.

2 Tujuan ……………………………………………………………………………………. Pemantauan.1 Isu dan Permasalahan ……………………………………………………….DAFTAR ISI Sambutan ……………………………………………………………………………………………… Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………….……. Daftar Tabel ………………………………………………………………………………………….1 Ancaman (Hazard)…………………………………………………………………….………...…….. 79 79 79 85 91 VI.……. 7. 1.2 Kerentanan dan Kapasitas ………………………………………………..1 Anggaran ………………………………………………………………………………….……… 4.2 Tantangan dan Peluang ……………………………………………………. 102 VII.…….3 Kedudukan Dokumen dan Landasan Hukum …………………………… 1.…….……… 2. Anggaran dan Pendanaan ………………………………………………………. Evaluasi dan Pelaporan ……………………………………………. I.4 Proses Penyusunan ………………………………………………………………….3 Risiko Bencana ………………………………………………………………………… i ii iii iv 1 2 3 3 5 6 9 9 26 31 III.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1. V. Lampiran 105 105 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 99 6. Permasalahan.. 2. Pendahuluan ……………………………………………………………………………………… 1..………………………………………………………………………………..…… 4. Gambaran Umum Kebencanaan ……………………………………………………….2014 ii . 73 3.2 Penataan Kelembagaan …………………………………………………….2 Pelaporan .1 Pemantauan dan Evaluasi ………………………………………………………. 2. Daftar Gambar …………………………………………………………………………….1 Visi dan Misi ……………………………………………………………………….3 Kebijakan dan Strategi ………………………………………………………. Tantangan dan Peluang ………………………………………….5 Kaidah Pelaksanaan ………………………………………………………………… II.2 Pendanaan ……………………………………………………………………………….. Kebijakan Penanggulangan Bencana ………………………………………. 1. Program ……………………………………………………………………………………. 75 IV.………. 7.. 4. 73 3. 99 6.

.

Tabel 2......3.1. 15 Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) ………………………………………………… 18 Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 ……. Tabel 2...5.1. 2008). …………………………………………………… 10 Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI..4. 55 Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi ……………………………………….. Tabel 2. 46 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan …………………………….. 101 Format pemantauan dan evaluasi ……………………………………. Tabel 2...2. Tabel 6. 107 Tabel 2.. Tabel 2.. 65 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 69 Program dan fokus prioritas dalam Renas PB …………………… 93 Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB 99 Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB ………………………………………………………………………….DAFTAR TABEL Tabel 2..2014 iii . 2007) ………………………………………………………………... 42 Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir ……………………………………. 27 Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 19902007 (BPS.. Tabel 2... Tabel 2.. 36 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi ……………………………...14.15. Tabel 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 28 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 31 Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami .11.... Tabel 2.. Tabel 6... Tabel 5..2..9... 25 Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau …………………………………………………………….6. 40 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah ……………………….. 51 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan …..1. BNPB) …………………..... Tabel 2. Tabel 2.1.. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.. Tabel 2.8.16.10.... Tabel 7.12. 61 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman ……………………………………………………………………. Tabel 2.7. Tabel 2.13.

.

............DAFTAR GAMBAR Gambar 2.......2..........2014 iv ......10. 2007)………….1. BNPB) …………….. BNPB) ………………………………………………… Posisi munculnya siklon tropis di Indonesia (BMKG) ......7...... Zona kerentanan gerakan tanah di Indonesia (ESDM)… Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG...6... PU) ……………………………………………………………………………… Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) …………… Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) ..... Gambar 5.3... Zona Bahaya Erosi di Indonesia …………………………………….8.. Gambar 2. Gambar 2. Gambar 2..9........Bakosurtanal......1. Gambar 5... Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI...... Gambar 2.. Gambar 2. 2008) …………………………………………………………………………… Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia dalam periode 1801-2006 (Puspito... Gambar 2....2. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.. Gambar 2. Gambar 2...11.....4.12...5.. Gambar 2... Gambar 2.... Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 ....... Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis …………………… Sistem Penanggulangan Bencana Indonesia ………………… Pilihan tindakan dalam manajemen risiko bencana ……… 9 11 13 14 16 17 19 20 21 22 22 23 91 93 Gambar 2. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. 2007) ...

.

.

.

Bencana yang paling mematikan pada awal abad XXI juga bermula dari Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tempat terjadinya dua letusan gunungapi terbesar di dunia. Sebagian dari material vulkanik ini membentuk lapisan di atmosfir yang memantulkan balik sinar matahari ke atmosfir. Gempabumi ini memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 225. bumi tidak menerima cukup panas dan terjadi gelombang hawa dingin. Banjir yang hampir setiap tahun menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya. Tahun 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa. Dalam abad yang sama.7 juta ton abu dan material vulkanik. Pada tanggal 26 Desember 2004. Indonesia juga tidak lepas dari bencana besar yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit. meletus dan mengeluarkan sekitar 1.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dalam Perang Dunia II.2014 1 . Nusa Tenggara Barat.000 jiwa di sebelas negara dan menimbulkan kehancuran hebat di banyak kawasan pesisir di negara-negara yang terkena. Erupsi Krakatau diperkirakan memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT. Selain bencana-bencana berskala besar yang pernah tercatat dalam sejarah. sebuah gempabumi besar terjadi di dalam laut sebelah barat Pulau Sumatra di dekat Pulau Simeuleu. kira-kira 13. Gelombang hawa dingin membuat tahun 1816 menjadi “tahun yang tidak memiliki musim panas” dan menyebabkan gagal panen di banyak tempat serta kelaparan yang meluas.BAB I PENDAHULUAN 1.708 korban jiwa dan nilai kerusakan yang ditimbulkannya mencapai lebih dari Rp 48 triliun. Di Indonesia sendiri gempabumi dan tsunami mengakibatkan sekitar 165.1 LATAR BELAKANG Indonesia adalah sebuah negeri yang rawan bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Karena sinar matahari yang memasuki atmosfir berkurang banyak. Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Sepanjang abad XX hanya sedikit bencana yang menimbulkan korban jiwa masif seperti itu.

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana yang selanjutnya disebut Renas PB. Program-program kegiatan dalam Renas PB disusun berdasarkan visi misi penanggulangan bencana dan rencana tindakan yang harus diambil sesuai dengan manajemen risiko. penanganan kondisi tanggap darurat yang efisien dan upaya pemulihan yang tepat sasaran. Demikian pula kekeringan yang semakin sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. selain mengancam produksi tanaman pangan juga kian mempermiskin penduduk yang mata pencahariannya tergantung pada pertanian. Renas PB layaknya proposal dari pemerintah memuat upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang efektif. Untuk menghadapi peningkatan potensi dan kompleksitas bencana di masa depan dengan lebih baik. dimulai dari identifikasi ancaman bencana.kota-kota di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo dan beberapa daerah lain di Indonesia menimbulkan kerugian material dan non-material senilai triliunan rupiah. Penyusunan Renas PB merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Rencana ini menggambarkan kondisi yang diinginkan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam 5 (lima) tahun mendatang mengenai penanggulangan bencana. terkoordinasi dan menyeluruh. merupakan wujud dari upaya pemerintah terkait untuk merumuskan program-program kegiatan dan fokus prioritas penanggulangan bencana. Dalam pelaksanaannya perlu dipadukan dalam 2 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Rencana ini menjadi salah satu bagian kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang merupakan prioritas 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II yang disebut sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana. Renas PB adalah sebuah dokumen resmi yang memuat data dan informasi tentang risiko bencana yang ada di Indonesia dalam kurun waktu antara 2010-1014 dan rencana pemerintah untuk mengurangi risiko-risiko tersebut melalui program-program kegiatan. Indonesia memerlukan suatu rencana yang sifatnya terpadu. perkebunan dan peternakan. analisis risiko bencana sampai dengan program kegiatan dan fokus prioritas yang akan diambil termasuk keterlibatan Kementerian/Lembaga dan besarnya anggaran yang dibutuhkan.2014 .

pemerintah setiap tahun akan menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai penjabaran dan operasionalisasi RPJMN yang memuat kerangka regulasi.2 TUJUAN Tujuan penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20101014 adalah: 30 Mengidentifikasikan daerah berisiko tinggi dari berbagai bencana yang ada di Indonesia dan menyusun pilihan tindakan yang perlu mendapat perhatian utama. terkoordinasi dan menyeluruh. maka Renas PB diintegrasikan ke dalam RPJMN 2010-2014. 1. Ringkasan isi Renas PB diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang memuat kebijakan dan program pembangunan serta rencana kerja Pemerintah. perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas utama dalam RPJMN dan terpadukan ke dalam program-program pembangunan dalam dokumen tersebut. berikut program kegiatan. Dengan mengacu RPJMN. kerangka anggaran dan rincian program. dan seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana di Indonesia agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana secara terencana. dokumen Renas PB selanjutnya menjadi arah dalam melakukan pengarusutamaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan bencana. Secara khusus. 1. Dengan demikian. Kementerian/Lembaga pemerintah pusat akan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . fokus prioritas dan anggaran indikatif yang diperlukan. terpadu. 40 Memberikan acuan kepada kementerian dan lembaga pemerintah.perencanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. Untuk memastikan terlaksananya perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana.3 KEDUDUKAN DOKUMEN DAN LANDASAN HUKUM Renas PB merupakan rencana pemerintah lintas sektor yang berlaku selama lima tahun.2014 3 .

konsultasi publik. lembaga-lembaga swadaya masyarakat.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. dan masukan melalui berbagai media publik. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6).2014 . sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 4 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. 1.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Di masa yang akan datang. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga.

2. 5. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Kementerian.1. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. 3. lembaga pemerintah. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 4. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). pemerintah daerah. Kementerian. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 6.2014 5 .

dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. Di masa yang akan datang.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku. dan masukan melalui berbagai media publik. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 6 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. 1. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah.2014 . seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. konsultasi publik. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi.

5. Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Kementerian. Kementerian. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 4.2014 7 . Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. lembaga pemerintah. 3. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 6. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.1. 2. pemerintah daerah.

2014 .8 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

Jawa. belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara. Daerah rawan gempabumi di Indonesia tersebar pada daerah yang terletak dekat zona penunjaman maupun sesar aktif. Gambar 2.1 ANCAMAN (HAZARD) 2. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.2014 9 .1. Penunjaman lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Euro. Daerah yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Asia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempabumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatra. Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur.1. 2008). Bali dan Nusa Tenggara. sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng. Ketiga lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Euro-Asia.BAB II GAMBARAN UMUM KEBENCANAAN 2.1 Ancaman Gempabumi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan.

5. Nusa Tenggara Timur. menyajikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .700 Daerah Pulau Timor Sumatra Barat Yogyakarta dan Jawa Tengah Liwa. 2008) No.1. menyajikan data beberapa kejadian gempabumi di Indonesia dengan jumlah korban jiwa yang besar. Beberapa sesar aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar Sumatra. 2.2014 10 . Lembang. pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua. 3. Lampung Bengkulu Pulau Nias Yogyakarta dan Jawa Tengah 2.7 6.2 MMI VIII IX IX IX X VIII VIII Korban Jiwa (org) 250 354 213 l. 1. pantai selatan Jawa. Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepulauan Maluku dan Pulau Papua. 6.2. Kepulauan Maluku. Busur Belakang Flores. Jawa Tengah. Provinsi Jawa Barat. Tahun 1896 1926 1943 1994 2000 2005 2006 Magnitudo (Mw) 7. Nusa Tenggara. Palu-Koro. Nusa Tenggara Barat.1. Baribis. sesar aktif di daerah Banten. Sorong. pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara. Gambar 2. Cimandiri. Tabel 2. Bali.9 8.8 7 7. Maluku Utara.000 > 5. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.2. Tabel 2. Pulau Sulawesi. Kepulauan Maluku dan sistem sesar aktif lainnya yang belum terungkap. 7. Jawa Timur. Sedangkan daerah di Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatra.2 Ancaman Tsunami Gempabumi yang disebabkan oleh interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan deformasi dasar laut yang mengakibatkan gelombang pasang dan tsunami apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini. Bali. Opak. 4.207 100 > 1. Ransiki. Indonesia menjadi rawan terhadap ancaman tsunami.terletak dekat zona penunjaman adalah pantai barat Sumatra.

n 110 100 kejadia di antarany disebabkan oleh gempa an ya abumi. Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia i dalam periode 1801-2006 (Puspito.2. ih Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . G Gambar 2. en 1969). 2 p 2007) Data histori tsunami di Indonesia pad periode an is da ntara tahun 16 600-1998 telah dikom mpilasi dari ka atalog gempa destruktif (t a termasuk di d dalamnya tsunami) di seluruh dun oleh Utsu (1992). Kem i nia u mudian data tersebut dibandingka dengan data yang dikum an mpulkan oleh Berninghause (1966. sebelum tahun 1970 tidak dilaporkan dengan baik sedangkan kejadian n k.2014 11 . dan sel lanjutnya diperbaharu dengan da ui ata-data kejadian tsunami terkini. Cox (1970). Arno (1985) da Ismail (19 old an 989). tercatat telah terjadi 1 kejadian tsunami. Berdasarkan i pengolahan data tersebut. 9 oleh letusan h gunungapi dan 1 oleh tanah longso Sebagian besar data kejadian or. tsunami yang terjadi se etelah tahun 1970 telah d diteliti dan di ilaporkan dengan lebi baik.kejadian be encana tsunam di Indonesi dalam kuru waktu anta tahun mi ia un ara 1801-2006.

Sulawesi Tengah pada tahun 1983 terjadi letusan dahsyat Gunung Colo yang mengakibatkan hancurnya sumbat lava serta membumihanguskan sekitar 2/3 wilayah Pulau Una-Una tempat lokasi Gunung Colo.190 korban jiwa dan letusan tahun 1966 dengan 210 korban jiwa. letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang menewaskan 4. Sedangkan kawah gunungapi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo. Gunung-gunungapi aktif yang tersebar di Pulau Sumatra.951 korban jiwa di Jawa Barat. Selain letusan-letusan besar seperti letusan gunung Tambora yang menewaskan lebih dari 92 ribu jiwa dan Krakatau lebih dari 36 ribu orang pada abad XIX. Gambar 2.000 korban jiwa.3 Ancaman Letusan Gunungapi Terkait dengan zona penunjaman lempeng-lempeng besar yang telah diuraikan. Dalam beberapa tahun ke depan potensi risiko bencana gunungapi yang perlu mendapat perhatian ada 70 gunungapi diantaranya adalah Gunung Merapi.011 korban jiwa dan letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menewaskan 2. Berdasarkan sejarah. 12 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 2006) ada beberapa kejadian letusan lain yang menimbulkan korban jiwa besar. Soputan dan Lokon.000 orang. Di Teluk Tomini. antara lain letusan Gunung Kie Besi di Maluku Utara pada tahun 1760 yang menewaskan 2.2014 .2. Jawa. Bali. Di Jawa Timur letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5.3. Indonesia memiliki lebih dari 500 gunungapi dengan 129 di antaranya aktif. memperlihatkan sebaran gunungapi di Indonesia.2. Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava. Sedangkan di wilayah Yogyakarta letusan Gunung Merapi tahun 928 mengakibatkan Kerajaan Mataram hancur. Gunung Merapi di Yogyakarta mempunyai perulangan letusan cukup pendek. letusan tahun 1930 mengakibatkan 1. berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG. kubah lava runtuh dan menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar Gunung Merapi. Nusa Tenggara. Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku merupakan sekitar 13% dari sebaran gunungapi aktif dunia.369 orang korban jiwa dan letusan tahun 1972 menewaskan lebih dari 3.

4 Ancaman Gerakan Tanah Selain ancaman gempabumi. Banten (2009). tsunami dan letusan gunungapi.3. kecuali Pulau Kalimantan yang hanya memiliki dua kabupaten yang rawan. atau yang pada umumnya dikenal sebagai tanah longsor. 179 orang luka-luka dan 250 buah rumah hancur/rusak. Korban dan kerugian besar pada umumnya terjadi pada gerakan tanah jenis aliran bahan rombakan atau banjir bandang. yang mengakibatkan 82 orang tewas. Hampir semua pulau utama di Indonesia memiliki beberapa kabupaten dan kota yang rawan pergerakan tanah. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. seperti terjadi di Nias (2001) dan Bohorok Sumatra Utara (2005).2014 13 . yakni Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur. Hampir setiap tahun Indonesia mengalami kejadian gerakan tanah yang mengakibatkan bencana.2. Sulawesi Tengah (2007). 103 orang hilang. secara geologis Indonesia juga menghadapi ancaman gerakan tanah. Sumatra Barat (2008) dan terakhir di Situ Gintung.Gambar 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 2007) 2.

Secara umu tingkat r um risiko bencan gerakan t na tanah di Kabupatan/ /Kota di Indonesia dite entukan oleh keberadaa lajur an pegunungan Tingkat ris n. 2.2014 . siko dipengar ruhi pula oleh kondisi kerentanan berbagai un nsur lainnya seperti kepadatan dan kerentanan pe enduduk. kondisi batuan yang tidak kompak dan mudah mengalami d k degradasi umumnya lebih mudah untuk terjadi gerakan tana Hal ini dip ah.4. Di samping a h k kan itu. kondisi kerentanan bang gunan dan in nfrastruktur.Gambar 2. ini dapat menimbulka ancaman-ancaman y an yang bersifat hidrot meteorolog seperti banjir dan ke gis ekeringan.2. 2007). dan arah angin yang c han cukup ekstrim Kondisi m. suhu. perburuk lagi oleh curah hujan yang tinggi d y dan gempa y yang sering t terjadi di Indonesia. an kerentanan gerakan tana di Indonesi ah ia. dan kapasitas daerah seca ara umum. Da aerah-daerah dengan risiko tingg terhadap ancaman ba gi anjir tersebar di seluruh wilayah r 14 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Gambar 2. yaitu musim pa ua anas dan mus hujan den sim ngan ciriciri perubah cuaca. tingkat ekono omi.4 menyajika zona 4. wilayah Indonesia t terletak di da aerah iklim tr ropis dan memiliki du musim. Daerah yan memiliki re ng elief morfolog kasar denga lereng-lere yang gi an eng terjal secara umum lebih rawan untuk terjadi gerak tanah.5 Ancam Banjir man Secara geog grafis. Peta zona keren ntanan gerakan tanah di Indo n onesia (PVMBG.

hilang .4 Sawah (ha) 2.382 72.907 242. air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam tiga kategori: (a) Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia.435 217 230 106 102. Jumlah Kejadian 2. terutama di daerah pantai timur Sumatra bagian utara. Kalimantan bagian barat dan selatan.605 3303 Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal.790 1. begitu pula daerah aliran sungai tertentu seperti daerah aliran sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa dan daerah aliran sungai Benanain di Nusa Tenggara Timur.meninggal .562 568.1 Korban Manusia . tetapi berubah akibat sedimentasi.mengungsi 2.2.973 54.603 1005 206 104 180.927 396 126. tanggul dan bangunan pengendali banjir Tabel 2.240. daerah pantai utara Jawa bagian barat.028 94. Sulawesi Selatan dan Papua bagian selatan.346 4760 36.479 841 83.640 1685 126. Semarang dan Banjarmasin secara historis juga sering dilanda banjir.Indonesia.649 94.2014 15 . Daya tampung sistem pengaliran air tidak selamanya sama. tersumbat sampah serta hambatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . (b) Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai. BNPB) Jumlah Kejadian Banjir dan Dampaknya 1. dan (c) Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan. Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.197 6774 905.2 Rumah Rusak 2. Dampak: 2. Beberapa kota tertentu seperti Jakarta. penyempitan sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia.3 Fasos/Fasum 2.901 58.087 972 180.5 Jalan (km) 2001/02 150 2002/03 186 2003/04 143 2004/05 182 Total 661 185 18 388.651 57. Berdasarkan sumber airnya.285 201 604. sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap.

ancaman alam yang bersifat hidro-meteorologis lain yang sering menimpa Indonesia adalah kekeringan. baik di atmosfer maupun di permukaan tanah. Kekeringan diartikan sebagai berkurangnya persediaan air sampai di bawah normal yang bersifat sementara. sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan terjadi banjir. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi dan melampaui kapasitas pengaliran.5.2014 . 2008) 2. Gambar 2. Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG. PU. Berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi pada meningkatnya debit banjir. Penyebab kekeringan adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang ditimbulkan oleh 16 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .6 Ancaman Kekeringan Selain ancaman banjir. Bakosurtanal.2. karena jika terjadi curah hujan tinggi.lainnya.

memperlihatkan zona bahaya kekeringan di Indonesia. Riau. Kekeringan mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan air bagi kegiatan manusia. pola pengairan. Bengkulu. Sulawesi Utara. Gambar 2. pola pengoperasian irigasi serta pengelolaan sumber daya air di permukaan lainnya. Kepulauan Bangka Belitung.6. Kalimantan Tengah. Lampung. Jambi. Kalimantan Selatan.fenomena El Niño.2014 17 . dan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Maluku Utara dan Papua. Sulawesi Selatan. Kepulauan Riau. Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) Wilayah Indonesia yang rawan kekeringan meliputi beberapa kabupaten/kota di Sumatra Barat. Gangguan pola tanam yang serius pada gilirannya akan mengancam keamanan pangan masyarakat. Sumatra Selatan. Gambar 2.6. Kalimantan Barat. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kekeringan membawa akibat serius pada pola tanam. Kalimantan Timur. Sulawesi Barat. hampir seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa kecuali di bagian paling timur.

