Anda di halaman 1dari 24

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

ASPHYXIA CAUSED BY PRESSURE ON THE NECK

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat dalam Menempuh Program
Pendidikan Profesi Dokter
Dosen Penguji:
dr. Sigid Kirana LB, Sp.KF
Residen Pembimbing:
dr. Suryo Wijoyo, MH(Kes)
Disusun Oleh:
Giavanny E.R. Puteri

1320221102

Ni Putu A.S. Tardan

1310221065

Indrastiti Pramitasari

03009121

Krisna Adiyuda

03009132

Ula Inda Rahmadhani

03010273

Farida Apriani

03007089

Muhammad Fajar

1310221079

KEPANITERAAN KLINIK
DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN DIPONEGORO
RSUP DR. KARIADI SEMARANG
PERIODE 9 FEBRUARI 2015 7 MARET 2015

LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


ASPHYXIA CAUSED BY PRESSURE ON THE NECK
Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang

Telah disetujui
Tanggal :

.............................................................

Disusun Oleh:
Giavanny E.R. Puteri

1320221102

Ni Putu A.S. Tardan

1310221065

Indrastiti Pramitasari

03009121

Krisna Adiyuda

03009132

Ula Inda Rahmadhani

03010273

Farida Apriani

03007089

Muhammad Fajar

1310221079

Dosen Penguji

Residen Pembimbing

dr. Sigid Kirana LB, Sp.KF

dr. Suryo Wijoyo, MH(Kes)

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Referat yang
berjudul Asphyxia Caused By Pressure On The Neck. Tugas ini disusun untuk memenuhi salah
satu syarat dalam mengikuti program Profesi Kedokteran di Departemen Forensik dan
Medikolegal RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pada penulisan dan penyusunan referat ini, penulis
banyak dibantu oleh berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung, untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Sigid Kirana LB, Sp.KF selaku dosen penguji
2. Dr. Suryo Wijoyo, MH(Kes) selaku residen pembimbing
Penulis sadar bahwa dalam tugas ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis
menghimbau agar para pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang membangun dalam
perbaikan referat ini.
Penulis berharap agar referat ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan ilmu
pengetahuan bagi pihak yang memerlukan khususnya bagi Penulis sendiri.

Semarang, Februari 2015

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................... ii
KATA PENGANTAR............................................................................................... iii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
I.1.

Latar Belakang............................................................................................... 1

I.2.

Rumusan Masalah..........................................................................................1

I.3.

Tujuan............................................................................................................ 1

I.4.

Manfaat.......................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1.

Asfiksia.......................................................................................................... 3

II.1.1. Definisi...........................................................................................................3
II.1.2. Etiologi...........................................................................................................3
II.1.3. Jenis-Jenis Asfiksia........................................................................................ 3
II.1.4. Stadium Asfiksia............................................................................................ 4
II.2.

Asfiksia Akibat Penekanan Pada Leher............................................. ........... 4

II.2.1. Hanging......................................................................................................... 5
II.2.1.1. Definisi...................................................................................................... 5
II.2.1.2. Eriologi......................................................................................................5
II.2.1.3. Klasifikasi..................................................................................................6
II.2.1.4. Gambaran Post Mortem.............................................................................7
II.2.1.5. Perbedaan Antara Pengantungan Ante Mortem dan Post Mortem............ 10
II.2.2 Pencekikan..................................................................................................... 11
II.2.2.1. Definisi...................................................................................................... 11
II.2.2.2. Mekanisme Kematian................................................................................11
II.2.2.3. Gambaran Post Mortem............................................................................ 12
II.2.3. Penjeratan.......................................................................................................14
II.2.3.1. Definisi...................................................................................................... 14
II.2.3.2. Mekanisme................................................................................................ 14

II.2.3.3. Cara Kematian........................................................................................... 14


II.2.3.4. Gambaran Post Mortem.............................................................................15
II.2.3.5. Perbedaan Penggantungan Pada Bunuh Diri dan Pembunuhan................ 16
BAB III. PENUTUP................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 18

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG


Salah satu hal yang dapat menyebabkan kematian adalah terhentinya suplai oksigen. Hal
ini disebabkan karena adanya hambatan masuknya oksigen ke dalam sistem respirasi. Hambatan
ini juga akan berakibat terganggunya pengeluaran karbon dioksida dari tubuh sehingga kadarnya
dalam darah meningkat. Keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan
yang normal disebut asfiksia.
Dari segi etiologi asfiksia dapat disebabkan oleh penyebab alamiah, trauma mekanik, dan
keracunan. Namun yang disebut asfiksia sebenarnya adalah anoksia anoksik yang disebabkan
karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan atau disebut juga asfiksia mekanik. Asfiksia
mekanik yang disebabkan oleh penekanan pada leher inilah yang paling sering dijumpai dalam
kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Korban kematian akibat
asfiksia termasuk yang sering diperiksa oleh dokter, hal tersebut menempati urutan ketiga setelah
kecelakaan lalu lintas dan traumatik mekanik.
Pada berbagai kasus asfiksia, ditemukan tanda-tanda kematian yang berbeda. Hal ini
sangat tergantung dari penyebab kematian. Untuk itu kita perlu memahami lebih lanjut tentang
penyebab asfiksia tersebut.

I.2. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Apa pengertian asfiksia?


Apa saja jenis-jenis asfiksia yang disebabkan oleh penekanan pada leher?
Bagaimana membedakan penggantungan antemortem dan postmortem?
Bagimana membedakan penggantungan pada bunuh diri dan pembunuhan?

I.3. TUJUAN
1.
2.
3.
4.

Menjelaskan asfiksia
Menjelaskan jenis-jenis asfiksia yang disebabkan oleh penekanan pada leher
Menjelaskan perbedaan penggantungan antemortem dan postmortem
Menjelaskan perbedaan penggantungan pada bunuh diri dan pembunuhan

I.4. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Referat ini dapat dijadikan sebagai sumber bacaan dan pelengkap referensi mengenai
asfiksia yang disebabkan oleh penekanan pada leher
2. Manfaat Praktis
a. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah dibidang kedokteran.
b. Memenuhi salah satu persyaratan mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal di RSUP DR Kariadi Semarang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1.

ASFIKSIA

II.1.1. DEFINISI

Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran
udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan
peningkatan karbondioksida (hiperkapneu). Dengan demikian organ tubuh mengalami
kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian. Secara klinis keadaan asfiksia
sering disebut anoksia atau hipoksia.(1)
Target organ dari asfiksia adalah otak dan didalam otak sel targetnya adalah neuron yang
memperlihatkan kerentanan yang berbeda terhadap defisiensi oksigen. Kerentanan bergantung
pada pembuluh darah dan jenis neuron yang berbeda.
II.1.2. ETIOLOGI(2)
Dari segi etiologi, asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut:
a. Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernapasan seperti
laringitis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru.
b. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang
mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral; sumbatan
atau halangan pada saluran napas, penekanan leher atau dada, dan sebagainya.
c. Keracunan bahan kimiawi yang menimbulkan depresi pusat pernapasan, misalnya
karbon monoksida (CO) dan sianida (CN) yang bekerja pada tingkat molekuler dan
seluler dengan menghalangi penghantaran oksigen ke jaringan.
Penyebab tersering asfiksia dalam konteks forensik adalah jenis asfiksia mekanik, dibandingkan
dengan penyebab yang lain seperti penyebab alamiah ataupun keracunan.

II.1.3. JENIS-JENIS ASFIKSIA(1)


Adapun beberapa jenis kejadian yang dapat digolongkan sebagai asfiksia, yaitu:
1. Strangulasi
a. Gantung (Hanging)
b. Penjeratan (Strangulation by Ligature)
c. Pencekikan (Manual Strangulation)
2. Sufokasi
3. Pembengkapan (Smothering)
4. Tenggelam (Drowning)
5. Crush Asphyxia

6. Keracunan CO dan SN
II.1.4. STADIUM ASFIKSIA(1,2)
1. Fase dispnoe
Penurunan kadar oksigen sel darah merah da penimbunan CO2 dalam plasma
akan merangsang pusat pernafasan di medulla oblongata, sehingga amplitude dan
frekuensi pernafasan akan meningkat. Nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai
tampak tanda - tanda sianosis terutama pada muka dan tangan.
2. Fase konvulsi
Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan saraf
pusat sehingga terjadi konvulsi ( kejang ), yang mula - mula berupa kejang klonik tetap
kemudian menjadi kejang tonik, dan akhirnya timbul episode opistotonik.2,3 Pupil
mengalami dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga menurun. Efek ini
berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak akibat kekurangan O2.
3. Fase apnoe
Depresi pusat pernafasan menjadi lebih hebat, pernafasan melemah dan dapat
berhenti. Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran
cairan sperma, urin dan tinja.
4. Fase akhir
Terjadi paralisis pusat pernafasan yang lengkap. Pernafasan berhenti setelah
kontraksi otomatis otot pernafasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa
saat setelah pernafasan berhenti.
II.2.

ASFIKSIA AKIBAT PENEKANAN PADA LEHER


Dalam bidang forensik ada beberapa keadaan atau jenis asfiksia yang sering dijumpai.

Biasanya berkaitan dengan hambatan saluran nafas secara mekanik. Kasus - kasus yang sering
dijumpai, antara lain:
II.2.1. HANGING (MATI GANTUNG)
Mati gantung sangat akrab dalam kehidupan sehari - hari. Tindakan bunuh diri dengan
cara ini sering dilakukan karena dapat dilakukan dimana dan kapan saja dengan seutas tali, kain,
dasi, atau bahan apa saja yang dapat melilit leher. Demikian pula pada pembunuhan atau
hukuman mati dengan cara penggantungan yang sudah digunakan sejak zaman dahulu.
Kasus gantung hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya terletak pada asal tenaga
yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkaran jerat. Pada penjeratan tenaga tersebut datang dari

luar, sedangkan pada kasus gantung tenaga tersebut berasal dari berat badan korban sendiri,
meskipun tidak seluruh berat badan digunakan.
II.2.1.1. DEFINISI
Kematian akibat asfiksia yang disebabkan karena jeratan pada bagian leher yang
dipengaruhi oleh berat badan.
II.2.1.2. ETIOLOGI
Ada 6 penyebab kematian pada penggantungan yaitu:
a. Asfiksia
Merupakan penyebab kematian yang tersering. Alat penjerat biasanya berada di atas tulang
rawan tiroid yang menyebabkan penekanan pada leher, sehingga saluran pernafasan menjadi
tersumbat.
b. Kongesti Vena
Disebabkan oleh lilitan tali pengikat pada leher sehingga terjadi penekanan pada vena
jugularis oleh alat penjerat sehingga sirkulasi serebral menjadi terhambat.
c. Kombinasi Asfiksia dan Kongesti Vena
Merupakan penyebab kematian yang paling umum, seperi pada kebanyakan kasus dimana
saluran napas tidak seluruhnya dihalangi oleh penjerat yang berada di sekitar leher.
d. Iskemik Otak (anoxia)
Disebabkan oleh penekanan pada arteri besar di leher yang berperan dalam menyuplai darah
ke otak, umunya pada arteri karotis dan arteri vertebralis.
e. Syok Vagal.
Menyebabkan serangan jantung mendadak karena terjadinya hambatan pada refleks vasovagal secara tiba-tiba, hal ini terjadi karena adanya tekanan pada saraf vagus atau sinus
karotid.
f. Fraktur atau Dislokasi dari Verterbra Servikal 2 dan 3.
Biasanya terjadi pada kasus judicial hanging, hentakan yang tiba-tiba pada ketinggian 1-2 m
oleh berat badan korban dapat menyebabkan fraktur dan dislokasi dari vertebra servikalis
yang selanjutnya dapat menekan atau merobek spinal cord sehingga terjadi kematian yang
tiba-tiba.

II.2.1.3. KLASIFIKASI
-

Menurut mekanisme kejadiannya

Kasus gantung biasanya merupakan kasus bunuh diri (gantung diri) meskipun kasus
pembunuhan dapat dibuat seolah-olah seperti kasus gantung diri, pada kasus kecelakaan
pun dapat terjadi.
-

Berdasarkan posisi korban, hanging dikelompokkan atas 2, yaitu :


o Complete hanging
Tubuh tergantung di atas lantai, kedua kaki tidak menyentuh lantai.
o Partial hanging
Bagian dari tubuh masih menyentuh lantai. Sisa berat badan 10 - 15 kg pada orang
dewasa sudah dapat menyebabkan tersumbat saluran nafas dan hanya diperlukan
sisa berat badan 5 kg untuk menyumbat arteri karotis. Partial hanging ini hampir
selamanya karena bunuh diri.

