.

. Permasalahan..…….4 Proses Penyusunan …………………………………………………………………. V.……… 4. Kebijakan Penanggulangan Bencana ……………………………………….…….. 7. 79 79 79 85 91 VI. Pendahuluan ……………………………………………………………………………………… 1.……..……….2 Penataan Kelembagaan …………………………………………………….. Evaluasi dan Pelaporan …………………………………………….2014 ii . 1.……………………………………………………………………………….…….1 Anggaran …………………………………………………………………………………. Tantangan dan Peluang ………………………………………….………. 102 VII. 73 3. 1.3 Kebijakan dan Strategi ………………………………………………………..1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1.2 Tujuan ……………………………………………………………………………………. Lampiran 105 105 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3 Kedudukan Dokumen dan Landasan Hukum …………………………… 1.……. Gambaran Umum Kebencanaan ……………………………………………………….1 Pemantauan dan Evaluasi ……………………………………………………….. 4.2 Tantangan dan Peluang ……………………………………………………. 75 IV.3 Risiko Bencana ………………………………………………………………………… i ii iii iv 1 2 3 3 5 6 9 9 26 31 III. Daftar Gambar ……………………………………………………………………………..1 Ancaman (Hazard)……………………………………………………………………. 7.2 Pendanaan ……………………………………………………………………………….1 Isu dan Permasalahan ……………………………………………………….……… 2. I. 2. Pemantauan.2 Pelaporan . Program ……………………………………………………………………………………. 99 6. 2.…… 4. 99 6.2 Kerentanan dan Kapasitas ……………………………………………….1 Visi dan Misi ……………………………………………………………………….. Daftar Tabel …………………………………………………………………………………………. Anggaran dan Pendanaan ………………………………………………………. 73 3.5 Kaidah Pelaksanaan ………………………………………………………………… II.DAFTAR ISI Sambutan ……………………………………………………………………………………………… Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………….

.

1.4.. 55 Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi ………………………………………...1. …………………………………………………… 10 Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.. 2008).11.14.6.2.16... Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG... 65 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 69 Program dan fokus prioritas dalam Renas PB …………………… 93 Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB 99 Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB …………………………………………………………………………..... BNPB) ………………….13.DAFTAR TABEL Tabel 2... Tabel 2. 61 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman …………………………………………………………………….. Tabel 2. 40 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah ………………………. 42 Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir ……………………………………. Tabel 2.2...1. Tabel 5. Tabel 2. Tabel 2.3. Tabel 2. Tabel 2.15..7.10. 27 Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 19902007 (BPS.... 36 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi …………………………….8..... Tabel 2. 15 Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) ………………………………………………… 18 Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 …….....12... 25 Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau ……………………………………………………………. Tabel 6.1.. Tabel 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .. 2007) ………………………………………………………………. 101 Format pemantauan dan evaluasi …………………………………….. Tabel 2..9.. 51 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan …...5. Tabel 2.. Tabel 2.2014 iii .... 46 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan ……………………………. Tabel 2. Tabel 7. Tabel 6.. 107 Tabel 2.. 28 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 31 Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami . Tabel 2.

.

......11.. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG... Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI. Gambar 2. BNPB) …………….... Gambar 2.....12..... Gambar 2. Gambar 5.1.... 2008) …………………………………………………………………………… Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia dalam periode 1801-2006 (Puspito......6.......1...5.... BNPB) ………………………………………………… Posisi munculnya siklon tropis di Indonesia (BMKG) ........ Gambar 2. 2007)…………..... Gambar 2..DAFTAR GAMBAR Gambar 2... Zona Bahaya Erosi di Indonesia ……………………………………... Gambar 2.. Gambar 5...Bakosurtanal....10.... Gambar 2..... Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis …………………… Sistem Penanggulangan Bencana Indonesia ………………… Pilihan tindakan dalam manajemen risiko bencana ……… 9 11 13 14 16 17 19 20 21 22 22 23 91 93 Gambar 2....4. Gambar 2..2.2014 iv ... PU) ……………………………………………………………………………… Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) …………… Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) ........ 2007) .3.7.........9... Gambar 2. Zona kerentanan gerakan tanah di Indonesia (ESDM)… Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG...2..8. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG... Gambar 2...... Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI...

.

.

.

Tahun 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa.000 jiwa di sebelas negara dan menimbulkan kehancuran hebat di banyak kawasan pesisir di negara-negara yang terkena. sebuah gempabumi besar terjadi di dalam laut sebelah barat Pulau Sumatra di dekat Pulau Simeuleu. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Banjir yang hampir setiap tahun menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya.708 korban jiwa dan nilai kerusakan yang ditimbulkannya mencapai lebih dari Rp 48 triliun. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tempat terjadinya dua letusan gunungapi terbesar di dunia. Sebagian dari material vulkanik ini membentuk lapisan di atmosfir yang memantulkan balik sinar matahari ke atmosfir.2014 1 . Selain bencana-bencana berskala besar yang pernah tercatat dalam sejarah. kira-kira 13. Bencana yang paling mematikan pada awal abad XXI juga bermula dari Indonesia. bumi tidak menerima cukup panas dan terjadi gelombang hawa dingin.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dalam Perang Dunia II. Indonesia juga tidak lepas dari bencana besar yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit.7 juta ton abu dan material vulkanik. meletus dan mengeluarkan sekitar 1. Sepanjang abad XX hanya sedikit bencana yang menimbulkan korban jiwa masif seperti itu. Di Indonesia sendiri gempabumi dan tsunami mengakibatkan sekitar 165.BAB I PENDAHULUAN 1. Pada tanggal 26 Desember 2004. Erupsi Krakatau diperkirakan memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT. Nusa Tenggara Barat. Gempabumi ini memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 225. Karena sinar matahari yang memasuki atmosfir berkurang banyak. Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Gelombang hawa dingin membuat tahun 1816 menjadi “tahun yang tidak memiliki musim panas” dan menyebabkan gagal panen di banyak tempat serta kelaparan yang meluas. Dalam abad yang sama.1 LATAR BELAKANG Indonesia adalah sebuah negeri yang rawan bencana.

terkoordinasi dan menyeluruh. Program-program kegiatan dalam Renas PB disusun berdasarkan visi misi penanggulangan bencana dan rencana tindakan yang harus diambil sesuai dengan manajemen risiko. Untuk menghadapi peningkatan potensi dan kompleksitas bencana di masa depan dengan lebih baik. merupakan wujud dari upaya pemerintah terkait untuk merumuskan program-program kegiatan dan fokus prioritas penanggulangan bencana. perkebunan dan peternakan. Renas PB layaknya proposal dari pemerintah memuat upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang efektif. Renas PB adalah sebuah dokumen resmi yang memuat data dan informasi tentang risiko bencana yang ada di Indonesia dalam kurun waktu antara 2010-1014 dan rencana pemerintah untuk mengurangi risiko-risiko tersebut melalui program-program kegiatan. Demikian pula kekeringan yang semakin sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Rencana ini menjadi salah satu bagian kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang merupakan prioritas 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II yang disebut sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana. Penyusunan Renas PB merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana yang selanjutnya disebut Renas PB.2014 .kota-kota di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo dan beberapa daerah lain di Indonesia menimbulkan kerugian material dan non-material senilai triliunan rupiah. dimulai dari identifikasi ancaman bencana. Indonesia memerlukan suatu rencana yang sifatnya terpadu. selain mengancam produksi tanaman pangan juga kian mempermiskin penduduk yang mata pencahariannya tergantung pada pertanian. Rencana ini menggambarkan kondisi yang diinginkan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam 5 (lima) tahun mendatang mengenai penanggulangan bencana. penanganan kondisi tanggap darurat yang efisien dan upaya pemulihan yang tepat sasaran. Dalam pelaksanaannya perlu dipadukan dalam 2 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . analisis risiko bencana sampai dengan program kegiatan dan fokus prioritas yang akan diambil termasuk keterlibatan Kementerian/Lembaga dan besarnya anggaran yang dibutuhkan.

fokus prioritas dan anggaran indikatif yang diperlukan. 40 Memberikan acuan kepada kementerian dan lembaga pemerintah. Untuk memastikan terlaksananya perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana. 1.perencanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. 1. pemerintah setiap tahun akan menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai penjabaran dan operasionalisasi RPJMN yang memuat kerangka regulasi. Dengan demikian. berikut program kegiatan. perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas utama dalam RPJMN dan terpadukan ke dalam program-program pembangunan dalam dokumen tersebut.2014 3 . Kementerian/Lembaga pemerintah pusat akan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . terpadu. kerangka anggaran dan rincian program. Dengan mengacu RPJMN. Secara khusus.3 KEDUDUKAN DOKUMEN DAN LANDASAN HUKUM Renas PB merupakan rencana pemerintah lintas sektor yang berlaku selama lima tahun. terkoordinasi dan menyeluruh. dan seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana di Indonesia agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana secara terencana. Ringkasan isi Renas PB diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang memuat kebijakan dan program pembangunan serta rencana kerja Pemerintah. maka Renas PB diintegrasikan ke dalam RPJMN 2010-2014.2 TUJUAN Tujuan penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20101014 adalah: 30 Mengidentifikasikan daerah berisiko tinggi dari berbagai bencana yang ada di Indonesia dan menyusun pilihan tindakan yang perlu mendapat perhatian utama. dokumen Renas PB selanjutnya menjadi arah dalam melakukan pengarusutamaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan bencana.

terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah).5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 4 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . konsultasi publik. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. dan masukan melalui berbagai media publik. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun.2014 . media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. 1. Di masa yang akan datang. lembaga-lembaga swadaya masyarakat. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6).

4. Kementerian. 5. pemerintah daerah. lembaga pemerintah. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.2014 5 . Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian. Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 3. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. 2. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.1. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 6. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga.

Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah).2014 . Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 6 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6).Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. Di masa yang akan datang. 1. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. konsultasi publik. dan masukan melalui berbagai media publik. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang.

Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Kementerian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. 3. 2. Kementerian. 4. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.1. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. lembaga pemerintah. pemerintah daerah. 6. Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 5.2014 7 .

8 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

.

.

Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG. Daerah rawan gempabumi di Indonesia tersebar pada daerah yang terletak dekat zona penunjaman maupun sesar aktif. Penunjaman lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Euro. Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur.2014 9 . Jawa. Ketiga lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Euro-Asia. 2008).1. Bali dan Nusa Tenggara.Asia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempabumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatra.1 Ancaman Gempabumi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan.1 ANCAMAN (HAZARD) 2. Daerah yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Gambar 2.1. sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng. belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara.BAB II GAMBARAN UMUM KEBENCANAAN 2.

Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini.terletak dekat zona penunjaman adalah pantai barat Sumatra.700 Daerah Pulau Timor Sumatra Barat Yogyakarta dan Jawa Tengah Liwa. Tabel 2. pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara. Opak. 2008) No.9 8. Bali. Nusa Tenggara Timur.2 Ancaman Tsunami Gempabumi yang disebabkan oleh interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan deformasi dasar laut yang mengakibatkan gelombang pasang dan tsunami apabila terjadi di samudera.000 > 5.207 100 > 1. menyajikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 7. Kepulauan Maluku dan Pulau Papua. 3. Lembang. Palu-Koro. Kepulauan Maluku dan sistem sesar aktif lainnya yang belum terungkap. Busur Belakang Flores. Beberapa sesar aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar Sumatra. Tabel 2. Jawa Tengah. Bali. Cimandiri. Nusa Tenggara.1.2014 10 . Kepulauan Maluku. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG. Lampung Bengkulu Pulau Nias Yogyakarta dan Jawa Tengah 2. Gambar 2. pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua. Baribis. 6. 4.1. Daerah Istimewa Yogyakarta. menyajikan data beberapa kejadian gempabumi di Indonesia dengan jumlah korban jiwa yang besar. Pulau Sulawesi. Maluku Utara. Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur. sesar aktif di daerah Banten.2. Sorong. Provinsi Jawa Barat. 5. pantai selatan Jawa.2 MMI VIII IX IX IX X VIII VIII Korban Jiwa (org) 250 354 213 l. 2. Sedangkan daerah di Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatra.2. Indonesia menjadi rawan terhadap ancaman tsunami.8 7 7.7 6. Ransiki. Tahun 1896 1926 1943 1994 2000 2005 2006 Magnitudo (Mw) 7. 1.

dan sel lanjutnya diperbaharu dengan da ui ata-data kejadian tsunami terkini. Kem i nia u mudian data tersebut dibandingka dengan data yang dikum an mpulkan oleh Berninghause (1966. 9 oleh letusan h gunungapi dan 1 oleh tanah longso Sebagian besar data kejadian or. en 1969). 2 p 2007) Data histori tsunami di Indonesia pad periode an is da ntara tahun 16 600-1998 telah dikom mpilasi dari ka atalog gempa destruktif (t a termasuk di d dalamnya tsunami) di seluruh dun oleh Utsu (1992).kejadian be encana tsunam di Indonesi dalam kuru waktu anta tahun mi ia un ara 1801-2006. n 110 100 kejadia di antarany disebabkan oleh gempa an ya abumi. G Gambar 2. ih Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Berdasarkan i pengolahan data tersebut.2014 11 . sebelum tahun 1970 tidak dilaporkan dengan baik sedangkan kejadian n k. Cox (1970). Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia i dalam periode 1801-2006 (Puspito. tercatat telah terjadi 1 kejadian tsunami. tsunami yang terjadi se etelah tahun 1970 telah d diteliti dan di ilaporkan dengan lebi baik. Arno (1985) da Ismail (19 old an 989).2.

Gunung-gunungapi aktif yang tersebar di Pulau Sumatra. Dalam beberapa tahun ke depan potensi risiko bencana gunungapi yang perlu mendapat perhatian ada 70 gunungapi diantaranya adalah Gunung Merapi. Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava.3 Ancaman Letusan Gunungapi Terkait dengan zona penunjaman lempeng-lempeng besar yang telah diuraikan. 2006) ada beberapa kejadian letusan lain yang menimbulkan korban jiwa besar.000 orang.3. Soputan dan Lokon. 12 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang menewaskan 4. Nusa Tenggara. Bali.190 korban jiwa dan letusan tahun 1966 dengan 210 korban jiwa. Di Jawa Timur letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5. Indonesia memiliki lebih dari 500 gunungapi dengan 129 di antaranya aktif. Selain letusan-letusan besar seperti letusan gunung Tambora yang menewaskan lebih dari 92 ribu jiwa dan Krakatau lebih dari 36 ribu orang pada abad XIX.2. Sedangkan kawah gunungapi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo.2014 . Gunung Merapi di Yogyakarta mempunyai perulangan letusan cukup pendek.000 korban jiwa. Jawa. Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku merupakan sekitar 13% dari sebaran gunungapi aktif dunia. Gambar 2. kubah lava runtuh dan menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar Gunung Merapi. Berdasarkan sejarah. antara lain letusan Gunung Kie Besi di Maluku Utara pada tahun 1760 yang menewaskan 2.011 korban jiwa dan letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menewaskan 2. Di Teluk Tomini. Sedangkan di wilayah Yogyakarta letusan Gunung Merapi tahun 928 mengakibatkan Kerajaan Mataram hancur.951 korban jiwa di Jawa Barat.2.369 orang korban jiwa dan letusan tahun 1972 menewaskan lebih dari 3. letusan tahun 1930 mengakibatkan 1. memperlihatkan sebaran gunungapi di Indonesia. Sulawesi Tengah pada tahun 1983 terjadi letusan dahsyat Gunung Colo yang mengakibatkan hancurnya sumbat lava serta membumihanguskan sekitar 2/3 wilayah Pulau Una-Una tempat lokasi Gunung Colo. berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG.

yakni Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Korban dan kerugian besar pada umumnya terjadi pada gerakan tanah jenis aliran bahan rombakan atau banjir bandang. seperti terjadi di Nias (2001) dan Bohorok Sumatra Utara (2005). kecuali Pulau Kalimantan yang hanya memiliki dua kabupaten yang rawan.Gambar 2.4 Ancaman Gerakan Tanah Selain ancaman gempabumi.2. Hampir setiap tahun Indonesia mengalami kejadian gerakan tanah yang mengakibatkan bencana. 2007) 2. Sulawesi Tengah (2007). atau yang pada umumnya dikenal sebagai tanah longsor. secara geologis Indonesia juga menghadapi ancaman gerakan tanah.3. Banten (2009). Sumatra Barat (2008) dan terakhir di Situ Gintung. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. Hampir semua pulau utama di Indonesia memiliki beberapa kabupaten dan kota yang rawan pergerakan tanah.2014 13 . 103 orang hilang. tsunami dan letusan gunungapi. yang mengakibatkan 82 orang tewas. 179 orang luka-luka dan 250 buah rumah hancur/rusak.

ini dapat menimbulka ancaman-ancaman y an yang bersifat hidrot meteorolog seperti banjir dan ke gis ekeringan.4. suhu.2. Peta zona keren ntanan gerakan tanah di Indo n onesia (PVMBG. kondisi kerentanan bang gunan dan in nfrastruktur. Di samping a h k kan itu. an kerentanan gerakan tana di Indonesi ah ia. dan kapasitas daerah seca ara umum. Daerah yan memiliki re ng elief morfolog kasar denga lereng-lere yang gi an eng terjal secara umum lebih rawan untuk terjadi gerak tanah.4 menyajika zona 4. yaitu musim pa ua anas dan mus hujan den sim ngan ciriciri perubah cuaca. Gambar 2. perburuk lagi oleh curah hujan yang tinggi d y dan gempa y yang sering t terjadi di Indonesia.5 Ancam Banjir man Secara geog grafis. Da aerah-daerah dengan risiko tingg terhadap ancaman ba gi anjir tersebar di seluruh wilayah r 14 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . siko dipengar ruhi pula oleh kondisi kerentanan berbagai un nsur lainnya seperti kepadatan dan kerentanan pe enduduk. Secara umu tingkat r um risiko bencan gerakan t na tanah di Kabupatan/ /Kota di Indonesia dite entukan oleh keberadaa lajur an pegunungan Tingkat ris n. 2.Gambar 2. 2007). dan arah angin yang c han cukup ekstrim Kondisi m. tingkat ekono omi.2014 . kondisi batuan yang tidak kompak dan mudah mengalami d k degradasi umumnya lebih mudah untuk terjadi gerakan tana Hal ini dip ah. wilayah Indonesia t terletak di da aerah iklim tr ropis dan memiliki du musim.

air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam tiga kategori: (a) Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia. penyempitan sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia. Daya tampung sistem pengaliran air tidak selamanya sama. Dampak: 2.907 242. tetapi berubah akibat sedimentasi. (b) Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai. tersumbat sampah serta hambatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Indonesia.240. terutama di daerah pantai timur Sumatra bagian utara.285 201 604.901 58.603 1005 206 104 180.649 94.790 1.087 972 180. Berdasarkan sumber airnya. Semarang dan Banjarmasin secara historis juga sering dilanda banjir. Jumlah Kejadian 2.640 1685 126. BNPB) Jumlah Kejadian Banjir dan Dampaknya 1.5 Jalan (km) 2001/02 150 2002/03 186 2003/04 143 2004/05 182 Total 661 185 18 388.435 217 230 106 102.1 Korban Manusia .346 4760 36.479 841 83.2.2014 15 . Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.605 3303 Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal.hilang . daerah pantai utara Jawa bagian barat.4 Sawah (ha) 2. dan (c) Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan. Kalimantan bagian barat dan selatan. Beberapa kota tertentu seperti Jakarta. sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap. tanggul dan bangunan pengendali banjir Tabel 2.2 Rumah Rusak 2.197 6774 905.mengungsi 2.meninggal .973 54.3 Fasos/Fasum 2.651 57.927 396 126.562 568. begitu pula daerah aliran sungai tertentu seperti daerah aliran sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa dan daerah aliran sungai Benanain di Nusa Tenggara Timur.382 72.028 94. Sulawesi Selatan dan Papua bagian selatan.

