Anda di halaman 1dari 23

BAB I

TEORI DASAR ENDAPAN BESI

Kadar (prosentase) rata-rata minimum ekonomis suatu logam didalam


bijih disebut cut off grade. Kandungan logam yang terpadat didalam suatu bijih
disebut tenor off ore. Karena kemajuan teknologi, khususnya didalam cara-cara
pemisahan logam, sering menyebabkan mineral atau batuan yang pada mulanya
tidak bernilai ekonomis bisa menjadi mineral bijih atau bijih yang ekonomis.
Jenis logam tertentu tidak selalu terdapat didalam satu macam mineral
saja, tetapi juga terdapat pada lebih dari satu macam mineral. Misalnya logam
Cu bisa terdapat pada mineral kalkosit, bornit atau krisokola. Sebaliknya satu
jenis mineral tertentu sering dapat mengandung lebih dari satu jenis logam.
Misalnya mineral Pentlandit mengandung logam nikel dan besi. Mineral wolframit
mengandung unsur-unsur logam Ti, Mn dan Fe. Keadaan tersebut disebabkan
karena logam-logam tertentu sering terdapat bersama-sama pada jenis batuan
tertentu dengan asosiasi mineral tertentu pula, hal itu erat hubungannya dengan
proses kejadian (genesa) mineral bijih.
Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter
dari endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun
seringkali ditemukan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi
terdapat sebagai kandungan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki
nilai ekonomis tinggi. Endapan besi yang ekonomis umumnya berupa Magnetite,
Hematite, Limonite dan Siderite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite,
Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite.
Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi
bernilai ekonomis antara lain:

Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite

Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite

Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite

Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite

Konsentrasi mekanik dan residual: Hematite, Magnetite dan Limonite

Oksidasi: Limonite dan Hematite

Letusan Gunung Api


Dari mineral-mineral bijih besi, magnetit adalah mineral dengan

kandungan Fe paling tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil. Sementara


hematit merupakan mineral bijih utama yang dibutuhkan dalam industri besi.
Mineral-mineral pembawa besi dengan nilai ekonomis dengan susunan kimia,
kandungan Fe dan klasifikasi komersil dapat dilihat pada Tabel dibawah ini:
Tabel mineral-mineral bijih besi bernilai ekonomis
Mineral

Klasifikasi

Susunan kimia

Kandungan Fe (%)

Magnetit

FeO, Fe2O3

72,4

Hematit

Fe2O3

70,0

Bijih merah

Limonit

Fe2O3.nH2O

59 - 63

Bijih coklat

Siderit

FeCO3

48,2

Spathic, black band,


clay ironstone

komersil
Magnetik
ataubijih hitam

Sumber : Iron & Ferroalloy Metals in (ed) M. L. Jensen & A. M. Bafeman, 1981; Economic Mineral
Deposits, P. 392.

Besi merupakan komponen kerak bumi yang persentasenya sekitar 5%.


Besi atau ferrum tergolong unsur logam dengan symbol Fe. Bentuk murninya
berwarna gelap, abu-abu keperakan dengan kilap logam. Logam ini sangat
mudah bereaksi dan mudah teroksidasi membentuk karat. Sifat magnetism besi
sangat kuat, dan sifat dalamnya malleable atau dapat ditempa. Tingkat
kekerasan 4-5 dengan berat jenis 7,3-7,8.Besi oksida pada tanah dan batuan
menunjukkan warna merah, jingga, hingga kekuningan. Besi bersama dengan
nikel merupakan alloy pada inti bumi/ inner core. Bijih besi utama terdiri dari
hematit (Fe2O3). dan magnetit (Fe3O4). Deposit hematit dalam lingkungan
sedimentasi seringkali berupa formasi banded iron (BIFs) yang merupakan
variasi lapisan chert, kuarsa, hematit, dan magnetit. Proses pembentukan dari
presipitasi unsur besi dari laut dangkal. Taconite adalah bijih besi silika yang
merupakan deposit bijih tingkat rendah. Terdapat dan ditambang di United
States, Kanada, dan China. Bentuk native jarang dijumpai, dan biasanya
terdapat pada proses ekstraterestrial, yaitu meteorit yang menabrak kulit bumi.
Semua besi yang terdapat di alam sebenarnya merupakan alloy besi dan nikel
yang bersenyawa dalam rasio persentase tertentu, dari 6% nikel hingga 75%

nikel. Unsur ini berasosiasi dengan olivine dan piroksen. Penggunaan logam besi
dapat dikatakan merupakan logam utama. Dalam kehidupan seharti-hari, besi
dimanfaatkan untuk: Bahan pembuatan baja Alloy dengan logam lain seperti
tungsten, mangan, nikel, vanadium, dan kromium untuk menguatkan atau
mengeraskan campuran. Keperluan metalurgi dan magnet Katalis dalam
kegiatan industri Besi radiokatif (iron 59) digunakan di bidang medis, biokimia,
dan metalurgi. Pewarna, plastik, tinta, kosmetik, dan sebagainya
Cebakan bijih besi di Indonesia secara geologis dapat dibedakan atas
tiga jenis endapan yaitu:

Bijih besi kontak metasomatik

Bijih besi laterit, dan

Pasir besi
Endapan bijih besi tersebut tersebar di Indonesia di beberapa daerah di

Indonesia. Kemajuan di bidang industry besi baja di Negara-negara Asia


menyebabkan para pengusaha banyak yang mencari cadangan yang dapat
ditambang.

1.1

BESI PRIMER
Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat

dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik,


terbentuklah struktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona lemah yang
memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu intrusi magma menerobos batuan
tua. Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah proses rekristalisasi, alterasi,
mineralisasi, dan penggantian (replacement) pada bagian kontak magma dengan
batuan yang diterobosnya.
Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair (fluida)
yang berasal dari aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan magma pada
zona lemah ini hingga membeku umumnya disertai dengan kontak metamorfosa.
Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan samping sehingga menimbulkan
bahan cair (fluida) seperti cairan magmatik dan metamorfik yang banyak
mengandung bijih.

1.2

BESI SEKUNDER
Pembentukan

endapan

pasir

besi

memiliki

perbedaan

genesa

dibandingkan dengan mineralisasi logam lainnya yang umum terdapat.


Pembentukan pasir besi adalah merupakan produk dari proses kimia dan fisika
dari batuan berkomposisi menengah hingga basa atau dari batuan bersifat
andesitik hingga basaltik. Proses ini dapat dikatakan merupakan gabungan dari
proses kimia dan fisika.Di daerah pantai selatan Kabupaten Ende, endapan pasir
pantai di perkirakan berasal dari akumulasi hasil desintegrasi kimia dan fisika
seperti adanya pelarutan, penghancuran batuan oleh arus air, pencucian secara
berulang-ulang, transportasi dan pengendapan.
Cebakan-cebakan placer berdasarkan genesanya:
Genesa
Jenis
Terakumulasi in situ selama pelapukan
Placer residual
Terkonsentrasi dalam media padat yang Placer eluvial
bergerak
Terkonsentrasi dalam media cair yang Placer
aluvial
atau
bergerak (air)
sungai
Placer pantai
Terkonsentrasi dalam media gas/udara Placer Aeolian (jarang)
yang bergerak

Placer residual. Partikel mineral/bijih pembentuk cebakan terakumulasi


langsung di atas batuan sumbernya (contoh : urat mengandung emas
atau kasiterit) yang telah mengalami pengrusakan/peng-hancuran kimiawi
dan terpisah dari bahan-bahan batuan yang lebih ringan. Jenis cebakan
ini hanya terbentuk pada permukaan tanah yang hampir rata, dimana
didalamnya dapat juga ditemukan mineral-mineral ringan yang tahan
reaksi kimia (misal : beryl).

Placer eluvial. Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini


diendapkan di atas lereng bukit suatu batuan sumber. Di beberapa
daerah ditemukan placer eluvial dengan bahan-bahan pembentuknya
yang bernilai ekonomis terakumulasi pada kantong-kantong (pockets)
permukaan batuan dasar.

Placer sungai atau aluvial. Jenis ini paling penting terutama yang
berkaitan dengan bijih emas yang umumnya berasosiasi dengan bijih

besi, dimana konfigurasi lapisan dan berat jenis partikel mineral/bijih


menjadi faktor-faktor penting dalam pembentukannya. Telah dikenal
bahwa fraksi mineral berat dalam cebakan ini berukuran lebih kecil
daripada fraksi mineral ringan, sehubungan : Pertama, mineral berat pada
batuan sumber (beku dan malihan) terbentuk dalam ukuran lebih kecil
daripada mineral utama pembentuk batuan. Kedua, pemilahan dan
susunan endapan sedimen dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran
partikel (rasio hidraulik).

Placer pantai. Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh


pemusatan gelombang dan arus air laut di sepanjang pantai. Gelombang
melemparkan partikel-partikel pembentuk cebakan ke pantai dimana air
yang kembali membawa bahan-bahan ringan untuk dipisahkan dari
mineral

berat.

Bertambah

besar

dan

berat

partikel

akan

diendapkan/terkonsentrasi di pantai, kemudian terakumulasi sebagai


batas yang jelas dan membentuk lapisan. Perlapisan menunjukkan urutan
terbalik dari ukuran dan berat partikel, dimana lapisan dasar berukuran
halus dan/ atau kaya akan mineral berat dan ke bagian atas berangsur
menjadi lebih kasar dan/atau sedikit mengandung mineral berat. Mineralmineral terpenting yang dikandung jenis cebakan ini adalah : magnetit,
ilmenit, emas, kasiterit, intan, monazit, rutil, xenotim dan zirkon.

Mineral ikutan dalam endapan placer. Suatu cebakan pasir besi selain
mengandung mineral-mineral bijih besi utama tersebut dimungkinkan
berasosiasi

dengan

mineral-mineral

mengandung

Fe

lainnya

diantaranya : pirit (FeS2), markasit (FeS), pirhotit (Fe1-xS), chamosit


[Fe2Al2 SiO5(OH)4], ilmenit (FeTiO3), wolframit [(Fe,Mn)WO4], kromit
(FeCr2O4); atau juga mineral-mineral non-Fe yang dapat memberikan
nilai tambah seperti : rutil (TiO2), kasiterit (SnO2), monasit [Ce,La,Nd,
Th(PO4, SiO4)], intan, emas (Au), platinum (Pt), xenotim (YPO4), zirkon
(ZrSiO4) dan lain-lain.

1.3

BIJIH BESI KONTAK METASOMATIK


Endapan bijih besi kontak metasomatik yang termasuk endapan besi

primer, terjadi akibat adanya pembekuan magma disertai kontak dengan batuan

di sekitarnya pada tekanan dan temperatur tinggi (550 0C 6000C). Bijih besi ini
umumnya mengandung Fe,Cu, Zn, S, dan TiO2.
Bijih besi kontak metasomatik merupakan bijih besi hematit/magnetit, dan
sesuai untuk dilebur pada tanur tiup (blast furnace). Komposisi kimia bihij besi
jenis ini adalah:
Fe

50 70 %

Cu, Zn

>1 %

TiO2

<0,5 %

Ni dan Co

tidak terdeteksi

Jenis bijih ini terdapat di Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan


Barat, Sumatera Barat, Bangka Belitung dan Flores. Jenis bijih besi ini dapat
diproses dengan cara konvensional.

1.4

BIJIH BESI LATERIT


Bijih besi laterit merupakan endapan residual yang terbentuk sebagai

hasil pelapukan, dekomposisi dan akumulasi kimia dari batuan basa atau
ultrabasa. Pada umumnya bijih besi jenis ini mengandung:
Fe

20 50 %

Ni

0,6 2,6 %

0,1 0,6 %

Cr

0,1 1 %
Jenis bijih besi ini terdapat di Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan

Tenggara, dan pulau-pulau di Maluku Utara. Jenis bijih besi ini memerlukan
pengolahan yang lebih kompleks.

1.5

PASIR BESI
Menurut Thomas (1973), pasir besi yang sehari-hari dikenal sebagai

mineral berat atau pasir laut sebenarnya adalah pasir mineral (mineral sands).
Biasanya mengandung mineral utama sebagai berikut:
a.

Rutil
Rutil (TiO2) merupakan bahan baku pigmen putih setelah mendapat

perlakuan proses klorida atau sebagai bahan baku logam titanium. Pada tekanan
dan temperatur yang tingg, rutil merupakan salah satu polimorf dari TiO 2. Rutil
juga merupakan bentuk yang paling umum dari TiO2 secara alamiah dan juga

merupakan mineral sampingan dengan kadar tinggi pada batuan malihan dan
batuan beku,
Konsentrasi rutil komersial mempunyai kadar mineral 95 % TiO 2, dan
sisanya tersiri dari SiO2, Cr2O3. V2O3, Al2O3, FeO. Proses pembentukan rutil yang
lain, menunjukkan adanya unsur tantalum (Ta) dan kolumbium (Cb) dalam rutil.
Unsur-unsur tersebut dapat masuk ke dalam mineral titanium karena radius ion
yang hampir sama antara Ti+4, Ta+5, dan Cb+5. Jika terdapat besi dalam kadar
yangcukup besar, maka disebut ferroan-rutil.
Rutil dapat terentuk karena proses perubahan dari ilmenit atau anatase
menuju ke bentuk yang stabil. Tetapi kadang-kadang ada proses kebalikan
dimana rutil dapat berubah menjadi sfen, ilimenit atau menjadi anarase. Dalam
keadaan murni, rutil berwarna gelap seperti coklat kemerah-merahan dapat juga
hitam, ungu, kuning atau hijau. Berat jenisnya 4,2 dan kekerasaannya 6,5 Mohs.
b.

Zirkon
Zirkon (ZrO2, SiO2) digunaan sebagai pasir atau pelapis (glaze) atau

bahan logam. Zirkon terjadi di dalam batuan beku asam, seperti misalnya granit,
sienit. Zirkon mungkin bisa diemukan sebagai butiran dalam pasir dan batu
kerikil. Zirkon dapat berupa tanpa belahan yang baik; bisa rapuh; dengan
pecahan membawang; kekuatan 7,5; bergaya berat khusus, dengan variable
antara 4,2 hingga ,8; berkilau,adamantin, memiliki warna-warna cemerlang;hijau,
kuning-kehijauan, kuning-keemasan, merah, merah-kecoklatan, coklat dan biru.
c.

Ilmenit
Ilmenit (FeTiO3) adalah bahan pigmen menggunakan perlakuan sulfat,

atau bahan logam titanium dan bahan aditif dalam metalurgi. Secara literature
rumus kimia ilmenit adalah Fe.TiO2. Hal tersebut telat ditunjukkan oleh Ramdohr
(1950) dimana lebih dari 6 % Fe 2O3 dapat larut dalam larutan padat, dan pada
10500C deret larutan padat berada antara ilmenit dan hematit (Nichols, 1950).
Hematit berada bersama ilmenit sebagai lamel-lamel bekas larutan. Magnesium
dan mangan dapat menggantikan besi dalam ilmenit sebagai MgTiO 3 (geikelit)
dan MnTiO3 (pirofirit), tetapi biasanya kedua unsur tersebut berada sebagai
pengotor yang sangat kecil. Magnetit berasosiasi dengan ilmenit terjadi pada
batuan beku dan malihan. Ilmenit mempunyai berat jenis 4,7 dan kekerasannya

5,5 Mohs, kadar TiO2 teoritis 52 %. Kadar TiO2 lebih besar dari 52 %, disebabkan
oleh penggantian yang dan penyusupan secara submikroskopis rutil ke dalam
ilmenit.

Penelitian

terakhir

menunjukkan

bahwa

kelebihan

TiO2

akan

menyebabkan kehadiran mineral baru arizonite dengan rumus kimia 3 TiO 2 .


Fe2O3.
d.

Monasit
Monasit [(Ca La Dy) PO4 (ThSi) O2] merupakan bahan mineral jarang.

Biasanya lanthanum, La terdapat dengan rasio 1 :1 dengan serium. Ytrium


dengan jumlah kecil terdapat sebagai pengganti Ce dan La. Torium sebagai
pengganti Ce dan La biasanya terdapat dengan jumlah sampai 10 % ThO 2.
Serangkaian mineral monasit kemungkinan mengandung 30 % ThO2. Monasit
yang tidak mengandung torium sangat jarang. Kandingan uranium-U kadangkadang juga terdapat di dalamnya. Monasit mempunnyai sistem kristal monoklin.
Kristalnya berbentuk prisma dan biasanya sangat kecil, tetapi kadang-kadang
bisa besar. Warnanya bervariasi dari putih sampai kekuningan, hijau dan coklat .
Mineral ini tersebar secara luas sebagai butiran ubahan genes. Endapan sungai
dan pasir pantai kemungkinan mengandung monasit komersial. Mineral minor
pasir besi adalah:
-

Garnet yang digunakan sebagai bahan ampelas dan sand blasting,

Leukoksen, dan

Turnalin

BAB II
TIPE ENDAPAN BESI

Endapan Bijih Besi di Ragal, Lampung


Bijih besi ini ditemukan dalam endapan primer yang berbentuk lensa-

lensa. Salah satu lensa yang besar terdapat di permukaan dekat G. Ragal,
sedangkan sisanya berupa lensa-lensa kecil. Endapan ini juga berbentuk bijih
yang

kompak,

gumpalan,

blok-blok

dan

bongkah-bongkah,

terkadang

membentuk pasir magnetik.


Akibat pengaruh pelapukan, endapan ini terakumulasi dan terbebas dari
sulfida. Mineral yang tahan erosi disini adalah dari jenis magnetit dan hematit.
Batuan induknya adalah granit dan granodiorit. Mineral pembentukannya adalah
ortoklas, biotit, dan plgioklas. Endapan bijih besi ini berwarna coklat, dan di
sekitar endapan terdapat pelapukan granit sebagai lempung.
Menurut Kurten Van Wedexro (1960), jumlah cadanannya adalah seperti
pada tabel dibawah ini. Hasil analisis percontoh menunjukkan bahwa bijih besi
dari daerha ini mengandung 65 % Fe, <0,001 P dan S
Tabel jumlah cadangan pasir besi di G. Ragal, Lampung
Lokasi
Burhan
Tanjung Senang
Karangan

Jenis endapan
Bijih primer
Bijih lapuk
Bijih primer
Bijih lapuk
Bijih primer

Jumlah cadangan (ton)


200.000 ton, dapat ditambang
96.000 ton, dapat ditambang
9.500 ton, dapat ditambang
5.000 ton, dapat ditambang

Endapan Bijih Besi di Tanalang


Tanalang terletak di sebelah barat Pegunungan Meratus, Samarinda. Bijih

besinya merupakan kontak metasomatik dari bijih magnetik. Daerah Tanalang


diketahui sebagai anticlinorium, dengan adanya effusive yang berumur Cretasius,
terletak di antara batuan diorite dan batuan sedimen sebagai penutup. Panjang
badan bijih 210 m, dengan lebar rata-rata 100m. Bijih ini tersebar di daerah
yang luas sebagai garnet-gampingan dan jenis lainnya. Dari jenis eksplorasi

yang pernah dilakukan sebagai kerjasama Rusia-Indonesia, diperoleh cadangan


bijih magnetik deluvial, dengan estimasi cadangan sebesar 2.696.000 ton.
Sedangkan estimasi cadangan magnetik cadangan primer adalah 1.986.000 ton.
Bijih magnetik ini mempunyai karakteristik kandungan besi yang tinggi
dan material ikutan relatif rendah.

Endapan Bijih Besi di Daerah Pleihari


Endapan bijih besi di daerah Pleihari telah diketahui sejak tahun 1850

oleh van Gaffron, pada waktu melakukan pemetaan topografi. Bijih besi ini
terdapat di G. Tembaga dan Sungai Pontain.
Secara geologis, daerah Pleihari termasuk pre-Cenomian porfiri, dengan
batuan sedimen batuan pasir, batusabak-lempung, dan napal yang mengalami
pemampatan oleh adanya patahan sebagai akibat dari berlanjutnya aktivitas
pengangkatan dan proses dekomposisi konglomerat dan batu pasir. Endapan
laut yang berumur Eosen sampai Pliosen, terjadi dalam beberapa tipe dan
berbeda dengan proses geologis.

Endapan Bijih Besi Daerah Kukusan, Kalimantan Tenggara


Endapan bijih ini terletak 30 35 km sebelah timur Kotabaru (Pulau Laut)

dn sekitar 40 km dari kota Pagatan. Endapan ini diketahui sejak awal abad ini,
diantaranya oleh Macke (1981-1919), Dickman (1920), Ubagh (1934, 1938,
1940), van Goetner, Wirts dan Klees (1956).
Dibawah kondisi panas dan iklim, batuan ultrabasa (eridotit, harsbuhit,
serpentinisasi, dunit dan lainnya) dipermukaan mengalami pelapukan sehingga
terjadi pengayaan besi. Pada kala Eosen terjadi puncak pelapukan akibat
adanya erosi yang intensif dan terendapkan kembali sehingga terjadi endapan
sedimen bijih besi. Keberadaan endapan ini tidak tergantung pada keberadaan
nikel, tetapi mengandung banyak silica. Mineral lain yang terkandung di
dalamnya antara lain kaolinit, ilit dan kuarsa.

Endapan Pasir Besi Cilacap


Endapan pasir besi terdapat dipantai yang tersebar sepanjang 40 km di

sebelah timur kota Cilacap. Endapan ini merupakan endapan alluvial yang

tersebar searah garis pantai. Endapan alluvial laut yang kaya akan besi sedikit
ditumbuhi tanaman, sedangkan endapan yang verumur tua ditumbuhi oleh padi
dan rumput.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap endapan pasir besi
Cilacap antara lain oleh Pemerintah Belanda (1919), Kraeff (1956), Kerjasama
Nippn Kokan Kabushiki Kaisha Japan dengan Departemen Pertambangan
Indonesia (1960 dan 1961), Nisco Steel Mfg.Co.Ltd, Japan dan Departemen
Pertambangan (1962).
Tanah daerah ini terdiri atas lapisan pasir dan lapisan lempung alluvial
yang berasal dari Pegunungan Selo yang terdiri atas breksi andesitic dan tufa
yang berumur Tersier. Bagian alluvial yang baru dapat terlihat sepanjang pantai
dengan formasi menuju ke arah laut.
Mineral pembentuk batuan ini adalah magnetitm dan bijih besi bertitan
(ilmenit), augit, kuarsa, hornblende, plagioklas, dan yang jarang adalah hematit,
geotit, dan epidot. Cadangan pasir besi Cilacap berdasarkan laporan Niss Steel
sebesar 6.516.930 ton dengan kadar Fe 51-55 %, FeO 19-31 %, Fe2O3 44-45 %,
TiO2 9-11 %, sudah habis ditambang PT.Antam.

Endapan Pasir besi Yogyakarta


Seperti halnya endapan pasir bertitan yang terdapat disepanjang pantai

selatan Pulau Jawa lainnya, endapan pasir besi bertitan pada daerah ini juga
merupakan endapan alluvial pantai. Bagian yang tua dari endapan ini terdapat
agak masuk ke daratan sedangkan yang lebih muda dapat dilihat sepanjang
pantai. Cadangan endapan pasir besi yang terdapat di Pantai daerah Yogyakarta
tersebar antara Sungai Bogowonto sampai ke Sungai Progo, membujur
sepanjang 22 km, dan terbentang dengan lebar 1,2 km.
Secara umum endapan pasir besi mempunyai karakteristik yang sama.
Hal ini disebabkan oleh sejarah pembentukan dan asal geologis yang sama.
Karakteristik ini antara lain meliputi hubungan kadar dengan kehalusan butir,
dimana pada endapan dengan kadar yang tinggi biasanya menunjukkan lebih
banyak mineral titanomagnetis berukuran halus dan terliberasi, sedang pada
kadar yang rendah banyak butiran titanomagnet yang berukuran kasar dan
terikat dalam mineral-mineral ikutan. Gejala umum pada endapan pasir besi,
bahwa makin kearah kedalaman makin banyak dijumpai butir-butir yang lebih

kasar, terdiri atas butiran-butiran magnetit yang tergabung dengan mineral ikutan
dan kadar besi makin rendah karena butiran magnetit yang lepas makin
berkurang. Adanya TiO2 didalam mineral-mineral magnetit menyebabkan kadar
TiO2 yang cukup tinggi (7 % - 10%).
Pada umumnya endapan pasir besi Yogyakarta e=menunjukkan butiran
kasar dengan sedikit mineral magnetit yang lepas, mencakup mineral magnetit
dan penyertanya. Butiran yang lebih bersegi dan kasar, tampak lebih menonjol.
Komposisi mineral pasir besi Yogyakarta ini di satu pihak terdiri atas butiran
magnetit yang sudah lepas dan halus (misalnya magnetit yang berada di dalam
mineral ikutan lainnya seoerti silica yang pada umumnya berukuran kasar), dan
di lain pihak, butir mineral ikutan agak lebih kasar seperti piroksen, feldspar, dan
kuarsa. Mineral ikutan lainnya adalah apatit dan kalsit.

BAB III
TAHAPAN EKSPLORASI

Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah banyak


dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan pedoman teknis
eksplorasi bijih besi. Pedoman dimaksudkan sebagai bahan acuan berbagai
pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi
primer, agar ada kesamaan dalam melakukan kegiatan tersebut diatas sampai
pelaporan.
Tata cara eksplorasi bijih besi primer meliputi urutan kegiatan eksplorasi
sebelum pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan
lapangan. Kegiatan sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui
gambaran mengenai prospek cebakan bijih besi primer, meliputi studi literatur
dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan peralatan antara lain peta topografi,
peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu dan kompas geologi,
loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, alat gali, magnetometer, kappameter dan
peralatan geofisika.
Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan geologi
meliputi pemetaan; pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran topografi,
survei geofisika dan pemboran inti.
Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain adalah analisis
laboratorium dan pengolahan data. Analisis laboratorium meliputi analisis kimia
dan fisika. Unsur yang dianalisis kimia antara lain : Fetotal, Fe2O3, Fe3O4, TiO2,
S, P, SiO2, MgO, CaO, K2O, Al2O3, LOI. Analisis fisika yang dilakukan antara
lain : mineragrafi, petrografi, berat jenis (BD). Sedangkan pengolahan data
adalah interpretasi hasil dari penyelidikan lapangan dan analisis laboratorium.
Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang umumnya dilakukan
melalui empat tahap sbb : Survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, eksplorasi
rinci. Survei tinjau, tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang
berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional. Prospeksi, tahap
eksplorasi dengan jalan mempersempit daerah yg mengandung endapan mineral

yg potensial. Eksplorasi umum, tahap eksplorasi yang rnerupakan deliniasi awal


dari suatu endapan yang teridentifikasi .
Eksplorasi rinci, tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalarn 3dimensi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari pencontohan
singkapan, paritan, lubang bor, shafts dan terowongan.
Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan aspekaspek geologi diantaranya : pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pemetaan
adalah pengamatan dan pengambilan conto yang berkaitan dengan aspek
geologi dilapangan. Pengamatan yang dilakukan meliputi : jenis litologi,
mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan, sedangkan pengambilan
conto berupa batuan terpilih.
Penyelidikan Geofisika adalah penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik
batuan, untuk dapat mengetahui struktur bawah permukaan, geometri cebakan
mineral, serta sebarannya secara horizontal maupun secara vertical yang
mendukung penafsiran geologi dan geokimia secara langsung maupun tidak
langsung.
Pemboran inti dilakukan setelah penyelidikan geologi dan penyelidikan
geofisika. Penentuan jumlah cadangan (sumberdaya) mineral yang mempunyai
nilai ekonomis adalah suatu hal pertama kali yang perlu dikaji, dihitung sesuai
standar perhitungan cadangan yang berlaku, karena akan berpengaruh terhadap
optimasi rencana usaha tambang, umur tambang dan hasil yang akan diperoleh.
Dalam hal penentuan cadangan, langkah yang perlu diperhatikan antara
lain :

Memadai atau tidaknya kegiatan dan hasil eksplorasi.

Kebenaran penyebaran dan kualitas cadangan berdasarkan korelasi


seluruh data eksplorasi seperti pemboran, analisis conto, dll.

Kelayakan penentuan batasan cadangan, seperti Cut of Grade, Stripping


Ratio, kedalaman maksimum penambangan, ketebalan minimum dan
sebagainya bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan sebaran bijih
besi bawah permukaan.

BAB IV
KESIMPULAN

Cebakan besi di Indonesia berdasarkan cara terbentuknya dibagi atas


tiga bagian, yaitu bijih besi metasomatik, bijih besi laterit dan pasir besi, Bijih besi
metasomatik dianggap tidak ekonomis untuk diusahakan karena cadangannya
kecil. Bijih besi laterit berpeluang untuk diusahakan karena cadangannta cukup
besar. Pasir

besi sudah pernah dieksploitasi oleh PT.Antam, namun masih

berpeluang untuk diusahakan kembali dengan skala lebih besar.


Secara umum endapan bijih besi yang dikenal selama ini adalah endapan
bijih besi primer (kontak metasomatik/ skarn), endapan lateritik dan endapan
plaser, dari beberapa uraian yang dikemukakan sebelumnya menyebutkan
bahwa keberadaan bijih besi di ds. Pandean menyisip di dalam batuan sedimen
karbonan berbutir pasir sedang dengan struktur laminasi yang juga ditemukan
dibeberapa lokasi lain, di blok Tumpakuni Saroliman menyisip diantara tufa
breksi dengan tufa pasiran sedangkan di Kalitelu Bakalan ataupun di ds. Sobo
berada diantara batuan gunungapi andesitan dengan tufa pasiran. Bijih besi yang
ada di daerah ini umumnya berupa magnetit - hematit dan di beberapa tempat
terlihat adanya bercak-bercak pirit mengisi rekahan pada tubuh bijih besi.

LAMPIRAN
Peta Sebaran Sumberdaya Mineral Di Indoesia

Foto Sebaran pasir besi di Cipatujah, Tasikmalaya

Tabel Sumberdaya Dan

Cadangan Bijih Besi Indonesia (2008)


Sumberdaya (ton)
Cadangan (ton)
Jenis Cebakan
Bijih
Logam
Bijih
Logam
Bijih Besi Primer
381.107206,95
198.628764,63
2.216.005
1.383256,80
Laterit Besi
1.585.195.899,30
631.601.478,77
80.640.000
1.383256,80
Pasir Besi
1.014.797.646,30
132.919.134,62
4.732.000
15.063.748
Besi Sedimen
23.702.188,00
15.496.162,00
Sumber : Neraca Sumber Daya Mineral Logam dan Non Logam, Pusat Sumber Daya Geologi 2008

Tabel Sumberdaya Dan Cadangan Bijih Besi Indonesia (2003)


Jenis Cebakan
Sumberdaya (ton)
Cadangan (ton)
Bijih
Logam
Bijih
Logam
Bijih Besi Primer
76.147.311
35.432.196

Laterit Besi
1.151.369.714
502.317.988
215.160.000
8.193.580
Pasir Besi
89.632.359
45.040.808
28.417.600
15.063.748
Sumber : Sumber daya dan Cadangan Nasional Mineral, Batubara dan Panas Bumi Tahun 2003,
Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral 2004

Tabel Sumberdaya Dan Cadangan Bijih Besi Laterit


Sumberdaya (ton)
Cadangan (ton)
Jenis Cebakan
Bijih
Logam
Bijih
Logam
Nanggroe Aceh Darussalam
400.000
Lampung
135.000
93.150
Banten
126.000
61.147.000
Jawa Barat
500.000
225.000
Jawa Timur
84
46,58
Kalimantan Selatan
560.247.700
265.371.407
Sulawasi Selatan
371.500.000
182.035.000
Sulawesi Tenggara
59.080.930
10.261.997
4.520.000
670.349
Maluku
193.425.000
58.50.000
52.320.000
7.218.856
Sumber : Sumber daya dan Cadangan Nasional Mineral, Batubara dan Panas Bumi Tahun 2003,
Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral 2004

Sumberdaya (ton)
Cadangan (ton)
Bijih
Logam
Bijih
Logam
Nanggroe Aceh Darussalam
124.124
68.268
Bengkulu
738.241
434.027
Lampung
74
34
Jawa Barat
23.165.506
11.925.668
10.465.200
5.894.001
Yogyakarta
60.606.000
30.727.000
Jawa Timur
1.100
462
700.000
351.400
Nusa Tenggara Barat
4.270
2.859
Nusa Tenggara Timur
175.000
89.250
MalukuSulawesi Selatan
3.402.500
1.357.125
Sulawesi Tengah
609.772
1.824.110
Sumber : Sumber daya dan Cadangan Nasional Mineral, Batubara dan Panas Bumi Tahun 2003,
Jenis Cebakan

Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral 2004

Tabel Sumberdaya
Dan Cadangan Bijih
Besi Laterit

DAFTAR PUSTAKA

Edwin A Daranin dan Harsodo, Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi di


Indonesia, Penerbit Tekmira, Bandung, 205 halaman.
Setiawan B., Pardiarto B., Sunuhadi.D.N., 2004, Peluang Pemanfaatan Bijih Besi
di Indonesia, Mineral and Energy, Vol.2 No.5 Desember, hal 45-50.
Satrio,

Desember

2012,

BIJIH

BESI.

satriopage.blogspot.com/2012/12/makalah-iron-ores-bijih-besi_1.html.
Diakses pada tanggal 20 Mei 2014