= (18,5 mL x 0,1 N)/(150 mL)
= 0,01233 N
KDI = Ca/Co
= (0,00033 N)/(0,01233 N)
= 0,02676

b. Erlenmeyer II

Konsentrasi I2 pada lapisan air (Ca)


Ca = ((VI 2 x N)Na2S2O3)/(V iod)
= (0,5 mL x 0,1 N)/(150 mL)
= 0,00033 N

Konsentrasi I2 pada lapisan kloroform (Co)


Co = ((VII 2 x N) Na2S2O3)/(V iod)
= (18,0 mL x 0,1 N)/(150 mL)
= 0,01200 N
KDI = Ca/Co
= (0,00033 N)/(0,01200 N)
= 0,02750

c. Erlenmeyer III

Konsentrasi I2 pada lapisan air (Ca)


Ca = ((VI 3 x N)Na2S2O3)/(V iod)
= (0,5 mL x 0,1 N)/(150 mL)
= 0,00033 N

Konsentrasi I2 pada lapisan kloroform (Co)


Co = ((VII 3 x N) Na2S2O3)/(V iod)
= (18,7 mL x 0,1 N)/(150 mL)
= 0,01247 N
KDI = Ca/Co
= (0,00033 N)/(0,01247 N)
= 0,02646

Komponen distribusi iod :


KD rata-rata = (KD 1+ KD 2+ KD 3)/3
= (0,02676+0,02750+0,02646 )/3
= 0,06308

VIII. PEMBAHASAN
Prinsip dasar percobaan ini yaitu distribusi zat terlarut I2 ke dalam dua pelarut yang tidak
saling bercampur yaitu ait dan kloroform, dimana menurut hukum distribusi Nerst, jika ke
dalam sistem dua fasa cair yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut
dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Perbandingan
konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap dan merupakan suatu ketetapan pada
suhu tetap. Tetapan tersebut adalah tetapan distribusi atau koefisien distribusi (KD).
Pada percobaan, larutan jenuh I2 dalam CHCl3 ditambahkan dengan aquades yang
merupakan pelarut yang tidak saling campur dengan CHCl3 dan diperoleh dua lapisan.
Adanya perbedaan kepolaran antara iar dan CHCl3 dimana air bersifat polar sedangkan
CHCl3 bersifat nonpolar sehingga terbentuk dua lapisan, dimana lapisan atas merupakan air
dan lapisan bawah adalah kloroform. Hal ini disebabkan karena massa jenis air yakni 1 g/mL
lebih kecil dibandingkan massa jenis kloroform yakni 1,48 g/mL sehingga air berada pada
lapisan atas dan lapisan bawahnya adalah kloroform. Kemudian dikocok agar I2 terdistribusi
dengan maksimal ke kloroform dan air, lalu dipisahkan dan dititrasi dengan Na2S2O3 serta
mencatat volume Na2S2O3 yang dipakai hingga tercapai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi
ditandai dengan perubahan warna. Pada lapisan air dari warna orange menjadi bening
sedangkan pada lapisan kloroform dari warna ungu menjadi bening. Berdasarkan analisis
data, diperoleh KD1 = 0,02676, KD2 = 0,02750 dan KD3 = 0,02646. Artinya iod yang
terdistribusi ke fase air lebih banyak dibandingkan iod yang terdistribusi ke fasa organik
(CHCl3). Adapun rekasinya yaitu :
2S2O32- + I2 S4O62_ + 2I2Na2S2O3 + 2I- .> Na2S2O6 + 2NaI

IX. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Harga koefisien iod dalam sistem air klorofom yaitu 0,06308

2. Saran
Dalam percobaan ini, seharusnya cara pengocokan kosntan (satu arah) sehingga iod
dapat terdistribusi sempurna dengan cepat.

DAFTAR PUSTAKA
Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.
Rahayu, Suparni Setyowati. 2009. Ekstraksi. http://www.chem-istry.org/materi-kimia/kimia_industri/teknologi_proses/ekstraksi/.
Diakses pada tanggal 30 Mei 2012.
Soebagio, dkk. 2000. Kimia Analitik II (JICA). Malang : Universitas Negeri
Malang.
Takeuchi, Yoshito. 2009. Metode Pemisahan Standar. http://www.chemis-try.org/materikimia/kimia_dasar/pemurnian_material/metode_pemisahan_standar
/. Diakses pada tanggal 30 Mei 2012.
Tim Dosen Kimia Fisik. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. makassar :
Universitas Negeri Makassar.
Vogel. 1986. Buku Teks Analisis Secara Kualitatif Makro dan
Semimikro. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka.