Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI

PENGAMATAN KELAINAN KELAINAN PADA ERITROSIT


(HIPOKROM, NORMOKROM, POIKILOSITOSIS, DAN ANISOSITOSIS)

OLEH :

DESAK GEDE DIAN PURNAMA DEWI


P07134014027

JURUSAN ANALIS KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
2016
Hari, Tanggal : Senin, 09 Mei 2016
Tempat Praktikum : Laboratorium Hematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Denpasar
Semester : IV (Empat)

I. TUJUAN
A. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa dapat mengetahui kelainan bentuk, warna dan ukuran eritrosit (hipokrom,
normokrom, poikilositosis, dan aniositosis).
B. Tujuan Instruksional Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan pada sediaan hapusan darah.
2. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan dan mengamati kelainan bentuk, ukuran
dan warna eritrosit (hipokrom, normokrom, poikilositosis, dan anisositosis) pada
sediaan hapusan darah.

II. METODE
Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah metode indirek preparat

III.PRINSIP
Sediaan apusan darah diletakkan di atas meja mikroskop dan diamati pada pembesaran lensa
objektif 100x dengan penambahan oil imersi. Pengamatan dilakukan pada counting area. Secara
mikroskopis ukuran eritrosit normal sama dengan inti limfosit matur dengan di tengah berwarna
agak pucat.

IV. DASAR TEORI


a. Pengertian Darah
Darah berasal dari bahasa yunani yakni hemo, hemato dan haima yang berarti darah.
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat
tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh,
mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga berfungsi sebagai pertahanan
tubuh manusia terhadap virus atau bakteri. Darah manusia adalah cairan di dalam tubuh yang
berfungsi untuk mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah
juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan
mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh
dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.
Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital keberadaannya.
Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zat-zat kimia seperti
hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan pengangkut oksigen dan
karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti trombosit dan plasma darah memiliki
peran penting sebagai pertahanan pertama dari serangan penyakit yang masuk ke dalam
tubuh. Namun darah juga merupakan salah satu vektor dalam penularan penyakit. Salah satu
contoh penyakit yang dapat ditularkan melalui darah adalah AIDS. Darah yang mengandung
virus HIV dari makhluk hidup yang HIV positif dapat menular pada makhluk hidup lain
melalui sentuhan antara darah dengan darah, sperma, atau cairan tubuh makhluk hidup
tersebut. Oleh karena penularan penyakit dapat terjadi melalui darah, objek yang
mengandung darah dianggap sebagai biohazard atau ancaman biologis.
Saat kita melihat darah dengan mata kasar maka kita akan melihat darah sebagai cairan
seperti air yang berwarna merah. sebenarnya didalam darah terdapat beberapa komponen dan
darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari darah,
angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan
yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang
membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah.
1. Korpuskula darah terdiri dari:
Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%).
Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai
sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel
darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan
eritrosit akan menderita penyakit anemia.
Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%)
Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.
Sel darah putih atau leukosit (0,2%).
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk
memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus
atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap.
2. Serum darah atau plasma terdiri atas:
Air: 91,0%
Protein: 8,0% (Albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen)
Mineral: 0.9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam dari kalsium, fosfor, ,
kalium dan zat besi,nitrogen, dan lain lain).
Garam (Alfiah.2014)

