Anda di halaman 1dari 48

PROSES PENYAMBUNGAN

KULSUM., ST., MT

PENGELASAN

KULSUM., ST., MT

Alat-alat perlengkapan las listrik


a. Ruangan las
Tempat atau ruang las adalah suatu perlengkapan yang
harus dimiliki. Walaupun ruangan ini tidak begitu
diperlukan oleh pekerja las, tetapi oleh Jawatan
Pengawasan Keselamatan Kerja mengharuskan setiap
bengkel las harus mempunyai perengkapan tersebut.
b. Perlengkapan pengaman
Perlengakpan ini harus dipunyai setiap bengkel las
untuk melindungi dari asap dan radiasi panas serta sinar
ultra violet. Peralatan pengaman terdiri dari:
1. Perlengkapan pelindung muka
KULSUM., ST., MT
2. Perlengkapan pelindung3 badan

c. Kabel las
Digunakan sebagai tempat mengalirnya arus dari sumber tenaga ke
mesin las dan dari mesin las ke elektrodalali kembali ke mesin las melalui
kabel masa. Pada setiap mesin terdapat dua kabel yaitu primer dan
sekunder. Kabel primer adalah kabel yang digunakan untuk mengalirkan
arus listrik dari sumber tegangan ke dalam mesin las. Sedangkan kabel
sekunder digunakan untuk mengalirkan arus dari mesin las ke penjepit
elektroda dan kembali ke mesin las melalui kabel masa.
d. Tang las
Perlengkapan sewaktu mengelas yang gunanya untuk menjepit
elektroda dan benda kerja. Tang las terdiri dari tang elektroda dan tang
masa, dimana alat-alat ini terdiri dari beberapa jenis yaitu: tang
elektroda itu sendiri, tang masa magnit, dan tang masa klem.

KULSUM., ST., MT

e. Palu terak (bik hammer) dan sikat baja


Palu terak adalah sebuah palu yang khusus dimana salah satu ujungnya
dibuat berbentuk runcingyang digunakan untuk mengetok sudut rigi-rigi
las dan ujung yang sebelah lagi berbentuk pahat picak yang digunakan
untuk mengetok permukaan rigi-rigi las.
Sikat baja digunakan untuk membersihkan bidang benda kerja sebelum
dan sesudah di las, juga membersihkan kotoran, debu dan sisi terak pada
rigi-rigi las setelah diketok dan dipahat oleh palu terak.
f. Tang penjepit benda kerja panas
Sebuah tang yang digunakan untuk menjepit benda kerja yang masih
panas setelah di las. Tang ini terbuat dari baja karbon pada keseluruhan
tang dan berdasarkan kegunaan dalam menjepit benda kerja panas.

KULSUM., ST., MT

ELektroda

Las Listrik dengan Elektroda Logam,


Las listrik dengan elektroda berselaput,
Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas),
Las listrik submerged.

KULSUM., ST., MT

KULSUM., ST., MT

a. Las listrik dengan elektroda berselaput


Las listrik ini menggunakan elektroda berelaput sebagai
bahan tambahan.
Busur listrik yang terjadi di antara ujung elektroda dan
bahan dasar akan mencairkan ujung elektroda dan
sebagaian bahan dasar. Selaput elektroda yang turut
terbakar akan mencair dan menghasilkan gas yang
melindungi ujung elekroda kawah las, busur listrik
terhadap pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda
yang membeku akan memutupi permukaan las yang
juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh
luar.
KULSUM., ST., MT

b. Las Listrik TIG


Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas = Tungsten Gas Mulia) menggunakan elektroda
wolfram yang bukan merupakan bahan tambah. Busur listrik yang terjadi antara
ujung elektroda wolfram dan bahan dasar merupakan sumber panas, untuk
pengelasan. Titik cair elektroda wolfram sedemikian tingginya sampai 3410 C,
sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi busur listrik.
Tangkai listrik dilengkapi dengan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung
yang melindungi daerah las dari luar pada saat pengelasan.
Sebagian bahan tambah dipakai elektroda tampa selaput yang digerakkan dan
didekatkan ke busur yang terjadi antara elektroda wolfram dengan bahan dasar.
Sebagi gas pelindung dipakai argin, helium atau campuran dari kedua gas tersebut
yang pemakainnya tergantung dari jenis logam yang akan dilas.
Tangkai las TIG biasanya didinginkan dengn air yang bersirkulasi.

KULSUM., ST., MT

1) Penyedia arus

2) Pengembali air pendingi,

3) Penyedia air pendingin,

4) Penyedia gas argon,

5) Lubang gas argon ke luar,

6) Pencekam elektroda,

7) Moncong keramik atau logam,

8) Elektroda tungsten,

9) Semburan gas pelindung.

KULSUM., ST., MT

10

Wet welding

KULSUM., ST., MT

11

Perusahaan pengeboran lepas pantai


Indusrti perkapalan adalah konsumen terbesar
terhadap jasa pengelasan bawah air ini. Mengingat
pengerjaan las bawah air tersebut rentan terhadap
resiko kecelakaan terhadap sang welder seperti
mendapatkan

KULSUM., ST., MT

12

RESIKO
electrical shock atau biasa kita sebut kesetrum,
gas tabung yang digunakan untuk mengelas didalam
laut berpotensi meledak,
nitrogen yang digunakan untuk pengelasan bisa
terhirup dan bercampur dengan darah welder,
resiko karena factor alam bawah laut ( Arus pusaran
air laut dan serangan ikan hiu).
Resiko pekerjaan yang begitu tinggi sebagai tukang las
bawah laut tentunya berbanding lurus dengan hasil atau
sallary yang didapat.
KULSUM., ST., MT

13

Sertifikasi

Sertifikasi yang dikeluarkan oleh API yaitu Asosiasi


Pengelasan Indonesia atau biasa di kenal dengan
(Indonesian Welding Society). Selain itu yang tidak kalah
penting juga sertifikasi sebagai penyelam.

KULSUM., ST., MT

14

Badan Pelatihan
Lokasi pendidikan keahlian pengelasan di bawah air
(welding under water) pertama di Indonesia yang masih
langka itu berada di Solo Techno Park. Lembaga
pendidikan yang didirikan Pemerintah Kota Surakarta
didukung Kementerian Perindustrian dan Perdagangan
itu bergerak khusus di bidang pengelasan dengan
standar internasional. Peserta pelatihan pengelasan
bawah air di STP dipatok dalam waktu 2-3 bulan sudah
mahir dan bersertifikasi underwater wet welding.

KULSUM., ST., MT

15

Metode Pengelasan Basah (Wet Underwater Welding)


Dimana proses pengelasan ini berlangsung dalam
keadaan basah dalam arti bahwa elektrode maupun
benda berhubungan langsung dengan air. Applikasi
pengelasan sampai kedalaman 150 m. Metode
pengelasan memberikan hasil yang kurang memuaskan,
disamping memerlukan welder yang memiliki keahlian
menyelam yang tangguh dan memerlukan pakaian
khusus untuk selam, gelembung gas yang terjadi selama
proses pengelasan akan sangat mengganggu
pengamatan welder tersebut. Adapun proses
pengelasan yang dipakai SMAW, FCAW dan MIG.
KULSUM., ST., MT

16

Shielded metal arc welding (SMAW) adalah proses


pengelasan dengan mencairkan material dasar yang
menggunakan panas dari listrik antara penutup metal
(elektroda). SMAW merupakan pekerjaan manual
dengan peralatan meliputi power source, kabel
elektroda, kabel kerja (work cable), electrode holder,
work clamp, dan elektroda. Elektroda dan system
kerja adalah bagian dari rangkaian listrik.
KULSUM., ST., MT

17

Flux cored arc welding (FCAW) merupakan las busur


listrik fluk inti tengah / pelindung inti tengah. FCAW
merupakan kombinasi antara proses SMAW, GMAW dan
SAW. Sumber energi pengelasan yaitu dengan
menggunakan arus listrik AC atau DC dari pembangkit
listrik atau melalui trafo dan atau rectifier. FCAW adalah
salah satu jenis las listrik yang memasok filler elektroda
secara mekanis terus ke dalam busur listrik yang
terbentuk di antara ujung filler elektroda dan metal
induk.
KULSUM., ST., MT

18

Metode Pengelasan Kering (Dry Underwater Welding)


Metode pengelasan ini tidak berbeda dengan
pengelasan pada udara terbuka. Hal ini dapat dilakukan
dengan bantuan suatu peralatan yang bertekanan tinggi
yang biasa disebut dengan Dry Hyperbaric Weld
Chamber, dimana alat ini secara otomatis didesain
kedap air seperti layak desain kapal selam. Applikasi
pengelasan sampai kedalaman 150 m kebawah.
KULSUM., ST., MT

19

KULSUM., ST., MT

20

KULSUM., ST., MT

21

Elekroda dapat dinyalakan dengan 2 cara :


Cara Sentakan :Elektroda diturunkan lurus sampai
menyentuh benda kerja dan langsung diangkat ( cepat )
sapai jarak kira-kira 1 kali diameter elektroda kemudian
diturunkan sampai terjadi tinggi busur yg diinginkan (
kira-kira 0.8 kali diameter elektroda )
Cara Goresan; Cara ini hampir sama dengan
mengoreskan korek api setelah busur nyala terjadi
tinggi nyala dipertahankan kira-kira 0.8 diameter
elektroda diatas benda kerja
KULSUM., ST., MT

22

Cara sentakan sebagai berikut :


a.
Pegang elektrode tegak lurus terhadap pelat kerja
b. Ketukkan beberapa kali permukaan pelat kerja
c.
Tarik elektode segera setelah timbul busur listrik, untuk
mencegah agar elektrode tidak lengket ke pelat kerja.
Cara goresan sebagai berikut :
a.
Pegang elektrode sehingga membentuk sudut terhadap pelat
kerja sebesar 60 .
b. Gerakan elektrode ke arah pinggir pelat kerja sehingga
menyinggungnya.
c.
Tarik elektrode sejarak garis tengah elektrode, segera setelah
timbul busur nyala listrik untuk mencegah agar elektrode tidak
lengket
ke pelat kerja.
KULSUM., ST.,
MT
23

Ada dua cara yang sering digunakan untuk mematikan


nyala busur, seperti pada berikut ini.
a.
Dengan cara mengangkat sedikit, kemudian
diturunkan sambil dilepas dengan menganyunkan ke kiri
atas.
b. Dengan cara mengangkat elektrode, kemudian
diturunkan dan diayunkan ke arah luar.

KULSUM., ST., MT

24

Badan yang membuat standarisasi kode elektroda yaitu


1. AWS (American Welding Society)
2. ASTM (American Assotiation For Testing Materials)

KULSUM., ST., MT

25

Angka terakhir pada simbol elektroda:


0
: Elektroda dengan penembusan dalam.Bahan dan selaput selulosa soda.
Bentuk rigi-rigi cembung atau rata.
1
: Elektroda dengan penembusan dalarn.bahan dan selaput selulosa
Potasium.
Bentuk rigi-rigi cembung atau rata.
2
: Elektroda dengan penembusan sedang.Bahan dan Selaput titania sodium.
Bentukrigi-rigicekung.
3
:Elektroda dengan penembiisan dangkal. Bahan dan selaput titania
(rutil).Bentuk rigi-rigi cekung.
4
: Elektroda dengan penerubusan sedang. Bahan dart selaput titania serbuk
besi.Penembusan sedang dan cepat membeku
5
: Elektroda dengan penembusan sedang. Bahan dan selaput soda hidrogen
rendah.Penembusan sedang bentuk rigi-rigi cekung, digunakan untuk rnengelas
logam yang kadar belerangnya tinggi.
6
: Elektroda dengan penembusan sedang. bahan dan selaput soda hydrogen
rendah. Peneinbusan sedang bentuk rigi-rigi cekung, digunakan untuk mengelas
logam yang kadar belerangnya tinggi.
7
: Elektroda dengan penembusan menengah. Bahan dan selaput
oksida besi. bentuk rigi-rigi datar dan cepat membeku
8
:Elektroda dengan penembusan dangkal dan menengah. bahan
dan
selaput serbuk besi hidrogen rendah. Penembusan
dangkal dan menengah
KULSUM., ST., MT
26

Akibat Pengelasan dengan arus listrik yang terlalu kecil :

1 Lelehan logam las kental, sehingga tidak terjadi


percikan cairan logam di sekitar rigi-rigi las.
2. Membentuk kawah yang dangkal dan kecil,karena
panas yang ditimbulkan nyala busur listrik lemah.
3. Bentuk dari rigi-rigi las tinggi dan sempit dgn tepi
yang tegak.
KULSUM., ST., MT

27

Akibat Pengelasan dengan arus listrik yang terlalu besar:

1. Lelehan logam las encer, sehingga percikan logam


yang berbentuk bola bola kecil di sekitar rigi-rigi las
sangat banyak.
2. Membentuk kawah yang lebar dan berbeniuk
segitiga, karena panas yang ditimbulkan nyala busur
listrik kuat.
3. Bentuk dari rigi- rigi las segitiga
KULSUM., ST., MT

28

Hal-hal yang sering menganggu pengoperasian mesin


las adalah
1. Mesin tidak mengeluarkan arus listrik
2. Penyebabnya:
Busur nyala lemah
* Arus dari sumber terputus
* Tegangan terlalu rendah
* Mesin las terlalu panas
* Kumparan pada trafo rusak

KULSUM., ST., MT

29

KESALAHAN PENGELASAN/TROUBLE SHOOTING


Elektroda sulit dinyalakan :
1. Ujung elektroda terbungkus
2. Tang massa belum kontak balik dengan
benda
3. Benda kerja kotor
4. Arus terlalu rendah
5. Elektroda basah
KULSUM., ST., MT

30

Penembusan busur nyala tidak baik :


1 Busur nyala terlalu panjang
2.Jenis dan diameter elektroda yang
salah
3 Pengaturan gerak elektroda tidak
4. Arus listrik terlalu rendah
5. Benda kerja kotor
6. Sudut kampuh yang tidak sesuai

KULSUM., ST., MT

31

digunakan

konstant

Timbul percikan di sekitar rigi-rigi


1.Kerusakan pada elektroda
2.Penempatan kutub salah
3.Busur nyala menyembur dan terlalu tinggi
4.Besar arus listrik berlebihan

KULSUM., ST., MT

32

Penimbunan terak
1. Busur nyala terlalu rendah
2. Arus listrik yang digunakan terlalu rendah
3. Penempatan elektroda salah
4. Kecepatan mengelas tidak kontinu

KULSUM., ST., MT

33

Hasil pengelasan ada keretakan


1. Benda kerja terlalu getas atau jenis elektroda keliru
2. Arus listrik yang digunakan terlalu rendah
3. Penyebaran panas yang tidak merata
4. Pendinginan yang terlalu cepat

KULSUM., ST., MT

34

Hasil las-lasan keropos


1.Pengaturan gerakan elektroda tidak konstant
2. Terdapat kotoran pada benda kerja
3. Elektroda yang digunakan keliru
4. Busur nyala hstrik kurang
5. Waktu pengisian pada pengelasan kurang

KULSUM., ST., MT

35

Terjadi pengerutan
1.Pemanasan yang terlalu tinggi dan tidak merata
2. Penempatan bagian-bagian yang disambung tidak
balk
3. Peleburan elektroda kurang

KULSUM., ST., MT

36

Perlengkapan Keselamtan kerja


a. Pelindung Muka
b. Kacamata Bening
c. Resipator
d. Pakaian Las
e. Pelindung Badan (Apron)
f. Sarung Tangan
g. Sepatu Las
KULSUM., ST., MT

37

PROSES GERINDA
Mesin Gerinda adalah salah satu mesin perkakas yang
digunakanuntuk mengasah/memotong benda kerja
dengan tujuan tertentu. Prinsip kerja Mesin
Gerindaadalah batu gerinda berputar bersentuhan
dengan benda kerja sehingga terjadi
pengikisan,penajaman, pengasahan, atau
pemotongan

1) Pemilihan batu gerinda


Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan batu gerinda yangakan dipergunakan pada proses
penggerindaan, antara lain:
a) Sifat fisik benda kerja, menentukan pemilihan jenis
butiran abrasive.
b) Banyaknya material yang harus digerinda dan hasil akhir
yang diinginkan, menentukanpemilihan ukuran butiran
abrasive.
c) Busur singgung penggerindaan.

d) Kekerasan batu gerinda.


e) Kecepatan putar batu gerinda.

Batu Asah/Batu Gerinda


Batu GerindaDari berbagai bentuk batu gerinda sebenarnya
bahan utamanya hanya terdiri dari dua jenis pokok, yaitu
butiran bahan asah/pemotong(abrasive), dan perekat
(bond ). Fungsi batugerinda :
-Untuk penggerindaan silindris, datar dan profil
-Menghilangkan permukaan yang tidak rata.
- Untuk pekerjaan finishingpermukaan
- Untuk pemotongan
- Penajaman alat-alat potong.

TYPE OF BOND
Pengikat berfungsi mengikat sedemikian butiran
abrasive menjadi 1 badan pejal yaitu badan roda gerinda. Tetapi
bahan perekat hanya boleh menahan butiran didalam ikatan
roda gerinda sampai butiran abrasive itu tidak mampu lagi
membentuk sisi penyayat yang baru, menumpul dan kemudian
lepas terpecah

SIFAT SIFAT PEREKAT


Ketahanan Lenturan Pukulan
Kekakuan
Ketahanan Suhu
Daya Lekat Antara butiran Dan Pengikat

MACAM MACAM PEREKAT RODA GERINDA


Vitrified Bond

Campuran dari tanah liat, feldspar, kwarsa dicampur pada suhu 11000C
13500C
Sensitive terhadap hentakan dan perubahan temperature
Tahan terhadap pengaruh bahan kimia ( air, asam, minyak )
Dapat disimpan dalam waktu yang lama
Tidak dibuat dalam bentuk tipis
Silicate Bond
Perekat ini menggunakan Silicate dari soda, sebagai bahan anti air
ditambahkan oksida seng.
Pembuatan batu gerinda dengan silicate bonds, campuran butiran abrasive
dan perekat dipadatkan dalam cetakan besi dan dibakar pada temperatur
2600C selama 2 4 hari
Digunakan khusus untuk mengasah alat - alat potong
Tahan terhadap air
Cocok untuk penggerindaan basah

Resinoid Bond
Disebut juga synthetic resin bond atau bakelit bond karena menggunakan bakelit
sebagai perekat.
Disebut juga synthetic resin bond atau bakelit bond karena menggunakan bakelit
sebagai perekat.
Perekat ini ulet dan elastis sehingga batu gerinda dapat digunakan dengan kecepatan
potong tinggi
Digunakan untuk menghilangkan terak terak pada besi atau baja tuang atau pada
produk pengelasan , digunakan juga untuk penggerindaan ulir
Rubber Bond
Pembuatan batu gerinda Rubber Bonds adalah karet murni dicampur dengan
sulfur ( belerang ) sebagai komponen pemanas. Digunakan sebagai Centereless feed
wheels
Dipakai untuk penggerindaan dengan hasil permukaan yang sangat halus seperti alur
pada bantalan peluru.
Dipakai juga pada portable grinders untuk penghalusan bekas pengelasan pada
stainless steel dan pemotongan dengan hasil yang halus.
Ulet dan elastis.
Cocok untukbatu gerinda yang tipis dan profil profil tajam

SHELLAC BOND
Merupakan organik bonds, karena bahan pengikatnya terbuat dari bahan organik
Cara pengolahannya adalah mencampur gumpalan atau serbuk shellac dengan
butiran abrasive kemudian dipanaskan sampai shellacnya melelehdan menyelimuti
setiap butiran abrasive. Campuran itu kemudian diroll menjadi lembaran dan
dipotong menjadi dies.
Ketahanan terhadap panas rendah
Ulet dan elastis
Cocok untuk batu gerinda yang tipis dan profil profil tajam

SEKIAN DAN TERIMAKASIH

KULSUM., ST., MT

48