Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN AKHIR PARASITOLOGI

SEMESTER III

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

PRAKTIKUM I
Identifikasi Tikus dan Pinjal

A. TUJUAN
1.

Tujuan Umum
a.

Mahasiswa mampu mengetahui prosedur dan pembacaan/identifikasi tikus dan


pinjal

b.

Mahasiswa mampu memahami prosedur pembacaan dan identifikasi tikus dan


pinjal

2.

Tujuan Khusus
a.

Mahasiswa mampu melakukan pembacaan atau identifikasi tikus dan pinjal

B. METODE
Direct Preparat

C. PRINSIP
Tikus

dimatikan dengan kloroform dilakukan penyisiran terhadap tikus

diidentifikasi tikus pinjal yang ditemukan dijadikan preparat diamati dan


diidentifikasi pinjal yang ditemukan.

D. DASAR TEORI
Tikus merupakan hewan yang hidup dekat dengan manusia. tikus dengan manusia
seringkali bersifat parasitisme, tikus mendapatkan keuntungan sedangkan manusia
sebaliknya. Tikus sering menimbulkan gangguan bagi manusia dibidang : kesehatan;
pertanian; peternakan; rumah tangga.
Menurut kamus besar bahasa indonesia pengetian tikus adalah binatang pengerat,
termasuk suku Muridae dan merupakan hama yang merugikan, baik di rumah maupun di
sawah, berbulu, berekor panjang, pada rahangnya terdapat sepasang gigi seri berbentuk
pahat, umumnya berwarna hitam dan kelabu, tetapi ada juga yang berwarna putih
Klasifikasi tikus
Takson
Dunia
Phyllum (Filum)
Sub filum

Golongan
Animalia
Chordata
Vertebrata (Craniata)

Kelas

Mammalia

Sub kelas
Infra Kelas
Ordo
Sub ordo
Famili
Sub family
Genus

Theria
Eutheria
Rodentia
Myomorpha
Muridae
Murinae
Bandicota

Hal-hal yang perlu di perhatikan untuk menentukan jenis/spesies tikus adalah


sebagai berikut :
a. Warna dan jenis rambut
b. Warna ekor
c. Panjang ekor dari pangkal sampai ujung yaitu dari anus sampai ujung ekor tapi
tidak termasuk rambut yang ada di ujung ekor
d. Bentuk dan ukuran tengkorak
e. Panjang total dari ujung hidung sampai ujung ekor
f. Panjang kepala dan badan. Luruskan badan (tulang punggung terbentang lurus) dan
ukur dari ujung hidung sampai anus
g. Panjang telapak kaki belakang dari tumit sampai ujung kuku, letakkan kaki
belakang di penggaris. Ukur dari tumit sampai ujung jari kaki yang paling panjang,
tapi tidak termasuk kuku jari kaki
h. Panjang telinga. Biarkan telinga tegak secara alamiah, ukur dari pangkal daun
telinga sampai ujung dan pengukuran dilakukan pada bagian yang paling panjang
i. Berat badan (gram)
j. Jumlah puting susu pada tikus betina yaitu jumlah puting susu bagian dada dan
perut (dada + perut). Contoh 2 + 3 = 10 artinya 2
Di Indonesia ada 8 spesies yang paling berperan sebagai host (vektor) dari
agent patogen terhadap manusia dan hama pertanian. Delapan spesies tsb : Rattus
norvegicus (tikus riol/got/selokan/kota), Rattus-rattus diardii (tikus rumah/atap), Mus
musculus (mencit rumah), Rattus exulans (tikus ladang), Bandicota indica (tikus
wirok), Rattus tiomanicus (tikus pohon), Rattus argentiventer (tikus sawah), Mus
caroli (mencit ladang)
Berikut ini beberapa spesies tikus yang paling berperan sebagai vektor agen
patogen yang ada di indonesia :

1. Rattus norvegicus (tikus riol)


Spesies ini membuat sarang dengan menggali pada saluran air kotor, di bawah
pondasi bangunan dan tempat-tempat yang lembek. Tikus jenis ini makan dari sisa
makanan manusia dan dari sampah-sampah yang berasal dari mana saja. Tikus got
juga sering diklaim sebagai pembawa penyakit, terutama penyakit tipes.
Ukuran:

panjang kepala-tubuh: 163-265 mm, ekor 170-230 mm, kaki

belakang 37-45 mm, berat 150-400 g, merupakan tikus berukuran besar.


