Anda di halaman 1dari 12

Nama

Desak Gede Dian Purnama Dewi

NIM

P07134014027

Semester

V (Lima)

Judul

TUBEX TF Test

Hari, Tanggal :

Rabu, 21 September 2016

Tempat

Laboratorium Imunoserologi JAK Poltekkes Denpasar

I. TUJUAN
Untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen Salmonella typhi O9 dalam
serum atau plasma pasien secara semikuantitaif guna membantu menegakkan
diagnosis demam tifoid akut.
II. METODE
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Tubex adalah metode IMBI
(Inhibition Magnetic Binding Immunoassay).
III.PRINSIP
Tubex TF mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen Salmonella typhi O9
dalam serum pasien dengan mengukur kemampuannya menghambat reaksi antara
antigen yang terikat pada reagen coklat dengan antibodi yang terikat pada reagen
biru. Tingkat penghambatan tersebut sebanding dengan konsentrasi antibodi anti-O9
pada sampel. Hasil dibaca secara visual dan dibandingkan dengan standar skala
warna.
IV. DASAR TEORI
Salmonella enteric serovar typhi (Salmonella typhi) merupakan agen penyebab
demam tifoid, demam enterik menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di
seluruh dunia. Demam tifoid adalah penyakit yang berpotensi fatal, mudah diobati
dengan antibiotik terjangkau dan ambang batas pengobatannya sangat rendah
(Kamala Thriemer, et al, 2013). Salmonella sp. adalah bakteri batang lurus, gram
negatif, tidak berspora, dan bergerak dengan flagella peritrikus. Terdapat lebih dari
2500 serotipe Salmonella yang dapat menginfeksi manusia, namun serotipe yang
sering menjadi penyebab utama infeksi pada manusia adalah Salmonella paratyphi A,

Salmonella paratyphi B, Salmonella paratyphi C, dan Salmonella typhi. Antigen


Salmonella terdiri dari tiga yaitu antigen somatik O, flagelar H dan kapsul Vi (Hanna,
et al, 2015).
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang terdapat pada saluran
pencernaan yang ditandai dengan adanya demam 7 hari atau lebih, gangguan
pencernaan dan sistem saraf pusat. Demam tifoid ini berlangsung kurang lebih 3
minggu disertai gejala pembesaran limpa dan erupsi kulit. Untuk mengetahui tingkat
infeksi terhadap demam tifoid diperlukan adanya diagnosis laboratorium dalam
menegakkan diagnosis dan menentukan hasil pemeriksaan (Garcia, 2014). Penegakan
diagnosis deman tifoid dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium seperti kultur
darah dan tes serologis. Tes serologis digunakan untuk mendeteksi antibodi spesifik
terhadap antigen Salmonella typhi. Beberapa uji serologis yang biasa digunakan
adalah uji Widal, uji TUBEX, EIA, dan ELISA (Kamala Thriemer, et al, 2013).
Tubex adalah tes kolorimetri semikuantitatif untuk mendeteksi demam tifoid yang
membutuhkan waktu pemeriksaan kurang lebih 5 menit. Tubex mendeteksi anti
Salmonella typhi lipopolisakarida O9 antibodi dari serum pasien dengan cara
menghambat pengikatan antara partikel antibodi dan antigen dengan gaya magnetik.
Jika hasil pemeriksaan menunjukka reaksi positif maka serum pasien dapat
diindikasikan terkena infeksi oleh Salmonella serogroup D (Ashish Khanna, et al,
2015).
V. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
1. Mikropipet 45l, dan 90 l
2. Yellow tip
3. Skala warna
4. Sealing tape
b. Bahan
1. Serum atau plasma heparin
2. Kontrol positif dan kontrol negatif
3. Reagen coklat
4. Reagen biru
VI. CARA KERJA
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Sampel dan reagen disuhu-ruangkan terlebih dahulu.

3. Letakkan sumur tes TUBEX dalam keadaan tegak dan jangan diletakkan pada
magnetnya terlebih dahulu.
4. Masukkan 45 l reagen cokelat TUBEX TF ke dalam tiga sumur tes yang
berbeda.
5. Tambahkan 45 l sampel serum, 45 l control positif dan 45 l control
negative kedalam tiga sumur tes tadi. Homogenkan dengan mikropipet 5-10
kali. Hindari terjadinya gelembung. Gunakan tip yang berbeda untuk setiap
sumur tes.
6. Diinkubasi selama 2 menit.
7. Tambahkan 90 l reagen biru TUBEX TF pada setiap sumur tes.
8. Tutup sumur tes dengan sealing tape, pastikan tertutup rapat. Pegang sumur
tes dengan menaruh ibu jari pada dasar sumur dan jari telunjuk pada bagian
sealing tape. Kemudian posisikan sumur horizontal 90 dan digerakkan
kedepan dan ke belakang selama 2 menit untuk homogenisasi.
9. Letakkan sumur tes TUBEX pada skala warna, biarkan selama 5 menit untuk
pemisahan.
10. Baca hasil dan tentukan skor dengan membandingkan pada skala warna.
VII.

INTERPRETASI HASIL
Warna pada supernatant dibandingkan dengan skala warna, dengan rentang nilai

dari 0 (warna merah muda) 10 (warna biru)


Nilai
02

Interpretasi
Negatif. Tidak ada indikasi demam typhoid dan

24

hasil mirip seperti kontrol negatif.


Hasil tidak meyakinkan (Inconclusive score).
Ulangi analisis atau dicuci dengan buffer. Jika
masih tidak meyakinkan, ulangi sampling pada

4 10
Indeterminate (tidak
menentu)

hari berikutnya.
Positif. Terindikasi kuat mengalami demam
typhoid dan hasil mirip seperti kontrol positif.
Tidak ada nilai jelas yang diperoleh karena :
1. Prosedur kerja yang tidak sesuai. Ulangi
analisis.

2. Kualitas sampel yang buruk. Ulangi


sampling dan analisis ulang.
VIII. HASIL PENGAMATAN
Identitas sampel
1. Sampel A
Nama pasien
: Rianita Putri
Jenis kelamin : Perempuan
Umur
: 20 Tahun
Sampel
: Serum
Hasil
: Hasil tidak meyakinkan (Inconclusive score)
2. Sampel C
Asal Sampel
: RSUP Sanglah Denpasar
Jenis Kelamin : Umur
:Sampel
: serum
Hasil
: Positif (+) dengan nilai 4
Gambar Alat dan Bahan

( Sampel serum C dan A)

(Reagen TUBEX TF yang terdiri dari control positif,


control negatif, reagen biru, dan reagen coklat)

Hasil Pemeriksaan TUBEX TF

Keterangan :
A

: Serum control positif dengan skor 10

: Serum control negatif dengan skor 2

: Sampel kode C dengan hasil positif skor 4

: Sampel atas nama Rianita Putri dengan hasil inconclusive score

IX. PEMBAHASAN
Salmonella enteric serovar typhi (Salmonella typhi) merupakan agen penyebab
demam tifoid, demam enterik menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di
seluruh dunia (Kamala Thriemer, et al, 2013). Salmonella sp. adalah bakteri batang
lurus, gram negatif, tidak berspora, dan bergerak dengan flagella peritrikus. Terdapat
lebih dari 2500 serotipe Salmonella yang dapat menginfeksi manusia, namun serotipe
yang sering menjadi penyebab utama infeksi pada manusia adalah Salmonella
paratyphi A, Salmonella paratyphi B, Salmonella paratyphi C, dan Salmonella typhi.
Antigen Salmonella terdiri dari tiga yaitu antigen somatik O, flagelar H dan kapsul Vi
(Hanna, et al, 2015).
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang terdapat pada saluran
pencernaan yang ditandai dengan adanya demam 7 hari atau lebih, gangguan
pencernaan dan sistem saraf pusat. Demam tifoid ini berlangsung kurang lebih 3

minggu disertai gejala pembesaran limpa dan erupsi kulit. Untuk mengetahui tingkat
infeksi terhadap demam tifoid diperlukan adanya diagnosis laboratorium dalam
menegakkan diagnosis dan menentukan hasil pemeriksaan (Garcia, 2014).
Tubex merupakan tes serologis laboratorium yang dikembangkan baru baru ini
untuk mendiagnosis demam tifoid dan mendeteksi antibodi terhadap antigen
Salmonella enteritica serovar typhi lipopolisakarida antigen O9. O9 merupakan
antigen somatic yang dimiliki oleh Salmonella typhi serogroup D memiliki ciri ciri
khusus yaitu mengandung gula -D-tyvelose (Biotech, 2013). Antibodi anti-O9 dapat
terdeteksi oleh kemampuan mereka dalam menghambat interaksi antara dua jenis
partikel pereaksi yaitu mikrosfer indikator lateks yang peka dengan antibodi
monoclonal anti-O9 dan mikrosfer magnetik yang peka terhadap Salmonella typhi
lipopolisakarida. Antibodi yang dideteksi oleh Tubex test adalah immunoglobulin M,
dimana IgM ini merupakan antibodi yang muncul pada infeksi primer dan fase akut
suatu infeksi (Ashish Khanna, et al, 2015).
Kelebihan dari Tubex TF adalah tes ini tidak membutuhkan kapasitas
laboratorium yang luas atau pelatihan khusus, dan dapat dilakukan dengan volume
sampel sedikit yang diambil pada tahap akut penyakit. Hasil dapat diperoleh dengan
cepat dalam waktu kurang lebih 10 menit dan antibodi sudah dapat dideteksi pada
hari ketiga demam. Sedangkan kelemahan dari metode ini adalah penilaian bersifat
subjektif menggunakan indera penglihatan (Islam, et al. 2016).
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Tubex TF adalah IMBI (Inhibition
Magnetic Binding Immunoassay) yang didasarkan atas penghambatan antara antibodi
pasien IgM dan antigen Salmonella typhi O9 lipopolisakarida yang terdapat dalam tes
kit. Hasilnya akan terlihat dari terbentuknya warna dari campuran serum pasien
dalam larutan uji coklat dan biru melalui pemisahan partikel dengan gaya magnetik
(Ashish Khanna, et al, 2015). Berikut merupakan gambar prinsip kerja dari
pemeriksaan Tubex TF :

Uji Tubex TF dilakukan secara semikuantitatif, uji ini dilakukan dengan cara
menambahkan reagen berwarna coklat sebanyak 45 mikron ke dalam 4 lubang sumur
reaksi, kemudian ditambahkan sampel berbeda sebanyak 45 mikron pada sumur 1 dan
2, sedangkan sumur 3 dan 4 ditambahkan dengan 45 mikron kontrol positif dan
negatif. Kedua campuran tersebut dihomogenkan sebanyak 5-10 kali dengan
menggunakan tip berbeda dan hindari terjadinya busa atau gelembung. Setelah
dihomogenkan campuran tersebut diinkubasi selama 2 menit, lalu tambahkan 90
mikron reagen biru ke dalam empat sumur tadi. Langkah selanjutnya adalah menutup
sumur menggunakan sealing tape, tutup dan tekan sumur dengan rapat agar tidak
tumpah saat proses homogenisasi. Posisikan sumur pada sudut 90o dan kocok
campuran tersebut kearah depan dan belakang selama 2 menit. Letakkan sumur diatas
skala warna magnetik dan didiamkan selama 5 menit agar proses penghambatan
ikatan antigen dan antibodi bereaksi secara optimal. Hasil dibaca secara visual setelah
5 menit dan dilihat warna yang terbentuk. Warna yang dihasilkan oleh sampel
dibandingkan dengan skala warna standar, kontrol positif dan kontrol negatif.
Pembacaan hasil harus dilakukan pada kondisi cahaya yang baik dalam waktu 30
menit. Hasil pemeriksaan akan tetap stabil selama berjam jam apabila tidak
diguncangkan kembali (Biotech, 2013).
Pada praktikum ini pemeriksaan Tubex TF menggunakan reagen kit dengan
merck Biotech. Isi dalam satu kit reagen tersebut antara lain :
1. Reagen coklat, mengandung 1.7 ml antigen yang dilapisi partikel protein
buffer dengan pH 8,2.

