Anda di halaman 1dari 21

BAB II

PEMBAHASAN

I. Dasar Hukum
Dasar hukum Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah (PPnBM) adalah Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983
tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahuh 1994,
dan diubah kembali dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 dan
terakhir UU No.42 Tahun 2009
II. Karakteristik PPN di Indonesia
1. PPN merupakan Pajak Tidak langsung

Secara ekonomis beban Pajak Pertambahan Nilai dapat dialihkan


kepada pihak lain. Tanggung jawab pembayaran pajak yang terutang
berada pada pihak yang menyerahkan barang atau jasa, akan tetapi
pihak yang menanggung beban pajak berada pada penanggung pajak
(pihak yang memikul pajak).
2. PPN merupakan Pajak Objektif

Timbulnya kewajiban membayar pajak sangat ditentukan oleh adanya


objek pajak. Kondisi subjektif subjek pajak tidak dipertimbangkan.
3. Multi-Stage Tax

PPN dikenakan secara bertahap pada setiap mata rantai jalur produksi
dan distribusi.
4. Non-Komulatif

PPN tidak bersifat komulatif, karena PPN mengenal adanya


mekanisme pengkreditan pajak masukan. Oleh karena itu, PPN yang
dibayar bukan merupakan unsur harga pokok barang atau jasa.
5. Single Tariff

PPN Indonesia hanya mengenal satu jenis tarif yaitu 10% (sepuluh
persen) untuk penyerahan dalam negeri dan 0% (nol persen) untuk
ekpor barang kena pajak.
6. Credit Method/ Invoice Method/ Indirect Substruction Method

Metode ini mengandung pengertian bahwa pajak yang terutang


diperoleh dari hasil pengurangan pajak yang dipungut atau pajak
keluaran dengan pajak yang dibayar atau disebut pajak masukan.
7. Pajak atas konsumsi dalam negeri

Atas impor BKP dikenakan PPN sedangkan atas BKP tidak dikenakan
PPN, prinsip ini menggunakan prinsip tempat tujuan yaitu pajak
dikenakan ditempat barang atau jasa akan dikonsumsi.
8. Consumtion Type Value Added Tax

Dalam PPN Indonesia, Pajak Masukan atas pembelian dan


pemeliharaan barang modal dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran
yang dipungut atas penyerahan BKP dan atau JKP.
III. Istilah dan Pengertian
1. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi
wilayah darat,perairan,dan ruang udara diatasnya, serta tempat-tempat
tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di
dalamnya berlaku Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang
Kepabeanan.
2. Barang adalah barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya
dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan barang
tidak berwujud.
3. Barang Kena Pajak (BKP, Taxable Goods) adalah barang sebagaimana
dimaksud dalam angka 2 yang dikenakan pajak berdasarkan undangundang ini.
4. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) adalah setiap kegiatan
penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimakudkan dalam angka
5. Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau
perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atas fasilitas atau
kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang

dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan


dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesanan.
6. Jasa Kena Pajak (JKP) adalah jasa sebagaimana dimaksud dalam
angka 5 yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang ini.
7. Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) adalah setiap kegiatan pemberian
Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 6.
8. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean adalah setiap
kegiatan pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di
dalam Daerah Pabean.
9. Impor adalah setiap kegiatan memasukan barang dari luar Daerah
Pabean ke dalam Daerah Pabean.
10. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari lur Daerah
Pabean adalah setiap kegiatan pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak
berwujud dari luar Daerah Pabean karena suatu perjanjian dan dalam
Daerah Pabean.
11. Ekspor adalah setiap kegiatan mengeluarkan barang dari dalam Daerah
Pabean ke luar Daerah Pabean.
12. Perdagangan adalah kegiatan usaha membeli dan menjual, termasuk
kegiatan tukar menukar barang, tanpa mengubah bentuk atau sifatnya.
13. Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan
usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer,
perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan
nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi yang sejenis, lembaga,
bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.
14. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan sebagaimana dimaksudkan
dalam angka 13 yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya
menghasilkan barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan
barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa,
atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean.

