Anda di halaman 1dari 47

ASKEP HIL

BAB I
TINAJAUAN TEORITIS
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Defianisi
Hernia inguinalis adalah terjadinya penonjolan isi rongga
abdomen melalui annulus inguinalis interna mengikuti
apermatid cordi di kanale ingunalis kemudian keluar
melalui annulus inguinalis eksterna sehingga terdapat
benjolan di daerah inguinalis.
2. Anatomi
kulit dan jaringan subkutis
lapisan muskulo-aponeurisis
peritoneum parietal dan jaringan preperitoneum
rongga perut
cincin atau pintu hernia (tempat keluarnya jaringan/ organ
tubuh, berupa LMR yang dilalui kantong hernia)
kantong hernia
Bagian-bagian Hernia
1. kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis.
Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya : hernia
incisional, hernia adipose dan hernia intertitialis.
2. isi hernia
Berupa organ atau jaringa yang keluar melalui kantong

hernia. Pada hernia abdominalis berupa usus.


3. pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui
kantong hernia.
4. leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan
kantong hernia
5. locus minoris resistence (LMR)
3. Fisiologi
Kanalis inguinalis dibatasi dikraniolateral oleh annulus
inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka dari
fasia tranversalis dan aponeurisis m.transversus abdominis,
dimedial bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini
dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, bagian terbuka
dari aponurisis m.oblikus eksternus, dan didasarnya
terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali sperma
pada pria, dan ligamentum rotundum pada wanita.
Nervus ilioinguinalis dan iliofemoralis mempersarfi otot
diregio inguinalis, sekitar kanalis inguinalis, dan tali
sperma, serta sensibilitas kulit diregio inguinalis, skrotum
dan sebagian kecil kulit tungkai atas bagian
proksimomedial.
4. Etiologi
a. Kongenital
Terjadi akibat prosesus vaginalis pertenium persisten

disertai dengan annulus inguinalis yang cukup lebar.


b. Didapat
Ditemukan adanya faktor kausal/predisposisi yang
berperan untuk timbulnya hernia:
Prosesus vaginalis yang tetap terbuka
Peninggian tekanan intra abdomen:
pekerjaan mengangkat barang-barang berat
Batuk karonik: bronchitis kronik, TBC
Hipertrofi prostat, striktur uretra, konstipasi, asites
Kelemahan otot dinding perut:
Usia tua, sering melahirkan
5. Fatofisiologi
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami
pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat
mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar
atau batukyang kuat atau bersin dan perpindahan bagian
usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan
pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan
suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal
yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut
dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses
perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal
dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang
sangat kecil pada dinding abdominal, . Karena organ-organ
selalu selalukemudian terjadi hernia Pengguanaan saja

melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam


waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan
dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga
akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut
menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah
terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan
ganggren.
6. Manifestasi klinis
Benjolan dilipat paha yang timbul hilang. Muncul saat
penderita berdiri, batuk, bersin, mengedan atau
mengangkat barang berat dan menghilang saat penderita
berbaring.
Nyeri disertai muntah timbul bila terjadi inkarserasi atau
strangulasi
7. Komplikasi
a. Hernia akreta; ada perlakuan isi dengan kantong hernia,
tidak ada gangguan pasase
b. Hernia inkarserasi; ada perlekatan yang disertai dengan
gangguan pasase
c. Hernia strangulasi; nekrosis, gangrene, abses local,
peritonitis.
8. Prosedur diagnostic
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan
fisik. Benjolan akan membesar jika penderita batuk,
membungkuk, mengangkat beban berat atau mengedan.

Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh


keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel keluhan satusatunya adalah benjolan dilipat paha yang muncul pada
waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan
menghilang setelah berbaring . keluhan nyeri jarang
dijumpai , kalau ada biasanya didaerah epigastrium, atau
paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada
mesenterium pada waktu satu segmen usus halus masuk
kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau
muntah baru timbul kalau sudah terjadi inkarserasi karena
ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren.
Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi
hernia. Pada inspeksi saat pasien mengedan dapat dilihat
hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan
diregio inguinalis yang berjalan dari lateral atas kemedial
bawah. Kantong hernia yang kososn kadang dapat diraba
pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis
kantong yang memeberikan sensasi gesekan dua
permukaaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan
sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau
kantong hernia berisi organ maka tergantung isinya, pada
palpasi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet),
atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada
anak dapat dicoba mendorong isi hernia
denganmenonjolkan kulit skrotum melalui anulus eksternus

sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat


direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi,
pada waktu jari masih berada dalam anulus eksternus,
pasien diminta mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung
jari, berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau samping
jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis
medialis. Isi hernia pada bayi wanita yang teraba seperti
sebuah massa yang padat yang biasanya berisi ovarium.
Laboratorium; pemeriksaan leukosit
9. Penatalaksanaan medis
a. Konservatif
Pemakaian bantalan penyangga hanya dilakukan pada
hernia reponibilis
Pemberian sedative, kompres es, posisi tidur
trendevenburg hanya ditunjukan pada hernia anak yang
sudah mengalami inkarserasi.
b. Pembedahan
Anak; herniotomi yaitu tentang hernia yang dibuka dan isi
didorong ke dalam rongga abdomen. Kantong proksimal
dijahit kuat setinggi mungkin lalu dipotong. Kantong distal
dibiarkan.
Dewasa; herniorafi dan hernioplastik
Herniorafi terdiri dari herniotomi dan hernioplastik
Hernioplastik; setelah herniotomi dilakukan tindakan

memperkecil annulus internus dan memperkuat dinding


belakang kanalis inguinalis.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a Identitas/Biodata
1. Biodata 2. Data Penanggung Jawab
Nama : Nama :
Umur : Umur :
Suku bangsa : Suku :
Agama : Agama :
Pendidikan : Pendidikan :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Alamat : Alamat :
Kec. Kec.
Tgl. Masuk RS : Hubungan :
Tgl. Dikaji :
Diagnosa Medis :
No. RM :
Dr. Penanggungjawab :
b Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
2) Riwayat kesehatan sekarang
P, Q, R, S, T
3) Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit (masa kanak-kanak, penyakit yang terjadi secara

berulang-ulang, operasi yang pernah dialami)