Tabel 2.000 ha 66.3. Nusa Tenggara. Sulawesi dan Maluku 500. Bali. baik untuk usaha pertanian. Jawa.2. Nusa Tenggara. Jawa.2. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dapat mengganggu negara-negara tetangga sehingga berpotensi menganggu hubungan kenegaraan Indonesia dengan negara-negara tetangga tersebut. Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Daerah di Indonesia yang rawan kebakaran hutan dan lahan terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan yang memiliki areal perkebunan dan pertanian dalam skala besar serta beberapa kabupaten/kota diantaranya di Sulawesi. Bali.000 ha 5.750.400. Nusa Tenggara dan Timor 1991 Sumatra.000 ha 9.198 ha 18 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .000 ha 3 4 5 6 1982/1983 Kalimantan Timur 1987 Kalimantan. Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) No. Kalimantan.7 Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Terkait dengan ancaman kekeringan. Kebakaran hutan menimbulkan berbagai dampak kesehatan dan sosialekonomi. Kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia dalam rangka membuka lahan. Sulawesi dan Papua 2006 Sumatra.2014 . dan Pulau Jawa. Bali. Nusa Tenggara Timur. kehutanan maupun perkebunan dan ditunjang oleh adanya fenomena alam El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menimbulkan kekeringan. Sulawesi. Kalimantan. 1 2 Tahun Wilayah Luas Areal Terbakar 3.000 ha 32.600. Jawa. Kalimantan dan Sulawesi 1994 Sumatra dan Kalimantan 1997/1998 Sumatra. Sumatra.

Erosi juga merusak daerah-daerah aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan palung sungai serta bendungan-bendungan yang ada.2. Dari data tersebut tampak bahwa semua pulau-pulau utama Indonesia rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan. pengaruh gaya berat atau organisme hidup.Gambar 2. Bali. angin.3.7. Proses erosi terutama dapat mengakibatkan penipisan lapisan tanah dan penurunan tingkat kesuburan. menunjukkan beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang besar di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir. Sementara itu Tabel 2.7. Jawa. Gambar 2.8 Ancaman Erosi Indonesia juga menghadapi ancaman erosi. es. karena butiran tanah yang mengandung unsur hara terangkut limpasan permukaan dan diendapkan di tempat lain. Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) 2.2014 19 . Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . yaitu perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh kekuatan air. Risiko erosi tinggi di Indonesia tersebar di Pulau Sumatra. memperlihatkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. dan dengan demikian mempengaruhi fungsi dan usia bendungan.

Sulawesi.9 Ancaman Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran gedung dan permukiman penduduk sangat sering terjadi di Indonesia. Padang. terutama pada musim kemarau. Korsleting listrik.Kalimantan.8. Perlu diwaspadai juga kota-kota besar yang memiliki jumlah penduduk sangat tinggi seperti Surabaya. Tangerang. Bogor. kompor meledak. Gambar 2. Semarang.2. Makassar. Palembang. Denpasar dan kota-kota lain yang setara tingkat kepadatannya di samping kawasan industri padat penduduk yang menggunakan bahan-bahan bakar dan bahan berbahaya. Daerah-daerah di Indonesia yang perlu diwaspadai untuk ancaman ini meliputi kota-kota di DKI Jakarta. Depok dan sekitarnya yang sangat padat penduduk. Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku serta Papua. 20 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Bandung. Bekasi. Zona Bahaya Erosi di Indonesia 2. Ancaman muncul akibat kecerobohan manusia dalam membangun gedung atau perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan bangunan yang berlaku. api lilin/lampu minyak yang menyambar kasur. Pekanbaru. merupakan beberapa penyebab umum kebakaran pada gedung dan permukiman.2014 . Medan.

9. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI-BNPB.10 Ancaman Gelombang Ekstrim dan Abrasi Terkait perubahan iklim global. Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan. Untuk wilayah di sebelah utara khatulistiwa daerah yang berpotensi terkena gelombang ekstrim adalah Pantai Sulawesi Utara. Sumatra. Gelombang ekstrim pada umumnya ditimbulkan oleh siklon tropis. Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Gelombang ekstrim adalah salah satu penyebab abrasi yang terjadi dengan cepat. 2007 ) 2. Untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa. Kota Medan. Daerah-daerah yang menghadapi risiko tinggi bencana abrasi meliputi Aceh Selatan dan Kota Banda Aceh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gelombang ekstrim yang melanda Indonesia berada di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan posisi siklon tropis. Gambar Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . daerah yang memiliki potensi tinggi terkena gelombang ekstrim adalah wilayah pantai utara Pulau Jawa.2014 21 . Kota Jakarta Utara. Maluku dan Irian Jaya.Gambar 2. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.2. Indonesia semakin sering menghadapi ancaman gelombang ekstrim dan abrasi kawasan pesisir pantai. Kota Padang dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat.

dan Gambar 2. Posisi munculnya sik Gamb 2.2014 .11.10. 11.2.1 menunjukk indeks zonasi abrasi di Indonesia. 2007) bar i 22 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI-BNPB. memp perlihatkan posisi munculn siklon tro nya opis di Indone esia. kan bar i klon tropis di In ndonesia (BMK KG) Gamb 2.10.

Kegagalan teknologi dapat diakibatkan oleh kesalahan desain. Ancaman yang paling sering terjadi adalah angin puting beliung yang umumnya terjadi pada musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun dari musim kemarau ke musim hujan.2.12 Kegagalan Teknologi Kegagalan teknologi juga sudah mulai mengancam Indonesia. atau kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban tewas serta kerugian harta benda.12. pengoperasian atau kelalaian manusia dalam menggunakan teknologi. Kejadian ini dapat menimbulkan dampak berupa kebakaran.11 Ancaman Cuaca Ekstrim Cuaca Ekstrim seperti angin puting beliung. Tingginya kecepatan angin puting beliung dapat menimbulkan kerusakan dalam bentuk robohnya atap bangunan ringan. baliho.12. pencemaran bahan kimia berbahaya atau bahan radioaktif. dan kawasan Indonesia bagian timur yang sangat rawan terlanda badai tropis dari arah benua Australia. tiang listrik dan pohon-pohon.2. Salah satu kegagalan teknologi yang memicu bencana alam yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Gambar 2. topan dan badai tropis juga mulai banyak mempengaruhi Indonesia. Gambar 2. memperlihatkan daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terlanda badai tropis. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis 2. kecelakaan industri.2014 23 . terutama terkait dengan meningkatnya dampak perubahan iklim global.2.

Perhatian khusus perlu diberikan pada keselamatan di jalan raya.2. demam berdarah dan malaria. antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2007. Kecelakaan tambang seperti ledakan gas metana (CH4) yang terjadi di tambang batubara P. Tabel 2. menunjukkan distribusi penderita diare saat Kejadian Luar Biasa yang dirinci berdasarkan waktu. mengakibatkan 32 korban jiwa dan luka parah/ringan 13 orang.T. Banten. Selain Flu Burung. Data statistik tahun 2008 dari Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya mencapai 56. Beberapa kejadian Flu Burung sudah teridentifikasi di Sumatra Utara dan Barat. Lampung.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Epidemi dan wabah penyakit merupakan hal yang potensial timbul di Indonesia. 24 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .4. Dalam hal kegagalan teknologi. lokasi kejadian.2014 . yang dalam sepuluh tahun belakangan ini jumlahnya telah melebihi jumlah korban tewas akibat Tsunami Aceh-Nias tahun 2004. DKI Jakarta. Kerugian material dari kejadian ini tentunya amat besar. dan korban luka-luka lebih dari 75.600 kejadian dengan melibatkan lebih dari 130. jumlah penderita dan jumlah kematian yang ditimbulkannya. mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat hidup sehat dan higienis secara memadai. Jawa Tengah dan Jawa Timur.sampai kini belum teratasi adalah kegagalan pengeboran di Sidoarjo yang menimbulkan luapan lumpur dari perut bumi. Sawahlunto. Jawa Barat.216 jiwa.000 jiwa.000 kendaraan dan mengakibatkan korban tewas mencapai 19. Bukit Asam. Berjangkitnya penyakit dapat mengancam manusia maupun hewan ternak dan berdampak serius dalam bentuk kematian dan terganggunya roda perekonomian. perhatian serius perlu diberikan pada jumlah korban jiwa dan kerugian yang sangat besar yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi. 2. Indonesia terutama juga sering mengalami kejadian diare. Sumatra Barat. selain jumlah korban tewas yang sangat besar setiap tahunnya. dengan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman yang menjamin keselamatan para pengguna dan mendorong perilaku berlalu-lintas yang aman dan berbudaya. tanggal 16 Juni 2009.

Kematian 100 94 128 53 127 277 46 CFR (%) 2. banjir atau kebakaran hutan. 1998 dan 2005. yang di beberapa tempat dapat berlangsung lama dan berkepanjangan. Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit DBD dari tahun 2002 terus meningkat sampai tahun 2004 dengan adanya KLB.622 3.051 10.60 2. yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjelma menjadi konflik sosial.789 4. Perbedaan kepercayaan dan perbedaan tingkat kesejahteraan yang mencolok dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyulut konflik sosial. Puncak DBD terjadi pada tahun 1973.52 1. Situasi ini dikenal sebagai kedaruratan kompleks.51 2.Tabel 2.26 1.14 Konflik Sosial Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam etnis dengan bahasa dan budaya yang beraneka ragam pula.77 1.314 5.428 5. Konflik sosial dan kedaruratan kompleks memerlukan penanganan yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 1988.26 Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pada periode 1968-2006 cenderung mengalami peningkatan. seperti di Ambon. dan sedikit menurun di tahun 2005 dari 334 Kabupaten/Kota menjadi 326 Kabupaten/Kota. Poso. 2. tetapi di sisi lain terkadang menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial.661 Jml.62 2. Kalimantan Barat dan beberapa tempat lain. Pemilihan kepala daerah belakangan mulai menimbulkan konflik dan kerusuhan antara berbagai kelompok pendukung calon tertentu. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri. Penderita 4.4.2014 25 .980 3. Konflik sosial yang diakibatkan oleh ulah manusia dapat berinteraksi dengan satu atau lebih kejadian alam seperti letusan gunungapi. kemudian meningkat kembali di tahun 2006 menjadi 330 Kabupaten/Kota. Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Provinsi 12 15 22 17 11 16 8 Jml.2.

Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk di pulau-pulau di negeri ini. termasuk kejadian-kejadian konflik yang pernah terjadi di masa lampau. 2007). penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di lerang-lereng yang labil.960 dengan laju pertumbuhan penduduk antara tahun 2000-2005 tercatat sebesar 1. 2. Unsur kerentanan lainnya adalah tingkat kepadatan penduduk. daerah rawan letusan gunungapi adalah daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunungapi. Dengan demikian.5.3%.2014 . masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya memang merupakan dataran banjir.segera dan seksama. mata air dan pemandangan yang indah. Daerah seperti ini pada umumnya mempunyai daya tarik dalam rupa tanah yang subur untuk bercocok tanam. 26 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2 KERENTANAN DAN KAPASITAS Salah satu aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas dari pusat ancaman. Hingga kini tercatat sekitar 5 juta orang yang tinggal di wilayah sekitar tubuh gunungapi (PVMBG. Renas PB perlu mengulas isu kerawanan sosial dan kedaruratan kompleks dengan mengkaji potensi-potensi kerawanan sosial apa saja yang dapat timbul di Indonesia. Mereka adalah warga masyarakat yang rentan karena tinggal terlalu dekat dengan sumber ancaman. Begitu pula untuk ancaman-ancaman lainnya: masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi. Keterlambatan dalam penanganan dapat berakibat pada eskalasi tingkat intensitas dan keluasan konflik. mereka yang rentan terhadap gempabumi adalah yang tinggal di dekat patahanpatahan/sesar aktif. dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi. Tabel 2. Dalam kedua situasi ini perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok-kelompok minoritas yang biasanya sangat terpengaruh oleh dampak situasi yang kurang menguntungkan ini. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir Podes tahun 2008 adalah sebanyak 231. sehingga masyarakat senang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut.640.

dan bercampurnya masyarakat multi etnis dan budaya di pulau-pulau utama tersebut. juga menghadapi ancaman kerawanan sosial.3%) tinggal di Pulau Jawa dan Madura.5 3.7 3. Begitu pula dengan tingkat pertambahan penduduk yang relatif tinggi. jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan berpotensi meningkatkan kerawanan sosial di Indonesia.3 5.menyajikan distribusi persentase luas dan penduduk Indonesia berdasarkan pulau. yang hanya merupakan 6. Sulawesi 9.5.3 100 1961 65 16.7 13.852 orang per km2 pada tahun 2008.2014 27 . Bandingkan bahwa pada saat yang sama rata-rata kepadatan penduduk Indonesia per km2 hanya 124 jiwa.4 7. Dengan terbatasnya daya dukung sumberdaya dan lingkungan. diikuti oleh Pulau Sumatra.2 7.3 7.9 19.8 17. Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau Luas Wilayah (%) Penduduk (%) 1930 68. menimbulkan kerentanan karena Pulau Jawa selain memiliki banyak ancaman alam termasuk gempabumi dan letusan gunungapi.9% dari seluruh daratan yang dimiliki Indonesia. Selain itu.2 4.9 7.6 100 Pulau 1. terdapat konsentrasi penduduk sangat tinggi di DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk 10. dengan 7 jiwa untuk Provinsi Papua dan 8 jiwa untuk Provinsi Papua Barat yang paling jarang penduduknya.5 4. maka tingkat kerawanan sosial akan menjadi lebih tinggi. Sumatra 24. Jawa 6.9 4. diinformasikan bahwa hampir dua per tiga penduduk Indonesia (58.3 100 1971 63.9 19 4. Kalimantan 28.6 100 2008 58.2 7. Pulau 30.5 100 1985 60. Tabel 2. lapangan kerja.7 7 7.5.1 7. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .5 7.6 7.3 5.1 7 7.3 21.2 100 1980 61.6 6.1 7.4 lainnya 6. Total 100 Sumber: diolah dari BPS Pada Tabel 2. Menumpuknya populasi penduduk di Pulau Jawa dan Madura.9 Madura 2.9 5.1 4.5 100 1990 60 20.

40 34. Data BPS tahun 2007 menyebutkan bahwa Indone sia saat ini memiliki 37. Wilayah yang mempunyai banyak penduduk miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya.90 29.00 40.26 %.20 17.00 30.10 26.50 25.90 24. karena diasumsikan tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana.30 24.00 50.60 15. Namun.40 37. Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 1990-2007 (BPS.50 47.70 31. Jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah pedesaan Indonesia lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di daerah perkotaan.49 23.70 25.2014 .10 13.90 32. tercatat pada Juli 2006 mencapai 7.40 37.20 8. Kecenderungan ini tentunya perlu ditangani dengan baik karena kemiskinan di perkotaan dapat berinteraksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan menimbulkan risiko bencana yang tinggi. sedangkan provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar adalah Provinsi Papua yang mencapai 39.60 12.50 2002 2003 2004 2005 2006 2007 28 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .00 10.300 penduduk miskin. pada kurun waktu yang sama perkembangan jumlah penduduk miskin di pedesaan mengalami penurunan. jumlah penduduk miskin di perkotaan terus mengalami peningkatan dari tahun 1978-2006.20 14.17 35.90 17. Keadaan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat urbanisasi. Banyak warga desa yang tidak memiliki keahlian datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan.29 %. Tabel 2.81 14.56 12.30 26. sehingga memperbesar angka kemiskinan di perkotaan.4 juta orang atau 20. dan sebaliknya.Unsur kerentanan lainnya adalah kemiskinan. Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah orang miskin terbanyak.168.80 9.60 12.60 17.30 8.70 9.60 49. 2007) 60.10 39.61 13.00 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 Tahun Kota Desa Kota+Desa 27.30 25.10 22.00 20.6.30 37.40 11. dimana secara sosial ekonomi Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan.90 38.30 38.

