Anda di halaman 1dari 54

PEDOMAN TEKNIK

PEDOMAN PEMASANGAN MODIFIKASI .JEMBATAN BAILEY DENGAN CARA PERKUATAN KABEL BENTANG TOTAL 64,05 M

No.007/T/BM/1999

Lampiran No.2 Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No. 03/IKPTSIDb/1999 Tanggal15 Februari 1999

m DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM ~ Diterbitkan oleh: PT. Mediatama Saptakarya (PT. Medisa)

YAYASAN BADAN PENERBIT PEKERJAAN UMUM

DAFTARISI

Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No. 03/KPTS/Db/1999 tanggal, 15 Februari 1999

DAFTARISI

...............................................................................

BAB I

DESKRIPSI .

1.1 Ruang Lingkup .

1.2 Pengertian .

1 1 1

BAB II

KETENTUAN - KETENTUAN .

3

2.1 Umum 3

2.1.1. Prinsip 3

2.1.2. Bahan dan Dimensi A

2.1.3. AlatBantu 4

2.1.4. Kalibrasi 4

2.1.5. Pengawasan Pengerjaan 4

2.1.6. Contoh Perhitungan 4

2.1.7. Pengendalian Mutu 4

2.2 Teknik 5

2.2.1. Prinsip 5

2.2.2. Bahan dan Dimensi 5

2.2.3. Alat Bantu 5

2.2.4. Kalibrasi 5

2.2.5. Pengerjaan 5

2.2.6. Perbandingan Perhitungan 5

BAB III

CARA PENGERJAAN ..

3.1 Motase Bangunan Atas Jembatan .

3.2 Pembuatan Pondasi dan Bangunan Bawah .

3.3 Pemasangan Jembatan .

9 9 10 11

Pe()omal1 Tekl1ik No.007 IT IBM/I999

LAMPlRAN A : DAFTARISTILAH 18

LAMPlRAN B: GAMBAR, CONTOH PERHITUNGAN

DAN PHOTO PELAKSANAAN 19

B.1 Gambar Detail J embatan 19

B.2 Contoh Perhitungan Beban Perletakan 35

B.3 Photo Pelaksanaan Jembatan 37

BA Contoh Analisa Biaya 45

LAMPlRAN C : DAFTAR NAMA DAN LEMBAGA

PefJoman Teknik NO.OO7/T/BM/I999

ii

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORA T JENDERAL BINA MARGA

ALAMAT : JALAN PATTIMURA NO. 20 TELP. 7221950 - 7203165 - 7222806

KEBAYORAN BARU - JAKARTA SELATAN KODE POS 12110

FAX 7393938

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BlNA MARGA NOMOR: O~ IKPTS/Db/1999

TENTANG

PENGESAHAN EM PAT PEDOMAN TEKNIK DIREKTORA T JENDERAL BINA MARGA

DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA,

Menimbang:

a. bahwa dalam rangka menunjang pembangunan nasional di bidang kebinamargaan dan kebijaksanaan pemerintah untuk meningkatkan pendayagunaan sumber daya manusia dan sumber daya alam, diperlukan pedoman-pedoman teknik bidang jalan;

b. bahwa pedoman teknik yang termaktub dalam Lampiran Keputusan ini telah disusun berdasarkan konsensus pihak-pihak yang terkait, dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan dan keselamatan umum serta memperkirakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan umum sehingga dapat disahkan sebagai Pedoman Teknik Direktorat

Jenderal Bina Marga;

C. bahwa untuk maksud tersebut, perlu diterbitkan Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga.

Mengingat:

1. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen;

2. Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1984, tentang Susunan Organisasi Departemen;

3. Keputusan Presiden Nomor 278/M Tahun 1997, tentang Pengangkatan Direktur

Jenderal Bina Marga;

4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 211IKPTS!l984 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum;

5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 111IKPTS!l995 tentang Panitia Tetap dan Panitia Kerja serta Tata Kerja Standardisasi Bidang Pekerjaan Umum;

6. Keputusan Menteri Pekerjaan' Umum Nomor 28IKPTS/1995 tentang Pembentukan Panitia Kerja Standardisasi Naskah Rancangan SNllPedoman Teknik Bidang

Pengairan/Jalan/ Permukiman;

Membaca .

Mcmbaca:

Surat Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum Nomor IP.01.01- KLl239 tanggal 30 Desember 1998 tentang Penetapan Rancangan Standar Menjadi Pedoman Teknik Direktorat lenderal.

MEMUTUSKAN: ,

Menetapkan :

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BlNA MARGA TENTANG PENGESAHAN EMPAT PEDOMAN TEKNIK DIREKTORA T JENDERAL DINA MARGA.

Kesatu Mengesahkan empat Pedoman Teknik Direktorat lendcral Bina Marga, sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini yang mcrupakan bagian yang tak terpisahkan dari ketetapan ini.

Kcdua Pcdoman Teknik tcrsebut pada diktum kesatu berlaku bagi unsur aparatur pemerintah bidang kcbinamargaan dan dapat digunakan dalam perjanjian kerja antar pihak-pihak yang bersangkutan dengan bidang konstruksi.

Ketiga Menugaskan kepada Direktur Bina Teknik, Dircktorat lenderal Bina Marga untuk:

a. menyebarluaskan Pedoman Teknik Direktorat lenderal Bina Marga;

b. memberikan bimbingan teknik kepada unsur pemerintah dan unsur masyarakat yang bergerak dalam bidang kebinamargaan;

c. menghimpun masukan sebagai akibat dari penerapan Pedoman Teknik ini untuk penyempurnaannya di kemudian hari.

Kcempat: Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bahwa, jika terdapat kesalahan dalam penetapan ini, scgala sesuatunya akan diperbaiki sebagaimana mestinya.

Tembusan Keputusan ini disampaikan kepada Yth.

1. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan PU, sclaku Kctua Panitia Tetap Standardisasi.

2. Direktur Bina Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga, selaku Ketua Panitia Kerja Standardisasi Bidang Jalan,

3. Kepala Pusat Penclitian dan Pcngembangan Jalan, selaku Sekretaris Panitia Kerja Standardisasi Bidang lalan.

Latnniratl

Kcputusan Direktur Jendcral Bina Marga

Nomor : "3/Kl'TSfDbI1999

Tanggal : IS" Februari 1999

PEDOl\-lAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL DINA MARGA

Nomor JUDUL PEDOMAN TEKNIK NOiHOR PEDOMAN
Urut TEKNIK
(I) (2) (3)
1 Pedoman Pcmasangan Modifikasi Jernbatan 006ff1SMl1999
Bailey dengan Cara Perkuatan Kabel, Bentang
total 88,45 meter.
2 Pedoman Pemasangan Modifikasi Jembatan 007 ITISMl1999
Bailey dengan Cara Perkuatan Kabel, Bentang
total 64,05 meter.
3 Tata Cam Pcrencanaan Pembuatan Jalan di alas OOSfT/DJ;I/1999
Tanah Garnbut dengan Mcnggunakan Pondasi
Galar Kayu
4 Tata Cara Pelaksanaan Pembangunan Jalan di 009/T/BM/1999
atas Tanah Gambut dengan Menggunakan
Pondasi Galar Kayu BABI DESKRIPSI

1.1 Ruang Lingkup

Pedoman ini meliputi :

a. Pendetilan modifikasi jembatan Bailey dengan cara perkuatan kabel untuk bentang total 64,05m dengan lebar satu jalur 3,5m dan daya pikul 70% sampai 100% beban Bina Marga tergantung jenis jembatan Bailey yang digunakan.

b. Modifikasi bangunan atas yang mencakup montase dan pembuatan komponen jembatan.

c. Pembuatan pondasi dan bangunan bawah serta pemasangan bangunan atas jembatan.

d. Pemasangan dan penyetelan kabel prategang.

1.2 Pengertian

a. Modifikasi jembatan Bailey dengan cara perkuatan kabel adalah jembatan kabel sederhana hasil modifikasi jembatan Bailey untuk prasarana lalu lintas.

b. Panel Bailey adalah komponen utama jembatan darurat standar dalam bentuk panel yang dapat dibongkar pasang dan dihubungkan dengan pin menjadi rangka baja.

c. Panel Compact Bailey / Acrow adalah jenis panel Bailey dengan

peningkatan mutu baja.

d. Pin panel adalah baut penghubung antara panel.

e. Paku pengaman adalah paku yang menjaga terlepasnya pin panel.

f. Gelagar baja melintang adalah gel agar arah melintang rangka baja dim ana gelagar memanjang menumpu.

g. Gelagar baja memanjang adalah gel agar arah memanjang rangka baja dimana pelat lantai menumpu.

h. Peluncuran adalah penempatan rangka baja pada kedudukannya dengan cara diluncurkan.

Peboman Teknik No.007/T/BT/I999

1

1. Kantilever adalah bentang yang dipasang maju serta diimbangi oleh bentang pemberat.

J. Batang penguat adalah komponen baja tambahan yang dihubungkan dengan baut dan pin pada batang tepi atas dan tepi bawah panel sebagai perkuatan rangka baja.

k. Pelat pengaku adalah pelat baja tambahan yang di-las pada profil baja sebagai pengaku dan perkuatan penampang.

1. Menara adalah portal baja yang memikul gaya kabel dan meneruskannya pada pilar dan pondasi.

m. Kabel adalah susunan strand baja prategang yang menyebar dari puncak menara sebagai pemikul beban jembatan.

n. Selubung kabel adalah pipa polyethylene untuk me1indungi kabel terhadap korosi.

o. Pipa pengarah adalah pipa yang dipasang di ujung atas dan ujung bawah kabel yang berfungsi sebagai pengarah.

p. Pipa pelindung adalah pipa yang dipasang di bagian bawah kabel yang berfungsi sebagai pengaman.

q. Angkur kabel adalah pemegang dan pengencang ujung kabel dimana satu ujung berfungsi sebagai angkur hidup dan ujung lain sebagai angkur mati.

r. Angkur hidup adalah angkur dimana kabel dikencangkan.

s. Angkur mati adalah angkur yang berfungsi sebagai pemegang kabe1.

t. Dudukan kabel adalah komponen baja tambahan di puncak menara dan di tepi bawah rangka baja dimana angkur kabel menumpu.

u. Baut penahan adalah baut penghubung bangunan atas dan pangkal jembatan yang berfungsi untuk menahan gaya angkat jembatan.

v. Perletakan roker adalah perletakan standar jembatan Bailey.

w. Balok distribusi adalah balok baja yang berfungsi sebagai pembagi beban ke perletakan rangka baja di pilar

x. Batang pengaku panel adalah batang pengaku lateral antara tepi atas panel dan ujung gelagar melintang

y. Ikatan angin adalah batang diagonal baja yang berfungsi untuk menahan gaya angin

Pe~oman Teknik No.007 IT IBT 11999

2

BABII KETENTUAN-KETENTUAN

2.1 Umum

2.1.1 Prinsip

Paket bangunan atas jembatan baja tereliri dari komponen-komponen dengan panjang maksimum 6m yang di-las dan di-montase secara pabrikasi. Pemasangan komponen dilakukan dengan baut dan pin. Pekerjaaan las di lapangan hanya pada detail tertentu seperti dasar menara, puncak menara, dan dudukan kabel eli tepi bawah rangka baja Bailey.

2.1.2 Bahan dan Dimensi

Keperluan bahan dengan dimensi sesuai Gambar Detil J embatan (Lampiran B.l) diuraikan sebagai berikut :

a. Jembatan Bailey untuk rangka baja

Jembatan Bailey lengkap dengan susunan panel tunggal-tunggal untuk bentang 64,05m yang terdiri dari 42 panel berukuran tinggi 1,45m dan panjang 3,05m.

b. Baja untuk pekerjaan modifikasi

Profil, tiang pip a dan pelat baja dengan tegangan leleh minimal 240 MPa;

pin panel, baut penahan, baut jangkar serta baut penghubung dengan tegangan leleh minimal 400 MPa ;

mutu las disesuaikan dengan bahan baja dan elektroda yang eligunakan.

c. Tulangan beton untuk bangunan bawah

Mutu batang tulangan adalah sesuai ketentuan yang berlaku.

d. Strand baja prateg<lllg untuk kabel

Strand yang terdiri dari tujuh kawat dengan tegangan putus minimal 1770 MPa, diameter luar 12,5mm, dan masing-masing strand berselubung polyethylene.

Pe()omal1 Tekl1ik NO.007/T/BT/I999

3

e. Angkur untuk kabel

Angkur hidup tipe tiga strand.

f. Beton untuk bangunan bawah dan pondasi

Mutu beton untuk bangunan bawah, pondasi dan lantai kerja disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

2.1.3 Alat Bantu

a. katrol dan kaki tiga dengan daya angkat 100 kN,

b. sepasang alat penegang kabel Vack) tipe satu strand atau sepasang alat penegang kabel (jack) tipe tiga strand,

c. kunci baut,

d. sepasang dongkrak jembatan dengan kapasitas masing-masing

dongkrak 150 kN,

e. tali tambang,

f. alat las listrik,

g. kura-kura peluncuran,

h. alat pancang untuk pondasi tiang bila diperlukan, 1. alat ukur waterpas dan theodolit.

2.1.4 Kalibrasi

Kalibrasi manometer alat penegang kabel

2.1.5 Pengawasan Pekerjaan

Pabrikasi komponen baja, pelaksanaan bangunan bawah dan pemasangan jembatan hams diawasi oleh tenaga ahli

2.1.6 Contoh Perhitungan

Contoh perhitungan beban perletakan untuk modifikasi jembatan Bailey dengan cara perkuatan kabel diuraikan dalam Lampiran B.2

2.1.7 Pengendalian Mutu

Peiloman Teknik No.007 IT IBT 11999

4

a. bahan baja, baut dan pin

b. pengerjaan dan pengelasan baja

c. pengerjaan beton

d. pemasangan rangka baja Bailey

e. kekencangan baut dan paku pengaman pin

f. penarikan kabel prategang.

2.2 Teknik

2.2.1 Prinsip

Jembatan Bailey dalam susunan tunggal-tunggal mencapai bentang 18,3m yang dengan perkuatan kabel dapat ditingkatkan menjadi bentang 33,55m.

Panel Bailey terdapat dalam berbagai mutu baja sehingga untuk modifikasi jembatan Bailey dengan cara perkuatan kabel digunakan susunan panel dengan atau tanpa batang penguat sesuai daya pikul beban Bina Marga (Tabel 1).

Tabel1. Susunan panel modifikasi jembatan Bailey dengan cara perkuatan kabel untuk bentang total 64,05m (atau 15,25m + 33,55m + 15,25m)

J enis panel Bailey susunan untuk susunan untuk
70% beban Bina 100% beban Bina
Marga Marga
Bailey (tegangan le1eh tunggal-tunggal-r
240MPa)
Compact Bailey atau Acrow tunggal-tunggal tunggal-tunggal-r
(tegangan le1eh 400MPa) Keterangan T abel 1 :

r: batang penguat di tepi atas dan tepi bawah rangka baja tunggal ( Lampiran B.1 - Gambar 2 dan 5)

PeOO»1a11 Tekl1ik NO.007 IT IBT 11999

5

2.2.2 Bahan dan Dimensi

Bahan dan dimensi yang diperlukan untuk pemasangan modifikasi jembatan Bailey dengan cara perkuatan kabel diuraikan dalam Gambar Detail Jembatan (Lampiran B.1). Kondisi panel Bailey lama harus minimal 60% terhadap keadaan panel baru.

2.2.3 Alat Bantu

Ruang bebas untuk alat penegang kabel harus disediakan di sekitar dudukan kabel sesuai Gambar DetilJembatan (Lampiran B.1: Gambar 11, Lampiran B.3: photo 8)

2.2.4 Kalibrasi

Gaya penarikan kabel harus mengacu pada T abel 2 dan disesuaikan dengan kalibrasi manometer alat penegang kabel.

2.2.5 Pengerjaan

Setiap pengerjaan yang menyimpang dari Gambar Detil Jembatan (Lampiran B.1) dan perhitungan rencana (Lampiran B.2) harus mendapat persetujuan dari tenaga ahli.

Pembuatan pondasi harus mengacu pada hasil pemeriksaaan stratigrafi tanah dan kedalamam tanah keras di lokasi jembatan (SK SNI M-12- 1991-03).

2.2.6 Perbandingan Perhitungan

Perbandingan perhitungan sesuai penggunaan jenis panel Bailey dijelaskan dalam T abel 2.

Beban yang diperhitungkan adalah gabungan gaya kabel, beban mati dan beban hidup pada keadaan batas layan (SLS) dalam arah memanjang jembatan.

Gaya kabel pada pembebanan minimal dan maksimal mempunyai

Peiloman Tek:nik NO.OO7 IT IBT 11999

6

batas ijin sebesar 45% terhadap kuat tarik ultimit kabel. Gaya kabel total meningkat pada penurunan pondasi menara yang harus dibatasi sebesar 60 mm.

Beban gempa statis ekuivalen 0.15g dalam arah melintang jembatan diperhitungkan pada keadaan batas ultimit (ULS) untuk menara.

Tabel2. Perbandingan perhitungan sesuai jenis panel Bailey

Bentang tota164,05 m (atau 15,25m+33,55m+ 15,25m)

f~:~ib'~""

ROKER ROL ' ROL' ROKER

JANCKAR PILAR -r,ol- PILAR JANCKAR

1 15.25 _I 15.25 1 1_ 15.25 1 15.25 1

I 6'.05 I

jenis Panel Bailey Bailey Compact Compact
Bailey atau Bailey atau
Acrow Acrow
1. Beban Bina Marga BM70 BM70 BM 100
2. Susunan panel 1 - 1 - r 1 - 1 1 -1 - r
3. Tegangan leleh baja 240MPa 400 MPa 400MPa
4. T egangan maksimal 135-120MPa 211-162 MPa 187-178 MPa
{tarik - tekan SLS} < 140MPa < 240MPa < 240 MPa
5. Lendutan maksimal 52 < 84mm 79 < 84mm 72 < 84mm
6. Kabel Gurnlah 2 x 8
dengan 2 strand}: 65 kNl kabel 65 kN I kabel 65 kN Ikabel
- Gaya penarikan 67 kNl kabel 67 kN I kabel 67 kN Ikabel
- Gaya minimal 99 kNI kabel 114 kN I kabel 113 kN kabel
- Gaya maksimal 130 kN/kabel 145 kN I kabel 143kN/kabel
- Gaya total pada < 157kN SLS < 157kN SLS < 157kN SLS
penurunan pondasi
maksimal 60mm
Pe~man Teknik No.OO7/T/BT/I999
7 7. Menara: 400mm 400mm 400mm
- diameter pipa 10mm 10mm 10mm
- tebal pipa 11m 11m 11m
- tinggi kolom
- SLS memanjang : 19 < 27,5mm ,29·27,5 mm 26 <
peralihan mendatar 41 MPa 55MPa 27,5mm
tegangan tekan baja 51 MPa
- ULS melintang : 30mm 30mm 30mm
peralihan mendatar 110MPa 110 MPa 110 Mpa
tegangan tekan baja Pe/)oman Teknik NO.007/T/BT/I999

8

BAB III

CARA PENGERJAAN

3.1 Montase Bangunan Atas Jembatan

Persiapkan pelat penghubung dan baut sesuai Gambar Detil Jembatan (Lampiran B.1) dengan toleransi ketelitian 1 mm untuk diameter baut. Persiapkan hubungan las sesuai Gambar Detil J embatan (Lampiran B.1) dengan teballas maksimal sebesar (t+ 1)/2 untuk tebal pelat lebih kecil dari 10mm dan teballas maksimal sebesar (t+2)/2 untuk tebal pelat lebih besar dari 10mm.

T ahapan untuk montase bangunan atas jembatan adalah sebagai berikut:

T ahap 1. Pra-montase menara

Buat struktur menara dalam kedudukan mendatar secara lengkap meliputi Detil D sampai H (Lampiran B.1: Gambar 6, Lampiran B.3: photo 1).

Detil D (Lampiran B.1: Gambar 7, Lampiran B.3: photo 3)

Potong sebagian penampang puncak kolom menara sesuai lebar dan tinggi gelagar pengikat atas (profil I 682x2S0).

Perkuat puncak kolom menara sampai ketinggian gelagar pengikat atas dengan pelat dan cincin pengaku serta pelat penutup. Perkuat gelagar pengikat atas dengan pelat pengaku dan pelat penghubung ujung gelagar.

Buat dudukan angkur mati dan pipa pengarah kabel secara tegak lurus pada arah kemiringan kabel.

- Persiapkan bagian penampang kolom menara yang dipotong untuk pengelasan kembali di lapangan.

Detil E (Lampiran B.1:, Gambar 8, Lampiran B.3: photo 2)

Buat kolom menara dari pipa baja berdiameter 400 mm dengan panjang utuh 11m atau secara sambungan antara kolom dasar 6m dan kolom puncak Sm. Cara penyambungan yang lain memerlukan

Pei)omal1 Tekl1ik No.007 IT IBT 11999

9

perhitungan khusus.

Detil F (Lampiran B.1: Gambar 5 dan 9, Lampiran B.3: photo 1)

- Perkuat dasar kolom menara sampai ketinggian gelagar pengikat bawah dengan pelat dan cincin pengaku, serta pelat dasar yang dilengkapi dengan lubang baut jangkar dan drainase.

- Buat gelagar pengikat bawah dari profil I 300x300 dengan pelat pengaku dan dudukan perletakan rol rangka baja.

Detil G dan H (Lampiran B.1: Gambar 7 dan 10)

- Buat batang pengaku dari profil UNP 150 dengan pelat simpul dan pelat penghubung ke kolom menara.

T ahap 2. Modifikasi rangka baja Bailey

(Lampiran B.1: Gambar 3,4 dan 5, Lampiran B.3: photo 8 dan 10)

- Buat dudukan angkur hidup dan pipa pengarah kabel secara tegak lurus pada arah kemiringan kabel.

Buat profil pengikat dudukan yang akan dibaut atau di-las ke gelagar melintang rangka baja Bailey.

Buat batang penguat dari profil UNP 100 dengan pelat penghubung dan hubungan pin seperti batang tepi atas dan bawah rangka baja Bailey.

Buat balok distribusi dari dua profil UNP 250 dengan pelat pengaku, pelat penghubung dan dudukan perietakan rol rangka baja Bailey di menara. Perletakan rol murni dibuat minimal di satu menara untuk memudahkan penyetelan rangka baja Bailey pada tahap penyambungan jembatan (Bagan 5).

3.2 Pembuatan Pondasi dan Bangunan Bawah

T ahapan untuk pembuatan pondasi dan bangunan bawah adalah sebagai berikut :

Tahap 1. Pengukuran lapangan (Lampiran B.1: Gambar 2)

- Pasang patok dan papan pada jarak dan ketinggian dasar perletakan

Pe~O»1al1 Teknik NO.007 IT IBT 11999

10

di lokasi pangkal dan pilar sesuai Tabe13.

Tabel J. Jarak dan Ketinggian Dasar Perletakan

bentang 64,05m pangkal pilar kiri pilar kanan pangkal
kiri kanan
jarak (m) 0 15,25 48,8 64,05
ketinzzian (m) 0 -1,355 -1,355 0 Tahap 2. Pondasi dan Bangunan bawah

(Lampiran B.1 - Gambar 2,6, 9, 11, 12 dan 13, Lampiran B.3 - photo 4,5 dan 8)

- Buat pondasi dan bangunan bawah pada lokasi yang telah ditetapkan

- Buat pangkal jembatan dengan balok perletakan dimana baut jangkar dan baut penahan ditanam sesuai ukuran pelat dasar dan pelat penahan. Persiapkan bagian ujung balok dan dinding penutup untuk pengecoran setelah penarikan kabel.

- Buat pilar jembatan dengan balok perletakan dimana baut jangkar ditanam sesuai ukuran pelat dasar kolom menara.

3.3 Pemasangan Jembatan

Tahapan untuk pemasangan jembatan adalah sebagai berikut :

T ahap 1. Menara

(Lampiran B.1: Gambar 6, Lampiran B.3: photo 5, 6 dan 7)

- Pasang kolom menara mulai dari kolom dasar pada baut jangkar yang telah ada di pilar. Kencangkan sambungan baut dengan kolom puncak.

- Pasang gel agar pengikat bawah dan atas serta batang pengaku pada portal menara menggunakan baut, serta tutup puncak kolom sehingga rapat air dengan las setempat.

Pe/)omal1 Tekl1ik No.007 IT IBT 1I999

11

Tahap 2. Rangka baja Bailey

(Lampiran B.1:Gambar 5 dan 13, Lampiran B.3: photo 7 dan 8)

- Pasang panel Bailey dan gelagar melintang dengan cara peluncuran atau di atas penyangga, dan berikan perletakan sementara di pangkal dan pilar serta penyangga sementara di ujung kantilever (Bagan 1).

PANGKAL MENARA

~ PIlAR

.PGRUnX%)!(L

UJUNG KANTILEVER

MENARA PANGKAL

PILAR ~

J)!()R)!()!()!()!()!()!(%a

t~!:)R)!()!()!()!(~~~)!()!(%%)!()!()!(~ ~)!()!()!()!()!()!()!()!(~~~)!()!()!()!()!(!~

JANGKAR' PENYANGGA JANGKAR

15.251.1 15.251.1 15.251.1 15.251.1

Bagan 1. Pemasangan rangka baja Bailey

- Pasang portal ujung rangka baja Bailey beserta perletakan roker-nya dan kencangkan baut penahan pada pangkal jembatan.

- Pasang batang penguat pada tepi bawah dan tepi atas panel, serta balok distribusi dan perletakan rol pada tepi bawah rangka baja Bailey di pilar.

Tahap 3. Dudukan angkur hidup kabel di rangka baja Bailey (Lampiran B.1 - Gambar 3 dan 4, Lampiran B.3 - photo 8)

- Pasang dudukan angkur hidup kabel dengan las pada tepi bawah rangka baja Bailey yang telah ada.

- Kencangkan dudukan angkur hidup dengan baut atau las pada profil pengikat dan gelagar melintang rangka baja Bailey.

Tahap 4. Lantai, ikatan angin dan batang pengaku jembatan (Lampiran B.1: Gambar 1 dan 6, Lampiran B.3: photo 9)

- Pasang gelagar memanjang, ikatan angin dan batang pengaku panel

Pe~omal1 Tekl1ik No.007/T/BT/I999

12

pada rangka baja Bailey. Pasang lantai dan kereb dari pelat baja dengan las setempat pada gel agar memanjang.

T ahap S. Kabel

(Larnpiran B.1: Garnbar 2, Lampiran B.3: photo 9)

- Pasang kabel ke dalarn dudukan kabel di rangka baja Bailey dan di menara yang telah ada. Pasang kabel berikut selubung dan pipa pelindung serta tegangkan kabel secara kencang tangan ke dalam angkur hidup di tepi bawah rangka baja Bailey dan angkur mati di puncak menara, kemudian bongkar penyangga di ujung kantilever. Pipa pelindung kabel berada sampai 2m di atas rangka baja Bailey.

Tahap 6. Penarikan kabel

(Larnpiran B.1: Gambar 13, Lampiran B.3: photo 10 dan 11).

- Persiapkan penarikan kabel dengan mematikan sementara perletakan rol di pilar serta pertahankan baut penahan perletakan di pangkal (Bagan 2).

Tarik kabel sesuai gaya penarikan rencana 6SkN/kabei (Tabel 2) secara bertahap.

T arik susunan kabel mulai dari sebelah dalam sampai sebesar 30kN tiap kabel secara simetrik terhadap arah memanjang dan berurutan terhadap arah melintang jembatan dengan sepasang alat penegang kabel dan kemudian tarik susunan kabel sebelah luar dengan cara sarna sampai sebesar 30kN tiap kabel. Tiap kabel terdiri dari 2 strand yang ditarik sekaligus sampai sebesar 30kN atau masingmasing strand ditarik sampai sebesar lSkN (Bagan 3).

Tingkatkan penarikan susunan kabel mulai dari sebelah dalarn sampai sebesar 6skN tiap kabel secara simetrik terhadap arah memanjang dan berurutan terhadap arah melintang jembatan dengan sepasang alat penegang kabel dan kemudian tarik susunan kabel sebelah luar dengan cara sarna sampai sebesar 6skN tiap kabel. Tiap kabel terdiri dari 2 strand yang ditarik sekaligus sarnpai sebesar 6skN atau ,masing-masing strand ditarik sampai sebesar 32,SkN (Bagan 4). Periksa lendutan jembatan dan peralihan mendatar menara sesuai T abel 4 dengan toleransi ketelitian lS%.

Peooman TekJ1ik No.007/T/BT/I999

13

~rn~GT~~ ..

PANGKAL PANGKAL

~n) KU ~1-

ROKER JEPIT JEPrr ROKER

JANGKAR PILAR PILAR JANGKAR

Bagan 2. Persiapan penarikan kabel

KETERANGAN Jl = KIRI J2 - KANAN

ROKER· JANGKAR

Bagan 3. Penarikan kabel sampai 30kN merata

Pe~omal1 Tehtik NO.OO7 IT IBT 11999

14

ROKER JANGJ<AR

JEPIT PILAR

ROKER.

JANGJ<AR

Bagan 4. Penarikan kabel sampai 65 kN merata

Tabel4. Lendutan jembatan dan peralihan mendatar menara tahap penarikan kabel selesai

susunan panel lawan lendut ujung peralihan mendatar
Bailey kantilever jembatan puncak menara ke arah
bentang utama
1-1-r 28mm 2,4mm
1-1 62mm 5mm Tahap 7. Penyambungan jembatan

- Fungsikan kembali perletakan rol di menara dan sambung jembatan di tengah bentang dengan panel dan batang penguat penutup menjadi bentang menerus 64,05m (Bagan 5). Periksa lendutan

Pe/)omaJ1 TekJ1ik NO.007 IT IBT 11999

15

jembatan dan peralihan mendatar menara sesuai T abel 5 dengan toleransi ketelitian 15%.

- Selesaikan tembok sayap, dinding penutup dan balok perletakan serta sambungan dilatasi di pangkal jembatan.

P'"GKAl~:ELH: ~ PANGKAt

f %DC

ROKER ROL ROL ROKER

JANGKAR PILAR -r.01- PILAR JANGKAR

15.25 15.25 I I 15.25 15.25 I

~~~--~--~~~ ~~~--~--~=-~.

64.05

Bagan 5. Penyambungan jembatan di tengah bentang utama

Tabel5. Lendutan jembatan dan peralihan mendatar menara tahap penyambungan jembatan selesai

susunan panel lendutan di tengah peralihan mendatar
Bailey bentang utama puncak menara ke
jembatan arah bentang utama
1-1-r 4,3mm 2,3mm
1-1 6,2mm 4,9mm Tahap 8. Paku pengaman

- Pasang paku pengaman pada semua hubungan pin.

T ahap 9. Perlindungan angkur prategang

- Potong kelebihan panjang kabel di angkur mati dan kemudian berikan gemuk (pelumas) dan tutup angkur. Kelebihan panjang kabel di angkur hidup dapat dipertahankan untuk kemudahan bongkar pasang jembatan di kemudian hari.

Peooman Teknik No.oo7 IT IBT 11999

16

T ahap 10. Lapis aus lantai kendaraan

Labur aspal dan tabur pasir pada permukaan pelat lantai atau berikan lapis tipis aspal pasir (latasir) dengan tebal maksimum 3 em (Pd. 5-14-1996-03).

Peooman Tek.nik No.007/T/BT/I999

17

panel Bailey gelagar melintang gelagar memanjang pin panel

paku pengaman batang penguat pelat pengaku

batang pengaku panel peluncuran kantilever

strand

kawat

selubung

angkur hidup

angkur mati

alat penegang kabel perletakan roker lapis tipis aspal pasir ikatan angin montase

baut penahan

LAMPIRAN A DAFTAR ISTILAH

Bailey panel/Compact Bailey panel / A crow panel transom

stringer

panel pin

safety clip

reinforcing chord

rib

raker

launching

cantilever

strand

wzre sleeve

moveable anchor fixed anchor prestressing jack rocker bearing sand sheet swaybrace montage

holding down bolt

18

Peooman Teknik No.007/T/BT/I999

LAMPlRANB

GAMBAR, CONTOH PERHITUNGAN DAN PHOTO PELAKSANAAN

B.t Gambar DetilJembatan

Gambar 1. Panel Bailey

Gambar 2. T ampak Samping

Gambar 3. Detil A (Dudukan angkur kabel sebelah luar di rangka baja)

Gambar 4. Detil B (Dudukan angkur kabe1 sebe1ah dalam di rangka baja)

Gambar 5. Detil C (Perletakan rol dan balok distribusi di menara)

Gambar 6. Konstruksi Menara

Gambar 7. Detil D (Kolom puncak menara)

Gambar 8. Detil E (Sambungan kolom menara)

Gambar 9. Detil F (Kolom dasar menara)

Gambar to. Detil G dan H (Batang pengaku menara)

Gambar 11. Detil Pangkal J embatan

Gambar 12. Detil Pondasi Menara

Gambar 13. Baut Penilian di Pangkal Jembatan

PeOOman Teknik NO.OO7/T/BM/I999

19

Gambar 1. Panel Bailey

keterangan : . raker = batang pengaku panel

· transom = gel agar melintang

· swaybrace = ikatan angin

· sumbu Z = arah memanjang atau melintang jembatan

· sumbu Y = arah vertikal jembatan

Peoomal1 Tekl1ik NO.007/T/BT/I999

20

,.

DOSS

v-,

\ "

\ " \ "

\ ". ~I

\ ),~r

. ,

\ '.

\. u, 1-" \ .

/\~

\~

\.

o z Q_ ~ -c (f)

::x::

[~

~

N CD o

o

!~:5

g ~

N Vl

o

ll6a=lH

aL06=~H

o o <0

o o 10

-, r-

~I

ooair

·1

OOSL

Pe~omal1 Tekl1ik NO.OO7/T/BT/I999

21

<{
_J
~ ~~;
w
0
.
n
m
c..? Pe()oman Teknik NO.007/T/BT/I999

'"

2fI~ll ANCKEI! MATI

::r....:-~- ..

_.,., ..

-

,. d"/11

1.1.1

POAI! ANCKEI! HIPUP

. MAla

..

PeoomaJ1 Tekttik NO.007/T/BT/I999

.. ..

~J PENGUNCI

, .

.--.---
_ .. -
i t-ArA-
! V"- Ir-
;
, ,. ,;~ ~MPER/PELAT PASAR

. fa

~TIQN-A 13

Peooman Tefmik No.007/T/BT/I999

24

0 ",--...
0
~ n, u «
z et::
::>
x _J «
0 < z
II) «
N ::>
(!) I- W
x i5 W 2
co a,
N (!) 0
N
.g ~ «
a, ~ L.() o,
5 z
z CD ~
w (_')
n, <::»
~
w
c,
IO?~ I
~oor-1
~r;r

0I'XXl Pe~omal1 Tekl1ik NO.007/T IBT 11999

~I 1

¢40B

0
0
0
LI'l
0405 § 1
¢40B
~ 0
0
¢408 LI'l
GEL. MELINTANG LI'l
DIPOTONG LANTAI KENDARAAN j
PELAT TEBAL 8MM1 0
~ ~[g. , 0
I 0
U)
,

N[ ~ ~r-
,.., 0 ~
g[ ~r f
~[ I

BAUT JANGKAR B¢32
GB.6. KONSTRUKSI MENARA
SKALA :
8
r 0 1000 2000
8
~[ OJ
=t
L1QQ.J
DETAIL FF ( KERB )
SKALA :
0 100 200 26

Pe(')omal1 Tekl1ik NO.OO7/T/BT/I999

PELAT CINCIN t= 15 r---500-r 50

.....

r-60B----, 150 150 150 100 408 100

r---r- --r-t20 20 20 20

..... -ft- "1t- -""-

,-250, 1 1

.....

~~~.

"I?/

I~~

GARIS NETRAL POT. 01-01

,--90 ---,

TAMPAK

PELAT CINCIN (BARU)

POT. 02-02

GB.7. DETAIL D

SKALA :

~O

Pe()oman Teknik NO.DD7/T IBT 11999

27

408

~~ 100 I

BAUT 8¢30

PIPA BAJA HOB

TAMPAK DEPAN

I

I

I

~~----1-----~~ I

I

1'00 1 40B 1,00 I

TAMPAK ATAS

GB.8.

DETAIL E

SKALA :

~

o 100 200

Pe()omal1 Tekl1ik NO.007 IT IBT 11999

550

~ 708

150 +-1 _4=~.:;;..B _~11.;:;.50~1·

TAMPAK DEPAN

SAUT JANGKAR ~32

DISTEL DALAM POER BETON .

LUBANG' DRAINASE

III 25

POT F2 - F2

i1251 :~: p 25r

POT. F1 - F1

GB.9. DETAIL F

Pe()omal1 Teknik No.007 IT IBT 11999

BAUT 44125

i i

i

i

i

i

i

i

i

i _

, _/

----~---

i

i

i

i

i

i

i

DETAIL H

t = 15

TIANG PIPA BAJA HOB

GAM BAR

10

SKALA :

DETAIL

G

~

a 100 200

Peilomal1 Tekl1ik NO.007 IT IBT 1I999

a a a I')

~~00r-

4800

I. 1100 1

I' 700 1400 f_j 400 Li 450 r- 650

--, ~ 1 ·1

_f5q_

;;;=;;;=;
~ '0112-150
~9-300
Io-l
Ir--1 ..:.. .~12
--;i I-~

L- f-91

-I OleOR SETELAH PENARIKAN KABEL

-l 500 I-

1-------1 : o--! -+r-:::;--~-;::::--""i-lf----t!: 1

I I I I I I I

I I I I 1. !

... -------.1 "'-------" 1-- "_---1

I.

I. 600 1 1 000.' 600 , 1 000 ,. 600 I 4800

.1

GB.11. DETAIL PANGKAL JEMBATAN

SKALA :

o 500 1000MM

MUTU BETON : SUMURAN DAN LANTAI KERJA K.17.S TIANG PANCANG K.20

PANGKAL - PILAR K.20

MUTU TULANGAN : 8JTP 24 ( MIN )

Pebomal1 Tekl1ik No.007/T/BT/r999

B¢16

9112-150

-200 ~24-140 24

9-150 ~24-140

~9-300

31

_14001_

4800

r

,

OleOR SETELAH PENAAIKAN KABEL

I 1100 I

1_2QQ_1400 1_ LI4501

_14001_ ,-650,

_i25Q_

~I

419-150 II.--f:=t=:yf;f-I! 24 - 140

419-:'00

_15001_ _I 5001_ I_2QQ_J
~§1
_I If
0
'"
0 ... , , " 9--;00
~ ~1 I , I ,
, ,
, , ,
, ,
, , , , " ,
, I , I ,
, , , , GB.11. DETAIL PANGKAL JEMBATAN

SKALA :

j .-.

o 500 1000MM

rnutu beton : ro' 20 MPa

mutu tulangan : tegangan lelch minimal 240 MPa

o

s

,.,

32

Pe~oman Teknik No.007/T/BT/I999

0 0
0
~ ..r 0 It)
J I L() ...,. 0
N ~ ~ 0 0
~ I I N 0
- 'El (1) ...,. I I')
'El
'S N 10 I
~iJ ~ (1)
'El 'El
J.--.<

L()
-e-
~
I
...,.
~'-~
o o o N

OOB

OOS~

::I!
0 :::I:
0
0 0 0
0 N ~~~
I') I
I 10
(1)
6 'S
OOOZ

«
" 0:::
«
Z
W
~
(f)
«
0
z
0
n,
_j
~
W
0
N
~
OJ
<..') o

._._._. .-.-.-.-.-.-.-.~

~------------~ -

o

,-,-,-,-,-,-,-,-,-,-,-,15

o It)

I-------------_J -'-- ~

o 0

o 0 It) 0 I') 10

,''''---~---'''' <,

" I "

/ i \

I . \

.' I \

t-._._._._._._._.

\ I I

\ ,/

'<. i ,,/

- ..... i __ " ....

"';0 It) N

,---,--- .......

-: i -.

," i \

I . \

, I \

t-._._._._._._._.

\ I ;

\ /

\ . ,

-, I "

" .......... __ i __ -,,"

Pe/)omal1 Tekl1ik No.007/T/BT/I999

33

JANGKAR TOTAL / PANGKAL JEMBATAN 8 BUAH ~ 20 PANJANG 500 MM

4 BUAH ~ 32 PANJANG 900 MM

BAUT PENGHUBUNG 16 BH ~15

2 PELAT PENGHUBUNG TEBAL 24 MM

2 PLAT DASAR PERLETAKAN TEBAL 24 MM

PD NO.007rrJBT/1999

450

250

400

L SO.50.5 I

rt---t-t----t--BAUT PENAIWI

u_=T---------t~(~~=~~~t1t~~

-------------t---;-~G _ ss. PANG::::)

GB.13. BAUT PENAHAN 01 PANGKAL JEMBATAN

SKALA:

o 100 200MM

34

Pei)omal1 Tekl1ik No.OO7/T/BT/I999

R2 Contoh Perhitungan Behan Perletakan

Reaksi perletakan bangunan atas yang dalam perhitungan hams ditambah dengan berat bangunan bawah dan pondasi sesuai dimensi gambar (Lampiran B.l) memberikan daya dukung pondasi untuk keadaan batas layan (SLS) dan ultimit (ULS) dalam Tabel 6 dan 7. Pangkal jembatan bersama pondasi dihitung sebagai pemberat dalam menahan 120% gaya angkat yaitu 1,2 kali nilai Tabel6 dan 7 untuk reaksi vertikal negatif .

Faktor beban ultimit adalah 1,1 untuk baja; 1,3 untuk beton; 1,25 untuk tekanan tanah aktif 1 untuk gempa; dan 2 untuk beban hidup.

T abel 6. Reaksi perletakan dan contoh daya dukung pondasi (70% beban BM)

Perletakan Reaksi beban mati dan hidup Daya dukung pondasi
ULS SLS sumuran tiang
ULS-SLS ULS-SLS
Dasar menara Rz = 350 kN Rz = 175 kN
(memanjang) n, =1578 kN Ry=1022 kN 0,7-0,5MPa 570-380kN
RM =85 kNm RM =47kNm
Dasar menara Rz = 56 kN
(melintang, Ry = 405 kN 0,45 MPa 280kN
gempa 0,15g) RM=608kNm ULS ULS
Pangkal Rz =-786 kN Rz =-477kN
(memanjang) n, =-318 kN Ry=- 209 kN 0,7-0,5 MPa 275-185kN
Ry = 425 kN Ry = 229 kN Peooman Teknik No.007/T/BT/I999

35

Tabel 7. Reaksi perletakan dan contoh daya dukung pondasi (100% beban BM)

Perletakan Reaksi beban mati dan hidup Daya dukung pondasi
ULS SLS sumuran tiang
ULS-SLS ULS-SLS
Dasar menara Rz = 350kN Rz = 175 kN
(memanjang) Ry =2045kN Ry=1255 kN 0,9-0,6MPa 690-450kN
RM=121kNm RM =63kNm
Dasar menara Rz = 56 kN
(melintang, Ry = 405 kN 0,45 MPa ULS 280kN
gempa 0.15g) RM=608kNm ULS
Pangkal Rz =-894kN Rz =-519 kN
(memanjang) n, =-408 kN n, =-254 kN 0,9-0,6MPa 340-220 kN
Ry = 598 kN Ry =312 kN Keterangan T abel 6 dan 7 :

Rz = reaksi horizontal, bertanda negatif untuk gaya tarik ke arah dalam Ry = reaksi vertikal, bertanda negatif untuk gaya angkat (harus dikali 1.2) RM = reaksi momen

Beban mati pada modifikasi jembatan Bailey dengan cara perkuatan kabel untuk bentang total 64,05m terdiri dari :

panel Bailey susunan 1-1 (berat panel 1,78 kN/m) lengkap dengan gelagar dan lantai : 8,03 kN/m

panel Bailey susunan 1-1-r (berat panel 3 kN/m) lengkap dengan gel agar dan lantai : 9,44 kN/m

perlengkapan modifikasi rangka baja Bailey dengan cara perkuatan kabel prate gang (diameter12,5mm, panjang kabel total 475m) : 1,5 kN/m

satu menara dengan gelagar pengikat dan pengaku: 55 kN

Pwomal1 Teknik NO.007/T/BT/I999

36

B.3 Photo Pelaksanaan Jembatan

Photo 1 : Pra-montase Menara dalam Kedudukan Mendatar

Peoomal1 Tekl1ik No.OO7 IT IBM/1999

Photo 2 : Sambungan Kolom Menara

Peooman Teknik NO.007 IT IBM/I999

Photo 3 : Gelagar Pengikat Atas, Puncak Menara serta Dudukan Jangkar Kabel

Peruman Teknik No.OO7/T/BM/I999

Photo 4 : Pangkal Jembatan dengan Jangkar Tertanam

PWoman Tek.nik NO.OO7/T IBM/I999

Photo 5 : Pilar Jembatan dengan Jangkar Tertanam untuk Kolom Menara

PeOOman Tek.nik No.OO7/T/BM/1999

Photo 6 : Pemasangan Menara pada Pilar

PeOOman Teknik No.OO7 IT IBM/I999

P!1U~) 7 : Pcmasangan Rangka Baja di alas Pcnyangg.i

Photo 8 : Pemasangan Dudukan Jangkar

Peooman Teknik No.OO7/T/BMlI999

10 pelat lantai tebal8mm* 9650 kg
11 baja siku 50.50.5* 45 kg
12 kabel prategang dan angkur* 750m
III Pemasangan di lapangan :
1 Rangka Bailey susunan 1-1 41740kg
atau 1-1-r 50760kg
2 Menara 9000kg
Total Keterangan : * biaya fabrikasi mencakup pemasangan di lapangan

PeOomal1 Teknik NO.OO7/T/BM/I999

46

RALAT

~
co
.~ '"
.= ::
.. :.> 1<
§ -'" .c
., 5
'" c
~a ::..
=..J .5
... .!:i
::.. !-
;::i' M