Anda di halaman 1dari 74

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air bersih ataupun minum yang cukup secara kuantitas, kualitas, dan kontinuitas
merupakan kebutuhan utama untuk kelangsungan hidup manusia. Untuk itu diperlukan
suatu instalasi pengolahan air (IPA) guna menunjang kelancaran distribusi air pada
masyarakat. Pemilihan unit operasi dan proses pada IPA harus disesuaikan dengan
kondisi air baku yang yang menjadi sumber utama. Air baku sendiri adalah air yang
belum mengalami proses pengolahan, artinya air tersebut memiliki kualitas yang sudah
mendekati air bersih. Namun masih diatas nilai ambang batas sehingga diperlukan
pengolahan terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan sebagai air bersih. Maka dalam
pemilihan beberapa titik sumber air bersih perlu dilakukan survei mengenai kualitas,
kuantitas dan kontinuitas aliran sumber air.
Kecamatan Muara Badak merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai
Kartanegara. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan air laut yang ada pada selat
Makassar. Aliran sungai Mahakam terbentuk di sepanjang daerah Muara Badak yang
umumnya digunakan sebagai sumber air baku dan sarana transportasi.
Sebagian besar masyarakat Kecamatan Muara Badak bekrja sebagai nelayan dan petani.
Pemanfaatan air sungai oleh masyarakat yang berada di pinggir sungai Mahakam
sebagai air baku untuk dijadikan air bersih, tidak terlalu mengalami kesulitan dalam
pemenuhannya. Namun, pengolahan air tersebut hingga menjadi air bersih yang layak
pakai terkadang masih jauh dari nilai baku mutu.
Masyarakat yang bekerja di daerah perkebunan sebagai petani, khusunya petani kebun
kelapa sawit masih sulit memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Hal ini dikarenakan
daerah tersebut tidak dialiri air sungai dan air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan

tanaman kelapa sawit cukup banyak, sehingga pemanfaatan air tanah pun masih tidak
mencukupi kebutuhan air bersih secara keseluruhan.
Pemenuhan kebutuhan air bersih dan air minum di Kecamatan Muara Badak dapat
dikategorikan masih berada di bawah standar untuk pengolahannya, sehingga
diperlukan IPA yang secara khusus menangani kebutuhan tersebut. Kuantitas dan
kontinuitas air di kecamatan tersebut termasuk mencukupi untuk digunakan sehari-hari
oleh masyarakat secara merata. Oleh karena itu, dilakukan perencanaan pembangunan
air minum untuk pemenuhan kebutuhan air masyarakat Kecamatan Muara Badak.

1.2 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui jumlah kebutuhan air bersih masyarakat Kecamatan Muara Badak tahun
2018.
2. Merencanakan sistem pengolahan air minum (SPAM) yang benar dengan kriteria
desain yang tepat sesuai dengan kualitas air baku.
3. Merencanakan jaringan distribusi air bersih kepada masyarakat Kecamatan Muara
Badak tahun 2018.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Air Minum


Air minum harus steril, yang artinya tidak mengandung hama penyakit apapun. Sumbersumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung
sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu
perlu pengolahan terlebih dahulu.
Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan
memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan, setidaknya diusahakan mendekati
persyaratan tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut.
1. Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak
berasa, suhu dibawah suhu udara di luarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara
mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
2. Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri
patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen
adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100
ml air terdapat 0 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
3. Syarat kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu di dalam jumlah yang tertentu
pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan
gangguan fisiologis pada manusia. Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di
pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat
diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan
3

tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh
karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan
dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.

2.2 Sumber Air Minum


Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini,
sebagai berikut:
1. Air hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum, tetapi air hujan ini tidak
mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu
ditambahkan kalsium di dalamnya.
2. Air sungai dan danau
Air sungai dan danau berdasarkan asalnya juga berasal dari air hujan yang mengalir
melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau. Kedua sumber air ini sering juga
disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau
tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air minum harus
diolah terlebih dahulu.
3. Mata air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah.
Oleh karena itu, air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat
dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum
tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air sumur
Air sumur dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu air sumur dangkal dan air sumur dalam. Air
sumur dangkal adalah air yang keluar dari dalam tanah, sehingga disebut sebagai air
tanah. Air berasal dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini
dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya
berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa
4

dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih
ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum. Air sumur dalam yaitu air
yang berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah
biasanya lebih dari 15 meter. Oleh karena itu, sebagaian besar air sumur dalam ini sudah
cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses
pengolahan).

2.3 Instalasi Pengolahan Air Minum


2.3.1 Pengolahan Fisika
2.3.1.1 Sedimentasi
Sedimentasi adalah pemisahan partikel dari air dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Proses ini terutama bertujuan untuk memperoleh air buangan yang jernih dan
mempermudah proses penanganan lumpur. Dalam proses sedimentasi hanya partikelpartikel yang lebih berat dari air yang dapat terpisah. Misalnya kerikil dan pasir, padatan
pada tangki pengendapan primer, biofloc pada tangki pengendapan sekunder, floc hasil
pengolahan secara kimia dan lumpur (pada pengendapan lumpur) (Sakti, 2009).
Pada perencanaan unit sedimentasi terdapat beberapa komponen yang penting untuk
diatur pengelolaannya, yaitu kecepatan pengendapan yang berpengaruh terhadap fraksi
kekeruhan. Kecepatan pengendapan dipengaruhi oleh ukuran partikel padatan, densitas
cairan, viskositas cairan dan temperatur.
Klasifikasi sedimentasi didasarkan pada konsentrasi partikel dan kemampuan partikel
untuk berinteraksi. Klasifikasi ini dapat dibagi ke dalam empat tipe, yaitu:
a. Settling tipe I, Pengendapan partikel diskrit, partikel mengendap secara individual
dan tidak ada interaksi antar partikel.
b. Settling tipe II, pengendapan partikel flokulen, terjadi interaksi antar partikel
sehingga ukuran meningkat dan kecepatan pengendapan bertambah.
c. Settling tipe III, Pengendapan pada lumpur biologis, dimana gaya antar partikel
saling menahan partikel lainnya untuk mengendap.
5

d. Settling tipe IV, terjadi pemampatan partikel yang telah mengendap yang terjadi
karena berat partikel.
Kriteria perencanaan unit sedimentasi (pengendapan) untuk kesesuaian dengan
kapasitas air baku dan kebutuhan air masyarakat.
Tabel 2.1 Kriteria Unit Sedimentasi

Kriteria Umum
Beban permukaan (m3/m2/jam)
Kedalaman (m)
Waktu retensi (jam)
Lebar / panjang
Beban pelimpah
(m3/m/jam)
BilanganReynold
Kecepatan pada pelat/tabung
pengendap (m/menit)
Bilangan Froude
Kecepatan vertikal (cm/menit)
Sirkulasi Lumpur
Kemiringan dasar bak (tanpa scrapper)
Periode antar pengurasan lumpur (jam)
Kemiringan tube/plate

Bak Persegi (aliran


horizontal)
0.8 2.5
36
1.5 3
>1/5
<11
<2000
>10-5
o
45 60o
12 24
30o / 60o

Sumber: Revisi SNI 19-6774-2002

2.3.1.2 Filtrasi
Filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida (cair maupun gas) yang
membawanya menggunakan suatu medium berpori untuk menghilangkan sebanyak
mungkin zat padat halus yang tersuspensi dan stabil (koloid). Pada pengolahan air
minum, Filtrasi digunakan untuk menyaring air hasil dari proses koagulasi flokulasi
sedimentasi sehingga dihasilkan air minum dengan kualitas tinggi. Di samping
mereduksi kandungan zat padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan bakteri,
menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan mangan.
Kriteria perencanaan untuk unit filtrasi (saringan cepat) dapat dilihat pada tabel 2.2
berikut.

Tabel 2.2 Kriteria Unit Filtrasi (Saringan Cepat)

Porositas
Kadar SiO2
Media antrasit:
Tebal (mm)
ES (mm)
UC
Berat jenis (kg/dm3)
Porositas
Filter bottom/dasar
saringan:
1) Lapisan penyangga
dari atas ke bawah
Kedalaman (mm)
Ukuran Butir (mm)
Kedalaman (mm)

0.4
>95%

0.4
>95%

0.4
>95%

400 500
1.2 1.8
1.5
1.35
>95%

400 500
1.2 1.8
1.5
1.35
>95%

400 500
1.2 1.8
1.5
1.35
>95%

80 100
25
80 100

80 100
25
80 100

Tabel 2.2 Lanjutan

N
o

Unit

Ukuran Butir (mm)


Kedalaman (mm)
Ukuran Butir (mm)
Kedalaman (mm)
Ukuran Butir (mm)
2) Filter Nozel
Lebar slot nozel (mm)
Prosentase luas slot
nozel terhadap luas
filter (%)

5 10
80 100
10 15
80 150
15 30

Jenis Saringan
Saringan dengan
Pencucian Antar
Saringan
5 10
80 100
10 15
80 150
15 30

<0.5
>4%

<0.5
>4%

Saringan Biasa
(Gravitasi)

Saringan
Bertekanan
<0.5
>4%

Catatan: *) untuk saringan dengan jenis kecepatan menurun


**) untuk saringan dengan jenis kecepatan konstan (contant filtration rate), harus
dilengkapi dengan pengatur aliran (flow controller) otomatis.
Sumber: Revisi SNI 19-6774-2002

2.3.2 Pengolahan Kimia


2.3.2.1 Netralisasi
Netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa menghasilkan air dan garam. Dalam
pengolahan air, pH diatur antara 6,0 - 9,5. Di luar kisaran pH tersebut, air akan bersifat
racun bagi kehidupan air, termasuk bakteri. Proses netralisasi yang digunakan adalah
netralisasi antara air asam dan air basa, penambahan bahan-bahan kimia yang
diperlukan dan filtrasi melalui zat-zat untuk netralisasi, misalnya CaCO3.
Jenis bahan kimia yang ditambahakan tergantung pada jenis dan jumlah air serta kondisi
lingkungan setempat. Netralisasi air yang bersifat adam dapat dilakukan dengan
penambahan Ca(OH)2 (slaked lime) atau NaOH (natrium hidroksida), sedangkan
netralisasi air yang bersifat basa dapt dilakukan dengan penambahan H 2SO4 (asam
sulfat), HCl (Asam klorida), HNO3 (Asam nitrat), H3PO4 (asam fosforat) atau CO2 yang
bersumber dari flue gas.

Kriteria desain unit desinfeksi berdasarkan SNI 19-6774-2002 dilampirkan beberapa


syarat, yaitu:
1. Bak dapat menampung larutan selama 8 sampai dengan 24 jam.
2. Diperlukan 2 buah bak, yaitu 1 buah bak pengaduk manual atau mekanis dan 1 buah
bak pembubuh.
3. Bak harus dilindungi dari pengaruh luar dan tahan terhadap beban alkalin.
2.3.2.2 Koagulasi dan Flokulasi
Partikel tersuspensi sangat sulit untuk mengendap langsung secara alami. Hal ini karena
adanya stabilitas suspensi koloid akibat gaya yang bekerja antar partikel.
a. Gaya van der Waals merupakan gaya tarik-menarik antara dua massa, yang besarnya
tergantung pada jarak antar keduanya.
b. Gaya Elektrostatik adalah gaya utama yang menjaga suspensi koloid pada keadaan
yang stabil. Sebagian besar koloid mempunyai muatan listrik. Oksida metalik
umumnya bermuatan positif, sedangkan oksida nonmetalik dan sulfida metalik
umumnya bermuatan negatif. Kestabilan koloid terjadi karena adanya gaya tolak
antar koloid yang mempunyai muatan yang sama. Gaya ini dikenal sebagai zeta
potensial.
c. Gerak Brown adalah gerak acak dari suatu partikel koloid yang disebabkan oleh
kecilnya massa partikel.
Koagulasi-flokulasi merupakan dua proses yang terangkai menjadi kesatuan proses tak
terpisahkan. Pada proses koagulasi terjadi destabilisasi koloid dan partikel dalam air
sebagai akibat dari pengadukan cepat dan pembubuhan bahan kimia (disebut koagulan).
Akibat pengadukan cepat, koloid dan partikel yang stabil berubah menjadi tidak stabil
karena terurai menjadi partikel yang bermuatan positif dan negatif. Pembentukan ion
positif dan negatif juga dihasilkan dari proses penguraian koagulan. Proses ini berlanjut
dengan pembentukan ikatan antara ion positif dari koagulan (misal Al 3+) dengan ion
negatif dari partikel (misal OH-) dan antara ion positif dari partikel (misal Ca2+) dengan
ion negatif dari koagulan (misal SO42-) yang menyebabkan pembentukan inti flok
(presipitat).

Beberapa syarat yang harus dipenuhi perencanaan unit koagulasi dapat dilihat pada
tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3 Kriteria Unit Koagulasi (Pengadukan Cepat)

Unit
Pengaduk cepat
Tipe

Kriteria
Hidrolis :
- Terjunan
- Saluran bersekat
- Dalam pipa bersekat
- Perubahan phasa engaliran
Mekanis
- Bilah (Blade), Pedal (Padle) kipas
- Flotasi

Waktu pengadukan
(detik)
Nilai G/detik

30 120
>750

Sumber: revisi SNI 19-6774-2002

Selanjutnya air masuk ke unit flokulasi, yaitu penggabungan inti flok menjadi flok
berukuran lebih besar yang memungkinkan partikel dapat mengendap. Penggabungan
flok kecil menjadi flok besar terjadi karena adanya tumbukan antar flok. Tumbukan ini
terjadi akibat adanya pengadukan lambat.
Berdasarkan metodenya, pengadukan dibedakan menjadi pengadukan mekanis,
pengadukan hidrolis, dan pengadukan pneumatis.
a.

Pengadukan mekanis adalah metoda pengadukan menggunakan alat pengaduk


berupa impeller yang digerakkan dengan motor bertenaga listrik. Umumnya
pengadukan mekanis terdiri dari motor, poros pengaduk, dan gayung pengaduk

b.

(impeller).
Pengadukan hidrolis adalah pengadukan yang memanfaatkan gerakan air sebagai
tenaga pengadukan. Sistem pengadukan ini menggunakan energi hidrolik yang
dihasilkan dari suatu aliran hidrolik. Energi hidrolik dapat berupa energi gesek,
energi potensial (jatuhan) atau adanya lompatan hidrolik dalam suatu aliran.
Beberapa contoh pengadukan hidrolis adalah terjunan, loncatan hidrolis, parshall
flume, baffle basin (baffle channel), perforated wall, gravel bed dan sebagainya.
10

c.

Pengadukan pneumatis adalah pengadukan yang menggunakan udara (gas)


berbentuk gelembung yang dimasukkan ke dalam air sehingga menimbulkan
gerakan pengadukan pada air. Injeksi udara bertekanan ke dalam suatu badan air
akan menimbulkan turbulensi, akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan air.
Makin besar tekanan udara, kecepatan gelembung udara yang dihasilkan makin
besar dan diperoleh turbulensi yang makin besar pula.
Tabel 2.4 Kriteria Unit Flokulasi (Pengadukan Lambat)

Kriteria Umum

G (gradien kecepatan) 1/detik

Flokulator

Kecepatan aliran max.(m/det)


Luas bilah/pedal

Flokulator

Hidrolis

Horizontal

Vertikal

60 (menurun)

dengan Pedal
60 (menurun)

dengan Bilah
70 (menurun)

5
30 45
6 10
Bukaan

10
30 40
36
Kecepatan

10
20 -40
24
Kecepatan

20 100
1
Kecepatan

pintu/sekat
0.9

putaran
0.9

putaran
1.8 2.7

aliran air
1.5 0.5

5 20

0.1 0.2

15

8 25

Waktu kontak (menit)


Tahap flokulasi (buah)
Pengendali energi

Flokulator Mekanis
Sumbu
Sumbu

dibandingkan luas bak (%)


Kecepatan perputaran sumbu
(rpm)
Tinggi (m)

Clarifier
100 10

2 4*

Keterangan: * termasuk ruang sludge blanket


Sumber: revisi SNI 19-6774-2002

2.3.2.3 Desinfeksi
Desinfeksi air minum bertujuan membunuh bakteri patogen yang ada dalam air.
Desinfektan air dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan pembubuhan
copper dan silver, asam atau basa, senyawa-senyawa kimia, dan klorinasi. Adapun
desinfeksi yang dilakukan secara fisik yaitu pemanasan, penyinaran antara lain dengan
sinar UV, Thermal, dan gelombang mikro (Didik, 2011).

11

Proses desinfeksi dengan klorinasi diawali dengan penyiapan larutan desinfektan


misalnya kaporit dengan konsentrasi tertentu serta penetapan dosis klor yang tepat.
Dosis klor ditentukan berdasarkan DPC yaitu jumlah klir yang dikonsumsi air besarnya
tergantung dari kualitas air bersih yang diproduksi serta ditentukan dari sisa klor di
instalasi (0.25 0.35) mg/l. Metode pembubuhan dengan kaporit yang dapat diterapkan
sederhana dan tidak membutuhkan tenaga listrik tetapi cukup tepat pembubuhannya
secara kontinu adalah metode gravitasi dan metode dosing proporsional (Didik, 2011).

BAB III
METODOLOGI
12

3.1 Perencanaan Unit Instalasi Pengolahan Air


3.1.1 Unit Sedimentasi I
3.1.1.1 Alat dan Bahan
A. Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.

pH meter
Turbidity meter
Jirigen
Settling column tipe I
Stopwatch
Botol air mineral

B. Bahan
1. Air sampel (air kolam UNMUL I)
2. Tawas (Al2SO4)
3. Akuades
4. Tisu
3.1.1.2 Cara Kerja
1.
2.
3.
4.

Dihomogenkan air sampel.


Diukur pH dan kekeruhan awal air sampel.
Dimasukkan ke dalam settling column tipe I hingga batas air tertinggi pada alat.
Didiamkan air di dalam settling column dan setiap interval waktu 5 menit (sampai

menit ke 25) air sampel diambil melalui kran yang terdapat pada alat.
5. Diuji kekeruhan air sampel menggunakan turbidity meter yang telah dikalibrasi
dengan cara menghidupkan alat dan setiap sampel dimasukkan dalam botol sampel
yang telah dibilas dengan akuades dan dilap dengan tisu.
6. Dicatat hasil pengukuran pada tabel dan dihitung kecepatan (Vo) dan fraksi .
7. Diaplikasikan pada grafik nilai hasil pengamatan kekeruhan sedimentasi tipe I.
8. Dihitung luas di atas kurva dengan cara dibagi menjadi beberapa segmen dalam
bentuk segi empat.
9. Dihitung removal total (%) hasil pengendapan sedimentasi tipe I.
3.1.2 Unit Koagulasi dan Flokulasi
3.1.2.1 Alat dan Bahan
A. Alat
1. pH meter
2. Turbidity meter
13

3. Jirigen
4. Kerucut imhoff
5. Gelas kimia
6. Neraca analitik
7. Batang pengaduk
8. Settling colum tipe II
9. Stopwatch
10. Tali rafia
11. Botol air mineral
B. Bahan
1. Air sampel (air kolam UNMUL I)
2. Tawas (Al2SO4)
3. Akuades
4. Tisu
5. Alumunium foil
3.1.2.2 Cara Kerja
1. Dihomogenkan air sampel.
2. Diukur pH dan kekeruhan awal air sampel.
3. Dimasukkan air sampel ke dalam 4 buah gelas kimia masing-masing sebanyak
1000 ml.
4. Ditambahkan larutan tawas 1% dengan masing-masing dosis sebanyak 20, 25, 30,
dan 35 ml.
5. Diletakkan 4 gelas kimia berisi larutan tersebut pada alat jar test, lalu dihidupkan
a.
b.
c.
6.

dan diatur kecepatannya, yaitu:


Pengadukan cepat, 80 rpm selama 1 menit.
Pengadukan sedang, 40 rpm selama 8 menit.
Pengadukan lambat, 20 rpm selama 1 menit.
Sampel dimasukkan ke dalam kerucut imhoff secara bersamaan dan dibiarkan

mengendap selama 15 menit.


7. Diukur pH, kekeruhan dan tinggi endapan yang terbentuk pada setiap air sampel.
8. Dicatat hasil pengukuran dalam tabel dan dihitung dosis koagulan, kebutuhan
koagulan padat, serta kebutuhan air pengencer.
9. Ditentukan kriteria desain unit koagulasi berdasarkan standar yang telah ditentukan
oleh Revisi SNI 19-6774-2002, yaitu jumlah unit (n), gradien kecepatan (G), waktu
detensi (td).
10. Dihitung volume unit koagulasi berdasarkan debit kebutuhan air bersih masyarakat.
11. Dihitung dimensi unit koagulasi sesuai dengan kriteria desain yang telah
ditentukan.
12. Dihitung Tenaga yang dibutuhkan dan diameter impeller pada proses pengadukan.
13. Dihitung nilai Reynolds untuk menentukan kesesuaian aliran pada unit koagulasi.
14

14. Dihitung dosis koagulan menggunakan dosis optimum hasil jar test, kemudian
ditentukan dimensi bak pembubuh koagulan.
15. Ditentukan data perencanaan unit flokulasi sesuai kriteria perencanaan yang
ditentukan oleh Revisi SNI 19-6774-2002, yaitu waktu detensi (td) dan gradien
kecepatan (G).
16. Dihitung volume dan dimensi pada unit flokulasi.
17. Dihitung jumlah sekat dan jarak antar sekat pada flokulator.
18. Dihitung head loss yang dihasilkan sesuai data perencanaan pada unit flokulasi.
3.1.3 Unit Sedimentasi II
3.1.3.1 Alat dan Bahan
A. Alat
1. pH meter
2. Turbidity meter
3. Jirigen
4. Gelas kimia
5. Neraca analitik
6. Batang pengaduk
7. Settling colum tipe II
8. Stopwatch
9. Tali rafia
10. Botol air mineral
B. Bahan
1.
2.
3.
4.
5.

Air sampel (air kolam UNMUL I)


Tawas (Al2SO4)
Akuades
Tisu
Alumunium foil

3.1.3.2 Cara Kerja


1. Dihomogenkan air sampel
2. Diukur pH serta kekeruhan awal air sampel
3. Dimasukkan ke dalam settling column tipe II sampai batas tertinggi pada alat.

15

4. Didiamkan air di dalam settling column dan setiap interval waktu

10 menit

(sampai menit ke 60) sampel air diambil secara bersamaan melalui kran yang
terdapat pada alat.
5. Diuji kekeruhan air sampel menggunakan turbidity meter yang telah dikalibrasi
dengan cara menghidupkan alat dan setiap sampel dimasukkan dalam botol sampel
yang telah dibilas dengan akuades dan dilap dengan tisu.
6. Dicatat hasil pengukuran pada tabel dan dihitung kecepatan (Vo) serta fraksi.
7. Dihitung removal total (%) hasil pengendapan sedimentasi tipe II.
8. Diaplikasikan prosentase removal total pada grafik isoremoval.
9. Dihitung total removal (%) untuk waktu tertentu pada grafik isoremoval.
10. Dihitung surface loading pengendapan untuk tiap waktu yang telah ditentukan, lalu
diplot garfik hubungan antara prosentase removal total dan surface loading.
11. Dihitung dimensi bak sedimentasi II berdasarkan debit (Q) dan surface loading.
3.1.3 Unit Filtrasi
3.1.3.1 Alat dan Bahan
A. Alat
1. Alat tulis
B. Bahan
1. Air sampel (air kolam UNMUL I)
3.1.3.2 Cara Kerja
1. Ditentukan data perencanaan sesuai kriteria perencanaan Revisi SNI 19-6774-2002
untuk unit filtrasi.
2. Dihitung jumlah bak filtrasi dan debit tiap bak filter yang akan beroperasi.
3. Dihitung luas permukaan filter, lalu ditentukan dimensi filter dan jumlah kebutuhan
4.
5.
6.
7.

media filter.
Dihitung laju filtrasi sesuai dengan debit dan luas permukaan filter.
Dihitung Unit Filter Run Volume (UFRV) pada unit filter.
Dihitung debit backwash dan laju backwash.
Dihitung volume kebutuhan air untuk backwash dan volume unit backwash per

meter persegi filter.


8. Dihitung efisiensi filter dan komponen-komponen sistem pengumpul filtrate.
16

9. Dihitung komponen-komponen pada sistem inlet.


3.1.4 Unit Desinfeksi
A. Alat
1. Alat tulis
B. Bahan
1. Air sampel (air kolam UNMUL I)
3.1.3.2 Cara Kerja
1. Ditentukan data perencanaan sesuai kriteria perencanaan, yaitu konsentrasi khlor,
dosis optimum, sisa khlor dan kadar khlor.
2. Dihitung volume unit desinfeksi dan dimensi bak desinfeksi.
3. Dihitung DPC dan dosis khlor yang akan dibubuhkan pada air baku.
4. Dihitung kecepatan pembubuhan dan kebutuhan khlor sesuai volume unit
desinfeksi.

3.2 Perencanaan Sistem Jaringan Dsitribusi Air Pengolahan


3.2.1 Alat dan Bahan
A. Alat
1. Program EPANET 2.0
2. Alat Tulis
B. Bahan
1. Peta Kecamatan Muara Badak
2. Data Statistik Kecamatan Muara Badak
3.2.2 Cara Kerja

17

1. Ditentukan rancangan sistem jaringan distribusi air pengolahan menggunakan


aplikasi EPANET 2.0 sesuai dengan peta kecamatan Muara Badak
2. Ditentukan karakteristik untuk setiap jalur, yaitu debit (Q), kecepatan aliran (V), dan
Panjang pipa (L).
3. Dilakukan perhitungan diameter pipa (D), K, head loss mayor (Hf), Hf/Q, Q, dan
debit koreksi.
4. Dilakukan iterasi hingga diperoleh nilai Q yang mendekati angka nol.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Proyeksi Jumlah Penduduk

18

4.1.1 Metode Aritmatik


Proyeksi penduduk Kecamatan Muara Badak menggunakan metode aritmatik dapat
dilihat pada tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Proyeksi Penduduk Metode Aritmatik

Tahun
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
Rata-rata

Jumlah
Penduduk
(Jiwa) (P)
28,934
29,786
30,663
31,566
32,495
33,452
34,437
36,190
36,527
37,583
33,163

Pn

= Po + Ka (Tn To)

Ka

P2 - P 1
= T 2 - T1

Konstanta
Aritmatik
852
877
903
929
957
985
1,753
337
1,056
961

Proyeksi
Penduduk
(Pn)
28,934
29,895
30,856
31,817
32,778
33,739
34,700
35,661
36,622
37,583
Total

(Xn-Xr)2

(Xn-X)2

17,881,382.28
10,677,722.99
5,320,951.23
1,811,067.01
148,070.33
331,961.19
2,362,739.59
6,240,405.52
11,964,958.99
19,536,400.00
76,275,659.14

11,896.94
37,274.07
63,120.05
79,992.37
82,402.83
69,232.42
279,755.98
9,032.64
632,707.31

Keterangan:
Pn

= jumlah penduduk tahun ke-n

Po

= jumlah penduduk tahun dasar

Tn

= tahun ke-n

To

= tahun dasar

Ka

= konstanta arithmatik

P1

= jumlah penduduk yang diketahui tahun ke I

P2

= jumlah penduduk yang diketahui pada tahun terakhir

T1

= tahun ke I yang diketahui

T2

= tahun ke II yang diketahui

19

Relasi

(Xn-Xr) - (Xn-Pn) 2
2

i=1

i=1

(Xn-Xr)2
i=1

76,275,659.14 - 632,707.31
76,275,659.14

= 0.995

Standar Deviasi

(Xn-Xr) 2
i=1

n
76,275,659.14
10

= 2761.8
4.1.2 Metode Geometrik
Proyeksi penduduk Kecamatan Muara Badak menggunakan metode geometrik dapat
dilihat pada tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.2 Proyeksi Penduduk Metode Geometrik

Tahun
1999
2000
2001
2002
2003

Jumlah
Penduduk
(Jiwa) (P)
28,934
29,786
30,663
31,566
32,495

Rasio
0.0286
0.0286
0.0286
0.0286

Proyeksi
Penduduk
(Pn)
28,934
29,762
30,613
31,488
32,389

(Xn-Xr)2

(Xn-X)2

17,885,022.39
11,571,331.90
6,505,576.05
2,806,305.87
600,269.46

599.47
2,539.05
6,049.25
11,387.43

(Xn-Xr)2

(Xn-X)2

22,925.20

18,840.50

Tabel 4.2 Lanjutan

Tahun
2004

Jumlah
Penduduk
(Jiwa) (P)
33,452

Rasio
0.0286

Proyeksi
Penduduk
(Pn)
33,315

20

2005
2006
2007
2008
Rata-rata
Pn

34,437
36,190
36,527
37,583
33,163.43

0.0286
0.0484
0.0092
0.0281
0.0286

34,268
35,247
36,255
37,292
Total

1,218,985.85
4,342,995.36
9,559,940.20
17,045,897.42
71,559,249.71

28,727.77
888,464.90
73,796.07
84,623.89
1,115,028.32

= Po (1 + r)n

Keterangan:
Pn

= jumlah penduduk tahun ke n

Po

= jumlah penduduk tahun dasar

= laju pertumbuhan penduduk

= jumlah interval tahun

Relasi

(Xn-Xr) 2 i=1

(Xn-Pn) 2
i=1

(Xn-Xr)2
i=1

71,559,249.71 - 1,115,028.32
71,559,249.71

= 0.98

Standar Deviasi

(Xn-Xr) 2
i=1

n
71,559,249.71
10

= 2675.1

4.1.3 Metode Least Square

21

Proyeksi penduduk Kecamatan Muara Badak menggunakan metode least square dapat
dilihat pada tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.3 Proyeksi Penduduk Metode Least Square

X2

XY

1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008

Jumlah
Penduduk
(Y)
28,934
29,786
30,663
31,566
32,495
33,452
34,437
36,190
36,527
37,583

3,996,001
4,000,000
4,004,001
4,008,004
4,012,009
4,016,016
4,020,025
4,024,036
4,028,049
4,032,064

20,035

331,634

40,140,205

57,839,788.94
59,572,496.71
61,357,095.90
63,195,140.12
65,088,229.49
67,038,012.01
69,046,185.00
72,597,140.00
73,309,689.00
75,466,664.00
TOTAL
664,510,441

Tahun
(X)

Proyeksi
Penduduk
(Pn)
28,739
29,722
30,705
31,689
32,672
33,655
34,638
35,621
36,605
37,588

(Xn-Xr)2

(Xn-X)2

19,574,987.84
11,841,659.31
6,041,662.91
2,174,998.65
241,666.52
241,666.52
2,174,998.65
6,041,662.92
11,841,659.31
19,574,987.85

38,139.84
4,094.61
1,783.76
15,040.24
31,139.12
41,178.34
40,488.70
323,294.78
6,022.01
22.98

331,634

79,749,950.48

501,204.41

= a + bX

Keterangan:

= nilai variabel berdasarkan garis regresi

= variabel independen

= konstanta

= koefisien arah regresi linear

Y . X 2 X . Y
2
n. X 2( X )

( 331634 40140205 ) ( 20035 331634 )


=
( 10 40140205 )( 20035 )2
= -1936661.29
n. XY X . Y
b

n . X 2 ( X )

22

10 ( 664510441) ( 20035 331634 )


( 10 40140205 ) (20035 )2

= 983.19
Y

= -1936661.29 + 983.19 X

Relasi

(Xn-Xr) - (Xn-Pn) 2
2

i=1

i=1

(Xn-Xr)2
i=1

79,749,950.48 - 501,204.41
79,749,950.48

= 0.99

Standar Deviasi

(Xn-Xr) 2
i=1

n
79,749,950.48
10

= 2824

4.2 Pemilihan Metode Proyeksi


Perbandingan hasil proyeksi penduduk Kecamatan Muara Badak dari ketiga metode
dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4 Rekapitulasi Proyeksi Penduduk
Tahun
1999
2000
2001

Metode
Aritmatik
28,934
29,895
30,856

Metode
Geometrik
28,934
29,762
30,613

Metode
Least Square
28,739
29,722
30,705
23

2002
2003
2004
2005

31,817
32,778
33,739
34,700

31,488
32,389
33,315
34,268

31,689
32,672
33,655
34,638

Tabel 4.4 Lanjutan

Tahun
2006
2007
2008
r
SD

Metode
Aritmatik
35,661
36,622
37,583
0.996
2761.80

Metode
Geometrik
35,247
36,255
37,292
0.98
2675.06

Metode
Least Square
35,621
36,605
37,588
0.99
2824

Perbandingan jumlah proyeksi penduduk antara ketiga metode tersebut, yaitu Metode
Aritmatik, Metode Geometrik dan Metode Least Square setelah dilakukan perhitungan
diperoleh hasil relasi dan standar deviasi masing-masing sesuai tabel 4.4 diatas.
Diketahui bahwa hasil proyeksi penduduk dengan metode geometrik menghasilkan nilai
yang lebih dapat diterima untuk memproyeksikan jumlah penduduk.
Tabel 4.5 Proyeksi Jumlah Penduduk 1999-2018
Tahun
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008

Jumlah
Penduduk
28,934
29,762
30,613
31,488
32,389
33,315
34,268
35,247
36,255
37,292

Tahun
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018

Jumlah
Penduduk
38,358
39,455
40,584
41,744
42,938
44,166
45,429
46,728
48,064
49,438

4.3 Perhitungan Kebutuhan Air


4.3.1 Kebutuhan Domestik

24

Asumsi:
Kebutuhan air bersih per orang per hari

= 150 L/org/hari

Jumlah orang per KK

= 5 orang

Tabel 4.6 Jumlah Penduduk Terlayani oleh Sambungan Rumah (SR) dan Hidran Umum (HU)

Penduduk Total
Dilayani SR
Dilayani Hidran Umum

%
100
90
10

2018
49,438
44,494
4,944

Berdasarkan asumsi kebutuhan air domestik masyarakat Kecamatan Muara Badak yang
terlayani oleh Sambungan Rumah (SR) dan Hidran Umum (HU) diperoleh kebutuhan
total domestik pada tabel 4.7 berikut.
Tabel 4.7 Kebutuhan Air Domestik

Jenis
Sambunga
n
SR
HU
Total

Standar
Kebutuhan
Air minum
(L/o/hr)
150
30
(L/hari)
(L/det)

2018
Pendudu
k (Jiwa)

Kebutuhan
Air (L/hr)

44,494
4,944

6,674,130
148,314
6,822,444
78.96

4.3.2 Kebutuhan Non Domestik


Asumsi jumlah kebutuhan air non domestik masyarakat Kecamatan Muara Badak dapat
dilihat pada tabel 4.8 berikut.
Tabel 4.8 Asumsi Jumlah Kebutuhan Air Sarana Umum Tahun 2018

Rumah Sakit
Sekolah Dasar
SLTP
SLTA

350
40
50
80

Asumsi
Jumlah Orang
per hari
100
4500
3500
3500

Restoran Umum

15

100

Sarana Umum

Kebutuhan Air
Rata-rata L/org/hari

Kebutuhan
Air Total
L/hari
35000
180000
175000
280000

Kebutuhan
Air Total
L/detik
0.54
2.78
2.70
4.32

1500

0.02
25

Hotel/Penginapa
n
Gedung
Peribadatan
Total
4.3.3 Kebutuhan Total

300

200

60000

0.93

10

150

1500

0.02

845

12050

733000

11.31

Kebutuhan total air bersih hasil perhitungan kebutuhan domestik dan non domestik
diperoleh hasil seperti pada tabel 4.9 berikut.
Tabel 4.9 Kebutuhan Total Tahun 2018

Kebutuhan
Domestik
Non Domestik
Jumlah
Kebutuhan air IPA (10%)
Kebocoran (20%)
Total

L/hari
6,674,130
733,000
7,407,130
740,713
1,481,426
9,629,269

L/detik
78.96
11.31
90.28
8.57
17.15
111.45

4.4 Desain Unit Pengolahan


4.4.1 Unit Intake
Data Perencanaan:
Q = 0.11145 m3/detik
Kecepatan aliran pada saringan kasar < 0.08 m/detik
Kecepatan aliran pada pintu intake < 0.08 m/detik
Kecepatan aliran pada saringan halus < 0.2 m/detik
Lebar bukaan saringan kasar 5-8 cm
Lebar bukaan saringan halus 5 cm
1. Kecepatan aliran pada saringan kasar, v = 0.08 m/detik
Q
v= A

26

0.11145 m /detik
A = 0.08 m/detik
A = 1.39 m2
A = s2
s =

1.39 m 2

= 1.18 m

2. Kecepatan aliran pada saringan halus, v = 0.2 m/detik


Q
v = A eff
A=

Q
v eff
3

0.11145 m /detik
= 0.2 m/detik 80%
= 0.69 m2
A = s2
s =

0.69 m2

= 0.83 m

3. Kecepatan aliran pada pintu intake, v = 0.07 m/s


Q
v= A
3

0.11145 m /detik
A = 0.07 m/detik
A = 1.59 m2, s = 1.26 m
4.4.2 Unit Sedimentasi I
4.4.2.1 Hasil Pengamatan
Tinggi Settling Tinggi kran = 1.65 m 0.15 m
= 1.5 m

27

Tabel 4.10 Nilai Kekeruhan Sedimentasi tipe I

Waktu Pengambilan

Kekeruhan

Sampel (menit)

(NTU)

0
5
10
15
20
25

478
461
445
444
420.33
390.67

4.4.2.2 Perhitungan
A. Fraksi
Kekeruhan t
Fraksi = Kekeruhan awal
1. F5

461 NTU
= 478 NTU
= 0.96

2. F10

445 NTU
= 478 NTU
= 0.93

444 NTU
3. F15 = 478 NTU
= 0.928
4. F20

420.33 NTU
= 478 NTU
= 0.879

390.67 NTU
5. F25 = 478 NTU
= 0.817
B. Kecepatan Pengendapan (Vo)

28

Kecepatan Pengendapan (Vo)

Tinggi settling Tinggi kran


Waktu pengambilan sampel

1.5 m
1. Vo (5) = 300 detik
= 0.005 m/s
1.5 m
2. Vo (10) = 600 detik
= 0.0025 m/s
1.5 m
3. Vo (15) = 900 detik
= 0.00167 m/s
1.5 m
4. Vo (20) = 1200 detik
= 0.00125 m/s
1.5 m
5. Vo (25) = 1500 detik
= 0.001 m/s
Tabel 4.11 Nilai Fraksi dan Kecepatan Pengendapan (Vo)

Waktu Pengambilan

Kecepatan Pengendapan Vo

Sampel (menit)
5
10
15
20
25

(m/s)
0.005
0.0025
0.00167
0.00125
0.001

Fraksi
0.96
0.93
0.928
0.879
0.817

C. Total Removal
Fo

1
V df
R = (1 Fo) + Vo
0
Keterangan:
R = besarnya fraksi pengendapan partikel total
Fo= fraksi partikel tersisa pada kecepatan Vo
Vo= kecepatan pengendapan (m/detik)
dF= selisih partikel tersisa

29

1
0.8
0.6
Fraksi

0.4
0.2
0
0

0.01

0.01

Kecepatan Pengendapan (m/detik)

Gambar 4.1 Kurva hasil sedimentasi I

Kurva hasil sedimentasi I dibagi menjadi beberapa segmen di bagian atas kurva, lalu
dihitung luasnya seperti pada tabel 4.12 berikut.
Tabel 4.12 Perhitungan Luas Segmen

dF
0.01

V
0.0015
0.0013
0.015
1
0.015 0.0011
0.0009
0.035
9
0.03 0.0009
0.0008
0.04
1
0.0007
0.04
2
0.0006
0.045
1
0.0005
0.045
1
0.0004
0.038
1
0.0003
0.035
2
0.0002
0.02
5
0.03 0.0002
0.0001
0.028
5
0.03 0.0001
Jumlah

V dF
0.000015
0.0000196
5
0.0000165
0.0000346
5
0.000027
0.0000324
0.0000288
0.0000274
5
0.0000229
5
0.0000155
8
0.0000112
0.000005
0.000006
0.0000042
0.000003
0.0002693
30

8
Fo

1
V dF
R = (1 Fo) + Vo
0
1
0.00026938
= (1 0.938) + 0.0017
= 0.2205 22%
D. Dimensi Bak Sedimentasi
Q
Luas Permukaan, A = V o
0.1115 m 3 /detik
= 0.0017 m/detik
= 65.6 m2
Luas Alas, A

= s2

65.6 m2 = s2

65.6 m2

= 8.1 m

Volume Bak Sedimentasi, tinggi bak = 5 m


Volume Bak, V = A tinggi bak
= 65.6 m2 5 m
= 328 m3
VD
Nilai Reynolds, Re =
997.7 kg/ m 3 0.0017 m/detik 8.1 m
= 8 . 949 10-4 kg/m.d e t i k
= 15351.8 Turbulen
31

4.4.3 Unit Koagulasi


Berdasarkan kriteria desain unit koagulasi pada revisi SNI 19-6774-2002 ditentukan
dimensi dan kriteria lainnya seperti pada tabel 4.13 berikut.
Tabel 4.13 Kriteria Desain Unit Koagulasi

Unit
Pengaduk cepat
Tipe

Kriteria
Hidrolis :
- Terjunan
- Saluran bersekat
- Dalam pipa bersekat
- Perubahan phasa pengaliran
Mekanis
- Bilah (Blade), Pedal (Padle) kipas
- Flotasi

Waktu pengadukan
(detik)
Nilai G/detik

30 120
>750

Sumber: (revisi SNI 19-6774-2002)

Data perencanaan untuk perhitungan unit koagulasi adalah sebagai berikut:


Jumlah unit,

n=1

Gradien kecepatan,

G = 810 /detik

Waktu detensi,

td = 50 detik

Percepatan gravitasi, g = 9.81 m/s2


Massa jenis air,

= 997.7 kg/m3

Viskositas absolut,

= 8.949 x 10-4 kg/m.detik

Debit,

Q = 111.45 L/detik = 0.1115 m3/detik

Konstanta pengaduk KT = 4.8 (Turbine, 6 curved blades)


Kecepatan putar

n = 120 rpm = 2 rps

1. Volume Unit Koagulasi


V

= Q td
= 0.1115 m3/detik 50 detik
32

= 5.575 m3
2. Dimensi Unit Koagulasi, free board = 20 cm
V

= p l t = s3

3 V

3 5.575 m3

= 1.77 m
Jadi, dimensi unit koagulasi p = 1.77 m, l = 1.77 m dan t = 1.77 m + 0.2 m = 1.97 m
3. Tenaga
P

= G2 V
= (810/detik)2 8.949 x 10-4 kg/m.detik 5.575 m3
= 3273.33 Nm/det

4. Diameter impeller
P

= KT n3 Di5

Di

3273.33 Nm/detik
4.8 (2 rps)2 997.7 kg/ m 3

= 0.7 m
5. Nilai Reynolds
NRe

Di 2 n
=
(0.7)2 (2 rps) 997.7 kg/ m 3
= 8 . 949 x 10-4 kg/m.d e t i k
= 1092576 Turbulen

Berdasarkan percobaan jar test yang dilakukan di laboratorium diperoleh hasil


pengamatan seperti pada tabel 4.14 berikut.

33

Tabel 4.14 nilai pH awal

No
1
2
3
Rata-rata

pH awal
7.49
7.69
7.65
7.61

Tabel 4.15 Hasil Jar Test Penentuan Dosis Koagulan

Dosis

Tinggi Endapan

Koagulan (ml)

(ml)

20

17

25

16

30

16.5

35

16

pH

Waktu Pengendapan

Kekeruhan

(menit)

Akhir (NTU)

15

5.61

15

5.17

15

4.56

15

2.67

3.4
2
3.2
9
3.1
9
3.0
8

Diketahui:
Q air baku

= 0.1115 m3/detik = 111500 ml/detik

Dosis optimum = 30 ml Al2SO4 per 1000 ml air baku


Dosis Optimum
Dosis koagulan = Volume Sampel
30 ml
= 1000 ml

111500 ml/detik

= 3345 ml/detik 86400 detik/hari


= 289.008 m3/hari
Kebutuhan koagulan padat = Kebutuhan koagulan per hari mol pengenceran koagulan
= 28.9008 107 ml/hari 0.01 gr/ml
= 28.9008 105 gr/hari
= 2890.08 kg/hari

34

Dimensi Bak Pembubuh koagulan berbentuk persegi, t = 2.5 m

V = 4 D2t

D =

4V
t

4 289.008 m 3
(22/7) 2.5 m

= 12.13 m
Jumlah Bak Pembubuh koagulan, n = 6
Vtotal
V = n
289.008 m
= 6

= 48.17 m3
Dimensi tiap Bak Pembubuh Koagulan, t = 2.5 m

V = 4 D2t

D =

4V
t

4 48.17 m 3
(22/7) 2.5 m

=5m
Perhitungan Dosis Kapur
Q = 0.1115 m3/detik = 111500 ml/detik
Dosis Optimal = 6 mL CaO dalam 1000 mL air sampel
Maka,
35

Keb CaO per detik

111500 ml/detik
= 1000 mL

6 ml CaO

= 669 mL CaO/s
Keb CaO per hari

= Keb. CaO/s x td
= 669 mL CaO/s x 10 jam/hari
= 24,084,000 mL CaO/hari
= 24,084 L/hari

Keb. CaO dalam bentuk padat = 24,084 L CaO/hari x

53 gram
1 liter

= 1,276,452 gram CaO/hari


= 1,276.45 kg CaO/hari
Dimensi Bak pembubuh CaO
Direncanakan bak pembubuh berbentuk tabung dengan tinggi 1.5 m, maka:
V

= r2 h

24 m3

= 3,14 . r2 . 1.5 m

= 2.25 m

= 4.5 m

24
3,14 x 1.5

m2

4.4.4 Unit Flokulasi


Berdasarkan SNI 19-6774-2002 kriteria desain unit flokulasi seperti pada tabel 4.16
berikut.
Tabel 4.16 Kriteria Unit Flokulasi (Pengadukan Lambat)

Kriteria Umum

Flokulator

Flokulator Mekanis

Flokulator
36

Hidrolis
60 (menurun)
5
Waktu kontak (menit)
30 45
Tahap flokulasi (buah)
6 10
Bukaan
Pengendali energi
pintu/sekat
Kecepatan aliran max.(m/det)
0.9
Luas bilah/pedal
dibandingkan luas bak (%)
Kecepatan perputaran sumbu
(rpm)
Tinggi (m)
G (gradien kecepatan) 1/detik

