Anda di halaman 1dari 31

PARITTĀ

(Vivāha-maïgala)

Upacara Pernikahan

SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA BUDDHA


STIAB ”SMARATUNGGA”

]
AMPEL-BOYOLALI
JAWA TENGAH
2008
PARITTĀ
Buku Upacara Pernikahan

Angkatan semester II
Tahun Ajaran 2007/2008
Dosen pengampu : Kartomo, S.Ag
Penyusun : 1. David
2. Hendrik
3. Slamet Haryadi
Editor : Hendrik
Setting & Cover : Slamet Haryadi

“Perkawinan yang berbahagia adalah perpaduan antara dua insan


yang saling mencintai, saling menghargai, saling menghormati dan
saling setia.”

SEKOLAH TINGGI ILMU AGAMA BUDDHA


STIAB ”SMARATUNGGA”

]
AMPEL-BOYOLALI
JAWA TENGAH
2008

]
KATA PENGANTAR

Namo Sanghyang àdibuddhaya,


Namo Buddhaya.
Puji syukur penulis panjatkan pada Sanghyang Adi Buddha
Tuhan Yang Maha Esa, Para Buddha, Boddhisattva dan Mahasattva
karena berkat pancaran cinta kasihNya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas ini yang berjudul “vivaha-mangala. Upacara
pernikahan” mata kuliah Kitab Suci Vinaya Pitaka I. Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Pak Kartomo selaku dosen pengampu Kitab Suci Vinaya Pitaka I
2. Teman-teman yang telah membantu dalam menyusun makalah ini
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih banyak kekurangan-kekurangan dan kesalahan baik yang
disengaja maupun yang tidak disengaja serta dalam penulisan yang
jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan kemampuan yang
penulis miliki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca yang bersifat membangun demi perkembangan
makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
penulis pada khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Sabbe Sattà Bhavantu Sukhitattà
Sàddhu…Sàddhu…Sàddhu

Penulis

]
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................1
KATA PENGANTAR...................................................................3
DAFTAR ISI.................................................................................4
1. Persiapan .................................................................................9
2. Kedua mempelai memasuki Dhammasala...............................9
Chatta Manavaka Vimanagatha...............................................10
3. Permohonan pemberkatan oleh Orang tua atau Wali..............11
4. Tanya jawab antara Pandita dengan kedua mempelai.............11
5. Kedua mempelai mempersembahkan Puja..............................12
a. Persembahan lilin (Padipapuja)........................................12
b. Persembahan air (Paniyapuja)..........................................13
c. Persembahan manisan (Khajjakapuja)..............................13
d. Persembahan buah-buahan (Phalapuja)............................14
e. Persembahan bunga (Pupphapuja)....................................14
f. Persembahan dupa (Dhupapuja).......................................15
6. Penyulutan lilin upacara...........................................................15
a. Lilin biru (paling kiri) lambang bakti
oleh ibu mempelai pria......................................................15
b. Lilin jingga (paling kanan) lambang semangat
oleh ayah mempelai pria....................................................15
c. Lilin kuning (kedua dari kiri) lambang kebijaksanaan

]
oleh ibu mempelai wanita..................................................16
d. Lilin putih (kedua dari kanan) lambang kesucian
oleh ayah mempelai wanita................................................16
e. Lilin merah (terletak di tengah) lambang cinta kasih
oleh Pandita........................................................................16
7. Pembukaan : Namakara gatha..................................................16
8. Permohonan tuntunan Tisarana pada Pandita..........................17
9. Janji kedua mempelai...............................................................20
10. Tukar cincin.............................................................................21
11. Pengikatan pita kuning dan pengerudungan kain kuning........21
12. Pemberkahan (oleh Bhikkhu atau Pandita)..............................21
13. Wejangan pernikahan (oleh Bhikkhu atau Pandita)................22
14. Pembukaan kerudung dan pita kuning.....................................22
15. Penanda-tanganan dokumen dan akte pemberkatan................22
16. Mohon doa restu pada Bodhisattva Avalokitesvara................22
17. Penyerahan Akte Pemberkatan dan Kitab Sigalovada Sutta. . .22
18. Penutup : Namakara gatha.......................................................22
19. Sembah sujud kedua mempelai kepada Bhikkhu
dan Orang tua kedua belah pihak.............................................23
20. Kedua mempelai dan keluarganya menerima
ucapan selamat dari umat.........................................................24
21. Kedua mempelai meninggalkan Dhammasala.........................24
Pattanumodana.........................................................................24

]
Pernikahan...............................................................................26
DAFTAR PUSTAKA

]
Susunan acara

1. Persiapan
2. Kedua mempelai memasuki Dhammasala
3. Permohonan pemberkatan oleh Orang Tua atau Wali kepada
Pandita
4. Tanya jawab antara Pandita dengan kedua mempelai
5. Kedua mempelai mempersembahkan Puja
6. Penyalaan lilin upacara
7. Pembukaan
8. Permohonan tuntunan Tisarana pada Pandita
9. Janji kedua mempelai
10. Tukar cincin
11. Pengikatan pita kuning dan pengerudungan kain kuning
12. Pemberkahan (oleh Bhikkhu atau Pandita)
13. Wejangan pernikahan (oleh Bhikkhu atau Pandita)
14. Pembukaan kerudung dan pita kuning
15. Penanda-tanganan dokumen dan akte pemberkatan
16. Mohon doa restu pada Bodhisattva Avalokitesvara.
17. Penyerahan Akte Pemberkatan dan Kitab Sigalovada Sutta oleh
Pandita
18. Penutup
19. Sembah sujud kedua mempelai kepada Bhikkhu, dan Orang tua

]
kedua belah pihak
20. Kedua mempelai dan keluarganya menerima ucapan selamat dari
umat
21. Kedua mempelai meninggalkan Dhammasala

]
Vivàha-maïgala
Upacara Pernikahan

Urutan prosesi sebagai berikut:


a. Pembawa lilin
b. Pembawa air
c. Pembawa manisan
d. Pembawa buah-buahan
e. Pembawa bunga
f. Pembawa dupa
g. Kedua mempelai
h. Sanak keluarga

1. Persiapan
a. Pandita membakar dupa di altar
b. Para petugas siap pada posisi masing-masing
2. Kedua mempelai memasuki ruangan
Setelah barisan pembawa puja kedua mempelai yang diapit oleh
Upa dan Upi pendamping memasuki ruang Dhammasala, diikuti
oleh sanak keluarganya, dengan diiringi oleh Paritta:
Chatta Manavaka Vimanagatha.

]
Chatta Manavaka Vimanagatha
Yo vadataÿ pavaro manujesu
Sakyamunã Bhagavà katakicco
Pàragato balaviriya samaïgi
Taÿ Sugataÿ saraõattam upemi
Sakyamuni pembabar yang paling baik diantara umat manusia
Bhagava yang telah melaksanakan tugasnya
Yang telah pergi ke seberang (Nibbana)
Yang memiliki kekuatan dan semangat.
Kepada Sugata aku datang berlindung.

Ràgaviràga maneja masokaÿ


Dhammamasaïkhata mappañikkålaÿ
Madhuramimaÿ pagunaÿ suvibhattaÿ
Dhammamimaÿ saraõatta mupemi
Yang terbebas dari nafsu, tanpa noda, dan tanpa kesedihan
Dhamma yang tanpa syarat, yang menyenangkan.
Manis, baik untuk dilaksanakan dan baik untuk dianalisa.
Kepada Dhamma aku datang berlindung.
Yattha ca dinna mahapphalamàhu
Catusu sucãsu purisayugesu
Aññha ca puggalà Dhammadasà
te
Saïghamimaÿ saraõatta mupemi
Telah dikatakan bahwa pemberian kepada Empat Pasang Suciwan

]
membuahkan hasil yang sungguh besar
Delapan Makhluk Suci yang telah melihat Dhamma.
Kepada Sangha aku datang berlindung.

3. Permohonan pemberkatan oleh Orang Tua atau Wali kepada


Pandita
Orang Tua: Namaste
Pandita: Namaste suvatthi hotu
Orang Tua: Kami atas nama keluarga kedua mempelai mohon
kesediaan Romo/Ibu Pandita untuk menikahkan
putra-putri kami secara Agama Buddha.
Pandita: Terimakasih atas kesediaan anda untuk melaksanakan
upacara pernikahan secara Agama Buddha di Vihara ini.
Baiklah, upacara pernikahan ini akan kami laksanakan
sesuai dengan tugas kami selaku Pandita Lokapalasraya.
Dan kepada kedua mempelai serta segenap sanak
keluarga, kami persilahkan untuk duduk di tempat yang
telah disediakan.

4. Tanya jawab antara Pandita dengan kedua mempelai


Pandita: Namaste, Namo Buddhaya, Saudara-saudara yang
berbahagia, pada hari yang penuh berkah ini kita
berkumpul disini untuk menyaksikan upacara

]
pernikahan secara Agama Buddha antara sepasang
mempelai yang berada dihadapan Altar Buddha ini,
yaitu:
Saudara: ....(Nama mempelai Pria)
dengan
Saudari: ....(Nama mempelai Wanita)
Pandita: Namun sebelum kedua mempelai ini kami berkahi, kami
akan bertanya terlebih dahulu.
Kepada mempelai pria Sdr. .....(Nama mempelai Pria)
Adakah keberatan-keberatan yang menghalangi pernikahan
saudara?.
Mempelai pria: Tidak ada.
Pandita: Baiklah sekarang kepada mempelai wanita,
Sdri...... (Nama mempelai Wanita)
Adakah keberatan-keberatan yang menghalangi pernikahan
saudari?.
Mempelai wanita: Tidak ada.
Pandita: Apabila demikian halnya, seperti yang kalian ucapkan
yaitu tidak adanya keberatan yang menghalangi pernikahan anda
berdua, maka kami persilahkan anda untuk mempersembahkan
Puja di hadapan Altar Buddha.

5. Kedua mempelai mempersembahkan Puja

]
a. Persembahan lilin (Padīpapūjā)
Ghana sārappadittena
Dīpena tamadhaÿsinā
Tiloka dīpaÿ
SamBuddhaÿ Pūjayāmi
tamonudaÿ
Dengan cahaya yang memancar terang, yang melenyapkan
kegelapan
ini. Aku menghormati Buddha, Cahaya Tiga Alam,
Penghalau
kegelapan batin (avijja).
b. Persembahan air (Pāniyapūjā)
Adhivāsetu no bhante
Pānīyaÿ parikappitaÿ
Anukampaÿ upādāya
Patiganhātu muttamaÿ
Perkenankanlah kami oh Bhante.
Berdasarkan betas kasihan
Sudilah kiranya menerima persembahan air ini.
c. Persembahan manisan (Khajjakapūjā)
Adhivāsetu no bhante
Khajjakaÿ parikappitaÿ
Anukampaÿ upādāya
Patiganhātu muttamaÿ
Perkenankanlah kami oh Bhante.

]
Berdasarkan belas kasihan
Sudilah kiranya menerima persembahan manisan ini.
d. Persembahan buah-buahan (Phalapūjā)
Adhivāsetu no bhante
Phale parikappitaÿ
Anukampaÿ upādāya
Patiganhātu muttamaÿ
Perkenankanlah kami oh Bhante.
Berdasarkan belas kasihan
Sudilah kiranya menerima persembahan buah-buahan ini.
e. Persembahan bunga (Pupphapūjā)
Vaõõagandha
guõopetaÿ
Etaÿ kusuma
santatiÿ
Pūjayāmi
munindassa
Siripāāda saroruhe
Sekumpulan bunga yang mutu warna dan aromanya terpilih
ini, aku persembahkan di kaki Muninda yang indah bagaikan
bunga seroja.

]
Pūjemi Buddhaÿ kusumena'nena
Puññena m'etena ca hotu
mokkhaÿ.
Pupphaÿ milāyāti yathā idamme
Kāyo tathā yāti vināsabhāvaÿ
Aku menghormati Buddha dengan aneka-ragam bunga.
Semoga dengan pahala ini aku mencapai kebebasan. Seperti
bunga yang akan layu, demikianlah badanku sedang menuju
proses kelapukan.
f. Persembahan dupa (Dhūpapūjā)
Gandha sambhāra yuttena Dhūpenahaÿ sugandhinā
Pūjaye pūjaneyyaÿtaÿ Pūjābhājana muttamaÿ
Dengan dupa yang tersusun dari perpaduan unsur
wewangian yang harum semerbak.
Aku menghormati wadah persembahan yang patut dihormati.
6. Penyulutan lilin upacara
a. Lilin biru (paling kiri)
Kepada ibu mempelai pria kami persilahkan untuk menyulut
lilin biru, yang melambangkan 'Bakti'.
Semoga kedua mempelai dapat berbakti kepada orang tua,
Tiratana, guru, bangsa dan negara.
b. Lilin jingga (paling kanan)
Kepada ayah mempelai pria kami persilahkan untuk menyulut
lilin jingga, yang melambangkan' Semangat'.

]
Semoga kedua mempelai menjadi insan yang penuh semangat
dalam menempuh kehidupan berkeluarga.
c. Lilin kuning (kedua dari kiri)
Kepada ibu mempelai wanita kami persilahkan untuk
menyulut lilin kuning, yang melambangkan 'Kebijaksanaan'.
Semoga kedua mempelai menjadi insan yang cerdas dan
berpengetahuan tinggi serta bijaksana.
d. Lilin putih (kedua dari kanan)
Kepada ayah mempelai wanita kami persilahkan untuk
menyulut lilin putih, yang melambangkan 'Kesucian'.
Semoga kedua mempelai dapat meraih kesucian pada
kehidupan yang sekarang ini.
e. Lilin merah (terletak di tengah)
Kepada Pandita kami persilahkan untuk menyulut lilin merah,
yang melambangkan 'Kasih Universal'.
Semoga kedua mempelai dapat mengasihi semua makhluk
hidup.
7. Pembukaan: Namakara gatha
Arahaÿ Sammāsambuddho Bhagavā
Buddhaÿ Bhagavantaÿ abhivādemi
Bhagava, Yang Maha Suci,
Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna.
Kepada Buddha, Junjungan Mulia aku bersujud.

]
Namo Buddhaya (namaskara)

Svākkhāto Bhagavatā Dhammo


Dhammaÿ namassāmi
Dhamma telah dibabarkan Bhagava dengan sempuma.
Kepada Dhamma aku bersujud.
Namo Dhammaya (namaskara)
Supañipanno Bhagavato Sāvakasaïgho
Saïghaÿ namāmi
Sangha, Siswa Bhagava telah bertindak benar.
Kepada Sangha aku bersujud.
Namo Sanghaya (namaskara)
8. Permohonan Tuntunan Tisarana
Mempelai: Romo/Ibu Pandita, kami mohon tuntunan anda
dan berikanlah Tisarana serta Sila pada kami.
Pandita: Ikutilah apa yang saya ucapkan:
Namo Sanghyang ādibuddhaya
Pujilah Adibuddha, Tuhan Yang Maha Esa
Mempelai: Namo Sanghyang ādibuddhaya 3x

Pandita: Namo tassa bhagavato arahato


sammāsambuddhassa
Pujilah Bhagava, Yang Maha Suci
Yang Telah Mencapai Penerangan Sempuma
Mempelai : Namo tassa bhagavato

]
arahato
sammāsambuddhassa 3x
Pandita: Namo sabbe bodhisattāya mahasattāya

Pujilah para Bodhisattva Mahasattva


Mempelai : Namo Sabbe bodhisattāya mahasattāya
3x
Pandita: Buddhaÿ saraõaÿ gacchāmi

Aku berlindung kepada Buddha


Mempelai : Buddhaÿ saraõaÿ gacchāmi
Pandita: Dhammaÿ saraõaÿ gacchāmi

Aku berlindung kepada Dhamma


Mempelai: Dhammaÿ saraõaÿ gacchāmi

Pandita: Saïghaÿ saraõaÿ gacchāmi

Aku berlindung kepada Sangha


Mempelai: Saïghaÿ saraõaÿ gacchāmi

Pandita: Dutiyampi Buddhaÿ saraõaÿ gacchāmi

Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada


Buddha
Mempelai: Dutiyampi Buddhaÿ saraõaÿ gacchāmi

Pandita: Dutiyampi Dhammaÿ saraõaÿ gacchāmi

Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada


Dhamma
Mempelai: Dutiyampi Dhammaÿ saraõaÿ gacchāmi

Pandita: Dutiyampi Saïghaÿ saraõaÿ gacchāmi

]
Untuk kedua kalinya, aku berlindung kepada
Sangha
Mempelai: Dutiyampi Dhammaÿ saraõaÿ gacchāmi

Pandita: Tatiyampi Buddhaÿ saraõaÿ gacchāmi

Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada


Buddha
Mempelai: Tatiyampi Buddhaÿ saraõaÿ gacchāmi

Pandita: Tatiyampi Dhammaÿ saraõaÿ gacchāmi

Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada


Dhamma
Mempelai: Tatiyampi Dhammaÿ saraõaÿ gacchāmi

Pandita: Tatiyampi Saïghaÿ saraõaÿ gacchāmi

Untuk ketiga kalinya, aku berlindung kepada


Sangha
Mempelai: Tatiyampi Saïghaÿ saraõaÿ gacchāmi

Pandita: Panatipata veramaõī sikkhāpadaÿ


samādiyāmi
Aku berjanji untuk berlatih menghindari
pembunuhan
Mempelai: Pāõātipātā veramaõī sikkhāpadaÿ
samādiyāmi
Pandita: Adinnādanā veramaõī sikkhāpadaÿ
samādiyāmi
Aku berjanji untuk berlatih menghindari pencurian

]
Mempelai: Adinnādanā veramaõī sikkhāpadaÿ
samādiyāmi
Pandita: Kāmesu micchācārā veramaõī sikkhāpadaÿ
samādiyāmi
Aku berjanji untuk berlatih menghindari perbuatan
asusila
Mempelai: Kamesu micchacara veramaõī sikkhāpadaÿ
samādiyāmi
Pandita: Musāvādā veramaõī sikkhāpadaÿ
samādiyāmi
Aku berjanji untuk berlatih menghindari kedustaan
Mempelai: Musāvādā veramaõī sikkhāpadaÿ
samādiyāmi
Pandita: Surāmeraya-majjapamādaññhānā veramaõī
sikkhāpadaÿ samādiyāmi
Aku berjanji untuk berlatih menghindari
minum minuman keras yang memabukkan
serta yang menimbulkan ketagihan
Mempelai: Surāmeraya-majjapamādaññhānā veramaõī
sikkhāpadaÿ samādiyāmi
Pandita: Demikianlah Sila dan Tisarana telah diberikan
dengan lengkap. Jagalah dan berjuanglah dengan
penuh kewaspadaan.
Mempelai: Terimakasih Romo, Sadhu sadhu sadhu
9. Janji kedua mempelai

]
Pandita: Kepada mempelai pria kami persilahkan untuk
mengucapkan janjinya.
Memp. pria: Atas nama Buddha, Dhamma dan Sangha, lepada
semua makhluk yang hadar disini, baik yang terlihat
maupun tidak, sudilah kiranya menyaksikan saya
menerima .....(Nama mempelai wanita) sebagai istri
yang sah.
Pandita: Kepada mempelai wanita kami persilahkan untuk
mengucapkan janjinya.
Memp. wanita: Atas nama Buddha, Dhamma dan Sangha,
kepada semua makhluk yang hadir disini, baik yang
terlihat maupun tidak, sudilah kiranya menyaksikan
saya menerima .....(Nama mempelai Pria) sebagai
suami yang sah.
Pandita: Dengan demikian resmilah kalian menjadi suami istri
yang sah. Selain kebahagiaan duniawi dan surgawi,
masih ada kebahagiaan lain yang lebih tinggi, yaitu
kebahagiaan Nibbana. Oleh karena itu tempuhlah
kehidupan yang sesuai Buddha Dharma.
10. Tukar cincin
Pandita: Bagaikan cincin yang berbentuk bulat dan terbuat dari
logam mulia, semoga cinta kasih anda berduapun
utuh dan mumi.

]
11. Pengikatan pita kuning dan pengerudungan kain kuning
Pandita: Pita dan kerudung kuning ini melambangkan
pertautan dan perlindungan Dharma. Semoga
pernikahan anda berdua langgeng dan menuntun ke
kehidupan yang harmonis, tenteram dan bahagia
selalu sesuai Dhamma.
12. Pemberkahan (oleh Bhikkhu atau Pandita)
13. Wejangan pernikahan (oleh Bhikkhu atau Pandita)
14. Pembukaan kerudung dan pita kuning
Pandita: Walaupun pita dan kerudung ini telah dilepas, namun
kami harapkan hubungan baik antara anda berdua
dengan Dhamma dan Vihara ini tetap terjalin
dengan kuat.
15. Penanda-tanganan dokumen dan akte pemberkatan
16. Mohon doa restu pada Bodhisattva Avalokitesvara.
17. Penyerahan Kitab Sigal'ovada Sutta dan
akte pemberkatan oleh Pandita
18. Penutup: Namakara gatha
Arahaÿ Sammāsambuddho Bhagavā
Buddhaÿ Bhagavantaÿ abhivādemi
Bhagava, Yang Maha Suci,
Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna.
Kepada Buddha, Junjungan Mulia aku bersujud.

]
Namo Buddhaya (namaskara)

]
Svākkhāto Bhagavatā Dhammo
Dhammaÿ namassāmi
Dhamma telah dibabarkan Bhagava dengan sempurna.
Kepada Dhamma aku bersujud.
Namo Dhammaya (namaskara)
Supañipanno Bhagavato Sāvakasaïgho
Saïghaÿ namāmi
Sangha, Siswa Bhagava telah bertindak benar.
Kepada Sangha aku bersujud.
Namo Sanghaya (namaskara)
19. Sembah sujud kedua mempelai kepada Bhikkhu, dan
orang tua kedua belah pihak (diiringi lagu Sujudku)
Sujudku
Trimalah sujudku oh ayah-ibuku
Ampunilah segala kesalahan
Agar hidupku tiada beban
Kumohon doamu kumohon restumu
Agar lapanglah jalan hidupku
Bahagia kan menunggu
Reff: oh ayah-ibuku yang kucinta
doamu selalu kunantikan
Oh ayah-ibuku yang kusayang
Jasamu ta 'kan kulupakan

]
20. Kedua mempelai dan keluarganya menerima ucapan
selamat dari umat (diiringi dengan lagu Perkawinan Yang
Berbahagia)

Perkawinan Yang Berbahagia


4/4 perlahan
Oleh: Bhikkhu Girirakkhita
Berbahagialah perkawinan saling menyinta
Suami-istri yang saling mengerti sama setia
Pada saling harga menghargai
Pada saling hormat menghormati
Saling percaya saling membantu
'tulah perkawinan yang berbahagia

21. Kedua mempelai meninggalkan ruangan, dnringi


dengan Paritta Pattanumodana
Sabbāvamaïgala mupaddava
dunnimittaÿ
Sabbãtiroga gahadosa masesanindā
Sabbantarāyabhaya dussupinaÿ
akantaÿ
Buddhānubhāva pavarena payātu
nasaÿ
Semua kemalangan, kesukaran, tanda-tanda jelek

]
Semua penyakit, kemarahan, kesalahan
Semua bahaya, ketakutan, mimpi bumk yang tak menyenangkan
Semoga musnah dengan kekuatan Buddha yang mulia.

]
Sabbāvamaïgala mupaddava dunnimittaÿ
Sabbãtiroga gahadosa masesanindā
Sabbantarāyabhaya dussupinaÿ
akantaÿ
Dhammānubhāva pavarena payātu
nasaÿ
Semua kemalangan, kesukaran, tanda-tanda jelek
Semua penyakit, kemarahan, kesalahan
Semua bahaya, ketakutan, mimpi bumk yang tak menyenangkan
Semoga musnah dengan kekuatan Dhamma yang mulia.

Sabbāvamaïgalam-upaddava
dunnimittaÿ
Sabbãtiroga gahadosam-asesa ninda
Sabbantārayabhaya dussupinaÿ
akantaÿ
Saïghānubhāva pavarena payātu nasaÿ
Semua kemalangan, kesukaran, tanda-tanda jelek
Semua penyakit, kemarahan, kesalahan
Semua bahaya, ketakutan, mimpi bumk yang tak menyenangkan
Semoga musnah dengan kekuatan Sangha yang mulia.

]
Pernikahan

Cipt.: Sie. Kesenian Vihara Buddhasena

Di kala dua insan manusia


Berjanji bersama di depan Altar Sang Buddha
'Tuk menjalin pernikahan bahagia
Dalam mengarungi bahtera hidup ini
Bridge:
Kami yakin Sang Buddha s'lalu bersamamu
Dalam pemikahan ini
Reff:
Selamat menempuh hidup baru
Dalam suka dan duka tetap setia
Walalupun badai menerpa hidupmu
Yakinlah hatimu 'tuk berpegang teguh
Tetap bersama selamanya.

]
DAFTAR PUSTAKA

Supandi, Cunda. J. 2004. Paritta. Bogor : Vidyavardhana Samuha


Yap, Kumuda. Dkk. 2006. Paritta. Palembang: Svarnadipa Sriwjaya
Upa. Putra, Surya. 2001. Paritta Suci. Jateng: Sangha Agung
Indonesia Rayon VIII

]
“Kebahagiaan terbesar yang dapat dirasakan
manusia adalah perpaduan dari pernikahan yang
mengikat dua hati yang saling mencintai menjadi
satu”
(Sutta Pitaka Digha Nikaya)

“Apabila dalam pengembaraanmu engkau dapat


menemukan seorang sahabat yang berkelakuan
baik, pandai dan bijaksana. Maka hendaknya
engkau berjalan bersamanya dengan senang hati
dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua
bahaya”
(Dhammapada XXIII:328)