Alergi:
Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll) :
4) Keadaan kesehatan keluarga
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain
Faktor resiko terhadap kesehatan (kanker hypertensi, DM,
penyakit jantung, TBC, Epilepsi, dll.)
5) Keadaan psikologis
Perilaku
Pola emosional
Konsep diri
Penampilan intelektual
Pola pemecahan masalah
Daya ingat
6) Keadaan Sosial ekonomi
Status ekonomi
Kegiatan rekreasi
Bahasa komunikasi
Hubungan dengan keluarga
Kegiatan masyarakat
7) Keadaan Spiritual
Kepercayaan, keyakinan
8) Pola Kehidupan sehari-hari
No Kegiatan sehari-hari Di rumah Di rumah sakit
1. Makan dan Minum

a. Makan
Frekwensi
Jenis makanan
Makanan yang disukai
Makanan yang tidak disukai
Makanan pantangan
Tujuan/alasan pantangan
Gangguan makanan
Cara mengatasi
Diet khusus
b. Minum
Jumlah intake
Jenis
2. Pola elimenasi
a. BAK
Frekwensi
Jumlah
Warna
Gangguan/keluhan
Cara mengatasi
b. BAB
Frekwensi
Konsistensi
o Gangguan/keluhan
o Cara mengatasi

3. Istirahat dan tidur


a. Lama tidur
malam
siang
b. Gangguan Tidur
c. Cara Mengatasi
d. Kebiasaan tidur
4. Personal hygine
a. Frekwensi Mandi tiap hari
b. Cara mandi
c. Frekwensi sikat gigi
d. Frekwensi mencuci rambut tiap minggu
e. Kebiasaan gunting kuku
5. Aktivitas
a. Gangguan dalam pergerakan/berjalan
b. Alasan/penyebab
c. Cara mengatasi
6. Sexual
a Frekwensi
b Alasan/penyebab
c Cara mengatasi
c Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum :
2) Tanda-tanda vital : Tekanan Daqrah, Suhu, Nadi,
Respirasi

3) Sistem Pencernaan
Bentuk bibir, lesi mukosa mulut, kelengkapan gigi, muntah,
kemampuan menelan, mengunyah, bentuk peut, BU,
distensi abdomen, dll.
4) Sistem Pernafasan
Kesimetrisan hidung, pernafasan cuping hidung,
deformitas, bersin, warna mukosa, perdarahan, nyeri sinus,
bentuk dada, kesimetrisan, nyeri dada, frekwensi
pernafasan, jenis pernafasan, bunyi nafas, dll.
5) Sistem cardiovaskuler
Konjungtiva anemis/tidak, akral dingin/hangat, CRT, JVP,
bunyi jantung, tekanan darah, pembesaran jantung,
Cyanosis, dll.
6) Sistem integumen
Warna kulit, turgor kulit, temperatur, luka/lesi,
kebersihannya, integritas, perubahan warna, keringat,
eritema, kuku, rambut (kebersihan, warna, dll.)
7) Sistem persyarafan
Tingkat kesadaran, kepala ukuran, kesimetrisan, benjolan,
ketajaman mata, pergerakan bola mata, kesimetrisan,
reflek kornea, reflek pupil, nervus 1 s.d. 12, kaku kuduk, dll.
8) Sistem endokrin
Pertumbuhan dan perkembangan fisik, proporsi dan posisi
tubuh, ukuran kepala dan ekstremitas, pembesaran
kelaenjar tyroid, tremor ekstremitas, dll.

9) Sistem muskuloskeletal
Rentang gerak sendi, gaya berjalan, posisi berdiri, ROM,
kekuatan otot, deformitas, kekakuan pembesaran tulang,
atrofi, dll.
10) Sistem reproduksi
Laki-laki: penis skrotum, testis, dll.
Perempuan: pembengkakan benjolan, nyeri, dll.
11) Sistem perkemihan
Jumlah, warna, bau, frekwensi BAK, urgensi, dysuria, nyeri
pinggang, inkontinensia, retensi urine, dll.
d Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Rontgen
e Therapi
2. Diagnosa keperawatan dan perencanaan
Diagnosa keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan nyeri berhubungan dengan spasme otot
Nyeri hilang/terkontrol dalam 124 jam setelah diberi
tindakan keperawatan dengan kriteria:
wajah tampak ceria
Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik
(misalnya; keterampilan relaksasi, modifikasi perilaku)
untuk menghilangkan nyeri. Kaji adanya keluhan nyeri,
cacat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus/ yang

memperberat. Minta pasien untuk menetapkan pada skala


0-10
Letakan semua kebutuhan, termasuk bel panggil dalam
batas yang mudah dijangkau/diraih oleh pasien.
Intruksikan untuk melakukan mekanika tubuh/gerakan
yang tepat
Berikan kesempatan untuk bicara/mendengarkan
masalah pasien
Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai kebutuhan;
relaksan otot, analgesik. Membantu menentukan pilihan
intervensi dan memberikan dasar untuk membandingkan
dan evaluasi terhadap therapi.
Menurunkan resiko peregangan saat meraih
Memfokuskan perhatian pasien, membantu menurunkan
tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan
Menghilangkan/mengurangi stress pada otot dan
mencegah trauma lebih lanjut.
Membantu untuk menurunkan faktor-faktor stress selama
dalam keadaan sakit dan dirawat. Kesempatan untuk
memberikan/membetulkan informasi yang kurang tepat.
Merelaksasikan otot dan menurunkan/menghilangkan
nyeri
Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan nyeri Klien
dapat melakukan aktivitas dengan kriteria:
Dalam 124 jam setelah diberikan tindakan klien mampu

melakukan aktivitas seperti biasa Catat respon-respon


emosi/perilaku pada mobilisasi. Berikan aktivitas yang
disesuaikan dengan pasien.
Anjurkan pasien untuk tetap ikut berperan serta dalam
aktivitas sehari-hari dan keterbatasan individu.
Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulansi
progresif Imobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar
kegelisahan, aktivitas pengalihan membantu dalam
memfokuskan kembali perhatian pasien dan meningkatkan
koping dengan keterbatasan tersebut.
Partisifasi pasien akan meningkatkan kemandirian pasien
dan perasaan kontrol terhadap diri.
Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang
khusus teapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai
toleransi.
3. Imflementasi
Pada tahap dilakukan pelaksanaan dan perawatan yang
telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan pasien secara optimal. Pelaksanaannya adalah
pengelolaan dan perwujudan dan rencana keperawatan
yang telah disusun pada tahap perencanaan. Jenis
tindakan:
1) Secara mandiri (independen) adalah tindakan yang
diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu pasien
dalam mengatasi masalahnya atau menanggapi reaksi

karena adanya stresor (penyakit) misalnya:


a. Membantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari
b. Memberikan dorongan pada pasien untuk
mengungkapkan perasaannya secara wajar.
2) Secara ketergantungan/kolaborasi (interdependen),
adalah tindakan keperawatan atas dasar kerjasama tim
perawatan atau tim kesehatan lainnya misalnya dalam hal
pemberian obat sesuai instruksi dokter, pemberian infus:
tanggung jawab perawat kapan infus itu terpasang.
4. Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur
suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap
pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif /
evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan
implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi
sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang
dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.
BAB II
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn. S
DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
DIAGNOSA MEDIS HIL POST OP
DI RUANG BEDAH RSUD M.A. SENTOT PANTURA
A PENGKAJIAN
1. Identitas/Biodata

1. Biodata 2. Data Penanggung Jawab


Nama : Tn. S Nama : Tn. T
Umur : 60 tahun Umur : 30 tahun
Suku bangsa : Indonesia Suku : Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani Pekerjaan : Tani
Alamat : Ds. Haurgeulis Alamat : Haurgeulis
Kec. Haurgeulis Kec. Haurgeulis
Tgl. Masuk RS : 4/11/2009 Hubungan : Anak
Tgl. Dikaji : 5/11/2009
Diagnosa Medis : HIL
No. RM : 17175
Dr. Penanggungjawab : dr. Wahyu
2. Riwayat Kesehatan
b. Keluhan utama
Klien mengeluh sakit setelah operasi
c. Riwayat kesehatan sekarang
Klien dioperasi tanggal 8/11/2009 masuk ruang operasi jam
14.00 s.d. 17.00
P= nyeri lipatan paha
Q= nyeri seperti ditusuk
R= nyeri pada daerah lipatan paha kiri
S= nyeri dengan sekala 3
T= terus menerus

d. Riwayat kesehatan masa lalu


Penyakit masa lalu : klien belum pernah menderita
penyakit serupa, klien tidak menderita penyakit menular
Alergi: tidak menderita alergi
Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll) : minum kopi
e. Keadaan kesehatan keluarga
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain tidak
menderita penyakit yang sama, begituupun penyakit
menular tiadak ada yang menderita.
f. Keadaan psikologis
Selama dirawat klien menunjukan sifat yang posituf
koperatiaf dengan perawat,
g. Keadaan Sosial ekonomi
Status ekonomi : penghasilan klien dari tani
Kegiatan rekreasi : jarang dilakukan
Bahasa komunikasi : bahasa Jawa
Hubungan dengan keluarga : baik
Kegiatan masyarakat : akrab dengan tetangganya
h. Keadaan Spiritual
Klien mengatakan hidup dilingkungan yang agamis,
sebagai seorang muslim klien yakin dan percaya terhadap
Allah Swt. klien mengatakan bahwa penyakit yang
dideritanya adalah ujian dari Tuhan
i. Pola Kehidupan sehari-hari

No Kegiatan sehari-hari Di rumah Di rumah sakit


1. Makan dan Minum
j. Makan
Frekwensi
Jenis makanan
Makanan yang disukai
Makanan yang tidak disukai
Makanan pantangan
Tujuan/alasan pantangan
Gangguan makanan
Cara mengatasi
Diet khusus
k. Minum
Jumlah intake
Jenis
2 kali sehari
Nasi, lauk, sayur
Nasi lengko
Daging
Tidak ada
6-8 gelas/hari
Air putih, kopi, teh
3 kali sehari
Nasi, lauk, sayur


