P. 1
Kelas 11 Smk IPS

Kelas 11 Smk IPS

|Views: 19,324|Likes:
Dipublikasikan oleh rahman30

More info:

Published by: rahman30 on Mar 18, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

Johnson & Johnson (1991) menyatakan beberapa hal yang harus
diperhatikan bilamana seseorang terlibat dalam suatu konflik, dan
akibatnya menentukan bagaimana seseorang menyelesaikan konflik,
sebagai berikut: (1) tercapainya persetujuan yang dapat memuaskan
kebutuhan serta tujuannya. Tiap orang memiliki tujuan pribadi yang ingin
dicapai. Konflik bisa terjadi karena tujuan dan kepentingan individu
menghalangi tujuan dan kepentingan individu lain; (2) seberapa penting
hubungan atau interaksi itu untuk dipertahankan. Dalam situasi sosial,
yang di dalamnya terdapat keterikatan interaksi, individu harus hidup
bersama dengan orang lain dalam periode tertentu. Oleh karena itu
diperlukan interaksi yang efektif selama beberapa waktu.
Faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap pengelolaan konflik,
seperti dirangkum sebagai berikut.
1. Kepribadian Individu Yang Terlibat Konflik
Stenberg dan Soriano (dalam Farida, 1996) berpendapat
bahwa gaya pengelolaan konflik seorang individu dapat diprediksi
dari karakteristik-karakteristik intelektual dan kepribadiannya.
Mereka menemukan bahwa subyek dengan skor intelektual yang
rendah cenderung menggunakan aksi fisik dalam mengatasi
konflik. Sebaliknya subyek dengan skor intelektual yang tinggi

309

lebih cenderung untuk menggunakan gaya-gaya pengelolaan
konflik yang membuat konflik melunak.
Dari karakteristik kepribadian dapat diprediksi bahwa
subyek dengan skor tinggi pada need for deference (kebutuhan
untuk mengikuti dan mendukung seseorang), need for abasement
(kebutuhan untuk menyerah atau tunduk) dan need for order (ke-
butuhan untuk membuat teratur) cenderung untuk memilih gaya-
gaya pengelolaan konflik yang membuat konflik melunak. Sebalik-
nya subyek dengan skor tinggi pada need for autonomy (kebutuh-
an untuk bebas dan lepas dari tekanan) dan need for change
(kebutuhan untuk membuat perubahan) memiliki kecenderungan
untuk memilih paling tidak satu gaya pengelolaan konflik yang
membuat konflik semakin intensif.
Menurut Broadman dan Horowitz (dalam Farida, 1996)
karakteristik kepribadian yang terutama berpengaruh terhadap
gaya pengelolaan konflik adalah kecenderungan agresifitas, ke-
cenderungan untuk mengontrol dan menguasai, orientasi koope-
ratif dan kompetitif, kemampuan untuk berempati, dan kemampu-
an untuk menemukan pola penyelesaian konflik.

2. Situasional

Aspek situasi yang penting antara lain adalah perbedaan
struktur kekuasaan, riwayat hubungan, lingkungan sosial dan
pihak ketiga. Apabila satu pihak memiliki kekuasaan lebih besar
terhadap situasi konflik, maka besar kemungkinan konflik akan
diselesaikan dengan cara dominasi oleh pihak yang lebih kuat
posisinya.

Riwayat hubungan menunjuk pada pengalaman sebe-
lumnya dengan pihak lain, sikap dan keyakinan terhadap pihak
lain tersebut. Termasuk dalam aspek lingkungan sosial adalah
norma-norma sosial dalam menghadapi konflik dan iklim sosial
yang mendukung melunaknya konflik atau justru mempertajam
konflik. Sedangkan campur tangan pihak ketiga yang memiliki
hubungan buruk dengan salah satu pihak yang berselisih dapat
menyebabkan membesarnya konflik. Sebaliknya, hubungan baik
pihak ketiga dengan pihak-pihak yang berselisih dapat melunak-
kan konflik karena pihak ketiga dapat berperan sebagai mediator.

3. Interaksi

310

Digunakannya pendekatan disposisional saja dalam men-
cari pemahaman akan perilaku sosial dianggap mempunyai
manfaat yang terbatas. Pendekatan yang lebih dominan dalam
menerangkan perilaku sosial adalah interaksi dan saling mem-
pengaruhinya determinan situasional dan disposisional.

4. Isu Konflik

Tipe isu tertentu kurang mendukung resolusi konflik yang
konstruktif dibandingkan dengan isu yang lain. Tipe isu seperti ini
mengarahkan partisipan konflik untuk memandang konflik sebagai
permainan kalah-menang. Isu yang berhubungan dengan
kekuasaan, status, kemenangan, dan kekalahan, pemilikan akan
sesuatu yang tidak tersedia substitusinya, adalah termasuk tipe-
tipe isu yang cenderung diselesaikan dengan hasil menang-kalah.
Tipe yang lain yang tidak berhubungan dengan hal-hal di atas
dapat dipandang sebagai suatu permainan yang memungkinkan
setiap pihak yang terlibat untuk menang.
Pada umumnya, konflik kecil lebih mudah diselesaikan secara
konstruktif daripada konflik besar. Akan tetapi pada konflik yang
destruktif, konflik yang sebenarnya kecil cenderung untuk membesar dan
meluas. Perluasan ini dapat terjadi bila konflik antara dua individu yang
berbeda dianggap sebagai konflik rasial. Selain itu bisa juga jika konflik
tentang masalah biasa dipandang sebagai konflik yang bersifat substantif
atau dipandang menyangkut harga diri dan kekuasaan.
Robbins (1996) mengungkapkan ada beberapa teknik yang bisa
dijadikan acuan dalam pemecahan konflik dan perangsangan konflik,
seperti berikut.

Pemecahan Konflik

Kegiatan

Pemecahan
Masalah

Pertemuan tatap muka dari pihak-pihak yang
berkonflik dengan maksud mengidentifikasi ma-
salah dan memecahkannya lewat pembahasan
yang terbuka;

Tujuan Bersama

Menciptakan suatu tujuan bersama yang tidak
dapat dicapai tanpa kerjasama dari masing-
masing pihak yang berkonflik;

Pemuaian Sumber
Daya

Bila konflik disebabkan oleh kelangkaan sumber
daya, seperti uang, kesempatan promosi,
ruangan kantor, perluasan sumber daya dapat
menciptakan win-win solution;

311

Penghindaran

Menarik diri, atau menekan, dari konflik; misalnya
mengurangi kesempatan untuk bertemu

perataan

Mengecilkan arti perbedaan sementara
menekankan kepentingan bersama antara pihak-
pihak yang berkonflik;

Kompromi

Tiap pihak pada konflik itu melepaskan
(mengorbankan) sesuatu yang berharga;

Komando Otoritatif

Manajemen menggunakan otoritas formal untuk
memecahkan masalah konflik dan kemudian
mengkomunikasikan keinginannya kepada pihak-
pihak yang terlibat konflik;
Mengubah Variabel Menggunakan teknik pengubahan perilaku
manusia misalnya pelatihan hubungan manusia
untuk mengubah sikap dan perilaku yang
menyebabkan konflik;
Mengubah struktur organisasi formal dan pola
struktural interaksi dari pihak-pihak yang
berkonflik lewat desain ulang pekerjaan,
pemindahan, penciptaan posisi koordinasi.

Perangsangan
Konflik

Komunikasi

Menggunakan pesan-pesan yang dwi-arti
ataumengancam untuk meningkatkan tingkat
konflik;
Memasukkan orang Menambahkan karyawan ke suatu kelompok
yang lata belakang, nilai, sikap, atau gaya
kerjanya berbeda dari anggota yang ada;

Menstruktur ulang
organisasi

Mengatur ulang kelompok-kelompok kerja,
mengubah aturan dan pengaturan, meningkatkan
kesalingbergantungan, dan membuat perubahan
struktural yang serupa untuk mengacaukan
status quo;

Mengangkat
Pembela Kejahatan Menunjuk seorang pengkritik untuk dengan
sengaja berargumen menentang pendirian
mayoritas yang dipegang oleh kelompok.

312

Tugas 6.5

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->