Anda di halaman 1dari 19

Surveilans Kesehatan Masyarakat

Surveilans kesehatan masyarakat semula hanya dikenal dalam bidang


epidemiologi. Namun, dengan berkembangnya berbagai macam teori dan aplikasi
surveilans diluar bidang epidemiologi surveilans manjadi cabang ilmu tersendiri yang
diterpkan secara luas dalam bidang kesehatan masyarakat.
Kata surveilans semula berasal dari bahasa Perancis surveillance yang secara
harfiah dapat diartikan sebagai kata mengamati tentang sesuatu, yang dalam bidang
kesehatan masayarakat dapat diartikan sebagai upaya monitoring kondisi kesehatan
dimasyarakat, dimana hal tersebut bisa dipakai sebagai dasar perencanaan. Namun
dalam perjalanannya terjadi beberapa permasalahan yaitu pertama perlu acuan dengan
konsep dan definisi serta isi kegiatan yang dimengerti oleh semua pihak, sebab ilmu
kesehatan masyarakat melibatkan berbagai macam keilmuan dan keahlian selain
epidemiologi. Kedua masih sedikitnya informasi atau tulisan yang secara sistematis
melaporkan kegiatan surveilans di indonesia.
Sejarah perkembangan surveilans
Ada enam masa perkembangan surveilans
1. Abad Ke Empat Belas dan Lima Belas
Dimulainya beberapa tindakan yang dianggap sebagai tindakan surveilans antara lain
pada tahun 1348 saat terjadi wabah penyakit pneumonia (Pneumonia plague)
diangkatlah pengawas kesehatan di negara republik Venesia yang tugasnya
mendeteksi dan menolak penumpang yang terkena penyakit ini. Lalu tahun 1377 di
Marseilles dan di Venise tahun 1403 dilakukan tindakan penahanan atau dikenal
sebagai tindakan karantina yang pertama kali dilakukan bagi penderita dan yang
diduga sebagai penyebar penyakit ini.
2. Abad Ke Enam belas
Undang undang kematian di London atau lebih dikenal dengan London Bills of
Mortality pada tahun 1532, namun untuk bidang kesehatan masyarakat beberapa
abad kemudian manfaat ilmiahnya baru dirasakan, dan di perkenalkan oleh Jhon
Graunt
3. Abad Ke Tujuh Belas

Pada abad ini pencatatan dilakukan secara sporadis dan hanya dilakukan bila ada
wabah pes, yang dilaporkan setip minggunya tentang orang orang yang dikubur dan
penyebab kematiannya, lalu di susun laporan statistik kematian dari beberapa paroki
dan interpretasikan bagaimana keadaan wabah pes di kota london. Laporan ilmiah
pertama disusun oleh Jhon Graunt pada tahun 1662, beliau memperlajari konsep
jumlah dan pola penyakit secara epidemiolagis, dalam buku yang berjudul Natural
and Political Observation on the Bills of Moryality
4. Abad Ke Delapan Belas
Tahun 1776 Johan Peter Frank Melaksanakan tindakan surveilans dengan mengangkat
polisi kesehatan di Jerman, yang tugasnya berkaitan dengan pengawasan kesehatan
anak sekolah, pencegahan Kecelakaan, pengawasan kesehatan ibu dan Anak,
pemeliharaan sanitasi air dan limbah. Yang dikemudian disusun menjadi buku yang
menyajikan secara jelas dan rinci tentang kebijaksanaan dalam kesehatan.
5. Abad ke Sembilan Belas
Dalam buku Superintendant of statistical Departement of the General Registrars
Office pada tahun 1839 1879 di Inggris William Farr mengumpulkan, mengolah,
menganalisa, dan menginterpretasikan statistik Vital serta menyebarluaskan hasilnya
dalam bentuk laporan mingguan, bulanan, da tahunan. Karena Wiliian Farr dikenal
sebagai pendiri Konsep Surveilans secara modern
6. Abad Dua Puluh
Peningkatan pemakaian konsep surveilans untuk pendekatan epidemi dan pencegahan
penyakit mulai dikenal pada abad dua puluh. Sebenarnya beberapa negara sudah
mulai dari tahun 1878, dan tahun 1925 di amerika semua negara bagaian harus
melaporkan beberapa penyakit seperti penyakit penyakit infeksi, demam kuning, pes
dan cacar air. Dan untuk saat ini penyakit yang dilaporkan bertambah banyak
termasuk HIV dan AIDS.
Definisi dan konsep pelaksanaan Surveilans
Tahun 1963 Alexander Langmuir mendefinisikan surveilans The Continued
wacth fullness over the distribution and trends of incidens through the systematic
collection, consolodation, and evaluation of morbidity and mortality reports and other
relevant data together with timely and regular dissemination to those who need to
know
Dan tahun 1968 sidang Majelis Umum Kesehatan PBB yang ke 21 pengertian
surveilans adalah The systematic Collection And Use Of Epidemiological