Berdasarkan letak jeratan


o Typical hanging
Bila titik penggantungan ditemukan di daerah oksipital dan tekanan pada arteri
karotis paling besar.
o Atypical hanging
Jika titik penggantungan terletak di samping, sehingga leher sangat miring (fleksi
lateral), yang mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis.
Saat arteri terhambat, korban segera tidak sadar.

II.2.1.4. GAMBARAN POSTMORTEM


1. Pemeriksaan Luar Pada Jenazah
a. Tanda Penjeratan Pada Leher
Tanda penjeratan jelas dan dalam. Semakin kecil tali maka tanda penjeratan
semakin jelas dan dalam dan menonjol. Sebaliknya jika alat penjerat lembut dan
berluas penampang besar, maka bekas jeratan kurang menonjol dan tidak dalam.
Bentuk jeratan berjalan miring.

Bentuk jeratan pada kasus gantung diri cenderung berjalan miring (oblique)
pada bagian depan leher, dimulai pada leher bagian atas antara kartilago tiroid
dengan dagu, lalu berjalan miring sejajar dengan garis rahang bawah menuju
belakang telinga. Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging)
berbentuk lingkaran (V shape). Ciri-ciri jejas sebagai berikut :

Alur jeratan pucat.

Tepi alur jerat coklat kemerahan.

Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan.

Tanda penjeratan berwarna coklat gelap dan kulit tampak kering, keras dan
mengkilat
Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit bagian bawah telinga,
tampak daerah segitiga pada kulit dibawah telinga. Pinggiran jejas jerat berbatas
tegas dan tidak terdapat tanda-tanda abrasif. Jumlah tanda penjeratan. Terkadang
pada leher terlihat dua buah atau lebih bekas penjeratan. Hal ini menujukan bahwa
tali dijeratkan ke leher sebanyak dua kali.
b. Kedalaman Bekas Jeratan
Kedalaman bekas jeratan menujukan lamanya tubuh tergantung. Jika penggantungan
terjadi makin lama, maka bekas jeratan akan tampak makin menonjol, makin dalam,
dan makin kering dan kasar pada perabaan (parchmentised).
c. Air liur
Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan dengan tempat simpul,
lidah terjulur dan kandang tergigit. Ditemukannya penetesan air liur merupakan
temuan yang konstan dan penting pada kasus kematian akibat hanging. Penetesan air
liur dapat ditemukan di sudut mulut yang berada pada posisi lebih rendah yaitu di
sudut yang berlawanan dengan sisi terdapatnya simpul. Pada kasus typical hanging,
hal ini ditemukan pada bagian tengah dari bibir bawah. Jika simpul berada di bawah
dagu, penetesan air liur dapat ditemukan pada salah satu atau kedua sudut mulut. Air
liur dapat ditemukan pada baju korban atau tubuh korban yang tidak berpakaian,
sehingga ketika kering air liur ini akan sulit dihapus. Tetapi dengan menempatkan
tubuh korban pada kamar pendingin jejak tersebut mungkin dapat dihapus. Temuan air
liur ini dianggap sangat penting untuk mendukung telah terjadinya kematian

hanging antemortem karena salivasi yang berlebih terjadi akibat reaksi antemortem
akibat iritasi terhadap kelenjar submandibular yang terjadi pada penekanan dan
pergesekan dengan alat penjerat.
d. Tanda-tanda Asfiksia
Tanda-tanda umum asfiksia diantaranya adalah sianosis, kongesti vena dan
edema. Sering ditemukan adanya buih halus pada jalan nafas. Pada kasus
penggantungan tanda-tanda asfiksia berupa mata menonjol keluar, perdarahan berupa
petekia pada bagian wajah dan subkonjungtiva. Jika didapatkan lidah terjulur maka
menunjukan adanya penekanan pada bagian bawah leher yaitu bagian bawah kartilago
thyroida.
Tardieu spot pada Gantung diri.
Tardieu spot diakibatkan pecahnya
kapiler-kapiler pada kaki
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology

e. Lebam Mayat
Jika penggantungan setelah kematian berlangsung lama maka lebam mayat
terlihat pada bagian tubuh bawah, anggota badan distal serta alat genitalia distal