Identifikasi: tubuh bagian atas coklat, bagian bawah coklat abu-abu, ekor seluruhnya
gelap, atau gelap diatas dan pucat di bawah, jumlah puting susu 6 ps (3+3), lebar daun
telinga18-24 mm (berambut)
Ekologi & Habitat: sebagian besar nokturnal, makan tumbuhan & binatang, biasanya
di kota-kota pesisir tetapi dilaporkan juga berasal dari daerah persawahan. Terdapat
juga di Banjarmasin & Pontianak
2. Rattus-rattus diardii (tikus rumah/atap)
Tikus rumah (Rattus rattus) adalah hewan pengerat biasa yang mudah
dijumpai di rumah-rumah dengan ekor yang panjang dan pandai memanjat serta
melompat. Tikus rumah cenderung tersebar di daerah yang lebih hangat karena di
daerah dingin kalah bersaing dengan tikus got.
Ukuran: panjang kepala-tubuh (KT) 122-219 mm, ekor: 121-220 mm, berat
100-200 g, panjang kaki belakang: 32-39 mm. Umumnya berukuran sedang.
Identifikasi: tekstur rambut agak kasar, warna bagian punggung coklat hitam kelabu,
agak pucat dari punggung, ekor seluruhnya kecoklatan, jumlah puting susu 5 pasang
(2+3), lebar daun telinga 19-23 mm
Ekologi & Habitat: nokturnal & kadang-kadang diurnal, makanan meliputi
berbagai jenis tumbuhan dan binantang, sangat terbatas di sekitar pemukiman
manusia, pemukiman dekat perkebunan, dan kebun-kebun hingga ketinggian 1700 m
dpl, terdapat juga diperkebunan kelapa sawit (di Tawau Sabah, Malaysia)
3. Mus musculus (mencit rumah)
Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang
berukuran kecil. Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai
hewan pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang kecil

lainnya, serta bersarang di sudut-sudut lemari. Hewan percobaan (laboratorium)


dikembangkan dari mencit, melalui proses seleksi. Sekarang mencit juga
dikembangkan sebagai hewan peliharaan.
Ukuran: Panjang kepala-tubuh 67-79, kaki belakang 16 mm, ekor 80-84 mm,
bobot tubuh 8-30 gram.
Identifikasi: tubuh bagian atas coklat dgn bulu bagian dalam abu-abu, bagian
bawah lebih pucat, bulu halus, ekor seluruhnya kecoklatan tua, berlari sangat cepat,
lebar daun telinga 9-12 mm, puting susu 5 pasang (3 + 2).
Ekologi & Habitat:

nokturnal, makan berbagai bahan tumbuhan dan

binatang, tersebar di seluruh dunia (kosmopolitan), biasanya ditemukan di gudanggudang di perkotaan.


4. Rattus exulans (tikus ladang)
Ukuran: panjang kepala-tubuh 101-138 mm, ekor 118-159, berat 45-65 g,
tikus kecil. Identifikasi: bulu kasar, warna tubuh bagian atas keabu-abuan, bagian
bawah putih keabu-abuan, ekor seluruhnya coklat, rambut jarum putih berujung
coklat, lebar daun telinga 16-20 mm, putting susu 4 pasang (2+2).
Ekologi & Habitat: makan bahan tumbuhan dan binatang, hidup di sekitar
rumah, di rumah-rumah, kebun, persawahan dan hutan sekunder. Di Kalimantan
ditemukan R. exulan ephippium.
Warna badan atas coklat kelabu, badan putih kelabu dan terdapat di belukar,
kadang-kadang masuk rumah, dengan ciri-ciri :
a. FL = 220 285 mm
b. T = 95 120 %
c. HF = 24 28 mm
d. E = 17 20 mm
e. M = 8 buah (2 pasang + 2 pasang)
f. W = 25 75 gram.
5. Bandicota indica (wirok )
Tikus Wirok merupakan tikus terbesar yang berasal daei anak benua india .
Terdiri dar 2 jenis. Yaitu wirok besr yang di sebut Bandicota indica. Dan wirok kecit
atau Bandicota bengalenses. Wirok ini memiliki ciri yang sama , hanya ukurannya