2. Reagen biru, mengandung 3,5 ml antibodi yang dilapisi partikel protein buffer
dengan dengan pH 8,2.
3. Kontrol positif, mengandung 0,4 ml antibodi IgM anti-O9 dan buffer pH 8,2.
Kontrol positif yang baik harus memiliki skor 8.
4. Kontrol negatif, mengandung 0,4 ml protein dan buffer pH 8,2. Kontrol
negatif harus memiliki skor 2.
5. Sumur reaksi, berfungsi untuk mereaksikan sampel
6. Standar skala warna, berfungsi sebagai pembanding dalam pembacaan hasil.
Standar warna ini memiliki rentang skala 0 10.
7. Sealing tape, berfungsi untuk menutup sumur reaksi saat proses homogenisasi
agar cairan yang didalamnya tidak tumpah.
Sumur reaksi dan sealing tape bersifat sekali pakai, hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya kontaminasi dan hasil positif palsu pada pemeriksaan sampel
lainnya. Tubex kit harus disimpan pada suhu 2 8oC jika tidak digunakan dan tidak
boleh dibekukan. Apabila akan digunakan untuk pemeriksaan, maka kit harus
diletakkan pada suhu ruang yaitu 18 - 28oC. Sebelum digunakan reagen harus
dikocok terlebih dahulu dan perhatikan tanggal kadaluarsa reagen tersebut.
Penggunaan reagen kadaluarsa akan mempengaruhi hasil pemeriksaan dan dapat
memberikan interpretasi hasil yang salah. Reagen ini memiliki sensitivitas analisis
dari 15 20 g/ml antibodi IgM spesifik (Biotech, 2013). Menurut Miguel Marino
(2013), sensitivitas adalah proporsi orang yang benar sakit dalam populasi yang juga
diidentifikasi sebagai orang sakit oleh tes penapisan sedangkan spesifisitas adalah
proporsi orang yang benar benar tidak sakit dan tidak sakit pula saat diidentifikasi
dengan tes penapisan.
Setiap metode pemeriksaan harus memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang
tinggi, sensitivitas tinggi sangat diperlukan karena agar pasien yang benar terinfeksi
mendapat tindakan medis dan pengobatan selanjutnya sehingga penyakitnya tidak
akan berakibat fatal. Sedangkan spesifisitas tinggi itu diperlukan untuk menghindari
terjadinya positif palsu yang menyebabkan pemberian antibiotik yang tidak
diperlukan kepada pasien dan mengakibatkan resistensi pada skala populasi (Kamala
Thriemer, et al, 2013).
Tubex TF harus ditafsirkan dengan semua informasi klinis yang ada pada pasien.
Meskipun Tubex TF spesifik untuk mendeteksi antibodi fase akut yaitu IgM, tetapi

tes ini juga dapat mendeteksi antibodi fase penyembuhan (IgG) dalam tingkat
sensitivitas yang rendah. Tubex TF mungkin tidak dapat mendeteksi kasus apabila
antibodi IgM yang terbentuk sangat rendah, hal ini sering terjadi pada fase awal
infeksi dimana pada fase ini sistem kekebalan tubuh belum cukup dirangsang
(Biotech, 2013).
Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan Tubex TF adalah serum atau dapat
juga menggunakan plasma heparin. Tidak dianjurkan untuk menggunakan plasma
dari EDTA ataupun sitrat karena dapat mengganggu reaksi antara antigen dan
antibodi. Hindari juga menggunkan sampel serum lipemik, ikterik, dan hemolisis.
Sampel pasien yang lisis akan menunjukkan warna merah, bilirubin tinggi
menunjukkan warna hijau kekuningan, warna warna tersebut akan mengganggu
warna yang terbentuk pada supernatant dan hasil pemeriksaan tidak dapat
diinterpretasikan. Sampel serum pasien dapat disimpan pada suhu 2 8oC apabila
tidak segera diperiksa dan dapat disimpan lebih lama lagi pada suhu 18 oC (Biotech,
2013).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil uji Tubex TF pada serum
pasien dengan kode C menunjukkan hasil positif dengan skor 4. Hal tersebut
menunjukkan bahwa didalam serum pasien telah terinfeksi oleh bakteri Salmonella
dan terbentuk antibodi IgM spesifik terhadap Salmonella typhi O9 lipopolisakarida.
Sedangkan sampel A atas nama Rianita Putri menunjukkan hasil yang tidak jelas atau
inconclusive dengan skor 2. Hasil yang tidak jelas dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti antibodi yang terdapat dalam serum memiliki kadar yang rendah karena
berada pada tahap awal infeksi, kualitas sampel yang kurang baik dan pengerjaan
sampel yang tidak sesuai dengan prosedur. Hal tersebut dapat diatasi dengan cara
mengulang pemeriksaan atau menggunakan buffer pencuci. Apabila tetap
menunjukkan hasil inconclusive lakukan pengambilan sampel ulang pada hari lain.
Pada praktikum ini juga dilakukan uji terhadap kontrol positif dan kontrol negatif,
kontrol negatif menunjukkan skor 2 dan kontrol positif menunjukkan skor 10 yang
menandakan bahwa kedua bahan kontrol tersebut masih berfungsi dengan baik.
IgM anti-O9 tidak akan terbentuk pada orang yang memiliki kondisi normal dan
sehat. Apabila hasil Tubex TF mengindikasikan demam tifoid tetapi kultur darah

menunjukkan hasil negatif dapat terjadi karena pasien memiliki infeksi Salmonella
serogroup D yang lain, seperti S. enteriditis yang dapat merangsang respon imun dan
menghasilkan skor positif pada tes Tubex (Biotech, 2013). Kultur darah merupakan
metode standar yang digunakan untuk mendiagnosis demam tifoid. Kultur darah
digunakan sebagai standar acuan dengan asumsi bahwa kultur darah memiliki hasil
yang lebih tinggi pada pasien dengan pengobatan antibiotik sebelumnya. namun
kelemahannya adalah hasil pemeriksaannya baru dapat terlihat setelah 2 7 hari,
prosedur ini mahal dan memerlukan peralatan laboratorium yang banyak, keahlian
teknis khusus dalam pengerjaannya serta kondisi peralatan laboratorium yang
digunakan (Islam, et al. 2016).
Adapun tes serologis selain Tubex, seperti pemeriksaan Widal yang telah
digunakan sejak puluhan tahun untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen
Salmonella sp, pemeriksaannya dapat dilakukan dengan menggunakan darah vena.
Sayangnya metode ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas rendah terutama di zona
endemik dan optimal memerlukan perbandingan sampel yang diambil pada tahap
akut dan sembuh dari penyakit. Sedangkan pemeriksaan yang memiliki tingkat
sensitivitas lebih tinggi dibandingkan dengan kultur darah dan Tubex adalah tes
nukleat amplifikasi asam seperti PCR dan tes berbasis LAMP (Islam, et al. 2016).
X. SIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum pemeriksaan Tubex TF pada serum pasien kode C
diperoleh hasil positif dengan skor 4. Sedangkan pada serum pasien atas nama Rianita
Putri diperoleh hasil yang tidak meyakinkan (inconclusive score).

DAFTAR PUSTAKA
Ashish Khanna, Menka Khanna, and Karamjit Singh Gill. 2015.
Comparative Evaluation of Tubex TF (Inhibition Magnetic
Binding Immunoassay) for Typhoid Fever in Endemic Area.
[online].

Tersedia

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4668408/.
[diakses : 26 September 2016, 17.08 wita]
Biotech.

2013.

Rapid

Typhoid

Detection

Tubex

TF.

[online].

Tersedia : http://www.idlbiotech.com/Products/Diagnostics-forbacteriology/. [diakses : 26 September 2016, 19.21 wita]


Garcia,

Monica.

2014.

Typhoid

Fever

in

Nineteenth-Century

Colombia: Between Medical Geography and Bacteriology.


[Online].

Tersedia

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3866010/.
[Diakses : 26 September 2016, 18.22 Wita]
Hanna K. De Jong, Ahmed Achouiti, Gavin C. K. W. Koh, Christopher
M. Parry, Stephen Baker, Mohammed Abdul Faiz. 2015.
Expression and Function of S100A8/A9 (Calprotectin) in
Human Typhoid Fever and the Murine Salmonella Model.
[Online].

Tersedia

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4393299/.
[Diakses : 26 September 2016, 17.03 Wita]
Islam, Kamrul, et al. 2016. Comparison of the Performance of the
TPTest, Tubex, Typhidot and Widal Immunodiagnostic Assays
and Blood Cultures in Detecting Patients with Typhoid Fever in
Bangladesh, Including Using a Bayesian Latent Class Modeling
Approach.

[online].

Tersedia

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4825986/.
[diakses : 26 September 2016, 17.32 wita]

Kamala Thriemer, Benedikt Ley, Joris Menten, Jan Jacobs, and Jef
Van Den Ende. 2013. A Systematic Review and Meta-Analysis
of the Performance of Two Point of Care Typhoid Fever Tests,
Tubex TF and Typhidot, in Endemic Countries. [online].
Tersedia

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3864786/.
[diakses : 26 September 2016, 18.06 wita]
Marino, Miguel, et al. 2013. Measuring Sleep: Accuracy, Sensitivity, and Specificity
of Wrist Actigraphy Compared to Polysomnography. [online]. Tersedia
: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3792393/. [diakses :
19 September 2016, 20.36 wita]