b. Eritrosit
Eritrosit adalah sel darah merah yang mengandung hemoglobin, yang berfungsi untuk
mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan membawa karbondioksida dari jaringan
keparu-paru. Eritrosit berbentuk cakram bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga
dilihat dari samping nampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang.
Kalau dilihat satu per satu warnanya kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah besar kelihatan
merah dan memberi warna pada darah (Erna,2015).
Struktur eritrosit terdiri atas pembungkus luar atau stroma yang berisi masa hemoglobin.
Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terbentuk dari asam amino dan juga
zat besi untuk eritropoiesis.
Wanita memerlukan lebih banyak zat besi dibandingkan dengan laki-laki karena beberapa
diantaranya dibuang sewaktu menstruasi. Pembentukan sel darah merah di dalam sumsum
tulang dan perkembangannya melalui beberapa tahap : mula-mula besar dan berisi nukleus
tetapi tidak ada hemoglobin, kemudian dimuati hemoglobin dan akhirnya kehilangan
nukleusnya dan baru diedarkan ke dalam sirkulasi darah. Proses eritropoiesis terjadi selama 7
hari dan jumlah normal eritrosit yang dihasilkan adalah 4,5-6,5 juta/mm3 pada pria,
sedangkan pada wanita 3,9-5,6 juta/mm3.
Rata-rata umur sel darah merah adalah 120 hari, setelah itu sel menjadi usang dan
dihancurkan dalam retikulo-endotelial, terutama dalam limpa dan hati. Globin dari
hemoglobin dipecah menjadi asam amino untuk digunakan sebagai protein dalam jaringan-
jaringan dan zat besi dalam hem dari hemoglobin dikeluarkan untuk digunakan dalam
pembentukan sel darah merah lagi. Sisa haem dari hemoglobin diubah menjadi bilirubin
( pigmen kuning ) dan biliverdin yaitu yang berwarna kehijau-hijauan yang dapat dilihat pada
perubahan warna hemoglobin yang rusak pada luka memar (Eni,_).

c. Morfologi Eritrosit Normal


Eritrosit normal berbentuk bulat atau agak oval dengan diameter 7 8 mikron (normosit).
Dilihat dari samping, eritrosit nampak seperti cakram atau bikonkaf dengan sentral akromia
kira-kira 1/3 diameter sel. Pada evaluasi sediaan darah apus maka yang perlu
diperhatiakan adalah 4S yaitu size (ukuran), shape (bentuk), warna (staining) dan struktur
intraselluler. (Kinoshita,Q.2012)

d. Kelainan Eritrosit
Kelainan eritrosit dapat digolongkan menjadi 3, yaitu kelainan berdasarkan ukuran
eritrosit, kelainan berdarakan warna eritrosit, dan kelainan berdasarkan bentuk eritrosit.
1. Kelainan berdasarkan ukuran eritrosit
Ukuran normal eritrosit antara 6,2 8,2 m (normosit). Kelainnya dapat berupa
makrosit (Ukuran besar), mikrosit (ukuran kecil), dan anisositosis (ukuran bermacam-
macam).
2. Kelainan Berdasarkan Warna Eritrosit
Kelainan berupa hipokrom, hiperkromia, anisokromasia, dan polikromasia
3. Kelainan berdasarkan bentuk eritrosit (Poikilositosis)
Kelainan berupa ovalosit, sferosit, skitosit, teardrop cells, fragmentosit, burr
cells/acantocyte, sickle cells, stomatosit, dan target cell (Widayati, 2010)

V. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
1. Mikroskop binokuler
b. Bahan
1. Preparat apusan darah
2. Oil imersi
3. Tissue lensa

VI. CARA KERJA


1. Alat dan bahan disiapkan
2. Sediaan apusan darah diletakkan di meja preparat
3. Mikroskop dinyalakan dengan menekan tombol ON
4. Intensitas cahaya diatur sesuai kebutuhan
5. Lensa objektif diarahkan ke pembesaran 10x lalu diafragma diatur
6. Ketinggian kondensor diatur
7. Jarak lensa okuler disesuaikan dengan mata
8. Makrometer dan micrometer diatur hingga menemukan lapang pandang yang jelas
9. Sediaan ditetesi oil imersi, lalu lensa objektif dipindahkan ke pembesaran 100x
10. Diafragma dan kondensor diatur
11. Pengamatan dilakukan pada counting area
12. Dicatat hasil pengamatan apakah sel eritrosit tersebut normal atau mengalami kelainan