Sumbu
Horizontal
dengan Pedal
60 (menurun)
10
30 40
36
Kecepatan
putaran
0.9

Sumbu
Vertikal
dengan Bilah
70 (menurun)
10
20 -40
24
Kecepatan
putaran
1.8 2.7

20 100
1
Kecepatan
aliran air
1.5 0.5

5 20

0.1 0.2

15

8 25

Clarifier
100 10

2 4*

Data perencanaan unit flokulasi:


Debit

Q = 0.1115 m3/detik

Waktu detensi

td = 30 menit = 1800 detik

Gradien 1,

G = 60/detik

Gradien 2,

G = 30/detik

Percepatan gravitasi, g = 9.81 m/s2


Massa jenis air,

= 997.7 kg/m3

Viskositas absolut,

= 8.949 x 10-4 kg/m.detik

Faktor friksi,

f = 0.3

1. Volume Unit Flokulasi


V = Q td
= 0.1115 m3/detik 900 detik
= 100.35 m3
2. Dimensi Unit Flokulasi (Bak persegi)
V = p l t = s3
s =
=

3 V

3 100.35 m3

= 4.65 m
37

3. Jumlah Sekat Flokulator


n =

{[

2 1
3

][ ] }

2t
HLG
(1.44+f) Q

{[

2 8 . 949 10 -4 kg/m.d e t i k 900 detik


997.7 kg/ m 3 (1.44+0.3)

][

(4.65 m) (4.65 m) 60/detik


0.1115 m 3 /detik

2 1
3

]}

= 50
4. Jarak Antar Sekat
L
Jarak antar sekat = n
4.65 m
= 50
= 9.3 cm
5. Head Loss
t
h = g

G2

8 . 949 10-4 kg/m.d e t i k 900 detik


= 997.7 kg/ m 3 9.81 m/ detik 2

(60/detik)2

= 0.29 m
6. Dengan Perhitungan yang sama, diperoleh data untuk kompartemen ke-2:

G
Td
Jumlah sekat
Jarak antar sekat
Head loss

= 30/detik
= 900 detik
= 32
= 14.5 cm
= 0.07 m

38

4.4.5 Unit Sedimentasi II


4.4.5.1 Hasil Pengamatan
Air sampel yang diambil langsung dari sumber dilakukan pengukuran kekeruhan awal
dengan turbidity meter dan diperoleh nilai seperti pada tabel 4.17 berikut.
Tabel 4.17 Nilai Kekeruhan Awal

No
1
2
3
Rata-rata

Kekeruhan (NTU)
63.7
55.4
56.4
58.5

Berdasarkan pengukuran kekeruhan dengan interval 10 menit pada settling column tipe
II di tiap kran diperoleh nilai seperti pada tabel 4.18 berikut.
Tabel 4.18 Nilai Kekeruhan (NTU) Sedimentasi tipe II

Kedalaman
(cm)
50
100
150
200
250

10
56.36
54.43
48.96
38.67
32.46

20
23.53
20.23
20.23
17.63
15.47

Waktu (menit)
30
40
18.9
13.85
15.80
11.64
14.72
10.59
14.70
9.73
14.46
9.31

50
9.78
9.45
9.25
9.10
8.78

60
9.54
9.20
8.92
8.61
8.39

Nilai kekeruhan yang diperoleh digunakan dalam perhitungan total removal dengan
rumus, Total Removal = 100% - ( Kekeruhan t/Kekeruhan awal ) 100%, sehingga
diperoleh nilai seperti pada tabel 4.19 berikut.
Tabel 4.19 Prosentase Total Removal (%)

Kedalaman
(cm)
50
100

10
3.66
6.96

20
59.78
65.42

Waktu (menit)
30
40
67.69
76.32
72.99
80.10

50
83.28
83.85

60
83.69
84.27
39

150
200
250

16.31
33.90
44.51

65.42
69.86
73.56

74.84
74.87
75.28

81.90
83.37
84.09

84.19
84.44
84.99

84.75
85.28
85.66

50

60

4.4.5.2 Perhitungan

Kedalaman (cm)

50
100
150
200
250
300
0

10

20

30

40

Waktu Pengendapan (menit)

Gambar 4.2 Grafik Isoremoval

H1
RT = R B + H
1. R16

H2
(RC RB) + H

H3
(RD RC) + H

220
145
= 30 + 250 (40 30) + 250 (50 40) +

(RE RD)
75
35
250 (60 50) + 250 (70

10
60) + 250 (80 70)
= 49.4%

205
150
2. R17 = 40 + 250 (50 40) + 250 (60 50) +

40
10
250 (70 60) + 250 (80

70)
3. R19

= 56.2%
230
50
10
= 50 + 250 (60 50) + 250 (70 60) + 250 (80 70)
40

4. R32

= 61.6%
240
35
= 60 + 250 (70 60) + 250 (80 70)
= 71%

5. R43

225
= 70 + 250 (80 70)
= 79%
90
80
70
60
50
% RT 40
30
20
10
0
10

15

20

25

30

35

40

45

Waktu (menit)

Gambar 4.3 Plot Hubungan %RT dan Waktu

Untuk mendapatkan 65% pengendapan diperlukan waktu 25 menit (lihat kurva di atas).
Perhitungan surface loading, SL = H/t, dengan H adalah tingi kolom dan t adalah waktu
yang dipilih, sehingga diperoleh data seperti tabel 4.20 berikut.
Tabel 4.20 Nilai Surface Loading dan %RT

Waktu
(menit)
16
17
19
32
43

Surface Loading
(m3/hari.m2)
225
169.41
113.68
45
16.74

%RT
49.4
56.2
61.6
71
79

41

90
80
70
60
50
% RT 40
30
20
10
0
0

50

100

150

200

250

Surface Loading (m3/m2-hari)

Gambar 4.4 Plot Hubungan %RT dan Surface Loading

Surface loading yang diperlukan untuk menghasilkan pengendapan 65% adalah


85 m3/m2-hari.
Berdasarkan pengolahan data dari hasil percobaan diperoleh:

td = 25 menit
Vo = 85 m3/m2-hari

Untuk desain, nilai hasil percobaan dikalikan dengan faktor scale up.

td = 25 menit 1.75 = 43.75 menit


Vo = 85 m3/m2-hari 0.65 = 55.25 m3/m2-hari

Berdasarkan nilai kecepatan pengendapan (Vo) yang diperoleh, maka dapat ditentukan
luas permukaan bak.
As = Q/Vo
= (9633.6 m3/hari)/55.25 m3/m2-hari
= 174.4 m2
Bak berbentuk persegi, maka panjang sisi-sisinya adalah 13.2 m
Kedalaman bak = V/A = td.Q/A
= (43.75 menit 1 hari/1440 menit 9633.6 m3/hari)/174.4 m2
= 1.7 m + 0.6 m (free board) = 2.3 m
VD
Nilai Reynolds, Re =
42

997.7 kg/ m 0.00064 m/detik 13.2 m


= 8 . 949 10-4 kg/m.d e t i k
= 9418 Transisi
4.4.6 Unit Filtrasi
Tabel 4.21 Kriteria Desain Unit Filtrasi

Uraian
Kecepatan Filtrasi (Vf)
Tebal media pasir (Lp)
Tebal media kerikil (Lk)
Waktu backwash (tbw)
Tinggi air diatas media (ha)
Diameter media (m)
Ekspansi backwash
A orifice (Aor):A
A lateral (Al):Aor
A manifold (Am):Al
Jarak orifice (Wor)
Porositas
Diameter orifice (o)
Kecepatan backwash (Vbw)
Surface Loading

Nilai

Satuan

8-12
60-80
10-30
5-15
0,9-1,2
0,6-1,2
30-50
(0,00150,005):1
(2-4):1
(1,5-3):1
6-20
0,36-0,45
0,6-2
15-25
7-12

m/jam
cm
cm
menit
m
mm
%
cm
cm
m/jam
m/jam

Desain Perancangan:
1. Kriteria Perencanaan
a.
Q = 0.1115 m3/detik
-3
b.
Kecepatan filtrasi V f = 10 m/ jam = 2 .77 10 m/det ik
Dp = 1 . 0 mm = 0.001 m

c.

Diameter pasir

d.

Temperatur air baku T = 27

e.

Viskositas kinematis

v = 0 . 858110-6 m 2 /det ik

f.

3
3
Densitas = 0. 99654 gr /cm = 966. 54 kg /m

g.

-3
Viskositas dinamis = 0 . 855110 kg/ m.det ik

43

h.
i.

Laju filtrasi secara umum = 1.35 L/detik per m2 6.77 L/detik per m2
Unit Filter Run Volume (UFRV) = 203225.8 L/m2 4064516.13 L/m2

j.
k.
l.
m.
n.

Tinggi media filter total = 80 cm


Kecepatan backwash, Vbw = 20 m/jam
Diameter orifice, o = 0.75 inch = 1.9 cm
Diameter lateral = 1.25 inchi = 3.175 cm
Jarak tepi orifice, (Wor) = 20 cm = 0.2 m

2. Jumlah bak saringan (n)


n = 12 . (Q)0,5
= 12 x (0.1115)0,5
= 4 buah, ditambah 1 bak cadangan menjadi 5 buah
3. Debit pada filter
1
Qf = . Q
n
Qf =

1
3
. 0.1115 m / det
4

Qf = 0.027875 m 3 /det = 100.35 m 3 / jam /filter

4. Luas permukaan filter (A)


Q
A =
Vf
3

A =

100.35 m / jam
10 m / jam

A = 10.035 m 2

5. Dimensi Filter (bak persegi)


A

= s2

10.035 m2 = s2

10.035

= 3,16 m

44

Pada unit filtrasi direncanakan tinggi media 80 cm, ketinggian ruang backwash
30 cm dan tinggi permukaan di atas media setinggi 60 cm sehingga total tinggi unit
sebesar 1.7 m.
Jumlah media pasir yang dibutuhkan pada unit filtrasi:
V = A t
= 10.035 m2 0.8 m
= 8.028 m3
Kebutuhan pasir silika, (berat jenis = 2600 kg/m3):
Kebutuhan pasir silika = 8.028 m3 2600 kg/m3
= 20872.8 kg
Jumlah kebutuhan pasir silika total = 20872.8 kg 5
= 104364 kg
6. Laju Filtrasi
Laju Aliran
Laju Filtrasi = Luas permukaan filter
27. 875 L/detik
= 10.035 m 2
= 2.78 L/detik per m2
Total volume filter
7. Unit Filter Run Volume (UFRV) = Luas permukaan filter
Q td
= A
27.875 L/detik 24 jam 3600 detik/jam
= 10.035 m 2
= 240000 L/m2

45

8. Debit Backwash
Qbw

= Vbw A
= 20 m/jam 10.035 m2
= 200.7 m3/jam = 55.75 L/detik

9. Laju Backwash
Debit Backwash
Laju Backwash = Luas permukaan filter
55.75 L/detik
= 10.035 m 2
= 5.56 L/detik per m2

10. Volume Kebutuhan Air Untuk Backwash


Volume air backwash = Qbw tbw
= 55.75 L/s 10 menit 60 detik/menit
= 33450 L
11. Volume unit backwash
Volume unit backwash

Volume air backwash


= Luas permukaan filter
33450 L
= 10.035 m 2
= 3333.33 L/m2

12. Efisiensi Filter


Re
E = Ro
Unit filter Run Volume Volume unit backwash
= Unit filter Run Volume

100%

46

240000 L/ m 3333.33 L/ m
= 240000 L/ m 2

100%

= 98.6%

13. Sistem Pengumpul Filtrat


A orifice total : A media = 0.0015 : 1
A orifice = 10.035 m2 0.0015
= 0.015 m2 = 150 cm2
1
2
D
A orifice = 4
1
( 22/7 ) (1.9 cm )2
= 4
= 2.8 cm2
A orifice total
Jumlah orifice, n = A orifice
150 cm 2
= 2.8 cm2
= 53.5 54 buah
A lateral total : A orifice total

= 2:1

A lateral total = 2 150 cm2


= 300 cm2
1
2
D
A lateral = 4
1
( 22/7 ) ( 3.175 cm )2
= 4
= 7.9 cm2
47

A lateral total
Jumlah lateral = A lateral
2

300 cm
= 7.9 cm2

= 37.9 38 buah
Jumlah lateral
Jumlah lateral per sisi manifold = 2
38
= 2
= 19 buah
A manifold : A lateral total = 1.5 : 1
A manifold = 1.5 300 cm2
= 450 cm2
1
D2
A manifold = 4

D manifold =

4 A manifold

4 450 cm2
(22/7)

= 23.9 cm
Jumlah orifice
Jumlah orifice per lateral = Jumlah lateral
54
= 38
= 1.4 2 buah
48

L bak D manifold
P lateral = 2
3.56 m 0.239 m
= 2
= 1.66 m
Jarak orifice =
P manifold (n lateral per sisi manifold D lateral ) + (2 Wor)
n orifice per lateral
3.56 m (19 0,03175 m ) + (2 0.2)
= 2
= 1.68 m
Jarak lateral =
P manifold (n lateral per sisi manifold D lateral ) + (2 Wl)
n lateral per sisi manifold
3.56 m (19 0.03175 m ) + (2 0,05 m)
= 19
= 0.16 m
14. Sistem Inlet
Kecepatan dalam saluran pipa inlet = 0.5 m/detik
3

0.1115 m /detik
Debit tiap saluran, Qi = 4
= 0.027875 m3/detik

Q
= V

49

0.027875 m /detik
= 0.5 m/detik
= 0.05575 m2

1
D2
= 4
2

0.05575 m

1
( 22/7 ) D2
= 4

4 0.05575 m 2
( 22/7 )

= 0.266 m
4.4.7 Unit Desinfeksi
Data perencanaan unit desinfeksi:
Debit,

Q = 0.1115 m3/detik

Konsentrasi,

K = 1%/250 ml

Waktu detensi,

td = 3 menit = 1800 detik

Dosis optimum,

V = 0,9 ml

Sisa khlor,

Sisa = 0,25 mg/l

Kadar khlor,

C = 75%

1. Volume Unit Desinfeksi


V

= Q td
= 0.1115 m3/detik 1800 detik
= 200.7 m3

2. Dimensi Bak Desinfeksi (Bak Persegi)


V

= p l t = s3

3 V

50

3 200.7 m3

= 5.85 m
3. DPC
DPC =

{[

1000
V C D
250

] }

{[

1000
0.975% - 0.25 mg/l
250

= 2.45 mg/l
4. Dosis Khlor
Rs

= DPC + Sisa Khlor


= 2.45 mg/l + 0.25 mg/l
= 2.7 mg/l

5. Kecepatan Pembubuhan
d

Q C Rs
= K
3

0.1115 m /detik 75% 2.7 mg/l


= 10 mg/l
= 0.0226 m3/detik

6. Kebutuhan Khlor
W

1
=Q C

Rs

1
= 111.5 l/detik 0.75

2.7 mg/l

= 401.4 mg/detik = 34.68 kg/hari

51

4.4.8 Reservoir
Data Perencanaan:
Q = 0.11145 m3 /detik = 4012.2 m3/hari

Debit

Volume reservoir = 30% Debit kebutuhan total


= 30% 4012.2 m3/hari
= 1203.66 m3
Dimensi Bak Reservoir, tinggi bak = 5 m
V = A t
V
A= t
1203.66 m3
= 5m
= 240.73 m2
Bak berbentuk persegi
A = s2
s =

s =

240.73 m 2

s = 15.5 m

4.5 Jaringan Distribusi Pengolahan Air


4.5.1 Perancangan Sistem Dsitribusi

52

Berdasarkan perancangan sistem jaringan distribusi air hasil pengolahan menggunakan


program EPANET 2.0 diperoleh sistem jaringan seperti pada gambar 4.5 berikut.

Gambar 4.5 Sistem Jaringan Distribusi

Penentuan kecepatan aliran dalam pipa berada dalam range 0.3 3 m/detik.
Karakteristik untuk setiap junction sesuai dengan pemenuhan kebutuhan air pengolahan
masyarakat Muara Badak adalah sebagai berikut.
Tabel 4.22 Karakteristik junction

Jalur

L
(m)

1
2
3

3000
5000
8000

V
(m/detik
)
0.8
0.6
0.3

Q asumsi
(m3/detik
)
0.084842
0.029117
0.001254

Tabel 4.22 Lanjutan

Jalur
4
5

L
(m)
7000
8000

V
Q asumsi
(m/detik)
0.3
0.001254
0.3
0.001254
53

6
7
8
9
10
11

7000
3000
8500
4000
7000
5000

0.3
0.6
0.3
0.4
0.3
0.3

0.001254
0.029117
0.001254
0.001254
0.001254
0.001254

4.5.2 Perhitungan
Data perencanaan:
C = 110
f = 0.03
g = 9.81 m/detik2
1. Junction 1
a. D =

4Q
v
4 0.084842 m 3 /detik
0.8 m/detik

= 0.36 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 3000 m
= 1102 0.36 5
= 395.61
L v2
f

c. Hf =
D 2g
2

3000 m (0.8 m/detik)


= 0.03 0.36 m 2 9.81 m/ detik 2
= 7.99 m
54

d. Hf/Q = (7.99 m)/(0.084842 m3/detik)


= 94.1857
2. Junction 2
a. D =

4Q
v
4 0.029117 m 3 /detik
0.6 m/detik

= 0.248 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 5000 m
= 1102 0.2485
= 4655.13
L v2
f

c. Hf =
D 2g
2

5000 m (0.6 m/detik)


= 0.03 0.248 m 2 9.81 m/ detik 2
= 11.07 m
d. Hf/Q = (11.07 m)/( 0.029117 m3/detik)
= 380.351
3. Junction 3
a. D =

4Q
v

55

4 0.001254 m3 /detik
0.3 m/detik

= 0.073 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 8000 m
= 1102 0. 07 35
= 3417611
L v2
f

c. Hf =
D 2g
8000 m (0.3 m/detik)2
0.03

2
=
0.0 73 m 2 9.81 m/ detik
= 15.09 m
d. Hf/Q = (15.09 m)/(0.001254 m3/detik)
= 12030.3
4. Junction 4
a. D =

4Q
v
4 0.0125 m 3 /detik
0.3 m/detik

= 0.073 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 7000 m
= 1102 0.0735
56

= 395.61
L v2
c. Hf = f D 2g
2

7000 m (0.3 m/detik)


= 0.03 0.073 m 2 9.81 m/ detik 2
= 13.2 m
d. Hf/Q = (13.2 m)/(0.00125 m3/detik)
= 10526.5
5. Junction 5
a. D =

4Q
v
4 0.00125 m3 /detik
0.3 m/detik

= 0.073 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 8000 m
= 1102 0.0735
= 3417611
2