saja yang berbeda. Tikus ini banyak terdapat di daerah berrawa, padang alang-alang
dan kadang-kadang di kebun sekitar rumah, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Ciri-cirinya memiliki bulu yang kasar dan pendek, bagian punggung (dorsal)
dengan warna gelap ( coklat kehitaman dan kebu gelap) sedangkan pada bagian
perut(ventral) berwarna kelabu cerah dan coklat kekuningan. kaki belakangnya
mempunyai lima jari berkuku dan kaki depan mempunyai empat jari berkuku.
moncong dari tikus ini pendek dan lebar seakan bentuknya bulat dan ini berbeda
dengan tikus-tikus lainnya.
a. TL = 400 580 mm
b. T = 160 315 mm
c. HF = 47 53 mm
d. E = 29 32 mm
e. M = 12 buah (3 pasang + 3 pasang)
f. Warna bulu atas coklat hitam dan warna bulu pada bagian bawah berwarna
coklat hitam. H. Bandicota bengalenses (wirok kecil)
g. TL = 360 510 mm
h. T = 150 250 mm
6. Rattus tiomanicus (tikus belukar, tikus pohon)
Ukuran: panjang tubuh-kepala 140-188 mm, ekor 120-181, kaki belakang 2835 mm, berat 78-125 g.
Identifikasi: tubuh bag. atas beruban hijau kheki, bag bawah bervariasi, rambu
biasanya abu-abu pucat dgn ujung putih, bulu halus dan rapat, ekor seluruhnya coklat,
kaki lebar dgn pola tonjolan halus yg jelas. Puting susu 5 pasang (2+3).
Ekologi & Habitat: nokturnal dan sebagian besar terestrial walaupun sering
terdapat pada belukar-belukar pendek, makanan berbagai tumbuhan & binatang,
terdapat di hutan sekunder dan hutan pesisir, perkebunan, semak belukar, dan padang
rumput. Jarang ditemukan di rumah atau hutan yg tinggi.

7. Ratttus argentiventer ( tikus sawah)


Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah hama penting pada tanaman padi.
Tikus menyerang padi malam hari. Pada siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang
pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampunagn dekat

sawah. Pada periode sawah bera, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah
perkampungan dekat sawah dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi
menjelang generatif.
Ukuran: panjang kepala-tubuh 140-210 mm, ekor 130-192 mm, berat 85-180 mm.
Identifikasi: tubuh bagian atas coklat pucat dgn bintik hitam halus, bagian
bawah abu-abu keperakan, sering dgn corengan berwarna gelap di sepanjang bagian
tengah, ekor seluruhnya coklat tua, kaki agak ramping dan telapak kaki halus, lebar
daun telinga 19-22 mm, putting susu 6 pasang (3+3).
Ekologi & Habitat: aktif di permukaan tanah, membuat liang & bersarang dlm
lubang di dlm tanah, makan tanaman & bulir padi, buah, dan bunga kelapa sawit, serta
serangga. Terdapat di persawahan, padang rumput, dan perkebunan.
8. Mus caroli (mencit ladang)
Ukuran: panjang kepala-badan 55-100 mm, ekor 45-90 mm, bobot tubuh 8-30
gram, telapak kaki belakang 12-18 mm.
Identifikasi: bagian atas berwarna kecoklatan abu-abu, bagian bawah keputihputihan, ekor gelap di atas dan pucat di bawah, jumlah putting susu 5 pasang (3_2),
lebar daun telinga 9-12 mm.
Ekologi & Habitat: makanan meliputih tumbuhan dan binatang, ditemukan di
persawahan dan padang rumput., tersebar di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Tikus dapat manimbulakn berbagai gangguan dan kerugian, antara lain dalah :
Menimbulkan karugian ekonomi karena tikus dapat merusak tanaman petani dan
memakan bahan-bahan makanan yang dihasilkan manusia. Serta Menimbulkan
kerusakan pada perabot rumah tangga dan juga kerusakan pada bangunan atau gudang
penyimpanan bahan makanan. Dari segi sosial budaya dapt menurunkan martabat
manusia karena dengan banyaknya tikus menandakan bahwa nilai kesehatan
penghuninya rendah. Dibidang kesehatan tikus-tikus tersebut berperan sebagai tuan
rumah perantara untuk beberapa jenis penyakit yang dikenal sebagai Rodent borne
diseases.
Penyakit-Penyakit Yang Tergolong Rodent Borne Diseases, Adalah :
a. Leptospirosis
Leptospira berkembang biak pada ginjal tikus. Kemudian Leptospira ini dikeluarkan
melalui urine dan akan tetap hidup untuk beberapa waktu lamanya di tanah yang

lembab/basah ataupun di air. Penularan kepada manusia terjadi melalui selaput lendir
atau luka di kulit. Pada dewasa ini penyakit tersebut sudah tidak begitu kelihatan lagi
namun diduga penyakit tersebut masih berkembang biak terus di hutan diantara
rodentia liar.
b. Scrub typhus
Seperti halnya pada penyakit pes, scrub typhus tidak hanya melibatkan tikus.
Penyakit ini disebabkan oleh Rickettsia yang hidup pada salah satu vektor (mite)
yang bernama Trombicula akamushi atau T. deliensis (Harrison, 1962). Bila seekor
tikus mengidap Rickettsia, maka panyakit ini akan berkembang biak dan terbawa pada
telur dan anak-anaknya. Larva yang baru diteteskan dalam keadaan lapar dapat
mencari host baru, mungkin saja larvanya yang membawa Rickettsia ini mengisap
darah manusia kerena tidak menemukan tikus. Pada waktu itu Rickettsia ditularkan
pada manusia yang akhirnya menderita penyakit Scrub typhus
c. Murine typhus
Penyebab penyakit ini adalah Rickettsia mooseri. Penyakit ini sangat dekat
hubungannya dengan penyakit Pes hingga mungkin sekali infeksinya terjadi secara
bersamaan, karena mempunyai vektor dan host yang sama terkenalnya yaitu X.
Cheopis dan R. r diardii
d. Rat bite fever
Penyakit ini adalah sejenis demam yang disebabkan oleh Spirillium minus yang
masuk melalui gigitan tikus. Penyakit ini walaupun dinyatakan ada di Indonesia,
tetapi belum banyak diketahui dan diperhatikan.
e. Penyakit Pes (Plague)
Penyakit ini ditularkan melalui pinjal tikus. Yang mengandung baksil per yaitu
Yersinia (Pasteurella) pestis. Pes ini pada manusia disebut pes bubo bubonic plague
dan disamping itu ada pula yang disebut pes paru-paru pneumonic plague atau lung
plague dan pes septichaemia septichaemic plague. Bila pes bubo ini dibiarkan
saja (tidak diobati), bisa menjalar ke paru-paru, timbullah pes paru-paru skunder
(secondary lung plague) yang sangat ditakuti, karena bisa menular melalui udara..
Pada keadaan yang luar biasa dimana baksil pes telah meracuni seluruh pembuluh
darah, bisa menyebabkan pes septichaemi. Penderita bisa meninggal secara tiba-tiba
dalam keadaan yang sangat mengerikan.

E. ALAT DAN BAHAN


a. Alat :
1. Timbangan
2. Jangka
3. Penggaris
4. Pipet
5. Balep
6. Kantong plastic
7. Timer
b. Bahan :
1. Cloroform
2. Kertas putih
3. Alat tulis menulis
4. Kapas