15. Pengusaha Kena Pajak ( PKP, Taxable Firm ) adalah pengusaha


sebagaimana dimaksud dalam angka 14 yang melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang
dikenakan pajak berdasarkan undang-undang ini, tidak termasuk
Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan
Menteri

Keuangan,

kecuali

Pengusaha

Kecil

memilih

untuk

dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.


16. Menghasilkan adalah kegiatan mengolah melalui proses mengubah
bentuk atau sifat suatu barang dari bentuk aslinya menjadi barang baru
atau mempunyai daya guna baru, atau kegiatan mengolah sumber daya
alam termasuk menyuruh orang pribadi atau badan lain melakukan
kegiatan tersebut.
17. Dasar Pengenaan Pajak (DPP, Tax Base) adalah jumlah Harga Jual,
Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai
dasar untuk menghitung pajak yang terutang.
18. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang
diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan
Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang
dipungut menurut undang-undang ini dan potongan harga yang
dicantumkan dalam Faktur Pajak.
19. Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang
diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan
Jasa Kena Pajak, tidak termasuk pajak yang dipungut menurut undangundang ini dan potongan harga yang tercantum dalam Faktur Pajak.
20. Nilai Impor (NI) adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar
perhitungan bea masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan
pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan per Undang-undangan
Pabean untuk impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai yang dipungut menurut undang-undang ini.
21. Pembeli adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau
seharusnya menerima penyerahan Barang Kena Pajak dan yang

membayar atau seharusnya membayar harga Barang Kena Pajak


Tersebut.
22. Penerima Jasa adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau
seharusnya menerima penyerahan Jasa Kena Pajak dan yang
membayar atau seharusnya membayar atau seharusnya membayar
penggantian atas Jasa Kena Pajak tersebut.
23. Faktur Pajak (FP) adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh
Pengusaha Kena Pajak, atau bukti pungutan pajak karena impor
Barang Kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai.
24. Pajak Masukan (PM) adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya
sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang
Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean dan atau
pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan atau impor
Barang Kena Pajak.
25. Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib
dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang
Kena Pajak.
26. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang
diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir.
27. Pemungut Pajak Pertambahan Nilai adalah bendaharawan Pemerintah,
badan, atu instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan
untuk memungut, menyetor, dan melaporkan pajak atas penyerahan
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada
bendaharawan Pemerintah, badan, atau instansi Pemerintah tersebut.
28. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud adalah setiap kegiatan
pemanfaatan Barang Tidak Kena Pajak Tidak Berwujud dari dalam
Daerah Pabean di luar Daerah Pabean
29. Ekspor Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan penyerahan Jasa Kena
Pajak ke luar Daerah Pabean
IV. Kewajiban Menyetor PPN

PPN merupakan pajak tidak langsung, artinya pajak yang pada akhirnya
dapat dibebankan atau dialihkan kepada orang lain atau pihak ketiga.
Pihak-pihak yang mempunyai kewajiban memungut, menyetor, dan
melaporkan PPN terdiri dari :
1. Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan BKP
dan/atau JKP di dalam Daerah Pabean dan melakukan ekspor BKP
Berwujud/BKP Tidak Berwujud/JKP.
Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang melakukan penyerahan
BKP dan/atau penyerahan JKP yang dikenakan pajak berdasarkan
undang-undang PPN dan PPnBM, tidak termasuk Pengusaha Kecil.
Pengusaha dikatakan sebagai Pengusaha Kena Pajak apabila
melakukan penyerahan BKPdan/atau JKP dengan jumlah peredaran
bruto dan/atau penerimaan bruto melebihi Rp 60.000.000 dalam satu
tahun. Termasuk Pengusaha Kena Pajak antara lain :
Pabrikan atau produsen;
Importer dan indentor;
Pengusaha yang mempunyai hubungan istimewa dengan pabrikan

atau importir;
Agen utama dan penyalur utama pabrikan atau importir;
Pemegang hak paten atau merk dagang BKP;
Pedagang besar (distributor);
Pengusaha yang melakukan hubungan penyerahan barang;
Pedagang eceran (perital)

PKP mempunyai kewajiban memungut, menyetor, dan melaporkan


PPN dan PPnBM. PPN dan PPnBM yang disetorkan dan dilaporkan
PKP tersebut dapat dibebankan kepada konsumen pada saat terjadi
transaksi penyerahan BKP dan/atau JKP. Jika PKP tidak melakukan
hal itu, dia yang mempunyai kewajiban membayar sejumlah PPN dan
PPnBM.
2. Pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP.
Pengusaha Kecil adalah pengusaha yang melakukan penyerah BKP
dan/atau JKP dengan jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan
bruto tidak lebih dari Rp 600.000.000 dalam satu tahun. Pengusaha

Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP, selanjutnya wajib


melaksanakan kewajiban sebagaimana halnya PKP.
3. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan BKP tidak berwujud
dan/atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah.
4. Orang pribadi atau badan yang melakukan impor barang kena pajak.
5. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penjualan barang yang
menurut tujuan semula tidak untuk dijual kembali.
6. Orang pribadi atau badan yang melakukan pembangunan rumahnya
sendiri dengan persyaratan tertentu.
Orang pribadi atau badan yang melakukan pembangunan rumahnya
sendiri harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Kegiatan pembangunan yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha
atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya
digunakan sendiri atau pihak lain
b. Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa satu atau
lebih konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap
pada satu kesatuan tanah dan /atau perairan dengan kriteria :
1) Konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu
bata atau bahan sejenis, dan/atau baja
2) Diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha
3) Luas keseluruhan paling sedikit 300 m2 (tiga ratus meter
persegi)
7. Pemungut Pajak yang ditunjuk oleh Pemerintah
Pemungut pajak yang ditunjuk oleh pemerintah terdiri atas Kantor
Pembendaharaan Negara, Bendahara pemerintah pusat dan daerah,
termasuk bendahara proyek.
V. Objek PPN
1. Penyerahan/impor/pemanfaatan/ekspor terhadap BKP/JKP/BKP tidak
berwujud
a. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam Daerah Pabean
yang dilakukan oleh Pengusaha kena pajak maupun pengusaha
yang seharusnya dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak tetapi
belum dikukuhkan.
Penyerahan barang yang dikenakan pajak harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut :
1. Barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena
Pajak,

2. Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang


Kena Pajak yang tidak berwujud,
3. Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean
4. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau
pekerjaannya.
Kegiatan yang termasuk dalam pengertian penyerahan BKP adalah:
1.
2.

Penyerahan hak atas BKP karena suatu perjanjian


Pengalihan BKP oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan

3.

perjanjian sewa guna usaha (leasing)


Penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau melalui juru

4.
5.

lelang
Pemakaian sendiri dan/atau pemberian cuma-cuma atas BKP
Persediaan BKP dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak
untuk

diperjualbelikan,

yang

masih

tersisa

pada

saat

pembubaran perusahaan, sepanjang PPN atas perolehan aktiva


6.

tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan


Penyerahan BKP dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan

7.

penyerahan BKP antarcabang


Penyerahan BKP secara konsinyasi

Kegiatan yang tidak termasuk dalam pengertian penyerahan BKP


adalah :
1.

Penyerahan BKP kepada makelar sebagaimana dimaksud

2.
3.

dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)


Penyerahan BKP untuk jaminan utang Piutang
Penyerahan BKP sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf f
dalam hal PKP memperoleh izin pemusatan tempat pajak

terutang(sentralisasi)
b. Impor Barang Kena Pajak (BKP)
Pemungutan pajak saat impor BKP dilakukan melalui Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai. Siapa pun yang memasukkan BKP ke
dalam Daerah Pabean dikenakan pajak tanpa memerhatikan apakah
dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya ataukah
tidak
c. Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh Pengusaha;

Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat


sebagai berikut:
1. Jasa yang diserahkan merupakan Jasa Kena Pajak,
2. Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean,
3. Penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Penyerahan JKP adalah setiap kegiatan pemberian JKP, termasuk
JKP yang digunakan untuk kepentingan sendiri dan JKP yang
diberikan secara cuma-Cuma.
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak (BKP) tidak berwujud dari luar
Daerah Pabean di dalam Daerah pabean.
Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean oleh
siapa pun dikenakan PPN.
Contoh :
Pengusaha A yang berkedudukan di Jakarta memperoleh hak
menggunakan

merek

yang

dimiliki

Pengusaha

yang

berkedudukan di Hongkong. Atas pemanfaatan merek di dalam


Daerah Pabean oleh Pengusaha A terutang PPN.
e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan dalam
Daerah Pabean. Misalnya, PKP C di Surabaya memanfaatkan JKP
berupa maket gedung kantor dari pengusaha B yang berkedudukan
di Singapura. Atas pemanfaatan JKP tersebut terutang PPN.
f. Ekspor Barang Kena Pajak (BKP) oleh Pengusaha Kena Pajak
(PKP).
Ekspor BKP dikenakan PPN, hanya jika yang melakukan adalah
Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP.
g. Ekspor BKP tidak berwujud oleh PKP
h. Ekspor JKP oleh PKP
2.

Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan


usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya

3.

digunakan sendiri atau digunakan pihak lain.


Penyerahan aktiva oleh PKP yang menurut tujuan semula aktiva
tersebut tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang Pajak Masukan yang
dibayar pada saat perolehannya menurut ketentuan dapat dikreditkan.

VI. Penyerahan terutang PPN dan tidak terutang PPN


Penyerahan yang terutang PPN
Penyerahan yang terutang PPN dikelompokkan menjadi :
1. Ekspor

Ekspor yang dimaksud terdiri atas setiap kegiatan menyerahkan barang


kena pajak berwujud/barang kena pajak tidak berwujud/jasa kena pajak
dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean oleh pengusaha kena
pajak. Atas ekspor tersebut terutang PPN dan PPnBM dengan tarif 0%
(nol persen)
2. Penyerahan dalam negeri terdiri atas :
a. Penyerahan yang PPN-nya harus dipungut sendiri
b. Penyerahan yang PPN-nya dipungut oleh Pemungut PPN
c. Penyerahan yang PPN-nya tidak dipungut
d. Penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan PPN
3. Impor barang, pemasukan BKP, pengiriman hasil produksi,
pengeluaran barang, penyerahan kembali BKP, peminjaman mesin,
pemasukan Barang Kena Cukai (BKC) ke dan/atau dari kawasan
Berikat (sesuai PP No.33 Tahun 1996 dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 101/PMK.04/2005)
4. Penyerahan BKP kepada pengusahan sepanjang BKP tersebut
digunakan untuk menghasilkan BKP yang di ekspor dan di impor BKP
yang dilakukan oleh Pengusaha sepanjang BKP tersebut digunakan
untuk menghasilkan BKP yang diekspor (sesuai PP No.63 Tahun 2003
sebagaimana di ubah dalam PP No. Tahun 2005)
5. Penyerahan avtur (bahan bakar untuk pesawat terbang turbin gas yang
batas titik didihnya sekitar 150 C-red) untuk keperluan penerbangan
internasional (sesuai PP No.26 Tahun 2005)
6. Impor dan penyerahan BKP oleh Toko Bebas bea-TBB (sesuai
keputusan menteri Keuangan Nomor 128/KMK.05/2000)
7. Impor kegiatan BKP yang dibebaskan dari pungutan bea masuk
8. Tempat penimbunan Berikat di pulau batam, bintan, dan karimun
9. Atas impor BKP maupun pemanfaatan BKP tidak berwujud da JKP
yang berasal dari luar Pabean Indonesia serta perolehan dalam negeri
BKP atau JKP oelh pengusaha di Pulau Bintan dan Pulau Karimun
yang melakukan proyek tertentu
Impor dan penyerahan yang PPN dan PPnBM-nya dibebaskan
1. Impor dan/atau penyerahan BKP dan JKP tertentu yang dibebaskan
dari pengenaan PPN (sesuai PP No.146 Tahun 2000 sebagaimana telah
di ubah dengan PP No. 38 Tahun 2003)

2. Impor dan/atau penyerahan BKP dan JKP tertentu bersifat strategis


dari pengenaan PPN (sesuai PP No.12 Tahun 2001 sebagaimana telah
di ubah dengan PP No. 46 Tahun 2003)
3. Pemberian restitusi atau pembebasan PPN dan/atau PPnBM kepada
Perwakilan Negara Asing atau Badan Internasional serta pejabat atau
tenaga ahlinya (sesuai UU No.1 tahun 1982 dan Keputusa Menteri
Keuangan Nomor 25/KMK.01.98 yang diatur lebih lanjut dengan surat
edaran dirjen pajak nomor SE-10/PJ.52/98)
Penyerahan yang terutang PPN
Penyerahan yang tidak terutang PPN merupakan penyerahan bukan BKP
dan/atau bukan JKP, tidka termasuk penyerahan PPN-nya tidka dipungut
dan penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan PPN.
Barang kena pajak (BKP) merupakan barang berwujud, yang menurut
sifat atau hukumnya dapat berupa barang penggerak atau barang tidak
bergerak dan barang tidak berwujud yang dikenakan pajak berdasarkan
Undang-undang PPN dan PPnBM.
Jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah
1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil
langsung dari sumbernya meliputi :
a. minyak mentah (crude oil);
b. gas bumi, tidak termasuk gas bumi seperti elpiji yang siap
dikonsumsi langsung oleh masyarakat;
c. panas bumi
d. asbes, batu tulis, batu setengah permata, batu kapur, batu apung, batu
permata, bentonit, dolomit, felspar (feldspar), garam batu (halite),
grafit, granit/andesit, gips, kalsit, kaolin, leusit, magnesit, mika,
marmer, nitrat, opsidien, oker, pasir dan kerikil, pasir kuarsa, perlit,
fosfat (phospat), talk, tanah serap (fullers earth), tanah diatome,
tanah liat, tawas (alum), tras, yarosif, zeolit, basal, dan trakkit
e. batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara; dan
f. bijih besi, bijih timah, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih
perak, serta bijih bauksit.
2. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak meliputi :
a. beras;
b. gabah;
c. jagung;

d.
e.
f.
g.

sagu;
kedelai;
garam, baik yang beryodium maupun yang tidak beryodium;
daging, yaitu daging segar yang tanpa diolah, tetapi telah melalui
proses disembelih, dikuliti, dipotong, didinginkan, dibekukan,
dikemas atau tidak dikemas, digarami, dikapur, diasamkan,

diawetkan dengan cara lain, dan/atau direbus;


h. telur, yaitu telur yang tidak diolah, termasuk telur yang dibersihkan,
diasinkan, atau dikemas;
i. susu, yaitu susu perah baik yang telah melalui proses didinginkan
maupun dipanaskan, tidak mengandung tambahan gula atau bahan
lainnya, dan/atau dikemas atau tidak dikemas
j. buah-buahan, yaitu buah-buahan segar yang dipetik, baik yang telah
melalui proses cuci, disortasi, dikupas, dipotong, diiris, di-grading,
dan/atau dikemas atau tidak dikemas; dan
k. sayur-sayuran, yaitu sayuran segar yang dipetik, dicuci, ditiriskan,
dan/atau disimpan pada suhu rendah, termasuk sayuran segar yang
dicacah.
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan,
warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang
dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman
yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering.
4. Uang, emas batangan, dan surat berharga
Jasa Kena pajak adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu
perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau
fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai termasuk jasa
yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau
permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan, yang dikenakan
pajak berdasarkan undang-undang PPN dan PPnBM.
Bukan jasa kena pajak (Bukan JKP)
Jenis jasa yang tidak dikenakan PPN adalah :
1. Jasa pelayanan kesehatan medis, meliputi :
a. jasa dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi;
b. jasa dokter hewan;
c. jasa ahli kesehatan seperti akupuntur, ahli gigi, ahli gizi, dan ahli
fisioterapi;
d. jasa kebidanan dan dukun bayi;

e. jasa paramedis dan perawat;


f. jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium
kesehatan, dan sanatorium;
g. jasa psikolog dan psikiater; dan
h. jasa pengobatan alternatif, termasuk yang dilakukan oleh
paranormal.
2. Jasa pelayanan sosial meliputi:
a. jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo;
b. jasa pemadam kebakaran;
c. jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan;
d. jasa lembaga rehabilitasi;
e. jasa penyediaan rumah duka atau jasa pemakaman, termasuk
krematorium; dan
f. jasa di bidang olah raga kecuali yang bersifat komersial.
3. Jasa pengiriman surat dengan perangko, meliputi jasa pengiriman surat
dengan menggunakan perangko tempel dan menggunakan cara lain
pengganti perangko tempel.
4. Jasa keuangan, meliputi:
a. jasa menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito
berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lain yang
dipersamakan dengan itu;
b. jasa menempatkan dana, meminjam dana, atau meminjamkan dana
kepada

pihak

lain

dengan

menggunakan

surat,

sarana

telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek, atau sarana


lainnya;
c. jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip
syariah, berupa:
- sewa guna usaha dengan hak opsi;
- anjak piutang;
- usaha kartu kredit; dan/atau
- pembiayaan konsumen;
d. jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai, termasuk gadai
syariah dan fidusia; dan
e. jasa penjaminan.
5. Jasa asuransi, merupakan jasa pertanggungan yang meliputi asuransi
kerugian, asuransi jiwa, dan reasuransi yang dilakukan oleh
perusahaan asuransi kepada pemegang polis asuransi, tidak termasuk
jasa penunjang asuransi seperti agen asuransi, penilai kerugian
6.

asuransi, dan konsultan asuransi.


Jasa keagamaan, meliputi :

a. jasa pelayanan rumah ibadah;


b. jasa pemberian khotbah atau dakwah;
c. jasa penyelenggaraan kegiatan keagamaan; dan
d. jasa lainnya di bidang keagamaan.
Jasa pendidikan, meliputi :
a. jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah,

7.

penyelenggaraan

pendidikan

pendidikan

biasa,

luar

umum,

pendidikan

seperti

pendidikan
kedinasan,

jasa

kejuruan,
pendidikan

keagamaan, pendidikan akademik dan jasa penyelenggaraan


pendidikan luar sekolah.
8. Jasa kesenian dan hiburan, meliputi semua jenis jasa yang dilakukan
oleh pekerja seni dan hiburan.
9. Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan meliputi jasa penyiaran radio
atau televisi baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah atau swasta
yang tidak bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan
komersial.
10. Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara
dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa
angkutan udara luar negeri.
11. Jasa tenaga kerja, meliputi :
a.
jasa tenaga kerja;
b. jasa penyediaan tenaga kerja sepanjang pengusaha penyedia tenaga
kerja tidak bertanggung jawab atas hasil kerja dari tenaga kerja
tersebut; dan
c. jasa penyelenggaraan latihan bagi tenaga kerja.
12.
Jasa perhotelan, meliputi :
a. jasa penyewaan kamar, termasuk tambahannya di hotel, rumah
penginapan, motel, losmen, hostel, serta fasilitas yang terkait
dengan kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap; dan
b. jasa penyewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di
13.

hotel, rumah penginapan, motel, losmen dan hostel.


Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam

rangka

menjalankan pemerintahan secara umum, meliputi jenis-jenis jasa


yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah seperti pemberian Izin
Mendirikan Bangunan (IMB), pemberian Ijin Usaha Perdagangan,
pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak dan pembuatan Kartu Tanda
Penduduk (KTP).

14.

Jasa penyediaan tempat parkir yang dilakukan oleh pemilik


tempat parkir dan/atau pengusaha kepada pengguna tempat parkir

15.

dengan dipungut bayaran.


Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam atau koin

16.
17.

yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta.


Jasa pengiriman uang dengan wesel pos.
Jasa boga atau katering

VII. Saat Terutang PPN


Terutangnya PPN menurut pasal 11 Undang-undang No.42 Tahun 2009
terjadi pada saat :
1. Penyerahan BKP
2. Impor BKP
3. Penyerahan JKP
4. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah
5.
6.
7.
8.

Pabean
Pemafaatan JKP dari luar daerah pabean
Ekspor BKP berwujud
Ekspor BKP tidak berwujud
Ekspor JKP

VIII. Tempat terutang PPN


Tempat terutangnya PPN ditetapkan sebagai berikut :
1. Atas penyerahan BKP didalam daerah pabean/penyerahan JKP di
dalam daerah pabean/ekspor BKP berwujud/ekspor BKP tidak
berwujud/ekspor JKP
2. Atas impor BKP
3. Atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar
Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
4. Atas kegiatan membangun sendiri oleh PKP yang dilakukan tidak
dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya
IX. Saat penyetoran dan pelaporan PPN
Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai oleh Pengusaha Kena Pajak harus
dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa
Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
disampaikan. Penyetoran PPn dilakukan dengan menggunakan formulir
surat setoran pajak.

Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai oleh Pengusaha Kena Pajak dilakukan


paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak
dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan
Nilai.

X. Tarif PPN
Tarif PPn menurut pasal 7 UU No. 42 Tahun 2009 adalah:
1. Tarif PPN sebesar 10%
Tarif 10% dikenakan atas setiap penyerahan BKP didalam daerah
pabean/impor

BKP/penyerahan

JKP

di

dalam

daerah

pabean/pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean di


dalam daerah pabean/ pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di
dalam daerah pabean
2. Tarif PPN sebesar 0% (nol persen)
Tarif 0% dikenakan atas ekspor BKP berwujud/ ekspor BKP tidak/
ekspor jasa kena pajak.

XI. Dasar Pengenaan Pajak (DPP)


Dasar Pengenaan Pajak adalah dasar yang dipakai untuk menghitung pajak
yang terutang, berupa: Jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai
Ekspor, atau nilai lain yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri
Keuangan.
1. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang
diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan
Barang Kena Pajak (BKP), tidak termasuk PPN yang dipungut menurut
Undang-Undang PPN dan potongan harga yang dicantumkan dalam
Faktur Pajak.

2. Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang


diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan
Jasa Kena Pajak (JKP),ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang
Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk PPN yang dipungut
menurut Undang-Undang PPN dan potongan harga yang dicantumkan
dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya
dibayar oleh penerima jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak
dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena Pajak Tidak Berwujud.
3. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan
bea masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan pajak
berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan Pabean
untuk Impor BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut menurut UndangUndang PPN.
4. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang
diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir.
5. Nilai lain adalah nilai berupa uang yang ditetapkan sebagai Dasar
Pengenaan Pajak dengan Keputusan Menteri Keuangan
Nilai lain yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak adalah
sebagai berikut :
a. untuk pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP adalah Harga Jual atau
Penggantian setelah dikurangi laba kotor;
b. untuk pemberian cuma-cuma BKP dan/atau JKP adalah Harga Jual
atau Penggantian setelah dikurangi laba kotor
c. untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah
perkiraan harga jual rata-rata;
d. untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per
judul film;

e. untuk penyerahan produk hasil tembakau adalah sebesar harga jual


eceran;
f. untuk Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang
menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih
tersisa pada saat pembubaran perusahaan, adalah harga pasar wajar;
g. untuk penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau
sebaliknya dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang
adalah harga pokok penjualan atau harga perolehan;
h. untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui juru lelang adalah
harga lelang;
i. untuk penyerahan jasa pengiriman paket adalah 10 % (sepuluh
persen) dari jumlah yang ditagih atau jumlah yang seharusnya
ditagih; atau
j. untuk penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata
adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah tagihan atau jumlah yang
seharusnya ditagih.

Restitusi
Apabila PKP dalam melakukan perhitungan PPN terdapat Pajak Masukan
lebih besar daripada Pajak Keluaran, selisih tersebut dapat dimintakan kembali
(restitusi) atau dikompensasikan pada Masa Pajak tertentu sesuai ketentuan
perpajakan. Pasal 9 ayat 4 UU PPN dan PPnBM menyatakan bahwa apabila
dalam suatu masa pajak, pajak masukan yang dikreditkan lebih besar daripada
pajak keluaran, selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dikompensasikan ke
masa pajak berikutnya.
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM)
Kegiatan-kegiatan selain dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga
dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) :

1. Peyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah yang


dilakukan oleh pengusaha yang menghasilkan BKP yang tergolong mewah
di dalam Daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.
2. Impor BKP yang tergolong mewah
Pengenaan PPnBM tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa :
1. Perlu adanya kesimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang
berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi
2. Perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas BKP yang tergolong
mewah
3. Perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional
4. Perlu untuk mengamankan penerimaan Negara
Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah :
1. Barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok
2. Barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu
3. Pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat
berpenghasilan tinggi atau apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan
dan moral masyarakat serta mengganggu ketertiban masyarakat contoh :
minuman beralkohol
Pengenaan PPnBM dipungut dan dikenakan sekali saja yaitu pada waktu :
1. Penyerahan oleh pabrikan atau produsen BKP yang tergolong mewah
2. Impor BKP tergolong mewah
Tarif PPnBM
1. Tarif PPnBM dibedakan menjadi beberapa kelompok tariff, yaitu tariff
terendah sebesar 10% dan tariff tertinggi sebesar 200%
2. Tarih PPnBM ditetapkan sebesar 0% untuk ekspor BKP yang tergolng
mewah

Tata cara pemungutan dan penyetoran PPN dan PPnBM

1. Pengusaha kena Kena Pajak Rekanan Pemerintah membuat faktur pajak


dan SSP pada saat menyampaikan tagihan kepada Bendaharawan
Pemerintah atau KPKN, baik untuk sebagian maupun seluruh pembiayaan
2. SSP sebagaimana dimaksud pada nomor 1 diisi dengan membubuhkan
NPWP dan identitas Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah yang
bersangkutan, tetapi penandatanganan SSP dilakukan oleh Bendaharawan
Pemerintah atau KPKN sebagai penyetor atas nama Pengusaha Kena Pajak
Rekanan Pemerintah
3. Dalam hal penyerahan BKP tersebut terutang PPnBM maka Pengusaha
Kena Pajak Rekanan Pemerintahan mencantumkan jumlah PPnBM yang
terutang pada Faktur Pajak
4. Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada nomor 1 dibuat dalam rangkap 3
5. Dalam hal pemungutan oleh Bendaharawan Pemerintah, SSP sebagaimana
dimaksud pada nomor 1 dibuat dalam rangkap 5.
6. Dalam hal pemungutan oleh KPPN, SSP sebagaimana dimaksud pada
nomor 1 dibuat dalam 4 rangkap
7. Pada lembar faktur pajak sebagaimana dimaksud pada nomor 4 oleh
Bendaharawan Pemerintah yang melakukan pemungutan wajib dibubuhi
cap Disetor tanggal.
8. Pada setiap lembar faktur pajak sebagaimana dimaksud pada nomor 4 dan
SSP sebagaimana dimaksud nomor 6 oelh KPKN yang melakukan
pemungutan dicantumkan nomor dan tanggal advis SPM
9. SSP lembar ke-1 dan lembar ke-2 sebagaimana dimaksud pada nomor 6
dibubuhi cap TELAH DIBUKUKAN oleh KPKN
10. Faktur pajak dan SSP merupakan bukti pemungutan dan penyetoran PPN
dan/atau PPnBM
Tata cara Pelaporan PPN dan PPnBM
1. Bendaharawan Pemerintah
2. KPKN
Tata cara pengawasan terhadap bendaharawan pemerintah
1. Pengawasan terhadap dipatuhinya ketentuan dan tata cara pemungutan
pajak oleh Bendaharawan Pemerintah dilakukan oleh KPKN di KPP yang
bersangkutan

PPnBM
Kegiatan-kegiatan berikut selain dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) juga
dikenakan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) :
1. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong Mewah yang
dilakukan oleh pengusaha yang menghasilkan