Anda di halaman 1dari 9

No. ID dan Nama Peserta : dr.

Noorahmah Adiany Ansari


No. ID Nama Wahana : RSUD Arifin Numang
Topik : Kejang demam kompleks pada anak
Tanggal ( Kasus) : 3 september 2015
Nama Pasien : By. L
No. RM : 013805
Tanggal Presentasi :
Pendamping : dr. A. Azizah Yusuf
Tempat presentasi : RSUD Arifin Numang
Obyek Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Bayi perempuan, 1 tahun 5 bulan, MRS dengan keluhan riwayat kejang yang
didahului demam sejak tadi malam. Lama kejang 15 menit, frekuensi 3 kali. Kejang (-),
Demam (+). Riwayat demam sebelumnya (+) sejak tadi malam. Batuk (+) lendir (+) nyeri
menelan (-) sesak (-) nyeri dada (-) BAK lancar BAB biasa.
Tujuan : menegakkan diagnosis dan mengobati penyakit kejang demam pada anak
Bahan Bahasan: Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
Audit
Cara
Diskusi
Presentasi dan
E-mail
Pos
Membahas:

diskusi

Data Pasien
Nama : By. L
No.Registrasi : 013805
Nama Klinik
RSUD Arifin Numang
Data Utama Bahan Diskusi
1. Diagnosis/Gambaran Klinis : Bayi perempuan, 1 tahun 5 bulan, MRS dengan keluhan
riwayat kejang yang didahului demam sejak tadi malam. Lama kejang 15 menit,
frekuensi 3 kali. Kejang (-), Demam (+). Riwayat demam sebelumnya (+) sejak tadi
malam. Batuk (+) lendir (+) nyeri menelan (-) sesak (-) nyeri dada (-) BAK lancar BAB
biasa.
2. Riwayat pengobatan sebelumnya : 3. Riwayat kesehatan/penyakit : pasien belum pernah menderita penyakit serupa sebelumnya
4. Riwayat keluarga : tidak jelas
5. Riwayat atopi : 6. Lain-lain : Daftar Pustaka :
1. Kapita Selekta Kedokteran. Ilmu Kesehatan Anak. Media Aeculapius. Fakultas
Kedoteran Universitas Indonesia 2000.
2. Konsensus Penatalaksanaan kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi. Ikatan
Dokter Anak Indonesia 2006.
3. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran
Universitas Indinesia 1985.
4. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi I 2004.

Hasil Pembelajaran :
1. Menegakkan diagnosis kejang demam kompleks pada anak
2. Mengetahui penanganan kejang demam kompleks pada anak
Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:
1. Subyektif
Bayi perempuan, 1 tahun 5 bulan, MRS dengan keluhan riwayat kejang yang didahului
demam sejak tadi malam. Lama kejang 15 menit, frekuensi 3 kali. Kejang (-), Demam
(+). Riwayat demam sebelumnya (+) sejak tadi malam. Batuk (+) lendir (+) nyeri
menelan (-) sesak (-) nyeri dada (-) BAK lancar BAB biasa.
2. Obyektif :
a. Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh :
Status Present : SS/CM;
N : 120 x/mnt

P : 30 x/mnt

BB : 12 kg

: 38,8 C

Keadaan umum : lemah, GCS sulit dinilai


Kepala : Ubun-ubun menutup
Mata : Cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-) refleks cahaya (+/+)
Mulut : sianosis (-), Kering (-)
Dada : pernapasan tipe abdominothoracal , BP : Vesikuler, BT: Rh-/-, Wh -/Jantung : BJ I/II Murni reguler. Bising jantung (-)
Abdomen : datar, peristaltic (+) kesan normal
Ekstremitas : kesan normal, refleks patologis (-)
c. Pemeriksaan penunjang

Darah rutin :
-

Leukosit : 15.200 mm3

Eritrosit : 4.53 x 106 mm3

Hb : 11.8 g/dl

Ht : 33.8 %

Trombosit : 275.000 mm3

Kimia darah :
-

GDS : 141 mg/dl

3. Assesment
2

A. DEFINISI
Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di
atas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Menurut Consensus Statement on Febrile
Seizures (1980), kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 3
bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial
atau penyebab tertentu.
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan-5 tahun. Anak yang pernah mengalami
kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejamg demam. Kejang
disertai demam pada bayi berumur kiurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak
berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan
kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.
Kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu:
1. Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure)
2. Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure)

Kejang Demam Kompleks adalah kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:
1. Kejang lama > 15 menit
2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang
lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8%
kejang demam. Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului
kejang parsial. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkita
kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% di antara anak yang mengalami kejang
demam.
B. ETIOLOGI
Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran
pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak
selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat
menyebabkan kejang.
C. PATOFISIOLOGI
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan suatu energi
yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan fungsi
3

paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sitem kardiovaskuler. Jadi sumber energi otak adalah
glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air.
Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan
permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan
mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na +) dan elektrolit
lainnya, kecuali ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial
yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan
sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya:
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari
sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
Pada keadaan demam kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak 3 tahun
sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya
15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion
Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan
listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel
tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadilah kejang. Tiap
anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang
kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang
kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 380C sedangkan pada anak denagn ambang
kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 0C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah
disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang
rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa
penderita kejang.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak
menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit)
4

biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi
otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu
tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan
metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga
terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejangt lama. Faktor terpenting adalah
gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas
kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang
berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari, sehingga terjadi serangan epilepsi
yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan antomis
di otak hingga terjadi epilepsi.
D. FAKTOR RESIKO
Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu terdapat
faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat,
problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Setelah
kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih, dan
kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih. Resiko rekurensi meningkat dengan
usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat
kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi.

E. DIAGNOSIS
1. GAMBARAN KLINIS
Serangan kejang demam berupa serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral dan
dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan
sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. Setelah
kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik
atau menit, anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti
hemiparesis sementara (hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jamsampai beberapa hari.
Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap.
2. ANAMNESIS
1. Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum/saat kejang,

frekuensi, interval, pasca kejang, penyebab demam di luar susunan saraf pusat.
2. Riwayat perkembangan, kejang demam dalam keluarga, epilepsi dalam keluarga.
3. Singkirkan penyebab kejang lainnya.
3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat
dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam atau keadaan lain. Pemeriksaan
cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningits,
terutama pada pasien kejang pertama.
Pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang
atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Pemeriksaan
EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Misalnya kejang
demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau kejang demam fokal.
Foto X-Ray kepala atau pencitraan seperti Computed Tomography Scan (CT-Scan) atau
Magnetic Resonance Imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi
seperti: 1. Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)
2. Paresis nervus VI
3. Papiledema
F. DIAGNOSIS BANDING
Penyebab lain kejang disertai demam seperti Meningitis atau Ensefalitis.

G. PENATALAKSANAAN
Pengobatan medikamentosa saat kejang dapat dilihat pada tata laksana penghentian kejang
(lihat bagan). Saat ini lebih diutamakan pengobatan profilaksis intermiten pada saat demam,
berupa:
1. Antipiretik
Tujuan utama pengobatan kejang demam adalah mencegah demam meningkat. Berikan
parasetamol 10-15 mg/kgBB/hari setiap 4-6 jam atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/hari tiap 4-6
jam
2. Antikejang
Beri diazepam oral 0,3 mg/kgBB/dosis tiap 8 jam saat demam atau diazepam rektal 0,5
mg/kgBB/hari setiap 12 jam saat demam. Efek samping diazepam oral adalah letargi,
6

mengantuk, dan ataksia.


3. Pengobatan jangka panjang
Pengobatan jangka panjang selama 1 tahun dapat dipertimbangkan pada kejang demam
kompleks dengan faktor resiko. Obat yang digunakan adalh fenobarbital 3-5 mg/kgBB/hari
atau asam valproat 15-40 mg/kgBB/hari.

BAGAN PENGHENTIAN KEJANG DEMAM


KEJANG
1. Diazepam rektal 0,5 mg/kgBB atau
Berat badan < 10 kg: 5 mg
Berat badan > 10 kg: 10 mg
2. Diazepam IV 0,3-0,5 mg/kgBB
KEJANG

Di rumah sakit

KEJANG

Diazepam IV 0,5-1 mg/menit (3-5 menit)


(hati-hati Depresi pernapasan dapat terjadi)
KEJANG
Fenitoin bolus IV 10-20 mg/kgBB
Kecepatan 0,5-1 mg/kgBB/menit

KEJANG
Transfer ke ruang rawat intensif
Keterangan:
1. Bila kejang berhenti terapi profilaksis intermiten atau rumatan diberikan nerdasarkan
kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor lainnya
2. Pemberian fenitoin bolus sebaiknya secara drip intravena dicampur denagn cairan NaCl
fisiologis, untuk mengurangi efek samping aritmia dan hipotensi.

H. PROGNOSIS
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan
kematian. Frekuensi berulangnya kejang berkisar antara 25-50%, umumnya terjadi pada 6 bulan
pertama. Resiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.

3. Plan :
Diagnosis : pasien masuk dengan diagnosis kejang demam kompleks karena dari hasil
anamnesis didapatkan riwayat kejang yang didahului demam sebanyak 3 kali dan lama
kejang 15 menit. Penanganan yang dilakukan :
-

O2 kanul 1 lpm

IVFD Dextrose 5% 12 tpm

Inj. Ceftriaxone 1 gr/24 jam/IV

Parasetamol drips 10 cc/6 jam/IV

Ambroxol sirup 3x1 cth

Diazepam puyer 3x1 pulv

Makan dan minum sedikit (hati-hati aspirasi)

Pendidikan
Kita menjelaskan terapi, prognosis dan komplikasi yang kemungkinan terjadi pada
penyakit ini.
Konsultasi
Dijelaskan adanya indikasi rawat inap dan konsultasi dengan dokter spesialis anak untuk
penanganan lebih lanjut.
Rujukan
8

Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harusnya ditangani di rumah sakit dengan
sarana dan prasaran yang lebih memadai
Rappang, 4 September 2015
Peserta

Pendamping

dr. Noorahmah Adiany

dr. Andi Azizah Yusuf