Kasus Gantung Diri


Lebam pada gantung diri terkonsentrasi pada daerah ekstemitas
f. Sekresi Urin dan Feses
Sekresi urin dan feses terjadi pada fase apneu pada kejadian asfiksia. Pada
stadium apneu pusat pernapasan mengalami depresi sehingga gerak napas menjadi
sangat lemah dan berhenti. Penderita menjadi tidak sadar dan karena kontrol spingter
fungsi eksresi hilang akibat kerusakan otak maka terjadi pengeluaran urin dan feses.
2. Pemeriksaan Dalam Pada Jenazah
a. Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun ruptur.
b. Tanda-tanda Asfiksia
Terdapat bintik perdarahan pada pelebaran pembuluh darah
Kongesti pada bagian atas yaitu daerah kepala, leher dan otak
Ditemukan darah lebih gelap dan encer akibat kadar CO2 yang meninggi.
c. Terdapat resapan darah pada jaringan dibawah kulit dan otot
d. Terdapat memar atau ruptur pada beberapa keadaan. Kerusakan otot ini lebih
banyak terjadi pada kasus pengantungan yang disertai dengan tindak kekerasan.
e. Pada pemeriksaan paru-paru serig ditemui edema paru.
f. Mungkin terdapat patah tulang hyoid atau kartilago cricoid.
Patah tulang hyoid terjadi pada sekitar 5-10% kasus penggantungan, dan banyak
terjadi pada korban berumur 40 tahun ke atas. Hal ini berbeda dari penelitian
sebelumnya yang mengatakan fraktur tulang hyoid pada kasus hanging dapat
mencapai 25%.

Fraktur tulang
Hyoid

g. Fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas


Fraktur ini seringkali terjadi pada korban hukum gantung dimana korban
tergantung secara penuh dan tertitis jauh dari lantai.
II.2.1.5.

PERBEDAAN

ANTARA

PENGGANTUNGAN

ANTEMORTEM

DAN

POSTMORTEM
No

Penggantungan antemortem

Penggantungan postmortem

Tanda-tanda penggantungan ante-mortem Tanda-tanda post-mortem menunjukkan


bervariasi. Tergantung dari cara kematian kematian yang bukan disebabkan
korban
penggantungan
Tanda jejas jeratan miring, berupa
Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk
lingkaran terputus (non-continuous) dan lingkaran utuh (continuous), agak sirkuler
letaknya pada leher bagian atas
dan letaknya pada bagian leher tidak begitu
tinggi
Simpul tali biasanya tunggal, terdapat
Simpul tali biasanya lebih dari satu,
pada sisi leher
diikatkan dengan kuat dan diletakkan pada
bagian depan leher
Ekimosis tampak jelas pada salah satu Ekimosis pada salah satu sisi jejas
sisi dari jejas penjeratan. Lebam mayat penjeratan tidak ada atau tidak jelas. Lebam
tampak di atas jejas jerat dan pada
mayat terdapat pada bagian tubuh yang
tungkai bawah
menggantung sesuai dengan posisi mayat
setelah meninggal

8
9

Pada kulit di tempat jejas penjeratan Tanda parchmentisasi tidak ada atau tidak
teraba seperti perabaan kertas
begitu jelas
perkamen, yaitu tanda parchmentisasi
Sianosis pada wajah, bibir, telinga,
Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga
dan lain-lain sangat jelas terlihat
dan lain-lain tergantung dari penyebab
terutama jika kematian karena asfiksia kematian
Wajah membengkak dan mata
Tanda-tanda pada wajah dan mata tidak
mengalami kongesti dan agak
terdapat, kecuali jika penyebab kematian
menonjol, disertai dengan gambaran adalah pencekikan (strangulasi) atau
pembuluh dara vena yang jelas pada sufokasi
bagian kening dan dahi
Lidah bisa terjulur atau tidak sama
Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus
sekali
kematian akibat pencekikan
Penis. Ereksi penis disertai dengan
Penis. Ereksi penis dan cairan sperma
keluarnya cairan sperma sering terjadi tidak ada. Pengeluaran feses juga tidak

10

pada korban pria. Demikian juga


sering ditemukan keluarnya feses
Air liur. Ditemukan menetes dari
sudut mulut, dengan arah yang
vertikal menuju dada. Hal ini
merupakan pertanda pasti
penggantungan ante-mortem

ada
Air liur tidak ditemukan yang menetes
pad kasus selain kasus penggantungan.