6 Ancaman Kekeringan Selain ancaman banjir. Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG.2. sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan terjadi banjir. baik di atmosfer maupun di permukaan tanah.5. Penyebab kekeringan adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang ditimbulkan oleh 16 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi dan melampaui kapasitas pengaliran. PU. ancaman alam yang bersifat hidro-meteorologis lain yang sering menimpa Indonesia adalah kekeringan. Berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi pada meningkatnya debit banjir. karena jika terjadi curah hujan tinggi.lainnya. Bakosurtanal. Kekeringan diartikan sebagai berkurangnya persediaan air sampai di bawah normal yang bersifat sementara. Gambar 2. 2008) 2.

6. Kalimantan Barat.fenomena El Niño. Lampung. pola pengairan. Kalimantan Tengah. Gambar 2. Gangguan pola tanam yang serius pada gilirannya akan mengancam keamanan pangan masyarakat. Kalimantan Timur. hampir seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa kecuali di bagian paling timur.6. memperlihatkan zona bahaya kekeringan di Indonesia. Kekeringan membawa akibat serius pada pola tanam. Riau. Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) Wilayah Indonesia yang rawan kekeringan meliputi beberapa kabupaten/kota di Sumatra Barat. Sulawesi Barat. Kekeringan mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan air bagi kegiatan manusia. Bengkulu. Sumatra Selatan. Kepulauan Bangka Belitung. Kalimantan Selatan. Maluku Utara dan Papua. Sulawesi Utara.2014 17 . dan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gambar 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Jambi. pola pengoperasian irigasi serta pengelolaan sumber daya air di permukaan lainnya. Kepulauan Riau. Sulawesi Selatan.

Kalimantan.2014 . Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) No.750. Nusa Tenggara Timur.7 Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Terkait dengan ancaman kekeringan. Nusa Tenggara. Jawa.2.198 ha 18 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .000 ha 32. Kebakaran hutan menimbulkan berbagai dampak kesehatan dan sosialekonomi. Sulawesi. Daerah di Indonesia yang rawan kebakaran hutan dan lahan terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan yang memiliki areal perkebunan dan pertanian dalam skala besar serta beberapa kabupaten/kota diantaranya di Sulawesi. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dapat mengganggu negara-negara tetangga sehingga berpotensi menganggu hubungan kenegaraan Indonesia dengan negara-negara tetangga tersebut.2. Sumatra. Sulawesi dan Maluku 500.000 ha 5. Bali. baik untuk usaha pertanian.000 ha 3 4 5 6 1982/1983 Kalimantan Timur 1987 Kalimantan. Kalimantan. kehutanan maupun perkebunan dan ditunjang oleh adanya fenomena alam El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menimbulkan kekeringan.600. Kalimantan dan Sulawesi 1994 Sumatra dan Kalimantan 1997/1998 Sumatra. Jawa. Bali.000 ha 66.400. Nusa Tenggara dan Timor 1991 Sumatra.3. 1 2 Tahun Wilayah Luas Areal Terbakar 3. Nusa Tenggara. Kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia dalam rangka membuka lahan.000 ha 9. Tabel 2. Sulawesi dan Papua 2006 Sumatra. Bali. Jawa. dan Pulau Jawa. Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Bali.2.7. Proses erosi terutama dapat mengakibatkan penipisan lapisan tanah dan penurunan tingkat kesuburan. Dari data tersebut tampak bahwa semua pulau-pulau utama Indonesia rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan.2014 19 . Erosi juga merusak daerah-daerah aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan palung sungai serta bendungan-bendungan yang ada.3.8 Ancaman Erosi Indonesia juga menghadapi ancaman erosi. pengaruh gaya berat atau organisme hidup. angin. Gambar 2. Risiko erosi tinggi di Indonesia tersebar di Pulau Sumatra. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .7.Gambar 2. Sementara itu Tabel 2. es. dan dengan demikian mempengaruhi fungsi dan usia bendungan. Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) 2. Jawa. yaitu perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh kekuatan air. menunjukkan beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang besar di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir. memperlihatkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. karena butiran tanah yang mengandung unsur hara terangkut limpasan permukaan dan diendapkan di tempat lain.

Bogor. Daerah-daerah di Indonesia yang perlu diwaspadai untuk ancaman ini meliputi kota-kota di DKI Jakarta. Depok dan sekitarnya yang sangat padat penduduk.8.9 Ancaman Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran gedung dan permukiman penduduk sangat sering terjadi di Indonesia. merupakan beberapa penyebab umum kebakaran pada gedung dan permukiman. api lilin/lampu minyak yang menyambar kasur. Bandung. Makassar.2. Zona Bahaya Erosi di Indonesia 2.2014 . Sulawesi. Padang. Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku serta Papua. kompor meledak. Perlu diwaspadai juga kota-kota besar yang memiliki jumlah penduduk sangat tinggi seperti Surabaya. Tangerang. Semarang. Ancaman muncul akibat kecerobohan manusia dalam membangun gedung atau perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan bangunan yang berlaku. Bekasi.Kalimantan. Medan. Gambar 2. terutama pada musim kemarau. Korsleting listrik. Palembang. Pekanbaru. 20 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Denpasar dan kota-kota lain yang setara tingkat kepadatannya di samping kawasan industri padat penduduk yang menggunakan bahan-bahan bakar dan bahan berbahaya.

2014 21 . Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Gelombang ekstrim pada umumnya ditimbulkan oleh siklon tropis. Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan.10 Ancaman Gelombang Ekstrim dan Abrasi Terkait perubahan iklim global. Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa. Sumatra. Kota Padang dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat. daerah yang memiliki potensi tinggi terkena gelombang ekstrim adalah wilayah pantai utara Pulau Jawa. Gelombang ekstrim adalah salah satu penyebab abrasi yang terjadi dengan cepat. Gambar Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 2007 ) 2. Indonesia semakin sering menghadapi ancaman gelombang ekstrim dan abrasi kawasan pesisir pantai. Daerah-daerah yang menghadapi risiko tinggi bencana abrasi meliputi Aceh Selatan dan Kota Banda Aceh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kota Jakarta Utara. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI-BNPB.2. Untuk wilayah di sebelah utara khatulistiwa daerah yang berpotensi terkena gelombang ekstrim adalah Pantai Sulawesi Utara. Kota Medan. Gelombang ekstrim yang melanda Indonesia berada di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan posisi siklon tropis.9.Gambar 2. Maluku dan Irian Jaya.

11. 2007) bar i 22 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI-BNPB.1 menunjukk indeks zonasi abrasi di Indonesia. kan bar i klon tropis di In ndonesia (BMK KG) Gamb 2. dan Gambar 2.2014 . 11. memp perlihatkan posisi munculn siklon tro nya opis di Indone esia. Posisi munculnya sik Gamb 2.10.10.2.

11 Ancaman Cuaca Ekstrim Cuaca Ekstrim seperti angin puting beliung. tiang listrik dan pohon-pohon. dan kawasan Indonesia bagian timur yang sangat rawan terlanda badai tropis dari arah benua Australia.2. terutama terkait dengan meningkatnya dampak perubahan iklim global. baliho.2. kecelakaan industri. pencemaran bahan kimia berbahaya atau bahan radioaktif. memperlihatkan daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terlanda badai tropis. Kegagalan teknologi dapat diakibatkan oleh kesalahan desain.12 Kegagalan Teknologi Kegagalan teknologi juga sudah mulai mengancam Indonesia. Gambar 2. Kejadian ini dapat menimbulkan dampak berupa kebakaran. pengoperasian atau kelalaian manusia dalam menggunakan teknologi. Gambar 2.2. topan dan badai tropis juga mulai banyak mempengaruhi Indonesia. atau kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban tewas serta kerugian harta benda. Tingginya kecepatan angin puting beliung dapat menimbulkan kerusakan dalam bentuk robohnya atap bangunan ringan.2014 23 .12. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis 2.12. Salah satu kegagalan teknologi yang memicu bencana alam yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Ancaman yang paling sering terjadi adalah angin puting beliung yang umumnya terjadi pada musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun dari musim kemarau ke musim hujan.

216 jiwa.600 kejadian dengan melibatkan lebih dari 130. Beberapa kejadian Flu Burung sudah teridentifikasi di Sumatra Utara dan Barat. Kecelakaan tambang seperti ledakan gas metana (CH4) yang terjadi di tambang batubara P. Data statistik tahun 2008 dari Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya mencapai 56. mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat hidup sehat dan higienis secara memadai. Perhatian khusus perlu diberikan pada keselamatan di jalan raya. Banten.sampai kini belum teratasi adalah kegagalan pengeboran di Sidoarjo yang menimbulkan luapan lumpur dari perut bumi. Berjangkitnya penyakit dapat mengancam manusia maupun hewan ternak dan berdampak serius dalam bentuk kematian dan terganggunya roda perekonomian. demam berdarah dan malaria. tanggal 16 Juni 2009. DKI Jakarta. Kerugian material dari kejadian ini tentunya amat besar.000 kendaraan dan mengakibatkan korban tewas mencapai 19. 24 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . mengakibatkan 32 korban jiwa dan luka parah/ringan 13 orang. Tabel 2.000 jiwa.4. lokasi kejadian. 2. jumlah penderita dan jumlah kematian yang ditimbulkannya. yang dalam sepuluh tahun belakangan ini jumlahnya telah melebihi jumlah korban tewas akibat Tsunami Aceh-Nias tahun 2004. Sawahlunto.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Epidemi dan wabah penyakit merupakan hal yang potensial timbul di Indonesia. antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2007. perhatian serius perlu diberikan pada jumlah korban jiwa dan kerugian yang sangat besar yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi. Selain Flu Burung.T. dan korban luka-luka lebih dari 75. Jawa Barat. Lampung.2. Dalam hal kegagalan teknologi. menunjukkan distribusi penderita diare saat Kejadian Luar Biasa yang dirinci berdasarkan waktu. dengan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman yang menjamin keselamatan para pengguna dan mendorong perilaku berlalu-lintas yang aman dan berbudaya. selain jumlah korban tewas yang sangat besar setiap tahunnya. Bukit Asam. Indonesia terutama juga sering mengalami kejadian diare. Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sumatra Barat.2014 .

314 5. seperti di Ambon. Kalimantan Barat dan beberapa tempat lain. banjir atau kebakaran hutan. Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit DBD dari tahun 2002 terus meningkat sampai tahun 2004 dengan adanya KLB.622 3. dan sedikit menurun di tahun 2005 dari 334 Kabupaten/Kota menjadi 326 Kabupaten/Kota.4. Konflik sosial yang diakibatkan oleh ulah manusia dapat berinteraksi dengan satu atau lebih kejadian alam seperti letusan gunungapi.Tabel 2. yang di beberapa tempat dapat berlangsung lama dan berkepanjangan.77 1.2.60 2. Konflik sosial dan kedaruratan kompleks memerlukan penanganan yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .428 5.980 3. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri.Kematian 100 94 128 53 127 277 46 CFR (%) 2.26 Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pada periode 1968-2006 cenderung mengalami peningkatan.2014 25 . Pemilihan kepala daerah belakangan mulai menimbulkan konflik dan kerusuhan antara berbagai kelompok pendukung calon tertentu. 1998 dan 2005.52 1.62 2.789 4. Perbedaan kepercayaan dan perbedaan tingkat kesejahteraan yang mencolok dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyulut konflik sosial.51 2. 1988. Situasi ini dikenal sebagai kedaruratan kompleks. Poso. Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Provinsi 12 15 22 17 11 16 8 Jml. Penderita 4. kemudian meningkat kembali di tahun 2006 menjadi 330 Kabupaten/Kota.051 10. yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjelma menjadi konflik sosial.661 Jml.26 1. 2.14 Konflik Sosial Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam etnis dengan bahasa dan budaya yang beraneka ragam pula. Puncak DBD terjadi pada tahun 1973. tetapi di sisi lain terkadang menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial.

2007).640. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir Podes tahun 2008 adalah sebanyak 231. Dengan demikian.960 dengan laju pertumbuhan penduduk antara tahun 2000-2005 tercatat sebesar 1.2014 . daerah rawan letusan gunungapi adalah daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunungapi. sehingga masyarakat senang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut. Begitu pula untuk ancaman-ancaman lainnya: masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi. Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk di pulau-pulau di negeri ini. mereka yang rentan terhadap gempabumi adalah yang tinggal di dekat patahanpatahan/sesar aktif. Renas PB perlu mengulas isu kerawanan sosial dan kedaruratan kompleks dengan mengkaji potensi-potensi kerawanan sosial apa saja yang dapat timbul di Indonesia. masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya memang merupakan dataran banjir.segera dan seksama. dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi. Mereka adalah warga masyarakat yang rentan karena tinggal terlalu dekat dengan sumber ancaman.3%. Keterlambatan dalam penanganan dapat berakibat pada eskalasi tingkat intensitas dan keluasan konflik. 26 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . termasuk kejadian-kejadian konflik yang pernah terjadi di masa lampau. mata air dan pemandangan yang indah. Daerah seperti ini pada umumnya mempunyai daya tarik dalam rupa tanah yang subur untuk bercocok tanam. 2. Dalam kedua situasi ini perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok-kelompok minoritas yang biasanya sangat terpengaruh oleh dampak situasi yang kurang menguntungkan ini.2 KERENTANAN DAN KAPASITAS Salah satu aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas dari pusat ancaman.5. penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di lerang-lereng yang labil. Tabel 2. Hingga kini tercatat sekitar 5 juta orang yang tinggal di wilayah sekitar tubuh gunungapi (PVMBG. Unsur kerentanan lainnya adalah tingkat kepadatan penduduk.

2014 27 .8 17.9 7.5 4. Tabel 2.1 7. diikuti oleh Pulau Sumatra.3 5.5.9 5.1 7.6 100 Pulau 1.852 orang per km2 pada tahun 2008.7 3. Begitu pula dengan tingkat pertambahan penduduk yang relatif tinggi. yang hanya merupakan 6.9 19. lapangan kerja. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .9 4. terdapat konsentrasi penduduk sangat tinggi di DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk 10.5.4 lainnya 6.2 7.7 7 7. maka tingkat kerawanan sosial akan menjadi lebih tinggi.3 100 1971 63.6 7.6 100 2008 58.3 5. diinformasikan bahwa hampir dua per tiga penduduk Indonesia (58.9 19 4. Total 100 Sumber: diolah dari BPS Pada Tabel 2. jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan berpotensi meningkatkan kerawanan sosial di Indonesia. dengan 7 jiwa untuk Provinsi Papua dan 8 jiwa untuk Provinsi Papua Barat yang paling jarang penduduknya. Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau Luas Wilayah (%) Penduduk (%) 1930 68.2 4.menyajikan distribusi persentase luas dan penduduk Indonesia berdasarkan pulau.2 100 1980 61. Sumatra 24.3 21. Sulawesi 9.6 6.3 7.7 13. dan bercampurnya masyarakat multi etnis dan budaya di pulau-pulau utama tersebut.9 Madura 2.3%) tinggal di Pulau Jawa dan Madura. Bandingkan bahwa pada saat yang sama rata-rata kepadatan penduduk Indonesia per km2 hanya 124 jiwa. Dengan terbatasnya daya dukung sumberdaya dan lingkungan.5 100 1985 60.9% dari seluruh daratan yang dimiliki Indonesia.1 4.5 3. Selain itu. juga menghadapi ancaman kerawanan sosial.3 100 1961 65 16.5 7. Jawa 6.1 7 7. menimbulkan kerentanan karena Pulau Jawa selain memiliki banyak ancaman alam termasuk gempabumi dan letusan gunungapi. Menumpuknya populasi penduduk di Pulau Jawa dan Madura. Kalimantan 28. Pulau 30.5 100 1990 60 20.2 7.4 7.

dan sebaliknya.90 38.00 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 Tahun Kota Desa Kota+Desa 27. Banyak warga desa yang tidak memiliki keahlian datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan.20 17.90 29. Data BPS tahun 2007 menyebutkan bahwa Indone sia saat ini memiliki 37.29 %. Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 1990-2007 (BPS. Tabel 2.90 17.70 31.6.30 37.60 12.4 juta orang atau 20.Unsur kerentanan lainnya adalah kemiskinan.10 13. dimana secara sosial ekonomi Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan.50 2002 2003 2004 2005 2006 2007 28 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sehingga memperbesar angka kemiskinan di perkotaan.50 47.30 25.30 26.49 23.00 50. tercatat pada Juli 2006 mencapai 7.60 12.60 49. sedangkan provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar adalah Provinsi Papua yang mencapai 39.40 11.10 26. Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah orang miskin terbanyak.60 15.168.40 34.300 penduduk miskin.20 8. Kecenderungan ini tentunya perlu ditangani dengan baik karena kemiskinan di perkotaan dapat berinteraksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan menimbulkan risiko bencana yang tinggi. jumlah penduduk miskin di perkotaan terus mengalami peningkatan dari tahun 1978-2006. Jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah pedesaan Indonesia lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di daerah perkotaan.70 25.10 39.40 37.26 %. 2007) 60.56 12.80 9. karena diasumsikan tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana.90 24.10 22. Namun.20 14.00 20. pada kurun waktu yang sama perkembangan jumlah penduduk miskin di pedesaan mengalami penurunan.2014 . Keadaan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat urbanisasi.90 32.30 8.30 38.50 25.81 14.00 30.30 24. Wilayah yang mempunyai banyak penduduk miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya.00 10.61 13.17 35.60 17.00 40.40 37.70 9.

Dengan berdirinya BNPB di tingkat pusat dan BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.370. tergantung jenis ancaman dan masing-masing ancaman menggunakan indikator spesifik. terpadu dan menyeluruh. Angka kematian bayi pada tahun 2005 adalah sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran. indikator building code untuk gempa bumi.87 %. Kerentanan sosial-ekonomi bersifat generik dan berlaku untuk semua jenis ancaman. sampai dengan tahun 2007 wajib belajar sembilan tahun belum tercapai sepenuhnya. indikator penduduk yang tinggal di kawasan rawan bahaya (KRB) untuk ancaman letusan gunungapi dan sebagainya. Sementara itu.7 tahun.050.Data Badan Pusat Statistik tahun 2007 menyebutkan bahwa dari segi pendidikan. sosial dan/atau ekonomi. pendapatan asli daerah. tingkat pendidikan. usia harapan hidup orang Indonesia adalah 68. kesehatan. Dengan kata lain.47 tahun. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tahun 2007 adalah Rp 15. sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7. Dipandang dari segi kelembagaan kapasitas ini meningkat jauh dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan dibentuknya badan independen yang menangani bencana. Dari segi ekonomi. Dalam hal kapasitas menghadapi bencana. Kerentanan sosial ekonomi yang digunakan dalam menghitung indeks kerentanan dalam Renas PB antara lain menggunakan indikator laju pertumbuhan ekonomi. Masih dibutuhkan kerja Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . tingkat melek huruf orang dewasa di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 91.-. dari segi pengeluaran penduduk. Asumsi yang digunakan adalah bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas mengenai bencana.-. Kerentanan wilayah dan penduduk terhadap ancaman dapat berupa kerentanan fisik. Dari segi kesehatan. kemiskinan dan tenaga kerja. upaya penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. produk domestik regional bruto (PDRB). Kerentanan fisik bersifat spesifik. maka tingkat kerentanannya semakin rendah. Indonesia masih terus mengembangkan diri. kepadatan dan jumlah penduduk.2014 29 . Lama pendidikan sekitar tujuh setengah tahun ini setara dengan pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama. pengeluaran per kapita riil disesuaikan untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp 624. misalkan tsunami code untuk tsunami.628.

Lembaga-lembaga semacam ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Diharapkan bahwa dengan terbentuknya forum-forum tersebut akan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah. Masyarakat seperti ini mengetahui bahaya apa yang mengancam mereka dan bagaimana cara mengurangi risiko bahaya-bahaya ini. Sejumlah Perguruan Tinggi telah memiliki pusat studi bencana atau lembaga lain yang setara seperti misalkan Institut Teknologi Bandung. dijalankan oleh staf yang cukup dan kompeten. Di tingkat nasional telah dibentuk Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB). termasuk mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko. Universitas Airlangga. Adanya kearifan lokal dalam tanggap bencana. Kapasitas juga dilihat dari potensi masyarakat dalam menangkal dampak negatif bencana. melalui gladi dan simulasi bencana.2014 . Institut Teknologi Surabaya. Universitas Andalas. Universitas Tadulako dan Universitas Syiah Kuala. jaringan sosial dan organisasi masyarakat yang kuat. Universitas Jember. dan memiliki simpanan aset atau sumber daya memadai untuk menghadapi situasi ekstrim. pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan kelompok-kelompok siaga bencana. dan didukung dengan kebijakan penanggulangan bencana yang bermutu tinggi. budaya gotong-royong dan solidaritas juga merupakan unsur yang membangun kapasitas. memiliki sumber daya dan alokasi anggaran yang memadai. mampu berkoordinasi dengan baik dengan instansi-instansi lain. Keberadaan lembaga-lembaga di tingkat masyarakat yang memiliki kegiatan kebencanaan juga berpotensi untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana. dan forum-forum pengurangan risiko bencana serupa lainnya. Universitas Gadjah Mada. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. 30 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Platform Nasional untuk pengurangan risiko bencana (Planas PRB).keras untuk mewujudkan instansi penanggulangan bencana yang independen. Kapasitas masyarakat dapat dikatakan tinggi bila masyarakat mampu membangun rumah dan permukiman yang memenuhi standar keamanan bangunan. Institut Pertanian Bogor.

2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Tenggara Bireun Gayo Lues Kota Banda Aceh Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Samosir Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3.7.2014 31 Sumatra Utara .1 Risiko Gempabumi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gempabumi di Indonesia (Lampiran 2).3 RISIKO BENCANA 2. Tabel 2. rencana penanggulangan bencana gempabumi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.7.

2014 . Mentawai Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Solok Lima Puluh Koto Padang Pariaman Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Solok Selatan Tanah Datar Kerinci Empat Lawang Kota Pagar Alam Lahat Oku Selatan Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Kota Bengkulu Lebong Muko-muko Rejang Lebong Seluma Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut 32 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Agam Kep.

2014 33 .Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kota Bandung Kota Cimahi Kota Sukabumi Sukabumi Tasikmalaya Cilacap Kebumen Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Blitar Jember Kediri Lumajang Malang Pacitan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Situbondo Sumenep Trenggalek Tulungagung Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang Badung Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Kota Denpasar Tabanan Bangli Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Sumbawa Barat Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Luwu Timur Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sangihe Kepulauan Sitaro Kepulauan Talaud Kota Bitung Kota Manado Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol 34 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Boalemo Bone Bolango Gorontalo Gorontalo Utara Kota Gorontalo Pohuwato Buru Kota Ambon Maluku Tengah Maluku Tenggara Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kepulauan Sula Tidore Manokwari Raja Ampat Biak Numfor Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Pegunungan Bintang Sarmi Supiori Tolikara Waropen Yapen Waropen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 35 .

8.2. rencana penanggulangan bencana tsunami dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Barat Daya Aceh Selatan Aceh Singkil Kota Subulussalam Mandailing Natal Nias Nias Selatan Tapanuli Tengah Kota Sibolga Padang Pariaman Agam Pasaman Barat Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Kota Padang Panjang Kota Padang Muko-Muko Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Seluma Kaur Kota Bengkulu Lampung Selatan Lampung Barat Tanggamus Kota Bandar Lampung Sumatra Utara Sumatra Barat Bengkulu Lampung 36 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .8. Tabel 2.3.2 Risiko Tsunami Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana tsunami di Indonesia (Lampiran 2).

Banten Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Pandeglang Serang Lebak Kota Cilegon Sukabumi Cianjur Garut Ciamis Tasikmalaya Kota Banjar Cilacap Purworejo Kebumen Wonogiri Bantul Kulonprogo Gunung Kidul Lumajang Banyuwangi Trenggalek Tulung Agung Pacitan Blitar Jembe Malang Badung Tabanan Jembrana Karangasem Klungkung Gianyar Lombok Timur Lombok Barat Sumbawa Bima Dompu Kota Bima Kupang Timur Tengah Selatan Sikka Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 37 .

2014 .Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Ende Ngada Manggarai Manggarai Barat Flores Lembata Alor Timur Tengah Utara Belu Rote Ndau Sumba Timur Sumba Barat Paser Penajem Paser Utara Berau Kutai Kertanegara Kutai Timur Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Baru Tanah Laut Tanahbumbu Mejene Mamuju Utara Banggai Buol Donggala Poso Toli-Toli Parigimoutong Tojo Unauna Morowali Bolaang Mongondow Minahasa Minahasa Selatan Kepulauan Sangihe Kepulauan Talaud Buton Konawe Konawe Selatan 38 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 39 .Sulawesi Selatan Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kolaka Kolaka Utara Muna Bombana Wakatobi Sinjai Bantaeng Bulukumba Bone Jeneponto Takalar Wajo Luwu Luwu Utara Luwu Timur Gorontalo Boalemo Pohuwato Bonebolango Maluku Tengah Seram Barat Seram Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat Buru Halmahera Barat Tidore Kepulauan Kepulauan Sula Halmahera Timur Halmahera Utara Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Jayapura Merauke Nabire Biak Numfor Yapen Waropen Sarmi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bener Meriah Sigli Aceh Tengah Karo Kabajahe Tapanuli Selatan Agam Pasaman Barat Solok Tanah Datar Kerinci Merangin Lahat Muara Enim Musi Rawas Rejang Lebong Lampung Barat Lampung Selatan Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Cianjur Garut Kuningan Majalengka Sukabumi Tasikmalaya Sumatra Utara Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat 40 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.2.3.9. rencana penanggulangan bencana letusan gunungapi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3 Risiko Letusan Gunungapi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana letusan gunungapi di Indonesia (Lampiran 2).9.2014 .

2014 .Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banjarnegara Banyumas Boyolali Brebes Klaten Magelang Pemalang Purbalingga Tegal Wonosobo Sleman Banyuwangi Blitar Bondowoso Jember Kediri Lumajang Malang Mojokerto Pasuruan Probolinggo Pandeglang Serang Bangli Karang Asem Badung Bima Lombok Timur Dompu Ende Flores Timur Manggarai Manggarai Barat Ngada Sikka Kalabahi Kota Bitung Minahasa Minahasa Selatan 41 Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

4 Risiko Gerakan Tanah Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gerakan tanah di Indonesia (Lampiran 2). Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Bener Meriah Bireun Gayo Lues Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Sumatra Utara 42 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .10. Tabel 2.10.3.2014 . rencana penanggulangan bencana gerakan tanah dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.Maluku Maluku Utara Minahasa Utara Kota Tomohon Kep. Talaud Sangihe Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Halmahera Barat Halmahera Utara Kota Ternate 2.

Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Utara Toba Samosir Kep.2014 43 .Mentawai Kota Bukit Tingggi Kota Padang Lima Puluh Koto Pasaman Solok Kerinci Empat Lawang Lahat Oku Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Lebong Rejang Lebong Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut Kota Sukabumi Kuningan Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Jawa Tengah Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Banjarnegara Banyumas Pekalongan Purbalingga Wonosobo Kota Batu Pacitan Pasuruan Probolinggo Sumenep Trenggalek Lebak Bangli Buleleng Jembrana Karang Asem Tabanan Bima Dompu Kota Bima Lombok Barat Lombok Timur Sumbawa Belu Ende Flores Timur Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Sikka Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Murung Raya Malinau Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sitaro 44 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kota Bitung Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Bone Enrekang Gowa Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Pinrang Sinjai Soppeng Tana Toraja Kolaka Utara Konawe Utara Kota Kendari Bone Bolango Gorontalo Majene Mamasa Mamuju Polewali Mandar Buru Maluku Tengah Tidore Kaimana 45 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Tabel 2.5 Risiko Banjir Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana banjir di Indonesia (Lampiran 2).Papua Kota Sorong Manokwari Raja Ampat Sorong Teluk Wondama Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Paniai Pegunungan Bintang Puncak Jaya Sarmi Tolikara Yahukimo Yapen Waropen 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Bireun Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhoksumawe Nagan Raya Asahan Batubara Sumatra Utara 46 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3.11. rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.2014 .11.

2014 .Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Lampung Kepulauan Bangka Belitung Dki Jakarta Jawa Barat Deli Serdang Kota Medan Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Serdang Bedagai Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Agam Pasaman Barat Kota Padang Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hulu Siak Batanghari Kota Jambi Muaro Jambi Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Kota Palembang Kota Prabumulih Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Lampung Tengah Tulangbawang Belitung Belitung Timur Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bekasi Ciamis 47 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Cirebon Indramayu Karawang Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bandung Bandung Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Banyumas Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Kebumen Kendal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Tegal Kudus Pati Pekalongan Pemalang Purworejo Semarang Tegal Bantul Kulon Progo Bangkalan Banyuwangi Bojonegoro Gresik Jombang Kodya Pasuruan Kota Mojokerto Kota Surabaya Lamongan Lumajang 48 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Malang Mojokerto Pasuruan Sidoarjo Situbondo Tuban Trenggalek Kota Tangerang Serang Tangerang Klungkung Kota Denpasar Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Singkawang Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Kota Waringin Timur Sukamara Banjar Barito Kuala 49 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Barat Papua Hulu Sei Selatan Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Tanah Bumbu Tanah Laut Tapin Bulungan Kota Tarakan Kota Manado Bone Gowa Kota Makassar Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Sidenreng Rappang Soppeng Takalar Tana Toraja Wajo Buton Buton Utara Konawe Selatan Kota Baubau Boalemo Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Kota Sorong Sorong Sorong Selatan Asmat Boven Digoel Kota Jayapura Mappi 50 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Merauke Mimika Nabire Waropen

2.3.6 Risiko Kekeringan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kekeringan di Indonesia (Lampiran 2), rencana penanggulangan bencana kekeringan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan PROVINSI Sumatra Barat KABUPATEN/KOTA Agam Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Padang Pariaman Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Tulangbawang Way Kanan
Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014 51

Riau

Jambi

Sumatra Selatan Bengkulu Lampung

Kepulauan Bangka Belitung

Kepulauan Riau

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Bangka Bangka Barat Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Kota Pangkal Pinang Bintan Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Utara Bandung Bandung Barat Bekasi Bogor Cianjur Cirebon Garut Karawang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya Majalengka Purwakarta Subang Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang

52

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur

Blora Boyolali Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Karanganyar Kebumen Kendal Klaten Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Kudus Magelang Pati Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Rembang Semarang Sragen Sukoharjo Tegal Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunungkidul Kulon Progro Bojonegoro Jombang Kediri Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Madiun
53

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Banten

Nusa Tenggara Timur

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Magetan Nganjuk Ngawi Pacitan Pamekasan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Sumenep Trenggalek Tuban Tulungagung Kota Cilegon Kota Tangerang Pandeglang Serang Tangerang Sumba Barat Daya Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Waringin Barat Kota Waringin Timur Hulu Sei Tengah Kota Baru Tabalong Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kutai Kartanegara Kutai Timur

54

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

13.7 Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (Lampiran 2).Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Maluku Utara Papua Kota Manado Kota Makassar Pangkajene Kepulauan Polewali Mandar Tidore Kota Sorong 2. Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Utara Bener Meriah Bireun Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Asahan Batubara Dairi Deli Serdang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . rencana penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.13.2014 55 Sumatra Utara .3.

2014 .Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan 56 Humbang Hasundutan Karo Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Serdang Bedagai Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Lima Puluh Koto Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Sawahlunto Sijunjung Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hilir Rokan Hulu Siak Batanghari Bungo Kerinci Merangin Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Tebo Banyuasin Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau Jawa Barat Jawa Tengah Empat Lawang Lahat Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Oku Selatan Oku Timur Bengkulu Utara Muko-Muko Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tulangbawang Way Kanan Bangka Bangka Barat Bangka Selatan Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Bintan Karimun Lingga Natuna Cirebon Indramayu Karawang Kuningan Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Boyolali Demak Grobogan Jepara 57 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Karanganyar Kendal Klaten Kudus Magelang Pati Semarang Sragen Sukoharjo Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Sleman Banyuwangi Bondowoso Madiun Magetan Nganjuk Ngawi Ponorogo Situbondo Lebak Pandeglang Serang Tangerang Banten Badung Bangli Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Tabanan Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa 58 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Barito Selatan Barito Timur Barito Utara Gunung Mas Kapuas Katingan Lamandau Murung Raya Pulang Pisau Seruyan Sukamara 59 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Balangan Barito Kuala Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Hulu Sei Utara Tabalong Tapin Kutai Barat Kutai Kartanegara Malinau Nunukan Pasir Penajem Paser Utara Buol Donggala Morowali Parigi Moutong Tojo Una-Una Toli Toli Bantaeng Barru Bone Bulukumba Enrekang Gowa Jeneponto Luwu Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Selayar Sidenreng Rappang Sinjai Soppeng Takalar Tana Toraja Ajo Bombana Buton Buton Utara 60 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

3. Tabel 2.Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Kolaka Konawe Konawe Selatan Konawe Utara Muna Boalemo Bone Bolango Gorontalo Utara Pohuwato Majene Mamasa Mamuju Mamuju Utara Polewali Mandar Maluku Tenggara Barat Merauke 2.2014 61 .8 Risiko Erosi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana erosi di Indonesia (Lampiran 2). rencana penanggulangan bencana erosi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.14. Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara KABUPATEN/KOTA Kota Sabang Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Nias Selatan Padang Sidempuan Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .14.

2014 .Sumatra Barat Bengkulu Lampung Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur 62 Toba Samosir Kota Sawahlunto Tanah Datar Bengkulu Selatan Kota Metro Bandung Bogor Ciamis Cianjur Cirebon. Garut Indramayu Kota Banjar Kota Bekasi Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Tasikmalaya Sukabumi Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang Cilacap Karanganyar Kebumen Kota Magelang Kota Surakarta Kota Tegal Magelang Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunung Kidul Kulon Progo Bangkalan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Bondowoso Kota Blitar Kota Pasuruan Kota Madiun Kota Mojokerto Pacitan Pamekasan Ponorogo Probolinggo Sampang Trenggalek Kota Cilegon Kota Tangerang Lebak Karang Asem Klungkung Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Sambas 63 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Sanggau Sekadau Sintang Banjar Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Tarakan. Kutai Timur Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Bantaeng Enrekang Gowa Jeneponto Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Tana Toraja Buton Kota Baubau Gorontalo Majene Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Halmahera Timur Tidore 64 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2.3. rencana penanggulangan bencana kebakaran gedung dan pemukiman dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2.15.2014 65 Sumatra Utara Sumatra Barat . Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Besar Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Timur Aceh Utara Lhokseumawe Pidie Simeulue Agam Asahan Dairi Deli Serdang Kota Medan Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Mandailing Natal Pakphak Barat Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Lima Puluh Koto Padang Pariaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .9 Risiko Kebakaran Gedung dan Pemukiman Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran gedung dan pemukiman di Indonesia (Lampiran 2).15.

Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Kepulauan Riau Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Selatan Pekanbaru Danau Kerinci Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Palembang Lahat Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Timur Pagar Alam Prabumulih Bengkulu Selatan Kota Bengkulu Rejang Lebong Kota Batam Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Bandung Bekasi Bogor Cianjur Garut Karawang Kota Bandung Purwakarta Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas 66 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Blora Boyolali Brebes Grobogan Purwodadi Jepara Karanganyar Kendal Klaten Kota Semarang Kota Surakarta Magelang Pemalang Purbalingga Rembang Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Kota Surabaya Mojokerto Serang Tangerang Buleleng Gianyar Jembrana Karangasem Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Mataram Sumbawa Kota Kupang Kupang Lembata Ngada Timor Tengah Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 67 .

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Papua Landak Pontianak Barito Utara Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Timur Murung Raya Palangka Raya Pulang Pisau Banjar Banjarmasin Hulu Sei Utara Kotabaru Tanah Laut Balikpapan Berau Kutai Kutai Barat Kutai Timur Samarinda Tarakan Minahasa Utara Kota Palu Bone Gowa Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Luwu Timur Pinrang Soppeng Tana Toraja Wajo Buton Kota Kendari Jayapura 68 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Banten 9.10 Risiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gelombang ekstrim dan abrasi di Indonesia (Lampiran 2). Sulawesi Selatan 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nangroe Aceh Darussalam Riau KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bireun Kota Sabang Simeuleu Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Nanggroe Aceh Darussalam 2. Daerah Istimewa Yogyakarta 10.3.11 Risiko Cuaca Ekstrim Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana cuaca ekstrim di Indonesia (Lampiran 2). Sumatra Barat 4. Nusa Tenggara Timur 6. Sumatra Utara 3.3. rencana penanggulangan bencana gelombang ekstrim dan abrasi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada provinsi berikut: 1.16. Nusa Tenggara Barat 7. rencana penanggulangan bencana cuaca ekstrim dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Jawa Barat 8.2. Tabel 2.2014 69 . Jawa Timur 12. DKI Jakarta 5.16. Jawa Tengah 11.

2014 . Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Jember Pasuruan Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang 70 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bandung Bogor Cianjur Cirebon Semarang Cilacap Tegal Pekalongan (Kabupaten-kabupaten sepanjang pantai utara).

Sulawesi Tenggara. Sumatra Barat. Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara. Banten. Jawa Barat. Tersangka Campak 11. Tersangka Anthraks 16. Bali.12 Kegagalan Teknologi Indonesia masih perlu mengadakan pemetaan lebih lanjut atas daerahdaerah yang memiliki industri atau instalasi kritis yang rawan terhadap kejadian kegagalan teknologi. Ada 424 kabupaten/kota (73. Gorontalo dan Provinsi Papua Barat. Malaria juga masih merupakan masalah besar di Indonesia. Jaundice Akut 8. mengingat tingginya jumlah korban jiwa yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi darat.3.2.3. Kalimantan Tengah. DKI Jakarta. Jawa Tengah. Diare Akut 2. Malaria Konfirmasi 3. Tersangka DBD 9. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 14. Jawa Timur. Pneumonia 5. Nusa Tenggara Barat. Tersangka Difteri 12. Kasus gigitan hewan penular rabies 15. Sulawesi Selatan. Selain itu.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Flu Burung berpotensi terjadi di Provinsi Sumatra Utara. perlu dipetakan daerah-daerah yang terutama sangat rawan. Diare Berdarah 6. Tersangka Kolera Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tersangka Demam Dengue 4.6%) yang endemik malaria. Nusa Tenggara Timur. Tersangka Demam Tifoid 7. Tersangka Flu Burung pada Manusia 10. 2.2014 71 . Lampung. Kalimantan Timur. Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan. Demam yang tidak diketahui sebabnya 17. Tersangka Pertusis 13. Daftar prioritas penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB): 1. terkait kecelakaan transportasi darat. sehingga hampir separuh (45%) penduduk Indonesia berisiko tertular Malaria.

Tersangka Meningitis/Enchepalitis 20. Tersangka Tetanus 2. daerah-daerah yang rawan konflik di Indonesia terutama adalah Provinsi: 1. Jika menggunakan indikator sejarah konflik dan banyaknya jumlah pengungsi di wilayah. Sulawesi Tenggara 9. Sulawesi Tengah 8. bila sudah sampai pada puncaknya. Tersangka Tetanus Neonatus 21. ada juga potensi konflik regional dan internasional. Kalimatan Barat 4.2014 . Maluku dan Maluku Utara 7. pengangguran yang meluas dan tingkat kemiskinan yang tinggi potensial melahirkan bibit-bibit konflik. Kalimantan Tengah 5. Konflik lokal seperti yang pernah merebak di beberapa tempat di tanah air masih mungkin pecah kembali. Sumatra Utara 3. Sulawesi Barat 10. dapat mengobarkan konflik sosial. Papua Barat 72 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .14 Konflik Sosial Indonesia saat ini masih menghadapi potensi konflik. Nusa Tenggara Timur 6. Nanggroe Aceh Darussalam 2. Begitu pula jurang yang lebar antara penduduk yang miskin dan yang kaya. misalkan di wilayah-wilayah terpencil yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia. Struktur sosial yang menciptakan ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan. Klaster penyakit yang tidak diketahui 19.3. Papua 11. Selain konflik sosial internal di tingkat masyarakat.18.

.

.

BAB III PERMASALAHAN. Upaya pemulihan pasca bencana juga belum maksimal. Perbedaan data dalam hal jumlah korban terluka dan jenis luka yang dialami korban akan mempersulit alokasi tenaga medis dan perlengkapan medis. terutama dalam hal pengerahan tenaga pencarian dan penyelamatan serta dalam koordinasi pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi para korban. termasuk obat-obatan. Tanggap darurat bencana seringkali berlangsung dengan agak tidak teratur.1 ISU DAN PERMASALAHAN Salah satu isu yang dihadapi dalam bidang penanggulangan bencana adalah kinerja yang masih belum optimal. fasilitas dan infrastruktur publik yang rusak akan menghambat penghitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang selanjutnya akan memperlambat pemulihan seluruh aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Isu lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah orientasi kelembagaan penanggulangan bencana di Indonesia yang pada umumnya masih lebih terarah pada penanganan kedaruratan dan belum pada aspek pencegahan serta pengurangan risiko bencana. masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait di Indonesia belum siap dalam menghadapi bencana sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh bencana. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah. Tampaknya pemahaman dan kesadaran bahwa risiko bencana dapat dikurangi melalui intervensi-intervensi pembangunan masih minim. rusak berat dan rusak ringan kerap kali ada beberapa versi yang saling berbeda satu sama lain. Kinerja yang belum optimal seperti belum terpadu dan menyeluruhnya koordinasi dan kerjasama dalam menghadapi situasi tanggap darurat masih terlihat. yang dibutuhkan untuk upaya pemulihan kesehatan warga yang menjadi korban. TANTANGAN DAN PELUANG 3. UndangRencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Begitu pula dengan perbedaan data dalam hal rumah.2014 73 . Data tentang jumlah korban meninggal dan mereka yang luka-luka serta jumlah rumah yang hancur total.

Informasi semacam ini sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Jumlah korban dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana akan dapat dikurangi secara signifikan dengan adanya masyarakat dan pemerintah daerah yang tangguh dan siaga bencana. Banyak daerah yang menghadapi ancaman alam seperti gempabumi. Diperlukan adanya upaya 74 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . tsunami dan letusan gunungapi. untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Pemberitaan media biasanya didominasi oleh kisah tim-tim reaksi cepat dari berbagai instansi pemerintah. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memang telah merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif (terpusat pada tanggap darurat dan pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan). Dalam banyak kejadian bencana terakhir di Indonesia belum terlihat adanya kiprah yang signifikan dari tim-tim siaga bencana komunitas. belum memiliki data dan informasi terinci tentang ancaman yang mereka hadapi berikut tingkat intensitasnya yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.undang No. tetapi dalam pelaksanaannya masih sedikit program-program pengurangan risiko bencana yang terencana dan terprogram. termasuk yang paling dominan biasanya dari angkatan bersenjata. Hal lain yang tampak mencolok dari berbagai kejadian bencana adalah masih dominannya peranan pemerintah dan pihak-pihak dari luar komunitas dalam situasi darurat bencana.2014 . termasuk pemanfaatan sistem-sistem peringatan dini yang berbasis teknologi. karena masyarakatlah yang pertama-tama berhadapan dengan bencana dan dampak-dampak negatifnya. yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa. Risiko bencana dapat dikurangi melalui program-program pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko serta penataan ruang yang berdasarkan pemetaan dan pengkajian risiko bencana. Ketangguhan dan kesiapsiagaan ini dapat dicapai melalui gladigladi dan simulasi bencana di tingkat komunitas yang dilaksanakan secara rutin dan teratur. Mengingat Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tidak semuanya mudah dijangkau. Isu lain yang masih dihadapi adalah kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengurangi risiko bencana. dan pihak swasta. penting untuk mengembangkan tim-tim siaga bencana di tingkat masyarakat.

Program-program kebencanaan harus dirancang agar tidak menambah kerentanan kelompok-kelompok ini. Pada beberapa kegiatan malah dilakukan oleh beberapa instansi. Kelompok miskin dan minoritas atau marjinal juga perlu diperhatikan dalam situasi bencana. Ketidaksetaraan gender ini akan berpengaruh pada nasib perempuan dalam situasi bencana.2014 75 . siapa berbuat apa belum jelas. mudah bagi kita untuk mengabaikan mereka yang miskin dan terpinggirkan. Setiap terjadi bencana. apa yang harus dilakukan kadang masih bingung. Apalagi pada saat sebelum terjadi bencana. Posisi yang tidak setara akan diperburuk oleh kebutuhan khusus perempuan dalam situasi bencana. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana masih menghadapi tantangan. karena mereka ini biasanya merupakan kelompok yang paling rentan. Isu yang tidak kalah pentingnya adalah belum adanya perencanaan penanggulangan bencana yang komprehensif. masih sangat abu-abu. 3. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah isu gender dan kelompok-kelompok marjinal. Hal seperti ini perlu dibuat suatu rencana penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai pelaku penanggulangan bencana. karena perempuan biasanya tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mendahulukan anak-anak dan keluarganya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai lembaga yang diamanatkan Undang-undang No.melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitianpenelitian. yang sering terabaikan dalam situasi bencana. termasuk kelompok warga miskin. sehingga terjadi tumpang tindih produk yang berbeda satu dengan yang lain yang malah membingungkan pengguna (pemerintah daerah). tetapi kadang kala tidak tahu apa yang dilakukan. Perempuan di Indonesia masih tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan. 24 Tahun 2007 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dalam situasi bencana dengan banyak kebutuhan yang beraneka ragam. Semua ingin membantu. ekonomi.2 TANTANGAN DAN PELUANG Perubahan paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif berupa pengurangan risiko bencana yang terkandung dalam Undang-undang No. ilmu dan teknologi kebencanaan. politik dan kesehatan.

tentang Penanggulangan Bencana dengan fungsi merumuskan dan menetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien. diharapkan akan terbangun mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu. Selain itu. di pihak pemerintah sendiri masih banyak daerah yang perlu ditingkatkan dalam hal kelembagaan penanggulangan bencana dan kelengkapannya. efektif. Tantangan berikutnya adalah besarnya kebutuhan pengembangan kapasitas dalam penanggulangan bencana. peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tetap (protap) kebencanaan sampai ke tingkat pemerintahan yang paling rendah. Tantangan pada fase tanggap darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik pelaku penanggulangan bencana. Banyak tim siaga bencana komunitas yang perlu dibentuk dan diberi sumber daya yang memadai. Tantangannya saat ini adalah mensosialisasikan paradigma baru tersebut agar menjelma menjadi kebijakan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bahaya. apalagi BPBD di daerah-daerah. 76 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . banyak komunitas yang perlu menerima gladi. Ibarat proses pendidikan di sekolah.2014 . “Roh pengurangan risiko bencana” perlu terus didorong agar merasuki para pembuat kebijakan dan semua kebijakan serta program pembangunan di Indonesia. masih banyak aparat pemerintah yang perlu diberi pendidikan dan pelatihan kebencanaan agar dapat melaksanakan pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko dan menyelenggarakan tanggap serta pemulihan bencana dengan baik. Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja tetapi juga rehabilitasi dan rekonstruksi. Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan penanggulangan bencana. dan mengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. Dengan pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan. upaya pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses belajar. dan menyeluruh masih berusia sangat muda. simulasi dan pelatihan kebencanaan. sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. terpadu. efisien dan handal. dan mendorong koordinasi dan kerjasama antar pihak yang baik.

terutama terkait dengan kecenderungan perubahan iklim global yang dampaknya kian memburuk. dengan kehadiran BNPB dan BPBD. sampai saat ini regulasi penanggulangan bencana terus-menerus disempurnakan. Di tingkat nasional ketertarikan berbagai pihak pada isu PRB ini terwujud dalam terbentuknya Platform Nasional PRB dan forumforum serupa di daerah. Peraturan Presiden. Peraturan Menteri dan Peraturan Kepala BNPB yang merupakan turunan Undang-undang. Peluang pertama adalah semakin kondusifnya lingkungan kebijakan yang mendukung pengurangan risiko bencana. terpadu. ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda pengurangan risiko bencana. Di tengah kebutuhan pengembangan kapasitas yang besar. Lepas dari besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. yang diikuti dengan pengesahan Peraturan-peraturan Pemerintah. penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana menjadi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dimulai dengan lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dengan adanya platform dan forum-forum ini. Mengingat tantangan-tantangan ini. peluang berikutnya adalah sudah terbentuknya BNPB dan semakin banyaknya provinsi-provinsi dan kabupaten/kota yang membentuk BPBD. menyeluruh dan efektif-efisien. Sebagian besar anggaran sampai saat ini masih lebih teralokasikan pada tanggap darurat dan pemulihan bencana. penanggulangan bencana akan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. Peluang selanjutnya adalah semakin bertumbuhnya perhatian dunia pada isu pengurangan risiko bencana.Sedang tantangan pada rehabilitasi dan rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip membangun kembali lebih baik (build back better). Pembentukan badan-badan penanggulangan bencana independen di berbagai tingkat pemerintahan ini akan lebih menjamin tertanganinya isu penanggulangan bencana dan isu terkait lainnya dengan baik. Terkait dengan lingkungan kebijakan pengurangan risiko bencana yang kian mendukung. anggaran dan sumber daya yang diperuntukkan untuk program-program pengurangan risiko bencana masih sangat terbatas. dalam perumusan program-program pengurangan risiko bencana tampaknya perlu dilaksanakan proses penyusunan prioritas yang benar. Selain itu.2014 77 .

urusan berbagai pihak. sebagai contoh dalam koridor negara asia tenggara (ASEAN) dengan membentuk AHA Center dan latihan bersama penanggulangan bencana yang dikenal dengan ARDEX sebagai implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response). Hal ini tentunya akan semakin memperkuat pelaksanaan pengurangan risiko bencana di Indonesia.2014 . Komitmen pelaku penanggulangan bencana untuk bersama-sama dalam penanggulangan bencana ini merupakan peluang lain. dan tidak hanya menjadi urusan pemerintah semata. Selain itu komitmen antar negara. masyarakat dan lembaga usaha baik berupa upaya pengentasan kemiskinan. termasuk sektor swasta dan perguruan tinggi. Bentuk-bentuk kerjasama lintas sektor baik antar pemerintah. mendukung pengurangan risiko bencana. 78 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . fasilitasi pendidikan dasar maupun meningkatkan kesehatan masyarakat.

.

.

Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal. terkoordinasi dan menyeluruh.BAB IV KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA 4. lembaga utama yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB merupakan Lembaga Pemerintah non-Kementerian yang dipimpin oleh pejabat setingkat menteri. Untuk penanganan pengungsi. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian. terpadu. BNPB Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 3.1 VISI DAN MISI Visi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: “Ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana” Misi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: 1.2014 79 . serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana.2 PENATAAN KELEMBAGAAN Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. dan menyeluruh. BNPB bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia. 2. Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko. 4. terpadu. efektif dan efisien. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana. Lembaga dan instansi terkait. Kepolisian Republik Indonesia. Basarnas dan PMI. Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana. Lembaga ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat.

BPBD dibentuk baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Kementerian Kehutanan. BPPT. Untuk penelitianpenelitian kebencanaan dalam berbagai bidang. Kementerian Pertanian. media massa dan pihak-pihak terkait lainnya. epidemi dan kejadian luar biasa. LIPI dan perguruan-perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pembentukan BPBD di 80 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . LAPAN.2014 . Sedangkan untuk bencana-bencana terkait aspek biologis seperti wabah. dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti Kementerian Riset dan Teknologi. di daerah BPBD bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan PB dan penanganan pengungsi serta melakukan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan PB. LIPI serta didukung juga oleh perguruan tinggi. BNPB bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara khusus menangani ancaman tertentu. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri No. dengan Kementerian Pekerjaan Umum. 3/2008) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Untuk pemetaan daerahdaerah rawan. Di daerah lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BMKG. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian. 46/2008. 46 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Permendagri No. Untuk pendidikan kebencanaan BNPB bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan BMKG untuk bencana-bencana geologis. Untuk bencana-bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup BNPB bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. BPBD dibentuk di setiap provinsi dan dapat dibentuk di kabupaten/kota. selain bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga teknis. Seperti juga BNPB di tingkat pusat. 46/2008). BNPB terutama dibantu oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Pembentukan BPBD mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perka BNPB No. BPPT.bekerja sama dengan Kementerian Sosial. Untuk pengembangan sistem peringatan dini. dan BMKG untuk bencana-bencana hidrometeorologis. Kementerian Agama.

yakni sebuah forum independen untuk mendorong serta memfasilitasi kerjasama antar pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia. Sampai dengan akhir bulan Oktober tahun 2009. untuk tingkat kabupaten dan kota. Boyolali. fungsi-fungsi penanggulangan bencana dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani urusan kebencanaan. sebuah forum yang didirikan untuk memfasilitasi kerjasama dalam pengelolaan Gunung Merapi secara menyeluruh pada aspek ancaman. Selain badan penanggulangan bencana pemerintah. Konsorsium Pendidikan Bencana. Sementara itu.tingkat provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda atau peraturan kepala daerah. Di tingkat pusat telah dibentuk Forum Perguruan Tinggi untuk PRB. Forum ini antara lain melibatkan pemerintah daerah beserta PMI di Kabupaten Klaten. dari 33 provinsi yang ada sudah 16 provinsi membentuk BPBD. sebuah perguruan tinggi dari Yogyakarta dan beberapa lembaga donor. Planas PRB yang dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 20 November 2008 berupaya mewadahi semua kepentingan terkait kebencanaan serta membantu menyelaraskan berbagai kebijakan. Selain Planas PRB di tingkat pusat. Magelang dan Sleman. Di tingkat daerah juga sudah terbentuk forum-forum serupa seperti Forum Merapi. di tingkat pusat dibentuk Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB). Adanya forum-forum PRB semacam ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah di seluruh Indonesia. dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia baru 21 kabupaten/kota yang memiliki BPBD. ada pula platform-platform atau forum PRB sektoral yang dibentuk oleh para pihak berkepentingan menurut sektor atau isu-isu tertentu. selaras dengan tujuantujuan Kerangka Aksi Hyogo. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kegunungapian (BPPTK). daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakatnya.2014 81 . Bagi daerah-daerah yang belum membentuk BPBD. program dan kegiatan PRB di tingkat pusat. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan lain-lain. paguyuban masyarakat Pasag Merapi. Forum Mitigasi Bencana Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. agar dapat mendukung tercapainya tujuan-tujuan PRB Indonesia dan terwujudnya ketahanan dan ketangguhan bangsa terhadap bencana.

Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Kementerian Luar Negeri mendukung program-program dan kegiatan penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional.Secara garis besar. 4. 9. 82 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi. baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana. 6. Kementerian Pertanian merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian. 2. 11. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai. Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan. peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut: 1. Kementerian Pertahanan mendukung pengamanan daerahdaerah yang terkena bencana. 10. 3. 5. saat dan pasca bencana. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan bencana lintas kementerian dan lembaga. Kementerian Keuangan penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra.2014 . 8. Kementerian Hukum dan HAM mendorong peningkatan dan penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan kebutuhan transportasi. 7.

Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal merencanakan dan mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang berdasarkan kajian risiko bencana. serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana. Kementerian Lingkungan Hidup merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif. Kementerian Sosial merencanakan kebutuhan pangan.2014 83 . sandang. 14. 17. advokasi dan deteksi dini dalam pencegahan bencana terkait lingkungan hidup. Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang peka terhadap risiko bencana. 21. 13.12. 15. Kementerian Pendidikan Nasional merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana. Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan dan mengendalikan pengadaan fasilitas dan sarana komunikasi darurat untuk mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana. dan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 18. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis. Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan programprogram usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan. dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi. 19. 16. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik. Kementerian Riset dan Teknologi melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada situasi tidak terjadi bencana. tahap tanggap darurat. 20.