L v
c. Hf = f D 2g

8000 m (0.3 m/detik)2


0.03

=
0.073 m 2 9.81 m/ detik 2
= 15.09 m

57

d. Hf/Q = (15.09 m)/(0.00125 m3/detik)


= 12030.3

6. Junction 6
a. D =

4Q
v
4 0.00125 m 3 /detik
0.3 m/detik

= 0.073 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 7000 m
= 1102 0.0735
= 2990409
L v2
f

c. Hf =
D 2g
2

7000 m (0.3 m/detik)


= 0.03 0.073 m 2 9.81 m/ detik 2
= 13.2 m
d. Hf/Q = (13.2 m)/(0.00125 m3/detik)
= 10526.5
7. Junction 7
a. D =

4Q
v

58

4 0.02912 m3 /detik
0.6 m/detik

= 0.248 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 3000 m
= 1102 0.2485
= 2793.08
L v2
f

c. Hf =
D 2g
3000 m (0.6 m/detik) 2
0.03

2
=
0.248 m 2 9.81 m/ detik
= 6.64 m
d. Hf/Q = (6.64 m)/(0.02912 m3/detik)
= 228.21
8. Junction 8
a. D =

4Q
v
4 0.00125 m 3 /detik
0.3 m/detik

= 0.073 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 8500 m
= 1102 0.0735
59

= 3631211
L v2
c. Hf = f D 2g
2

8500 m (0.3 m/detik)


= 0.03 0.073 m 2 9.81 m/ detik 2
= 16.03 m
d. Hf/Q = (16.03 m)/(0.00125 m3/detik)
= 12782.2
9. Junction 9
a. D =

4Q
v
4 0.00125 m3 /detik
0.4 m/detik

= 0.063 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 4000 m
= 1102 0.0635
= 3507387
2

L v
c. Hf = f D 2g

4000 m (0.4 m/detik)2


0.03

=
0.063 m 2 9.81 m/ detik 2
= 15.48 m

60

d. Hf/Q = (15.48 m)/(0.00125 m3/detik)


= 12347.9
10. Junction 10
a. D =

4Q
v
4 0.00125 m 3 /detik
0.3 m/detik

= 0.073 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 7000 m
= 1102 0.0735
= 2990409
2

L v
c. Hf = f D 2g

7000 m (0.3 m/detik)


= 0.03 0.073 m 2 9.81 m/ detik 2
= 13.2 m
d. Hf/Q = (13.2 m)/(0.00125 m3/detik)
= 10526.5
11. Junction 11
a. D =

4Q
v
4 0.00125 m3 /detik
0.3 m/detik
61

= 0.073 m
10.68 L
b. K = C2 D5
10.68 5000 m
= 1102 0.0735
= 2136007
2

L v
c. Hf = f D 2g

5000 m (0.3 m/detik) 2


0.03

=
0.073 m 2 9.81 m/ detik 2
= 9.43 m
d. Hf/Q = (9.43 m)/(0.00125 m3/detik)
= 7518.94

hf
1.85 hf/Q

136.4632
= 1.85 88992.01
= 0.000829
Tabel 4.23 Hasil Perhitungan

Jalu
r
1
2
3

L
(m)
300
0
500
0
800
0

V
(m/detik
)
0.8
0.6
0.3

D
(m)
0.36739
1
0.24852
2
0.07295
1

Q asumsi
(m3/detik
)
0.084842
0.029117
0.001254

K
395.610
1
4655.12
8
3417611

Hf
(m)
7.99089
7
11.0746
5
15.0912
1

Hf/Q
94.1857
380.350
8
12030.3
1

Q
koreksi

0.00082
9
0.00082
9
0.00082
9

0.08401
3
0.02828
8
0.00042
6
62

4
5
6
7
8
9
10
11

700
0
800
0
700
0
300
0
850
0
400
0
700
0
500
0

0.3
0.3
0.3
0.6
0.3
0.4
0.3
0.3

0.07295
1
0.07295
1
0.07295
1
0.24852
2
0.07295
1
0.06317
7
0.07295
1
0.07295
1

0.001254

2990409

0.001254

3417611

0.001254

2990409

0.029117

2793.07
7

0.001254

3631211

0.001254

3507837

0.001254

2990409

0.001254

2136007

Jumlah

13.2048
1
15.0912
1
13.2048
1
6.64478
8
16.0344
1
15.4896
3
13.2048
1
9.43200
7
136.463
2

10526.5
2
12030.3
1
10526.5
2
228.210
5
12782.2
1
12347.9
2
10526.5
2
7518.94
5
88992.0
1

0.00082
9
0.00082
9
0.00082
9
0.00082
9
0.00082
9
0.00082
9
0.00082
9
0.00082
9

0.00042
6
0.00042
6
0.00042
6
0.02828
8
0.00042
6
0.00042
6
0.00042
6
0.00042
6

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1.

Berdasarkan analisis kebutuhan air bersih masyarakat Kecamatan Muara Badak,


kebutuhan domestik diperoleh sebesar 78.96 L/detik; kebutuhan non domestik 11.31

63

L/detik; kebutuhan air IPA 8.57 L/detik dan asumsi kebocoran pada jaringan sebesar
17.15 L/detik. Jadi kebutuhan air bersih total adalah 111.45 L/detik.
2.
Sistem Pengolahan Air yang direncanakan untuk kebutuhan air bersih
masyarakat Kecamatan Muara Badak adalah sistem pengolahan lengkap yang terdiri
dari sedimentasi I, koagulasi, flokulasi, sedimentasi II, filtrasi, dan desinfeksi yang
didesain sesuai kriteria perencanaan pada Revisi SNI 19-6774-2002.
3.
Sistem jaringan distribusi air hasil pengolahan masyarakat kecamatan Muara
Badak diperoleh dengan hasil debit awal 0.084842 m 3/detik pada jalur utama dan
0.00125 m3/detik pada jalur sekunder. Dapat disimpulkan bahwa sistem jaringan
distribusi tersebut memenuhi syarat sebagai sistem penyaluran air.

5.2 Saran
Sebaiknya perencanaan sistem pengolahan air bersih disusun dengan mengasumsikan
kebutuhan tambahan untuk menghindari kesulitan pada sumber air sebagai bahan baku
IPA.

DAFTAR PUSTAKA

1. Farida, H. 2002. Proses Pengolahan Air Sungai untuk Keperluan Air


Minum. Universitas Sumatera Utara. Medan.
2. Marlianti, W. 2008. Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Minum
Kota Garut. Institut Teknologi Bandung. Bandung.
64

3. Reynolds, TD., dan Richards, PA. 1992. Unit Operations and Processes in
Environmental Engineering 2nd edition. PWS Publishing Company. Boston.

65

LAMPIRAN
NAMA BANGUNAN
INSTALASI PENGOLAHAN AIR
SKALA
1:100
JUDUL GAMBAR

Effluent

SEDIMENTASI I
Influent

Effluent

TANGGAL
11 JUNI 2013
PERENCANA
Tampak Samping

Tampak Atas

INDRA SANJAYA
DIPERIKSA

66

NAMA BANGUNAN
INSTALASI PENGOLAHAN AIR
SKALA
1:100
JUDUL GAMBAR
KOAGULASI
TANGGAL
11 JUNI 2013
PERENCANA
INDRA SANJAYA
DIPERIKSA

67

NAMA BANGUNAN
INSTALASI PENGOLAHAN AIR

Koagulan

SKALA
1:100

Koagulan

JUDUL GAMBAR

Effluent

FLOKULASI

Influent

Effluent

TANGGAL
11 JUNI 2013

Influent

PERENCANA

Tampak Samping

Tampak Atas

INDRA SANJAYA
DIPERIKSA

68

NAMA BANGUNAN

Effluent

INSTALASI PENGOLAHAN AIR

Influent

SKALA
1:100
JUDUL GAMBAR

Effluent

SEDIMENTASI II
TANGGAL

Influent

11 JUNI 2013

Tampak Samping

Tampak Atas

PERENCANA
INDRA SANJAYA
DIPERIKSA

69

NAMA BANGUNAN
INSTALASI PENGOLAHAN AIR
SKALA

Influent

Effluent

1:100
JUDUL GAMBAR

Effluent

FILTRASI

Influent

TANGGAL

Tampak Samping

Tampak Atas

11 JUNI 2013
PERENCANA
INDRA SANJAYA
DIPERIKSA

70

NAMA BANGUNAN
INSTALASI PENGOLAHAN AIR

Influent

Influent

Effluent

1:100
JUDUL GAMBAR

Effluent
Tampak Samping

SKALA

RESERVOIR

Tampak Atas

TANGGAL
11 JUNI 2013
PERENCANA
INDRA SANJAYA
DIPERIKSA

71

Desinfektan

Influent
Desinfektan

Reservoir

Effluent

Effluent

Reservoir
Influent
Tampak Samping

Tampak Atas

72

Desinfektan
Koagulan

Reservoir

73

NAMA BANGUNAN
NAMA BANGUNAN
SKALA
INSTALASI PENGOLAHAN
INSTALASI PENGOLAHAN
AIR 1:100 AIR
JUDUL GAMBAR SKALA
TANGGAL
LAYOUT ATAS 1:100
11 JUNI 2013
JUDUL GAMBAR
PERENCANA
DIPERIKSA
LAYOUT SAMPING
INDRA SANJAYA
TANGGAL
11 JUNI 2013
PERENCANA
INDRA SANJAYA
DIPERIKSA

74