II.2.2. PENCEKIKAN (MANUAL STRANGULATION)


II.2.2.1. DEFINISI
Pencekikan adalah penekanan leher dengan tangan, yang menyebabkan dinding saluran
nafas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran nafas sehingga udara pernafasan tidak
dapat lewat.
II.2.2.2. MEKANISME KEMATIAN
Mekanisme kematian pada kasus - kasus kematian adalah :
- Asfiksia
Asfiksia adalah kumpulan dari berbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam
-

pertukaran udara pernafasan yang normal.


Refleks vagal
Reflek vagal menyebabkan kematian segera (immediate death), hal ini dikaitkan
dengan terminologi sudden cardiac arrest. Reflek vagal dimungkinkan bila leher
terkena trauma.
Refleks vagal terjadi sebagai akibat rangsangan pada reseptor nervus vagus pada
corpus caroticus (carotid body) di percabangan arteri karotis interna dan eksterna.
Refleks vagal ini jarang sekali terjadi.

II.2.2.3. GAMBARAN POSTMORTEM


1. Pemeriksaan Luar Jenazah
Pada pemeriksaan jenazah ditemukan perbendungan pada muka dan kepala karena turut
tertekan pembuluh darah vena dan arteri yang superficial, sedangkan arteri vertebralis
tidak terganggu. Pemeriksaan luar dari otopsi kasus pencekikan (manual strangulasi),
terdapat 3 hal penting yang harus diperhatikan, antara lain :
a. Tanda asfiksia
Sianosis

Lebam merah kebiruan gelap


Lebam terbentuk lebih cepat
Distribusi lebam lebih luas
Darah sukar membeku.
b. Tanda kekerasan pada leher
Luka memar pada kulit di leher
Bekas tekanan jari
Bekas kuku
Sidik jari
Tangan yang digunakan
Arah pencekikan
c. Tanda kekerasan pada tempat lain yang dapat menunjukkan bahwa korban melakukan

perlawanan.

2. Pemeriksaan Dalam Jenazah


a. Perdarahan atau resapan darah pada otot-otot di leher tiroid, kelenjar ludah, serta
mukosa dan submukosa faring atau laring.

Pencekikan Terdapat pendarahan


pada lidah akibat pencekikan
Source: Color Atlas of Forensic
Pathology

b. Fraktur, yang paling sering ditemukan pada os hyoid. Fraktur lain pada kartilago
tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea
c. Memar atau robekan membrane hipotiroidea
d. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Perdarahan
atau resapan darah dapat kita cari pada otot, kelenjar tiroid, kelenjar ludah, dan
mukosa & submukosa pharing atau laring. Fraktur yang paling sering kitatemukan
pada os hyoid. Fraktur lain pada kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dantrakea
e. Tanda Asfiksia :

Darah lebih gelap & lebih encer

Busa dalam saluran pernafasan

Organ tubuh lebih berat, lebih gelap, pada pengirisan banyak keluar darah

f. Petekie pada :
Mukosa usus halus
Epikardium daerah aurikuloventrikular
Subpleura viseralis paru terutama pars diafragmatika dan fisura interlobaris
Kulit kepala sebelah dalam terutama daerah temporal
g. Edema paru

II.2.3. PENJERATAN (STRANGULATION)


II.2.3.1. DEFINISI
Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen,
kawat, kabel, kaos kaki dan sebagainya, melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin
kuat, sehingga saluran nafas tertutup. Berbeda dengan gantung diri yang biasanya merupakan
kasus bunuh diri, maka penjeratan biasanya adalah kasus pembunuhan.
Pada peristiwa gantung, kekuatan jeratnya berasal dari berat tubuhnya, maka pada jeratan
dengan tali kekuatan jeratnya berasal dari tarikan pada kedua ujungnya. Dengan kekuatan
tersebut, pembuluh darah balik atau jalan nafas dapat tersumbat. Tali yang dipakai sering
disilangkan dan sering dijumpai adanya simpul. Jeratan pada bagian depan leher hampir selalu
melewati membran yang menghubungkan tulang rawan hyoid dan tulang rawan thyroid.
II.2.3.2. MEKANISME KEMATIAN
Ada 3 mekanisme kematian pada jerat , yaitu :
1. Asfiksia
Terjadi akibat terhambatnya aliran udara pernafasan. Merupakan penyebab kematian
yang paling sering.
2. Iskemia Serebral
Iskemia serebral disebabkan oleh penekanan dan hambatan pembuluh darah arteri
(oklusi arteri) yang menyebabkan terhambatnya aliran darah ke otak.
3. Syok Vasovagal
Perangsangan pada sinus caroticus menyebabkan refleks vagal yang menyebabkan
henti jantung.
II.2.3.3. CARA KEMATIAN
Cara kematian pada kasus jerat diantaranya adalah:
1. Pembunuhan (paling sering).
Pembunuhan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita jumpai pada
kejadian infanticide dengan menggunakan tali pusat, psikopat yang saling menjerat,
dan hukuman mati (zaman dahulu).

