.

.2014 ii .……… 2.1 Ancaman (Hazard)……………………………………………………………………. 73 3.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1.. Daftar Tabel ………………………………………………………………………………………….…….……. 99 6. Tantangan dan Peluang …………………………………………. Lampiran 105 105 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 ..4 Proses Penyusunan …………………………………………………………………. 1. 73 3. Pemantauan. I.. Permasalahan.…….1 Anggaran ………………………………………………………………………………….………. Anggaran dan Pendanaan ……………………………………………………….……..2 Pelaporan .2 Pendanaan ……………………………………………………………………………….DAFTAR ISI Sambutan ……………………………………………………………………………………………… Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………. Gambaran Umum Kebencanaan ………………………………………………………. Kebijakan Penanggulangan Bencana ……………………………………….2 Tantangan dan Peluang …………………………………………………….3 Risiko Bencana ………………………………………………………………………… i ii iii iv 1 2 3 3 5 6 9 9 26 31 III.. Program ……………………………………………………………………………………. V.1 Pemantauan dan Evaluasi ……………………………………………………….3 Kedudukan Dokumen dan Landasan Hukum …………………………… 1.………. 75 IV. Evaluasi dan Pelaporan ……………………………………………. 7. 2.3 Kebijakan dan Strategi ………………………………………………………. Daftar Gambar ……………………………………………………………………………. Pendahuluan ……………………………………………………………………………………… 1. 7. 2.2 Tujuan …………………………………………………………………………………….1 Isu dan Permasalahan ……………………………………………………….1 Visi dan Misi ………………………………………………………………………. 1.2 Penataan Kelembagaan ……………………………………………………. 99 6.…….5 Kaidah Pelaksanaan ………………………………………………………………… II. 79 79 79 85 91 VI.…… 4. 102 VII..……… 4.2 Kerentanan dan Kapasitas ……………………………………………….………………………………………………………………………………. 4...

.

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .. 51 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan ….. Tabel 2. Tabel 2. 101 Format pemantauan dan evaluasi ……………………………………. 2007) ………………………………………………………………..... Tabel 7....5. BNPB) ………………….. Tabel 2..4. Tabel 2...12. Tabel 2. …………………………………………………… 10 Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI... Tabel 2.2.. Tabel 2.DAFTAR TABEL Tabel 2..... Tabel 6.. 46 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan ……………………………. 61 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman ……………………………………………………………………..2014 iii .. 36 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi …………………………….. 42 Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir ……………………………………..3....1.. Tabel 2..8. Tabel 2.14. 25 Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau ……………………………………………………………. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG... 15 Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) ………………………………………………… 18 Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 ……. Tabel 2. Tabel 2.13. Tabel 2. 65 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 69 Program dan fokus prioritas dalam Renas PB …………………… 93 Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB 99 Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB …………………………………………………………………………....1. 28 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 31 Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami ..15. 27 Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 19902007 (BPS. Tabel 6.1.2. 2008). 40 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah ……………………….1... Tabel 2.9.10.16. Tabel 5.... 55 Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi ………………………………………. Tabel 2.. 107 Tabel 2..11.6..7.

.

.... Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG..... Gambar 2.4... Gambar 2.... BNPB) ………………………………………………… Posisi munculnya siklon tropis di Indonesia (BMKG) . Gambar 5.. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 ..10...... Gambar 2.11.. 2007)………….....2. Gambar 2...Bakosurtanal..... Zona Bahaya Erosi di Indonesia …………………………………….2014 iv ..... PU) ……………………………………………………………………………… Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) …………… Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) . Gambar 2.. Gambar 2.... Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI.2.. 2007) ...... 2008) …………………………………………………………………………… Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia dalam periode 1801-2006 (Puspito.9...8... Gambar 2.. Zona kerentanan gerakan tanah di Indonesia (ESDM)… Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI......... BNPB) …………….5..... Gambar 2.6....1..3.....1....... Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis …………………… Sistem Penanggulangan Bencana Indonesia ………………… Pilihan tindakan dalam manajemen risiko bencana ……… 9 11 13 14 16 17 19 20 21 22 22 23 91 93 Gambar 2.. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG........... Gambar 2..7...... Gambar 2. Gambar 5..........12.DAFTAR GAMBAR Gambar 2..

.

.

.

Nusa Tenggara Barat.7 juta ton abu dan material vulkanik. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tempat terjadinya dua letusan gunungapi terbesar di dunia. Erupsi Krakatau diperkirakan memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT. Bencana yang paling mematikan pada awal abad XXI juga bermula dari Indonesia. Selain bencana-bencana berskala besar yang pernah tercatat dalam sejarah.000 jiwa di sebelas negara dan menimbulkan kehancuran hebat di banyak kawasan pesisir di negara-negara yang terkena. Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Banjir yang hampir setiap tahun menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya.2014 1 . Karena sinar matahari yang memasuki atmosfir berkurang banyak. bumi tidak menerima cukup panas dan terjadi gelombang hawa dingin. Gempabumi ini memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 225.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dalam Perang Dunia II. Sepanjang abad XX hanya sedikit bencana yang menimbulkan korban jiwa masif seperti itu. Gelombang hawa dingin membuat tahun 1816 menjadi “tahun yang tidak memiliki musim panas” dan menyebabkan gagal panen di banyak tempat serta kelaparan yang meluas. Di Indonesia sendiri gempabumi dan tsunami mengakibatkan sekitar 165. Indonesia juga tidak lepas dari bencana besar yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit.BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia adalah sebuah negeri yang rawan bencana. Pada tanggal 26 Desember 2004. Sebagian dari material vulkanik ini membentuk lapisan di atmosfir yang memantulkan balik sinar matahari ke atmosfir. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .708 korban jiwa dan nilai kerusakan yang ditimbulkannya mencapai lebih dari Rp 48 triliun. Dalam abad yang sama. sebuah gempabumi besar terjadi di dalam laut sebelah barat Pulau Sumatra di dekat Pulau Simeuleu. kira-kira 13. Tahun 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa. meletus dan mengeluarkan sekitar 1.

2014 . Program-program kegiatan dalam Renas PB disusun berdasarkan visi misi penanggulangan bencana dan rencana tindakan yang harus diambil sesuai dengan manajemen risiko. dimulai dari identifikasi ancaman bencana. Renas PB layaknya proposal dari pemerintah memuat upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang efektif. Untuk menghadapi peningkatan potensi dan kompleksitas bencana di masa depan dengan lebih baik. Dalam pelaksanaannya perlu dipadukan dalam 2 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . analisis risiko bencana sampai dengan program kegiatan dan fokus prioritas yang akan diambil termasuk keterlibatan Kementerian/Lembaga dan besarnya anggaran yang dibutuhkan. terkoordinasi dan menyeluruh. Demikian pula kekeringan yang semakin sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Rencana ini menjadi salah satu bagian kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang merupakan prioritas 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II yang disebut sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana. Penyusunan Renas PB merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Renas PB adalah sebuah dokumen resmi yang memuat data dan informasi tentang risiko bencana yang ada di Indonesia dalam kurun waktu antara 2010-1014 dan rencana pemerintah untuk mengurangi risiko-risiko tersebut melalui program-program kegiatan. Rencana ini menggambarkan kondisi yang diinginkan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam 5 (lima) tahun mendatang mengenai penanggulangan bencana. perkebunan dan peternakan. merupakan wujud dari upaya pemerintah terkait untuk merumuskan program-program kegiatan dan fokus prioritas penanggulangan bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana yang selanjutnya disebut Renas PB. penanganan kondisi tanggap darurat yang efisien dan upaya pemulihan yang tepat sasaran. selain mengancam produksi tanaman pangan juga kian mempermiskin penduduk yang mata pencahariannya tergantung pada pertanian.kota-kota di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo dan beberapa daerah lain di Indonesia menimbulkan kerugian material dan non-material senilai triliunan rupiah. Indonesia memerlukan suatu rencana yang sifatnya terpadu.

Secara khusus. dan seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana di Indonesia agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana secara terencana.perencanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. pemerintah setiap tahun akan menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai penjabaran dan operasionalisasi RPJMN yang memuat kerangka regulasi. 40 Memberikan acuan kepada kementerian dan lembaga pemerintah. terpadu.2014 3 . Untuk memastikan terlaksananya perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana. dokumen Renas PB selanjutnya menjadi arah dalam melakukan pengarusutamaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan bencana. Ringkasan isi Renas PB diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang memuat kebijakan dan program pembangunan serta rencana kerja Pemerintah. berikut program kegiatan. maka Renas PB diintegrasikan ke dalam RPJMN 2010-2014. Dengan demikian.2 TUJUAN Tujuan penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20101014 adalah: 30 Mengidentifikasikan daerah berisiko tinggi dari berbagai bencana yang ada di Indonesia dan menyusun pilihan tindakan yang perlu mendapat perhatian utama. Kementerian/Lembaga pemerintah pusat akan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 1. Dengan mengacu RPJMN. terkoordinasi dan menyeluruh. perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas utama dalam RPJMN dan terpadukan ke dalam program-program pembangunan dalam dokumen tersebut.3 KEDUDUKAN DOKUMEN DAN LANDASAN HUKUM Renas PB merupakan rencana pemerintah lintas sektor yang berlaku selama lima tahun. fokus prioritas dan anggaran indikatif yang diperlukan. kerangka anggaran dan rincian program. 1.

dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. konsultasi publik. 1. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 4 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang.2014 . seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. dan masukan melalui berbagai media publik. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. lembaga-lembaga swadaya masyarakat.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Di masa yang akan datang.

5. 6. Kementerian. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 2. 3. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Kementerian. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.2014 5 . Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .1. Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. lembaga pemerintah. 4. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. pemerintah daerah. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.

konsultasi publik. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). lembaga-lembaga swadaya masyarakat. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain.2014 . Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. dan masukan melalui berbagai media publik. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 6 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. Di masa yang akan datang. 1. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan.

Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. 4.1.2014 7 . Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 2. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 6. pemerintah daerah. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 5. Kementerian. Kementerian. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. lembaga pemerintah. 3. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.

8 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

.

.

Penunjaman lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Euro. Bali dan Nusa Tenggara. Ketiga lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Euro-Asia. 2008). Jawa.1 Ancaman Gempabumi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan.1 ANCAMAN (HAZARD) 2. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG. Daerah rawan gempabumi di Indonesia tersebar pada daerah yang terletak dekat zona penunjaman maupun sesar aktif. Gambar 2.1. Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur. belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara. Daerah yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Asia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempabumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatra.BAB II GAMBARAN UMUM KEBENCANAAN 2.1. sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng.2014 9 .

5. 1. Kepulauan Maluku dan Pulau Papua. Gambar 2.9 8. Beberapa sesar aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar Sumatra.700 Daerah Pulau Timor Sumatra Barat Yogyakarta dan Jawa Tengah Liwa. 2.2. Tabel 2. Sorong. Lembang. 7.2.8 7 7.7 6. Busur Belakang Flores.terletak dekat zona penunjaman adalah pantai barat Sumatra. pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara. 6. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini.000 > 5. menyajikan data beberapa kejadian gempabumi di Indonesia dengan jumlah korban jiwa yang besar. pantai selatan Jawa. Kepulauan Maluku dan sistem sesar aktif lainnya yang belum terungkap. Bali. menyajikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2 MMI VIII IX IX IX X VIII VIII Korban Jiwa (org) 250 354 213 l. Lampung Bengkulu Pulau Nias Yogyakarta dan Jawa Tengah 2.1. sesar aktif di daerah Banten. Nusa Tenggara Barat.1. Nusa Tenggara Timur. Jawa Timur. Jawa Tengah. Pulau Sulawesi. 4. Tabel 2. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG. Palu-Koro. Nusa Tenggara. Maluku Utara. Kepulauan Maluku. Daerah Istimewa Yogyakarta. pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua. Indonesia menjadi rawan terhadap ancaman tsunami. Bali. Ransiki. Opak. Provinsi Jawa Barat. 2008) No.2014 10 .2 Ancaman Tsunami Gempabumi yang disebabkan oleh interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan deformasi dasar laut yang mengakibatkan gelombang pasang dan tsunami apabila terjadi di samudera. Sedangkan daerah di Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatra. 3. Cimandiri. Tahun 1896 1926 1943 1994 2000 2005 2006 Magnitudo (Mw) 7. Baribis.207 100 > 1.

en 1969). n 110 100 kejadia di antarany disebabkan oleh gempa an ya abumi. Kem i nia u mudian data tersebut dibandingka dengan data yang dikum an mpulkan oleh Berninghause (1966. Berdasarkan i pengolahan data tersebut. tsunami yang terjadi se etelah tahun 1970 telah d diteliti dan di ilaporkan dengan lebi baik. tercatat telah terjadi 1 kejadian tsunami. Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia i dalam periode 1801-2006 (Puspito. 2 p 2007) Data histori tsunami di Indonesia pad periode an is da ntara tahun 16 600-1998 telah dikom mpilasi dari ka atalog gempa destruktif (t a termasuk di d dalamnya tsunami) di seluruh dun oleh Utsu (1992). 9 oleh letusan h gunungapi dan 1 oleh tanah longso Sebagian besar data kejadian or.2014 11 .kejadian be encana tsunam di Indonesi dalam kuru waktu anta tahun mi ia un ara 1801-2006. sebelum tahun 1970 tidak dilaporkan dengan baik sedangkan kejadian n k. G Gambar 2. Arno (1985) da Ismail (19 old an 989). ih Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan sel lanjutnya diperbaharu dengan da ui ata-data kejadian tsunami terkini.2. Cox (1970).

000 orang.369 orang korban jiwa dan letusan tahun 1972 menewaskan lebih dari 3.3 Ancaman Letusan Gunungapi Terkait dengan zona penunjaman lempeng-lempeng besar yang telah diuraikan. Sedangkan di wilayah Yogyakarta letusan Gunung Merapi tahun 928 mengakibatkan Kerajaan Mataram hancur.190 korban jiwa dan letusan tahun 1966 dengan 210 korban jiwa.2014 . Sedangkan kawah gunungapi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo. Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku merupakan sekitar 13% dari sebaran gunungapi aktif dunia. 12 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . antara lain letusan Gunung Kie Besi di Maluku Utara pada tahun 1760 yang menewaskan 2. Gunung Merapi di Yogyakarta mempunyai perulangan letusan cukup pendek. Berdasarkan sejarah.2. letusan tahun 1930 mengakibatkan 1. Nusa Tenggara. memperlihatkan sebaran gunungapi di Indonesia. Jawa. kubah lava runtuh dan menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar Gunung Merapi. Soputan dan Lokon. Gunung-gunungapi aktif yang tersebar di Pulau Sumatra.3. Sulawesi Tengah pada tahun 1983 terjadi letusan dahsyat Gunung Colo yang mengakibatkan hancurnya sumbat lava serta membumihanguskan sekitar 2/3 wilayah Pulau Una-Una tempat lokasi Gunung Colo. berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG. Di Jawa Timur letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5. Di Teluk Tomini. Selain letusan-letusan besar seperti letusan gunung Tambora yang menewaskan lebih dari 92 ribu jiwa dan Krakatau lebih dari 36 ribu orang pada abad XIX. Bali. Gambar 2.011 korban jiwa dan letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menewaskan 2. Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava. letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang menewaskan 4. Indonesia memiliki lebih dari 500 gunungapi dengan 129 di antaranya aktif. Dalam beberapa tahun ke depan potensi risiko bencana gunungapi yang perlu mendapat perhatian ada 70 gunungapi diantaranya adalah Gunung Merapi.000 korban jiwa.951 korban jiwa di Jawa Barat. 2006) ada beberapa kejadian letusan lain yang menimbulkan korban jiwa besar.2.

Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. 179 orang luka-luka dan 250 buah rumah hancur/rusak. Korban dan kerugian besar pada umumnya terjadi pada gerakan tanah jenis aliran bahan rombakan atau banjir bandang.Gambar 2. 2007) 2. Sumatra Barat (2008) dan terakhir di Situ Gintung. Banten (2009).4 Ancaman Gerakan Tanah Selain ancaman gempabumi. yang mengakibatkan 82 orang tewas. Hampir setiap tahun Indonesia mengalami kejadian gerakan tanah yang mengakibatkan bencana. Sulawesi Tengah (2007). seperti terjadi di Nias (2001) dan Bohorok Sumatra Utara (2005). atau yang pada umumnya dikenal sebagai tanah longsor.2014 13 . tsunami dan letusan gunungapi. kecuali Pulau Kalimantan yang hanya memiliki dua kabupaten yang rawan. 103 orang hilang. Hampir semua pulau utama di Indonesia memiliki beberapa kabupaten dan kota yang rawan pergerakan tanah. secara geologis Indonesia juga menghadapi ancaman gerakan tanah.3.2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . yakni Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur.

2. Daerah yan memiliki re ng elief morfolog kasar denga lereng-lere yang gi an eng terjal secara umum lebih rawan untuk terjadi gerak tanah. tingkat ekono omi. wilayah Indonesia t terletak di da aerah iklim tr ropis dan memiliki du musim.5 Ancam Banjir man Secara geog grafis. an kerentanan gerakan tana di Indonesi ah ia. Secara umu tingkat r um risiko bencan gerakan t na tanah di Kabupatan/ /Kota di Indonesia dite entukan oleh keberadaa lajur an pegunungan Tingkat ris n. Peta zona keren ntanan gerakan tanah di Indo n onesia (PVMBG. Da aerah-daerah dengan risiko tingg terhadap ancaman ba gi anjir tersebar di seluruh wilayah r 14 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . yaitu musim pa ua anas dan mus hujan den sim ngan ciriciri perubah cuaca. siko dipengar ruhi pula oleh kondisi kerentanan berbagai un nsur lainnya seperti kepadatan dan kerentanan pe enduduk. dan arah angin yang c han cukup ekstrim Kondisi m. kondisi batuan yang tidak kompak dan mudah mengalami d k degradasi umumnya lebih mudah untuk terjadi gerakan tana Hal ini dip ah.4. Gambar 2. dan kapasitas daerah seca ara umum.2. suhu.Gambar 2. perburuk lagi oleh curah hujan yang tinggi d y dan gempa y yang sering t terjadi di Indonesia. 2007).2014 . ini dapat menimbulka ancaman-ancaman y an yang bersifat hidrot meteorolog seperti banjir dan ke gis ekeringan. kondisi kerentanan bang gunan dan in nfrastruktur. Di samping a h k kan itu.4 menyajika zona 4.

973 54.Indonesia.790 1. sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap.907 242.603 1005 206 104 180.2014 15 . BNPB) Jumlah Kejadian Banjir dan Dampaknya 1.346 4760 36.901 58.hilang . Dampak: 2. tersumbat sampah serta hambatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Beberapa kota tertentu seperti Jakarta.479 841 83. penyempitan sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia.435 217 230 106 102. air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam tiga kategori: (a) Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia. Semarang dan Banjarmasin secara historis juga sering dilanda banjir.meninggal . Kalimantan bagian barat dan selatan. dan (c) Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan.562 568.382 72. Berdasarkan sumber airnya.651 57.2. daerah pantai utara Jawa bagian barat.1 Korban Manusia .mengungsi 2. begitu pula daerah aliran sungai tertentu seperti daerah aliran sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa dan daerah aliran sungai Benanain di Nusa Tenggara Timur.4 Sawah (ha) 2.197 6774 905.2 Rumah Rusak 2. Jumlah Kejadian 2.649 94. Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.605 3303 Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal.5 Jalan (km) 2001/02 150 2002/03 186 2003/04 143 2004/05 182 Total 661 185 18 388. terutama di daerah pantai timur Sumatra bagian utara.028 94. Sulawesi Selatan dan Papua bagian selatan.087 972 180. Daya tampung sistem pengaliran air tidak selamanya sama.640 1685 126.240. (b) Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai. tanggul dan bangunan pengendali banjir Tabel 2. tetapi berubah akibat sedimentasi.3 Fasos/Fasum 2.927 396 126.285 201 604.

