Anda di halaman 1dari 128

1BAB I

A. Pengertian
Manajemen Keuangan Internasional adalah ilmu dan
seni yang merupakan bagian dari ekonomi internasional yang
mempelajari dan menganalisis pengelolaan fungsi POAC
(Planning, Organizing, Actuating and Controlling) sumber
daya keuangan unit makro ekonomi (Negara/Pemerintah) dan
unit mikro ekonomi (Perusahaan/ Organisasi/Perorangan)
khususnya yang berkenaan dengan pengaruh fluktuasi kurs
valas terhadap aktivitas ekonomi keuangan Internasional
yang meliputi:
1. International Commercial Transaction, terdiri dari:
a. Ekspor barang/jasa.
b. Impor barang/jasa.
2. International Financial Transaction,
terdiri
dari:
Ekspor
Barang
& Jasa
a.
International
Investment.
International Commercial
b. Transaction
International Financing.
Impor Barang & Jasa
c. (Transaksi
International Budgeting.
d. Perdagangan
International EarningRevenue.
International terdiri
Investment
3. International
Financial Risk Management,
dari:
Internasional)
(Direct
&
Portfolio)
a. Insurance.
International Financing
b. Asset liabilities management.
(Short & Long Term)
International
c.
Hedging. Financial
Transaction
4. Financial
Report, terdiri dari: International Budgeting
(Fixed & Variable)
a. (Transaksi
Macro Finance (BOP & APBN/APBD).
International Earning/Revenue
b. Perdagangan
Micro Finance (Laporan Keuangan
Perusahaan).
Pengaruh
Forex Rate
Terhadap
International
Transaction

(Fixed & Variable)

Internasional)

Insurance

International Financial

Asset Liabilities Management

5. Financial
Performance, terdiri dari:
Risk Management
Hedging
a. (Resiko
Liquidity
Manajemen
ratio.
Internasional)
b. Keu.
Solvability
ratio.
c. Rentability ratio.
d. Activity ratio.
e. Growth ratio.
f. Economy value added (EVA).

Natural Hedging
Money Market
Hedging Market
Forward
Hedging
Swap Hedging
Future Market
Hedging
Option
Market
Hedging
Range Agreement

Balance of Payment
Gambar 1
(BOP)
Macro
Pengaruh Forex Rate Terhadap International
Transaction
Balance of Payment
Finance

IV. Financial Report


(Laporan Keuangan)

(BOP)
Balance Sheet
Income Statement
Cash Flow Statement

1
V. Financial Performance
(Kinerja Keuangan)

Micro
Finance
Liquidity Ratio
Solvability Ratio
Rentability Ratio
Activity Ratio
Growth Ratio
Economy Value Added (EVA)

B. Pengaruh
Sebaliknya dari gambar 1.1 di atas, dapat juga dilihat
bagaimana interaksi antara International Commercial dan
Financial Transaction yang dapat mempengaruhi nilai tukar
atau Forex Rate seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.2
dibawah ini.
Gambar 1.2
Pengaruh International Commercial dan Financial Transaction
Terhadap Kurs Valas (Forex Rate)

Keterangan:
MB/J
= Impor barang/jasa
CX
= Capital ekspor
DFC
= Demand Foreign Currency
Currency
DDC
= Demand Domestic Currency
Currency

C. Pengaruh

dan

XB/J
CM

= Ekspor barang/jasa
= Capital impor
SFC
= Supply Foreign
SDC

Peranan

= Supply Domestic

Manajemen

Keuangan

Internasional Dilihat Dari Aspek Macro Finance


Mempelajari dan menganalisis pengaruh/peranan
Manajemen Keuangan Internasional harus dilakukan dari dua
aspek yaitu aspek Macro Finance dan aspek Micro Finance.
Ditinjau Dari Sisi Supply dan Demand
Secara

teoritis

dari

aspek

macro

finance

dapat

dilakukan perhitungan pendapatan nasional atau national


income (H. Hady, 2004) dengan cara sebagai berikut:
1. Menghitung GDP dengan prinsip territorial

yaitu

menghitung seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh


seluruh faktor produksi di dalam wilayah suatu negara baik
milik nasional maupun asing.
2. Menghitung GNP dengan

prinsip

nationality

atau

kebangsaan yaitu menghitung seluruh barang dan jasa


yang dihasilkan dari seluruh faktor produksi milik nasional
baik yang berada di dalam territorial suatu negara maupun
di luar negeri.

Perhitungan GDP atau GNP diatas dapat dilakukan


dengan tiga pendekatan (approach) yang akan menghasilkan
angka yang sama yaitu, sebagai berikut:
1. Production Approach yaitu berdasarkan Nilai Tambah
(Value Added) yang dihasilkan oleh faktor produksi dari
setiap sektor produksi (Primer, Sekunder dan Tersier).
2. Income Approach yaitu balas jasa dalam bentuk
pendapatan diperoleh faktor produksi pada setiap sektor
produksi.
3. Expenditure Approach yaitu berdasarkan pengeluaran
yang dilakukan oleh sektor produksi berupa konsumsi
rumah tangga (C), investasi/konsumsi perusahaan (I),
konsumsi/pengeluaran

pemerintah

atau

expenditure dan transfer payment

government

(G + Tr) dan

pengeluaran luar negeri netto (X M).


Perhitungan Expenditure Approach ini dikenal dengan
rumusan:
GDP atau GNP = Y = C + I + (G + Tr) + (X M)
Berdasarkan rumusan perhitungan GDP atau GNP diatas
maka dapat dijelaskan bagaimana pengaruh ekonomi dan
keuangan
ekspor

internasional

(X)

dan

yang

impor

ditunjukkan

(M)

terhadap

oleh

aktivitas

keseimbangan

pendapatan nasional sebagai berikut:


1. Bila X M > 0 X > M A/R (Piutang) > A/P (Utang)
X + X Naik Y Naik GDP atau GNP Naik;
2. Bila X M < 0 X < M A/R (Piutang) < A/P (Utang)
X X Turun Y Turun GDP atau GNP Turun.
Dari mekanisme di atas dapat dilihat bagaimana
pengaruh X & M yang menghasilkan dan memerlukan valas
dapat mempengaruhi pendapatan nasional (GDP atau GNP).
Selanjutnya berdasarkan uraian diatas dapat juga dikatakan
bahwa

keseimbangan

ekonomi

nasional

suatu

negara

merupakan suatu keseimbangan antara jumlah barang/jasa


yang ditawarkan (Supply total = St) berdasarkan production
4

approach dengan jumlah barang/jasa yang diminta (Demand


total = Dt) berdasarkan income dan expenditure approach.
Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.3.
Pada Gambar 1.3 di bawah ini dapat dilihat bahwa:
1. Problem ekonomi timbul disebabkan oleh kecenderungan
Ad yang lebih besar daripada As karena sifat Ad (Needs <
Wants < Expectations) yang tidak terbatas, sedangkan As
2.

(Resources) terbatas.
Problem ekonomi yang utama adalah masalah Scarcity
(kelangkaan) disatu pihak dan Abundant (kelebihan) dilain

pihak.
3. Bila ekonomi dalam keadaan Scarcity (kelangkaan), maka
perlu dilakukan Impor (M). Sebaliknya bila ekonomi dalam
keadaan Abundant (kelebihan), maka perlu dilakukan
ekspor (X) yang berarti diperlukan perdagangan dan
keuangan internasional.
4. Problem Choice (pilihan)

perlu

diputuskan

untuk

menentukan produk apa yang di ekspor (X) karena


Abundant (kelebihan).
5. Penentuan produk apa yang akan di ekspor (X) dan di
impor (M) dilakukan dengan menggunakan opportunity
cost

(peluang

biaya

terbaik)

dan

opportunity

profit

(peluang keuntungan terbaik).

Gambar 1.3
Pengaruh Supply dan Demand terhadap Pendapatan Nasional

Keterangan:
As
= Agregat supply
M
= Impor
DN
= Dalam negeri
PD
= Produk domestic

Ad
X
LN
KD

=
=
=
=

Agregat demand
Ekspor
Luar negeri
Konsumsi domestic

6. Berkenaan dengan kecenderungan Ad yang lebih besar


dari

pada

As,

maka

secara

teoritis

sebenarnya

perdagangan dan keuangan internasional tidak diperlukan.


Tetapi mengapa dalam perekonomian modern dengan
teknologi produksi yang sangat maju (mass production)
dan era globalisasi saat ini, masih ada produk yang tidak
terjual/laku dipasar, sehingga perdagangan dan keuangan
internasional semakin diperlukan.
7. Jawabannya adalah karena masih ada produk yang tidak
dapat

memenuhi

(Needs<Wants<Expectations)

permintaan
dari

konsumen

yang

bersifat tidak terbatas.


8. Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa perdagangan
dan keuangan internasional (Ekspor dan Impor) sangat
berperan dalam menjaga keseimbangan makro ekonomi
suatu negara.
D. Pengaruh

dan

Peranan

Manajemen

Keuangan

Internasional Dilihat Dari Aspek Micro Finance

Ditinjau dari aspek micro finance, pengaruh ekonomi


internasional,

khususnya

keuangan

dijelaskan sebagai berikut:


1. Suatu
perusahaan
yang

akan

internasional,

dapat

beroperasi

tentu

memerlukan input, baik yang berasal dari dalam maupun


luar

negeri.

Variable

yang

menentukan

input

atau

operasional cost tersebut adalah P (price) dan Q (quantity)


input yang digunakan. Dalam hal ini variable P dan Q dari
input yang digunakan tersebut, secara langsung maupun
tidak langsung akan dipengaruhi fluktuasi kurs valas
(forex rate). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
total operasional cost suatu perusahaan akan dipengaruhi
oleh fluktuasi kurs valas (forex rate).
2. Perusahaan akan memasarkan produknya, baik di dalam
maupun di luar negeri. Dalam hal ini, variable yang akan
menentukan besarnya revenue atau penerimaan yang
akan diperoleh adalah

P (price) dan Q (quantity) produk

yang dihasilkan dan terjual. Sama halnya dengan input,


maka besarnya revenue atau penerimaan hasil penjualan
produk/output, baik di dalam atau luar negeri, secara
langsung ataupun tidak langsung akan dipengaruhi oleh
fluktuasi kurs valas (forex rate). Misalnya bila, valas
(forex rate) apresiasi terhadap domestic currency maka
permintaan dari luar negeri cenderung naik, sehingga
secara langsung maupun tidak langsung revenue atau
penerimaan perusahaan akan naik pula. Demikian pula
sebaliknya.
3. Karena tingkat keuntungan atau profit perusahaan akan
ditentukan oleh selisih antara total revenue dan total cost,
maka secara micro finance, baik langsung maupun tidak
langsung, keuangan internasional berpengaruh terhadap
perusahaan.

Pengaruh keuangan internasional dilihat dari aspek


micro finance melalui fluktuasi kurs valas (forex rate) ini
dapat divisualisasikan dengan Gambar 1.4. (H. Hady, 1998).
Gambar 1.4
Bagan Pengaruh Forex Rate terhadap Keuangan
Perusahaan

Dalam hal ini, pengaruh keuangan internasional melalui


X & M dapat dilihat dari analisis input impor dan atau output
ekspor yang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar atau kurs
mata uang dalam negeri (Domestic Currency) dan mata uang
luar negeri (Foreign Currency).
Sebagai

ilustrasi

dapat

dilihat

bagaimana

tingkat

Rugi/Laba (R/L) yang dapat berfluktuasi karena pengaruh


perubahan nilai input impor dalam USD sebagai Cost atau
TC dan atau nilai output ekspor dalam JPY sebagai
Revenue atau TR sebagai berikut:
R/L

TR
TC
(X - JPY) (M - USD)

Bila USD depresiasi terhadap JPY apresiasi, maka Laba


meningkat atau Rugi berkurang, karena TC atau nilai impor
akan menurun, sedangkan TR atau nilai ekspor akan naik.
Sebaliknya bila USD apresiasi terhadap JPY depresiasi,
maka Laba berkurang atau Rugi meningkat, karena TC atau

nilai impor akan naik, sedangkan nilai TR atau ekspor akan


turun.
Selanjutnya peranan penting manajemen keuangan
internasional khususnya masalah manajemen fluktuasi forex
rate dapat dilihat dari keterkaitan atau ketergantungan yang
semakin

erat

dari

perekonomian

global

sebagaimana

ditunjukkan pada gambar di bawah ini (H. Hady, 1997).


Gambar 1.5
Manajemen Fluktuasi Forex Rate

Keterangan:
1. Diasumsikan perusahaan A yang berkedudukan di Jakarta-Indonesia
(IDR = Indonesian Rupiah) akan melakukan kerjasama investasi
dengan perusahaan B di Hanoi-Vietnam (VND = Vietnam Dong).
2. Karena kekurangan modal, maka perusahaan A akan meminjam pada
Lembaga Keuangan C dan di pasar uang internasional London-UK (GBP
= Great British Pound).
3.
Untuk keperluan bahan bakunya, perusahaan A membeli dari
perusahaan D yang berkedudukan di Kuala Lumpur-Malaysia (MYR =
Malaysian Ringgit).
4. Untuk barang modal dan teknologinya perusahaan A membeli dari
perusahaan E di Tokyo-Japan (JPY = Japan Yen)
5. Kemudian produksi yang dihasilkan dari investasi di Hanoi-Vietnam
tersebut diekspor ke perusahaan F di New York-USA (USD=US Dollar).

Ilustrasi aktivitas transaksi keuangan internasional pada


gambar 1.5 diatas, menunjukkan dan membuktikan peranan
dan arti penting dari manajemen keuangan internasional
dilihat dari aspek mikro finance khususnya yang berkaitan
masalah fluktuasi valas.
9

Dari uraian tentang pengaruh / peranan macro dan


micro

finance

keuangan

diatas,

maka

internasional

dapat

memang

disimpulkan
sangat

bahwa

berpengaruh

terhadap perkembangan ekonomi, sosial dan politik nasional


suatu negara seperti yang ditunjukkan dengan mekanisme
pada gambar 1.6 dibawah ini (H. Hady, 1999).
Gambar 1.6
Mekanisme Pengaruh dan Peranan Manajemen Keuangan
Internasional Terhadap Ekonomi, Sosial dan Politik Nasional
Ditinjau dari Aspek Makro dan Mikro Finance

Dari

pengertian

dan

skema

pengaruh

peranan

Manajemen Keuangan Internasional (MKI) diatas, maka dapat


disimpulkan dengan catatan sebagai berikut:
1. Bahwa

permasalahan

dan

sumber

utama

krisis

di

Indonesia adalah krisis moneter dan ekonomi. Namun


solusi yang dilaksanakan adalah dengan menjalankan
kebijakan reformasi politik, terutama dengan menjalankan
kebijakan reformasi politik, terutama dengan perubahan
peranan

DPR/A

dalam

rangka

demoratiasi pasca Orde Baru.


10

memenuhi

tuntutan

2. Karena kebijakan informasi yang tidak tepat tersebut.


Menyebabkan metamorfosa krisis sejak 1997/1998 dari
krisis moneter dan ekonomi menjadi krisis sosial, politik
dan akhirnya berubah menjadi Kristal (krisis total) atau
krisis multi dimensi terutama krisis moral dan mental pada
berbagai lembaga pemerintah dan kehidupan masyarakat.
Sehubungan dengan Kebijakan Reformasi kiranya dapat
dicatat 3 macam Reformasi Dunia yang terjadi sejak
awal tahun delapan puluhan sebagai berikut:
a. Reformasi di Uni Soviet dalam bentuk Reformasi Politik
(Glasnost) dan Ekonomi (Perestroika) sekaligus telah
menyebabkan bubar dan pecahnya Negara Uni Soviet
menjadi 15 negara dan bahkan terakhir Georgia juga
pecah lagi dengan South Ossetia. Glasnost adalah
kebijakan pemerintah Uni Soviet yang diperkenalkan
oleh

Mikhail

Gorbachev

pada

pertengahan

tahun

delapan puluhan dalam bentuk maksimal publisitas,


keterbukaan

dan

transparansi

institusi

pemerintah

bersamaan dengan kebebasan informasi.


Perestroika menurut Gorbachev adalah kebijakan baru
reconstruction

usaha

untuk

mengatasi

stagnasi

perekonomian dengan cara menciptakan kebebasan


dan mekanisme efektif untuk mengakselerasi kemajuan
ekonomi dan sosial.
b. Reformasi di China sejak era Deng Xiaoping yang
dilakukan pada awal tahun 1980-an dalam bentuk
Reformasi Ekonomi yang merubah Sistem Ekonomi
Sosialis yang bersifat komando menjadi Sistem Ekonomi
Pasar/Kapitalis.

Sedangkan

Komunisme

sehingga

ditegakkan

dengan

sistem

politiknya

tetap

law

enforcement

tetap

tegas.

Dampaknya

pada

perekonomian China yang dapat tumbuh sekitar 10%


per tahun selama tiga decade terakhir.
11

c. Reformasi di Indonesia sejak 1998 yang dilakukan


dalam

bentuk

Reformasi

Ekonomi/Moneter)

yang

Politik
ditandai

(bukan

Reformasi

terutama

dengan

perubahan/transformasi peranan legislative/DPR/A baik


Pusat maupun Daerah. Selama pemerintahan ORBA
peranan legislative/DPR/A sangat lemah dan mengikuti
hampir semua kebijakan eksekutif.
3. Bahwa permasalahan pokok dalam manajemen keuangan
internasional adalah bagaimana melakukan peramalan
kurs valas yang akan datang (Forex Forecasting) karena
pada umumnya akan selalu terjadi bahwa kurs valas hari
ini atau Spot Rate (SR) tidak akan sama dengan kurs valas
yang akan datang Forward Rate (FR) atau dengan kata lain
FR SR.
Forex Forecasting ini sangat diperlukan bagi unit-unit
ekonomi makro dan mikro dalam rangka perencanaan
(planning) dan pengambilan keputusan (making decision)
yang meliputi:
a. Investment Decision;
b. Financing Decision;
c. Budgeting Decision;
d. Earning Decision;
e. Headging Decision.
Beberapa teknik forecasting antara lain:
1. Technical Forecasting, yaitu dengan menggunakan data
historis kurs valas untuk meramalkan kurs yang akan
datang
(Garis Trend).
2. Market Based Forecasting, yaitu dengan menggunakan
perbedaan

Spot

Rate

dan

Forward

Rate

sebagai

peramalan kurs yang akan datang.


3. Fundamental Forecasting, yaitu dengan data variable
ekonomi makro seperti tingkat inflasi, tingkat bunga,
pertumbuhan pendapatan (GDP), posisi BOP dan lainlain untuk menghitung koefisien regresi yang dapat
digunakan sebagai peramalan kurs yang akan datang.
12

4. Mixed/Combination

Forecasting,

yaitu

dengan

mengkombinasikan ketiga teknik di atas karena tidak


ada satupun teknik yang tepat untuk meramalkan kurs
yang akan datang.
E. Analisis Manfaat Arus Modal/Keuangan Internasional
Analisis ini dilakukan berdasarkan kondisi persaingan
dimana nilai marginal product of capital akan ditentukan oleh
hasil yang diperoleh dari capital investment yang dilakukan.
Analisis ini dapat dijelaskan dengan grafik 1.1 di bawah ini
(Dominick Salvatore, 1993;359).
Grafik 1.1
Analisis Manfaat Arus Modal/Keuangan Internasional

Keterangan:
VMPK1 = value of marginal product of capital negara I
VMPK2 = value of marginal product of capital negara II
O1 O2 = total capital stock negara I dan II

Penjelasan grafik:
1. Keadaan sebelum terjadi arus modal/keuangan
internasional
a. Total modal yang dimiliki negara I dan II adalah sebesar
O1 O2 dengan rincian negara I memiliki lebih banyak,
13

yaitu sebesar O1 A dan negara II memiliki lebih sedikit,


yaitu sebesar O2 A.
b. Bila negara I menginvestasikan seluruh capital stock
sebesar

O1 A dalam negeri, maka akan diperoleh

return sebesar O1C dan total product yang diperoleh


adalah sebesar O1FGA dengan rincian sebagai berikut:
- Sebesar O1CGA yang dimiliki oleh pemilik modal di
-

negara I,
Sebesar CFG yang dimiliki oleh faktor produksi
lainnya, seperti tenaga kerja, tanah / bangunan, dan

lain-lain di negara I.
c. Hal
yang
sama
terjadi

bila

di

negara

II

menginvestasikan seluruh stocknya sebesar O2 A di


dalam negeri sehingga diperoleh return sebesar O2 H
dan total product yang diperoleh adalah sebesar O2JMA,
dengan rincian sebagai berikut:
- Sebesar O2HMA yang dimiliki oleh pemilik modal di
-

negara II;
Sebesar HJM yang dimiliki oleh faktor produksi
lainnya, seperti tenaga kerja, tanah/bangunan, dan
lain-lain di negara II.

Karena jumlah capital stock lebih banyak di negara I,


yaitu sebesar O1 A sedangkan di negara II hanya
sebesar O2 A maka return of capital di negara I lebih
kecil dibandingkan dengan return of capital di negara II
atau O1 C < O2 H. Keadaan ini menimbulkan
terjadinya arus modal dari negara I ke negara II.
2. Keadaan setelah terjadi arus modal/keuangan
internasional
a. Arus modal mengalir dari negara I ke negara II sebesar
AB sehingga jumlah modal di negara I berkurang
menjadi O1 B dan jumlah di negara II bertambah
menjadi O2 B.
14

b. Dengan aliran modal ini maka return of capital di kedua


negara akan menjadi sama, yaitu sebesar BE atau sama
dengan O1N = O2T.
c. Bagi negara I dengan mengalirkan modal sebesar AB,
maka total produksi domestik akan menjadi sebesar
O1FERA dengan rincian sebagai berikut:
- Sebesar O1FEB merupakan produksi
-

nasional

domestik.
Ditambah dengan produksi nasional yang diperoleh

dari investasi asing di luar negeri sebesar ABER.


d. Dengan adanya lalu lintas modal yang bebas, maka
capital return total yang diperoleh negara I akan naik
menjadi sebesar O1NRA, sedangkan return total dari
faktor

produksi

lainnya

seperti

tenaga

kerja,

tanah/bangunan, dan lain-lain akan menurun dari CFG


menjadi NFE.
e. Bagi negara II dengan mengalirnya modal masuk
(foreign investment) sebesar AB, maka total produksi
domestik akan menjadi sebesar O2JERA dengan rincian
sebagai berikut:
1) Sebesar O2JMA

merupakan

produksi

nasional

domestik.
2) Sebesar ABEM merupakan produksi domestik yang
diperoleh dari investasi asing di dalam negara II,
dengan rincian sebagai berikut:
- Sebesar ERM merupakan tambahan

produksi

nasional yang dimiliki oleh negara II.


- Sedangkan, sebesar ABER merupakan tambahan
produksi nasional yang dimiliki oleh negara I
sebagai investor.
f. Dengan adanya lalu lintas modal yang bebas, maka
domestik capital return yang diperoleh negara II akan
turun dari O2AMH menjadi sebesar O2ART, sedangkan
return total dari faktor produksi lainnya seperti tenaga

15

kerja, tanah / bangunan, dan lain-lain akan naik dari


HMJ menjadi sebesar TEJ.
Jelaslah bahwa foreign direct investment mempunyai
beberapa dampak positif dan negatif, sebagai berikut:
1. Dampak Positif
a. Sebagai sumber

pembiayaan

jangka

panjang

dan

pembentukan modal (capital formation).


b. Dalam foreign direct investment melekat transfer
teknologi dan know-how di bidang manajemen dan
pemasaran.
c. Foreign direct investment tidak akan memberatkan
balance

of

payment

karena

tidak

ada

kewajiban

pembayaran utang dan bunga, sedangkan transfer


keuntungan didasarkan kepada keberhasilan foreign
direct investment yang dilakukan oleh perusahaan
asing tersebut.
d. Meningkatkan pembangunan regional sektoral.
e. Meningkatkan persaingan dalam negeri yang sehat dan
kewirausahaan.
f. Meningkatkan lapangan kerja.
2. Dampak Negatif
a. Munculnya dominasi industri.
b. Ketergantungan teknologi.
c. Dapat terjadi perubahan budaya.
d. Dapat menimbulkan gangguan

pada

perencanaan

ekonomi.
e. Dapat terjadi intervensi oleh home government MNC.
Pada umumnya aliran modal/keuangan internasional ini
akan diikuti dengan mobilitas faktor produksi lainnya, yang
secara keseluruhan akan memberikan efek positif bagi ke dua
negara

berupa

kenaikan

output

total

dan

pendapatan

nasional. Namun, mobilitas beberapa faktor produksi secara


internasional ini juga mempunyai dilemma yang dapat
merugikan dan menimbulkan kontroversi politik. Hal ini dapat
dikatakan demikian karena dalam jangka pendek maupun
jangka panjang, mobilitas faktor-faktor produksi ini dapat
16

mempunyai beberapa efek positif maupun negatif antara lain


di bidang hal-hal berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

Redistribusi income.
Keseimbangan balance of payment.
Penerimaan pajak.
Term of trade.
Transfer teknologi, dan lain-lain.

F. Paradigma Baru
Sejak Era Globalisasi yang semakin meluas, terutama
karena kemajuan teknologi informasi, maka terjadi perubahan
paradigma (cara pandang) keuangan internasional:
1. Paradigm sebelum globalisasi
Sebelum
era
globalisasi,
keuangan
internasional
merupakan bagian kecil dari keuangan nasional suatu
negara.
2. Paradigm baru sejak globalisasi
Tetapi sejak era globalisasi, justru keuangan nasional
merupakan bagian kecil dari keuangan internasional.
Perubahan paradigm ini dapat dijelaskan dengan
gambar 1.7. di bawah ini :

Gambar 1.7
Paradigm Keuangan Internasional

Keterangan

17

A
B
C
D1
D2

=
=
=
=
=

Keuangan
Keuangan
Keuangan
Keuangan
Keuangan

nasional negara A.
nasional negara B.
nasional negara C.
internasional sebelum globalisasi.
internasional sejak globalisasi.

BAB II
PERKEMBANGAN SISTEM MONETER
DAN KRISIS MONETER INTERNASIONAL
A. Perkembangan
Perkembangan sistem moneter internasional menjelang
berakhirnya Perang Dunia II dimulai dengan penyelenggaraan
Internasional Monetary and Financial Conference dari tanggal
01 hingga 22 Juli 1944 di Bretton Woods, New Hampshire
USA yang menghasilkan Articles of Agreement tentang
pendirian IMF dan World Bank (IBRD).
Menurut Articles I dari Agreement di atas, tujuan
pendirian IMF (Punnet, J.P dan Ricks D.A., 1992:101), adalah:
1. Meningkatkan kerjasama masalah-masalah moneter.
2. Memperluas perdagangan dan investasi dunia.
18

3. Mengurangi pembatasan pemerintah terhadap lalulintas


pembayaran internasional.
4. Menyediakan fasilitas kredit

untuk

mempertahankan

stabilitas kurs (exchange rate) bagi negara anggota yang


mengalami kesulitan neraca pembayaran (balance of
payment).
5. Mengurangi pengaruh negatif dari deficit dan surplus
balance of payment.
Dari tujuan di atas jelas bahwa sasaran pokok dari IMF
adalah ingin meningkatkan arus perdagangan dan keuangan
internasional

guna

meningkatkan

pembangunan

dan

pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat di


negara-negara anggotanya.
Sedangkan tujuan utama dari Bank Dunia atau World
Bank (IBRD) adalah memberikan pinjaman dengan bunga
relatif rendah kepada berbagai negara untuk mendorong
pembangunan ekonomi namun tetap berlandaskan profit
oriented.
Berdasarkan

perkembangan

sistem

moneter

internasional sejak berlakunya Bretton Woods System tahun


1947, pada umumnya dikenal tiga macam sistem penetapan
kurs valas (forex rate), yaitu:
1. Sistem kurs tetap atau stabil (fixed exchange rate system)
Tanggal 27 Desember 1945, Articles of Agreement ini
ditandatangani oleh 29 negara. Berdasarkan Articles of
Agreement tentang IMF atau yang dikenal sebagai Bretton
Woods System yang berlaku efektif sejak tanggal 01 Maret
1947 hingga 15 Agustus 1971 (Dekrit Nixon) telah
ditetapkan

suatu sistem moneter

internasional

(SMI)

dengan beberapa ketentuan pokok, sebagai berikut:


a. Sistem moneter internasional didasarkan pada standar
emas artinya bahwa setiap mata uang negara anggota
19

IMF dikaitkan dan konvertibel dengan emas (gold


exchange standard).
b. Sistem nilai tukar (foreign exchange rate) antara
negara anggota IMF harus tetap/stabil.
c. Kurs nilai tukar hanya boleh berfluktuasi atau bervariasi
antara 1-2,25% di atas atau di bawah kurs resmi.
d. Setiap negara anggota IMF pada prinsipnya dilarang
menggunakan kebijakan devaluasi, yaitu penurunan
nilai mata uangnya terhadap valas untuk memperbaiki
posisi atau mengatasi deficit balance of payment atau
BOP-nya.
e. Negara anggota IMF yang mengalami kesulitan BOP
dapat meminta bantuan IMF dalam bentuk Special
Drawing Right (SDR). SDR adalah uang kertas emas
yang dikeluarkan oleh IMF pada tahun 1969 sebagai
reserve currency dan likuiditas internasional disamping
USD semenjak timbulnya krisis moneter internasional
pada

akhir

tahun

kepercayaan

1960-an

terhadap

USD

karena

adanya

(J.Klein

&

M.

krisis
Marois,

1985:14). Pada tanggal 18 Desember 1971, setelah


empat

bulan

melakukan

negosiasi,

IMF

berhasil

melahirkan Smithsonian Agreement yang isinya antara


lain:
- Mengatur kembali (realignment) mata uang negara-

negara industri.
Kenaikan harga emas, dan
Menetapkan regime sementara untuk kurs tengah

dengan margin yang lebih besar.


2. Floating Exchange Rate System
Floating exchange rate adalah
mengambang

yang

ditetapkan

melalui

sistem

kurs

mekanisme

kekuatan permintaan dan penawaran pada bursa valas.


Sistem kurs mengambang ini dibagi atas:

20

- Sistem kurs mengambang secara murni atau clean float


(freely floating system), yaitu penentuan kurs valas di
bursa valas terjadi tanpa campur tangan pemerintah.
- Sistem kurs mengambang terkendali atau dirty float
(managed float system), yaitu penentuan kurs valas di
bursa valas terjadi dengan campur tangan pemerintah
yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valas
melalui berbagai kebijakannya di bidang moneter, fiscal
dan perdagangan luar negeri.
Grafik 2.1
Sistem Dirty Float

Dari gambar 2.1 diatas dapat disimpulkan bahwa


intervensi Pemerintah dalam bursa valas dapat bersifat
sebagai berikut:
1. Langsung dengan cara membeli dan menjual valas
secara langsung kebursa valas melalui Bank Indonesia
atau Bank Umum Pemerintah.
2. Tidak langsung melalui Kebijakan Ekonomi Makro
sebagai berikut:
a. Kebijakan Moneter melalui kebijakan yang bersifat
kuantitatif seperti Perubahan Money Supply (Jumlah
Uang Beredar), Tingkat Bunga SBI, Reserve Ratio
Requirement (Giro Wajib Minimum) dan BMPK atau
21

kebijakan yang bersifat kualitatif seperti Seleksi


b.

Kredit Ketat dan Moral Suasion.


Kebijakan Fiskal (APBN)

c.

penerimaan dan pengeluaran pemerintah.


Kebijakan Perdagangan Internasional dibidang

melalui

kebijakan

ekspor dan impor dengan kebijakan Tariff Barrier


dan Non Tariff Barrier.
3. Pegged Exchange Rate System
Sistem ini tukar ini ditetapkan

dengan

cara

mengaitkan nilai tukar mata uang suatu negara dengan


nilai tukar mata uang negara lain atau sejumlah mata
uang tertentu. Sistem antara mata uangnya dengan mata
uang Prancis (FRF) dan beberapa negara lain yang
mengaitkan nilai tukar mata uang dengan GBP, USD dan
SDR. Selain negara-negara Afrika, beberapa negara Eropa
yang

tergabung

dalam

EEC

sejak

April

1972

juga

menjalankan pegged system ini yang dikenal dengan


snake system yang kemudian diubah menjadi European
Monetary System (EMS). Dalam snake system dan EMS
setiap mata uang anggota EEC dikaitkan nilainya dengan
European Currency Unit (ECU) dan dapat berfluktuasi
dalam batas 2,25% diatas atau dibawah kurs tengah.
Beberapa persyaratan yang perlu dimiliki oleh suatu
negara untuk dapat menjalankan sistem CBS ini antara
lain:
1. Jumlah

uang

beredar

dikendalikan/dikontrol.
2. Cadangan devisa harus

harus

mencukupi

dan

dapat
dapat

ditingkatkan untuk dapat mempertahankan nilai yang


dikaitkan/dipegged.
3. Utang luar negeri tidak banyak.
4. Tidak ada intervensi asing.
Kesulitan moneter terakhir ini dialami pula oleh
negara-negara di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara,
22

khususnya

Indonesia

sejak

Juli

1997.

Keadaan

ini

tampaknya merupakan suatu rangkaian dari kesulitan


moneter yang dialami oleh beberapa negara anggota IMF
khususnya

negara

sedang

berkembang

dihapuskannya sistem kurs tetap

semenjak

(fixed exchange

rate) berdasarkan Bretton Woods System atau yang


dikenal sebagai krisis moneter internasional pada tahun
1971.
Secara teoritis menurut teori Irving Fisher, nilai
tukar mata uang suatu negara akan dapat stabil bila
terdapat keseimbangan perkembangan antara sektor
moneter (MV) dan sektor riil (PT) atau dengan kata lain:
MxV=PxT
Dalam hal ini M = Money Supply atau Jumlah Uang
Beredar, misalnya Rp 100 Triliun. V = Velocity atau
kecepatan beredar setiap dalam setahun, misalnya 5 kali.
P = Unit Price barang yang beredar, misalnya Rp 2.000
per unit dan T = Volume of Trade atau jumlah barang,
misalnya sebanyak 250.000.000.000 unit.
Dengan demikian persamaan keseimbangan adalah:
Rp

100.000.000.000.000

Rp

2.000

250.000.000.000
Rp 500.000.000.000.000 = Rp 500.000.000.000.000
Krisis moneter di suatu negara biasanya akan
muncul karena biasa pemerintah di negara sedang
berkembang,

lebih

banyak

dan

mudah

untuk

menggunakan kebijakan instrument sektor moneter dari


pada kebijakan instrument sektor riil.
Penggunaan

instrument

sektor

moneter

yang

sifatnya lebih instant antara lain dengan:


- Merubah jumlah uang beredar dengan cara mencetak
uang.
23

- Merubah tingkat bunga discounto atau bunga bank


sentral.
- Merubah reserve requirement ratio.
Sedangkan sektor riil sifat perubahannya lebih
lambat karena:
-

Memerlukan waktu proses produksi untuk dapat

menghasilkan barang/jasa.
Biasanya juga bersifat kaku karena adanya kebijakan
monopoli yang dijalankan pemerintah.
Hal ini yang sering menyebabkan terjadi ketidak

seimbangan perkembangan / pertumbuhan antara sektor


moneter yang relatif cepat dan sektor riil yang umumnya
lambat sehingga akan menyebab terjadinya kenaikan
harga atau inflasi yang merupakan penyakit utama sektor
ekonomi-moneter.
Misalnya

pemerintah

menjalankan

kebijakan

moneter dengan menambah jumlah uang beredar menjadi


Rp 120 Triliun, sedangkan kebijakan sektor riil tetap kaku
dan dimonopoli sehingga jumlah barang atau volume of
trade tetap sebanyak 250.000.000.000. Dengan demikian
sesuai dengan teori Irving Fisher di atas maka untuk tetap
terjadi keseimbangan, maka persamaan keseimbangan
menjadi:
Rp

120.000.000.000.000

Rp

2400

250.000.000.000
Rp 600.000.000.000.000 = Rp 600.000.000.000.000
Dari persamaan keseimbangan diatas dapat dilihat
terjadinya kenaikan harga atau inflasi sebesar :
2400 - 2000
x 100% 20%
2000

B. Krisis

24

Munculnya krisis moneter internasional tahun 1971


disebabkan oleh adanya krisis kepercayaan terhadap USD
yang sebelumnya dijamin dan convertible terhadap emas
(USD35 = 1 troy ounce emas). Hal ini terjadi karena terlalu
banyaknya USD yang beredar di luar USA, terutama di Eropa
sehingga jaminan emas yang berada pada Federal Reserve
Bank (FRB) atau bank sentral USA tidak mencukupi lagi.
Terlalu banyaknya USD yang beredar di luas USA antara
lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut (H. Hady
1998);
1. Adanya deficit BOP-USA sejak tahun 1960, karena:
a. Arus modal yang besar dari USA ke Eropa sebagai
pelaksanaan Marshall Plan, yaitu rencana bantuan
modal USA ke

negara-negara Eropa untuk

pembangunan Eropa yang hancur akibat Perang Dunia


II.
b. Kebijakan politik luar negeri USA sebagi polisi dunia
sehingga memerlukan dana (USD) yang banyak untuk
membiayai tentaranya di luar negeri seperti untuk
perang Korea dan perang Vietnam.
2. Pertumbuhan ekonomi Eropa dan Jepang yang sangat
pesat semenjak akhir tahun 1950 yang ditunjukan oleh
peningkatan

produksi

barang-barang

industri

relatif

kompetitif mengakibatkan impor USA dari kedua wilayah


tersebut meningkat sangat besar. Hal ini menyebabkan
bertambah banyaknya USD yang beredar di luar negeri
terutama bentuk Eurodollars di bank Eropa.
3. Pertumbuhan petrodollars setelah krisis energy/minyak
pada awal tahun 1970-an sebagai akibat perang ArabIsrael.
Krisis

kepercayaan

jaminan

emas

ini

telah

menyebabkan krisis kepercayaan terhadap USD sehingga

25

nilai tukarnya terus merosot terutama terhadap Europeran


Currency dan JPY dan telah melampaui batas yang ditetapkan
berdasarkan aturan sistem kurs tetap

(fixed exchange

rate) menurut Bretton Woods System.


Krisis kepercayaan terhadap USD sebagai alat likuiditas
internasional yang stabil menyebabkan timbulnya krisis
moneter internasional yang secara formal ditandai oleh Dekrit
Presiden Nixon yang antara lain menetapkan bahwa sejak
tanggal 15 Agustus 1971 diberlakukan ketentuan, sebagai
berikut:
1. Pembekuan upah dan harga selama 90 hari.
2. Peraturan pajak baru.
3. Pengenaan surcharge atau pajak tambahan sebesar 10%
atas barang impor.
4. USD tidak dikaitkan dan tidak dijamin lagi dengan emas
seperti ketentuan semula (USD 35 = 1 troy ounce emas).
Semenjak saat itu praktis sistem kurs tetap (fixed
exchange rate) tidak berlaku lagi dan sebaliknya mulai
berlaku sistem kurs mengambang (floating rate system).
C. Krisis Moneter Asia
Pengalaman

terakhir

tentang

krisis

moneter

internasional dapat dipelajari krisis keuangan internasional di


Asia pada pertengahan tahun 1997 yang dimulai dari Korea,
Thailand, Malaysia dan akhirnya di Indonesia. Fakta dan data
menunjukkan bahwa sejak krisis moneter 1997 s/d 2004 saat
ini, ternyata Indonesia merupakan negara yang belum dapat
keluar dari krisis ekonomi yang diawali dengan krisis moneter
internasionalnya yang ditandai dengan terdepresiasinya nilai
Rp mencapai sekitar 75% (dari Rp 2500/USD menjadi Rp
10.000/USD) pada tahun 1998.
Pelajaran yang menarik dari krisis moneter Asia ini
adalah pengalaman negara Malaysia yang diteliti oleh Marie26

Aimee Tourres (2004). Menurut peneliti ini, pada tahun 1996


tercatat net capital inflow ke Asia selama tahun 1990-an
mencapai USD. 102 billions yang disalurkan kepada group
politik dan individu yang berkuasa atau proyek investasi
lainnya. Sebagian besar dana tersebut masuk ke Malaysia
dalam

bentuk

Foreign

Direct

Investment

dan

Portfolio

Investment dan dalam bentuk pinjaman yang diatur dengan


ketat oleh Bank Negaranya. Sedangkan yang masuk ke
Indonesia sebagian besar dalam bentuk pinjaman swasta dan
pemerintah yang relatif kurang/tidak terkontrol oleh Bank
Pemerintah/Bank

Indonesia.

Hal

ini

yang

menyebabkan

Indonesia terpaksa minta bantuan IMF, sedangkan Malaysia


adalah satu-satunya negara Asia yang tidak mengetuk pintu
IMF.
KRISIS MONETER DAN EKONOMI
INDONESIA 1998 VERSUS 2008
Tahun 1998

1
.
2
.
1
.
2
.

1
.
2
.

Tahun 2008

Sumber Krisis:
Krisis regional mulai dari
krisis ekonomi Thailand.

Sumber Krisis:
1. Krisis global mulai dari krisis
pasar modal USA (Subprime
Mortgage).

Devaluasi dan depresiasi


currency negara Asean
(terutama Indonesia)
Kareteristik Krisis:
Krisis regional.
Demand
dan
Supply
Global relatif tetap karena
krisis moneter ekonomi
regional
yang
hanya
melanda negara Asia dan
tidak melanda industri
maju.
Dampak Krisis:
Pertumbuhan
ekonomi
negative yaitu 13%
pada Tahun 1998.
Apresiasi USD terhadap
IDR.
Dampak krisis terutama

2. Repatriasi USD karena krisis


keuangan USA.
Karakteristik/sifat krisis:
1. Krisis global
2. Demand dan supply global
menurun
karena
krisis
ekonomi moneter global dan
juga melanda negara indutri
maju.
Dampak Krisis:
1. Pertumbuhan ekonomi hanya
menurun dari rencana 6%
menjadi 4% pada Tahun
2. 2008.
Apresiasi USD terhadap IDR
3. hanya mencapai 30%.

27

dirasakan
di
sektor
Dampak
krisis
global
3 industry
manufacturing
dirasakan disemua sektor
. dan perkotaan karena
industri
dan
agrobisnis
komponen/bahan
baku
terutama yang berorientasi
impor
untuk
sektor
ekspor karena menurunnya
industri
yang
relatif
permintaan dunia. Namun
tinggi. Sedangkan sektor
pertumbuhan perekonomian
agro bisnis relatif baik
Indonesia hanya mengalami
karena daya saing produk
penurunan karena kontribusi
agro bisnis domestik yang 4. ekspor/impor hanya sekitar
meningkat sebagai akibat
1. 30% s/d 40% dari GDP.
depresiasi rupiah.
Tingkat inflasi sekitar 10%
4 Tingkat inflasi mencapai
dan tingkat SBI 6 8%.
. sekitar
50%
tingkat
1. bunga SBI 60%.

28

BAB III
PENGERTIAN, KEGUNAAN, STRUKTUR
DAN POSISI BALANCE OF PAYMENT
A. Pengertian
Menurut Balance of Payments Manual (BPM) yang
diterbitkan oleh IMF (1993), definisi Balance of Payment
(BOP) adalah sebagai berikut:
A statement that systematically, for specific time
period, the economic transactions of an economy with
the rest of the world. Transactions, for the most part
between residents and non residents, consiste of those
involving goods, services and income; those involving
financial claims on assets and liabilities to, the rest of
the world; and those (such gift) classified as transfers,
which involve offsetting entries to balance in an
accounting sense-one set transactions.
Secara umum definisi BOP di atas dapat diartikan
sebagai berikut :
Balance of Payment (BOP) atau neraca pembayaran
internasional adalah suatu catatan yang disusun secara
sistematis tentang seluruh transaksi ekonomi yang meliputi
perdagangan barang/jasa, transfer keuangan dan moneter
antara penduduk (resident) suatu negara dengan penduduk
luar negeri (rest of world) untuk suatu periode waktu tertentu
biasanya satu tahun.
Dari definisi di atas dapat dikemukakan bahwa BOP
merupakan

suatu

catatan

sistematis

yang

disusun

berdasarkan suatu sistem akuntansi yang dikenal sebagai


double entry book keeping sehingga setiap transaksi
internasional yang terjadi akan tercatat dua kali, yaitu
sebagai transaksi kredit dan sebagai transaksi debit.

29

Dengan demikian, transaksi internasional di atas akan


tercatat sebagai berikut:
Transaksi
Ekspor Barang
Modal
keluar
Pendek
Overall balance

Kredit (+)

Debit (-)

USD 1.000
jangka

USD 1.000
USD 1.000

USD 1.000

Dengan sistem double-entry book-keeping maka BOP


secara overall akan selalu dalam posisi balance, tetapi dapat
memiliki cadangan devisa yang positif atau negatif.
Berdasarkan konvensi yang biasanya digunakan dalam
sistem double-entry book-keeping, transaksi yang tercatat
dalam BOP terdiri atas:
1. Credit entries (transaksi kredit) yaitu:
a. Export of goods and services (ekspor barang dan jasa).
b. Income receivable (penerimaan dari hasil investasi).
c. Offset to real or financial resources received (transfer).
d. Increases in liabilities.
e. Decreases in financial assets.
2. Debit entries (transaksi debit) yaitu:
a. Import of goods and services (impor barang dan jasa).
b. Income payable (pembayaran atas hasil investasi).
c. Offset to real or financial reseouces provide (transfer).
d. Decreases in liabilities.
e. Increases in financial assets.
Selanjutnya

transaksi

kredit

dan

debit

tersebut

menurun sifatnya dapat dibagi atas:


1. Transaksi

otonom

(autonomous

transaction),

yaitu

transaksi yang timbul atas inisiatif pihak tertentu dan


bukan sebagai reaksi atau akibat adanya transaksi lain
yang tercatat pada current account dan long-term capital
account.
Misalnya ekspor dan impor barang atau modal dalam
jangka untuk mencari keuntungan.
2. Transkasi kompensasi (induced/compensatory transaction)
yaitu

transaksi

yang

timbul
30

sebagai

akibat

atau

kompensasi dari adanya transaksi lain. Transaksi ini


disebut juga sebagai transaksi pelengkap seperti misalnya
pemasukan modal jangka pendek impor/ekspor emas.
Dengan demikian, transaksi kredit dapat terdiri atas:
a. Transaksi kredit otonom (credit autonomous transaction
atau CAT) yang meliputi:
- Ekspor barang dan jasa.
- Impor modal jangka panjang

untuk

PMA/direct

investment.
b. Transaksi debit otonom (debit autonomous transaction
atau DAT) yang meliputi:
- Impor barang dan jasa.
- Ekspor modal jangka panjang

untuk

PMA/direct

investment di luar negeri.


B. Kegunaan
Secara umum sebagai suatu neraca, BOP berguna
sebagai berikut (H. Hady, 1997):
1. Untuk

membukukan

seluruh

transaksi

keuangan

internasional yang terjadi antara penduduk dalam negeri


dengan penduduk luar negeri.
2. Untuk mengetahui struktur

dan

komposisi

transaksi

ekonomi internasional suatu negara.


3. Untuk mengetahui mitra utama suatu negara dalam
hubungan ekonomi internasional.
4. Mengetahui posisi keuangan internasional suatu negara.
5. Sebagai salah satu indikator yang akan dipertimbangkan
oleh

IMF/negara

donor

untuk

memberikan

bantuan

keuangan, terutama negara yang mengalami kesulitan


BOP.
6. Sebagai salah satu indikator fundamental ekonomi suatu
negara selain tingkat inflasi, pertumbuhan GDP, dan lainlain.
C. Struktur dan Posisi

31

Berdasarkan Balance of Payments (BPM) (IMF, 1993)


dan

Balance

of

Payments

Textbook

(IMF,

1996:30-38),

komponen standar dari BOP adalah sebagai berikut:


1. Current account (neraca transaksi berjalan)
a. Goods and services (barang dan jasa)
1. Goods (barang).
2. Services (jasa).
b. Income (pendapatan).
1. Compensation of employees.
2. Investment income.
- Direct investment.
- Portfolio investment.
- Other.
c. Current transfer
1. General government.
2. Workers remittances.
2. Capital and financial account
a. Capital account
1. Capital transfers.
2. Acquisition/disposal of non-produced, non financial
assets.
b. Financial account
1. Direct investment.
2. Portfolio investment.
3. Other investment.
4. Reserve assets.
Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh IMF tersebut,
setiap

negara

yang

menyusun

BOP-nya

masing-masing

dengan berbagai variasi tetapi dengan prinsip dasar yang


sama, yaitu double entry book keeping sehingga BOP secara
total akan selalu balance atau overall balance akan sama
dengan nol.
Sesuai dengan prinsip tersebut di atas, berikut ini dapat
dilihat struktur BOP Indonesia berdasarkan publikasi dari
Bank Indonesia pada tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3.1
Neraca Pembayaran atau Balance of Payment (BOP)
Indonesia dalam jutaan dollar
No
1

Uraian
Transaksi berjalan (current account)
A. Neraca perdagangan (barang bersih) =

32

2000
7,992
25,042

2006
10,836
29,660

2008
10,102
33,550

B.
C.
D.

BOT
Ekspor, Fob (exports, Fob)
Impor, Fob (imports, Fob)
Jasa-jasa bersih (service net) = BOS
Pendapatan bersih (income net)
Transfer berjalan bersih (current

transfer net)
Transaksi modal

II

&

financial

(capital

&

financial account)
A. Transaksi modal (capital account)
B. Transaksi financial (financial account)

1.

Investasi

langsung

65,407
-40,365
-9,797
-8,443
1,190

103,528
-73,868
-9,888
-13,800
4,863

128,918
-95,368
-11,585
-16,737
4,875

-7,896

2,944

1,225

-7,896

350
2,594
2,211

192
1,033
3,055

-4,550

-2,703
4,914
4,174

-3,390
6,445
6,050

-1,435
96

-1,933
6,107
-3,792
-1,588
-2,204
13,780

-3,120
9,170
-8,072
-8,197
125
11,328

(direct

investment)
Ke luar negeri (abroad, net)
Di Indonesia (in Indonesia/FDI, Net)
2. Investasi
portfolio
(portfolio

III

investment)
Asset bersih (assets, net)
Kewajiban bersih (liabilities, net)
3. Investasi lainnya (other investment)
Aset bersih (assets, net)
Kewajiban bersih (liabilities, net) (1)
Total (I+II)= R = Perubahan cadangan

IV
V
VI

devisa
Selisih perhitungan (Errors & Amission)
Neraca keseluruhan (III+IV) (overall balance)
Lalu lintas moneter (monetary movements)

3,822
3,918
-3,918

729
14,510
-14,510

0
11,328
-11,328

(2)
Perubahan cadangan devisi (changes in

-5,042

-6,902

-11,328

1,124
1,124
0

-7,608
0
-7,608

0
0
0

assets

29,394

42,588

68,249

reserves asset)
Use of fund credit & loans
Penarikan (purchases)
Pembayaran (repurchases)
Memorandum:
Posisi cadangan devisa (reserve
position (3)
In months

of

import

&

official

-1,911

debt

n.a.

4,5

6,2

repayment
Transaksi berjalan (%GDP) (current account)
Rasio pembayaran utang (%) (debt service

5.3
41.1

2,9
24,8

18,8
6,8

ratio) (4)
a.1. Sektor terkait pemerintah & otoritas

8.7

14,2

moneter (5)
Sumber: Publikasi Bank Indonesia (bi.go.id)
(1) Tidak termasuk pinjaman IMF.
(2) Negatif berarti surplus & positif berarti defisit.
(3) Sejak tahun 1998 posisi cadangan devisa berdasarkan aktiva luar negeri menggantikan
cadangan devisa resmi. Sejak tahun 2000 posisi cadangan devisa memakai konsep
International Reserve Foreign Currency Li
quidty (IRFCL).
(4) Perbandingan antara pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri terhadap ekspor
barang & jasa.
(5) Terdiri dari Pemerintah, BUMN di luar Bank dan Bank Indonesia 2008 provisional figures.

Dari data di atas dapat dikemukakan beberapa catatan


sebagai berikut:
1. Current account (neraca transaksi jual beli)
a. Current account (BOS), Income Net, Current Transfer
Net dan Unilatiteral Account.
33

b. Transaksi ekspor pada Current Account dicatat sebagai


transaksi kredit atau positif karena menghasilkan
devisa.
c. Transaksi impor pada current account dicatat sebagai
transaksi debit atau negatif karena mengeluarkan
devisa.
2. Balance of Trade atau BOT (Neraca Perdagangan)
Dalam neraca ini dicatat seluruh transaksi ekspor dan
impor barang atau visible dan tangible goods dengan
ketentuan:
a. Ekspor barang dicatat sebagai transaksi kredit atau
positif.
b. Impor barang dicatat sebagai transaksi debit atau
negatif.
3. Service Account atau Balance of Services (BOS) atau
Neraca Jasa
a. Transaksi

yang

seluruh

termasuk

transaksi

service
ekspor

account

adalah

dan

jasa/invisible/intangible goods, yang meliputi:


- Pembayaran bunga.
- Biaya asuransi.
- Biaya transportasi.
- Remittance (jasa TKI/TKW/TKA, fee /

impor

royalty

teknologi dan konsultansi, dan lain-lain).


- Tourism.
b. Service account atau BOS Indonesia hingga saat ini
selalu tercatat dalam posisi negatif (debit) karena
transaksi impor lebih besar daripada ekspor khususnya
no (1), (2), (3) dan (4). Satu-satunya transaksi jasa
yang positif adalah no (5) karena lebih banyak turis
asing

yang

datang

ke

Indonesia

daripada

turis

Indonesia yang ke luar negeri.


c. Posisi negatif (deficit) BOS juga mencerminkan masih
relatif rendahnya kualitas SDM Indonesia sebagai
penghasil jasa.
4. Capital account (neraca modal)

34

a. Capital account ini terdiri dari ekspor dan impor modal


jangka panjang maupun jangka pendek.
b. Penjumlahan saldo current account + saldo transaksi
impor/ekspor modal jangka panjang (direct investment
& long term capital lainnya) disebut basic balance (D.
Salvatore., 1993:449).
c. Berlawanan dengan pencatatan pada current account
maka dalam capital account berlaku ketentuan sebagai
berikut:
- Transaksi impor modal dicatat sebagai transaksi
-

kredit atau positif.


Transaksi ekspor modal dicatat sebagai transaksi

debit atau negatif.


5. Reserve Account atau Perubahan Cadangan devisa (R = I
+ II)
a. Reserve account adalah neraca yang menunjukkan
perubahan cadangan atau saldo devisa yang diperoleh
dari tahun yang bersangkutan dari hasil penjumlahan
saldo current account dan saldo capital account.
b. Perubahan cadangan devisa atau saldo devisa (R) dari
tahun

yang

menunjukkan

bersangkutan
posisi

ini

keuangan

dasarnya
internasional

sudah
suatu

negara berdasarkan transaksi yang tercatat pada


current account dan capital account.
c. Jika saldo reserve account menunjukkan angka positif
(R > 0) maka dapat dikatakan bahwa posisi BOP
dalam keadaan defisit.
d. Secara skematis, posisi BOP suatu negara dapat
diringkas sebagai berikut (H. Hady, 1999).
Gambar 3.1
Skema Posisi BOP

35

BOP Equilibrium
BOP dikatakan dalam posisi equilibrium bila:
1. R = 0
2. Pos-pos dalam BOP dapat bertahan cukup lama, tanpa
campur

tangan

Pemerintah

yang

dilakukan

melalui

kebijakan berupa keputusan pemerintah dan dekrit yang


dapat

mempengaruhi

arus

transaksi

ekonomi

dan

keuangan internasional.
BOP Disequilibrium
BOP dikatakan dalam posisi disequilibrium bila:
1. R 0
R < BOP defisit
R > 0 BOP surplus
2. CAT DAT
Dalam hal ini untuk menentukan posisi BOP yang defisit atau
surplus adalah dengan memperhatikan arus transaksi otonom
(audonomous transaction) sebagai berikut: BOP dikatakan
dalam posisi deficit bila transaksi kredit otonom (credit
otonomous transaction) lebih kecil daripada transaksi debit
otonom (debit autonomous transaction) atau CAT.
BOP dikatakan dalam posisi surplus bila transaksi kredit
otonom (credit autonomous transaction) lebih besar daripada
transaksi debit otonom (debit autonomous transaction) atau
CAT > DAT.
Disequilibrium menurut penyebabnya dapat digolongkan
sebagai berikut (H. Hady, 1999):
1. Disequilibrium seasonal (musiman) berlangsung singkat
dan mudah diatasi biasanya terjadi pada periode tertentu
36

misalnya Lebaran, Natal, dan lain-lain. Disequlibrium ini


biasanya

akan

berakhir

dengan

melewati periode tersebut.


2. Disequlibrium cyclical (siklus)
gelombang

konjungtur

sendirinya

terjadi

dalam

setelah

karena

perekonomian

adanya
sebagai

akibat perubahan harga, tingkat produksi, employment


dalam/luar negeri. Disequlibrium ini dapat diatasi dengan
menjalankan kebijakan moneter dan atau fiskal.
3. Disequlibrium structural terjadi karena adanya perubahan
demand dan supply perdagangan keuangan internasional
akibat dari perubahan proses produksi karena kemajuan
teknologi,

perubahan

aliran

modal

jangka

panjang,

perubahan institusi, dll. Untuk mengatasinya diperlukan


kebijakan ekonomi makro yang komprehensif dan jangka
panjang.
4. Disequlibrium

spekulasi

terjadi

karena

adanya

aliran

modal yang terjadi karena unsur-unsur spekulasi seperti


yang terjadi di Indonesia sejak krisis moneter Juli 1997.
Untuk mengatasinya dilakukan peniadaan unsur-unsur
spekulasi dengan menjalankan berbagai kebijakan yang
menumbuhkan kepercayaan masyarakat.
6. Error dan omission (selisih perhitungan)
a. Error adalah selisih yang terjadi karena

adanya

kesalahan pencatatan atau kesalahan perhitungan.


b. Omission adalah selisih yang terjadi karena adanya
perdagangan

atau

transaksi

penyelundupan

atau

perdagangan obat bius atau perdagangan lain yang


tidak tercatat.
c. Error dan omission adalah selisih yang belum dapat
diperhitungkan

yang

diperoleh

dari

penjumlahan

antara reserve account (R) dengan saldo devisa yang


terdapat pada monetary account yang dicatat oleh
Bank Sentral.
7. Monetary account (neraca lalu-lintas moneter)
a. Monetary account merupakan saldo devisa
37

yang

dicatat berdasarkan transaksi arus devisa yang masuk


dan keluar dari suatu negara.
b. Karena BOP secara keseluruhan harus dalam posisi
balance (overall balance = 0), maka pencatatan posisi
saldo pada monetary account ini mempunyai tanda
yang berlawanan dengan posisi saldo reserve account
(R), yaitu:
- Bila posisi saldo reserve account positif maka posisi
saldo monetary account negatif. Sebaliknya bila
posisi saldo reserve account
-

negatif maka posisi

saldo monetary account positif.


Tanda negatif berarti surplus dan tanda positif
berarti defisit.

BAB 4
MEKANISME ADJUSTMENT POSISI BALANCE PAYMENT
A. Mekanisme Adjustment Dengan Sistem Kurs Tetap
Dengan sistem kurs tetap, nilai suatu mata uang
ditentukan

berdasarkan

gold

exchange standard

sesuai

dengan Bretton woods system. Dalam hal ini mekanisme


adjustment posisi BOP dapat terjadi melalui mekanisme
otomatis berdasarkan teori David Hume tentang pricespecie-flow mechanism sebagai berikut (Appleyard & Field,
1995 dan H. Hady, 1997).
1. Bila BOP defisit berarti X < M atau M > X.
38

2. Karena masih berlaku nilai kurs tetap atau gold exchange


standard maka akibatnya jumlah emas atau logam mulia
(LM) akan semakin menurun karena banyak dikirim ke luar
negeri.
3. Karena emas masih digunakan sebagai likuiditas atau alat
pembayaran, sedangkan jumlahnya semakin menurun
(emas/LM) maka money supply (Ms) di dalam negeri
semakin berkurang.
4. Harga money supply semakin berkurang maka hargaharga di dalam negeri akan menurun pula.
5. Menurunnya harga (price) dalam negeri

khususnya

terhadap harga barang ekspor (Px) akan menyebabkan


jumlah ekspor (Qx) akan naik.
6. Di lain pihak, berkurangnya money supply di dalam negeri
akan menyebabkan harga barang impor (Pm) di mata
konsumen

dalam

negeri

akan

menjadi

lebih

mahal

sehingga jumlah impor (Qm) akan turun.


7. Karena jumlah ekspor (Qx) naik dan di lain pihak jumlah
impor (Qm) turun maka melalui mekanisme ini akhirnya
jumlah ekspor (Qx) akan menjadi sama atau bahkan lebih
besar daripada jumlah impor (Qm) atau Qx > Qm.
Secara skematis mekanisme tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:
Gambar 4.1
Mekanisme Adjustment BOP dengan Sistem Kurs Tetap

39

Akan

tetapi,

mekanisme

otomatis

untuk

penyeimbangan (adjustment) BOP ini, tidak dapat terjadi lagi


karena pada umumnya kurs tetap yang menggunakan
standar emas ini tidak berlaku lagi sejak Dekrit Nixon pada
tanggal 15 Agustus 1971.
B. Mekanisme

Adjustment

Dengan

Sistem

Kurs

Mengambang atau Berubah


Proses

penyeimbangan

disequilibrium

atau

defisit/surplus BOP khususnya BOT di negara yang menganut


sistem kurs mengembang/berubah dengan pengendalian
pemerintah

(managed

menjalankan

kebijakan

float)

dapat

perubahan

dilakukan
kurs

dengan

yang

disebut

devaluasi atau revaluasi/upvaluasi.


Devaluasi diartikan sebagai suatu tindakan pemerintah
untuk menurunkan nilai mata uangnya (domestic currency)
terhadap nilai mata uang asing (foreign currency) yang
bertujuan (dalam jangka waktu relatif pendek) untuk:
1. Mendorong

ekspor

dan

memgatasi

impor

sehingga

diharapkan dapat memperbaiki posisi BOP atau BOT


menjadi equilibrium atau mendekati equilibrium.
2. Mendorong penggunaan produksi dalam negeri.
3. Dengan BOP yang lebih equilibrium diharapkan kurs valas
dapat menjadi relatif lebih stabil.
Revaluasi/upvaluasi diartikan sebagai suatu tindakan
pemerintah untuk menaikkan nilai mata uangnya (domestic
currency) terhadap nilai mata uang asing (foreign currency)
yang dilakukan karena perekonomiannya sudah mencapai
atau mendekati full employed atau terjadi kecenderungan

40

inflasi. Kebijakan ini dalam jangka pendek bertujuan untuk


mengurangi agregate demand dan inflasi.
Selama berlakunya Bretton Woods System kebijakan
devaluasi dan revaluasi ini sangat jarang dilakukan oleh
negara anggota IMF karena merupakan tindakan yang tidak
popular. Di satu pihak negara yang defisit biasanya menolak
melakukan

devaluasi

karena

akan

menunjukkan

kelemahannya dan di lain pihak negara yang surplus ingin


terus mengakumulasi international reservenya.
Karena itu selama berlakunya Bretton Woods System
(1950-1971) hanya tercatat beberapa negara industri yang
melakukannya yaitu:
1. Devaluasi
a. Inggris, tahun 1967.
b. Prancis, tahun 1957 dan 1969.
2. Revaluasi
a. Jerman (Barat), tahun 1961 dan 1969.

C. Kebijakan Devaluasi
Pada umumnya kebijakan devaluasi relatif lebih banyak
digunakan oleh negara-negara sedang berkembang dengan
terlebih dahulu mendapat persetujuan dari IMF. Salah satu
contohnya adalah devaluasi yang dilakukan oleh pemerintah
Indonesia sebanyak empat kali yang dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 4.1
Tingkat Devaluasi Rupiah Terhadap USD
Tgl/Tahun
23/08 1971
15/11 1978
30/03 1983

Kurs Lama

Kurs Baru

Rp 378/USD
Rp 415/USD
Rp

Rp 415/USD
Rp 625/USD
Rp 970/USD

41

TK. Apresiasi
USD
9,8%
50,6%
34,6%

TK.
Devaluasi
Rp.
7,7%
33,3%
28,6%

12/09 1986

720,50/USD
Rp 1.644/USD

Rp 1.644/USD

45,0%

33,3%

IMF biasanya akan memberikan persetujuan kepada


negara anggotanya yang mengalami defisit BOP yang berat
untuk melakukan kebijakan devaluasi guna memperbaiki
posisi BOP dan menjaga stabilitas nilai tukar mata uangnya.
Secara teoretis efektivitas kebijakan devaluasi akan
tergantung kepada:
1. Elastisitas permintaan barang ekspor (Ed), dan
2. Elastisitas permintaan barang impor (Es).
Menurut Marshall Lerner condition, suatu kebijakan
devaluasi akan dapat memperbaiki posisi BOP bila dipenuhi
syara sebagai berikut:
1. Devaluasi akan dapat memperbaiki BOP bila Ed + Es > 1.
2. Devaluasi tidak akan memperbaiki posisi BOP bila Ed + Es
= 1.
3. Devaluasi justru akan memperburuk posisi BOP bila Ed +
Es < 1.
Sebagai ilustrasi tentang efektivitas kebijakan devaluasi
terhadap posisi BOP atau BOT dengan memperhatikan
Marshall-Lerner Condition dapat dilihat pada contoh tiga
perhitungan hipotetis di bawah ini:
1. Hipotesis I (Ed + Es > 1)
Misalkan di Indonesia diketahui

data

dan

informasi

perdagangan dan keuangan internasional sebagai berikut:


Kurs (USD1 = Rp 1.000,Elastisitas permintaan barang ekspor = Ed = 2
Elastisitas permintaan barang impor = Es = 0
Ed + Es = 2 + 0 = 2 > 1
Permintaan melakukan devaluasi sebesar 20% yang
berarti kurs USD berubah menjadi USD 1 = Rp 1.200.a. Posisi BOT sebelum devaluasi adalah sebagai berikut:
Ekspor Karet
Impor Radio
1.000 kg x $ 1 = 100 unit x $11
$1.000
$1.100
Atau Rp 1.000.000,atau Rp 1.100.000,42

X = $ 1.000 < $ 1.100 = M


Posisi BOT defisit = $ 1.00
b. Posisi BOT sesudah devaluasi 20% adalah sebagai
berikut.
Sesuai dengan rumus elastisitas maka
Ed

% Qx
2, maka Qx 2. Px
% Px

% Qx = Persentase perubahan kuantitas ekspor.


% Px = Persentase perubahan harga ekspor

Tingkat devaluasi yaitu sebesar 20%. Dengan demikian,


R Qx = 2 x 20% = 40%.
Kuantitas ekspor dengan % Qx = 40% sehingga
menjadi sebesar 1.400 kg karet.
Sesuai dengan rumus elastisitas maka
Es

% Qm
0
% Pm

Maka % Qm = 0. Pm
% Qm = Persentase perubahan kuantitas impor.
% Pm = Persentase perubahan harga impor = Tingkat
devaluasi, yaitu sebesar 20%.
Dengan demikian, % Qm = 0 x 20% = 0.
Ini berarti kuantitas impor radio setelah devaluasi tetap
atau tidak berubah = 100 unit radio.
Kurs setelah devaluasi 20% menjadi USD 1 = Rp 1.200.
Setelah devaluasi USD 1 = Rp 1.200 = 1,2 kg karet.
Ini berarti setelah devaluasi harga 1 kg karet = USD
1/1,2 = USD 0,83.
Ekspor Karet
1.400 kg x $0,83
$1.162
Atau Rp 1.394,-

Impor Radio
= 100 unit x $11 = $1.100
atau Rp 1.100.000,-

X = Rp 1.394.400 > Rp 1.320.000 = M


Posisi BOT defisit = $62.
2. Hipotesis II (Ed + Es = 1)
Misalkan di Indonesia diketahui

data

dan

informasi

perdagangan dan keuangan internasional sebagai berikut;


Kurs USD 1 = Rp 1.000
Elastisitas permintaan barang ekspor = Ed =
Elastisitas permintaan barang impor = Es =
43

Ed + Es = + =1
Pemerintah melakukan

devaluasi

sebesar

20%

yang

berarti kurs USD berubah menjadi USD 1 = Rp 1.200


a. Posisi BOT sebelum devaluasi adalah sebagai berikut:
Ekspor Karet
1.000 x $1 = $1.000
Atau Rp 1.000.000,-

Impor Radio
100 unit x $11 = $1.100
atau Rp 1.100.000,-

X = $1.000 < $ 1.100 = M


Posisi BOT defisit = $100.
b. Posisi BOT sesudah devaluasi 20% adalah sebagai
berikut:
Sesuai dengan rumus elastisitas maka, karena Ed = %
Qx / %Px
= maka % Qx = Px
% Qx = Persentase perubahan kuantitas ekspor.
% Px = Persentase perubahan harga ekspor

Tingkat devluasi yaitu sebesar 20%.


Dengan demikian, Qx = x 20% = 15%.
Kuantitas ekspor naik dengan % Qx = 15% sehingga
menjadi sebesar 1.150 kg karet.
Sesuai dengan rumus elastisitas maka, karena Es = %
Qm/%Pm = maka % Qm = % Pm
%Qm = Persentase perubahan kuantitas impor
%Pm = Persentase perubahan harga impor = tingkat
devaluasi yaitu sebesar 20%.
Dengan demikian, %Qm = x 20% = 5%.
Kuantitas impor naik dengan %Qm = 5% sehingga
menjadi 1.105 unit radio.
Kurs setelah devaluasi 20% menjadi USD 1 = Rp 1.200
Kuantitas ekspor menjadi %Q = 15% sehingga
menjadi sebesar 1.150 kg.
Sebelum devaluasi USD 1 = Rp 1.000 = 1 kg karet.
Setelah devaluasi USD 1 = Rp 1.200 = 1,2 kg karet.
Ini berarti setelah devaluasi harga 1 kg karet = USD
1/1,2 = USD 0,83.
Ekspor Karet
1.150 x $0.83 = $954,50
Atau Rp 1.145.400,-

44

Impor Radio
105 unit x $11 = $1.155
atau Rp 1.386.000,-

X = $954,50 < $ 1.55 = M


X = Rp 1.145.400 < Rp 1.386.000 = M.
Posisi BOT tetap defisit
3. Hipotesis III (Ed + Es < 1)
Misalkan di Indonesia diketahui

data

dan

informasi

perdagangan dan keuangan internasional sebagai berikut:


Kurs USD 1 = Rp 1.000,Elastisitas permintaan barang ekspor = Ed =
Elasitistas permintaan barang impor = Es =
Ed + Es + = < 1
Permintaan melakukan devaluasi sebesar 20% yang
berarti kurs USD berubah menjadi USD 1 = Rp 1.200.
a. Posisi BOT sebelum devaluasi adalah sebagai berikut:
Ekspor Karet
1.000 x $1 = $1.000
Atau Rp 1.000.000,-

Impor Radio
105 unit x $11 = $1.100
atau Rp 1.100.000,-

X = $1.000 < $ 1.100 = M


Posisi BOT tetap defisit = $100
b. Posisi BOT sesudah devaluasi 20 adalah sebagai berikut
Sesuai dengan rumus elastisitas maka, karena Ed =
%Qx/%Px = 1/2 , maka % Qx = %Px
%Qx = Persentase perubahan kuantitas ekspor.
%Px = Persentase perubahan harga ekspor = Tingkat
devaluasi, yaitu sebesar 20%.
Dengan demikian, %Qx = x 20% = 10%.
Kuantitas ekspor naik dengan %Qx = 10% sehingga
menjadi sebesar 1.100 kg karet.
Sesuai dengan rumus elastisitas maka:
Karena Es = %Qm/%Pm = . Maka % Qm = 1/4 %
Pm.
%Qm = Persentase perubahan kuantitas impor
%Pm = Persentase perubahan harga impor =
Tingkat devaluasi yaitu sebesar 20%.
Dengan demikian, %Qm = x 20% = 5%.
Kuantitas impor naik dengan %Qm = 5% sehingga
menjadi 105 unit radio.
Kurs setelah devaluasi 20% menjadi USD 1 = Rp 1.200
Kuantitas ekspor menjadi %Qx = 10% sehingga
menjadi 1.100 Kg.
Sebelum devaluasi USD 1 = Rp 1.000 = 1 kg karet
45

Setelah devaluasi USD 1 = Rp 1.200 = 1,2 kg karet


Ini berarti setelah devaluasi harga 1 kg karet = USD
1/1,2 = USD 0,83.
Ekspor Karet
1.000 x $0,83 = $913
Atau Rp 1.096.600,-

Impor Radio
105 unit x $11 = $1.155
atau Rp 1.386.000,-

X = $913 < $ 1.155 = M


Atau X = Rp 1.145.400 < Rp 1.386.000 = M
Posisi BOT semakin defisit = $242
Secara ringkas pengaruh devaluasi terhadap posisi BOT
berdasarkan Marshall Lerner condition di atas dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Hipotesis II (Ed + Es > 1)
Ed + Es = 2 + 0 = 2 > 1
%P (Rp)
Ekspor
Impor

Tetap
+ 20%

%Q
+ 40%
Tetap

Posisi BOT

Hasil
Penerimaan
+
40%
Pengeluaran
+20%
Penerimaan +20%

2. Hipotesis II (Ed + Es = 1)
Ed + Es = + = 1
%P (Rp)
Ekspor
Impor

Tetap
+ 20%

%Q
+ 15%
Tetap

Posisi BOT

Hasil
Penerimaan
+
15%
Pengeluaran
+15%
Penerimaan 0%

3. Hipotesis III (Ed + Es < 1)


Ed + Es = + = < 1
%P (Rp)
Ekspor
Impor

Tetap
+ 20%

Posisi BOT

%Q
+ 10%
-5%

Hasil
Penerimaan
+
10%
Pengeluaran
+15%
Penerimaan 5%

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa efektivitas


kebijakan devaluasi akan sangat tergantung pada
46

elastisitas permintaan barang ekspor dan impor. Hal ini


dapat dibuktikan dengan Grafik 4.1 berikut.
Rp

Rp
Grafik
D
E1 B

Grafik
D A
S

P1
P0

E0

Keterangan:
Posisi defisit grafik A dan grafik B adalah sama, yaitu sebesar FG=
MN.OPada
F grafikGA dimana
S kurva
O demand
M
N & supply
S bersifat elastis,
ternyata posisi defisit sebesar FG dapat ditutup dengan devaluasi
sebesar P0P1. Pada grafik B dimana kurva demand & supply bersifat
inelastis, ternyata posisi defisit sebesar MN dapat ditutup dengan
devaluasi sebesar E0E1. Ternyata E0E1 > P0P1.

Sebagai kesimpulan dari kedua grafik di atas dapat


dikemukakan catatan berikut:
a. Sejalan dengan Marshall-Lerner condition, ternyata
devaluasi akan lebih efektif bila permintaan ekspor
dan impor bersifat elastis.
b. Dengan kata lain pada Grafik A yang elastis,
ternyata hanya diperlukan devaluasi yang lebih
kecil, yaitu hanya sebesar P0P1, sedangkan pada
grafik B yang inelastis, ternyata diperlukan devaluasi
yang lebih besar yaitu E0E1.
Selanjutnya efektivitas kebijakan devaluasi dapat juga
dilakukan dengan analisis efek J Curve (S. Husted &
M. Melvin, 1990) seperti yang ditunjukkan pada Grafik
4.2 di bawah ini.
Grafik 4.2
Efek Kurva J dari Devaluasi
(+)
Current
Accoun +5
t
Surplus
T3

Current
Accoun
t
Keterangan:
Defisit

-0
-1
-2

T1

Tim
e

T2

(-)

47

T1 = Posisi Defisit
T2 = Posisi Defisit
Berkurang
T3 = Posisi Surplus

1) Kebijakan devaluasi biasanya dalam jangka pendek justru akan


lebih memperberat defisit current account (periode T1)
2) Hal ini dapat terjadi karena perubahan kuantitas ekspor dan
impor sebagai akibat perubahan harga yang disebabkan oleh
devaluasi memerlukan waktu untuk penyesuaian.
3) Biasanya dalam waktu singkat justru penerimaan devisa ekspor
relatif akan lebih cepat menurun karena adanya penyesuaianpenyesuaian harga barang ekspor di dalam negeri sehingga
ekspor menjadi tertunda dan diperlukan kontrak baru,
sedangkan pengeluaran devisa untuk impor menurun lebih
lambat karena harga barang impor di luar negeri dalam valas
tidak akan berubah.
4) Biasanya setelah periode tertentu (satu hingga tiga bulan
penyesuaian harga ekspor dan impor), kurva J akan mulai
menaik dan ini berarti devaluasi akan memperbaiki posisi
current account dimana pada periode T2, defisit berkurang dan
pada periode T3 terjadi surplus.

Beberapa Efek Devaluasi


1. Efek Jangka Pendek
a. Efek kenaikan harga dalam negeri;
b. Karena harga naik maka konsumsi menurun;
c. Turunnya
konsumsi
menyebabkan
lesunya
aktivitas ekonomi yang dapat menjurus kepada
deflasi dan akhirnya dapat mengakibatkan resesi
ekonomi.
d. Terjadinya pergeseran pengeluaran (expenditure
switching) dari konsumsi produk luar negeri
kepada konsumsi dalam negeri.
2. Efek Jangka Menengah
a. Dapat terjadi perbaikan posisi BOT dan BOP
melalui mekanisme elastisitas permintaan ekspor
dan

impor

sesuai

dengan

Marshall-Lerner

condition (Ed + Es > 1).


b. Dapat terjadi perbaikan

posisi

mekanisme moneter.
3. Efek Jangka Panjang
Karena adanya perubahan

harga

BOP

melalui

produk

dan

terjadinya pergeseran pengeluaran konsumsi dalam


jangka pendek pergeseran pengeluaran konsumsi
dalam jangka pendek serta adanya peningkatan
aliran

modal/devisa

yang

masuk

dalam jangka

menengah maka dalam jangka panjang dapat terjadi


48

pergeseran produksi (production switching) baik


yang

menyangkut

nontradeable

tradeable

goods

goods

sehingga

maupun

akhirnya

akan

merubah struktur ekonomi nasional.


Debt Service Ratio (DSR)
Debt Service Ratio (DSR) adalah suatu indikator yang
digunakan untuk mengevaluasi posisi keuangan internasional
dan mengukur kemampuan suatu negara untuk membayar
pinjaman luar negeri dengan menghitung perbandingan
antara jumlah cicilan utang pokok (CUP) ditambah dengan
bunga (B) yang harus dibayar dibandingkan dengan nilai
ekspor total (Xt).
DSR biasa ditulis dengan rumus berikut:
DSR

CUP Bunga
Xt

Misalnya DSR Indonesia pada tahun 2008 = 18,8%. Ini


berarti:
DSR

CUP Bunga
18,8
x 18,8%
Xt
100

Dengan kata lain, untuk setiap ekspor sebesar 100%


maka 18,8% digunakan untuk membayar cicilan utang pokok
+bunga.
Berdasarkan

rumus

DSR

di

atas

maka

dapat

disimpulkan bahwa:
1. Semakin rendah angka DSR suatu negara, berarti semakin
baik posisinya karena semakin tinggi kemampuannya
untuk membayar utang luar negerinya.
2. Sebaliknya, semakin tinggi DSR suatu negara, berarti
semakin

buruk

posisinya

karena

semakin

rendah

kemampuannya untuk membayar utang luar negerinya.


Untuk dapat memperkecil DSR suatu negara maka perlu
dilakukan berbagai usaha berikut:
1. Meningkatkan ekspor.
49

2. Mempercepat pembayaran utang luar negeri, khususnya


utang yang berbunga tinggi.
3. Mengurangi pinjaman luar negeri.
Di samping DSR, indikator lain juga dapat digunakan
untuk mengukur debt service capacity (DSC) antara lain Debt
service to capital inflow (DSCI) yaitu menghitung atau
membandingkan antara debt service dengan jumlah aliran
modal masuk dari luar negeri (capital inflow).
Beberapa indikator utang Indonesia hingga akhir 2002
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.2
Indikator Utang Indonesia Hingga Akhir Tahun 2002
No
1
2
3

Kondisi
Indonesia
Utang terhadap GDP 147,5%
Utang terhadap
375,3%
ekspor
DSR
33,1%
Rasio

Kondisi
Normal
80%
220%
20%

Jumlah utang Indonesia hingga akhir-akhir 2002 akan


mencapai USD 180 miliar yang terdiri atas utang lama USD
137 miliar ditambah utang baru USD 43 miliar.
BAB V
VALAS DAN MEKANISME BURSA VALAS
A. Pengertian Valas (Forex/Foreign Currency)
Valuta asing (valas) atau foreign exchange (forex) atau
foreign currency diartikan sebagai mata uang asing dan alat
pembayaran lainnya yang digunakan untuk melakukan atau
membiayai transaksi ekonomi keuangan internasional dan
yang mempunyai catatan kurs resmi pada bank sentral.
Mata

uang

yang

sering

digunakan

sebagai

alat

pembayaran dan kesatuan hitung dalam transaksi ekonomi


dan keuangan internasional disebut sebagai hard currency,
50

yaitu mata uang yang nilainya relatif stabil dan kadangkadang mengalami apresiasi atau kenaikan nilai dibandingkan
dengan mata uang lainnya.
Mata uang hard currency ini pada umumnya berasal
dari negara-negara industri maju seperti Dollar-Amerika
Serikat (USD), Yen-Jepang (JPY), Euro (EUR), Poundstering
Inggris (GBP),

Dollar-Australia (AUD), Franc-Swiss (SFR),

dan lain-lain.
Soft currency adalah mata uang lemah yang jarang
digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung
karena nilainya relatif tidak stabil dan sering mengalami
depresiasi atau penurunan nilai dibandingkan dengan mata
uang lainnya.
Soft currency ini pada umumnya berasal dari negaranegara sedang berkembang seperti rupiah-Indonesia, pesoFilipina,

bath-Thailand, rupee-India, dan lain-lain.

Total valas yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta


dari suatu negara yang pada umumnya disebut juga sebagai
cadangan devisa negara tersebut yang dapat diketahui dari
posisi Balance of Payment (BOP) atau neraca pembayaran
internasionalnya.
Makin banyak valas atau cadangan devisi yang dimiliki
pemerintah atau penduduk suatu negara maka berarti makin
besar kemampuan negara tersebut melakukan transkasi
ekonomi dan keuangan internasional. Cadangan devisa suatu
negara biasanya dikelompokkan atas dua kelompok, yaitu:
1. Cadangan devisi resmi atau official forex reserve, yaitu
cadangan devisa milik negara yang dikelola, dikuasai,
diurus dan

ditata-usahakan oleh bank sentral atau

Bank Indonesia.
2. Cadangan devisa nasional atau country forex reserve,
yaitu seluruh devisa yang dimiliki oleh perorangan, badan,
51

atau lembaga, terutama perbankan yang secara moneter


atau merupakan kekayaan nasional (termasuk milik bank
umum nasional).
B. Mekanisme Bursa Valas
Bursa atau pasar valas diartikan sebagai suatu tempat
atau wadah atau sistem dimana perusahaan, perorangan dan
bank dapat melakukan transaksi keuangan internasional
dengan

jalan

melakukan

pembelian

atau

permintaan

(demand) dan penjualan atau penawaran (supply) atas valas


atau forex.
Gambaran

tentang

terjadinya

permintaan

atau

pembelian dan penawaran atau penjualan valas tersebut


dapat dilihat pada

gambar 5.1.

Tiga prinsip pokok dalam Bursa Valas adalah:


1. Pengertian

Kurs

Jual

dan

Beli

selalu

dilihat

dari

kepentingan/keuntungan pihak Bank atau Money Changer


atau pedagang valas.
2. Kurs Jual selalu lebih tinggi daripada Kurs Beli atau
sebaliknya Kurs Beli selau lebih rendah dari Kurs Jual.
3. Kurs Jual/Beli suatu mata uang (valas) adalah sama
dengan Kurs Beli/Jual mata uang (valas) lawannya. Dengan
kata lain Kurs Beli/Jual Rupiah.
Dalam hal ini yang diartikan dengan bank devisa adalah
bank umum pemerintah dan swasta yang ditetapkan atau
diizinkan oleh pemerintah untuk menjual, membeli dan
menyimpan, serta menyelenggarakan lalu-lintas pembayaran
internasional atau luar negeri.
Gambar 5.1
Permintaan dan Penawaran Valas

52

Transaksi Valas
Bila kurs jual atau selling rate yang berlaku pada waktu itu
sebesar

Rp 8.000/USD, untuk mendapatkan USD 10,000,-,

importer A membayar rupiah sebanyak USD 10.000 x Rp


8.000/USD =

Rp 80.000.000,- kepada BNI.

Dari uraian mekanisme bursa valas di atas dapat


disimpulkan bahwa fungsi bursa valas adalah sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan transaksi internasional.
2. Menyediakan fasilitas kredit jangka pendek

untuk

pembayaran internasional.
3. Memberikan fasilitas hedging yaitu tindakan pengusaha
atau pedagang valas untuk menghindari risiko kerugian
atas fluktuasi valas atau forex rate terhadap aktivitas
transaksi internasional.
Kurs yang berlaku ini disebut sebagai kurs jual atau
selling rate atau ask rate untuk USD, yaitu Rp 8.000 per USD
yang akan sama dengan kurs beli atau buying rate atau bid
rupiah, yaitu USD 1/8.000 atau USD 0.000125 per rupiah.
Dalam hal ini,

yang perlu

diperhatikan

adalah bahwa

penentuan kurs jual dan kurs beli akan selalu dilihat dari sisi
kepentingan bank.
Dalam hal Bank BNI memerlukan jumlah valas yang
banyak untuk memenuhi permintaan nasabah, Bank BNi
dapat menghubungi bank devisa lain atau Bank Indonesia
(bank sentral) untuk membeli valas atau USD.

53

Dalam hal Bank BCA mempunyai terlalu banyak valas,


dia dapat menjual atau menawarkannya kepada bank devisa
lainnya misalnya BNI atau Bank Indonesia (Bank Sentral)
untuk menjual valas atau USD.
Dalam hal ini, kurs yang berlaku disebut kurs beli atau
buying rate atau bid rate untuk USD yaitu Rp 7.900 per USD,
yang akan sama dengan kurs jual atau selling rate atau ask
rate untuk rupiah, yaitu USD 1/7.900 per rupiah atau USD
0.000127 per rupiah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Kurs Jual USD
(USD 0.000125/Rp)
2. Kurs Jual Rp

= Kurs Beli Rp
(Rp 8.000/USD)
= Kurs Beli USD

(USD 0.000127/Rp)

(Rp 7.900/Rp)

3. Kurs Jual USD


(Rp 8.000/USD)
4. Kurs Jual Rp
Dalam

> Kurs Beli USD


(Rp 7.900/Rp)
> Kurs Beli Rp
(USD 0.0001125/Rp)

hal ini, kurs jual suatu mata uang atau valas

akan selalu lebih tinggi daripada kurs belinya. Di tinjau dari


sisi

bank,

bank

devisa

selalu

berusaha

memperoleh

keuntungan dari selisih antara penjualan dan pembelian atau


yang dikenal sebagai spread.
Sistem penulisan yang menyatakan harga atau nilai
suatu valas yang dinyatakan dalam valas lainnya disebut
sebagai forex quotation. Di bursa valas dikenal dua macam
forex quotation, yaitu direct quotation.
Direct Quatation adalah sistem yang menyatakan nilai
mata uang suatu negara (domestic currency) yang diperlukan
atau diperoleh untuk satu nilai valas (foreign currency).
Penulisannya dilakukan dengan menempatkan nilai domestic
currency di depan dan unit foreign currency di belakang.

54

BAB VI
MACAM-MACAM KURS DAN BURSA VALAS
(FOREX RATE & MAREKAT)
Di dalam pasar keuangan internasional atau international
financial market dikenal beberapa macam pasar, yaitu:
1. Forex Market (Bursa Valas).
55

2. Euro Credit Market.


3. Euro Bond Market.
4. International Stock Market.
Mengenai bursa valas atau forex market, yaitu bursa atau
pasar yang berkenaan dengan penawaran dan permintaan valas
atau forex atau foreign currency. Bursa atau pasar valas terdiri
dari:
A. Currency Spot Market
B. Currency Derivative Market:
1. Currency Forward Market.
2. Currency Future Market.
3. Currency Option Market.
Currency Derivative Market biasanya digunakan untuk dua
tujuan yaitu:
1. Untuk tujuan spekulasi (mencari keuntungan).
2. Untuk tujuan Hedging (lindungan nilai).
C. Euro Currency Market
A. Spot Rate dan Spot Market
Spot market adalah pasa valas dimana dilakukan
transaksi pembelian dan penjualan valas untuk penyerahan
dalam jangka waktu dua hari. Kurs yang dipakai untuk
melaksanakan transaksi spot disebut spot exchange rate atau
SR atau S1. Spot rate adalah

kurs valas yang berlaku

untuk penyerahan 1-2 hari, tergantung jenis valasnya. Dalam


perjanjian

ini

lazimnya

penyerahan dilakukan

dua

hari

kemudian (T + 2) dan apabila hari kemudian hari libur maka


pelaksanaannya
Penyerahan
sedangkan

adalah

semacam
perjanjian

ini

pada

hari

biasanya

antara

bank

kerja
terjadi
dengan

berikutnya.
antar

bank,

nasabahnya

dilakukan pada hari yang sama (same day settlement).


Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Spot Rate adalah
kurs yang berlaku maksimal 2 x 24 jam atau SR (T + 2) atau
SR 2 x 24 jam.

56

Daftar spot rate atau kurs valas yang berlaku di Jakarta


pada tanggal 09 Agustus 2004 dapat dilihat pada tabel 6.1
(menurut Bank Indonesia).
Tabel 6.1
Daftar Kurs Valas Tanggal 09 Agustus 2004 Bank Indonesia
Valas
USD
EUR
GBP
JPY
SGD
Sumber: bi.go.id.

Kurs Beli
(Notes)
9.108,00
11.178,00
16.786,00
82,59
5,307,00

Kurs Jual
(Notes)
9.200,00
11.297,00
16.962,00
83,45
5,363,00

Kurs Tengah
(Notes)
9.154,00
11.237,50
16.874,00
83,02
5.335,00

Keterangan :
Kurs Beli
Kurs Jual

Buying Rate atau Bid Rate


Selling Rate atau Ask Rate

Kurs Tengah

Kurs Jual Kurs Beli


2

Secara umum di Jakarta kurs beli dan kurs jual notes


atau uang keras/foreign currency akan lebih tinggi dari pada
travel cheque (TC). Hal ini dapat terjadi karena transaksi
internasional di Indonesia lebih banyak dilakukan dengan
uang keras dari pada TC.
Sebaliknya di luar negeri, kurs jual maupun kurs beli
travel cheque/TC pada umumnya lebih tinggi daripada kurs
bank notes. Hal ini terjadi karena di luar negeri transaksi
penggunaan TC relatif lebih sering dan mudah dilakukan
masyarakat

dan

memang

seharusnya

demikian

karena

transaksi dengan TC akan lebih terjamin dari pemalsuan dan


adanya jaminan penggantian bila terjadi kehilangan.
Cross Rate
Dari daftar spot rate kurs tengah pada Tabel 6.1. di atas
dapat pula dihitung spot cross rate atau kurs silang atas
dasar kurs tengah yang berlaku di Jakarta pada tanggal 09
Agustus 2004 sebagai berikut.
57

Spot cross rate JPY/USD untuk kurs tengah notes:

JPY

Rp

Rp

USD

JPY1

Rp 83,02 x Rp 9.154

JPY110,26
USD

USD

Perhitungan cross rate ini umumnya digunakan oleh


para

arbitrager

international

(pedagang

triangular

valas)

arbitrage,

untuk

yaitu

melakukan

tindakan

untuk

mencari keuntungan atas perbedaan spot rate yang sedang


berlaku dengan cross rate di tiga tempat bursa valas yang
berbeda.
B. Derivative Market
Tabel 6.2
Beberapa Perbedaan Derivative Market
Forward
Karakteristik
Future Market
Option Market
Market
1. Nilai kontrak
(Amount)
2. Tgl. Kontrak
(Delivery
Date)

Bebas

Standardized/Lot

Bebas

Rabu ke III setiap


bulan
Maret/Juni/Sept/De
s

3. Market Place

Dengan
telepon
Tidak ada,
tetapi
mempunyai
Account
* Buy/Long
Position
* Sell/Short
Position
Wajib/Obligati
on
Spread Buy
Sell

Floor

Standardized/Lot
(1/2 Future)
* American
Option (Dapat
direalisasi
setiap saat
selama masa
kontrak masih
berlaku).
* European
Option
(Hanya
direalisir pada
saat jatuh
tempo/due
date)
Floor

Memerlukan
deposit

Bayar
Fee/Premium

* Buy/Long
Position
* Sell/Short
Position
Wajib/Obligation

* Buy/Call Option
* Sell/Put Option

4. Security
Deposit
5. Jenis
Transaksi
6. Realisasi
7. Transaction
Cost

Negociated Fee

1. Forward Rate dan Forward Market


58

Fakultatif/Boleh
tidak direalisir
Fee Call/Put
Option

Forward

market

adalah

bursa

valas

di

mana

dilakukan transaksi penjualan dan pembelian valas dengan


kurs forward.

Kurs forward adalah kurs yang ditetapkan

sekarang pada saat ini, tetapi diberlakukan untuk waktu


yang akan datang (future period) antara lebih dari 2 x 24
jam sampai dengan 1 tahun atau 12 bulan.
Forward rate dan forward market timbul karena
adanya ketidakpastian dan fluktuasi kurs valas. Hal ini
terutama

terjadi

mengambang

semenjak

(floating

berlakunya

rate

system)

sistem
setelah

kurs
Dekrit

Presiden Nixon pada tanggal 15 Agustus 1971. Dekrit


tersebut antara lain menyatakan bahwa nilai mata uang
USD tidak dikaitkan dan dijamin lagi dengan emas.
Sebelumnya,
berdasarkan
persetujuan
Bretton
Woods tahun 19744, Sistem Moneter Internasional (SMI)
didasarkan pada sistem kurs tetap atau fixed exchange
rate. Dalam hal ini, USD convertible atau dapat ditukar dan
dijamin sepenuhnya dengan emas dengan ketentuan USD
35 ekuvalen dengan 1 troy once emas. Dewasa ini, negaranegara

industri

menganut

sistem

kurs

mengambang

(floating rate system), seperti Inggris, Jerman, Jepang,


Prancis, dan lain-lain. Kurs forward mata uang ini biasanya
dimuat dalam
Wall Sreet Journal.
Semenjak diberlakukannya sistem kurs mengambang
tersebut, banyak perusahaan dan perbankan, termasuk
badan usaha pemerintah, menggunakan forward market
untuk mengadakan forward contract. Hal itu bertujuan
melindungi

transaksi

perdagangan

dan

keuangan

internasional dari risiko kerugian dan dari para pedagang


valas yang melakukan spekulasi untuk tujuan mencari
keuntungan dari fluktuasi forward rate.
a. Forward Market untuk Hedging

59

Ilustrasi dari forward contract ini dapat dilihat


pada contoh berikut.
Suatu perusahaan Indonesia memerlukan dana
untuk membayar kontrak pembelian bahan baku dari
USA senilai

USD 1.000.000,00 dalam jangka waktu

120 hari atau 4 bulan. Spot rate jual pada saat ini,
tanggal 09 Agustus 2004 adalah Rp 9.300

USD

. Karena

fluktuasi kurs yang tidak menentu, dimana diperkirakan


USD

akan

Rp 9.300

USD

apresiasi

terhadap

rupiah

menjadi

, maka pimpinan perusahaan melakukan

forward contract dengan bank atau forex dealer dengan


kurs forward untuk 120 hari.
Pada waktu jatuh tempo
Desember

2004

(setelah

pada

120

tanggal

hari),

08

pimpinan

perusahaan akan mendapat kepastian memperoleh


dana sebesar USD 1,000,000,00 dengan membayar
sebesar USD 1.000.000,00 x Rp 9.300
9.300.000.000,-.
Pembayaran

ini

dilakukan

USD

dengan

Rp
forward

premium sebesar:

9.300.000.000 - 9.200.000.000
360
x
x100%
9.200.000.000
120

0,1086956 x 3% 0,33% untuk periode 120 hari

Perhitungan forward premium/discount ini dapat


dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
FR - SR 360
Bila FR > SR (+) Forward
x
x 100%
SR
n

Premium

Bila FR < SR (-) Forward


Discount
Keterangan:
FR = Forward rate

SR

60

= Spot rate

= Hari untuk 360/n, atau

Berdasarkan

rumus

di

atas

= Bulan untuk 12/n

dapat

disimpulkan

sebagai berikut:
1. Bila FR > SR atau valas yang di forward contract kan
mengalami apresiasi, perhitungan dengan rumus di atas
akan menghasilkan bilangan positif yang berarti bahwa
forward

contract

valas

tersebut

dilakukan

dengan

forward premium.
2. Bila FR < SR atau valas yang di forward contract kan
mengalami depresiasi, perhitungan dengan rumus di
atas akan menghasilkan bilangan negatif yang berarti
bahwa forward contract valas tersebut dilakukan dengan
forward discount.
Perhitungan forward premium dan forward discount
ini diperlukan bagi para pengusaha atau pedagang valas
untuk

mengantisipasi

memperoleh

risiko

keuntungan

kerugian

dengan

atau

spekulasi

membandingkannya

dengan tingkat bunga atau risiko yang harus ditanggung


jika tidak melakukan forward contract.
Perhitungan forward premium dan forward discount
ini diperlukan bagi para pengusaha atau pedagang valas
untuk

mengantisipasi

memperoleh

risiko

keuntungan

kerugian

dengan

atau

spekulasi

membandingkannya

dengan tingkat bunga atau risiko yang harus ditanggung


jika tidak melakukan forward contract.
1. Forex Quotation
Sistem penulisan yang menyatakan harga atau nilai
suatu valas yang dinyatakan dalam valas lainnya
disebut sebagai
dikenal

dua

forex quotation. Di bursa valas

macam

forex

quotation,

yaitu

direct

quotation dan indirect quotation.


2. Direct Quotation
Adalah sistem yang menyatakan nilai mata uang suatu
negara

(domestic

currency)

yang

diperlukan

atau

diperoleh untuk satu nilai valas (foreign currency).


61

Penulisannya

dilakukan

dengan

menempatkan

nilai

domestic currency di depan dan unit foreign currency di


belakang.
Contoh:
Di Indonesia
Rp 9.000
= USD 1
Di Amerika Serikat USD 0.0001111 = Rp 1
3. Indirect Quotation
Adalah sistem yang menyatakan nilai valas (foreign
currency) yang diperlukan atau di peroleh untuk satu
unit domestic currency. Sistem penulisannya dilakukan
dengan menempatkan nilai foreign currency di depan
dan unit domestic currency di belakang.
Contoh:
Di Indonesia
USD 0.0001111 = Rp 1
Di Amerika Serikat Rp 9.000
= USD 1
4. Forward market
Adalah bursa valas dimana dilakukan transaksi
penjualan dan pembelian valas dengan kurs forward.
5. Kurs Forward
Adalah kurs yang ditetapkan sekarang atau pada saat
ini, tetapi berlaku untuk waktu yang akan datang (future
period) antara 2 x 24 jam lebih sampai dengan 1 tahun
atau 12 bulan (2 x 24 jam < FR 360 hari).
Forward Quotation
1. Outright Rate
Adalah actual price quotations by commercial
customers.
Swap Rate
Adalah forward differential for inter bank/dealers quote as
a discount from or premium on spot rate.

Swap rate dapat dikonversikan menjadi outright rate


dengan cara:
1. Menambah premium (point) pada swap rate, atau
2. Mengurangi discount (point) pada swap rate.
Sekalipun swap rate tidak memiliki tanda positif atau
negatif, namun dapat ditetapkan apakah forward rate
62

mendapat discount atau preimium berdasarkan ketentuan


atau aturan, sebagai berikut:
1. Bila forward bid rate point lebih kecil daripada ask rate
point, maka forward rate mendapat premium dan nilai
point harus ditambahkan terhadap spot rate untuk
mendapatkan / menghitung outright quote.
2. Sebaliknya bila bid rate point lebih besar daripada ask
rate point, maka forward rate mendapat discount dan
nilai

point

harus

dikurangi

dari

spot

rate

untuk

mendapatkan/menghitung outright quote.


Contoh Perhitungan
FR 30
hari

Spot Rate
GBP: $2.0015 30
CHF :$0.6963 68

FR 90 hari

FR 180 hari

26 22
9 14

42 35
25 38

19 17

Berdasarkan data dan dengan menggunakan kedua


aturan di atas maka dapat dihitung Outright Quote,
sebagai berikut:
GBP
Maturity
Spot

BID
2.0015

FR 30 hari

1.9996

FR 90 hari

1.9989

FR 180
hari

1.9973

Formula

CHF

ASK
$2.003
0
$2.001
3
$2.000
8
$1.999
5

SPREAD
%
0.075
0.085
0.095
0.110

Menghitung

Forward

Menentukan Forward Pricing


Formula 1
Forward point

(B - A) x (SR x T)
(A x T) (100 x DB)

63

BID
$0.696
3
$0.696
7
$0.697
2
$0.698
8

ASK
$0.696
8
$0.697
4
$0.698
2
$0.700
6

Point

SPREAD
%
0.720
0.100
0.143
0.257

untuk

A = Base currency interest rate = USD


B = Counter currency interest rate = SGD
SR
= Spot rate
T = Time in days = 90 hari
DB = Day basis for the year = 360 hari
Contoh
Bunga deposito 3 bulan : USD = 5.5% dan SGD = 3.5%.
Kurs tengah SR = SGD 1.5350/USD.
Forward points

(3.5 - 5.5) x (1.5350 x 90)


(5.5 x 90) (100 x 360)

- 2 x 1.5350 x 90
495 36000

- 0.007571 - 76 points

Dengan demikian, karena bunga deposito USD lebih


besar

daripada

SGD

maka

permintaan

spot

USD

meningkat. Akan tetapi setelah 3 bulan atau saat jatuh


tempo forward rate USD akan mengalami depresiasi
menjadi:
= 1.5350 0.0076 = SGD 1.5274/USD
Formula 2
SR x (B - A) x T
Forward point
100 x DB
Contoh:
Deposito 3 bulan: USD = 5.5% dan SGD = 3.5%.
Kurs tengah SR = SGD 1.5350/USD.
Forward point

1.5350 x (3.5% - 5.5%) x 90


36000

- 0.007675 - 77 points

Dengan demikian, karena bunga deposito USD lebih


besar

daripada

SGD

maka

permintaan

spot

USD

meningkat. Akan tetapi setelah 3 bulan atau saat jatuh


tempo forward rate USD akan mengalami depresiasi
menjadi:
= 1.5350 0.0077 = SGD 1.5273/USD
Kebijaksanaan pengusaha untuk melakukan forward
contract ini merupakan salah satu cara hedging, yaitu
tindakan pengusaha untuk menghindari risiko kerugian
sebagai akibat fluktuasi kurs valas atau forex fate.
64

b. Forward Market untuk Spekulasi


Sebagai ilustrasi dari penggunaan

Forward

Market untuk tujuan spekulasi dapat dilihat dari contoh


dibawah ini.
Misalkan data dan informasi dari suatu bank
devisa di Jakarta sebagai berikut.
Spot Rate (SR) = Rp 9000/USD dan Forward Rate
(FR) 90 hari = Rp 9.100/USD. Tetapi seorang speculator
mencoba mencari informasi lain tentang kemungkinan
realisasi Future Spot Rate (FSR) dengan kemungkinan
harapan atau Expected Probability sebagai berikut.
No
1.
2.
3.
4.

FBR

Probability

9.050
9.100
9.150
9.200

10%
20%
60%
10%

Expected Value
FSR
905
1.820
5.490
920
9.135

Berdasarkan perbandingan data diatas, dapat


dilihat

bahwa

FSR

>

FR.

Dengan

demikian,

bila

spekulator ingin mendapatkan keuntungan maka akan


dilakukan forward contract beli atau take a long
position. Dalam hal ini speculator akan mendapat
keuntungan sebesar Rp 35/USD dari kontrak beli dengan
FR Rp 9.100/USD dan kemudian menjual kepasar
dengan harga FSR Rp 9.135/USD.
Langkah speculator untuk mencari keuntungan
diatas dapat digambarkan dengan Grafik 6.1 dan Grafik
6.2 di bawah ini.
Grafik 6.1
Spekulasi Long Position Forward Contract

65

Dari uraian langkah spekulasi diatas, maka dapat


disimpulkan bahwa seseorang spekulator akan berusaha
untuk mencari keuntungan dengan langkah sebagai
berikut:
1. Bila diperkirakan FSR > FR, maka speculator akan
melakukan kontrak Long Position atau kontrak beli
untuk mendapatkan keuntungan sebesar Rp 35/USD
(membeli USD di kontrak dengan harga FR=Rp
9.100/USD dan menjualnya di pasar dengan harga
pasar FSR=Rp9.035/USD.
2. Tetapi, sebaliknya bila ramalan Expected Value-nya
ternyata salah atau meleset misalnya FSR<FR atau
menjadi

9050<9100

maka

mengalami kerugian
kontrak

dengan

menjualnya

di

spekulator

akan

Rp 50/USD (Beli USD di

harga

pasar

FR=Rp9.100/USD

dengan

harga

dan

FSR=

Rp

9.050/USD).
3. Dalam hal ini, bila diperkirakan FSR<FR, maka
sebaiknya
Short

spekulator

Position

akan

atau

melakukan

kontrak

jual

kontrak
untuk

mendapatkan keuntungan seperti yang ditunjukkan


oleh grafik 6.2 dibawah ini.
Grafik 6.2
Spekulasi Short Position Forward Contract

66

Misalkan data dan informasi dari suatu bank


devisa di Jakarta sebagai berikut. Spot Rate (SR) = Rp
9000/USD dan Forward Rate (FR) 90 hari = Rp
9.100/USD. Tetapi seorang spekulator mencoba mencari
informasi lain tentang kemungkinan realisasi Future
Spot Rate (FSR) dengan kemungkinan harapan atau
Expected Probability sebagai berikut:
No
1.
2.
3.
4.

FBR

Probability

8.900
9.050
9.100
9.150

20%
30%
30%
20%

Expected Value
FSR
1.780
2.715
2.730
1.830
9.055

Langkah yang akan dilakukan untuk mendapatkan


keuntungan dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Bila diperkirakan FSR < FR, maka spekulator akan
melakukan kontrak Short Position atau kontrak jual
untuk mendapatkan keuntungan sebesar Rp 45/USD
(membeli USD di pasar dengan harga FSR = Rp
9.55/USD dan menjualnya di kontrak dengan harga
pasar FR =
Rp 9.100/USD.
2. Tetapi sebaliknya bila ramalan Expected Value-nya
ternyata salah satu meleset misalnya FSR > FR atau
menjadi 9.150 > 9.100 maka spekulator akan
mengalami kerugian

Rp 50/USD (Beli USD di

pasar dengan harga

FSR= Rp 9.150/USD

dan menjualnya di kontrak dengan harga FR = Rp


9.100/USD.
c. Exchange Rate Pass Through
Pass-through
adalah

pengukuran

respons

perubahan harga barang impor dan barang ekspor


sebagai akibat perubahan kurs valas.

67

Diasumsikan harga sebuah mobil BMW buatan


Jerman yang dijual di USA dalam USD dan Euro sebagai
berikut.
P

EUR
USD
35,000 x $1.000/ P
$35,00
BMW
BMW

Jika Euro apresiasi terhadap USD sebesar 20%,


dari $.100/ menjadi $1.20/, maka harga mobil BMW
secara teoritis akan naik menjadi $42,000. Tetapi bila
harga mobil BMW di USA tidak naik sebesar 20%,
misalnya hanya naik menjadi $.40,000, maka dikatakan
tingkat Pass-through hanya:
P EUR
BMW.2 = $ 40,000 1.1429 atau 14,29% kenaikan
$ 35.000
P EUR
BMW.1

Tingkat Pass-through diukur dari perubahan kurs


valas yang ditunjukkan oleh perubahan harga dalam
USD. Pada contoh ini, harga BMW dalam USD hanya naik
sebesar 14,29%, Pass through hanya sebagian yaitu
sebesar.

14,29%
Dengan

20%

0,71 71%

demikian

hanya

sebesar

71%

dari

perubahan kurs valas yang merupakan pass through


terhadap

harga

USD,

sedangkan

sisa

29%

dari

perubahan kurs diserap oleh BMW.


d. Dampak Exchange Rate Pass Through dalam Krisis
Moneter
Pada dasarnya exchange rate Pass Through ini
mencerminkan dampak negatif dari krisis moneter
yang

harus

ditanggung

oleh

eksportir

produk

pertanian/primer dari Indonesia yaitu dalam bentuk


kebocoran/kerugian akibat harga barang menurun
dalam nilai valas.

68

Untuk ilustrasi dari kebocoran/kerugian sebagai


akibat exchange rate Pass-Through ini dapat dilihat
dari contoh perhitungan di bawah ini.
Misalnya harga 1 kg kopi sebelum krisis moneter
Rp 2.500 = USD 1. Setelah krisis moneter, USD apresiasi
sebesar 300% dan Rp depresiasi sebesar -75% karena
nilai tukar menjadi Rp 10.000/USD. Dengan demikian
secara teoritis pembeli kopi dari luar negeri akan dapat
membeli kopi dengan uang USD 1 sebanyak:
Rp 10.000
x 1 kg kopi 4 kg kopi
Rp 2.500

Dalam hal ini berarti harga 4 kg kopi = USD 1


atau 1 kg kopi = USD 0,25. Perhitungan ini menunjukkan
bahwa harga kopi Indonesia jika dinilai dalam USD
menjadi menurun sebesar -75% yaitu dari USD 1/kg kopi
menjadi USD 0,25/kg, sehingga secara teoritis eksportir
Indonesia

mengalami

kebocoran/kerugian

dan

sebaliknya pembeli luar negeri memperoleh keuntungan


akibat Pass-Through. Karena bargaining position yang
relatif

rendah

dari

produk

pertanian/primer,

maka

biasanya eksportir Indonesia sulit menaikan harga


jualnya dalam valas. Biasanya kenaikan harga produk
ekspor dalam valas relatif kecil (<50%) dan tidak akan
dapat mengcover depresiasi nilai rupiah yang mencapai
-75%.
C. Currency Futures Market
Currency Futures Market (CFM) merupakan salah satu
bentuk bursa valas. Dalam hal ini dilakukan kontrak yang
sering digunakan oleh para pengusaha atau arbitrageurs
(pedagang valas) untuk melindungi posisi forex-nya atau
untuk berspekulasi mencari keuntungan terhadap fluktuasi
forward rate.
69

CFM

berawal

dari

lahirnya

commodity

futures

exchange untuk memenuhi kebutuhan petani dan pemakai


atau pedagang produk pertanian pada tahun 1919 di Chicago
Mercantile Exchange (CME). Kemudian, pada tahun 1972 CME
mendirikan divisi international monetary market (IMM) yang
memungkinkan perdagangan jangka pendek dari securities
(surat berharga), emas dan forex.
Dalam currency futures

market

(CFM),

kontrak

perdagangan valas atau currency futures contract (CFC)


dilakukan dengan standar volume dan jangka waktu tertentu
sebagaimana tercantum pada tabel 6.3 di bawah ini.
Tabel 6.3
Mata Uang Asing yang Diperdagangkan di IMM
No.

Currency

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

AUD
GBP
CAD
EUR
NZD
JPY
CHF
MXP
SUR

Unit per IMM


Future

Contract Option
(1/2 Future)

100,000
62,500
100,000
125,000
100,000
12.500.000
125,000
500,000
500,000

50,000
31,250
50,000
62,500
50,000
6,250,000
62,500
250,000
250,000

Transaksi perdagangan CFC ini dilakukan secara face


to face di trading floor yang disiapkan oleh IMM melalui
broker

yang

berbeda

dengan

forward

contract

yang

dinegosiasikan melalui telepon. Tanggal jatuh tempo currency


futures contract selalu pada setiap hari Rabu

ke-3 pada

bulan Maret, Juni, September dan Desember.


Sebagai ilustrasi dari penggunaan CFM bagi seorang
pengusaha untuk melindungi atau mempertahankan posisi
forex-nya dapat dilihat dari contoh dibawah ini.
Sebuah perusahaan Amerika pada tanggal 02 Januari
memerlukan dana sebesar EUR 575,000,00 untuk empat
puluh hari kemudian atau pada tanggal 11 Februari. Dalam
hal

ini,

perusahaan

tersebut
70

dapat

melindungi

atau

mempertahankan forex position-nya, antara lain dengan


jalan:
1. Melakukan currency futures contract, atau
2. Melakukan forward contract.
Jika pilihan pertama yang dilakukan, yaitu memilih
currency futures contract, maka:
1. Pilihan IMM contract yang paling dekat waktunya adalah
Rabu ke-3 bulan Maret.
2. Untuk sejumlah keperluan dana tersebut di atas akan
memilih dua kemungkinan pembelian CFM:
a. Membeli 4 x EUR futures contract, yaitu:
4 x EUR 125.000,00 = EUR 500,000.00
b. Membeli 5 x EUR futures contract, yaitu:
5 x EUR 125,000.00 = EUR 625,000.00
Dengan
cara
ini,
pengusaha
tersebut

akan

mendapatkan kepastian dan terhindar dari kemungkinan


risiko kerugian akibat apresiasi EUR yang tinggi.
Jika yang dilakukan adalah pilihan kedua, perusahaan
akan melakukan forward

contract

yang sesuai dengan

kebutuhannya sebesar EUR 575,000.00 untuk jangka waktu


40 hari sehingga mendapat kepastian dan terhindar dari
kemungkinan risiko kerugian akibat apresiasi EUR yang tinggi.
Catatan:
Secara normal future currency price akan sama dengan
forward rate untuk valas tertentu. Akan tetapi, bila terjadi
asumsi misalnya:

1. Future Currency Price GBP USD 1.50


2. Forward Rate GBP USD 1.48

GBP

GBP

Maka dalam hal ini perusahaan dapat melakukan


pembelian GBP dengan forward contract dan sekaligus atau
pada saat yang bersamaan melakukan penjualan dengan
currency keuntungan sebesar USD 0.02 per GBP. Akan tetapi,
tindakan ini menyebabkan turunnya future currency price.

71

Selain

digunakan

untuk

melindungi

perusahaan

terhadap risiko kerugian, CFM juga digunakan oleh para


arbitrageur

atau

spekulator

untuk

mencari

keuntungan

dengan memperhatikan future currency movement.


Gambar 6.1
Tindakan Spekulator
Spekulasi CFM
GBP 125,00

Perkiraan Realisasi FSR


Apresiasi (USD1.53/)

Perkiraan Realisasi FSR


Depresiasi (USD1.48/)

CFC Kontrak Beli Harga


Rendah (USD1.50/)

CFC Kontrak Jual Harga


Tinggi (USD1.50/)

Kontrak Jual >


Kontrak Beli <
Pembelian SR
Penjualan SR
Jika spekulator memperkirakan
suatu (125,000
valas akan
Keuntungan
x
Keuntungan (125,000 x
0.02)
0.03)
apresiasi, tentu dia akan membuat futures contract untuk

specific settlement date sehingga dia dapat membeli valas


sesuai dengan rate atau kurs tertentu. Jika pada waktu jatuh
tempo futures contract-nya ternyata spot rate lebih tinggi
dari

pada

futures

contract-nya,

spekulator

tentu

akan

mendapat keuntungan dari selisih kurs antara spot rate dan


futures contract rate-nya.
Sebaliknya jika spekulator mengadakan selling futures
contract

dengan

perkiraan

bahwa

suatu

valas

akan

depresiasi, dia mengharapkan akan mendapat keuntungan


dan selisih pembelian valasnya dengan spot rate yang relatif
murah terhadap kontrak penjualan valasnya dengan kurs
yang relatif lebih tinggi.
Secara ringkas tindakan spekulator untuk memperoleh
keuntungan dapat terlihat pada Gambar 6.1 di atas.
D. Currency Option Market
72

Currency Option

Market

(CFM) merupakan suatu

alternatif lain bagi pengusaha dan pedagang valas atau


speculator untuk melakukan kontrak sehingga memperoleh
hak untuk membeli (call option) atau hak untuk menjual (put
option) yang tidak harus dilakukan

(not obligation)

atas sejumlah unit valas pada harga dan jangka waktu atau
tanggal expired tertentu.
Menurut Eitman, Stonehill dan Moffett (1992:116), ada
beberapa keterangan dan ketentuan pokok yang perlu
diketahui sehubungan dengan currency option market, antara
lain:
1. Penjual currency option disebut sebagai writer atau
grantor.
2. Pembeli currency option disebut sebagai holder.
3. Currency option contract dapat dilakukan dalam sejumlah
mata uang yang sama dengan currency future contract
(AUD, CAD, GBP, JPY, EUR, dan CHF dll).
4. Satuan kontrak adalah setengah dari satuan currency
futures contract.
5. Transaksi dilakukan berdasarkan strike atau exercise price
atau harga berlaku yang disepakati dimana pemilik
kontrak diizinkan untuk merealisasi kontraknya.
6. American option memberikan hak kepada pembeli kontrak
untuk merealisir option yang dibelinya pada setiap waktu
antara tanggal penulisan kontrak dan tanggal jatuh
temponya.
7. European option hanya dapat direalisasi pada waktu atau
tanggal jatuh temponya.
8. Suatu currency option yang exercise price-nya sama
dengan
spot price disebut sebagai at the money.
9. Suatu currency option yang akan menguntungkan jika
direalisasi segera disebut sebagai in the money yang
terdiri atas:
a. In the money calls, yaitu call option yang exercise
price-nya lebih rendah atau dibawah current spot price.

73

b. In the money puts, yaitu put option yang exercise price10.

nya lebih tinggi atau di atas current spot price.


Suatu
currency
option
yang
tidak

akan

menguntungkan jika direalisasi segera disebut sebagai out


of the money yang terdiri atas:
a. Out of the money calls, yaitu call option yang exercise
price-nya lebih tinggi atau di atas current spot pricenya;
b. Out of the money puts, yaitu put option yang exercise
price-nya lebih rendah atau di bawah current spot
11.

price-nya.
Premium atau option price adalah biaya currency

option yang ditetapkan dan dibayar di muka oleh pembeli


kepada penjual option.
Currency option ini dapat dibeli atau dijual dalam tiga
macam pasar (market), yaitu:
1. Physical currency option yang dibeli pada bursa over the
counter (interbank).
2. Physical currency option yang dibeli pada bursa valas
seperti Philadelphia stock exchange.
3. Currency option untuk future contract yang dibeli pada
bursa future contract seperti IMM.
Call Option
Call option ini dapat dan biasa digunakan oleh
perusahaan untuk melindungi atau mengcover open position
payable dari transaksi keuangan internasionalnya. Currency
call option ini juga dapat digunakan oleh spekulator untuk
mencari keuntungan.
Put Option
Put

option

digunakan

oleh

perusahaan

untuk

menghindari risiko kerugian atan meng-cover open position


receivable

dari

transaksi

keuangan

internasionalnya.

Currency put option juga dapat digunakan oleh spekulator


untuk mencari keuntungan.
74

Straddle
Seorang spekulator yang menghadapi kemungkinan
fluktuasi kurs valas yang tidak menentu (karena mengalami
apresiasi ataupun depresiasi) akan melakukan sekaligus call
option (kontrak membeli) dan put option (kontrak menjual)
yang sebagai straddle.
Straddle ini tampaknya

tidak

mungkin

dilakukan

karena alasan sebagai berikut:


1. Call option mengharapkan apresiasi valas.
2. Put option mengharapkan depresiasi valas.
Straddle ini dapat juga digunakan oleh seorang
spekulator

jika

tingkat

apresiasi

atau

depresiasi

valas

tersebut lebih tinggi daripada total biaya premium yang


dikeluarkan untuk menutup call option, dan put option
contract.
Dalam hal ini straddle akan dapat dilakukan dan
menguntungkan dalam hal berikut:
1.
Bila di bursa valas kurs GBP

USD1.56

GBP

apresiasi

menjadi

spekulator akan merealisasi call option

contract-nya dan tidak melaksanakan atau membiarkan


put

option

spekulator

USD1.01

contract-nya
akan

expired.

mendapat

Dengan

cara

keuntungan

ini

sebesar

GBP .

2. Sebalikna, bila di bursa valas kurs GBP depresiasi menjadi

USD1.44

GBP , spekulator akan merealisasikan put option

contract-nya dan tidak merealisasikan (membiarkan) call


option contract-nya expired. Dengan cara ini spekulator
akan mendapat keuntungan sebesar USD1.01
E. Pengertian Euro Currency Market

75

GBP.

Euro

Currency

Market

adalah

pasar

yang

uang

internasional yang kemudian dikenal sebagau Euro dollar


market yang mulai tumbuh dan berkembang sejak awal tahun
1960. Pasar uang ini sebenarnya dimulai dari simpanan emas
Uni Soviet dalam ini sebenarnya dimulai dari simpanan emas
Uni Soviet dalam bentuk deposito dolar di bank Inggris untuk
membiayai impor gamdumnya dari USA. Pasar ini semakin
bertumbuh dan berkembang karena USD banyak digunakan
sebagai alat transaksi perdagangan/keuangan internasional,
terutama di Eropa.
Secara luas Euro currency market dapat juga diartikan
dan meliputi bank di Asia yang menerima deposito dalam
foreign currency, terutama USD yang kemudian dikenal
sebagai Asian dollars market.
Beberapa faktor yang menyebabkan bertumbuh dan
berkembangnya Euro dollar ini antara lain sebagai berikut:
1. Adanya peraturan pemerintah USA 1968 yang membatasi
pinjaman luar negeri oleh bank USA di bank Eropa;
2. Tidak adanya ketentuan reserve requirement

untuk

deposito Euro dollar;


3. Adanya pembatasan tingkat bunga tertinggi (ceiling rate)
dan deposito pada bank USA sehingga mendorong transfer
USD ke Euro dollars market yang pada waktu itu belum
atau tidak ada pembatasan.
BAB VII
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURS VALAS
BERDASARKAN PENGERTIANNYA MASING-MASING
Beberapa

faktor

atau

kondisi

yang

berbeda

dan

mempengaruhi kurs valas di masing-masing tempat tersebut


antara lain sebagai berikut:
1. Supply dan demand foreign currency.
2. Posisi Balance Of Payment (BOP).
76

3. Tingkat inflasi.
4. Tingkat bunga.
5. Tingkat income.
6. Pengawasan pemerintah.
7. Ekspektasi, spekulasi dan rumor.
A. Perbedaan Supply dan Demand Foreign Currency
Valas atau forex sebagai benda ekonomi mempunyai
permintaan dan penawaran pada bursa valas atau forex
market.

Sumber-sumber

penawaran

atau

supply

valas

tersebut terdiri atas:


1. Ekspor barang dan jasa yang menghasilkan valas atau
forex.
2. Impor modal atau capital import dan transfer valas lainnya
dari luar negeri ke dalam negeri.
Sumber-sumber

permintaan

atau

demand

valas

tersebut terdiri dari:


1. Impor barang dan jasa yang menggunakan valas atau
forex.
2. Ekspor modal atau capital export dan transfer valas
lainnya dari dalam negeri ke luar negeri.
B. Posisi Balance of Payment (BOP)
Balance of Payment adalah suatu catatan yang disusun
secara

sistematis

tentang

semua

transaksi

ekonomi

internasional yang meliputi perdagangan, keuangan, dan


moneter antara penduduk suatu negara dan penduduk luar
negeri untuk suatu periode tertentu, biasanya satu tahun.
Dari struktur BOP di bawah ini akan dapat diketahui,
apakah posisi monetary account akan menunjukkan BOP
surplus atau defisit atau ekuilibrium, perlu diketahui hal
berikut:
1. Apabila saldo monetary account memberikan tanda
(negative), berarti BOP dalam posisi surplus.

77

2. Apabila saldo monetary account memberikan tanda +


(positif), berarti BOP dalam posisi defisit.
Bagi kalangan dunia bisnis, biasanya bagian yang lebih
diperhatikan yaitu posisi saldo Balance Of Trade (BOT),
terutama sekali posisi saldo current account (neraca transaksi
berjalan) dan saldo capital account (neraca modal).
C. Tingkat Inflasi
Bagaimana tingkt inflasi dapat mempengaruhi kurs
valas atau forex dapat digambarkan pada grafik berikut.
Grafik 7.2
Pengaruh Inflasi terhadap Kurs Valas
Kurs Vatas Rp/USD
Sfc

Rp
8.600/USD
Rp
8.500/USD
Rp
8.400/USD

E2

Xbj
Xbj

Sfc

E0

E1

Dfc
Dfc

Xbj
Xbj

USD
Keterangan :
QUSD
= Kuantitas USD
Dfc
= Demand Foreign Currency
Jasa
Mbj
= Impor Barang dan Jasa
Cx
= Capital Export

QUSD

Sfc

= Supply Foreign Currency


Xbj
= Ekspor Barang dan

Cm

= Capital Import

Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa:


1. Bila ekspor barang/jasa (Xbj) dan capital import (Cm)
naik, penawaran atau supply valas (Sfc) atau forex akan
bertambah. Bila permintaan atau demand valas (Dic)
tetap tidak berubah maka akan terjadi perubahan atau
penurunan kurs valas. Dalam hal ini forex akan apresiasi
(Rp 8.400/USD) atau pada titik potong E1.

78

2. Bila impor barang/jasa (Mbj) dan capital export (Cx) naik


maka permintaan atau demand valas (Dfc) atau forex
akan bertambah. Bila penawaran atau supplay valas
(Sfc) tetap tidak berubah maka akan terjadi perubahan
atau kenaikan kurs valas. Dalam hal ini valas atau forex
akan

apresiasi

sedangkan

rupiah

atau

domestic

currency akan depresiasi (Rp 8.600/USD) atau pada titik


potong E2.
D. Tingkat Bunga
Perubahan

tingkat

bunga

pun

dapat

berpengaruh

terhadap kurs valas atau forex rate. Pengaruh tersebut dapat


dijelaskan dengan grafik 7.3.
Grafik 7.3
Pengaruh Tingkat Bunga terhadap Kurs Valas

Dengan adanya invansi USA ke Irak, maka pemerintah


USA memerlukan dana yang cukup besar untuk membiayai
operasinya. Karena permintaan dana yang besar pemerintah
USA menaikkan tingkat bunganya untuk menarik modal luar
negeri ke USA, terutama dari Jepang.
E. Tingkat Pendapatan

79

Faktor kelima yang dapat mempengaruhi kurs valas


atau forex rate adalah pertumbuhan tingkat pendapatan di
suatu negara. Seandainya kenaikan pendapatan masyarakat
di Indonesia tinggi sedangkan kenaikan jumlah barang yang
tersedia relatif kecil, tentu impor barang akan meningkat.
Peningkatan

impor

ini

akan

peningkatan

demand valas

membawa

efek

kepada

yang pada gilirannya

mempengaruhi kurs valas atau forex rate dari Rp 8.500


menjadi

Rp 8.600

USD

akan

USD

seperti terlihat pada Grafik 7.4 di

bawah ini.
Grafik 7.4
Pengaruh Tingkat Pendapatan terhadap Kurs Valas

F. Pengawasan/Kebijakan Pemerintah
Faktor

pengawasan

pemerintah

yang

biasanya

dijalankan dalam berbagai bentuk kebijaksanaan moneter,


fiskal, dan perdagangan luar negeri untuk tujuan tertentu

80

mempunyai pengaruh terhadap

kurs valas atau forex

rate.
G. Ekspektasi dan Spekulasi/Rumor
Adanya spekulasi atau rumor devaluasi Rp karena
defisit

current

account

yang

besar

juga

berpengaruh

terhadap kurs valas atau forex rate di mana valas secara


umum mengalami apresiasi.
Pada dasarnya, ekspektasi dan spekulasi yang timbul di
masyarakat tersebut akan mempengaruhi permintaan dan
penawaran valas yang akhirnya akan mempengaruhi kurs
valas atau forex rate.
Demikian pula halnya dengan adanya rumor, misalnya
sakitnya

Presiden

mempengaruhi

atau

sentiment

Menteri
dan

Keuangan

ekspektasi

dapat

masyarakat

sehingga mempengaruhi permintaan dan penawaran valas


yang akan berakibat pada fluktuasi kurs valas.

BAB VIII
81

HUBUNGAN KURS VALAS DENGAN INFLASI (PPP THEORY)


DAN TINGKAT BUNGA (IRP THEORY) SERTA
INTERNATIONAL FISHER EFFECT (IFE TEHORY)
A. Purchasing Power Parity Theory (PPP Theory)
Pada prinsipnya teori PPP ini menganalisis bagaimana
hubungan antara perubahan dan perbedaan tingkat inflasi
dengan fluktuasi kurs valas.
Pengaruh tingkat inflasi terhadap kurs valas ini dapat
dijelaskan berdasarkan teori purchasing power parity atau
teori paritas daya beli atau keseimbangan atau kesamaan
daya beli yang diperkenalkan oleh Gustav Cassel setelah
Perang Dunia I.
Penjelasan teori ini didasarkan pada law of one price
(ILOP), yaitu hukum yang menyatakan bahwa harga produk
yang sejenis di dua negara yang berbeda akan sama pula bila
dinilai dalam currency atau mata uang yang sama.
Teori ini dikenal sebagai teori purchasing power parity
absolute. Misalnya harga 1 kg buah apel-USA pada dua
tempat sebagai berikut:
Jakarta
New York

Rp 8000
USD

Ini berarti bahwa harga 1 kg apel-USA = Rp 8.000 =


USD 1. Dengan demikian, kurs valas atau forex rate

Rp
USD

berdasarkan paritas daya beli dari masing-masing mata uang


adalah sebesar

Rp 8000
.
USD

B. Pengertian Interest Rate Parity Theory (IRP Theory)


IRP adalah salah satu teori yang paling dikenal dalam
keuangan
hubungan

internasional
bursa

valas

yang
atau

menerangkan
forex

bagaimana

market

dengan

internasional money market (pasar uang internasional) atau


dengan kata lain teori ini menganalisis hubungan antara
perubahan kurs valas dengan perubahan tingkat bunga.

82

Teori IRP menyatakan bahwa perbedaan tingkat bunga


(securities) pada international money market akan cenderung
sama dengan forward rate premium atau discount.
Berdasarkan teori IRP akan dapat ditentukan atau
perkirakan berapa perubahan kurs forward atau forward rate
dibandingkan dengan spot rate bila terdapat perbedaan
tingkat bunga.
Hubungan antara forward premium atau discount dari
suatu valas atau forex dan tingkat bunga dari pasar uang
atau money market tersebut, menurut teori IRP dapat
ditentukan dengan rumus atau formula sebagai berikut:
Ah
1 i f FR
SR

An

Keterangan:
An
= Amount atau jumlah uang dalam negeri (domestic currency) yang
akan diterima dari suatu deposit/investasi atau yang akan dibayar
dari pinjaman pada akhir suatu periode.
Ah
= Amount atau jumlah uang dalam negeri (domestic currency) yang
diinvestasikan atau didepositokan atau dipinjam.
if
= Interest rate atau tingkat bunga foreign deposit.
SR
= Spot rate.
FR
= Forward rate.

Karena besarnya FR = SR (1 + P), dimana P = forward


rate premium atau discount, rumus di atas dapat ditulis
menjadi sebagai berikut:
Ah
(1 i f ) SR (1 p)
SR
An A h (1 i f ) (1 p)
An

Menurut formula umum, Rate Of Return (ROR) yang


akan diperoleh dari investasi atau deposito yang dilakukan di
luar negeri (rf) adalah sebesar:
rf

An - A h
Ah

rf

A h (1 i f ) (1 P) - A h
Ah

r f (1 i f ) (1 P) - 1

83

C. International Fisher Effect Theory (IFE Theory)


International Fisher Effect Theory (IFE) Theory yang
didasarkan pada teori Fisher Effect sesuai dengan nama
ekonom

Irving

Fisher

yang

menyatakan

tingkat

bunga

nominal (i) di setiap negara akan sama dengan real rate


return (r) ditambah dengan tingkat inflasi (I) yang diharapkan
atau dengan rumus sebagai berikut.
i=r+I
Menurut teori Fisher Effect, tingkat bunga di dua negara
yang berbeda, misalnya USA dan Jepang, dapat terjadi karena
adanya perbedaan tingkat inflasi yang diharapkan (expected
inflation) sebagaimana rumusan di bawah ini.
1. Tingkat bunga di USA = i$ = r$ + I$
2. Tingkat bunga di Jepang
= i = r + I
Fisher Efect ini yang mendasari lahirnya teori IFE yang
pada

dasarnya

hamper

sama

dengan

teori

IRP

yang

menggunakan perbedaan tingkat bunga untuk menerangkan


mengapa terjadi perubahan kurs valas atau forex rate. Akan
tetapi, teori IGE ini erat kaitannya dengan teori PPP karena
tingkat bunga sangat erat kaitannya dengan tingkat inflasi.
Relatif tingginya tingkat inflasi di Indonesia (sekitar 8%)
dibandingkan dengan di luar negeri, seperti di USA (sekitar
3%), merupakan penyebab utama dari terjadinya depresiasi
rupiah terhadap dolar selama ini yang mencapai sekitar 5%
per tahun.
Teori

yang mempelajari tentang hubungan antara

persentase (%) perubahan spot rate (SR) dengan perbedaan


tingkat bunga (i) pasar uang di berbagai negara dikenal
sebagai IFE theory yang menyatakan bahwa: SR akan
berubah dengan persentase (%) yang sama, tetapi arah
berlawanan dengan perbedaan atau selisih tingkat bunga
antara euda negara.
Pernyataan di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
SR2 - SR 1
x 100 i$ - i
SR1
84

Keterangan:
SR1
= Spot rate periode pertama
kedua
i$
= Tingkat bunga USD

SR2 = Spot rate periode


i

= Tingkat bunga JPY

Dengan demikian, effective return di pasar uang atau


bank luar negeri dapat dirumuskan sebagai berikut:
r = (1 + if) (1 + ef) -1
menurut teori IFE, effective return pada

home

investment atau deposit (ih) pada dasarnya secara rata-rata


akan sama dengan effective return pada foreign investment
atau deposit (rf), sehingga: rf = ih.
(1 + if) (1 + ef) 1 = ih
(1 + if) (1 + ef) = (1 + ih)
Karena rf = ih, persamaan di atas menjadi sebagai
berikut

ef

1 i h - 1
1 i f

Formula di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:


1. Bila ih > if, maka ef > 0 (positif), sehingga forex akan
apresiasi. Apresiasi forex ini akan menaikkan foreign
return atau hasil penerimaan investor home country dari
luar negeri.
2. Sebaliknya bila ih < if, maka ef < 0 (negatif), sehingga
forex foreign return atau hasil penerimaan investor home
country dari investasi luar negeri.
D. Rules of Thumb
Untuk menentukan pilihan dalam investasi uang apa yang
akan

dilakukan

currency

investment

yang

lebih

menguntungkan maka dapat dilakukan dengan menggunakan


rules

of

thumb

atau

aturan

yang

lebih

baik

dengan

membandingkan selisih tingkat bunga (ih if) dengan tingkat


perubahan atau fluktuasi.
E. Kondisi

Keseimbangan

Internasional

(International

Parity Condition)
Sejak berlakunya sistem nilai tukar mengambang atau
floating rate system, maka tidak ada satu pun dari ketiga
85

teori keuangan internasional di atas (IRP/PPP/dan IFE) yang


dapat digunakan untuk meramalkan atau mem-forecast valas
atau forex rate dalam setiap kondisi. Namun, masih tetap
terdapat suatu dasar hubungan ekonomi tertentu (certain
basic economic relation) yang disebut sebagai
conditions

yang

dapat

membantu

untuk

parity

menerangkan

perubahan atau pergerakan kurs valas atau forex fluctuation


or movement.
F. Korelasi Pergerakan atau Fluktuasi Kurs Valas dengan
Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Rill Serta Suku Bunga
Nominal di Suatu Negara
Berdasarkan teori Fischer (i= r + 1), maka dapat
diturunkan rumus untuk menghitung tingkat bunga riil
sebagai berikut.
Rr (x) = Rn (x) {I (x) + Pr (x) + F (x)}
Keterangan:
Rr (x)
= Tingkat bunga riil di negara x
Rn (x)
= Tingkat bunga nominal di x
I (x)
= Tingkat inflasi di x
Pr (x)
= Premium risiko di x
F (x)
= Premium faktor lain di x

Berdasarkan rumus di atas, maka dapat dijelaskan halhal berikut:


1. Bila pada kondisi awal di Indonesia diperoleh data sebagai
berikut:
Suku bunga SBI = 70%, inflasi = 50%, Pr =15%, dan
F==0%.
Maka Rr = 70% - (50% + 15% + 0%) = 5%.
2. Bila suku bunga SBI turun menjadi 40%, inflasi turun
menjadi 15%, dan Pr = 15%, maka Rr = 40% - (15% +
15% + 0%) = 10%.
3. Sebaliknya, bila suku

bunga

SBI

50%,

tingkat

inflasi=50% (tetap tinggi), dan Pr = 15%, maka Rr=50% (50% + 15% + 0%) = -15% (negative). Akibatnya, nilai
rupiah akan turun atau depresiasi.
86

Kesimpulan:
1. Pergerakan atau fluktuasi kurs mempunyai hubungan
positif dengan suku bunga riil. Artinya, bila suku bunga riil
di x naik, maka kurs mata uang x akan naik dan demikian
pula sebaliknya.
2. Perbedaan suku bunga nominal di antara dua negara atau
mata uang belum tentu mencerminkan perbedaan suku
bunga riil.

BAB IX
MEKANISME PERDAGANGAN VALAS
(FOREX TRADE MECHANISM)
A. Timbulnya Perdagangan Valas (Forex Trade)
Dalam era globalisasi saat ini terdapat kecenderungan
integrasi ekonomi regional, seperti AFTA, NAFTA, LAFTA, CEE,
CACM, APEC dan sebagainya, yang bertujuan terutama untuk
meningkatkan arus perdagangan dan investasi antarnegara
87

anggota. Secara teoritis, integrasi tersebut biasanya melalui


beberapa tahapan, yaitu PTA (prefential trade agreement),
FTA (Free Trade Area), CU (Customs Union), CM (Common
Market), EU (Economic Union), dan terakhir MU (Monetary
Union).
Timbulnya perdagangan valas yang dikenal sebagai
international arbitrage, yaitu perdagangan valas yang sudah
dianggap
keuntungan

sebagai

suatu

komoditas,

dari

perbedaan

forex

rate

untuk

mencari

quotation

dari

berbagai tempat atau bursa valas.


Perdagangan

valas

yang

sering

disebut

sebagai

international arbitrage diartikan sebagai usaha kapitalisasi


atas perbedaan quoted price atau kurs jual dan kurs beli
valas di berbagai bursa valas.
Perdagangan atau arbitrage seperti yang diilustrasikan
di atas juga terjadi terhadap valas atau forex di pasar uang
internasional yang biasanya dikenal dalam tiga bentuk, yaitu:
1. Locational Arbitrage.
2. International Triangular Arbitrage (ITA).
3. Covered Interest Arbitrage (CIA).
B. Arbitrage
1. Locational Arbitrage
Perdagangan valas atau arbitrage dapat terjadi bila
ada perbedaan kurs jual dan beli antar bank atau antar
money changer. Perbedaan itu akan member peluang
kepada

arbitrageur

(pedagang

valas)

untuk

mencari

keuntungan dari selisih kurs jual dan kurs beli dari bank
yang berbeda. Perbedaan kurs jual dan kurs beli dari
beberapa bank pada lokasi atau kota yang sama dapat
terjadi

karena

adanya

perbedaan

penawaran

permintaan yang dihadapinya.


2. International Triangular Arbitrage (ITA)

88

dan

International Triangular arbitrage ini adalah jenis


arbitrage atau perdagangan valas yang dilakukan oleh para
arbitrage dengan membandingkan cross exchange rate
antara tiga lokasi atau tempat yang berbeda. Hampir sama
halnya dengan locational arbitrage, international triangular
arbitrage ini juga harus dilakukan secara cepat. Oleh
karena itu, biasanya hanya dapat dilakukan oleh para
arbitrager atau forex dealer yang mempunyai terminal
computer yang mempunyai link atau dapat akses ke
berbagai bursa valas internasional.
Ternyata

terdapat

perbedaan

antara

cross

rate

menurut perhitungan (1.50 x 0.71 = 1.065) dengan cross


rate yang terdapat di pasar (1.10). Adanya perbedaan ini
merupakan

indikator

bagi

investor

untuk

mendapat

keuntungan dengan melakukan international triangular


arbitrage sebagai berikut:
1. Sebagai langkah pertama dengan modal awal EUR
100,000,- di Paris, investor meminta kepada forex
dealer-nya untuk membeli USD dengan kurs, sehingga
dia akan mendapatkan USD. 110,000.00.
2. Kemudian, USD 110,000.00 ditransfer ke New York untuk
membeli GBP dengan kurs, sehingga investor akan
mendapatkan GBP73,700.00.
3. Selanjutnya, GBP 73.700.00 ditransfer ke London untuk
membeli

EUR

dengan

kurs

sehingga

investor

mendapatkan EUR103,917.00.
4. Dari mutasi transaksi di atas ternyata dengan modal
EUR100,000.00

yang

dimulai

dari

Paris,

akhirnya

investor mendapatkan hasil sebesar EUR103,917.00.


Dengan

demikian,

berarti

investor

itu

mendapat

keuntungan kotor EUR3,917.00 sebelum dipotong komisi


dan biaya transfer dalam waktu yang relatif sangat
singkat.
89

Peluang mendapat keuntungan melalui mekanisme


international

triangular

arbitrage

ini

hanya

bersifat

sementara dan harus dilakukan secara cepat selama masih


terdapat perbedaan dalam perhitungan cross rate dari tiga
valas. Sifat eksistensi sementara menyebabkan mekanisme
international

triangular

arbitrage

ini

akan

membawa

dampak realignment atau keseimbangan cross rate kepada


tingkat yang seharusnya atau appropriate.
3. Covered Interest Arbitrage (CIA)
CIA dilakukan dengan jalan menginvestasi dana
dalam sekuritas luar negeri karena terdapat perbedaan
selisih tingkat bunga dengan perubahan kurs valas atau
tingkat premium/discount.

BAB X
FOREX EXPOSURE DAN MANAJEMEN RISIKO
DENGAN REKAYASA FINANSIAL
A. Forex Exposure (FE)
Forex exposure (FE) dapat diartikan sebagai suatu risiko
yang

akan

dihadapi

oleh
90

perusahaan

sebagai

akibat

perubahan atau fluktuasi kurs valas. Suatu perusahaan MNC


atau perusahaan yang melakukan transaksi internasional
(ekspor dan impor) tentu arus kasnya (cash flow-nya) akan
terpengaruh secara langsung oleh fluktuasi kurs valas.
Secara umum, pengaruh fluktuasi kurs valas terhadap
perusahaan dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu:
1. Transaction Exposure (TE)
Transaction exposure diartikan sebagai risiko pengaruh
fluktuasi kurs valas terhadap future cash transaction.
Pengukuran risiko ini dapat dilakukan dengan dua tahapan,
yaitu sebagai berikut:
a. Menentukan perkiraan netto dari inflow dan outflow
dalam setiap valas.
b. Menentukan tingkat risiko atau exposure dari seluruh
valas.
2. Economic/Operating Exposure (E/OE)
Economic exposure diartikan sebagai suatu pengaruh dari
fluktuasi forex rate atau kurs valas terhadap present value
dari future cash flow suatu perusahaan. Dalam hal ini
dapat dikatakan bahwa transaction exposure merupakan
bagian dari economic exposure.
3. Transiation/Accounting Exposure (T/AE)
Translation/accounting exposure diartikan sebagai risiko
perubahan/fluktuasi

kurs

valas

terhadap

consolidated

financial stamtement perusahaan. Besar atau kecilnya


pengaruh
perusahaan

transiation/accounting
internasional

atau

exposure
MNC

terhadap

tergantung

dari

beberapa faktor sebagai berikut:


a. Tingkat/kadar pengaruh subsidiary luar negeri.
b. Lokasi foreign subsidiary berada.
c. Metode akuntansi yang digunakan.
B. Manajemen Transaction Exposure
1. Langkah-langkah Transaction Exposure
Perusahaan yang memiliki cash flows (inflow/outflow)
valas yang relatif besar, biasanya akan mempunyai risiko
91

yang relatif tinggi pula terhadap fluktuasi kurs valas. Hal


ini mendorong perusahaan melakukan pengendalian atau
manajemen transaction exposure guna menghindari atau
menguranginya
tindakan

dengan

yang

melakukan

dilakukan

oleh

hedging,

yaitu

perusahaan

untuk

mengindari atau mengurangi risiko kerugian sebagai


akibat fluktuasi kurs valas dengan melakukan Rekayasa
financial. Dalam melakukan pengendalian atas transaction
exposure

perlu

diperhatikan

langkah-langkah

sebagai

berikut:
a. Identifikasi tingkat transaction exposure
Jika suatu perusahaan mempunyai beberapa subsidiary
di beberapa negara atau mempunyai transaksi dalam
beberapa valas, maka harus dicari terlebih dahulu net
transaction

exposure

atau

suatu

konsolidasi

dari

seluruh inflow dan outflow untuk setiap valas dalam


suatu periode.
b. Menentukan perlu atau tidaknya hedging
Untuk menentukan apakah perlu dilakukan hedging
atau tidak atas receivable atau payable dalam suatu
valas, yang perlu diperhatikan adalah fluktuasi kurs
(apresiasi/depresiasi) valas tersebut.
c. Apakah seluruh atau bagian exposure harus di hedging
Untuk perusahaan yang mempunyai receivable dan
payable

atau

faktur

atau

invoice

pembelian

dan

penjualan dalam valas yang sama, hedging cukup


dilakukan atas selisihnya saja.
2. Teknik Hedging Transaction Exposure Hedging Short Term
dengan Rekayasa Finansial (Financial Engeenering)
Setiap perusahaan yang akan melakukan hedging
terhadap seluruh atau sebagian dari transaksi atau cash
flow

internationalnya

dapat

memilih

alternatif

dari

beberapa teknik hedging di bawah ini yang paling sesuai


kepentingan perusahaannya:
a. Natural Hedging
92

Cara melakukan antara lain:


1. Transaksi ekspor (A/R) dan Impor (A/P) dilakukan
dalam mata uang atau currency yang sama.
2. Menghitung netto X-M untuk melakukan hedging.
3. Transaksi ekspor (A/R) diusahakan dalam hard
currency.
4. Transaksi

impor

(A/P)

diusahakan

dalam

soft

currency.
5. Diusahakan pembayaran A/P dalam hard currency
dipercepat (leading).
6. Diusahakan pembayaran A/P dalam soft currency
diperlambat (lagging).
7. Diusahakan penerimaan A/R dalam hard currency
diperlambat.
8. Diusahakan penerimaan A/R dalam soft currency
dipercepat (leading).
b. Money market hedging
Setiap perusahaan pada dasarnya dapat melakukan
rekayasa finansial (financial engeenering) melalui
money market atau pasar uang untuk melindungi
transaction exposure-nya dengan cara sebagai berikut.
1. Menggunakan uang tunai (cash) yang dimiliki
sendiri.
2. Meminjam dalam domestic currency, menukarkan
dan

menginvestasikannya

untuk

jangka

pendek

dalam valas yang dibutuhkan.


c. Forward contract hedging
Teknik hedging dengan menggunakan forward contract
ini banyak dilakukan oleh perusahaan besar atau MNC
untuk melindungi receivable atau payable-nya yang
relatif besar terhadap risiko fluktuasi valas.
Dengan menggunakan teknik hedging forward contract
ini perusahaan tersebut akan terhindar dari risiko
fluktuasi JPY, terutama jika JPY apresiasi sehingga
future spot rate dari JPY/USD menjadi lebih tinggi
daripada JPY100/USD, misalnya menjadi JPY95/USD.
93

Sebaliknya, jika perusahaan mempunyai receivable


yang relatif besar dalam valas yang diperkirakan akan
mengalami
melakukan
menghindari

depresiasi/perusahaan
hedging
risiko

atas
kerugian

dapat

juga

receivable-nya

untuk

terhadap

fluktuasi

(depresiasi) kurs valas.


Untuk menentukan apakah terhadap suatu receivable
atau payable harus dilakukan hedging atau tidak, dapat
digunakan formula sebagai berikut.
1) Hedging payable
RCHp = NCHp NCp
RCHP = Real cost of hedging payable
NCHp = Nominal cost hedging payable
NCp = Nominal cost payable without hedging.
Bila RCHp hasilnya negatif karena NCHp < NCp, ini
berarti

melakukan

hedging

akan

lebih

menguntungkan daripada tidak melakukan hedging.


Sebaliknya, bila RCHp hasilnya positif karena NCHp
> NCp, ini berarti melakukan hedging akan lebih
merugikan daripada tidak melakukan hedging.
2) Hedging receivable
RCHr
= NCHr NCr
RCHr
= Real cost of hedging receivable
NCHr = Nominal cost of hedging receivable
NCr = Nominal cost without hedging
Bila RCHr hasilnya negatif karena NCHr < NCr, ini
berarti melakukan hedging akan lebih merugikan
daripada tidak melakukan hedging. Sebaliknya, bila
RCHr hasilnya positif karena NCHr > NCr, ini berarti
melakukan

hedging

akan

lebih

menguntungkan

daripada tidak melakukan hedging.


3) Long Term Forward Contract
Khususnya dilakukan oleh perusahaan yang ingin
memastikan/menetapkan fixed price exporting
atau importing contract untuk jangka panjang (lima
tahun) dan ingin melindungi cash flow-nya dari
fluktuasi valas. Biasanya long-term forward contract
94

itu hanya diberikan oleh bank kepada customer yang


memiliki creditworthiness tinggi.
d. Futures contract hedging
Yaitu salah satu bentuk bursa valas, yang dapat
digunakan oleh perusahaan untuk melakukan hedging
transaction

exposure.

Future

contract

hedging

ini

biasanya digunakan oleh perusahaan untuk melindungi


atau melakukan hedging untuk nilai transaksi yang
relatif lebih kecil dan sesuai dengan sifat futures
market.
Perusahaan yang memiliki future payable ataupun
future

receivable

dalam

valas

tertentu

dapat

melindunginya dengan menggunakan futures contract


hedging

sehingga

perusahaan

mempunyai

suatu

kepastian tentang jumlah yang akan dibayar atau


diterima dalam nilai domeistic currency.
Futures contract hedging ini dalam hal tertentu dapat
juga merugikan perusahaan, misalnya dalam hal future
spot rate pada saat futures contract hedging jatuh
tempo ternyata lebih rendah atau lebih tinggi daripada
future contract rate-nya.
e. Option contract hedging
Merupakan suatu sistem kontrak yang ideal dalam arti
dapat dibatalkan atau tidak direalisasi apabila fluktuasi
kurs

valas

akan

menimbulkan

efek

yang

lebih

merugikan bagi perusahaan. Dengan kata lain, untuk


option

contract

alternatif

untuk

hedging,

perusahaan

merealisasi

atau

mempunyai
membatalkan

kontraknya sesuai dengan perkembangan realisasi kurs


valas yang telah diantisipasi sebelumnya.
f. Swap Hedging
1) Currency swap

95

Merupakan salah satu teknik hedging longterm


transaction

exposure

untuk

menghindari

risiko

fluktuasi valas.
2) Paralel loan
Adalah pertukaran valas antara dua pihak dengan
kesepatan untuk menukarkan kembali kedua valas
tersebut dengan kurs atau rate tertentu untuk waktu
tertentu pula di waktu yang akan datang. Teknik
hedging ini sesungguhnya terdiri dari dua swap
contract, yaitu swap pertama pada saat permulaan
dan swap kedua pada saat yang akan datang.
g. Range Agreement
Adalah salah satu cara untuk menghindari terjadi
kegagalan atau pembatalan bisnis internasional sebagai
akibat fluktuasi kurs valas yang sangat tinggi (Czinkota,
Michael R. Et al. 1994).
Secara teoritis range agreement dapat dibagi atas tiga
zone yaitu:
1. Neutral zone
Apabila kurs $ pada saat jatuh tempo setelah 90 hari
berada diantara nilai ($.9000 + 5%) misalnya Rp
9200/$ dan ($.900 5%) misalnya Rp 8700/$ maka
kurs

yang

akan

diberlakukan

untuk

pelunasan

transaksi adalah tetap


Rp 9000/$
2. Sharing zone
Apabila kurs $ pada saat jatuh tempo setelah 90 hari
berada diantara nilai ($.9000 + 5%) dan ($.9000 +
10%),

misalnya

Rp

9700/$,

maka

kurs

yang

diberlakukan adalah:

9000 9700
Rp 9350/$
2

3. Renegociation zone
Apabila kurs $ pada saat jatuh tempo setelah 90 hari
berada diatas nilai ($.9000 +10%) misalnya Rp
10.200 atau dibawah nilai ($.9000 10%) misalnya
Rp 7.800/$, maka dilakukan renegosiasi kembali
96

untuk menetapkan kurs yang akan diberlakukan


untuk transaksi tersebut.
C. Manajemen Economic dan Translation Exposure
1. Manajemen Economic/Operating Exposure
Untuk meningkatkan kinerja perusahaan dalam

arti

meningkatkan penerimaan, perlu diupayakan tindakan


berikut.
a. Mengusahakan agar setiap apresiasi valas memberikan
pengaruh kepada tingkat kenaikan penerimaan yang
lebih besar daripada tingkat kenaikan pengeluaran;
b. Mengusahakan agar setiap depresiasi valas membawa
pengaruh kepada tingkat penurunan pengeluaran yang
lebih besar daripada tingkat penurunan penerimaan.
Untuk melaksanakan usaha tersebut, perlu dilakukan revisi
atau restrukturisasi operasi perusahaan, terutama yang
mempunyai pengaruh besar terhadap economic/operating
exposure. Untuk dapat menentukan bagaimana revisi atau
restrukturisasi operasi yang akan dilakukan yang perlu
dipertimbangkan beberapa pertanyaan sebagai berikut.
1. Haruskah perusahaan menambah atau mengurangi
penjualan ke pasar sasaran baru atau pasar yang sudah
ada?.
2. Haruskah perusahaan menambah atau mengurangi
ketergantungannya pada supplier luar negeri?.
3. Haruskah perusahaan mengadakan atau menghilangkan
fasilitas produksi di pasar luar negeri?.
4. Haruskah perusahaan menambah atau mengurangi
tingkat utangnya dalam valas.
Keempat pertanyaan di tas akan mencerminkan suatu efek
pada

bagian

yang

berbeda

dari

income

statement

perusahaan, yaitu ada yang berpengaruh terhadap foreign


cash inflow dan ada pula yang berpengaruh terhadap
foreign cash outflow.
2. Managing translation/accounting exposure
97

Translation exposure merupakan hasil dari translasi data


finansial valas dari subsidiary ke dalam home currency dari
consolidated financial statement pada MNC-Parent. Karena
cash

flows

dalam

translation

exposure

ini

tidak

terpengaruh, ada pendapat yang mengatakan bahwa


transaction accounting exposure tidak perlu dilindungi atau
dikurangi.

Akan

berkepentingan
potensi

tetapi,
dengan

dampaknya

sebagaian
translation

terhadap

perusahaan

masih

exposure

karena

consolidated

earning

perusahaan.
Untuk mengurangi translation exposure, suatu perusahaan
dapat menggunakan teknik yang sama seperti yang
digunakan untuk meng-cover transaction exposure.

BAB XI
PENGERTIAN MEKANISME CURRENCY DAN
INTEREST RATE SWAP
A. Currency Swap
Secara umum swap diartikan sebagai suatu kontrak
transaksi pembelian atau penjualan valas dengan spot rate
yang dikombinasikan dengan pembelian atau penjualan valas
yang sama dengan forward rate (J.O. Grabbe, 1996:313).
Contoh simple currency swap
98

Seorang
sebanyak

pengusaha

USD100,000

Indonesia

untuk

mendapat

jangka

waktu

pinjaman
180

hari.

Kemudian pinjaman tersebut dikonversikan ke dalam rupiah


dengan spot rate USD100,000 x

Rp 8.000
Rp 800.000.000,00
USD

Untuk menghindari risiko kerugian atau melindungi


open position utangnya selama 180 hari, yaitu pembayaran
utang yang akan lebih besar dalam nilai rupiah jika USD
apresiasi, maka pengusaha dapat melakukan transaksi swap.
Maksudnya adalah pada saat bersamaan melakukan pula
pembelian USD dengan forward rate, misalnya dengan kurs
Rp 8.100/USD. Dengan melakukan swap ini, pengusaha akan
terhindar dari risiko kerugian dari fluktuasi (apresiasi) kurs
valas USD yang memungkinkan lebih tinggi daripada forward

Rp 8.100

rate
USD .

Berdasarkan kondisi pasar antarbank dan sesuai dengan


tujuannya, currency swap dapat dibagi beberapa tipe, yaitu
sebagai berikut:
1. Long Term Forward Contract
Tipe long term forward contract ini tidak berbeda dengan
forex forward market yang biasa dilakukan pada interbank
market. Akan tetapi, karena pada interbank market
tersebut terdapat valas atau maturity tertentu yang jarang
ditransaksikan,

timbul

barter

transaksi

yang

dikenal

sebagai long-term forward contract.


Bila terdapat dua perusahaan atau institusi yang saling
membutuhkan, dapat dilakukan currency swap dalam
bentuk

long-term

forward

contract

berdasarkan

kesepakatan kedua belah pihak tentang jangka waktu dan


harga pertukaran kedua valas. Kesepatan ini juga dapat
dilakukan dengan perantaraan broker. Dalam hal ini
99

brokerlah yang mempertemukan kepentingan kedua belah


pihak.
2. Straight currency swap
Straight currency swap adalah semacam currency swap
dalam bentuk pertukaran dua valas pada current rate
dengan persetujuan bahwa akan dipertukarkan kembali
dengan exchange rate yang sama dan pada tanggal
tertentu di waktu yang akan datang. Masing-masing pihak
akan membayar bunga sesuai dengan jangka waktunya.
Bila misalnya tingkat bunga valas A lebih tinggi daripada
valas B, pihak yang menerima valas A akan membayar
selisih

tingkat

bunga

tersebut

kepada

pihak

yang

menerima valas B.
3. Back to Back Parallel Loans
Currency swap ini biasanya dilakukan oleh dua perusahaan
dari

dua

negara

yang

masing-masing

mempunyai

subsidiary di kedua negara tersebut.


B. Interest Rate Swap
Interest rate swap adalah currency swap dari sejumlah
mata uang atau valas yang sama, tetapi yang satu dengan
tingkat bunga yang tetap (fixed), sedangkan yang satu lagi
dengan tingkat bunga mengambang (floating).
Cross currency interest rate swap adalah currency swap
dari sejumlah mata uang atau valas yang berbeda, yakni
pembayaran satu valas bersifat tetap (fixed) sedangkan
pembayaran valas yang satu lagi bersifat variable.
Secara umum, motif ekonomi dari currency swap ini
dapat berupa:
1. Risk sharing (pembagian risiko).
2. Arbitrage (sepanjang tidak terdapat IRP).

100

BAB XII
INTERNATIONAL CAPITAL BUDGETING
DAN FOREIGN DIRECT INVESMENT
A. International Capital Budgeting
Motivasi

foreign

direct

international

investment terdiri dari:


1. Menarik sumber permintaan baru.
2. Memasuki pasar yang menguntungkan.
101

diversification

3.
4.
5.
6.
7.

Mengekspoitasi keunggulan pembatasan perdagangan.


Sebagai reaksi terhadap pembatasan perdagangan.
Diversifikasi resiko secara internasional.
Memanfaatkan skala ekonomi.
Menggunakan
faktor
produksi
luar
negeri
yang
menguntungkan. Seperti: raw material, teknologi atau

SDM.
8. Sebagai reaksi terhadap pergerakan nilai tukar.
Suatu perusahaan yang akan melakukan investasi di
luar negeri (foreign investment) biasanya selalu melakukan
analisis

international

membandingkan

dua

(capital

budgeting

pendekatan

(approach)

dengan
untuk

menentukan kelayakan investasinya dengan cara sebagai


berikut:
1. Pendekatan

mata

uang

domestic

(home

currency

approach).
2. Pendekatan mata uang luar negeri (foreign currency
approach).
Dalam

hal

ini

beberapa

faktor

yang

menjadi

pertimbangan dalam melakukan investasi di luar negeri


antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nilai investasi awal (initial investment).


Usia proyek.
Arus cash flow per tahun yang diharapkan.
Risk free rate di dalam dan luar negeri.
Required return yang diperlukan.
Nilai tukar atau current exchange rate.

Capital Budgeting Criteria


Kriteria-kriteria capital budgeting terdiri dari :
1.a. Payback period / periode pengembalian adalah jumlah
tahun yang diperlukan untuk mengembalikan
Kriteria invesasi awal (initial investment).
- Proyek dapat diterima bila periode pengembalian
maximum periode pengembalian sesuai usia proyek.
- Proyek ditolak bila periode pengembalian > maximum.

102

- Periode pengembalian sesuai usia proyek.


Keuntungan / Advantages
- Menggunakan arus kas.
- Relatif mudah dihitung dan dimengerti.
- Dapat digunakan sebagai alat ukur keuangan yang
cepat.
Kerugian/Disadvantage
- Mengabaikan arti waktu nilai uang (time value of
money).
- Mengabaikan arus kas yang terjadi setelah periode
pengembalian.
- Penentuan maksimum periode pengembalian yang
dapat diterima secara arbitrary.
1.b. discounted payback period adalah jumlah tahun yang
diperlukan untuk mengembalikan investasi awal (initial
investment) dengan cara memperhitungkan discounted
net cash flows.
Kriteria
- Proyek dapat diterima bila periode pengembalian
discounted

maximum

periode

pengembalian

discounted sesuai usia proyek.


- Proyek ditolak bila periode pengembalian discounted
> maximum periode pengembalian discounted sesuai
usia proyek.
Keuntungan/Adventages
-

Menggunakan arus kas.


Relatif mudah dihitung dan dimengerti.
Menggunakan nilai waktu dari uang.

Kerugian / Disadvantage
-

Mengabaikan arti waktu nilai uang (time value of

money).
Penentuan maksimum periode pengembalian yang

103

dapat diterima secara arbitrary.


2.

Net present value atau Nilai bersih sekarang adalah nilai


sekarang dari arus kas tahunan dikurangi investasi awal
sehingga NPV menjadi positif (NPV 0).
n

ACFt
- IC
t
t 1 (1 k)

NPV

Dimana:
ACFt

= the annual after-tax cash flow in time period t


(this can take on either positive or negative
values).

= rate of return or the cost of capital.

IO

= the initial cash outlay.

= the projects expected life.

Kriteria
-

Proyek investasi layak diterima bila NPV 0.0

Proyek investasi tidak layak diterima bila NPV < 0.0

Keuntungan
-

Menggunakan arus kas.


Menggunakan nilai waktu dari uang.
Konsisten
dengan
tujuan
perusahaan

untuk

memaksimumkan kekayaan pemegang saham.


Kerugian/Disadvantage
-

Memerlukan rincian perkiraan jangka panjang dari


arus kas proyek.

3.

Profitability index/index keuntungan adalah ratio nilai


sekarang dari arus kas net terhadap investasi awal.
n

PI
t 1

ACFt

1 k t
10

Keuntungan/Advantages
-

Menggunakan arus kas.


Menggunakan nilai waktu dari uang.
Konsisten
dengan
tujuan
perusahaan
memaksimumkan kekayaan pemegang saham.
104

untuk

4.a. Internal

rate

of

return

atau

tingkat

pengembalian

internal adalah tingkat discount yang menyamakan nilai


sekarang dari nilai arus kas yang akan datang dengan
investasi awal.
n

IO
t 1

ACF
(1 IRR)

Dimana IRR = the projects internal rate of return


Kriteria
- Proyek layak diterima bila IRRTingkat pengembalian
yang disyaratkan.
- Proyek

layak

tidak diterima

bila

IRR

<

Tingkat

pengembalian yang disyaratkan.


Keuntungan/Advantages
- Menggunakan arus kas.
- Menggunakan nilai waktu dari uang.
- Pada umumnya konsisten dengan tujuan perusahaan
untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham.
Kerugian/Disadvantage
- Memerlukan rincian perkiraan jangka panjang dari
arus kas proyek.
- Kemungkinan terjadinya IIR multiple.
- Mengasumsikan arus kas selama usia proyek di
reinvestasikan.
4.b. Modified Internal Rate of Return (MIRR)
The discount rate that equates the present value of the
projects cash with the present value of projects
terminal value (tingkat diskon yang menyamakan nilai
sekarang dari arus kas keluar atau cash outflow dengan
nilai sekarang dari nilai akhir proyek atau projects
terminal value).

105

ACOFt

1 k
t 0

ACIFt (1 k)
t 0

PVoutflows

n -t

1 MIRR n

TV
(1 MIRR) n

Di mana:
ACOFt

= Arus kas keluar tahunan setelah dipotong


pajak selama periode t.

ACIFt

= Arus kas masuk tahunan selama periode t

TV

= Nilai akhir kumulasi (compounded) yang


diperlukan

sesuai

dengan

tingkat

pengembalian yang diperlukan pada akhir


proyek.
Kriteria
-

Proyek

dapat

diterima

bilan

MIRR

tingkat

pengembalian yang diperlukan.


Proyek ditolak bila MIRR < tingkat pengembalian
yang diperlukan.

Keuntungan/Advantages
-

Menggunakan arus kas.


Menggunakan nilai waktu dari uang.
Pada umumnya konsisten dengan tujuan perusahaan
untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham.

Kerugian/Disadvantage
-

Memerlukan rincian perkiraan jangka panjang dari


arus kas proyek.

Perbedaan

dan

Budgeting

dengan

Hubungan
Cost

of

Antara
Capital

Capital

Perbedaan

Capital Budgeting dengan Cost of Capital


No
1.
2.

Capital Budgeting
Aspek expenditure
Anggaran
pengeluaran
106

Cost of Capital
Aspek financing
Sumber pembiayaan

3.
4.

Direct investment
Indirect investment
Internal rate of return Required return

Hubungan Antara Capital Budgeting dengan Cost


Of Capital:
Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa suatu investasi
dapat dianggap layak bila kriteria Capital Budgeting
yang ditentukan dengan Internal Rate of Return (IRR)
harus lebih besar atau minimal sama kriteria dan Cost of
Capital yang ditentukan dengan Required Return (RR)
atau dengan rumus sebagai berikut:
IRR RR
B. Analisis Pengaruh Fluktuasi Kurs Valas Terhadap
Foreign Direct Investment
1. Menggunakan perhitungan PP (Payback Period).
2. Menggunakan perhitungan NPV (Net Present Value).

BAB XIII
INTERNATIONAL COST OF CAPITAL
DAN FOREIGN INVESTMENT
A. International Portofolio Investment
Seorang investor untuk mencari keuntungan dapat
melakukan pembelian stock atau foreign equities dengan
jalan sebagai berikut.
1. Membeli foreign stock di luar negeri.
107

2. Membeli foreign stock yang di perdagangkan di dalam


negeri.
3. Membeli shares dari mutual fund internasional seperti
yang dilakukan para investor di USA dengan kategori
sebagai berikut.
a. Global funds yaitu investasi di seluruh dunia, termasuk
USA.
b. International funds yaitu investasi hanya di luar USA.
c. Regional funds yaitu investasi di wilayah regional
tertentu misalnya Eropa dan Asia.
d. Single Country Funds yaitu investasi disuatu negara
tertentu.
Total Return dari Foreign Portofolio Investmen pada
dasarnya terdiri dari tiga elemen yaitu:
1. Divident/Interest income (losses).
2. Capital gains (losses).
3. Currency gains (losses).
B. Foreign Investment (International Diversification)
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
international cost of capital antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Exchange rate fluctuation.


Inflation rate.
Financing arrangement.
Blocked fund.
Uncertain salvage value.
Impact of project on prevailing cas flow.
Host government incentives.
Sebagai

contoh

dari

Foreign

Indirect/Portofolio

Invesment dengan melakukan International Diversification di


bawah ini dapat dihitung Expected Return (rp) dan Variance
Investment.
Rumus Expected Return (rp)
(rp) = Wa.Ra + Wb.Rb
Rumus Variance of Portofolio (2p)
(2p) = W2a2a + W2b2b + 2Wa Wbab (CORRab)
Keterangan rumus:

108

Wa & Wb

= masing-masing menunjukan prosentase alokasi


investasi untuk a & b.
= masing-masing menunjukan return di a dan b
= masing-masing menunjukan variance of portofolio
dari return untuk investasi a & b
= koefisien korelasi antara investasi a dan b.

Ra & Rb
2a & 2b
CORRab

Foreign Bond Investment


Berdasarkan ketiga elemen tersebut di atas maka dapat
dirumuskan formula untuk return dari investasi obligasi diluar
negeri (Foreign Bond Investment) sebagai berikut.
Dollars
Return

= Foreign Currency
Return

(1 + R$)

(1 + R$)

= 1

(1 + Rf)

(1 + g)

Bt - Bo C
(1 g)
Bo

Keterangan:
Bo
=
Bt
=
C
=
g
=

Currency Gain
(Loss)

Bt - Bo C
(1 g) - 1
Bo

Harga foreign currency (FC) Bond pada waktu awal.


Harga foreign currency (FC) Bond pada waktu t.
Pendapatan dari Foreign currency (FC) Bond.
% perubahan kurs atau apresiasi/depresiasi foreign
currency.

Foreign Stock Investment


Berdasarkan ketiga elemen tersebut di atas maka dapat
dirumuskan formula untuk return dari investasi saham diluar
negeri (foreign stock investment).
(1 R$)

R$

Pt - Po DIV

1
1 g
Bo

Pt - Po DIV

1
1 g - 1
Bo

Keterangan:
Po
=

Harga foreign currency (FC) stock pada waktu awal

109

Pt
DIV
g

=
=
=

Harga foreign currency (FC) stock pada waktu t


Pendapatan dividend dari foreign currency stock
% perubahan kurs atau apresiasi/depresiasi
currency.

foreign

C. Menentukan Return atau Yield Effective


Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
international cost of capital antara lain:
1. Tingkat bunga deposito.
2. Tingkat apresiasi/depresiasi valas.
Rumus

yang

digunakan

untuk

mengukur

tingkat

return/yield effective adalah:


rf = (1 + if) (1 + ef) 1
keterangan:
rf = return atau yield dari investasi dalam valas
if = tingkat bunga valas
ef = tingkat apresiasi/depresiasi valas

Secara teoritis, seorang investor akan mendepositokan


dananya dalam suatu valas bila return yang diperoleh dari
investasi di luar negeri (rf) akan lebih besar atau minimal
akan sama dengan tingkat bunga domestik atau home
country (ih) atau dengan rumus rf ih.

BAB XIV
SUMBER DAN METODE PEMBIAYAAN INTERNASIONAL
Setiap transaksi ekonomi dan keuangan internasional,
terutama yang meliputi perdagangan (ekspor dan impor barang
ataupun jasa) dan investasi (ekspor dan impor modal), biasanya
selalui diikuti dengan masalah (1) sistem pembiayaan dan (2)
sistem pembayaran internasional.

110

Pada

umumnya

sumber-sumber

pembiayaan

dalam

transaksi bisnis internasional terdiri datas sebagai berikut:


1. Sumber dana sendiri dari pembeli/importer.
2. Sumber dana berupa kredit dari penjual/eksportir.
3. Sumber dana dari pihak ketiga, terutama dari lembaga
keuangan bank dan nonbank.
Sumber dana tersebut di atas umumnya disalurkan
melalui metode pembiayaan berikut:
A. Account receivable financing
Adalah suatu metode pembiayaan yang diberikan oleh
bank kepada eksportir berdasarkan credit-worthiness yang
diberikan eksportir kepada pembeli/importirnya. Pembayaran
yang dilakukan oleh importer di luar negeri langsung
ditransfer ke dalam account receivable financing. Dalam hal
importer gagal membayar dengan alasan apapun, maka
eksportir tetap bertanggung jawab untuk mengembalikan
kreditnya kepada bank. Jangka waktu account receivable
financing ini biasanya berkisar dari satu hingga enam bulan.
B. Bankers Acceptance
Adalah suatu metode pembiayaan yang dilakukan
dengan

bill of exchange atau time draft yang wajib di

bayar oleh bank setelah jatuh tempo (maturity).


Langkah-langkah yang dilakukan dalam metode ini
adalah sebagai berikut:
1. Importer melalui banknya membuka L/C yang ditujukan
kepada eksportir/penjual.
2. Berdasarkan L/C yang
menebitkan

time

diterimanya,

eksportir

yang

disampaikannya

draft

akan

akan

bersama-sama shipping document lainnya (B/L dan lainlain) kepada bank ditempatnya berada.
3. Bank eskportir akan mengirimkan time draft dan shipping
document tersebut kepada bank importir yang akan
menerbitkan bankers acceptance.

111

4. Bila eksportir ingin menguangkan bankers acceptance


tersebut sebelum jatuh tempo, maka eksportir dapat
meminta

bank

untuk

menjual

bankers

acceptance

tersebut dengan harga discount di pasar uang (money


market).
C. Short Term Bank Loan
Metode pembiayaan ini diberikan oleh bank atas dasar
bankers acceptance yang diterbitkan untuk modal kerja dan
pembelian inventory dalam bentuk pinjaman jangka pendek.
D. Counter Trade
Metode pembiayaan

ini

dilakukan

dengan

cara

pertukaran barang dengan barang, baik secara langsung


maupun tidak langsung. Metode ini banyak dilakukan oleh
negara sedang berkembang dengan negara sosialis yang
mengalami kesulitan devisa dan pemasaran produknya di
pasar international. Menurut perkiraan, sejak 1985 metode
pembiayaan

dengan

counter

trade

semakin

banyak

dipergunakan dan saat ini mencapai sekitar 30% dari


pembiayaan bisnis internasional dunia (Dick Francis, 1987:1).
E. Factoring
Factoring

disebut

juga

sebagai

anjak

piutang

merupakan suatu sistem pembiayaan yang diperoleh importir


dengan

cara

menjual

account

receivable-nya

dengan

discount tertentu kepada suatu lembaga keuangan atau


commercial finance company yang siebut sebagai factor
broker di tempat eksportir berada. Kemudian factor broker
dari eksportir ini dapat menjual account receivable kepada
factor broker lain ditempat importir dengan discount tertentu
pula.
Beberapa

keuntungan

eksportir adalah sebagai berikut:

112

sistem

factoring

ini

bagi

1. Dengan menjual account receivable-nya berarti eksportir


tidak perlu lagi terlibat dan memonitor administrasi
account receivable-nya.
2. Eksportir segera mendapat pembayaran sehingga dapa
memperbaiki cash flow-nya.
F. Forfaiting
Metode ini umumnya digunakan untuk pembiayaan
pembelian barang modal yang cukup mahal (dapat sampai
lebih dari $500.000,-) yang dilakukan importir dengan jalan
mengeluarkan promissory notes kepada eksportir. Kemudian
promissory notes ini dijual lagi kepada forfeiting bank atau
financial institution lainnya. Metode forfeiting transaction ini
biasanya dilakukan dengan suatu jaminan

(bank

guarantee) atau L/C yang diterbitkan oleh bank importir.


G. Leasing
Leasing merupakan suatu kegiatan pembiayaan dalam
bentuk penyediaan barang modal (capital goods), baik secara
sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun
tanpa hak opsi (operating lease), untuk digunakan lessee
(penyewa)
pembayaran

selama

jangka

secara

waktu
berkala

tertentu
(SK

dengan
MenKeu

No.1169/LMK.01/1999 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha).


Dengan cara financial lease, maka pada akhir periode
kontrak, lease (penyewa) akan mempunyai hak opsi untuk
memiliki barang modal yang dikontraknya. Sedangkan cara
operating lease, maka lessee (penyewa) hanya mempunyai
hak pakai sampai akhir kontrak dan barang modal yang
disewa dikembalikan kepada lessor.
Manfaat utama dari metode leasing adalah bahwa
lessee dapat memiliki modal kerja (working capital) yang
memadai karena tidak harus menggunakan dana yang besar
untuk penyediaan barang modal. Penggunaan cara leasing ini
merupakan

salah

satu

alternatif
113

pembiayaan

investasi

disamping dengan cara membeli, khususnya untuk barang


modal yang harganya tinggi, misalnya alat-alat berat seperti
traktor, bulldozer dan lain-lain. Dalam hal leasing dilakukan
dengan

valas

tertentu

maka

biaya

leasing

harus

memperhitungkan kemungkinan fluktuasi kurs valas yang


digunakan dalam kontrak leasing.
H. Long Term Financing
Keputusan pembiayaan

jangka

panjang

dengan

menerbitkan bonds (obligasi) yang dilakukan oleh suatu


perusahaan secara akan ditentukan oleh tingkat bunga dan
perubahan nilai tukar atau kurs valas yang digunakan.
Sebagai gambaran bagaimana pengaruh tingkat bunga dan
perubahan nilai tukar atau kurs valas terhadap pembiayaan
jangka panjang dapat ditunjukan pada contoh dibawah ini.
Misalnya sebuah perusahaan MNC USA yang
memerlukan dana pinjaman sebesar $1.000.000 untuk jangka
waktu 3 tahun, menerbitkan bond dalam USD dan SGD
dengan alterantif sebagai berikut:
1. USD Bond dengan tingkat bunga 14%.
2. SGD Bond dengan tingkat bunga 10%.

BAB XV
SISTEM PEMBAYARAN INTERNASIONAL
Dalam pelaksanaannya, sumber dan metode pembiayaan
bisnis internasional yang diuraikan terdahulu disalurkan dengan
menggunakan sistem pembayaran internasional berikut:
A. Cash In Advance / Pre Payment / Advance Payment
Cash in advance adalah suatu cara pembayaran yang
dilakukan pembeli/importir kepada penjual/eksportir sebelum

114

barang dikapalkan. Pembayaran ini dilakukan secara tunai,


baik secara keseluruhan (full payment) atau sebagaian
(partial payment), karena beberapa alasan:
1. Permintaan atas produk melebihi penawaran atas
produk.
2. Penjual dan pembeli belum saling mengenal dan
kurang saling percaya.
3. Dalam situasi darurat, misalnya peperangan.
4. Mata uang negara importir termasuk mata uang
lemah (soft currency) yang beresiko tinggi.
B. Open Account
Kebalikan dari sistem cash in advance, pembayaran
dengan sistem ini justru dilakukan kemudian setelah produk
dikirim dan laku terjual atau setelah jangka waktu tertentu
karena pembeli dan penjual sudah saling kenal dan percaya
sepenuhnya atau dilakukan antara suatu perusahaan dan
afiliasinya atau intra perusahaan multinasionalnya (MNC).
Dengan sistem pembayaran ini, penjual hanya
mengirimkan faktur kepada pembeli untuk dibayar setelah
jangka waktu tertentu atau sesuai kesepakatan. Dengan
sistem

ini

penjual

mempunyai

risiko

yang

tinggi

atas

kegagalan pembayaran (default) dari pembeli.


C. Private Compensation
Private
compensation

adalah

suatu

metode

pembayaran internasional yang dilakukan antara pembeli dan


penjual dengan jalan melakukan kompensasi penuh atau
sebagian utang-piutang baik secara langsung maupun tidak
langsung (melalui pihak ketiga), sehingga mengurangi atau
meniadakan transfer valas ke luar negeri. Sebagai contoh dari
mekanisme Private Compensation dapat dilihat pada gambar
15.1 berikut ini;
Gambar 15.1
Contoh Mekanisme Private Compensation

115

Dengan metode private compensation ini, maka akan


terjadi hal-hal berikut:
1. Importir B di Singapura tidak perlu melakukan
transfer

internasional

untuk

melakukan

pembayaran kepada eksportir A di Jakarta dan


cukup dengan melakukan transfer domestik kepada
eksportir D di Singapura.
2. Sebaliknya, Importir C

di

Jakarta

tidak

perlu

melakukan transfer internasional untuk melakukan


pembayaran kepada eksportir D di Singapura dan
cukup dengan melakukan transfer domestik kepada
eksportir A di Jakarta.
D. Letter Of Credit (L/C)
Adalah suatu surat pernyataan yang dikeluarkan oleh
issuing bank atas permintaan pembeli/importir yang ditujukan
kepada

penjual/eksportir/beneficiary

melalui

advising/confirming bank dengan menyatakan bahwa issuing


bank akan membayar sejumlah uang tertentu apabila syaratsyarat

yang

ditetapkan

dalam

L/C

tersebut

dipenuhi

(Roselling Hutabrat, 1990).


Pada saat ini lebih 50% pembayaran internasional
menggunakan

L/C

karena

metode

pembayaran

ini

mempunyai beberapa kelebihan, sebagai berikut:


1. Adanya jaminan pembayaran bagi eksportir/penjual.
2. Adanya jaminan penerimaan barang bagi importir melalui
perbankan yang akan menyerahkan pembayaran sesuai
dengan syarat-syarat yang ditetapkan dalam L/C.
116

3. Adanya fasilitas kredit eksportir atau importir melalui


perbankan.
4. Adanya fasilitas hedging.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam
L/C adalah:
1. Sifat L/C, apakah revocable atau irrevocable.
2. Tanggal expired L/C.
3. Tanggal pengapalan.
4. Syarat-syarat dalam L/C, misalnya apakah dapat dilakukan
transshipment atau partial shipment.
Secara garis besar L/C dapat dikelompokkan menjadi
dua hal berikut:
1. Basic L/C yang terdiri atas sebagai berikut:
a. Revocable L/C adalah L/C yang dapat diubah atau
dibatalkan sepihak oleh pembeli/importir atau issuing
bank tanpa persetujuan atau pemberitahuan kepada
penjual/eksportir.

L/C

ini

banyak

digunakan

untuk

pembayaran antara perusahaan induk dan anak/cabang


perusahaannya.
b. Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak dapat diubah atau
dibatalkan tanpa persetujuan kedua belah pihak.
c. Confirming irrevocable L/C adalah L/C yang tidak dapat
dibatalkan

sepihak

dan

dijamin

sepenuhnya

oleh

confirming bank.
2. Special L/C yang terdiri atas
a. Red-Clause L/C
Ini memiliki klausal yang ditulis dengan tinta merah
yang menyatakan bahwa advising/confirming bank
dapat

melakukan

pembayaran

eksportir/penjual/beneficiary

di

sebelum

muka

kepada

penyerahan

dokumen pengiriman barang dilakukan. L/C semacam


ini sering digunakan untuk menyediakan dana/kredit
bagi eksportir sebelum barang dikapalkan.
b. Green Ink L/C
Hampir sama dengan red-clause L/C yang memberikan
pembayaran dimuka dengan syarat eksportir harus
menyerahkan kepada advising/negotiating bank yang
117

ditunjuk suatu bukti atau tanda terima penyimpanan


barang dari warehouse sampai beneficiary siap untuk
mengapalkan barang tersebut.
c. Revolving L/C
Nilainya dapat diperbaharui sesuai dengan nilai yang
tercantum di dalamnya berdasarkan syarat-syarat yang
ditetapkan,

misalnya

tentang

nilai

maksimum,

kumulatif atau non-kumulatif dan sebagainya.


d. Transferable L/C
Beneficiary dapat dipindahtangankan berdasarkan
instruksi khusus dari applicant atau importir pembeli
dan syarat-syarat yang ditetapkan dalam L/C tersebut.
e. Back to back L/C
Ini merupakan L/C yang diterbitkan oleh issuing bank di
tempat

eksportir

ditujukan

kepada

atas

permintaan

supplier.

Back

eksportir

to

back

yang

L/C

ini

diterbitkan berdasarkan L/C induk yang dikeluarkan


oleh issuing bank di negara importir pembeli. Back to
back L/C ini biasanya identik dengan L/C induk, kecuali
mengenai harga, tanggal pengapalan dan tanggal
berlakunya. Back to back L/C biasanya digunakan
dalam hal-hal berikut:
- Eksportir bukan supplier barang yang diekspor.
- Eksportir tidak mempunyai dana untuk membayar
-

supplier.
Eksportir ingin menjaga agar importir dan supplier

tidak saling kenal.


- Eksportir ingin merahasiakan harga.
f. Stand by L/c
Merupakan L/C yang diberikan oleh issuing bank atas
permintaan

applicant/peminjam/kontraktor

sebagai

jaminan khusus kepada pihak feneficiary apabila gagal


untuk memenuhi atau melaksanakan kontraknya.
g. Restricted L/C
Ini merupakan L/C yang pembayarannya dibatasi
(restricted)

hanya

kepada/melalui

118

bank

di

negara

beneficiary

yang

namanya

tercantum

dalam

L/C

tersebut.
h. Negotiable atau Open L/C
Merupakan L/C di mana beneficiary dapat mengajukan
wesel dan dokumen-dokumen lampirannya ke bank
yang ditunjuknya.
i. Straight L/C
Biasanya jatuh tempo di negara lessuing bank, tetapi
advising/confirming bank di negara beneficiary dapat
melakukan pembayaran lebih dahulu atau menunggu
sampai

mendapat

reimbursement.

Asal

dokumen-

dokumen yang diperlukan diajukan secara langsung


(straight).
j. Usuance L/C
Merupakan cara pembayaran yang dilakukan dengan
melakukan pemberian kredit oleh eksportir kepada
importir untuk jangka waktu antara 90 hingga 180 hari
dengan menerbitkan time/date draft/wesel. Pemberian
fasilitas kredit ekspor dimaksudkan untuk mendorong
pemasaran produk ke pasar ekspor. Bila eksportir
memerlukan dana dapat mencairkan draft/weselnya
dengan diskonto kepada bank.
k. Merchant L/C
L/C ini berbeda dengan bankers L/C, karena L/C dibuka
oleh importir melalui banknya yang ditujukan kepada
eksportir untuk menjamin pembayaran draft pada saat
jatuh

tempo,

tetapi

tidak

bertanggungjawab

atau

mengikat diri untuk pelunasan L/C tersebut. Jenis L/C ini


umumnya digunakan oleh importir dan eksportir yang
sudah saling kenal dan percaya atau perusahaan yang
berafiliasi

atau

merupakan

subsidiary

dengan

perusahaan induknya.
l. Clean L/C
L/C yang tanpa dilengkapi dengan lampiran dokumen
shipping,

seperti

B/L
119

dan

lain-lain,

sudah

dapat

dicairkan. Prosedur mengenai pembayaran dengan


menggunakan Basic L/C.
E. Consignment (Konsinyasi)
Merupakan cara pembayaran internasional yang dilakukan
importir kepada eksportir setelah barangnya laku terjual
kepada pihak ketiga. Dengan sistem ini eksportir mempunyai
resiko yang tinggi sehingga lebih banyak digunakan oleh
perusahaan afiliasi atau subsidiary dari perusahaan induk
(parent company).

BAB XVI
COUNTRY RISK
Dalam bisnis internasional Country risk adalah resiko yang
mungkin terjadi dalam bentuk peristiwa yang luar biasa yang
terjadi terutama di negara tuan rumah (host country), atau
negara asal perusahaan (home country), atau negara ketiga
(third country) atau situasi politik dan keuangan internasional,
sehingga

dapat

mengganggu

kelancaran

operasional

perusahaan.
Dengan kata lain, country risk ini juga dapat terjadi baik
secara

langsung

langsung

maupun

misalnya:

(pengambilalihan

tidak

expriopriation

asset

untuk

langsung.
atau

Country

confiscation

kepentingan

umum

secara
asset
dengan

memberikan ganti rugi) perusahaan luar negeri. Sedangkan


secara tidak langsung misalnya hambatan terhadap customer
120

dan atau supplier sehingga dapat mengganggu kelancaran


operasional perusahaan.
A. Faktor-faktor Yang Menentukan Country Risk
Untuk menentukan kemungkinan tinggi rendahnya
tingkat country risk dalam bisnis internasional maka perlu
dilakukan

identifikasi

beberapa

faktor

yang

dapat

menentukannya (R.M. Srivastam 1994) yaitu:


1. Faktor Politik Hukum, terdiri dari:
a. Sistem politik.
b. Group penguasa.
c. Group oposisi.
d. Sistem pemerintahan.
e. Potensi konflik dari luar.
f. Hubungan dengan partner dagang utama.
g. Hubungan Home Country dengan negara lain.
h. Sistem Hukum.
i. Sistem Peradilan.
j. Kepastian Hukum.
2. Faktor Ekonomi Keuangan, terdiri dari:
a. Pertumbuhan ekonomi.
b. Tingkat inflasi.
c. Jumlah penduduk.
d. Siklus ekonomi.
e. Exchange rate.
f. Posisi balance of payment.
g. Kekuatan pasar keuangan domestik.
h. Elastisitas permintaan barang ekspor.
i. Hubungan perdagangan luar negeri.
3. Faktor Sosial Budaya, terdiri dari:
a. Sosial group (ethnis, agama, bahasa dan kelas sosial).
b. Sikap
penduduk
(terhadap
waktu,
pekerjaan,
c.
d.
e.
f.

keberhasilan, perubahan dan pekerjaan).


Tingkat buta huruf.
Kesadaran politik penduduk.
Ketenangan sosial (social unrest).
Pandangan terhadap materi.
Pada umumnya faktor Politik Hukum dan faktor

Ekonomi Keuangan, lebih dominan dan berpengaruh terhadap


operasional perusahaan. Tetapi dalam hal tertentu dapat juga
faktor

Sosial-Budaya, lebih dominan misalnya dalam

kasus soal agama atau ras.

121

B. Teknik Menentukan Country Risk


Berdasarkan data dan informasi dibidang politikhukum, ekonomi keuangan dan sosial budaya diatas, maka
yang bersifat makro maupun mikro yang telah dikumpulkan
maka dapat dilakukan evaluasi untuk menentukan tingkat
resiko atau country risk rate dengan beberapa teknik sebagai
berikut. (J. Madura, 2003).
1. Checklist Approach
Digunakan dengan mendasarkan pada suatu judgement
terhadap semua faktor politik dan financial baik yang
bersifat makro maupun mikro yang dapat menentukan
penetapan country risk oleh suatu perusahaan.
2. Delphi Technique
Dilakukan dengan mengumpulkan independent opinion
atas country risk dari para assessors yang bersifat
subjektif. Perusahaan atau MNC dapat mengolah opini
tersebut dengan cara tertentu sehingga mendapatkan
hasil yang mewakili dari seluruh opini assessor tentang
country risk rating.
3. Quanitative Analysis
Informasi variable financial

dan

politik

telah

dapat

diketahui, maka dengan model analisis kuantitatif akan


dapat diidentifikasi karateristik yang menentukan tingkat
country risk.
4. Inspection Visits
Dilakukan dengan melakukan kunjungan/perjalanan ke
suatu negara dan melakukan pertemuan dengan pejabat
pemerintah, pelaku bisnis, dan konsumen, terutama untuk
mengklarifikasi pendapat yang telah dimiliki atau diketahui
perusahaan.
5. Combination of Techniques
Karena tidak terdapat satupun cara yang mutlak dapat
diterima, maka biasanya perusahaan menggunakan cara
kombinasi dari berbagai teknik di atas untuk menentukan
country risk.
6. Combination of Techniques
122

Karena tidak terdapat satupun cara yang mutlak dapat


diterima, maka biasanya perusahaan menggunakan cara
kombinasi dari berbagai teknik di atas untuk menentukan
country risk.

C. Mengukur Country Risk


Sebagai ilustrasi bagaimana mengukur country risk
yang mungkin dihadapi oleh suatu perusahaan MNC suatu
negara, dapat diberikan contoh di bawah ini.
Diasumsikan sebuah MNC merencanakan FDI disuatu
negara Asia. Dalam hal ini MNC tersebut akan menggunakan
Delphi teknik dan analisis kuantitatif untuk menentukan
tingkat resiko (risk rating) di negara tersebut yang didasarkan
dari derivasi (turunan) dari berbagai data/informasi makro
dan mikro dari faktor politik dan ekonomi.
Pada tabel 16.1 dibawah ini dapat dilihat dua dimensi
dari faktor politik dan lima dimensi dari faktor keuangan
dengan bobotnya masing yang dapat menentukan tingkattingkat resiko yang akan dihadapi oleh MNC dinegara
tersebut.
Tabel 16.1
Bobot dan Rating Resiko Politik dan Financial
Faktor Politik:
- Hambatan transfer dana
- Hambatan birokrasi

Bobot:
30%

Rating Resiko Politik:


80%
70%

100%
Faktor Financial
Financial:
- Tingkat Interest
- Tingkat Inflation
- Tingkat Kurs
- Tingkat Persaingan
- Pertumbuhan Industri

Bobot

Rating Resiko
20%

10%
20%
10%
40%
100%
123

20%

Dari data dan informasi bobot faktor dan rating resiko


faktor politik dan financial pada tabel 16.1 diatas maka dapat
dihitung turunan atau derivasi Total Country Risk seperti yang
ditunjukkan oleh tabel 16.2 di bawah ini:

(1)
A. Resiko Faktor
Politik

(2)
Skala Rating
(1 s/d 5)

1. Hambatan
Transfer Dana
2. Hambatan
Birokrasi

B. Resiko Faktor
Financial
1.
2.
3.
4.
5.

C.

Kategori

1. Resiko Politik
2. Resiko Financial

(4) = (2) x (3)


Bobot Nilai Faktor

30%

1.2

70%
100%

2.1
3.1
(Tk. Resiko Politik)

Skala Rating
(1 s/d 5)

Tingkat Bunga
Tingkat Inflasi
Tingkat Kurs
Tk. Persaingan
Pertumbuhan
Industri

(3)
Bobot Faktor
Berdasarkan
Tingkat
Kepentingan

5
4
4
5
3
Rating Hasil
Perhitungan
3,1
3,9

Bobot Faktor
Berdasarkan
Tingkat
Kepentingan
20%
10%
20%
10%
40%
100%
Bobot Faktor
Resiko
80%
20%
100%

Bobot Nilai Faktor


1,0
0,4
0,8
0,5
1,2
(Tk. Resiko
Financial)
Bobot Rating
2,64
0,78
3,42

Dari perhitungan country risk di atas, selanjutnya


perusahaan akan menetapkan apakah suatu projek akan
diteruskan atau tidak berdasarkan batasan kriteria yang telah
ditetapkannya sendiri.
D. Penentuan Nilai Perusahaan Dalam Kaitan Dengan
Manajemen Keuangan Internasional
Sebagai
kesimpulan
dari
pengaruh

keuangan

internasional terhadap nilai atau value suatu perusahaan


124

yang

melakukan

aktivitas

transaksi

internasional

dapat

dirumuskan dengan formula sebagai berikut. (J. Madura,


2003)

E CF xE ER

(1 k) t

V
t 1

Keterangan:
V
=
E(CFJ,t)
=

E(ERJ,t)

k
M
N

=
=
=

j 1

j ,t

j ,t

Value suatu perusahaan domestik


Expected cash flow perusahaan domestik dalam currency j
untuk periode t yang merupakan exposure dari terhadap
foreign economies yang meliputi:
1. National income dari foreign countries
2. Inflation in foreign countries.
3. Trade agreements.
4. Trade financing decisions.
5. Parents capital structure decisions.
Resiko biaya modal/funds yang harus ditanggung selama
periode t.
Weight average cost of capital dari perusahaan domestik.
Number of currency.
Number of periode.

125

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Torben Juul. 1987. Currency and Interest Rate Hedging
Users Guide to Options, Futures, Swaps and Forward
Contracts. New York Prentice Hall.
Appleyard, Dennis R. & Field, Alfred J. 1995. International
Economics. USA: Irwin.
Ball, Donald A dan Wendel H. McCulloch, Jr. 1993.
Bishop, Paul dan Don Dixon. 1992. Foreign Exchange.
Carbaugh, Robert J. 1992. International Economics. California:
Wasdsworth Publishing Company.
Czinkota, Michael R. Et al. 1994. International Business. USA: the
Dryden Press.
Hady Hamdy, 2010, Manajemen Keuangan Internasional
Edisi 2, Jakarta: Mitra Wacana Media.

126

BAHAN AJAR
MANAJEMEN KEUANGAN
INTERNASIONAL

O
L
E
H
PROF. DR. WAHYU MURTI, SE, MM

JAKARTA
2011
127

128