Anda di halaman 1dari 3

Pandangan Agama Islam Tentang Aborsi

Di dalam teks-teks al Quran dan Hadist tidak didapati secara khusus hukum aborsi, tetapi
yang ada adalah larangan untuk membunuh jiwa orang tanpa hak, sebagaimana firman Allah
SWT: ( Qs An Nisa : 93 )
Dr. Abdurrahman Al Baghdadi dalam bukunyaEmansipasi Adakah Dalam Islam halaman
127-128 menyebutkan bahwa aborsi dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruh (nyawa)
ditiupkan. Jika dilakukan setelah ditiupkannya ruh, yaitu setelah 4 (empat) bulan masa
kehamilan, maka semua ulama ahli fiqih (fuqoha) sepakat akan keharamannya. Tetapi para
ulama fiqih berbeda pendapat jika aborsi dilakukan sebelum ditiupkannya ruh. Sebagian
memperbolehkan dan sebagiannya mengharamkannya.
Pendapat yang memperbolehkan aborsi sebelum peniupan ruh, antara lain Muhammad
Ramli (w. 1596 M) dalam kitabnya An Nihayah dengan alasan karena belum ada makhluk
yang bernyawa. Ada pula yang memandangnya makruh, dengan alasan karena janin sedang
mengalami pertumbuhan.
Berdasarkan dalil-dalil ini maka aborsi adalah haram pada kandungan yang bernyawa atau
telah berumur 4 bulan, sebab dalam keadaan demikian berarti aborsi itu adalah suatu tindak
kejahatan pembunuhan yang diharamkan Islam.
Dalil syari yang menunjukkan bahwa aborsi haram bila usia janin 40 hari atau 40 malam
adalah hadits Nabi Saw berikut:[HR. Muslim dari Ibnu Masud r.a.].Jadi, siapa saja yang
melakukan aborsi baik dari pihak ibu, bapak maupun tenaga kesehatan. Berarti mereka
telah berbuat dosa dan telah melakukan tindak kriminal yang mewajibkan
pembayaran diyat bagi janin yang gugur, yaitu seorang budak laki-laki atau
perempuan, atau sepersepuluh diyat manusia sempurna (10 ekor onta), sebagaimana
telah diterangkan dalam hadits shahih dalam masalah tersebut. Sedangkan aborsi pada
janin yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (jaiz) dan tidak apa-apa.
Ini disebabkan bahwa apa yang ada dalam rahim belum menjadi janin karena dia masih
berada dalam tahapan sebagai nutfah (gumpalan darah), belum sampai pada fase penciptaan
yang menunjukkan ciri-ciri minimal sebagai manusia.
Pendapat yang mengharamkan aborsi sebelum peniupan ruh antara lain Ibnu dalam
kitabnya At Tuhfah dan Al Ghazali dalam kitabnya Ihya` Ulumiddin. Bahkan Mahmud
Syaltut, mantan Rektor Universitas Al Azhar Mesir berpendapat bahwa sejak bertemunya sel
sperma dengan ovum (sel telur) maka aborsi adalah haram, sebab sudah ada kehidupan pada
kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk baru
yang bernyawa yang bernama manusia yang harus dihormati dan dilindungi eksistensinya.
