Anda di halaman 1dari 23

TINJAUAN PUSTAKA 1. MENINGITIS a.Definisi Meningitis adalah kondisi dimana terjadinya inflamasi pada meningen.

Meningitis kebanyakan tertuju pada infeksi leptomeningen dan ruang subarachnoid. b. Etiologi Meningitis disebabkan oleh agen infeksi yang luas termasuk bakteri, virus, jamur, mikobakterium dan parasit. Manifestasinya bisa akut dengan gejala pada susunan saraf pusat beberapa jam sampai beberapa hari bahkan bisa dalam beberapa minggu (gejala kronik). c.Epidemiologi Faktor epidemiologi akan mempengaruhi perkembangan meningitis seperti: Umur: insiden tertinggi pada usia neonatus 300/100.000 individu tiap tahun. Kebanyakan disebabkan oleh grup B streptococcus, E coli, Klebsiella, dan listeria monocitogenes , anak usia 1 bulan sampai 4 tahun kejadiannya 2-3 kasus dalam 100.000 dengan etiologi streptococcus pneumonia, dan neisseria meningitidis. Dan pada anak usia sekolah kejadiannya 1 kasus dalam 100.000. Status Imunisasi: dengan adanya vaksin dari H.Influensa, meningococcal, dan pneumococcal maka insiden dari meningitis akibat meningokokus dan pneumokokkus menurun. Geografis: meningitis sering terjadi di daerah rural, kebanyakan di daerah yang endemik TB. Status imun dari host: defisiensi antibodi atau komplemen, splenektomi, anemia sel sabit merupakan predisposisi terjadinya infeksi bakteri incapsulated. Defisiensi sel T merupakan predisposisi untuk terjadinya meningitis akibat jamur.

d.

Patogenesis Meningitis terjadi karena adanya organisme patogen yang lewat melalui ruang subarachnoid. Kebanyakan ia masuk melalui cara hematogen dengan invasi pada fleksus koroidalis. Dan sebagian kecil masuk secara langsung melalui trauma, kelainan kongenital seperti sinus dermal, atau penyebaran langsung akibat adanya sinusitis paranasal, mastoiditis, osteomielitis pada tulang kranial. Pada neonatus organisme patogen masuk melalui jalan lahir pada saat proses kelahiran nantinya mungkin akan berkolonisasi di nasofaring dan bahkan bisa terjadi bakteremia. Pada anak yang lebih tua bakteri seperti S.pneumonia dan H.Influensa bereplikasi di nasofaring, melalui mukosa saluran pernapasan dan sub mukosa, kemudian masuk kedarah dan susunan saraf pusat. Mekanisme yang sama juga terjadi pada virus, penyebab tersering adalah enterovirus yang mempunyai pola infeksi bifasik. Pada fase initial, virus bereplikasi di jaringan retikuloendotelial dan kemudian masuk ke darah maka terjadilah viremia. Pada periode viremia ini virus-virus ini akan masuk ke ruang subarachnoid dan akan timbul gejala setelah beberapa hari kemudian.

2.

MENINGITIS PURULENTA a. Definisi Meningitis purulenta adalah radang selaput otak yang menimbulkan proses eksudasi berupa pus yang disebabkan oleh kuman non spesifik dan non virus yang ditandai dengan LCS yang keruh dengan jumlah leukosit >1000/mm3 dengan predominasi PMN. Meningitis purulenta hampir sebagian besar disebabkan oleh bakteri.

b. Etiologi Usia <1 bulan 1-3 bulan Penyebab tersering E.Coli, grup B streptococcus, monocytogenes E.Coli, grup B streptococcus,

3 bulan-18 tahun c. Faktor resiko

monocytogenes, H.Influensa, S. Pneumonia H.Influensa, N. Meningitidis, S.Pneumoni

Faktor dari host itu sendiri berupa neonatus sepsis, BBLR dan premature, ketuban pecah dini, partus lama, manipulasi berlebihan, infeksi ibu pada trimester III, defisiensi komplemen serum, defisiensi kongenital, keganasan, gangguan imunologis, infeksi parameningeal dan malnutrisi. Faktor dari lingkungan sendiri seperti jumlah penduduk yang padat, higienis dan sanitasi yang jelek, dan sosial ekonomi rendah. d. Epidemiologi Meningitis purulenta pada bayi dan anak di Indonesia masih merupakan penyakit yang belum mengurang. Angka kejadian tertinggi ditemukan pada umur antara 2 bulan 2 tahun. Umumnya terdapat pada anak yang distrofik, yang daya tahan tubuhnya rendah. Di negeri yang sudah maju, angka kejadian sudah sangat berkurang. e. Patogenesis Sebagian besar kasus didahului oleh adanya infeksi di daerah saluran nafas yang kemudian menyebar secara hematogen, hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh penyebaran langsung dari tempat yang berdekatan seperti sinusitis dan mastoiditis. Bakteri masuk ke CSS melalui pleksus koroideus ventrikel lateral dan meningen. Kemudian bakteri bersirkulasi ke CSS ekstraserebral dan sela subarakhnoid dan dengan cepat memperbanyak diri karena kadar komplemen dan antibodi CSS tidak cukup untuk menahan proliferasi bakteri. Faktor kemotaktik kemudian mendorong respon radang lokal yang ditandai dengan infiltrasi sel polimorfonuklear. Adanya lipopolisakarida dinding sel bakteri (endotoksin) bakteri gram negatif (H.Influensa tipe b, N.Meningitidis) dan komponen-komponen peptidoglikan) dinding sel pneumokokus radang yang (asam mencolok teikhoat, dengan 3 merangsang respon

memproduksi lokal faktor nekrosis tumor, interleukin-1, prostaglandin E, dan mediator radang sitokin lainnya. Respon radang berikutnya, secara langsung terkait dengan adanya mediator radang ini, ditandai oleh infiltrasi netrofil, kenaikan permeabilitas vaskuler, perubahan sawar darah otak, dan trombosis vaskular. Radang akibat sitokin berlebihan berlanjut sesudah CSS disterilkan dan diduga sebagian menyebabkan sekuele radang kronis meningitis purulenta. f. Manifestasi klinis Manifestasi klinis tergantung dari umur anak-anak tersebut seperti: Neonatus gejala mungkin minimal menyerupai sepsis dapat berupa hipotermi, malas minum, letargi, distress pernapasan, ikterus, muntah, diare dan kejang. Bayi umur 3 bulan 2 tahun akan melihatkan gejala demam, muntah, kejang berulang, high pitched cry, dan demam terus menerus tanpa diketahui sebabnya. artritis. Anak besar dan dewasa akan melihatkan gejala seperti demam, Gejala defisit neurologi fokal, edema otak, syok septik, septik mengigil, muntah, dan nyeri kepala.

Gejala penyakit meningitis pada bayi (www.wa.qld.edu.au)

g. Diagnosa Diagnosa ditegakkan dari: Manifestasi klinis

Gejala infeksi akut : lesu,panas,mudah terangsang,muntah. Gejala tekanan intrakranial yang meninggi: kesadaran menurun,kejang Gejala rangsang meningeal (terutama pada anak >2 tahun ): sakit dileher dan punggung.

Pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan pada vital sign kesadaran menurun : lethargi sampai koma, tanda tekanan intrakranial yang meninggi ubun -ubun besar (UUB) membonjol/ tegang, irritabilitas, nyeri kepala, ada/ tidak muntah proyektil, diplopia, nadi yang lambat, crack pot sign dan pernafasan cheynes stokes,. Tanda rangsang meningeal kaku kuduk, tanda Kernig dan Brudzinsky positif. Demam biasanya mendadak tinggi.

