Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan nasional dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang
berkualitas.Salah satufaktor yang mempengaruhi sumber daya manusia
manusia adalah faktor kesehatan yangmemegang peranan penting.Oleh
karena itu pola aktivitas yang padat dan kurangnya memperhatikan asupan
nutrisi adekuat serta banyaknya mengkonsumsi makanan yang bersifat asam
atau pedas merupakan salah satu faktor pencetus dari penyakit
gastritis.Gastritis bukanlah penyakit tunggal, tetapi beberapa kondisi yang
mengacu pada peradangan lambung yang merupakan akibat dari infeksi
bakteri yaitu Helicobacter Pylory (Santoso, 2015). Menurut Syam
(2014),gastritis merupakan suatu proses peradangan pada lapisan mukosa
dan sub-mukosa lambung yang ditandai dengan nyeri pada daerah perut dan
kadang disertai dengan mual dan muntah, yang dapat berujung pada
perdarahan saluran cerna apabila tidak segera dilakukan tindakan
keperawatan (Wijaya, 2013).
Menurut badan penelitian kesehatan dunia (WHO) yang dikutip oleh
Kurnia (2010) angka kejadian gastritis di dunia sekitar 1,8-2,1 juta dari
jumlah penduduk setiap tahun.Gastritis biasanya dianggap sebagai suatu hal
yang remeh namun gastritis merupakan awal dari sebuah penyakit yang dapat
menyusahkan kita.Sementara itu angka kejadian penyakit gastritis di
Indonesia adalah 40,8%. Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di
Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396 kasus dari 238,452,952
1

jiwa penduduk. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2009, gastritis


merupakan salah satu penyakit di dalam sepuluh penyakit terbanyak pada
pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah penderita
penyakit gastritis 30.154 kasus (4,9%). Berdasarkan data Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Timur(2012), pada pasien rawat inap yang menderita penyakit
gastritis di Rumah Sakit Umum Pemerintah ada 172 kasus.Sedangkan
penderita gastritis di Rumah Sakit dr. Soeroto Ngawi dari tahun2014,jumlah
penderita penyakit gastritis ada 220 kasus dengan 4 kematian, sedangkan
tahun 2015 sampai dengan bulan Agustus ada 124 kasus dengan 8 kematian
(Data Rekam Medik RSUD Dr.Soeroto Ngawi).
Mukosa barier lambung umumnya melindungi lambung dari pencernaan
terhadap lambung itu sendiri, yang disebut proses autodigesti acid,
prostaglandin yang memberikan perlindungan ini. Ketika mukosa barier ini
rusak maka timbul gastritis. Setelah barier ini rusak terjadilah perlukaan
mukosa dan diperburuk oleh histamin dan stimulasi saraf colinergic.
Kemudian HCL dapat berdifusi balik kedalam mucus dan menyebabkan luka
pada pembuluh yang kecil, yang mengakibatkan tercadinya bengkak,
perdarahan, dan erosi pada lambung (Dermawan dan Rahayuningsih, 2010).
Gastritis akut merupakan penyakit yang biasanya bersifat jinak dan swasirna;
merupakan respons mukosa lambung terhadap berbagai iritan lokal.
Endotoksin bakteri (setelah menelan makanan terkontaminasi), kafein,
alkohol, dan aspirin merupakan agen pencetus yang lazim. Infeksi H. pylori
lebih sering dianggap sebagai penyebab gastritis akut. Organisme tersebut
melekat pada epitel lambung dan menghancurkan lapisan mukosa pelindung,

meninggalkan daerah epitel yang gundul. Obat lain juga terlibat, misalnya
anti inflamasi nonsteroid (NSAID: misalnya indomestasin, ibuprofen,
naproksen), sulfonamida, steroid, dan digitalis. Asam empedu, enzim
pankreas, dan etanol juga diketahui mengganggu sawar mukosa lambung
(Price & Wilson, 2002). Kemudian masalah keperawatan yang muncul adalah
gangguan rasa nyaman nyeri karena adanya mukosa lambung yang teriritasi,
kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, ansietas, kurang pengetahuan
tentang penyakit, oleh karena itu perlu dilakukan tindakan asuhan
keperawatan (Doenges, 2014).
Tindakan keperawatan seperti mengkaji pasien dengan gastritis akut atau
kronis , haruslah dengan hati-hati pada faktor risiko. Pertimbangkan diet,
pola makan, serta penggunaan resep dan obat-obatan bebas, juga gaya hidup,
termasuk konsumsi alkohol dan merokok. Untuk mengurangi nyeri yang
dirasakan, fokuslah pada pengajaran tentang penyebab gastritis dan makanan
yang mungkin memperburuk penyakit. Bantu untuk mengkaiji faktor-faktor
yang dapat memicu peningkatan manfestasi, seperti stres atau kelelahan,
meminum obat-obatan tertentu saat perut kosong, konsumsi makanan dan
minuman, konsumsi alkohol, serta merokok (Black, 2014).
Alumunium hidroksida dengan magnesium karbonat adalah antasida
terbaik untuk gastritis. Reseptor H2 antagonis, penghambat pompa proton, dan
obat antisekresi juga dapat menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan. Jika
terjadi mual dan muntah parah, maka batasi asupan per oral pasien sampai
masalah keperawatan menurun. Ketika nyeri dan mual yang berhubungan
dengan

gastritis

telah

mereda,

pasien

dapat

diinstruksikan

untuk

mengonsumsi diet seimbang dan menghindari makanan dan minuman yang


menyebabkan iritasi pada mukosa lambung (Black, 2014).
1.2 Rumusan Masalah
Untukmelakukan

kajian

lebih

lanjut

dengan

malakukan

asuhan

keperawatan gastritis dengan membuat rumusan masalah sebagai berikut


Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan gastritis di Rumah
Sakit dr. Soeroto Ngawi tahun 2016?.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi asuhan keperawatan pada klien dengan Gastritisdi
ruang penyakit dalam Rumah Sakit dr. Soeroto Ngawi Tahun 2016.
1.3.2

Tujuan Khusus
1 Mengkaji klien dengan Gastritis di ruang penyakit dalam RSUD dr.
2

Soeroto Ngawi Tahun 2016.


Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan Gastritis di

ruang penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi Tahun 2016.


Merencanakan asuhan keperawatan pada klien dengan Gastritis di

ruang penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi Tahun 2016.


Melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan Gastritis di

ruang penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi Tahun 2016.


Mengevaluasi klien dengan Gastritis di ruang penyakit dalam RSUD

dr. Soeroto Ngawi Tahun 2016.


Mendokumentasikan asuhan keperawatan klien dengan Gastritis di

ruang penyakit dalam RSUD dr. Soeroto Ngawi Tahun 2016.


1.4 Manfaat Penulisan
Terkait dengan tujuan, maka tugas akhir ini diharapkan dapat memberi
manfaat :
1

Bagi Akademis.

Hasil studi kasus ini merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan


khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada klien dengan Gastritis di
2

RSUD dr. Soeroto Ngawi.


Bagi Pelayanan keperawatan di Rumah Sakit.
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan dan tambahan bagi
pelayanan di Rumah Sakit agar dapat melakukan asuhan keperawatan
klien dengan gastritis dengan baik.

Bagi Profesi kesehatan.


Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan
pemahaman yang lebih baik tentang asuhan keperawatan pada klien
dengan gastritis.

Bagi Peneliti.
Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti
berikutnya, yang akan melakukan studi kasus pada asuhan keperawatan
pada klien dengan gastritis.

1.5 Metode Penulisan


1.5.1 Metode
Jenis penulisan yang digunakan adalah studi kasus sebagai salah satu
jenis pendekatan diskripsi yaitu penelitian yang dilakukan secara intensif,
terperinci dan mendalam terhadap individu atau gejala tertentu terhadap
keadaan atau kejadian sebagai kasus dengan menggunakan cara-cara yang
sistematis dalam melakukan pengamatan, pengumpulan data, analisis

informasi, dan pelaporan hasilnya. Pendekatan studi kasus adalah suatu


pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterprestasikan
suatu kasus dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi pihak
luar (Nasir dkk, 2011).
1.5.2
1

Teknik Pengumpulan Data


Wawancara
Merupakan tehnik pengumpulan data secara langsung melalui tatap
muka dan berupa pertanyaan yang diajukan oleh perawat kepada klien,
tenaga kesehatan, atau orang lain yang berkepentingan seperti keluarga,
teman, dan orang terdekat klien (Asmadi, 2008).

Observasi
Merupakan metode pengumpulan data melalui pengamatan visual
dengan menggunakan panca indra (Asmadi, 2008).

Pemeriksaan
Merupakan metode pengumpulan data melalui pemeriksaan fisik
dengan metode inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi, pemeriksaan
laboratorium dan rontgen (Hidayat, 2008).

1.5.3
1

Sumber Data
Data Primer
Data Primer adalah data yang didapatkan dari klien untuk menggali
informasi mengenai masalah kesehatan klien (Setiadi, 2012).

Data Sekunder
Data Sekunder adalah data atau informasi yang didapat dari orang tua,
suami atau istri, teman klien atau orang terdekat klien (Setiadi, 2012).

Data tersier

Data yang diperoleh dari catatan klien, rawayat penyakit klien,


konsultasi, hasil pemeriksaan diagnostik, catatan medis dari anggota tim
kesehatan lain, perawat lain, kepustakaan (Setiadi, 2012).
1.5.4

Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan merupakan penilaian yang dilaksanaan dengan
menggunakan literatur atau kepustakaan baik berupa buku, catatan, maupun
laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu (Sangadji dan Sopiah, 2010).

1.6

Sistematika Penulisan
Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami
studi kasus ini, secara keseluruhan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1 Bagian awal, memuat halaman judul, persetujuan komisi pembimbing,


pengesahan, kata pengantar, daftar isi.
2 Bagian inti, terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab
berikut :
1 BAB 1 : Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, tujuan,
manfaat penelitian, metode dan sistematika penulisan studi
kasus.
2

BAB 2 : Tinjauan Pustaka, berisi tentang konsep asuhan keperawatan


maternitas dari sudut medis dan Asuhan Keperawatan pada
pasien dengan diagnosa medis gastritis, serta kerangka
masalah.

BAB 3 : Tinjauan Kasus, berisi tentang diskripsi data hasil pengkajian,


diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

BAB 4 : Pembahasan, berisi tentang perbandingan antara teori dengan


kenyataan yang ada dilapangan.

1.6.3

5 BAB 5 : Penutup, berisi tentang simpulan dan saran.


Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Dalam bab 2 ini akan diuraikan secara teoritis mengenai konsep
penyakit dan asuhan keperawatan gastritis. Konsep penyakit yang
diuraikan definisi, etiologi dan cara penanganan secara medis. Asuhan
keperawatan akan diuraikan masalah-masalah yang muncul pada gastritis
dengan melakukan asuhan keperawatan yan terdiri dari pengkajian,
diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
2.1 Konsep Penyakit
2.1.1 Pengertian
Gastritis merupakan suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa
dan sub-mukosa lambung. Secara histopatologi dapat dibuktikan
dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut.(Syam,
2014). Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan
mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus,atau
lokal( Price, 2006).
Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung klinis yang
ditemukan berupa dispepsia atau indigesti berdasarkan pemeriksaan
endoskopi

ditemukan

eritema

mukosa,

sedangkan

hasil

foto

memperlihatkan iregulalitas mukosa (Brunner & Suddarth, 2015).


2.1.2

Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan


Lambung terletak di daerah epigastrik dan sebagian di sebelah kiri
hipokondrik dan umbilikal.Bagian atas disebut fundus dan bagian
bawah disebut antrum pilorik.Berhubungan dengan esofagus melalui
spinkter kardia dan duodenum melalui spinkter pilorik (Evelyn, 2002).

10

Gambar 1.1 : Anatomi Lambung (Sobotta, 2006).


Struktur lambung menurut (Evelyn, 2002) :
1) Lapisan peritoneal yang merupakan lapisan serosa
2) Lapisan otot
a) Lapisan longitudinal yag bersambung dengan esofagus
b) Lapisan sirkuler yang paling tebal dan terletak di pilorik
membentuk spinkter.
c) Lapisan obliq yang terdapat pada bagian fundus dan berjalan mulai
dari orifisium cardiac, membelok ke bawah melalui kurvatura
minor.
3) Lapisan sub mukosa terdiri dari jaringan areolar yg banyak
mengandung pembuluh darah dan limfe.

11

4) Lapisan mukosa berbentuk rugae (kerutan), dilapisi epitelium


silindris yg mensekresi mukus.
Terdapat 3 tipe sel sekresi dalam mukosa lambung:
a. Sel-sel parietal, mensekresi asam hidroklorik (HCl)
b. Faktor-faktor instrinsik; sel-sel chief yang mensekresi enzim
pencernaan seperti : pepsinogen
c. Sel-sel gastrin pada kelenjar pilorik, mensekresi hormon gastrin.
d. Pepsinogen disekresikan sebagai prekusor tidak aktif, yang
diaktifkan oleh HCl menjadi pepsin (enzim pemecah protein)
e. Mensekresi lipase dan amilase (pemecah lemak dan zat tepung
atau KH).
f. Gastrin, hormon yang mengatur lingkungan asam
Menurut (Evelyn, 2002) Lambung dan saluran pencernaan yang
dapat mekar paling banyak terletak di epigastrik dan sebagian di
sebelah kiri hepokondria umbilikalis, lambung terdiri fundus bagian
utama dan atrum pilorik.Lambung berhubungan dengan esofogus
melalui arifisium/kardia duodenum melalui arifisium pilorik. Lambung
terletakdibawah diafragma, di depan pankreas dan limpa menempel
pada sebelah kiri fundus. Lambung terdiri dari 4 lapisan :
1) Lapisan peritorial luar, yaitu lapisan serosa.
2) Lapisan berotot, terdiri dari serabut longitudinal, serabut sirleviar
dan serabut obilik.
3) Lapisan submukosa, terdiri dari jaringan areolar berisi pembulu
darah saluran limfe.
4) Lapisan mukosa terletak di dalam, tebal banyak larutan / rugae
membran mukosa di lapisi epiterium srinaris dan berisi banyak
saluran limfe. Semua sel-sel mengeluarkan secret mukus. Kelenjar
kardio terletak paling dekat lubung di selah usofagus. Kelenjar dari

12

fudus terdahulu bekerja, kelenjar turbuler dan berisi berbagai jenis


sel. Kelenjar dan saluran pilorik juga berbentuk tubuler.
Lambung menerima persediaan darah yang melimpah dari arteria
gastrika dan arteria irenalis persarafan diambil dari vagus dan plaxus
seliaka sisterna simpatis. Fungsi lambung yaitu :
1) Lambung menerima makanan dan bekerja sebagai penampung untuk
jangka pendek.
2) Semua makanan di cairkan dan di campur dengan asam hidro
3)
4)
5)
6)
7)

khlorida dengan cara ini disiapkan untuk dicerna oleh usus.


Protein dicerna menjadi pepton.
Susu dibekukan dan kasein di keluarkan.
Pencernaan lemak dimulai di dalam lambung.
Faktor anti anemia di bentuk
Khina yaitu isi lambung yang cair, di salurkan melalui duodenum.

1.1.11. Fisiologi Lambung


Lambung merupakan bagian dari saluran pencernaan yang berbentuk
seperti kantung, dapat berdilatasi, dan berfungsi mencerna makanan
dibantu oleh asam klorida (HCl) dan enzim-enzim seperti pepsin, renin,
dan lipase.Lambung memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi pencernaan
dan fungsi motorik. Sebagai fungsi pencernaan dan sekresi, yaitu
pencernaan protein oleh pepsin dan HCl, sintesis dan pelepasan gastrin
yang dipengaruhi oleh protein yang dimakan, sekresi mukus yang
membentuk selubung dan melindungi lambung serta sebagai pelumas
sehingga makanan lebih mudah diangkut, sekresi bikarbonat bersama
dengan sekresi gel mukus yang berperan sebagai barier dari asam lumen
dan pepsin. Fungsi motorik lambung terdiri atas penyimpanan makanan
sampai makanan dapat diproses dalam duodenum, pencampuran makanan

13

dengan asam lambung, hingga membentuk suatu kimus, dan pengosongan


makanan dari lambung ke dalam usus dengan kecepatan yang sesuai untuk
pencernaan dan absorbsi dalam usus halus (Price, 2006).
Lambung akan mensekresikan asam klorida (HCl) atau asam
lambung dan enzim untuk mencerna makanan. Lambung memiliki
motilitas khusus untuk gerakan pencampuran makanan yang dicerna dan
cairan lambung, untuk membentuk cairan padat yang dinamakan kimus
kemudian dikosongkan ke duodenum.Sel-sel lambung setiap hari
mensekresikan sekitar 2500 ml cairan lambung yang mengandung
berbagai zat, diantaranya adalah HCl dan pepsinogen.HCl membunuh
sebagian besar bakteri yang masuk, membantu pencernaan protein,
menghasilkan pH yang diperlukan pepsin untuk mencerna protein, serta
merangsang empedu dan cairan pankreas.Asam lambung cukup pekat
untuk menyebabkan kerusakan jaringan, tetapi pada orang normal mukosa
lambung tidak mengalami iritasi atau tercerna karena sebagian cairan
lambung mengandung mukus, yang merupakan faktor perlindungan
lambung (Ganong, 2001).
Sekresi

asam

lambung

dipengaruhi

oleh

kerja

saraf

dan

hormon.Sistem saraf yang bekerja yatu saraf pusat dan saraf otonom, yakni
saraf simpatis dan parasimpatis. Adapun hormon yang bekerja antara lain
adalah hormon gastrin, asetilkolin, dan histamin. Terdapat tiga fase yang
menyebabkan sekresi asam lambung.Pertama, fase sefalik, sekresi asam
lambung terjadi meskipun makanan belum masuk lambung, akibat
memikirkan atau merasakan makanan. Kedua, fase gastrik, ketika

14

makanan masuk lambung akan merangsang mekanisme sekresi asam


lambung yang berlangsung selama beberapa jam, selama makanan masih
berada di dalam lambung. Ketiga, fase intestinal, proses sekresi asam
lambung terjadi ketika makanan mengenai mukosa usus. Produksi asam
lambung akan tetap berlangsung meskipun dalam kondisi tidur. Kebiasaan
makan yang teratur sangat penting bagi sekresi asam lambung karena
kondisi tersebut memudahkan lambung mengenali waktu makan sehingga
produksi lambung terkontrol (Ganong, 2001).

2.1.3

Klasifikasi

Menurut Mansjoer (2003), gastritis diklasifikasikan menjadi 2 yaitu:


1. Gastritis akut
Gastritis

akut

merupakan

penyakit

yang

sering

ditemukan,

biasanyajinak dan dapat sembuh sendiri, merupakan respon mukosa


lambung terhadap berbagai iritan lokal.Endotoksin bakteri (setelah
makan makanan yang terkontaminasi) alkohol, kafein dan aspirin
merupakan agen-agen penyebab yang sering. Obat-obatan lain, seperti
NSAID (indometasin, ibuprofen, naproksen), sulfanamide, steroid dan
digitalis juga terlibat. Beberapa makanan berbumbu termasuk cuka,
lada, atau mustard, alkohol, aspirin, steroid, dan asam empedu yang
juga disebabkan oleh diet yang tidak benar, makan yang terlalu

15

banyak dan terlalu cepat atau makan makanan yang pedas dan terlalu
banyak bumbu.
2. Gastritis kronik
a. Gastritis kronik berhubungan dengan helicobacter pylori, apalagi
jika ditemukan ulkus pada pemeriksaan penunjang yang juga
menimbulkan atropi beberapa sel fungsional tunika mukosa.
b.

Penyebabnya tidak jelas, sering bersifat multi faktor dengan


perjalanan klinis yang bervariasi. Kelainan ini berkaitan erat dengan
infeksi .Dengan ditandai oleh atrofi progresif epitel kelenjar disertai
dengan kehilangan sel pametal dan chief cell. Akibatnya produksi
asam klorida, pepsin dan faktor intrinsik menurun. Dinding
lambung menjadi tipis dan mukosa mempunyai permukaan yang
rata. Bentuk gastritits ini sering dihubungkan dengan anemia
pernisiosa, tukak lambung dan kanker.

2.1.4

Etiologi
Menurut Misnadiarly (2009), penyebab gastritis yaitu obat- obatan
seperti aspirin, alkohol, trauma pada lambung, kelainan pembuluh darah
pada lambung, luka akibat operasi/bedah lambung, autoimun pada anemia
pernisiosa, adanya tumor pada lambung. Selain itu faktor kejiwaan atau
stressjuga berperan terhadap timbulnya serangan ulang penyakit tersebut,
kemudian juga gastropati reaktif dan infeksi khususnya padahelicobacter
pylori.

2.1.5

Gejala klinis

16

Tanda dan gejala dari gastritis menurut (Brunner &Suddarth, 2005)


yaitu rasa terbakar di lambung dan akan menjadi semakin parah ketika
sedang makan, disusul dengan nyeri ulu hati, mual dan sering muntah,
tekanan darah menurun, pusing, keringat dingin, nadi cepat, kadang berat
badan menurun , disertai dengan nasfu makan menurun secara drastis,
wajah pucat, suhu badan naik, keluar keringat dingin. Selain itu perut akan
terasa nyeri, pedih (kembung dan sesak) di bagian atas perut (ulu hati),
merasa lambung sangat penuh ketika sehabis makan, sering sendawa bila
keadaan lapar, sulit untuk tidur karena gangguan rasa sakit pada daerah
perut.
2.1.6

Patofisiologi
Mukosa barier lambung umumnya melindungi lambung dari
pencernaan terhadap lambung itu sendiri, yang disebut proses autodigesti
acid, prostaglandin yang memberikan perlindungan ini. Ketika mukosa
barier ini rusak maka timbul gastritis. Setelah barier ini rusak terjadilah
perlukaan mukosa dan diperburuk oleh histamin dan stimulasi saraf
colinergic. Kemudian HCL dapat berdifusi balik kedalam mucus dan
menyebabkan luka pada pembuluh yang kecil, yang mengakibatkan
tercadinya bengkak, perdarahan, dan erosi pada lambung (Dermawan dan
Rahayuningsih, 2010). Gastritis akut merupakan penyakit yang biasanya
bersifat jinak dan swasirna; merupakan respons mukosa lambung terhadap
berbagai iritan lokal. Endotoksin bakteri (setelah menelan makanan
terkontaminasi), kafein, alkohol, dan aspirin merupakan agen pencetus
yang lazim. Infeksi H. pylori lebih sering dianggap sebagai penyebab

17

gastritis akut. Organisme tersebut melekat pada epitel lambung dan


menghancurkan lapisan mukosa pelindung, meninggalkan daerah epitel
yang gundul. Obat lain juga terlibat, misalnya anti inflamasi nonsteroid
(NSAID: misalnya indomestasin, ibuprofen, naproksen), sulfonamida,
steroid, dan digitalis. Asam empedu, enzim pankreas, dan etanol juga
diketahui mengganggu sawar mukosa lambung (Price & Wilson, 2006).
Kemudian masalah keperawatan yang muncul adalah gangguan rasa
nyaman nyeri karena adanya mukosa lambung yang teriritasi, kebutuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, ansietas, kurang pengetahuan tentang
penyakit, oleh karena itu perlu dilakukan tindakan asuhan keperawatan
(Doenges, 2014)

2.1.7

Diagnosis
Menurut Brunner & Suddarth (2005) cara menegakkan diagnosis pada
Gastritis adalah :
1

Gastritis akut
Tiga cara dalam menegakkan diagnosis yaitu ganbaran lesi mukosa
akut dimukosa lambung berupa erosi atau ulkus dangkal sengan tepi
atas rata. Pada endoskopi dan gambaran radiologi.Dengan kontras
tunggaal sukar untuk melihat lesi permukaan yang superfisial, karena
itu sebaiknya digunakan kontras ganda.Secara umum endoskopi
saluran cerna bagian atas lebih sensitive dan spesifik untuk diagnosis
kelainan akut lambung.

18

Gastritis kronik
Diagnosa gastritis kronik ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
endoskopi dan dilanjuutkan dengan pemeriksaan histopatologi biopsy
mukosa lambung. Perlu pula dilakukan kultur untuk membuktikan
adanya infeksi Helicobacter Pylory apalagi jika ditemukan ulkus baik
pada lambung ataupun pada duodenum, mengingat angka kejadian
yang cukup tinggi yaitu hampir mencapai 100%. Dilakukan pula rapid
ureum test (CLO). Kriteria minimal untuk menegakkan diagnosa
Helicobacter Pillory, Jika hasil CLO dan atau PA positif.Dilakukan
pula pemeriksaan serologi untuk Helicobacter Pillory sebagai
diagnosis awal.

2.1.8

Komplikasi
Komplikasi gastritis menurut Mansjoer (2003), adalah :
1. Kompikasi gastritis akut
a. Perdarahan saluran cerna bagian atasberupa hematemesis dan

2.1.9

melena dapat berakhir sebagai syok hemoragik.


b. Tukak peptik.
2. Komplikasi gastritis kronis
a. Perdarahan saluran cerna bagian atas
b. Ulkus
c. Perforasi
d. Anemia Karena gangguan absorbsi vitamin B12
Pemeriksaan Penunjang
1. EGD (Esofagogastriduodenoskopi) = tes diagnostik kunci untuk
perdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan /
derajat.
2. ulkus jaringan /cedera.

19

3. Foto rontgen = dilakukan untuk membedakan diagnosa penyebab /


sisi lesi.
4. Analisa gaster= dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah,
mengkaji aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh :peningkatan
asam hidroklorik dan pembentukan asam nokturnal penyebab ulkus
duo denal. Penurunan atau jumlah normal diduga ulkus gaster,
dipersekresi berat dan asiditas menunjukkan sindrom Zollinger
Ellison.
5. Angiografi = vaskularisasi GI dapat dilakukan bila endoskopi tidak
dapat disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan
sirkulasi kolatera dan kemungkinan isi perdarahan.
6. Amilase serum= meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah
diduga gastritis (Doengoes, 2001).
2.1.10 Pencegahan
Tindakan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyakit gastritis
haruslah dengan hati-hati pada faktor risiko. Pertimbangkan diet, pola
makan, serta penggunaan resep dan obat-obatan bebas, juga gaya hidup,
termasuk konsumsi alkohol dan merokok. Untuk mengurangi nyeri yang
dirasakan, hindari makanan yang mengandung asam tinggi dan makanan
yang mungkin memperburuk penyakit. Bantu untuk mengkaiji faktorfaktor yang dapat memicu peningkatan manfestasi, seperti stres atau
kelelahan, meminum obat-obatan tertentu saat perut kosong, konsumsi
makanan dan minuman, konsumsi alkohol, serta merokok (Black, 2014).
2.1.11 Penatalaksanaan
Menurut Mansjoer (2003), faktor utama penatalaksanaan gastritis akut
adalah dengan menghilangkan etiologinya, diet lambung dengan porsi

20

kecil dan sering. Obat-obatan ditujukan untuk mengatur sekresi asam


lambung, berupa antagonis reseptor H2, inhibitor pompa proton,
antikolinergik, dan antasid.Juga ditujukan sebagai sitoprotektor, berupa
sukralfat dan prostaglandin.Sedangkan penatalaksanaan untuk gastritis
kronis adalah kemungkinan diberikan pengobatan empiris berupa antasid,
antagonis H2,inhibitor pompa proton dan obat-obat prokinetik. Jika
endoskopi dapat dilakukan terapi eradikasi kecuali jika hasil CLO, kultur
dan P ketiganya negatif atau hasil serologi negative. Terapi eradikasi juga
diberikan pada seleksi khusus pasien ang menderita penyakit- penyakit
seperti : ulkus duodeni, ulkus ventrikuli, MALT lymphoma, pasca reseksi
kanker lambung. Untuk penatalaksanaan diet menurut Nettina (2001),
yaitu makan makanan dengan kandungan serat yang tinggi, makanan
secara teratur dan terjadwal, hindari konsumsi kafein yang berlebihan,
cola, alkohol dan hindari merokok, akan meningkatkan tingkat
kesembuhan dan menurunkan kekambuhan.
2.1.11. Dampak Masalah
Masalah yang perlu diperhatikan dalam kasus penyakit gastritis adalah
gangguan rasa nyaman nyeri, kecemasan karena adanya ancaman
kesehatan, resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan, serta
resiko ketidakseimbangan cairan tubuh, ini merupakan prioritas utama
dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan pada penderita gastritis
(Muttaqin, 2013).
2.2 Konsep Kebutuhan Dasar Manusia
2.2.1

Pengertian Nyeri

21

Nyeri merupakan sensasi tidak menyenangkan yang terlokalisasi pada


suatu bagian tubuh. Nyeri seringkali dijelaskan dalam istilah proses
destrukif jaringan (seperti tertusuk-tusuk, panas terbakar, melilit, seperti
dirobek-robek, seperti diremas-remas) dan/atau suatu reaksi badan atau
emosi (misalnya perasaan takut, mual, mabuk). Telebih lagi, perasaan
nyeri dengan intensitas sedang sampai kuat disertai oleh rasa cemas
(ansietas) dan keinginan kuat untuk melepaskan diri dari atau
meniadakan perasaan itu. Sifat-sifat ini menunjukkan kualitas nyeri:
nyeri merupakan sensasi maupun emosi. Jika adekuat, nyeri secara
karakteristik berhubungan dengan perubahan tingkah laku dan respon
stres yang terdiri dari meningkatnya tekanan darah, denyut nadi,
kontraksi otot lokal (misalnya fleksi anggota badan, kekakuan dinding
abdomen). Selain itu, seseorang yang mengalami nyeri hebat akan
berkelanjutan

apabila

tidak

ditangani

pada

akhirnya

dapat

mengakibatkan syok neurogenik pada orang tersebut (Ganong, 2001).


Menurut Kozier dan Erb (1983) dalam Tamsuri (2007) nyeri adalah
sensasi ketidaknyamanan yang dimanifestasikan sebagai penderita yang
diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata, ancaman, dan fantasi luka.
2.2.2

Skala Nyeri
Pengkajian karakteristik umum nyeri membantu perawat mengetahui
pola nyeri dan tipe terapi yang digunakan untuk mengatasi
nyeri.Karakteristik nyeri meliputi awitan dan durasi, lokasi nyeri,
intensitas nyeri, kualitas dan tindakan-tindakan yang memperberat dan

22

memperingan

nyeri.

Ada

banyak

instrument

pengukur

nyeri,

diantaranya yang dikemukakan oleh:


1. Skala nyeri menurut Hayward :
0

= tidak nyeri.

1-3

=nyeri ringan.

4-6

= nyeri sedang.

7-9

=sangat nyeri, tetapi masih dapat dikontrol dengan aktivitas


yangbiasa dilakukan.

10

= sangat nyeri dan tidak bisa dikontrol.

2. Skala nyeri McGill (McGill scale) :


0 = tidak nyeri
1
2
3
4
5

= nyeri ringan
= nyeri sedang
= nyeri berat
= nyeri sangat berat
= nyeri hebat

Gambar 2.1. Skala FACES ( Mubarak dan Chayatin,2014)


3. Skala Intensitas Nyeri Deskritif
Menurut Brunner &Suddarth , (2005)
Keterangan :
0

: Tidak nyeri

23

1-3

Nyeri

ringan

secara

obyektif

klien

dapat

berkomunikasidenganbaik.
4-6

: Nyeri sedang : secara obyektif klien mendesis,


menyeringai,

dapatmenunjukkan

lokasi

nyeri,

dapat

mendeskripsikannya, dan dapatmengikuti perintah dengan


baik.
7-9

: Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat


mengikutiperintah tapi masih rssssespon terhadap tindakan,
dapat

menunjukkan

lokasi

nyeri,

tidak

dapat

mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi,


nafas panjang dan distraksi.
10

: Nyeri sangat berat : pasien sudah tidak mampu lagi


berkomunikasi.

2.2.3

Penatalaksanaan Nyeri
Menurut Potter & Perry (2005), penatalaksanaan nyeri dapat dibagi
menjadi dua cara, yaitu:
1) Manajemen Farmakologi
a) Analgesik Opioid/analgesik narkotika
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memilikisifatsifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini digunakan untuk
meredakan atau menghilangkan rasa nyeri seperti pada fractura dan
kanker.
Macam-macam obat Analgesik Opioid:
a. Metadon.

24

Mekanisme kerja: kerja mirip morfin lengkap, sedatif lebih


lemah.
Indikasi: Detoksifikas ketergantungan morfin, Nyeri hebat pada
pasien yang di rumah sakit.
Efek tak diinginkan:

1. Depresi pernapasan
2. Konstipasi
3. Gangguan SSP
4. Hipotensi ortostatik
5. Mual dam muntah pada dosis awal.
b. Fentanil.
Mekanisme kerja: Lebih poten dari pada morfin. Depresi
pernapasan lebih kecil kemungkinannya.
Indikasi: Medikasi praoperasi yang digunakan dalan anastesi.
Efek

tak

diinginkan:

Depresi

pernapasan

lebih

kecil

kemungkinannya. Rigiditas otot, bradikardi ringan.


c. Kodein
Mekanisme kerja: sebuah prodrug 10% dosis diubah menjadi
morfin. Kerjanya disebabkan oleh morfin. Juga merupakan
antitusif (menekan batuk).
Indikasi: Penghilang rasa nyeri minor

25

Efek tak diinginkan: Serupa dengan morfin, tetapi kurang hebat


pada dosis yang menghilangkan nyeri sedang. Pada dosis
tinggi, toksisitas seberat morfin.
b) Obat Analgetik Non-narkotik
Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga
sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik
Perifer. Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari
obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
Penggunaan

Obat

Analgetik

Non-Narkotik

atau

Obat

Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau


meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan
saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat
kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik
Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada
pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat
Analgetika jenis Analgetik narkotik). Efek samping obat-Obat
analgesik perifer: kerusakan lambung, kerusakan darah,
kerusakan hati dan ginjal, kerusakan kulit.
Macam-macam obat Analgesik Non-Narkotik:
a. Ibupropen
Ibupropen

merupakan

devirat

asam

propionat

yang

diperkenalkan banyak negara. Obat ini bersifat analgesik


dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek

26

analgesiknya sama dengan aspirin.Ibu hamil dan menyusui


tidak di anjurkan meminum obat ini.
b. Paracetamol/acetaminophen
Merupakan devirat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan
parasetamol

sebagai

menggantikan

analgesik

penggunaan

dan

salisilat.

antipiretik,
Sebagai

telah

analgesik,

parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena


dapat menimbulkan nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak
memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong.
Dalam sediaannya sering dikombinasikan dengan cofein yang
berfungsi

meningkatkan

efektinitasnya

tanpa

perlu

analgesik.

Asam

meningkatkan dosisnya.
c. Asam Mefenamat
Asam

mefenamat

digunakan

sebagai

mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga


interaksi dengan obat antikoagulan harus diperhatikan. Efek
samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya
dispepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.
c) Obat gastritis yag sering digunkan
1. Antasida.
mengandung kalsium karbonat dan magnesium hidroksida. Ada
yang berupa tablet atau cair. Antasida menetralisir asam lambung
dan dapat menghilangkan rasa sakit akibat asam lambung dengan
cepat.Beberapa Antasid juga mengandung simethicone yang dapat
menimbulkan gejala kelebihan gas.Minum Antasid saja atau

27

dikombinasi

dengan

simethicone

dapat

digunakan

untuk

menangani gejala maag.


Beberapa Antasid seperti aluminum karbonat dan aluminum
hidroksida dapat diresepkan dengan makanan rendah fosfat untuk
menangani hyperphosphatemia (terlalu banyak fosfat dalam
tubuh).Aluminum karbonat dan aluminum hidroksida dapat juga
digunakan dengan makanan rendah fosfat untuk mencegah batu
ginjal.
Penggunaan:
Untuk pasien yang menggunakan tablet kunyah: kunyahlah tablet
sebelum ditelan agar obat dapat bekerja lebih cepat dan efektif.
2. H2 antagonis seperti ranitidine, cimetidine, nizatidine, dan
famotidine yang berfungsi untuk mengurangi jumlah asam
lambung yang diproduksi.
Ranitidine adalah antihistamin penghambat reseptor H2 (AH2).
Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi asam lambung.
Dalam menghambat reseptor H2, ranitidine bekerja cepat, spesifik
dan reversibel melalui pengurangan volume dan kadar ion hidrogen
cairan lambung. Ranitidine juga meningkatkan penghambatan
sekresi asam lambung akibat perangsangan obat muskarinik atau
gastrin.
Ranitidine diekskresi terutama bersama urin dalam bentuk utuh
(30%) dan metabolitnya, serta sebagian kecil bersama feses.

28

Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung ranitidine hydrochloride
setara dengan 150 mg ranitidine base.
Indikasi:
Ranitidine digunakan untuk pengobatan tukak lambung dan
duodenum akut, refluks esofagitis, keadaan hipersekresi asam
lambung patologis seperti pada sindroma Zollinger-Ellison,
hipersekresi pasca bedah.

2) Manajemen non farmakologi


Banyak pasien dan anggota tim kesehatan cenderung untuk
memandang

obat

menghilangkan

sebagai

nyeri.

satu-satunya

Namun

begitu,

metode
banyak

untuk
aktivitas

kaperawatan nonfarmakologis yang dapat membantu dalam


menghilangkan nyeri.Meskipun ada beberapa laporan mengenai
ketidakefektifan tindakan-tindakan ini, sedikit diantaranya yang
belum dievaluasi melalui penelitian riset yang sistematik.Metode
pereda nyeri nonfarmakologis biasanya mempunyai resiko yang
sangat rendah.Meskipun tindakan tersebut bukan merupakan
pengganti

untuk

obat-obatan,

tindakan

tersebut

mungkin

diperlukan atau sesuai untuk mempersingkat episode nyeri yang


berlangsung hanya beberapa detik atau menit. Dalam hal ini,
terutama saat nyeri hebat yang berlangsung berjam-jam atau

29

berhari-hari, mengkombinasikan teknik nonfarmakologis dengan


bat-obatan

mungkin

cara

yang

paling

efektif

untuk

menghilangkan nyeri.
a. Bimbingan antisipasi
Imajinasi terbimbing adalah menggunakan imajinasi seseorang
dalam suatu cara yang dirancang secara khusus untuk mencapai
efek positf tertentu. Sebagai contoh, imajinasi terbimbing untuk
relaksasi dan meredakan nyeri dapat terdiri atas menggabungkan
suatu napas berirama lambat denfgan suatu bayangan mental
relaksiasi dan kenyamanan.Dengan mata terpejam, individu
diinstruksikan untuk membayangkan bahwa setiap napas yang
diekhalasi secara lambat ketegangan otot dan ketidak nyaman
dikeluarkan, menyebakan tubuh yang rileks dan nyaman.Setip
kali menghirup napas, pasien harus membayangkan energi
penyembuh dialairkan ke bagian yang tidak nyaman.Setiap kali
napas dihembuskan, pasien diinstruksikan untuk membayangkan
bahwa udara yang dihembuskan membawa pergi nyeri dan
ketegangan.
b. Distraksi
Distraksi, yang mencakup memfokuskan perhatian pasien pada
sesuatu selai pada nyeri, dapat menjadi stategi yang sangat
berhasil dan mungkin merupakan mekanisme yang bertnggung
jawab pada teknik kognitif efektif lainnya ( Arntz dkk., 1991;
Devine dkk., 1990). Sesorang, yang kurang menyadari adanya

30

nyeri atau memberikan sedikit perhatian pada nyeri, akan sedikit


terganggu oleh nyeri dan lebih toleransi terhadap nyeri. Distraksi
diduga dapat menurunkan persepsi nyeri dengan mensyimulasi
sistem kontrol desenden, yang mengakibatkan lebih sedikit
stimuli nyeri yang ditransmisikan ke otak. Keefektifan distraksi
tergantung pada kemampuan pasien untuk menerima dan
membangkitkan input sensori selain nyeri.
c. Relaksasi
Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri.Ada banyak
bukti yang menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam
meredakan nyeri punggung (Tunner dan Jensen, 1993; Altmaier
dkk.

1992).Beberapa

penelitian,

bagaimanapun,

telah

menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri


pasca operasi (Lorenti, 1991; Miller & Perry, 1990).Ini mungkin
karena relatif kecilnya otot-otot skeletal dalam nyeri pasca
operatif atau kebutuhan pasien untuk melakukan teknik relaksasi
tersebut agar efektif.
Teknik relaksasi yang sederhana terdiri atas napas abdomen
dengan frekuensi lambat, berirama.Pasien dapat memejamkan
matanya dan bernapas dengan perlahan dan nyaman.
d. Mengurangi persepsi nyeri
Stimulasi saraf transkutan (TENS) menggunakan unit yang
dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang dipasang pada kulit

31

untuk menghasilkan sensasi kesemutan , menggetar atau


menegung pada area nyeri. TENS telah digunakan baik pada nyeri
akaut dan kronik. TENS diduga dapat menurunkan nyeri dengan
menstimulasi reseptor tidak nyeri (non-nosiseptor) dalam area
yang sama seperti pada serabut yang menstrasmisikan nyeri.
Mekanisme ini sesuai dengan teori nyeri gate control.Reseptor
tidak nyeri diduga memblok transmisi sinyal nyeri ke otak pada
jaras asendens saraf pusat. Mekanisme ini akan menguraikan
keefektifan stimulasi kutan saat digunakan pada araea yang sama
seperti pada cedera. Sebagai contoh: saat TENS digunakan pada
pasien pasca operatif elektroda diletekkan disekitar luka bedah.
e. Stimulasi kutaneus
Terori gate kontrol nyeri seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya,

bertujuan

menstimulasi

serabut-serabut

yamg

menstransmisikan sensasi tidak nyeri memblok atau menurunkan


transmisi, impuls nyeri.Beberapa strategi penghilan nyeri
nonfarmakologis.Termasuk menggosok kulit dan menggunakan
panas dan dingin, adalah berdasarkan mekanisme ini.
Masase adalah stimulasi kutaneus tubuh secara umum, sering
dipusatkan pada punggung dan bahu. Masase tidak secara spesifik
menstimulasi reseptor yang sama seperti reseptor nyeri tetapi
dapat mempunyai dampak melalui sistem control desenden.
Masase dapat membuat pasien lebih nyaman karena masase
membuat relaksasi otot

32

2.3 Cemas
Cemas merupakan suatu perasaan yang tidak nyaman atau
kekhawatiran yang samar disertai respons autonom, biasanya sumber
sering kali tidak diketahui oleh individu (Herdman,T. Heather,2012).
Tingkatan ansietas :
1. Cemas ringan

Berhubungan

dengan

ketegangan dalam peristiwa sehari-hari, persepsi


terhadap lingkungan meningkat, tidak dapat duduk
2. Cemas sedang

dengan tenang, tremor halus pada tangan.


: Sering nafas pendek, memusatkan perhatian pada
hal yang penting, terlihat lebih tegang.

3. Cemas berat

: Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja


dan mengabaikan hal yang lain, nadi dan tekanan
darah meningkat, perasaan terancam meningkat dan
komunikasi menjadi terganggu.

4. Panik

: Tidak dapat berfikir logis, tidak mampu memahami


Situasi, dapat membahayakan diri sendiri dan orang
lain. (Asmadi, 2008).

2.3.1

Penatalaksanaan Cemas

a. Penatalaksanaan Farmakologi
Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine, obat ini
digunakan untuk jangka pendek, dan tidak dianjurkan untuk jangka
panjang

karena

pengobatan

ini

menyebabkan

toleransi

dan

ketergantungan. Obat anti kecemasan nonbenzodiazepine, seperti buspiron


(Buspar) dan berbagai antidepresan juga digunakan (Isaacs, 2005).

33

b. Penatalaksanaan non farmakologi


1. Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan kecemasan dengan
cara mengalihkan perhatian pada hal-hal lain sehingga pasien akan lupa
terhadap cemas yang dialami. Stimulus sensori yang menyenangkan
menyebabkan pelepasan endorfin yang bisa menghambat stimulus cemas
yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli cemas yang ditransmisikan ke
otak (Potter & Perry, 2005)
2. Relaksasi
Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa relaksasi, meditasi,
relaksasi imajinasi dan visualisasi serta relaksasi progresif (Isaacs, 2005).
2.4 Cairan dan Elektrolit
Sebagai makhluk hidup manusia membutuhkan cairan dan elektrolit
untuk

kelangsungan

hidupnya

agar

dapat

mempertahankan

kesehatannya.Cairan yang masuk kedalam tubuh harus sesuai jumlah dan


proporsi yang tepat diberbagai jaringan tubuh.air menempati proporsi yang
besar dalam tubuh. Air tersimpan dalam dua kompartemen utama dalam
tubuh yaitu cairan intraseluler (CIS) dan Cairan ekstraseluler (CES).
Cairan intraseluler merupakan cairan yang berada dalam sel tubuh dan
menyusun sekitar 70% dari total cairan tubuh. Sedangkan cairan
ekstraseluler merupakan cairan yang terdapat diluar sel dan menyusun
sekitar 30% dari total cairan tubuh. Pada cairan ektraseluler berperan
dalam memberi bahan makanan bagi sel dan mengeluarkan sampah sisa
metabolisme, cairan ektraseluler dibagi menjadi dua yaitu cairan
interstitial (celah antar sel) misalnya cairan peritoneal dan cairan

34

intravaskuler yaitu cairan pada pembuluh darah dan merupakan plasma.


(Mubarak dan Chayatin, 2014).
2.5 Nutrisi
Nutrisi merupakan proses pemasukan dan pengolahan zat makanan oleh
tubuh yang bertujuan menghasilkan energy dan digunakan dalam aktivitas
tubuh (Alimul, 2012).
Sistem yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah
sistem pencernaan yang terdiri atas saluran pencernaan dan organ
sensoris.Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai usus halus bagian
distal, sedangkan organ asesoris terdiri atas hati, kantong empedu, dan
pancreas.Ketiga organ ini membantu terlaksananya sistem pencernaan
makanan secara kimiawi (Alimul, 2012).
2.5.1

Penatalaksanaan Nutrisi Pada Gastritis


Pada penderita gastritis, diet seimbang merupakan fokus utama dalam
masalah gizi pasien. Makan makanan dengan kandungan serat yang tinggi,
makanan secara teratur dan terjadwal, hindari konsumsi kafein yang
berlebihan, cola, alkohol dan hindari merokok, akan meningkatkan tingkat
kesembuhan dan menurunkan kekambuhan (Nettina, 2001).

2.6 Aktivitas
Aktivitas adalah suatu energy atau keadaan bergerak dimana manusia
memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup (Tarwoto &
Wartonah, 2006).
2.6.1

Penatalaksaan
Untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan fleksibelitas sendi,
maka pengaturan posisi dengan cara mempertahankan posisi dalam postur

35

tubuh yang benar. Cara ini dapat dilakukan dengan membuat sebuah
jadwal tentang perubahan posisi selama kurang lebih setengah jam.
Ambulasi dini dapat dilakukan dengan cara melatih posisi duduk di tempat
tidur, turun dari tempat tidur, dan kegiatan ini dapat dilakukan secara
berangsur-angsur. Latihan ROM, baik secara aktif maupun pasif karena
ROM merupakan tindakan untuk mengurangi kekakuan sendi dan
kelelahan pada otot (Hidayat, 2014).
2.7 Konsep Proses Keperawatan
2.7.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan proses
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi

dan

mengidentifikasi

status

kesehatan

klien

(Setiadi,2012).
Data tersebut berasal dan pasien (data primer), dan keluarga (data
sekunder) dan data dan catatan yang ada (data tersier). Pengkajian
dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan melalui wawancara,
observasi langsung, dan melihat catatan medis, adapun data yang
diperlukan pada klien Gastritis adalah sebagai berikut :
1) Data dasar
Adapun data dasar yag dikumpulkan meliputi :
a. Identitas klien
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku
bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, tanggal masuk
rumah sakit dan diagnosa. medis.
b. Riwayat kesehatan sekarang

36

Biasanya klien mengeluh nyeri uluh hati dan perasaan tidak mau
makan, mual dan muntah serta mengalami kelemahan.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Kaji tentang peyakit apa yang pernah diderita oleh klien, apakah
klien memang mempunyai rwayat penyakit maag sebelumnya.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Lakukan pengkajian tentang riwayat penyakit keturuanan yang
berhubungan dengan penyakit gastritis, dan riwayat penyakit
keturunan lain yang ada dalam keluarga. Untuk penyakit gastritis
bukanlah termasuk penyakit keturunan.
e. Riwayat psikososial
Meliputi mekanisme koping yang digunakan klien untuk
mengatasi masalah dan bagaimana motivasi kesembuhan dan
cara klien menerima keadaannya.
f. Pola kebiasaan sehari-hari
Meliputi cairan, nutrisi, eliminasi, personal hygiene, istirahat
tidur, aktivitas dan latihan serta kebiasaan yang mempengaruhi
kesehatan.
2) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang dilakukan mualai dari ujung rambut sampai ujung
kaki dengan menggunakan 4 teknik yaitu palpasi, inspeksi, auskultasi
dan perkusi.
Menurut Doengoes (2014), data dasar pengkajian pasien dengan
gastritis adalah :

37

1) Aktivitas / Istirahat
Gejala

: kelemahan, kelelahan

Tanda

: takikardia, takipnea / hiperventilasi (respons terhadap


aktivitas).

2) Sirkulasi
Gejala :
a. Hipotensi (termasuk postural)
b. takikardia, disritmia (hipovolemia / hipoksemia)-kelemahan / nadi
perifer lemah
c. pengisian kapiler lambar / perlahan (vasokonstriksi)
d. Warna kulit: pucat, sianosis (tergantung pada jumlah kehilangan
darah) kelemahan kulit / membran mukosa = berkeringat
(menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikologik).
3) Integritas ego
Gejala : faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan
kerja), perasaan tak berdaya.
Tanda: tanda ansietas, misal : gelisah, pucat,berkeringat,perhatian
menyempit, gemetar, suara gemetar.
4) Eliminasi
Gejala:

:Riwayat

perawatan

di

rumah

sakit

sebelumnya

karena perdarahan gastro interitis (GI) atau masalah


yang berhubungan dengan GI, misal : luka peptik /
gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi area gaster.
Perubahan pola defekasi / karakteristik feses.

38

Tanda : nyeri tekan abdomen, distensi bunyi usus : sering


hiperaktif

selama

perdarahan.

perdarahan,

Karakteristik

feses

hipoaktif setelah
:

diare,

darah

warnagelap, kecoklatan atau kadang-kadang merah


cerah, berbusa, bau busuk (steatorea). Konstipasi
dapat terjadi (perubahan diet, penggunaan antasida).
Haluaran urine : menurun, pekat.
5) Makanan / Cairan
Gejala

: Anoreksia, mual, muntah (muntah yang


memanjang didugao bstruksi pilorik bagian
luar sehubungan dengan luka duodenal).
Masalah menelan : cegukan Nyeri ulu hati,
sendawa bau asam,

Tanda: muntah

mual / muntah.

: warna kopi gelap atau merah cerah, dengan


atau tanpa bekuan darah. Membran mukosa
kering,

penurunan

produksi

mukosa,

turgor kulit buruk (perdarahan kronis).


6) Neurosensi
Gejala

: rasa berdenyut, pusing / sakit kepala karena sinar,


kelemahan.

Status mental :tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang dari


agak cenderung tidur, disorientasi / bingung,
sampai koma (tergantung pada volume sirkulasi /
oksigenasi).

39

7) Nyeri / Kenyamanan
Gejala : nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa
terbakar, perih, nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai
perforasi. Rasa ketidaknyamanan / distres samar-samar
setelah makan banyak dan hilang dengan makan
(gastritis akut). Nyeri epigastrum kiri sampai tengah /
atau menyebar ke punggung terjadi 1-2 jam setelah
makan dan hilang dengan antasida (ulkus gaster). Nyeri
epigastrum kiri sampai / atau menyebar ke punggung
terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung
kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus
duodenal). Tak ada nyeri (varises esofegeal atau
gastritis). Faktor pencetus : makanan, rokok, alkohol,
penggunaan obat-obatan tertentu (salisilat, reserpin,
antibiotik, ibuprofen), stresor psikologis.
Tanda

: wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit,


pucat, berkeringat, perhatian menyempit.

8) Keamanan
Gejala

: alergi terhadap obat / sensitif

Tanda

:peningkatan suhu Spider angioma, eritema palmar


(menunjukkan sirosis / hipertensi portal).

9) Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala

: adanya penggunaan obat resep / dijual bebas yang


mengandung

ASA,

alkohol,

steroid. NSAID

40

menyebabkan perdarahan GI. Keluhan saat ini dapat


diterima karena (misal : anemia) atau diagnosa yang tak
berhubungan (misal : trauma kepala), flu usus, atau
episode muntah berat. Masalah kesehatan yang lama
misal : sirosis, alkoholisme, hepatitis, gangguan makan
(Doengoes, 2014).
3) Pemeriksaan Diagnostik
Menurut priyanto (2006), pemeriksaan diagnostik yang dianjurkan
untuk pasien gastritis adalah :
a. Pemeriksaan darah
b. Pemeriksaan endoskopi.
c. Pemeriksaan hispatologi biopsy segmen lambung.
2.7.2

Analisa Data
Analisa data adalah Kemampuan pengembangan daya pikir dan
penalaran data keperawatan sesuai dengan kaidah-kaidah dalam ilmu
keperawatan untuk mendapatkan sebuah kesimpulan untuk membahas
permasalahan keperawatan (Ali, 2012).

2.7.3

Diagnosa Keperawatan
Sebelum membuat diagnosa keperawatan maka data yang terkumpul
diidentifikasi untuk menentukan masalah melalui analisa data,
pengelompokkan data dan menentukan diagnosa keperawatan.Diagnosa
keperawatan adalah keputusan atau kesimpulan yang terjadi akibat dari
hasil pengkajian keperawatan. Menurut Doengoes (2001), diagnosa
keperawatan pada klien dengan gastritis adalah :

41

1. Gangguan keseimbangan cairan kurang dan kebutuhan tubuh


berhubungan dengan intake yang kurang dan pengeluaran yang
berlebihan.
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan mukosa
lambung yang teriritasi.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan anoreksia.
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya rasa nyeri dan
nausea.
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya kelemahan fisik
6. Ansietas/

ketakutan

berhubungan

dengan

perubahan

statuskesehatan, ancaman kematian, nyeri.


7. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaan
berhubungan dengan informasi yang kurang.
2.7.4

Perencanaan
Rencana asuhan keperawatan yaitu pengkajian yang sistematis dan
identifikasi masalah, penentuan tujuan, pelaksanaan serta cara atau
strategi yang disusun dengan tujuan untuk menanggulangi masalah
keperawatan dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan
berdasarkan prioritas masalah pasien ( Nasrul, 2012) yaitu:
1. Gangguan keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang kurang dan pengeluaran yang
berlebihan.

42

Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan intake


klien terpenuhi.
Kriteria Hasil :
a. Intake terpenuhi
b. TTV dalam batas normal (TD : 120/80 mmHg, N : 60-80 x/mnt,
S: 36-37 C)
c. Turgor kulit elastis
Rencana tindakan :
a. Kaji turgor kulit
Rasional : indikator dehidrasi atau hipovolemia, keadekuatan
penggantian cairan.
b. Catat intake dan output cairan
Rasional : mengganti cairan untuk masukan kalori yang
berdampak pada keseimbangan elektrolit.
c. Pertahankan intake oral dan tingkatkan sesuai toleransi
Rasional : mengurangi terjadinya dehidrasi.
d. Hindari cairan yang bersifat asam yang dapat meningkatkan asam
lambung.
Rasional : makanan atau minuman yang dapat merangsang asam
lambung dapat mengakibatkan mual dan muntah.
e. Observasi TTV
Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi.
f. Kolaborasi dalam pemberian antiemetik
Rasional : mengurangi mual dan muntah.

43

2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan mukosa


lambung yang teriritasi.
Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah
gangguan rasa nyaman : nyeri teratasi.

Kriteria Hasil :
a. Rasa nyeri berkurang
b. Keadaan klien tampak rileks
c. Skala nyeri : 0- 3
d. TTV dalam batas normal (TD : 120/80 mmHg, N : 60-80 x/mnt, RR : 16-20
x/mnt, S : 36-37 C)
e. Tidak ada perilaku distraksi
Rencana tindakan :
a. Catat lokasi, lama, intensitas nyeri
Rasional : identifikasi karakteristik nyeri dan factor yang
berhubungan untuk memilih intervensi.
b. Kompres hangat pada daerah nyeri
Rasional : meningkatkan relaksasi otot.
c. Observasi TTV
Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi.
d. Berikan posisi yang nyaman
Rasional : menurunkan rasa nyeri.
e. Ajarkan teknik manajemen nyeri

44

Rasional : menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat


mengurangi rasa nyeri.
f. Kolaborasi dalam pemberian analgetik
Rasional : menghilangkan nyeri sedang sampai berat.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan anoreksia.

Tujuan :setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

diharapkan

kebutuhan nutrisi terpenuhi.


Kriteria Hasil :
a. Nafsu makan bertambah
b. Mual dan muntah berkurang
c. Makan habis 1 porsi
d. Berat badan bertambah secara bertahap
Rencana tindakan :
a. Kaji faktor penyebab klien tidak nafsu makan
Rasional : menentukan intervensi selanjutnya.
b. Berikan makanan yang hangat dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional : dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makanan
terlalu cepat.
c. Hindari pemberian makanan yang dapat merangsang peningkatan asam
lambung.
Rasional : mengurangi pemberian asam lambung yang dapat
menyebabkan mual dan muntah.

45

d. Hilangkan bau-bau yang menusuk dari lingkungan.


Rasional : menurunkan stimulasi gejala mual dan muntah.
e. Tanyakan pada klien tentang makanan yang disukai atau tidak disukai.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiemetic dan antibiotik.
Rasional : menghilangkan mual.
g. Kolaborasi dengan dokter ahli gizi.
Rasional : Menentukan diit makanan yang tepat.
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya rasa nyeri, nausea,
(Doenges, 2001).
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x 24 jm
diharapkan Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi.
Kriteria hasil :
a. Melaporkan peningkatan rasa sehat dan merasa dapat istirahat
b. Tidur tidak mengalami gangguan/ terbangun dini.

Rencana tindakan:
a. Observasi dan diskusikan kemungkinan penyebab gangguan tidur.
b. Berikan

lingkungan

yang

nyaman

bagi

pasien

untuk

meningkatkan tidur dan istirahat.


c. Bandingkan pola tidur pasien saat ini dengan kebiasaan tidur
sebelum dirawat.

46

d. Tingkatkan relaksasi pada waktu tidur : pilih tindakan yang


disetujui pasien misalnya memberikan musik yang lembut.
5. Intoleransi aktifitas

berhubungan dengan adanya

kelemahan

fisik(Engram, 1998 : 156).


Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawaan selama 3x 24 jam
diharapkan klien dapat mendemonstrasikan peningkatan
intoleransi aktivitas.
Kriteria hasil :
a. Dapat melakukan aktifitas tanpa rasa kelemahan
Rencana tindakan :
a. Tingkatkan tirah baring / duduk, berikan lingkungan tenang,
batasi pengunjung sesuai keperluan
Rasional : meningkatkan istirahat dan ketenangan.
b. Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik
Rasional : meningkatkan fungsi pernapasan dan meminimalkan
tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan
jaringan.
c. Lakukan tugas dengan tepat dan sesuai toleransi
Rasional : memungkinkan periode-periode tambahan istirahat
tanpa gangguan.
d. Tingkat aktivitas sesuai dengan toleransi, bantu melakukan latihan
getak rentang sendi positif / aktif

47

Rasional : tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan, ini


dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu
periode istirahat.
e. Dorong penggunaan teknik manajemen stress
Rasional

meningkatkan

kembali

perhatian

dan

dapat

meningkatkan koping.

6. Ansietas / ketakutan berhubungan dengan perubahan status


kesehatan, ancaman kematian, nyeri.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x 24 jam
diharapkan ansietas berkurang atau teratasi.
Kriteria hasil :
1. Klien tampak rileks
2. TTV dalam batas normal
3. Tidak ada perilaku gelisah
Rencana tindakan :
a. Awasi respons fisiologi misal : takipnea, palpitasi, pusing, sakit
kepala, sensasi kesemutan.

48

Rasional : dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami


pasien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik / status
syok.
b. Dorong pernyataan takut dan ansietas, berikan umpan balik.
Rasional : membuat hubungan terapeutik.
c. Berikan informasi akurat.
Rasional : melibatkan pasien dalam rencana asuhan dan
menurunkan ansietas yang tak perlu tentang ketidaktahuan.
d. Berikan lingkungan tenang untuk istirahat
Rasional : memindahkan pasien dari stresor luar meningkatkan
relaksasi, dapat meningkatkan ketrampilan koping.
e. Dorong orang terekat tinggal dengan pasien
Rasional: membantu menurunkan takut melalui pengalaman
menakutkan menjadi seorang diri.
7. Kurang

pengetahuan

tentang

penyakit

dan

penatalaksanaan

berhubungan dengan informasi yang kurang (Doenges, 2014)


Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x 24 jam
diharapkan pengetahuan pasien bertambah.
Kriteria hasil :

49

a. Menyatakan kesadaran dan merencanakan perubahan pola hidup


untuk mempertahankan berat badan normal.
b. Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala ( penurunan berat
badan, gigi busuk) dengan perilaku tidak makan / pestapembersihan.
c. Menyatakan tanggung jawab untuk belajar sendiri.
d. Mencari

sumber

untuk

membantu

membuat

pengertian

mengenai

proses

identifikasi

perubahan.
Rencana tindakan :
a. Kaji

tingkat

penyakit

dan

penatalaksanaan.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dari klien.
b. Instruksikan

pasien

untuk

tidak

makan-makanan

yang

mengandung asam.
Rasional :Makanan yang mengandung asam dapat meningkatkan
asam lambung.
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penyakit dan
penatalaksanaan.
Rasional : Membatu sebagai pengigat dan penguat belajar.

50

d. Evaluasi kemampuan pasien dan keluarga dalam proses


pembelajaran.
Rasional : Untuk mengetahui kemampuan klien dalam mengingat.
2.7.5

Pelaksanaan/Implementasi
Menurut Doengoes (2014), implementasi adalah tindakan pemberian
keperawatan yang dilaksanakan untuk membantu mencapai tujuan pada
rencana tindakan keperawatan yang telah disusun. Setiap tindakan
keperawatan yang dilaksanakan dicatat dalam catatan keperawatan
yaitu cara pendekatan pada klien efektif, teknik komunikasi terapeutik
serta penjelasan untuk setiap tindakan yang diberikan kepada
pasien.Dalam melakukan tindakan keperawatan menggunakan 3 tahap
pendekatan, yaitu independen, dependen, interdependen.Tindakan
keperawatan

secara

independen

adalah

suatu

kegiatan

yang

dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau
tenaga kesehatan lainnya. Interdependen adalah tindakan keperawatan
yang menjelaskan suatu kegiatan dan memerlukan kerja sama dengan
tenaga kesehatan lainnya, misalnya tenaga sosial, ahli gizi, dan dokter.
Sedangkan dependen adalah tindakan yang berhubungan dengan
pelaksanaan rencana tindakan medis. Keterampilan yang hams dipunyai
perawat dalam melaksanakan tindakan keperawatan yaitu kognitif,
sikap dan psikomotor. Dalam melakukan tindakan khususnya pada klien
dengan gastritis yang harus diperhatikan adalah pola nutrisi, skala nyeri
klien, serta melakukan pendidikan kesehatan pada klien.

51

2.7.6

Evaluasi
Evaluasi merupakan proses yang berkelanjutan untuk menilai
efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus
menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi menjadi dua yaitu evaluasi proses
atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan
keperawatan,

evaluasi

hasil

atau

sumatif

dilakukan

dengan

membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan umum yang telah
ditentukan (Nursalam, 2011). Pada bagian ini ditentukan apakah
perencanaan sudah tercapai atau belum, dan dapat juga timbul masalah
baru dan setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri
berkurang/hilang, kecemasan pasien berkurang, resiko infeksi tidak
terjadi, kebutuhan nutrisi seimbang dan tercukupi.
2.7.7

Dischange Planning
Dischange planning ( perencanaan pulang ) merupakan proses
yang dinamis dan sistematis dari penilaian, persiapan serta koordinasi
yang dilakukan tim kesehatan untuk memberikan kemudahan
pengawasan pelayanan kesehatan dan sosial sebelum dan sesudah
pulang.Tujuan perencanaan pulang salah satunya meningkatkan
kemandirian

pasien

permasalahan,pencegahan

dan
yg

kelurga
harus

dalam

ditempuh

memahami

sehingga

dapat

mengurangi angka kambuh dan penerimaan kembali di rumah sakit


(Nursalam, 2015).

52

Tindakan

keperawatan

yang

diberikan

pada

pasien

sebelum

diperbolehkan pulang antara lain:


1. Pendidikan kesehatan untuk mengurangi angka kambuh atau
komplikasi dan meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga
meliputi waktu dan tempat kontrol,perawatan luka operasi,diet yang
dikonsumsi,aktivitas dan istirahat,perawatan kebersihan diri
2. Program pulang bertahap bertujuan melatih pasien agar bisa kembali
di lingkungan masyarakat dan keluarganya.
3. Rujukan integritas pelayanan kesehatan harus saling berhubungan
antara

keperawatan

komunitas

dengan

mengetahui perkembangan pasien di rumah.

rumah

sakit,untuk

53

2.4. Kerangka Masalah


Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau
menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah. (Hidayat, 2008).
OAINS
STRES FISIK
Predisposisi infeksi bakteri Helicobacter pylori
(Indometasin, Ibuprofen, Asam Salisilat)
Trauma langsung, pembedahan, transplantasi organ, tuberkulosis, luka bakar,

Penurunan imunitas
Minuman Beralkohol
infeksi jamur, makanan dan minuman yang bersifat instan, iskemia dan trauma lambung langsung
Sintesis prostaglandin Menurun

Stres Psikologis
Sekresi H+ meningkat
Sekresi pepsinogen meningkat

Perlindungan mukosa menurun Perfusi darah lokal menurun


Fungsi barier terganggu

Peradangan mukosa lambung

Kurang pengetahuan

Gastritis Akut

Garam empedu

Agregasi bahan kimia meningkat


Perdarahan

Hematemesis

Respon psikologis
Mual, muntah, dan anoreksia
Respons saraf lokal dari iritasi mukosa
Intake nutrisi tidak adekuat
Nyeri
Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

Kecemasan

Gambar 2.3 : Patofisiologi Gastritis Akut (Mutaqqin, 2013)