Anda di halaman 1dari 63

Nephrolithiasis

Dicha Oseanni Andriswari

Identitas Pasien
Nama

: Ny. A

Umur

: 33 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Palimanan Barat

Masuk RS

: 15 Januari 2015

Status

: Menikah

pernikahan
Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Anamnesis (Autoanamnesis)
Keluhan utama:
Air seni berdarah sejak satu hari
SMRS.
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang ke IGD RSUD
Arjawinangun dengan keluhan air
seni berdarah sejak satu hari SMRS.
Keluhan disertai dengan nyeri yang
hilang timbul di daerah pinggang
sejak dua hari SMRS.

Pasien juga mengeluhkan adanya


demam
dan
mual.
Pasien
menyangkal adanya nyeri saat
maupun usai berkemih, nyeri
perut, buang air kecil berpasir,
keluar batu usai berkemih, trauma
pada perut. Pasien tidak sedang
dalam mengonsumsi obat-obatan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengaku tidak pernah
mengalami keluhan seperti ini
sebelumnya. Tidak ada riwayat
penyakit batu saluran kemih,
ginjal, asam urat, kolesterol.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat keluarga yang
mengalami
keluhan
seperti
pasien.
Tidak
ada
riwayat
penyakit batu saluran kemih,

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum:
1. Kesan Umum
: Sedang
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Tanda Utama
:
Frekuensi nadi : 112 x/menit, reguler.
Frekuensi napas : 24 x/ menit
Suhu
: 380 Celsius
Tekanan darah : 110/70mmHg
Pemeriksaan Khusus
Kepala
Bentuk : Normochepal
Posisi : Simetris

Mata
Exophthalmus : Tidak ada
Enopthalmus
: Tidak ada
Edema kelopak : Tidak ada
Konjungtiva Pucat
:+
Sklera ikterik
:

Paru-paru:
Kanan

Kiri

Kiri

Pergerakan

Pergerakan

simetris

simetris

Fremitus

Fremitus

normal

normal

Perkusi

Sonor

Sonor

Auskultasi

Vesikular,

Vesikular,

Belakang :

Depan :
Inspeksi

Kanan

Inspeksi

Pergerakan

Pergerakan

simetris

simetris

Fremitus

Fremitus

normal

normal

Perkusi

Sonor

Sonor

Auskultasi

Vesikular,

Vesikular,

ronki basah

ronki basah

ronki

ronki

kasar

kasar

Palpasi

(-),

mengi (-)

(-),

mengi (-)

Palpasi

mengi (-)

(-),

mengi (-)

(-),

Jantung
Inspeksi:
Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi:
Iktus cordis teraba di 1 cm medial ICS 5 linea
midclavicula sinistra
Perkusi:
Batas jantung kanan di ICS 4 linea sternalis dextra
Batas jantung kiri di ICS 4 linea midclavikula
sinistra Batas pinggang jantung di ICS 2 linea
parasternalis sinistra
Auskultasi:
Bunyi jantung I-II regular, gallop (-) murmur (-)

Abdomen
Inspeksi : Datar
Auskultasi : Bising usus (+)
Perkusi : Timpani pada seluruh
kuadran
Palpasi : Nyeri tekan ulu hati (+),
hepatomegali (-),
permukaan rata,
nyeri tekan (-),
splenomegali (-).
Ekstremitas
Akral hangat pada ekstremitas atas

Status Urologis:
Status lokalis ad regio flank:
CVA: -/+
Massa: -/Nyeri tekan: -/+
Status lokalis ad regio supra pubik:
Inspeksi: tidak terlihat massa
Palpasi : tidak teraba kandung
kemih, NT (-)

Status lokalis ad regio genitalia


eksterna:
Inspeksi: tak tampak kelainan
Palpasi: tak terba kelainan
Rectal toucher:
Tonus sphincter ani baik, ampula
rekti tidak kolaps, mukosa rektum
licin, nyeri (-)
Handscoon: feses (-), darah (-),

Ringkasan Data Dasar


Seorang wanita berusia 33 thn
datang ke IGD dengan keluhan air
seni berdarah sejak 1 hari SMRS.
Terdapat keluhan tambahan mual,
nyeri pinggang yang hilang timbul,
dan demam. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan
takikardi,
febris,
konjungtiva pucat, dan nyeri ketok
CVA sinistra.

Diagnosis banding:
Hematuria ec susp.
nephrolithiasis sinistra
Pyelonephritis
Diagnosis kerja:
Hematuria ec susp.
nephrolithiasis sinistra

Rencana Pengelolaan
Rencana pemeriksaan:
- Cek lab:
- Hb
- Leukosit
- Ureum
- Kreatinin
- Kalsium
- Asam urat
- Urinalisis
- Foto polos abdomen

Data Laboratorium
Leukosit: 57.52 10e3/uL
Hb: 8.1 mg/dL

Hasil USG
Pyonephrosis
sinistra
dengan
nephrolithiasis sinistra
Bayanga hiperekoik dengan fluid
level di bawah vesica urinaria ec
blood clot
Efusi pleura sinistra
Intra abdominal fluid collection di
cavum douglasi post ovulasi

Tatalaksana konservatif
- Non medikamentosa:
Konsul spesialis bedah
- Medikamentosa:
IVFD RL 20 tpm
Transfusi PRC 3 x 150 cc
Ranitidin 2 x 1 ampul
Ondancetron 3 x 1 ampul
Ketorolac 3 x 1 ampul
Cefazoline 3 x 1 ampul
Paracetamol 3 x 500 tab
Tatalaksana operatif
Nefrolitektomi sinistra

Prognosis
Quo ad vitam: ad bonam
Quo ad functionam: dubia ad
bonam

Tinjauan Pustaka

GINJAL

ANATOMI GINJAL
Ginjal terletak di rongga retroperitonium
dan terlindung oleh otot-otot punggung di
sebelah posterior dan oleh organ-organ
intraperitoneal di sebelah anteriornya.
Ginjal berwarna cokelat kemerahan dan
terletak di belakang peritoneum, setinggi
dinding posterior abdomen di samping
kanan dan kiri columna vertebralis, dan
sebagian besar tertutup oleh arcus costalis.

Ginjal
kanan
terletak sedikit
lebih
rendah
dibandingkan
ginjal
kiri,
karena adanya
lobus
hepatis
dextra
yang
besar.

Ginjal mempunyai selubung


sebagai berikut :
- Capsula fibrosa
- Capsula adiposa : meliputi
capsula fibrosa
- Fascia renalis
- Corpus
adiposum
pararenale,
membentuk
sebagian
lemak
retroperitoneal
Capsula
adiposa,
fascia
renalis,
dan
corpus
adiposum
pararenale
menyokong dan memfiksasi
ginjal pada posisinya di
dinding posterior abdomen.

Struktur ginjal :
1.Cortex renalis
2.Medulla renalis.
Sinus renalis merupakan ruangan di dalam
Ahillum renalis, berisi pelebaran ke atas
ureter, yang disebut pelvis renalis. Pelvis
renalis terbagi menjadi dua atau tiga calyx
renalis major yang masing-masing akan
bercabang manjadi dua atau tiga calices
renalis
minores.
Setiap
calyx
minor
diinvaginasi oleh apex piramida renalis yang
disebut papilla renalis.

Arteri PERDARAHAN
GINJAL
renalis berasal dari
aorta setinggi
vertebra lumbalis II.

Arteri segmentalis arteri


lobarisarteri interlobaris
CortexArteri arcuata di antara
piramida renalisarteri interlobularis
Arteriol aferen glomerulus.
Vena renalis keluar dari hilum renalis di
depan arteri renalis dan mengalirkan darah
ke vena cava inferior.

berada di
pangkal
renalis.

sekitar
arteri

Persarafan
Dipersarafi
oleh
serabut
plexus
renalis.
Serabutserabut aferen yang
berjalan
melalui
plexus
renalis
masuk ke medulla
spinalis
melalui
nervi thoracici 10,
11 dan 12.