2. Kecelakaan
Kecelakaan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita temukan pada
bayi yangterjerat oleh tali pakaian, orang yang bersenda gurau dan pemabuk. Vagal
reflex menjadi penyebab kematian pada orang yang bersenda gurau
3. Bunuh diri.
Bunuh diri pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mereka lakukan dengan
cara melilitkan tali secara berulang dimana satu ujung difiksasi dan ujung lainnya
ditarik. Antara jeratan dan leher mereka masukkan tongkat lalu mereka memutar
tongkat tersebut.
II.2.3.4. GAMBARAN POSTMORTEM
1. Pemeriksaan Luar Jenazah
Pada pemeriksaan luar hasil gantung diri didapatkan:
a. Tanda Penjeratan Pada Leher
-

Tanda penjeratan jelas dan dalamSemakin kecil tali maka tanda penjeratan
semakin jelas dan dalam

Bentuk jeratan berjalan mendatar/horizontal


Alur jeratan pada leher korban berbentuk lingkaran. Alur jerat biasa disertai luka
lecet atau luka memar disekitar jejas yang terjadi karena korban berusaha
membuka jeratan tersebut.

Tanda penjeratan berwarna coklat gelap dan kulit tampak kering, keras dan
mengkilat

Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit bagian bawah
telinga,tampak daerah segitiga pada kulit dibawah telinga.Pinggiran jejas jerat
berbatas tegas dan tidak terdapat tanda-tanda abrasif. Jumlah tanda penjeratan,
terkadang pada leher terlihat dua buah atau lebih bekas penjeratan. Hal ini
menujukan bahwa tali dijeratkan ke leher sebanyak dua kali

b. Tanda-tanda Asfiksia
Tanda-tanda umum asfiksia diantaranya adalah sianosis, kongesti vena dan edema.
Sering ditemukan adanya buih halus pada jalan nafas.

c. Lebam Mayat
Lokasi timbulnya lebam mayat tergantung dari posisi tubuh korban setelah mati.
2. Pemeriksaan Dalam Jenazah
Pada pemeriksaan dalam akibat peristiwa jerat didapatkan :
a. Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun
ruptur.
b. Tanda-tanda Asfiksia
Terdapat bintik perdarahan pada pelebaran pembuluh darah,
Terdapat buih halus di mulut
Didapatkan darah lebih gelap dan encer akibat kadar CO2 yang meninggi.
c. Terdapat resapan darah pada jaringan dibawah kulit dan otot
d. Terdapat memar atau ruptur pada beberapa keadaan. Kerusakan otot ini lebih sering
dihubungkan dengan tindak kekerasan.
e. Pada pemeriksaan paru-paru sering ditemui edema paru.
f. Jarang terdapat patah tulang hyoid atau kartilago cricoid.
II.2.3.5. PERBEDAAN KASUS GANTUNG DAN JERAT
Kasus Gantung (bunuh diri)
Kasus Jerat (pembunuhan)
Simpul hidup. Simpul dapat Simpul mati. Simpul sulit

Simpul

dikeluarkan melalui kepala (tidak dikeluarkan


Jumlah

terikat kuat)
lilitan Bisa lebih dari 1 lilitan

melalui

kepala

(terikat kuat)
Biasanya 1 buah lilitan

penjerat
Arah
Serong ke atas
Jarak titik tumpu- Jauh

Mendatar / horizontal
Dekat

simpul
Lokasi jejas
Jejas jerat
Luka perlawanan
Luka lain-lain

Berbentuk V (lingkaran terputus)


Lebih tinggi
Meninggi ke arah simpul
Biasanya ada, mungkin terdapat

Berbentuk lingkaran penuh


Lebih rendah
Mendatar
+
Ada, sering di daerah leher

Karakteristik simpul

luka percobaan lain


Jejas simpul jarang terlihat

Terlihat jejas simpul

Simpul hidup

Simpul mati

Simpul dapat dikeluarkan melalui Simpul sulit dikeluarkan melalui

Lebam mayat
Lokasi
Kondisi
Pakaian
Ruangan

kepala ( tidak terikat kuat)


Pada bagian bawah tubuh
Tersembunyi
Teratur
Rapi dan baik
Terkunci dari dalam

BAB III
PENUTUP

III.1. KESIMPULAN

kepala (terikat kuat)


Tergantung posisi tubuh korban
Bervariasi
Tidak teratur
Tidak teratur, robek
Tidak teratur, terkunci dari luar

Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara
pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang disertai dengan peningkatan karbon
dioksida. Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen dan terjadi kematian.
Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernapasan terhalang memasuki
saluran pernapasan oleh berbagai kekerasan yang bersifat mekanik, misalnya pembekapan,
penyumbatan, penjeratan, pencekikan, gantung diri, dan tenggelam (drowning).
Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dibedakan menjadi 4 fase,
yaitu: fase dispneu, fase konvulsi, fase apneu dan fase akhir. Masa dari saat asfiksia timbul
sampai terjadinya kematian sangat bervariasi. Umumnya berkisar antara 4-5 menit. Fase dispneu
dan fase konvulsi berlangsung kurang lebih 3-4 menit, tergantung dari tingkat penghalanhan
oksigen, bila tidak 100% maka waktu kematian akan lebih lama dan tanda=tanda asfiksia akan
lbih jelas.
Pada pemeriksaan luar jenazah dapat ditemukan sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan
kuku. Perbendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan, merupakan tanda
klasik pada kematian akibat asfiksia. Warna lebam mayat kebiruan gelap dan terbentuk lebih
cepat, terdapat busa halus pada hidung dan mulut, dan tampak pembendungan pada mata berupa
pelebaran pembuluh darah, konjungtiva bulbi dan palpebra yang terjadi pada fase konvulsi.
Pada pemeriksaan dalam jenazah, kelainan yang mungkin ditemukan adalah darah berwarna
lebih gelap dan lebih encer, busa halus dalam saluran pernapasan, pembendungan sirkulasi pada
seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat dan berwarna lebih gelap, ptekie dapat
ditemukan pada mukosa usus halus, epicardium, subpleura viseralis, kulit kepala bagian dalam,
serta mukosa epiglottis, edema paru terurtama yang berhubungan dengan hipoksia, adanya
fraktur laring langsung dan tidak langsung, perdarahan faring terutama yang berhubungan
dengan kekerasan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S et al. Ilmu

Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Edisi ke-2. 1997.
2. Abraham S, Arif Rahman S, Bambang PN, Gatot S, Salim HB, Intarniati et al. Tanya Jawab
Ilmu Kedokteran Forensik. Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang. Edisi ke-2.
2010.
3. Budiyanto A., Widiatmaka W., Sudiono S, et al., Kematian Karena Asfiksia Mekanik, Ilmu
Kedokteran Forensik Universitas Indonesia, Jakarta: 1997.
4. Dahlan S, Asfiksia, Ilmu Kedokteran Forensik, Badan Penerbit Universitas Diponegoro,
Semarang: 2000.
5. Iedris M, dr., Tjiptomartono A.L, dr., Asfiksia., Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan., Sagung Seto., Jakarta: 2008.
6. Amir A, Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, ed 2, Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, 2007.
7. Darmono, Farmasi Forensik Dan Toksikologi, Penerapannya Dalam Penyidik Kasus Tindak
Pidana Kejahatan, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 2009.
8. Mohan S. Dharma, Dkk., Makalah Investigasi Kematian Dengan Toksikologi Forensik FK,
2008,

Tersedia

di:

http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2008/11/investigasi-kematian-

dengan-toksikologi-forensik-files-of-drsmed.pdf., Diakses pada tanggal 05 Januari 2012.


9. Bionity

Team.

Asphyxia.

2009.

Tersedia

di:

http://www.bionity.com/en/encyclopedia/Asphyxia.html. Diakses Pada Tanggal 05 Januari


2012.