Gambar 2. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi dan melampaui kapasitas pengaliran. baik di atmosfer maupun di permukaan tanah. Kekeringan diartikan sebagai berkurangnya persediaan air sampai di bawah normal yang bersifat sementara.2014 . karena jika terjadi curah hujan tinggi. sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan terjadi banjir. Bakosurtanal. Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG.lainnya.2. Penyebab kekeringan adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang ditimbulkan oleh 16 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi pada meningkatnya debit banjir. 2008) 2.5. PU. ancaman alam yang bersifat hidro-meteorologis lain yang sering menimpa Indonesia adalah kekeringan.6 Ancaman Kekeringan Selain ancaman banjir.

Sumatra Selatan. hampir seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa kecuali di bagian paling timur. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. pola pengairan. dan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kepulauan Riau. memperlihatkan zona bahaya kekeringan di Indonesia.2014 17 .6. Sulawesi Selatan.fenomena El Niño. Kepulauan Bangka Belitung. Kalimantan Tengah. Gambar 2. Riau. Sulawesi Utara. Kalimantan Timur. Kekeringan membawa akibat serius pada pola tanam. Gambar 2. Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) Wilayah Indonesia yang rawan kekeringan meliputi beberapa kabupaten/kota di Sumatra Barat. Bengkulu. Lampung.6. Sulawesi Barat. Kekeringan mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan air bagi kegiatan manusia. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . pola pengoperasian irigasi serta pengelolaan sumber daya air di permukaan lainnya. Gangguan pola tanam yang serius pada gilirannya akan mengancam keamanan pangan masyarakat. Jambi. Maluku Utara dan Papua.

Daerah di Indonesia yang rawan kebakaran hutan dan lahan terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan yang memiliki areal perkebunan dan pertanian dalam skala besar serta beberapa kabupaten/kota diantaranya di Sulawesi. Jawa. Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.000 ha 5. Sulawesi dan Maluku 500. 1 2 Tahun Wilayah Luas Areal Terbakar 3. Kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia dalam rangka membuka lahan. kehutanan maupun perkebunan dan ditunjang oleh adanya fenomena alam El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menimbulkan kekeringan. Jawa. Kalimantan dan Sulawesi 1994 Sumatra dan Kalimantan 1997/1998 Sumatra.000 ha 9. Kalimantan. Kebakaran hutan menimbulkan berbagai dampak kesehatan dan sosialekonomi. Bali. dan Pulau Jawa. Bali. Nusa Tenggara.400. Nusa Tenggara Timur.2.000 ha 66. Nusa Tenggara dan Timor 1991 Sumatra.000 ha 3 4 5 6 1982/1983 Kalimantan Timur 1987 Kalimantan. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dapat mengganggu negara-negara tetangga sehingga berpotensi menganggu hubungan kenegaraan Indonesia dengan negara-negara tetangga tersebut.2014 . Nusa Tenggara.000 ha 32. Sulawesi. Bali.750. Sulawesi dan Papua 2006 Sumatra. Sumatra.3.198 ha 18 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) No. Tabel 2. baik untuk usaha pertanian.7 Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Terkait dengan ancaman kekeringan.600.2. Kalimantan. Jawa.

Gambar 2. memperlihatkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Risiko erosi tinggi di Indonesia tersebar di Pulau Sumatra. karena butiran tanah yang mengandung unsur hara terangkut limpasan permukaan dan diendapkan di tempat lain. Bali. pengaruh gaya berat atau organisme hidup. Erosi juga merusak daerah-daerah aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan palung sungai serta bendungan-bendungan yang ada.3.2. angin.2014 19 . Gambar 2. yaitu perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh kekuatan air. menunjukkan beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang besar di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir. Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) 2. Sementara itu Tabel 2.7. Jawa. es. dan dengan demikian mempengaruhi fungsi dan usia bendungan. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .7.8 Ancaman Erosi Indonesia juga menghadapi ancaman erosi. Dari data tersebut tampak bahwa semua pulau-pulau utama Indonesia rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Proses erosi terutama dapat mengakibatkan penipisan lapisan tanah dan penurunan tingkat kesuburan.

8. Ancaman muncul akibat kecerobohan manusia dalam membangun gedung atau perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan bangunan yang berlaku. terutama pada musim kemarau. Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku serta Papua. Denpasar dan kota-kota lain yang setara tingkat kepadatannya di samping kawasan industri padat penduduk yang menggunakan bahan-bahan bakar dan bahan berbahaya. Bogor. Sulawesi. merupakan beberapa penyebab umum kebakaran pada gedung dan permukiman. Makassar.2. Gambar 2. Palembang. Perlu diwaspadai juga kota-kota besar yang memiliki jumlah penduduk sangat tinggi seperti Surabaya.Kalimantan. Korsleting listrik.9 Ancaman Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran gedung dan permukiman penduduk sangat sering terjadi di Indonesia. Bandung. 20 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . api lilin/lampu minyak yang menyambar kasur. Depok dan sekitarnya yang sangat padat penduduk. Semarang. Zona Bahaya Erosi di Indonesia 2. Tangerang. Bekasi. Padang.2014 . Pekanbaru. Daerah-daerah di Indonesia yang perlu diwaspadai untuk ancaman ini meliputi kota-kota di DKI Jakarta. kompor meledak. Medan.

Untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa. Kota Jakarta Utara. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI-BNPB. Untuk wilayah di sebelah utara khatulistiwa daerah yang berpotensi terkena gelombang ekstrim adalah Pantai Sulawesi Utara. Daerah-daerah yang menghadapi risiko tinggi bencana abrasi meliputi Aceh Selatan dan Kota Banda Aceh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.10 Ancaman Gelombang Ekstrim dan Abrasi Terkait perubahan iklim global. Gelombang ekstrim pada umumnya ditimbulkan oleh siklon tropis. 2007 ) 2. Kota Padang dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat. Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Sumatra.Gambar 2. Maluku dan Irian Jaya.2014 21 . Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Gelombang ekstrim yang melanda Indonesia berada di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan posisi siklon tropis. daerah yang memiliki potensi tinggi terkena gelombang ekstrim adalah wilayah pantai utara Pulau Jawa. Indonesia semakin sering menghadapi ancaman gelombang ekstrim dan abrasi kawasan pesisir pantai. Gambar Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Gelombang ekstrim adalah salah satu penyebab abrasi yang terjadi dengan cepat. Kota Medan.9.2. Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan.

dan Gambar 2.2. Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI-BNPB.11.2014 . kan bar i klon tropis di In ndonesia (BMK KG) Gamb 2.10. 11. Posisi munculnya sik Gamb 2. 2007) bar i 22 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .10.1 menunjukk indeks zonasi abrasi di Indonesia. memp perlihatkan posisi munculn siklon tro nya opis di Indone esia.

12.12. kecelakaan industri. tiang listrik dan pohon-pohon. Salah satu kegagalan teknologi yang memicu bencana alam yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .12 Kegagalan Teknologi Kegagalan teknologi juga sudah mulai mengancam Indonesia. dan kawasan Indonesia bagian timur yang sangat rawan terlanda badai tropis dari arah benua Australia. Ancaman yang paling sering terjadi adalah angin puting beliung yang umumnya terjadi pada musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun dari musim kemarau ke musim hujan. Gambar 2. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis 2. pengoperasian atau kelalaian manusia dalam menggunakan teknologi. pencemaran bahan kimia berbahaya atau bahan radioaktif. Kejadian ini dapat menimbulkan dampak berupa kebakaran.11 Ancaman Cuaca Ekstrim Cuaca Ekstrim seperti angin puting beliung.2014 23 .2.2. baliho. terutama terkait dengan meningkatnya dampak perubahan iklim global. topan dan badai tropis juga mulai banyak mempengaruhi Indonesia. Tingginya kecepatan angin puting beliung dapat menimbulkan kerusakan dalam bentuk robohnya atap bangunan ringan. atau kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban tewas serta kerugian harta benda. Kegagalan teknologi dapat diakibatkan oleh kesalahan desain.2. Gambar 2. memperlihatkan daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terlanda badai tropis.

24 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .4. Sawahlunto. 2.2. Data statistik tahun 2008 dari Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya mencapai 56. Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kecelakaan tambang seperti ledakan gas metana (CH4) yang terjadi di tambang batubara P. tanggal 16 Juni 2009. selain jumlah korban tewas yang sangat besar setiap tahunnya.216 jiwa. dengan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman yang menjamin keselamatan para pengguna dan mendorong perilaku berlalu-lintas yang aman dan berbudaya.sampai kini belum teratasi adalah kegagalan pengeboran di Sidoarjo yang menimbulkan luapan lumpur dari perut bumi. Beberapa kejadian Flu Burung sudah teridentifikasi di Sumatra Utara dan Barat. Tabel 2. jumlah penderita dan jumlah kematian yang ditimbulkannya. Jawa Barat. yang dalam sepuluh tahun belakangan ini jumlahnya telah melebihi jumlah korban tewas akibat Tsunami Aceh-Nias tahun 2004. dan korban luka-luka lebih dari 75.600 kejadian dengan melibatkan lebih dari 130. Kerugian material dari kejadian ini tentunya amat besar. Sumatra Barat. lokasi kejadian.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Epidemi dan wabah penyakit merupakan hal yang potensial timbul di Indonesia. Lampung. demam berdarah dan malaria. mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat hidup sehat dan higienis secara memadai. Bukit Asam.2014 . Perhatian khusus perlu diberikan pada keselamatan di jalan raya. Indonesia terutama juga sering mengalami kejadian diare. Selain Flu Burung. mengakibatkan 32 korban jiwa dan luka parah/ringan 13 orang. Banten.T. menunjukkan distribusi penderita diare saat Kejadian Luar Biasa yang dirinci berdasarkan waktu. DKI Jakarta. perhatian serius perlu diberikan pada jumlah korban jiwa dan kerugian yang sangat besar yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi. antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2007.000 kendaraan dan mengakibatkan korban tewas mencapai 19. Dalam hal kegagalan teknologi. Berjangkitnya penyakit dapat mengancam manusia maupun hewan ternak dan berdampak serius dalam bentuk kematian dan terganggunya roda perekonomian.000 jiwa.

980 3. kemudian meningkat kembali di tahun 2006 menjadi 330 Kabupaten/Kota. dan sedikit menurun di tahun 2005 dari 334 Kabupaten/Kota menjadi 326 Kabupaten/Kota. 2.77 1. yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjelma menjadi konflik sosial. Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit DBD dari tahun 2002 terus meningkat sampai tahun 2004 dengan adanya KLB.428 5. yang di beberapa tempat dapat berlangsung lama dan berkepanjangan. Konflik sosial yang diakibatkan oleh ulah manusia dapat berinteraksi dengan satu atau lebih kejadian alam seperti letusan gunungapi. Penderita 4.Tabel 2. Kalimantan Barat dan beberapa tempat lain.4.661 Jml.2.14 Konflik Sosial Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam etnis dengan bahasa dan budaya yang beraneka ragam pula.26 Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pada periode 1968-2006 cenderung mengalami peningkatan.2014 25 . Konflik sosial dan kedaruratan kompleks memerlukan penanganan yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .51 2.60 2. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri.62 2.Kematian 100 94 128 53 127 277 46 CFR (%) 2. Situasi ini dikenal sebagai kedaruratan kompleks.26 1. 1998 dan 2005. Pemilihan kepala daerah belakangan mulai menimbulkan konflik dan kerusuhan antara berbagai kelompok pendukung calon tertentu.52 1. banjir atau kebakaran hutan. 1988. Poso. tetapi di sisi lain terkadang menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial. Perbedaan kepercayaan dan perbedaan tingkat kesejahteraan yang mencolok dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyulut konflik sosial. Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Provinsi 12 15 22 17 11 16 8 Jml.314 5.622 3.789 4.051 10. Puncak DBD terjadi pada tahun 1973. seperti di Ambon.

Unsur kerentanan lainnya adalah tingkat kepadatan penduduk. 26 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . mereka yang rentan terhadap gempabumi adalah yang tinggal di dekat patahanpatahan/sesar aktif. mata air dan pemandangan yang indah. Dalam kedua situasi ini perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok-kelompok minoritas yang biasanya sangat terpengaruh oleh dampak situasi yang kurang menguntungkan ini.3%. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir Podes tahun 2008 adalah sebanyak 231.640. Hingga kini tercatat sekitar 5 juta orang yang tinggal di wilayah sekitar tubuh gunungapi (PVMBG. 2.2 KERENTANAN DAN KAPASITAS Salah satu aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas dari pusat ancaman.2014 . Begitu pula untuk ancaman-ancaman lainnya: masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi.segera dan seksama. Renas PB perlu mengulas isu kerawanan sosial dan kedaruratan kompleks dengan mengkaji potensi-potensi kerawanan sosial apa saja yang dapat timbul di Indonesia. penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di lerang-lereng yang labil. Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk di pulau-pulau di negeri ini. Keterlambatan dalam penanganan dapat berakibat pada eskalasi tingkat intensitas dan keluasan konflik. Tabel 2. Daerah seperti ini pada umumnya mempunyai daya tarik dalam rupa tanah yang subur untuk bercocok tanam. Mereka adalah warga masyarakat yang rentan karena tinggal terlalu dekat dengan sumber ancaman. 2007). termasuk kejadian-kejadian konflik yang pernah terjadi di masa lampau. masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya memang merupakan dataran banjir. daerah rawan letusan gunungapi adalah daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunungapi. Dengan demikian.5. dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi. sehingga masyarakat senang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut.960 dengan laju pertumbuhan penduduk antara tahun 2000-2005 tercatat sebesar 1.

7 3.5. diinformasikan bahwa hampir dua per tiga penduduk Indonesia (58.6 6. Kalimantan 28. Bandingkan bahwa pada saat yang sama rata-rata kepadatan penduduk Indonesia per km2 hanya 124 jiwa. yang hanya merupakan 6. Sulawesi 9. jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan berpotensi meningkatkan kerawanan sosial di Indonesia.3 5. lapangan kerja.1 7.1 7 7.5 3. Selain itu. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .1 4.3 7.2 100 1980 61. Total 100 Sumber: diolah dari BPS Pada Tabel 2.2 4.2 7.7 13.9 Madura 2. Tabel 2.9 5.5 4. menimbulkan kerentanan karena Pulau Jawa selain memiliki banyak ancaman alam termasuk gempabumi dan letusan gunungapi.3 21.9 19.5.3 100 1961 65 16.1 7.3 5. Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau Luas Wilayah (%) Penduduk (%) 1930 68. maka tingkat kerawanan sosial akan menjadi lebih tinggi.2014 27 .9% dari seluruh daratan yang dimiliki Indonesia.8 17.852 orang per km2 pada tahun 2008. Sumatra 24.3 100 1971 63. Pulau 30. Jawa 6. diikuti oleh Pulau Sumatra.7 7 7.4 lainnya 6. dan bercampurnya masyarakat multi etnis dan budaya di pulau-pulau utama tersebut.2 7.5 100 1985 60.9 4. Dengan terbatasnya daya dukung sumberdaya dan lingkungan. dengan 7 jiwa untuk Provinsi Papua dan 8 jiwa untuk Provinsi Papua Barat yang paling jarang penduduknya.6 100 2008 58.4 7. juga menghadapi ancaman kerawanan sosial.5 7.9 7.3%) tinggal di Pulau Jawa dan Madura.5 100 1990 60 20. Begitu pula dengan tingkat pertambahan penduduk yang relatif tinggi.6 7.9 19 4.6 100 Pulau 1. Menumpuknya populasi penduduk di Pulau Jawa dan Madura.menyajikan distribusi persentase luas dan penduduk Indonesia berdasarkan pulau. terdapat konsentrasi penduduk sangat tinggi di DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk 10.

60 17.90 17.60 12.56 12.70 25.30 24. Data BPS tahun 2007 menyebutkan bahwa Indone sia saat ini memiliki 37.81 14.10 39.60 12.6.00 30.30 26.49 23.10 13. Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah orang miskin terbanyak.2014 .90 32.Unsur kerentanan lainnya adalah kemiskinan.20 8.00 50.10 26. Keadaan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat urbanisasi. Wilayah yang mempunyai banyak penduduk miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya.168.70 9.00 40. Tabel 2.50 2002 2003 2004 2005 2006 2007 28 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .50 25.17 35.10 22. Namun. tercatat pada Juli 2006 mencapai 7.30 25.80 9.40 37.40 34. Banyak warga desa yang tidak memiliki keahlian datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan.00 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 Tahun Kota Desa Kota+Desa 27. sehingga memperbesar angka kemiskinan di perkotaan. Jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah pedesaan Indonesia lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di daerah perkotaan. karena diasumsikan tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana.30 37.90 24.30 8. dan sebaliknya.50 47.20 17.61 13. Kecenderungan ini tentunya perlu ditangani dengan baik karena kemiskinan di perkotaan dapat berinteraksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan menimbulkan risiko bencana yang tinggi.300 penduduk miskin. 2007) 60. Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 1990-2007 (BPS.29 %.00 10. pada kurun waktu yang sama perkembangan jumlah penduduk miskin di pedesaan mengalami penurunan.26 %. sedangkan provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar adalah Provinsi Papua yang mencapai 39.00 20.60 49.4 juta orang atau 20. jumlah penduduk miskin di perkotaan terus mengalami peningkatan dari tahun 1978-2006.40 37.30 38.60 15.90 29.40 11. dimana secara sosial ekonomi Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan.20 14.90 38.70 31.

sampai dengan tahun 2007 wajib belajar sembilan tahun belum tercapai sepenuhnya. Sementara itu. usia harapan hidup orang Indonesia adalah 68. kemiskinan dan tenaga kerja. kepadatan dan jumlah penduduk. Dengan kata lain. Angka kematian bayi pada tahun 2005 adalah sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran.Data Badan Pusat Statistik tahun 2007 menyebutkan bahwa dari segi pendidikan.370. produk domestik regional bruto (PDRB). Dipandang dari segi kelembagaan kapasitas ini meningkat jauh dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan dibentuknya badan independen yang menangani bencana. maka tingkat kerentanannya semakin rendah. Dalam hal kapasitas menghadapi bencana. dari segi pengeluaran penduduk. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tahun 2007 adalah Rp 15. pendapatan asli daerah.87 %. misalkan tsunami code untuk tsunami. Kerentanan sosial ekonomi yang digunakan dalam menghitung indeks kerentanan dalam Renas PB antara lain menggunakan indikator laju pertumbuhan ekonomi.050.628. Lama pendidikan sekitar tujuh setengah tahun ini setara dengan pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama.2014 29 . Dengan berdirinya BNPB di tingkat pusat dan BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.-. kesehatan. upaya penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan lebih terarah.-. indikator penduduk yang tinggal di kawasan rawan bahaya (KRB) untuk ancaman letusan gunungapi dan sebagainya. tingkat pendidikan. indikator building code untuk gempa bumi. Dari segi kesehatan. Indonesia masih terus mengembangkan diri. tingkat melek huruf orang dewasa di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 91. sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7. terpadu dan menyeluruh. Kerentanan sosial-ekonomi bersifat generik dan berlaku untuk semua jenis ancaman. Masih dibutuhkan kerja Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kerentanan fisik bersifat spesifik.7 tahun. Asumsi yang digunakan adalah bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas mengenai bencana.47 tahun. Kerentanan wilayah dan penduduk terhadap ancaman dapat berupa kerentanan fisik. sosial dan/atau ekonomi. Dari segi ekonomi. tergantung jenis ancaman dan masing-masing ancaman menggunakan indikator spesifik. pengeluaran per kapita riil disesuaikan untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp 624.

Keberadaan lembaga-lembaga di tingkat masyarakat yang memiliki kegiatan kebencanaan juga berpotensi untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana. dan forum-forum pengurangan risiko bencana serupa lainnya. Universitas Airlangga. Platform Nasional untuk pengurangan risiko bencana (Planas PRB). Institut Pertanian Bogor. Universitas Gadjah Mada. Sejumlah Perguruan Tinggi telah memiliki pusat studi bencana atau lembaga lain yang setara seperti misalkan Institut Teknologi Bandung.2014 . budaya gotong-royong dan solidaritas juga merupakan unsur yang membangun kapasitas. Institut Teknologi Surabaya. Universitas Andalas. melalui gladi dan simulasi bencana. dan didukung dengan kebijakan penanggulangan bencana yang bermutu tinggi. Lembaga-lembaga semacam ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Kapasitas juga dilihat dari potensi masyarakat dalam menangkal dampak negatif bencana. memiliki sumber daya dan alokasi anggaran yang memadai.keras untuk mewujudkan instansi penanggulangan bencana yang independen. dan memiliki simpanan aset atau sumber daya memadai untuk menghadapi situasi ekstrim. Universitas Jember. Diharapkan bahwa dengan terbentuknya forum-forum tersebut akan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah. 30 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kapasitas masyarakat dapat dikatakan tinggi bila masyarakat mampu membangun rumah dan permukiman yang memenuhi standar keamanan bangunan. Universitas Tadulako dan Universitas Syiah Kuala. Di tingkat nasional telah dibentuk Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB). termasuk mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko. pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan kelompok-kelompok siaga bencana. Masyarakat seperti ini mengetahui bahaya apa yang mengancam mereka dan bagaimana cara mengurangi risiko bahaya-bahaya ini. mampu berkoordinasi dengan baik dengan instansi-instansi lain. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. dijalankan oleh staf yang cukup dan kompeten. jaringan sosial dan organisasi masyarakat yang kuat. Adanya kearifan lokal dalam tanggap bencana.

7. Tabel 2.3 RISIKO BENCANA 2. rencana penanggulangan bencana gempabumi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.1 Risiko Gempabumi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gempabumi di Indonesia (Lampiran 2).7.2.3. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Tenggara Bireun Gayo Lues Kota Banda Aceh Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Samosir Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 31 Sumatra Utara .

Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Agam Kep. Mentawai Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Solok Lima Puluh Koto Padang Pariaman Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Solok Selatan Tanah Datar Kerinci Empat Lawang Kota Pagar Alam Lahat Oku Selatan Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Kota Bengkulu Lebong Muko-muko Rejang Lebong Seluma Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut 32 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kota Bandung Kota Cimahi Kota Sukabumi Sukabumi Tasikmalaya Cilacap Kebumen Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Blitar Jember Kediri Lumajang Malang Pacitan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Situbondo Sumenep Trenggalek Tulungagung Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang Badung Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Kota Denpasar Tabanan Bangli Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 33 .

2014 .Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Sumbawa Barat Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Luwu Timur Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sangihe Kepulauan Sitaro Kepulauan Talaud Kota Bitung Kota Manado Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol 34 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Boalemo Bone Bolango Gorontalo Gorontalo Utara Kota Gorontalo Pohuwato Buru Kota Ambon Maluku Tengah Maluku Tenggara Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kepulauan Sula Tidore Manokwari Raja Ampat Biak Numfor Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Pegunungan Bintang Sarmi Supiori Tolikara Waropen Yapen Waropen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 35 .

rencana penanggulangan bencana tsunami dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.2 Risiko Tsunami Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana tsunami di Indonesia (Lampiran 2).8. Tabel 2.2014 .8. Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Barat Daya Aceh Selatan Aceh Singkil Kota Subulussalam Mandailing Natal Nias Nias Selatan Tapanuli Tengah Kota Sibolga Padang Pariaman Agam Pasaman Barat Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Kota Padang Panjang Kota Padang Muko-Muko Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Seluma Kaur Kota Bengkulu Lampung Selatan Lampung Barat Tanggamus Kota Bandar Lampung Sumatra Utara Sumatra Barat Bengkulu Lampung 36 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2.3.

2014 37 .Banten Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Pandeglang Serang Lebak Kota Cilegon Sukabumi Cianjur Garut Ciamis Tasikmalaya Kota Banjar Cilacap Purworejo Kebumen Wonogiri Bantul Kulonprogo Gunung Kidul Lumajang Banyuwangi Trenggalek Tulung Agung Pacitan Blitar Jembe Malang Badung Tabanan Jembrana Karangasem Klungkung Gianyar Lombok Timur Lombok Barat Sumbawa Bima Dompu Kota Bima Kupang Timur Tengah Selatan Sikka Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Ende Ngada Manggarai Manggarai Barat Flores Lembata Alor Timur Tengah Utara Belu Rote Ndau Sumba Timur Sumba Barat Paser Penajem Paser Utara Berau Kutai Kertanegara Kutai Timur Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Baru Tanah Laut Tanahbumbu Mejene Mamuju Utara Banggai Buol Donggala Poso Toli-Toli Parigimoutong Tojo Unauna Morowali Bolaang Mongondow Minahasa Minahasa Selatan Kepulauan Sangihe Kepulauan Talaud Buton Konawe Konawe Selatan 38 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 39 .Sulawesi Selatan Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kolaka Kolaka Utara Muna Bombana Wakatobi Sinjai Bantaeng Bulukumba Bone Jeneponto Takalar Wajo Luwu Luwu Utara Luwu Timur Gorontalo Boalemo Pohuwato Bonebolango Maluku Tengah Seram Barat Seram Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat Buru Halmahera Barat Tidore Kepulauan Kepulauan Sula Halmahera Timur Halmahera Utara Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Jayapura Merauke Nabire Biak Numfor Yapen Waropen Sarmi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

3.2014 .2.9. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bener Meriah Sigli Aceh Tengah Karo Kabajahe Tapanuli Selatan Agam Pasaman Barat Solok Tanah Datar Kerinci Merangin Lahat Muara Enim Musi Rawas Rejang Lebong Lampung Barat Lampung Selatan Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Cianjur Garut Kuningan Majalengka Sukabumi Tasikmalaya Sumatra Utara Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat 40 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3 Risiko Letusan Gunungapi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana letusan gunungapi di Indonesia (Lampiran 2). rencana penanggulangan bencana letusan gunungapi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2.9.

Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banjarnegara Banyumas Boyolali Brebes Klaten Magelang Pemalang Purbalingga Tegal Wonosobo Sleman Banyuwangi Blitar Bondowoso Jember Kediri Lumajang Malang Mojokerto Pasuruan Probolinggo Pandeglang Serang Bangli Karang Asem Badung Bima Lombok Timur Dompu Ende Flores Timur Manggarai Manggarai Barat Ngada Sikka Kalabahi Kota Bitung Minahasa Minahasa Selatan 41 Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Talaud Sangihe Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Halmahera Barat Halmahera Utara Kota Ternate 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Bener Meriah Bireun Gayo Lues Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Sumatra Utara 42 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Tabel 2.10. rencana penanggulangan bencana gerakan tanah dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3.Maluku Maluku Utara Minahasa Utara Kota Tomohon Kep.10.4 Risiko Gerakan Tanah Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gerakan tanah di Indonesia (Lampiran 2).

2014 43 .Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Utara Toba Samosir Kep.Mentawai Kota Bukit Tingggi Kota Padang Lima Puluh Koto Pasaman Solok Kerinci Empat Lawang Lahat Oku Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Lebong Rejang Lebong Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut Kota Sukabumi Kuningan Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Jawa Tengah Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Banjarnegara Banyumas Pekalongan Purbalingga Wonosobo Kota Batu Pacitan Pasuruan Probolinggo Sumenep Trenggalek Lebak Bangli Buleleng Jembrana Karang Asem Tabanan Bima Dompu Kota Bima Lombok Barat Lombok Timur Sumbawa Belu Ende Flores Timur Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Sikka Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Murung Raya Malinau Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sitaro 44 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kota Bitung Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Bone Enrekang Gowa Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Pinrang Sinjai Soppeng Tana Toraja Kolaka Utara Konawe Utara Kota Kendari Bone Bolango Gorontalo Majene Mamasa Mamuju Polewali Mandar Buru Maluku Tengah Tidore Kaimana 45 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

3.2014 .11. Tabel 2.11.5 Risiko Banjir Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana banjir di Indonesia (Lampiran 2). Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Bireun Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhoksumawe Nagan Raya Asahan Batubara Sumatra Utara 46 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.Papua Kota Sorong Manokwari Raja Ampat Sorong Teluk Wondama Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Paniai Pegunungan Bintang Puncak Jaya Sarmi Tolikara Yahukimo Yapen Waropen 2.

Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Lampung Kepulauan Bangka Belitung Dki Jakarta Jawa Barat Deli Serdang Kota Medan Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Serdang Bedagai Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Agam Pasaman Barat Kota Padang Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hulu Siak Batanghari Kota Jambi Muaro Jambi Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Kota Palembang Kota Prabumulih Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Lampung Tengah Tulangbawang Belitung Belitung Timur Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bekasi Ciamis 47 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Cirebon Indramayu Karawang Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bandung Bandung Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Banyumas Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Kebumen Kendal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Tegal Kudus Pati Pekalongan Pemalang Purworejo Semarang Tegal Bantul Kulon Progo Bangkalan Banyuwangi Bojonegoro Gresik Jombang Kodya Pasuruan Kota Mojokerto Kota Surabaya Lamongan Lumajang 48 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Malang Mojokerto Pasuruan Sidoarjo Situbondo Tuban Trenggalek Kota Tangerang Serang Tangerang Klungkung Kota Denpasar Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Singkawang Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Kota Waringin Timur Sukamara Banjar Barito Kuala 49 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Barat Papua Hulu Sei Selatan Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Tanah Bumbu Tanah Laut Tapin Bulungan Kota Tarakan Kota Manado Bone Gowa Kota Makassar Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Sidenreng Rappang Soppeng Takalar Tana Toraja Wajo Buton Buton Utara Konawe Selatan Kota Baubau Boalemo Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Kota Sorong Sorong Sorong Selatan Asmat Boven Digoel Kota Jayapura Mappi 50 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Merauke Mimika Nabire Waropen

2.3.6 Risiko Kekeringan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kekeringan di Indonesia (Lampiran 2), rencana penanggulangan bencana kekeringan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan PROVINSI Sumatra Barat KABUPATEN/KOTA Agam Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Padang Pariaman Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Tulangbawang Way Kanan
Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014 51

Riau

Jambi

Sumatra Selatan Bengkulu Lampung

Kepulauan Bangka Belitung

Kepulauan Riau

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Bangka Bangka Barat Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Kota Pangkal Pinang Bintan Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Utara Bandung Bandung Barat Bekasi Bogor Cianjur Cirebon Garut Karawang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya Majalengka Purwakarta Subang Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang

52

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur

Blora Boyolali Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Karanganyar Kebumen Kendal Klaten Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Kudus Magelang Pati Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Rembang Semarang Sragen Sukoharjo Tegal Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunungkidul Kulon Progro Bojonegoro Jombang Kediri Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Madiun
53

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Banten

Nusa Tenggara Timur

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Magetan Nganjuk Ngawi Pacitan Pamekasan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Sumenep Trenggalek Tuban Tulungagung Kota Cilegon Kota Tangerang Pandeglang Serang Tangerang Sumba Barat Daya Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Waringin Barat Kota Waringin Timur Hulu Sei Tengah Kota Baru Tabalong Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kutai Kartanegara Kutai Timur

54

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

3. Tabel 2. rencana penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.7 Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (Lampiran 2).2014 55 Sumatra Utara .13. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Utara Bener Meriah Bireun Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Asahan Batubara Dairi Deli Serdang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Maluku Utara Papua Kota Manado Kota Makassar Pangkajene Kepulauan Polewali Mandar Tidore Kota Sorong 2.13.

Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan 56 Humbang Hasundutan Karo Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Serdang Bedagai Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Lima Puluh Koto Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Sawahlunto Sijunjung Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hilir Rokan Hulu Siak Batanghari Bungo Kerinci Merangin Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Tebo Banyuasin Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau Jawa Barat Jawa Tengah Empat Lawang Lahat Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Oku Selatan Oku Timur Bengkulu Utara Muko-Muko Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tulangbawang Way Kanan Bangka Bangka Barat Bangka Selatan Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Bintan Karimun Lingga Natuna Cirebon Indramayu Karawang Kuningan Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Boyolali Demak Grobogan Jepara 57 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Karanganyar Kendal Klaten Kudus Magelang Pati Semarang Sragen Sukoharjo Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Sleman Banyuwangi Bondowoso Madiun Magetan Nganjuk Ngawi Ponorogo Situbondo Lebak Pandeglang Serang Tangerang Banten Badung Bangli Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Tabanan Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa 58 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Barito Selatan Barito Timur Barito Utara Gunung Mas Kapuas Katingan Lamandau Murung Raya Pulang Pisau Seruyan Sukamara 59 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Balangan Barito Kuala Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Hulu Sei Utara Tabalong Tapin Kutai Barat Kutai Kartanegara Malinau Nunukan Pasir Penajem Paser Utara Buol Donggala Morowali Parigi Moutong Tojo Una-Una Toli Toli Bantaeng Barru Bone Bulukumba Enrekang Gowa Jeneponto Luwu Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Selayar Sidenreng Rappang Sinjai Soppeng Takalar Tana Toraja Ajo Bombana Buton Buton Utara 60 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

3.14.2014 61 . rencana penanggulangan bencana erosi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.8 Risiko Erosi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana erosi di Indonesia (Lampiran 2). Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara KABUPATEN/KOTA Kota Sabang Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Nias Selatan Padang Sidempuan Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Kolaka Konawe Konawe Selatan Konawe Utara Muna Boalemo Bone Bolango Gorontalo Utara Pohuwato Majene Mamasa Mamuju Mamuju Utara Polewali Mandar Maluku Tenggara Barat Merauke 2.14.

Garut Indramayu Kota Banjar Kota Bekasi Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Tasikmalaya Sukabumi Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang Cilacap Karanganyar Kebumen Kota Magelang Kota Surakarta Kota Tegal Magelang Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunung Kidul Kulon Progo Bangkalan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Sumatra Barat Bengkulu Lampung Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur 62 Toba Samosir Kota Sawahlunto Tanah Datar Bengkulu Selatan Kota Metro Bandung Bogor Ciamis Cianjur Cirebon.2014 .

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Bondowoso Kota Blitar Kota Pasuruan Kota Madiun Kota Mojokerto Pacitan Pamekasan Ponorogo Probolinggo Sampang Trenggalek Kota Cilegon Kota Tangerang Lebak Karang Asem Klungkung Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Sambas 63 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Sanggau Sekadau Sintang Banjar Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Tarakan. Kutai Timur Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Bantaeng Enrekang Gowa Jeneponto Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Tana Toraja Buton Kota Baubau Gorontalo Majene Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Halmahera Timur Tidore 64 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

15.15.9 Risiko Kebakaran Gedung dan Pemukiman Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran gedung dan pemukiman di Indonesia (Lampiran 2). Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Besar Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Timur Aceh Utara Lhokseumawe Pidie Simeulue Agam Asahan Dairi Deli Serdang Kota Medan Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Mandailing Natal Pakphak Barat Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Lima Puluh Koto Padang Pariaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2.3. Tabel 2.2014 65 Sumatra Utara Sumatra Barat . rencana penanggulangan bencana kebakaran gedung dan pemukiman dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.

2014 .Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Kepulauan Riau Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Selatan Pekanbaru Danau Kerinci Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Palembang Lahat Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Timur Pagar Alam Prabumulih Bengkulu Selatan Kota Bengkulu Rejang Lebong Kota Batam Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Bandung Bekasi Bogor Cianjur Garut Karawang Kota Bandung Purwakarta Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas 66 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 67 .Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Blora Boyolali Brebes Grobogan Purwodadi Jepara Karanganyar Kendal Klaten Kota Semarang Kota Surakarta Magelang Pemalang Purbalingga Rembang Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Kota Surabaya Mojokerto Serang Tangerang Buleleng Gianyar Jembrana Karangasem Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Mataram Sumbawa Kota Kupang Kupang Lembata Ngada Timor Tengah Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Papua Landak Pontianak Barito Utara Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Timur Murung Raya Palangka Raya Pulang Pisau Banjar Banjarmasin Hulu Sei Utara Kotabaru Tanah Laut Balikpapan Berau Kutai Kutai Barat Kutai Timur Samarinda Tarakan Minahasa Utara Kota Palu Bone Gowa Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Luwu Timur Pinrang Soppeng Tana Toraja Wajo Buton Kota Kendari Jayapura 68 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

DKI Jakarta 5.16. Nusa Tenggara Timur 6.16. Nanggroe Aceh Darussalam 2. Jawa Barat 8.3. Banten 9.2014 69 . Sulawesi Selatan 2. Jawa Timur 12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nangroe Aceh Darussalam Riau KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bireun Kota Sabang Simeuleu Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sumatra Barat 4.3. rencana penanggulangan bencana gelombang ekstrim dan abrasi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada provinsi berikut: 1. Sumatra Utara 3.10 Risiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gelombang ekstrim dan abrasi di Indonesia (Lampiran 2). Jawa Tengah 11.2. rencana penanggulangan bencana cuaca ekstrim dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Daerah Istimewa Yogyakarta 10. Tabel 2.11 Risiko Cuaca Ekstrim Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana cuaca ekstrim di Indonesia (Lampiran 2). Nusa Tenggara Barat 7.

Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bandung Bogor Cianjur Cirebon Semarang Cilacap Tegal Pekalongan (Kabupaten-kabupaten sepanjang pantai utara). Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Jember Pasuruan Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang 70 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara. Tersangka Campak 11. Demam yang tidak diketahui sebabnya 17. sehingga hampir separuh (45%) penduduk Indonesia berisiko tertular Malaria. Tersangka Kolera Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kalimantan Tengah. Daftar prioritas penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB): 1. Tersangka Difteri 12. Diare Berdarah 6. Sulawesi Tenggara. Diare Akut 2. terkait kecelakaan transportasi darat. Lampung.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Flu Burung berpotensi terjadi di Provinsi Sumatra Utara. Jawa Tengah. Tersangka DBD 9. mengingat tingginya jumlah korban jiwa yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi darat. Sulawesi Selatan. Kalimantan Barat. Jawa Barat. perlu dipetakan daerah-daerah yang terutama sangat rawan. Bali. Pneumonia 5.12 Kegagalan Teknologi Indonesia masih perlu mengadakan pemetaan lebih lanjut atas daerahdaerah yang memiliki industri atau instalasi kritis yang rawan terhadap kejadian kegagalan teknologi. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 14. Sulawesi Tengah. 2.6%) yang endemik malaria. Tersangka Flu Burung pada Manusia 10. Sumatra Barat. Tersangka Pertusis 13. Jaundice Akut 8.2. DKI Jakarta. Jawa Timur. Malaria juga masih merupakan masalah besar di Indonesia. Malaria Konfirmasi 3. Ada 424 kabupaten/kota (73.3. Nusa Tenggara Barat.3. Banten. Gorontalo dan Provinsi Papua Barat.2014 71 . Kasus gigitan hewan penular rabies 15. Kalimantan Timur. Selain itu. Tersangka Anthraks 16. Tersangka Demam Dengue 4. Tersangka Demam Tifoid 7. Kalimantan Selatan.