VII. HASIL PENGAMATAN


A. Hipokrom dan Normokrom
Normokrom

Hipokro
m

B. Poikilositosis
Burr sel

Ovalosit

Akantosit

Stomatosit

Tear drop sel

Helmet sel
Sferosit

C. Anisositosis

Inti sel limfosit


matur

Mikrosit

Makrosit

VIII. PEMBAHASAN
Sediaan apusan darah tepi merupakan teknik membuat olesan (smear) darah yang
kemudian diratakan diatas gelas benda. Fungsi dari pembuatan sediaan apus darah ini adalah
untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop. Prinsip pemeriksaan sediaan darah ttepi
adalah dengan meneteskan darah lalu dipaparkan diatas objek glass, kemudian dilakukan
pengecatan dengan zat warna khusus dan diperiksa dibawah mikroskop. Tujuan dari pembuatan
sediaan darah tepi ini adalah untuk evaluasi morfologi dan jumlah dari sel sel darah seperti
eritrosit, leukosit, dan trombosit dan identifikasi parasit pada pemeriksaan parasitologi seperti
malaria, microfilaria, dan trypanosoma (Yazhid, 2013).
Pada praktikum hematologi kali ini, sediaan hapusan darah tepi dibuat untuk mengevaluasi
kelainan kelainan pada eritrosit. Sebelum melakukan pengamatan alat dan bahan disiapkan
terlebih dahulu serta praktikan harus menggunakan alat pelindung diri yang baik dan benar.
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000x, dimana langkah
pertama yang dilakukan adalah mengarahkan lensa objektif ke pembesaran 10x berfungsi untuk
mencari lapang pandang. Setelah lapang pandang dittemukan lensa objektif diarahkan ke
pembesaran 100x dan preparat diberi oil imersi. Fungsi dari oil imersi adalah untuk mengurangi
indeks bias cahaya mikroskop dan sebagai pelumas agar preparat tidak tergores dan pecah saat
bergesekan dengan lensa mikroskop (Dwi Utami, 2010). Pengamatan dilakukan pada counting
area yaitu bagian tipis dari preparat apusan darah tepi, hal tersebut dimaksudkan agar
mendapatkan sel sel yang tersebar merata dan tidak bertumpukan sehingga lebih mudah dalam
proses pengamatan.
Kelainan Warna Eritrosit
1. Hipokrom
Hipokrom adalah uatu keadaan dimana konsentrasi Hb kurang dari normal ehingga
sentral akromia melebah lebih dari bagian selnya dan terjadi penurunan warna eritrosit
yaitu peningkatan diameter central pallor melebihi normal sehingga tampak lebih pucat.
Distribusi normal sel ini adalah 10 % dalam darah. Biasanya sel hipokromia ditemukan pada
penyakit anemia defisiensi besi karena sel darah merah mengalami kekurangan Fe yang
berfungsi untuk menangkap oksigen. Selain itu, sel eritrosit hipokromik juga ditemukan pada
anemia sideroblastik, gagal ginjal kronis, talasemia, dan Hb-pati (C dan E). Preparat yang
digunakan saat praktikum ini berasal dari RSUP Sanglah Denpasar, pada preparat ini terlihat
sel sel eritrosit hipokrom sangat banyak per lapang pandangnya (Silviana, 2012).
2. Normokrom
Normokrom adalah eritrosit dengan warna normal yaitu bagian central pallornya 1/3
sampai dengan bagian dari penampang eritrosit (Silviana, 2012). Pada saat dilakukan
pengamatan dibawah mikroskop dengan menggunakan preparat apusan darah tepi yang
dibuat oleh mahasiswa, tampak sel eritrosit yang normal dari segi warna. Pemeriksaan
apusan darah tepi ini berfungsi untuk mengevaluasi dan membantu dalam menegakkan
diagnosis terhadap jenis dan tipe penyakit anemia. Dalam keadaan tertentu eritrosit
normokrom dapat ditemukan pada penderita anemia yang disebabkan karena pendarahan
akut, menstruasi, dan hemolisis yang tidak mempengaruhi morfologi eritrosit.
Kelainan Bentuk Eritrosit
Pada praktikum kedua dilakukan pengamatan terhadap kelainan bentuk eritrosit. Preparat
apusan darah yang digunakan saat praktikum berasal dari RSUP Sanglah Denpasar. Kelainan
bentuk eritrosit sering dikenal dengan istilah poikilositosis. Poikilositosis adalah keadaan dimana
populasi eritrosit tampil dengan bentuk yang bervariasi. Biasanya poikilositosis bersamaan
dengan anisositosis. Meningkatnya poikilositosis sering menunjukkan adanya kelainan
eritropoiesis yang disebabkan oleh defek sumsum tulang atau kelainan destruksi eritrosit. Dalam
situasi normal, suatu poikilosit merupakan penuaan eritrosit yang sejalan dengan kekuatannya,
dimana sebagian kecil dari membrannya terkelupas. Adapun macam macam kelainan bentuk
eritrosit yang ditemukan pada preparat saat praktikum, antara lain :
1. Sferosit
Sel-sel tersebut bundar, gelap, tidak berbentuk bikonkaf, dan lebih kecil dari eritrosit. Bentuk
eritrosit sferikdengan tebal 3 mikron dan diameternya kurang dari 5,3 mikron dan tidak memiliki
central pallor. Terdapat pada sferositosis herediter, anemia iso dan auto-immunohemolitik.
2. Helmet sel
Helmet sel adalah eritrosit yang telah mengalami fragmentasi. Sel ini dapat dijumpai pada
banyak keadaan antara lain tasemia, anemia, dan sebagainya.
3. Akantosit
Akantosit (Spurr cell) adalah eritrosit yang pada dinding terdapat tonjolantonjolan
sitoplasma yang berbentuk duri (runcing), disebut tidak merata dengan jumlah 5 10 buah,
panjang dan besar tonjolan bervariasi, ditemukan pada abetalipoproteinemia herediter, pengaruh
pengobatan heparin, pyruvate kinase deficiency, penyakit hati dengan anemia hemolitik, dan
pasca splenektomi.
4. Teardrop cell
Eritrosit memperlihatkan tonjolan plasma yang mirip ekor sehingga seperti tetes air mata
atau buah pir. Ditemukan pada anemia megaloblastik, myelofibrosis, hemopoesis ekstramedullar
5. Ovalosit
Bentuk sangat bervariasi seperti oval, pensil dan cerutu dengan konsentrasi Hb umumnya
tidak menunjukkan hipokromik. Hb berkumpul pada kedua kutub sel. Ditemukan pada
elliptositosis herediter ( 90 95% eritrosit berbentuk ellips) dan anemia megaloblastik.
6. Burr cell
Echynocyte (Burr cell) merupakan eritrosit dengan tonjolan duri yang lebih banyak ( 10 30
buah), berukuran sama. Tersebar merata pada pada permukaan sel. Ditemukan pada penyakit
ginjal menahun (uremia), karsinoma lambung, artefak waktu preparasi, hepatitis, sirosis hepatic
dan anemia hemolitik.

7. Stomatosit
Stomatosit adalah eritrosit yang memiliki central pallor tidak bundar melainkan berbentuk
elips seperti celah bibir dan memanjang, dijumpai pada stomasitosis herediter, keracunan timah,
alkoholisme akut, penyakit hati menahun, talasemia, dan anemia hemolitik.
Adapun penyakit yang berkaitan dengan poikilositosis, antara lain :
1. Anemia yang berat disertai regenerasi aktif eritrosit atau hemopoesis ekstrameduler
2. Eritropoesis abnormal (anemia megaloblastik, leukemia, mielosklerosis,dan lain-lain)
3. Dekstruksi eritrosit di dalam pembuluh darah (anemia hemolitik)
4. Thalassemia, anemia karena defisiensi vitamin B12 atau asam folat, atau bisa juga pada
coeliac diseases (Khinosita, 2012).
Kelainan Ukuran Eritrosit
Pada praktikum ketiga dilakukan pengamatan terhadap preparat apusan darah tepi yang
berasal dari RSUP Sanglah Denpasar, pengamatan kali ini bertujuan untuk melihat macam
macam kelainan ukuran eritrosit atau yang dikenal dengan istilah anisositosis. Anisositosis
adalah suatu keadaan dimana ukuran diameter eritrosit yang terdapat di dalam suatu apusan
bervariasi. Anisositosis tidak menunjukkan suatu kelainan hematologic yang speifik. Keadaan ini
ditandai dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam preparat apusan
darah tepi. Bentuk sel anisositosis ada dua yaitu makrositik dan mikrositik. Pada praktikum kali
ini dapat diamati kedua ukuran sel tersebut baik makro maupun mikro, tetapi yang lebih
mendominasi pada preparat yang diamati adalah ukuran sel mikrositik. Pengamatan anisositosis
ini menggunakan inti sel limfosit matur sebagai pembanding ukuran dari eritrosit normal.
1. Makrositik
Ukuran eritrosit yang sangat besar yaitu lebih besar dari ukuran inti limfosit matur. Hal
ini dapat terjadi karena pematangan inti eritrosit terganggu, sel makrosit dapat dijumpai pada
defisiensi vitamin B12 atau asam folat. Penyebab lainnya adalah karena rangsangan
eritropoietin yang berakibat meningkatnya sintesa hemoglobin dan meningkatkan pelepasan
retikulosit ke dalam sirkulasi darah. Sel ini didapatkan pada anemia megaloblastik dan
penyakit hati menahun.
2. Mikrositik
Ukuran eritrosit lebih kecil dari inti limfosit yang matur dan disertai dengan warna pucat
(hipokrom). Terjadinya karena menurunnya sintesa hemoglobin yang disebabkan defisiensi
besi, defeksintesa globulin, atau kelainan mitokondria yang mempengaruhi unsure hem
dalam molekul hemoglobin. Sel ini dijumpai pada penyakit kelainan eritrosit seperti anemia
hemolitik, anemia megaloblastik, dan anemia defisiensi besi (Zakaria, 2012).

