Memahami Mode Pengoperasian Kamera
Memahami Mode Pengoperasian Kamera
Memiliki pemahaman yang bagus mengenai beberapa mode pengoperasian kamera digital
amat membantu kita untuk secara efektif mengontrol eksposur. Artikel ini akan berusaha
menjelaskan beberapa mode pengoperasian yang lazim ada di kamera anda baik DSLR,
kamera pocket yang canggih maupun Super-zoom; aperture priority, shutter speed priority,
program mode dan manual mode.
Program Mode
Shutter Priority (Tv atau S)
Aperture Priority (Av atau A)
Manual (M)
1. Program Mode
Dalam program mode, kamera secara otomatis akan menentukan Aperture dan Shutter Speed
untuk kita berdasarkan jumlah cahaya yang masuk melalui lensa. Jika anda menemukan
momen yang penting dan tidak ingin berpikir apa-apa langsung jepret, gunakan mode ini.
Kamera akan berusaha menyeimbangkan antara shutter dan aperture, jika kita mengarahkan
lensa ke area yang terang, angka aperture secara otomatis membesar sementara shutter speed
dipertahankan di angka yang lumayan cepat. Arahkan kamera ke area gelap dan angka
aperture akan mengecil untuk mempertahakan shutter supaya tidak terlalu blur.
Ada cara untuk mengubah pengukuran otomatis kamera, dengan memutar kontrol dial di
kamera. Jika kita putar dial ke kiri maka kamera akan dipaksa memperlambat shutter speed
dan menambah aperture. Jika memuter dial ke kanan, kamera akan dipaksa mempercepat
shutter speed dan memperkecil aperture.
2. Shutter-Priority Mode
Di mode shutter priortiy, kita secara manual mengatur nilai shutter speed dan kamera secara
otomatis memilih nilai aperture untuk kita bserdasarkan jumlah cahaya yang masuk melalui
lensa. Mode ini bisa kita pakai saat ingin membekukan gerakan atau kalau kita sengaja ingin
menciptakan foto blur. Jika ada terlalu banyak cahaya, maka angka aperture akan membesar
(bukaan mengecil) sehingga jumlah cahaya yang masuk lensa akan berkurang. Jika terlalu
sedikit cahaya masuk lensa makan angka aperture akan mengecil (bukaan membesar) supaya
cahaya makin banyak masuk lensa.
Jadi di mode shutter priority, nilai shutter speed akan konstan tidak berubah sesuai (sesuai
setting kita), sementara nilai aperture akan bervariasi tergantung jumlah cahaya.
3. Aperture-Priority Mode
Di mode aperture priority, kita set besaran aperture secara manual dan kamera akan
menentukan besar shutter speed sesuai jumlah cahaya yang masuk lensa. Dengan
menggunakan mode aperture priority, kita memiliki kontrol penuh atas depth of field (bidang
tajam), karena kita bisa menurunkan atau menaikkan bukaan lensa dan membiarkan kamera
yang menghitung shutter speed
Menggunakan mode aperture priority adalah cara aman dalam mengoperasikan kamera
karena resiko foto menjadi under-exposed (gelap) atau over-exposed (terlalu terang) lumayan
kecil. Kenapa? karena nilai shutter kamera range-nya lumayan lebar, dari 30 detik sampai
1/4000 detik (atau 1/8000 detik dikamera canggih), yang mana sangat mencukupi untuk
berbagai kondisi cahaya.
4. Manual Mode
Seperti namanya, kita mengontrol nilai aperture dan shutter speed kamera secara manual
sepenuhnya. Anda harus memilih nilai aperture sekaligus shutter speed. Mode ini bisa dipakai
saat memotret obyek foto yang kondisi pencahayaan-nya membuat kamera bingung.
Contohnya adalah saat kita memotret teman di pantai yang sangat terang, kamera mungkin
akan salah menilai exposure sehingga wajah teman jadi hitam supaya pasir dipantai tidak
over-exposed. Dalam kasus seperti ini, kita bisa mengganti mode menjadi manual dan
melakukan metering dengan mengukur exposure di wajah teman lalu menentukan aperture
serta shutter speed secara manual berdasarkan hasil metering tadi.
Mode manual juga berguna saat misalnya kita memotret panorama (cara memotret
panorama? baca disini), supaya terjadi konsistensi. Foto panorama dihasilkan dari beberapa
foto yang dijahit, dan nilai aperture maupun shutter speed sebaiknya selalu konsisten
sehingga hasil akhir foto panorama akan konsisten tidak belang-belang ada yang gelap dan
ada yang terang.
Di Canon 50D:
Di beberapa kamera kelas professional, tombol dial mode tidak ditunjukkan secara mencolok,
di Nikon D300S misalnya, hanya ada tombol kecil disebelah kanan atas bertulis MODE.
ada beberapa orang sekaligus, maka kamera akan memilih orang yang berdiri paling dekat
dengan kamera.
Jika kamera tidak mendeteksi adanya manusia (skin tone), bisanya dia akan menngunci fokus
pada obyek terdekat pada kamera atau paling besar. Mode ini tidak disaarankan kalau anda
mencari akurasi dan presisi yang tinggi di sebelah mana fokus akan dipilih.
Untungnya produsen kamera DSLR memberi fasilitas bernama depth of field preview.
Tombol ini biasanya berlokasi dibagian depan kamera dan posisinya disebelah lensa. Di
Canon atau Nikon sebagai contoh di Canon EOS 60D dan Nikon D7000, tombol ini
lokasinya didepan kamera disebelah mounting lensa. Dalam gambar diatas, lingkaran hijau
adalah lokasi tombol depth of field preview di Canon EOS 60D
Cara menggunakannya adalah, dalam setting aperture lebar (f/1.4, f/1.8, f/2, f/2.8 dll), pencet
dan tahan tombol tersebut sembari mata mengintip di viewfinder. Maka tampilan di
viewfinder akan mendekati hasil akhir foto nantinya dimana bidang tajam terlihat sementara
area diluar bidang tajam menjadi blur. Nah selamat mencoba.
Setiap kamera SLR digital modern dari pabriknya dilengkapi dengan teknologi bernama
Metering Mode, Exposure Metering, Camera Metering atau untuk lebih praktisnya kita sebut
Metering yang sudah dirakit didalamnya. Dalam artikel ini kita akan berusaha memahami apa
itu metering? bagaimana cara kerjanya serta beberapa kelemahan utama yang harus kita
hadapi (underexposed & overexposed). Dalam artikel selanjutnya, lebih jauh kita pahami
tentang mode metering (matrix/evaluative, center weighted & spot metering).
kecerahan langit biru dan kecerahan awan putih dan harus berusaha menghasilkan eksposure
yang optimal. Sekarang tambahkan gunung dan barisan pepohonan kedalam obyek foto
diatas, maka tingkat kompleksitas yang dihadapi metering makin rumit.
Bagaimana cara para perancang sistem metering kamera mengantisipasi keadaan ini?
Jawabannya adalah dengan berusaha membuat tingkat gelap terang rata-rata dari sebuah
obyek foto apapun itu. Secara teknis gelap terang rata-rata bagi sistem metering kamera
adalah 18% grey ( 18% abu-abu atau abu-abu normal) tidak terlalu gelap dan juga tidak
terlalu terang lihat foto dibawah. Sebuah obyek foto dengan tingkat pantulan cahaya yang
memiliki gelap terang kompleks akan dijinakkan dengan cara ini.
Solusi ini secara umum memang bisa kita pakai untuk memotret kondisi normal. Namun
ketika kita dihadapkan pada kondisi misalnya anda akan memotret wajah teman dengan
background putih sempurna, kamera akan menjadikan wajah teman anda lebih gelap karena
harus mengantisipasi background putih dan membawanya kearah 18% grey alias
underexposed. Atau misalnya saat anda memotret bunga didalam gelas kaca kecil yang
diletakkan diatas taplak meja hitam, maka didalam foto bunga akan lebih terang dari aslinya
karena harus membawa taplak meja hitam tadi ke arah 18% grey alias overexposed.
Saat memotret benda diam, kita biasanya menggunakan satu titik fokus, mengunci fokus
sekali baru memotret. Namun saat memotret benda/orang yang selalu bergerak berpindah
posisi, kita butuh kamera yang mampu memindahkan titik fokus secara otomatis mengikuti
seubyek tersebut. Berita bagusnya, kamera DSLR dilengkapi dengan fitur tersebut. Mari kita
bedah satu persatu:
Setelah artikel sebelumnya menjelaskan tentang cara kerja metering kamera DSLR secara
umum, sekarang kita akan memahami beberapa mode metering yang ada di kamera DSLR.
Langsung saja:
Selain itu, kamera DSLR juga membandingkan informasi gelap-terang diatas dengan data
contoh pemotretan dalam bermacam situasi yang sudah dimasukkan ke dalam memory
kamera oleh produsen untuk mementukan nilai eksposur yang menurutnya paling tepat. Mode
matrix/evaluative biasanya digunakan pada hampir semua situasi pemotretan normal, paling
akurat dalam kondisi sehari-hari dan paling sering digunakan. Jadi, sebelum anda
menemukan situasi pemotretan yang kompleks dan sulit, pakailah mode ini.
Inilah saatnya anda menggunakan mode center weighted. Mode ini mengukur refleksi cahaya
disekitar titik tengah frame dan mengabaikan daerah disekitar sudut-sudut frame. Dengan
begitu kamera hanya akan mengukur nilai eksposur di wajah (titik tengah viewfinder) dan
mengabaikan nilai di area lain (sinar matahari yang jauh lebih terang). Dibandingkan dengan
mode matrix, mode center weighted tidak melihat dimana kita meletakkan titik fokus, dia
hanya melihat area disekitar titik tengah viewfinder.
Contoh penggunaannya adalah saat anda memotret seorang teman yang membelakangi
matahari yang bersinar terang, namun teman tersebut hanya merupakan bagian kecil dari
keseluruhan foto sementara kita ingin memastikan dia terukur eksposure-nya dengan baik
(tidak terlalu gelap dan juga tidak terlalu terang). Jika anda menggunakan matrix atau center
weighted metering, kemungkinan besar teman kita hanya akan terlihat sebagai siluet, karena
kamera justru mengukur cahaya matahari yang mendominasi foto.
Satu contoh lagi penggunaan spot metering adalah saat kita memotret burung. Karena burung
(kecuali anda memotretnya secara close-up), mengisi sebagian kecil frame maka gunakan
spot metering untuk memastikan burung sebagai obyek utama tereksposure secara tepat.
Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point & shoot, kita terpaku pada
mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat,
namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.
Bagi yang ingin lulus dan naik kelas dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa
kreatif kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep eksposur.
Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding
Exposure yang didalamnya diterangkan konsep eskposur secara mudah.
Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami
eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen
dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan
berinteraksi dengan kamera.
Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran.
Aperture adalah seberapa lebar kita membuka keran.
ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM.
Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima
sensor kamera.
Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya.
sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita
bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen
penyusunnya. Anda mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air
terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara
mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam
kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah.
1. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya
saya memiliki 100 lebah pekerja.
2. Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.
Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan
membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di
f/3.5 namun saya set ISO di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja),
maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?
Secara garis besar:
1. Saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 (dalam aperture yang selalu konstan
kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority A atau Av), kita
mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor
kamera kita sampai separuhnya (2 kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250
detik.
2. Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai
separuhnya lagi: 1/500 detik.
3. Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh, kita namakan
menaikkan esksposur sebesar 1 stop.
Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu
konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority S atau Tv), dan ubah-ubahlah
setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 dst, lihatlah perubahan
besaran aperture anda.
Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam beberapa penggunaannya di kamera:
Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak
1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu
eksposur sebanyak 30 detik, anda akan melihat tulisan seperti ini: 30
Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan
melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua
kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed
yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 dst.
Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman
dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga
foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak
fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur
Image Stabilization (dibahas dalam posting mendatang)
Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar
dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter
minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.
Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan shutter speed setinggi mungkin
yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan. Semakin cepat obyek bergerak yang
ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin cepat shutter speed yang dibutuhkan.
Untuk membekukan gerakan burung yang terbang misalnya, gunakan mode Shutter
Priority dan set shutter speed di angka 1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto)
supaya hasilnya tajam. Kalau anda perhatikan, fotografer olahraga sangat
mengidolakan mode S/Tv ini.
Blur yang disengaja shutter speed untuk menunjukkan efek gerakan. Ketika
memotret benda bergerak, kita bisa secara sengaja melambatkan shutter speed kita
untuk menunjukkan efek pergerakan. Pastikan anda mengikutkan minimal satu obyek
diam sebagai jangkar foto tersebut. Coba perhatikan foto dibawah:
Memahami Aperture
Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita
mengambil foto.
Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah
setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar
lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.
Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah
bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6.
Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar
lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini
terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar
angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.
Depth of field DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field
(DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai
obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti
hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak
fokus.
Definisi Stop
Stop dalam fotografi kurang lebih memiliki arti mengubah jumlah cahaya yang diterima
sensor/film sehingga mempengaruhi exposure foto. Tambah satu stop berarti lebih terang 2
kali, tambah 2 stop berarti lebih terang 4 kali. Kurangi satu stop berarti lebih gelap setengah
kali. Satu stop berarti mengubah jumlah cahaya sebanyak kelipatan 2.
Sebagaimana anda ketahui, jumlah cahaya yang diterima sensor kita namai exposure. Dan
naik satu stop berarti meningkatkan exposure sebanyak 2 kali. Aksi menaikkan atau
mengurangi exposure bisa dilakukan dengan mengubah salah satu atau gabungan tiga elemen
yang menyusun segitiga exposure: shutter speed, aperture dan ISO. (lebih jauh diterangkan
dalam artikel ini: Memahami Konsep Exposure).
Agak abstrak ya? oke satu perumpaan agar jelas. Katakanlah dikamar anda ada 4 lampu 100
watt dan keempatnya menyala. Karena stop adalah perubahan gelap terang, maka turun satu
stop artinya anda mematikan dua lampu sehingga hanya dua lampu yang menyala. Sementara
naik satu stop berarti anda harus membawa 4 lampu lagi dengan watt yang sama. Dalam
kasus ini, kamar adalah sensor di kamera digital semantara cahaya lampu adalah exposurenya.
Program Shift
Dalam mode Program, kita bisa mengganti nilai aperture dan shutter speed yang ditentukan
kamera dengan menggunakan Program Shift. Cukup dengan memutar tombol putar dial
dibagian belakang kamera kita bisa mengubah nilai aperture dan shutter speed. Saat anda
mengendaki depth of field yang sempit anda bisa memutar command dial untuk mengubah
nilai aperture. Cek cara menggunakan program shift di manual kamera anda masing-masing.
Di Canon EOS D60 misalnya, anda bisa menggunakan program shift dengan memencet
shutter separuh lalu memutar tombol main dial dibelakang.
Jenis foto seperti diatas dengan mudah dihandle oleh mode program. Kamera akan
menentukan shutter speed yang cukup cepat untuk menghindari foto blur dan kita juga tidak
menuntut depth of field yang tidak terlalu ekstrim. Saat anda tidak menyukai setting yang
dipilih kamera, gunakan Program Shift untuk mengubahnya. Atau cukup naikkan ISO agar
kamera memilih aperture yang lebih kecil.
Konsep
Dalam mode aperture priority ini, kamera memberi kebebasan bagi kita untuk mengontrol
nilai aperture, sementara kamera akan menghitung dan menentukan nilai shutter speed. Nilai
ISO bisa kita set dari awal, atau bahkan kita bisa memilih auto ISO.Cobalah putar posisi
mode di A atau Av, lalu tentukan bahwa anda ingin memotret menggunakan aperture f/4 dan
ISO 200. Lakukan metering pada sebuah subyek foto, lalu lihat nilai shutter yang dipilih
kamera. Sekarang gantilah nilai aperture ke posisi f/8 lalu ulangi metering pada subyek yang
sama, maka shutter speed akan berubah.
Contoh penggunaan aperture priority lain adalah saat ingin menghasilkan bokeh (baca tips
foto bokeh ini dan ini, tips bokeh dengan kamera saku disini). Foto bokeh memiliki ciri
subyek utama tajam dan background yang kabur. Untuk memaksimalkan bokeh, kita
menggunakan bukaan lensa yang besar (nilai aperture kecil), misal f/2.8. Dan kemudian kita
lakukan hal yang sama seperti pada kamera seperti pada contoh foto landscape diatas.
Penggunaan lain aperture priority adalah saat memotret panorama maupun foto HDR, dimana
foto ini dihasilkan dari beberapa foto terpisah yang dijahit atau di merge. Agar bidang
konsisten dari satu foto ke foto lainnya, kita menggunakan aperture priority (agar titik fokus
sama, gunakan juga manual fokus) saat mengambil rangkaian foto panorama atau HDR
sebelum di jahit atau di merge di Photoshop. Fotografer makro juga menanfaatkan aperture
priority untuk mengontrol ruang tajam subyek dan latar belakangnya.
Dalam foto makro ini, nilai aperture f/9 dipilih untuk memastikan keseluruhan bunga
dibagian depan terlihat tajam sambil mengaburkan bunga dibelakangnya.
Kalau anda sudah mulai mempelajari setting manual eksposur yang tersedia di kamera
sekarang waktunya bermain-main dengan settingan yang ada. Di artikel ini kita akan
membahas cara membekukan gerakan (motion freeze) menggunakan mode shutter priority.
Sekedar refreshing, seperti yang sudah ditulis sebelumnya shutter speed adalah besaran
seberapa lama sensor melihat cahaya (alias eksposur) baca kembali tentang shutter speed
dan shutter priority.
Secara garis besar mempercepat maupun memperlambat shutter speed menghasilkan foto
yang berbeda. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, semua tergantung pesan yang
kita inginkan. Shutter speed super cepat membuat anda bisa membekukan gerakan burung
terbang, memperlambat shutter speed membuat anda bisa menghasilkan foto panning yang
menunjukkan pergerakan (baca tips memotret panning). Baik kita mulai:
Foto ini menunjukkan orang yang sedang berjogging di pagi yang cukup cerah. Fotografer
cukup membutuhkan shutter speed sedang (1/400 detik) dan itu sudah cukup untuk
membekukan gerakant. Kenapa tidak perlu secepat contoh sebelumnya? karena gerakan
orang jogging relatif lebih lambat dibanding selancar, plus karena fotografer dalam posisi
diam serta karena bidang obyek (orang berlari) relatif paralel dengan bidang fokus kamera
(tidak bergerak mendekat seperti contoh selancar).
Foto ini membutuhkan shutter speed sebesar 1/800 detik. Saya dalam posisi diam dan burung
yang terbang sedang berusaha memperlambat gerakan, namun jarak burung dari saya cukup
dekat (sekitar 6 meter) sehingga saya membutuhkan shutter speed sebesar 1/800 detik.
Tidak ada patokan resmi berapa shutter speed yang dibutuhkan untuk setiap situasi dimana
kita ingin membekukan gerakan. Yang jelas anda harus langsung praktek, namun ada
beberapa point yang bisa ditarik dari 3 contoh diatas.
Kesimpulan
Secara garis besar, untuk membekukan gerakan anda perlu mempertimbangkan beberapa hal:
1. Kecepatan obyek itu sendiri, makin cepat obyeknya makin cepat shutter speed yang
dibutuhkan
2. Kecepatan relatif kita (fotografer) terhadap obyek. Kalau kita bergerak mendekat
maka shutter speed yang dibutuhkan juga makin tinggi
3. Jarak obyek. Semakin dekat jarak obyek dengan fotografer maka shutter speed yang
dibutuhkan juga makin tinggi
4. Panjang focal lensa anda. Semakin panjang focal lensa anda maka makin cepat shutter
speed yang dibutuhkan.
Oke, selamat mencoba!!
Oke, konsep dasarnya begini: Sebuah foto terdiri atas sejumlah banyak piksel dan setiap
piksel memiliki elemen warna yang dihasilkan oleh campuran warna utama: Red Green dan
Blue (RGB). Masing-masing warna RGB tadi memiliki tingkat terang-gelap yang bernilai 0
sampai 255. Saat kita menghasilkan sebuah foto, komputer atau prosesor dalam kamera
digital akan membaca nilai gelap-terang (tonal) yang 0 sampai 255 tadi. Hasil bacaan ini
kemudian dikeluarkan dalam bentuk grafik, dan grafik inilah yang kita sebut histogram.
Lebih jelasnya dibawah ini.
Perhatikan grafik diatas. Cara membacanya adalah mata kita bergerak dari kiri ke kanan.
Grafik tersebut mewakili tingkat gelap-terang masing-masing piksel. Ujung kiri grafik
mewakili hitam sempurna, ujung tengah mewakili abu-abu (mid tone) sementara ujung kanan
mewakili putih sempurna. Dalam satu titik, ketinggian grafik mewakili jumlah piksel dalam
tone tersebut.
Karena daerah sebelah kiri mewakili hitam/gelap, berarti jika foto kita cenderung gelap (low
key) maka histogramnya akan cenderung tinggi disebelah kiri. Kalau foto kita cenderung
terang (high key), maka histogramnya cenderung tinggi disebelah kanan.
Enaknya memiliki kamera digital adalah, bahwa kita bisa langsung mengetahui nilai
histogram begitu anda selesai memotret. Dengan begitu kita bisa langsung tahu apakah
kualitas tonal (tingkat gelap terang) foto kita sudah sesuai maksud yang ingin kita capai atau
belum. Misalnya anda memotret sebuah obyek foto dan dari histogram terlihat bahwa
grafiknya terkumpul di sebelah kanan, anda bisa berkata: Oh, foto ini hasilnya akan
cenderung terang, dan sebaliknya.
Dengan melihat EXIF data sebuah foto, paling tidak kita bisa mengetahui informasi berikut
ini:
Sebenarnya masih banyak lagi informasi yang terekam selain informasi diatas, namun paling
tidak anda tahu gambaran besarnya.
jika anda di Windows Explorer, klik kanan foto anda lalu klik properties
jika anda di Mac (Finder), klik kanan lalu klik more info.
kita bisa membandingkan dua buah foto yang diambil dengan settingan yang berbeda,
kemudian melihat perbedaan hasilnya sehingga kita bisa tahu mana setting yang lebih
baik untuk kondisi pemotretan tertentu
kita bisa mengelompokkan foto berdasarkan jenis lensanya, tanggal pemotretannya
atau berdasarkan
kita bisa belajar dari karya fotografer lain, misalnya anda berkunjung ke situs sharing
foto Flickr.com dan menjumpai sebuah foto yang bagus dan anda ingin tahu
bagaimana cara foto tadi diambil, kita bisa melihat data EXIF-nya seperti dibawah ini:
Ketiga foto diatas adalah foto yang identik, bahkan ketiganya berasal hanya dari satu foto.
Saya hanya mengubah setting white balance-nya dan hasilnya: ketiganya sangat berbeda
warnanya. Foto A tampak sangat kebiruan, foto B terlihat cukup normal dan foto C terlihat
kekuning-kuningan.
Perhatikan warna cahaya lampu neon dan lampu bohlam, beda bukan? itu karena masingmasing neon dan bohlam memiliki temperatur warna yang berbeda. Cahaya yang
kekuningan (bohlam) disebut hangat sementara cahaya yang kebiruan (neon) disebut dingin.
Alasan kenapa kamera memerlukan setting white balance adalah karena kita memotret dalam
kondisi pencahayaan yang berubah-rubah. Mata telanjang kita adalah alat yang super canggih
dan mampu beradaptasi (menyeimbangkan) terhadap perubahan warna cahaya, jadi kertas
putih dimanapun akan tampak putih bagi kita. Namun kamera tidaklah secanggih mata,
karena itu kertas putih belum tentu terlihat putih bagi kamera dalam warna pencahayaan yang
berbeda.
Jadi tujuan setting white balance adalah memerintahkan kamera agar mengenali temperatur
sumber cahaya yang ada. Supaya yang putih terlihat putih, merah terlihat merah dan hijau
terlihat hijau, atau dengan kata lain agar kamera merekam warna obyek secara akurat dalam
kondisi pencahaayan apapun.
Anda juga bisa menggunakan preset jika memang tersedia di kamera anda:
Auto kamera akan menebak temperatur warna berdasar program yang ditanam dari
sononya oleh pembuat kamera. Anda bisa menggunakannya pada kebanyakan situasi,
namun tidak disetiap situasi (misal: memotret saat sunset/sunrise)
Tungsten disimbolkan dengan ikon bohlam. Karena itu cocok digunakan saat anda
memotret di ruangan dengan sumber cahaya bohlam.
Fluorescent disimbolkan dengan ikon lampu neon, gunakan saat memotret di
ruangan dengan pencahayaan lampu neon.
Daylight biasanya dengan simbol matahari, gunakan saat berada di bawah sinar
matahari
Cloudy disimbolkan dengan awan, gunakan saat memotret di cuaca mendung
Flash simbolnya kilat, jika anda menggunakan lampu flash (strobe) gunakan preset
ini.
Shade biasanya simbolnya rumah atau pohon, gunakan saat memotret dalam rumah
(siang hari) atau anda berada di daerah bayangan bukan sinar matahri langsung.
Anda pulang dari acara memotret dan baru menyadari bahwa tadi di sepanjang
pemotretan anda menggunakan ISO 1200, padahal acaranya dilaksanakan di siang
bolong saat ISO 200 saja cukup
Anda baru menyadari bahwa anda menggunakan settingan white balance untuk
mendung, padahal dari awal acaranya dilakukan diruangan dengan penerangan lampu
neon
Kesalahan mendasar seperti ini membuat kita harus bersusah payah melakukan koreksi pada
foto, kalau satu dua sih tidak masalah, kalau ratusan foto?. Okelah, mungkin dengan bantuan
software kita bisa melakukan koreksi dengan relatif cepat, tapi bukankah lebih enak kalau
kesalahan seperti ini bisa dihindari sejak awal.
Secara mendasar, ada 5 setting di kamera digital anda yang harus selalu diperiksa sebelum
jari memencet tombol shutter pertama kali dalam sebuah sesi pemotretan. Silahkan:
Gunakan settingan white balance yang sesuai dengan kondisi, atau kalau anda percaya
dengan kamera, set white balance di posisi auto. Baca lebih jauh tentang white balance.
Tips ini ampuh untuk menghindari foto yang overexposure. Highlight warning adalah
penanda yang muncul di layar LCD kamera saat ada bagian foto yang terbakar alias
overexposed. Selain menggunakan highlight warning, anda juga bisa memeriksa histogram di
LCD kamera digital anda.
Settingan ISO menentukan seberapa peka sensor kamera terhadap cahaya, makin tinggi
angkanya semakin peka. Kalau tadi malam anda memotret pesta ulang tahun teman anda di
restoran, pastinya ISO yang digunakan akan berbeda dengan setting ISO saat akan digunakan
untuk memotret acara gerak jalan dijalan raya.
Baca lebih jauh mengenai ISO disini.
Memotret ribuan foto sekaligus, seperti misalnya saat anda hunting di kebun binatang (baca
tips memotret di kebun binatang), tentunya membutuhkan pengaturan ukuran foto yang
berbeda dibandingkan memotret keluarga di studio misalnya, apalagi jika kartu memori yang
anda miliki kapasitasnya berbeda.
Format foto, apakah harus memilih JPG atau RAW juga wajib dipertimbangkan sebelum sesi
foto anda dimulai.
Dalam kamera SLR atau pocket, biasanya tersedia beberapa pilihan untuk mode eksposur
yang anda pilih: Manual Aperture Priority Shutter Priority Mode Program dan beberapa
preset bawaan kamera digital. Pastikan anda sudah mengetahui mode mana yang akan anda
pilih.
Lakukan 5 persiapan diatas, maka acara hunting, sesi memotret maupun iseng-iseng
memotret acara di RT anda akan lebih lancar dan anda juga akan terlihat lebih jago.
Berikut 20 tips singkat fotografi untuk anda menambah informasi dan kemampuan fotografi
anda, saya yakin beberapa sudah pernah dilakukan tetapi semoga beberapa lainnya
merupakan informasi baru. Klik tanda (jika ada) disebelah kanan masing-masing tip untuk
melihat informasi yang lebih detail. Silahkan:
1. Untuk melatih kemampuan panning anda, potretlah benda yang sedang bergerak
dengan kecepatan normal (orang naik motor misalnya), gunakan mode shutter priority
dan set shutter speed maksimal 1/30 detik, lebih lambat lebih baik. Perhatikan
background anda! - 2. Untuk memotret makro (jarak super dekat), aktifkan fitur Live View kamera digital
anda agar lebih mudah memeriksa depht of field dan fokus.
3. Filter CPL (polarisasi) sangat berguna untuk menghilangkan pantulan sinar matahari
di air dan kaca, dan juga berfungsi memperbaiki warna langit. Pernahkah anda
mengenakan kacamata hitam dengan polariser? - 4. Saat memotret bayi/anak-anak, pastikan anda memusatkan perhatian ke mata. Tak ada
yang bisa mengalahkan keindahan mata anak-anak. - 5. Megapiksel bukanlah fitur terpenting dari sebuah kamera, ukuran sensorlah fitur yang
paling penting
6. Untuk foto portait (wajah) di luar ruangan, usahakan ketika cuaca sedang mendung.
Kalaupun tidak, carilah daerah yang redup dan tidak terkena sinar matahari secara
langsung. Sinar matahari membuat bayangan yang keras di wajah. - 7. Ketika anda memotret di kondisi minim cahaya dan kesusahan menggunakan
autofokus, gantilah dengan manual fokus. Fitur autofokus dikamera biasanya cukup
lama mencari titik fokus di kondisi remang-remang. - 8. Untuk foto siluet, pastikan anda matikan flash serta gunakan mode sunset (untuk
kamera pocket), untuk SLR gunakan mode manual dan ukurlah eksposur di area
terang di belakang obyek. - -
9. Download-lah buku manual versi pdf untuk kamera anda, sehingga anda mudah
melakukan pencarian secara cepat untuk kata yang ingin anda ketahui dibanding harus
membolak-balik halaman kertas. - 10. Sebelum berangkat memotret, periksa kembali setting kamera anda, jangan sampai
anda mneggunakan setting yang salah (memotret landscape dengan ISO 1000
misalnya). Menurut para fotografer pro, urutan pengecekan yang baik adalah berikut:
cek White Balance aktifkan fitur Highlight warning cek settingan ISO cek
ukuran Resolusi foto anda. - 11. Formatlah memory card hanya di kamera, jangan pernah memformat memory card
dikomputer. Selain jauh lebih cepat dan mudah juga jauh lebih aman jika anda
melakukannya di kamera.
12. Jika anda memiliki kapasitas hard disk berlebih di komputer serta suka melakukan
foto editing, gunakan format RAW saat memotret, jika tidak cukup gunakan JPG. - 13. Jika anda benar-benar menyukai fotografi landscape, fotolah di jam-jam berikut: dari
jam 5 sampai jam 8 pagi, serta dari jam 4 sampai jam 7 sore.
14. Ketika memotret, lihatlah area paling terang yang masuk ke viewfinder anda. Kalau
terangnya terlalu mencolok dibanding area lain, gantilah sudut pemotretan.
15. Untuk memotret HDR, gunakan mode auto bracket. Satu lagi: untuk foto HDR
landscape yang dahsyat, tunggulah sampai muncul mendung sedikit, lalu mulailah
memotret. - 16. Jika anda membeli lensa atau kamera bekas, pastikan anda melakukan transaksi
dengan bertemu penjualnya secara langsung. Anda harus menguji barangnya,
memegang dan mencobanya
17. Sepanjang memungkinkan, gunakan settingan ISO serendah mungkin. Meskipun
noise reduction bisa mengurangi noise yang dihasilkan oleh ISO yang tinggi, namun
akan mengurangi detail foto secara keseluruhan. - 18. Kalau warna membuat foto anda terlalu sibuk dan ramai, ubahlah foto anda menjadi
foto hitam putih
19. Untuk menghasilkan foto hitam putih yang bagus, perhatikan kontras dalam foto
anda. Semakin banyak kontras (area gelap dan terang yang beragam), semakin bagus
foto hitam putih anda. - 20. Bawalah kamera kemanapun anda pergi, cara paling cepat meningkatkan kemampuan
fotografi anda adalah dengan memperbanyak jam terbang, tidak ada yang lebih baik. -
Beberapa waktu lalu belfot nyangkut ke sebuah blog dan menemukan artikel ini. Ditulis oleh
fotografer dan pengajar workshop street photography, Eric Kim. Artikelnya mengenai 100
tips fotografi yang sedikit banyak akan berguna. Mungkin ada satu, dua atau beberapa poin
yang secara pribadi kita tidak setuju, namun mayoritas tips ini bagus. Dan ingat, tips-tips ini
datang dari street photographer ya. Silahkan:
14. Kurangi waktu mengamati karya foto orang lain dan perbanyak waktu untuk
memotret
15. Jangan bawa kamera DSLR kesebuah pesta (lihat nomor 31 Red)
16. Menjadi fotografer itu seksi (Masa sih? Red)
17. Mengubah foto menjadi black & white tidak lantas membuat sebuah foto
menjadi lebih artistik
18. Orang akan selalu mendiskreditkan karyamu kalau kamu bilang fotomu sudah
di photoshop. Lebih baik katakan pada mereka, fotomu sudah di proses di
kamar gelap
19. Tidak perlu semuanya harus di potret
20. Paling tidak kamu harus memiliki 2 copy foto sebagai backup
21. Buang neckstrap (tali kamera yang dililit ke leher) dan gunakan handstrap
(dililit di tangan)
22. Mendekatlah saat memotret, biasanya hasilnya lebih bagus
23. Jadilah bagian dari adegan sambil memotret, jangan jadi tukang intip
24. Kurangi kekhawatiran mengenai aspek teknis memotret dan perbanyak
perhatian mengenai komposisi foto
25. Memotret sambil rebah seringkali hasilnya lebih baik
26. Tutupi merk yang ada dikamera dengan selotip hitam itu akan mengurangi
perhatian kearahmu
27. Underexpose foto sebanyak 2/3 stop saat memotret di siang bolong
28. Makin banyak memotret, makin oke hasilnya
29. Jangan takut memotret beberapa foto ditempat yang sama dengan exposure,
sudut dan aperture yang berbeda
30. Perlihatkan hanya foto terbaikmu
31. Kamera saku tetaplah sebuah kamera
32. Bergabunglah dengan forum fotografi online
33. Kritisilah karya foto orang lain
34. Berpikirlah sebelum memotret
35. Foto yang bagus tidak butuh penjelasan
36. Alkohol dan fotografi itu bukan sahabat
37. Jadikan fotografer lain sebagai inspirasi tapi jangan pernah memujanya
38. Grain itu indah
39. Ganti tas kamera backpack (ransel) dan belilah tas kamera messenger. Kamu
lebih mudah mengakses peralatan fotografimu
40. Kesederhanaan adalah kunci
41. Definisi fotografi adalah melukis dengan cahaya. Manfaatkan cahaya sesuai
seleramu
42. Cari gaya fotografimu dan teguhlah
43. Punya monitor kedua (dual display red) adalah hal terbaik dalam memproses
foto
44. Silver EFEX Pro adalah konverter black & white terbaik
45. Bawa kameramu kemanapun
46. Jangan pernah biarkan fotografi menghalangimu untuk menikmati hidup
47. Kamera jangan hanya dielus-elus. Gunakan sampai membekas
48. Ambil foto tanpa manipulasi (straight photo)
49. Memotretlah dengan percaya diri
50. Fotografi dan jukstaposisi adalah sahabat terbaik
51. Cetaklah fotomu besar-besar. Mereka akan membuatmu bahagia
52. Berikan fotomu pada teman-temanmu
Belfot ingin membagi 20 trik agar hasil foto anda lebih tajam. Ikuti dibawah ini:
1. Gunakan Tripod.
Kalau saat memotret kamera kita bergoyang dan bergerak, pasti susah menghasilkan foto
tajam. Jadi beli dan pakailah tripod. Pastikan anda membeli tripod yang stabil dan kokoh.
Sebelum membeli, cek artikel belfot mengenai tripod seperti ini. Selain agar foto selalu
tajam, ada 12 alasan kenapa tripod sebaiknya dibeli lho.
6. Mirror Lock Up
Kalau anda menggunakan kamera DSLR, kamera ini dibekali cermin (mirror) yang berguna
untuk menampilkan gambar di viewfinder. Hampir semua kamera DSLR dilengkapi fitur
yang bisa mengunci cermin agar tidak bergoyang saat kamera mengambil exposure, fitur ini
biasanya dinamai mirror lock up. Aktifkan fitur ini karena goyangan cermin bisa berefek
pada ketajaman (meski tidak selalu). Kalau anda pakai kamera mirrorless?.. wong mirror-less
berarti nggak ada cerminnya lho.
untuk memeriksa. Anda juga bisa memanfaatkan DOF calculator yang banyak tersedia di
internet seperti ini.
Belfot sudah beberapa kali membahas tips foto makro dengan menggunakan kamera DSLR
(disini dan disini), tapi jika anda belum memiliki kamera DSLR jangan berkecil hati. Kamera
saku juga mampu menghasilkan foto makro (close up).
Meskipun hasilnya tidak akan sedahsyat jika memggunakan kamera DSLR plus lensa makro
(ingat tentang rasio 1:1?), anda tetap bisa memotret dan menghasilkan foto makro yang indah
hanya dengan menggunakan kamera saku. Anda bisa lihat foto-foto yang ada di artikel ini,
semua dihasilkan dengan kamera saku.
Pengen tahu tips-nya? silahkan:
Pilih mode ini jika anda ingin memaksimalkan fitur makro yang sudah di setel oleh produsen
kamera saku. Mode makro biasanya disimbolkan dengan ikon bunga di kamera anda. Jika
anda memilih mode ini, anda memberitahu kamera bahwa anda ingin memotret dengan jarak
fokus yang lebih dekat dibanding biasanya (jarak fokus terdekat biasanya berbeda dari
kamera satu ke kamera lainnya). Mode makro juga berarti kamera akan memilih aperture
yang besar, sehingga obyek dalam fokus akan tajam sementara background-nya sedikit kabur.
Gunakan Tripod
Meskipun anda hanya menggunakan kamera saku, tripod sangat membantu ketajaman foto
makro anda. Selain mengurangi goyangan kamera, tripod juga membantu anda dalam
membangun komposisi dan sudut pemotretan yang lebih oke.
Setting Aperture
Jika kamera saku anda memiliki fitur untuk mengubah setting aperture saat dalam mode
makro, bereksperimenlah dengan mengubah besaran aperture f/x. Pilih angka x yang besar
jika anda ingin bidang fokus yang luas (semua tampak fokus), atau pilih x yang kecil jika
anda hanya ingin bidang fokus yang sempit (sehingga area diluar titik fokus tampak kabur).
Mulailah dari angka yang aman, coba gunakan f/4 atau f/5.6 sebagai permulaan.
Fokus
Jika kamera memungkinkan, gunakan setting manual focus, sehingga anda lebih leluasa
menentukan dimana titik yang ingin anda anggap sebagai titik fokus. Biasanya dalam mode
makro, settingan fokus manual akan jauh lebih mudah dilakukan dibanding auto. Contohnya
saat memotret bunga, kita akan bisa memastikan titik fokus jatuh di kelopak bunga dan tidak
di tangkainya.
Komposisi
Baca lagi tips tentang komposisi atau paling tidak ketahui tentang teori rules of third.
Gunakan background yang simpel dan tidak terlalu sibuk sehingga foto akhir nanti akan lebih
enak dilihat.
Lighting
Menggunakan flash di kamera saku justru akan menghasilkan foto yang tidak terlalu bagus.
Matikan flash dan manfaatkan cahaya matahari tidak langsung, misalnya cahaya dari jendela
atau saat mendung. Cahaya matahari langsung akan terlalu keras untuk kamera anda. Anda
juga bisa memanfaatkan reflektor sederhana misalnya kertas putih, styrofoam atau
alumunium foil untuk menerangi obyek yang terlalu gelap.
Manfaatkan timer yang ada di kamera saku anda sehingga gambar yang dihasilkan jauh lebih
tajam. Saat jari memencet tombol shutter di kamera, maka goyangan kamera akan membuat
foto anda tidak tajam, untuk itulah timer akan sangat berguna karena kita bisa mengaktifkan
kamera tanpa harus memencet tombol shutter. Anda membutuhkan tripod supaya lebih enak
dalam memanfaatkan timer.
Salah satu perbedaan utama antara indera mata dan lensa kamera anda adalah bahwa mata
memiliki depth of field (DOF) hampir tanpa batas sementara lensa terbatas, ini membawa
konsekuensi bahwa bidang fokus lensa tidaklah seluas mata. Dan fotografer terdahulu telah
memutuskan untuk justru memanfaatkan kelemahan ini menjadi senjata. Lahirlah apa yang
kemudian disebut bokeh.
Bokeh aslinya adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti menjadi kabur, jadi foto bokeh
adalah karakteristik foto yang menonjolkan sebuah oyek utama yang fokusnya sangat tajam
sementara latar belakang (dan atau depan) yang sangat kabur, atau dalam bahasa Inggris
selective focusing. Dalam contoh foto cantik diatas (karya Sektor Dua), obyek utama muka
model amatlah tajam, namun latarbelakang pintu menjadi tampak amat kabur (blur). Nah,
sifat kabur inilah yang disebut bokeh. Bagaimana caranya supaya kita bisa menghasilkan foto
bokeh yang seperti ini. Berikut yang bisa anda lakukan:
1. Pilih mode manual atau Aperture Priority baca lebih jauh tentang mode operasi
kamera disini
2. Pilih setting aperture sebesar mungkin.
Lihat tulisan f/x di lensa anda, semakin kecil x, semakin besar aperture dan semakin
sempit bidang fokusnya
3. Pikirkan tentang faktor jarak, yakni jarak didepan dan dibelakang bidang obyek.
Misalnya anda berdiri 1 meter didepan teman (jarak depan = 1 meter) dan anda
menjatuhkan titik fokus lensa pada mukanya. Teman anda berdiri sekitar 10 meter
dari background terdekat (jarak belakang = 10 meter), maka background ini akan
terlihat sangat kabur. Intinya, semakin kecil jarak depan (jarak antara lensa dan
obyek) dan semakin besar jarak belakang (jarak antara obyek dan background)
semakin kabur backgorund anda.
4. Banyak berlatih dan usahakan anda membeli lensa dengan kemampuan aperture
sebesar mungkin.
Tip: Jika anda memang menyukai bokeh, lensa non-zoom dengan aperture super besar
adalah cara tercepat mendapat bokeh (misal: 85mm f/1.8 & 50mm f/1.8, dua lensa ini
adalah lensa super cepat dan super murah juga penghasil bokeh yang luar biasa)
Karena anda sudah bersusah payah mendatangi lokasi yang jauh dan sulit, jangan kecewa
kalau mendadak mendung tiba. Maksimalkan kreatifitas anda saat langit tertutup mendung.
Langit mendung bukan halangan menghasilkan foto indah saat sunrise dan sunset. Cari tahu
obyek apa saja yang menarik untuk difoto saat mendung atau hujan.
4. Maksimalkan Siluet
Hal yang menambah daya tarik foto sunset dan sunrise adalah siluet. Siluet memberi kesan
yang kuat serta memberi cerita dalam foto anda, apalagi jika anda memotret sunset atau
sunrise di lokasi yang memiliki identitas kuat. Baca juga tips memotret siluet.
5. Bawalah Tripod
Jika anda ingin memanfaatkan teknik long shutter membuat HDR atau panorama: tripod
wajib dibawa. Baca Juga tips memilih tripod dan tips memilih kepala tripod.
Karena sunset dan sunrise memiliki kualitas cahaya yang lumayan ekstrim, kadang kamera
akan kesulitan menemukan fokus jika anda menggunakan mode auto focus, segera ganti ke
mode manual sehingga kita tidak menyia-nyiakan waktu menunggu kamera menemukan titik
fokus.
8. Gunakan Spot Metering (DSLR dan Prosumer) atau Sunset Scene (Untuk
Kamera Saku)
Untuk memperoleh eksposur yang tepat, gunakan mode metering spot jika anda memiliki
kamera DSLR dan prosumer (apa itu spot metering?), atau gunakan mode scene sunset/
sunrise jika anda menggunakan kamera saku pemula. Untuk pengukuran menggunakan spot
meter, arahkan titik fokus ke area sekitar matahari (jangan tepat di matahari nya lalu
lakukan metering dengan memencet separuh shutter, lalu kunci eksposur anda. Untuk kamera
saku (dengan mode scene), tinggal arahkan dan jepret. Pahami mode pengoperasian kamera
digital.
Oh satu lagi, topik komposisi lumayan sering dibahas di belfot.com. Anda bisa melihatnya
dengan mengetikkan kata komposisi di kotak search yang ada di sidebar kanan dan akan ada
dereten artikel mengenai komposisi yang bisa anda baca. Silahkan nikmati 20 tips singkat ini:
1. Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya
3. Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang
merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan tutupi atau pindahkan sudut
5. Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto. Manfaatkan komposisi framing, baca
9. Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto
10. Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata.
12. Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat
kesan tinggi
13. Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang,
manfaatkan
20. Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak di
viewfinder sesuai keinginan anda
1. Karena kita akan mengggabungkan beberapa foto sekaligus, gunakan tripod supaya
hasilnya tajam dan tidak berbayang
2. Set kamera di mode aperture priority (A atau Av), dengan mode ini kita memilih aperture
dan kamera-lah yang menentukan shutter speed
3. Set fokus pada posisi manual focusing. Cobalah beberapa jepret untuk menentukan fokus
di mode autofocus, setelah kita tentukan fokusnya, gantilah focusing ke mode manual
4. Set automatic bracketing pada kamera untuk menghasilkan 3, 5 atau 7 buah foto dengan
shutter speed bervariasi (Nikon & canon, untuk kamera lain silahkan lihat manual):
Nikon SLR:
1. Pencet tombol Fn (posisinya di muka bagian bawah)
2. Putar command dial belakang kamera sampai kita melihat tanda bracketing di
LCD atas
3. Pilih lima bracketing (atau 3, 5, 7 atau sesuai selera)
4. Ganti posisi release mode pada continous high speed
Canon SLR:
1. Pencet dan tahan tombol Mode dan AF.Drive untuk mengaktifkan bracketing
2. Set 5 di menu Custom Functions (atau 3, 5 atau 7, sesuai selera)
3. Set kamera di mode burst
5. Mulailah mengambil eksposur
6. Untuk pengolahannya kita bisa meng gunakan software khusus untuk HDR seperti
Photomatix Pro (gratis untuk versi demo) atau melakukannya di Photoshop klik disini
untuk langkah-langkah HDR di photoshop
Inspirasi: lihat galeri foto-foto HDR
Catatan: pilihan berapa foto yang dipakai sebenarnya tergantung kebutuhan kita. Tiga foto
akan membuat proses di photoshop jauh lebih cepat dibandingkan 5, namun kalau kita
memiliki 5 buah maka foto akhir yang dihasilkan akan memiliki tonal yang lebih halus.
Berikut beberapa tips singkat memotret High Dynamics Range (HDR), supaya foto HDR
yang anda hasilkan nantinya bisa lebih bagus:
o
Gunakan fitur bracketing yang ada di kamera SLR digital anda. Dengan
menggunakan fitur bracketing, kamera akan secara otomatis menaik-turunkan
nilai eksposur (stop) dengan sangat cepat, jauh lebih nyaman dibanding tangan
kita harus sibuk memutar tombol dial. Baca cara menggunakan bracketing
untuk SLR Canon/Nikon disini
Ambil 3,5 atau 7 jepretan. Kebanyakan foto HDR pada kondisi normal dihasilkan dari
5 foto dengan nilai eksposur berbeda dan kemudian digabungkan. Jika anda
menghadapi obyek foto dengan beda gelap-terang yang terlalu mencolok, ambil 7
eksposur sekaligus sehingga hasilnya lebih bagus lagi
Jangan mengubah-ubah nilai aperture dalam satu seri pemotretan untuk sebuah obyek.
Setel mode eksposur pada posisi Aperture Priority (A atau Av) untuk menjamin
ketajaman hasil akhir foto HDR. Jika anda mengubah-ubah nilai aperture, maka fokus
kamera juga akan berubah, sehingga daerah tajam foto menjadi tidak konsisten
Gunakan matrix metering atau evaluative metering dimana kamera akan mengukur
semua elemen dalam obyek foto sebelum menentukan berapa besaran eksposur yang
dibutuhkan
Pakailah tripod untuk menjamin hasil akhir foto tidak kabur. Dengan menggunakan
tripod, foto kita akan lebih tajam karena konsisten dari satu jepretan ke jepretan
berikutnya. Jika anda memiliki shutter release, pakai sekalian.
Jika memungkinkan, gunakan format RAW saat memotret HDR.