LIPI membantu dalam bidang pengkajian ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.2014 . Tentara Nasional Indonesia membantu dalam kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap darurat bencana. 28. pemanfaatan dan pengendalian bahaya nuklir. Bakosurtanal merencanakan dan mengendalikan pemetaan risiko bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis. Basarnas mendukung BNPB dalam mengkoordinasikan dan menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR). 32. 36. 84 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 25. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial khususnya dari satelit. BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun panduan penanggulangan bencana. 23. BPPT membantu dalam bidang pengkajian dan penerapan teknologi khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Kementerian Perumahan Rakyat mengkoordinasikan pengadaan perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana.22. 29. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mendukung perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana. 31. BATAN membantu dalam bidang pemantauan. 27. Kepolisian Republik Indonesia membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik. pemanfaatan dan pengendalian bahaya akibat tenaga atom. klimatologi dan geofisika. 30. 24. BPN membantu dalam bidang penyediaan data-data pertanahan. Bapeten membantu dalam bidang pemantauan. 35. 34. 26. 33. BMKG membantu dalam bidang pemantauan potensi bencana yang terkait dengan meteorologi.

kebersamaan. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. Peraturan Pemerintah No. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. transparansi dan akuntabilitas.4. kelestarian lingkungan hidup. Tanggung jawab ini. berdaya guna dan berhasil guna. dan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemberdayaan. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan peraturan-peraturan pemerintah serta peraturan presiden turunan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. kemitraan. nondiskriminatif. keadilan. keselarasan.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia diatur terutama melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. meliputi pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. dan non-proletisi. pemulihan kondisi dari dampak bencana.2014 85 . ketertiban dan kepastian hukum. adalah berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. dan keserasian. Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. disebutkan bahwa asas-asas pokok dalam penanggulangan bencana meliputi asas kemanusiaan. sementara prinsip-prinsip penanggulangan bencana mencakup prinsip cepat dan tepat. sesuai amanat Pasal 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dalam situasi normal atau dalam situasi tidak terdapat bencana. program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia. koordinasi dan keterpaduan. Dalam pasal selanjutnya. sesuai ketentuan Pasal 6. keseimbangan. Pasal 3. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. prioritas.

pusat dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangan masing-masing. Beberapa kegiatan pengurangan risiko bencana tertentu akan memerlukan kerjasama antara berbagai instansi. Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana dilaksanakan melalui penyusunan peraturan. Persiapan logistik untuk mencukupi kebutuhan penduduk yang mengungsi dalam situasi darurat menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Sosial. mitigasi dan kesiapsiagaan. Pembagian peran di antara para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana juga akan menjadi hal yang diatur melalui Renas PB ini. Melalui langkah-langkah ini diharapkan upaya 86 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . seperti pengadaan sistem peringatan dini letusan gunungapi akan melibatkan Kementerian ESDM melalui Badan Geologi dan pemerintah daerah melalui BPBD. Dalam situasi ini BNPB dan BPBD dapat mengatur instansi-instansi sektoral dalam operasi tanggap darurat. Kegiatan mitigasi struktural seperti membangun tanggul penahan banjir dan jalur-jalur evakuasi. Dalam situasi darurat BNPB dan BPBD menjalankan fungsi komando. prosedur-prosedur tetap (protap) dan rencana-rencana penanggulangan bencana dari tingkat pusat sampai daerah. Dalam situasi normal. Sosialisasi sistem peringatan dini dan pelatihan penggunaannya akan melibatkan dinas pendidikan. Dalam situasi pasca bencana BNPB dan BPBD kembali menjalankan fungsinya dalam hal koordinasi dan pelaksana kegiatan-kegiatan pemulihan. menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum. Strategi yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan penanggulangan bencana Indonesia adalah sebagai berikut: 1. perguruan tinggi dan LSM. koordinasi dan sekaligus pelaksana kegiatan tanggap darurat. BNPB dan BPBD di tingkat daerah lebih menjalankan fungsi koordinasi dan pelaksana kegiatan pencegahan. misalnya saja.2014 misi . sementara fungsi-fungsi yang menjadi tanggung jawab instansi-instansi sektoral tetap dilaksanakan oleh sektor masing-masing. dengan BNPB/BPBD sebagai koordinator pelaksanaannya. Pelaksanaan penanggulangan bencana di pusat maupun daerah akan memerlukan koordinasi dengan semua sektor dan unsur masyarakat.

penanggulangan bencana akan memperoleh arah yang jelas dan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Strategi ini diharapkan akan membantu mewujudkan pembangunan yang lebih tahan terhadap risiko bencana dan menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap bencana. RPJMD. 3. Dalam era desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat. Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah masing-masing. 2. BNPB akan membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. Pemberdayaan perguruan tinggi Strategi ini bertujuan untuk memberdayakan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dan mengembangkan pengetahuan serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . RKPD dan Renja Satuan Kerja Perangkat Daerah. RKP. saat tanggap darurat dan saat pemulihan pasca bencana. Koordinasi dan kerjasama juga akan ditingkatkan antara instansi dan aparat pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang handal. Oleh karena itu. Dengan demikian program dan kegiatan pengurangan risiko tidak akan berdiri sendiri tetapi terpadu ke dalam program pembangunan reguler. dalam hal ini BNPB.2014 87 . Pemaduan program pengurangan risiko ke dalam rencana pembangunan Program-program pengurangan risiko bencana sedapat mungkin dipadukan ke dalam rencana pembangunan di tingkat pusat dan daerah. Renstra dan Renja Kementerian/Lembaga. Selain itu upaya khusus juga akan dilaksanakan untuk membentuk dan meningkatkan kapasitas badan-badan penanggulangan bencana dan instansi terkait di pusat dan daerah dalam menghadapi situasi pra-bencana. menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas penanggulangan bencana bagi daerah. baik ke dalam RPJM.

adalah lebih ekonomis dan efektif membangun kapasitas masyarakat. satu di Jakarta. Satuan ini memiliki anggota pilihan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bidang keahlian. kerelawanan akan didorong pada semua tataran dan lapisan masyarakat. kaum minoritas dan mereka yang terpinggirkan. Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRCPB) Dalam menghadapi bencana yang berdampak besar. yang berbasis di Lanud Abdul Rahman Saleh. melalui program-program spesifik yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dan anak. sementara satuan yang bermarkas di Malang akan melayani kawasan Indonesia Timur.4.2014 . Satuan yang bermarkas di Jakarta akan melayani kawasan Indonesia Barat. terutama untuk menghadapi tanggap darurat. Untuk tujuan ini. adalah lebih efektif bila kapasitas penanggulangan bencana dibangun di tingkat komunitas. Selain itu perhatian juga akan diberikan untuk masyarakat miskin. 5. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat Selain memanfaatkan perguruan tinggi daerah. Bagaimanapun juga komunitas merupakan pihak yang pertama-tama berhadapan dengan risiko bencana. Program pengurangan risiko untuk kelompok dengan kebutuhan khusus Pendekatan khusus juga akan diterapkan untuk mendorong kesetaraan gender dalam program-program kebencanaan dan pengurangan risiko. yang berbasis di Lanud Halim Perdana Kusuma. strategi yang dilakukan adalah membentuk Satuan Reaksi Cepat (stand-by force) untuk penanggulangan bencana. Mengingat Indonesia begitu luas dan memiliki penduduk yang tersebar di ribuan pulau. Keberadaan satuan ini akan meningkatkan kapasitas tanggap bencana Indonesia secara signifikan. strategi lain yang juga akan digunakan adalah pembangunan kapasitas masyarakat di daerah rawan yang menghadapi risiko bencana yang tinggi. Mengingat kapasitas tanggap darurat pemerintah yang masih terbatas. 6. serta para penyandang cacat maupun 88 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan satu di Malang. Di tingkat nasional ada dua SRC-PB induk yang dibentuk.

kelompok dengan kebutuhan khusus lainnya. 7. Terkait dengan itu. terutama yang bergerak dalam bidang finansial. 8. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Peningkatan peran dunia usaha Kalangan dunia usaha diharapkan dapat berkontribusi lebih besar lagi dalam menggalang dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi.2014 89 . terutama untuk mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat masyarakat. tetapi sebaliknya mendukung ketangguhan mereka terhadap bencana. dapat berkontribusi melalui upaya-upaya pengembangan mekanisme transfer risiko seperti asuransi bencana dan perangkat-perangkat serupa lainnya. baik LSM lokal. Kalangan dunia usaha juga dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui keterlibatan aktif dalam forum-forum pengurangan risiko bencana seperti melalui Platform Nasional PRB ataupun forum-forum serupa di tingkat daerah. nasional maupun internasional kian berperan besar terutama pada saat tanggap darurat dan pasca bencana. pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang relawan dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. Pemerintah akan bekerja sama lebih erat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mitra lainnya dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. agar program-program pengurangan risiko bencana tidak meningkatkan kerentanan mereka. Peningkatan peran LSM dan organisasi mitra pemerintah Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Terkait dengan pengurangan risiko. termasuk melalui penyelenggaraan pelatihan-pelatihan dan peningkatan kapasitas relawan. sektor swasta.

2014 .90 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

aan.1. pendana dan peng aan gembangan k kapasitas.BAB V PROGRA AM Renas PB m memuat prog gram dan fok prioritas sebagai dasa dalam kus ar membuat kegiatan penanggulangan bencana. Hal ini didukun oleh 3 (tig misi yang diemban pi ng ga) yaitu memb bangun sistem penanggul langan benca untuk me ana elindungi bangsa dar ancaman bencana me ri elalui pengur rangan risiko dengan menyelengg garakan penanggulangan b bencana secar terencana. ra terkoordina dan menye asi eluruh. Visi penanggulang bencana (Bab VI) sec n gan cara jelas menyebut cita-cita unt tuk menjadik kan bangsa y yang tangguh dalam menghadap bencana. Sis stem Penanggu ulangan Bencan Indonesia na Sistem pen nanggulangan bencana I n Indonesia ya ang saat ini tengah dibangun memiliki 5 (lima) pila berupa sub-sistem legislasi. ar perencanaa kelembaga an. Sistem ini d dibangun untu menjawab permasalaha yang dihad uk b an dapi saat ini (Bab III) dan diterje emahkan ke dalam progr ram-program sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 91 . Program me n erupakan penjabaran dari visi da misi serta pilihan tind an a dakan sesuai dengan i manajemen risiko. G Gambar 5. terpadu.

Paradigma pengurangan risiko bencana merubah pola pikir yang responsif menjadi preventif dengan pendekatan manajemen risiko. Bila pengurangan risiko sudah dilakukan dan masih tetap ada risiko. 2) perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu. pendidikan dan pelatihan. sehingga dalam pembuatan rencana aksi pengurangan risiko bencana hanya menggunakan 7 (tujuh) program tersebut. Mitigasi ini dapat dilakukan secara struktural maupun non-struktural. 6) peringatan dini. Apabila antara potensi bencana dengan elemen berisiko tersebut tidak dapat dipisahkan (harus bertemu) maka upaya yang dilakukan adalah pengurangan risiko (risk reduction).berikut : 1) penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan. Tindakantindakan dalam manajemen risiko di atas dijabarkan dalam program yaitu: 5) pencegahan dan mitigasi bencana. Apabila suatu wilayah mempunyai risiko tinggi maka upaya pengurangan risiko dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan. Kegiatan sebelum terjadi bencana/pra bencana sering disebut dengan pengurangan risiko bencana.2014 . atau dikenal dengan mitigasi. Pertama-tama dilakukan tindakan untuk memisahkan potensi bencana yang mengancam dengan elemen berisiko (element at risk). 3) penelitian. Apabila ketiga tindakan tersebut sudah dilakukan tetapi masih ada risiko. maka yang terakhir dilakukan adalah menerima risiko (risk acceptance) dan melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan. dilakukan pengalihan risiko ke pihak lain (risk transfer) misalnya melalui sistem asuransi bencana. dan 7) kesiapsiagaan. Selain program-program pengurangan risiko bencana juga terdapat program pada saat bencana dan pasca bencana. Dengan demikian Renas PB mempunyai 9 (sembilan) program. Ketujuh program di atas merupakan program yang dilakukan sebelum terjadi bencana. Program pada saat bencana adalah 8) program tanggap darurat dan program pasca bencana disebut 9) program rehabilitasi dan rekonstruksi. dan 4) peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lain dalam pengurangan risiko bencana. 92 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tindakan ini dikenal dengan pencegahan (risk avoidance).

Renas PB menggamb P barkan progra dan fokus prioritas am dalam lima tahun men a ndatang. program m-program tersebut dideskripsik kan menjadi fokus priorit tas. Sebagai ren ncana.Gam mbar 5.1. Prog gram dan fokus prioritas dalam Renas PB s No. 1. Pilihan tindakan dala manajemen risiko bencan am n na Selanjutnya agar le a ebih terarah. Secar khusus ra setiap program memiliki fokus prioritas sebelum d dideskripsikan menjadi n kegiatan-ke egiatan yang akan dilaksan nakan oleh Ke ementerian/L Lembaga. Gambaran prioritas ini sebagai ara ahan dalam menyusun k kegiatankegiatan ya akan dilak ang ksanakan oleh pelaku penanggulangan bencana h yang multi stakeholder. rotap Penangg gulangan Benca yang memuat ana Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2.2014 93 . masyarakat maupun lem t mbaga usaha sebagai rencan aksi.1 Penyusu unan peraturan perda dan pr n. Seca umum R ara Renas PB me empunyai sembilan pr rogram dan empat puluh t tujuh fokus pr rioritas. na Program da fokus priori dalam Renas PB adalah sebagai beri an itas h ikut : T Tabel 5. Sehingga dih bih harapkan tidak terjad suatu kegia di atan dilakuka oleh lebih dari 1 (satu) instansi an ) atau ada suatu kegiatan yang tidak dilakukan oleh s y satupun instansi. PR ROGRAM Penguatan peratu uran FOKUS PRIO ORITAS 1. Fokus p prioritas dima aksudkan untuk mem mberikan gam mbaran priori itas dari mas sing-masing p program. sehingga leb terfokus.

2 3.3 mekanisme PB.1 2. Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Standarisasi pedoman-pedoman dan acuan penanggulangan bencana Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lembaga Pengkoordinasian penganggaran Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 94 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .9 2. pendidikan dan pelatihan 1.perundanganan dan kapasitas kelembagaan 1.1 3. 3.2 1. Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian. termasuk pembagian tugas.4 1.6 1. serta koordinasi Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.8 2.7 1. kewenangan dan sumber daya.5 1.3 1.2 3. Satuan Reaksi Cepat Daerah) Penguatan kapasitas manajemen PB di daerah Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) dan penyediaan relawan yang memadai Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana Pembentukan Regionalisasi Depo Logistik.

3 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan 4.4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah 3.1 Pembangunan Sistem Peringatan Dini 95 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana 5.7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 4.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 4.7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan 4.4 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 3.5 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana 5. Pencegahan dan mitigasi bencana 6.4.3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan 4. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB 5. anak dan kelompokkelompok marjinal 5.7 Penelitian dan Pengembangan 6.6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 3.2 Pengembangan forum pengurangan risiko bencana (PRB) di daerah 4.6 Penerapan upaya mitigasi struktural dan nonstruktural 5.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) 4. Peringatan dini 3.2014 .1 Pemetaan risiko bencana 5.

Kesiapsiagaan 8. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 8.4 96 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .4 Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 8.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan 7. Tanggap darurat 7.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar 7.5 Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui antara lain pendidikan-pelatihan. hunian sementara. Rehabilitasi dan rekonstruksi 9.2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggap darurat 7. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 9.2 Pencarian.8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi real-time untuk tanggap darurat.2 9.3 9.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan 7.1 Kaji cepat bencana 8. sandang.1 Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Pemulihan sarana-prasarana publik dan 9.1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur 7.3 Pembentukan Satuan-satuan Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional 7.3 Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara 7.2014 .10 Peningkatan Penyuluhan.9 Penyusunan rencana kontijensi 7. pengembangan teknologi informasi 7. air bersih dan sanitasi 8. layanan kesehatan.7. penyelamatan dan evakuasi 8.

000 personil.9. Pada program no. Selanjutnya program no. Maksud regionalisasi ini adalah untuk mendukung logistik dari daerah berisiko tinggi. 5. Secara umum. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai Dalam Tabel 5. dapat dilihat bahwa program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana adalah program no. termasuk diantaranya penyiapan relawan penanggulangan bencana sebanyak 10. 5 (pencegahan dan mitigasi) sebenarnya terdapat program yang sifatnya generik ditunjukkan fokus prioritas no. Dalam 5 (lima) tahun kedepan BNPB merencanakan akan mempunyai kepanjangan tangan di daerah dengan membangun Regionalisasi Depo Logistik. 1 sampai dengan 4. Fokus prioritas dengan membentuk Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) merupakan implementasi program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana.1. 5 sampai dengan 9 merupakan program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana.5 9. Pusat Pelatihan dan Pusdalops pada 12 lokasi.6 rekonstruksi rumah warga korban bencana Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui antara lain pendidikanpelatihan. dan regionalisasi pelatihan penanggulangan bencana dengan pendekatan kearifan local. masing-masing fokus prioritas mempunyai sasaran (Lampiran 3-17) yang menggambarkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan untuk menjawab isu dan permasalahan yang dihadapi. Sasaran juga mengindikasikan lokasi-lokasi yang harus diprioritaskan karena memiliki risiko tinggi terhadap suatu ancaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 97 .5.2 sampai dengan 5.

instansi utamanya adalah Kementerian PU. 24 Tahun 2007 bahwa BNPB mempunyai fungsi pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. sehingga dalam penyusunan Renas PB masing-masing instansi mempunyai peranan penting. Tiga instansi ini telah memulai dengan membuat MoU atau kesepakatan mengenai pembuatan peta risiko bencana banjir. BMKG dan Bakosurtanal. sehingga Renas PB adalah wujud kesepakatan bersama dalam mencapai sasaran yang diinginkan dalam lima tahun ke depan.2014 . Sebagai contoh dalam mencapai sasaran terwujudnya peta risiko bencana banjir skala 1:50. Instansi utama dalam program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana terdiri dari 1 (satu) instansi. Semangat bahwa penanggulangan bencana adalah urusan bersama dituangkan dalam penyusunan Renas PB. dimana instansi utama bisa lebih dari 1 (satu) instansi. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu keterlibatan berbagai institusi (Kementerian/ Lembaga) sebagai instansi utama dan instansi terkait. 98 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Hal yang paling penting dalam melaksanakan program-program Renas PB adalah kesepakatan dan keterlibatan seluruh instansi. kerentanan dan kapasitas (Bab II). Lokasi-lokasi ini merupakan hasil dari analisis risiko bencana dengan mempertimbangkan bahaya. Dalam hal ini sebagian besar instansi utamanya adalah BNPB sebagai perwujudan Pasal 13 huruf b UU No. Sedangkan instansi terkait berperan sebagai instansi penunjang yang membantu instansi utama dalam mencapai sasaran. terpadu dan menyeluruh.bencana.000 (Lampiran 8). Hal tersebut berbeda dengan instansi utama pada program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. Instansi utama merupakan instansi yang mempunyai peran utama dan mengkoordinasi instansi terkait.

.

.

000. 7.2014 99 . 6.50 822.BAB VI ANGGARAN DAN PENDANAAN 6.1.80 1. Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp.00 7. 12. 8.(dua belas triliun delapan ratus sembilan puluh lima miliar dua belas juta rupiah).60 No. 4.475. 6.000.06 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .50 2. 9.1 ANGGARAN Anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana ini adalah Rp. 1.000.16 368.00 24.665. Tabel 6.) 30. pendidikan dan pelatihan Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB Pencegahan dan mitigasi bencana Peringatan dini Kesiapsiagaan Tanggap darurat Rehabilitasi dan rekonstruksi TOTAL 5.895. 64. Atau rata-rata pertahun Rp.000.00 64..060.012. 3.638.50 14. PROGRAM Penguatan peraturan perundanganan dan kapasitas kelembagaan Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.(enam puluh empat triliun empat ratus tujuh delapan puluh lima miliar enam puluh juta rupiah).855.677.008.415. 2.475.

Dana tersebut akan digunakan untuk pembentukan 1.000 guru.-.500.000. yang akan dipergunakan untuk kegiatan penyusunan Renas PB dan rencana penanggulangan bencana serta pengarusutamaan rencana penanggulangan bencana ke dalam rencana pembangunan di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota. pelatihan 4.855.000.-.000. 2. pembentukan kelompokkelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan. yang akan dipergunakan diantaranya meningkatkan sumberdaya manusia dalam penanggulangan bencana berupa pelatihan terhadap staf BPBD Provinsi.000.000. pembentukan 33 Pusat Studi Bencana di berbagai perguruan tinggi. penyusunan peraturan pemerintah dan peraturan daerah tentang pengelolaan sumberdaya alam yang rawan di 33 provinsi. penguatan peran media dalam menumbuhkan 100 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Program peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB dengan alokasi dana Rp.000.600. terbentuknya kantor regional. serta penusunan penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana. 24.000.2014 . pendidikan publik guna meningkatkan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota. penguatan BPBD di 33 Provinsi dan 275 kabupaten/kota. pendidikan dan pelatihan diperlukan dana Rp 368. 30. Program penelitian.160.000.500.-.Dalam program penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan diperlukan dana Rp. penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana.-.665. Program pencegahan dan mitigasi diperlukan dana Rp. Dana ini akan digunakan untuk penyusunan pedoman tata ruang dan tata guna lahan. pembentukan 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan. 6. Program perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu diperlukan dana Rp.100 desa siaga bencana di 33 provinsi. pembentukan sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota dan 5 lokakarya tahunan tentang PRB berbasis komunitas. Dana ini akan dialokasikan untuk pembiayaan 3.000.-.000.638.000 penelitian di 33 Perguruan Tinggi di Indonesia.000. peningkatan penerapan teknologi untuk dalam penanganan 14 macam bencana (termasuk pengembangan sistem peringatan dini).

peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan. Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB No. Penggunaaan dana tersebut diantaranya adalah untuk pengkajian kerusakan dan kerugian.000.489. pemulihan sarana dan prasaran publik serta pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis korban bencana.diantaranya untuk pembentukan 2 SRC-PB yang berkedudukan di Malang dan Jakarta dan akan dibentuk juga 12 SRC di 12 kantor regional. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan mobilisasi sumberdaya.dialokasikan untuk pemasangan sistem peringatan dini di provinsi yang rawan bencana. JENIS BENCANA Gempabumi Tsunami Gunungapi Gerakan Tanah ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp.007.5 931. Tabel 6.000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan.2014 . 1. Program kesiapsiagaan dengan alokasi dana Rp 7. Hal ini mengingat pada bencana gempa bumi pembangunan sarana dan prasara publik pada umumnya memerlukan pembangunan kembali.000.415. asuransi bencana di tiap provinsi. 822.008. Program tanggap darurat Rp 1.677.000.111.0 1.800.000. Program peringatan dini Rp.000.budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat dengan melatih 2. 2.000.000.) 12. dan sosialisasinya..-.500.2.6 101 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . pengumpulan dan evakuasi korban padsa saat terjadi bencana Pembiayaan terbesar terdapat pada program rehabilitasi dan rekonstruksi Rp. penyediaan kebutuhan hunian darurat. 14. pembuatan modifikasi cuaca. peningkatan peningkatan akses komunikasi di kantor pusat dan 33 provinsi.0 4.-. Dana terbesar dialokasikan untuk bencana gempa bumi. 4. 3.000. penyediaan stok logistik kebutuhan dasar. penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi.

000. dan dukungan dunia usaha serta lembaga donor.untuk 5 (lima) tahun atau ratarata pertahun sebesar Rp. Anggaran yang berasal dari dana APBN dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Kementerian/Lembaga untuk menjamin agar upaya penanggulangan bencana dapat berjalan secara berkesinambungan. 12. 8. 9. terutama paska gempabumi di Jawa Barat bagian selatan dan Sumatra Barat sebesar Rp.000. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).000.8 Apabila diklasifikasi berdasarkan jenis bencana (Tabel 6. 13. Begitu pula.5 241.5 197.2 PENDANAAN Sumber pendanaan untuk pelaksanaan rencana penanggulangan bencana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).800.500. 6.0 650.000.8.-.2014 .000. anggaran rencana penanggulangan bencana akibat kegagalan teknologi dan konflik sosial adalah yang terkecil yaitu masing-masing sebesar Rp. 2.5 156.(estimasi).5 23. 14. Hal ini disebabkan pada program rehabilitasi dan rekontruksinya masih mengalokasikan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah pasca bencana yang belum selesai. 102 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .. 11. 151.000.497.000. 10. 156..5 312. Di lain pihak.000.489.dan Rp.000.5 380.0 151. 12. 32.150..000.000.000..500.000.2 474.5. anggaran penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah yang berasal dari dana APBD dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah.atau rata-rata pertahunnya kurang dari Rp. maka rencana penanggulangan bencana gempabumi memiliki anggaran yang paling besar yaitu Rp.5 210.- 6.2). Banjir Kekeringan Kebakaran Hutan dan Lahan Erosi Kebakaran Gedung&Perumahan Gelombang Ekstrim & Abrasi Cuaca Ekstrim Kegagalan Teknologi Epidemi & Wabah Penyakit Konflik Sosial TOTAL 2.463. 7.

anggaran kegiatan penanggulangan bencana juga dapat berasal dari bantuan donor. Dalam situasi tidak terjadi bencana. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana. Mekanisme pendanaan yang berasal dari anggaran non-pemerintah diatur sesuai aturan masingmasing lembaga atau instansi. Pendanaan yang berasal dari APBN mengacu pada sistem penganggaran yang diatur melalui keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan. tanggap darurat dan pasca bencana.2014 103 . sementara itu program penanggulangan bencana yang bersifat umum dibiayai melalui anggaran BNPB. Bantuan dana dari pihak asing. dunia usaha ataupun dari dana masyarakat sendiri. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk kegiatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Di samping pendanaan dari pemerintah. pelaksanaan program dan kegiatan dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 ini harus disesuaikan dengan nomenklatur anggaran terkait penanggulangan bencana dari Kementerian/Lembaga. sebagian besar sumber daya dan pembiayaan untuk kegiatan penanggulangan bencana terpadu ke dalam kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Artinya. Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. harus disampaikan atau dikirimkan secara langsung kepada BNPB. Programprogram di dalam Renas PB yang spesifik instansi dibiayai dari anggaran masing-masing instansi bersangkutan. Dalam situasi ada potensi terjadinya bencana. dana penanggulangan bencana digunakan oleh Pemerintah.Anggaran untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan merupakan dana tambahan (on top) terhadap anggaran Renstra Kementerian/Lembaga. Artinya. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk program-program pengurangan risiko bencana. Dana penanggulangan bencana digunakan untuk tahap tidak ada bencana. Pemerintah Daerah. tetapi terintegrasi ke dalam anggaran yang terkait dengan kepentingan penanggulangan bencana. BNPB dan/atau BPBD sesuai tugas pokok dan fungsinya. yang mengacu pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

dan peraturan perundangan turunannya (Peraturan Menteri/Kepala Lembaga bersangkutan) dengan mengacu kepada rencana penanggulangan bencana di daerah. Pengajuan anggaran kegiatan penanggulangan bencana dari instansi vertikal di daerah (TNI. Sedangkan untuk tahap pasca bencana. pembangunan sistem peringatan dini dan kegiatan mitigasi bencana. Untuk mengantisipasi situasi tanggap darurat. Balai/Balai Besar Kementerian/Lembaga) mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. pemerintah mengalokasikan dana bantuan sosial berpola hibah yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah. Pemerintah daerah mengajukan permohonan untuk dana ini kepada pemerintah pusat melalui BNPB. Kepolisian.2014 . pemerintah mengalokasikan dana siap pakai (on-call budget) yang harus selalu tersedia untuk kebutuhan saat tanggap darurat. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.kesiapsiagaan. Kanwil. 104 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

Kep-102/Mk.1 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan Renas PB dan mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul agar dapat diambil tindakan sedini mungkin. 7. Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan dan sasaran pembangunan.2/2002 dan No. Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan realisasi penyerapan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan yang tercantum di dalam Renas PB ini dilaksanakan dengan mengacu pada perangkat hukum berikut: 30 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan. 40 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. EVALUASI DAN PELAPORAN Pemantauan (monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan agar sesuai dengan rencana yang telah disusun.2014 105 . 60 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.Ppn/09/2002 tentang Sistem Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Proyek Pembangunan. 50 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Kep. 70 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.BAB VII PEMANTAUAN. 292/M. 80 Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas No. Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

kinerja program serta hasil-hasil yang dicapai. rapat kerja atau pertemuan dengan pelaksana kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan dan kendala yang ditemui. dan pengecekan laporan pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko yang dikaji berdasarkan rencana kerja yang tercantum dalam Renas PB. Pasal 6 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar “Rencana penanggulangan bencana. Efektivitas. yaitu kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) dapat diselesaikan tepat waktu. Selain ketiga asas tersebut. tepat lokasi dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal.dana. Laporan hasil pemantauan disusun setiap enam bulan sekali (semester). ditinjau secara berkala setiap 2 106 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan Kemanfaatan. pelaksanaan pemantauan sebaiknya juga menilai aspek Konsistensi. Keterlibatan aktif unsur luar dapat diakomodasi dalam bentuk kelompok kerja yang dikoordinasikan oleh pemerintah. LSM dan kelompok profesional.2014 .. Pemantauan dapat dilaksanakan antara lain melalui kunjungan kerja ke program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. Kapasitas dan Keberlanjutan dari pelaksanaan suatu rencana program/kegiatan. Kegiatan pemantauan juga dapat melibatkan masyarakat (misalkan melalui Platform Nasional PRB). yakni tingkat seberapa jauh program/kegiatan mencapai hasil dan manfaat yang diharapkan.. realisasi pencapaian target keluaran (output) dan kendala yang dihadapi. Pelaksanaan pemantauan (dan juga evaluasi) dilaksanakan dengan memperhatikan asas Efisiensi. Pemantauan pelaksanaan Renas PB dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masingmasing. yakni derajat hubungan antara barang/jasa yang dihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output). kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Renas PB serta mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatankegiatan pengurangan risiko bencana. Koordinasi. Pemantauan harus dilakukan secara berkala untuk mendapatkan informasi akurat tentang pelaksanaan kegiatan. Konsultasi. Selain untuk menemukan dan menyelesaikan kendala yang dihadapi.

Kedua cara ini dapat saling mendukung dalam memberikan informasi yang bermanfaat untuk Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . evaluasi juga menjamin adanya tanggung-gugat (akuntabilitas) dan membantu meningkatkan efisiensi serta efektivitas pengalokasian sumber daya dan anggaran.2014 107 . Di samping membandingkan antara target dan pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Renas PB. objektif dan transparan. keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumber daya yang digunakan serta indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan dan/atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. menyeluruh.(dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana”. Selain dinilai berdasarkan efektivitas dan efisiensinya. Tabel 7. Kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis. Format pemantauan dan evaluasi Sumber Pendanaan Keterangan (Tindak Lanjut) Kegiatan Alokasi Sasaran (Target) Pencapaian (Realisasi) APBN Lain-lain Selain berguna untuk memperbaiki pengelolaan program di masa yang akan datang. Evaluasi berkala ini bertujuan untuk menilai hasil yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan pengurangan risiko bencana serta efektivitas dan efisiensi program dan kegiatan tersebut. Evaluasi pelaksanaan Renas PB dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang atau jasa dan terhadap hasil (outcome) program yang dapat berupa dampak atau manfaat bagi masyarakat dan/atau pemerintah. evaluasi juga dapat dilakukan dengan mengkaji dampak yang ditimbulkan melalui pelaksanaan Renas PB. Pada hakikatnya evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana program berikutnya. kinerja program pengurangan risiko bencana yang tercantum dalam Renas PB diukur juga berdasarkan kemanfaatan serta keberlanjutannya.1.

Evaluasi dapat melibatkan pihak luar. Pada akhir tahun kelima akan diadakan sebuah evaluasi akhir menyeluruh yang hasilnya akan dituangkan dalam sebuah laporan akhir yang selain berisi laporan kegiatan dan pencapaiannya juga berisi kajian atas keberhasilan/kegagalan dari semua program dan kegiatan pengurangan risiko yang telah dilaksanakan selama kurun waktu Renas PB.2 PELAPORAN Pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana harus dilaporkan dalam sebuah laporan tertulis. tetapi tetap di bawah koordinasi instansi pemerintah terkait.kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan Renas PB. Laporan hasil evaluasi disusun setiap satu tahun sekali. Laporan juga akan berisi rekomendasi tindak lanjut bagi instansi/lembaga tertentu jika diperlukan. Pada akhir tahun kedua dan keempat pelaksanaan Renas PB. BNPB akan mengkoordinasikan sebuah peninjauan atau evaluasi tengah program yang melibatkan semua Kementerian/Lembaga dan pihak terkait lainnya. Seperti pemantauan. 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 7.2014 . evaluasi pelaksanaan Renas PB juga dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing. Harapannya adalah agar semua laporan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dapat terdokumentasi dengan baik dan secara resmi dikeluarkan oleh BNPB. Laporan disusun setiap tahun dan satu salinan dari laporan ini dikirim kepada BNPB untuk disatukan dengan laporan tahunan tingkat nasional.

.

.

Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. jiwa terancam. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. kerugian harta benda dan dampak psikologis. Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna. tanggap darurat dan rehabilitasi. sakit. kerusakan lingkungan. dan gangguan kegiatan masyarakat. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. perlindungan. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang mengurangi risiko timbulnya bencana. hilangnya rasa aman.Lampiran 1. pengurusan L-1 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lampiran . pemenuhan kebutuhan dasar. harta benda. kerusakan atau kehilangan harta. Daftar istilah dan pengertian-pengertian (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. mengungsi. kegiatan pencegahan bencana. luka.

baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. yang selanjutnya disingkat BPBD. yang selanjutnya disingkat BNPB. serta pemulihan prasarana dan sarana publik. yang selanjutnya disebut Rencana L-2 Lampiran . yang selanjutnya disingkat RPJP. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. adalah lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. penyelamatan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. yang selanjutnya disebut Pemerintah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. Pemerintah Pusat. Rencana Pembangunan Jangka Panjang. yang selanjutnya disingkat RPJM. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. tegaknya hukum dan ketertiban.(9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) pengungsi. Bupati/Walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. sosial dan budaya. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana.

Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode I (satu) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (RenjaKL). adalah dokumen perencanaan kementerian/lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah Lampiran L-3 . Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode I (satu) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga. adalah dokumen perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).(18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL). adalah dokumen perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode1 (satu) tahun.

L-4 Lampiran 2. Peta-Peta Risiko Bencana " Lampiran .

Lampiran " L-5 .

L-6

Lampiran

"

Lampiran

"
L-7

L-8

Lampiran

"

Lampiran

L-9

"

L-10

Lampiran

"

Lampiran

L-11

"

L-12

Lampiran

"

Lampiran

L-13

"

L-14 Lampiran " .

Lampiran L-15 " .

L-16 " Lampiran .

" Lampiran L-17 .

L-18 " Lampiran .

" Lampiran L-19 .

L-20 " Lampiran .

" Lampiran L-21 .

BNPB Instansi terkait: . NO.KRT . perda dan protap Penanggulangan Bencana yang memuat mekanisme PB.Kementerian Kesehatan . kewenangan dan sumber daya.Polri .BMKG .LIPI . 1. serta koordinasi Peraturan. Sasaran.Kementerian kehutanan .PMI Instansi utama: .Lampiran 3.Kementerian Kelautan dan Perikanan .1 Penyusunan peraturan.2 Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops. Satuan Penguatan BPBD di 33 provinsi dan terbentuknya BPBD di 275 kabupaten/ kota. Sandingan Program. Perda. serta 350 miliar L-22 Lampiran .Basarnas . protap Penanggulangan Bencana tersusun di tingkat pusat dan 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri 25 miliar 1.Bakosurtanal .TNI . termasuk pembagian tugas.Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi terkait: .BPPT . Fokus Prioritas.Kementerian PU . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk kategori program-program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana.KementerianE SDM . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) PROGRAM : PENGUATAN PERATURAN PERUNDANGAN DAN KAPASITAS KELEMBAGAAN 1.

5 miliar 1.5 miliar Terbentuknya 12 kantor regional 30.Kementerian Pendidikan Nasional .LIPI .Kementerian PAN Instansi utama: .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .PMI Instansi utama: .5 Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana 1.BMKG .Kementerian Perhubungan .Kementerian ESDM .BNPB Instansi terkait: .Kementerian PU .4 Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) 200 miliar 1.000 staf teknis/pelaksana BPBD provinsi dan SKPD terkait menerima pelatihan teknis PB .Kementerian Komunikasi dan Informasi .300 orang pejabat BPBD di 33 provinsi memperoleh pelatihan manajemen PB 40.BNPB Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .Basarnas .BNPB 16.Reaksi Cepat Daerah) 1.Kementerian kehutanan .PT Instansi utama: .000 miliar Lampiran L-23 .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BPPT .6 Pembentukan Regionalisasi Depo 33 Pusat Studi Bencana didirikan di Perguruanperguruan Tinggi di seluruh Indonesia 16.3 Diklat penguatan kapasitas manajemen PB di daerah tersedianya sarana pendukung sesuai standar minimum 3.

Kemenko Kesra Instansi terkait: .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana Instansi utama: .PMI .Bulog .BSN .TNI .9 Pengkoordinasian penganggaran 20 Koordinasi sinkronisasi pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana 10 miliar 20 koordinasi penganggaran sektor penanggulangan 10 miliar L-24 Lampiran .Kementerian ESDM .7 Standarisasi pedomanpedoman dan acuan penanggulangan bencana 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan .KRT .Kementerian Kesehatan .LIPI .8 Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lemb aga 1.Kemenko Kesra 10 miliar 1.Kementerian Sosial .Polri 20 SNI pedoman dan acuan penanggulangan bencana Instansi utama: .BMKG .Kementerian Perhubungan .KementerianE SDM . Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Instansi terkait: .Kementerian PU .BMKG Instansi utama: .Logistik.BPPT .BNPB Instansi terkait: .Basarnas .

BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana 2.000 penelitian diadakan di 33 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia Instansi utama: . RPJMD. PROGRAM : PENELITIAN.Kementerian Pendidikan Nasional .2 Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Tersusunnya Renas PB dan Rencana Penanggulangan Bencana di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota PRB dalam RPJM.Bappenas Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri 6.KNRT Instansi terkait: . Renstra SKPD di 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: .1 Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana 3.16 miliar 3.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi utama: .BNPB .bencana Instansi terkait: .LIPI .BPPT .Kementerian ESDM .2 Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini 3. PROGRAM : PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA YANG TERPADU 2.Kementerian Kelautan dan Perikanan 150 miliar Iptek dikembangkan dan diaplikasikan untuk 14 ancaman utama 128 miliar Lampiran L-25 .1 Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah 2.BNPB Instansi terkait: .Bappenas 18 miliar Instansi utama: . PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 3. Renstra K/L.BNPB Instansi terkait: .

6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 5 lokakarya tahunan PRB-BK diselenggarakan di tingkat nasional.BNPB Instansi terkait: .Kementerian Luar Negeri ..000 guru dan tokoh masyarakat di 33 provinsi Instansi utama: .3 Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 3.BNPB 3.KementerianE SDM .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BMKG .5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 20 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri .Depdiknas Instansi terkait: . lokakarya internasional dua tahun sekali 10 miliar L-26 Lampiran .BNPB Instansi utama: .4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah Kurikulum sekolah di tingkat pusat dan daerah mengandung muatan Penanggulangan Bencana 275 sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota menerapkan program kesiapsiagaan bencana Pelatihan 4.BMKG .BNPB .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB Instansi utama: .Kementerian Sosial 5 miliar 5.5 miliar 3.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Kementerian kehutanan .Kementerian PU .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Kementerian PU .

BPPT .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Kementerian Kesehatan .BNPB .TNI .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .KNRT .Polri .Kementerian ESDM .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .PMI 3.Kementerian Kelautan dan Perikanan .TNI .7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan Peningkatan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota akan masalah kebencanaan Instansi utama: .LIPI .KRT .LIPI .Kementerian Kehutanan .Bakosurtanal ..Polri .Basarnas .BMKG .Kementerian Sosial .PMI 50 miliar Lampiran L-27 .Basarnas .Dephut .Kementerian Komunikasi dan Informasi .

Polri .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian ESDM .BNPB .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB .Kementerian LH Instansi terkait: .2 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5 miliar 4. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 4.Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Hukum dan HAM .Kementerian Dalam Negeri .1 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan Sumber Daya Alam yang rawan di 33 provinsi Instansi utama: .Kementerian ESDM .Kementerian LH Instansi terkait: .Kejaksaan .Kementerian LH 5 miliar 4.3 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana Tingkat kepatuhan terhadap peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5 miliar L-28 Lampiran .4.Kementerian PU .

BNPB 6.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Deptan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .000 .Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian LH 140 milyar 5.BNPB 10 miliar 33 forum pengurangan risiko bencana terbentuk Instansi utama: .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan Instansi utama: .Kementerian ESDM .1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 5.4 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana .Kementerian ESDM .BPN .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan ..Pedoman tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko skala 1:50.2 Pengembangan forum pengurangan 2. PROGRAM : PENINGKATAN KAPASITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PARA PEMANGKU KEPENTINGAN LAINNYA DALAM PRB 5.Kementerian Kehutanan 4.Kementerian PU .rekomendasi tata ruang berbasis risiko bencana pada provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi Instansi Utama : .6 miliar Lampiran L-29 .BMKG .

Kementerian Sosial .Kementerian Kelautan dan Perikanan 5 miliar 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan 5.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 1.Kementerian Negara UKM Instansi terkait: .100 Desa siaga bencana terbentuk di 33 provinsi 110 miliar 5.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .BNPB Instansi terkait: .3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan di 33 provinsi Instansi terkait: .Kementerian Pertanian .5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan Terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan 74 miliar L-30 Lampiran .PMI .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .Kwarnas Pramuka Instansi utama: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .risiko bencana (PRB) di daerah 5.Kementerian Pendidikan Nasional .

7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.Kementerian Pertanian 5.3 Pembentukan Satuan-satuan 50 miliar 120 miliar Lampiran L-31 .Kementerian Pemberdayaan Perempuan Instansi terkait: .KPDT .Kementerian PU .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .Bappenas Instansi utama: .000 miliar 6.TNI .Kementerian Perumahan Rakyat .6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) Asuransi bencana di tingkat pusat dan daerah untuk perumahan Instansi utama: .BNPB 5. anak dan kelompokkelompok marjinal 6.BNPB 2.BNPB .500 miliar 5.Kementerian Sosial .1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur Dua SRC PB Nasional di Jakarta dan Malang mengadakan latihan rutin dan ditingkatkan kapasitasnya dalam merespons bencana Implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response) 12 Satuan Reaksi Cepat (SRC PB) Instansi utama: . Meningkatnya kapasitas kaum perempuan. anak dan kelompok marjinal dalam menghadapi bencana di wilayah berisiko tinggi 150 miliar PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 6.2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggapa darurat 6.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: ..Kementerian Sosial Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .Polri .Kementerian Keuangan .

Kementerian Kesehatan .PMI Instansi utama: .Basarnas .Polri .BNPB .Polri .Kementerian Kesehatan .4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar Tersedianya stok logistik kebutuhan dasar 6.Kementerian Sosial .5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan Tersedianya kebutuhan dasar kesehatan untuk menghadapi kedaruratan 50 miliar 6.Kementerian Perhubungan Instansi terkait: .PMI Instansi utama: .200 miliar L-32 Lampiran .TNI .Kementerian Sosial .7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan Bandara dan pelabuhan di 12 provinsi yang paling rawan 1.BNPB .Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan Instansi terkait: .Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional terbentuk di 12 kantor regional Instansi terkait: .Kementerian PU .BNPB .Kementerian PU 300 miliar 6.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .TNI .Kementerian Sosial Instansi terkait: .6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara Tersedianya kebutuhan hunian darurat dan sementara 150 miliar 6.BNPB .Bulog Instansi utama: .

BNPB Instansi terkait: . pengembangan TI Sistem informasi bencana real-time terbentuk di pusat dan di 33 provinsi Instansi utama: .8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi realtime untuk emerjensi.011.Kementerian Komunikasi dan Informasi .6.Kementerian Dalam Negeri TOTAL 100 miliar 41.Kementerian Sosial .26 miliar Lampiran L-33 .

LAPAN Instansi Utama : .BPPT . Pemetaan kawasan rawan bencana. Fokus Prioritas.BNPB . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Peta risiko bencana gempabumi skala 1 : 50.BMKG .Bakosurtanal .Kementerian PU .Lampiran 4.Kementerian ESDM .Bakosurtanal . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . dan pemantauan gempabumi .LIPI Instansi Terkait : . pemetaan risiko bencana.Terpasangnya 400 strong motion accelograph yang tersebar di seluruh Indonesia Instansi Utama : .BMKG .LIPI . Sasaran.000 .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian PU .100 penelitian dan pengembangan mengenai 150 miliar L-34 Lampiran .Kementerian Kesehatan .LIPI Instansi Terkait : .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Penyuluhan. Sandingan Program.BMKG 2. 1. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gempabumi.Kementerian ESDM .150 miliar 3.BPS . pelatihan dan gladi mekanisme pengurangan risiko bencana 1. KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 400 miliar NO.Kementerian Sosial .23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi . Penelitian dan Pengembangan .BPPT .

Bakosurtanal . 1.BNPB Instansi Terkait : .pengurangan risiko bencana gempabumi per tahun .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri LIPI .LAPAN .BMKG .Pembentukan national board of earthquake disaster prevention .Kementerian ESDM .TNI/POLRI Instansi Utama : .Kementerian Sosial .BMKG .200 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .50 gladi kesiapsiagaan terhadap gempabumi pada wilayah berisiko tinggi terhadap 85 miliar Lampiran L-35 .BPPT .LAPAN .KRT .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian Sosial .5 miliar 2.Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .23 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gempabumi 2.BNPB Instansi Terkait : .BPPT . Peningkatan Penyuluhan. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Sosial 11. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN Penyusunan rencana kontijensi .

POLRI SRC-PB Instansi Utama : . penyelamatan dan evakuasi 3. Pencarian.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Polri .TNI .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.BPPT . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar L-36 Lampiran .Kementerian Kesehatan .gempabumi .Basarnas Instansi Terkait : .5 miliar 3. sandang.Basarnas 10 miliar 12. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan . Kaji cepat bencana 2.TNI . hunian sementara.Kementerian PU Instansi Terkait : .TNI .Polri .LAPAN . layanan kesehatan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Bakosurtanal .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .

Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .Kementerian PU 50 miliar 4..Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .BNPB.Bappenas.Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .BMKG Selesainya rehabilitasi dan rekonstruksi gempabumi Jawa Barat dan Sumatra Barat . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Perhubungan .000 miliar (estimasi) 2.Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan . .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Bappenas. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 8. .Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU . Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar Lampiran L-37 .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian ESDM 5.

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan 3. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian PU - BNPB - Kementerian Perumahan Rakyat - Kementerian Kesehatan - Kementerian Pendidikan Nasional - Kementerian Budpar - Kementerian Agama - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU 10 miliar

4. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana

2.500 miliar

5. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan, pembangunan sistem dan

20 miliar

50 miliar

L-38

Lampiran

infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BMKG TOTAL 12.489 miliar

Lampiran

L-39

Lampiran 5.
Sandingan Program, Fokus Prioritas, Sasaran, Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Tsunami.
KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 310 miliar

NO. 1.

FOKUS PRIORITAS

SASARAN

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pemetaan kawasan rawan bencana, pemetaan risiko bencana dan pemantauan tsunami

- Peta risiko
bencana tsunami skala 1 : 50.000 - Terpasangnya 25 buoy tsunami yang tersebar di seluruh Indonesia

Instansi Utama : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Terkait : - LIPI - Bakosurtanal - BPPT - Kementerian PU - BNPB Instansi Utama : Non struktural : - Kementerian ESDM Struktural : - Kementerian PU Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian Kelautan dan Perikanan - LIPI - BPPT - KRT - BNPB - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan

2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural

- 25 provinsi yang
mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami

625 miliar

L-40

Lampiran

3. Penelitian dan Pengembangan

- 100 penelitian
dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana tsunami per tahun

Instansi Utama : - KRT - LIPI - Kementerian Kelautan dan Perikanan - BMKG Instansi Terkait : - Kementerian ESDM - BPPT - Bakosurtanal - LAPAN - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : - BNPB Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Dalam Negeri - LIPI - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Bakosurtanal - LAPAN - BPPT - TNI - Polri Instansi Utama : - BNPB

50 miliar

2.

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi

- 25 rencana
kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami

50 miliar

2. Penyuluhan, pelatihan dan gladi mekanisme
Lampiran

- 100 penyuluhan
dan pelatihan pada wilayah

42.5 miliar

L-41

Basarnas 10 miliar 12.Terbangunnya sistem peringatan dini 25 provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami 4.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .Polri Instansi Utama : .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .LIPI .LAPAN . penyelamatan dan evakuasi L-42 Lampiran .Kementerian Kesehatan .TNI .TNI .Bakosurtanal . Kaji cepat bencana tsunami 2.Kementerian Sosial .Polri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian ESDM .5 miliar 237.BPPT .BPPT . Membangun system peringatan dini bencana tsunami . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian Kesehatan BNPB SRC-PB Instansi Utama : .5 miliar 3.LAPAN .KNRT Instansi Terkait : . Pencarian.Bakosurtanal .Kementerian Kelautan dan Perikanan .25 gladi kesiapsiagaan terhadap tsunami pada wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami Instansi Terkait : .tanggap darurat berisiko tinggi terhadap tsunami .

Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi utama hunian.Kementerian PU Instansi Terkait : . sanitasi : . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar Lampiran L-43 . layanan kesehatan. hunian sementara.Polri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas . sandang. air bersih.Kementerian Perhubungan Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .Polri .Kementerian Komunikasi dan Informasi 20 miliar 4.TNI .TNI .Kementerian Kesehatan 3.Instansi Terkait : .PMI . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. air bersih dan sanitasi Instansi Utama sandang pangan: .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .TNI .Polri .Kementerian PU Instansi utama layanan kesehatan : .

Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Sosial . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 3.BNPB .Kementerian Perumahan Rakyat 10 miliar 2.500 miliar L-44 Lampiran .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .BMKG 50 miliar BNPB .Kementerian Dalam Negeri . .BNPB .5.Kementerian Kesehatan .Bappenas .Bappenas . Pengkajian kerusakan dan kerugian . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 2.Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian PU .BNPB .

Peningkatan kapasitas rehabilitas dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .008. .BMKG 20 miliar 50 miliar TOTAL 4. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.BNPB .5 miliar Lampiran L-45 .Kementerian Dalam Negeri .4.Bappenas.

Kementerian ESDM Instansi Terkait : . Sandingan Program.Peta risiko bencana gunungapi skala 1 : 50. Pemetaan kawasan rawan bencana.BNPB Instansi Utama : . 1.LAPAN .Terpasangnya instrument pemantau aktivitas gunungapi pada 70 gunungapi Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Bakosurtanal .BPPT .Lampiran 6. KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 56 miliar NO.KRT . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .70 wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi 245 miliar 3.Kementerian PU .Kementerian LH Instansi Utama : . Fokus Prioritas. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gunungapi.Kementerian Dalam Negeri . pemetaan risiko bencana.BMKG .Kementerian ESDM .BMKG . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LIPI .Kementerian Kesehatan . dan pemantauan gunungapi .40 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gunungapi per tahun 60 miliar L-46 Lampiran .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .000 .Kementerian Sosial . Sasaran.BPPT .Kementerian ESDM 2.

LIPI .Kementerian Sosial .70 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gunungapi 35 miliar Lampiran L-47 .Kementerian ESDM .Kementerian Pendidikan Nasional 2.BNPB Instansi Terkait : .Polri Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . Pengamatan dan peringatan dini gunungapi Terbangunnya sIstem pengamatan guna menunjang sIstem peringatan dini di 70 gunungapi Instansi Utama : .- BPPT Bakosurtanal LAPAN LIPI Kementerian Kesehatan . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Kesehatan .BMKG .BNPB .LAPAN 210 miliar 3.BMKG . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Bakosurtanal .

pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.BPPT .Polri .BNPB Instansi Terkait : .Bakosurtanal . Penyuluhan.LIPI .Kementerian Kesehatan .TNI .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .LAPAN .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .TNI .Polri 2.. air bersih dan sanitasi 20 miliar L-48 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri 37.30 gladi kesiapsiagaan terhadap gunungapi pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi Instansi Utama : .BPPT .Kementerian PU Instansi Utama : .ESDM .Basarnas Instansi Terkait : . sandang. layanan kesehatan.Kementerian Kesehatan .Polri SRC-PB Instansi Utama : . penyelamatan dan evakuasi 7.5 miliar 10 miliar 3.30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi .TNI .5 miliar 4. Kaji cepat bencana gunungapi 2. Pencarian. hunian sementara.Kementerian Perhubungan .BMKG . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Dalam Negeri .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian Dalam Negeri . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 50 miliar .Kementerian Kesehatan - Lampiran L-49 .Polri .Kementerian ESDM .TNI .Kementerian Perhubungan .Bappenas .Kementerian PU 4. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.BMKG 10 miliar 5. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Keuangan . .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .Basarnas .BNPB . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Sosial ..

BNPB .Kementerian Keuangan .Bappenas .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri 10 miliar 3.Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui L-50 100 miliar 20 miliar 50 miliar Lampiran . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 4..Bappenas .BNPB .Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian ESDM .BNPB .Kementerian Kesehatan . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian ESDM 2.Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .Bappenas.Kementerian Kesehatan . .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Kementerian Perumahan Rakyat . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.Kementerian PU .

Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian ESDM .pendidikanpelatihan.BMKG TOTAL 931 miliar Lampiran L-51 .

Sandingan Program. Fokus Prioritas.Kementerian ESDM Instansi Terkait : .LAPAN Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gerakan Tanah.Kementerian Sosial .Kementerian ESDM .Bakosurtanal .LIPI Instansi Terkait : .BNPB .Kementerian PU .000 Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 26 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah per tahun 260 miliar 3.BNPB .BPPT .BMKG .BPPT . 1.LIPI .Lampiran 7.BMKG Instansi terkait : .Kementerian PU 2.Kementerian ESDM . Penelitian dan Pengembangan - 100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gerakan tanah per tahun 50 miliar L-52 Lampiran .LIPI . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 180 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sasaran. NO.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . Pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dan pemetaan risiko bencana gerakan tanah Peta risiko bencana gerakan tanah skala 1 : 50.

PROGRAM : PERINGATAN DINI KRT BPPT Bakosurtanal LAPAN Kementerian Sosial Kementerian Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Kementerian Perhubungan 200 miliar 1.LIPI .BNPB 3 PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.LAPAN .BMKG .Polri Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kelautan dan Perikanan .2.BPPT .BNPB .TNI .Kementerian PU .Bakosurtanal .KRT . Penyusunan rencana kontijensi 26 rencana kontijensi pada tingkat provinsi 13 miliar Lampiran L-53 . Pemantauan gerakan tanah pada jalur jalan atau wilayah vital dan strategis - Terbangunnya sistem peringatan dini 26 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .

pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat - - 100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 25 gladi kesiapsiagaan terhadap gerakan tanah pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 4.Kementerian Sosial .berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Terkait : . Kaji cepat bencana gerakan tanah 10 miliar L-54 Lampiran .BMKG .6 miliar 2.Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .Polri SRC-PB 43.LIPI .LAPAN .TNI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Komunikasi dan Informasi .LAPAN . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Bakosurtanal .Kementerian Sosial .LIPI .TNI .BPPT .BPPT .Kementerian Dalam Negeri .Polri Instansi Utama : .Kementerian ESDM .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .BNPB Instansi Terkait : . Penyuluhan.BMKG .

Bappenas 10 miliar 3.TNI . hunian sementara.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan . layanan kesehatan.Kementerian Kesehatan .Polri .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .2. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui Lampiran 50 miliar L-55 .Kementerian Perhubungan . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Terkait : .BNPB . sandang. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar 5.TNI .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian PU .Kementerian Perhubungan . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Basarnas .Kementerian Kesehatan . Pencarian.Polri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Basarnas Instansi Terkait : .

Kementerian Keuangan 25 miliar 2.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-56 Lampiran . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Bappenas .BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU . Pengkajian kerusakan dan kerugian 10 miliar 3.pendidikanpelatihan.Bappenas .Kementerian Keuangan .Bappenas .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .Kementerian PU .BNPB .Kementerian Keuangan .BNPB . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai .Kementerian ESDM .Kementerian Sosial .

Kementerian Kesehatan ..Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.BNPB . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Sosial .Kementerian ESDM .Kementerian PU .BMKG 150 miliar 20 miliar 50 miliar TOTAL 1.111.BNPB .6 miliar Lampiran L-57 .Kementerian ESDM 4.Bappenas. . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.

1. Sasaran.30 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap banjir 1.BPPT Instansi Terkait : .BPPT .Kementerian PU .Kementerian PU Instansi Terkait : .BNPB . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Penelitian dan Pengembangan .Lampiran 8. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 200 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Banjir. Sandingan Program. Fokus Prioritas.BMKG .BPPT .Peta risiko bencana banjir skala 1 : 50.BMKG .100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana banjir per tahun 50 miliar L-58 Lampiran .Kementerian ESDM .LAPAN Instansi Utama : .Kementerian PU .500 miliar 3. Pengenalan dan penentuan risiko bencana banjir .Bakosurtanal Instansi Terkait: .000 Instansi Utama : .BMKG .Kementerian Sosial .Bakosurtanal .LAPAN .LIPI .Kementerian Kesehatan 2.LIPI . NO.Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .

BPPT ..BNPB Instansi Terkait : .KRT .Kementerian Sosial .BMKG . Pembangunan Sistem Peringatan Dini banjir .Kementerian Dalam Negeri .Polri Instansi Utama : .Kementerian PU .Terbangunnya sistem peringatan dini 30 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .Kementerian Pendidikan Nasional 2.Bakosurtanal .LIPI .Kementerian Kesehatan 90 miliar 2.TNI .Kementerian Sosial .30 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap banjir 15 miliar Lampiran L-59 .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.LIPI .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU Instansi terkait: . Penyusunan rencana kontijensi .LAPAN .BNPB . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.

Kementerian Kesehatan .. Pencarian.Kementerian Kesehatan . penyelamatan dan evakuasi 7.LIPI . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri . Penyuluhan.LAPAN . L-60 20 miliar Lampiran .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .5 miliar 10 miliar 3.Kementerian ESDM .BNPB Instansi Terkait : .100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .BMKG .Polri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Sosial .TNI .TNI . Kaji cepat bencana banjir 2.Kementerian PU .TNI .Kementerian Sosial 42.25 gladi kesiapsiagaan terhadap banjir pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : . sandang.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Bakosurtanal .BPPT .Basarnas Instansi Terkait : .Polri 2.5 miliar 3.Polri SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian Komunikasi dan Informasi .

layanan kesehatan.Kementerian Dalam Negeri .BNPB . air bersih dan sanitasi Instansi Terkait : . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.hunian sementara.Polri .Kementerian PU Instansi Utama : .Basarnas .Bakosurtanal 10 miliar 4.Kementerian PU Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas .Kementerian Keuangan .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Perhubungan .BMKG .Kementerian Kesehatan .Bappenas.Kementerian Keuangan . .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 5.BNPB .Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian 50 miliar .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU 10 miliar Lampiran L-61 .Kementerian Kesehatan .

Bappenas.. .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BNPB .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 75 miliar 4.Kementerian PU . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal 10 miliar 3.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Keuangan .BMKG .150 miliar L-62 Lampiran .Kementerian Kesehatan 2.Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 10 miliar 50 miliar TOTAL 2.