IX. SIMPULAN
1. Pengamatan kelainan eritrosit dapat dibagi menjadi 3, yaitu kelainan bentuk, warna dan
ukuran eritrosit. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan preparat apusan darah tepi
pada pembesaran lensa 1000x dan diberi oil imersi.
2. Kelainan warna eritrosit yang diamati pada praktikum kali ini adalah hipokrom dan
normokrom
3. Kelainan bentuk eritrosit atau poikilositosis yang ditemukan pada pengamatan yaitu
sferosit, tear drop sel, ovalosit, burr sel, akantosit, stomatosit, dan helmet sel.
4. Kelainan ukuran eritrosit yang diamati pada praktikum kali ini adalah makrosit dan
mikrosit dengan menggunakan inti limfosit sebagai pembanding.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2010. Makalah Analis Kesehatan. [online]. Tersedia:


http://yahooiklan.blogspot.co.id/2010/11/sel-darah-eritrosit-leukosit-trombosit.html.
[diakses: 31 Maret 2016, 23.00 wita]

Dwi, Utami. 2012. Laporan Praktikum Patologi Klinik Kelainan Eritrosit. [Online].
Tersedia: https://risaluvita.wordpress.com/2012/09/29/laporan-praktikum-patologi-klinik-
eritrosit/. [diakses: 31 Maret. 2015. Wita]

Eliana,Erna. 2015. Karya Tulis Ilmiah. [online]. Tersedia :


http://www.academia.edu/9299978/KTI. [diakses : 25 September 2015, 13.15 wita]

Kinoshita, Q. 2012. Morfologi Eritrosit dan Kelainannya. [online]. Tersedia:


http://cocoquiin.blogspot.co.id/2012/03/morfologi-eritrosit-dan-kelainannya.html.
[diakses: 31 Maret 2016: 22.00 wita]

Monda, Hartati. 2014. Kelainan Sel Darah. [Online]. Tersedia :


http://hartatimonda.blogspot.co.id/2014/07/kelainan-sel-darah.html. [Diakses : 01 April
2016, 21.28 Wita]
Nita, 2013. Hematologi Klinik. [Online],
http://nitaprabawatikennedy.blogspot.co.id/2013/02/hematologi-klinik.html. Diakses
tanggal 1 April 2016.

Rumiyat, Eni .___. Darah. [online]. Tersedia:


http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-enirumiyat-5225-2-bab2.pdf.
[diakses: 25 September 2015, 13.00 wita]
Silviana, 2012. Kelainan Sediaan Hapusan Darah. [Online],
http://silviaquerida.blogspot.co.id/2012/04/kelainan-sediaan-apus-darah.html. Diakses
tanggal 1 April 2016.

.
Widayati, dkk.2010. Laporan Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia Sediaan Apus Darah.
Jakarta: Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Zakaria.2012.Morfologi Sel Darah Merah.[online]. tersedia:


di:http://zakariadardin.wordpress.com/2012/01/09/morfologi-sel-darah-merah/
Denpasar, 09 Mei 2016
Praktikan
.

Desak Gede Dian Purnama Dewi


P07134014027

LEMBAR PENGESAHAN

Mengetahui,
Pembimbing I Pembimbing II

DR. dr. Sianny Herawati, Sp.PK Rini Riowati, B.Sc

Pembimbing III Pembimbing IV

I Ketut Adi Santika, A. Md. AK Luh Putu Rinawati, A.Md.AK


Pembimbing V

Kadek Aryadi Hartawiguna, A.Md.AK