Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

GASTRO ENTERITIS PADA ANAK UMUR 1 TAHUN


A. PENGERTIAN
DIARE : Keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih
dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat
pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (Ngastiah, 2005)
DIARE : Perubahan konsistensi dari tinja ATAU bab (Depkes RI, 1989)
B. ETIOLOGI
1. Faktor infeksi
a.

Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan makanan yang


merupakan penyebab utama diare a\pada anak, infeksi enteral
meliputi sebagai berikut:
i.

Infeksi bakteri: vibrio, E.coli, salmonella, shigella,


campylobacter, yersinia, aeromonas, dsb.

ii.

Infeksi virus: Enterovirus, (virus ECHO, coxsackie,


poliomyelitis) Adeno-virus, rotavirus, astrovirus, dll.

iii. Infeksi parasit: Cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongyloides)


protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonscs
hominis) jamur (candida albicans)
b.

Infeksi parenteral yaitu infeksi di luar alat

pencernaan makanan

seperti otitis media akut (OMA), tonsillitis atau tonsilo faringitis,


bronkopneumonia, ensefalitis dsb. Keadaan ini terutama terdapat
pada bayi dan anak di bawah 2 tahun.
2. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat, disakarida (intoleransi laktosa, maltosa
dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan
galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering
(intoleransi laktosa).
Malabsorbsi lemak.
Malabsobsi protein
3. Faktor makanan (makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan)
4. Faktor psikologis, rasa tajut, dan cemas (jarang tetapi dapat terjadi pada
anak yang lebih besar)

C. TANDA DAN GEJALA


Sering BAB dengan konsistensi tinja cair/encer
Dehidrasi , turgor kulit lambat (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan
mata cekung, membran mukosa kering.
Kram abdominal
Demam,
Mual dan muntah
Anorexia
Lemah
Pucat
Perubahan TTV, Nadi, dan Pernafasan cepat
Pengeluaran urin menurun/ tidak ada
Kehilangan Cairan Menurut Derajat Dehidrasi pada anak dibawah 2 tahun
Derajat

PWL

NWL

CWL

Jumlah

Dehidrasi
Ringan

50

100

25

175

Sedang

75

100

25

200

Berat

125

100

25

200

Keterangan
PWL : Previous Water Loss (ml/kgBB)
(cairan yang hilang karena muntah)
NWL : Normal Water Losses (ml/kgBB)
(Cairan yang hilang melalui urine, kulit, pernapasan)
CWL : Concomitant Water Losses (ml/kgBB)
(Cairan hilang karena muntah hebat)
Cara memberikan dalam terapi dehidrasi
A. Dehidrasi Ringan (2-5%)
1 Jam pertama : 25-50 ml/kgBB peroral / Intragastrik
Selanjutnya : 125 ml/kgBB atau ad libitum
B. Dehidrasi sedang (5-10%)
1 Jam pertama :50-100 ml/kgBB peroral/ Intragastrik
Selanjutnya : 125 ml/kgBB/hari/ad libitum
C. Dehidrasi berat (>10%)
Untuk anak 1 bulan 2tahun dengan berat badan 3-10kg

1 Jam pertama : 40ml/kgBB/jam = 10 tetes /kgBB (set infus berukuran


1ml = 15 tetes) atau 13 tetes /kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes)
7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/jam = 3 tetes /kgBB (set infus 1ml = 15
tetes) atau 4 tetes/kgBB/menit (set infus 1ml = 20 tetes)
Jam berikutnya : 125 ml/kgBB oralit peroral /intragastrik. Bila anak tidak
mau minum, teruskan dengan aa intravena 2 tetes /kgBB/menit (set infus
1ml = 15tetes/ 3 tetes /kgBB/menit (set infus 1ml =20 tetes)
TANDA DAN GEJALA DEHIDRASI
No Gejala
1
Keadaan

Ringan
Haus, sadar, gelisah

Sedang
Haus, Gelisah

Berat
Ngantuk, lemah, shock,

Umum
Nadi

Normal

Cepat, kecil

koma
Cepat, kecil, bisa tak

Turgor

Ketika dicubit segera

Ketika dicubit

teraba
Ketika dicubit kembali

kembali dalam waktu

kembali

dalam waktu lebih dari 3

1-2 detik

dalam waktu

detik

Normal
Ada
Basah
Normal
40-50 ml/kgBB

2-3 detik
Cekung
Tidak
Kering
Oliguria
60-90

Sangat cekung
Tidak ada
Sangat Kering
Tak ada (anuria)
100-110ml/kgBB

4
5
6
7
8

Kelopak mata
Air mata
Selaput lendir
Urine
Hilang cairan

ml/kgBB
D. PATOFISIOLOGI
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi
1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan
gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia)
2. gangguan gizo akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran
bertambah)
3. Hipoglikemia
4. Gangguan sirkulasi darah

Patognesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare hdala

1. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus
yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkan sehingga
timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
selanjutnya timbal diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan Motilitas Usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan,
selanjutnya timbul diare pula
Patogenesis diare akut
Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil
melewati rintangan asam lambung
Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus
Oleh jasad renik dikeluarkan toksik (toksik diaregenik)
Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan
menimbulkan diare
Patogenesis Diare kronik
Lebih kompleks dan faktor-faktor yang menimbulkannya ialah infeksi bakteri,
parasit, malabsorbsi, malnutrisi dll.
E. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan Tinja
a. Makroskopis dan milroskopis
b. Ph dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet
clinitest bila diduga terdapat intoleransi gula
c. Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi
2. Pemeriksaan gangguan asam basa dalam darah dengan menentukan Ph
dan cadangan alkali / lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas
darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium kalsium dan fosfor
dan serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang)

5. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik /


parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik
F. KOMPLIKASI
1. Dehidrasi (ringan sedang, berat, hipotonik, isotonik / hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik
3. Hipokalemia
4. Hipoglikemia
5. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena
kerusakan vili mukosa usus halus
6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik
7. Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama / kronik
G. DIAGNOSA
1. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
2. Resiko gangguan integritas kulit pada anus karena BAB bersifat asam
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya
intake (pemasukan) dan menurunnya absorbsi makanan dan cairan
H. INTERVENSI
1. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
Intervensi :
Beri salam terapeutik
R : membina hubungan saling percaya pada klien dan keluarga
Jelaskan pada orangtua tentang masalah anak
R : Dengan memberi penjelasan kepada orang tua maka orang tua paham
dengan sakit yang diderita anaknya
Observasi pemberian cairan infus
R : mengetahui kebutuhan cairan yang masuk dalam tubuh
Beri cairan peroral sesuai dengan kebutuhan tubuh
R : memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh yang hilang melalui feses
Timwork dalam pemberian terapi
R : mengobati patogen khusus yang menyebabkan diare
Observasi TTV
R : Mengetahui perkembangan kondisi klien

2. Resiko gangguan integritas kulit pada anus karena BAB bersifat asam

Intervensi :
Kaji kerusakan kulit / iritasi anus setiap BAB
R : mengetahui terjadinya iritasi pada anus
Gunakan kapas lembab dan sabun bayi untuk membersihkan anus setiap
BAB
R : menghindari iritasi pada anus klien
Hindari pakaian dan pengalas tempat tidur yang lembab
R : melindungi kulit klien dari iritasi
Ganti popok / kain apabila lembab / basah
R : menjaga agar kulit tetap bersih dan kering
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya
intake (pemasukan) dan menurunnya absorbsi makanan dan cairan
Intervensi :
Timbang berat badan anak setiap hari
R : Mengetahui BB pada status gizi anak
Monitor intake dan output (pemasukan dan pengeluaran)
R : mengetahui keseimbangan intake dan output
Hindari minuman buah-buahan
R : mencegah usus lebih banyak menyerap serat
Pemberian ASI tetap diteruskan
R : memenuhi kebutuhan ASI pada anak

DAFTAR PUSTAKA
1. Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit edisi 2 . Jakarta : EGC
2. Suriadi, Skp .2001. Asuhan Keperawatan Pada anak . Jakarta
3. Departemen Kesehatan RI pusat pendidikan tenaga kesehatan. 1989. Perawatan
Bayi dan Anak . Jakarta : Bakti Husada
4. Donna L, Wong. 2003. Pedoman klinis Keperawatan Anak . Jakarta : EGC