Kementerian ESDM .LIPI .BPPT .BMKG .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BNPB 2.Kementerian Kehutanan .Peta risiko bencana kekeringan Instansi Utama : .BPPT .Kementerian PU .Kementerian ESDM .Bakosurtanal . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Fokus Prioritas.Lampiran 9.Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . Sandingan Program.Kementerian Sosial .Kementerian Pertanian . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana kekeringan .5 miliar 1. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kekeringan.BNPB .Kementerian PU .24 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 240 miliar Lampiran L-63 . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sasaran.Kementerian Pertanian .LAPAN Instansi terkait : . NO.LIPI .BMKG . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5.

LAPAN .Kementerian Kesehatan 3.BMKG .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 7.Kementerian Sosial .5 miliar penyuluhan L-64 Lampiran .BMKG Instansi Terkait : ..Kementerian ESDM .Bakosurtanal .Depdiknas Instansi Utama : .Kementerian Sosial .BNPB .KRT .LAPAN .Kementerian Pertanian .Kementerian ESDM . Informasi dan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal 25 miliar 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. Penelitian dan Pengembangan .LIPI .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana kekeringan per tahun Instansi Utama : .LIPI .Kementerian Dalam Negeri .

2 miliar .Bakosurtanal . layanan kesehatan.TNI . sandang.BNPB .Kementerian PU 4.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Sosial . hunian sementara. Penyusunan rencana penanggulangan kedaruratan LAPAN BPPT TNI Polri 7.Kementerian Kesehatan .LAPAN .LIPI .3.Polri Instansi Utama : .BMKG .BPPT .24 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap kekeringan Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Utama : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 15 miliar Lampiran L-65 .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. air bersih dan sanitasi 20 miliar 2.Kementerian ESDM .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .

Kementerian Keuangan 30 miliar 10 miliar 2. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-66 Lampiran .Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.BMKG . .BNPB .Kementerian Kehutanan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian Kesehatan .BNPB .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan 3.Bappenas.Kementerian Pertanian . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian PU .Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU ..Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .

Kementerian Keuangan .BNPB . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Pertanian .BMKG . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 650.Kementerian LH .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Pertanian TOTAL 250 miliar 4.BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik . .Kementerian LH 3.Kementerian PU .Bappenas.Kementerian PU ..2 miliar Lampiran L-67 .Kementerian Pertanian .

Sasaran.BMKG .10 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan per tahun .TNI .BMKG . Fokus Prioritas.Kementerian PU .LIPI .Patroli dan pengawasan melaui udara dan darat Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 50 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Pertanian .Kementerian LH .Peningkatan pengawasan pengelolaan lahan gambut untuk tidak dibakar .Kementerian Kehutanan . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BPPT . NO.Kementerian Pertanian .LAPAN Instansi Utama : . 1. Pemetaan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan .BNPB . Sandingan Program.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .SPBK (sistem peringkat bahaya kebakaran) skala 1 : 50.000 .LAPAN 2.Fasilitasi penyiapan lahan tanpa bakar untuk petani tradisional 100 miliar L-68 Lampiran .Bakosurtanal .Lampiran 10.Polri Instansi Terkait : .BNPB .

PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. Pembangunan Sistem Peringatan Dini kebakaran hutan dan lahan .BPPT .BNPB 26 miliar 4. Penyusunan rencana kontijensi .LAPAN .BMKG .Polri Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Terbangunnya sistem peringatan dini 10 provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 30 miliar 3.Pemanfaatan material yang sering dibakar Instansi Utama : .BNPB Instansi Utama : .LIPI Instansi utama: .LAPAN .TNI .Kementerian Pertanian . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.3.Bakosurtanal .BNPB .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .10 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi 5 miliar Lampiran L-69 .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran hutan dan lahan per tahun .Sinkronisasi upaya pencegahan dan mitigasi ancaman asap lintas bantas negara ASEAN 50 miliar 2.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . Implementasi AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Polution) .LAPAN .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Kementerian LH .LIPI .

Kementerian Dalam Negeri . dan air .Polri Instansi Utama : .Mobilisasi sumberdaya melalui darat.LAPAN .Polri Instansi Utama : .BPPT .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .TNI .Pembuatan 25 miliar L-70 Lampiran .5 miliar 2.Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan .BPPT .Kementerian LH 18.BNPB .Kementerian Pertanian .TNI .Kementerian Perhubungan . Operasi Pemadaman .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan .10 gladi kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 4.LAPAN . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Pertanian . udara.Kementerian Kesehatan .BNPB . Peningkatan Penyuluhan. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Kesehatan .LIPI .BMKG .BMKG .dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .

Pencarian.Kementerian Pertanian .BPPT Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Sosial . layanan kesehatan.TNI .Kementerian PU Instansi Utama : .Polri . Patroli. hewan.Kementerian Perhubungan .Evakuasi manusia. air bersih dan sanitasi . hunian sementara.Pengumpulan dan pendistrbusian bantuan 10 miliar Lampiran L-71 .Basarnas . sandang.modifikasi cuaca (hujan buatan) Instansi Terkait : .Kementerian PU .Dephub . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Polri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan 10 miliar 2.Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . penyelamatan dan evakuasi .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . dan aset-aset yang bernilai strategis 3.

Kementerian Kehutanan .4.Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .BMKG . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-72 Lampiran .Kementerian Pertanian . . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.BNPB . Inventarisasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar 2.BNPB .Bappenas .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BNPB .Kementerian Sosial .Bappenas .Kementerian LH 40 miliar 5.Kementerian Keuangan .Kementerian Pertanian .Kementerian Kesehatan .Kementerian Pertanian .

Kementerian LH .Kementerian Pertanian .Kementerian Keuangan . Pemulihan saranaprasarana publik dan reboisasi .3.Kementerian Kehutanan TOTAL 50 miliar 4.BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Kementerian PU .BNPB .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 40 miliar 474.Kementerian Kehutanan .5 miliar Lampiran L-73 .BNPB . . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Bappenas.

LIPI .Kementerian LH Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Erosi.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Terkait : . Pengenalan dan pemantauan risiko erosi Peta risiko bencana erosi Instansi Utama : . Fokus Prioritas.Lampiran 11. SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 40 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .LAPAN .Kementerian LH Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS 1. Sasaran.Kementerian Pertanian .BPPT . Penelitian dan Pengembangan - 15 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko erosi per tahun 15 miliar L-74 Lampiran .Kementerian Kehutanan 2. Sandingan Program.Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan .Bakosurtanal .Kementerian Pertanian . NO. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap erosi per tahun 230 miliar 3.

layanan kesehatan. hunian sementara. Pencarian. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Sosial . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Perhubungan .TNI .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian LH .Kementerian Kesehatan . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap erosi Instansi Utama : .Kementerian PU 3 miliar 3.Kementerian ESDM 2. sandang..Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi 2 miliar Lampiran L-75 . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Polri .BNPB Instansi Terkait : . Penyuluhan.Kementerian Kesehatan . penyelamatan dan evakuasi 1.5 miliar 2.Kementerian Pertanian .

Bappenas.Kementerian Kehutanan .Kementerian LH 30 miliar 4. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.BMKG . .Kementerian PU .Kementerian Pertanian .BNPB . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU .Kementerian Keuangan .BNPB .Kementerian Kehutanan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.5 miliar L-76 Lampiran .Kementerian Pertanian .BNPB .5 miliar 2.Kementerian LH .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian Kehutanan .3.Bappenas .Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Keuangan .

Kementerian Pertanian .BMKG .3.Kementerian Kehutanan .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 25 miliar 4. Pemulihan saranaprasarana publik - .Kementerian Pertanian .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Kementerian LH . .5 miliar Lampiran L-77 .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 380.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .

Pengenalan risiko kebakaran gedung dan permukiman . 1.25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran gedung dan permukiman per tahun 12.Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian PU .LIPI .BNPB 2.25 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman per tahun 125 miliar 3.Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Perumahan Rakyat . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian LH Instansi Utama : .10 rencana kontijensi pada 5 miliar L-78 Lampiran .Lampiran 12. Fokus Prioritas. Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .5 miliar 2.BPPT . Sandingan Program.Peta risiko bencana kebakaran gedung dan permukiman Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 20 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . Sasaran. NO.Kementerian PU Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Gedung dan Permukiman.Kementerian PU .

BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Polri .Kementerian Perhubungan .TNI .tingkat provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman Instansi Terkait : .TNI . Operasi Pemadaman Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Polri .Kementerian Kesehatan . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .Kementerian PU .Basarnas 10 miliar Lampiran L-79 .Basarnas 10 miliar 2.Kementerian Perhubungan .Basarnas . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .TNI .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman . Penyuluhan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi kebakaran gedung dan permukiman 3.

Bappenas .Kementerian PU 2.Dephub . Pengkajian kerusakan dan kerugian - .Kementerian PU Instansi Utama : .TNI/POLRI .Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara. layanan kesehatan.Kementerian Keuangan . Pencarian.BMKG 5 miliar 3.Basarnas Instansi Terkait : .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Keuangan . .2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . sandang.Kementerian Sosial . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 30 miliar 1.Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Dephub . air bersih dan sanitasi 10 miliar 4. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .5 miliar L-80 Lampiran .Bappenas.

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perumahan Rakyat .5 miliar Lampiran L-81 .BMKG 2.Kementerian Dalam Negeri . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .BNPB.Bappenas.Kementerian Perumahan Rakyat 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian PU ..5 miliar 3.BNPB .BNPB . . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar TOTAL 312. Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian Sosial .Bappenas . .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .

Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Gelombang Ekstrim dan Abrasi.BPPT .Peta resiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Instansi Utama : . Sandingan Program. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM: PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BMKG Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan .BPPT .Lampiran 13. 1.LIPI .Kementerian LH .5 miliar L-82 Lampiran . Fokus Prioritas.BMKG Instansi Terkait : .BMKG . Pengenalan dan pemantauan risiko gelombang ekstrim dan abrasi . NO.12 propinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim 90 miliar 3. Sasaran.LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .LAPAN Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Kementerian LH Instansi Utama : .BMKG .LAPAN Instansi Terkait : .LAPAN .Bakosurtanal .BPPT 2.Kementerian PU .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko gelombang 12.

.Kementerian PU . Pencarian.BMKG Instansi Utama : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BMKG .Kementerian LH .BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Basarnas 12 miliar 3.Bakosurtanal .12 provinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim Instansi Utama : .LIPI .LIPI .BNPB .BNPB Instansi Terkait : .Bakosurtanal . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Pemantauan dan penyuluhan .BPPT .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gelombang ekstrem dan abrasi 3 miliar 4.Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Utama : . Penyuluhan dan pelatihan .ekstrem dan abrasi per tahun .Kementerian PU .BMKG .Kementerian LH .Kementerian LH .LAPAN Instansi Terkait : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. penyelamatan dan evakuasi 10 miliar Lampiran L-83 .

Kementerian PU .Kementerian Sosial . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.Kementerian Perhubungan .BMKG .Kementerian Perhubungan .5 miliar L-84 Lampiran .Kementerian Sosial .BNPB . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. . layanan kesehatan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 5.Kementerian Keuangan 20 miliar 3. sandang..Bappenas.BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .TNI .Kementerian Kelautan dan Perikanan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Keuangan .Polri Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi Instansi Utama : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU 2.Kementerian PU Instansi Terkait : .Bappenas . hunian sementara.

Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian PU .5 miliar Lampiran L-85 .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian PU .Bappenas .Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 2.Kementerian LH 2.Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB . Pemulihan sarana-prasarana publik dan reboisasi 25 miliar 4.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH .Bappenas.BMKG .BNPB .Kementerian Keuangan . ..5 miliar 3. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 241.Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.

Kementerian Perhubungan .Bakosurtanal .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Lampiran 14.LAPAN Instansi Terkait : .BPPT .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian LH 2. Fokus Prioritas.Kementerian LH Instansi Utama : .BMKG . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Cuaca Ekstrim.BMKG .BPPT .LIPI .LIPI .Kementerian LH Instansi Utama : . Sasaran.14 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim per tahun 35 miliar 3.20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko cuaca ekstrim per tahun 10 miliar L-86 Lampiran . Pengenalan dan pemantauan risiko cuaca ekstrim . 1.Kementerian PU . NO.Peta risiko bencana cuaca ekstrim Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Penelitian dan Pengembangan .LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian PU . Sandingan Program.Kementerian PU .

Kementerian PU Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. air bersih dan sanitasi Lampiran 10 miliar L-87 .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Pemantauan dan penyuluhan di 14 propinsi Instansi Utama : .Basarnas .Kementerian LH Instansi Utama : .LAPAN Instansi Terkait : . penyelamatan dan evakuasi 10 miliar 2. layanan kesehatan.DKP . sandang.Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.TNI . Penyuluhan. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BMKG . Pencarian. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. hunian sementara.LAPAN Instansi Terkait : .BMKG .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU 35 miliar 2. Pemantauan dan Penyuluhan .Kementerian Sosial .BNPB . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim 3 miliar 4.Polri Instansi Terkait : .Kementerian PU .

LAPAN .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .BNPB .5 miliar . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran 5.Kementerian PU .5 miliar 3.Bappenas .Kementerian PU .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .BPPT 30 miliar 2.Kementerian LH .Kementerian Keuangan .BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.BMKG .Kementerian Perhubungan 3.Kementerian LH 1.Instansi Terkait : .BNPB .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pemulihan saranaprasarana publik 25 miliar L-88 Lampiran . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Keuangan .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .LAPAN .BNPB . .Bappenas.Kementerian PU . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BPPT TOTAL 30 miliar 197 miliar Lampiran L-89 .4.Kementerian Keuangan .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sasaran.BPPT .LIPI .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .LIPI .Kementerian LH . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kegagalan Teknologi. NO.BPPT .5 miliar L-90 Lampiran . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Perindustrian .BATAN 2.Bapeten .BATAN .Kementerian PU .Wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi per tahun 7.Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Kementerian PU . Pengenalan dan pemantauan risiko kegagalan teknologi Peta risiko bencana kegagalan teknologi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . Sandingan Program. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 10 miliar 1.Kementerian Perindustrian .Kementerian Dalam Negeri . Fokus Prioritas.Bapeten .Lampiran 15.

Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .BATAN .TNI .Bapeten .3.Kementerian Perindustrian .5 miliar 3.Kementerian PU .LIPI .Kementerian LH .Kementerian Perindustrian 5 miliar 2. Penelitian dan Pengembangan .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi 1.Bapeten Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.TNI .BATAN Instansi Utama : .Kementerian PU .Basarnas .10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kegagalan teknologi per tahun Instansi Utama : .Polri .LIPI . Penyuluhan.BPPT Instansi Terkait : .Polri .Kementerian Perhubungan .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Kementerian Perindustrian . Operasi Penanganan 10 miliar Lampiran L-91 .

Pencarian.Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai L-92 30 miliar Lampiran .Basarnas Instansi Terkait : . .Kementerian PU . layanan kesehatan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan . sandang..LAPAN 5 miliar 3. air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.Kementerian Sosial .Kementerian Perindustrian . hunian sementara.TNI .BATAN .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Basarnas .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Bapeten 2. penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Bappenas.BNPB .Polri .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Keuangan .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.

BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 161.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial ..LIPI .Kementerian PU .BATAN .LAPAN .Kementerian Perindustrian .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .Kementerian Perhubungan TOTAL 2.Kementerian Keuangan .BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU .LIPI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .BNPB . Pengkajian kerusakan dan kerugian . .5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Bapeten 4.5 miliar Lampiran L-93 .BPPT .BPPT .

Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Lampiran 16.Kementerian Kesehatan . Sandingan Program. Sasaran.Peta risiko bencana epidemi dan wabah penyakit 2.Kementerian PU Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.5 miliar L-94 Lampiran .LAPAN . Penyusunan rencana kontijensi . 1. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : . Penelitian dan Pengembangan . Fokus Prioritas.BNPB ANGGARAN INDIKATIF 8 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. NO.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Epidemi dan Wabah Penyakit.Wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 50 miliar 3. Pengenalan dan pemantauan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit .LIPI .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit per tahun 30 miliar 2. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L Instansi Utama : .5 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap epidemi 2.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .BPPT .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .dan wabah penyakit Instansi Terkait : .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .TNI . layanan kesehatan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Utama : . Penyuluhan. sandang.Polri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Kesehatan 10 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit . air bersih dan sanitasi 20 miliar Lampiran L-95 .Kementerian Sosial . hunian sementara.Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 3. Pencarian. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian PU 10 miliar 2. penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Utama : .Basarnas Instansi Terkait : .

Kementerian Perindustrian .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Keuangan .Bakosurtanal TOTAL 30 miliar 4.Bakosurtanal .BPPT .5 miliar L-96 Lampiran .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Bappenas. .Kementerian Perindustrian .BPPT . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Perhubungan .Kementerian PU .LAPAN .3.LIPI . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 20 miliar 30 miliar 210.LIPI .Kementerian Perhubungan . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 2.LAPAN .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .

5 miliar Lampiran L-97 . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Sandingan Program.LIPI .Polri . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar 1.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .BNPB 2. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Konflik Sosial. Fokus Prioritas.10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Polri . Penyuluhan.TNI .Lampiran 17. Pengenalan dan pemantauan risiko konflik sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Peta risiko bencana konflik sosial Instansi Utama : . Sasaran.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Wilayah berisiko tinggi terhadap konflik sosial per tahun 7. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko konflik sosial per tahun 5 miliar 2. NO.5 miliar 3.Kementerian Komunikasi dan Informasi . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .

Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Basarnas Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. penyelamatan dan evakuasi 5 miliar 3. layanan 10 miliar L-98 Lampiran .Kementerian PU Instansi Utama : . sandang. Operasi Penanganan 2.Polri .Polri . Pencarian. hunian sementara.TNI .Kementerian Kesehatan 10 miliar 3.Kementerian Perindustrian .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .TNI .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .terhadap konflik sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .TNI/POLRI .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .LIPI Instansi Utama : .

Kementerian Komunikasi dan Informasi . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian PU .BNPB .Kementerian PU .TNI .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui 30 miliar Lampiran L-99 .Polri .Kementerian Dalam Negeri 30 miliar 4.Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .Bappenas.BNPB .Kementerian Keuangan . air bersih dan sanitasi . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Kementerian Sosial .BNPB . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.kesehatan.Kementerian Sosial 2.Kementerian Kesehatan .Bappenas.BNPB . .Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. .Kementerian PU .Bappenas .5 miliar 2.

Polri .Kementerian Keuangan .pendidikanpelatihan.Kementerian Komunikasi dan Informasi .LIPI . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .5 miliar L-100 Lampiran .TNI .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 156.

Lampiran 18. Daftar singkatan Bakosurtanal Bapeten Basarnas BATAN BMKG BNPB BPBD BPN BPPT BPS BSN DBD DiBI ESDM K/L KLB KPB KRB LAPAN LIPI LSM PDB PDRB Perka Permendagri Planas PRB PMI PRB Protap PU PVMBG Lampiran Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Badan SAR Nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional Badan Meteorologi. Klimatologi dan Geofisika Badan Nasional Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Badan Pertanahan Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Pusat Statistik Badan Standarisasi Nasional Demam Berdarah Dengue Data dan Informasi Bencana Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian/Lembaga Kejadian Luar Biasa Konsorsium Pendidikan Bencana Kawasan Rawan Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Peraturan Kepala Peraturan Menteri Dalam Negeri Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana Palang Merah Indonesia Pengurangan Risiko Bencana Prosedur Tetap Pekerjaan Umum Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi L-101 .

L-102 Lampiran .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful