0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
567 tayangan62 halaman

Memahami Mode Pengoperasian Kamera

1. Artikel ini menjelaskan berbagai mode pengoperasian pada kamera digital seperti program mode, shutter speed priority, aperture priority, dan manual mode. 2. Ada empat mode pengoperasian utama yaitu program mode, shutter priority, aperture priority, dan manual mode. 3. Setiap mode memberikan kontrol yang berbeda terhadap parameter eksposur seperti shutter speed dan aperture.

Diunggah oleh

Ardian Danny
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
567 tayangan62 halaman

Memahami Mode Pengoperasian Kamera

1. Artikel ini menjelaskan berbagai mode pengoperasian pada kamera digital seperti program mode, shutter speed priority, aperture priority, dan manual mode. 2. Ada empat mode pengoperasian utama yaitu program mode, shutter priority, aperture priority, dan manual mode. 3. Setiap mode memberikan kontrol yang berbeda terhadap parameter eksposur seperti shutter speed dan aperture.

Diunggah oleh

Ardian Danny
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Memahami Mode Pada Kamera Digital

Memiliki pemahaman yang bagus mengenai beberapa mode pengoperasian kamera digital
amat membantu kita untuk secara efektif mengontrol eksposur. Artikel ini akan berusaha
menjelaskan beberapa mode pengoperasian yang lazim ada di kamera anda baik DSLR,
kamera pocket yang canggih maupun Super-zoom; aperture priority, shutter speed priority,
program mode dan manual mode.

Apa Itu Mode Pengoperasian Kamera?


Mode pada kamera digital memungkinkan kita mengontrol parameter eksposur, khususnya
shutter speed, aperture dan ISO yang merupakan parameter dasar fotografi. Beberapa mode
secara otomatis menentukan besaran tersebut, namun mode yang lain memungkinkan kita
mengontrolnya secara manual sesuai selera kita.Dahulu saat belum ada mode kamera,
fotografer harus menentukan sendiri semua parameter shutter speed, aperture dan memilih
jenis film yang akan digunakan. Untuk menghitung intensitas dan jumlah cahaya, mereka
harus menggunakan alat metering ( baca cara kerja metering kamera ) terpisah yang
mengukur cahaya lalu menentukaan informasi eksposure, yang kemudian digunakan untuk
setting kamera.
Sejak diperkenalkannya kamera SLR yang mampu mengukur cahaya yang masuk melalui
lensa, alat metering mulai ditinggalkan. Sejak itu pula mode otomatis juga mulai
diperkenalkan oleh pabrik kamera, dimana kamera akan mengukur cahaya yang masuk
melalui lensa dan sekaligus menghitung nilai eksposure yang pas. Mode yang saat ini ada
(dihampir semua kamera digital kelas semi pro sampai pro) berusaha menjembatani antara
pengoperasian semi otomatis dan full manual ala fotografer tempo dulu.

Jenis-Jenis Mode Kamera


Ada empat jenis utama mode kamera:
1.
2.
3.
4.

Program Mode
Shutter Priority (Tv atau S)
Aperture Priority (Av atau A)
Manual (M)

1. Program Mode
Dalam program mode, kamera secara otomatis akan menentukan Aperture dan Shutter Speed
untuk kita berdasarkan jumlah cahaya yang masuk melalui lensa. Jika anda menemukan
momen yang penting dan tidak ingin berpikir apa-apa langsung jepret, gunakan mode ini.
Kamera akan berusaha menyeimbangkan antara shutter dan aperture, jika kita mengarahkan
lensa ke area yang terang, angka aperture secara otomatis membesar sementara shutter speed
dipertahankan di angka yang lumayan cepat. Arahkan kamera ke area gelap dan angka
aperture akan mengecil untuk mempertahakan shutter supaya tidak terlalu blur.
Ada cara untuk mengubah pengukuran otomatis kamera, dengan memutar kontrol dial di
kamera. Jika kita putar dial ke kiri maka kamera akan dipaksa memperlambat shutter speed
dan menambah aperture. Jika memuter dial ke kanan, kamera akan dipaksa mempercepat
shutter speed dan memperkecil aperture.

2. Shutter-Priority Mode
Di mode shutter priortiy, kita secara manual mengatur nilai shutter speed dan kamera secara
otomatis memilih nilai aperture untuk kita bserdasarkan jumlah cahaya yang masuk melalui
lensa. Mode ini bisa kita pakai saat ingin membekukan gerakan atau kalau kita sengaja ingin
menciptakan foto blur. Jika ada terlalu banyak cahaya, maka angka aperture akan membesar
(bukaan mengecil) sehingga jumlah cahaya yang masuk lensa akan berkurang. Jika terlalu
sedikit cahaya masuk lensa makan angka aperture akan mengecil (bukaan membesar) supaya
cahaya makin banyak masuk lensa.
Jadi di mode shutter priority, nilai shutter speed akan konstan tidak berubah sesuai (sesuai
setting kita), sementara nilai aperture akan bervariasi tergantung jumlah cahaya.

3. Aperture-Priority Mode
Di mode aperture priority, kita set besaran aperture secara manual dan kamera akan
menentukan besar shutter speed sesuai jumlah cahaya yang masuk lensa. Dengan
menggunakan mode aperture priority, kita memiliki kontrol penuh atas depth of field (bidang
tajam), karena kita bisa menurunkan atau menaikkan bukaan lensa dan membiarkan kamera
yang menghitung shutter speed
Menggunakan mode aperture priority adalah cara aman dalam mengoperasikan kamera
karena resiko foto menjadi under-exposed (gelap) atau over-exposed (terlalu terang) lumayan
kecil. Kenapa? karena nilai shutter kamera range-nya lumayan lebar, dari 30 detik sampai
1/4000 detik (atau 1/8000 detik dikamera canggih), yang mana sangat mencukupi untuk
berbagai kondisi cahaya.

4. Manual Mode
Seperti namanya, kita mengontrol nilai aperture dan shutter speed kamera secara manual
sepenuhnya. Anda harus memilih nilai aperture sekaligus shutter speed. Mode ini bisa dipakai
saat memotret obyek foto yang kondisi pencahayaan-nya membuat kamera bingung.
Contohnya adalah saat kita memotret teman di pantai yang sangat terang, kamera mungkin

akan salah menilai exposure sehingga wajah teman jadi hitam supaya pasir dipantai tidak
over-exposed. Dalam kasus seperti ini, kita bisa mengganti mode menjadi manual dan
melakukan metering dengan mengukur exposure di wajah teman lalu menentukan aperture
serta shutter speed secara manual berdasarkan hasil metering tadi.
Mode manual juga berguna saat misalnya kita memotret panorama (cara memotret
panorama? baca disini), supaya terjadi konsistensi. Foto panorama dihasilkan dari beberapa
foto yang dijahit, dan nilai aperture maupun shutter speed sebaiknya selalu konsisten
sehingga hasil akhir foto panorama akan konsisten tidak belang-belang ada yang gelap dan
ada yang terang.

Cara Mengubah Mode Kamera?


Tombol pengubah mode kamera biasanya terlihat cukup mencolok,, sebuah tombol putar
yang ditampilannya tertulis: P S A M (DSLR Nikon) atau : P Tv Av M (DSLR
Canon), ini beberapa contohnya:
Nikon D5000:

Di Canon 50D:

Di beberapa kamera kelas professional, tombol dial mode tidak ditunjukkan secara mencolok,
di Nikon D300S misalnya, hanya ada tombol kecil disebelah kanan atas bertulis MODE.

Bagaimana Dengan ISO?


Dikebanyakan kamera DSLR, ISO tidak berubah secara otomatis kalau kita mengganti modemode diatas, jadi kita harus menentukan ISO secara manual (baca konsep ISO disini). Jika
anda tidak ingin menggunakan setting ISO secara manual, gunakan fitur Auto ISO
dikamera, lalu set ISO maksimum di 800-1600, jika anda merasa terlalu banyak noise,
ganti maksimum ISO di angka yang lebih kecil.

Bagaimana Dengan Mode Kamera Lainnya?


Beberapa camera entry-level dan semi-pro juga memiliki mode yang lain, misalnya
portrait, landscape, macro, sport dan lain-lain, tergantung jenis kameranya. Untuk
memahami mode ini silahkan baca Memahami Mode Auto dan Scene.

Memahami Mode AF Area Kamera DSLR


Dalam artikel mengenai mode autofokus alias AF Modes, kita sudah mengenal beragam
mode autofokus yang ada dikamera DSLR: single, continuos dan hybrid. Nah yang kadang
membingungkan bagi pemula adalah selain mode autofokus diatas, kebanyakan kamera
DSLR juga menyediakan pilihan untuk menentukan dititik mana sajakah autofokus akan
terjadi. Pilihan ini secara resmi dinamai AF-Area Modes. Dikelas kamera DSLR entry level
pengaturan dilakukan di dalam menu, sementara kamera DSLR kelas semi-pro dan pro
menyediakan tombo terdedikasi untuk memilih mode area autofokus.

Mari kita bedah satu persatu:

Single Point AF-Area Mode


Di kamera DSLR Canon dinamai Manual AF Point sementara di Nikon dinamai Single
Point. Dalam mode ini kamera hanya akan menggunakan satu titik fokus dimana lokasi titik
fokus ini kita sendiri yang menentukan.
Kita bisa memindahkan titik fokus keatas, kebawah, kekanan dan kekiri. Dimana kita
memindah titik fokus, disitulah kamera akan mencari fokus dan menguncinya. Pilihan mode
ini biasanya cocok dipakai saat kita memotret benda diam atau landscape.

Dynamic Area AF-Mode


Dinamakan Dynamic di kamera DSLR Nikon dan AF Point Expansion di DSLR Canon.
Didalam mode ini kita masih harus menentukan satu titik fokus dan kamera akan berusaha
mencari fokus dititik tersebut. Namun saat fokus gagal dikunci dititik pilihan kita, maka
kamera akan secara pintar mennggunakan titik-titik fokus disekitarnya untuk mendeteksi jika
ada pergerakan obyek foto.
Mode Dynamic Area cocok dipakai saat kita memotret obyek yang bergerak cepat, misalnya
burung atau anak kecil yang berlari. Jenis kamera DSLR yang lebih mahal biasanya memberi
fasilitas untuk kita bisa memilih jumlah titik fokus disekitar yang bisa dipakai. Sebagai
contoh di Nikon D700 kita bisa memilih antara 9 sampai dengan 21 titik fokus. Di kamera
Canon 5D Mark iii, pilihanya adalah 4 atau 8 titik fokus tambahan.

Auto Area AF Mode


Di kamera DSLR Nikon dinamai Auto-Area AF Mode sementara di kamera Canon dinamai
Automatic AF Point Selection. Dalam mode ini kita tidak harus memilih titik fokus,
kamera akan secara otomatis menentukan titik fokus mana yang akan diaktifkan. Mode ini
biasanya mendeteksi obyek yeng mudah dikenali, misalnya manusia (karena skin tone). Jika

ada beberapa orang sekaligus, maka kamera akan memilih orang yang berdiri paling dekat
dengan kamera.
Jika kamera tidak mendeteksi adanya manusia (skin tone), bisanya dia akan menngunci fokus
pada obyek terdekat pada kamera atau paling besar. Mode ini tidak disaarankan kalau anda
mencari akurasi dan presisi yang tinggi di sebelah mana fokus akan dipilih.

Mode Area AF Lainnya


Ada beberapa kamera yang menyediakan fitur seperti halnya Face Priority AF yang
biasnaya cocok dipakai di video. Di Canon 7D misalnya tersedia pilihan Spot AF dimana
kita bisa memilih titik fokus didalam sebuah titik fokus (yang kecil sekali). Mode-mode ini
adalah fitur tambahan yang bisa dipakai dalam kondisi khusus.

Bagaimana Mengubah Mode AF Area?