Pendapat yang menyatakan bahwa aborsi diharamkan sejak pertemuan sel telur dengan sel
sperma dengan alasan karena sudah ada kehidupan pada kandungan, adalahpendapat yang
tidak kuat. Sebab kehidupan sebenarnya tidak hanya wujud setelah pertemuan sel telur
dengan sel sperma, tetapi bahkan dalam sel sperma itu sendiri sudah ada kehidupan, begitu
pula dalam sel telur, meski kedua sel itu belum bertemu. kehidupan (al hayah) sebenarnya
terdapat dalam sel telur dan sel sperma sebelum terjadinya pembuahan, bukan hanyaada
setelah pembuahan.Namun demikian, dibolehkan melakukan aborsi baik pada tahap
penciptaan janin, ataupun setelah peniupan ruh padanya, jika dokter yang terpercaya

menetapkan bahwa keberadaan janin dalam perut ibu akan mengakibatkan kematian ibu dan
janinnya sekaligus. Dalam kondisi seperti ini, dibolehkan melakukan aborsi dan
mengupayakan penyelamatan kehidupan jiwa ibu. Menyelamatkan kehidupan adalah sesuatu
yang diserukan oleh ajaran Islam, sesuai firman Allah SWT:Qs. al-Maaidah :
32).Berdasarkan kaidah ini, seorang wanita dibolehkan menggugurkan kandungannya jika
keberadaan kandungan itu akan mengancam hidupnya, meskipun ini berarti membunuh
janinnya. Hal ini harus dapat dipastikan secara medis. Karena syariat memandang sang ibu
sebagai akar pohon dan sang janin sebagai cabangnya. Dalam Islam dikenal prinsip al ahamm
wa al muhimmn (yang lebih penting dan yang penting), dalam kasus ini dapat diartikan
mengambilan yang lebih kecil buruknya dari dua keburukan
Sedangkan menurut hukum yang berlaku di Indonesia yaitu menurut Undang-Undang
abortus 1967 mengatakan bahwa seorang wanita tidak boleh dijatuhi hukuman bila ia
mengakhiri kehamilan dengan bantuan tenaga medis yang sudah mempunyai izin bila tenaga
medi tersebut memang melakukan abortus atas dasar yang baik Memang mengggugurkan
kandungan adalah suatu mafsadat. Begitu pula hilangnya nyawa sang ibu jika tetap
mempertahankan kandungannya juga suatu mafsadat. Namun menggugurkan kandungan
janin itu lebih ringan madharatnya daripada menghilangkan nyawa ibunya, atau membiarkan
kehidupan ibunya terancam dengan keberadaan janin tersebut
Pandangan Agama Hindu Tentang Aborsi
Aborsi dalam Theology Hinduisme tergolong pada perbuatan yang disebut Himsa
karma yakni salah satu perbuatan dosa yang disejajarkan dengan membunuh, meyakiti, dan
menyiksa.perbuatan aborsi disetarakan dengan menghilangkan nyawa. Kitab-kitab suci Hindu
antara lain Rgveda 1.114.7 menyatakan: Ma no mahantam uta ma no arbhakam artinya:
Janganlah mengganggu dan mencelakakan bayi. Atharvaveda X.1.29: Anagohatya vai
bhima artinya: Jangan membunuh bayi yang tiada berdosa. Dan Atharvaveda X.1.29: Ma
no gam asvam purusam vadhih artinya: Jangan membunuh manusia dan binatang.
Pembuahan sel telur dari hasil hubungan sex lebih jauh ditinjau dalam falsafah Hindu sebagai
sesuatu yang harusnya disakralkan dan direncanakan. perkawinan menurut Hindu adalah
Dharmasampati artinya perkawinan adalah sakral dan suci karena bertujuan memperoleh
putra yang tiada lain adalah re-inkarnasi dari roh-roh para leluhur yang harus lahir kembali
menjalani kehidupan sebagai manusia karena belum cukup suci untuk bersatu dengan Tuhan.
Pasangan suami-istri yang mempunyai banyak anak dapat dinilai sebagai kurang berhasilnya
melakukan pengendalian nafsu sex, apalagi bila kemudian ternyata bahwa kelahiran anakanak tidak dalam batas perencanaan yang baik. Sakralnya hubungan sex dalam Hindu banyak
dijumpai dalam Kamasutra. Antara lain disebutkan bahwa hubungan sex hendaknya
direncanakan dan dipersiapkan dengan baik, misalnya terlebih dahulu bersembahyang
memuja dua Deva yang berpasangan yaitu Deva Smara dan Devi Ratih, setelah mensucikan
diri dengan mandi dan memercikkan tirta pensucian. Hubungan sex juga harus dilakukan
dalam suasana yang tentram, damai dan penuh kasih sayang. Hubungan sex yang dilakukan
dalam keadaan sedang marah, sedih, mabuk atau tidak sadar, akan mempengaruhi prilaku
anak yang lahir kemudian.

Oleh karena hubungan sex terjadi melalui upacara pawiwahan dan dilakukan sematamata untuk memperoleh anak, jelaslah sudah bahwa aborsi dalam Agama Hindu tidak dikenal
dan tidak dibenarkan.
Pandangan Agama Budha Tentang Aborsi
Dalam pandangan agama Buddha aborsi adalah suatu tindakan pengguguran kandungan
atau membunuh makhluk hidup yang sudah ada dalam rahim seorang ibu. Dari sudut
pandang Buddhis aborsi bisa di toleransi dan dipertimbangkan untuk dilakukan.
Agama Buddha, umat Buddha terdiru dari dua golongan yaitu pabbajita dan umat awam.
Seorang pabbajita mutlak tidak boleh melakukan aborsi karena melanggar vinaya yaitu
parajjika. Tetapi sebagai umat awam aborsi boleh dilakukan dengan alasan yang kuat. Misal
janin dalam kandungan dalam kondisi abnormal yang dapat membahayakan kesehatan ibu
bahkan dapat mengancam keselamatan ibu. Aborsi dalam agama Buddha merupakan suatu
pembunuhan yang tidak diperbolehkan yang dapat menimbulkan karma buruk. Tetapi agama
Buddha tidak melarang secara multak orang yang melakukan aborsi. Dengan alasan yang
sangat kuat aborsi dapat dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Hal terbaik untuk tidak
melakukan aborsi adalah menghindari terjadinya aborsi misal tidak melakukan hubungan
seks bebas yang bisa memungkinkan terjadinya aborsi. Dalam kasus lain yang tidak dapat
dihindari untuk terjadinya aborsi boleh dilakukan dengan alasan tidak ada cara lain yang
terbaik dan dengan alasan yang sangant kuat. Aborsi boleh dilakukan dengan kondisi yang
sangat sulit akan tetapi seminimal mungkin untuk menghindari terjadinya aborsi karena
dalam agama buddha aborsi merupakan suatu pembunuhan yang tidak diperbolehkan karena
menghilangkan nyawa suatu mahluk yang mengakibatkan karma buruk.
Dalam agama budha perlakuan aborsi tidak dibenarkan karena suatu karma harus
diselesaikan dengan cara yang baik, jika tidak maka akan timbul karma yang lebih buruk
lagi.Aagama Buddha menentang dan tidak menyetujui adanya tindakan aborsi karena telah
melanggar pancasila Buddhis, menyangkut sila pertama yaitu panatipata. Apabila terdapat
kelima faktor dalam suatu tindakan pembunuhan, maka telah terjadi pelanggaran sila
pertama. Oleh karena itu sila berhubungan erat dengan karma maka pembunuhan ini akan
berakibat buruk yang berat atau ringannya tergantung pada kekuatan yang mendorongnya dan
sasaran pembunuhan itu. Bukan hanya pelaku saja yang melakukan tindak pembunuhan, ibu
sang bayi juga melakukan hal yang sama. Bagaimanapun mereka telah melakukan tindak
kejahatan dan akan mendapatkan akibat di kemudian hari.
Dalam Majjhima Nikaya 135 Buddha bersabda "Seorang pria dan wanita yang
membunuh makhluk hidup, kejam dan gemar memukul serta membunuh tanpa belas kasihan
kepada makhluk hidup, akibat perbuatan yang telah dilakukannya itu ia akan dilahirkan
kembali sebagai manusia di mana saja ia akan bertumimbal lahir, umurnya tidaklah akan
panjang"