Tidak ada
8-10 gelas/hari
Air putih, susu
2. Pola elimenasi
c. BAK
Frekwensi
Jumlah
Warna
Gangguan/keluhan
Cara mengatasi
d. BAB
Frekwensi
Konsistensi
o Gangguan/keluhan
o Cara mengatasi
5-6 kali/hari
kuning jernih
1x/hr
lembek
Dipasang kateter
1500 cc/hr
kuning jernih
1x/hr
lembek

3. Istirahat dan tidur


a. Lama tidur
malam
siang
b. Gangguan Tidur
c. Cara Mengatasi
d. Kebiasaan tidur
5-6 jam/hari
Tidak pernah

mendekur
5-6 jam/hari
2 jam

mendekur
4. Personal hygine
f. Frekwensi Mandi tiap hari
g. Cara mandi
h. Frekwensi sikat gigi
i. Frekwensi mencuci rambut tiap minggu
j. Kebiasaan gunting kuku
2X/hari
mandiri

2X/seetiap mandi
2x/minggu
1x/minggu
2X/hari
Dibantu
2x pagi dan sore
5. Aktivitas
d. Gangguan dalam pergerakan/berjalan
e. Alasan/penyebab
f. Cara mengatasi
Normal
Bedrest
post op
Dibantu perawat
6. Sexual
d Frekwensi
e Alasan/penyebab
f Cara mengatasi
2x/minggu
3. Pemeriksaan Fisik
a Keadaan Umum : lemah
b Tanda-tanda vital : TD=110/70 mmHg S= 36,9oC N=
76x/mt R= 18x /mt
c Sistem Pencernaan
bentuk bibir simetris, terdapat luka operasi, mukosa mulut

normal, muntah tidak ada, menelan/mengunyah baik,


bentuk perut normal, BU normal, benjolan tidak ada,
pembesaran hepar tidak ada
d Sistem Pernafasan
hidung simetris, pernafasan cuping hidung tidak ada,
perdarahan hidung tidak ada, bentuk dada simetris, batuk
tidak ada. Frekwensi pernafasan 18x/menit. wheezing tidak
ada, nyeri sinus tidak ada nyeri dada tidak ada
e Sistem cardiovaskuler
konjungtiva tidak anemis, edema tidak ada, tekanan darah
110/70 mmHg, akral hangat, nyeri dada tidak ada
f Sistem integumen
kulit bersih, turgor kulit baik, luka/lesi post op, eritema
tidak ada,
g Sistem persyarafan
kesadaran lemah, kepala simetris, edema tidak ada, mata
simetris, pergerakan bola mata normal,
h Sistem endokrin
pertumbuhan dan perkembangan fisik normal, tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid
i Sistem muskuloskeletal
deformitas, fraktur tidak ada, atrofi tidak ada, pembesaran
tulang tidak ada.
j Sistem reproduksi
pembengkakan tidak ada, benjolan tidak ada, ukursn penis

normal, ukuran scrotum normal, warna hitam kecoklatan,


nyeri scrotum tidak ada,
k Sistem perkemihan
terpasang kateter,warna urine kuning jernih, nyeri tekan
tidak ada, nyeri pinggang tidak ada
4. Pemeriksaan Penunjang
Tgl./ Jam Jenis Hasil Normal Interpretasi
14/11/09 Hb
Leucosit
Hematokrit
Trobosit 14 g%
8600 / mm3
43 %
264.000 / mm3 12-16 g%
10.000 / mm3
35%-48%
150.000-400.000 mm3 Dalam batas normal
kurang
Dalam batas normal Dalam batas normal
5. Therapi
1. Pasang DC , pasang infus NaCl 0.9% 20 gtt/menit
2. obat : Ceptriaxone 11 gr, Ranitin 21 amp, torasik 31
6. Analisa Data
DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi

DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala


nyeri 3 dalam rentang (0-4) Adanya luka Pos Op
Terputusnya kontinuitas jaringan
Merangsang bradikinin dan serotin
Hipotalamus
Kortek serebri
Nyeri dipersepsikan Gangguan rasa nyaman nyeri
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien
dibantu
Adanya luka Pos Op
Nyeri
Klien tidak dapat melakukan aktivitas
Aktivitas terganggu Gangguan pola aktivitas
DS: klien mengatakan sudah dioperasi
DO:, adanya luka operasi pada daerah perut bawah Luka
incisi post op
bufer pertahanan terganggu
tempat masuknya kuman patogen melalui luka Resiko
infeksi
B DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
adaya luka post operasi ditandai dengan klien mengeluh
nyeri pada daerah luka operasi, klien terlihat meringis,
terdapat luka operasi, sekala nyeri 3

2. Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan


dengan nyeri daerah luka operasi ditandai dengan klien
mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas, klien tampak
lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi
post operasi
C PERENCANAAN
Diagnosa keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala
nyeri 3 dalam rentang (0-4) Gangguan rasa nyaman nyeri
teratasi dalam waktu 1 hari dengan kriteria:
nyeri berkurang
klien tidak meringis kaji tingkat nyeri
observasi tanda-tanda vital
ajarkan tehnik relaksasi
kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik
mengkaji tingkat nyeri dan observasi tanda vital dapat
mengetahui perkembangan dan tindakan selanjutnya
Tehnik relaksasi akan mengurangi rasa nyeri
Pemberian obat tidak terjadi kesalahan
Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas

DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien


dibantu Gangguan pola aktivitas teratasi dalam 1 hari
dengan kriteria:
klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap tanpa
bantuan keluarga Bantu klien untuk miring kanan-miring
kiri
Berikan penjelasan tentang pentingnya mobilisasi
Mobilisasi dapat mencegah luka decubitus
Agar klien mengerti tentang pentingnya mobilisasi
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post
operasi
Tidak adanya tanda-tanda infeksi dalam waktu 48 jam
dengan kriteria:
tidak ada pus, odema tidak ada, tidak ada peningkatan
suhu tubuh.
Observasi tanda-tanda infeksi
Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat
luka
Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik mengetahui
perkembangan dan tindakan selanjutnya
perawatan luka secara steril dapat mencegah terjadinya
infeksi
supaya tidak terjadi kesalahan pemberian obat yang
tepat dan benar sesuai petunjuk dokter

D IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


Hari/Tgl./Jam Diagnosa perawatan Tindakan
Evaluasi/Catatan Perkembangan
Kamis, 5-11-2009 (1) Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala
nyeri 3 dalam rentang (0-4) mengkaji tingkat nyeri
mengobservasi tanda-tanda vital (TD, S, N, R)
mengajarkan tehnik relaksasi/distraksi
melakukan kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi
analgetik S: klien mengatakan nyeri masih terasa
O: klien meringis apabila daerah nyeri ditekan, luka masih
basah
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi,
kaji tingkat nyeri
observasi tanda-tanda vital
ajarkan tehnik relaksasi/distraksi
kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi
Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien
dibantu
membantu klien untuk miring kanan-miring kiri

memberikan penjelasan tentang pentingnya mobilisasi S:


klien mengatakan mampu bergerak masih terbatas
O: klien bisa miring kiri-kanan
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi dilanjutkan:
Bantu klien dalam melakukan aktivitas
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post
operasi
mengobservasi tanda-tanda infeksi
melakukan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat
luka
melakukan Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik S:
klien mengatakan tidak merasakan panas badan
O: tidak ada tanda-tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan;
Observasi tanda-tanda infeksi
Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat
luka
Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik
Jumat, 15-11-2009 (1) Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan
DS: klien mengatakan nyeri masih terasa pada daerah luka
operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala

nyeri 2 dalam rentang (0-4) mengkaji tingkat nyeri


mengobservasi tanda-tanda vital
mengajarkan tehnik relaksasi
melakukan kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi
S: klien mengatakan nyeri masih sedikit terasa
O: klien meringis apabila daerah nyeri ditekan, luka masih
sedikit basah
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi,
kaji tingkat nyeri
observasi tanda-tanda vital
ajarkan tehnik relaksasi
kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi
Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan bisa melakukan aktivitas masih
terbatas
DO: aktivitas klien dibantu
membantu klien dalam melakukan aktivitas
S: klien mengatakan mampu bergerak
O: klien bisa melakukan aktivitas dengan sedikit bantuan
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi dilanjutkan:
Bantu klien dalam melakukan aktivitas
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post
operasi

mengobservasi tanda-tanda infeksi


melakukan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat
luka
melakukan Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik S:
klien mengatakan tidak merasakan panas badan
O: tidak ada tanda-tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan;
Observasi tanda-tanda infeksi
Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat
luka
Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik
BAB III
KESIMPULAN
Hernia inguinalis adalah terjadinya penonjolan isi rongga
abdomen melalui annulus inguinalis interna mengikuti
apermatid cordi di kanale ingunalis kemudian keluar
melalui annulus inguinalis eksterna sehingga terdapat
benjolan di daerah inguinalis.
Gejala Hernia inguinalis adanya benjolan dilipat paha yang
timbul hilang. Muncul saat penderita berdiri, batuk, bersin,
mengedan atau mengangkat barang berat dan menghilang
saat penderita berbaring.
Kala ditinjau dari kasus Tn. S dengan keluhan utama Klien
mengeluh benjolan di lipatan paha kiri, sejak 3 hari yang

lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter, klien


diputuskan untuk dilakukan operasi.
Dari hasil pengkajian kasus Tn. S dengan post op Hernia
Inguinalis Lateralis didapat prioritas diagnosa perawatan
antara lain:
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
adaya luka post operasi ditandai dengan klien mengeluh
nyeri pada daerah luka operasi, klien terlihat meringis,
terdapat luka operasi, sekala nyeri 3
2. Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan
dengan nyeri daerah luka operasi ditandai dengan klien
mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas, klien tampak
lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi
post operasi
Kalau dilihat dari catatan perkembangan pasien pada kasus
Tn. S dengan post op Hernia Inguinalis Lateralis dalam dua
hari kondisi klien membaik, klien mengatakan nyeri
berkurang, klien bisa melakukan aktivitas walaupun
terbatas, tidak ada tanda-tanda infeksi.
DAFTAR PUSTAKA
Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan
pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian
pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Diambil dari

http:// andisetiadi.blogspot.com/2008/03 asuhan


keperawatan hernia
Diambil dari http://
khaidirmuhaj. Blogspot.com/2008/12/askephernia
Sabiston. Buku ajar bedah(Essentials of surgry. Bagian 2,
cetakan I : Jakarta, penerbit buku kedokteran EGC. 1994.
Sjamsuhidayat.R & Wim de jong. Buku ajar
ilmu bedah.edisi revisi.Jakarta : penerbit buku kedokteran
EGC, 1997.
Schwartz. et al.intisari prinsip-prinsip ilmu bedah.Ed. 6.
jakarta: penerbit buku kedokteran EGC, 2000.
I Putu Juniartha Semara Putra
Hernia, atau yang lebih dikenal dengan turun berok,
adalah penyakit akibat turunnya buah zakar seiring melemahnya
lapisan otot dinding perut. Penderita hernia, memang kebanyakan lakilaki, terutama anak-anak. Kebanyakan penderitanya akan merasakan
nyeri, jika terjadi infeksi di dalamnya, misalnya, jika anak-anak
penderitanya terlalu aktif.
Berasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga
melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding
rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa
cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang
keluar berupa bagian dari usus.
Hernia yang terjadi pada anak-anak, lebih disebabkan karena kurang
sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan
turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada orang dewasa, karena

adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor usia
yang menyebabkan lemahnya otot dinding perut.
Penyakit hernia banyak diderita oleh orang yang tinggal didaerah
perkotaan yang notabene yang penuh dengan aktivitasmaupun
kesibukan dimana aktivitas tersebut membutuhkan stamina yang tinggi.
Jika stamina kurang bagus dan terus dipaksakan maka, penyakit hernia
akan segera menghinggapinya.
Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :

hernia bawaan (kongenital)

hernia yang didapat (akuisita)