Saya sarankan anda membuka manual kamera masing-masing, karena ada kemungkinan akan
berbeda dari satu kamera ke kamera lainnya.
Berikut contoh di Nikon D3100:
1. Tekan tombol information edit dua kali lalu scroll kebawah ke AF-area mode (baris
ke-6)
2. Tekan OK
3. Gunakan selector untuk memilih SIngle-Point AF, Dynamic Area AF, Auto-Area AF
atau #D-Tracking.
4. Pencet Ok
5. Pencet lagi tombol information edit untuk keluar dari menu.
Di Canon 5D Mark III misalnya, anda bisa memilih area AF dengan masuk ke menu AF lalu
pilih Select AF area Selec. mode, pilih mode yang diinginkan lalu pencet SET.
Di Nikon D300/D300s atau kamera Nikon level pro, anda bisa memilih mode area AF
melalui selektor khusus seperti ini:

Nah selamat mencoba.

Menggunakan Tombol Depth Of Field


Preview Kamera DSLR
Saat kita memotret dengan menggunakan kamera DSLR dan memiliki lensa dengan bukaan
maksimum yang besar, tentu kita ingin menggunakannya di settingan maksimum tersebut.
Sayangnya, saat menggunakan bukaan maksimal misalnya f/2.8 atau f/1.8 sehingga kita
memiliki depth of field yang sempit, viewfinder tidak bisa memberi kita gambaran
bagaimana background yang menjadi blur (bokeh) akan tampak di hasil akhir foto.

Untungnya produsen kamera DSLR memberi fasilitas bernama depth of field preview.
Tombol ini biasanya berlokasi dibagian depan kamera dan posisinya disebelah lensa. Di
Canon atau Nikon sebagai contoh di Canon EOS 60D dan Nikon D7000, tombol ini
lokasinya didepan kamera disebelah mounting lensa. Dalam gambar diatas, lingkaran hijau
adalah lokasi tombol depth of field preview di Canon EOS 60D

Cara menggunakannya adalah, dalam setting aperture lebar (f/1.4, f/1.8, f/2, f/2.8 dll), pencet
dan tahan tombol tersebut sembari mata mengintip di viewfinder. Maka tampilan di
viewfinder akan mendekati hasil akhir foto nantinya dimana bidang tajam terlihat sementara
area diluar bidang tajam menjadi blur. Nah selamat mencoba.

Memahami Cara Kerja Metering Kamera


SLR Digital (DSLR)

Setiap kamera SLR digital modern dari pabriknya dilengkapi dengan teknologi bernama
Metering Mode, Exposure Metering, Camera Metering atau untuk lebih praktisnya kita sebut
Metering yang sudah dirakit didalamnya. Dalam artikel ini kita akan berusaha memahami apa
itu metering? bagaimana cara kerjanya serta beberapa kelemahan utama yang harus kita
hadapi (underexposed & overexposed). Dalam artikel selanjutnya, lebih jauh kita pahami
tentang mode metering (matrix/evaluative, center weighted & spot metering).

Apa Itu Metering? Apa Gunanya?


Secara prinsip tidak beda dengan meteran gulung yang dipakai pekerja konstruksi atau
meteran pita yang dipakai tukang jahit untuk mengukur panjang, hanya metering ini dipakai
oleh kamera DSLR untuk mengukur cahaya, yang secara relatif lebih njelimet dibanding
dengan mengukur panjang.
Metering dipakai untuk mengukur cahaya yang dilihat oleh kamera (cahaya yang masuk ke
lensa). Saat kita melihat obyek foto melalui viewfinder kamera, kondisi cahaya di obyek
tersebut akan diukur oleh sistem metering. Tujuan utama dari sistem metering kamera adalah
menghasilkan foto yang pas eksposure-nya (baca lagi pengertian eksposure). Metering
melakukannya dengan menganalisa tingkat gelap terang sebuah obyek foto kemudian
menentukan besarnya shutter speed, aperture serta ISO supaya hasil foto anda pas, tidak
terlalu gelap ataupun tidak terlalu terang.
Hmm pusing nya. oke, gampangya begini.Bayangkan mata anda. Saat anda merasa silau
apa yang anda lakukan? memincingkan mata bukan! Secara tidak sadar anda mengurangi
jumlah cahaya yang masuk ke mata supaya anda tidak silau (tidak terlalu terang).
Kebalikannya, saat merasa cahaya terlalu remang anda secara otomatis membuka mata lebarlebar. Memincingkan mata atau membuka mata lebar-lebar supaya mata merasa nyaman saat
melihat (eksposur yang pas), seperti itulah tugas sistem metering kamera.

Cara Kerja Sistem Metering Kamera & Kelemahannya


Saat kamera melihat tembok, sistem metering akan mengukur besar cahaya (gelap terang)
yang dipantulkan oleh tembok tersebut (reflective). Hal ini mudah saat semua obyek foto
memantulkan jumlah cahaya yang sama.
Repotnya, didunia nyata masing-masing benda memiliki tingkat pantulan yang berbeda. Saat
kita memotret langit, kalau langitnya biru sempurna metering kamera akan gampang
menghitung eksposur karena hanya ada satu tingkat terang yang harus dihitung (biru). Namun
saat kita memotret langit dengan tambahan awan putih, metering sekarang harus menghitug

kecerahan langit biru dan kecerahan awan putih dan harus berusaha menghasilkan eksposure
yang optimal. Sekarang tambahkan gunung dan barisan pepohonan kedalam obyek foto
diatas, maka tingkat kompleksitas yang dihadapi metering makin rumit.
Bagaimana cara para perancang sistem metering kamera mengantisipasi keadaan ini?
Jawabannya adalah dengan berusaha membuat tingkat gelap terang rata-rata dari sebuah
obyek foto apapun itu. Secara teknis gelap terang rata-rata bagi sistem metering kamera
adalah 18% grey ( 18% abu-abu atau abu-abu normal) tidak terlalu gelap dan juga tidak
terlalu terang lihat foto dibawah. Sebuah obyek foto dengan tingkat pantulan cahaya yang
memiliki gelap terang kompleks akan dijinakkan dengan cara ini.

Solusi ini secara umum memang bisa kita pakai untuk memotret kondisi normal. Namun
ketika kita dihadapkan pada kondisi misalnya anda akan memotret wajah teman dengan
background putih sempurna, kamera akan menjadikan wajah teman anda lebih gelap karena
harus mengantisipasi background putih dan membawanya kearah 18% grey alias
underexposed. Atau misalnya saat anda memotret bunga didalam gelas kaca kecil yang
diletakkan diatas taplak meja hitam, maka didalam foto bunga akan lebih terang dari aslinya
karena harus membawa taplak meja hitam tadi ke arah 18% grey alias overexposed.

Lalu Kita Harus Bagaimana?


Seperti halnya kita tidak bisa terus menerus menggunakan auto eksposure, untuk
menghasilkan foto yang bagus kita tidak bisa menggunakan sistem metering kamera tanpa
beberapa trik (meninggalkannya dalam posisi default). Agar lebih jelas, silahkan baca
beberapa mode metering yang bisa membantu kita mengantisipasi kelemahan sistem metering
ini.

Memahami Mode Auto Fokus Kamera


DSLR
Saat ini hampir semua kamera DSLR dilengkapi dengan beberapa pilihan cara kamera
melakukan autofokus (autofocus mode). Memotret vas bunga yang diam diatas meja tentu
membutuhkan cara autofokus yang berbeda dengan memotret anak kecil yang sedang
menggiring bola dilapangan. Sengaja pembahasan kali ini mengenai autofokus dan bukan
manual fokus supaya tidak terlalu panjang.

Saat memotret benda diam, kita biasanya menggunakan satu titik fokus, mengunci fokus
sekali baru memotret. Namun saat memotret benda/orang yang selalu bergerak berpindah
posisi, kita butuh kamera yang mampu memindahkan titik fokus secara otomatis mengikuti
seubyek tersebut. Berita bagusnya, kamera DSLR dilengkapi dengan fitur tersebut. Mari kita
bedah satu persatu:

Mode Autofokus Single Area


Di kamera DSLR Canon dinamai One Shot AF sementara di kamera DSLR Nikon dinamai
Single Area AF. Dari namanya cukup jelas bahwa kita memilih satu titik fokus lalu kamera
akan mencari kontras di satu area titik fokus tersebut. Saat kita memencet separuh tombol
shutter atau memencet tombol AF-On (jika menggunakan kamera DSLR yang memiliki
tombol AF-On terdedikasi), kamera akan mengunci fokus di titik tersebut sekali. Jika subyek
berpindah posisi dan meskipun kita tetap pencet separuh tombol shutter, kamera tidak akan
memindahkan fokus secara otomatis.
Dalam mode ini, kita tidak akan bisa memencet penuh shutter (mengambil foto) sebelum
kamera bisa mengunci titik fokus. Namun ketentuan ini bisa diakali lewat pengaturan di
menu autofocus dan mengatur focus priority.

Mode Autofokus Continuous/AI Servo


Mode ini dikamera DSLR Nikon dinamai Continuous/AF-C sementara di Canon dinamai
AI Servo. Mode ini digunakan saat kita harus mengikuti sebuah subyek foto yang terus
berpindah posisi, misalnya saat kita memotret sport, binatang atau mobil yang sedang melaju.
Dalam mode ini, kamera akan menganilis pergerakan subyek dan memprediksi kemana arah
gerak si subyek dengan menempatkan titik fokus sedikit mendahului keberadaan subyek.
Dengan mode Continuous, kita bisa mengikuti pergerakan subyek dan mendapatkan fokus
yang tajam. Caranya adalah dengan terus memencet separuh tombol shutter sambil membidik
pergerakan subyek atau dengan terus memencet tombol AF-On dengan jempol (jika ada).

Mode Autofokus Hybrid/Campuran Antara Single & Continuous


Di kamera DSLR Canon dinamai AI Focus sementara di Nikon dinamai AF-A.
Merupakan mode fokus campuran antara single dan Continuous dimana kamera akan secara
mengganti fokus dari single ke continous atau sebaliknya sesuai kondisi subyek foto. Jika
yang difoto diam kamera akan memakai Single sementara saat obyek bergerak kamera akan
berganti ke mode Continuous.
Tidak semua jenis kamera DSLR memiliki mode ini. Bagi pemula, pilihan mode ini
sebenarnya lumayan membantu karena tidak perlu mengganti-ganti mode fokus.

Mode Autofokus Mana Yang Sebaiknya Anda Pakai?


Kesimpulan yang sebenarnya cukup gampang:
1. Saat memotret benda diam atau orang yang berpose silahkan gunakan mode Single
2. Saat memotret benda bergerak secara konstan, gunakan mode Continuous
3. Untuk keperluan sehari-hari, anda bisa meninggalkan kamera secara default di posisi
continous mode atau mode hybrid. Baru saat kamera tidak bisa mengunci fokus di
mode Continuous , misal saat memotret di kondisi agak gelap silahkan pindahkan ke
mode Single.
4. Bagi pemula yang tangannya masih belum terlalu lincah mengganti-ganti mode fokus
secara cepat, anda bisa menggunakan mode hybrid (jika memang dikamera ada).

Bagaimana Cara Mengganti Mode Fokus?


Cara mengganti mode fokus tidak sama dari satu kamera ke kamera lain. Untuk itu saya
sarankan cek di manual masing-masing. Di kamera Nikon D300s/D700, anda bisa
menemukan pengait kecil yang ada dibagian depan sebelah kiri mount lensa: AF-S, AF-C dan
M (amanual). Sementara di Canon (misal EOS 60D), anda bisa menganti mode fokus dengan
memencet tombol AF dibagian atas kamera lalu akan muncul pilihan mode fokus di panel
LCD atas.

Memahami Mode Metering Kamera DSLR

Setelah artikel sebelumnya menjelaskan tentang cara kerja metering kamera DSLR secara
umum, sekarang kita akan memahami beberapa mode metering yang ada di kamera DSLR.
Langsung saja:

Matrix atau Evaluative Metering


Nikon menyebutnya sebagai mode matrix, sedangkan Canon menyebutnya sebagai mode
evaluative. Cara kerjanya adalah kamera membagi seluruh obyek foto yang ada dalam
viewfinder menjadi beberapa zona atau wilayah, kemudian masing-masing zona tadi diukur
gelap terangnya. Kamera juga menekankan zona dimana anda meletakkan titik fokus sebagai
zona yang penting, sehingga nilai gelap terang disini dianggap sebagai prioritas. Setelah
semua informasi tadi terkumpul, kamera akan mencoba menentukan nilai eksposur yang pas.

Selain itu, kamera DSLR juga membandingkan informasi gelap-terang diatas dengan data
contoh pemotretan dalam bermacam situasi yang sudah dimasukkan ke dalam memory
kamera oleh produsen untuk mementukan nilai eksposur yang menurutnya paling tepat. Mode
matrix/evaluative biasanya digunakan pada hampir semua situasi pemotretan normal, paling
akurat dalam kondisi sehari-hari dan paling sering digunakan. Jadi, sebelum anda
menemukan situasi pemotretan yang kompleks dan sulit, pakailah mode ini.

Center Weighted Metering


Menggunakan keseluruhan area frame untuk menentukan nilai eksposur tidak selalu
menghasilkan foto yang diinginkan. Bagaimana jika ingin memotret wajah dengan matahari
ada dibelakangnya? Jika anda menggunakan mode matrix, kemungkinan besar wajah akan
terlihat sangat gelap.

Inilah saatnya anda menggunakan mode center weighted. Mode ini mengukur refleksi cahaya
disekitar titik tengah frame dan mengabaikan daerah disekitar sudut-sudut frame. Dengan
begitu kamera hanya akan mengukur nilai eksposur di wajah (titik tengah viewfinder) dan
mengabaikan nilai di area lain (sinar matahari yang jauh lebih terang). Dibandingkan dengan
mode matrix, mode center weighted tidak melihat dimana kita meletakkan titik fokus, dia
hanya melihat area disekitar titik tengah viewfinder.

Spot /Partial Metering


Spot metering hanya akan mengukur cahaya disekitar titik fokus dan mengabaikan cahaya
didaerah lainnya, tepatnya hanya sekitar 3% dari keseluruhan obyek foto yang diukur.
Sementara partial metering mengukur area yang sedikit lebih besar, sekitar 10% dari
keseluruhan foto dan juga mengabaikan area lainnya.Kedua mode ini sama prinsip kerjanya.
Mereka mengevaluasi satu zone tunggal dan menghitung eksposur murni berdasarkan hasil
evaluasi tadi, sementara zone lainnya sama sekali tidak dihitung.

Contoh penggunaannya adalah saat anda memotret seorang teman yang membelakangi
matahari yang bersinar terang, namun teman tersebut hanya merupakan bagian kecil dari
keseluruhan foto sementara kita ingin memastikan dia terukur eksposure-nya dengan baik
(tidak terlalu gelap dan juga tidak terlalu terang). Jika anda menggunakan matrix atau center
weighted metering, kemungkinan besar teman kita hanya akan terlihat sebagai siluet, karena
kamera justru mengukur cahaya matahari yang mendominasi foto.
Satu contoh lagi penggunaan spot metering adalah saat kita memotret burung. Karena burung
(kecuali anda memotretnya secara close-up), mengisi sebagian kecil frame maka gunakan
spot metering untuk memastikan burung sebagai obyek utama tereksposure secara tepat.

Bagaimana Mengganti Mode Metering?


Tergantung pada jenis dan merk kamera, cara penggantian mode metering cukup bervariasi.
Untuk kamera SLR Digital kelas pro dan semi-pro, biasanya dilengkapi tombol terdedikasi
untuk mengganti mode metering. Sementara kamera DSLR kelas pemula biasanya didalam
sub-menu. Kalau anda tidak yakin, pastikan anda membaca kembali buku manual bagi
kamera anda. Anda bisa mendownload ebook manual kamera untuk beberapa merk kamera
disini.

Memahami Konsep Exposure

Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point & shoot, kita terpaku pada
mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat,
namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.
Bagi yang ingin lulus dan naik kelas dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa
kreatif kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep eksposur.
Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding
Exposure yang didalamnya diterangkan konsep eskposur secara mudah.
Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami
eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen
dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan
berinteraksi dengan kamera.

Ketiga elemen tersebut adalah:


1. ISO ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
2. Aperture seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
3. Shutter Speed rentang waktu jendela didepan sensor kamera terbuka
Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur. Perubahan dalam salah satu elemen
akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.
Perumpamaan Segitiga Eksposur
Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan
sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti
halnya sebuah keran air.

Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran.
Aperture adalah seberapa lebar kita membuka keran.
ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM.
Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima
sensor kamera.

Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya.
sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita
bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen
penyusunnya. Anda mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air
terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara
mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya.

Memahami Konsep ISO


Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin
tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam
kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah.
1. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya
saya memiliki 100 lebah pekerja.
2. Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.
Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan
membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di
f/3.5 namun saya set ISO di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja),
maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?
Secara garis besar:
1. Saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 (dalam aperture yang selalu konstan
kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority A atau Av), kita
mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor
kamera kita sampai separuhnya (2 kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250
detik.
2. Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai
separuhnya lagi: 1/500 detik.
3. Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh, kita namakan
menaikkan esksposur sebesar 1 stop.
Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu
konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority S atau Tv), dan ubah-ubahlah
setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 dst, lihatlah perubahan
besaran aperture anda.

Memahami Shutter Speed

Secara definisi, shutter speed


adalah rentang waktu saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed
berarti waktu dimana sensor kita melihat subyek yang akan kita foto. Gampangnya shutter
speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini
kembali ke posisi semula.

Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam beberapa penggunaannya di kamera:

Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak
1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu
eksposur sebanyak 30 detik, anda akan melihat tulisan seperti ini: 30
Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan
melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua
kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed
yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 dst.
Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman
dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga
foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak
fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur
Image Stabilization (dibahas dalam posting mendatang)
Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar
dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter
minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.
Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan shutter speed setinggi mungkin
yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan. Semakin cepat obyek bergerak yang
ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin cepat shutter speed yang dibutuhkan.
Untuk membekukan gerakan burung yang terbang misalnya, gunakan mode Shutter
Priority dan set shutter speed di angka 1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto)
supaya hasilnya tajam. Kalau anda perhatikan, fotografer olahraga sangat
mengidolakan mode S/Tv ini.
Blur yang disengaja shutter speed untuk menunjukkan efek gerakan. Ketika
memotret benda bergerak, kita bisa secara sengaja melambatkan shutter speed kita
untuk menunjukkan efek pergerakan. Pastikan anda mengikutkan minimal satu obyek
diam sebagai jangkar foto tersebut. Coba perhatikan foto dibawah:

Memahami Aperture & Depth of Field


Setiap kali berbicara tentang fotografi dan kamera, kata-kata aperture serta depth of field
akan sering sekali keluar. Nah dalam artikel ini belfot akan mencoba membantu anda
memahami aperture dan depth of field sehingga cukup jelas bagi pemula.

Memahami Aperture
Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita
mengambil foto.
Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah
setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar
lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.
Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah
bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6.
Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar
lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini
terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar
angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.

Jadi dalam kenyataannya,


setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22
misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer).
Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar
angka f-nya.

Memahami Depth of Field

Depth of field DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field
(DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai
obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti
hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak
fokus.

Untuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting


aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) lihat
contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar
mungkin, misal f/2.8 lihat contoh foto dibawah.

Konsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama


dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan
membutuhkannya.

Memahami Stop Dan Segitiga Exposure


Dalam Fotografi
Dalam fotografi, kata stop sering sekali kita dengar dan baca. Bukan, bukan stop yang itu,
bukan stop yang artinya berhenti. Stop disini adalah istilah dalam fotografi. Contoh
penggunaanya mungkin seperti ini: Karena fotonya terlihat over, saya turunkan satu stop,
nah seperti itu.
Kalau sampai detik ini, kata stop dalam fotografi masih membuat anda bingung, silahkan
simak penjelasan singkat ini.

Definisi Stop
Stop dalam fotografi kurang lebih memiliki arti mengubah jumlah cahaya yang diterima
sensor/film sehingga mempengaruhi exposure foto. Tambah satu stop berarti lebih terang 2
kali, tambah 2 stop berarti lebih terang 4 kali. Kurangi satu stop berarti lebih gelap setengah
kali. Satu stop berarti mengubah jumlah cahaya sebanyak kelipatan 2.
Sebagaimana anda ketahui, jumlah cahaya yang diterima sensor kita namai exposure. Dan
naik satu stop berarti meningkatkan exposure sebanyak 2 kali. Aksi menaikkan atau
mengurangi exposure bisa dilakukan dengan mengubah salah satu atau gabungan tiga elemen
yang menyusun segitiga exposure: shutter speed, aperture dan ISO. (lebih jauh diterangkan
dalam artikel ini: Memahami Konsep Exposure).
Agak abstrak ya? oke satu perumpaan agar jelas. Katakanlah dikamar anda ada 4 lampu 100
watt dan keempatnya menyala. Karena stop adalah perubahan gelap terang, maka turun satu
stop artinya anda mematikan dua lampu sehingga hanya dua lampu yang menyala. Sementara
naik satu stop berarti anda harus membawa 4 lampu lagi dengan watt yang sama. Dalam
kasus ini, kamar adalah sensor di kamera digital semantara cahaya lampu adalah exposurenya.

Stop dan Shutter Speed


shutter speed mengukur berapa lama sensor menerima cahaya. Semakin lama shutter speed
berarti semakin banyak cahaya yang diterima sensor yang artinya menaikkan exposure.
Dalam shutter speed, satu stop penuh mudah diingat karena merupakan hasil pembagian
bilangan dua (dengan pembulatan): 1, 1/2, 1/4, 1/8, 1/15, 1/30, 1/60, 1/125, 1/250, 1/500,
1/1000, dst. Pindah satu stop berarti lompat sekali, misal dari 1/30 ke 1/125. Pindah 2 stop
berarti lompat dua kali. Bingung dengan shutter speed, pahami konsepnya lebih jelas disini.

Stop dan ISO


Juga mudah dalam ISO, tinggal kali 2 berarti anda naik satu stop. ISO 100 ke ISO 200 berati
satu stop, 200 ke 400 dan seterusnya. Kalau ditanya ada berapa stop dari ISO 100 ke 1600?
nah pintar, ada 4 stop. Pahami konsep ISO disini.

Stop dan Aperture


Agak lebih susah dalam aperture karena bilangannya melomcat-loncat: f/1, f/1.4, f/2, f/2.8,
f/4, f/5.6, f/8, f/11, f/16 dst. Pahami lagi konsep Aperture disini.

Apa Hubungan Stop Dengan Ketiganya?


Katakanlah anda menggunakan setting awal kamera seperti ini: 1/125, f/8 dan ISO 100.
Karena hasil fotonya under exposure (gelap) anda naik satu stop yang artinya bisa tiga hal:
1/60, f/8, ISO 100 (hanya shutter yang berubah). Atau 1/125, f/5.6 ISO 100 (hanya aperture
yang berubah). Atau 1/125, f/8 ISO 200 (hanya ISO yang berubah). Semua perubahan
bernilai satu stop.

Memahami Mode Program Kamera DSLR


Program mode alias mode program biasanya disimbolkan dengan huruf P dikamera DSLR
ataupun kamera digital lain. Didalam mode ini, kita bisa memilih ISO dan kamera akan
menentukan nilai aperture dan shutter speed. Beda antara mode Program dengan mode Auto
adalah dalam mode Program kita tetap memiliki kontrol atas kamera, sementara di mode
Auto kamera menentukan semuanya.

Mari kita pahami mode program lebih jauh.

Program Shift
Dalam mode Program, kita bisa mengganti nilai aperture dan shutter speed yang ditentukan
kamera dengan menggunakan Program Shift. Cukup dengan memutar tombol putar dial
dibagian belakang kamera kita bisa mengubah nilai aperture dan shutter speed. Saat anda
mengendaki depth of field yang sempit anda bisa memutar command dial untuk mengubah
nilai aperture. Cek cara menggunakan program shift di manual kamera anda masing-masing.
Di Canon EOS D60 misalnya, anda bisa menggunakan program shift dengan memencet
shutter separuh lalu memutar tombol main dial dibelakang.

Mode Program adalah ISO Priority


Mode program bisa kita namai ulang ISO priority. Kita menentukan ISO dan kamera
menentukan parameter lain. Ingat, segitiga exposure terdiri atas ISO, shutter speed dan
aperture. Dalam kasus ini berarti kamera menentukan shutter speed dan aperture.

Kapan Saat Menggunakan Mode Program?


Mode program saat ini bisa dipakai untuk pemotretan standar yang anda jumpai sehar-hari.
Standar dalam pengertian subyek foto yang kondisi pencahayaannya relatif tidak njlimet,
seperti halnya situasi pemotretan dibawah:

Jenis foto seperti diatas dengan mudah dihandle oleh mode program. Kamera akan
menentukan shutter speed yang cukup cepat untuk menghindari foto blur dan kita juga tidak
menuntut depth of field yang tidak terlalu ekstrim. Saat anda tidak menyukai setting yang
dipilih kamera, gunakan Program Shift untuk mengubahnya. Atau cukup naikkan ISO agar
kamera memilih aperture yang lebih kecil.

Memahami Mode Aperture Priority


Kamera Digital
Dalam menggunakan kamera DSLR maupun kamera mirrorless, atau bahkan kamera saku
kelas atas, kita disuguhi beberapa pilihan mode pengoperasian untuk mengontrol exposure.
Salah satunya adalah mode Aperture Priority (mode lain: Mode Program, Mode Shutter
Priority dan Mode Auto). Mode aperture priority biasanya disimbolkan dengan huruf A atau
Av di tombol kontrol kamera anda. Sebelum melangkah terlalu jauh, penting bagi anda untuk
memahami dasar konsep exposure, konsep aperture dan depth of field dan memahami
segitiga fotografi.

Konsep
Dalam mode aperture priority ini, kamera memberi kebebasan bagi kita untuk mengontrol
nilai aperture, sementara kamera akan menghitung dan menentukan nilai shutter speed. Nilai
ISO bisa kita set dari awal, atau bahkan kita bisa memilih auto ISO.Cobalah putar posisi
mode di A atau Av, lalu tentukan bahwa anda ingin memotret menggunakan aperture f/4 dan
ISO 200. Lakukan metering pada sebuah subyek foto, lalu lihat nilai shutter yang dipilih
kamera. Sekarang gantilah nilai aperture ke posisi f/8 lalu ulangi metering pada subyek yang
sama, maka shutter speed akan berubah.

Kapan Menggunakan Aperture Priority?


Aperture Priority cocok digunakan saat kita benar-benar ingin mengontrol secara penuh
bidang tajam atau depth of field sebuah foto. Saat dimana kita ingin menentukam mana area
foto yang tajam dan mana yang ingin kita buat blur, maka aperture priority menjadi penting.
Pemanfaatan depth of field secara kreatif akan menambah daya tarik foto.
Contohnya adalah saat anda memotret foto landscape seperti dibawah ini. Foto landscape
yang baik biasanya memiliki elemen foreground (area yang dekat dengan lensa: deret pasir
didepan) yang baik namun juga memiliki elemen background (area foto yang jauh dari lensa:
tonggak batu dibelakang) yang kuat. Untuk memastikan agar foreground dan background
tertangkap dengan tajam, anda menggunakan bukaan lensa yang kecil (angka aperture besar)
misal f/11. Maka anda menggunakan aperture priority dan menyetel posisi aperture kamera di
f/11. Dengan ISO yang kita pilih maka kamera akan menghitung nilai shutter speed.

Contoh penggunaan aperture priority lain adalah saat ingin menghasilkan bokeh (baca tips
foto bokeh ini dan ini, tips bokeh dengan kamera saku disini). Foto bokeh memiliki ciri
subyek utama tajam dan background yang kabur. Untuk memaksimalkan bokeh, kita
menggunakan bukaan lensa yang besar (nilai aperture kecil), misal f/2.8. Dan kemudian kita
lakukan hal yang sama seperti pada kamera seperti pada contoh foto landscape diatas.

Penggunaan lain aperture priority adalah saat memotret panorama maupun foto HDR, dimana
foto ini dihasilkan dari beberapa foto terpisah yang dijahit atau di merge. Agar bidang
konsisten dari satu foto ke foto lainnya, kita menggunakan aperture priority (agar titik fokus
sama, gunakan juga manual fokus) saat mengambil rangkaian foto panorama atau HDR
sebelum di jahit atau di merge di Photoshop. Fotografer makro juga menanfaatkan aperture
priority untuk mengontrol ruang tajam subyek dan latar belakangnya.

Dalam foto makro ini, nilai aperture f/9 dipilih untuk memastikan keseluruhan bunga
dibagian depan terlihat tajam sambil mengaburkan bunga dibelakangnya.

Apa Kelebihan Aperture Priority dibanding Program Mode atau Auto?


Dalam mode aperture priority, kita memiliki keyakinan bahwa ruang tajam yang ingin kita
buat benar-benar dieksekusi oleh kamera. Sementara pada mode program dan auto, karena
kamera yang menentukan nilai aperture, maka apa yang menjadi keinginan kita belum tentu
sesuai dengan hasil perhitungan kamera. Memang benar, bahwa dalam mode program kita
bisa mengubah nilai aperture menggunakan program shift, namun untuk melakukannya kita
harus memencet beberapa tombol tambahan sehingga menjadi kurang praktis.

Membekukan Gerakan dengan Shutter


Priority

Kalau anda sudah mulai mempelajari setting manual eksposur yang tersedia di kamera
sekarang waktunya bermain-main dengan settingan yang ada. Di artikel ini kita akan
membahas cara membekukan gerakan (motion freeze) menggunakan mode shutter priority.
Sekedar refreshing, seperti yang sudah ditulis sebelumnya shutter speed adalah besaran
seberapa lama sensor melihat cahaya (alias eksposur) baca kembali tentang shutter speed
dan shutter priority.
Secara garis besar mempercepat maupun memperlambat shutter speed menghasilkan foto
yang berbeda. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, semua tergantung pesan yang
kita inginkan. Shutter speed super cepat membuat anda bisa membekukan gerakan burung
terbang, memperlambat shutter speed membuat anda bisa menghasilkan foto panning yang
menunjukkan pergerakan (baca tips memotret panning). Baik kita mulai:

Untuk Gerakan Super Cepat


Semakin cepat gerakan yang ingin anda bekukan dalam foto, semakin cepat shutter speed
yang di butuhkan. Pada contoh foto diatas, shutter speed yang dipilih sangat cepat yakni
sebesar 1/5000 detik. Shutter speed secepat itu dibutuhkan karena gerakan si peselancar
memang sangat cepat, sementara saya berada diatas boat yang juga bergerak mendekat, jadi
baik obyek maupun kamera saling bergerak secara relatif. Untuk itu kamera di set di mode
shutter priority dan auto ISO serta focus di posisi continous (baca mode autofokus disini).
Saya tentukan terlebih dahulu shutter speed di posisi 1/5000 sehingga kamera memilih
aperture sebesar f/2.8.

Bagaimana untuk gerakan yang tidak seekstrim itu?

Foto ini menunjukkan orang yang sedang berjogging di pagi yang cukup cerah. Fotografer
cukup membutuhkan shutter speed sedang (1/400 detik) dan itu sudah cukup untuk
membekukan gerakant. Kenapa tidak perlu secepat contoh sebelumnya? karena gerakan
orang jogging relatif lebih lambat dibanding selancar, plus karena fotografer dalam posisi
diam serta karena bidang obyek (orang berlari) relatif paralel dengan bidang fokus kamera
(tidak bergerak mendekat seperti contoh selancar).

Oke, satu contoh lagi:

Foto ini membutuhkan shutter speed sebesar 1/800 detik. Saya dalam posisi diam dan burung
yang terbang sedang berusaha memperlambat gerakan, namun jarak burung dari saya cukup
dekat (sekitar 6 meter) sehingga saya membutuhkan shutter speed sebesar 1/800 detik.
Tidak ada patokan resmi berapa shutter speed yang dibutuhkan untuk setiap situasi dimana
kita ingin membekukan gerakan. Yang jelas anda harus langsung praktek, namun ada
beberapa point yang bisa ditarik dari 3 contoh diatas.

Kesimpulan
Secara garis besar, untuk membekukan gerakan anda perlu mempertimbangkan beberapa hal:
1. Kecepatan obyek itu sendiri, makin cepat obyeknya makin cepat shutter speed yang
dibutuhkan
2. Kecepatan relatif kita (fotografer) terhadap obyek. Kalau kita bergerak mendekat
maka shutter speed yang dibutuhkan juga makin tinggi
3. Jarak obyek. Semakin dekat jarak obyek dengan fotografer maka shutter speed yang
dibutuhkan juga makin tinggi
4. Panjang focal lensa anda. Semakin panjang focal lensa anda maka makin cepat shutter
speed yang dibutuhkan.
Oke, selamat mencoba!!

Memahami Konsep Histogram Dan Cara


Membacanya
Konsep Histogram
Histogram barangkali adalah salah satu konsep yang cukup membingungkan, akan tetapi
memahami konsep histogram adalah hal yang sangat penting jika ingin memahami fotografi
digital secara utuh. Dengan melihat histogram sebuah foto, kita bisa mengetahui apakah foto
tersebut memiliki exposure yang pas atau tidak, kita bisa tahu apakah cahaya yang ada dalam
foto keras atau flat (datar), yang pada akhirnya bisa menentukan proses editing mana yang
paling pas untuk foto bersangkutan.

Oke, konsep dasarnya begini: Sebuah foto terdiri atas sejumlah banyak piksel dan setiap
piksel memiliki elemen warna yang dihasilkan oleh campuran warna utama: Red Green dan
Blue (RGB). Masing-masing warna RGB tadi memiliki tingkat terang-gelap yang bernilai 0
sampai 255. Saat kita menghasilkan sebuah foto, komputer atau prosesor dalam kamera
digital akan membaca nilai gelap-terang (tonal) yang 0 sampai 255 tadi. Hasil bacaan ini
kemudian dikeluarkan dalam bentuk grafik, dan grafik inilah yang kita sebut histogram.
Lebih jelasnya dibawah ini.

Bagaimana Cara Membaca Histogram?

Perhatikan grafik diatas. Cara membacanya adalah mata kita bergerak dari kiri ke kanan.
Grafik tersebut mewakili tingkat gelap-terang masing-masing piksel. Ujung kiri grafik
mewakili hitam sempurna, ujung tengah mewakili abu-abu (mid tone) sementara ujung kanan
mewakili putih sempurna. Dalam satu titik, ketinggian grafik mewakili jumlah piksel dalam
tone tersebut.
Karena daerah sebelah kiri mewakili hitam/gelap, berarti jika foto kita cenderung gelap (low
key) maka histogramnya akan cenderung tinggi disebelah kiri. Kalau foto kita cenderung
terang (high key), maka histogramnya cenderung tinggi disebelah kanan.

Enaknya memiliki kamera digital adalah, bahwa kita bisa langsung mengetahui nilai
histogram begitu anda selesai memotret. Dengan begitu kita bisa langsung tahu apakah
kualitas tonal (tingkat gelap terang) foto kita sudah sesuai maksud yang ingin kita capai atau
belum. Misalnya anda memotret sebuah obyek foto dan dari histogram terlihat bahwa
grafiknya terkumpul di sebelah kanan, anda bisa berkata: Oh, foto ini hasilnya akan
cenderung terang, dan sebaliknya.

Mengenal Apa Itu EXIF Data


Kalau sudah mulai berkenalan dengan dunia fotografi digital, cepat atau lambat niscaya anda
akan mendengar kata EXIF disebut. Entah saat anda membaca buku manual, entah saat
mendengar perbincangan antar para fotografer atau entah saat anda mengikuti thread di
sebuah forum fotografi online.

Jadi apa itu EXIF metadata?


Pada dasarnya metadata adalah istilah dalam dunia teknologi informasi, yang kurang lebih
berarti data yang merekam informasi penting mengenai sebuah file. Sementara EXIF sendiri
adalah metadata yang khusus dipakai dalam dunia fotografi digital. EXIF menyimpan banyak
informasi detail tentang sebuah file foto digital. EXIF adalah sebuah singkatan yang
kepanjanganannya Exchangeable Image Format.

Dengan melihat EXIF data sebuah foto, paling tidak kita bisa mengetahui informasi berikut
ini:

tanggal dan jam berapa foto dibuat


apa merk dan tipe kamera yang dipakai
apa jenis lensa yang dipakai
berapa focal length-nya
data eksposur, seperti: berapa shutter speed-nya, aperture-nya, berapa ISO-nya
apakah flash dipakai atau tidak
dan kalau anda memakai kamera yang dilengkapi GPS, EXIF juga merekam posisi
dimana foto diambil

Sebenarnya masih banyak lagi informasi yang terekam selain informasi diatas, namun paling
tidak anda tahu gambaran besarnya.

Bagaimana saya melihat data EXIF dari sebuah foto


Kalau anda ingin mengetahui data EXIF sebuah foto, bukalah sebuah foto di komputer anda,
lalu:

jika anda di Windows Explorer, klik kanan foto anda lalu klik properties
jika anda di Mac (Finder), klik kanan lalu klik more info.

Buat apa saya tahu data EXIF foto saya


Bisa melihat data EXIF foto yang kita hasilkan memiliki banyak kegunaan, beberapa
diantaranya:

kita bisa membandingkan dua buah foto yang diambil dengan settingan yang berbeda,
kemudian melihat perbedaan hasilnya sehingga kita bisa tahu mana setting yang lebih
baik untuk kondisi pemotretan tertentu
kita bisa mengelompokkan foto berdasarkan jenis lensanya, tanggal pemotretannya
atau berdasarkan
kita bisa belajar dari karya fotografer lain, misalnya anda berkunjung ke situs sharing
foto Flickr.com dan menjumpai sebuah foto yang bagus dan anda ingin tahu
bagaimana cara foto tadi diambil, kita bisa melihat data EXIF-nya seperti dibawah ini:

Oke, selamat mengamati EXIF data foto-foto anda.

Memahami Pengertian White Balance


Setiap pemilik kamera digital paling tidak pernah menemui istilah white balance. Jadi apa itu
white balance? Kenapa harus peduli?
Oke mari kita bahas dengan cara yang gampang dan aplikatif.

Apa itu white Balance?


White balance adalah aspek penting dalam dunia fotografi dan berpengaruh pada hasil akhir
foto. Alasan kenapa kita perlu memahami white balance adalah karena kita ingin warna foto
kita seakurat mungkin. Jadi, white balance berpengaruh terhadap warna foto.
Agar lebih jelas silahkan lihat contoh foto dibawah ini:

Ketiga foto diatas adalah foto yang identik, bahkan ketiganya berasal hanya dari satu foto.
Saya hanya mengubah setting white balance-nya dan hasilnya: ketiganya sangat berbeda
warnanya. Foto A tampak sangat kebiruan, foto B terlihat cukup normal dan foto C terlihat
kekuning-kuningan.
Perhatikan warna cahaya lampu neon dan lampu bohlam, beda bukan? itu karena masingmasing neon dan bohlam memiliki temperatur warna yang berbeda. Cahaya yang
kekuningan (bohlam) disebut hangat sementara cahaya yang kebiruan (neon) disebut dingin.
Alasan kenapa kamera memerlukan setting white balance adalah karena kita memotret dalam
kondisi pencahayaan yang berubah-rubah. Mata telanjang kita adalah alat yang super canggih
dan mampu beradaptasi (menyeimbangkan) terhadap perubahan warna cahaya, jadi kertas
putih dimanapun akan tampak putih bagi kita. Namun kamera tidaklah secanggih mata,
karena itu kertas putih belum tentu terlihat putih bagi kamera dalam warna pencahayaan yang
berbeda.
Jadi tujuan setting white balance adalah memerintahkan kamera agar mengenali temperatur
sumber cahaya yang ada. Supaya yang putih terlihat putih, merah terlihat merah dan hijau
terlihat hijau, atau dengan kata lain agar kamera merekam warna obyek secara akurat dalam
kondisi pencahaayan apapun.

White Balance Preset

Anda juga bisa menggunakan preset jika memang tersedia di kamera anda:

Auto kamera akan menebak temperatur warna berdasar program yang ditanam dari
sononya oleh pembuat kamera. Anda bisa menggunakannya pada kebanyakan situasi,
namun tidak disetiap situasi (misal: memotret saat sunset/sunrise)
Tungsten disimbolkan dengan ikon bohlam. Karena itu cocok digunakan saat anda
memotret di ruangan dengan sumber cahaya bohlam.
Fluorescent disimbolkan dengan ikon lampu neon, gunakan saat memotret di
ruangan dengan pencahayaan lampu neon.
Daylight biasanya dengan simbol matahari, gunakan saat berada di bawah sinar
matahari
Cloudy disimbolkan dengan awan, gunakan saat memotret di cuaca mendung
Flash simbolnya kilat, jika anda menggunakan lampu flash (strobe) gunakan preset
ini.
Shade biasanya simbolnya rumah atau pohon, gunakan saat memotret dalam rumah
(siang hari) atau anda berada di daerah bayangan bukan sinar matahri langsung.

Cara Setting White Balance Secara Manual


Beberapa kamera, terutama SLR dan prosumer, menyediakan fasilitas setting white balance
manual. Setting manual adalah cara paling akurat jika kita bingung dengan temperatur warna
sumber cahaya kita. Ini biasanya terjadi dalam pemotretan dengan sumber pencahayaan yang
lebih kompleks (lebih dari satu jenis temperatur warna).
Kita bisa memanfaatkan kertas putih untuk tujuan ini. Artikel ini membahas lebih detail cara
setting manual white balance menggunakan kertas atau tembok putih.
Cara yang lebih mudah dan akurat adalah dengan menggunakan aksesoris tambahan yang
bernama expodisc atau kenko, harganya berkisar dari Rp. 800 ribu s/d Rp. 1,5 Juta. Anda bisa
membeli-nya di toko-toko kamera besar.

5 Setting Kamera Yang Harus Diperiksa


Sebelum Mulai Memotret
Pernah tidak mengalami kejadian seperti ini?

Anda pulang dari acara memotret dan baru menyadari bahwa tadi di sepanjang
pemotretan anda menggunakan ISO 1200, padahal acaranya dilaksanakan di siang
bolong saat ISO 200 saja cukup
Anda baru menyadari bahwa anda menggunakan settingan white balance untuk
mendung, padahal dari awal acaranya dilakukan diruangan dengan penerangan lampu
neon

Kesalahan mendasar seperti ini membuat kita harus bersusah payah melakukan koreksi pada
foto, kalau satu dua sih tidak masalah, kalau ratusan foto?. Okelah, mungkin dengan bantuan
software kita bisa melakukan koreksi dengan relatif cepat, tapi bukankah lebih enak kalau
kesalahan seperti ini bisa dihindari sejak awal.

Secara mendasar, ada 5 setting di kamera digital anda yang harus selalu diperiksa sebelum
jari memencet tombol shutter pertama kali dalam sebuah sesi pemotretan. Silahkan:

1. Periksa Settingan White Balance Anda

Gunakan settingan white balance yang sesuai dengan kondisi, atau kalau anda percaya
dengan kamera, set white balance di posisi auto. Baca lebih jauh tentang white balance.

2. Hidupkan Highlight Warning Kamera

Tips ini ampuh untuk menghindari foto yang overexposure. Highlight warning adalah
penanda yang muncul di layar LCD kamera saat ada bagian foto yang terbakar alias
overexposed. Selain menggunakan highlight warning, anda juga bisa memeriksa histogram di
LCD kamera digital anda.

3. Periksa Setting ISO

Settingan ISO menentukan seberapa peka sensor kamera terhadap cahaya, makin tinggi
angkanya semakin peka. Kalau tadi malam anda memotret pesta ulang tahun teman anda di
restoran, pastinya ISO yang digunakan akan berbeda dengan setting ISO saat akan digunakan
untuk memotret acara gerak jalan dijalan raya.
Baca lebih jauh mengenai ISO disini.

4. Periksa Setting Ukuran dan Format Foto

Memotret ribuan foto sekaligus, seperti misalnya saat anda hunting di kebun binatang (baca
tips memotret di kebun binatang), tentunya membutuhkan pengaturan ukuran foto yang
berbeda dibandingkan memotret keluarga di studio misalnya, apalagi jika kartu memori yang
anda miliki kapasitasnya berbeda.
Format foto, apakah harus memilih JPG atau RAW juga wajib dipertimbangkan sebelum sesi
foto anda dimulai.

5. Periksa Settingan Mode Exposure Kamera

Dalam kamera SLR atau pocket, biasanya tersedia beberapa pilihan untuk mode eksposur
yang anda pilih: Manual Aperture Priority Shutter Priority Mode Program dan beberapa
preset bawaan kamera digital. Pastikan anda sudah mengetahui mode mana yang akan anda
pilih.
Lakukan 5 persiapan diatas, maka acara hunting, sesi memotret maupun iseng-iseng
memotret acara di RT anda akan lebih lancar dan anda juga akan terlihat lebih jago.

20 Tips Singkat Fotografi

Berikut 20 tips singkat fotografi untuk anda menambah informasi dan kemampuan fotografi
anda, saya yakin beberapa sudah pernah dilakukan tetapi semoga beberapa lainnya
merupakan informasi baru. Klik tanda (jika ada) disebelah kanan masing-masing tip untuk
melihat informasi yang lebih detail. Silahkan:

1. Untuk melatih kemampuan panning anda, potretlah benda yang sedang bergerak
dengan kecepatan normal (orang naik motor misalnya), gunakan mode shutter priority
dan set shutter speed maksimal 1/30 detik, lebih lambat lebih baik. Perhatikan
background anda! - 2. Untuk memotret makro (jarak super dekat), aktifkan fitur Live View kamera digital
anda agar lebih mudah memeriksa depht of field dan fokus.
3. Filter CPL (polarisasi) sangat berguna untuk menghilangkan pantulan sinar matahari
di air dan kaca, dan juga berfungsi memperbaiki warna langit. Pernahkah anda
mengenakan kacamata hitam dengan polariser? - 4. Saat memotret bayi/anak-anak, pastikan anda memusatkan perhatian ke mata. Tak ada
yang bisa mengalahkan keindahan mata anak-anak. - 5. Megapiksel bukanlah fitur terpenting dari sebuah kamera, ukuran sensorlah fitur yang
paling penting
6. Untuk foto portait (wajah) di luar ruangan, usahakan ketika cuaca sedang mendung.
Kalaupun tidak, carilah daerah yang redup dan tidak terkena sinar matahari secara
langsung. Sinar matahari membuat bayangan yang keras di wajah. - 7. Ketika anda memotret di kondisi minim cahaya dan kesusahan menggunakan
autofokus, gantilah dengan manual fokus. Fitur autofokus dikamera biasanya cukup
lama mencari titik fokus di kondisi remang-remang. - 8. Untuk foto siluet, pastikan anda matikan flash serta gunakan mode sunset (untuk
kamera pocket), untuk SLR gunakan mode manual dan ukurlah eksposur di area
terang di belakang obyek. - -

9. Download-lah buku manual versi pdf untuk kamera anda, sehingga anda mudah
melakukan pencarian secara cepat untuk kata yang ingin anda ketahui dibanding harus
membolak-balik halaman kertas. - 10. Sebelum berangkat memotret, periksa kembali setting kamera anda, jangan sampai
anda mneggunakan setting yang salah (memotret landscape dengan ISO 1000
misalnya). Menurut para fotografer pro, urutan pengecekan yang baik adalah berikut:
cek White Balance aktifkan fitur Highlight warning cek settingan ISO cek
ukuran Resolusi foto anda. - 11. Formatlah memory card hanya di kamera, jangan pernah memformat memory card
dikomputer. Selain jauh lebih cepat dan mudah juga jauh lebih aman jika anda
melakukannya di kamera.
12. Jika anda memiliki kapasitas hard disk berlebih di komputer serta suka melakukan
foto editing, gunakan format RAW saat memotret, jika tidak cukup gunakan JPG. - 13. Jika anda benar-benar menyukai fotografi landscape, fotolah di jam-jam berikut: dari
jam 5 sampai jam 8 pagi, serta dari jam 4 sampai jam 7 sore.
14. Ketika memotret, lihatlah area paling terang yang masuk ke viewfinder anda. Kalau
terangnya terlalu mencolok dibanding area lain, gantilah sudut pemotretan.
15. Untuk memotret HDR, gunakan mode auto bracket. Satu lagi: untuk foto HDR
landscape yang dahsyat, tunggulah sampai muncul mendung sedikit, lalu mulailah
memotret. - 16. Jika anda membeli lensa atau kamera bekas, pastikan anda melakukan transaksi
dengan bertemu penjualnya secara langsung. Anda harus menguji barangnya,
memegang dan mencobanya
17. Sepanjang memungkinkan, gunakan settingan ISO serendah mungkin. Meskipun
noise reduction bisa mengurangi noise yang dihasilkan oleh ISO yang tinggi, namun
akan mengurangi detail foto secara keseluruhan. - 18. Kalau warna membuat foto anda terlalu sibuk dan ramai, ubahlah foto anda menjadi
foto hitam putih
19. Untuk menghasilkan foto hitam putih yang bagus, perhatikan kontras dalam foto
anda. Semakin banyak kontras (area gelap dan terang yang beragam), semakin bagus
foto hitam putih anda. - 20. Bawalah kamera kemanapun anda pergi, cara paling cepat meningkatkan kemampuan
fotografi anda adalah dengan memperbanyak jam terbang, tidak ada yang lebih baik. -

100 Tips Fotografi Singkat Dari Fotografer


Pro

Beberapa waktu lalu belfot nyangkut ke sebuah blog dan menemukan artikel ini. Ditulis oleh
fotografer dan pengajar workshop street photography, Eric Kim. Artikelnya mengenai 100
tips fotografi yang sedikit banyak akan berguna. Mungkin ada satu, dua atau beberapa poin
yang secara pribadi kita tidak setuju, namun mayoritas tips ini bagus. Dan ingat, tips-tips ini
datang dari street photographer ya. Silahkan:

100 Tips Fotografi


1. Hanya karena memiliki kamera mahal, bukan berarti mereka adalah fotografer
yang bagus
2. Selalu memotret dalam format RAW. Selalu
3. Lensa prime membantumu menjadi fotografer yang lebih baik
4. Mengedit foto juga merupakan seni tersendiri
5. Rule of thirds berguna untuk 99% skenario
6. Fotografi makro bukan untuk semua orang
7. Filter UV berguna seperti halnya lens cap
8. Pergilah keluar dan memotretlah daripada menghabiskan waktu berjam-jam di
forum fotografi online
9. Abadikan keindahan dalam hal-hal simpel dan kamu akan memiliki foto
pemenang
10. Film tidak lebih baik daripada digital
11. Digital juga tidak lebih baik daripada film
12. Tidak ada magic dalam kamera atau lensa
13. Lensa yang lebih baik tidak otomatis menghasilkan foto yang lebih baik

14. Kurangi waktu mengamati karya foto orang lain dan perbanyak waktu untuk
memotret
15. Jangan bawa kamera DSLR kesebuah pesta (lihat nomor 31 Red)
16. Menjadi fotografer itu seksi (Masa sih? Red)
17. Mengubah foto menjadi black & white tidak lantas membuat sebuah foto
menjadi lebih artistik
18. Orang akan selalu mendiskreditkan karyamu kalau kamu bilang fotomu sudah
di photoshop. Lebih baik katakan pada mereka, fotomu sudah di proses di
kamar gelap
19. Tidak perlu semuanya harus di potret
20. Paling tidak kamu harus memiliki 2 copy foto sebagai backup
21. Buang neckstrap (tali kamera yang dililit ke leher) dan gunakan handstrap
(dililit di tangan)
22. Mendekatlah saat memotret, biasanya hasilnya lebih bagus
23. Jadilah bagian dari adegan sambil memotret, jangan jadi tukang intip
24. Kurangi kekhawatiran mengenai aspek teknis memotret dan perbanyak
perhatian mengenai komposisi foto
25. Memotret sambil rebah seringkali hasilnya lebih baik
26. Tutupi merk yang ada dikamera dengan selotip hitam itu akan mengurangi
perhatian kearahmu
27. Underexpose foto sebanyak 2/3 stop saat memotret di siang bolong
28. Makin banyak memotret, makin oke hasilnya
29. Jangan takut memotret beberapa foto ditempat yang sama dengan exposure,
sudut dan aperture yang berbeda
30. Perlihatkan hanya foto terbaikmu
31. Kamera saku tetaplah sebuah kamera
32. Bergabunglah dengan forum fotografi online
33. Kritisilah karya foto orang lain
34. Berpikirlah sebelum memotret
35. Foto yang bagus tidak butuh penjelasan
36. Alkohol dan fotografi itu bukan sahabat
37. Jadikan fotografer lain sebagai inspirasi tapi jangan pernah memujanya
38. Grain itu indah
39. Ganti tas kamera backpack (ransel) dan belilah tas kamera messenger. Kamu
lebih mudah mengakses peralatan fotografimu
40. Kesederhanaan adalah kunci
41. Definisi fotografi adalah melukis dengan cahaya. Manfaatkan cahaya sesuai
seleramu
42. Cari gaya fotografimu dan teguhlah
43. Punya monitor kedua (dual display red) adalah hal terbaik dalam memproses
foto
44. Silver EFEX Pro adalah konverter black & white terbaik
45. Bawa kameramu kemanapun
46. Jangan pernah biarkan fotografi menghalangimu untuk menikmati hidup
47. Kamera jangan hanya dielus-elus. Gunakan sampai membekas
48. Ambil foto tanpa manipulasi (straight photo)
49. Memotretlah dengan percaya diri
50. Fotografi dan jukstaposisi adalah sahabat terbaik
51. Cetaklah fotomu besar-besar. Mereka akan membuatmu bahagia
52. Berikan fotomu pada teman-temanmu

53. Berikan juga ke orang asing


54. Jangan lupa membingkainya
55. Ngeprint foto di Costco (ganti dengan jasa print foto langgananan anda red)
itu murah kok
56. Keluarlah dan memotretlah dengan teman-temanmu
57. Bergabunglah dengan klub foto atau buat klub foto baru
58. Foto adalah hadiah yang indah
59. Memotret orang asing itu menantang dan mengasyikkan
60. Candid lebih baik daripada pose
61. Natural light adalah cahaya terbaik
62. Lensa 35mm (dalam kamera full frame, 23mm dalam kamera crop) adalah
lensa terbaik untuk jalan-jalan
63. Jangan takut menaikkan ISO saat diperlukan
64. Tidak perlu membawa tripod kemana-kemana (bah, saya bahkan tak punya
tripod)
65. Selalu lebih baik meng-underexpose daripada overexpose
66. Memotret gelandangan agar terlihat nyeni adalah eksploitasi
67. Kamu akan menemukan kesempatan foto terbaik dalam situasi yang
kelihatannya tidak mungkin
68. Foto akan selalu lebih menarik saat ada elemen manusia didalamnya
69. Kamu tidak akan bisa mem-photoshop foto yang jelek menjadi bagus
70. Saat ini, semua orang adalah fotografer
71. Tidak perlu terbang ke Paris untuk mendapatkan foto terbaik, kesempatan foto
terbaik ada di halaman belakang rumahmu
72. Orang yang memegang kamera DSLR dan saat memotret portrait grip
kameranya mengarah kebawah terlihat seperti orang bodoh
73. Kamera adalah alat, bukan mainan
74. dilihat dari komposisi, fotografi dan lukisan tidak banyak bedanya
75. Fotografi bukanlah hobi, itu adalah gaya hidup
76. Buatlah foto, jangan buat alasan
77. Jadilah original dalam fotografi. Jangan mengkopi gaya orang lain
78. Foto terbaik bercerita sehingga membuat yang melihat penasaran
79. Semua kamera yang warnanya tidak hitam terlalu menarik perhatian
80. Semakin banyak peralatan yang kamu bawa, makin kamu tidak enjoy
81. Foto self-portrait yang baik itu tampaknya mudah padahal lebih sulit dibuat
82. Tertawa selalu bisa mengeluarkan karakter asli seseorang saat difoto
83. Jangan terlihat mencurigakan saat memotret membaurlah dengan lingkungan
84. Fotografi landscape bisa terlihat tumpul setelah sementara waktu
85. Bersenang-senanglah saat memotret
86. Bersikaplah dengan penuh hormat saat memotret orang atau tempat
87. Jangan pernah menghapus foto
88. Saat memotret candid seseorang di jalanan, lebih mudah menggunakan lensa
lebar daripada tele
89. Travel dan fotografi adalah pasangan sempurna
90. Pelajari bagaimana cara membaca histogram
91. Foto dengan noise itu lebih baik daripada foto yang blur
92. Jangan takut memotret dalam hujan
93. Pelajari bagaimana cara menikmati moment, daripada berusaha mati-matian
membuat foto sempurna tentang moment tersebut
94. Jangan pernah memotret saat perutmu kosong

95. Kamu akan banyak menemukan dirimu sendiri melalui fotografi


96. Jangan pernah menyembunyikan pengetahuanmua tentang fotografi bagilah
dengan dunia
97. Jangan pernah berhenti memotret
98. Fotografi itu lebih dari sekedar membuat foto, dia adalah filosofi hidup
99. Tangkaplah decisive moment
100.
Buat daftar tipsmu sendiri

20 Trik Agar Foto Lebih Tajam

Belfot ingin membagi 20 trik agar hasil foto anda lebih tajam. Ikuti dibawah ini:

1. Gunakan Tripod.
Kalau saat memotret kamera kita bergoyang dan bergerak, pasti susah menghasilkan foto
tajam. Jadi beli dan pakailah tripod. Pastikan anda membeli tripod yang stabil dan kokoh.
Sebelum membeli, cek artikel belfot mengenai tripod seperti ini. Selain agar foto selalu
tajam, ada 12 alasan kenapa tripod sebaiknya dibeli lho.

2. Jangan Lupa Kepala Tripod.


Tripod sudah, eits.. jangan lupa kepala tripod alias head. Kepala tripod hampir sama
pentingnya dengan tripod itu sendiri. Pastikan anda tahu apa saja pertimbangan saat memilih
tripod head.

3. Cara Memegang Kamera?


Saat tidak menggunakan tripod, pelajari cara memegang kamera yang baik dan benar supaya
kamera lebih stabil dan tidak gampang bergoyang.

4. Gunakan Kabel Rilis.


Cable release bisa membuat kita tak perlu menekan tombol shutter dengan tangan kita, jadi
mengurangi kemungkinan kamera bergoyang. Cable release bisa berbentuk kabel yang
secara fisik menempel ke kamera maupun yang sudah lenih canggih menggunakan remote
nirkabel.

5. Manfaatkan Timer Kamera.


Tidak punya tripod? Lupa belum membeli kabel rilis? Hmmm, gunakan saja timer bawaan
kamera. Coba-coba cari cara mengaktikan fitur self timer ini, setiap kamera pasti dibekali
fitur ini.

6. Mirror Lock Up
Kalau anda menggunakan kamera DSLR, kamera ini dibekali cermin (mirror) yang berguna
untuk menampilkan gambar di viewfinder. Hampir semua kamera DSLR dilengkapi fitur
yang bisa mengunci cermin agar tidak bergoyang saat kamera mengambil exposure, fitur ini
biasanya dinamai mirror lock up. Aktifkan fitur ini karena goyangan cermin bisa berefek
pada ketajaman (meski tidak selalu). Kalau anda pakai kamera mirrorless?.. wong mirror-less
berarti nggak ada cerminnya lho.

7. Aktifkan Stabilizer Lensa atau Kamera


Image stabilization, vibration reduction, apapun namanya bisa dimanfaatkan untuk
menambah ketajaman foto. Fitur ini ada yang tersedia di lensa atau menempel di kamera.
Perhatikan bahwa ada IS/VR yang perlu disesuaikan saat anda memakai tripod.

8. Beli Lensa Terbaik (yang anda mampu)


Kalau mau suara yang mantab, belilah sound system terbaik. Kalau mau motor yang ngacir,
belilah motor yang terbaik. Kalau mau foto yang tajam? belilah lensa terbaik. Lensa terbaik
yang lumayan enteng buat kantong? lensa 50mm.

9. Gunakan depth of field yang cukup


Kalau semuanya sudah anda coba namun foto masih belum tajam, siapa tahu anda
menggunakan depth of field yang terlalu sempit. Manfaatkan tombol DOF Preview di kamera

untuk memeriksa. Anda juga bisa memanfaatkan DOF calculator yang banyak tersedia di
internet seperti ini.

10. Letakkan Fokus Ditempat Yang Benar


Saat memotret portrait, mata harus tajam. Saat memotret landscape, pastikan foreground
tajam. Apapun obyek foto anda, ketahui titik kritis yang harus terlihat tajam dan taruh titik
fokus kamera disana.

11. Gunakan Shutter Speed Yang Memadai


Kenapa harus memadai? karena didunia ini tidak ada yang ideal. Maunya sih selalu memotret
di shutter speed 1/2000 detik. Sayangnya tidak mungkin. Namun paling tidak gunakan shutter
speed tercepat yang mungkin untuk kondisi pemotretan yang anda hadapi.

12. Memotretlah Dalam Pencahayaan Yang Bagus


Saat memotret dalam kondisi pencahayaan yang cukup dan bagus, autofokus akan mampu
mengunci fokus dengan lebih cepat. Dan obyek dalam foto pun akan TAMPAK lebih tajam
dibandingkan saat dipotret di remang-remang. BUkan berarti tidak bisa menghasilkan foto
tajam dalam kondisi kurang cahaya, hanya lebih sulit.

13. Manfaatkan Live View Kamera


Hampir semua kamera sekarang memberi fitur live view. DAlam banyak situasi, fitur ini
sangat berguna untuk lebih akurat menempatkan titik fokus. Saat anda memotret makro
sebuah bunga misalnya, dengan menggunakan live view kita bisa tahu

14.Bersihkan dan rawat lensa


Kalau anda memiliki lensa yang mulai berumur tua, cobalah sesekali bawa ke tempat servis
untuk dikalibrasi dengan body kamera anda. Kebersihan lensa terutama bagian optiknya juga
membantu kecepatan autofokus. Selalu rawat barang berharga ini.

15. Pelajari trik memotret benda bergerak


Saat memotret benda yang bergerak menjauh atau mendekat, ada banyak setting yang perlu
dipertimbangkan, terutama shutter speed yang cukup dan juga cara mengunci fokusnya:
pelajari beberapa mode autofokus dan mekanismenya supaya anda bisa mengantisipasi
dengan baik.

16. Gunakan Lensa Di Sweet Spotnya


Setiap lensa memiliki area dimana dia bisa menghasilkan foto yang paling tajam, orang sono
menamainya sweet spot. Anda bisa melakukan tes yang rumit untuk mengetahui dengan pasti
dimana sweet spot lensa. Namun aturan gampang adalah, rata-rata lensa memiliki sweet spot
di aperture 2 x aperture maksimalnya. Sebagai contoh kalau anda memiliki lensa dengan
aperture maksimal f/2.8, maka besar kemungkinan sweet spot lensa ini di f/5.6 sampai f/8.

17. Saat shutter speed tidak mencukupi , dorong ISO-nya


Lima tahun yang lalu, menggunakan ISO 1000 di kamera kelas Rp. 20 Juta-an bisa
menghasilkan noise digital yang cukup mengganggu di hasil foto. Tidak saat ini. Sekarang
kamera dibawah Rp. 10 Juta pun oke dibawa ke ISO 1000. Jadi jangan takut memotret
dengan ISO tinggi saat situasi membutuhkannya. Gunakan fitur auto ISO di kamera.

18. Diopter Adjustment


Hal ini cukup sepele namun banyak yang tidak tahu atau kadang memang lupa. Di kamera
kita tersedia tombol diopter adjustment untuk membantu menyesuaikan ketajaman
viewfinder, spesifik dengan kondisi mata si pemilik kamera. Gunakan jika anda merasa
viewfinder tampak kurang fokus. Dengan viewfinder tampak tajam dan jelas, ini bisa
membantu kita mengamati titik fokus dengan lebih akurat.

19. Mata, mata dan mata


Saat memotret orang, pastikan matanya menjadi titik fokus. Kalau anda memotret dengan
depth of field yang sangat sempit (f/1.8 misalnya), jadikan mata yang paling dekat kamera
sebagai titik fokus.

20. Manfaatkan Sharpening


Kita semua bergumul dengan software fotografi, ada yang sering ada yang sesekali. Entah
dengan photoshop atau dengan alternatifnya, semuanya menyediakan cara untuk
mempertajam hasil akhir foto alias sharpening. Saat konversi RAW, gunakan sharpening
yang sangat minimal, lalu gunakan sharpening lagi di langkah terakhir.

Tips Foto Makro Dengan Kamera Saku

Belfot sudah beberapa kali membahas tips foto makro dengan menggunakan kamera DSLR
(disini dan disini), tapi jika anda belum memiliki kamera DSLR jangan berkecil hati. Kamera
saku juga mampu menghasilkan foto makro (close up).
Meskipun hasilnya tidak akan sedahsyat jika memggunakan kamera DSLR plus lensa makro
(ingat tentang rasio 1:1?), anda tetap bisa memotret dan menghasilkan foto makro yang indah
hanya dengan menggunakan kamera saku. Anda bisa lihat foto-foto yang ada di artikel ini,
semua dihasilkan dengan kamera saku.
Pengen tahu tips-nya? silahkan:

Gunakan Mode Makro

Pilih mode ini jika anda ingin memaksimalkan fitur makro yang sudah di setel oleh produsen
kamera saku. Mode makro biasanya disimbolkan dengan ikon bunga di kamera anda. Jika
anda memilih mode ini, anda memberitahu kamera bahwa anda ingin memotret dengan jarak
fokus yang lebih dekat dibanding biasanya (jarak fokus terdekat biasanya berbeda dari
kamera satu ke kamera lainnya). Mode makro juga berarti kamera akan memilih aperture
yang besar, sehingga obyek dalam fokus akan tajam sementara background-nya sedikit kabur.

Gunakan Tripod

Meskipun anda hanya menggunakan kamera saku, tripod sangat membantu ketajaman foto
makro anda. Selain mengurangi goyangan kamera, tripod juga membantu anda dalam
membangun komposisi dan sudut pemotretan yang lebih oke.

Setting Aperture
Jika kamera saku anda memiliki fitur untuk mengubah setting aperture saat dalam mode
makro, bereksperimenlah dengan mengubah besaran aperture f/x. Pilih angka x yang besar
jika anda ingin bidang fokus yang luas (semua tampak fokus), atau pilih x yang kecil jika
anda hanya ingin bidang fokus yang sempit (sehingga area diluar titik fokus tampak kabur).

Mulailah dari angka yang aman, coba gunakan f/4 atau f/5.6 sebagai permulaan.

Fokus
Jika kamera memungkinkan, gunakan setting manual focus, sehingga anda lebih leluasa
menentukan dimana titik yang ingin anda anggap sebagai titik fokus. Biasanya dalam mode
makro, settingan fokus manual akan jauh lebih mudah dilakukan dibanding auto. Contohnya
saat memotret bunga, kita akan bisa memastikan titik fokus jatuh di kelopak bunga dan tidak
di tangkainya.
Komposisi
Baca lagi tips tentang komposisi atau paling tidak ketahui tentang teori rules of third.
Gunakan background yang simpel dan tidak terlalu sibuk sehingga foto akhir nanti akan lebih
enak dilihat.

Lighting

Menggunakan flash di kamera saku justru akan menghasilkan foto yang tidak terlalu bagus.
Matikan flash dan manfaatkan cahaya matahari tidak langsung, misalnya cahaya dari jendela
atau saat mendung. Cahaya matahari langsung akan terlalu keras untuk kamera anda. Anda
juga bisa memanfaatkan reflektor sederhana misalnya kertas putih, styrofoam atau
alumunium foil untuk menerangi obyek yang terlalu gelap.

Gunakan Timer Kamera

Manfaatkan timer yang ada di kamera saku anda sehingga gambar yang dihasilkan jauh lebih
tajam. Saat jari memencet tombol shutter di kamera, maka goyangan kamera akan membuat
foto anda tidak tajam, untuk itulah timer akan sangat berguna karena kita bisa mengaktifkan
kamera tanpa harus memencet tombol shutter. Anda membutuhkan tripod supaya lebih enak
dalam memanfaatkan timer.

Bagaimana Membuat Foto Bokeh yang


Creamy

Salah satu perbedaan utama antara indera mata dan lensa kamera anda adalah bahwa mata
memiliki depth of field (DOF) hampir tanpa batas sementara lensa terbatas, ini membawa
konsekuensi bahwa bidang fokus lensa tidaklah seluas mata. Dan fotografer terdahulu telah
memutuskan untuk justru memanfaatkan kelemahan ini menjadi senjata. Lahirlah apa yang
kemudian disebut bokeh.
Bokeh aslinya adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti menjadi kabur, jadi foto bokeh
adalah karakteristik foto yang menonjolkan sebuah oyek utama yang fokusnya sangat tajam
sementara latar belakang (dan atau depan) yang sangat kabur, atau dalam bahasa Inggris
selective focusing. Dalam contoh foto cantik diatas (karya Sektor Dua), obyek utama muka
model amatlah tajam, namun latarbelakang pintu menjadi tampak amat kabur (blur). Nah,
sifat kabur inilah yang disebut bokeh. Bagaimana caranya supaya kita bisa menghasilkan foto
bokeh yang seperti ini. Berikut yang bisa anda lakukan:
1. Pilih mode manual atau Aperture Priority baca lebih jauh tentang mode operasi
kamera disini
2. Pilih setting aperture sebesar mungkin.
Lihat tulisan f/x di lensa anda, semakin kecil x, semakin besar aperture dan semakin
sempit bidang fokusnya
3. Pikirkan tentang faktor jarak, yakni jarak didepan dan dibelakang bidang obyek.

Misalnya anda berdiri 1 meter didepan teman (jarak depan = 1 meter) dan anda
menjatuhkan titik fokus lensa pada mukanya. Teman anda berdiri sekitar 10 meter
dari background terdekat (jarak belakang = 10 meter), maka background ini akan
terlihat sangat kabur. Intinya, semakin kecil jarak depan (jarak antara lensa dan
obyek) dan semakin besar jarak belakang (jarak antara obyek dan background)
semakin kabur backgorund anda.
4. Banyak berlatih dan usahakan anda membeli lensa dengan kemampuan aperture
sebesar mungkin.
Tip: Jika anda memang menyukai bokeh, lensa non-zoom dengan aperture super besar
adalah cara tercepat mendapat bokeh (misal: 85mm f/1.8 & 50mm f/1.8, dua lensa ini
adalah lensa super cepat dan super murah juga penghasil bokeh yang luar biasa)

10 Tips Memotret Sunset Dan Sunrise


Foto sunset dan sunrise adalah salah satu dari sekian banyak foto wajib yang harus
dilakukan oleh seorang penggemar fotografi. Kalau anda sudah pernah mencoba memotret
sunset atau sunrise tetapi kurang puas dengan hasilnya, silahkan coba tips berikut ini supaya
foto sunset dan sunrise bertambah baik:

1. Lakukan Persiapan Sebaik-baiknya


Sunset dan sunrise hanya berlangsung sekitar setengah jam. Untuk itu kita harus melakukan
persiapan matang sebelumnya. Pastikan datang lebih awal dan pastikan anda sudah tahu
dari titik sebelah mana anda akan memotret. Agar komposisi akhir foto keren, lakukan
observasi tempat sebelumnya. Untuk memastikan anda tidak terlambat , usahakan anda tahu
jam berapa sunset atau sunrise akan tiba (karena jam sunset / sunrise berbeda dari lokasi ke
lokasi). Juga pastikan peralatan sudah siap: kamera lensa tripod (jika ada) serta aksesoris
lainnya sudah terpasang & disetel dengan baik, sehingga saatnya tiba kita bisa sibuk
memotret bukan sibuk mengeset alat. Baca lagi tips tentang komposisi.

2. Jangan Kecewa Karena Mendung

Karena anda sudah bersusah payah mendatangi lokasi yang jauh dan sulit, jangan kecewa
kalau mendadak mendung tiba. Maksimalkan kreatifitas anda saat langit tertutup mendung.
Langit mendung bukan halangan menghasilkan foto indah saat sunrise dan sunset. Cari tahu
obyek apa saja yang menarik untuk difoto saat mendung atau hujan.

3. Jangan Terpaku Pada Wide Angle


Memotret sunset dan sunrise menggunakan lensa sudut lebar (wide angle) merupakan hal
yang biasa, namun jangan terpaku hanya menggunakan lensa tersebut (kalau anda memang
punya pilihan lain). Manfaatkan rentang lensa yang lain, misalnya lensa tele.

4. Maksimalkan Siluet
Hal yang menambah daya tarik foto sunset dan sunrise adalah siluet. Siluet memberi kesan
yang kuat serta memberi cerita dalam foto anda, apalagi jika anda memotret sunset atau
sunrise di lokasi yang memiliki identitas kuat. Baca juga tips memotret siluet.

5. Bawalah Tripod
Jika anda ingin memanfaatkan teknik long shutter membuat HDR atau panorama: tripod
wajib dibawa. Baca Juga tips memilih tripod dan tips memilih kepala tripod.

6. Gunakan Manual Focus

Karena sunset dan sunrise memiliki kualitas cahaya yang lumayan ekstrim, kadang kamera
akan kesulitan menemukan fokus jika anda menggunakan mode auto focus, segera ganti ke
mode manual sehingga kita tidak menyia-nyiakan waktu menunggu kamera menemukan titik
fokus.

7. Gunakan Preset White Balance Cloudy


Ubahlah setting white balance anda ke cloudy (biasanya dilambangkan dengan ikon
mendung). Setting white balance ini akan membuat foto sunset atau sunrise lebih hangat dan
warnanya lebih menggigit, dibandingkan kalau menggunakan setting white balance auto.
Atau jika anda suka bereksperimen, cobalah setting white balance lainnya. Apa itu white
balance?

8. Gunakan Spot Metering (DSLR dan Prosumer) atau Sunset Scene (Untuk
Kamera Saku)
Untuk memperoleh eksposur yang tepat, gunakan mode metering spot jika anda memiliki
kamera DSLR dan prosumer (apa itu spot metering?), atau gunakan mode scene sunset/
sunrise jika anda menggunakan kamera saku pemula. Untuk pengukuran menggunakan spot
meter, arahkan titik fokus ke area sekitar matahari (jangan tepat di matahari nya lalu
lakukan metering dengan memencet separuh shutter, lalu kunci eksposur anda. Untuk kamera

saku (dengan mode scene), tinggal arahkan dan jepret. Pahami mode pengoperasian kamera
digital.

9. Jangan Berhenti Ketika Sunset Lewat


Saat memotret sunset, jangan kemasi kamera anda hanya karena matahari sudah melewati
garis horison. Bertahanlah sebentar lagi, karena cahaya sesaat setelah sunset adalah salah satu
cahaya paling indah yang dikeluarkan alam. Begitu juga dengan sunrise, jangan datang terlalu
mepet dengan waktu matahari terbit. Cahaya sesaat sebelum sunrise adalah salah satu yang
paling indah

10. Berdoalah Agar Alam Berpihak Pada Anda


Anda sudah jauh jauh datang ke pantai terpencil (atau gunung), menyiapkan alarm untuk
bangun jam 4 pagi dan sudah menata semua peralatan agar siap memotret, namun tiba tiba
hujan tiba. Ya apadaya, memotret di alam terbuka memang membutuhkan keberuntungan dan
kesabaran, kenapa kesabaran? karena anda bisa mencoba lagi esok hari

20 Tips Komposisi Agar Foto Makin Keren


Komposisi fotografi, seperti halnya komposisi dalam bidang seni apapun adalah ibarat selera
akan makanan, semua kembali ke preferensi masing-masing. Namun begitu, ada beberapa
panduan tertentu yang tak lekang waktu dan ikut di amini oleh mayoritas pelaku
20 Tips komposisi fotografi yang akan anda baca berikut ini lumayan singkat dan tidak
bertele-tele, kami saring dari berbagai sumber dan juga pengalaman. Isinya bukan aturan tapi
panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.

Oh satu lagi, topik komposisi lumayan sering dibahas di belfot.com. Anda bisa melihatnya
dengan mengetikkan kata komposisi di kotak search yang ada di sidebar kanan dan akan ada
dereten artikel mengenai komposisi yang bisa anda baca. Silahkan nikmati 20 tips singkat ini:
1. Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya

atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian


2. Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan

3. Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang
merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan tutupi atau pindahkan sudut

pemotretan supaya elemen tersebut hilang


4. Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya

adalah foto yang tanpa background sama sekali

5. Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto. Manfaatkan komposisi framing, baca

lebih jauh disini


6. Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting
obyek terpotong tanpa alasan kuat
7. Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu

memotret dari depan subyek


8. Jangan lupa rules of thirds. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian
sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya

9. Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto

10. Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata.

Taruh obyek utama disana


11. Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan
obyek utama. Baca lebih jauh tentang background disini.

12. Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat
kesan tinggi
13. Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang,

manfaatkan

14. Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan

15. Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat


16. Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka

17. Hindari menaruh titik perhatian tepat ditengah-tengah foto


18. Hindari meletakkan garis horison tepat di tengah foto, usahakan horison ada di

sepertiga atas atau bawah


19. Jangan biarkan garis horison menabrak bagian obyek yang penting

20. Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak di
viewfinder sesuai keinginan anda

6 Langkah Mudah Menyiapkan Foto HDR


Foto HDR (High Dynamic Range) adalah foto yang diperoleh dengan mengkombinasikan
beberapa foto dengan tone yang bervariasi sehingga menghasilkan satu foto yang meiliki
rentang tonal melebihi kemampuan asli kamera. Sebelum bisa diolah, kita harus membuat
beberapa foto mentah yang memiliki eksposur yang berbeda, jumlah foto yang diperlukan
adalah antara tiga sampai lima buah. Berikut adalah langkah praktisnya:

1. Karena kita akan mengggabungkan beberapa foto sekaligus, gunakan tripod supaya
hasilnya tajam dan tidak berbayang
2. Set kamera di mode aperture priority (A atau Av), dengan mode ini kita memilih aperture
dan kamera-lah yang menentukan shutter speed
3. Set fokus pada posisi manual focusing. Cobalah beberapa jepret untuk menentukan fokus
di mode autofocus, setelah kita tentukan fokusnya, gantilah focusing ke mode manual
4. Set automatic bracketing pada kamera untuk menghasilkan 3, 5 atau 7 buah foto dengan
shutter speed bervariasi (Nikon & canon, untuk kamera lain silahkan lihat manual):
Nikon SLR:
1. Pencet tombol Fn (posisinya di muka bagian bawah)
2. Putar command dial belakang kamera sampai kita melihat tanda bracketing di
LCD atas
3. Pilih lima bracketing (atau 3, 5, 7 atau sesuai selera)
4. Ganti posisi release mode pada continous high speed

Canon SLR:
1. Pencet dan tahan tombol Mode dan AF.Drive untuk mengaktifkan bracketing
2. Set 5 di menu Custom Functions (atau 3, 5 atau 7, sesuai selera)
3. Set kamera di mode burst
5. Mulailah mengambil eksposur
6. Untuk pengolahannya kita bisa meng gunakan software khusus untuk HDR seperti
Photomatix Pro (gratis untuk versi demo) atau melakukannya di Photoshop klik disini
untuk langkah-langkah HDR di photoshop
Inspirasi: lihat galeri foto-foto HDR
Catatan: pilihan berapa foto yang dipakai sebenarnya tergantung kebutuhan kita. Tiga foto
akan membuat proses di photoshop jauh lebih cepat dibandingkan 5, namun kalau kita
memiliki 5 buah maka foto akhir yang dihasilkan akan memiliki tonal yang lebih halus.

Tips Memotret HDR

Berikut beberapa tips singkat memotret High Dynamics Range (HDR), supaya foto HDR
yang anda hasilkan nantinya bisa lebih bagus:
o

Gunakan fitur bracketing yang ada di kamera SLR digital anda. Dengan
menggunakan fitur bracketing, kamera akan secara otomatis menaik-turunkan
nilai eksposur (stop) dengan sangat cepat, jauh lebih nyaman dibanding tangan
kita harus sibuk memutar tombol dial. Baca cara menggunakan bracketing
untuk SLR Canon/Nikon disini

Ambil 3,5 atau 7 jepretan. Kebanyakan foto HDR pada kondisi normal dihasilkan dari
5 foto dengan nilai eksposur berbeda dan kemudian digabungkan. Jika anda
menghadapi obyek foto dengan beda gelap-terang yang terlalu mencolok, ambil 7
eksposur sekaligus sehingga hasilnya lebih bagus lagi
Jangan mengubah-ubah nilai aperture dalam satu seri pemotretan untuk sebuah obyek.
Setel mode eksposur pada posisi Aperture Priority (A atau Av) untuk menjamin
ketajaman hasil akhir foto HDR. Jika anda mengubah-ubah nilai aperture, maka fokus
kamera juga akan berubah, sehingga daerah tajam foto menjadi tidak konsisten
Gunakan matrix metering atau evaluative metering dimana kamera akan mengukur
semua elemen dalam obyek foto sebelum menentukan berapa besaran eksposur yang
dibutuhkan
Pakailah tripod untuk menjamin hasil akhir foto tidak kabur. Dengan menggunakan
tripod, foto kita akan lebih tajam karena konsisten dari satu jepretan ke jepretan
berikutnya. Jika anda memiliki shutter release, pakai sekalian.
Jika memungkinkan, gunakan format RAW saat memotret HDR.

Anda mungkin juga menyukai