Papua 11.2014 . ada juga potensi konflik regional dan internasional. Klaster penyakit yang tidak diketahui 19. misalkan di wilayah-wilayah terpencil yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia. Papua Barat 72 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sulawesi Barat 10. bila sudah sampai pada puncaknya. Nusa Tenggara Timur 6. Tersangka Meningitis/Enchepalitis 20. Struktur sosial yang menciptakan ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan.3. Jika menggunakan indikator sejarah konflik dan banyaknya jumlah pengungsi di wilayah. Maluku dan Maluku Utara 7. Kalimatan Barat 4. Tersangka Tetanus Neonatus 21. Begitu pula jurang yang lebar antara penduduk yang miskin dan yang kaya. Selain konflik sosial internal di tingkat masyarakat.18. Sulawesi Tenggara 9. Kalimantan Tengah 5. Sulawesi Tengah 8.14 Konflik Sosial Indonesia saat ini masih menghadapi potensi konflik. Konflik lokal seperti yang pernah merebak di beberapa tempat di tanah air masih mungkin pecah kembali. dapat mengobarkan konflik sosial. daerah-daerah yang rawan konflik di Indonesia terutama adalah Provinsi: 1. pengangguran yang meluas dan tingkat kemiskinan yang tinggi potensial melahirkan bibit-bibit konflik. Tersangka Tetanus 2. Sumatra Utara 3. Nanggroe Aceh Darussalam 2.

.

.

Data tentang jumlah korban meninggal dan mereka yang luka-luka serta jumlah rumah yang hancur total. yang dibutuhkan untuk upaya pemulihan kesehatan warga yang menjadi korban. termasuk obat-obatan. Upaya pemulihan pasca bencana juga belum maksimal.BAB III PERMASALAHAN. UndangRencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tampaknya pemahaman dan kesadaran bahwa risiko bencana dapat dikurangi melalui intervensi-intervensi pembangunan masih minim. Isu lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah orientasi kelembagaan penanggulangan bencana di Indonesia yang pada umumnya masih lebih terarah pada penanganan kedaruratan dan belum pada aspek pencegahan serta pengurangan risiko bencana. rusak berat dan rusak ringan kerap kali ada beberapa versi yang saling berbeda satu sama lain. masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait di Indonesia belum siap dalam menghadapi bencana sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh bencana. TANTANGAN DAN PELUANG 3. Tanggap darurat bencana seringkali berlangsung dengan agak tidak teratur. Begitu pula dengan perbedaan data dalam hal rumah.1 ISU DAN PERMASALAHAN Salah satu isu yang dihadapi dalam bidang penanggulangan bencana adalah kinerja yang masih belum optimal. Kinerja yang belum optimal seperti belum terpadu dan menyeluruhnya koordinasi dan kerjasama dalam menghadapi situasi tanggap darurat masih terlihat.2014 73 . Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah. terutama dalam hal pengerahan tenaga pencarian dan penyelamatan serta dalam koordinasi pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi para korban. Perbedaan data dalam hal jumlah korban terluka dan jenis luka yang dialami korban akan mempersulit alokasi tenaga medis dan perlengkapan medis. fasilitas dan infrastruktur publik yang rusak akan menghambat penghitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang selanjutnya akan memperlambat pemulihan seluruh aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Diperlukan adanya upaya 74 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . penting untuk mengembangkan tim-tim siaga bencana di tingkat masyarakat. Hal lain yang tampak mencolok dari berbagai kejadian bencana adalah masih dominannya peranan pemerintah dan pihak-pihak dari luar komunitas dalam situasi darurat bencana. Informasi semacam ini sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Isu lain yang masih dihadapi adalah kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengurangi risiko bencana. untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko yang berdasarkan ilmu pengetahuan. karena masyarakatlah yang pertama-tama berhadapan dengan bencana dan dampak-dampak negatifnya. yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memang telah merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif (terpusat pada tanggap darurat dan pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan). termasuk yang paling dominan biasanya dari angkatan bersenjata. tetapi dalam pelaksanaannya masih sedikit program-program pengurangan risiko bencana yang terencana dan terprogram. Jumlah korban dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana akan dapat dikurangi secara signifikan dengan adanya masyarakat dan pemerintah daerah yang tangguh dan siaga bencana. dan pihak swasta. tsunami dan letusan gunungapi. termasuk pemanfaatan sistem-sistem peringatan dini yang berbasis teknologi. Ketangguhan dan kesiapsiagaan ini dapat dicapai melalui gladigladi dan simulasi bencana di tingkat komunitas yang dilaksanakan secara rutin dan teratur.undang No. belum memiliki data dan informasi terinci tentang ancaman yang mereka hadapi berikut tingkat intensitasnya yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Dalam banyak kejadian bencana terakhir di Indonesia belum terlihat adanya kiprah yang signifikan dari tim-tim siaga bencana komunitas.2014 . Risiko bencana dapat dikurangi melalui program-program pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko serta penataan ruang yang berdasarkan pemetaan dan pengkajian risiko bencana. Pemberitaan media biasanya didominasi oleh kisah tim-tim reaksi cepat dari berbagai instansi pemerintah. Banyak daerah yang menghadapi ancaman alam seperti gempabumi. Mengingat Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tidak semuanya mudah dijangkau.

3. tetapi kadang kala tidak tahu apa yang dilakukan. Dalam situasi bencana dengan banyak kebutuhan yang beraneka ragam. 24 Tahun 2007 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Isu yang tidak kalah pentingnya adalah belum adanya perencanaan penanggulangan bencana yang komprehensif. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana masih menghadapi tantangan. Apalagi pada saat sebelum terjadi bencana. ilmu dan teknologi kebencanaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai lembaga yang diamanatkan Undang-undang No. Posisi yang tidak setara akan diperburuk oleh kebutuhan khusus perempuan dalam situasi bencana.2014 75 . karena perempuan biasanya tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mendahulukan anak-anak dan keluarganya. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah isu gender dan kelompok-kelompok marjinal. Semua ingin membantu. sehingga terjadi tumpang tindih produk yang berbeda satu dengan yang lain yang malah membingungkan pengguna (pemerintah daerah). mudah bagi kita untuk mengabaikan mereka yang miskin dan terpinggirkan. politik dan kesehatan. Pada beberapa kegiatan malah dilakukan oleh beberapa instansi. ekonomi.melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitianpenelitian. siapa berbuat apa belum jelas. Perempuan di Indonesia masih tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan. apa yang harus dilakukan kadang masih bingung. Program-program kebencanaan harus dirancang agar tidak menambah kerentanan kelompok-kelompok ini. yang sering terabaikan dalam situasi bencana. Setiap terjadi bencana. Kelompok miskin dan minoritas atau marjinal juga perlu diperhatikan dalam situasi bencana. termasuk kelompok warga miskin. masih sangat abu-abu. Ketidaksetaraan gender ini akan berpengaruh pada nasib perempuan dalam situasi bencana. karena mereka ini biasanya merupakan kelompok yang paling rentan.2 TANTANGAN DAN PELUANG Perubahan paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif berupa pengurangan risiko bencana yang terkandung dalam Undang-undang No. Hal seperti ini perlu dibuat suatu rencana penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai pelaku penanggulangan bencana.

tentang Penanggulangan Bencana dengan fungsi merumuskan dan menetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien. Selain itu. apalagi BPBD di daerah-daerah. dan mendorong koordinasi dan kerjasama antar pihak yang baik. Tantangannya saat ini adalah mensosialisasikan paradigma baru tersebut agar menjelma menjadi kebijakan. dan menyeluruh masih berusia sangat muda. Dengan jumlah penduduk yang besar dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bahaya. masih banyak aparat pemerintah yang perlu diberi pendidikan dan pelatihan kebencanaan agar dapat melaksanakan pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko dan menyelenggarakan tanggap serta pemulihan bencana dengan baik. Tantangan berikutnya adalah besarnya kebutuhan pengembangan kapasitas dalam penanggulangan bencana. simulasi dan pelatihan kebencanaan. diharapkan akan terbangun mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu. Dengan pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan. 76 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja tetapi juga rehabilitasi dan rekonstruksi. “Roh pengurangan risiko bencana” perlu terus didorong agar merasuki para pembuat kebijakan dan semua kebijakan serta program pembangunan di Indonesia. Tantangan pada fase tanggap darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik pelaku penanggulangan bencana. dan mengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tetap (protap) kebencanaan sampai ke tingkat pemerintahan yang paling rendah.2014 . Ibarat proses pendidikan di sekolah. sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. banyak komunitas yang perlu menerima gladi. terpadu. efisien dan handal. Banyak tim siaga bencana komunitas yang perlu dibentuk dan diberi sumber daya yang memadai. Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan penanggulangan bencana. upaya pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses belajar. di pihak pemerintah sendiri masih banyak daerah yang perlu ditingkatkan dalam hal kelembagaan penanggulangan bencana dan kelengkapannya. efektif.

Peraturan Presiden. Di tengah kebutuhan pengembangan kapasitas yang besar. yang diikuti dengan pengesahan Peraturan-peraturan Pemerintah. penanggulangan bencana akan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah.2014 77 . dengan kehadiran BNPB dan BPBD. Mengingat tantangan-tantangan ini. anggaran dan sumber daya yang diperuntukkan untuk program-program pengurangan risiko bencana masih sangat terbatas. dalam perumusan program-program pengurangan risiko bencana tampaknya perlu dilaksanakan proses penyusunan prioritas yang benar. Peraturan Menteri dan Peraturan Kepala BNPB yang merupakan turunan Undang-undang.Sedang tantangan pada rehabilitasi dan rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip membangun kembali lebih baik (build back better). Terkait dengan lingkungan kebijakan pengurangan risiko bencana yang kian mendukung. peluang berikutnya adalah sudah terbentuknya BNPB dan semakin banyaknya provinsi-provinsi dan kabupaten/kota yang membentuk BPBD. Peluang selanjutnya adalah semakin bertumbuhnya perhatian dunia pada isu pengurangan risiko bencana. Dimulai dengan lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pembentukan badan-badan penanggulangan bencana independen di berbagai tingkat pemerintahan ini akan lebih menjamin tertanganinya isu penanggulangan bencana dan isu terkait lainnya dengan baik. Lepas dari besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. sampai saat ini regulasi penanggulangan bencana terus-menerus disempurnakan. Di tingkat nasional ketertarikan berbagai pihak pada isu PRB ini terwujud dalam terbentuknya Platform Nasional PRB dan forumforum serupa di daerah. Sebagian besar anggaran sampai saat ini masih lebih teralokasikan pada tanggap darurat dan pemulihan bencana. Dengan adanya platform dan forum-forum ini. ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda pengurangan risiko bencana. penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana menjadi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . menyeluruh dan efektif-efisien. Peluang pertama adalah semakin kondusifnya lingkungan kebijakan yang mendukung pengurangan risiko bencana. Selain itu. terpadu. terutama terkait dengan kecenderungan perubahan iklim global yang dampaknya kian memburuk.

Selain itu komitmen antar negara. Bentuk-bentuk kerjasama lintas sektor baik antar pemerintah.urusan berbagai pihak. sebagai contoh dalam koridor negara asia tenggara (ASEAN) dengan membentuk AHA Center dan latihan bersama penanggulangan bencana yang dikenal dengan ARDEX sebagai implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response). fasilitasi pendidikan dasar maupun meningkatkan kesehatan masyarakat. dan tidak hanya menjadi urusan pemerintah semata. masyarakat dan lembaga usaha baik berupa upaya pengentasan kemiskinan. termasuk sektor swasta dan perguruan tinggi.2014 . Komitmen pelaku penanggulangan bencana untuk bersama-sama dalam penanggulangan bencana ini merupakan peluang lain. 78 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . mendukung pengurangan risiko bencana. Hal ini tentunya akan semakin memperkuat pelaksanaan pengurangan risiko bencana di Indonesia.

.

.

Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko. Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana. lembaga utama yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).2014 79 .2 PENATAAN KELEMBAGAAN Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana. efektif dan efisien. BNPB merupakan Lembaga Pemerintah non-Kementerian yang dipimpin oleh pejabat setingkat menteri. Kepolisian Republik Indonesia. BNPB bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia. 2. Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal. Lembaga ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat.1 VISI DAN MISI Visi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: “Ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana” Misi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: 1. terpadu. serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. 3. Basarnas dan PMI. 4. Untuk penanganan pengungsi. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian. dan menyeluruh. terpadu.BAB IV KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA 4. Lembaga dan instansi terkait. BNPB Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . terkoordinasi dan menyeluruh.

Pembentukan BPBD di 80 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Berdasarkan Pasal 2 Permendagri No. BPPT. Sedangkan untuk bencana-bencana terkait aspek biologis seperti wabah. Kementerian Agama. Di daerah lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). BPPT. dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti Kementerian Riset dan Teknologi. Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BMKG. media massa dan pihak-pihak terkait lainnya. Kementerian Kehutanan. 46 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Permendagri No. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan BMKG untuk bencana-bencana geologis. Untuk pemetaan daerahdaerah rawan. Seperti juga BNPB di tingkat pusat. Untuk pengembangan sistem peringatan dini. di daerah BPBD bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan PB dan penanganan pengungsi serta melakukan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan PB. 46/2008. selain bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga teknis. BPBD dibentuk baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. 46/2008). Untuk penelitianpenelitian kebencanaan dalam berbagai bidang. BPBD dibentuk di setiap provinsi dan dapat dibentuk di kabupaten/kota. dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian Pertanian. BNPB bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara khusus menangani ancaman tertentu. LIPI serta didukung juga oleh perguruan tinggi.2014 . BNPB terutama dibantu oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Pembentukan BPBD mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perka BNPB No. epidemi dan kejadian luar biasa. Untuk pendidikan kebencanaan BNPB bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional.bekerja sama dengan Kementerian Sosial. LIPI dan perguruan-perguruan tinggi di seluruh Indonesia. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian. LAPAN. Untuk bencana-bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup BNPB bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. dan BMKG untuk bencana-bencana hidrometeorologis. 3/2008) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.

sebuah forum yang didirikan untuk memfasilitasi kerjasama dalam pengelolaan Gunung Merapi secara menyeluruh pada aspek ancaman. dan lain-lain. fungsi-fungsi penanggulangan bencana dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani urusan kebencanaan. program dan kegiatan PRB di tingkat pusat.tingkat provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda atau peraturan kepala daerah. Planas PRB yang dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 20 November 2008 berupaya mewadahi semua kepentingan terkait kebencanaan serta membantu menyelaraskan berbagai kebijakan. agar dapat mendukung tercapainya tujuan-tujuan PRB Indonesia dan terwujudnya ketahanan dan ketangguhan bangsa terhadap bencana. Boyolali. dari 33 provinsi yang ada sudah 16 provinsi membentuk BPBD. Magelang dan Sleman. Sementara itu. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . paguyuban masyarakat Pasag Merapi. Bagi daerah-daerah yang belum membentuk BPBD. Selain Planas PRB di tingkat pusat. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kegunungapian (BPPTK). yakni sebuah forum independen untuk mendorong serta memfasilitasi kerjasama antar pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia. di tingkat pusat dibentuk Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB). Di tingkat pusat telah dibentuk Forum Perguruan Tinggi untuk PRB. dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia baru 21 kabupaten/kota yang memiliki BPBD. Adanya forum-forum PRB semacam ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah di seluruh Indonesia. Di tingkat daerah juga sudah terbentuk forum-forum serupa seperti Forum Merapi. Selain badan penanggulangan bencana pemerintah. ada pula platform-platform atau forum PRB sektoral yang dibentuk oleh para pihak berkepentingan menurut sektor atau isu-isu tertentu. sebuah perguruan tinggi dari Yogyakarta dan beberapa lembaga donor. selaras dengan tujuantujuan Kerangka Aksi Hyogo. Forum ini antara lain melibatkan pemerintah daerah beserta PMI di Kabupaten Klaten. Konsorsium Pendidikan Bencana. daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakatnya.2014 81 . Sampai dengan akhir bulan Oktober tahun 2009. untuk tingkat kabupaten dan kota. Forum Mitigasi Bencana Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

2014 . 10. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi. 6. 5. Kementerian Hukum dan HAM mendorong peningkatan dan penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan. Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. 7. 4. 82 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 8. Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan. Kementerian Pertanian merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian. 9. baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana. Kementerian Pertahanan mendukung pengamanan daerahdaerah yang terkena bencana. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan bencana lintas kementerian dan lembaga.Secara garis besar. saat dan pasca bencana. peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut: 1. Kementerian Keuangan penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan kebutuhan transportasi. 11. 2. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai. 3. Kementerian Luar Negeri mendukung program-program dan kegiatan penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional.

Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang peka terhadap risiko bencana. Kementerian Sosial merencanakan kebutuhan pangan. advokasi dan deteksi dini dalam pencegahan bencana terkait lingkungan hidup. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana. Kementerian Pendidikan Nasional merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal merencanakan dan mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang berdasarkan kajian risiko bencana. serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana. dan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. sandang. 18. dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi. 20. 21. Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan programprogram usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan.12. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis.2014 83 . 14. 17. tahap tanggap darurat. Kementerian Riset dan Teknologi melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada situasi tidak terjadi bencana. 13. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan dan mengendalikan pengadaan fasilitas dan sarana komunikasi darurat untuk mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana. Kementerian Lingkungan Hidup merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik. 19. 15. 16.