information for the planning implementation, and assessment of disesase control in


shortt surveilans implied information for action. Sehingga surveilans
dikelompokkan menjadi.
1. Surveilans Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat
Menurut WHO adalahThe ongoing systematic collection, analysis and
interpretation of health data essential to the planning, implementation, and
evaluation of public health practice, closely integrated with timely dissemination of
these to those who need to know. The final link of the survaillance chain is the
application of these data to prevention and control surveillance system includes a
functional capacity for data collection analysis and dissemination linked to public
health program
2. Surveilans dan Monitoring
Monitoring adalah kegiatan yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan
untuk mengetahui hubungan antara kejadian dengan intervensi yang dilakukan.
3. Kejadian atau Kondisi Kesehatan dalam Surveilans
4. Maksud dan Tujuan Surveilans Kesehatan Masyarakat
Untuk mendeteksi perubahan pada trend atau distribusi penyakit dalam rangka
memulai penyelidikan atau melakukan tindakan pengendalian
5. Aspek Legal dan Etika
Hipocrates mengatakan secara tegas bahwa informasi kesakitan hanya dapat diberikan
kepada orang lain untuk kepentingan penderita atau orang orang yang secara
langsung mempunyai kewajiban merawatnya.
6. Sumber Data
Sumber data dapat berupa sumber data tradisional, mortalitas, morbiditas, laporan
epidemik, laporan laboratorium, laporan kasus per individu, penelusuran endemik di
laporan, reservoir binatang dan studi distribusi vektor, serta data demografi
7. Sumber Data Lain
8. Metode Pengumpulan Data dan Sistem Surveilans
9. Prosedur Pengumpulan Data
10. Sistem Surveilans
11. Metoda Analisis Data, Interpretasi, Diseminasi, dan Keterkaitannnya dengan
Tindakan /Intervensi Kesehatan Masyarakat
12. Unsur unsur dari Surveilans Epidemiologi
a. Pencatatan Kematian
b. Laporan Penyakit
c. Laporan Wabah
d. Pemeriksaan Laboratorium

e. Penyakit Khusus
f. Penyelidikan Wabah
g. Survei
h. Penyelidikan Tentang distribusi dari Vektor dan reservoir penyakit
i. Penggunaan obat-obatan, sera, dan vaksin
j. Keterangan tentang penduduk serta lingkungan
13. Kegunaan Surveilans Epidemiologi
Dasar dasar Surveilans Penyakit
10 sumber/jenis data yang relevan untuk surveilans penyakit
1. Laporan Kematian
2. Laporan Kesakitan
3. Laporan Wabah
4. Laporan Laboratorium
5. Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan
6. Laporan Penyelidikan wabah
7. Survei Khusus ( misal perwatan penderita di rumah sakit, register penyakit, survei
serologistik)
8. Informasi tentang hewan sumber penularan dan vektor
9. Data demografi
10. Data lingkungan
Tujuan akhir surveilans penyakit adalah untuk menentukan luasnya infeksi dan resiko
penularan penyakit sehingga tindakan pemberantasan dapat dijalankan secara efektif
dan efisien.
a.
b.
c.
d.

Dasar Hukum Pelaporan Morbiditas


UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
UU No. 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit
UU No 17 Tahun 1999 Tentang Ibadah Haji
Kepmenkes No 1116 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans

Epidemiologi Kesehatan.
e. Kepmenkes No 1479 Tahun 2003 Tentang STP.
Telaah Laporan Morbiditas
Beberapa pertanyaan dasar untuk dasar keputusan untuk melakukan penyelidikan
epidemiologi
1. Apakah Surveilans atau tujuan pemberantasan penyakit mengharuskan
penyelidikan/tidak?
2. Apakah infeksi bersifat luar biasa dari segi waktu dan tempat kejadian atau jumlah
karakteristik dari orang orang yang beresiko?
3. Kecurigaan adanya suatu penularan Common Source pada dua atau lebih kasus
penyakit.
4. Apakah Penyakitnya berat pada orang orang golongan resiko tinggi?
5. Apakah pengetahuan yang diperoleh dari penyelidikan membantu pemahaman yang
lebih baik terhadap suatu penyakit?
6. Adakah cara cara pencegahan atau pemberantasan penyakit tersebut?

Analisis Laporan Morbiditas


Analisa data ini untuk membandingkan data dengan suatu nilai yang normal, mencari
perbedaan, dan menilai makna perbedaan tersebut.
Metode Metode Surveilans
1. Sistem Pelaporan Rutin
Pada laporan ini data didasarkan pada kontak langsung dengan individu yang sakit,
bahkan meninggal, dan dalam beberapa kasus informasi merupakan perpanjangan
tangan dari suatu hubungan.
2. Sistem Pelaporan Sentinel
Sistem pelaporan sentinel digunakan untuk melaporkan kasus penyakit dan kematian
yang terlihat dan diagnosa dari fasilitas yang dimiliki unit pelayanan.
3. Survei dan Studi studi khusus
Survei dapat di gunakan untuk berbagai hal seperti untuk memberikan perkiraan
tentang kejadian atau prevalensi dari suatu penyakit, dapat juga digunakan untuk
memperkirakan mortality rate. Juga bisa digunakan untuk mengevaluasi reliabilitas
dari sistem pelaporan rutin, dan sebagai suatu metode yang lebih akurat dan praktis
untuk mengukur pola penyakit yang ada pada fasilitas fasilitas kesehatan serta
hendaknya diulang secara periodik guna mengembangkan data trend.
4. Investivigasi kasus/Wabah
Ditujukan untuk mengidentifikasi penyebab dari suatu kematian atau penyakit.
5. Sistem Registrasi Vital
6. Sensus
Desain Sistem Surveilans
Ruang Lingkup
Meliputi masalah morbiditas, mortalitas, gizi, demografi, pelayanan kesehatan,
kesehatan, dan keselamatan kerja, kesehatan lingkungan, serta beberapa faktor resiko
yang terjadi pada individu, keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Menurut tempat dibagi 2 yaitu:
1. Surveilans epidemiologi dalam masyarakat
2. Surveilans epidemiologi di rumah sakit
Kegiatan Surveilans Epidemiologi
1. Pangumpulan data

Data yang dikumpulkan adalah data epidemiologi yang jelas dan tepat dan ada
hubungan dengan penyakit yang bersangkutan
2. Pengolahan, Analisis, interpretasi
Pengolahan data dimaksudkan untuk menyiapkan data agar mudah dalam melakukan
analisa data, analisa data di tujukan untuk melihat variabel variabel yang
menggambarkan suatu permasalahan dan faktor faktor yang mempengaruhinya.
3. Penyebarluasan (Diseminasi) Informasi
Agar data yang sudah terkumpul dapat memberikan informasi yang dapat di mengerti
dan bisa digunakan dalam menentukan arah kebijakan, serta upaya pengendalian dan
evaluasi yang baik.
4. Pentingnya umpan balik dalam surveilans
Dan yang tidak kalah penting adalah feed back dari data yang telah di interpretasikan
agar dapat mengetahui sejauh mana data yang ada sdh dimengerti atau belum
Langkah Desain Sistem Surveilans
1. Tentukan Tujuan
Tujuannya adalah untuk menjawab pertanyaan apa yang ingin diketahui dan
hendaknya harus SMART ( Spesifik, Measureable, Action oriented, Realistic, Time
frame)
2. Definisi kasus
Harus terdiri dari kasus klinis dan memiliki tingkatan
3. Menentukan Sumber data atau mekanisme pengumpulan data
Menentukan indikator yang diperlukan di sesuaikan dengan tujuan surveilans yang
diharapkan.
4. Membuat instrumen pengumpulan data
5. Uji lapangan
Uji lapangan di gunakan untuk melihat feasibility dan accetability, hasil uji lapangan
dapat memperlihatkan bagaimana suatu informasi bisa didapat kan dan bisa
mendeteksi kesulitan prosedur pengumpulan data
6. Mengembangkan metode analisis
7. Mengembangkan mekanisme diseminasi
Langkah langkah Merancang Surveilans
1. Spesifikasi tujuan surveilans

Tujuan Spesifikasi, Untuk memperkirakan kebutuhan, Mengidentifikasi Faktor


faktor resiko, Identifikasi Wabah, Identifikasi wabah, mengamati trend, mengevaluasi
dampak, dan menjelaskan pemyebab- penyebab.
2. Definisikan data surveilans untuk di kumpulkan
Langkah ini membimbing anda dalam melalui suatu serial dari sub langkah menuju
tujuan dimana data akan dikumpulkan oleh sistem anda, seberapa sering, dari sumber
mana dan menggunakan prosedur yang mana.
3. Seleksi metode surveilans
Pada langkah ini dilakukan seleksi terhadap prosedur pengumpulan data untuk tiap
tiap indikator, yang artinya akan diputuskan apakah mengumpulkan data dari
pelaporan rutin, menyusun suatu sistem sentinel atau melakukan sesuatu survei
khusus untuk mengumpulkan data.
4. Kembangkan prosedur pengumpulan data
5. Kumpulkan dan tabulasikan data
6. Analisa data
Melakukan analisa data sebaiknya dilakukan pada setiap tingkatan sistem surveilans,
data surveilans bisa di sampaikan dalam beberapa bentuk sebelum di analisa yaitu :
-

Tabel ringkasan
Dalam tabel ringkasan dapat berisi penyebara presentase dan sebagian menyertakan
angka angka rata -rata.

Grafik peyakit
Peta
Dengan Peta akan memudahkan pemantauan penyebaran kasus secara geografis
sehingga mudah dalam mengidentifikasi lokasi kasus. Juga dapat berguna untuk
administrasi tingkat tinggi seperti menunjukkan jumlah kasus malaria pada tiap tiap
desa, kota atahu kabupapaten

Perhitungan Rate dan rasio


Perhitungan rate dan rasio sebaiknya dilakukan pada populasi yang besar untuk
menghasilkan gambaran masalah kesehatan dari ppopulasi yang akurat.

Analisis
Kegunaan analisis untuk mengidentifikasi pola penyakit, indentifikasi penyebab
penyakit, spike ( Peningkatan/penurunan yang tajam dalam jumlah kasus), cluster
(Pengelompokan kasus menurut periode, area dan kelompok umur), Trend Penyakit,
dan variasi sistematis

7. Pengambilan tindakan
Dari data yang telah dianalisa dapat diambil beberapa petunjuk dan kemungkinan
dalam pemecahan masalah, dimana petunjuk penting tersebut adalah
-

Apa tindakan yang akan diambil ( sebaiknya spesifik sesuai kasusu yang ada)
Siapa orang orang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tindakan
Kapan tindakan tersebut dilaksanakan

8. Persiapkan dan sajikan laporan


Kebanyakan sistem surveilans pada tingkat pusat, namun dalam penyusunannya juga
dibutuhkan laporan dari setiap unit yang ada di desa, kota kabupaten hingga provinsi
untuk dianalisis dan di interpretasikan. Yang kemudian diolah pusat dan dikirimkan
kembali untuk dipergunakan di kabupaten, kota hingga provinsi.
Penyelidikan Epidemiologi di lapangan
Konfirmasi/Menegakkan diagnosis
Tegakkan diagnosis dengan menganalisa gejala dan tanda klinik dari penderita
penyakit
Menentukan Apakah peristiwa itu suatu letusan?wabah atau bukan
Membandingkan beberapa informasi yang telah didapat tentang penderita lalu
dibandingkan dengan definisi yang telah ditentukan karena Outbreak atau Epidemi.
Rumusan suatu Hipotesis Sementara
Hipotesis sementara (Teori sementara) dirumuskan dengan tujuan menerangkan
hubungan distribusi faktor faktor penyakit yang didapatkan dengan situasi tempat
lingkungan yang terjadi selama masa penularan dalam hubungan kausal yang sering
terjadi secara langsung.
Rencana Penyelidikan Epidemiologi yang lebih Detail
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, juga ditambahkan data tambahan
yang masih diperlukan dari sumber informasi yang telah tersedia untuk menguji
kebenaran hipotesis yang telah di formulasikan
Analisis dan interpretasi data
Lakukan pemeriksaan data hasil penyelidikan di lapangan, kemudian analisa
dan interpretasikan yang telah dikumpulkan, dan juga terapkan uji statistik pada data
serta interpretasi data secara kesulurahan
Tes Hipotesis dan rumuskan kesimpulan
Dari hasil analisa lakukan tes hipotesis yang telah dibuat lalu pilih satu atau dua
hipotesis yang mendekati kebenaran atau menolak kebenaran dan harus sesuai dengan

sifat penyebab penyakit, sumber infeksi, cara penularan, dan faktor lain yang mungkin
memegang peranan dengan terjadinya out break/epidemi
Lakukan Tindakan Penanggulangan
Tentukan cara dan langkah penanggulangan yang paling efektif didasarkan atas
realita yang ada dan diketahui, serta gunakan informasi yang telah dikumpulkan
selama penyelidikan.
Buatlah Laporan lengkap Tentang penyelidikan epidemiologi tersebut
Buat laporan secara tertulis mengenai penyelidikan epidemiologi yang telah
dilakukan serta penemuan penemuan yang telah didapatkan.
Sumber sumber data surveilans
1. Data Kematian
2. Data Petugas Kesehatan
3. Data Kesakitan
4. Data Laboratorium
5. Data rumah sakit
6. Data perawatan Kesehatan Pasien yang sudah sembuh
7. Topik Khusus
8. Survei Kesehatan dan populasi
Sistem Surveilans untuk indikator Penyakit
1.
2.
3.
4.

Populasi Hewan
Data lingkungan
Obat/Penggunaan Biologi
Data Siswa dan pekerja
Sumber informasi kesehatan
Sumber informasi kesehatan dapat terdiri dari satu program atau juag berupa
masalah masalah kesehatan komunitas, atau informasi data perawatan kesehatan.
Kegiatan Surveilans Khusus

1. Populasi Manusia
Untuk mengetahui kerentanan populasi terhadap penyakit baik yang dapat dicegah
dengan vaksin dan mengetahui adanya suatu infeksi termasuk infeksi tersembunyi.
2. Populasi Hewan
Untuk mengetahui morbiditas dan mortalitas karena penyakit yang dapat ditularkan
dari hewan ke manusia, penyebab penyakit pada hewan baik peliharaan atau liar, serta
peningkatan dan penurunan besarnya populasi hewab sumber penularan dan vektor.
3. Faktor Lingkungan

Untuk mengetahui pencemaran air minum umum, susu, dan bahan makanan, juga
pada kondisi alam yang memungkinkan menyebarnya atau terpeliharanya hewan yang
mungkin menjadi sumber atau vektor penyakit
Laporan Surveilans Dinas Kesehatan
Laporan digunakan sebagai media informasi pada masyarakat tentang informasi
informasi tentang pencegahan penyakit dan diagnosa penyakit tertentu, dan ringkasan
penyelidikan epidemiologi yang sedang berjalan atau baru selesai
Pedoman Evaluasi Sistem Surveilans
Garis Besar Kegiatan Evaluasi Sistem Surveilans
a.

Uraikan Kepentingan kesehatan masyarakat dari peristiwa kesehatan yang dimaksud

b. Uraikan sistem yang dievaluasi


c.

Tunjukkan tingkat kegunaan dengan menguraikan kegiatan yang dapat dilakukan dari
hasil sistem surveilans

d. Evaluasi sistem menurut sifat Kesederhanaan, Flesibelitas, Kemudahan diterima,


sensitivitas, Nilai prediksi positif, Ketersediaan, dan Ketepatan Waktu.
Pelaksanaan Evaluasi Sistem
A. Kepentingan Kesehatan Masyarakat
B. Penjelasan Sistem
C. Kegunaan
D. Sifat sifat dari sistem
Indikator Kesehatan dan Surveilans
Indikator Umum
1. Angka Pertumbuhan Penduduk
2. Kepadatan Penduduk
3. Persentasi Penduduk Perkotaan
4. Angka Kelahiran kasar
5. Angka Kelahiran Menurut Umur
6. Angka Kelahiran Total
7. Angka Buta Huruf
8. Rasio Beban Tanggungan
9. Kepadatan Penghuni Rumah
10. Angka Melek Huruf Wanita
11. Presentase Rumah Sehat
Indikator Kesehatan

Infant Maternal Mortality Rate


Neonatal Mortality Rate
Postneonatal Mortality Rate
Indikator Penilaian Baseline Surveilans

1. Indikator Kuantitatif
-

Sumber daya surveilans


Sumber daya manusia
Jumlah alokasi biaya yang disiapkan
Komponen surveilans
Investivigasi KLB
Kewaspadaan Dini
Ketanggapan
Pelaporan
Monitoring dan evaluasi
Diseminasi Informasi
Jejaring
Ouput dan Kinerja

2. Indikator Kualitatif
-

Sumber daya
Pengumpulan dan Kompilasi data
Analisa dan Interpretasi
Investasi KLB
Kewaspadaan Dini
Ketanggapan
Pelaporan
Monitoring dan Evaluasi
Diseminasi dan Umpan Balik
Jejaring
Output dan Kinerja

BAB

PENDAHULUAN
1. Pengantar.
Surveilans merupakan salah satu unsur penting didalam program pencegahan
penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Informasi dari hasil
surveilans dapat dipakai sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam penyusunan
perencanaan pencegahan, penanggulangan dan pemberantasan penyakit, upaya
penerapan (implementation) serta evaluasi tindakan (intervensi) program kesehatan
masyarakat. Selanjutnya data surveilans juga dapat dipakai pada beberapa
kepentingan misalnya dalam penentuan perioritas kegiatan kesehatan masyarakat
maupun untuk menilai efektifitas kegiatan.
Dengan berjalannya waktu serta meningkatnya pengetahuan manusia di berbagai
bidang, termasuk pengetahuan di bidang epidemiologi sebagai sains, yang didasarkan
atas pengamatan terhadap fenomena penyakit dalam masyarakat, beranggapan bahwa
keadaan tersebut merupakan suatu fenomena yang terjadi secara teratur (ordered
phenomena) dan bukan sebagai suatu kejadian yang berkaitan dengan kekuatan gaib.
Sesudah perang Dunia II, ilmu kesehatan pada umumnya dan bidang epidemiologi
khususnya, berkembang dengan pesat. Banyak negara telah dibebaskan dari penyakit-

penyakit menular berbahaya sebagai hasil dari kemajuan tersebut. Pada program
pemberantasan penyakit-penyakit menular mutlak diperlukan data penyakit untuk
dipakai sebagai dasar perencanaan program. Untuk menilai (evaluation) keberhasilan
program, dapat dilakukan dengan cara mengukur dampaknya terhadap penyakitpenyakit yang masuk dalam program pemberantasan. Data yang diperlukan tidak
terbatas pada data tentang penderita saja akan tetapi kita juga harus mengumpulkan
keterangan-keterangan tentang tempat dan waktu kejadian dan faktor-faktor lain yang
berhubungan dengan penyakit itu sendiri. Selanjutnya bila kita telah mengenal
penyakit tersebut maka dapat dibuat suatu perencanaan tindakan yang paling efisien
dan efektif.
Untuk memenuhi kebutuhan data epidemiologi maka kegiatan surveilans sebagai
unsur penunjang mutlak perlu didalam pengumpulan data tentang data penderita,
penyebab, lingkungan serta semua faktor yang berperan dalam desease causation.
Dengan demikian kegiatan pengamatan ini sekarang dinamakan surveilans
epidemiologi.

SURVEILANS KESEHATAN MASYARAKAT


Posted: Februari 28, 2011 in Bahan Kuliahku
Kaitkata:Dasar Surveilans Kesehatan masyarakat, EPIDEMIOLOGI

Surveilans Kesehatan Masyarakat dapat didefinisikan sebagai upaya rutin dalam


pengumpulan, analisis dan diseminasi data yang relevan yang diperlukan untuk
mengatasi masalah-masalah kesehatan masyarakat. Sedangkan Epidemiologi
didefinisikan sebagai studi sistematis yang dilakukan untuk mempelajari fakta-fakta
yang berperan atau mempengaruhi kejadian dan perjalanan suatu penyakit atau
kondisi tertentu yang menimpa masyarakat. Oleh karena itu untuk memberantas suatu
penyakit menular diperlukan pengetahuan tentang Epidemiologi penyakti tersebut
serta tersedianya data surveilans yang dapat dipercaya yan berkaitan dengan kejadian
penyakit tersebut.
Pelaporan Penyakit Menular hanya salah satu bagian saja namun yang paling penting
dari suatu system surveilans kesehatan masyarakat. Bertambahnya jumlah penduduk
dan overcrowding mempercepat terjadinya penularan penyakit dari orang ke orang.
Faktor pertumbuhan dan mobilitas penduduk ini juga memperngaruhi perubahan
gambaran Epidemiologis serta virulensi dari penyakit menular tertentu.

Perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah baru yang mempunyai ekologi
lain membawa konsekuensi orang-orang yang pindah tersebut mengalami kontak
dengan agen penyakit tertentu yang dapat menimbulkan masalah penyakit baru.
Apapun jenis penyakitnya, apakah dia penyakit yang sangat prevalens di suatu
wilayah ataukah penyakit yang baru muncul ataupun penyakit yang digunakan dalam
bioteririsme, yang paliang penting dalam upaya pencegahan dan pemberantasan
adalah mengenal dan mengidentifikasinnya sedini mungkin.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka system surveilans yang tertata rapi sangat
diperlukan. CDC Atlanta telah mengembangkan rencana strategis untuk mengatasi
masalah-masalah yang muncul termasuk mengembangkan jaringan susrveilans
sentinel, pengembangan pusat-pusat surveilans berbasis masyarakat dan berbagai
proyek yang melengkapi kegiatan surveilans. Sebagai tambahan, Journal baru yang
berjudul Emerging Infectious Diseases telah diterbitkan. CDC dengan WHO telah
pula melakukan kerjasama tukar menukar informasi melalui media elektronika sejak
tahun 1990 an.
Bagaimanapun juga deteksi dini terhadap suatu kejadian penyakit menular sangat
tergantung kepada kejelian para petugas kesehatan yang berada di ujung tombak
untuk mengenali kejadian kesehatan yang tidak biasa secara dini.
Dokter atau tenaga kesehatan yang menemukan yang aneh di lapangan punya
kewajiban untuk melaporkan kepada otoritas kesehatan yang lebih tinggi agar dapat
dilakukan tindakan yang semestinya.
Sistem pelaporan pasif punya kelemahan karena sering tidak lengkap dan tidak akurat
terutama untuk penyakit-penyakit yang prevalen. Sistem pelaporan pasif ini perlu
didorong setiap saat agar bias didapatkan laporan yang lebih lengkap dan tepat waktu
teurtama untuk penyakit-penyakit menular yang mempunyai dampak kesehatan
masyarakat yang luas termasuk penyakit-penyakit yang mungkin dipakai untuk
melakukan bioterorisme. Dengan segala kelemahan yang dimilikinya system
pelaporan menular tetap merupakan garis terdepan dari Sistem Kewaspadaan Dini kita
dalam upaya mencegah dan memberantas penyakit menular. Oleh karena itu setiap
petugas kesehatan tahu dan sadar akan pentingnya melaporkan kejadian penyakit
menular, cara-cara pelaporan dan manfat dari pelaporan ini.

Konsep Dasar Surveilans Epidemiologi

Dalam disiplin Ilmu Epidemiologi, dikenal sebuah metode Surveilans


Epidemiologi yaitu sebuah rangkaian kegiatan mengumpulkan berbagai
data atau informasi dari kejadian penyakit secara teratur dan terus

menerus untuk menentukan beberapa tindakan yang diambil oleh petugas


/ pengambil kebijakan dalam kesehatan.
Definisi dari Surveilans Epidemiologi itu sendiri beragam, namun intinya
adalah sama.
Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data secara terus menerus serta penyebaran informasi pada
unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. (WHO)
Surveilans epidemiologi adalah pengumpulan dan pengamatan secara
sistematik berkesinambungan, analisa dan interprestasi data kesehatan
dalam proses menjelaskan dan memonitoring kesehatan dengan kata lain
surveilans epidemiologi merupakan kegiatan pengamatan secara teratur
dan terus menerus terhadap semua aspek kejadian penyakit dan kematian
akibat penyakit tertentu, baik keadaan maupun penyebarannya dalam
suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan
penanggulangan. (Noor,1997).
Surveilans epidemiologi adalah pengamatan yang terus menerus atas
distribusi, dan kecenderungan suatu penyakit melalui pengumpulan data
yang sistematis agar dapat ditentukan penanggulangannya yang secepatcepatnya (Gunawan, 2000).

Jenis Surveilans Epidemiologi


Penerapan metode surveilans epidemiologi, tentu disesuaikan dengan
kajian atau dasar kejadian yang memerlukan kegiatan surveilans itu
sendiri. Sedikitnya ada 6 jenis surveilans dalam epidemiologi yang sering
digunakan, diantaranya sebagai berikut:
Surveilans Individu (individual surveillance) yaitu jenis surveilans
epidemiologi yang mendeteksi dan memonitor individu individu yang
mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar,
tuberkulosis, tifus, demam kuning, sifilis. Surveilans individu
memungkinkan dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak,
sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan.
Surveilans Penyakit (disease surveillance) yaitu jenis surveilans
epidemiologi yang melakukan pengawasan terus-menerus terhadap
distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan
sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan
kematian, serta data relevan lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans
penyakit adalah penyakit, bukan individu.
Surveilans Sindromik (syndromic /multiple disease surveillance) yaitu
kegiatan yang melakukan pengawasan terus-menerus terhadap sindroma

(kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit. Surveilans


sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual
maupun populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis.
Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti
pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat
ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium
tentang suatu penyakit.
Surveilans Laboratorium, jenis surveilans berbasis laboratorium
digunakan untuk mendeteksi dan memonitor penyakit infeksi. Sebagai
contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti
salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi
strain bakteri tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan
lebih segera dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan pelaporan
sindroma dari klinik-klinik.
Surveilans Terpadu (integrated surveillance) yaitu menata dan
memadukan semua kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi
(negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah pelayanan publik
bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan
personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang
diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan
surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data
khusus penyakit-penyakit tertentu.
Surveilans Global, yang terakhir adalah surveilans yang dilakukan
secara serempak di seluruh dunia, yang manyatukan para praktisi
kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi internasional untuk
memperhatikan kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi batasbatas negara. Kegiatannya ditujukan untuk mengawasi ancaman aneka
penyakit menular yang menyebar pada skala global, baik penyakitpenyakit lama yang muncul kembali (re-emerging diseases), maupun
penyakit-penyakit yang baru muncul (newemerging diseases), seperti
HIV/AIDS, flu burung, dan SARS

Kegiatan Pokok Surveilans Epidemiologi


Ada 5 komponen utama dari kegiatan Surveilans Epidemiologi
1. Pengumpulan/pencatatan kejadian (data) yang dapat dipercaya.
2. Pengelola data untuk dapat memberikan keterangan yang berarti.
3. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan.

4. Perencanaan penanggulangan khusus dan program


pelaksanaannya.
5. Evaluasi/penilaian hasil kegiatan.
Pengumpulan Data: Pencatatan insidensi berdasarkan laporan rumah
sakit, puskesmas, dan sarana pelayanan kesehatan lain, laporan petugas
surveilans di lapangan, laporan masyarakat, dan petugas kesehatan lain;
Survei khusus; dan pencatatan jumlah populasi berisiko terhadap penyakit
yang sedang diamati. Tehnik pengumpulan data dapat dilakukan dengan
wawancara dan pemeriksaan. Tujuan pengumpulan data adalah
menentukan kelompok high risk; Menentukan jenis dan karakteristik
(penyebabnya); Menentukan reservoir; Transmisi; Pencatatan kejadian
penyakit; dan KLB.
Pengelolaan Data: Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk
data mentah (row data) yang masih perlu disusun sedemikian rupa
sehingga mudah dianalisis. Data yang terkumpul dapat diolah dalam
bentuk tabel, bentuk grafik maupun bentuk peta atau bentuk lainnya.
Kompilasi data tersebut harus dapat memberikan keterangan yang berarti.
Analisis dan Interpretasi Data: Data yang telah disusun dan
dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan dilakukan interpretasi untuk
memberikan arti dan memberikan kejelasan tentang situasi yang ada
dalam masyarakat.
Distribusi Data: Setelah analisis dan interpretasi data serta telah
memiliki keterangan yang cukup jelas dan sudah disimpulkan dalam suatu
kesimpulan, selanjutnya dapat disebarluaskan kepada semua pihak yang
berkepentingan, agar informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai mana
mestinya.
Evaluasi: Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya
dapat digunakan untuk perencanaan, penanggulangan khusus serta
program pelaksanaannya, untuk kegiatan tindak lanjut (follow up), untuk
melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan program dan pelaksanaan
program, serta untuk kepentingan evaluasi maupun penilaian hasil
kegiatan.

Tujuan dari Surveilans Epidemiologi

Untuk memantau kecenderungan penyakit

Untuk deteksi dan prediksi terjadinya KLB (Kejadian Luar Biasa) dari
sebuah penyakit

Memantau kemajuan suatu program pemberantasan

Menyediakan informasi untuk perencanaan pembangunan


pelayanan kesehatan

Memperkirakan besarnya suatu kesakitan atau kematian yang


berhubungan dengan masalah yang sedang diamati.

Bisa digunakan sebagai dasar penelitian untuk menentukan suatu


tindakan penanggulangan atau pencegahan penyakit

Mengidentifikasikan faktor resiko yang berhubungan dengan


kejadian suatu penyakit

Memungkinkan seseorang untuk melakukan penilaian terhadap


tindakan penanggulangan

Mengawali upaya untuk meningkatkan tindakan-tindakan praktek


klinis oleh petugas kesehatan yang terlibat dalam sistim surveilans.

Pembuatan policy dan kebijakan pemberantasan penyakit

Dalam menjalankan kegiatan surveilans epidemiologi, diperlukan


keterpaduan satu sama lain, untuk itu ditetapkan sebuah atribut /
pedoman dalam pelaksanaannya. Sebuah kegiatan surveilans
epidemiologi hendaknya mengikuti beberapa kriteria seperti sederhana,
fleksibel, bisa diterima (acceptability), sensitif (sesuai dengan laporan
kasus, proporsi dari masalah kesehatan), benar dan tepat waktu.