F. CARA KERJA
1) Pre Biting
a. Pasanglah berbagai makanan di halaman rumah dan di dapur yang akan
dipasang perangkap tikus. Hindarkan kemungkinan termakan oleh binatang.
b. Biarkan selama sehari semalam, kemudian amati jenis makanan yang paling
banyak dimakan oleh tikus.
2) Trapping
a. Pasanglah perangkap dibeberapa tempat dengan menggunakan umpan ikan
asin atau pindang.
b. Waktu pemasangan dilakukan sore atau siang hari, dilakukan secara
kondisional.
3) Identifikasi Tikus
a. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Mengamati warna bulu dan mata tikus yang akan diperiksa
c. Lakukan pembiusan pada tikus dengan cara masukkan tikus ke dalam kantong
plastic atau toples lalu pipet 2-3 ml chloroform ke dalam kantong plastic atau
toples tersebut, setelah itu diamkan sekitar 5 10 menit.

d. Amati tikus yang ada dalam kantong plastic atau toples selama pembiusan
berlangsung jangan sampai tikus kku.
e. Keluarkan tikus dari kantong plastk atau toples dan timbang. Catat hasil
pengukuran.
f. Sisir bulu tikus (untuk mengetahui ada atau tidaknya pinjal)
g. Letakkan tikus diatas kertas putih yang telah disiapkan. Amati jens kelamin
dan jumlah tetek tikus yang diperiksa. Catat
h. Ukur berapa panjang seluruhnya (total length) dari ujung moncong sampai
panjang ekor disingkat TL.
i. Ukur panjang kepala dan badan (head and body) dari ujung moncong sampai
ke anus yang disingkat HB
j. Ukur panjang ekor (tail) dari pangkal ekor atau anus sampi ujung ekor yang
disingkat T
k. Ukur panjang telapak kaki belakang (hind foot) dari tumit sampai ujung kuku
atau cakar yang disingkat HF
l. Ukur panjang telinga (ear) dari lekukan dibelakang telinga sampai ujung daun
telinga yang disingkat E
m. Ukur tengkorak (skull) dari ujung tulang hidung sampai tonjolan dibelakang
kepala yang disingkat Sk.

G. HASIL PENGAMATAN

Gambar 1. Rattus rattus

I.

Identifikasi Tikus
Pengukuran Tikus

N
o.
1

Jenis
Pengamat
an
Berat
tikus

I
60g

II
60g

III
60g

IV

110g

120g

Gambar

Panjang
Tikus
(total)

24cm

26,8c
m

28cm

33cm

31cm

Panjang
Head dan
body

14cm

12,3c
m

14cm

17cm

16,5c
m

Panjang
telinga

1,7c
m

2cm

1,7cm 2cm

Panjang
tengkorak

4cm

4,5cm

3,7cm 4,5cm 4cm

Panjang
tumit

3,5c
m

3cm

3,5cm 3,5cm 4cm

1,8cm

Panjang
ekor

15cm

14,5c
m

14cm

16cm

14,5c
m

Pengamatan Tikus Secara Kualitatif


Parameter

Tikus I

Tikus II

Tikus III

Tikus IV

Tikus V

Jenis
Kelamin

Betina

Betina

Betina

Jantan

Betina

Bulu
Punggung

Coklat

Coklat

Coklat

Coklat

Coklat

Bulu Dada

Kekuningan

Putih

Putih

Kekuningan

Abu-abu

Berbulu

Berbulu

Berbulu

Bersisik

Bersisik

Ditemukan
pinjal

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Ada

Ada

Kelenjar
mamae

Tidak ada

Belum
terlihat

Belum
terlihat

Belum
terlihat

Belum
terlihat

Ekor

II.

Identifikasi Pinjal

Gambar 2. Pinjal Tikus Perbesaran lensa objektif


10x

Gambar 3. Xenopsyilla astia

Gambar 4. Xenopsyilla astia

Gambar 5. Xenopsyilla Vexabilis


hawaiiensis

Gambar 6. Xenopsyilla cheopis

H. PEMBAHASAN
Tikus
Tikus atau rodentia berasal dari bahasa latin rodere yang mempunyai arti
mengerat, jadi tikus merupakan binatang pengerat. Oleh karena kebiasaan tikus yang
suka mengerat benda-benda disekitarnya, maka tikus menjadi berperan sebagai hama
di daerah pertanian maupun perkotaan. Selain itu, tikus juga mempunyai peran
sebagai penyebar penyakit. Penyakit yang disebarkan oleh tikus antara lain adalah
penyakit

pes,

leptospirosis,

demam

semak

(shrup

typhus),

salmonellosis

(muntaber/tifus), radang otak, dan lain sebagainya.Pada praktikum kali ini dilakukan
identifikasi tikus dan juga pinjal dari tikus itu sendiri.
Identifikasi pertama dilakukan pada tikus yang sudah disediakan.Berdasarkan
hasil yang diperoleh, diamati beberapa ciri-ciri tikus yang telah berhasil ditangkap.
Ciri morfologi tikus yang lazim dipakai untuk keperluan tersebut di antaranya adalah :
berat badan ( BB ), panjang kepala ditambah badan(H&B), ekor (T), cakar (HF),
telinga (E), tengkorak (SK) dan susunan susu (M). Disamping itu, lazim pula untuk
diketahui bentuk moncong, warna bulu, macam buluekor, kulit ekor, gigi dan lainlain.

Insect

atau

ektoparasit

yang

menginfestasi

tikus

penting

untuk

diketahui,berkaitan dengan penentuan jenis vektor yang berperan dalam penularan


penyakityang tergolong rat borne deseases.
Terdapat 5 tikus yang diamati pada praktikum ini. Pada pemeriksaan 3 tikus
dapat diidentifikasi sebagai tikus rumah (Rattus rattus). Hal ini dapat dilihat dari ciri
yang mencolok yaitu: warna putih keabu-abuan di bagian perut, abu-abu kecoklatan
bagian atas dan mata yang kecil serta menonjol. Pada tikus pertama memiliki ciri-ciri
yaitu : berat badan (BB) 60 gr, panjang total 24 cm, panjang kepala ditambah
badan(H&B) 14 cm, ekor (T) 15 cm, tumit 3,5 cm, telinga (E)1,7 cm, tengkorak (SK)
4 cm dan susunan susu (M) tidak ada. Pada tikus kedua memiliki ciri-ciri yaitu : berat
badan (BB) 60 gr, panjang total 26,8 cm, panjang kepala ditambah badan(H&B) 12,3
cm, ekor (T) 14 cm, tumit 3 cm, telinga (E) 2 cm, tengkorak (SK) 4,5 cm dan susunan
susu (M) belum terlihat. Pada tikus ketiga memiliki ciri-ciri yaitu : berat badan (BB)
60 gr, panjang total 28 cm, panjang kepala ditambah badan(H&B) 14 cm, ekor (T) 14
cm, tumit 3,5 cm, telinga (E) 1,7 cm, tengkorak (SK) 3,7 cm dan susunan susu (M)
belum terlihat.
Tikus rumah(Rattus-rattus) memliki moncong runcing, dengan telinga dan
mata yang besar. Pada kedua dan ketiga kelenjar mamae belum terlihat karena usia

tikus yang masih kecil. Tikus rumah (Rattus-rattus) pada umumnya bersarang di
dalam rumah, gedung-gedung tinggi dan disekitar pelabuhan. Tikus ini memiliki
kemampuan memanjat dan menyeberangi kabel-kabel yang menghubung bangunan
yang satu dengan yang lainnya.
Pada tikus keempat yang diindentifikasi memiliki ciri-ciri yaitu : berat badan
(BB) 110 gr, panjang total 33 cm, panjang kepala ditambah badan(H&B) 17 cm, ekor
(T) 16 cm, tumit 3,5 cm, telinga (E) 2 cm, tengkorak (SK) 4,5 cm dan susunan susu
(M) tidak ditemukan. Pada tikus kelima yang diindentifikasi memiliki ciri-ciri yaitu :
berat badan (BB) 120 gr, panjang total 31 cm, panjang kepala ditambah badan(H&B)
16,5 cm, ekor (T) 14 cm, tumit 4 cm, telinga (E) 1,8 cm, tengkorak (SK) 4 cm dan
susunan susu (M) tidak ditemukan.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tikus empat dan lima, maka dapat
diketahui bahwa jenis tikus yang diamati adalah termasuk kedalam rattus nokrvegicus
(tikus roil/got). Hal ini dapat dilihat dari ciri yang mencolok yaitu: bentuk badan
yang besar panjang serta warnanya coklat ke abu-abuan. Pada tikus keempat
ditemukan skrotum, maka disimpulkan jenis kelamin jantan. Sedangkan pada tikus
kelima tidak ditemukan skrotum, sehingga berjenis kelamin betina. Namun pada tikus
kelima kelenjar mamae belm terlihat.
Tikus ini sangat cepat penyebarannya, dan paling merusak secara ekonomi.
Biasanya menyerang gudang, pabrik, supermarket, gedung dan lain-lain. Tikus ini
biasanya bersarang di lubang- lubang saluran atau got, dibawah bangunan, dibawah
timbunan sampah dan lain-lain. Hewan ini tergolong omnivora yang memakan semua
makanan manusia dan hewan. Tikus got (Rattus norvegicus) sangat bergantung pada
makanan dan air (Fanny, 2014).
Pinjal
Pinjal merupakan salah satu parasit yang pada umumnya banyak dijumpai
pada tikus,kucing atau anjing. Pinjal berukuran kecil dengan panjang 1,5-3,3 mm dan
bergerak cepat, berwarna gelap .Pinjal ini merupakan serangga bersayap dengan
bagian mulut seperti tabung yang digunakan untuk menghisap darah host. Kaki pinjal
berukuran panjang, sepasang kaki belakang digunakan untuk melompat, tubuh
bersifat lateral dikompresi yang memudahkan untuk bergerak diantara rambut atau
bulu tubuh inang. Kulit tubuhnya keras, ditutupi banyak bulu dan duri pendek, dimana
bulu dan duri berfungsi untuk memudahkan bergerak. Pinjal tikus oriental

(Xenopsylla cheopis) merupakan parasit dari hewan pengerat, terutama dari genus
Rattus, dan merupakan dasar vektor untuk penyakit pes dan murine tifus. Hal ini
terjadi ketika pinjal menggigit hewan pengerat yang terinfeksi, dan kemudian
menginfeksi menggigit manusia. Pinjal tikus oriental ini terkenal memberikan
kontribusi bagi black death
Berdasarkan hasil identifikasi pinjal, setelah dilakukan penyisiran tidak
ditemukan pinjal pada tubuh tikus rumah (Rattus rattus). Hal ini dikarenakan tikus
yang diidentifikasi masih sangatlah mudah dan terlihat agak bersih sehingga tidak
didapatkan pinjal. Sedangkan pada tikus got (Rattus norvegicus) ditemukan pinjal
sebanyak 3 ekor.
Setelah dilakukan identifikasi pada pinjal yang ditemukan, hasilnya adalah
spesies xenopsylla cheopis dan vexabillis hawallensis. Untk mengindentifikasi spesies
dan jenis kelamin dapat diamati pada bagian abdomen akhir pinjal. Pada pinjal
berjenis kelamin jantan, memiliki alat kelamin berupa seperti pedang panjang
(spermatheca). Sedangkan pada pinjal berjenis kelamin betina, memiliki alat kemain
yaitu resepta culum seminis.
Penyakit yang dibawa oleh vektor ini adalah penyakit pes (sampar = plague)
dan murine typhus yang dipindahkan dari tikus ke manusia. Disamping itu pinjal bisa
berfungsi sebagai penjamu perantara untuk beberapa jenis cacing pita anjing dan
tikus. Pinjal berukuran kecil dengan panjang 1,5-3,3 mm dan bergerak cepat,
berwarna gelap. Pinjal ini merupakan serangga bersayap dengan bagian mulut seperti
tabung yang digunakan untuk menghisap darah host. Kaki pinjal berukuran panjang,
sepasang kaki belakang digunakan untuk melompat, tubuh bersifat lateral dikompresi
yang memudahkan untuk bergerak diantara rambut atau bulu tubuh inang.
Penyakit yang diakibatkan oleh pinjal yang menginfeksi manusia antara lain:
a. Pes
Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent. Kuman
pes yang ada pada tikus sakit dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila
ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes, dan kuman
tersebut akan dipindahkan ke hewan lain atau manusia dengan cara melalui gigitan.
b. Murine typus, yang dipindahkan dari tikus ke manusia.
Cara Pencegahan Pinjal
a) Mekanik atau fisik.

Pengendalian pinjal secara mekanik atau fisik dilakukan dengan cara


membersihkan karpet, alas kandang, daerah di dalam rumah yang biasa disinggahi
tikus atau hewan lain dengan menggunakan vaccum cleaner berkekuatan penuh, yang
bertujuan untuk membersihkan telur, larva dan pupa pinjal yang ada. Sedangkan
tindakan fisik dilakukan dengan menjaga sanitasi kandang dan lingkungan sekitar
hewan piaraan, member nutrisi yang bergizi tinggi untuk meningkatkan daya tahan
hewan juga perlindungan dari kontak hewan peliharaan dengan hewan liar atau tidak
terawat lain di sekitarnya. Selain itu juga dapat melalui pemberantasan inangnya yaitu
tikus dengan pemasangan perangkap tikus.
b) Kimia
Pengendalian pinjal secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan
insektisida. Repelen seperti dietil toluamide (deet) atau benzilbenzoat bisa melindungi
orang dari gigitan pinjal. Upaya pengendalian pinjal di daerah urban pada saat
meluasnya kejadian pes atau murinethyphus, diperlukan insektisida dan aplikasi yang
terencana dengan baik agar operasi berjalan dengan memuaskan. Pada saat yang sama
ketika insektisida diaplikasikan, rodentisida seperti antikoagulan, warfarin dan
fumarin dapat digunakan untuk membunuh populasi tikus. Namun demikian, bila
digunakan redentisida yang bekerja cepat dan dosis tunggal seperti zink fosfid,
sodium fluoroasetat, atau striknin atau insektisida modern seperti bromadiolon dan
klorofasinon, maka hal ini harus diaplikasikan beberapa hari setelah aplikasi
insektisida. Jika tidak dilakukan maka tikus akan mati tetapi pinjal tetap hidup dan
akan menggigit mamalia termasuk orang dan ini akan menongkatkan transmisi
penyakit.

SIMPULAN
Tikus merupakan hewan yang hidup dekat dengan manusia. tikus dengan
manusia seringkali bersifat parasitisme, tikus mendapatkan keuntungan sedangkan
manusia sebaliknya. Tikus sering menimbulkan gangguan bagi manusia dibidang :
kesehatan; pertanian; peternakan; rumah tangga.
Prinsip identifikasi tikus dan pinjal adalah Tikus dimatikan dengan kloroform
dilakukan penyisiran terhadap tikus diidentifikasi tikus pinjal yang
ditemukan dijadikan preparat diamati dan diidentifikasi pinjal yang ditemukan.

Identifikasi pertama dilakukan pada tikus yang sudah disediakan. Berdasarkan


hasil yang diperoleh, diamati beberapa ciri-ciri tikus yang telah berhasil ditangkap.
Ciri morfologi tikus yang lazim dipakai untuk keperluan tersebut di antaranya adalah :
berat badan ( BB ), panjang kepala ditambah badan(H&B), ekor (T), cakar (HF),
telinga (E), tengkorak (SK) dan susunan susu (M). Disamping itu, lazim pula untuk
diketahui bentuk moncong, warna bulu, macam buluekor, kulit ekor, gigi dan lainlain.

Insect

atau

ektoparasit

yang

menginfestasi

tikus

penting

untuk

diketahui,berkaitan dengan penentuan jenis vektor yang berperan dalam penularan


penyakityang tergolong rat borne deseases.

DAFTAR PUSTAKA
Nur riski , Ika. 2013. Laporan Praktikm Identifikasi Tikus dan Pinjal. [online].
tersedia: http://documents.tips/documents/laporan-praktikum-identifikasi-tikusdan-pinjalpdf.html
Rema. 2010. Tikus. [online]. tersedia: https://remapest.wordpress.com/facts_tikusbinatang-malam/Ichan

guevara.

2012.

Morfologi

tikus.

Tersedia:

https://www.google.com/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=https://ml.scribd.com/doc/75056319/MorfologiTikus