Anda di halaman 1dari 23

Hecting – Penjahitan Luka

DEFINISI
Penjahitan luka adalah suatu tindakan untuk mendekatkan tepi luka dengan
benang sampai sembuh dan cukup untuk menahan beban fisiologis.

INDIKASI
Setiap luka dimana untuk penyembuhannya perlu mendekatkan tepi luka.

LUKA

3.1. Definisi
Luka adalah semua kerusakan kontinnuitas jaringan akibat trauma mekanis.

Trauma tajam menyebabkan :


a. luka iris : vulnus scissum/incicivum
b. luka tusuk : vulnus ictum
c. luka gigitan : vulnus morsum

Trauma tumpul menyebabkan :


a. luka terbuka : vulnus apertum
b. luka tertutup : vulnus occlusum ( excoriasi dan hematom )

Luka tembakan menyebabkan : vulnus sclopetorum.

3.2. Klasiflkasi luka berdasar ada tidaknya kuman :


a. luka steril : luka dibuat waktu operasi
b. luka kontaminasi : luka mengandung kuman tapi kurang dari 8 jam .
(golden period)
c. luka infeksi luka yang mengandung kuman dan telah berkembangbiak dan telah
timbul gejala lokal maupun gejala umum.(rubor, dolor, calor, tumor, fungsio
lesa).

Patofisiologi Luka
FKS 1, Best of The Best

Home

• Home

Definisi
Didefinisikan sebagai kerusakan pada bagian tubuh yang disebabkan
oleh kekuatan mekanis. Beberapa pasal memiliki definisi tersendiri
tentang luka, berdasarkan kerusakan yang terjadi. Hal ini termasuk
kerusakan pada organ-organ dalam. Pasal lain juga menyebutkan
tentang derajat luka, tidak berdasarkan bentuknya namun berdasarkan
akibatnya yang dapat membahayakan nyawa korban.

Mekanisme luka
Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan baik dari elastisitas jaringan
atau kekuatan rangka. Intensitas tekanan mengikuti hukum fisika.
Hukum fisika yang terkenal dimana kekuatan = ½ masa x kecepatan.
Sebagai contoh, 1 kg batu bata ditekankan ke kepala tidak akan
menyebabkan luka, namun batu bata yang sama dilemparkan ke
kepala dengan kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan.

Faktor lain yang penting adalah daerah yang mendapatkan kekuatan.


kekuatan dari masa dan kecepatan yang sama yang terjadi pada
dareah yang lebih kecil menyebabkan pukulan yang lebih besar pada
jaringan. Pada luka tusuk, semua energi kinetik terkonsentrasi pada
ujung pisau sehingga terjadi perlukaaan, sementara dengan energi
yang sama pada pukulan oleh karena tongkat pemukul kriket mungkin
bahkan tidak menimbulkan memar.

Efek dari kekuatan mekanis yang berlebih pada jaringan tubuh dan
menyebabkan penekanan, penarikan, perputaran, luka iris. Kerusakan
yang terjadi tergantung tidak hanya pada jenis penyebab mekanisnya
tetapi juga target jaringannya. Contohnya, kekerasan penekanan pada
ledakan mungkin hanya sedikit perlukaan pada otot namun dapat
menyebabkan ruptur paru atau intestinal, sementara pada torsi
mungkin tidaka memberikan efek pada jaringan adiposa namun
menyebabkan fraktur spiral pada femur.

Klasifikasi luka

1. Abrasi
2. Kontusi
3. Laserasi
4. Luka insisi

Anatomi forensik kulit

Bagian paling atas adalah lapisan sel keratinisasi stratum korneum


yang ketebalannya bermacam-macam pada bagian-bagian tubuh
tertentu. Pada tumit dan telapak tangan adalah yang paling tebal
sementara pada daerah yang terlindungi seperti skrotum dan kelopak
mata hanya pecahan dari millimeter. Berkaitan dengan forensik pada
perkiraan perlukaan penetrasi pada kulit.
Kemudian epidermis yang tidak terdapat pembuluh darah. Lapisan
epidermis umumnya berkerut, permukaan bawahnya terdiri dari papilla
yang masuk ke dalam dermis. Demis (korium) terdiri dari jaringan ikat
dengan adneksa kulit sperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan
kelenjar keringat. Terdapat banyak pembuluh darah, saraf pembuluh
limfe serta ujung saraf taktil, tekan, panas.. bagian bawah dari dermis
terdapat jaringan adiposa dan (tergantung dari bagian tubuh) fascia,
jaringan lemak, dan otot yang berurutan di bawahnya.

Abrasi
Merupakan perlukaan paling superfisial, dengan definisi tidak menebus
lapisan epidermis. Abrasi yang sesungguhnya tidak berdarah karena
pembuluh darah terdapat pada dermis. Kontak gesekan yang
mengangkat sel keratinisasi dan sel di bawahnya akan menyebabkan
daerah tersebut pucat dan lembab oleh karena cairan eksudat
jaringan.

Ketika kematian terjadi sesudahnya, abrasi menjadi kaku, tebal,


perabaan seperti kertas berwarna kecoklatan. Pada abrasi yang terjadi
sesudah kematian berwarna kekuningan jernih dan tidak ada
perubahan warna.

Tangensial atau abrasi geser

Abrasi kebanyakan disebabkan gerakan lateral daripada tekanan


vertikal. Ketika tanda abrasi ini ditemui, arah kekuatan dapat
ditentukan dari sisa epidermis yang terbawa sampai ujung abrasi.
Pemeriksaan visual, bila perlu menggunakan lensa, dapat
menunjukkan pergerakan dari tubuh.

Abrasi Crushing

Ketika penekanan vertikal pada permukaan kulit, tidak ada goresan


yang terjadi namun epidermis hancur dan obyek yang menghantam
tercetak. Jika hantaman tersebut kuat dan daerah permukaan kontak
kecil akan terjadi luka berlubang kecil dan abrasi hantaman terjadi.
Kerusakan yang terjadi berupa penekanan hingga depresi ringan dari
permukaan atau paling tidak memar atau tonjolan oedem lokal. Abrasi
ini salah satu dari abrasi yang menunjukkan cetakan dari obyek yang
membuat luka.

Abrasi kuku jari


Sangat penting karena frekuensi pada serangan khususnya pada
penyiksaan anak, penyerangan seksual, dan penjeratan. Sering disertai
memar lokal. Abrasi kuku jari biasanya sering ditemukan pada leher,
muka, lengan atas dan lengan depan. Mungkin berupa goresan linear
jika jari-jari tersebut menarik ke bawah, tanda kurva atau garis lurus
jika tangan tersebut menggenggam.

Lengan bagian depan sering merupakan lokasi untuk penggenggaman


dan menahan baik pada penyiksaan anak atau serangan pada orang
dewasa. Memar umum ditemukan, namun tanda kuku jari sdapat
menumpang pada memar tersebut. Ahli patologi harus berhati0hati
dengan interpretasi yang salah. Contohnya, memutuskan tanda kuku
jari pada leher yang disebabkan oleh tangan dari depan atau belakang
leher.

Abrasi berpola

Abrasi yang terjadi mengikuti pola obyek . tidak hanya epidermis yang
rusak, kulit dapat tertekan mengikuti pola obyek, sehingga dapat
terjadi memar intradermal. Contohnya ketika ban motor melewati kulit,
meninggalkan pola pada kulit dimana kulit juga tertekan mengikuti
alur ban tersebut.

Abrasi post-mortem (sesudah kematian)

Dapat disebabkan berbagai macam, antara lain penyeretan pada saat


pemakaman, atau akibat proses otopsi. Pada saat proses pemakaman,
khusunya setelah dibersihkan dengan air panas. Pada otopsi kedua
perlu diperiksa dengan deskripsi sebelumnya atau dengan foto, jika
beberapa luka yang ditemukan diragukan.

Kontusio atau memar


Meskipun sering bersamaan dengan abrasi dan laserasi, memar murni
terjadi karena kebocoran pada pembuluh darah dengan epidermis
yang utuh oleh karena proses mekanis. Ekstravasasi darah dengan
diameter lenih dari beberapa millimeter disebut memar atau kontusio,
ukuran yang lenih kecil disebut ekimosis dan yang terkecil seukuran
ujung peniti disebut petekie. Baik ekimosis dan petekie biasanya
terjadi bukan karena sebab trauma mekanis.

Kontusio disebabkan oleh kerusakan vena, venule, arteri kecil.


Perdarahan kapiler hanya dapat dilihat melalui mikroskop, bahkan
petekie berasal dari pembuluh darah yang lebih besar dari kapiler.
Kata ‘memar’ mengacu pada lesi yang dapat dilihat pada kulit atau
yang terjadi pada subkutanea, sementara ‘kontusio’ dapat terjadi pada
bagian tubuh mana saja seperti limpa, mesenterium atau otot.
Penggunaan kata memar lebih banyak digunakan dokter saat
memberikan laporan atau keterangan pada kalangan non-medik.

Memar Intradermal

Memar yang biasa terjadi akibat penekanan berada pada subkutanea,


sering pada jaringan adiposa. Jika dilihat, memar terjadi pada
perbatasan dermis dan epidermis. Namun kadang samara. Ketika
memar terjadi akibat penekanan dengan obyek berpola, perdarahan
yang terjadi lebih dapat dilihat, jika berada di lapisan subepidermal.
Jumlah darahnya sedkiti namun karena posisinya yang superfisial dan
lapisan tipis di atasnya yang jernih sehingga polanya dapat dibedakan.
Memar ini terjadi ketika obyek yang menekan memiliki pinggiran dan
alur, sehingga kulit dipaksa mengikuti alur dan bentuknya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Munculnya Memar

1. Kebocoran pembuluh darah. Harus ada ruangan yang cukup


untuk darah yang keluar berakumulasi. Ini menjelaskna kenapa
memar lebih mudah terjadi pada skrotum daripada tumit
dimana jaringan jaringan fibrosanya padat. Karena banyaknya
jaringan subkutanea pada orang yang gemuk, mereka lenih
mudah terjadi memar daripada orang yang kurus jika faktor
lain seperti fragilitas pembuluh dan umur sama.

2. Jumlah darah yang keluar

3. Ruangan yang cukup

4. Kedalaman memar yang terjadi

5. Fragilitas pembuluh darah

6. Pada orang yang berbaring lama

Pergerakan dari Memar

Pada daerah superfisial memar muncul dengan cepat, sementara pada


area yang dalam membutuhkan waktu untuk muncul ke permukaan.
Memar dapat bergerak mengikuti gaya gravitasi. Contohnya,
perdarahn subkutanea dapat turun melewati alis mata dan muncul di
orbita mata yang memberikan gambaran ‘mata hitam’ yang dapat
disalahartikan sebagai trauma langsung. Begitu juga memar pada
lengan atas atau betis, dapat turun sampai pada siku atau tumit.

Perubahan Memar oleh Waktu

Dengan berlalunya waktu, hematom yang terbentuk pecah oleh


pengaruh enzim jaringan dan infiltrasi seluler.sel darah merah
menutupi ruptur dan mengandung Hb membuat degradasi secara
kimiawi yang memyebabkan perubahan warna. Hemoglobin pecah
menjadi hemosiderin, biliversin dan bilirubon yang menyebabkan
perubahan wanra memar dari ungu atau coklat kebiruan menjadi
coklat kehijauan, kemudian hijau kekuningan sebelum akhirnya samar.

Memar kecil pada deasa muda yang sehat akan menghilang dalam
waktu 1 minggu.

Namun pada memar akibat ‘gigitan asmara’ (cupang) akan menghilang


dala waktu beberapa hari, ini dikemukakan oleh nRoberts yang
mengadakan penelitian.

Beberapa faktor yang berpengaruh antara lain:

• Besarnya ekstravasasi
• Umur korban
• Idosinkrasi seseorang
Beberapa observasi yang ditemukan:

• Jika ditemukan memar yang nampak baru tanpa disertai


perubahan warna, diperkirakan terjadi 2 hari sebelum kematian
• Jika memar terdapat perubahan warna kehijauan, diperkirakan
terjadi tidak lebih dari 18 jam sebelum kematian
• Jika ada beberapa memar dengan beberapa warna yang
berbeda, berarti tidak terjadi pada saat yang sama. Penting
pada kasus penyiksaan anak.

Memar pada Tanda Khusus

Kumpulan memar bentuk koin kecil merupakan karakterisitik tekanan


jari baik pada pemegangan atautusukan. Sering nampak pada kasus
penyiksaan anak, dimana orang yang dewasa memegang dengan
pegangan yang nyaman. Biasa disebut ‘memar sixpenny’

Ketika permukaan kulit dilanggar oleh roda atau obyek berpola seperti
rotan, memar yang nampak mengikuti pola obyek tersebut.
Luka akibat tendangan

Telapak kaki dapat meninggalkan pola memar pada tubuh,


sering pada abdomen dan dada walaupun ini dapat dikenali pada leher
dan wajah.Tendangan yang cepat dapat menyebabkan luka lecet
disertai memar, sedangkan menurut arahnya,tendangan vertical
menunjukkan memar intradermal dengan pola telapak kaki.Kasus luka
akibat tendangan menjadi hal biasa dengan meningkatnya kekerasan
pada masyarakat.Sebagian besar tendangan dilakukan pada korban
yang telah duduk atau terjatuh ketanah, yang sebelumnya disebabkan
tindakan kekerasan lainnya seperti mendorong atau memukul,
sehingga setelah korban lemas dan kaki pelaku menyerang bagian
yang paling mudah seperti pinggang, paha, leher dan area
abdominal.Variasi lain tendangan yaitu pelaku menyerang dari atas
korban dengan cara loncat dan menendang dengan satu atau dua kaki,
sehinga dada paling sering terkena dan dapat menyebabkan patah
tulang iga maupun tulang dada.

Bahaya umum yang terjadi pada tendangan ke arah muka


adalah patah tulang mandibulla, maxilla, tulang hidung dan zygoma.
Tendangan pada satu sisi wajah dapat benar-benar melepas bagaian
bawah dari maxilla dengan bagian lengkungan gigi dam palatum.

Memar post mortem dan artefak lainnya

Khususnya pada kematian kongesti seperti tekanan pada leher,


sistem vena dapat tersumbat dan dapat terjadi memar. Salah satu
area yang penting yang dapat mendeskripsikan secara penuh
disbanding yang lain adalah leher, dimana kumpulan dari darah antara
esophagus dan tulang belakang servikal dapat menimbulkan memar
dari stranhulasi.

Luka gores/Laserasi
Berbeda dengan luka iris dimana pada luka gores jringan yang rusak
menyobek bukan mengiris.

Laserasi dapat dibedakan dari luka iris :

1. Garis tepi memar dan kerusakan memiliki area yang sangat kecil
sehingga untuk pemeriksaanya kadang dibutuhkan bantuan
kaca penbesar.
2. Keberadaan rangkaian jaringan yang terkena terdapat pada
daerah bagian dalam luka, termasuk pembuluh darah dan saraf .
3. Tidak adanya luka lurus yang tajam pada tulang
dibawahnya,terutama jika yang terluka daerah tulang
tengkorak.
4. Jika area tertutup oleh rambut seperti kulit kepala, maka rambut
tersebut akan terdapat pada luka.

Laserasi terpola

Laserasi tidak menciptakan kembali bentuk dari alat yang


melukai, tendangan dapat menyebabkan laserasi khususnya jika
menggunakan sepatu boot yang besar dengan ujung kakinya yang
keras. Pukulan yang sangat keras dapat menyebabkan laserasi linier
atau stellate.

Luka akibat benda tumpul yang berpenetrasi

Luka ini merupakan luka campuran antara luka laserasi dan


luka iris. Dapat terjadi alibat dari pukulan besi atau sebilah kayu. Pada
waktu alat tumpul dipukulkan ke kulit, maka akan ada lekukan dan
lecet pada sisinya, walaupun bekas yang lebih dulu akan hilang jika
alatnya telah ditarik kembali. Material seperti karat, kotoran atau
serpihan mungin tertinggal pada luka dan harus sangat hati-hati
dilindungi untuk pemeriksaan forensic, jika alat yang digunakan belum
diketahui.

Luka Iris
Adalah luka yang disebabkan oleh objek yang tajam, biasanya
mencakup seluruh luka akibat benda-benda seperti pisau, pedang,
silet, kaca, kampak tajam dll. Ciri yang paling penting dari luka iris
adalah adanya pemisahan yang rapih dari kulit dan jaringan
dibawahnya, maka sudut bagian luar biasanya bisa dikatakan bersih
dari kerusakan apapun.

Luka potong

Adalah luka iris yang kedalamannya lebih panjang. Luka potong


tidak lebih berbahaya dibandingkan tikaman, sebagaimana
ketidakdalaman luka tidak akan terlalu mempengaruhi organ vital,
khususnya target utama nya adalah tangan dan muka.

Luka tikam dan luka yang berpenetrasi


Menikam biasanya dengan pisau, sering terjadi pada kasus
pembunuhan dan pembantaian.

Karakteristik dari alat tikam:

1. Panjang, lebar dan ketebalan pisau


2. Satu atau dua sisi
3. derajat dari ujung yang lancip
4. bentuk belakang pada pisau satu sudut (bergerisi/kotak)
5. Bentuk dari pelindung pangkal yang berdekatan dengan mata
pisau
6. Adanya alur, bergerigi atau cabang dari mata pisau
7. Ketajaman dari sudut dan khususnya ujung dari mata pisau
Karakteristik luka tikam, dapat menerangkan tentang:

1. Dimensi senjata
2. Tipe senjata
3. Kelancipan senjata
4. Gerakan pisau pada luka
5. Kedalaman luka
6. Arah luka
7. Banyaknya tenaga yang digunakan

Petunjuk dari luka tusuk

Petunjuk dari luka tusuk sering dianggap sebagai suatu


masalah pembunuhan terutama sebagai persidangan, yang mengarah
pada saat rekontruksi kejadian. Kejadian-kejadian penusukan sering
bergerak dan dinamis sehingga korban jarang dalam keadaan statis.
Penjelasan mengenai petunjuk berdasarkan gambaran luka dan jejak
benda. Saat pisau dengan mata pisau kurang cukup besar, maka luka
sering tampak terpotong bagian bawahnya mengenai jaringan
subkutan. Pada autopsy, menjelaskan seperti pada luka tusuk didada,
kadang saat di autopsy luka terletak dibawah puting. Pembedahan dari
jaringan dan otot bisa mengungkapkan bahwa kerusakan dinding dada
terletak di ICS berapa . Informasi ini menjadi petunjuk luka,
mengambarkan jejak luka.

Perkiraan mengenai derajat kekuatan luka tusuk

Diberikan keterangan mengenai:

1. Bagian dari tulang atau pengerasan tulang rawan


2. Ketajaman dari ujung pisau
3. Kecepatan dating nya pisau
4. Kulit yang elastis lebih mudah ditembus
5. Variasi ketebalan kulit terhadap pisau, kulit telapak kaki lebih
tebal dari bagian tubih lain.
6. Luka tembus yang disebabkan tusukan

Luka oleh senjata lain selain pisau


Pisau cukur dan pecahan gelas memiliki tepi tajam yang
berbeda sehingga dapat memberikan jejak yang berbeda pula. Pada
derah luka yang berambut, maka akan terlihat rambut akan terpotong.

Luka akibat Gunting

Sering ditemukan pada kejadian rumah tangga, dimana


biasanya pelaku adalah wanita, menggunakan senjata yang gampang,
dikenal, mudah diraih. Gambaran luka tergantung pada posisi gunting
saat ditusukkan, terbuka atau tertutup. Pada gunting yang terbuka,
dengan satus sisi tertusuk, maka gambaran luka sukar dibedakan
dengan gambaran luka tusuk oleh pisau. Sedangkan untuk luka akibat
gunting yang tertutup, maka luka yang terbentuk seperti huruf Z atau
seperti kilatan cahaya.

Luka tangkis

Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan


korban dan pada umumnya ditemukan pada telapak tangan,
punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan
tungkai. Bila pada keadaan tangkis dengan cara menangkap mata
pisau dengan telapak tangan, maka luka yang terjadi akan mengiris
telapak tangan, melintasi lekukan jari, mengiris kulit, jaringan tendon
atau kadang teririsnya keempat jari tangan

Penentuan luka secara histologi


Untuk keperluan forensic, pemeriksaan histology digunakan untuk
menentukan faktor:

1. Apakah luka yang ditemukan pada saat autopsy terjadi pada


saat sebelum atau sesudah kematian
2. Apabila telah terjadi kematian, berapa lama kematian itu sudah
terjadi
Berikut ini adalah perubahan histologi akibat terjadinya luka:

1. 30 menit-4jam terjadi pengumpulan lekosit PMN pada luka &


terbentuknya benang-benang fibrin.
2. 4-12 jam terjadi udem jaringan & pembengkakan endotel PD.
3. 12-24 jam terdapat peningkatan jumlahMakrofag dan dimulainya
pembersihan jaringan mati.
4. 24-72 jam terdapat peningkatan jumlah lekosit sampai maksimal sekitar
48jam, perbaikan dimulai,fibroblast muncul,PD baru mulai terbentuk,untuk
membuat jaringan granulasi.
5. 3-6 hari, epidermis mulai tumbuh.
6. 10-15 hari , epidermis menjadi tipis&datar.
7. Minggu-bulan ,proses penyembuhan jaringan berlanjut,jaringan granulasi
terbentuk.

PENGENALAN ALAT DAN BAHAN PENJAHITAN

Alat dan bahan yang diperlukan pada penjahitan luka :

4.1.Alat (Instrumen)
a. Tissue forceps ( pinset ) terdiri dari dua bentuk yaitu tissue forceps
bergigi ujungnya ( surgical forceps) dan tanpa gigi di ujungnya yaitu
atraumatic tissue forceps dan dressing forceps.
b. Scalpel handles dan scalpel blades
c. Dissecting scissors ( Metzen baum )
d. Suture scissors
e. Needleholders
f. Suture needles ( jarum ) dari bentuk 2/3 circle, Vi circle , bentuk
segitiga dan bentuk bulat
g. Sponge forceps (Cotton-swab forceps)
h. Hemostatic forceps ujung tak bergigi ( Pean) dan ujung bergigi (Kocher)
i. Retractors, double ended
j. Towel clamps

4.2 Bahan
a. Benang (jenis dan indikasi dijelaskan kemudian )
b. Cairan desifektan : Povidon-iodidine 10 % (Bethadine )
c. Cairan Na Cl 0,9% dan perhydrol 5 % untuk mencuci luka.
d. Anestesi lokal lidocain 2%.
e. Sarung tangan.
f. Kasa steril.

tissue forceps
scalpel handles
dissecting scissors
suture scissors

needle holder

suture needles
sponge forceps
hemostatic forceps
retractors
towel clamps

5. CARA MEMEGANG ALAT

a. Instrument tertentu seperti pemegang jarum, gunting dan pemegang kasa: yaitu
ibu jari dan jari keempat sebagai pemegang utama, sementara jari kedua dan
ketiga dipakai untuk memperkuat pegangan tangan. Untuk membuat simpul
benang setelah jarum ditembuskan pada jaringan, benang dilingkarkan pada ujung
pemegang jarum.

b. Pinset lazim dipegang dengan tangan kiri, di antara ibujari serta jari kedua dan
ketiga. Jarum dipegang di daerah separuh bagian belakang .

c. Sarung tangan dipakai menurut teknik tanpa singgung.


cara memegang alat

6. PERSIAPAN ALAT

6.1.Sterilisasi dan cara sterilisasi


Sterilisasi adalah tindakan untuk membuat suatu alat-alat atau bahan dalam
keadaan steril.

Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara :


a. Secara kimia : yaitu dengan bahan yang bersifat bakterisid , seperti formalin,
savlon, alkohol.
b. Secara fisik yaitu dengan :
1) Panas kering ( oven udara panas )
♦ Selama 20 menit pada 200° C
♦ Selama 30 menit pada 180° C
♦ Selama 90 menit pada 160° C

2). Uap bertekanan ( autoclave): selama 15 menit pada 120° C dan tekanan 2
atmosfer

3). Panas basah, yaitu di dalam air mendidih selama 30 menit. Cara ini hanya
dianjurkan bila cara lain tidak tersedia.

6.2 Pengepakan
Sebelum dilakukan sterilisasi secara fisik, semua instrument harus dibungkus
dengan dua lapis kain secara rapat yang diikutkan dalam proses sterilisasi. Pada
bagian luar pembungkus , ditempelkan suatu indikator ( yang akan berubah warna
) setelah instrument tersebut menjadi steril. Untuk mempertahankan agar
instrument yang dibungkus tetap dalam keadaan steril, maka kain pembungkus
dibuka menurut” teknik tanpa singgung.

7. JENIS-JENIS BENANG

7.1 Benang yang dapat diserap (Absorbable Suture )


a. Alami ( Natural)
1). Plain Cat Gut : dibuat dari bahan kolagen sapi atau domba. Benang ini hanya
memiliki daya serap pengikat selama 7-19 hari dan akan diabsorbsi secara
sempurna dalam waktu 70 hari. 2). Chromic Cat Gut dibuat dari bahan yang sama
dengan plain cat gut , namum dilapisi dengan garam Chromium untuk
memperpanjang waktu absorbsinya sampai 90 hari.

b. Buatan ( Synthetic )
Adalah benang- benang yang dibuat dari bahan sintetis, seperti Polyglactin ( merk
dagang Vicryl atau Safil), Polyglycapron ( merk dagang Monocryl atau
Monosyn), dan Polydioxanone ( merk dagang PDS II ). Benang jenis ini memiliki
daya pengikat lebih lama , yaitu 2-3 minggu, diserap secara lengkap dalam waktu
90-120 hari.
7.2 Benang yang tak dapat diserap ( nonabsorbable suture )
a. Alamiah ( Natural)
Dalam kelompok ini adalah benang silk ( sutera ) yang dibuat dari protein organik
bernama fibroin, yang terkandung di dalam serabut sutera hasil produksi ulat
sutera.
b. Buatan ( Synthetic )
Dalam kelompok ini terdapat benang dari bahan dasar nylon ( merk dagang
Ethilon atau Dermalon ). Polyester ( merk dagang Mersilene) dan Poly propylene
( merk dagang Prolene ).
8. PERSIAPAN PENJAHITAN ( KULIT)
a. Rambut sekitar tepi luka dicukur sampai bersih.
b. Kulit dan luka didesinfeksi dengan cairan Bethadine 10%, dimulai dari bagian
tengah kemudian menjauh dengan gerakan melingkar.
c. Daerah operasi dipersempit dengan duk steril, sehingga bagian yang terbuka
hanya bagian kulit dan luka yang akan dijahit.
d. Dilakukan anestesi local dengan injeksi infiltrasi kulit sekitar luka.
e. Luka dibersihkan dengan cairan perhydrol dan dibilas dengan cairan NaCl.
f. Jaringan kulit, subcutis, fascia yang mati dibuang dengan menggunakan pisau
dan gunting.
g. Luka dicuci ulang dengan perhydrol dan dibilas dengan NacCl.
h. Jaringan subcutan dijahit dengan benang yang dapat diserap yaitu plain catgut
atau poiiglactin secara simple interrupted suture. i. Kulit dijahit benang yang tak
dapat diserap yaitu silk atau nylon.

9. TEKNIK PENJAHITAN KULIT

Prinsip yang harus diperhatikan :


a. Cara memegang kulit pada tepi luka dengan surgical forceps harus dilakukan
secara halus dengan mencegah trauma lebih lanjut pada jaringan tersebut.
b. Ukuran kulit yang yang diambil dari kedua tepi luka harus sama besarnya.
c. Tempat tusukan jarum sebaiknya sekitar 1-3 cm dari tepi lukia.Khusus” daerah
wajah 2-3mm.
d. Jarak antara dua jahitan sebaiknya kurang lebih sama dengan tusukan jarum
dari tepi luika.
e. Tepi luka diusahakan dalam keadaan terbuka keluar ( evferted ) setelah
penjahitan.

9.1. SIMPLE INTERUPTED SUTURE


A. Indikasi: pada semua luka
Kontra indikasi : tidak ada Teknik penjahitan

Dilakukan sebagai berikut:


a. Jarum ditusukkan pada kulit sisi pertama dengan sudut sekitar 90 derajat,
masuk subcutan terus kekulit sisi lainnya.
b. Perlu diingat lebar dan kedalam jaringan kulit dan subcutan diusahakan agar
tepi luka yang dijahit dapat mendekat dengan posisi membuka kearah luar
( everted)
c. Dibuat simpul benang dengan memegang jarum dan benang diikat.
d. Penjahitan dilakukan dari ujung luka keujung luka yang lain.

B. Indikasi : Luka pada persendian


Luka pada daerah yang tegangannya besar
Kontra indikasi : tidak ada

Teknik penjahitan ini dilakukan untuk mendapatkan eversi tepi luka dimana
tepinya cenderung mengalami inverse. misalnya kulit yang tipis. Teknik ini
dilakukan sebagai berikut:
1. Jarum ditusukkan jauh dari kulit sisi luka, melintasi luka dan kulit sisi lainnya,
kemudian keluar pada kulit tepi yang jauh, sisi yang kedua.
2. Jarum kemudian ditusukkan kembali pada tepi kulit sisi kedua secara tipis,
menyeberangi luka dan dikeluarkan kembali pada tepi dekat kulit sisi yang
pertama.
3. Dibuat simpul dan benang diikat.
9.3 SUBCUTICULER CONTINUOS SUTURE
Indikasi : Luka pada daerah yang memerlukan kosmetik
Kontra indikasi : jaringan luka dengan tegangan besar.

Pada teknik ini benang ditempatkan bersembunyi di bawah jaringan dermis


sehingga yang terlihat hanya bagian kedua ujung benang yang terletak di dekat
kedua ujung luka yang dilakukan sebagai berikut.
1. Tusukkan jarum pada kulit sekitar 1-2 cm dari ujung luka keluar di daerah
dermis kulit salah satu dari tepi luka.
2. Benang kemudian dilewatkan pada jaringan dermis kulit sisi yang lain, secara
bergantian terus menerus sampai pada ujung luka yang lain, untuk kemudian
dikeluarkan pada kulit 1-2 cm dari ujung luka yang lain.
3. Dengan demikian maka benang berjalan menyusuri kulit pada kedua sisi secara
parallel disepanjang luka tersebut.
9.4 JAHITAN PENGUNCI (FESTON)
Indikasi : Untuk menutup peritoneum
Mendekati variasi kontinyu (lihat gambar)
jenis jahitan