Berdasarkan letaknya, hernia dibagi menjadi

hernia diafragma yaitu menonjolnya organ perut kedalam rongga


dada melalui lubang pada diafragma (sekat yang membatasi rongga
dada dan rongga perut).
inguinal

umbilical yaitu benjolan yang masuk melalui cincin umbilikus


(pusar)

femoral yaitu benjolan di lipat paha melalui anulus femoralis.

Sedangkan menurut sifatnya, ada hernia

reponibel ; bila isi hernia dapat keluar masuk dalam waktu yang
singkat.

hernia irreponibel ; bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan


ke dalam rongga

strangulata : bila terdapat keluhan nyeri, biasanya karena


terjepitnya pembuluh darah

incarserata : terdapat tanda obstruktif, sperti tidak bisa buang air


besar, tidak bisa buang angin dan terdapat nyeri

hernia akreta ; jika tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda
sumbatan usus akibat perlekatan tersebut.

Semua Hernia perlu operasi, Hernia Reponible yang tergolong ringan


juga harus dioperasi, tetapi dapat dijadwalkan, sedangkan Hernia jenis
lainnya harus segera dioperasi, karena dikhawatirkan akan/sudah
menekan pembuluh darah, syaraf atau jaringan lainnya, sehingga dapat
mengakibatkan matinya/terganggunya organ tertentu. Sekarang ini
operasi banyak disertai pemasangan Mesh/Jaring untuk memperkuat
otot, walaupun demikian tidak ada jaminan bahwa Hernia tidak muncul
kembali terutama bila Faktor Penyebabnya tidak dihilangkan.

Tindakan Pencegahan[sunting | sunting sumber]


Langkah pertama untuk mencegah hernia adalah mengetahui
penyebabnya. Hernia yang timbul akibat kelainan bawaan dan efek
penuaan tidak dapat dicegah. Hernia bisa muncul bila otot dinding tipis
yang menyekat/ membungkus organ mendapatkan tekanan melebihi
kapasitasnya.

Gunakan teknik mengangkat yang benar. Selalu gunakan kaki


Anda, bukan otot punggung Anda, untuk mengangkat, jika perlu lutut
ditekuk. Pakailah dukungan penahan ketika melakukan kegiatan
mengangkat berat.

Sampaikan kesulitan buang air kecil ke dokter Anda. Kesulitan


buang air kronis dapat menyebabkan hernia. Penyebab sulit buang
air kecil perlu ditentukan dan diobati oleh dokter Anda.

Turunkan berat badan jika Anda kelebihan berat badan.


Hindari sembelit dengan banyak makan serat, banyak minum, dan
segera ke kamar kecil bila kebelet.
Berolahragalah secara teratur.
Berhentilah merokok. Oksigenasi buruk akibat merokok dapat
menyebabkan kerusakan otot dan kelemahan otot yang menjadi
sasaran utama perkembangan hernia.

Hernia adalah penyakit yang terjadi saat ada organ dalam


tubuh yang menekan dan mencuat lewat otot atau kondisi celah
jaringan di sekitarnya yang melemah. Otot kita biasanya cukup
kuat untuk menahan organ-organ tubuh sehingga tetap di
lokasinya masing-masing. Melemahnya otot tersebut dapat
mengakibatkan hernia.

Apa Sajakah Jenis-jenis Hernia?


Letak kemunculan hernia terdapat di seluruh abdomen (daerah
perut). Jenis-jenis hernia juga umumnya terbagi berdasarkan
letaknya, yaitu:

Hernia femoralis yang terjadi saat ada jaringan lemak atau


sebagian usus yang mencuat ke bagian atas paha bagian
dalam atau ke selangkangan.

Hernia inguinalis yang terjadi saat ada sebagian usus yang


menjulur dari abdomen bawah dan mencuat ke selangkangan.

Hernia umbilikus yang terjadi saat ada jaringan lemak atau


sebagian usus menjulur keluar abdomen dan mencuat di dekat
pusar.

Hernia insisi yang terjadi saat ada jaringan yang mencuat


lewat luka operasi yang belum sembuh di abdomen.

Hernia hiatus yang terjadi saat ada bagian perut yang


masuk lewat celah pada diafragma (sekat antara rongga dada
dan rongga perut) dan mencuat ke rongga dada.

Hernia Spigelian yang terjadi saat ada sebagian usus


menjulur dari abdomen pada otot perut bagian samping dan
mencuat di bawah pusar.

Hernia epigastrik yang terjadi saat ada jaringan lemak


yang mencuat keluar dari abdomen di antara pusar dan tulang
dada bagian bawah.