33. 27. Basarnas mendukung BNPB dalam mengkoordinasikan dan menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR). Tentara Nasional Indonesia membantu dalam kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap darurat bencana. Kepolisian Republik Indonesia membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi. 29. LIPI membantu dalam bidang pengkajian ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial khususnya dari satelit.22. 34. klimatologi dan geofisika. BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun panduan penanggulangan bencana. 36. 32. 26. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik. 28. 35. 24. 25. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mendukung perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana. 23. BATAN membantu dalam bidang pemantauan.2014 . Bapeten membantu dalam bidang pemantauan. pemanfaatan dan pengendalian bahaya akibat tenaga atom. BMKG membantu dalam bidang pemantauan potensi bencana yang terkait dengan meteorologi. Bakosurtanal merencanakan dan mengendalikan pemetaan risiko bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis. 30. pemanfaatan dan pengendalian bahaya nuklir. Kementerian Perumahan Rakyat mengkoordinasikan pengadaan perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana. BPN membantu dalam bidang penyediaan data-data pertanahan. BPPT membantu dalam bidang pengkajian dan penerapan teknologi khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. 31. 84 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. nondiskriminatif. meliputi pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. keselarasan. ketertiban dan kepastian hukum. berdaya guna dan berhasil guna. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan peraturan-peraturan pemerintah serta peraturan presiden turunan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sesuai amanat Pasal 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. koordinasi dan keterpaduan.2014 85 .3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia diatur terutama melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. dan keserasian.4. transparansi dan akuntabilitas. kelestarian lingkungan hidup. disebutkan bahwa asas-asas pokok dalam penanggulangan bencana meliputi asas kemanusiaan. keseimbangan. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. prioritas. Dalam pasal selanjutnya. pemberdayaan. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. dan non-proletisi. adalah berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. Pasal 3. Tanggung jawab ini. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. keadilan. kemitraan. kebersamaan. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. Peraturan Pemerintah No. Dalam situasi normal atau dalam situasi tidak terdapat bencana. sesuai ketentuan Pasal 6. sementara prinsip-prinsip penanggulangan bencana mencakup prinsip cepat dan tepat. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia. pemulihan kondisi dari dampak bencana. dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

seperti pengadaan sistem peringatan dini letusan gunungapi akan melibatkan Kementerian ESDM melalui Badan Geologi dan pemerintah daerah melalui BPBD. Pembagian peran di antara para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana juga akan menjadi hal yang diatur melalui Renas PB ini. mitigasi dan kesiapsiagaan. Persiapan logistik untuk mencukupi kebutuhan penduduk yang mengungsi dalam situasi darurat menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Sosial. menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum.2014 misi . Kegiatan mitigasi struktural seperti membangun tanggul penahan banjir dan jalur-jalur evakuasi.pusat dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangan masing-masing. prosedur-prosedur tetap (protap) dan rencana-rencana penanggulangan bencana dari tingkat pusat sampai daerah. perguruan tinggi dan LSM. sementara fungsi-fungsi yang menjadi tanggung jawab instansi-instansi sektoral tetap dilaksanakan oleh sektor masing-masing. Melalui langkah-langkah ini diharapkan upaya 86 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dalam situasi darurat BNPB dan BPBD menjalankan fungsi komando. BNPB dan BPBD di tingkat daerah lebih menjalankan fungsi koordinasi dan pelaksana kegiatan pencegahan. Dalam situasi pasca bencana BNPB dan BPBD kembali menjalankan fungsinya dalam hal koordinasi dan pelaksana kegiatan-kegiatan pemulihan. Strategi yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan penanggulangan bencana Indonesia adalah sebagai berikut: 1. Beberapa kegiatan pengurangan risiko bencana tertentu akan memerlukan kerjasama antara berbagai instansi. Dalam situasi ini BNPB dan BPBD dapat mengatur instansi-instansi sektoral dalam operasi tanggap darurat. Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana dilaksanakan melalui penyusunan peraturan. Sosialisasi sistem peringatan dini dan pelatihan penggunaannya akan melibatkan dinas pendidikan. misalnya saja. Dalam situasi normal. Pelaksanaan penanggulangan bencana di pusat maupun daerah akan memerlukan koordinasi dengan semua sektor dan unsur masyarakat. dengan BNPB/BPBD sebagai koordinator pelaksanaannya. koordinasi dan sekaligus pelaksana kegiatan tanggap darurat.

saat tanggap darurat dan saat pemulihan pasca bencana. Renstra dan Renja Kementerian/Lembaga. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas penanggulangan bencana bagi daerah.2014 87 . BNPB akan membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. Dalam era desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat. 2. Dengan demikian program dan kegiatan pengurangan risiko tidak akan berdiri sendiri tetapi terpadu ke dalam program pembangunan reguler. Pemaduan program pengurangan risiko ke dalam rencana pembangunan Program-program pengurangan risiko bencana sedapat mungkin dipadukan ke dalam rencana pembangunan di tingkat pusat dan daerah. dalam hal ini BNPB. RPJMD. Strategi ini diharapkan akan membantu mewujudkan pembangunan yang lebih tahan terhadap risiko bencana dan menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah masing-masing. baik ke dalam RPJM. Koordinasi dan kerjasama juga akan ditingkatkan antara instansi dan aparat pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang handal.penanggulangan bencana akan memperoleh arah yang jelas dan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu. Pemberdayaan perguruan tinggi Strategi ini bertujuan untuk memberdayakan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dan mengembangkan pengetahuan serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. RKP. Selain itu upaya khusus juga akan dilaksanakan untuk membentuk dan meningkatkan kapasitas badan-badan penanggulangan bencana dan instansi terkait di pusat dan daerah dalam menghadapi situasi pra-bencana. 3. RKPD dan Renja Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Untuk tujuan ini. melalui program-program spesifik yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dan anak. dan satu di Malang. 6. Keberadaan satuan ini akan meningkatkan kapasitas tanggap bencana Indonesia secara signifikan. strategi lain yang juga akan digunakan adalah pembangunan kapasitas masyarakat di daerah rawan yang menghadapi risiko bencana yang tinggi. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat Selain memanfaatkan perguruan tinggi daerah. 5. Satuan ini memiliki anggota pilihan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bidang keahlian. serta para penyandang cacat maupun 88 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . satu di Jakarta.4. Bagaimanapun juga komunitas merupakan pihak yang pertama-tama berhadapan dengan risiko bencana. terutama untuk menghadapi tanggap darurat. kaum minoritas dan mereka yang terpinggirkan. adalah lebih ekonomis dan efektif membangun kapasitas masyarakat. Program pengurangan risiko untuk kelompok dengan kebutuhan khusus Pendekatan khusus juga akan diterapkan untuk mendorong kesetaraan gender dalam program-program kebencanaan dan pengurangan risiko. Selain itu perhatian juga akan diberikan untuk masyarakat miskin. adalah lebih efektif bila kapasitas penanggulangan bencana dibangun di tingkat komunitas.2014 . Mengingat Indonesia begitu luas dan memiliki penduduk yang tersebar di ribuan pulau. yang berbasis di Lanud Abdul Rahman Saleh. sementara satuan yang bermarkas di Malang akan melayani kawasan Indonesia Timur. Satuan yang bermarkas di Jakarta akan melayani kawasan Indonesia Barat. Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRCPB) Dalam menghadapi bencana yang berdampak besar. Di tingkat nasional ada dua SRC-PB induk yang dibentuk. kerelawanan akan didorong pada semua tataran dan lapisan masyarakat. yang berbasis di Lanud Halim Perdana Kusuma. Mengingat kapasitas tanggap darurat pemerintah yang masih terbatas. strategi yang dilakukan adalah membentuk Satuan Reaksi Cepat (stand-by force) untuk penanggulangan bencana.

terutama yang bergerak dalam bidang finansial. Pemerintah akan bekerja sama lebih erat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mitra lainnya dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. 8.2014 89 . Peningkatan peran LSM dan organisasi mitra pemerintah Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 7. agar program-program pengurangan risiko bencana tidak meningkatkan kerentanan mereka. baik LSM lokal.kelompok dengan kebutuhan khusus lainnya. sektor swasta. dapat berkontribusi melalui upaya-upaya pengembangan mekanisme transfer risiko seperti asuransi bencana dan perangkat-perangkat serupa lainnya. tetapi sebaliknya mendukung ketangguhan mereka terhadap bencana. Terkait dengan itu. Kalangan dunia usaha juga dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui keterlibatan aktif dalam forum-forum pengurangan risiko bencana seperti melalui Platform Nasional PRB ataupun forum-forum serupa di tingkat daerah. Peningkatan peran dunia usaha Kalangan dunia usaha diharapkan dapat berkontribusi lebih besar lagi dalam menggalang dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang relawan dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. Terkait dengan pengurangan risiko. terutama untuk mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat masyarakat. termasuk melalui penyelenggaraan pelatihan-pelatihan dan peningkatan kapasitas relawan. Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). nasional maupun internasional kian berperan besar terutama pada saat tanggap darurat dan pasca bencana.

2014 .90 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

G Gambar 5. Visi penanggulang bencana (Bab VI) sec n gan cara jelas menyebut cita-cita unt tuk menjadik kan bangsa y yang tangguh dalam menghadap bencana. ra terkoordina dan menye asi eluruh. terpadu. pendana dan peng aan gembangan k kapasitas.1. Program me n erupakan penjabaran dari visi da misi serta pilihan tind an a dakan sesuai dengan i manajemen risiko. Sis stem Penanggu ulangan Bencan Indonesia na Sistem pen nanggulangan bencana I n Indonesia ya ang saat ini tengah dibangun memiliki 5 (lima) pila berupa sub-sistem legislasi. Hal ini didukun oleh 3 (tig misi yang diemban pi ng ga) yaitu memb bangun sistem penanggul langan benca untuk me ana elindungi bangsa dar ancaman bencana me ri elalui pengur rangan risiko dengan menyelengg garakan penanggulangan b bencana secar terencana. aan.2014 91 . Sistem ini d dibangun untu menjawab permasalaha yang dihad uk b an dapi saat ini (Bab III) dan diterje emahkan ke dalam progr ram-program sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .BAB V PROGRA AM Renas PB m memuat prog gram dan fok prioritas sebagai dasa dalam kus ar membuat kegiatan penanggulangan bencana. ar perencanaa kelembaga an.

sehingga dalam pembuatan rencana aksi pengurangan risiko bencana hanya menggunakan 7 (tujuh) program tersebut. Kegiatan sebelum terjadi bencana/pra bencana sering disebut dengan pengurangan risiko bencana. atau dikenal dengan mitigasi. Dengan demikian Renas PB mempunyai 9 (sembilan) program. pendidikan dan pelatihan. dan 7) kesiapsiagaan. Mitigasi ini dapat dilakukan secara struktural maupun non-struktural. Ketujuh program di atas merupakan program yang dilakukan sebelum terjadi bencana. 2) perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu. 3) penelitian. dilakukan pengalihan risiko ke pihak lain (risk transfer) misalnya melalui sistem asuransi bencana. Pertama-tama dilakukan tindakan untuk memisahkan potensi bencana yang mengancam dengan elemen berisiko (element at risk). Tindakan ini dikenal dengan pencegahan (risk avoidance). Selain program-program pengurangan risiko bencana juga terdapat program pada saat bencana dan pasca bencana. 6) peringatan dini. Paradigma pengurangan risiko bencana merubah pola pikir yang responsif menjadi preventif dengan pendekatan manajemen risiko. Apabila suatu wilayah mempunyai risiko tinggi maka upaya pengurangan risiko dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan. maka yang terakhir dilakukan adalah menerima risiko (risk acceptance) dan melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan. 92 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . dan 4) peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lain dalam pengurangan risiko bencana. Bila pengurangan risiko sudah dilakukan dan masih tetap ada risiko. Apabila ketiga tindakan tersebut sudah dilakukan tetapi masih ada risiko. Tindakantindakan dalam manajemen risiko di atas dijabarkan dalam program yaitu: 5) pencegahan dan mitigasi bencana.berikut : 1) penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan. Program pada saat bencana adalah 8) program tanggap darurat dan program pasca bencana disebut 9) program rehabilitasi dan rekonstruksi. Apabila antara potensi bencana dengan elemen berisiko tersebut tidak dapat dipisahkan (harus bertemu) maka upaya yang dilakukan adalah pengurangan risiko (risk reduction).

masyarakat maupun lem t mbaga usaha sebagai rencan aksi. rotap Penangg gulangan Benca yang memuat ana Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Gam mbar 5. Sehingga dih bih harapkan tidak terjad suatu kegia di atan dilakuka oleh lebih dari 1 (satu) instansi an ) atau ada suatu kegiatan yang tidak dilakukan oleh s y satupun instansi. Seca umum R ara Renas PB me empunyai sembilan pr rogram dan empat puluh t tujuh fokus pr rioritas. Fokus p prioritas dima aksudkan untuk mem mberikan gam mbaran priori itas dari mas sing-masing p program. Prog gram dan fokus prioritas dalam Renas PB s No. Pilihan tindakan dala manajemen risiko bencan am n na Selanjutnya agar le a ebih terarah.1. PR ROGRAM Penguatan peratu uran FOKUS PRIO ORITAS 1. Secar khusus ra setiap program memiliki fokus prioritas sebelum d dideskripsikan menjadi n kegiatan-ke egiatan yang akan dilaksan nakan oleh Ke ementerian/L Lembaga. program m-program tersebut dideskripsik kan menjadi fokus priorit tas. 1. Renas PB menggamb P barkan progra dan fokus prioritas am dalam lima tahun men a ndatang.2014 93 . Gambaran prioritas ini sebagai ara ahan dalam menyusun k kegiatankegiatan ya akan dilak ang ksanakan oleh pelaku penanggulangan bencana h yang multi stakeholder.1 Penyusu unan peraturan perda dan pr n. na Program da fokus priori dalam Renas PB adalah sebagai beri an itas h ikut : T Tabel 5.2. Sebagai ren ncana. sehingga leb terfokus.

5 1.2 3. termasuk pembagian tugas. serta koordinasi Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.4 1. Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Standarisasi pedoman-pedoman dan acuan penanggulangan bencana Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lembaga Pengkoordinasian penganggaran Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 94 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .8 2. pendidikan dan pelatihan 1.1 2.perundanganan dan kapasitas kelembagaan 1. Satuan Reaksi Cepat Daerah) Penguatan kapasitas manajemen PB di daerah Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) dan penyediaan relawan yang memadai Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana Pembentukan Regionalisasi Depo Logistik.2 3.9 2.6 1.3 1.2 1.7 1.1 3.3 mekanisme PB. 3. Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.2014 . kewenangan dan sumber daya.

2014 .2 Pengembangan forum pengurangan risiko bencana (PRB) di daerah 4. Peringatan dini 3.1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 4. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB 5.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 3.4.7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan 4.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 4. Pencegahan dan mitigasi bencana 6.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan 4.7 Penelitian dan Pengembangan 6.1 Pembangunan Sistem Peringatan Dini 95 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 3.5 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana 5.7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan. anak dan kelompokkelompok marjinal 5.2 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana 5.3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan 4.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) 4.3 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5.6 Penerapan upaya mitigasi struktural dan nonstruktural 5.4 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5.1 Pemetaan risiko bencana 5.4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah 3.

2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggap darurat 7.3 Pembentukan Satuan-satuan Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional 7.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar 7. Rehabilitasi dan rekonstruksi 9.3 Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara 7. Kesiapsiagaan 8. layanan kesehatan.3 9. hunian sementara. Tanggap darurat 7. air bersih dan sanitasi 8.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan 7.1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur 7.2 Pencarian.4 Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 8.1 Kaji cepat bencana 8.9 Penyusunan rencana kontijensi 7.8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi real-time untuk tanggap darurat.1 Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Pemulihan sarana-prasarana publik dan 9.5 Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui antara lain pendidikan-pelatihan. pengembangan teknologi informasi 7. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 8. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 9. sandang. penyelamatan dan evakuasi 8.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan 7.4 96 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .10 Peningkatan Penyuluhan.2 9.2014 .7.

Maksud regionalisasi ini adalah untuk mendukung logistik dari daerah berisiko tinggi. 5 (pencegahan dan mitigasi) sebenarnya terdapat program yang sifatnya generik ditunjukkan fokus prioritas no.5 9.2014 97 . termasuk diantaranya penyiapan relawan penanggulangan bencana sebanyak 10. Selanjutnya program no. masing-masing fokus prioritas mempunyai sasaran (Lampiran 3-17) yang menggambarkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan untuk menjawab isu dan permasalahan yang dihadapi.2 sampai dengan 5. 5 sampai dengan 9 merupakan program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai Dalam Tabel 5. Secara umum. 1 sampai dengan 4.000 personil.6 rekonstruksi rumah warga korban bencana Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui antara lain pendidikanpelatihan. dapat dilihat bahwa program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana adalah program no.5. dan regionalisasi pelatihan penanggulangan bencana dengan pendekatan kearifan local.9. Dalam 5 (lima) tahun kedepan BNPB merencanakan akan mempunyai kepanjangan tangan di daerah dengan membangun Regionalisasi Depo Logistik. Sasaran juga mengindikasikan lokasi-lokasi yang harus diprioritaskan karena memiliki risiko tinggi terhadap suatu ancaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pada program no.1. 5. Pusat Pelatihan dan Pusdalops pada 12 lokasi. Fokus prioritas dengan membentuk Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) merupakan implementasi program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana.

Dalam hal ini sebagian besar instansi utamanya adalah BNPB sebagai perwujudan Pasal 13 huruf b UU No. Hal tersebut berbeda dengan instansi utama pada program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. Sedangkan instansi terkait berperan sebagai instansi penunjang yang membantu instansi utama dalam mencapai sasaran. sehingga Renas PB adalah wujud kesepakatan bersama dalam mencapai sasaran yang diinginkan dalam lima tahun ke depan. BMKG dan Bakosurtanal. Instansi utama dalam program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana terdiri dari 1 (satu) instansi. Hal yang paling penting dalam melaksanakan program-program Renas PB adalah kesepakatan dan keterlibatan seluruh instansi. Instansi utama merupakan instansi yang mempunyai peran utama dan mengkoordinasi instansi terkait. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu keterlibatan berbagai institusi (Kementerian/ Lembaga) sebagai instansi utama dan instansi terkait. 24 Tahun 2007 bahwa BNPB mempunyai fungsi pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. Tiga instansi ini telah memulai dengan membuat MoU atau kesepakatan mengenai pembuatan peta risiko bencana banjir.bencana. instansi utamanya adalah Kementerian PU. 98 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sehingga dalam penyusunan Renas PB masing-masing instansi mempunyai peranan penting. Sebagai contoh dalam mencapai sasaran terwujudnya peta risiko bencana banjir skala 1:50. kerentanan dan kapasitas (Bab II). Lokasi-lokasi ini merupakan hasil dari analisis risiko bencana dengan mempertimbangkan bahaya. Semangat bahwa penanggulangan bencana adalah urusan bersama dituangkan dalam penyusunan Renas PB.000 (Lampiran 8). terpadu dan menyeluruh. dimana instansi utama bisa lebih dari 1 (satu) instansi.2014 .

.

.

638. 9.50 2.16 368. Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp. 3.855. Atau rata-rata pertahun Rp. 2.(dua belas triliun delapan ratus sembilan puluh lima miliar dua belas juta rupiah).677.) 30. 1. PROGRAM Penguatan peraturan perundanganan dan kapasitas kelembagaan Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.50 822.BAB VI ANGGARAN DAN PENDANAAN 6.60 No..012.415. Tabel 6.000.060.50 14. 6. 4.2014 99 .665.00 64. 6.00 24.000.000.895. 7.1.1 ANGGARAN Anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana ini adalah Rp.00 7.000.008.06 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .475. 64.475.(enam puluh empat triliun empat ratus tujuh delapan puluh lima miliar enam puluh juta rupiah). pendidikan dan pelatihan Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB Pencegahan dan mitigasi bencana Peringatan dini Kesiapsiagaan Tanggap darurat Rehabilitasi dan rekonstruksi TOTAL 5.80 1. 12. 8.

-. terbentuknya kantor regional. pelatihan 4.000. Program peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB dengan alokasi dana Rp. pendidikan dan pelatihan diperlukan dana Rp 368. pembentukan kelompokkelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan.-.000. penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana.2014 . penguatan peran media dalam menumbuhkan 100 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .160.600. pembentukan 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan. pembentukan sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota dan 5 lokakarya tahunan tentang PRB berbasis komunitas.665.000. Dana ini akan dialokasikan untuk pembiayaan 3.000.638. Dana tersebut akan digunakan untuk pembentukan 1. serta penusunan penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana. Program pencegahan dan mitigasi diperlukan dana Rp. Dana ini akan digunakan untuk penyusunan pedoman tata ruang dan tata guna lahan.100 desa siaga bencana di 33 provinsi.-. yang akan dipergunakan untuk kegiatan penyusunan Renas PB dan rencana penanggulangan bencana serta pengarusutamaan rencana penanggulangan bencana ke dalam rencana pembangunan di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota.000.855. pendidikan publik guna meningkatkan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota. 6.000.000.000.000 guru.-.500. peningkatan penerapan teknologi untuk dalam penanganan 14 macam bencana (termasuk pengembangan sistem peringatan dini).500.-. pembentukan 33 Pusat Studi Bencana di berbagai perguruan tinggi.000. Program perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu diperlukan dana Rp. yang akan dipergunakan diantaranya meningkatkan sumberdaya manusia dalam penanggulangan bencana berupa pelatihan terhadap staf BPBD Provinsi.000. Program penelitian. penyusunan peraturan pemerintah dan peraturan daerah tentang pengelolaan sumberdaya alam yang rawan di 33 provinsi. 24. 30.Dalam program penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan diperlukan dana Rp.000. penguatan BPBD di 33 Provinsi dan 275 kabupaten/kota. 2.000 penelitian di 33 Perguruan Tinggi di Indonesia.

penyediaan stok logistik kebutuhan dasar. pembuatan modifikasi cuaca.489.000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan.diantaranya untuk pembentukan 2 SRC-PB yang berkedudukan di Malang dan Jakarta dan akan dibentuk juga 12 SRC di 12 kantor regional. 1. penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi.000. Dana terbesar dialokasikan untuk bencana gempa bumi. penyediaan kebutuhan hunian darurat. 822.800.000.677.415.000.-. 14.2014 . Hal ini mengingat pada bencana gempa bumi pembangunan sarana dan prasara publik pada umumnya memerlukan pembangunan kembali.000. peningkatan peningkatan akses komunikasi di kantor pusat dan 33 provinsi. 4.007. dan sosialisasinya.008.000. 3. Program kesiapsiagaan dengan alokasi dana Rp 7.6 101 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .-.000. Tabel 6.. 2.500.budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat dengan melatih 2. peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan.000.) 12. Penggunaaan dana tersebut diantaranya adalah untuk pengkajian kerusakan dan kerugian.000. pemulihan sarana dan prasaran publik serta pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis korban bencana. Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB No. JENIS BENCANA Gempabumi Tsunami Gunungapi Gerakan Tanah ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan mobilisasi sumberdaya. asuransi bencana di tiap provinsi. pengumpulan dan evakuasi korban padsa saat terjadi bencana Pembiayaan terbesar terdapat pada program rehabilitasi dan rekonstruksi Rp.0 4.dialokasikan untuk pemasangan sistem peringatan dini di provinsi yang rawan bencana. Program tanggap darurat Rp 1.5 931.0 1.111. Program peringatan dini Rp.2.

7.2). 32. 12.5 380.(estimasi).463. Di lain pihak.8.5 197.2014 . Begitu pula.500.- 6.atau rata-rata pertahunnya kurang dari Rp. 102 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 6.000. 13.000..8 Apabila diklasifikasi berdasarkan jenis bencana (Tabel 6.150.000.. 9.000. 14. 8. terutama paska gempabumi di Jawa Barat bagian selatan dan Sumatra Barat sebesar Rp. 11.. 151.5 156.5. dan dukungan dunia usaha serta lembaga donor.dan Rp.0 151.000.5 241.000.000. 10. 156. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).5 312. anggaran rencana penanggulangan bencana akibat kegagalan teknologi dan konflik sosial adalah yang terkecil yaitu masing-masing sebesar Rp. 2.000.000.2 PENDANAAN Sumber pendanaan untuk pelaksanaan rencana penanggulangan bencana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).000.0 650. anggaran penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah yang berasal dari dana APBD dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah.000.489.000.800.-. 12.. maka rencana penanggulangan bencana gempabumi memiliki anggaran yang paling besar yaitu Rp.5 210. Hal ini disebabkan pada program rehabilitasi dan rekontruksinya masih mengalokasikan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah pasca bencana yang belum selesai. Banjir Kekeringan Kebakaran Hutan dan Lahan Erosi Kebakaran Gedung&Perumahan Gelombang Ekstrim & Abrasi Cuaca Ekstrim Kegagalan Teknologi Epidemi & Wabah Penyakit Konflik Sosial TOTAL 2.5 23. Anggaran yang berasal dari dana APBN dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Kementerian/Lembaga untuk menjamin agar upaya penanggulangan bencana dapat berjalan secara berkesinambungan.500.497.2 474.untuk 5 (lima) tahun atau ratarata pertahun sebesar Rp.000.

Mekanisme pendanaan yang berasal dari anggaran non-pemerintah diatur sesuai aturan masingmasing lembaga atau instansi. sementara itu program penanggulangan bencana yang bersifat umum dibiayai melalui anggaran BNPB. harus disampaikan atau dikirimkan secara langsung kepada BNPB. anggaran kegiatan penanggulangan bencana juga dapat berasal dari bantuan donor. Dana penanggulangan bencana digunakan untuk tahap tidak ada bencana. Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. Dalam situasi ada potensi terjadinya bencana. tetapi terintegrasi ke dalam anggaran yang terkait dengan kepentingan penanggulangan bencana. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk kegiatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dana penanggulangan bencana digunakan oleh Pemerintah. dunia usaha ataupun dari dana masyarakat sendiri. Artinya. Dalam situasi tidak terjadi bencana. tanggap darurat dan pasca bencana. Artinya. Di samping pendanaan dari pemerintah. Pendanaan yang berasal dari APBN mengacu pada sistem penganggaran yang diatur melalui keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan. sebagian besar sumber daya dan pembiayaan untuk kegiatan penanggulangan bencana terpadu ke dalam kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk program-program pengurangan risiko bencana.2014 103 . pelaksanaan program dan kegiatan dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 ini harus disesuaikan dengan nomenklatur anggaran terkait penanggulangan bencana dari Kementerian/Lembaga. yang mengacu pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Programprogram di dalam Renas PB yang spesifik instansi dibiayai dari anggaran masing-masing instansi bersangkutan.Anggaran untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan merupakan dana tambahan (on top) terhadap anggaran Renstra Kementerian/Lembaga. Bantuan dana dari pihak asing. Pemerintah Daerah. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana. BNPB dan/atau BPBD sesuai tugas pokok dan fungsinya.

pemerintah mengalokasikan dana siap pakai (on-call budget) yang harus selalu tersedia untuk kebutuhan saat tanggap darurat. 104 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan peraturan perundangan turunannya (Peraturan Menteri/Kepala Lembaga bersangkutan) dengan mengacu kepada rencana penanggulangan bencana di daerah. Kepolisian. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.2014 . Sedangkan untuk tahap pasca bencana. Balai/Balai Besar Kementerian/Lembaga) mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Pemerintah daerah mengajukan permohonan untuk dana ini kepada pemerintah pusat melalui BNPB. pemerintah mengalokasikan dana bantuan sosial berpola hibah yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah.kesiapsiagaan. Kanwil. Pengajuan anggaran kegiatan penanggulangan bencana dari instansi vertikal di daerah (TNI. Untuk mengantisipasi situasi tanggap darurat. pembangunan sistem peringatan dini dan kegiatan mitigasi bencana.

.

.

50 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri.BAB VII PEMANTAUAN.2014 105 . EVALUASI DAN PELAPORAN Pemantauan (monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan agar sesuai dengan rencana yang telah disusun. 292/M. 40 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.2/2002 dan No. Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan dan sasaran pembangunan. 70 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan yang tercantum di dalam Renas PB ini dilaksanakan dengan mengacu pada perangkat hukum berikut: 30 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan. 80 Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas No. Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan realisasi penyerapan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .1 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan Renas PB dan mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul agar dapat diambil tindakan sedini mungkin. 7. 60 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Kep.Ppn/09/2002 tentang Sistem Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Proyek Pembangunan. Kep-102/Mk.

Konsultasi. Pelaksanaan pemantauan (dan juga evaluasi) dilaksanakan dengan memperhatikan asas Efisiensi.. kinerja program serta hasil-hasil yang dicapai. ditinjau secara berkala setiap 2 106 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . LSM dan kelompok profesional. Selain untuk menemukan dan menyelesaikan kendala yang dihadapi. Pemantauan pelaksanaan Renas PB dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masingmasing. Pemantauan dapat dilaksanakan antara lain melalui kunjungan kerja ke program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. Kegiatan pemantauan juga dapat melibatkan masyarakat (misalkan melalui Platform Nasional PRB). dan Kemanfaatan.2014 . Pasal 6 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar “Rencana penanggulangan bencana. yakni derajat hubungan antara barang/jasa yang dihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output). Pemantauan harus dilakukan secara berkala untuk mendapatkan informasi akurat tentang pelaksanaan kegiatan. dan pengecekan laporan pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko yang dikaji berdasarkan rencana kerja yang tercantum dalam Renas PB. tepat lokasi dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal.dana. Laporan hasil pemantauan disusun setiap enam bulan sekali (semester). realisasi pencapaian target keluaran (output) dan kendala yang dihadapi. Koordinasi.. pelaksanaan pemantauan sebaiknya juga menilai aspek Konsistensi. Selain ketiga asas tersebut. Keterlibatan aktif unsur luar dapat diakomodasi dalam bentuk kelompok kerja yang dikoordinasikan oleh pemerintah. Efektivitas. rapat kerja atau pertemuan dengan pelaksana kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan dan kendala yang ditemui. yaitu kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) dapat diselesaikan tepat waktu. Kapasitas dan Keberlanjutan dari pelaksanaan suatu rencana program/kegiatan. yakni tingkat seberapa jauh program/kegiatan mencapai hasil dan manfaat yang diharapkan. kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Renas PB serta mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatankegiatan pengurangan risiko bencana.

Evaluasi pelaksanaan Renas PB dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang atau jasa dan terhadap hasil (outcome) program yang dapat berupa dampak atau manfaat bagi masyarakat dan/atau pemerintah. Tabel 7. evaluasi juga dapat dilakukan dengan mengkaji dampak yang ditimbulkan melalui pelaksanaan Renas PB. Selain dinilai berdasarkan efektivitas dan efisiensinya. Pada hakikatnya evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). Format pemantauan dan evaluasi Sumber Pendanaan Keterangan (Tindak Lanjut) Kegiatan Alokasi Sasaran (Target) Pencapaian (Realisasi) APBN Lain-lain Selain berguna untuk memperbaiki pengelolaan program di masa yang akan datang. Evaluasi berkala ini bertujuan untuk menilai hasil yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan pengurangan risiko bencana serta efektivitas dan efisiensi program dan kegiatan tersebut.(dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana”. objektif dan transparan. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumber daya yang digunakan serta indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan dan/atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. Kedua cara ini dapat saling mendukung dalam memberikan informasi yang bermanfaat untuk Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis. Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana program berikutnya.2014 107 .1. keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. evaluasi juga menjamin adanya tanggung-gugat (akuntabilitas) dan membantu meningkatkan efisiensi serta efektivitas pengalokasian sumber daya dan anggaran. kinerja program pengurangan risiko bencana yang tercantum dalam Renas PB diukur juga berdasarkan kemanfaatan serta keberlanjutannya. Di samping membandingkan antara target dan pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Renas PB. menyeluruh.

Laporan hasil evaluasi disusun setiap satu tahun sekali. Laporan juga akan berisi rekomendasi tindak lanjut bagi instansi/lembaga tertentu jika diperlukan. 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan Renas PB. evaluasi pelaksanaan Renas PB juga dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing. Pada akhir tahun kedua dan keempat pelaksanaan Renas PB. Pada akhir tahun kelima akan diadakan sebuah evaluasi akhir menyeluruh yang hasilnya akan dituangkan dalam sebuah laporan akhir yang selain berisi laporan kegiatan dan pencapaiannya juga berisi kajian atas keberhasilan/kegagalan dari semua program dan kegiatan pengurangan risiko yang telah dilaksanakan selama kurun waktu Renas PB. Seperti pemantauan.2 PELAPORAN Pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana harus dilaporkan dalam sebuah laporan tertulis. Evaluasi dapat melibatkan pihak luar. tetapi tetap di bawah koordinasi instansi pemerintah terkait. 7. Harapannya adalah agar semua laporan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dapat terdokumentasi dengan baik dan secara resmi dikeluarkan oleh BNPB.2014 . Laporan disusun setiap tahun dan satu salinan dari laporan ini dikirim kepada BNPB untuk disatukan dengan laporan tahunan tingkat nasional. BNPB akan mengkoordinasikan sebuah peninjauan atau evaluasi tengah program yang melibatkan semua Kementerian/Lembaga dan pihak terkait lainnya.

.

.

harta benda. kegiatan pencegahan bencana. luka. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. hilangnya rasa aman. mengungsi. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan bencana. pemenuhan kebutuhan dasar. kerusakan atau kehilangan harta. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. kerugian harta benda dan dampak psikologis. perlindungan. tanggap darurat dan rehabilitasi.Lampiran 1. sakit. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna. kerusakan lingkungan. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. pengurusan L-1 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lampiran . Daftar istilah dan pengertian-pengertian (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. dan gangguan kegiatan masyarakat. jiwa terancam. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang mengurangi risiko timbulnya bencana.

sosial dan budaya. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. adalah lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. yang selanjutnya disingkat RPJP. Bupati/Walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. yang selanjutnya disingkat BPBD. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. penyelamatan. adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun.(9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) pengungsi. Pemerintah Pusat. yang selanjutnya disebut Rencana L-2 Lampiran . Pemerintah Daerah adalah Gubernur. yang selanjutnya disebut Pemerintah. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. serta pemulihan prasarana dan sarana publik. yang selanjutnya disingkat RPJM. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. tegaknya hukum dan ketertiban. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. yang selanjutnya disingkat BNPB. Rencana Pembangunan Jangka Panjang.

atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah Lampiran L-3 . adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (RenjaKL). Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional.(18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL). adalah dokumen perencanaan kementerian/lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode I (satu) tahun. adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode I (satu) tahun. adalah dokumen perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode1 (satu) tahun. adalah dokumen perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah.

L-4 Lampiran 2. Peta-Peta Risiko Bencana " Lampiran .

Lampiran " L-5 .

L-6

Lampiran

"

Lampiran

"
L-7

L-8

Lampiran

"

Lampiran

L-9

"

L-10

Lampiran

"

Lampiran

L-11

"

L-12

Lampiran

"

Lampiran

L-13

"

L-14 Lampiran " .

Lampiran L-15 " .

L-16 " Lampiran .

" Lampiran L-17 .

L-18 " Lampiran .

" Lampiran L-19 .

L-20 " Lampiran .

" Lampiran L-21 .

Kementerian Dalam Negeri .BPPT . Satuan Penguatan BPBD di 33 provinsi dan terbentuknya BPBD di 275 kabupaten/ kota. 1.Basarnas .1 Penyusunan peraturan.PMI Instansi utama: .LIPI .Bakosurtanal .BMKG . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk kategori program-program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana. Fokus Prioritas. termasuk pembagian tugas.Kementerian Sosial . serta 350 miliar L-22 Lampiran . Sasaran.Lampiran 3. kewenangan dan sumber daya.BNPB Instansi terkait: . NO.2 Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) PROGRAM : PENGUATAN PERATURAN PERUNDANGAN DAN KAPASITAS KELEMBAGAAN 1.TNI .Kementerian Dalam Negeri 25 miliar 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian PU .KementerianE SDM .BNPB Instansi terkait: .KRT .Kementerian kehutanan .Polri . Perda.Kementerian Kesehatan . Sandingan Program. perda dan protap Penanggulangan Bencana yang memuat mekanisme PB. protap Penanggulangan Bencana tersusun di tingkat pusat dan 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: . serta koordinasi Peraturan.

Kementerian Perhubungan .BNPB 16.Basarnas .6 Pembentukan Regionalisasi Depo 33 Pusat Studi Bencana didirikan di Perguruanperguruan Tinggi di seluruh Indonesia 16.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .BNPB Instansi terkait: .PT Instansi utama: .5 miliar Terbentuknya 12 kantor regional 30.Reaksi Cepat Daerah) 1.LIPI .Kementerian Pendidikan Nasional .5 miliar 1.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BMKG .4 Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) 200 miliar 1.Kementerian Kesehatan .000 miliar Lampiran L-23 .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Komunikasi dan Informasi .5 Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana 1.Kementerian ESDM .300 orang pejabat BPBD di 33 provinsi memperoleh pelatihan manajemen PB 40.Kementerian kehutanan .Kementerian PU .BNPB Instansi terkait: .Kementerian PAN Instansi utama: .BPPT .PMI Instansi utama: .000 staf teknis/pelaksana BPBD provinsi dan SKPD terkait menerima pelatihan teknis PB .3 Diklat penguatan kapasitas manajemen PB di daerah tersedianya sarana pendukung sesuai standar minimum 3.

Basarnas .9 Pengkoordinasian penganggaran 20 Koordinasi sinkronisasi pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana 10 miliar 20 koordinasi penganggaran sektor penanggulangan 10 miliar L-24 Lampiran .KementerianE SDM .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Perhubungan .BSN .Kementerian ESDM .Kemenko Kesra Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .Kementerian PU .Polri 20 SNI pedoman dan acuan penanggulangan bencana Instansi utama: .TNI .Bulog .BPPT .Kementerian Kesehatan .Kemenko Kesra 10 miliar 1.Logistik.BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana Instansi utama: .LIPI .PMI .BMKG . Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Instansi terkait: .Kementerian Sosial .7 Standarisasi pedomanpedoman dan acuan penanggulangan bencana 1.8 Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lemb aga 1.BMKG Instansi utama: .KRT .

BNPB .2 Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Tersusunnya Renas PB dan Rencana Penanggulangan Bencana di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota PRB dalam RPJM. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 3. Renstra K/L.Bappenas 18 miliar Instansi utama: .1 Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah 2.Kementerian Pendidikan Nasional .BNPB Instansi terkait: .Kementerian ESDM . Renstra SKPD di 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: .Bappenas Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .16 miliar 3.LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan 150 miliar Iptek dikembangkan dan diaplikasikan untuk 14 ancaman utama 128 miliar Lampiran L-25 .000 penelitian diadakan di 33 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia Instansi utama: .KNRT Instansi terkait: . PROGRAM : PENELITIAN. PROGRAM : PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA YANG TERPADU 2.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi utama: .2 Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini 3.bencana Instansi terkait: .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana 2.1 Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana 3.BPPT .Kementerian Dalam Negeri 6. RPJMD.

BMKG .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: . lokakarya internasional dua tahun sekali 10 miliar L-26 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial 5 miliar 5.Kementerian PU .BNPB .KementerianE SDM .Kementerian Luar Negeri .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .BNPB 3.Kementerian kehutanan .3 Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 3..Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Depdiknas Instansi terkait: .4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah Kurikulum sekolah di tingkat pusat dan daerah mengandung muatan Penanggulangan Bencana 275 sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota menerapkan program kesiapsiagaan bencana Pelatihan 4.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 20 miliar 3.BMKG .000 guru dan tokoh masyarakat di 33 provinsi Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 5 lokakarya tahunan PRB-BK diselenggarakan di tingkat nasional.5 miliar 3.BNPB Instansi utama: .Kementerian PU .BNPB Instansi utama: .

BPPT .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Polri .Kementerian Sosial .TNI .7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan Peningkatan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota akan masalah kebencanaan Instansi utama: .Bakosurtanal .LIPI .BPPT .KNRT ..Polri .Basarnas .BMKG .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Kehutanan .Dephut .TNI .Basarnas .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .KRT .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .PMI 50 miliar Lampiran L-27 .Kementerian PU .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .BNPB .PMI 3.

Kementerian Hukum dan HAM .Kementerian ESDM .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian PU .Kementerian LH Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH 5 miliar 4. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 4.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH Instansi terkait: .Kejaksaan .2 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5 miliar 4.BNPB Instansi terkait: .BNPB .1 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan Sumber Daya Alam yang rawan di 33 provinsi Instansi utama: .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB .Polri .4.3 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana Tingkat kepatuhan terhadap peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5 miliar L-28 Lampiran .

000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan Instansi utama: .6 miliar Lampiran L-29 .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .Bappenas .Kementerian LH 140 milyar 5.000 .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan 4.Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi terkait: .BMKG .1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 5.Deptan .BNPB 6.2 Pengembangan forum pengurangan 2.Pedoman tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko skala 1:50.Kementerian PU .BNPB 10 miliar 33 forum pengurangan risiko bencana terbentuk Instansi utama: .BPN ..Kementerian Kelautan dan Perikanan .4 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian ESDM . PROGRAM : PENINGKATAN KAPASITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PARA PEMANGKU KEPENTINGAN LAINNYA DALAM PRB 5.rekomendasi tata ruang berbasis risiko bencana pada provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi Instansi Utama : .Kementerian ESDM .Kementerian Kehutanan .

Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Pendidikan Nasional .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Negara UKM Instansi terkait: .3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan di 33 provinsi Instansi terkait: .Kementerian ESDM .Kementerian Sosial .PMI .BMKG .risiko bencana (PRB) di daerah 5.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kwarnas Pramuka Instansi utama: .100 Desa siaga bencana terbentuk di 33 provinsi 110 miliar 5.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan 5 miliar 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan 5.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan Terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan 74 miliar L-30 Lampiran .4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 1.Kementerian Pertanian .

BNPB 5.TNI .000 miliar 6.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Pertanian 5.Polri . anak dan kelompok marjinal dalam menghadapi bencana di wilayah berisiko tinggi 150 miliar PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 6.BNPB .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .BNPB 2.BNPB Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur Dua SRC PB Nasional di Jakarta dan Malang mengadakan latihan rutin dan ditingkatkan kapasitasnya dalam merespons bencana Implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response) 12 Satuan Reaksi Cepat (SRC PB) Instansi utama: .KPDT .Kementerian PU .Kementerian Sosial .7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perumahan Rakyat .2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggapa darurat 6. anak dan kelompokkelompok marjinal 6.Kementerian Sosial Instansi utama: .Kementerian Keuangan .500 miliar 5.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) Asuransi bencana di tingkat pusat dan daerah untuk perumahan Instansi utama: .Bappenas Instansi utama: .3 Pembentukan Satuan-satuan 50 miliar 120 miliar Lampiran L-31 ..Kementerian Pemberdayaan Perempuan Instansi terkait: . Meningkatnya kapasitas kaum perempuan.

BNPB .7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan Bandara dan pelabuhan di 12 provinsi yang paling rawan 1.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar Tersedianya stok logistik kebutuhan dasar 6.Kementerian Sosial Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .Basarnas .BNPB .Bulog Instansi utama: .TNI .Kementerian Sosial .5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan Tersedianya kebutuhan dasar kesehatan untuk menghadapi kedaruratan 50 miliar 6.BNPB .200 miliar L-32 Lampiran .Kementerian Kesehatan Instansi terkait: .Kementerian PU 300 miliar 6.Polri .Kementerian PU .Polri .Kementerian Perhubungan Instansi terkait: .BNPB .PMI Instansi utama: .Kementerian Sosial .PMI Instansi utama: .6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara Tersedianya kebutuhan hunian darurat dan sementara 150 miliar 6.Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional terbentuk di 12 kantor regional Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .TNI .

Kementerian Sosial .8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi realtime untuk emerjensi.BNPB Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 100 miliar 41. pengembangan TI Sistem informasi bencana real-time terbentuk di pusat dan di 33 provinsi Instansi utama: .Kementerian Komunikasi dan Informasi .011.26 miliar Lampiran L-33 .6.

Sasaran.BNPB .BPPT .LIPI . Penelitian dan Pengembangan .BMKG 2. Fokus Prioritas. Pemetaan kawasan rawan bencana.LIPI Instansi Terkait : .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gempabumi.100 penelitian dan pengembangan mengenai 150 miliar L-34 Lampiran . dan pemantauan gempabumi .150 miliar 3.BPPT . pelatihan dan gladi mekanisme pengurangan risiko bencana 1.Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian ESDM . 1.BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Terpasangnya 400 strong motion accelograph yang tersebar di seluruh Indonesia Instansi Utama : . Sandingan Program.BMKG .Bakosurtanal .Lampiran 4.LIPI Instansi Terkait : . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Kesehatan . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Bakosurtanal .23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .Kementerian ESDM .LAPAN Instansi Utama : .BMKG .BPS .Penyuluhan. KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 400 miliar NO.Peta risiko bencana gempabumi skala 1 : 50. pemetaan risiko bencana.000 .

Kementerian ESDM .Kementerian Sosial 11.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .TNI/POLRI Instansi Utama : .pengurangan risiko bencana gempabumi per tahun .Kementerian ESDM .LAPAN . Peningkatan Penyuluhan.BMKG .BPPT .BMKG .Kementerian Dalam Negeri LIPI .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .23 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gempabumi 2.Kementerian Sosial .Bakosurtanal .50 gladi kesiapsiagaan terhadap gempabumi pada wilayah berisiko tinggi terhadap 85 miliar Lampiran L-35 .Pembentukan national board of earthquake disaster prevention .LAPAN .Kementerian Sosial .200 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN Penyusunan rencana kontijensi .KRT .5 miliar 2.LIPI . 1.

Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Polri .Kementerian Dalam Negeri .gempabumi . Pencarian. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Perhubungan .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU Instansi Utama : . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.LAPAN .POLRI SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan . Kaji cepat bencana 2.Kementerian Sosial . sandang. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri .Kementerian Kesehatan .BPPT . penyelamatan dan evakuasi 3.Basarnas Instansi Terkait : .TNI .5 miliar 3.Bakosurtanal . hunian sementara.Kementerian Dalam Negeri .TNI . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar L-36 Lampiran .Kementerian PU Instansi Utama : . layanan kesehatan.Basarnas 10 miliar 12.Kementerian Kesehatan .TNI .

Bappenas.Kementerian Keuangan .Kementerian PU . .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 8.Kementerian PU 50 miliar 4.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .000 miliar (estimasi) 2.Kementerian Kesehatan .BMKG Selesainya rehabilitasi dan rekonstruksi gempabumi Jawa Barat dan Sumatra Barat .BNPB.Kementerian ESDM 5. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . Bappenas.BNPB .Bappenas .Kementerian Kesehatan . Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar Lampiran L-37 ..Kementerian PU .

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan 3. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian PU - BNPB - Kementerian Perumahan Rakyat - Kementerian Kesehatan - Kementerian Pendidikan Nasional - Kementerian Budpar - Kementerian Agama - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU 10 miliar

4. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana

2.500 miliar

5. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan, pembangunan sistem dan

20 miliar

50 miliar

L-38

Lampiran

infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BMKG TOTAL 12.489 miliar

Lampiran

L-39

Lampiran 5.
Sandingan Program, Fokus Prioritas, Sasaran, Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Tsunami.
KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 310 miliar

NO. 1.

FOKUS PRIORITAS

SASARAN

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pemetaan kawasan rawan bencana, pemetaan risiko bencana dan pemantauan tsunami

- Peta risiko
bencana tsunami skala 1 : 50.000 - Terpasangnya 25 buoy tsunami yang tersebar di seluruh Indonesia

Instansi Utama : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Terkait : - LIPI - Bakosurtanal - BPPT - Kementerian PU - BNPB Instansi Utama : Non struktural : - Kementerian ESDM Struktural : - Kementerian PU Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian Kelautan dan Perikanan - LIPI - BPPT - KRT - BNPB - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan

2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural

- 25 provinsi yang
mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami

625 miliar

L-40

Lampiran

3. Penelitian dan Pengembangan

- 100 penelitian
dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana tsunami per tahun

Instansi Utama : - KRT - LIPI - Kementerian Kelautan dan Perikanan - BMKG Instansi Terkait : - Kementerian ESDM - BPPT - Bakosurtanal - LAPAN - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : - BNPB Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Dalam Negeri - LIPI - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Bakosurtanal - LAPAN - BPPT - TNI - Polri Instansi Utama : - BNPB

50 miliar

2.

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi

- 25 rencana
kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami

50 miliar

2. Penyuluhan, pelatihan dan gladi mekanisme
Lampiran

- 100 penyuluhan
dan pelatihan pada wilayah

42.5 miliar

L-41

Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Sosial .25 gladi kesiapsiagaan terhadap tsunami pada wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami Instansi Terkait : .Basarnas 10 miliar 12.5 miliar 237.BMKG .Kementerian Kesehatan BNPB SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian ESDM .TNI .tanggap darurat berisiko tinggi terhadap tsunami . penyelamatan dan evakuasi L-42 Lampiran .LIPI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Membangun system peringatan dini bencana tsunami .Bakosurtanal . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.KNRT Instansi Terkait : .Polri Instansi Utama : .LAPAN .Polri .BMKG .LAPAN .BPPT .Kementerian ESDM .Bakosurtanal .5 miliar 3.TNI .Terbangunnya sistem peringatan dini 25 provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami 4. Pencarian. Kaji cepat bencana tsunami 2.Kementerian Dalam Negeri .BPPT .LIPI .Kementerian Sosial .

Kementerian Dalam Negeri . sanitasi : .Kementerian Perhubungan Instansi Utama : .Instansi Terkait : .PMI .Kementerian PU Instansi utama layanan kesehatan : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .TNI .Polri .Kementerian PU Instansi Terkait : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.TNI .Kementerian Kesehatan 3. layanan kesehatan. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar Lampiran L-43 . air bersih dan sanitasi Instansi Utama sandang pangan: . hunian sementara.Kementerian Sosial Instansi utama hunian. air bersih.TNI .Kementerian Sosial .Polri .Polri .Kementerian Komunikasi dan Informasi 20 miliar 4.Basarnas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : . sandang.

Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .BMKG 50 miliar BNPB .Kementerian Perumahan Rakyat 10 miliar 2.Kementerian Sosial . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. .BNPB .Bappenas .5. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 3.500 miliar L-44 Lampiran .BNPB .Bappenas . Pengkajian kerusakan dan kerugian . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.BNPB .Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .Bappenas.BNPB .

Kementerian Keuangan .BMKG 20 miliar 50 miliar TOTAL 4.Kementerian Sosial .008.4.Bappenas.5 miliar Lampiran L-45 .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas rehabilitas dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BNPB . . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .

Kementerian ESDM .LAPAN .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .BPPT .BMKG .Kementerian Sosial .Kementerian ESDM 2. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gunungapi.BNPB Instansi Utama : .40 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gunungapi per tahun 60 miliar L-46 Lampiran .KRT .LIPI .Kementerian Kesehatan . Fokus Prioritas.Kementerian PU .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .70 wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi 245 miliar 3. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Bakosurtanal . pemetaan risiko bencana. KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 56 miliar NO. Penelitian dan Pengembangan . 1. FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BPPT .Peta risiko bencana gunungapi skala 1 : 50.Lampiran 6.Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .000 .Terpasangnya instrument pemantau aktivitas gunungapi pada 70 gunungapi Instansi Utama : .BMKG . Sandingan Program. Pemetaan kawasan rawan bencana. Sasaran. dan pemantauan gunungapi .

Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .Kementerian ESDM Instansi Terkait : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Polri Instansi Utama : .Bakosurtanal . Penyusunan rencana kontijensi .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .TNI .Kementerian Kesehatan .BMKG .- BPPT Bakosurtanal LAPAN LIPI Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian ESDM .70 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gunungapi 35 miliar Lampiran L-47 .Kementerian Pendidikan Nasional 2.LAPAN 210 miliar 3. Pengamatan dan peringatan dini gunungapi Terbangunnya sIstem pengamatan guna menunjang sIstem peringatan dini di 70 gunungapi Instansi Utama : .

Kementerian Sosial .BMKG . hunian sementara. Kaji cepat bencana gunungapi 2.5 miliar 10 miliar 3.Kementerian Sosial .ESDM . Penyuluhan.Kementerian Dalam Negeri .LIPI . Pencarian.TNI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. penyelamatan dan evakuasi 7. air bersih dan sanitasi 20 miliar L-48 Lampiran .30 gladi kesiapsiagaan terhadap gunungapi pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi Instansi Utama : . sandang.30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi .Bakosurtanal .TNI .Polri SRC-PB Instansi Utama : .BNPB Instansi Terkait : .Polri .BPPT . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .5 miliar 4.LAPAN .Kementerian Dalam Negeri 37. layanan kesehatan. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Kesehatan ..Kementerian PU Instansi Utama : .Polri 2.BPPT .Kementerian Kesehatan .Basarnas Instansi Terkait : .

Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 50 miliar .Kementerian Dalam Negeri .BMKG 10 miliar 5. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian Kesehatan - Lampiran L-49 .Kementerian Perhubungan .BNPB .Kementerian Sosial .TNI .Kementerian PU 4.Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Keuangan . .Bappenas.Polri .Kementerian PU Instansi Terkait : . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Keuangan .Kementerian ESDM .Basarnas .

Bappenas .Kementerian Kesehatan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 4.Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .Kementerian Keuangan ..Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri 10 miliar 3. Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian ESDM .BNPB . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.BNPB .Kementerian Sosial . .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui L-50 100 miliar 20 miliar 50 miliar Lampiran .Kementerian Kesehatan . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Bappenas .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM 2.Bappenas.Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian PU .Kementerian Sosial .BNPB .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .pendidikanpelatihan.BMKG TOTAL 931 miliar Lampiran L-51 .Kementerian ESDM .Kementerian Keuangan .

Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gerakan Tanah.000 Instansi Utama : . NO.LIPI . Pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dan pemetaan risiko bencana gerakan tanah Peta risiko bencana gerakan tanah skala 1 : 50.BNPB .BMKG Instansi terkait : . Sandingan Program.Kementerian ESDM .Lampiran 7. Sasaran.LIPI Instansi Terkait : . Penelitian dan Pengembangan - 100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gerakan tanah per tahun 50 miliar L-52 Lampiran .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 180 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LAPAN Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 26 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah per tahun 260 miliar 3.Bakosurtanal .Kementerian PU 2.Kementerian PU .Kementerian ESDM .LIPI .BNPB .BPPT .Kementerian PU . Fokus Prioritas.BPPT .BMKG . 1.

LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BPPT . PROGRAM : PERINGATAN DINI KRT BPPT Bakosurtanal LAPAN Kementerian Sosial Kementerian Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Kementerian Perhubungan 200 miliar 1.BMKG .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Polri Instansi Utama : .Bakosurtanal .BNPB 3 PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi 26 rencana kontijensi pada tingkat provinsi 13 miliar Lampiran L-53 .2.Kementerian Sosial .BNPB .LAPAN .Kementerian Kesehatan .TNI .Kementerian PU . Pemantauan gerakan tanah pada jalur jalan atau wilayah vital dan strategis - Terbangunnya sistem peringatan dini 26 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Utama : .KRT .

LAPAN .BNPB Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Polri Instansi Utama : .Kementerian ESDM .TNI .Kementerian Sosial .LIPI .BMKG .Kementerian Dalam Negeri . Kaji cepat bencana gerakan tanah 10 miliar L-54 Lampiran .BPPT . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Dalam Negeri .berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan . Penyuluhan.LIPI .Polri SRC-PB 43.Kementerian PU . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat - - 100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 25 gladi kesiapsiagaan terhadap gerakan tanah pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 4.TNI .Kementerian Komunikasi dan Informasi .BPPT .LAPAN .6 miliar 2.Kementerian Perhubungan .Kementerian ESDM .BMKG .

Kementerian Dalam Negeri .TNI .Basarnas Instansi Terkait : . layanan kesehatan.Polri .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU . Pencarian. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. sandang.Kementerian Perhubungan .Bappenas 10 miliar 3.Kementerian Sosial . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.BNPB . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar 5. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui Lampiran 50 miliar L-55 .Basarnas . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan . hunian sementara.2.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Utama : .Polri .

Kementerian ESDM .Kementerian Kesehatan .BNPB .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .pendidikanpelatihan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai .Bappenas .Kementerian ESDM .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .BNPB .Kementerian PU .BMKG . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan 25 miliar 2.Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .BNPB .Kementerian Keuangan . Pengkajian kerusakan dan kerugian 10 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-56 Lampiran .

6 miliar Lampiran L-57 ..Kementerian Sosial .Bappenas. .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Sosial . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Kesehatan . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian ESDM .111.Kementerian ESDM 4.Kementerian PU .BMKG 150 miliar 20 miliar 50 miliar TOTAL 1. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .

500 miliar 3. Sasaran.BPPT Instansi Terkait : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana banjir per tahun 50 miliar L-58 Lampiran . 1. NO.LAPAN Instansi Utama : .BMKG . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Banjir.LIPI .000 Instansi Utama : . Sandingan Program.Kementerian Sosial .BPPT .LAPAN . Penelitian dan Pengembangan .Bakosurtanal .Kementerian PU .30 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap banjir 1.Kementerian PU .BNPB .Lampiran 8.BMKG .Peta risiko bencana banjir skala 1 : 50.Kementerian Kesehatan 2. Pengenalan dan penentuan risiko bencana banjir .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .LIPI . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 200 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Bakosurtanal Instansi Terkait: .Kementerian ESDM .BPPT .BMKG .Kementerian PU Instansi Terkait : . Fokus Prioritas.

BMKG . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Sosial . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Dalam Negeri ..BNPB .KRT .LIPI .BMKG . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian ESDM .Terbangunnya sistem peringatan dini 30 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : . Pembangunan Sistem Peringatan Dini banjir .LAPAN .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan 90 miliar 2.TNI .Kementerian PU Instansi terkait: .BNPB Instansi Terkait : .LIPI .Kementerian Sosial .Kementerian Pendidikan Nasional 2.30 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap banjir 15 miliar Lampiran L-59 .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BPPT .Polri Instansi Utama : .Bakosurtanal .

Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . sandang.BPPT . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Basarnas Instansi Terkait : .Polri 2. penyelamatan dan evakuasi 7.Kementerian Kesehatan . Penyuluhan. L-60 20 miliar Lampiran . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . Kaji cepat bencana banjir 2.Kementerian Sosial .TNI .5 miliar 3..LIPI .5 miliar 10 miliar 3.Bakosurtanal .LAPAN .TNI .100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir .25 gladi kesiapsiagaan terhadap banjir pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial 42.BMKG . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Polri .Kementerian Sosial .TNI .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Polri SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian ESDM .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian PU . Pencarian.

air bersih dan sanitasi Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .Bappenas. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Kementerian Perhubungan .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .hunian sementara.Kementerian Sosial . layanan kesehatan.Bakosurtanal 10 miliar 4.Polri .BMKG . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 5.Kementerian Kesehatan .BNPB . . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Bappenas . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pengkajian kerusakan dan kerugian 50 miliar .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU 10 miliar Lampiran L-61 .Basarnas .

Kementerian PU .Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan ..Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 10 miliar 50 miliar TOTAL 2.BNPB .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal 10 miliar 3.Kementerian Keuangan . .Bappenas .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan 2. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian Perumahan Rakyat . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 75 miliar 4.150 miliar L-62 Lampiran .BMKG .Bappenas.

Sasaran.BNPB .LAPAN Instansi terkait : .Bakosurtanal .5 miliar 1. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BPPT .Kementerian ESDM .BMKG . Sandingan Program.Peta risiko bencana kekeringan Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Sosial . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana kekeringan .BPPT .Kementerian PU .24 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 240 miliar Lampiran L-63 .LIPI .Kementerian ESDM .BNPB 2.Lampiran 9.Kementerian Pertanian .BMKG .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .Kementerian Pertanian . Fokus Prioritas. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kekeringan.Kementerian Kehutanan . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. NO.Kementerian PU .LIPI .

Kementerian Kesehatan 3.Kementerian Kehutanan .LIPI .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 7.LIPI .Kementerian Sosial .Kementerian ESDM . Informasi dan .Kementerian Sosial .Depdiknas Instansi Utama : .5 miliar penyuluhan L-64 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BMKG .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Pertanian .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal 25 miliar 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.BPPT .Kementerian ESDM .LAPAN .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana kekeringan per tahun Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan ..LAPAN .BNPB .KRT .Kementerian Pertanian .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .

24 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap kekeringan Instansi Utama : .LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : . Penyusunan rencana penanggulangan kedaruratan LAPAN BPPT TNI Polri 7.Kementerian PU 4. sandang. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 15 miliar Lampiran L-65 . hunian sementara.TNI . layanan kesehatan.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Bakosurtanal .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Kementerian ESDM .BMKG .Kementerian Kesehatan . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Kesehatan . air bersih dan sanitasi 20 miliar 2.LAPAN .2 miliar .BNPB .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan .3.BPPT .Polri Instansi Utama : .

Kementerian Keuangan .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan 3.Kementerian Sosial .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Bappenas.Kementerian Kesehatan .Kementerian Kehutanan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Bappenas .Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian Pertanian . Pengkajian kerusakan dan kerugian .. .BNPB .Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian Keuangan 30 miliar 10 miliar 2. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-66 Lampiran .

BNPB .BMKG .Kementerian Kehutanan .Kementerian Keuangan .Kementerian LH .Kementerian Pertanian TOTAL 250 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . .BNPB .Kementerian Kehutanan ..Kementerian Pertanian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 650.Kementerian PU . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Bappenas. Pemulihan saranaprasarana publik .Kementerian Pertanian .2 miliar Lampiran L-67 .Kementerian LH 3.

FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 50 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LAPAN 2. Sandingan Program.Patroli dan pengawasan melaui udara dan darat Instansi Utama : .Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri . NO. Pemetaan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan .Kementerian PU .SPBK (sistem peringkat bahaya kebakaran) skala 1 : 50.BMKG . Fokus Prioritas.Kementerian Pertanian . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .TNI .Polri Instansi Terkait : . 1.Bakosurtanal . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan.BNPB .Fasilitasi penyiapan lahan tanpa bakar untuk petani tradisional 100 miliar L-68 Lampiran .Peningkatan pengawasan pengelolaan lahan gambut untuk tidak dibakar .000 .LAPAN Instansi Utama : .BNPB .10 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan per tahun .LIPI .Lampiran 10.BPPT .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . Sasaran.BMKG .Kementerian LH .

BNPB 26 miliar 4. Pembangunan Sistem Peringatan Dini kebakaran hutan dan lahan .LAPAN .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.LAPAN .LIPI Instansi utama: .BPPT .3.LAPAN .TNI .Kementerian Pertanian .BPPT .Bakosurtanal .LIPI . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .Sinkronisasi upaya pencegahan dan mitigasi ancaman asap lintas bantas negara ASEAN 50 miliar 2.50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran hutan dan lahan per tahun . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.BNPB .Kementerian Pertanian .10 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi 5 miliar Lampiran L-69 . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan . Implementasi AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Polution) .BNPB Instansi Utama : .BMKG .Pemanfaatan material yang sering dibakar Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Polri Instansi Utama : .Terbangunnya sistem peringatan dini 10 provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 30 miliar 3.Kementerian LH .

BMKG .BNPB .5 miliar 2. Operasi Pemadaman .Kementerian Kehutanan .dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan Instansi Terkait : .10 gladi kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 4.50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan . udara. dan air .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .BPPT .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Polri Instansi Utama : . Peningkatan Penyuluhan. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Sosial .Polri Instansi Utama : .BNPB .Pembuatan 25 miliar L-70 Lampiran .BPPT .TNI .Kementerian Sosial .Bakosurtanal .BMKG .Kementerian Kesehatan .LAPAN . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Perhubungan .LAPAN .Kementerian Pertanian .Mobilisasi sumberdaya melalui darat.TNI .Kementerian LH 18.Kementerian Pertanian .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Kehutanan 10 miliar 2. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. hunian sementara. penyelamatan dan evakuasi .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . air bersih dan sanitasi .Kementerian PU Instansi Utama : .Dephub .Polri . hewan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan . Pencarian.Polri . dan aset-aset yang bernilai strategis 3.TNI .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .BPPT Instansi Utama : . Patroli.Kementerian PU . sandang.Evakuasi manusia.Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .Basarnas .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Pengumpulan dan pendistrbusian bantuan 10 miliar Lampiran L-71 .modifikasi cuaca (hujan buatan) Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan . layanan kesehatan.TNI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .

Kementerian Sosial .4.Kementerian Kehutanan .Kementerian Kehutanan .BNPB .BNPB . Inventarisasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar 2.Bappenas.Kementerian PU . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Bappenas .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri . .Kementerian Pertanian .Kementerian LH 40 miliar 5.Kementerian Pertanian . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-72 Lampiran .Bappenas .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan .BMKG .BNPB . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .

Pemulihan saranaprasarana publik dan reboisasi .Kementerian LH .Kementerian Pertanian .Bappenas. .5 miliar Lampiran L-73 .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 40 miliar 474.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .BMKG .BNPB .Kementerian Kehutanan .3.BNPB .Kementerian Kehutanan TOTAL 50 miliar 4.Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .

Bakosurtanal . SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 40 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Bakosurtanal . NO.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan 2.Kementerian LH Instansi Utama : . Pengenalan dan pemantauan risiko erosi Peta risiko bencana erosi Instansi Utama : . Sasaran.LIPI .Kementerian Kehutanan . Sandingan Program.Kementerian LH Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Erosi. FOKUS PRIORITAS 1.Kementerian Kehutanan .Lampiran 11. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap erosi per tahun 230 miliar 3.Kementerian PU Instansi Terkait : .LAPAN .Kementerian Pertanian .BPPT .Kementerian Pertanian . Fokus Prioritas.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian . Penelitian dan Pengembangan - 15 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko erosi per tahun 15 miliar L-74 Lampiran .

.Kementerian Perhubungan .Kementerian ESDM 2.Kementerian Kesehatan . Penyuluhan. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Polri .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan .Kementerian LH .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . Pencarian. penyelamatan dan evakuasi 1. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap erosi Instansi Utama : .Kementerian Pertanian .Kementerian PU 3 miliar 3. air bersih dan sanitasi 2 miliar Lampiran L-75 .Kementerian Sosial .Kementerian PU Instansi Utama : . sandang. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.TNI .Kementerian LH Instansi Utama : . hunian sementara. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BNPB Instansi Terkait : .5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri . layanan kesehatan.

Bappenas .5 miliar L-76 Lampiran .BNPB . .Kementerian LH .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Keuangan .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian PU . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.Kementerian Pertanian .Kementerian LH 30 miliar 4. Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.Kementerian Keuangan .BMKG .BNPB .5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri .3.Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Pertanian . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Kehutanan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kehutanan .Kementerian Kehutanan .Bappenas.Kementerian PU .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .

Kementerian Kehutanan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 380.Kementerian Pertanian .Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 25 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri .3.Kementerian PU . .Bappenas.Kementerian PU .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian Pertanian .BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik - .Kementerian Kehutanan .5 miliar Lampiran L-77 . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian LH .

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.25 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman per tahun 125 miliar 3.Peta risiko bencana kebakaran gedung dan permukiman Instansi Utama : .BPPT .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Gedung dan Permukiman.Kementerian PU .Bakosurtanal .BNPB 2. Pengenalan risiko kebakaran gedung dan permukiman .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran gedung dan permukiman per tahun 12.5 miliar 2. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 20 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LIPI .Kementerian PU Instansi Terkait : . Sandingan Program. Fokus Prioritas.Kementerian LH Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan . Sasaran.10 rencana kontijensi pada 5 miliar L-78 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . 1.Kementerian PU . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . NO.Kementerian Perumahan Rakyat .Lampiran 12.

Kementerian Sosial .Basarnas .Kementerian Perhubungan .TNI .Basarnas 10 miliar 2.TNI . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Dalam Negeri .Polri .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan . Operasi Pemadaman Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .tingkat provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .Basarnas 10 miliar Lampiran L-79 .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman .Polri .Kementerian Kesehatan . Penyuluhan.Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi kebakaran gedung dan permukiman 3.

.Dephub .Dephub .Kementerian Kesehatan . layanan kesehatan.Kementerian Dalam Negeri .TNI/POLRI . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 30 miliar 1. Pengkajian kerusakan dan kerugian - .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .BNPB .Kementerian PU .Bappenas.BMKG 5 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara.Bappenas . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU 2. Pencarian.Kementerian Keuangan . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Keuangan .5 miliar L-80 Lampiran . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian PU . sandang.2. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4. air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .

.Kementerian Perumahan Rakyat 2. .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .5 miliar 3.BMKG 2.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Bappenas . . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar TOTAL 312. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 4.Kementerian Keuangan .Kementerian Perumahan Rakyat .BNPB .Kementerian PU .5 miliar Lampiran L-81 .Kementerian PU .BNPB.Kementerian Perumahan Rakyat .

5 miliar L-82 Lampiran .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko gelombang 12. Pengenalan dan pemantauan risiko gelombang ekstrim dan abrasi .BMKG Instansi Utama : .Kementerian PU . NO.Peta resiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Instansi Utama : .LAPAN . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM: PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Bakosurtanal . Sandingan Program.BPPT .BMKG . 1.BPPT .BPPT 2. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Gelombang Ekstrim dan Abrasi.Bakosurtanal .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH .Kementerian LH Instansi Utama : .LAPAN Instansi Terkait : . Sasaran.LAPAN Instansi Terkait : . Fokus Prioritas.Kementerian PU . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .12 propinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim 90 miliar 3.LIPI .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Lampiran 13.BMKG .LIPI . Penelitian dan Pengembangan .

LAPAN Instansi Terkait : .BPPT .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Utama : . Pemantauan dan penyuluhan .Kementerian LH .Bakosurtanal .BMKG Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Pencarian. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1..Kementerian PU .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gelombang ekstrem dan abrasi 3 miliar 4.Kementerian LH .Bakosurtanal . penyelamatan dan evakuasi 10 miliar Lampiran L-83 .BNPB .LIPI .BMKG .BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan . Penyuluhan dan pelatihan .ekstrem dan abrasi per tahun .12 provinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim Instansi Utama : .LIPI .Kementerian LH .Basarnas 12 miliar 3.Kementerian Kelautan dan Perikanan 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian PU .BMKG .

Polri Instansi Terkait : .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.BMKG . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan . sandang.Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 5. air bersih dan sanitasi Instansi Utama : .TNI ..Kementerian Dalam Negeri .5 miliar L-84 Lampiran . .Kementerian Keuangan 20 miliar 3.Kementerian Kesehatan . layanan kesehatan.Kementerian Sosial . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BNPB .Bappenas. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU 2.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara.BNPB .

Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 2.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH 2. .Kementerian LH ..Kementerian PU .BMKG .Bappenas .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan sarana-prasarana publik dan reboisasi 25 miliar 4. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 241.5 miliar 3.Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian LH .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.Kementerian Keuangan .Kementerian PU .5 miliar Lampiran L-85 .BNPB .

LIPI .LIPI .BPPT .Peta risiko bencana cuaca ekstrim Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .LAPAN Instansi Terkait : . Pengenalan dan pemantauan risiko cuaca ekstrim .BMKG .Kementerian PU .14 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim per tahun 35 miliar 3. NO. Fokus Prioritas.Kementerian LH Instansi Utama : . Sandingan Program.Kementerian LH Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian PU . Sasaran.Kementerian LH 2.BMKG .BNPB .Lampiran 14. 1. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BMKG Instansi Terkait : .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko cuaca ekstrim per tahun 10 miliar L-86 Lampiran .Kementerian PU .BPPT . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Cuaca Ekstrim.Bakosurtanal .

air bersih dan sanitasi Lampiran 10 miliar L-87 .BNPB .Pemantauan dan penyuluhan di 14 propinsi Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.LAPAN Instansi Terkait : .BNPB . Pemantauan dan Penyuluhan . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . layanan kesehatan.20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim 3 miliar 4. penyelamatan dan evakuasi 10 miliar 2.DKP . Penyuluhan.Kementerian Kesehatan . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.TNI .Kementerian PU .Kementerian PU 35 miliar 2.Basarnas .Kementerian LH Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Sosial .Polri Instansi Terkait : . Pencarian.Kementerian Sosial .BMKG . hunian sementara.Kementerian PU . sandang.BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .LAPAN Instansi Terkait : .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .BMKG .BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.Kementerian Perhubungan 3.Bappenas .BMKG .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran 5.Kementerian LH 1.Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik 25 miliar L-88 Lampiran .Kementerian Keuangan .BNPB .5 miliar .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .5 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH .Kementerian Keuangan .Kementerian LH .LAPAN . Pengkajian kerusakan dan kerugian .BPPT 30 miliar 2.Instansi Terkait : .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.

Bappenas.BMKG .BNPB . . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .BPPT TOTAL 30 miliar 197 miliar Lampiran L-89 .4. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .LAPAN .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .

Bapeten .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .BPPT .Kementerian Perindustrian .Kementerian Perindustrian .Kementerian PU . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .LIPI . Fokus Prioritas.Wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi per tahun 7.LIPI .5 miliar L-90 Lampiran .Kementerian LH .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Bapeten .Kementerian PU . NO. Sandingan Program. Pengenalan dan pemantauan risiko kegagalan teknologi Peta risiko bencana kegagalan teknologi Instansi Utama : .BPPT .Lampiran 15. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kegagalan Teknologi. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 10 miliar 1. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sasaran.BATAN .Kementerian Dalam Negeri .BATAN 2.

Kementerian Perhubungan .TNI .Kementerian Perindustrian .Kementerian Perindustrian 5 miliar 2.Kementerian LH . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian PU .3.BNPB Instansi Terkait : . Operasi Penanganan 10 miliar Lampiran L-91 .Polri .Basarnas . Penelitian dan Pengembangan .LIPI .Bapeten .5 miliar 3.TNI .Kementerian Perhubungan .BPPT .BPPT Instansi Terkait : .10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kegagalan teknologi per tahun Instansi Utama : .Kementerian PU . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BATAN .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . Penyuluhan.BATAN Instansi Utama : .Polri .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi 1.Kementerian Perindustrian .Bapeten Instansi Utama : .Kementerian Sosial .

Kementerian Sosial . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. hunian sementara.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU .Basarnas .Kementerian PU .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian PU .BATAN .Bapeten 2. air bersih dan sanitasi 10 miliar 4. Pencarian. .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Polri . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri ..BNPB .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai L-92 30 miliar Lampiran . layanan kesehatan.LAPAN 5 miliar 3.Bappenas.Kementerian Perindustrian .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Basarnas Instansi Terkait : . sandang.

BATAN .Bappenas .Kementerian Keuangan .BNPB .Kementerian Perhubungan .Kementerian Perindustrian ..Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.5 miliar 2.BPPT . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Perhubungan TOTAL 2.BNPB .5 miliar Lampiran L-93 . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BPPT . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 161.Kementerian Keuangan .LAPAN .Kementerian PU . .LIPI .Kementerian Sosial .Kementerian PU .BNPB .Bappenas.LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Bapeten 4.Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian .

LIPI . Sasaran.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .5 miliar L-94 Lampiran .BNPB ANGGARAN INDIKATIF 8 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 50 miliar 3. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Epidemi dan Wabah Penyakit.5 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap epidemi 2.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : . NO.Kementerian Dalam Negeri . Penelitian dan Pengembangan . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Peta risiko bencana epidemi dan wabah penyakit 2.Bakosurtanal . 1.Kementerian PU Instansi Utama : . Sandingan Program.Kementerian Kesehatan . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Lampiran 16. Fokus Prioritas.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .LAPAN . Penyusunan rencana kontijensi .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit per tahun 30 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU .

Kementerian PU 10 miliar 2. sandang.Kementerian Kesehatan 10 miliar 2. hunian sementara.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI . air bersih dan sanitasi 20 miliar Lampiran L-95 .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Sosial .dan wabah penyakit Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . Pencarian.Kementerian PU Instansi Utama : .Polri .Kementerian Sosial Instansi Utama : . Penyuluhan.Basarnas Instansi Terkait : .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 3. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan . layanan kesehatan. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .

BPPT . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.LAPAN .BNPB .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 2.Kementerian Perhubungan .5 miliar L-96 Lampiran .Kementerian Perindustrian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Kesehatan . .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 20 miliar 30 miliar 210.LIPI . .Bakosurtanal TOTAL 30 miliar 4.Kementerian Keuangan .Bakosurtanal .Kementerian Keuangan .3.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Sosial . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.LAPAN .LIPI .Bappenas. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .Bappenas.Kementerian Perindustrian .Kementerian Perhubungan .BPPT .Kementerian Kesehatan .

Sandingan Program.BNPB 2.10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko konflik sosial per tahun 5 miliar 2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI .TNI . Pengenalan dan pemantauan risiko konflik sosial . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Polri .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .LIPI . NO.5 miliar Lampiran L-97 . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar 1.Lampiran 17. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Konflik Sosial.5 miliar 3. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Fokus Prioritas.Kementerian Komunikasi dan Informasi .Wilayah berisiko tinggi terhadap konflik sosial per tahun 7. Sasaran. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Peta risiko bencana konflik sosial Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . Penyuluhan.10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Polri . Penelitian dan Pengembangan .

Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri .Polri .Kementerian Perindustrian .Kementerian Sosial .Basarnas Instansi Terkait : . hunian sementara. Operasi Penanganan 2.Kementerian Sosial . penyelamatan dan evakuasi 5 miliar 3. layanan 10 miliar L-98 Lampiran .Polri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan . Pencarian.LIPI Instansi Utama : .terhadap konflik sosial Instansi Terkait : .TNI .Kementerian PU .TNI/POLRI .TNI .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan 10 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Utama : . sandang.Kementerian Perhubungan .Basarnas Instansi Utama : .

PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Bappenas .Kementerian Keuangan .BNPB .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Bappenas.Kementerian Sosial .kesehatan.Polri .Kementerian Kesehatan .Bappenas. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui 30 miliar Lampiran L-99 .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .TNI . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.LIPI .Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .5 miliar 2. Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.Kementerian PU . air bersih dan sanitasi .BNPB . .Kementerian Sosial 2. .Kementerian Dalam Negeri 30 miliar 4.BNPB .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Dalam Negeri .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Polri .Kementerian Keuangan .TNI .pendidikanpelatihan.5 miliar L-100 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 156.LIPI .

Daftar singkatan Bakosurtanal Bapeten Basarnas BATAN BMKG BNPB BPBD BPN BPPT BPS BSN DBD DiBI ESDM K/L KLB KPB KRB LAPAN LIPI LSM PDB PDRB Perka Permendagri Planas PRB PMI PRB Protap PU PVMBG Lampiran Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Badan SAR Nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional Badan Meteorologi. Klimatologi dan Geofisika Badan Nasional Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Badan Pertanahan Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Pusat Statistik Badan Standarisasi Nasional Demam Berdarah Dengue Data dan Informasi Bencana Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian/Lembaga Kejadian Luar Biasa Konsorsium Pendidikan Bencana Kawasan Rawan Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Peraturan Kepala Peraturan Menteri Dalam Negeri Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana Palang Merah Indonesia Pengurangan Risiko Bencana Prosedur Tetap Pekerjaan Umum Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi L-101 .Lampiran 18.

L-102 Lampiran .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful