Anda di halaman 1dari 16

HEPATOTOK

SIK
DAN
UJI EFEK

Anatomi Hati

Hati merupakan kelenjar terbesar ditubuh beratnya sekitar


1 2,3 kg. Hati berada di bagian atas rongga abdomen sebelah
kanan yang menempati bagian terbesar region hipokondriak, di
bawah diafragma. Hati secara luas dilindungi iga iga, yang
terbungkus dalam kapsul tipis yang tidak elastis dan sebagian
tertutupi oleh lapisan peritoneum.

Hati memiliki 4 lobus.


Dua lobus berukuran besar
( lobus kanan lebih besar dari
lobus kiri yang berbentuk
seperti baji ).
Dua lobus lainnya yaitu
lobus kaudatus dan kuadratus
yang berada diposterior.

Hati terbagi dalam dua


belahan utama, kanan dan
kiri
.Permukaan
atas
berbentuk
cembung
dan
terletak di bawah diafragma,
permukaan bawah tidak rata
dan memperlihatkan lekukan.

Diantara sel yang


melapisi sinusoid, terdapat
makrofag (sel Kupffer)
yang memiliki fungsi
menelan dan
menghancurkan sel darah
yang rusak dan partikel
asing yang ada di aliran
darah yang menuju hati.
Darah mengalir dari
sinusoid ke vena sentral dan
vena sentrylobular yang
bergabung dengan vena dari
lobulus lain, membentuk
vena besar hingga akhirnya
vena ini membentuk vena
hepatica, yang meninggalkan
hati menuju vena cava
inferior.

Fungsi Hati

Metabolisme karbohidrat
Metabolisme lemak
Metabolisme protein

Metabolisme vitamin
Berhubungan dengan pembekuan darah
Fungsi hati
vitamin

sebagai
metabolisme
Detoksikasi

Fagositosis dan imunitas


Hemodinamik

Efek Toksik

Kerusakan hati yang diinduksi oleh obat (DILI),


menimbulkan masalah klinis. Salah satu yang menarik
adalah DILI dapat mengikuti semua bentuk penyakit
hati baik akut maupun kronis.
Hepatotoksik intrinsik merupakan dose-dependent
dan diprediksi hanya terjadi pada dosis diatas dosis
terapi, sedangkan hepatotoksik idiosinkrasi terjadi
tanpa adanya ketergantungan akan dosis dan tidak dapat
diprediksi pada kisaran dosis mana hal ini terjadi.

Mekanisme Timbulnya Efek Toksik

Mekanisme awal
toksisitas :

Apoptosis dan
Nekrosis

Direct cell stress,


Direct mitochondrial
impairment, dan
reaksi imun spesifik.
Mekanisme kematian
sel diperantarai oleh
reseptor yang
menyebabkan
perubahan
permeabilitas
mitokondria

Contoh Obat Yang Dapat Menimbulkan Toksik

Rifampisin

Nama Kimia
: 5, 6, 9, 17, 19, 21-Heksahidroksi23- metoksi-2, 4, 12, 16, 18, 20, 22- heptametil-8
[N-(4-metil-1-piperazinil) formimidoil]-2, 7(epoksipentadeka [1, 11, 13] trienimino) nafto [2, 1b] furan- 1, 11-(2H)-dion-21-asetat.
Sinonim
: Rifampicinum, Rifampin, Rivalzadin, 3[{(4-Metil-1- piperazinil) imino} metil]
rifamisin.
Rumus Molekul : C43H58N4O12.
Berat Molekul
Pemerian

: 822,95.
: Serbuk hablur, coklat .
merah.

Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, sukar


larut dalam etanol, eter dan aseton, mudah larut
dalam kloroform, larut
dalam etil asetat dan
dalam metanol (Depkes RI, 1995; Sweetman, 1999).

Penggunaan dan Cara


Pemberian
Digunakan dalam bentuk kombinasi dengan antibakterial lainnya
untuk
menghindari
resistensi
dan
untuk
pengobatan
tuberkulosis.
Penggunaan :
dewasa 600 mg per hari melalui mulut pada keadaan lambung
kosong.
Sedangkan pada anak-anak diberikan dosis 10 mg/kg hingga 20
mg/kg per hari dengan batas maksimum 600 mg per hari
(Sweetman, 1999).

Farmakokinetik
Rifampisin
Rifampisin segera
segera diabsorbsi
diabsorbsi dari
dari saluran
saluran pencernaan.
pencernaan. Konsentrasi
Konsentrasi
maksimum
maksimum obat
obat dalam
dalam plasma
plasma adalah
adalah 7
7 g/mL
g/mL sampai
sampai 24
24 g/mL
g/mL
setelah
setelah 2
2 jam
jam sampai
sampai 4
4 jam
jam pemberian
pemberian dosis
dosis 600
600 mg.
mg. Rifampisin
Rifampisin
secara
cepat
dimetabolisme
di
hati
menjadi
25-O-deasetilrifampisin.
secara cepat dimetabolisme di hati menjadi 25-O-deasetilrifampisin.
Deasetilrifampisin
Deasetilrifampisin diserap
diserap kembali
kembali ke
ke saluran
saluran cerna
cerna dan
dan
meningkatkan
meningkatkan ekskresi
ekskresi melalui
melalui feses,
feses, tetapi
tetapi siklus
siklus enterohepatik
enterohepatik
tetap
tetap berjalan.Sekitar
berjalan.Sekitar 60%
60% obat
obat diekskresikan
diekskresikan melalui
melalui feses
feses
sedangkan
sedangkan 30%
30% obat
obat diekskresikan
diekskresikan melalui
melalui urin,
urin, setengah
setengah bagian
bagian
tersebut
diekskresikan
dalam
waktu
24
jam.
tersebut diekskresikan dalam waktu 24 jam.

Gangguan
saluran cerna
(anoreksia,
diare,
Efek Samping
mual dan
muntah),
gangguan darah
(trombositopenia
, eosinofilia,
leukopenia dan
anemia),
gangguan saraf
(sakit kepala),
udema dan
perubahan
warna pada urin,
feses, keringat,
air liur, dahak,
air mata dan
cairan tubuh
lainnya menjadi
jingga hingga
merah

Mekanisme
Hepatotoksik Rifampisin
Rifampisin bisa merusak hati
dengan 3 cara :
a. Mengganggu proses metabolisme bilirubin
dan asam empedu. Efeknya reversible dan
mekanismenya tidak diketahui, walaupun
ada yang mengatakan efeknya merusak
hepatosit.
b. Rifampisin menginduksi metabolisme obat
di retukulum endoplasma yang
mengganggu biotransformasi dari zat
zat yang hepatotoksik, apalagi jika
digabung dengan isoniazid.
c.

Rifampisin sendiri bisa mengakibatkan


efek seperti hepatitis akibat virus. Namun
karena rifampisin diberikan bersamaan
obat antituberkulosis yang lain, maka

Uji efek hepatotoksik


Efek Akut dari Toksisitas Fenthion Terhadap Hati dan Ginjal Serta Fungsi
dan Histologinya Pada Tikus.

Abstrak

Fenthion (0,0-dimetil 0-[3-metil-4-(methylthio) fenil]fosforotioat)


adalah (OP) sistemik insektisida banyak digunakan di pertanian.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
dosis fenthion terhadap hati dan kolerasi antara kerusakan organ
dan buthyrycholinesterase serum enzim (BChE). Pada penelitian
ini menggunakan 90 tikus yang dibagi secara acak menjadi satu
kelompok kontrol dan empat kelompok pengujian. Kelompok
kontrol diberikan serum, sedangkan kelompok pengujian
diberikan fenthion dengan dosis masing-masing 25, 50, 75, dan
100 mg/kg sebanyak 1 ml secara intraperitonial.

Metode uji efek hepatotoksik


90 ekor Tikus Wistar jantan dengan berat 230-280gram ditempatkan secara
terpisah dan dibolehkan untuk makan dan minum sebelum dan sesudah
eksperimen.

Suhu kandang diatur pada suhu 22-2C

Tikus dibius dengan ketamin 100 mg/kg dan xilazine 20 mg/kgBB secara
intraperitoneal. Kemudian dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing
terdiri dari 18 ekor.

kontrol:1ml saline , Kelompok I: fenthion 25mg/kg , Kelompok II:


fenthion 50mg/kg., kelompok III: fenthion 75 mg /kg., Kelompok IV:
fenthion 100 mg /kg.

Lanjutan...

10 Tikus dari masing-masing kelompok diambil sampel


darahnya tiap 24 jam setelah pemberian saline dan fenthion
selama 7 hari.
darah disendtrifugasi pada 500 rpm selama 10 menit. disimpan
pada suhu 70C.

pengukuran menggunakan Serum AST, ALT, GGT

Setelah 7 hari tikus dikorbankan, diambil bagian hati untuk


sampel, uji hispatologi

Sampel jaringan hati diberi formalin 10%. Jaringan diiris sebesar


5-8mm, diletakkan diatas kaca objek, ditetesi dengan parafin
dan Hematoxylineosin
lalu diamati di bawah mikroskop cahaya

Hasil pengujian efek hepatotoksik

Kesimpulan

Hasil analisis biokimia serum mengungkapkan bahwa


pengobatan dengan intraperitoneal tunggal dosis fenthion (75 100mg/kg) secara signifikan pada serum AST, ALT dan GGT,
menunjukkan toksisitas hati, dan peningkatan BUN dan tingkat
serum kreatinin, menunjukkan bahwa adanaya fungsi hati yang
terkena.

Terima Kasih

Wassalamualaiku
m Wr. Wb