Dengan kata lain. tingkat pendidikan.2014 29 . Lama pendidikan sekitar tujuh setengah tahun ini setara dengan pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama. Kerentanan wilayah dan penduduk terhadap ancaman dapat berupa kerentanan fisik.47 tahun. Sementara itu. terpadu dan menyeluruh. Masih dibutuhkan kerja Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Asumsi yang digunakan adalah bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas mengenai bencana. Angka kematian bayi pada tahun 2005 adalah sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran.050. indikator penduduk yang tinggal di kawasan rawan bahaya (KRB) untuk ancaman letusan gunungapi dan sebagainya. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tahun 2007 adalah Rp 15. sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7. Dalam hal kapasitas menghadapi bencana. produk domestik regional bruto (PDRB). Kerentanan sosial ekonomi yang digunakan dalam menghitung indeks kerentanan dalam Renas PB antara lain menggunakan indikator laju pertumbuhan ekonomi. tingkat melek huruf orang dewasa di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 91. kepadatan dan jumlah penduduk. Kerentanan fisik bersifat spesifik.7 tahun. tergantung jenis ancaman dan masing-masing ancaman menggunakan indikator spesifik. maka tingkat kerentanannya semakin rendah. dari segi pengeluaran penduduk. Dengan berdirinya BNPB di tingkat pusat dan BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. usia harapan hidup orang Indonesia adalah 68. upaya penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. kemiskinan dan tenaga kerja. Dari segi kesehatan.87 %. sampai dengan tahun 2007 wajib belajar sembilan tahun belum tercapai sepenuhnya. pengeluaran per kapita riil disesuaikan untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp 624. sosial dan/atau ekonomi.628. kesehatan. pendapatan asli daerah.-.-. Dari segi ekonomi. Kerentanan sosial-ekonomi bersifat generik dan berlaku untuk semua jenis ancaman. Indonesia masih terus mengembangkan diri. indikator building code untuk gempa bumi. Dipandang dari segi kelembagaan kapasitas ini meningkat jauh dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan dibentuknya badan independen yang menangani bencana.370.Data Badan Pusat Statistik tahun 2007 menyebutkan bahwa dari segi pendidikan. misalkan tsunami code untuk tsunami.

budaya gotong-royong dan solidaritas juga merupakan unsur yang membangun kapasitas. pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan kelompok-kelompok siaga bencana.2014 . jaringan sosial dan organisasi masyarakat yang kuat. Institut Pertanian Bogor. dan didukung dengan kebijakan penanggulangan bencana yang bermutu tinggi. Adanya kearifan lokal dalam tanggap bencana. Universitas Tadulako dan Universitas Syiah Kuala.keras untuk mewujudkan instansi penanggulangan bencana yang independen. dan forum-forum pengurangan risiko bencana serupa lainnya. Masyarakat seperti ini mengetahui bahaya apa yang mengancam mereka dan bagaimana cara mengurangi risiko bahaya-bahaya ini. Universitas Airlangga. melalui gladi dan simulasi bencana. Kapasitas juga dilihat dari potensi masyarakat dalam menangkal dampak negatif bencana. Platform Nasional untuk pengurangan risiko bencana (Planas PRB). Universitas Gadjah Mada. Universitas Andalas. Universitas Jember. 30 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . mampu berkoordinasi dengan baik dengan instansi-instansi lain. Sejumlah Perguruan Tinggi telah memiliki pusat studi bencana atau lembaga lain yang setara seperti misalkan Institut Teknologi Bandung. termasuk mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko. dan memiliki simpanan aset atau sumber daya memadai untuk menghadapi situasi ekstrim. Diharapkan bahwa dengan terbentuknya forum-forum tersebut akan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah. Lembaga-lembaga semacam ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Kapasitas masyarakat dapat dikatakan tinggi bila masyarakat mampu membangun rumah dan permukiman yang memenuhi standar keamanan bangunan. Keberadaan lembaga-lembaga di tingkat masyarakat yang memiliki kegiatan kebencanaan juga berpotensi untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana. Di tingkat nasional telah dibentuk Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB). Institut Teknologi Surabaya. dijalankan oleh staf yang cukup dan kompeten. memiliki sumber daya dan alokasi anggaran yang memadai. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Tabel 2.3.2014 31 Sumatra Utara .2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Tenggara Bireun Gayo Lues Kota Banda Aceh Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Samosir Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . rencana penanggulangan bencana gempabumi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.1 Risiko Gempabumi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gempabumi di Indonesia (Lampiran 2).7.7.3 RISIKO BENCANA 2.

2014 . Mentawai Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Solok Lima Puluh Koto Padang Pariaman Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Solok Selatan Tanah Datar Kerinci Empat Lawang Kota Pagar Alam Lahat Oku Selatan Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Kota Bengkulu Lebong Muko-muko Rejang Lebong Seluma Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut 32 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Agam Kep.

Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kota Bandung Kota Cimahi Kota Sukabumi Sukabumi Tasikmalaya Cilacap Kebumen Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Blitar Jember Kediri Lumajang Malang Pacitan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Situbondo Sumenep Trenggalek Tulungagung Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang Badung Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Kota Denpasar Tabanan Bangli Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 33 .

Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Sumbawa Barat Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Luwu Timur Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sangihe Kepulauan Sitaro Kepulauan Talaud Kota Bitung Kota Manado Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol 34 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Boalemo Bone Bolango Gorontalo Gorontalo Utara Kota Gorontalo Pohuwato Buru Kota Ambon Maluku Tengah Maluku Tenggara Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kepulauan Sula Tidore Manokwari Raja Ampat Biak Numfor Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Pegunungan Bintang Sarmi Supiori Tolikara Waropen Yapen Waropen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 35 .

8.2 Risiko Tsunami Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana tsunami di Indonesia (Lampiran 2). Tabel 2.3.8.2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Barat Daya Aceh Selatan Aceh Singkil Kota Subulussalam Mandailing Natal Nias Nias Selatan Tapanuli Tengah Kota Sibolga Padang Pariaman Agam Pasaman Barat Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Kota Padang Panjang Kota Padang Muko-Muko Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Seluma Kaur Kota Bengkulu Lampung Selatan Lampung Barat Tanggamus Kota Bandar Lampung Sumatra Utara Sumatra Barat Bengkulu Lampung 36 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . rencana penanggulangan bencana tsunami dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Banten Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Pandeglang Serang Lebak Kota Cilegon Sukabumi Cianjur Garut Ciamis Tasikmalaya Kota Banjar Cilacap Purworejo Kebumen Wonogiri Bantul Kulonprogo Gunung Kidul Lumajang Banyuwangi Trenggalek Tulung Agung Pacitan Blitar Jembe Malang Badung Tabanan Jembrana Karangasem Klungkung Gianyar Lombok Timur Lombok Barat Sumbawa Bima Dompu Kota Bima Kupang Timur Tengah Selatan Sikka Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 37 .

2014 .Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Ende Ngada Manggarai Manggarai Barat Flores Lembata Alor Timur Tengah Utara Belu Rote Ndau Sumba Timur Sumba Barat Paser Penajem Paser Utara Berau Kutai Kertanegara Kutai Timur Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Baru Tanah Laut Tanahbumbu Mejene Mamuju Utara Banggai Buol Donggala Poso Toli-Toli Parigimoutong Tojo Unauna Morowali Bolaang Mongondow Minahasa Minahasa Selatan Kepulauan Sangihe Kepulauan Talaud Buton Konawe Konawe Selatan 38 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 39 .Sulawesi Selatan Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kolaka Kolaka Utara Muna Bombana Wakatobi Sinjai Bantaeng Bulukumba Bone Jeneponto Takalar Wajo Luwu Luwu Utara Luwu Timur Gorontalo Boalemo Pohuwato Bonebolango Maluku Tengah Seram Barat Seram Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat Buru Halmahera Barat Tidore Kepulauan Kepulauan Sula Halmahera Timur Halmahera Utara Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Jayapura Merauke Nabire Biak Numfor Yapen Waropen Sarmi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Tabel 2.9.3. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bener Meriah Sigli Aceh Tengah Karo Kabajahe Tapanuli Selatan Agam Pasaman Barat Solok Tanah Datar Kerinci Merangin Lahat Muara Enim Musi Rawas Rejang Lebong Lampung Barat Lampung Selatan Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Cianjur Garut Kuningan Majalengka Sukabumi Tasikmalaya Sumatra Utara Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat 40 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . rencana penanggulangan bencana letusan gunungapi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.2014 .9.2.3 Risiko Letusan Gunungapi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana letusan gunungapi di Indonesia (Lampiran 2).

Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banjarnegara Banyumas Boyolali Brebes Klaten Magelang Pemalang Purbalingga Tegal Wonosobo Sleman Banyuwangi Blitar Bondowoso Jember Kediri Lumajang Malang Mojokerto Pasuruan Probolinggo Pandeglang Serang Bangli Karang Asem Badung Bima Lombok Timur Dompu Ende Flores Timur Manggarai Manggarai Barat Ngada Sikka Kalabahi Kota Bitung Minahasa Minahasa Selatan 41 Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

10. rencana penanggulangan bencana gerakan tanah dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.2014 . Talaud Sangihe Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Halmahera Barat Halmahera Utara Kota Ternate 2. Tabel 2.10.Maluku Maluku Utara Minahasa Utara Kota Tomohon Kep.3. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Bener Meriah Bireun Gayo Lues Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Sumatra Utara 42 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .4 Risiko Gerakan Tanah Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gerakan tanah di Indonesia (Lampiran 2).

2014 43 .Mentawai Kota Bukit Tingggi Kota Padang Lima Puluh Koto Pasaman Solok Kerinci Empat Lawang Lahat Oku Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Lebong Rejang Lebong Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut Kota Sukabumi Kuningan Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Utara Toba Samosir Kep.

Jawa Tengah Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Banjarnegara Banyumas Pekalongan Purbalingga Wonosobo Kota Batu Pacitan Pasuruan Probolinggo Sumenep Trenggalek Lebak Bangli Buleleng Jembrana Karang Asem Tabanan Bima Dompu Kota Bima Lombok Barat Lombok Timur Sumbawa Belu Ende Flores Timur Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Sikka Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Murung Raya Malinau Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sitaro 44 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kota Bitung Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Bone Enrekang Gowa Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Pinrang Sinjai Soppeng Tana Toraja Kolaka Utara Konawe Utara Kota Kendari Bone Bolango Gorontalo Majene Mamasa Mamuju Polewali Mandar Buru Maluku Tengah Tidore Kaimana 45 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 . Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Bireun Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhoksumawe Nagan Raya Asahan Batubara Sumatra Utara 46 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2. rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3.5 Risiko Banjir Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana banjir di Indonesia (Lampiran 2).Papua Kota Sorong Manokwari Raja Ampat Sorong Teluk Wondama Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Paniai Pegunungan Bintang Puncak Jaya Sarmi Tolikara Yahukimo Yapen Waropen 2.11.11.

Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Lampung Kepulauan Bangka Belitung Dki Jakarta Jawa Barat Deli Serdang Kota Medan Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Serdang Bedagai Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Agam Pasaman Barat Kota Padang Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hulu Siak Batanghari Kota Jambi Muaro Jambi Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Kota Palembang Kota Prabumulih Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Lampung Tengah Tulangbawang Belitung Belitung Timur Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bekasi Ciamis 47 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Cirebon Indramayu Karawang Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bandung Bandung Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Banyumas Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Kebumen Kendal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Tegal Kudus Pati Pekalongan Pemalang Purworejo Semarang Tegal Bantul Kulon Progo Bangkalan Banyuwangi Bojonegoro Gresik Jombang Kodya Pasuruan Kota Mojokerto Kota Surabaya Lamongan Lumajang 48 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Malang Mojokerto Pasuruan Sidoarjo Situbondo Tuban Trenggalek Kota Tangerang Serang Tangerang Klungkung Kota Denpasar Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Singkawang Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Kota Waringin Timur Sukamara Banjar Barito Kuala 49 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Barat Papua Hulu Sei Selatan Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Tanah Bumbu Tanah Laut Tapin Bulungan Kota Tarakan Kota Manado Bone Gowa Kota Makassar Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Sidenreng Rappang Soppeng Takalar Tana Toraja Wajo Buton Buton Utara Konawe Selatan Kota Baubau Boalemo Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Kota Sorong Sorong Sorong Selatan Asmat Boven Digoel Kota Jayapura Mappi 50 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Merauke Mimika Nabire Waropen

2.3.6 Risiko Kekeringan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kekeringan di Indonesia (Lampiran 2), rencana penanggulangan bencana kekeringan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan PROVINSI Sumatra Barat KABUPATEN/KOTA Agam Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Padang Pariaman Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Tulangbawang Way Kanan
Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014 51

Riau

Jambi

Sumatra Selatan Bengkulu Lampung

Kepulauan Bangka Belitung

Kepulauan Riau

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Bangka Bangka Barat Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Kota Pangkal Pinang Bintan Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Utara Bandung Bandung Barat Bekasi Bogor Cianjur Cirebon Garut Karawang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya Majalengka Purwakarta Subang Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang

52

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur

Blora Boyolali Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Karanganyar Kebumen Kendal Klaten Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Kudus Magelang Pati Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Rembang Semarang Sragen Sukoharjo Tegal Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunungkidul Kulon Progro Bojonegoro Jombang Kediri Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Madiun
53

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Banten

Nusa Tenggara Timur

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Magetan Nganjuk Ngawi Pacitan Pamekasan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Sumenep Trenggalek Tuban Tulungagung Kota Cilegon Kota Tangerang Pandeglang Serang Tangerang Sumba Barat Daya Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Waringin Barat Kota Waringin Timur Hulu Sei Tengah Kota Baru Tabalong Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kutai Kartanegara Kutai Timur

54

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

13. rencana penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Utara Bener Meriah Bireun Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Asahan Batubara Dairi Deli Serdang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Maluku Utara Papua Kota Manado Kota Makassar Pangkajene Kepulauan Polewali Mandar Tidore Kota Sorong 2.13.3.2014 55 Sumatra Utara .7 Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (Lampiran 2).

2014 .Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan 56 Humbang Hasundutan Karo Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Serdang Bedagai Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Lima Puluh Koto Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Sawahlunto Sijunjung Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hilir Rokan Hulu Siak Batanghari Bungo Kerinci Merangin Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Tebo Banyuasin Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau Jawa Barat Jawa Tengah Empat Lawang Lahat Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Oku Selatan Oku Timur Bengkulu Utara Muko-Muko Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tulangbawang Way Kanan Bangka Bangka Barat Bangka Selatan Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Bintan Karimun Lingga Natuna Cirebon Indramayu Karawang Kuningan Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Boyolali Demak Grobogan Jepara 57 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Karanganyar Kendal Klaten Kudus Magelang Pati Semarang Sragen Sukoharjo Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Sleman Banyuwangi Bondowoso Madiun Magetan Nganjuk Ngawi Ponorogo Situbondo Lebak Pandeglang Serang Tangerang Banten Badung Bangli Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Tabanan Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa 58 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Barito Selatan Barito Timur Barito Utara Gunung Mas Kapuas Katingan Lamandau Murung Raya Pulang Pisau Seruyan Sukamara 59 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Balangan Barito Kuala Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Hulu Sei Utara Tabalong Tapin Kutai Barat Kutai Kartanegara Malinau Nunukan Pasir Penajem Paser Utara Buol Donggala Morowali Parigi Moutong Tojo Una-Una Toli Toli Bantaeng Barru Bone Bulukumba Enrekang Gowa Jeneponto Luwu Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Selayar Sidenreng Rappang Sinjai Soppeng Takalar Tana Toraja Ajo Bombana Buton Buton Utara 60 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 61 . Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara KABUPATEN/KOTA Kota Sabang Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Nias Selatan Padang Sidempuan Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3.14. rencana penanggulangan bencana erosi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Kolaka Konawe Konawe Selatan Konawe Utara Muna Boalemo Bone Bolango Gorontalo Utara Pohuwato Majene Mamasa Mamuju Mamuju Utara Polewali Mandar Maluku Tenggara Barat Merauke 2.8 Risiko Erosi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana erosi di Indonesia (Lampiran 2).14. Tabel 2.

Sumatra Barat Bengkulu Lampung Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur 62 Toba Samosir Kota Sawahlunto Tanah Datar Bengkulu Selatan Kota Metro Bandung Bogor Ciamis Cianjur Cirebon. Garut Indramayu Kota Banjar Kota Bekasi Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Tasikmalaya Sukabumi Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang Cilacap Karanganyar Kebumen Kota Magelang Kota Surakarta Kota Tegal Magelang Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunung Kidul Kulon Progo Bangkalan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Bondowoso Kota Blitar Kota Pasuruan Kota Madiun Kota Mojokerto Pacitan Pamekasan Ponorogo Probolinggo Sampang Trenggalek Kota Cilegon Kota Tangerang Lebak Karang Asem Klungkung Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Sambas 63 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Sanggau Sekadau Sintang Banjar Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Tarakan.2014 . Kutai Timur Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Bantaeng Enrekang Gowa Jeneponto Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Tana Toraja Buton Kota Baubau Gorontalo Majene Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Halmahera Timur Tidore 64 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Tabel 2. rencana penanggulangan bencana kebakaran gedung dan pemukiman dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3.15. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Besar Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Timur Aceh Utara Lhokseumawe Pidie Simeulue Agam Asahan Dairi Deli Serdang Kota Medan Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Mandailing Natal Pakphak Barat Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Lima Puluh Koto Padang Pariaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2.15.2014 65 Sumatra Utara Sumatra Barat .9 Risiko Kebakaran Gedung dan Pemukiman Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran gedung dan pemukiman di Indonesia (Lampiran 2).

2014 .Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Kepulauan Riau Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Selatan Pekanbaru Danau Kerinci Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Palembang Lahat Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Timur Pagar Alam Prabumulih Bengkulu Selatan Kota Bengkulu Rejang Lebong Kota Batam Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Bandung Bekasi Bogor Cianjur Garut Karawang Kota Bandung Purwakarta Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas 66 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 67 .Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Blora Boyolali Brebes Grobogan Purwodadi Jepara Karanganyar Kendal Klaten Kota Semarang Kota Surakarta Magelang Pemalang Purbalingga Rembang Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Kota Surabaya Mojokerto Serang Tangerang Buleleng Gianyar Jembrana Karangasem Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Mataram Sumbawa Kota Kupang Kupang Lembata Ngada Timor Tengah Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Papua Landak Pontianak Barito Utara Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Timur Murung Raya Palangka Raya Pulang Pisau Banjar Banjarmasin Hulu Sei Utara Kotabaru Tanah Laut Balikpapan Berau Kutai Kutai Barat Kutai Timur Samarinda Tarakan Minahasa Utara Kota Palu Bone Gowa Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Luwu Timur Pinrang Soppeng Tana Toraja Wajo Buton Kota Kendari Jayapura 68 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Tabel 2. Jawa Tengah 11.2. Daerah Istimewa Yogyakarta 10.16. Sulawesi Selatan 2.3. rencana penanggulangan bencana gelombang ekstrim dan abrasi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada provinsi berikut: 1. Nusa Tenggara Timur 6. Sumatra Utara 3. Banten 9.2014 69 .16. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nangroe Aceh Darussalam Riau KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bireun Kota Sabang Simeuleu Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .10 Risiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gelombang ekstrim dan abrasi di Indonesia (Lampiran 2). Nusa Tenggara Barat 7.3. Jawa Timur 12. DKI Jakarta 5. Jawa Barat 8. Sumatra Barat 4. Nanggroe Aceh Darussalam 2. rencana penanggulangan bencana cuaca ekstrim dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.11 Risiko Cuaca Ekstrim Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana cuaca ekstrim di Indonesia (Lampiran 2).

2014 . Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Jember Pasuruan Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang 70 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bandung Bogor Cianjur Cirebon Semarang Cilacap Tegal Pekalongan (Kabupaten-kabupaten sepanjang pantai utara).

Demam yang tidak diketahui sebabnya 17. Jaundice Akut 8. perlu dipetakan daerah-daerah yang terutama sangat rawan.2. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat. Tersangka Demam Tifoid 7. 2. Ada 424 kabupaten/kota (73. mengingat tingginya jumlah korban jiwa yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi darat. Gorontalo dan Provinsi Papua Barat.3.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Flu Burung berpotensi terjadi di Provinsi Sumatra Utara. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. Tersangka DBD 9. DKI Jakarta. Diare Berdarah 6. Tersangka Campak 11. terkait kecelakaan transportasi darat. Malaria Konfirmasi 3.12 Kegagalan Teknologi Indonesia masih perlu mengadakan pemetaan lebih lanjut atas daerahdaerah yang memiliki industri atau instalasi kritis yang rawan terhadap kejadian kegagalan teknologi. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 14. Daftar prioritas penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB): 1. Jawa Barat. Malaria juga masih merupakan masalah besar di Indonesia. Selain itu. Jawa Timur. Tersangka Anthraks 16. Banten. Lampung. Tersangka Difteri 12. Sulawesi Utara.6%) yang endemik malaria. Sumatra Barat. Tersangka Kolera Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pneumonia 5. Tersangka Flu Burung pada Manusia 10.3. Sulawesi Tenggara. Diare Akut 2. Kalimantan Tengah. Tersangka Pertusis 13. Tersangka Demam Dengue 4.2014 71 . sehingga hampir separuh (45%) penduduk Indonesia berisiko tertular Malaria. Kasus gigitan hewan penular rabies 15. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah. Kalimantan Timur. Bali.