Pemeriksaan penunjang Pungsi lumbal :

1. Warna opalesen atau keruh dapat terjadi pada hari pertama atau kedua 2. Jumlah sel meningkat lebih dari 100 sel/ml 3. Jenis sel terutama PMN 4. Kadar gula darah turun antar 0-20 mg/ml 5. Kadar protein meningkat, tergantung lama sakit 6. Pada sediaan gram bakteri (+) hampir pada 80% kasus bila belum mendapat pengobatan sebelumnya. 7. Kadar asam laktat dan pH meningkat 8. Pada sediaan dengan methylene blue (+)

Biakan LCS pada media agar, agar darah, atau media fildes. Biakan darah. Pewarnaan gram. CT scan. Foto torak, foto tulang tengkorak, sinus dan tulang belakang.

h. Diagnosa banding Meningitis tuberkulosa. Meningitis aseptik. Abses otak. Abses epidural. Empiema subdural. Endokarditis bakterialis dengan embolisme Tumor otak Ruptur kista dermoid

i. Terapi Suportive care dengan : i. Monitor tanda vital tiap 15 menit sampai stabil kemudian tiap jam untuk 1-2 hari ii. Kontrol suhu tiap 4 jam iii. Memperhatikan balance cairan, iv. Timbang BB tiap hari untuk menilai adanya SIADH v. Elevasi kepala 300 karena hipertensi intrakranial, vi. Dexametason untuk 4 hari 0,6mg/kgBB/hari jika meningitisnya >6 minggu, vii. Antikonvulsan bila kejang fenobarbital 7mg/kgBB dilanjutkan dengan fenitoin 5mg/kgBB/hari dalam 2 dosis IV. viii. Dukungan gizi jika sudah tidak ada muntah lagi Terapi antibiotik empirik seperti ceftriakson 100mg/kgBB/hari untuk 1 dosis atau cefotaksim 200mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis diberikan selama 7-10 hari. j. Komplikasi Komplikasi dari meningitis ada 2 yaitu: Dini seperti KID, miokarditis, hiponatremia, kejang, hemiparesis, defisit neurologi fokal, anemia. Lanjut seperti efusi/empiema subdural, hidrosefalus, kerusakan otak dengan retardasi mental, gangguan pendengaran, perdarahan dan trombosis, endokarditis. k. Prognosis Tergantung dari usia, lama sakit sebelum mendapat pengobatan antibiotik, bakteri penyebab, jumlah bakteri, adanya penyakit lain yang memperlemah daya tahan tubuh, dan adanya defisit neurologik fokal pada pemeriksaan artritis reaktif, kebutaan kortikal, endoftalmitis, dan

pertama. Gejala sisa yang mungkin ditemukan adalah: gangguan pendengaran, kebutaan, gangguan bicara dan belajar, gangguan tingkah laku, retardasi mental, kejang berlanjutan, ataksia dan hidrosefalus. LAPORAN KASUS

Identitas pasien: Nama Umur :R : 4/12 bulan

Jenis Kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Minang MR Anamnesis Diberikan oleh ibu kandung Seorang pasien laki-laki usia 4 bulan di rawat di bangsal anak RSUP Dr.M.Djamil Padang sejak tanggal 23 November 2010 dengan: Keluhan utama : kejang sejak 20 menit sebelum masuk rumah sakit. Riwayat Penyakit Sekarang: Demam 5 hari sebelum masuk rumah sakit, tinggi, terus menerus, tidak menggigil, tidak berkeringat. Batuk 5 hari sebelum masuk rumah sakit berdahak disertai pilek. Muntah 1 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3 kali sehari, jumlah lebih kurang 1 sendok makan tiap kali muntah, isi apa yang dimakan, tidak menyemprot. Kejang sejak 20 menit sebelum masuk rumah sakit, kejang seluruh tubuh, mata melihat ke atas, setelah diberi stesolid suppos anak masih kejang, kejang berhenti setelah pemberian diazepam IV, anak tidak sadar setelah kejang, ini adalah kejang yang pertama. Anak kurang mau menyusu dan makan sejak demam. Sesak napas tidak ada. 8 : 71.78.99

Riwayat trauma kepala tidak ada. Riwayat sering diayun-ayun ada. Riwayat injeksi vitamin K saat lahir ada. Riwayat kontak dengan penderita batuk-batuk lama tidak ada. Buang air kecil jumlah dan warna biasa. Buang air besar warna dan konsistensi biasa. Anak telah dibawa berobat ke mantri 1 hari sebelum masuk rumah sakit, dan diberi obat 2 macam yaitu puyer dan sirup (jenis obat tidak diketahui), karena anak kejang anak di bawa ke rumah sakit M.Djamil Padang.

Riwayat Penyakit Dahulu: Tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga: adik ibu yang kedua pernah kejang dengan demam saat kecil (usia 1 tahun). adik ibu yang ketiga pernah kejang tanpa demam 1 kali saat umur 6 bulan. Riwayat kelahiran Lahir spontan di tolong bidan cukup bulan, berat badan lahir 2900 gram, panjang badan lahir 48cm, langsung menangis kuat. Riwayat Imunisasi BCG umur 1 bulan (scar positif), imunisasi lain tidak ada. Kesan : imunisasi dasar tidak lengkap. Riwayat makanan dan minuman ASI sejak lahir sampai sekarang. Biskuit usia 2 bulan sampai sekarang. Bubur susu usia 4 bulan 2x sehari.

Kesan: kualitas dan kuantitas makanan kurang.

Riwayat lingkungan dan perumahan: Tinggal di rumah permanen, dengan sumber air minum PDAM, jamban dalam rumah, pekarangan cukup luas, sampah dikumpul dan di bakar 2 kali seminggu. Kesan: higiene dan sanitasi lingkungan cukup baik. Riwayat tumbuh kembang Tengkurap umur 4 bulan Kesan : perkembangan fisik normal Pemeriksaan fisik Kesadaran Nadi Suhu Pernapasan Sianosis Keadaan umum Keadaan gizi Panjang badan Berat badan Edema Anemia Ikterus Status gizi : GCS 10 E2M3V2 : 142 kali/menit : 390C : 46 kali : tidak ada : buruk : kurang : 64 cm : 6,1 kg : tidak ada : ada : tidak ada : BB/U = 6,1 / 6,7 x 100% = 91% TB/U = 64 / 63 x 100% = 101,58% BB/TB = 6,1 / 7,1 x 100% = 85,9% Kesan : gizi kurang.

10

Kulit Kepala

: teraba hangat, tampak pucat. : bentuk simetris, ubun-ubun besar datar, lingkar kepala 40,5 cm (normal standar Nellhaus)

Kelenjar getah bening : tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening

Rambut Mata Telinga Hidung Tenggorokan Gigi dan mlut Leher Dada Paru

: hitam tidak mudah di cabut : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor 2mm/2mm, reflek cahaya +/+ : tidak ada kelainan : tidak ditemukan kelainan : sukar dinilai : mukosa mulut dan bibir basah : kaku kuduk tidak ada : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung : inspeksi Palpasi Perkusi : simetris kiri dan kanan, retraksi tidak ada : fremitus sukar dinilai : sonor di semua lapangan paru : bronkovesikuler, ronki tidak ada, wheezing tidak ada : iktus kordis tidak terlihat : iktus kordis teraba di LMCS RIC V : batas jantung sukar dinilai

Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada Abdomen inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Punggung : tidak tampak membuncit : supel, hepar teraba - konsistensi kenyal, permukaan licin, sudut tajam : timpani : bising usus (+) normal

: tidak ditemukan kelainan

11

Alat kelamin Anus Anggota gerak Laboratorium Darah Hb Leukosit Hitung jenis Trombosit Eritrosit Ht MCH MCV MCHC

: status pubertas A1P1G1 : colok dubur tidak dilakukan : akral hangat, perfusi baik, reflek fisiologis +/+, reflek babinski +/ +, tanda rangsang meningeal Brudzinski I dan II (-), kernig (-)

: 9,7 gr/dl : 41.200/mm3 : 0/1/4/41/57/0 : 60.700/mm3 : 3,72 juta/mm3 : 29% : 25 pq (27-32) : 78 fl (72-96) : 33% (32-37)

Kesan : anemia normositik normokrom Urin: Albumin Reduksin Bilirubin Urobilin Feses Makroskopis : warna kuning biasa, kenyal lembek, darah tidak ada Mikroskopis : tidak ada parasit Diagnosis kerja : Suspect meningitis purulenta Gizi kurang (-) (-) (-) (-)

12

Anemia normositik normokrom Diagnosis banding : Ensefalitis Gangguan metabolik Gangguan elektrolit Terapi: O2 2 liter/menit IVFD Kaen 1B 105 cc/kgBB/hari = 26 tetes/menit (makro) Sementara puasa Ampicilin 6x400mg IV Gentamicin 2x24 mg IV Luminal 50 mg IM Luminal 2x30 mg P.O Dexametason 3 mg IV Dexametason 3x1mg Rencana Pemeriksaan elektrolit (Na, K) Pemeriksaan kalsium GDR LP Keluarga menolak untuk dilakukan lumbal pungsi dan terapi menpur di lanjutkan, rencana CT scan kepala.

13

Tanggal 23 Nov 2010 jam 14.00

Subjektif - Demam (-) - Batuk (-) - Muntah (-) - Kejang (-) - Sesak napas(-) - BAK (+)

Objektif KU : sedang Kes : sadar HR :120 x/mnt RR :40 x/mnt T : 37,20C -Mata: konjungtiva anemis, tidak pupil

Labor GDR : 80 mg/dl Kesan:dalam batas normal

Terapi Koreksi natrium dengan NaCl 3% = 10 tetes/menit mikro

Kalsium:8,5mg/dl Rencana : cek Natrium:126 meq Kalium:3,9mmol/ elektrolit koreksi post

sklera l ikterik, Kesan: isokor hiponatremi

2mm/2mm, reflek cahaya +/ + - Leher ada Torak : retraksi tidak ada - cor : irama teratur, tidak ada ronki wheezing -/- Abdomen distensi ada, BU : tidak (+) pulmo : -/-, bronkovesikuler, bising : kaku kuduk tidak

14

normal -Ektremitas: akral hangat, RF +/+, babinski +/ +, rangsang meningeal negatif 24 Nov 2010 - Demam (-) - Batuk (-) - Muntah (-) - Kejang (-) - Sesak napas(-) - BAK (+) Anak sedang terpasang koreksi natrium sadar HR 120 kali/menit RR 40 kali/menit T 37,20C Mata konjungtiva anemis, tidak pupil keadaan sedang umum Hasil IVFD KaEn 1B tetes/menit minum Coba : Ampicilin dalam 6x400mg Gentamisin : 24 mg Luminal dalam 2x30mgP.O Dexametason Rencana dalam Scan CT(2) 2x tanda

laboratorium post 26 Natrium : 135 mmol/l Kesan Kalium : 4,1 mmol/l Kesan: : batas normal sklera 114mmol/l ikterik, Kesan isokor batas normal : batas normal

Kesadaran : koreksi

ASI 6x20 cc

Clorida serum : 3x1mg

2mm/2mm, reflek cahaya +/ + Leher ada Torak : : kaku kuduk tidak

15

retraksi tidak ada : cor : irama teratur, tidak ada : ronki wheezing -/Abdomen distensi ada, normal Ektremitas: akral hangat, RF +/+, babinski tanda negatif K/ 25 Nov 2010 - Demam (-) - Batuk (-) - Muntah (-) - Kejang (-) - Sesak napas(-) - BAK (+) : ada meningeal +/+, rangsang BU : tidak (+) pulmo : -/-, bronkovesikuler, bising

perbaikan keadaan umum Hasil CT-Scan ASI OD sedang Kesadaran sadar HR : kali/menit T : 37,20C Mata konjungtiva : gambaran : atropi Konsul saran y brain Ampicilin 6x400mg (3) Gentamisin 2x

116 dr.Iskandar Syarif 24 mg beri Luminal 2x30mg P.O Dexametason 3x1mg Prolaktan 1x1

RR:38 kali/menit Prolaktan/Probob

16

tidak sklera ikterik,

anemis, tidak reflek :

Pindah akut

rawat

cahaya +/+ Leher ada Torak : retraksi tidak ada : cor : irama teratur, tidak ada : ronki wheezing -/Abdomen distensi ada, normal Ektremitas: akral hangat, RF +/+, babinski +/ +, rangsang meningeal negatif K/ hemodinamik stabil : tanda BU : tidak (+) pulmo : -/-, bronkovesikuler, bising kaku kuduk tidak

17

26 Nov 2010

- Demam (-) - Batuk (-) - Muntah (-) - Kejang (-) - Sesak napas(-) -BAK Menyusu OD BAK ada

keadaan sedang Kesadaran sadar HR :

umum : 116

ASI OD Ampicilin 6x400mg (3) Gentamisin 24 mg Luminal 2x30mg P.O Dexametason 3x1mg Prolaktan 1x1 2x

(+) kali/menit RR:38 kali/menit ASI T : 37,20C Mata konjungtiva tidak sklera ikterik, cahaya +/+ Leher ada Torak : retraksi tidak ada : cor : irama teratur, tidak ada : ronki wheezing -/Abdomen distensi ada, normal Ektremitas: BU : tidak (+) pulmo : -/-, bronkovesikuler, bising : kaku kuduk tidak anemis, tidak reflek :

18

akral hangat, RF +/+, babinski +/ +, rangsang meningeal negatif K/ hemodinamik stabil 27 Nov 2010 - Demam (-) - Batuk (-) - Muntah (-) - Kejang (-) - Sesak napas(-) - BAK (+) - Menyusu ASI OD keadaan sedang Kesadaran sadar HR : 116 kali/menit RR:38 kali/menit T : 37,20C Mata konjungtiva tidak sklera ikterik, cahaya +/+ Leher ada Torak : retraksi tidak ada : cor : irama teratur, bising : kaku kuduk tidak anemis, tidak reflek : : umum ASI OD Ampicilin 6x400mg (3) Gentamisin 24 mg Luminal 2x30mg P.O Dexametason 3x1mg Prolaktan 1x1 2x : tanda

19

tidak ada : ronki wheezing -/Abdomen distensi ada, normal Ektremitas: akral hangat, RF +/+, babinski +/ +, rangsang meningeal negatif K/ hemodinamik stabil : tanda BU : tidak (+) pulmo : -/-, bronkovesikuler,

20

DISKUSI Telah dilaporkan suatu kasus seorang pasien laki-laki berumur 4 bulan dengan diagnosis kerja suspect meningitis purulenta, gizi kurang, dan anemia normositik normokrom. Dengan diagnosa bandingnya ensefalitis, gangguan elektrolit, dan gangguan metabolik. Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Pada anamnesa didapatkan demam 5 hari sebelum masuk rumah sakit,demam tinggi, terus menerus dan tidak diketahui sebabnya serta timbulnya mendadak, batuk 5 hari sebelum masuk rumah sakit berdahak disertai pilek. Muntah 1 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3 kali sehari, jumlah lebih kurang 1 sendok makan tiap kali muntah, isi apa yang di makan, tidak menyemprot berarti di sini tidak ada tanda-tanda peningktan tekanan inrakranial, kejang sejak 20 menit sebelum masuk rumah sakit, kejang seluruh tubuh, mata melihat ke atas, setelah di beri stesolid suppos anak masih kejang, kejang berhenti setelah pemberian diazepam IV, anak tidak sadar setelah kejang, ini adalah kejang yang pertama. Pada anak usia < 6 bulan atau > 5 tahun jika terjadi kejang maka harus dipikirkan adanya infeksi SSP, dalam hal ini berdasarkan data epidemiologi terbanyak adalah meningitis. Dari pemeriksaan fisik kesadaran GCS 10 E2M3V2, nadi 142 kali/menit, suhu 390C, pernapasan 46 kali. Pada gambaran ini didapatkan terjadinya penurunan kesadaran berarti telah terjadi adanya gangguan di pusat kesadaran karena peningkatan tekanan intrakranial. Pada pemeriksaan tanda rangsang meningeal di dapatkan hasil negatif karena pada usia <2 tahun proses mielinisasinya belum sempurna. Pada mata konjungtiva anemis mengarah pada adanya anemia yang terjadi kemungkinan karena defisiensi besi dimana di lihat dari status gizinya termasuk gizi kurang dengan BB/TB 85,9%. Dari pemeriksaan laboratorium dan penunjang di dapatkan HB 9,7 gr/dl, leukosit 4200/mm3, Hitung jenis 0/1/4/41/57/0, MCH 25 pq (27-32), MCV 78 fl (72-96),

21

MCHC 33% (32-37), kesan: anemia normositik normokrom. Natrium 126 meq kesan hiponatremi. Untuk menegakkan diagnosa pasti dari meningitis purulenta ini kita harus melakukan lumbal punksi dimana nantinya akan di dapatkan warnanya keruh, pada stadium dini jernih., reaksi Nonne dan Pandy (+) kuat, jumlah sel ribuan (PMN>>). Pada anak sel lebih dari 10/mm. Stadium dini limfosit segmen banyak, protein meninggi, kadar gula menurun. Pada pasien ini tidak dilakukan karena keluarganya menolak, walaupun begitu kita tetap melakukan pemeriksaan CT-Scan untuk melihat ada tidaknya abses atau massa di otaknya yang menyebabkan ia kejang. Tapi untuk menegakkan meningitisnya tidak bisa. Maka pada pasien ini di terapi saja dengan terapi meningitis purulenta dan dari hasil terapinya tampak ada perbaikan jadi kemungkinan diagnosa pasien ini memang meningitis purulenta. Dari literatur disebutkan kalau dari klinis di dapatkan mengarah meningitis purulenta di terapi dengan terapi meningitis purulenta maka akan di dapatkan perbaikan yang cukup baik. Pada pasien ini di berikan terapi O2 2 liter/menit karena ia sesak, IVFD Kaen 1B 105 cc/kgBB/hari = 26 tetes/menit untuk maintenance, sementara puasa karena ia sesak jika sudah tidak sesak lagi maka diberikan ASI secara bertahap mulai dari 6x20 cc sampai ASI OD, Ampicilin 6x400mg IV dan Gentamicin 2x24 mg IV untuk terapi meningitis purulentanya, Luminal 50 mg IM pada saat ia datang, Luminal 2x30 mg P.O untuk mencegah agar kejang tidak berulang, Dexametason 3 mg IV Rencana pada pasien ini pemeriksaan elektrolit (Na, K) untuk menyingkirkan diferensial diagnosa adanya gangguan elektrolit, pemeriksaan kalsium karena jika kurang kalsium juga akan menyebabkan terjadinya kejang, GDR, LP yang merupakan gold standar dari meningitis purulenta.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar IKA FKUI. Meningitis Purulenta. Dalam: Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, jilid 2. Jakarta: Bagian IKA FKUI, 1985; 6289. 2. Staf Pengajar IKA FK. Unand. Meningitis Purulenta. Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Padang: Bagian IKA FK. Unand / RSUP Dr. M. Djamil, 2000.
3. Bergelson, Jeffrey M. Pediatric Infectiuous Diseases. Philadelpihia: Mosby. 2008

4. Azhali, Garna H, Chaerufatah A,Setiabudi D. Meningitis Bakterialis. Dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Bagian/ SMF Ilmu Kesehatan Anak FK-UP, 2000;190-7 5. Behrman. 2000. Ilmu Kesehatan Anak vol 2. Jakarta: EGC 6. IDAI.2006. Buku ajar Neurologi Anak. Jakarta: IDAi

23