Hernia otot yang terjadi saat ada sebagian otot yang


mencuat pada abdomen. Jenis hernia ini juga dapat terjadi
pada otot kaki akibat cedera berolahraga.
Hernia Inguinalis
Ini adalah jenis hernia yang paling umum terjadi. 75% kasus
hernia merupakan jenis hernia inguinalis. Sekitar 25% pria akan
terkena penyakit ini. Sedangkan risiko bagi wanita lebih kecil,
yaitu sekitar 3%.
Faktor risiko untuk hernia inguinalis adalah:

Usia. Risiko terkena hernia akan meningkat seiring


bertambahnya usia.

Jenis kelamin. Pria lebih rentan terkena penyakit ini.

Sering mengangkat beban berat.

Obesitas (indeks massa tubuh mengindikasikan angka 30

atau lebih).

Menderita konstipasi (sulit atau tidak bisa buang air


besar) jangka panjang.

Menderita batuk jangka panjang.


Hernia hiatus
Hernia hiatus juga termasuk jenis hernia yang umum
terjadi dan dari seluruh kasus hernia, terdapat 10%
yang berjenis ini. Tidak semua penderitanya merasakan
adanya gejala. Tetapi gejala yang mungkin muncul
adalah nyeri ulu hati (rasa sakit atau tidak nyaman
pada dada yang biasanya muncul setelah makan).
Hernia insisi
Tiap operasi pasti memiliki risiko. Salah satu risiko
komplikasi pada operasi daerah perut adalah hernia
insisi. Tetapi risiko terjadinya penyakit ini pada
pascaoperasi tergantung pada jenis operasi yang
dijalani pasien.
Hernia femoralis

Selain faktor jenis kelamin dan usia, hernia femoralis


memiliki faktor risiko yang mirip dengan hernia
inguinalis. Risiko wanita untuk terkena penyakit ini juga
empat kali lebih tinggi daripada pria. Penyakit ini dapat
menyerang wanita dari segala usia. Hernia
femoralis adalah jenis hernia yang lebih jarang terjadi
dibandingkan hernia inguinalis.
Hernia umbilikus
Jenis hernia ini umum terjadi pada bayi. Tetapi sekitar
90% bayi yang mengalami hernia umbilikus dapat
sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan seiring
bertambahnya usia mereka.
Bagaimana Cara Memeriksa dan Mengobati
Hernia?
Pemeriksaan hernia umumnya menggunakan USG
(ultrasonografi). Dalam proses USG, gelombang suara
berfrekuensi tinggi akan digunakan untuk menghasilkan
gambar dari bagian dalam organ tubuh.
Penyakit melemahnya dinding perut ini sering dianggap
sepele karena jarang memiliki gejala. Tetapi hernia juga
dapat mengakibatkan gangguan usus atau
terhambatnya aliran darah pada jaringan hernia yang
terjepit.

Kedua komplikasi di atas adalah kondisi gawat darurat.


Anda dianjurkan untuk segera ke rumah sakit jika
mengalaminya.Risiko terjadinya komplikasi akibat
hernia cenderung berbahaya. Karena itu, dokter
umumnya menganjurkan para penderita hernia untuk
menjalani operasi.
Tetapi ada juga jenis hernia yang tidak membutuhkan
operasi. Misalnya:

Hernia umbilikus yang biasanya dapat sembuh


sendiri.

Hernia hiatus yang kadang-kadang dapat ditangani


dengan obat-obatan. Tetapi ada juga hernia hiatus yang
membutuhkan operasi.
Proses Operasi
Tidak semua jenis hernia membutuhkan operasi. Ada
beberapa faktor yang akan memengaruhi keputusan
untuk operasi, yaitu:

Isi hernia. Ada hernia yang berisi bagian usus, otot,


atau jaringan lain.

Gejala yang dialami. Ada hernia yang tidak memiliki


gejala dan ada yang menyebabkan rasa sakit.

Letak hernia. Hernia femoralis dan hernia yang


muncul di daerah selangkangan lebih membutuhkan
operasi dibandingkan hernia di daerah perut.
Semua operasi memiliki risiko tertentu. Karena itu,
dokter spesialis bedah akan menjelaskan semua
manfaat serta risiko dari prosedur operasi yang akan
Anda jalani.
EMPAT JENIS HERNIA PADA WANITA

Penyakit hernia biasa disebut dengan turun


berok. Kondisi ini terjadi akibat adanya
kelemahan atau kelainan pada otot sehingga
organ tubuh tidak tersangga pada tempat
sebenarnya.
Jenis penyakit hernia sendiri ada banyak. Ada jenis
hernia yang lebih sering ditemukan pada pria. Tapi ada
juga beberapa jenis yang justru lebih sering ditemui
pada tubuh wanita. Apa saja jenis hernia yang sering
hinggap pada kaum wanita?

Hernia sendiri adalah kondisi ketika organ pada tubuh


berada di luar dari posisi yang semestinya. Hal tersebut
dikarenakan otot-otot yang melemah sehingga tidak
kuat menahan organ tersebut. Sebagai akibatnya,
organ dalam tubuh akan keluar melalui celah-celah otot
yang melemah hingga terus menjalar ke bagian dalam
kulit dan membentuk tonjolan jika dilihat dari
permukaan luar kulit.
Ada empat jenis hernia yang dapat ditemui pada
wanita. Jenis-jenis hernia itu adalah hernia fermoralis,
hernia hiatus, hernia umbilikus, dan hernia inguinalis
tidak langsung.

Hernia fermoralis. Kondisi ini terjadi ketika usus


mencuat ke bagian paha atas atau selangkangan.
Hasilnya Anda akan melihat adanya tonjolan pada area
tersebut. Risiko wanita tiga kali lebih tinggi terkena
hernia jenis ini dibandingkan pada pria. Risiko ini
menjadi lebih tinggi jika Anda mengalami obesitas atau
sedang hamil. Terkadang hernia ini kerap disangka
hernia inguinalis karena tonjolannya muncul pada
tempat yang sama, yaitu di selangkangan.
Hernia jenis ini sulit terlihat ketika ukurannya masih
kecil. Penderita pun umumnya tidak merasakan sakit
pada area paha atas atau selangkangan. Namun
tonjolan dan rasa sakit akan mencuat ketika ukuran
hernia sudah membesar. Rasa sakit itu bisa terasa
ketika Anda berdiri atau mengangkat benda berat.
Hernia hiatus. Anda dikatakan memiliki hernia jenis ini
ketika ada tonjolan pada daerah rongga dada. Tonjolan
itu muncul karena ada bagian dari perut yang naik ke
atas dan melalui diafragma, sebuah kubah otot yang
memisahkan rongga dada dari perut. Kondisi lebih
sering terjadi pada wanita. Risiko yang dihadapi akan
lebih tinggi jika Anda mengalami obesitas dan berusia
di atas 50 tahun.
Sama seperti hernia fermoralis, hernia jenis ini juga
tidak memberikan tanda-tanda pada tubuh, terutama

ketika ukurannya masih kecil. Tapi kehadirannya baru


terasa ketika sudah membesar. Anda akan merasakan
hal-hal seperti nyeri pada dada atau perut, sering
bersendawa, asam lambung naik, dan sulit menelan.
Hernia umbilikus. Kondisi ini terjadi ketika ada usus,
lemak, atau cairan yang mencuat ke dinding rongga
perut dekat pusar. Hasilnya ada tonjolan pada sekitar
pusar Anda. Hernia jenis ini sering menimpa wanita,
terutama yang obesitas atau memiliki banyak anak.
Hernia inguinalis tidak langsung. Ini adalah salah
satu jenis hernia inguinalis. Hernia inguinalis pada
umumnya lebih banyak menimpa kaum pria, namun
untuk jenis tidak langsung ini lebih sering ditemui pada
wanita. Jika Anda memiliki hernia jenis ini, maka akan
terlihat tonjolan pada selangkangan Anda. Hal ini terjadi
karena adanya ketidaknormalan pada cincin inguinal
internal. Risiko yang lebih tinggi bisa terjadi pada ibu
hamil.
Tonjolan pada selangkangan itu bisa menimbulkan rasa
sakit, terutama ketika batuk, sedang membungkuk,
atau mengangkat benda berat.
Risiko Anda terkena hernia lebih tinggi lagi jika Anda
sering mengangkat benda-benda berat tanpa
menstabilkan otot-otot perut, menderita batuk yang

tidak kunjung sembuh, mengalami konstipasi, suka


merokok, atau kurang gizi.

Jika Anda Terkena Hernia


Jika Anda merasa ada tonjolan pada area pusar, paha
atas, atau selangkangan, jangan ragu untuk
mengonsultasikannya kepada dokter. Untuk
mengetahui apakah itu hernia atau bukan, dokter akan
melakukan tes fisik. Anda akan disuruh berdiri, batuk,
atau mengejan agar tonjolan itu bisa terlihat dan
diperiksa. Selain itu, dokter juga bisa menganjurkan tes
medis menggunakan teknik ultrasound atau X-ray.
Khusus untuk mengecek kehadiran hernia hiatus,
dokter akan melakukan tes yang berbeda, yaitu tes
darah, tes endoskopi, tes manometri, atau tes
esophagram.

Tes darah. Sebagian penderita hernia hiatus

mengalami muntah darah akibat adanya pendarahan


dalam sistem pencernaan. Oleh karena itu tes darah
diperlukan untuk mengetahui jika penderita mengalami
anemia atau tidak.

Tes endoskopi. Melalui tes ini dokter akan


menerawang lambung Anda dengan cara memasukkan
alat khusus (tabung yang dilengkapi kamera) melalui
kerongkongan.

Tes manometri. Berbeda dengan endoskopi, pada

tes ini sebuah alat khusus (kateter) akan dimasukkan


melalui hidung, lalu turun ke kerongkongan, dan
berakhir di lambung. Tes ini berguna untuk mengukur
tekanan dan gerakan dalam kerongkongan.

Tes esophagram. Anda akan menjalani tes Xray sambil meminum cairan mengandung barium kapur.
Cairan ini bisa memberikan gambaran jelas tentang
kondisi kerongkongan, perut, dan bagian atas usus kecil
Anda.
Dengan melakukan pengecekan ke dokter, Anda bisa
mengetahui apakah Anda terkena hernia atau tidak. Jika
dokter mendiagnosis Anda mengidap hernia, Anda bisa
mencegah kondisi hernia menjadi makin parah dengan
melakukan perawatan medis.
Hernia yang tidak ditangani berpotensi mengalami
komplikasi yang bahkan bisa mengancam jiwa Anda.
Namun bagi para wanita yang bebas dari hernia, Anda
masih bisa mencegah kehadirannya dengan cara rajin
mengonsumsi makanan berserat tinggi, seperti buah
atau sayur. Melakukan olahraga secara teratur dan
senantiasa menjaga berat tubuh yang sehat juga akan
membantu mencegah kondisi ini.

Hindari mengangkat benda-benda yang berat. Namun


jika Anda harus mengangkat benda-benda berat,
pastikan Anda menekuk lutut Anda, bukan pinggang.
Selain itu, menjauhi rokok juga bisa mengurangi risiko
Anda terkena hernia.