FISIOLOGI GINJAL
Kedua
ginjal
berfungsi
mensekresikan
sebagian
besar
produk sisa metabolisme. Ginjal
mempunyai peran penting mengatur
keseimbangan air dan elektrolit di
dalam tubuh dan mempertahankan
keseimbangan asam-basa darah.
Produk sisa meninggalkan ginjal
sebagai urin yang mengalir ke bawah
di dalam ureter menuju ke vesica
urinaria (kandung kemih) yang

NEFROLITHIASIS
DEFINISI
Suatu penyakit dengan gejala ditemukannya
satu atau beberapa massa keras seperti
batu yang terdapat di dalam tubuli ginjal,
kaliks, infundibulum, pelvis ginjal, serta
seluruh kaliks ginjal.

ETIOLOGI
Ada 2 faktor :
Gangguan aliran
urine
Gangguan
metabolik
Infeksi sal. kemih
Dehidrasi

Intrinsik
herediter, umur,
jenis kelamin
Ekstrinsik
geografi, iklim dan
temperatur,
asupan air, diet,
pekerjaan

Pembentukan batu
dipengaruhi :
suhu
pH larutan
koloid dalam urine
konsentrasi solut
dalam urine
laju aliran urine
dalam sal. kemih
korpus alienum

Komposisi batu :
kalsium oksalat
kalsium fosfat
asam urat
magnesium
amonium-fosfat
batu infeksi
xanthyn
sistein

Teori Terbentuknya
Batu Saluran Kemih
Teori Nukleasi: Batu terbentuk di dalam
urine karena adanya inti batu sabuk batu
(nukleus).
Teori Matriks: Matriks organik terdiri
atas serum/protein urine (albumin,
globulin dan mukoprotein) merupakan
kerangka tempat diendapkannya kristalkristal batu.
Penghambat kristalisasi: Urine orang

KLASIFIKASI BATU SALURAN KEMIH

Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak
menyebabkan BSK yaitu sekitar 70%-80% dari
seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang di
jumpai dalam bentuk murni atau juga bisa
dalam bentuk campuran, misalnya dengan
batu kalsium oksalat, batu kalsium fosfat atau
campuran dari kedua unsur tersebut.

Batu asam urat


Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan
komposisi asam urat. Pasien biasanya berusia >
60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh
asam urat.
Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi
protein mempunyai peluang lebih besar
menderita penyakit BSK

Batu Struvit (magnesium-amonium fosfat)


Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena
terbentuknya batu ini disebabkan oleh adanya
infeksi saluran kemih.
Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan
kuman pemecah urea atau urea splitter yang
dapat
menghasilkan
enzim
urease
dan
merubah urine menjadi bersuasana basa
melalui hidrolisis urea menjadi amoniak

Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan,
disebabkan karena gangguan ginjal. Merupakan
batu yang paling jarang dijumpai dengan
frekuensi kejadian 1-2%.

DIAGNOSIS
ANAMNESIS
Keluhan yang bervariasi mulai
dari
tanpa
keluhan,
sakit
pinggang ringan sampai dengan
kolik,
disuria,
hematuria,
retensio urin, anuria. Keluhan ini
dapat disertai dengan penyulit
berupa demam, tanda-tanda
gagal ginjal.

GEJALA KLINIS
Rasa nyeri tergantung lokasi
Demam
Infeksi
Hematuria dan kristaluria
Mual dan Muntah

NEFROLITIASIS
Tidak ada gejala atau
tanda
Nyeri pinggang, sisi
kostovertebral
Hematuria
makroskopik/
mikroskopik
Pielonefrtitis dan/ atau
sistitis
Pernah mengeluarkan
batu saat miksi
Nyeri tekan
kostovertebral
Tampak batu pada

URETEROLITIASIS
Kolik:
- Serangan nyeri
- Mual muntah
- Gelisah
Nyeri alih ke regio
inguinal
Ileus paralitik
Hematuria
Tampak batu pada
pemeriksaan radiologi

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik umum: hipertensi,
febris, anemia.
Pemeriksan fisik khusus urologi
- Sudut kosto vertebra: nyeri tekan,
nyeri ketok, pembesaran ginjal
- Supra simfisis : nyeri tekan, teraba
batu, buli-buli penuh
- Genitalia eksterna : teraba batu di
uretra
- Colok dubur : teraba batu pada bulibuli (palpasi bimanual)

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium :
Darah lengkap (mild leukocytosis, WBC
> 15.000/uL infeksi ginjal/ sistemik)
Sedimen
urine
:
leukosituria,
hematuria, kristal pembentuk batu
Foto polos abdomen:
Batu radio-opak di saluran kemih

Batu di
ginjal

Batu di
ureter

Pielografi Intra Vena (PIV) :


- Anatomi dan fungsi ginjal
- Deteksi batu semi-opak atau nonopak
Ultrasonografi :
- Pasien tidak mungkin menjalani
pemeriksaan PI
- Deteksi batu di ginjal / buli-buli,
hidronefrosis,
- Pionefrosis, pengkerutan ginjal

Batu di
PVC

PENATALAKSANAAN
1.Konservatif
. Medikamentosa : batu < 5 mm batu
keluar spontan
tujuan :
* mengurangi nyeri NSAID
*memperlancar aliran urine diuretikum
Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari
-Batas lama terapi konservatif adalah 6
minggu.
-Di samping ukuran batu syarat lain untuk
observasi adalah berat ringannya keluhan
pasien, ada tidaknya infeksi dan obstruksi.

2. ESWL (Extracorporeal Shockwave


Lithotripsy) :
pemecahan batu tanpa tindakan
invasif & pembiusan
efek samping: nyeri kolik dan
hematuria

SYARAT ESWL
Ukuran batu antara 1-3 cm atau 5-10 mm
dengan gejala yang mengganggu.
Jenis batu yang mengandung kalsium
atau asam urat lebih rapuh dan mudah
dipecah.
Lokasi batu di ginjal atau ureter bagian
proksimal dan medial.
Tidak adanya obstruksi ginjal
Kondisi kesehatan pasien memenuhi
syarat

3. Endourologi
a.PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy)
mengeluarkan batu yang berada di saluran
ginjal dengan cara memasukkan alat
endoskopi ke sistem kaliks melalui insisi
pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau
dipecah terlebih dahulu.
b.Litotripsi
memecah batu bull-buli atau batu uretra
dengan memasukkan alat pemecah batu
(litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu
dikeluarkan dengan evakuator Ellik.
c.Ureteroskopi/Uretero-renoskopi
d.Ekstraksi Dormia (mengeluarkan batu ureter

TINDAKAN OPERASI
Nefrolitotomi
merupakan
operasi
terbuka untuk mengambil batu yang
berada di dalam ginjal.
Ureterolitotomi merupakan operasi
terbuka untuk mengambil batu yang
berada di ureter.
Vesikolitomi
merupakan
operasi
tebuka untuk mengambil batu yang
berada di vesica urinaria.
Uretrolitotomi
merupakan
operasi
terbuka untuk mengambil batu yang

Indikasi operatif pengeluaran batu


saluran kemih yaitu:

Adanya obstruksi traktus urinarius


Infeksi traktus urinarius
Nyeri menetap atau berulang-ulang
Batu yang makin membesar
Menimbulkan kerusakan jaringan
ginjal dan hematuria yang menetap

PENCEGAHAN
1.Hindari dehidrasi
2.Diet kadar zat-zat komponen pembentuk
batu
3.Aktivitas harian cukup
4.Medikamentosa
Diet mengurangi kekambuhan :
. Rendah protein , karena protein akan
memacu ekskresi kalsium urine dan
menyebabkan suasana urine menjadi lebih
asam
. Rendah oksalat
. Rendah garam karena natriuresis akan

PROGNOSIS
Prognosis batu ginjal tergantung dari
faktor-faktor ukuran batu, letak batu, dan
adanya infeksi serta obstruksi.
Makin besar ukuran suatu batu, makin
buruk prognosisnya.
Letak batu yang dapat menyebabkan
obstruksi dapat mempermudah terjadinya
infeksi.
Makin besar kerusakan jaringan dan
adanya infeksi karena faktor obstruksi akan
dapat menyebabkan penurunan fungsi
ginjal

ALHAMDULILLAH
TERIMA KASIH