Tersangka Tetanus Neonatus 21. daerah-daerah yang rawan konflik di Indonesia terutama adalah Provinsi: 1. Nusa Tenggara Timur 6. Sulawesi Tengah 8. Kalimatan Barat 4. Sumatra Utara 3. pengangguran yang meluas dan tingkat kemiskinan yang tinggi potensial melahirkan bibit-bibit konflik.14 Konflik Sosial Indonesia saat ini masih menghadapi potensi konflik. Maluku dan Maluku Utara 7. Sulawesi Tenggara 9. Sulawesi Barat 10.18. bila sudah sampai pada puncaknya. Papua Barat 72 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . ada juga potensi konflik regional dan internasional. Nanggroe Aceh Darussalam 2. Klaster penyakit yang tidak diketahui 19. misalkan di wilayah-wilayah terpencil yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia.3. Tersangka Meningitis/Enchepalitis 20. Kalimantan Tengah 5. Papua 11. Begitu pula jurang yang lebar antara penduduk yang miskin dan yang kaya. Konflik lokal seperti yang pernah merebak di beberapa tempat di tanah air masih mungkin pecah kembali. Jika menggunakan indikator sejarah konflik dan banyaknya jumlah pengungsi di wilayah. Struktur sosial yang menciptakan ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan. Selain konflik sosial internal di tingkat masyarakat. Tersangka Tetanus 2.2014 . dapat mengobarkan konflik sosial.

.

.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah. rusak berat dan rusak ringan kerap kali ada beberapa versi yang saling berbeda satu sama lain. terutama dalam hal pengerahan tenaga pencarian dan penyelamatan serta dalam koordinasi pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi para korban. Perbedaan data dalam hal jumlah korban terluka dan jenis luka yang dialami korban akan mempersulit alokasi tenaga medis dan perlengkapan medis. Tampaknya pemahaman dan kesadaran bahwa risiko bencana dapat dikurangi melalui intervensi-intervensi pembangunan masih minim. Data tentang jumlah korban meninggal dan mereka yang luka-luka serta jumlah rumah yang hancur total. masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait di Indonesia belum siap dalam menghadapi bencana sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh bencana. TANTANGAN DAN PELUANG 3. Upaya pemulihan pasca bencana juga belum maksimal. Tanggap darurat bencana seringkali berlangsung dengan agak tidak teratur. termasuk obat-obatan.BAB III PERMASALAHAN.1 ISU DAN PERMASALAHAN Salah satu isu yang dihadapi dalam bidang penanggulangan bencana adalah kinerja yang masih belum optimal. Begitu pula dengan perbedaan data dalam hal rumah. Kinerja yang belum optimal seperti belum terpadu dan menyeluruhnya koordinasi dan kerjasama dalam menghadapi situasi tanggap darurat masih terlihat. yang dibutuhkan untuk upaya pemulihan kesehatan warga yang menjadi korban. Isu lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah orientasi kelembagaan penanggulangan bencana di Indonesia yang pada umumnya masih lebih terarah pada penanganan kedaruratan dan belum pada aspek pencegahan serta pengurangan risiko bencana.2014 73 . UndangRencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . fasilitas dan infrastruktur publik yang rusak akan menghambat penghitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang selanjutnya akan memperlambat pemulihan seluruh aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Informasi semacam ini sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. dan pihak swasta. Banyak daerah yang menghadapi ancaman alam seperti gempabumi. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memang telah merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif (terpusat pada tanggap darurat dan pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan). Jumlah korban dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana akan dapat dikurangi secara signifikan dengan adanya masyarakat dan pemerintah daerah yang tangguh dan siaga bencana. Dalam banyak kejadian bencana terakhir di Indonesia belum terlihat adanya kiprah yang signifikan dari tim-tim siaga bencana komunitas. Isu lain yang masih dihadapi adalah kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengurangi risiko bencana. tsunami dan letusan gunungapi. termasuk yang paling dominan biasanya dari angkatan bersenjata. Pemberitaan media biasanya didominasi oleh kisah tim-tim reaksi cepat dari berbagai instansi pemerintah. Ketangguhan dan kesiapsiagaan ini dapat dicapai melalui gladigladi dan simulasi bencana di tingkat komunitas yang dilaksanakan secara rutin dan teratur. Diperlukan adanya upaya 74 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .undang No. penting untuk mengembangkan tim-tim siaga bencana di tingkat masyarakat.2014 . tetapi dalam pelaksanaannya masih sedikit program-program pengurangan risiko bencana yang terencana dan terprogram. Hal lain yang tampak mencolok dari berbagai kejadian bencana adalah masih dominannya peranan pemerintah dan pihak-pihak dari luar komunitas dalam situasi darurat bencana. untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Risiko bencana dapat dikurangi melalui program-program pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko serta penataan ruang yang berdasarkan pemetaan dan pengkajian risiko bencana. Mengingat Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tidak semuanya mudah dijangkau. belum memiliki data dan informasi terinci tentang ancaman yang mereka hadapi berikut tingkat intensitasnya yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. termasuk pemanfaatan sistem-sistem peringatan dini yang berbasis teknologi. yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa. karena masyarakatlah yang pertama-tama berhadapan dengan bencana dan dampak-dampak negatifnya.

Setiap terjadi bencana. Kelompok miskin dan minoritas atau marjinal juga perlu diperhatikan dalam situasi bencana. ilmu dan teknologi kebencanaan. masih sangat abu-abu. apa yang harus dilakukan kadang masih bingung.melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitianpenelitian. politik dan kesehatan. karena perempuan biasanya tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mendahulukan anak-anak dan keluarganya. ekonomi. Hal seperti ini perlu dibuat suatu rencana penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai pelaku penanggulangan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai lembaga yang diamanatkan Undang-undang No. Apalagi pada saat sebelum terjadi bencana. Ketidaksetaraan gender ini akan berpengaruh pada nasib perempuan dalam situasi bencana. yang sering terabaikan dalam situasi bencana. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana masih menghadapi tantangan. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah isu gender dan kelompok-kelompok marjinal. Pada beberapa kegiatan malah dilakukan oleh beberapa instansi. termasuk kelompok warga miskin. 24 Tahun 2007 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Program-program kebencanaan harus dirancang agar tidak menambah kerentanan kelompok-kelompok ini. 3. Perempuan di Indonesia masih tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan.2014 75 . mudah bagi kita untuk mengabaikan mereka yang miskin dan terpinggirkan.2 TANTANGAN DAN PELUANG Perubahan paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif berupa pengurangan risiko bencana yang terkandung dalam Undang-undang No. tetapi kadang kala tidak tahu apa yang dilakukan. siapa berbuat apa belum jelas. Isu yang tidak kalah pentingnya adalah belum adanya perencanaan penanggulangan bencana yang komprehensif. Dalam situasi bencana dengan banyak kebutuhan yang beraneka ragam. Semua ingin membantu. Posisi yang tidak setara akan diperburuk oleh kebutuhan khusus perempuan dalam situasi bencana. sehingga terjadi tumpang tindih produk yang berbeda satu dengan yang lain yang malah membingungkan pengguna (pemerintah daerah). karena mereka ini biasanya merupakan kelompok yang paling rentan.

Tantangan berikutnya adalah besarnya kebutuhan pengembangan kapasitas dalam penanggulangan bencana. di pihak pemerintah sendiri masih banyak daerah yang perlu ditingkatkan dalam hal kelembagaan penanggulangan bencana dan kelengkapannya.tentang Penanggulangan Bencana dengan fungsi merumuskan dan menetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien. masih banyak aparat pemerintah yang perlu diberi pendidikan dan pelatihan kebencanaan agar dapat melaksanakan pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko dan menyelenggarakan tanggap serta pemulihan bencana dengan baik. banyak komunitas yang perlu menerima gladi. efisien dan handal. efektif. Selain itu. Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja tetapi juga rehabilitasi dan rekonstruksi. dan mendorong koordinasi dan kerjasama antar pihak yang baik. peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tetap (protap) kebencanaan sampai ke tingkat pemerintahan yang paling rendah. Dengan jumlah penduduk yang besar dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bahaya. Tantangan pada fase tanggap darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik pelaku penanggulangan bencana. “Roh pengurangan risiko bencana” perlu terus didorong agar merasuki para pembuat kebijakan dan semua kebijakan serta program pembangunan di Indonesia. diharapkan akan terbangun mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu. Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan penanggulangan bencana.2014 . apalagi BPBD di daerah-daerah. sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. Ibarat proses pendidikan di sekolah. simulasi dan pelatihan kebencanaan. dan menyeluruh masih berusia sangat muda. terpadu. dan mengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. 76 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dengan pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan. Banyak tim siaga bencana komunitas yang perlu dibentuk dan diberi sumber daya yang memadai. upaya pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses belajar. Tantangannya saat ini adalah mensosialisasikan paradigma baru tersebut agar menjelma menjadi kebijakan.

sampai saat ini regulasi penanggulangan bencana terus-menerus disempurnakan. yang diikuti dengan pengesahan Peraturan-peraturan Pemerintah. Peluang pertama adalah semakin kondusifnya lingkungan kebijakan yang mendukung pengurangan risiko bencana. penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana menjadi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . peluang berikutnya adalah sudah terbentuknya BNPB dan semakin banyaknya provinsi-provinsi dan kabupaten/kota yang membentuk BPBD. penanggulangan bencana akan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. terutama terkait dengan kecenderungan perubahan iklim global yang dampaknya kian memburuk. Di tengah kebutuhan pengembangan kapasitas yang besar. dalam perumusan program-program pengurangan risiko bencana tampaknya perlu dilaksanakan proses penyusunan prioritas yang benar. menyeluruh dan efektif-efisien. anggaran dan sumber daya yang diperuntukkan untuk program-program pengurangan risiko bencana masih sangat terbatas. dengan kehadiran BNPB dan BPBD. Terkait dengan lingkungan kebijakan pengurangan risiko bencana yang kian mendukung. Dimulai dengan lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda pengurangan risiko bencana. Lepas dari besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Pembentukan badan-badan penanggulangan bencana independen di berbagai tingkat pemerintahan ini akan lebih menjamin tertanganinya isu penanggulangan bencana dan isu terkait lainnya dengan baik.2014 77 . Peraturan Menteri dan Peraturan Kepala BNPB yang merupakan turunan Undang-undang. Peraturan Presiden. terpadu. Mengingat tantangan-tantangan ini. Selain itu. Di tingkat nasional ketertarikan berbagai pihak pada isu PRB ini terwujud dalam terbentuknya Platform Nasional PRB dan forumforum serupa di daerah. Dengan adanya platform dan forum-forum ini. Peluang selanjutnya adalah semakin bertumbuhnya perhatian dunia pada isu pengurangan risiko bencana. Sebagian besar anggaran sampai saat ini masih lebih teralokasikan pada tanggap darurat dan pemulihan bencana.Sedang tantangan pada rehabilitasi dan rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip membangun kembali lebih baik (build back better).

dan tidak hanya menjadi urusan pemerintah semata. sebagai contoh dalam koridor negara asia tenggara (ASEAN) dengan membentuk AHA Center dan latihan bersama penanggulangan bencana yang dikenal dengan ARDEX sebagai implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response). termasuk sektor swasta dan perguruan tinggi.urusan berbagai pihak. 78 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Hal ini tentunya akan semakin memperkuat pelaksanaan pengurangan risiko bencana di Indonesia.2014 . Bentuk-bentuk kerjasama lintas sektor baik antar pemerintah. mendukung pengurangan risiko bencana. Komitmen pelaku penanggulangan bencana untuk bersama-sama dalam penanggulangan bencana ini merupakan peluang lain. masyarakat dan lembaga usaha baik berupa upaya pengentasan kemiskinan. fasilitasi pendidikan dasar maupun meningkatkan kesehatan masyarakat. Selain itu komitmen antar negara.

.

.

Lembaga dan instansi terkait. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana. dan menyeluruh. Untuk penanganan pengungsi. Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko. terpadu. efektif dan efisien. lembaga utama yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).2 PENATAAN KELEMBAGAAN Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana. Basarnas dan PMI. Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal. BNPB merupakan Lembaga Pemerintah non-Kementerian yang dipimpin oleh pejabat setingkat menteri. terkoordinasi dan menyeluruh. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian. Lembaga ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat.2014 79 . 2. Kepolisian Republik Indonesia. serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. 4. terpadu. 3. BNPB bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia. BNPB Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .1 VISI DAN MISI Visi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: “Ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana” Misi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: 1.BAB IV KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA 4.

Kementerian Pertanian. BPPT. Untuk pendidikan kebencanaan BNPB bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. Untuk penelitianpenelitian kebencanaan dalam berbagai bidang. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian. epidemi dan kejadian luar biasa. di daerah BPBD bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan PB dan penanganan pengungsi serta melakukan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan PB. 46 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Permendagri No. dan BMKG untuk bencana-bencana hidrometeorologis. BPBD dibentuk di setiap provinsi dan dapat dibentuk di kabupaten/kota. dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian Kehutanan. 46/2008. Pembentukan BPBD mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perka BNPB No. LIPI dan perguruan-perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri No. Untuk pemetaan daerahdaerah rawan. selain bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga teknis. Untuk pengembangan sistem peringatan dini. LAPAN. LIPI serta didukung juga oleh perguruan tinggi. Pembentukan BPBD di 80 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Di daerah lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). BNPB terutama dibantu oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Untuk bencana-bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup BNPB bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. media massa dan pihak-pihak terkait lainnya. Seperti juga BNPB di tingkat pusat. Kementerian Agama. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan BMKG untuk bencana-bencana geologis. dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti Kementerian Riset dan Teknologi. Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BMKG. BNPB bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara khusus menangani ancaman tertentu.2014 . 3/2008) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. BPBD dibentuk baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.bekerja sama dengan Kementerian Sosial. BPPT. 46/2008). Sedangkan untuk bencana-bencana terkait aspek biologis seperti wabah.

dari 33 provinsi yang ada sudah 16 provinsi membentuk BPBD. Di tingkat daerah juga sudah terbentuk forum-forum serupa seperti Forum Merapi. Selain badan penanggulangan bencana pemerintah. Boyolali. ada pula platform-platform atau forum PRB sektoral yang dibentuk oleh para pihak berkepentingan menurut sektor atau isu-isu tertentu. fungsi-fungsi penanggulangan bencana dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani urusan kebencanaan. Di tingkat pusat telah dibentuk Forum Perguruan Tinggi untuk PRB. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Konsorsium Pendidikan Bencana.2014 81 . di tingkat pusat dibentuk Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB). daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakatnya. Bagi daerah-daerah yang belum membentuk BPBD.tingkat provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda atau peraturan kepala daerah. yakni sebuah forum independen untuk mendorong serta memfasilitasi kerjasama antar pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia. Planas PRB yang dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 20 November 2008 berupaya mewadahi semua kepentingan terkait kebencanaan serta membantu menyelaraskan berbagai kebijakan. program dan kegiatan PRB di tingkat pusat. dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia baru 21 kabupaten/kota yang memiliki BPBD. untuk tingkat kabupaten dan kota. sebuah forum yang didirikan untuk memfasilitasi kerjasama dalam pengelolaan Gunung Merapi secara menyeluruh pada aspek ancaman. Forum Mitigasi Bencana Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Sampai dengan akhir bulan Oktober tahun 2009. Selain Planas PRB di tingkat pusat. agar dapat mendukung tercapainya tujuan-tujuan PRB Indonesia dan terwujudnya ketahanan dan ketangguhan bangsa terhadap bencana. Sementara itu. paguyuban masyarakat Pasag Merapi. Adanya forum-forum PRB semacam ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah di seluruh Indonesia. selaras dengan tujuantujuan Kerangka Aksi Hyogo. Forum ini antara lain melibatkan pemerintah daerah beserta PMI di Kabupaten Klaten. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kegunungapian (BPPTK). Magelang dan Sleman. sebuah perguruan tinggi dari Yogyakarta dan beberapa lembaga donor. dan lain-lain.

2014 . 11. 82 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan. saat dan pasca bencana. Kementerian Luar Negeri mendukung program-program dan kegiatan penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional. Kementerian Pertahanan mendukung pengamanan daerahdaerah yang terkena bencana. 6. Kementerian Hukum dan HAM mendorong peningkatan dan penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan. 2. peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut: 1.Secara garis besar. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan bencana lintas kementerian dan lembaga. 10. 5. 8. baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan kebutuhan transportasi. Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Kementerian Pertanian merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian. Kementerian Keuangan penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra. 9. 3. 4. 7.

21. Kementerian Lingkungan Hidup merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif. Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang peka terhadap risiko bencana. serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana. advokasi dan deteksi dini dalam pencegahan bencana terkait lingkungan hidup. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik. Kementerian Pendidikan Nasional merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan. 16. 13. 15.12. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal merencanakan dan mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang berdasarkan kajian risiko bencana. tahap tanggap darurat. sandang. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis. Kementerian Riset dan Teknologi melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada situasi tidak terjadi bencana. Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan dan mengendalikan pengadaan fasilitas dan sarana komunikasi darurat untuk mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana.2014 83 . dan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Kementerian Sosial merencanakan kebutuhan pangan. 17. 20. 18. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 19. dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi. Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan programprogram usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan. 14.

27. BPPT membantu dalam bidang pengkajian dan penerapan teknologi khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.22. pemanfaatan dan pengendalian bahaya nuklir. 33. 24. 84 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 32. Tentara Nasional Indonesia membantu dalam kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap darurat bencana. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik. BATAN membantu dalam bidang pemantauan. 29. 28. Basarnas mendukung BNPB dalam mengkoordinasikan dan menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR). klimatologi dan geofisika. 26. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mendukung perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana.2014 . BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun panduan penanggulangan bencana. Bakosurtanal merencanakan dan mengendalikan pemetaan risiko bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis. BMKG membantu dalam bidang pemantauan potensi bencana yang terkait dengan meteorologi. 23. 31. pemanfaatan dan pengendalian bahaya akibat tenaga atom. LIPI membantu dalam bidang pengkajian ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Kementerian Perumahan Rakyat mengkoordinasikan pengadaan perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana. 25. 34. 35. Kepolisian Republik Indonesia membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial khususnya dari satelit. 30. BPN membantu dalam bidang penyediaan data-data pertanahan. Bapeten membantu dalam bidang pemantauan. 36.

disebutkan bahwa asas-asas pokok dalam penanggulangan bencana meliputi asas kemanusiaan. berdaya guna dan berhasil guna. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. ketertiban dan kepastian hukum. pemberdayaan. kelestarian lingkungan hidup. dan keserasian. Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Tanggung jawab ini. Pasal 3.2014 85 . sesuai ketentuan Pasal 6. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan peraturan-peraturan pemerintah serta peraturan presiden turunan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. meliputi pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. adalah berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. koordinasi dan keterpaduan. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. dan non-proletisi. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai.4. kebersamaan. transparansi dan akuntabilitas.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia diatur terutama melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. prioritas. Dalam pasal selanjutnya. pemulihan kondisi dari dampak bencana. sesuai amanat Pasal 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. keadilan. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. keseimbangan. program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . kemitraan. nondiskriminatif. sementara prinsip-prinsip penanggulangan bencana mencakup prinsip cepat dan tepat. Dalam situasi normal atau dalam situasi tidak terdapat bencana. keselarasan. Peraturan Pemerintah No. dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia.

sementara fungsi-fungsi yang menjadi tanggung jawab instansi-instansi sektoral tetap dilaksanakan oleh sektor masing-masing. seperti pengadaan sistem peringatan dini letusan gunungapi akan melibatkan Kementerian ESDM melalui Badan Geologi dan pemerintah daerah melalui BPBD.2014 misi . BNPB dan BPBD di tingkat daerah lebih menjalankan fungsi koordinasi dan pelaksana kegiatan pencegahan. Dalam situasi normal. koordinasi dan sekaligus pelaksana kegiatan tanggap darurat. Persiapan logistik untuk mencukupi kebutuhan penduduk yang mengungsi dalam situasi darurat menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Sosial. Dalam situasi darurat BNPB dan BPBD menjalankan fungsi komando. misalnya saja. Dalam situasi ini BNPB dan BPBD dapat mengatur instansi-instansi sektoral dalam operasi tanggap darurat. Melalui langkah-langkah ini diharapkan upaya 86 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . prosedur-prosedur tetap (protap) dan rencana-rencana penanggulangan bencana dari tingkat pusat sampai daerah. Sosialisasi sistem peringatan dini dan pelatihan penggunaannya akan melibatkan dinas pendidikan. Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana dilaksanakan melalui penyusunan peraturan. mitigasi dan kesiapsiagaan. Beberapa kegiatan pengurangan risiko bencana tertentu akan memerlukan kerjasama antara berbagai instansi.pusat dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangan masing-masing. Dalam situasi pasca bencana BNPB dan BPBD kembali menjalankan fungsinya dalam hal koordinasi dan pelaksana kegiatan-kegiatan pemulihan. dengan BNPB/BPBD sebagai koordinator pelaksanaannya. Kegiatan mitigasi struktural seperti membangun tanggul penahan banjir dan jalur-jalur evakuasi. Pembagian peran di antara para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana juga akan menjadi hal yang diatur melalui Renas PB ini. menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum. Pelaksanaan penanggulangan bencana di pusat maupun daerah akan memerlukan koordinasi dengan semua sektor dan unsur masyarakat. Strategi yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan penanggulangan bencana Indonesia adalah sebagai berikut: 1. perguruan tinggi dan LSM.

Pemaduan program pengurangan risiko ke dalam rencana pembangunan Program-program pengurangan risiko bencana sedapat mungkin dipadukan ke dalam rencana pembangunan di tingkat pusat dan daerah. Dengan demikian program dan kegiatan pengurangan risiko tidak akan berdiri sendiri tetapi terpadu ke dalam program pembangunan reguler. Selain itu upaya khusus juga akan dilaksanakan untuk membentuk dan meningkatkan kapasitas badan-badan penanggulangan bencana dan instansi terkait di pusat dan daerah dalam menghadapi situasi pra-bencana.penanggulangan bencana akan memperoleh arah yang jelas dan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. dalam hal ini BNPB. baik ke dalam RPJM. Dalam era desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat. Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah masing-masing. saat tanggap darurat dan saat pemulihan pasca bencana. 3. Pemberdayaan perguruan tinggi Strategi ini bertujuan untuk memberdayakan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dan mengembangkan pengetahuan serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. RPJMD. Strategi ini diharapkan akan membantu mewujudkan pembangunan yang lebih tahan terhadap risiko bencana dan menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap bencana. BNPB akan membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 2. menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas penanggulangan bencana bagi daerah. Oleh karena itu. RKPD dan Renja Satuan Kerja Perangkat Daerah.2014 87 . Renstra dan Renja Kementerian/Lembaga. RKP. Koordinasi dan kerjasama juga akan ditingkatkan antara instansi dan aparat pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang handal.

Program pengurangan risiko untuk kelompok dengan kebutuhan khusus Pendekatan khusus juga akan diterapkan untuk mendorong kesetaraan gender dalam program-program kebencanaan dan pengurangan risiko. serta para penyandang cacat maupun 88 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 5. sementara satuan yang bermarkas di Malang akan melayani kawasan Indonesia Timur. Satuan yang bermarkas di Jakarta akan melayani kawasan Indonesia Barat. Selain itu perhatian juga akan diberikan untuk masyarakat miskin.4. adalah lebih ekonomis dan efektif membangun kapasitas masyarakat. Mengingat kapasitas tanggap darurat pemerintah yang masih terbatas. satu di Jakarta. Untuk tujuan ini. Mengingat Indonesia begitu luas dan memiliki penduduk yang tersebar di ribuan pulau. Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRCPB) Dalam menghadapi bencana yang berdampak besar. Keberadaan satuan ini akan meningkatkan kapasitas tanggap bencana Indonesia secara signifikan. Bagaimanapun juga komunitas merupakan pihak yang pertama-tama berhadapan dengan risiko bencana. Di tingkat nasional ada dua SRC-PB induk yang dibentuk. melalui program-program spesifik yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dan anak. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat Selain memanfaatkan perguruan tinggi daerah. yang berbasis di Lanud Abdul Rahman Saleh. 6. strategi yang dilakukan adalah membentuk Satuan Reaksi Cepat (stand-by force) untuk penanggulangan bencana. yang berbasis di Lanud Halim Perdana Kusuma. strategi lain yang juga akan digunakan adalah pembangunan kapasitas masyarakat di daerah rawan yang menghadapi risiko bencana yang tinggi. adalah lebih efektif bila kapasitas penanggulangan bencana dibangun di tingkat komunitas. terutama untuk menghadapi tanggap darurat. dan satu di Malang. kerelawanan akan didorong pada semua tataran dan lapisan masyarakat. Satuan ini memiliki anggota pilihan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bidang keahlian.2014 . kaum minoritas dan mereka yang terpinggirkan.

Terkait dengan itu. Pemerintah akan bekerja sama lebih erat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mitra lainnya dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. terutama untuk mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat masyarakat. nasional maupun internasional kian berperan besar terutama pada saat tanggap darurat dan pasca bencana. Terkait dengan pengurangan risiko.kelompok dengan kebutuhan khusus lainnya. baik LSM lokal. Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi. sektor swasta. dapat berkontribusi melalui upaya-upaya pengembangan mekanisme transfer risiko seperti asuransi bencana dan perangkat-perangkat serupa lainnya.2014 89 . termasuk melalui penyelenggaraan pelatihan-pelatihan dan peningkatan kapasitas relawan. terutama yang bergerak dalam bidang finansial. Kalangan dunia usaha juga dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui keterlibatan aktif dalam forum-forum pengurangan risiko bencana seperti melalui Platform Nasional PRB ataupun forum-forum serupa di tingkat daerah. agar program-program pengurangan risiko bencana tidak meningkatkan kerentanan mereka. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang relawan dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. 7. tetapi sebaliknya mendukung ketangguhan mereka terhadap bencana. Peningkatan peran LSM dan organisasi mitra pemerintah Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). 8. Peningkatan peran dunia usaha Kalangan dunia usaha diharapkan dapat berkontribusi lebih besar lagi dalam menggalang dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana.

90 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

.

.

Visi penanggulang bencana (Bab VI) sec n gan cara jelas menyebut cita-cita unt tuk menjadik kan bangsa y yang tangguh dalam menghadap bencana. pendana dan peng aan gembangan k kapasitas.1. G Gambar 5. ra terkoordina dan menye asi eluruh. aan. ar perencanaa kelembaga an.2014 91 . Sistem ini d dibangun untu menjawab permasalaha yang dihad uk b an dapi saat ini (Bab III) dan diterje emahkan ke dalam progr ram-program sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sis stem Penanggu ulangan Bencan Indonesia na Sistem pen nanggulangan bencana I n Indonesia ya ang saat ini tengah dibangun memiliki 5 (lima) pila berupa sub-sistem legislasi. terpadu.BAB V PROGRA AM Renas PB m memuat prog gram dan fok prioritas sebagai dasa dalam kus ar membuat kegiatan penanggulangan bencana. Program me n erupakan penjabaran dari visi da misi serta pilihan tind an a dakan sesuai dengan i manajemen risiko. Hal ini didukun oleh 3 (tig misi yang diemban pi ng ga) yaitu memb bangun sistem penanggul langan benca untuk me ana elindungi bangsa dar ancaman bencana me ri elalui pengur rangan risiko dengan menyelengg garakan penanggulangan b bencana secar terencana.

Selain program-program pengurangan risiko bencana juga terdapat program pada saat bencana dan pasca bencana. Tindakan ini dikenal dengan pencegahan (risk avoidance). Bila pengurangan risiko sudah dilakukan dan masih tetap ada risiko. Program pada saat bencana adalah 8) program tanggap darurat dan program pasca bencana disebut 9) program rehabilitasi dan rekonstruksi. dilakukan pengalihan risiko ke pihak lain (risk transfer) misalnya melalui sistem asuransi bencana. Apabila antara potensi bencana dengan elemen berisiko tersebut tidak dapat dipisahkan (harus bertemu) maka upaya yang dilakukan adalah pengurangan risiko (risk reduction). 3) penelitian. Mitigasi ini dapat dilakukan secara struktural maupun non-struktural. dan 4) peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lain dalam pengurangan risiko bencana. Apabila ketiga tindakan tersebut sudah dilakukan tetapi masih ada risiko. maka yang terakhir dilakukan adalah menerima risiko (risk acceptance) dan melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan. dan 7) kesiapsiagaan.2014 . Pertama-tama dilakukan tindakan untuk memisahkan potensi bencana yang mengancam dengan elemen berisiko (element at risk). atau dikenal dengan mitigasi. Kegiatan sebelum terjadi bencana/pra bencana sering disebut dengan pengurangan risiko bencana. 2) perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu. 6) peringatan dini.berikut : 1) penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan. Ketujuh program di atas merupakan program yang dilakukan sebelum terjadi bencana. pendidikan dan pelatihan. 92 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sehingga dalam pembuatan rencana aksi pengurangan risiko bencana hanya menggunakan 7 (tujuh) program tersebut. Tindakantindakan dalam manajemen risiko di atas dijabarkan dalam program yaitu: 5) pencegahan dan mitigasi bencana. Apabila suatu wilayah mempunyai risiko tinggi maka upaya pengurangan risiko dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan. Paradigma pengurangan risiko bencana merubah pola pikir yang responsif menjadi preventif dengan pendekatan manajemen risiko. Dengan demikian Renas PB mempunyai 9 (sembilan) program.

Fokus p prioritas dima aksudkan untuk mem mberikan gam mbaran priori itas dari mas sing-masing p program. rotap Penangg gulangan Benca yang memuat ana Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sehingga dih bih harapkan tidak terjad suatu kegia di atan dilakuka oleh lebih dari 1 (satu) instansi an ) atau ada suatu kegiatan yang tidak dilakukan oleh s y satupun instansi. program m-program tersebut dideskripsik kan menjadi fokus priorit tas. Pilihan tindakan dala manajemen risiko bencan am n na Selanjutnya agar le a ebih terarah.1 Penyusu unan peraturan perda dan pr n. na Program da fokus priori dalam Renas PB adalah sebagai beri an itas h ikut : T Tabel 5. Renas PB menggamb P barkan progra dan fokus prioritas am dalam lima tahun men a ndatang.2014 93 . Gambaran prioritas ini sebagai ara ahan dalam menyusun k kegiatankegiatan ya akan dilak ang ksanakan oleh pelaku penanggulangan bencana h yang multi stakeholder. Secar khusus ra setiap program memiliki fokus prioritas sebelum d dideskripsikan menjadi n kegiatan-ke egiatan yang akan dilaksan nakan oleh Ke ementerian/L Lembaga.1. Seca umum R ara Renas PB me empunyai sembilan pr rogram dan empat puluh t tujuh fokus pr rioritas. PR ROGRAM Penguatan peratu uran FOKUS PRIO ORITAS 1.2. Prog gram dan fokus prioritas dalam Renas PB s No. Sebagai ren ncana. sehingga leb terfokus.Gam mbar 5. masyarakat maupun lem t mbaga usaha sebagai rencan aksi. 1.

7 1. pendidikan dan pelatihan 1.2 1.1 2.9 2. termasuk pembagian tugas. serta koordinasi Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.2 3.3 1.perundanganan dan kapasitas kelembagaan 1. kewenangan dan sumber daya.2 3.1 3.6 1.4 1. Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian. 3.3 mekanisme PB. Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Standarisasi pedoman-pedoman dan acuan penanggulangan bencana Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lembaga Pengkoordinasian penganggaran Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 94 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .5 1.8 2. Satuan Reaksi Cepat Daerah) Penguatan kapasitas manajemen PB di daerah Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) dan penyediaan relawan yang memadai Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana Pembentukan Regionalisasi Depo Logistik.

6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) 4.4 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5.4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah 3.2014 .1 Pemetaan risiko bencana 5.6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 3.3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan 4.3 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5.4.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 4.7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan 4.1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 4.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan 4. anak dan kelompokkelompok marjinal 5. Pencegahan dan mitigasi bencana 6.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 3.6 Penerapan upaya mitigasi struktural dan nonstruktural 5.2 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana 5.5 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana 5.7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB 5.7 Penelitian dan Pengembangan 6.2 Pengembangan forum pengurangan risiko bencana (PRB) di daerah 4. Peringatan dini 3.1 Pembangunan Sistem Peringatan Dini 95 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur 7.8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi real-time untuk tanggap darurat.3 Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.4 Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 8.3 9. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 9.7.9 Penyusunan rencana kontijensi 7. pengembangan teknologi informasi 7.2014 .1 Kaji cepat bencana 8.1 Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Pemulihan sarana-prasarana publik dan 9. Tanggap darurat 7.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan 7.2 9. Kesiapsiagaan 8.2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggap darurat 7. hunian sementara.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar 7. Rehabilitasi dan rekonstruksi 9. penyelamatan dan evakuasi 8.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan 7. air bersih dan sanitasi 8.2 Pencarian. layanan kesehatan. sandang. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 8.5 Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui antara lain pendidikan-pelatihan.10 Peningkatan Penyuluhan.4 96 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3 Pembentukan Satuan-satuan Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional 7.6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara 7.

dan regionalisasi pelatihan penanggulangan bencana dengan pendekatan kearifan local. 5 (pencegahan dan mitigasi) sebenarnya terdapat program yang sifatnya generik ditunjukkan fokus prioritas no. Pusat Pelatihan dan Pusdalops pada 12 lokasi.5 9. 1 sampai dengan 4. dapat dilihat bahwa program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana adalah program no.1.2 sampai dengan 5.9. masing-masing fokus prioritas mempunyai sasaran (Lampiran 3-17) yang menggambarkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan untuk menjawab isu dan permasalahan yang dihadapi. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai Dalam Tabel 5. termasuk diantaranya penyiapan relawan penanggulangan bencana sebanyak 10. Pada program no. Maksud regionalisasi ini adalah untuk mendukung logistik dari daerah berisiko tinggi. Secara umum. Dalam 5 (lima) tahun kedepan BNPB merencanakan akan mempunyai kepanjangan tangan di daerah dengan membangun Regionalisasi Depo Logistik. 5. Fokus prioritas dengan membentuk Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) merupakan implementasi program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana.5.000 personil. 5 sampai dengan 9 merupakan program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. Sasaran juga mengindikasikan lokasi-lokasi yang harus diprioritaskan karena memiliki risiko tinggi terhadap suatu ancaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Selanjutnya program no.6 rekonstruksi rumah warga korban bencana Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui antara lain pendidikanpelatihan.2014 97 .

Lokasi-lokasi ini merupakan hasil dari analisis risiko bencana dengan mempertimbangkan bahaya. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu keterlibatan berbagai institusi (Kementerian/ Lembaga) sebagai instansi utama dan instansi terkait. instansi utamanya adalah Kementerian PU. sehingga dalam penyusunan Renas PB masing-masing instansi mempunyai peranan penting. BMKG dan Bakosurtanal. Instansi utama merupakan instansi yang mempunyai peran utama dan mengkoordinasi instansi terkait.2014 . Sedangkan instansi terkait berperan sebagai instansi penunjang yang membantu instansi utama dalam mencapai sasaran. Tiga instansi ini telah memulai dengan membuat MoU atau kesepakatan mengenai pembuatan peta risiko bencana banjir. Semangat bahwa penanggulangan bencana adalah urusan bersama dituangkan dalam penyusunan Renas PB. kerentanan dan kapasitas (Bab II). Sebagai contoh dalam mencapai sasaran terwujudnya peta risiko bencana banjir skala 1:50. Dalam hal ini sebagian besar instansi utamanya adalah BNPB sebagai perwujudan Pasal 13 huruf b UU No.000 (Lampiran 8). Instansi utama dalam program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana terdiri dari 1 (satu) instansi. Hal tersebut berbeda dengan instansi utama pada program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. terpadu dan menyeluruh. sehingga Renas PB adalah wujud kesepakatan bersama dalam mencapai sasaran yang diinginkan dalam lima tahun ke depan. dimana instansi utama bisa lebih dari 1 (satu) instansi. Hal yang paling penting dalam melaksanakan program-program Renas PB adalah kesepakatan dan keterlibatan seluruh instansi. 98 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 24 Tahun 2007 bahwa BNPB mempunyai fungsi pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana.bencana.

.

.

012.2014 99 .638.855.80 1.(dua belas triliun delapan ratus sembilan puluh lima miliar dua belas juta rupiah). 64.00 64.008.060.50 14. 2.475.000.475.50 2.1.06 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .677.50 822. Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp. Tabel 6.000. 12.00 7.. pendidikan dan pelatihan Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB Pencegahan dan mitigasi bencana Peringatan dini Kesiapsiagaan Tanggap darurat Rehabilitasi dan rekonstruksi TOTAL 5.) 30. 3.665. 7. PROGRAM Penguatan peraturan perundanganan dan kapasitas kelembagaan Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.000. 1.16 368. 4.(enam puluh empat triliun empat ratus tujuh delapan puluh lima miliar enam puluh juta rupiah).000.1 ANGGARAN Anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana ini adalah Rp.00 24. 6. Atau rata-rata pertahun Rp. 9. 6. 8.BAB VI ANGGARAN DAN PENDANAAN 6.895.60 No.415.

Dana tersebut akan digunakan untuk pembentukan 1.000.-. pembentukan sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota dan 5 lokakarya tahunan tentang PRB berbasis komunitas.500. penguatan peran media dalam menumbuhkan 100 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana.-.000. pembentukan 33 Pusat Studi Bencana di berbagai perguruan tinggi.855. 30. Program penelitian. peningkatan penerapan teknologi untuk dalam penanganan 14 macam bencana (termasuk pengembangan sistem peringatan dini).-.-.2014 .160. 6. pendidikan dan pelatihan diperlukan dana Rp 368.638. serta penusunan penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana.000 guru.500. yang akan dipergunakan untuk kegiatan penyusunan Renas PB dan rencana penanggulangan bencana serta pengarusutamaan rencana penanggulangan bencana ke dalam rencana pembangunan di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota. Program peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB dengan alokasi dana Rp.665.000.000. Dana ini akan digunakan untuk penyusunan pedoman tata ruang dan tata guna lahan. terbentuknya kantor regional.000.600. yang akan dipergunakan diantaranya meningkatkan sumberdaya manusia dalam penanggulangan bencana berupa pelatihan terhadap staf BPBD Provinsi.100 desa siaga bencana di 33 provinsi.000. Program perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu diperlukan dana Rp.000 penelitian di 33 Perguruan Tinggi di Indonesia.000.000. penguatan BPBD di 33 Provinsi dan 275 kabupaten/kota. Dana ini akan dialokasikan untuk pembiayaan 3. pendidikan publik guna meningkatkan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota. penyusunan peraturan pemerintah dan peraturan daerah tentang pengelolaan sumberdaya alam yang rawan di 33 provinsi. pembentukan 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan.Dalam program penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan diperlukan dana Rp. Program pencegahan dan mitigasi diperlukan dana Rp.000.000. 2.000. pelatihan 4. pembentukan kelompokkelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan.-. 24.

000. Program tanggap darurat Rp 1. asuransi bencana di tiap provinsi. 1.415.-. 14.-.008. Tabel 6.000. peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan. penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi. Dana terbesar dialokasikan untuk bencana gempa bumi. Hal ini mengingat pada bencana gempa bumi pembangunan sarana dan prasara publik pada umumnya memerlukan pembangunan kembali. pemulihan sarana dan prasaran publik serta pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis korban bencana.489.2. 3.000.800.5 931.dialokasikan untuk pemasangan sistem peringatan dini di provinsi yang rawan bencana. JENIS BENCANA Gempabumi Tsunami Gunungapi Gerakan Tanah ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp. Penggunaaan dana tersebut diantaranya adalah untuk pengkajian kerusakan dan kerugian. Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB No.000.000.000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan.0 1.677.diantaranya untuk pembentukan 2 SRC-PB yang berkedudukan di Malang dan Jakarta dan akan dibentuk juga 12 SRC di 12 kantor regional. penyediaan kebutuhan hunian darurat. 822. Program peringatan dini Rp. dan sosialisasinya. Program kesiapsiagaan dengan alokasi dana Rp 7. 2.007. peningkatan peningkatan akses komunikasi di kantor pusat dan 33 provinsi. penyediaan stok logistik kebutuhan dasar.000. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan mobilisasi sumberdaya.6 101 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat dengan melatih 2. pengumpulan dan evakuasi korban padsa saat terjadi bencana Pembiayaan terbesar terdapat pada program rehabilitasi dan rekonstruksi Rp..0 4.000.) 12.500. pembuatan modifikasi cuaca.111.000. 4.2014 .

156. dan dukungan dunia usaha serta lembaga donor.2).5 197.0 151. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).497.500.(estimasi).5 380.untuk 5 (lima) tahun atau ratarata pertahun sebesar Rp.000.000. Begitu pula. 12.5 241..463. 9.-. 14.000.8.. Banjir Kekeringan Kebakaran Hutan dan Lahan Erosi Kebakaran Gedung&Perumahan Gelombang Ekstrim & Abrasi Cuaca Ekstrim Kegagalan Teknologi Epidemi & Wabah Penyakit Konflik Sosial TOTAL 2.500.000.000.000. Anggaran yang berasal dari dana APBN dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Kementerian/Lembaga untuk menjamin agar upaya penanggulangan bencana dapat berjalan secara berkesinambungan. Di lain pihak. Hal ini disebabkan pada program rehabilitasi dan rekontruksinya masih mengalokasikan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah pasca bencana yang belum selesai. 11.2 474.- 6.8 Apabila diklasifikasi berdasarkan jenis bencana (Tabel 6. 6.2 PENDANAAN Sumber pendanaan untuk pelaksanaan rencana penanggulangan bencana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).000. 7.. 12.000.000. 2. anggaran rencana penanggulangan bencana akibat kegagalan teknologi dan konflik sosial adalah yang terkecil yaitu masing-masing sebesar Rp.5 156. 8. 10. 102 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .000. 13.5. maka rencana penanggulangan bencana gempabumi memiliki anggaran yang paling besar yaitu Rp.489.5 23.5 312.0 650.2014 .000.atau rata-rata pertahunnya kurang dari Rp. 32.000..5 210.000.800.dan Rp. terutama paska gempabumi di Jawa Barat bagian selatan dan Sumatra Barat sebesar Rp. anggaran penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah yang berasal dari dana APBD dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah.150. 151.

tanggap darurat dan pasca bencana. anggaran kegiatan penanggulangan bencana juga dapat berasal dari bantuan donor. Programprogram di dalam Renas PB yang spesifik instansi dibiayai dari anggaran masing-masing instansi bersangkutan. Artinya. BNPB dan/atau BPBD sesuai tugas pokok dan fungsinya. Pemerintah Daerah. Pendanaan yang berasal dari APBN mengacu pada sistem penganggaran yang diatur melalui keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan. dunia usaha ataupun dari dana masyarakat sendiri. pelaksanaan program dan kegiatan dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 ini harus disesuaikan dengan nomenklatur anggaran terkait penanggulangan bencana dari Kementerian/Lembaga. Mekanisme pendanaan yang berasal dari anggaran non-pemerintah diatur sesuai aturan masingmasing lembaga atau instansi. yang mengacu pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Dalam situasi ada potensi terjadinya bencana. Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana.Anggaran untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan merupakan dana tambahan (on top) terhadap anggaran Renstra Kementerian/Lembaga. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk kegiatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dana penanggulangan bencana digunakan oleh Pemerintah. Bantuan dana dari pihak asing. Dalam situasi tidak terjadi bencana. Artinya. Di samping pendanaan dari pemerintah. Dana penanggulangan bencana digunakan untuk tahap tidak ada bencana. sebagian besar sumber daya dan pembiayaan untuk kegiatan penanggulangan bencana terpadu ke dalam kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara.2014 103 . tetapi terintegrasi ke dalam anggaran yang terkait dengan kepentingan penanggulangan bencana. sementara itu program penanggulangan bencana yang bersifat umum dibiayai melalui anggaran BNPB. harus disampaikan atau dikirimkan secara langsung kepada BNPB. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk program-program pengurangan risiko bencana.

104 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Kepolisian. dan peraturan perundangan turunannya (Peraturan Menteri/Kepala Lembaga bersangkutan) dengan mengacu kepada rencana penanggulangan bencana di daerah. Pengajuan anggaran kegiatan penanggulangan bencana dari instansi vertikal di daerah (TNI. Pemerintah daerah mengajukan permohonan untuk dana ini kepada pemerintah pusat melalui BNPB. pemerintah mengalokasikan dana siap pakai (on-call budget) yang harus selalu tersedia untuk kebutuhan saat tanggap darurat. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. pembangunan sistem peringatan dini dan kegiatan mitigasi bencana. Untuk mengantisipasi situasi tanggap darurat. pemerintah mengalokasikan dana bantuan sosial berpola hibah yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah.kesiapsiagaan. Balai/Balai Besar Kementerian/Lembaga) mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Sedangkan untuk tahap pasca bencana. Kanwil.

.

.

2014 105 . Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan realisasi penyerapan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan dan sasaran pembangunan. 50 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. 40 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Kep. 7.2/2002 dan No. Pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan yang tercantum di dalam Renas PB ini dilaksanakan dengan mengacu pada perangkat hukum berikut: 30 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan.BAB VII PEMANTAUAN. Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.1 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan Renas PB dan mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul agar dapat diambil tindakan sedini mungkin. 60 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. 70 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. EVALUASI DAN PELAPORAN Pemantauan (monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan agar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Kep-102/Mk. 80 Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas No.Ppn/09/2002 tentang Sistem Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Proyek Pembangunan. 292/M.

. kinerja program serta hasil-hasil yang dicapai. Kapasitas dan Keberlanjutan dari pelaksanaan suatu rencana program/kegiatan. Pemantauan dapat dilaksanakan antara lain melalui kunjungan kerja ke program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. pelaksanaan pemantauan sebaiknya juga menilai aspek Konsistensi. Efektivitas. yakni tingkat seberapa jauh program/kegiatan mencapai hasil dan manfaat yang diharapkan.dana. yaitu kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) dapat diselesaikan tepat waktu. dan pengecekan laporan pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko yang dikaji berdasarkan rencana kerja yang tercantum dalam Renas PB. LSM dan kelompok profesional. Pemantauan pelaksanaan Renas PB dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masingmasing. Konsultasi. Pelaksanaan pemantauan (dan juga evaluasi) dilaksanakan dengan memperhatikan asas Efisiensi. ditinjau secara berkala setiap 2 106 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . rapat kerja atau pertemuan dengan pelaksana kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan dan kendala yang ditemui. kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Renas PB serta mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatankegiatan pengurangan risiko bencana. Selain untuk menemukan dan menyelesaikan kendala yang dihadapi. Pemantauan harus dilakukan secara berkala untuk mendapatkan informasi akurat tentang pelaksanaan kegiatan. Koordinasi. realisasi pencapaian target keluaran (output) dan kendala yang dihadapi. Pasal 6 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar “Rencana penanggulangan bencana. Keterlibatan aktif unsur luar dapat diakomodasi dalam bentuk kelompok kerja yang dikoordinasikan oleh pemerintah. tepat lokasi dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal. Laporan hasil pemantauan disusun setiap enam bulan sekali (semester).2014 . Selain ketiga asas tersebut. Kegiatan pemantauan juga dapat melibatkan masyarakat (misalkan melalui Platform Nasional PRB). yakni derajat hubungan antara barang/jasa yang dihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output). dan Kemanfaatan..

Format pemantauan dan evaluasi Sumber Pendanaan Keterangan (Tindak Lanjut) Kegiatan Alokasi Sasaran (Target) Pencapaian (Realisasi) APBN Lain-lain Selain berguna untuk memperbaiki pengelolaan program di masa yang akan datang. Selain dinilai berdasarkan efektivitas dan efisiensinya. kinerja program pengurangan risiko bencana yang tercantum dalam Renas PB diukur juga berdasarkan kemanfaatan serta keberlanjutannya. Pada hakikatnya evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). Di samping membandingkan antara target dan pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Renas PB. evaluasi juga dapat dilakukan dengan mengkaji dampak yang ditimbulkan melalui pelaksanaan Renas PB.2014 107 . keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis.(dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana”. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumber daya yang digunakan serta indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan dan/atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. Evaluasi pelaksanaan Renas PB dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang atau jasa dan terhadap hasil (outcome) program yang dapat berupa dampak atau manfaat bagi masyarakat dan/atau pemerintah. objektif dan transparan. Evaluasi berkala ini bertujuan untuk menilai hasil yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan pengurangan risiko bencana serta efektivitas dan efisiensi program dan kegiatan tersebut.1. Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana program berikutnya. evaluasi juga menjamin adanya tanggung-gugat (akuntabilitas) dan membantu meningkatkan efisiensi serta efektivitas pengalokasian sumber daya dan anggaran. Tabel 7. Kedua cara ini dapat saling mendukung dalam memberikan informasi yang bermanfaat untuk Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . menyeluruh.

evaluasi pelaksanaan Renas PB juga dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.2 PELAPORAN Pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana harus dilaporkan dalam sebuah laporan tertulis. Pada akhir tahun kedua dan keempat pelaksanaan Renas PB. Laporan hasil evaluasi disusun setiap satu tahun sekali.kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan Renas PB. Seperti pemantauan. 7. Pada akhir tahun kelima akan diadakan sebuah evaluasi akhir menyeluruh yang hasilnya akan dituangkan dalam sebuah laporan akhir yang selain berisi laporan kegiatan dan pencapaiannya juga berisi kajian atas keberhasilan/kegagalan dari semua program dan kegiatan pengurangan risiko yang telah dilaksanakan selama kurun waktu Renas PB. 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Laporan disusun setiap tahun dan satu salinan dari laporan ini dikirim kepada BNPB untuk disatukan dengan laporan tahunan tingkat nasional. Evaluasi dapat melibatkan pihak luar. Harapannya adalah agar semua laporan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dapat terdokumentasi dengan baik dan secara resmi dikeluarkan oleh BNPB. tetapi tetap di bawah koordinasi instansi pemerintah terkait. BNPB akan mengkoordinasikan sebuah peninjauan atau evaluasi tengah program yang melibatkan semua Kementerian/Lembaga dan pihak terkait lainnya. Laporan juga akan berisi rekomendasi tindak lanjut bagi instansi/lembaga tertentu jika diperlukan.

.

.

Daftar istilah dan pengertian-pengertian (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan bencana. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. perlindungan. kerusakan atau kehilangan harta. kerusakan lingkungan. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang mengurangi risiko timbulnya bencana. mengungsi.Lampiran 1. Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. hilangnya rasa aman. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. kegiatan pencegahan bencana. tanggap darurat dan rehabilitasi. kerugian harta benda dan dampak psikologis. harta benda. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. sakit. luka. jiwa terancam. pengurusan L-1 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lampiran . Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. dan gangguan kegiatan masyarakat. pemenuhan kebutuhan dasar. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian.

yang selanjutnya disingkat RPJP. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. tegaknya hukum dan ketertiban.(9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) pengungsi. yang selanjutnya disebut Pemerintah. Bupati/Walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. yang selanjutnya disingkat RPJM. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. serta pemulihan prasarana dan sarana publik. adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Pemerintah Pusat. adalah lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. yang selanjutnya disingkat BPBD. yang selanjutnya disebut Rencana L-2 Lampiran . baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. yang selanjutnya disingkat BNPB. penyelamatan. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Rencana Pembangunan Jangka Panjang. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. sosial dan budaya. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga.

Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode I (satu) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (RenjaKL). Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. adalah dokumen perencanaan kementerian/lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. adalah dokumen perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode1 (satu) tahun. adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode I (satu) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.(18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL). atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah Lampiran L-3 . Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. adalah dokumen perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi.

L-4 Lampiran 2. Peta-Peta Risiko Bencana " Lampiran .

Lampiran " L-5 .

L-6

Lampiran

"

Lampiran

"
L-7

L-8

Lampiran

"

Lampiran

L-9

"

L-10

Lampiran

"

Lampiran

L-11

"

L-12

Lampiran

"

Lampiran

L-13

"

L-14 Lampiran " .

Lampiran L-15 " .

L-16 " Lampiran .

" Lampiran L-17 .

L-18 " Lampiran .

" Lampiran L-19 .

L-20 " Lampiran .

" Lampiran L-21 .

perda dan protap Penanggulangan Bencana yang memuat mekanisme PB. Sandingan Program. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk kategori program-program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana.Polri .BMKG .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi terkait: .TNI .Kementerian Sosial . 1. serta koordinasi Peraturan. termasuk pembagian tugas. Sasaran. protap Penanggulangan Bencana tersusun di tingkat pusat dan 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: . Perda. kewenangan dan sumber daya.KRT .LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Lampiran 3. Satuan Penguatan BPBD di 33 provinsi dan terbentuknya BPBD di 275 kabupaten/ kota.Basarnas .Kementerian kehutanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) PROGRAM : PENGUATAN PERATURAN PERUNDANGAN DAN KAPASITAS KELEMBAGAAN 1.2 Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.KementerianE SDM .PMI Instansi utama: .1 Penyusunan peraturan.BPPT .Bakosurtanal . NO.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri 25 miliar 1. serta 350 miliar L-22 Lampiran . Fokus Prioritas.

Kementerian kehutanan .BNPB Instansi terkait: .BNPB 16.Basarnas .Kementerian PAN Instansi utama: .6 Pembentukan Regionalisasi Depo 33 Pusat Studi Bencana didirikan di Perguruanperguruan Tinggi di seluruh Indonesia 16.Kementerian Sosial .BNPB Instansi terkait: .BPPT .000 miliar Lampiran L-23 .Reaksi Cepat Daerah) 1.000 staf teknis/pelaksana BPBD provinsi dan SKPD terkait menerima pelatihan teknis PB .4 Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) 200 miliar 1.Kementerian Perhubungan .5 Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana 1.5 miliar Terbentuknya 12 kantor regional 30.BNPB Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian ESDM .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .PT Instansi utama: .300 orang pejabat BPBD di 33 provinsi memperoleh pelatihan manajemen PB 40.PMI Instansi utama: .3 Diklat penguatan kapasitas manajemen PB di daerah tersedianya sarana pendukung sesuai standar minimum 3.5 miliar 1.Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Pendidikan Nasional .BMKG .

7 Standarisasi pedomanpedoman dan acuan penanggulangan bencana 1.Kementerian Sosial .KRT .BNPB Instansi terkait: . Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Instansi terkait: .KementerianE SDM .TNI .Logistik.BMKG Instansi utama: .Bulog .Basarnas .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana Instansi utama: .Kementerian ESDM .8 Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lemb aga 1.BMKG .Polri 20 SNI pedoman dan acuan penanggulangan bencana Instansi utama: .PMI .Kemenko Kesra 10 miliar 1.BPPT .Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .LIPI .Kemenko Kesra Instansi terkait: .BSN .Kementerian Kelautan dan Perikanan .9 Pengkoordinasian penganggaran 20 Koordinasi sinkronisasi pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana 10 miliar 20 koordinasi penganggaran sektor penanggulangan 10 miliar L-24 Lampiran .Kementerian Kesehatan .

PROGRAM : PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA YANG TERPADU 2.Kementerian Pendidikan Nasional .BPPT . Renstra SKPD di 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: . PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 3.000 penelitian diadakan di 33 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia Instansi utama: .2 Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini 3.BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana 2.Bappenas 18 miliar Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: .BNPB .Kementerian Kelautan dan Perikanan 150 miliar Iptek dikembangkan dan diaplikasikan untuk 14 ancaman utama 128 miliar Lampiran L-25 .1 Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana 3.Bappenas Instansi terkait: .bencana Instansi terkait: . RPJMD.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi utama: .LIPI .2 Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Tersusunnya Renas PB dan Rencana Penanggulangan Bencana di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota PRB dalam RPJM.KNRT Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri 6.Kementerian ESDM . Renstra K/L. PROGRAM : PENELITIAN.1 Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah 2.16 miliar 3.

Kementerian PU .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Kementerian PU .Kementerian Sosial 5 miliar 5.5 miliar 3.BNPB Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: .6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 5 lokakarya tahunan PRB-BK diselenggarakan di tingkat nasional.Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi utama: .3 Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 3.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .BNPB .BMKG .5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 20 miliar 3.BMKG .Depdiknas Instansi terkait: .4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah Kurikulum sekolah di tingkat pusat dan daerah mengandung muatan Penanggulangan Bencana 275 sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota menerapkan program kesiapsiagaan bencana Pelatihan 4.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: . lokakarya internasional dua tahun sekali 10 miliar L-26 Lampiran .Kementerian kehutanan .KementerianE SDM .000 guru dan tokoh masyarakat di 33 provinsi Instansi utama: .BNPB 3..Kementerian Luar Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .

Polri ..TNI .Kementerian Kehutanan .LIPI .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Dephut .Kementerian ESDM .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .BNPB .BPPT .Kementerian Kesehatan .KRT .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Basarnas .KNRT .Kementerian Kesehatan .PMI 50 miliar Lampiran L-27 .Kementerian Sosial .Kementerian PU .PMI 3.7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan Peningkatan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota akan masalah kebencanaan Instansi utama: .Basarnas .Bakosurtanal .LIPI .BPPT .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Polri .

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 4.Kementerian PU .Kementerian LH 5 miliar 4.1 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan Sumber Daya Alam yang rawan di 33 provinsi Instansi utama: .Polri .Kementerian LH Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .4.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian ESDM .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .Kementerian LH Instansi terkait: .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian Hukum dan HAM .2 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5 miliar 4.Kementerian PU .BNPB .3 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana Tingkat kepatuhan terhadap peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5 miliar L-28 Lampiran .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kejaksaan .

2 Pengembangan forum pengurangan 2.Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .000 .4 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana .BMKG .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri .000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan Instansi utama: .Bakosurtanal .Deptan .Kementerian Kelautan dan Perikanan .rekomendasi tata ruang berbasis risiko bencana pada provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi Instansi Utama : .Kementerian LH 140 milyar 5..BNPB 10 miliar 33 forum pengurangan risiko bencana terbentuk Instansi utama: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian ESDM .Pedoman tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko skala 1:50.6 miliar Lampiran L-29 .BNPB 6.Kementerian PU Instansi terkait: . PROGRAM : PENINGKATAN KAPASITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PARA PEMANGKU KEPENTINGAN LAINNYA DALAM PRB 5.Kementerian PU .BPN .1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 5.Kementerian ESDM .Kementerian Kehutanan 4.

BNPB Instansi terkait: .100 Desa siaga bencana terbentuk di 33 provinsi 110 miliar 5.Kementerian ESDM .BMKG .3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan di 33 provinsi Instansi terkait: .5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan Terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan 74 miliar L-30 Lampiran .Kementerian Sosial .4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 1.Kementerian Pendidikan Nasional .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Negara UKM Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Kelautan dan Perikanan 5 miliar 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan 5.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .risiko bencana (PRB) di daerah 5.PMI .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi utama: .Kementerian Pertanian .Kwarnas Pramuka Instansi utama: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .

500 miliar 5..1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur Dua SRC PB Nasional di Jakarta dan Malang mengadakan latihan rutin dan ditingkatkan kapasitasnya dalam merespons bencana Implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response) 12 Satuan Reaksi Cepat (SRC PB) Instansi utama: .Polri .BNPB . anak dan kelompok marjinal dalam menghadapi bencana di wilayah berisiko tinggi 150 miliar PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 6.TNI .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.BNPB 2.000 miliar 6.KPDT . anak dan kelompokkelompok marjinal 6.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) Asuransi bencana di tingkat pusat dan daerah untuk perumahan Instansi utama: .Kementerian Sosial Instansi utama: .Kementerian PU .Kementerian Pertanian 5.BNPB 5.BNPB Instansi terkait: .3 Pembentukan Satuan-satuan 50 miliar 120 miliar Lampiran L-31 .Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggapa darurat 6. Meningkatnya kapasitas kaum perempuan.Bappenas Instansi utama: .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Pemberdayaan Perempuan Instansi terkait: .Kementerian Perumahan Rakyat .

Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BNPB .BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .BNPB .200 miliar L-32 Lampiran .Kementerian Perhubungan Instansi terkait: .TNI .Polri .Polri .6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara Tersedianya kebutuhan hunian darurat dan sementara 150 miliar 6.Kementerian Kesehatan .PMI Instansi utama: .Basarnas .Kementerian PU .TNI .Kementerian Sosial Instansi terkait: .5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan Tersedianya kebutuhan dasar kesehatan untuk menghadapi kedaruratan 50 miliar 6.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan Bandara dan pelabuhan di 12 provinsi yang paling rawan 1.PMI Instansi utama: .Kementerian PU Instansi terkait: .Bulog Instansi utama: .Kementerian PU 300 miliar 6.BNPB .Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional terbentuk di 12 kantor regional Instansi terkait: .4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar Tersedianya stok logistik kebutuhan dasar 6.Kementerian Kesehatan Instansi terkait: .Kementerian Sosial .

Kementerian Dalam Negeri TOTAL 100 miliar 41.Kementerian Sosial .011.8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi realtime untuk emerjensi. pengembangan TI Sistem informasi bencana real-time terbentuk di pusat dan di 33 provinsi Instansi utama: .6.26 miliar Lampiran L-33 .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Komunikasi dan Informasi .

100 penelitian dan pengembangan mengenai 150 miliar L-34 Lampiran .Kementerian PU .BMKG 2. Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Sosial .BPPT . 1. Sasaran.Kementerian ESDM .000 .Kementerian Kesehatan . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU . Pemetaan kawasan rawan bencana. Sandingan Program. pemetaan risiko bencana.Penyuluhan.Terpasangnya 400 strong motion accelograph yang tersebar di seluruh Indonesia Instansi Utama : .BMKG . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .LIPI . pelatihan dan gladi mekanisme pengurangan risiko bencana 1.BPPT . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 400 miliar NO.23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .Lampiran 4.BNPB .LIPI Instansi Terkait : . dan pemantauan gempabumi .Bakosurtanal .Bakosurtanal . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gempabumi. Fokus Prioritas.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .Peta risiko bencana gempabumi skala 1 : 50.LIPI Instansi Terkait : .BMKG .LAPAN Instansi Utama : .150 miliar 3.BPS .

pengurangan risiko bencana gempabumi per tahun .TNI/POLRI Instansi Utama : .Kementerian Sosial . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .BNPB Instansi Terkait : .50 gladi kesiapsiagaan terhadap gempabumi pada wilayah berisiko tinggi terhadap 85 miliar Lampiran L-35 .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .Kementerian Sosial .23 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gempabumi 2.LIPI .BMKG .Kementerian Kesehatan . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN Penyusunan rencana kontijensi .LAPAN .5 miliar 2.BNPB Instansi Terkait : .Pembentukan national board of earthquake disaster prevention .200 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal . Peningkatan Penyuluhan. 1.LAPAN .KRT .Kementerian Sosial 11.Kementerian Dalam Negeri LIPI .BPPT .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .BPPT .BMKG .Kementerian ESDM .

TNI .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Utama : .BPPT . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4. Pencarian.Kementerian PU Instansi Utama : . layanan kesehatan.Kementerian Dalam Negeri . Kaji cepat bencana 2.TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.gempabumi . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .TNI .Polri .POLRI SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan . hunian sementara.Bakosurtanal .Polri . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar L-36 Lampiran .Kementerian Perhubungan .LAPAN . sandang.Kementerian Dalam Negeri .5 miliar 3.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . penyelamatan dan evakuasi 3.Basarnas 10 miliar 12.

Kementerian Perhubungan .Kementerian PU .Kementerian Sosial . Bappenas. .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM 5. .Kementerian Dalam Negeri . Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar Lampiran L-37 . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU 50 miliar 4.BNPB .BNPB . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Bappenas.Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .BNPB.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 8.000 miliar (estimasi) 2..Kementerian Keuangan .BMKG Selesainya rehabilitasi dan rekonstruksi gempabumi Jawa Barat dan Sumatra Barat .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan 3. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian PU - BNPB - Kementerian Perumahan Rakyat - Kementerian Kesehatan - Kementerian Pendidikan Nasional - Kementerian Budpar - Kementerian Agama - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU 10 miliar

4. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana

2.500 miliar

5. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan, pembangunan sistem dan

20 miliar

50 miliar

L-38

Lampiran

infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BMKG TOTAL 12.489 miliar

Lampiran

L-39

Lampiran 5.
Sandingan Program, Fokus Prioritas, Sasaran, Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Tsunami.
KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 310 miliar

NO. 1.

FOKUS PRIORITAS

SASARAN

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pemetaan kawasan rawan bencana, pemetaan risiko bencana dan pemantauan tsunami

- Peta risiko
bencana tsunami skala 1 : 50.000 - Terpasangnya 25 buoy tsunami yang tersebar di seluruh Indonesia

Instansi Utama : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Terkait : - LIPI - Bakosurtanal - BPPT - Kementerian PU - BNPB Instansi Utama : Non struktural : - Kementerian ESDM Struktural : - Kementerian PU Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian Kelautan dan Perikanan - LIPI - BPPT - KRT - BNPB - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan

2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural

- 25 provinsi yang
mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami

625 miliar

L-40

Lampiran

3. Penelitian dan Pengembangan

- 100 penelitian
dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana tsunami per tahun

Instansi Utama : - KRT - LIPI - Kementerian Kelautan dan Perikanan - BMKG Instansi Terkait : - Kementerian ESDM - BPPT - Bakosurtanal - LAPAN - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : - BNPB Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Dalam Negeri - LIPI - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Bakosurtanal - LAPAN - BPPT - TNI - Polri Instansi Utama : - BNPB

50 miliar

2.

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi

- 25 rencana
kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami

50 miliar

2. Penyuluhan, pelatihan dan gladi mekanisme
Lampiran

- 100 penyuluhan
dan pelatihan pada wilayah

42.5 miliar

L-41

5 miliar 237.Basarnas 10 miliar 12.LAPAN .Polri . Kaji cepat bencana tsunami 2. Membangun system peringatan dini bencana tsunami .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Bakosurtanal .Kementerian Sosial . penyelamatan dan evakuasi L-42 Lampiran .LIPI .KNRT Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.TNI .LIPI .5 miliar 3.Bakosurtanal .TNI .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Polri Instansi Utama : .Kementerian ESDM .tanggap darurat berisiko tinggi terhadap tsunami .Terbangunnya sistem peringatan dini 25 provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami 4.Kementerian ESDM . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Sosial . Pencarian.BMKG .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .LAPAN .BPPT .Kementerian Kesehatan BNPB SRC-PB Instansi Utama : .25 gladi kesiapsiagaan terhadap tsunami pada wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami Instansi Terkait : .

hunian sementara.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .TNI . air bersih dan sanitasi Instansi Utama sandang pangan: .TNI . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar Lampiran L-43 .Kementerian Komunikasi dan Informasi 20 miliar 4.Kementerian Perhubungan Instansi Utama : .Polri .Kementerian Dalam Negeri . layanan kesehatan. air bersih. sandang.Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .TNI . sanitasi : .Kementerian PU Instansi utama layanan kesehatan : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi utama hunian.Polri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .PMI .Basarnas .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan 3.Polri .

Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .5.BNPB . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .500 miliar L-44 Lampiran .Kementerian PU .BNPB .BMKG 50 miliar BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5. Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Sosial . .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 2.Kementerian Perumahan Rakyat 10 miliar 2.Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Bappenas . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 3.Kementerian Keuangan .BNPB .Bappenas .Kementerian PU .Kementerian Sosial .BNPB .

Kementerian Kesehatan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . Peningkatan kapasitas rehabilitas dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Bappenas. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.Kementerian Dalam Negeri .4.BMKG 20 miliar 50 miliar TOTAL 4.008.Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial . .5 miliar Lampiran L-45 .BNPB .

Kementerian ESDM .000 .LAPAN .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian ESDM 2. FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Terpasangnya instrument pemantau aktivitas gunungapi pada 70 gunungapi Instansi Utama : . dan pemantauan gunungapi . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 56 miliar NO. Sandingan Program.BNPB Instansi Utama : .Kementerian LH Instansi Utama : .Peta risiko bencana gunungapi skala 1 : 50.Lampiran 6.BMKG . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gunungapi. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BMKG . Sasaran. Fokus Prioritas.Kementerian PU .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .LIPI . Penelitian dan Pengembangan .BPPT . Pemetaan kawasan rawan bencana.BPPT . pemetaan risiko bencana.Kementerian Sosial .40 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gunungapi per tahun 60 miliar L-46 Lampiran . 1.KRT .70 wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi 245 miliar 3.

BNPB . Pengamatan dan peringatan dini gunungapi Terbangunnya sIstem pengamatan guna menunjang sIstem peringatan dini di 70 gunungapi Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan . Penyusunan rencana kontijensi .Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .70 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gunungapi 35 miliar Lampiran L-47 .Kementerian Sosial .TNI .- BPPT Bakosurtanal LAPAN LIPI Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .BMKG .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Kementerian Kesehatan .LAPAN 210 miliar 3.Polri Instansi Utama : .LIPI . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Pendidikan Nasional 2.Kementerian ESDM . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Sosial .

BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan . sandang. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . layanan kesehatan. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.ESDM . air bersih dan sanitasi 20 miliar L-48 Lampiran .BMKG .LAPAN .Kementerian PU Instansi Utama : .5 miliar 10 miliar 3.Basarnas Instansi Terkait : .Polri 2.TNI .LIPI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI .Bakosurtanal .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi .TNI . Pencarian. hunian sementara. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.30 gladi kesiapsiagaan terhadap gunungapi pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi Instansi Utama : .5 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri . Kaji cepat bencana gunungapi 2.Kementerian Perhubungan . penyelamatan dan evakuasi 7..Kementerian Dalam Negeri 37.BPPT .BPPT .Polri SRC-PB Instansi Utama : . Penyuluhan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Polri .Kementerian Sosial .

Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities Instansi Utama : .BNPB .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .BNPB . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 50 miliar .TNI . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Polri ..Kementerian ESDM . .Bappenas .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan - Lampiran L-49 .BMKG 10 miliar 5.Kementerian PU 4.Basarnas .Bappenas.Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .

Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui L-50 100 miliar 20 miliar 50 miliar Lampiran .BNPB .Kementerian Keuangan ..Kementerian ESDM . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Dalam Negeri 10 miliar 3.Kementerian Perumahan Rakyat .Bappenas .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Sosial . .Kementerian Sosial . Pengkajian kerusakan dan kerugian .BNPB .Kementerian ESDM .Bappenas .Kementerian ESDM 2. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.BNPB .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .pendidikanpelatihan.BMKG TOTAL 931 miliar Lampiran L-51 .Kementerian Keuangan .Kementerian ESDM .

BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian PU 2. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 180 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LIPI .Bakosurtanal .000 Instansi Utama : .BNPB .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . Sandingan Program.Kementerian ESDM .BMKG .Kementerian PU . NO.Lampiran 7.Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian PU .BPPT .LIPI Instansi Terkait : .BPPT .LIPI . Penelitian dan Pengembangan - 100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gerakan tanah per tahun 50 miliar L-52 Lampiran . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gerakan Tanah. 1. Pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dan pemetaan risiko bencana gerakan tanah Peta risiko bencana gerakan tanah skala 1 : 50.LAPAN Instansi Utama : . Sasaran. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 26 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah per tahun 260 miliar 3. Fokus Prioritas.Kementerian ESDM .BMKG Instansi terkait : .

BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .LIPI .BNPB 3 PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.KRT .2.Kementerian PU . Pemantauan gerakan tanah pada jalur jalan atau wilayah vital dan strategis - Terbangunnya sistem peringatan dini 26 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Utama : .BPPT .BMKG .Bakosurtanal . PROGRAM : PERINGATAN DINI KRT BPPT Bakosurtanal LAPAN Kementerian Sosial Kementerian Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Kementerian Perhubungan 200 miliar 1.Kementerian Sosial .TNI .LAPAN .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Polri Instansi Utama : . Penyusunan rencana kontijensi 26 rencana kontijensi pada tingkat provinsi 13 miliar Lampiran L-53 .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .

Polri Instansi Utama : .berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Polri SRC-PB 43.BMKG . Kaji cepat bencana gerakan tanah 10 miliar L-54 Lampiran .BPPT .Kementerian PU .Kementerian ESDM .Kementerian Sosial . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.LIPI .TNI .Kementerian ESDM .TNI . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat - - 100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 25 gladi kesiapsiagaan terhadap gerakan tanah pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 4.BMKG .LAPAN .Kementerian Kesehatan . Penyuluhan.LIPI .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .LAPAN .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal .6 miliar 2.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .

TNI .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .TNI .Kementerian PU Instansi Utama : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Polri .Kementerian Kesehatan . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan . Pencarian. layanan kesehatan.Basarnas . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4. hunian sementara.Polri .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui Lampiran 50 miliar L-55 .BNPB . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar 5. sandang.Bappenas 10 miliar 3.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .2.Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Kesehatan .Bappenas . Pengkajian kerusakan dan kerugian 10 miliar 3.Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian PU .Kementerian ESDM .BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-56 Lampiran .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .pendidikanpelatihan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.BMKG . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .Kementerian ESDM .Bappenas .Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan 25 miliar 2.BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.

Kementerian Sosial .Bappenas.Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Sosial .Kementerian PU . .BMKG 150 miliar 20 miliar 50 miliar TOTAL 1.6 miliar Lampiran L-57 .Kementerian ESDM 4.111. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian Perumahan Rakyat . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.BNPB .Kementerian Kesehatan .

Fokus Prioritas. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Bakosurtanal .Lampiran 8.BMKG . Sasaran.000 Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Banjir. Penelitian dan Pengembangan .LIPI .Peta risiko bencana banjir skala 1 : 50.BNPB .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan 2.LAPAN Instansi Utama : .Kementerian PU .Kementerian PU . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 200 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pengenalan dan penentuan risiko bencana banjir . 1.Kementerian Sosial .500 miliar 3. NO.100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana banjir per tahun 50 miliar L-58 Lampiran .BMKG .Kementerian PU Instansi Terkait : .LAPAN .BPPT .30 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap banjir 1.Kementerian ESDM .LIPI .BPPT Instansi Terkait : .Bakosurtanal Instansi Terkait: .BMKG . Sandingan Program.BPPT .

Kementerian ESDM ..Kementerian Kesehatan 90 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian Sosial .BNPB Instansi Terkait : .30 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap banjir 15 miliar Lampiran L-59 . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Sosial .BNPB .BPPT .Polri Instansi Utama : .BMKG .Kementerian Pendidikan Nasional 2.LIPI .Terbangunnya sistem peringatan dini 30 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan .LAPAN . Pembangunan Sistem Peringatan Dini banjir .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .BMKG .KRT .

Basarnas Instansi Terkait : ..Kementerian Sosial . Pencarian.TNI .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . L-60 20 miliar Lampiran .LAPAN .Kementerian Sosial 42. Penyuluhan.100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .5 miliar 10 miliar 3.Bakosurtanal . penyelamatan dan evakuasi 7.BMKG .Polri SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .25 gladi kesiapsiagaan terhadap banjir pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : . Kaji cepat bencana banjir 2. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri .Polri 2. sandang.BPPT .LIPI .BNPB Instansi Terkait : .TNI .TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Komunikasi dan Informasi .Polri .5 miliar 3.Kementerian PU .Kementerian ESDM .Kementerian Kesehatan .

Bappenas .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan . layanan kesehatan. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 5.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.hunian sementara.Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian PU 10 miliar Lampiran L-61 .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU Instansi Utama : .Polri .Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.BNPB . air bersih dan sanitasi Instansi Terkait : . Pengkajian kerusakan dan kerugian 50 miliar .TNI .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Basarnas . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Keuangan .Bakosurtanal 10 miliar 4.

Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 75 miliar 4.Kementerian Kesehatan 2.BNPB . . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 10 miliar 50 miliar TOTAL 2.Bakosurtanal 10 miliar 3.BNPB .Kementerian PU .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .150 miliar L-62 Lampiran .Bappenas .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .BMKG .Kementerian PU .Bappenas.

24 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 240 miliar Lampiran L-63 .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana kekeringan .BNPB . Sandingan Program.BMKG .Kementerian Pertanian . Fokus Prioritas. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5. Sasaran.Kementerian ESDM . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Pertanian .Peta risiko bencana kekeringan Instansi Utama : .LIPI .Kementerian PU . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kekeringan.Kementerian Sosial .LAPAN Instansi terkait : .BPPT . NO.Kementerian PU . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Kehutanan .5 miliar 1.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Lampiran 9.Kementerian ESDM .Bakosurtanal .BNPB 2.LIPI .BMKG .BPPT .

Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Kehutanan .BNPB .Kementerian ESDM . Informasi dan .5 miliar penyuluhan L-64 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian Pertanian .Kementerian Kesehatan .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .LIPI .Kementerian Pertanian .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 7.Kementerian ESDM .BMKG .BPPT .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana kekeringan per tahun Instansi Utama : .KRT .Depdiknas Instansi Utama : .LAPAN .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal 25 miliar 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.LAPAN .Kementerian Kesehatan 3.Bakosurtanal .Kementerian Sosial ..

Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .TNI . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 15 miliar Lampiran L-65 .BPPT . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian Sosial .Kementerian PU Instansi Utama : . layanan kesehatan.Kementerian Kehutanan . sandang. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.LAPAN .BMKG .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM . hunian sementara. Penyusunan rencana penanggulangan kedaruratan LAPAN BPPT TNI Polri 7. air bersih dan sanitasi 20 miliar 2.2 miliar .Polri Instansi Utama : .Kementerian PU 4.3.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .24 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap kekeringan Instansi Utama : .

Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-66 Lampiran .Kementerian Pertanian .Bappenas .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas.BNPB .Kementerian Sosial . .Kementerian Perhubungan 3.Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Kehutanan .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan 30 miliar 10 miliar 2.BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5. Pengkajian kerusakan dan kerugian .BNPB .

Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian TOTAL 250 miliar 4.BNPB .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 650. Pemulihan saranaprasarana publik . . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Bappenas.Kementerian Kehutanan .Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian LH .BMKG .Kementerian LH 3.Kementerian Keuangan .BNPB .Kementerian Kehutanan .2 miliar Lampiran L-67 ..Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .

Kementerian Dalam Negeri .10 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan per tahun .Kementerian PU . Pemetaan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan . Sasaran.Lampiran 10. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . 1.BNPB .Kementerian Pertanian .Peningkatan pengawasan pengelolaan lahan gambut untuk tidak dibakar .Fasilitasi penyiapan lahan tanpa bakar untuk petani tradisional 100 miliar L-68 Lampiran .000 .BPPT .LAPAN 2.BMKG .Patroli dan pengawasan melaui udara dan darat Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Sandingan Program.LAPAN Instansi Utama : .Kementerian LH .SPBK (sistem peringkat bahaya kebakaran) skala 1 : 50.TNI .Kementerian Kehutanan .Bakosurtanal . NO.BMKG .Polri Instansi Terkait : .LIPI . Fokus Prioritas.BNPB .Kementerian Pertanian . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 50 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.

Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .Sinkronisasi upaya pencegahan dan mitigasi ancaman asap lintas bantas negara ASEAN 50 miliar 2.Bakosurtanal .BPPT .Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .LIPI Instansi utama: .LAPAN . Implementasi AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Polution) .LIPI .Kementerian LH .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran hutan dan lahan per tahun . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.LAPAN .LAPAN . Penyusunan rencana kontijensi .BPPT .Polri Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Dalam Negeri . Pembangunan Sistem Peringatan Dini kebakaran hutan dan lahan .BNPB Instansi Utama : .BMKG . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.10 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi 5 miliar Lampiran L-69 .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Bakosurtanal .TNI .Pemanfaatan material yang sering dibakar Instansi Utama : .BNPB .Terbangunnya sistem peringatan dini 10 provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 30 miliar 3.Kementerian Kehutanan .BNPB 26 miliar 4.3.

BPPT .Kementerian Pertanian .dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan Instansi Terkait : .LAPAN .BMKG . Operasi Pemadaman .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Kementerian Perhubungan .BNPB .Polri Instansi Utama : .Pembuatan 25 miliar L-70 Lampiran .Bakosurtanal .Kementerian LH 18.50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan . dan air .Mobilisasi sumberdaya melalui darat.Kementerian Kesehatan . udara.LAPAN . Peningkatan Penyuluhan. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian Sosial .TNI .Polri Instansi Utama : .BNPB .10 gladi kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 4.Kementerian Kesehatan . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Sosial .BMKG .BPPT .5 miliar 2.

Kementerian PU .BPPT Instansi Utama : . layanan kesehatan. Patroli.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Pertanian . hewan.Kementerian Kesehatan .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Pengumpulan dan pendistrbusian bantuan 10 miliar Lampiran L-71 . hunian sementara.Polri . sandang.Dephub .Kementerian Sosial .Basarnas . penyelamatan dan evakuasi .Evakuasi manusia.Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .TNI . air bersih dan sanitasi .Kementerian Kehutanan 10 miliar 2. Pencarian.modifikasi cuaca (hujan buatan) Instansi Terkait : .Polri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . dan aset-aset yang bernilai strategis 3. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.

Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-72 Lampiran .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Bappenas .Kementerian Pertanian .Bappenas . Inventarisasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar 2. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan . . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Keuangan .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH 40 miliar 5.BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Kehutanan .4.BNPB .BMKG .Kementerian Kehutanan .Bappenas.Kementerian PU .

.Kementerian Pertanian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 40 miliar 474.BNPB .Kementerian PU .5 miliar Lampiran L-73 .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . Pemulihan saranaprasarana publik dan reboisasi .3.Kementerian Kehutanan .Kementerian PU .Bappenas. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kehutanan TOTAL 50 miliar 4.Kementerian Pertanian .BMKG .Kementerian LH .

NO.BPPT .Kementerian Kehutanan .Kementerian PU Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Lampiran 11. Penelitian dan Pengembangan - 15 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko erosi per tahun 15 miliar L-74 Lampiran . Pengenalan dan pemantauan risiko erosi Peta risiko bencana erosi Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Erosi. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap erosi per tahun 230 miliar 3.Kementerian Pertanian .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Pertanian .Bakosurtanal .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan 2.LIPI .LAPAN .Kementerian Pertanian . Sasaran. FOKUS PRIORITAS 1. Fokus Prioritas. Sandingan Program. SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 40 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Terkait : .

hunian sementara.Kementerian Perhubungan .Kementerian PU Instansi Utama : . air bersih dan sanitasi 2 miliar Lampiran L-75 . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Dalam Negeri . penyelamatan dan evakuasi 1.Kementerian PU 3 miliar 3. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Pencarian.Kementerian Pertanian .Kementerian ESDM 2. sandang. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan..Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian LH .Polri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap erosi Instansi Utama : .5 miliar 2.Kementerian Kesehatan . Penyuluhan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .TNI . layanan kesehatan.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Sosial .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .

Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .5 miliar L-76 Lampiran .Kementerian PU .Bappenas .Kementerian Keuangan . . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.Kementerian LH 30 miliar 4.5 miliar 2.BNPB .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Bappenas .3.Kementerian PU .Bappenas. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .BMKG .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Kementerian LH .Kementerian Pertanian .Kementerian Keuangan .BNPB .

Kementerian Kehutanan . .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 25 miliar 4. Pemulihan saranaprasarana publik - .Bappenas.Kementerian LH .BNPB .Kementerian Pertanian .Kementerian PU .Kementerian Pertanian .Kementerian Keuangan .3.Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 380.BMKG .Kementerian Dalam Negeri .5 miliar Lampiran L-77 .

NO.Bakosurtanal .BNPB 2.LIPI . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.5 miliar 2.25 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman per tahun 125 miliar 3. Pengenalan risiko kebakaran gedung dan permukiman .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian PU .Kementerian PU Instansi Terkait : . Sasaran. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 20 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Peta risiko bencana kebakaran gedung dan permukiman Instansi Utama : .Lampiran 12. 1.10 rencana kontijensi pada 5 miliar L-78 Lampiran . Penelitian dan Pengembangan . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Perumahan Rakyat . Fokus Prioritas.25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran gedung dan permukiman per tahun 12. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Gedung dan Permukiman.BPPT .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Sandingan Program.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU .

tingkat provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Penyuluhan.BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .TNI .TNI .Polri .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian Sosial .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi kebakaran gedung dan permukiman 3.Kementerian PU .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman .Basarnas 10 miliar Lampiran L-79 .Polri . Operasi Pemadaman Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Basarnas 10 miliar 2.TNI .Polri .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . .Basarnas Instansi Terkait : . air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 30 miliar 1.TNI/POLRI .Kementerian PU 2.2.Kementerian Sosial . Pengkajian kerusakan dan kerugian - .BNPB . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4. sandang.BMKG 5 miliar 3. penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Dephub . layanan kesehatan.BNPB .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Keuangan .Kementerian PU . Pencarian. hunian sementara.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Dephub .5 miliar L-80 Lampiran . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Bappenas .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Perumahan Rakyat 2.BNPB .Kementerian Keuangan .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri . . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .5 miliar Lampiran L-81 .Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan . .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Dalam Negeri .BNPB.5 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 4.BNPB .Bappenas .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .BMKG 2.. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar TOTAL 312.

BPPT .Kementerian Kelautan dan Perikanan .LIPI .BPPT 2.Lampiran 13.BMKG .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko gelombang 12. Sandingan Program.Kementerian LH .BPPT . NO.BMKG .LIPI .5 miliar L-82 Lampiran .Kementerian LH Instansi Utama : .Bakosurtanal .LAPAN . Fokus Prioritas.Peta resiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Instansi Utama : . Sasaran. Pengenalan dan pemantauan risiko gelombang ekstrim dan abrasi .Kementerian PU . Penelitian dan Pengembangan . 1.12 propinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim 90 miliar 3. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Gelombang Ekstrim dan Abrasi.Kementerian PU .BMKG Instansi Utama : .Bakosurtanal .LAPAN Instansi Terkait : .LAPAN Instansi Terkait : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM: PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.

BMKG . Pencarian.Kementerian LH .Kementerian PU .BNPB . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian LH .Bakosurtanal . Penyuluhan dan pelatihan .BMKG Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Utama : . penyelamatan dan evakuasi 10 miliar Lampiran L-83 ..LAPAN Instansi Terkait : .BPPT .LIPI .ekstrem dan abrasi per tahun .12 provinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim Instansi Utama : .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gelombang ekstrem dan abrasi 3 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian LH .BNPB Instansi Terkait : .BMKG .Bakosurtanal .Basarnas 12 miliar 3.Kementerian Kelautan dan Perikanan 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. Pemantauan dan penyuluhan .LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan .

Kementerian Perhubungan .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri .. layanan kesehatan.BNPB . .Polri Instansi Terkait : . air bersih dan sanitasi Instansi Utama : . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.Kementerian Keuangan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Keuangan 20 miliar 3.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kesehatan .5 miliar L-84 Lampiran .Kementerian Sosial . sandang.Kementerian Kesehatan . hunian sementara.Bappenas .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian PU 2.BNPB .Bappenas. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.TNI . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 5.BMKG . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian PU .Kementerian LH .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Bappenas .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 2.5 miliar Lampiran L-85 .Kementerian PU .Kementerian LH .Bappenas.Kementerian Kelautan dan Perikanan .BMKG . Pemulihan sarana-prasarana publik dan reboisasi 25 miliar 4.BNPB . .Kementerian Dalam Negeri . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian LH 2.BNPB . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.5 miliar 3. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 241.Kementerian PU .Kementerian PU ..Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Keuangan .

1.LIPI . NO.Peta risiko bencana cuaca ekstrim Instansi Utama : .Lampiran 14.Kementerian PU .14 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim per tahun 35 miliar 3.Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri . Pengenalan dan pemantauan risiko cuaca ekstrim . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Cuaca Ekstrim.BMKG .LAPAN Instansi Terkait : .LIPI .Kementerian LH Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BMKG .Bakosurtanal . Penelitian dan Pengembangan .BPPT . Sasaran.BNPB .BMKG Instansi Terkait : . Sandingan Program.LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian PU .Kementerian LH 2. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Perhubungan .BPPT .Kementerian LH Instansi Utama : .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko cuaca ekstrim per tahun 10 miliar L-86 Lampiran . Fokus Prioritas.Kementerian PU .

LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .BMKG .BNPB .DKP .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Pencarian.Kementerian Sosial .Kementerian Sosial . Penyuluhan.Kementerian Kesehatan .BMKG .TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri Instansi Terkait : . sandang.Kementerian Dalam Negeri . Pemantauan dan Penyuluhan .LAPAN Instansi Terkait : .2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. penyelamatan dan evakuasi 10 miliar 2.Kementerian PU . air bersih dan sanitasi Lampiran 10 miliar L-87 . layanan kesehatan. hunian sementara.Kementerian LH Instansi Utama : .Basarnas .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim 3 miliar 4. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian PU 35 miliar 2.Pemantauan dan penyuluhan di 14 propinsi Instansi Utama : . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian LH Instansi Utama : .BNPB .

PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH .Kementerian Keuangan . Pengkajian kerusakan dan kerugian .BMKG .5 miliar 3. Pemulihan saranaprasarana publik 25 miliar L-88 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Kementerian PU .Kementerian LH 1.5 miliar .Kementerian Dalam Negeri .LAPAN .BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.Kementerian Perhubungan 3.Instansi Terkait : . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran 5. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .Bappenas .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .BPPT 30 miliar 2.Bappenas .Kementerian Keuangan .Kementerian LH .

BMKG .4.BPPT TOTAL 30 miliar 197 miliar Lampiran L-89 .Kementerian Keuangan . . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian PU .BNPB .Bappenas. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .LAPAN .

BATAN 2. Pengenalan dan pemantauan risiko kegagalan teknologi Peta risiko bencana kegagalan teknologi Instansi Utama : . NO.BPPT .Bakosurtanal . Sandingan Program. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian LH .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .LIPI .Kementerian PU . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kegagalan Teknologi. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Bapeten .Wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi per tahun 7.BPPT .Kementerian Dalam Negeri .Bapeten .Lampiran 15.Kementerian Perindustrian .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .Kementerian Perindustrian .BATAN .Kementerian PU .LIPI . Fokus Prioritas.Kementerian Dalam Negeri . Sasaran. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 10 miliar 1.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .5 miliar L-90 Lampiran .

Kementerian Perindustrian 5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Basarnas .Bapeten .Kementerian Sosial .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi 1. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.3.10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kegagalan teknologi per tahun Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . Penyuluhan.5 miliar 3.Kementerian Perindustrian .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU .TNI . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . Penelitian dan Pengembangan .BATAN Instansi Utama : .LIPI .LIPI .Kementerian Perindustrian .BPPT Instansi Terkait : .TNI .Kementerian PU .Polri .Kementerian Perhubungan .Kementerian LH . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.BPPT .BNPB Instansi Terkait : .Bapeten Instansi Utama : .Polri .BATAN . Operasi Penanganan 10 miliar Lampiran L-91 .

air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.Kementerian Perindustrian . sandang.Basarnas .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.Kementerian PU .Kementerian PU . hunian sementara.Kementerian PU Instansi Utama : .TNI .Bapeten 2.Kementerian Perhubungan . Pencarian.BNPB . layanan kesehatan.LAPAN 5 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.BATAN .Kementerian PU .Kementerian Sosial . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Basarnas Instansi Terkait : ..Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai L-92 30 miliar Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Polri .

Kementerian PU .LIPI .Kementerian Kesehatan .BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.5 miliar Lampiran L-93 .5 miliar 2. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Bappenas .Kementerian Perindustrian .BPPT .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Bapeten 4.Bappenas..BATAN .Kementerian Dalam Negeri .LAPAN .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan .BNPB .Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian .LIPI .Kementerian Perhubungan TOTAL 2.BNPB .Kementerian Sosial . . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Perhubungan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 161.Kementerian PU .BPPT .

Bakosurtanal .Wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 50 miliar 3.Kementerian LH Instansi Utama : .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit per tahun 30 miliar 2.LIPI . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit . NO.5 miliar L-94 Lampiran . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .LAPAN . Fokus Prioritas.BNPB ANGGARAN INDIKATIF 8 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Lampiran 16.Peta risiko bencana epidemi dan wabah penyakit 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : . Penyusunan rencana kontijensi . 1. Sandingan Program. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan . Sasaran.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .BPPT .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Epidemi dan Wabah Penyakit.5 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap epidemi 2. Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .

hunian sementara.Kementerian PU Instansi Utama : . Pencarian.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Polri . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Sosial Instansi Utama : .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 3. layanan kesehatan.Kementerian Perhubungan .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Kesehatan 10 miliar 2. penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : . Penyuluhan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . sandang.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .dan wabah penyakit Instansi Terkait : .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian PU 10 miliar 2.TNI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . air bersih dan sanitasi 20 miliar Lampiran L-95 .

Kementerian PU .Kementerian PU .5 miliar L-96 Lampiran . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Bappenas.Kementerian Dalam Negeri . .LAPAN .BPPT .BPPT . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .LIPI . .Kementerian Perindustrian . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .LAPAN .Kementerian Keuangan . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 2.Bappenas.Kementerian Kesehatan .Kementerian Perindustrian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 20 miliar 30 miliar 210.BNPB .LIPI .Kementerian Perhubungan .3.Bakosurtanal TOTAL 30 miliar 4.Bakosurtanal .BNPB .Kementerian Kesehatan .

TNI .TNI . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Konflik Sosial.10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . Penyuluhan.Wilayah berisiko tinggi terhadap konflik sosial per tahun 7.Polri .Peta risiko bencana konflik sosial Instansi Utama : .Lampiran 17.Kementerian Komunikasi dan Informasi .BNPB 2.10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko konflik sosial per tahun 5 miliar 2. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar 1. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . NO. Pengenalan dan pemantauan risiko konflik sosial .5 miliar 3. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .LIPI . Penelitian dan Pengembangan . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Sandingan Program.Kementerian Komunikasi dan Informasi .5 miliar Lampiran L-97 .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . Sasaran. Fokus Prioritas.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Polri .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .

TNI .Kementerian PU .Basarnas Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . Operasi Penanganan 2.TNI/POLRI . layanan 10 miliar L-98 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara.Kementerian Sosial .TNI .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .LIPI Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . penyelamatan dan evakuasi 5 miliar 3.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . sandang.Polri .Kementerian Kesehatan .Polri .Kementerian Kesehatan 10 miliar 3. Pencarian.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Perindustrian . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Basarnas Instansi Terkait : .terhadap konflik sosial Instansi Terkait : .

Kementerian Keuangan .Kementerian PU . . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui 30 miliar Lampiran L-99 .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .kesehatan.BNPB .Kementerian Perhubungan .5 miliar 2.Kementerian Keuangan . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Polri .BNPB .Kementerian Sosial . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Kementerian Sosial 2. . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. air bersih dan sanitasi .LIPI . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.Bappenas.Bappenas .Kementerian Dalam Negeri 30 miliar 4.Kementerian Sosial .Kementerian Komunikasi dan Informasi .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 156.Polri .pendidikanpelatihan.TNI .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Keuangan .5 miliar L-100 Lampiran .LIPI .

Lampiran 18. Klimatologi dan Geofisika Badan Nasional Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Badan Pertanahan Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Pusat Statistik Badan Standarisasi Nasional Demam Berdarah Dengue Data dan Informasi Bencana Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian/Lembaga Kejadian Luar Biasa Konsorsium Pendidikan Bencana Kawasan Rawan Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Peraturan Kepala Peraturan Menteri Dalam Negeri Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana Palang Merah Indonesia Pengurangan Risiko Bencana Prosedur Tetap Pekerjaan Umum Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi L-101 . Daftar singkatan Bakosurtanal Bapeten Basarnas BATAN BMKG BNPB BPBD BPN BPPT BPS BSN DBD DiBI ESDM K/L KLB KPB KRB LAPAN LIPI LSM PDB PDRB Perka Permendagri Planas PRB PMI PRB Protap PU PVMBG Lampiran Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Badan SAR Nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional Badan Meteorologi.

L-102 Lampiran .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful