.

………. 7.1 Visi dan Misi ………………………………………………………………………. Pemantauan.3 Kebijakan dan Strategi ………………………………………………………. 102 VII.1 Ancaman (Hazard)……………………………………………………………………. 1. Anggaran dan Pendanaan ……………………………………………………….. Daftar Gambar ……………………………………………………………………………. V.……… 4. Permasalahan. 1. 79 79 79 85 91 VI.2 Penataan Kelembagaan ……………………………………………………. Kebijakan Penanggulangan Bencana ………………………………………..……… 2.5 Kaidah Pelaksanaan ………………………………………………………………… II.…….DAFTAR ISI Sambutan ……………………………………………………………………………………………… Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………….2 Pelaporan .………. Gambaran Umum Kebencanaan ……………………………………………………….1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1. Lampiran 105 105 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 7.…….. Evaluasi dan Pelaporan …………………………………………….2 Tantangan dan Peluang …………………………………………………….. 73 3. Daftar Tabel ………………………………………………………………………………………….2 Pendanaan ………………………………………………………………………………..2 Kerentanan dan Kapasitas ……………………………………………….1 Pemantauan dan Evaluasi ………………………………………………………. 99 6.1 Anggaran ………………………………………………………………………………….2014 ii . 2. Pendahuluan ……………………………………………………………………………………… 1.4 Proses Penyusunan ………………………………………………………………….…… 4.………………………………………………………………………………. I.3 Risiko Bencana ………………………………………………………………………… i ii iii iv 1 2 3 3 5 6 9 9 26 31 III. 2.…….2 Tujuan …………………………………………………………………………………….. 73 3.3 Kedudukan Dokumen dan Landasan Hukum …………………………… 1. 75 IV. Tantangan dan Peluang …………………………………………..…….. Program ……………………………………………………………………………………..1 Isu dan Permasalahan ………………………………………………………. 4. 99 6.…….

.

.. Tabel 2. 2008). 2007) ……………………………………………………………….2. Tabel 6. 46 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan ……………………………... Tabel 2. Tabel 2..3.. 101 Format pemantauan dan evaluasi …………………………………….. Tabel 2.... Tabel 2.1....... Tabel 5.. 28 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 31 Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami ... Tabel 2.12.13... Tabel 6.9.1.1.10. Tabel 2.. 40 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah ……………………….7..... 15 Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) ………………………………………………… 18 Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 ……... Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 61 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman …………………………………………………………………….5.. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG..11.. 42 Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir ……………………………………. 55 Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi ……………………………………….2014 iii .2... 27 Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 19902007 (BPS. …………………………………………………… 10 Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.6.. Tabel 7.8. Tabel 2. 107 Tabel 2.15.1. Tabel 2..DAFTAR TABEL Tabel 2... BNPB) …………………. Tabel 2.. 36 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi ……………………………. 51 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan …... 25 Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau ……………………………………………………………. Tabel 2. Tabel 2....4.16. 65 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 69 Program dan fokus prioritas dalam Renas PB …………………… 93 Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB 99 Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB …………………………………………………………………………. Tabel 2.14. Tabel 2..

.

.. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI. PU) ……………………………………………………………………………… Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) …………… Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) ... Zona kerentanan gerakan tanah di Indonesia (ESDM)… Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG.............. Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI. 2008) …………………………………………………………………………… Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia dalam periode 1801-2006 (Puspito. Gambar 5. Gambar 2. Gambar 2...... Gambar 2............ BNPB) ………………………………………………… Posisi munculnya siklon tropis di Indonesia (BMKG) .1......12...4.3....... Gambar 2........2...... Gambar 2.........11. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. Zona Bahaya Erosi di Indonesia ……………………………………. Gambar 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .. Gambar 2. Gambar 2...9.. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.1. 2007) .. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis …………………… Sistem Penanggulangan Bencana Indonesia ………………… Pilihan tindakan dalam manajemen risiko bencana ……… 9 11 13 14 16 17 19 20 21 22 22 23 91 93 Gambar 2.8......... Gambar 5....7.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.... Gambar 2... 2007)………….10..6..... BNPB) ……………..2. Gambar 2......2014 iv .5.....Bakosurtanal..

.

.

.

708 korban jiwa dan nilai kerusakan yang ditimbulkannya mencapai lebih dari Rp 48 triliun.BAB I PENDAHULUAN 1. sebuah gempabumi besar terjadi di dalam laut sebelah barat Pulau Sumatra di dekat Pulau Simeuleu. Pada tanggal 26 Desember 2004. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Karena sinar matahari yang memasuki atmosfir berkurang banyak. Bencana yang paling mematikan pada awal abad XXI juga bermula dari Indonesia. Indonesia juga tidak lepas dari bencana besar yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit. meletus dan mengeluarkan sekitar 1. Sebagian dari material vulkanik ini membentuk lapisan di atmosfir yang memantulkan balik sinar matahari ke atmosfir.2014 1 . Banjir yang hampir setiap tahun menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya.1 LATAR BELAKANG Indonesia adalah sebuah negeri yang rawan bencana. Erupsi Krakatau diperkirakan memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tempat terjadinya dua letusan gunungapi terbesar di dunia.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dalam Perang Dunia II. Di Indonesia sendiri gempabumi dan tsunami mengakibatkan sekitar 165. bumi tidak menerima cukup panas dan terjadi gelombang hawa dingin.000 jiwa di sebelas negara dan menimbulkan kehancuran hebat di banyak kawasan pesisir di negara-negara yang terkena. Tahun 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa. Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883.7 juta ton abu dan material vulkanik. Gempabumi ini memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 225. Dalam abad yang sama. kira-kira 13. Sepanjang abad XX hanya sedikit bencana yang menimbulkan korban jiwa masif seperti itu. Selain bencana-bencana berskala besar yang pernah tercatat dalam sejarah. Gelombang hawa dingin membuat tahun 1816 menjadi “tahun yang tidak memiliki musim panas” dan menyebabkan gagal panen di banyak tempat serta kelaparan yang meluas. Nusa Tenggara Barat.

Program-program kegiatan dalam Renas PB disusun berdasarkan visi misi penanggulangan bencana dan rencana tindakan yang harus diambil sesuai dengan manajemen risiko.2014 . Renas PB layaknya proposal dari pemerintah memuat upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang efektif. Dalam pelaksanaannya perlu dipadukan dalam 2 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Rencana Nasional Penanggulangan Bencana yang selanjutnya disebut Renas PB. analisis risiko bencana sampai dengan program kegiatan dan fokus prioritas yang akan diambil termasuk keterlibatan Kementerian/Lembaga dan besarnya anggaran yang dibutuhkan. Untuk menghadapi peningkatan potensi dan kompleksitas bencana di masa depan dengan lebih baik. Demikian pula kekeringan yang semakin sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Rencana ini menjadi salah satu bagian kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang merupakan prioritas 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II yang disebut sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana. penanganan kondisi tanggap darurat yang efisien dan upaya pemulihan yang tepat sasaran. selain mengancam produksi tanaman pangan juga kian mempermiskin penduduk yang mata pencahariannya tergantung pada pertanian. terkoordinasi dan menyeluruh. Rencana ini menggambarkan kondisi yang diinginkan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam 5 (lima) tahun mendatang mengenai penanggulangan bencana. dimulai dari identifikasi ancaman bencana. merupakan wujud dari upaya pemerintah terkait untuk merumuskan program-program kegiatan dan fokus prioritas penanggulangan bencana. perkebunan dan peternakan. Renas PB adalah sebuah dokumen resmi yang memuat data dan informasi tentang risiko bencana yang ada di Indonesia dalam kurun waktu antara 2010-1014 dan rencana pemerintah untuk mengurangi risiko-risiko tersebut melalui program-program kegiatan. Penyusunan Renas PB merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.kota-kota di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo dan beberapa daerah lain di Indonesia menimbulkan kerugian material dan non-material senilai triliunan rupiah. Indonesia memerlukan suatu rencana yang sifatnya terpadu.

maka Renas PB diintegrasikan ke dalam RPJMN 2010-2014.2 TUJUAN Tujuan penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20101014 adalah: 30 Mengidentifikasikan daerah berisiko tinggi dari berbagai bencana yang ada di Indonesia dan menyusun pilihan tindakan yang perlu mendapat perhatian utama. 1. Dengan mengacu RPJMN. terkoordinasi dan menyeluruh. pemerintah setiap tahun akan menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai penjabaran dan operasionalisasi RPJMN yang memuat kerangka regulasi.2014 3 . Untuk memastikan terlaksananya perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana. Dengan demikian. fokus prioritas dan anggaran indikatif yang diperlukan. 1. 40 Memberikan acuan kepada kementerian dan lembaga pemerintah. perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas utama dalam RPJMN dan terpadukan ke dalam program-program pembangunan dalam dokumen tersebut. Kementerian/Lembaga pemerintah pusat akan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . berikut program kegiatan. dokumen Renas PB selanjutnya menjadi arah dalam melakukan pengarusutamaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan bencana. Secara khusus. terpadu. dan seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana di Indonesia agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana secara terencana.perencanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007.3 KEDUDUKAN DOKUMEN DAN LANDASAN HUKUM Renas PB merupakan rencana pemerintah lintas sektor yang berlaku selama lima tahun. kerangka anggaran dan rincian program. Ringkasan isi Renas PB diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang memuat kebijakan dan program pembangunan serta rencana kerja Pemerintah.

dan masukan melalui berbagai media publik. konsultasi publik. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. Di masa yang akan datang.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 4 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. 1. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. lembaga-lembaga swadaya masyarakat.2014 . Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku.

lembaga pemerintah. 4. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Kementerian. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).2014 5 . yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. pemerintah daerah. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 3. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Kementerian.1. 6. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. 5.

dan masukan melalui berbagai media publik. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan.2014 . baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 6 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. 1. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). konsultasi publik. Di masa yang akan datang. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis.

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Kementerian. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Kementerian. 3. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. lembaga pemerintah. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 6.2014 7 . Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 2. 5. 4. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.1. pemerintah daerah.

8 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

.

.

sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng. Bali dan Nusa Tenggara. belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara. Gambar 2.1. Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur.1 Ancaman Gempabumi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan. Penunjaman lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Euro.Asia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempabumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatra.1.BAB II GAMBARAN UMUM KEBENCANAAN 2. Daerah yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Ketiga lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Euro-Asia. 2008). Daerah rawan gempabumi di Indonesia tersebar pada daerah yang terletak dekat zona penunjaman maupun sesar aktif. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.1 ANCAMAN (HAZARD) 2. Jawa.2014 9 .

Indonesia menjadi rawan terhadap ancaman tsunami. Busur Belakang Flores.1. Jawa Timur.terletak dekat zona penunjaman adalah pantai barat Sumatra. Jawa Tengah.2 Ancaman Tsunami Gempabumi yang disebabkan oleh interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan deformasi dasar laut yang mengakibatkan gelombang pasang dan tsunami apabila terjadi di samudera. Cimandiri. Sedangkan daerah di Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatra. Tabel 2. Lembang. pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara. Daerah Istimewa Yogyakarta. Ransiki. pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua. 6.9 8. Beberapa sesar aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar Sumatra. 5. Maluku Utara. 4.2. Lampung Bengkulu Pulau Nias Yogyakarta dan Jawa Tengah 2. Gambar 2. menyajikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Nusa Tenggara Timur. 2. Baribis.207 100 > 1.1. Kepulauan Maluku dan Pulau Papua. 1. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.8 7 7. Tahun 1896 1926 1943 1994 2000 2005 2006 Magnitudo (Mw) 7. Nusa Tenggara. Bali.2. Kepulauan Maluku dan sistem sesar aktif lainnya yang belum terungkap. Provinsi Jawa Barat.700 Daerah Pulau Timor Sumatra Barat Yogyakarta dan Jawa Tengah Liwa. Opak. Bali. menyajikan data beberapa kejadian gempabumi di Indonesia dengan jumlah korban jiwa yang besar. Palu-Koro. Pulau Sulawesi. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini. Tabel 2. 3. 7. 2008) No. Sorong. pantai selatan Jawa.000 > 5. Kepulauan Maluku.2 MMI VIII IX IX IX X VIII VIII Korban Jiwa (org) 250 354 213 l. Nusa Tenggara Barat. sesar aktif di daerah Banten.2014 10 .7 6.

2014 11 . Arno (1985) da Ismail (19 old an 989). Cox (1970). Berdasarkan i pengolahan data tersebut. en 1969). 2 p 2007) Data histori tsunami di Indonesia pad periode an is da ntara tahun 16 600-1998 telah dikom mpilasi dari ka atalog gempa destruktif (t a termasuk di d dalamnya tsunami) di seluruh dun oleh Utsu (1992). tercatat telah terjadi 1 kejadian tsunami. dan sel lanjutnya diperbaharu dengan da ui ata-data kejadian tsunami terkini. n 110 100 kejadia di antarany disebabkan oleh gempa an ya abumi. ih Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kem i nia u mudian data tersebut dibandingka dengan data yang dikum an mpulkan oleh Berninghause (1966.kejadian be encana tsunam di Indonesi dalam kuru waktu anta tahun mi ia un ara 1801-2006. tsunami yang terjadi se etelah tahun 1970 telah d diteliti dan di ilaporkan dengan lebi baik. sebelum tahun 1970 tidak dilaporkan dengan baik sedangkan kejadian n k. 9 oleh letusan h gunungapi dan 1 oleh tanah longso Sebagian besar data kejadian or.2. Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia i dalam periode 1801-2006 (Puspito. G Gambar 2.

12 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Gunung-gunungapi aktif yang tersebar di Pulau Sumatra. Di Jawa Timur letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5. Sedangkan kawah gunungapi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo.951 korban jiwa di Jawa Barat. Sulawesi Tengah pada tahun 1983 terjadi letusan dahsyat Gunung Colo yang mengakibatkan hancurnya sumbat lava serta membumihanguskan sekitar 2/3 wilayah Pulau Una-Una tempat lokasi Gunung Colo. Nusa Tenggara. Di Teluk Tomini. kubah lava runtuh dan menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar Gunung Merapi.2. Selain letusan-letusan besar seperti letusan gunung Tambora yang menewaskan lebih dari 92 ribu jiwa dan Krakatau lebih dari 36 ribu orang pada abad XIX.000 orang. antara lain letusan Gunung Kie Besi di Maluku Utara pada tahun 1760 yang menewaskan 2. Indonesia memiliki lebih dari 500 gunungapi dengan 129 di antaranya aktif. berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG. memperlihatkan sebaran gunungapi di Indonesia.2014 . Berdasarkan sejarah. Dalam beberapa tahun ke depan potensi risiko bencana gunungapi yang perlu mendapat perhatian ada 70 gunungapi diantaranya adalah Gunung Merapi. Soputan dan Lokon.3 Ancaman Letusan Gunungapi Terkait dengan zona penunjaman lempeng-lempeng besar yang telah diuraikan. Bali. Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku merupakan sekitar 13% dari sebaran gunungapi aktif dunia.011 korban jiwa dan letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menewaskan 2. 2006) ada beberapa kejadian letusan lain yang menimbulkan korban jiwa besar.2. Gunung Merapi di Yogyakarta mempunyai perulangan letusan cukup pendek. Sedangkan di wilayah Yogyakarta letusan Gunung Merapi tahun 928 mengakibatkan Kerajaan Mataram hancur.3. letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang menewaskan 4. letusan tahun 1930 mengakibatkan 1. Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava.190 korban jiwa dan letusan tahun 1966 dengan 210 korban jiwa.369 orang korban jiwa dan letusan tahun 1972 menewaskan lebih dari 3.000 korban jiwa. Jawa. Gambar 2.

4 Ancaman Gerakan Tanah Selain ancaman gempabumi.2014 13 . Hampir semua pulau utama di Indonesia memiliki beberapa kabupaten dan kota yang rawan pergerakan tanah. atau yang pada umumnya dikenal sebagai tanah longsor. kecuali Pulau Kalimantan yang hanya memiliki dua kabupaten yang rawan. tsunami dan letusan gunungapi. Banten (2009).2. yang mengakibatkan 82 orang tewas. Sumatra Barat (2008) dan terakhir di Situ Gintung. secara geologis Indonesia juga menghadapi ancaman gerakan tanah.Gambar 2. yakni Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur. 179 orang luka-luka dan 250 buah rumah hancur/rusak. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Hampir setiap tahun Indonesia mengalami kejadian gerakan tanah yang mengakibatkan bencana. 103 orang hilang. Korban dan kerugian besar pada umumnya terjadi pada gerakan tanah jenis aliran bahan rombakan atau banjir bandang. seperti terjadi di Nias (2001) dan Bohorok Sumatra Utara (2005).3. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. Sulawesi Tengah (2007). 2007) 2.

tingkat ekono omi. kondisi batuan yang tidak kompak dan mudah mengalami d k degradasi umumnya lebih mudah untuk terjadi gerakan tana Hal ini dip ah.4.2014 .5 Ancam Banjir man Secara geog grafis. kondisi kerentanan bang gunan dan in nfrastruktur. siko dipengar ruhi pula oleh kondisi kerentanan berbagai un nsur lainnya seperti kepadatan dan kerentanan pe enduduk. Di samping a h k kan itu. dan kapasitas daerah seca ara umum.Gambar 2. ini dapat menimbulka ancaman-ancaman y an yang bersifat hidrot meteorolog seperti banjir dan ke gis ekeringan. 2007). wilayah Indonesia t terletak di da aerah iklim tr ropis dan memiliki du musim. dan arah angin yang c han cukup ekstrim Kondisi m. 2. Gambar 2. suhu. perburuk lagi oleh curah hujan yang tinggi d y dan gempa y yang sering t terjadi di Indonesia. Daerah yan memiliki re ng elief morfolog kasar denga lereng-lere yang gi an eng terjal secara umum lebih rawan untuk terjadi gerak tanah. Secara umu tingkat r um risiko bencan gerakan t na tanah di Kabupatan/ /Kota di Indonesia dite entukan oleh keberadaa lajur an pegunungan Tingkat ris n. an kerentanan gerakan tana di Indonesi ah ia.4 menyajika zona 4.2. Da aerah-daerah dengan risiko tingg terhadap ancaman ba gi anjir tersebar di seluruh wilayah r 14 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Peta zona keren ntanan gerakan tanah di Indo n onesia (PVMBG. yaitu musim pa ua anas dan mus hujan den sim ngan ciriciri perubah cuaca.

Semarang dan Banjarmasin secara historis juga sering dilanda banjir. tetapi berubah akibat sedimentasi.479 841 83.605 3303 Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal.285 201 604. tersumbat sampah serta hambatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . (b) Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai. Sulawesi Selatan dan Papua bagian selatan.907 242. terutama di daerah pantai timur Sumatra bagian utara.2014 15 .927 396 126.382 72.346 4760 36.651 57.4 Sawah (ha) 2.2. Daya tampung sistem pengaliran air tidak selamanya sama.240.2 Rumah Rusak 2. dan (c) Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan.562 568.5 Jalan (km) 2001/02 150 2002/03 186 2003/04 143 2004/05 182 Total 661 185 18 388.028 94.meninggal . daerah pantai utara Jawa bagian barat.3 Fasos/Fasum 2.197 6774 905. Jumlah Kejadian 2. sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap.mengungsi 2.Indonesia. Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.087 972 180. begitu pula daerah aliran sungai tertentu seperti daerah aliran sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa dan daerah aliran sungai Benanain di Nusa Tenggara Timur.790 1.1 Korban Manusia .603 1005 206 104 180. Beberapa kota tertentu seperti Jakarta.901 58. tanggul dan bangunan pengendali banjir Tabel 2.649 94. air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam tiga kategori: (a) Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia. Dampak: 2. BNPB) Jumlah Kejadian Banjir dan Dampaknya 1. Berdasarkan sumber airnya.640 1685 126.973 54.hilang . Kalimantan bagian barat dan selatan. penyempitan sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia.435 217 230 106 102.

Kekeringan diartikan sebagai berkurangnya persediaan air sampai di bawah normal yang bersifat sementara. sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan terjadi banjir. PU.2.lainnya. Bakosurtanal. Gambar 2.6 Ancaman Kekeringan Selain ancaman banjir. karena jika terjadi curah hujan tinggi. 2008) 2. Berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi pada meningkatnya debit banjir. Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG. baik di atmosfer maupun di permukaan tanah. Penyebab kekeringan adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang ditimbulkan oleh 16 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . ancaman alam yang bersifat hidro-meteorologis lain yang sering menimpa Indonesia adalah kekeringan.5.2014 . Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi dan melampaui kapasitas pengaliran.

6. pola pengoperasian irigasi serta pengelolaan sumber daya air di permukaan lainnya. Kekeringan membawa akibat serius pada pola tanam. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kekeringan mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan air bagi kegiatan manusia. Gambar 2. Kalimantan Selatan. Gangguan pola tanam yang serius pada gilirannya akan mengancam keamanan pangan masyarakat. hampir seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa kecuali di bagian paling timur. pola pengairan. Jambi. Kalimantan Barat. Lampung. Kalimantan Timur. Sulawesi Selatan. Kepulauan Bangka Belitung. Bengkulu. Maluku Utara dan Papua. Kalimantan Tengah.6. Kepulauan Riau. Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) Wilayah Indonesia yang rawan kekeringan meliputi beberapa kabupaten/kota di Sumatra Barat. Sumatra Selatan. Sulawesi Utara.fenomena El Niño. Gambar 2. memperlihatkan zona bahaya kekeringan di Indonesia. dan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur.2014 17 . Riau. Sulawesi Barat.

2014 . Jawa. 1 2 Tahun Wilayah Luas Areal Terbakar 3. dan Pulau Jawa. Kalimantan. Sulawesi dan Maluku 500.3. Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan menimbulkan berbagai dampak kesehatan dan sosialekonomi.000 ha 5. baik untuk usaha pertanian. kehutanan maupun perkebunan dan ditunjang oleh adanya fenomena alam El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menimbulkan kekeringan. Nusa Tenggara dan Timor 1991 Sumatra.198 ha 18 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sumatra. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan dan Sulawesi 1994 Sumatra dan Kalimantan 1997/1998 Sumatra. Kalimantan. Bali. Tabel 2.400.2.000 ha 32. Sulawesi dan Papua 2006 Sumatra.000 ha 9. Kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia dalam rangka membuka lahan. Daerah di Indonesia yang rawan kebakaran hutan dan lahan terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan yang memiliki areal perkebunan dan pertanian dalam skala besar serta beberapa kabupaten/kota diantaranya di Sulawesi.600. Sulawesi.000 ha 66. Bali.2. Nusa Tenggara. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dapat mengganggu negara-negara tetangga sehingga berpotensi menganggu hubungan kenegaraan Indonesia dengan negara-negara tetangga tersebut.7 Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Terkait dengan ancaman kekeringan. Bali. Jawa.750. Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) No.000 ha 3 4 5 6 1982/1983 Kalimantan Timur 1987 Kalimantan. Jawa. Nusa Tenggara.

2. Erosi juga merusak daerah-daerah aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan palung sungai serta bendungan-bendungan yang ada. Risiko erosi tinggi di Indonesia tersebar di Pulau Sumatra. yaitu perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh kekuatan air. es. menunjukkan beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang besar di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir.3. Gambar 2.7. karena butiran tanah yang mengandung unsur hara terangkut limpasan permukaan dan diendapkan di tempat lain. Sementara itu Tabel 2. Jawa. angin.7. Bali. dan dengan demikian mempengaruhi fungsi dan usia bendungan. Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) 2.2014 19 . Proses erosi terutama dapat mengakibatkan penipisan lapisan tanah dan penurunan tingkat kesuburan.8 Ancaman Erosi Indonesia juga menghadapi ancaman erosi. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Gambar 2. memperlihatkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Dari data tersebut tampak bahwa semua pulau-pulau utama Indonesia rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan. pengaruh gaya berat atau organisme hidup.

8. Sulawesi. api lilin/lampu minyak yang menyambar kasur. kompor meledak. Gambar 2. Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku serta Papua. Bogor. Makassar. Ancaman muncul akibat kecerobohan manusia dalam membangun gedung atau perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan bangunan yang berlaku. 20 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tangerang.Kalimantan. Bekasi. Depok dan sekitarnya yang sangat padat penduduk. Denpasar dan kota-kota lain yang setara tingkat kepadatannya di samping kawasan industri padat penduduk yang menggunakan bahan-bahan bakar dan bahan berbahaya.2014 . Korsleting listrik. Zona Bahaya Erosi di Indonesia 2. Palembang.2. Perlu diwaspadai juga kota-kota besar yang memiliki jumlah penduduk sangat tinggi seperti Surabaya. Semarang. Pekanbaru. terutama pada musim kemarau. Bandung. Daerah-daerah di Indonesia yang perlu diwaspadai untuk ancaman ini meliputi kota-kota di DKI Jakarta. merupakan beberapa penyebab umum kebakaran pada gedung dan permukiman. Padang. Medan.9 Ancaman Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran gedung dan permukiman penduduk sangat sering terjadi di Indonesia.

Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI-BNPB. Kota Padang dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat. Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan. Gambar Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .10 Ancaman Gelombang Ekstrim dan Abrasi Terkait perubahan iklim global. Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Daerah-daerah yang menghadapi risiko tinggi bencana abrasi meliputi Aceh Selatan dan Kota Banda Aceh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Indonesia semakin sering menghadapi ancaman gelombang ekstrim dan abrasi kawasan pesisir pantai. Kota Jakarta Utara. Sumatra.Gambar 2. Maluku dan Irian Jaya. 2007 ) 2. Gelombang ekstrim pada umumnya ditimbulkan oleh siklon tropis. Untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa. daerah yang memiliki potensi tinggi terkena gelombang ekstrim adalah wilayah pantai utara Pulau Jawa. Kota Medan. Gelombang ekstrim adalah salah satu penyebab abrasi yang terjadi dengan cepat.2.2014 21 .9. Untuk wilayah di sebelah utara khatulistiwa daerah yang berpotensi terkena gelombang ekstrim adalah Pantai Sulawesi Utara. Gelombang ekstrim yang melanda Indonesia berada di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan posisi siklon tropis. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

2.11. dan Gambar 2. memp perlihatkan posisi munculn siklon tro nya opis di Indone esia. Posisi munculnya sik Gamb 2. Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI-BNPB.10. 2007) bar i 22 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . kan bar i klon tropis di In ndonesia (BMK KG) Gamb 2.2014 .10.1 menunjukk indeks zonasi abrasi di Indonesia. 11.

Ancaman yang paling sering terjadi adalah angin puting beliung yang umumnya terjadi pada musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun dari musim kemarau ke musim hujan.12.11 Ancaman Cuaca Ekstrim Cuaca Ekstrim seperti angin puting beliung.12. terutama terkait dengan meningkatnya dampak perubahan iklim global. Tingginya kecepatan angin puting beliung dapat menimbulkan kerusakan dalam bentuk robohnya atap bangunan ringan. pengoperasian atau kelalaian manusia dalam menggunakan teknologi. tiang listrik dan pohon-pohon.12 Kegagalan Teknologi Kegagalan teknologi juga sudah mulai mengancam Indonesia. Kegagalan teknologi dapat diakibatkan oleh kesalahan desain. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis 2. baliho.2014 23 .2. Gambar 2. kecelakaan industri.2.2. Kejadian ini dapat menimbulkan dampak berupa kebakaran. dan kawasan Indonesia bagian timur yang sangat rawan terlanda badai tropis dari arah benua Australia. pencemaran bahan kimia berbahaya atau bahan radioaktif. topan dan badai tropis juga mulai banyak mempengaruhi Indonesia. memperlihatkan daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terlanda badai tropis. Gambar 2. Salah satu kegagalan teknologi yang memicu bencana alam yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . atau kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban tewas serta kerugian harta benda.

DKI Jakarta. perhatian serius perlu diberikan pada jumlah korban jiwa dan kerugian yang sangat besar yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi. Indonesia terutama juga sering mengalami kejadian diare. selain jumlah korban tewas yang sangat besar setiap tahunnya. mengakibatkan 32 korban jiwa dan luka parah/ringan 13 orang.216 jiwa. Data statistik tahun 2008 dari Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya mencapai 56.000 jiwa.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Epidemi dan wabah penyakit merupakan hal yang potensial timbul di Indonesia. tanggal 16 Juni 2009.4. antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2007. mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat hidup sehat dan higienis secara memadai. jumlah penderita dan jumlah kematian yang ditimbulkannya. menunjukkan distribusi penderita diare saat Kejadian Luar Biasa yang dirinci berdasarkan waktu. dengan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman yang menjamin keselamatan para pengguna dan mendorong perilaku berlalu-lintas yang aman dan berbudaya. Dalam hal kegagalan teknologi. demam berdarah dan malaria. Jawa Barat. 2. Kerugian material dari kejadian ini tentunya amat besar. Bukit Asam. Banten. Selain Flu Burung. Beberapa kejadian Flu Burung sudah teridentifikasi di Sumatra Utara dan Barat.T. Lampung. Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perhatian khusus perlu diberikan pada keselamatan di jalan raya. Kecelakaan tambang seperti ledakan gas metana (CH4) yang terjadi di tambang batubara P. yang dalam sepuluh tahun belakangan ini jumlahnya telah melebihi jumlah korban tewas akibat Tsunami Aceh-Nias tahun 2004. dan korban luka-luka lebih dari 75.2014 . Berjangkitnya penyakit dapat mengancam manusia maupun hewan ternak dan berdampak serius dalam bentuk kematian dan terganggunya roda perekonomian. Tabel 2. Sumatra Barat. Sawahlunto.600 kejadian dengan melibatkan lebih dari 130.2. lokasi kejadian. 24 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .000 kendaraan dan mengakibatkan korban tewas mencapai 19.sampai kini belum teratasi adalah kegagalan pengeboran di Sidoarjo yang menimbulkan luapan lumpur dari perut bumi.

Perbedaan kepercayaan dan perbedaan tingkat kesejahteraan yang mencolok dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyulut konflik sosial.661 Jml.980 3.Kematian 100 94 128 53 127 277 46 CFR (%) 2. seperti di Ambon.314 5. Poso. Konflik sosial dan kedaruratan kompleks memerlukan penanganan yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 1988.789 4. dan sedikit menurun di tahun 2005 dari 334 Kabupaten/Kota menjadi 326 Kabupaten/Kota. Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit DBD dari tahun 2002 terus meningkat sampai tahun 2004 dengan adanya KLB.051 10. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri.2014 25 .Tabel 2.428 5. 1998 dan 2005. Penderita 4. 2.622 3.60 2. yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjelma menjadi konflik sosial. banjir atau kebakaran hutan.52 1. Situasi ini dikenal sebagai kedaruratan kompleks. yang di beberapa tempat dapat berlangsung lama dan berkepanjangan.4.26 Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pada periode 1968-2006 cenderung mengalami peningkatan.77 1. Pemilihan kepala daerah belakangan mulai menimbulkan konflik dan kerusuhan antara berbagai kelompok pendukung calon tertentu.62 2. Konflik sosial yang diakibatkan oleh ulah manusia dapat berinteraksi dengan satu atau lebih kejadian alam seperti letusan gunungapi. tetapi di sisi lain terkadang menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial.14 Konflik Sosial Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam etnis dengan bahasa dan budaya yang beraneka ragam pula.51 2.2. kemudian meningkat kembali di tahun 2006 menjadi 330 Kabupaten/Kota.26 1. Puncak DBD terjadi pada tahun 1973. Kalimantan Barat dan beberapa tempat lain. Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Provinsi 12 15 22 17 11 16 8 Jml.

segera dan seksama. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir Podes tahun 2008 adalah sebanyak 231. termasuk kejadian-kejadian konflik yang pernah terjadi di masa lampau. Begitu pula untuk ancaman-ancaman lainnya: masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi. 26 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Unsur kerentanan lainnya adalah tingkat kepadatan penduduk. Dengan demikian. Tabel 2. dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi.2014 .5. Hingga kini tercatat sekitar 5 juta orang yang tinggal di wilayah sekitar tubuh gunungapi (PVMBG. masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya memang merupakan dataran banjir.2 KERENTANAN DAN KAPASITAS Salah satu aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas dari pusat ancaman. Daerah seperti ini pada umumnya mempunyai daya tarik dalam rupa tanah yang subur untuk bercocok tanam. Renas PB perlu mengulas isu kerawanan sosial dan kedaruratan kompleks dengan mengkaji potensi-potensi kerawanan sosial apa saja yang dapat timbul di Indonesia.640. 2. daerah rawan letusan gunungapi adalah daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunungapi. sehingga masyarakat senang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut. Mereka adalah warga masyarakat yang rentan karena tinggal terlalu dekat dengan sumber ancaman. mereka yang rentan terhadap gempabumi adalah yang tinggal di dekat patahanpatahan/sesar aktif. penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di lerang-lereng yang labil. Keterlambatan dalam penanganan dapat berakibat pada eskalasi tingkat intensitas dan keluasan konflik.3%.960 dengan laju pertumbuhan penduduk antara tahun 2000-2005 tercatat sebesar 1. Dalam kedua situasi ini perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok-kelompok minoritas yang biasanya sangat terpengaruh oleh dampak situasi yang kurang menguntungkan ini. Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk di pulau-pulau di negeri ini. mata air dan pemandangan yang indah. 2007).

9 19.9 Madura 2. yang hanya merupakan 6. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .4 lainnya 6.7 7 7. menimbulkan kerentanan karena Pulau Jawa selain memiliki banyak ancaman alam termasuk gempabumi dan letusan gunungapi.6 6.9% dari seluruh daratan yang dimiliki Indonesia.3 5. jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan berpotensi meningkatkan kerawanan sosial di Indonesia.5.8 17. Tabel 2. Bandingkan bahwa pada saat yang sama rata-rata kepadatan penduduk Indonesia per km2 hanya 124 jiwa. Pulau 30.7 3.3 21.852 orang per km2 pada tahun 2008.9 7.5.1 7 7.6 7. terdapat konsentrasi penduduk sangat tinggi di DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk 10.9 5.2 7. Sulawesi 9. Begitu pula dengan tingkat pertambahan penduduk yang relatif tinggi.3 7. diikuti oleh Pulau Sumatra.3 100 1971 63.5 4. dengan 7 jiwa untuk Provinsi Papua dan 8 jiwa untuk Provinsi Papua Barat yang paling jarang penduduknya. Selain itu.9 19 4.6 100 Pulau 1. Kalimantan 28. Jawa 6.2 4.2014 27 . lapangan kerja.2 100 1980 61.5 7.5 100 1985 60.1 4. dan bercampurnya masyarakat multi etnis dan budaya di pulau-pulau utama tersebut.2 7. Sumatra 24. maka tingkat kerawanan sosial akan menjadi lebih tinggi. diinformasikan bahwa hampir dua per tiga penduduk Indonesia (58.3 5. Dengan terbatasnya daya dukung sumberdaya dan lingkungan.5 3.7 13.3 100 1961 65 16.menyajikan distribusi persentase luas dan penduduk Indonesia berdasarkan pulau. Menumpuknya populasi penduduk di Pulau Jawa dan Madura.1 7.1 7. Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau Luas Wilayah (%) Penduduk (%) 1930 68.4 7.9 4.5 100 1990 60 20. juga menghadapi ancaman kerawanan sosial.3%) tinggal di Pulau Jawa dan Madura.6 100 2008 58. Total 100 Sumber: diolah dari BPS Pada Tabel 2.

dimana secara sosial ekonomi Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan.60 49.30 8.90 32.6.60 12.20 17.61 13.50 2002 2003 2004 2005 2006 2007 28 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .300 penduduk miskin.30 37. pada kurun waktu yang sama perkembangan jumlah penduduk miskin di pedesaan mengalami penurunan.30 38.70 31. dan sebaliknya.4 juta orang atau 20.20 8.90 38.30 26. 2007) 60. Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 1990-2007 (BPS.60 15.20 14.70 9.00 20. Keadaan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat urbanisasi.70 25.168.40 11.50 47.40 37.80 9.00 10. Jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah pedesaan Indonesia lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di daerah perkotaan.29 %. sehingga memperbesar angka kemiskinan di perkotaan.00 30. Kecenderungan ini tentunya perlu ditangani dengan baik karena kemiskinan di perkotaan dapat berinteraksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan menimbulkan risiko bencana yang tinggi.2014 . Banyak warga desa yang tidak memiliki keahlian datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah orang miskin terbanyak.60 12.49 23.90 24.10 39. karena diasumsikan tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana. Namun.26 %. Wilayah yang mempunyai banyak penduduk miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya.30 24.90 17.60 17. tercatat pada Juli 2006 mencapai 7.00 40.40 34. sedangkan provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar adalah Provinsi Papua yang mencapai 39.50 25.Unsur kerentanan lainnya adalah kemiskinan. Data BPS tahun 2007 menyebutkan bahwa Indone sia saat ini memiliki 37.81 14.56 12.00 50.00 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 Tahun Kota Desa Kota+Desa 27. Tabel 2.30 25. jumlah penduduk miskin di perkotaan terus mengalami peningkatan dari tahun 1978-2006.10 13.10 22.17 35.90 29.40 37.10 26.

Kerentanan wilayah dan penduduk terhadap ancaman dapat berupa kerentanan fisik. usia harapan hidup orang Indonesia adalah 68. upaya penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. Dalam hal kapasitas menghadapi bencana. tingkat melek huruf orang dewasa di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 91. Dipandang dari segi kelembagaan kapasitas ini meningkat jauh dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan dibentuknya badan independen yang menangani bencana. Kerentanan fisik bersifat spesifik.-. kesehatan. misalkan tsunami code untuk tsunami. Sementara itu.370. Masih dibutuhkan kerja Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . pengeluaran per kapita riil disesuaikan untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp 624. tergantung jenis ancaman dan masing-masing ancaman menggunakan indikator spesifik.-. dari segi pengeluaran penduduk. Lama pendidikan sekitar tujuh setengah tahun ini setara dengan pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama. indikator penduduk yang tinggal di kawasan rawan bahaya (KRB) untuk ancaman letusan gunungapi dan sebagainya.7 tahun.47 tahun. Asumsi yang digunakan adalah bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas mengenai bencana.050. Angka kematian bayi pada tahun 2005 adalah sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran. kepadatan dan jumlah penduduk. sosial dan/atau ekonomi. Indonesia masih terus mengembangkan diri. terpadu dan menyeluruh. Dari segi ekonomi. maka tingkat kerentanannya semakin rendah.Data Badan Pusat Statistik tahun 2007 menyebutkan bahwa dari segi pendidikan. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tahun 2007 adalah Rp 15.628. Dengan berdirinya BNPB di tingkat pusat dan BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Kerentanan sosial ekonomi yang digunakan dalam menghitung indeks kerentanan dalam Renas PB antara lain menggunakan indikator laju pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain.2014 29 . pendapatan asli daerah. sampai dengan tahun 2007 wajib belajar sembilan tahun belum tercapai sepenuhnya. kemiskinan dan tenaga kerja. Kerentanan sosial-ekonomi bersifat generik dan berlaku untuk semua jenis ancaman. sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7. tingkat pendidikan.87 %. Dari segi kesehatan. produk domestik regional bruto (PDRB). indikator building code untuk gempa bumi.

budaya gotong-royong dan solidaritas juga merupakan unsur yang membangun kapasitas. jaringan sosial dan organisasi masyarakat yang kuat.keras untuk mewujudkan instansi penanggulangan bencana yang independen. Kapasitas juga dilihat dari potensi masyarakat dalam menangkal dampak negatif bencana. Sejumlah Perguruan Tinggi telah memiliki pusat studi bencana atau lembaga lain yang setara seperti misalkan Institut Teknologi Bandung. memiliki sumber daya dan alokasi anggaran yang memadai. dijalankan oleh staf yang cukup dan kompeten. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan kelompok-kelompok siaga bencana. Universitas Airlangga. mampu berkoordinasi dengan baik dengan instansi-instansi lain. Institut Teknologi Surabaya. Universitas Jember. dan memiliki simpanan aset atau sumber daya memadai untuk menghadapi situasi ekstrim. Universitas Tadulako dan Universitas Syiah Kuala. melalui gladi dan simulasi bencana. Universitas Andalas.2014 . Keberadaan lembaga-lembaga di tingkat masyarakat yang memiliki kegiatan kebencanaan juga berpotensi untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana. Masyarakat seperti ini mengetahui bahaya apa yang mengancam mereka dan bagaimana cara mengurangi risiko bahaya-bahaya ini. Di tingkat nasional telah dibentuk Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB). Platform Nasional untuk pengurangan risiko bencana (Planas PRB). Diharapkan bahwa dengan terbentuknya forum-forum tersebut akan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah. 30 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Lembaga-lembaga semacam ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Institut Pertanian Bogor. Universitas Gadjah Mada. Adanya kearifan lokal dalam tanggap bencana. dan didukung dengan kebijakan penanggulangan bencana yang bermutu tinggi. Kapasitas masyarakat dapat dikatakan tinggi bila masyarakat mampu membangun rumah dan permukiman yang memenuhi standar keamanan bangunan. dan forum-forum pengurangan risiko bencana serupa lainnya. termasuk mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko.

2. rencana penanggulangan bencana gempabumi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3.1 Risiko Gempabumi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gempabumi di Indonesia (Lampiran 2).7.7. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Tenggara Bireun Gayo Lues Kota Banda Aceh Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Samosir Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3 RISIKO BENCANA 2. Tabel 2.2014 31 Sumatra Utara .

Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Agam Kep. Mentawai Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Solok Lima Puluh Koto Padang Pariaman Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Solok Selatan Tanah Datar Kerinci Empat Lawang Kota Pagar Alam Lahat Oku Selatan Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Kota Bengkulu Lebong Muko-muko Rejang Lebong Seluma Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut 32 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kota Bandung Kota Cimahi Kota Sukabumi Sukabumi Tasikmalaya Cilacap Kebumen Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Blitar Jember Kediri Lumajang Malang Pacitan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Situbondo Sumenep Trenggalek Tulungagung Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang Badung Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Kota Denpasar Tabanan Bangli Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 33 .

2014 .Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Sumbawa Barat Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Luwu Timur Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sangihe Kepulauan Sitaro Kepulauan Talaud Kota Bitung Kota Manado Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol 34 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Boalemo Bone Bolango Gorontalo Gorontalo Utara Kota Gorontalo Pohuwato Buru Kota Ambon Maluku Tengah Maluku Tenggara Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kepulauan Sula Tidore Manokwari Raja Ampat Biak Numfor Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Pegunungan Bintang Sarmi Supiori Tolikara Waropen Yapen Waropen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 35 .

Tabel 2.2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Barat Daya Aceh Selatan Aceh Singkil Kota Subulussalam Mandailing Natal Nias Nias Selatan Tapanuli Tengah Kota Sibolga Padang Pariaman Agam Pasaman Barat Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Kota Padang Panjang Kota Padang Muko-Muko Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Seluma Kaur Kota Bengkulu Lampung Selatan Lampung Barat Tanggamus Kota Bandar Lampung Sumatra Utara Sumatra Barat Bengkulu Lampung 36 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . rencana penanggulangan bencana tsunami dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.2014 .2 Risiko Tsunami Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana tsunami di Indonesia (Lampiran 2).8.3.8.

2014 37 .Banten Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Pandeglang Serang Lebak Kota Cilegon Sukabumi Cianjur Garut Ciamis Tasikmalaya Kota Banjar Cilacap Purworejo Kebumen Wonogiri Bantul Kulonprogo Gunung Kidul Lumajang Banyuwangi Trenggalek Tulung Agung Pacitan Blitar Jembe Malang Badung Tabanan Jembrana Karangasem Klungkung Gianyar Lombok Timur Lombok Barat Sumbawa Bima Dompu Kota Bima Kupang Timur Tengah Selatan Sikka Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Ende Ngada Manggarai Manggarai Barat Flores Lembata Alor Timur Tengah Utara Belu Rote Ndau Sumba Timur Sumba Barat Paser Penajem Paser Utara Berau Kutai Kertanegara Kutai Timur Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Baru Tanah Laut Tanahbumbu Mejene Mamuju Utara Banggai Buol Donggala Poso Toli-Toli Parigimoutong Tojo Unauna Morowali Bolaang Mongondow Minahasa Minahasa Selatan Kepulauan Sangihe Kepulauan Talaud Buton Konawe Konawe Selatan 38 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 39 .Sulawesi Selatan Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kolaka Kolaka Utara Muna Bombana Wakatobi Sinjai Bantaeng Bulukumba Bone Jeneponto Takalar Wajo Luwu Luwu Utara Luwu Timur Gorontalo Boalemo Pohuwato Bonebolango Maluku Tengah Seram Barat Seram Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat Buru Halmahera Barat Tidore Kepulauan Kepulauan Sula Halmahera Timur Halmahera Utara Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Jayapura Merauke Nabire Biak Numfor Yapen Waropen Sarmi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

3 Risiko Letusan Gunungapi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana letusan gunungapi di Indonesia (Lampiran 2). Tabel 2.2014 .9. rencana penanggulangan bencana letusan gunungapi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3.2.9. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bener Meriah Sigli Aceh Tengah Karo Kabajahe Tapanuli Selatan Agam Pasaman Barat Solok Tanah Datar Kerinci Merangin Lahat Muara Enim Musi Rawas Rejang Lebong Lampung Barat Lampung Selatan Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Cianjur Garut Kuningan Majalengka Sukabumi Tasikmalaya Sumatra Utara Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat 40 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banjarnegara Banyumas Boyolali Brebes Klaten Magelang Pemalang Purbalingga Tegal Wonosobo Sleman Banyuwangi Blitar Bondowoso Jember Kediri Lumajang Malang Mojokerto Pasuruan Probolinggo Pandeglang Serang Bangli Karang Asem Badung Bima Lombok Timur Dompu Ende Flores Timur Manggarai Manggarai Barat Ngada Sikka Kalabahi Kota Bitung Minahasa Minahasa Selatan 41 Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Maluku Maluku Utara Minahasa Utara Kota Tomohon Kep.3.4 Risiko Gerakan Tanah Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gerakan tanah di Indonesia (Lampiran 2).2014 .10. rencana penanggulangan bencana gerakan tanah dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.10. Talaud Sangihe Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Halmahera Barat Halmahera Utara Kota Ternate 2. Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Bener Meriah Bireun Gayo Lues Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Sumatra Utara 42 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 43 .Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Utara Toba Samosir Kep.Mentawai Kota Bukit Tingggi Kota Padang Lima Puluh Koto Pasaman Solok Kerinci Empat Lawang Lahat Oku Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Lebong Rejang Lebong Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut Kota Sukabumi Kuningan Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Jawa Tengah Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Banjarnegara Banyumas Pekalongan Purbalingga Wonosobo Kota Batu Pacitan Pasuruan Probolinggo Sumenep Trenggalek Lebak Bangli Buleleng Jembrana Karang Asem Tabanan Bima Dompu Kota Bima Lombok Barat Lombok Timur Sumbawa Belu Ende Flores Timur Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Sikka Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Murung Raya Malinau Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sitaro 44 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kota Bitung Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Bone Enrekang Gowa Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Pinrang Sinjai Soppeng Tana Toraja Kolaka Utara Konawe Utara Kota Kendari Bone Bolango Gorontalo Majene Mamasa Mamuju Polewali Mandar Buru Maluku Tengah Tidore Kaimana 45 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

11.2014 .3.Papua Kota Sorong Manokwari Raja Ampat Sorong Teluk Wondama Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Paniai Pegunungan Bintang Puncak Jaya Sarmi Tolikara Yahukimo Yapen Waropen 2.11. Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Bireun Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhoksumawe Nagan Raya Asahan Batubara Sumatra Utara 46 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.5 Risiko Banjir Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana banjir di Indonesia (Lampiran 2).

Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Lampung Kepulauan Bangka Belitung Dki Jakarta Jawa Barat Deli Serdang Kota Medan Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Serdang Bedagai Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Agam Pasaman Barat Kota Padang Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hulu Siak Batanghari Kota Jambi Muaro Jambi Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Kota Palembang Kota Prabumulih Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Lampung Tengah Tulangbawang Belitung Belitung Timur Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bekasi Ciamis 47 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Cirebon Indramayu Karawang Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bandung Bandung Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Banyumas Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Kebumen Kendal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Tegal Kudus Pati Pekalongan Pemalang Purworejo Semarang Tegal Bantul Kulon Progo Bangkalan Banyuwangi Bojonegoro Gresik Jombang Kodya Pasuruan Kota Mojokerto Kota Surabaya Lamongan Lumajang 48 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Malang Mojokerto Pasuruan Sidoarjo Situbondo Tuban Trenggalek Kota Tangerang Serang Tangerang Klungkung Kota Denpasar Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Singkawang Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Kota Waringin Timur Sukamara Banjar Barito Kuala 49 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Barat Papua Hulu Sei Selatan Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Tanah Bumbu Tanah Laut Tapin Bulungan Kota Tarakan Kota Manado Bone Gowa Kota Makassar Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Sidenreng Rappang Soppeng Takalar Tana Toraja Wajo Buton Buton Utara Konawe Selatan Kota Baubau Boalemo Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Kota Sorong Sorong Sorong Selatan Asmat Boven Digoel Kota Jayapura Mappi 50 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Merauke Mimika Nabire Waropen

2.3.6 Risiko Kekeringan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kekeringan di Indonesia (Lampiran 2), rencana penanggulangan bencana kekeringan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan PROVINSI Sumatra Barat KABUPATEN/KOTA Agam Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Padang Pariaman Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Tulangbawang Way Kanan
Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014 51

Riau

Jambi

Sumatra Selatan Bengkulu Lampung

Kepulauan Bangka Belitung

Kepulauan Riau

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Bangka Bangka Barat Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Kota Pangkal Pinang Bintan Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Utara Bandung Bandung Barat Bekasi Bogor Cianjur Cirebon Garut Karawang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya Majalengka Purwakarta Subang Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang

52

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur

Blora Boyolali Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Karanganyar Kebumen Kendal Klaten Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Kudus Magelang Pati Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Rembang Semarang Sragen Sukoharjo Tegal Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunungkidul Kulon Progro Bojonegoro Jombang Kediri Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Madiun
53

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Banten

Nusa Tenggara Timur

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Magetan Nganjuk Ngawi Pacitan Pamekasan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Sumenep Trenggalek Tuban Tulungagung Kota Cilegon Kota Tangerang Pandeglang Serang Tangerang Sumba Barat Daya Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Waringin Barat Kota Waringin Timur Hulu Sei Tengah Kota Baru Tabalong Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kutai Kartanegara Kutai Timur

54

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

3.13. rencana penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.13.Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Maluku Utara Papua Kota Manado Kota Makassar Pangkajene Kepulauan Polewali Mandar Tidore Kota Sorong 2.7 Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (Lampiran 2). Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Utara Bener Meriah Bireun Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Asahan Batubara Dairi Deli Serdang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.2014 55 Sumatra Utara .

2014 .Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan 56 Humbang Hasundutan Karo Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Serdang Bedagai Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Lima Puluh Koto Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Sawahlunto Sijunjung Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hilir Rokan Hulu Siak Batanghari Bungo Kerinci Merangin Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Tebo Banyuasin Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau Jawa Barat Jawa Tengah Empat Lawang Lahat Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Oku Selatan Oku Timur Bengkulu Utara Muko-Muko Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tulangbawang Way Kanan Bangka Bangka Barat Bangka Selatan Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Bintan Karimun Lingga Natuna Cirebon Indramayu Karawang Kuningan Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Boyolali Demak Grobogan Jepara 57 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Karanganyar Kendal Klaten Kudus Magelang Pati Semarang Sragen Sukoharjo Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Sleman Banyuwangi Bondowoso Madiun Magetan Nganjuk Ngawi Ponorogo Situbondo Lebak Pandeglang Serang Tangerang Banten Badung Bangli Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Tabanan Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa 58 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Barito Selatan Barito Timur Barito Utara Gunung Mas Kapuas Katingan Lamandau Murung Raya Pulang Pisau Seruyan Sukamara 59 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Balangan Barito Kuala Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Hulu Sei Utara Tabalong Tapin Kutai Barat Kutai Kartanegara Malinau Nunukan Pasir Penajem Paser Utara Buol Donggala Morowali Parigi Moutong Tojo Una-Una Toli Toli Bantaeng Barru Bone Bulukumba Enrekang Gowa Jeneponto Luwu Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Selayar Sidenreng Rappang Sinjai Soppeng Takalar Tana Toraja Ajo Bombana Buton Buton Utara 60 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

8 Risiko Erosi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana erosi di Indonesia (Lampiran 2). rencana penanggulangan bencana erosi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.2014 61 . Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara KABUPATEN/KOTA Kota Sabang Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Nias Selatan Padang Sidempuan Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Kolaka Konawe Konawe Selatan Konawe Utara Muna Boalemo Bone Bolango Gorontalo Utara Pohuwato Majene Mamasa Mamuju Mamuju Utara Polewali Mandar Maluku Tenggara Barat Merauke 2.14.14.3.

Garut Indramayu Kota Banjar Kota Bekasi Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Tasikmalaya Sukabumi Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang Cilacap Karanganyar Kebumen Kota Magelang Kota Surakarta Kota Tegal Magelang Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunung Kidul Kulon Progo Bangkalan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .Sumatra Barat Bengkulu Lampung Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur 62 Toba Samosir Kota Sawahlunto Tanah Datar Bengkulu Selatan Kota Metro Bandung Bogor Ciamis Cianjur Cirebon.

Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Bondowoso Kota Blitar Kota Pasuruan Kota Madiun Kota Mojokerto Pacitan Pamekasan Ponorogo Probolinggo Sampang Trenggalek Kota Cilegon Kota Tangerang Lebak Karang Asem Klungkung Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Sambas 63 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Sanggau Sekadau Sintang Banjar Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Tarakan. Kutai Timur Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Bantaeng Enrekang Gowa Jeneponto Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Tana Toraja Buton Kota Baubau Gorontalo Majene Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Halmahera Timur Tidore 64 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

rencana penanggulangan bencana kebakaran gedung dan pemukiman dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.15.2014 65 Sumatra Utara Sumatra Barat . Tabel 2.9 Risiko Kebakaran Gedung dan Pemukiman Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran gedung dan pemukiman di Indonesia (Lampiran 2).3.15. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Besar Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Timur Aceh Utara Lhokseumawe Pidie Simeulue Agam Asahan Dairi Deli Serdang Kota Medan Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Mandailing Natal Pakphak Barat Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Lima Puluh Koto Padang Pariaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2.

Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Kepulauan Riau Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Selatan Pekanbaru Danau Kerinci Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Palembang Lahat Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Timur Pagar Alam Prabumulih Bengkulu Selatan Kota Bengkulu Rejang Lebong Kota Batam Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Bandung Bekasi Bogor Cianjur Garut Karawang Kota Bandung Purwakarta Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas 66 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Blora Boyolali Brebes Grobogan Purwodadi Jepara Karanganyar Kendal Klaten Kota Semarang Kota Surakarta Magelang Pemalang Purbalingga Rembang Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Kota Surabaya Mojokerto Serang Tangerang Buleleng Gianyar Jembrana Karangasem Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Mataram Sumbawa Kota Kupang Kupang Lembata Ngada Timor Tengah Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 67 .

2014 .Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Papua Landak Pontianak Barito Utara Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Timur Murung Raya Palangka Raya Pulang Pisau Banjar Banjarmasin Hulu Sei Utara Kotabaru Tanah Laut Balikpapan Berau Kutai Kutai Barat Kutai Timur Samarinda Tarakan Minahasa Utara Kota Palu Bone Gowa Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Luwu Timur Pinrang Soppeng Tana Toraja Wajo Buton Kota Kendari Jayapura 68 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Tabel 2.11 Risiko Cuaca Ekstrim Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana cuaca ekstrim di Indonesia (Lampiran 2). Nusa Tenggara Barat 7. Jawa Timur 12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nangroe Aceh Darussalam Riau KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bireun Kota Sabang Simeuleu Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . DKI Jakarta 5. Sulawesi Selatan 2. Jawa Tengah 11. Nanggroe Aceh Darussalam 2. Daerah Istimewa Yogyakarta 10. Banten 9. Jawa Barat 8. rencana penanggulangan bencana cuaca ekstrim dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Sumatra Barat 4.2. rencana penanggulangan bencana gelombang ekstrim dan abrasi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada provinsi berikut: 1.2014 69 . Sumatra Utara 3.3.3.10 Risiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gelombang ekstrim dan abrasi di Indonesia (Lampiran 2).16. Nusa Tenggara Timur 6.16.

Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Jember Pasuruan Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang 70 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bandung Bogor Cianjur Cirebon Semarang Cilacap Tegal Pekalongan (Kabupaten-kabupaten sepanjang pantai utara).2014 .

Sulawesi Utara. Jawa Tengah. Tersangka Pertusis 13. 2.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Flu Burung berpotensi terjadi di Provinsi Sumatra Utara. mengingat tingginya jumlah korban jiwa yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi darat. perlu dipetakan daerah-daerah yang terutama sangat rawan. Jawa Timur.2014 71 .3. Nusa Tenggara Timur. Malaria Konfirmasi 3.12 Kegagalan Teknologi Indonesia masih perlu mengadakan pemetaan lebih lanjut atas daerahdaerah yang memiliki industri atau instalasi kritis yang rawan terhadap kejadian kegagalan teknologi. Malaria juga masih merupakan masalah besar di Indonesia. Ada 424 kabupaten/kota (73. Kalimantan Selatan. Tersangka Anthraks 16. Tersangka Difteri 12. Tersangka Campak 11. Selain itu. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 14.2. Kalimantan Timur. Diare Berdarah 6. Bali. Diare Akut 2. Tersangka Demam Tifoid 7. terkait kecelakaan transportasi darat. Sulawesi Selatan. Kalimantan Barat. Lampung. Sulawesi Tenggara. Demam yang tidak diketahui sebabnya 17. Kasus gigitan hewan penular rabies 15.3. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Tengah. Pneumonia 5. Tersangka Flu Burung pada Manusia 10. sehingga hampir separuh (45%) penduduk Indonesia berisiko tertular Malaria. Tersangka Kolera Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tersangka Demam Dengue 4. Tersangka DBD 9. Jawa Barat. Jaundice Akut 8. DKI Jakarta.6%) yang endemik malaria. Sumatra Barat. Daftar prioritas penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB): 1. Sulawesi Tengah. Gorontalo dan Provinsi Papua Barat. Banten.

3. Tersangka Meningitis/Enchepalitis 20. Tersangka Tetanus 2. Papua Barat 72 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sulawesi Tenggara 9.18. pengangguran yang meluas dan tingkat kemiskinan yang tinggi potensial melahirkan bibit-bibit konflik. Klaster penyakit yang tidak diketahui 19. Selain konflik sosial internal di tingkat masyarakat.14 Konflik Sosial Indonesia saat ini masih menghadapi potensi konflik. daerah-daerah yang rawan konflik di Indonesia terutama adalah Provinsi: 1. Sumatra Utara 3. Maluku dan Maluku Utara 7. dapat mengobarkan konflik sosial. Kalimantan Tengah 5. Sulawesi Tengah 8. Begitu pula jurang yang lebar antara penduduk yang miskin dan yang kaya. Kalimatan Barat 4. Konflik lokal seperti yang pernah merebak di beberapa tempat di tanah air masih mungkin pecah kembali.2014 . Nusa Tenggara Timur 6. misalkan di wilayah-wilayah terpencil yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia. Papua 11. Struktur sosial yang menciptakan ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan. Tersangka Tetanus Neonatus 21. Sulawesi Barat 10. Jika menggunakan indikator sejarah konflik dan banyaknya jumlah pengungsi di wilayah. ada juga potensi konflik regional dan internasional. Nanggroe Aceh Darussalam 2. bila sudah sampai pada puncaknya.

.

.

rusak berat dan rusak ringan kerap kali ada beberapa versi yang saling berbeda satu sama lain. Perbedaan data dalam hal jumlah korban terluka dan jenis luka yang dialami korban akan mempersulit alokasi tenaga medis dan perlengkapan medis. Upaya pemulihan pasca bencana juga belum maksimal. fasilitas dan infrastruktur publik yang rusak akan menghambat penghitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang selanjutnya akan memperlambat pemulihan seluruh aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh. TANTANGAN DAN PELUANG 3. Data tentang jumlah korban meninggal dan mereka yang luka-luka serta jumlah rumah yang hancur total. Kinerja yang belum optimal seperti belum terpadu dan menyeluruhnya koordinasi dan kerjasama dalam menghadapi situasi tanggap darurat masih terlihat. Begitu pula dengan perbedaan data dalam hal rumah.2014 73 .BAB III PERMASALAHAN. masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait di Indonesia belum siap dalam menghadapi bencana sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh bencana.1 ISU DAN PERMASALAHAN Salah satu isu yang dihadapi dalam bidang penanggulangan bencana adalah kinerja yang masih belum optimal. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah. Tampaknya pemahaman dan kesadaran bahwa risiko bencana dapat dikurangi melalui intervensi-intervensi pembangunan masih minim. UndangRencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tanggap darurat bencana seringkali berlangsung dengan agak tidak teratur. termasuk obat-obatan. terutama dalam hal pengerahan tenaga pencarian dan penyelamatan serta dalam koordinasi pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi para korban. Isu lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah orientasi kelembagaan penanggulangan bencana di Indonesia yang pada umumnya masih lebih terarah pada penanganan kedaruratan dan belum pada aspek pencegahan serta pengurangan risiko bencana. yang dibutuhkan untuk upaya pemulihan kesehatan warga yang menjadi korban.

24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memang telah merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif (terpusat pada tanggap darurat dan pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan). dan pihak swasta. Informasi semacam ini sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Hal lain yang tampak mencolok dari berbagai kejadian bencana adalah masih dominannya peranan pemerintah dan pihak-pihak dari luar komunitas dalam situasi darurat bencana. Pemberitaan media biasanya didominasi oleh kisah tim-tim reaksi cepat dari berbagai instansi pemerintah. Isu lain yang masih dihadapi adalah kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengurangi risiko bencana. untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko yang berdasarkan ilmu pengetahuan. tetapi dalam pelaksanaannya masih sedikit program-program pengurangan risiko bencana yang terencana dan terprogram. yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa. belum memiliki data dan informasi terinci tentang ancaman yang mereka hadapi berikut tingkat intensitasnya yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.undang No. tsunami dan letusan gunungapi. Ketangguhan dan kesiapsiagaan ini dapat dicapai melalui gladigladi dan simulasi bencana di tingkat komunitas yang dilaksanakan secara rutin dan teratur. Mengingat Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tidak semuanya mudah dijangkau. penting untuk mengembangkan tim-tim siaga bencana di tingkat masyarakat. Risiko bencana dapat dikurangi melalui program-program pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko serta penataan ruang yang berdasarkan pemetaan dan pengkajian risiko bencana. termasuk yang paling dominan biasanya dari angkatan bersenjata. Dalam banyak kejadian bencana terakhir di Indonesia belum terlihat adanya kiprah yang signifikan dari tim-tim siaga bencana komunitas. Jumlah korban dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana akan dapat dikurangi secara signifikan dengan adanya masyarakat dan pemerintah daerah yang tangguh dan siaga bencana. Diperlukan adanya upaya 74 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Banyak daerah yang menghadapi ancaman alam seperti gempabumi. termasuk pemanfaatan sistem-sistem peringatan dini yang berbasis teknologi. karena masyarakatlah yang pertama-tama berhadapan dengan bencana dan dampak-dampak negatifnya.

2014 75 . tetapi kadang kala tidak tahu apa yang dilakukan. masih sangat abu-abu. karena perempuan biasanya tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mendahulukan anak-anak dan keluarganya. Posisi yang tidak setara akan diperburuk oleh kebutuhan khusus perempuan dalam situasi bencana. siapa berbuat apa belum jelas. Pada beberapa kegiatan malah dilakukan oleh beberapa instansi. mudah bagi kita untuk mengabaikan mereka yang miskin dan terpinggirkan. Perempuan di Indonesia masih tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan. Program-program kebencanaan harus dirancang agar tidak menambah kerentanan kelompok-kelompok ini. sehingga terjadi tumpang tindih produk yang berbeda satu dengan yang lain yang malah membingungkan pengguna (pemerintah daerah). karena mereka ini biasanya merupakan kelompok yang paling rentan. yang sering terabaikan dalam situasi bencana. 24 Tahun 2007 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . apa yang harus dilakukan kadang masih bingung. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah isu gender dan kelompok-kelompok marjinal. politik dan kesehatan. 3. Dalam situasi bencana dengan banyak kebutuhan yang beraneka ragam. Apalagi pada saat sebelum terjadi bencana. ekonomi. Hal seperti ini perlu dibuat suatu rencana penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai pelaku penanggulangan bencana. Setiap terjadi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai lembaga yang diamanatkan Undang-undang No. ilmu dan teknologi kebencanaan. Ketidaksetaraan gender ini akan berpengaruh pada nasib perempuan dalam situasi bencana. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana masih menghadapi tantangan. termasuk kelompok warga miskin. Semua ingin membantu.melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitianpenelitian. Isu yang tidak kalah pentingnya adalah belum adanya perencanaan penanggulangan bencana yang komprehensif. Kelompok miskin dan minoritas atau marjinal juga perlu diperhatikan dalam situasi bencana.2 TANTANGAN DAN PELUANG Perubahan paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif berupa pengurangan risiko bencana yang terkandung dalam Undang-undang No.

tentang Penanggulangan Bencana dengan fungsi merumuskan dan menetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien. sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. apalagi BPBD di daerah-daerah. Banyak tim siaga bencana komunitas yang perlu dibentuk dan diberi sumber daya yang memadai. Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan penanggulangan bencana. Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja tetapi juga rehabilitasi dan rekonstruksi. Selain itu. diharapkan akan terbangun mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu. 76 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . “Roh pengurangan risiko bencana” perlu terus didorong agar merasuki para pembuat kebijakan dan semua kebijakan serta program pembangunan di Indonesia. masih banyak aparat pemerintah yang perlu diberi pendidikan dan pelatihan kebencanaan agar dapat melaksanakan pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko dan menyelenggarakan tanggap serta pemulihan bencana dengan baik.2014 . Ibarat proses pendidikan di sekolah. di pihak pemerintah sendiri masih banyak daerah yang perlu ditingkatkan dalam hal kelembagaan penanggulangan bencana dan kelengkapannya. Dengan pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan. upaya pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses belajar. Dengan jumlah penduduk yang besar dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bahaya. efisien dan handal. dan mendorong koordinasi dan kerjasama antar pihak yang baik. Tantangan berikutnya adalah besarnya kebutuhan pengembangan kapasitas dalam penanggulangan bencana. Tantangan pada fase tanggap darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik pelaku penanggulangan bencana. banyak komunitas yang perlu menerima gladi. simulasi dan pelatihan kebencanaan. terpadu. peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tetap (protap) kebencanaan sampai ke tingkat pemerintahan yang paling rendah. Tantangannya saat ini adalah mensosialisasikan paradigma baru tersebut agar menjelma menjadi kebijakan. efektif. dan mengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. dan menyeluruh masih berusia sangat muda.

penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana menjadi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sampai saat ini regulasi penanggulangan bencana terus-menerus disempurnakan. terpadu.Sedang tantangan pada rehabilitasi dan rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip membangun kembali lebih baik (build back better). Peluang pertama adalah semakin kondusifnya lingkungan kebijakan yang mendukung pengurangan risiko bencana. Di tingkat nasional ketertarikan berbagai pihak pada isu PRB ini terwujud dalam terbentuknya Platform Nasional PRB dan forumforum serupa di daerah. Peraturan Menteri dan Peraturan Kepala BNPB yang merupakan turunan Undang-undang. Terkait dengan lingkungan kebijakan pengurangan risiko bencana yang kian mendukung. Peluang selanjutnya adalah semakin bertumbuhnya perhatian dunia pada isu pengurangan risiko bencana. yang diikuti dengan pengesahan Peraturan-peraturan Pemerintah. Lepas dari besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia.2014 77 . peluang berikutnya adalah sudah terbentuknya BNPB dan semakin banyaknya provinsi-provinsi dan kabupaten/kota yang membentuk BPBD. ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda pengurangan risiko bencana. Peraturan Presiden. dengan kehadiran BNPB dan BPBD. terutama terkait dengan kecenderungan perubahan iklim global yang dampaknya kian memburuk. penanggulangan bencana akan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. Di tengah kebutuhan pengembangan kapasitas yang besar. Sebagian besar anggaran sampai saat ini masih lebih teralokasikan pada tanggap darurat dan pemulihan bencana. Dengan adanya platform dan forum-forum ini. anggaran dan sumber daya yang diperuntukkan untuk program-program pengurangan risiko bencana masih sangat terbatas. dalam perumusan program-program pengurangan risiko bencana tampaknya perlu dilaksanakan proses penyusunan prioritas yang benar. Pembentukan badan-badan penanggulangan bencana independen di berbagai tingkat pemerintahan ini akan lebih menjamin tertanganinya isu penanggulangan bencana dan isu terkait lainnya dengan baik. Selain itu. Mengingat tantangan-tantangan ini. menyeluruh dan efektif-efisien. Dimulai dengan lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

termasuk sektor swasta dan perguruan tinggi. Selain itu komitmen antar negara. mendukung pengurangan risiko bencana. Bentuk-bentuk kerjasama lintas sektor baik antar pemerintah. fasilitasi pendidikan dasar maupun meningkatkan kesehatan masyarakat. sebagai contoh dalam koridor negara asia tenggara (ASEAN) dengan membentuk AHA Center dan latihan bersama penanggulangan bencana yang dikenal dengan ARDEX sebagai implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response). 78 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Komitmen pelaku penanggulangan bencana untuk bersama-sama dalam penanggulangan bencana ini merupakan peluang lain. masyarakat dan lembaga usaha baik berupa upaya pengentasan kemiskinan. dan tidak hanya menjadi urusan pemerintah semata. Hal ini tentunya akan semakin memperkuat pelaksanaan pengurangan risiko bencana di Indonesia.urusan berbagai pihak.2014 .

.

.

2 PENATAAN KELEMBAGAAN Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. efektif dan efisien.BAB IV KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA 4. Kepolisian Republik Indonesia. Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko. Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana. Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal. Basarnas dan PMI. BNPB bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia. terpadu. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian. lembaga utama yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Lembaga dan instansi terkait. terkoordinasi dan menyeluruh. Untuk penanganan pengungsi. 4.1 VISI DAN MISI Visi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: “Ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana” Misi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: 1. dan menyeluruh. 2. terpadu. 3. serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. Lembaga ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana. BNPB merupakan Lembaga Pemerintah non-Kementerian yang dipimpin oleh pejabat setingkat menteri. BNPB Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 79 .

BNPB bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara khusus menangani ancaman tertentu. 46 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Permendagri No. Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BMKG. LIPI dan perguruan-perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Untuk penelitianpenelitian kebencanaan dalam berbagai bidang. Kementerian Pertanian. BPPT. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan BMKG untuk bencana-bencana geologis. media massa dan pihak-pihak terkait lainnya. Untuk pendidikan kebencanaan BNPB bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. Sedangkan untuk bencana-bencana terkait aspek biologis seperti wabah. dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti Kementerian Riset dan Teknologi.2014 . dengan Kementerian Pekerjaan Umum. 3/2008) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Pembentukan BPBD di 80 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . selain bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga teknis. Di daerah lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pembentukan BPBD mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perka BNPB No. Untuk pengembangan sistem peringatan dini. Kementerian Kehutanan. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri No. BNPB terutama dibantu oleh Kementerian Riset dan Teknologi. LIPI serta didukung juga oleh perguruan tinggi. dan BMKG untuk bencana-bencana hidrometeorologis. 46/2008. epidemi dan kejadian luar biasa. Untuk bencana-bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup BNPB bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. 46/2008). BNPB bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian. Untuk pemetaan daerahdaerah rawan.bekerja sama dengan Kementerian Sosial. di daerah BPBD bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan PB dan penanganan pengungsi serta melakukan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan PB. Seperti juga BNPB di tingkat pusat. BPPT. BPBD dibentuk baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. BPBD dibentuk di setiap provinsi dan dapat dibentuk di kabupaten/kota. Kementerian Agama. LAPAN.

dari 33 provinsi yang ada sudah 16 provinsi membentuk BPBD. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Bagi daerah-daerah yang belum membentuk BPBD. Konsorsium Pendidikan Bencana.tingkat provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda atau peraturan kepala daerah. selaras dengan tujuantujuan Kerangka Aksi Hyogo. Sampai dengan akhir bulan Oktober tahun 2009. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kegunungapian (BPPTK). dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia baru 21 kabupaten/kota yang memiliki BPBD. Planas PRB yang dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 20 November 2008 berupaya mewadahi semua kepentingan terkait kebencanaan serta membantu menyelaraskan berbagai kebijakan. Di tingkat pusat telah dibentuk Forum Perguruan Tinggi untuk PRB. untuk tingkat kabupaten dan kota. Sementara itu. ada pula platform-platform atau forum PRB sektoral yang dibentuk oleh para pihak berkepentingan menurut sektor atau isu-isu tertentu. yakni sebuah forum independen untuk mendorong serta memfasilitasi kerjasama antar pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia. agar dapat mendukung tercapainya tujuan-tujuan PRB Indonesia dan terwujudnya ketahanan dan ketangguhan bangsa terhadap bencana.2014 81 . fungsi-fungsi penanggulangan bencana dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani urusan kebencanaan. Selain Planas PRB di tingkat pusat. paguyuban masyarakat Pasag Merapi. sebuah forum yang didirikan untuk memfasilitasi kerjasama dalam pengelolaan Gunung Merapi secara menyeluruh pada aspek ancaman. Forum Mitigasi Bencana Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. dan lain-lain. Di tingkat daerah juga sudah terbentuk forum-forum serupa seperti Forum Merapi. daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakatnya. Boyolali. Selain badan penanggulangan bencana pemerintah. sebuah perguruan tinggi dari Yogyakarta dan beberapa lembaga donor. program dan kegiatan PRB di tingkat pusat. Forum ini antara lain melibatkan pemerintah daerah beserta PMI di Kabupaten Klaten. Magelang dan Sleman. Adanya forum-forum PRB semacam ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah di seluruh Indonesia. di tingkat pusat dibentuk Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB).

Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut: 1. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi. baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan bencana lintas kementerian dan lembaga. Kementerian Hukum dan HAM mendorong peningkatan dan penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan. 11. 4. Kementerian Luar Negeri mendukung program-program dan kegiatan penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional. saat dan pasca bencana. Kementerian Pertanian merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian. 5. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan kebutuhan transportasi. Kementerian Keuangan penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra. 8. 82 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Kementerian Pertahanan mendukung pengamanan daerahdaerah yang terkena bencana. 10. 2. 7. 9.Secara garis besar. 3. 6. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai. Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan.

Kementerian Lingkungan Hidup merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif. Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang peka terhadap risiko bencana. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal merencanakan dan mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang berdasarkan kajian risiko bencana. advokasi dan deteksi dini dalam pencegahan bencana terkait lingkungan hidup. sandang. Kementerian Riset dan Teknologi melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada situasi tidak terjadi bencana. 18. dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi. 17. 21. 16. Kementerian Pendidikan Nasional merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan.12. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . tahap tanggap darurat. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik. 20. 13. Kementerian Sosial merencanakan kebutuhan pangan. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis. Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan programprogram usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan. serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana. 19. Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan dan mengendalikan pengadaan fasilitas dan sarana komunikasi darurat untuk mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana. 15. 14.2014 83 . dan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

34. Bapeten membantu dalam bidang pemantauan. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial khususnya dari satelit. BATAN membantu dalam bidang pemantauan. pemanfaatan dan pengendalian bahaya nuklir. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik. klimatologi dan geofisika. 29. BMKG membantu dalam bidang pemantauan potensi bencana yang terkait dengan meteorologi. 23.22.2014 . 27. 32. 24. BPN membantu dalam bidang penyediaan data-data pertanahan. 26. 84 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 36. LIPI membantu dalam bidang pengkajian ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun panduan penanggulangan bencana. 25. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mendukung perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana. Tentara Nasional Indonesia membantu dalam kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap darurat bencana. Basarnas mendukung BNPB dalam mengkoordinasikan dan menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR). 35. BPPT membantu dalam bidang pengkajian dan penerapan teknologi khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Bakosurtanal merencanakan dan mengendalikan pemetaan risiko bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis. pemanfaatan dan pengendalian bahaya akibat tenaga atom. 28. Kepolisian Republik Indonesia membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi. 31. 30. Kementerian Perumahan Rakyat mengkoordinasikan pengadaan perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana. 33.

Peraturan Pemerintah No. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. berdaya guna dan berhasil guna. Pasal 3. prioritas. keseimbangan. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia. Dalam situasi normal atau dalam situasi tidak terdapat bencana. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan peraturan-peraturan pemerintah serta peraturan presiden turunan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. dan ilmu pengetahuan dan teknologi. program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 85 . nondiskriminatif. disebutkan bahwa asas-asas pokok dalam penanggulangan bencana meliputi asas kemanusiaan. kebersamaan. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. dan non-proletisi. dan keserasian. keselarasan. transparansi dan akuntabilitas. Tanggung jawab ini. koordinasi dan keterpaduan. dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. meliputi pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. pemulihan kondisi dari dampak bencana. sesuai amanat Pasal 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. sementara prinsip-prinsip penanggulangan bencana mencakup prinsip cepat dan tepat. kemitraan.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia diatur terutama melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. pemberdayaan. sesuai ketentuan Pasal 6. adalah berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.4. keadilan. ketertiban dan kepastian hukum. Dalam pasal selanjutnya. kelestarian lingkungan hidup.

Strategi yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan penanggulangan bencana Indonesia adalah sebagai berikut: 1. sementara fungsi-fungsi yang menjadi tanggung jawab instansi-instansi sektoral tetap dilaksanakan oleh sektor masing-masing. seperti pengadaan sistem peringatan dini letusan gunungapi akan melibatkan Kementerian ESDM melalui Badan Geologi dan pemerintah daerah melalui BPBD. Pembagian peran di antara para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana juga akan menjadi hal yang diatur melalui Renas PB ini. prosedur-prosedur tetap (protap) dan rencana-rencana penanggulangan bencana dari tingkat pusat sampai daerah. misalnya saja.pusat dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangan masing-masing. perguruan tinggi dan LSM. Dalam situasi ini BNPB dan BPBD dapat mengatur instansi-instansi sektoral dalam operasi tanggap darurat. BNPB dan BPBD di tingkat daerah lebih menjalankan fungsi koordinasi dan pelaksana kegiatan pencegahan. Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana dilaksanakan melalui penyusunan peraturan. mitigasi dan kesiapsiagaan. Dalam situasi pasca bencana BNPB dan BPBD kembali menjalankan fungsinya dalam hal koordinasi dan pelaksana kegiatan-kegiatan pemulihan. Pelaksanaan penanggulangan bencana di pusat maupun daerah akan memerlukan koordinasi dengan semua sektor dan unsur masyarakat. dengan BNPB/BPBD sebagai koordinator pelaksanaannya. koordinasi dan sekaligus pelaksana kegiatan tanggap darurat. menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum. Beberapa kegiatan pengurangan risiko bencana tertentu akan memerlukan kerjasama antara berbagai instansi. Dalam situasi darurat BNPB dan BPBD menjalankan fungsi komando. Kegiatan mitigasi struktural seperti membangun tanggul penahan banjir dan jalur-jalur evakuasi. Sosialisasi sistem peringatan dini dan pelatihan penggunaannya akan melibatkan dinas pendidikan. Melalui langkah-langkah ini diharapkan upaya 86 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 misi . Persiapan logistik untuk mencukupi kebutuhan penduduk yang mengungsi dalam situasi darurat menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Sosial. Dalam situasi normal.

Selain itu upaya khusus juga akan dilaksanakan untuk membentuk dan meningkatkan kapasitas badan-badan penanggulangan bencana dan instansi terkait di pusat dan daerah dalam menghadapi situasi pra-bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dalam era desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat. menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas penanggulangan bencana bagi daerah.penanggulangan bencana akan memperoleh arah yang jelas dan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien.2014 87 . Strategi ini diharapkan akan membantu mewujudkan pembangunan yang lebih tahan terhadap risiko bencana dan menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap bencana. RPJMD. BNPB akan membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. Dengan demikian program dan kegiatan pengurangan risiko tidak akan berdiri sendiri tetapi terpadu ke dalam program pembangunan reguler. Oleh karena itu. Pemaduan program pengurangan risiko ke dalam rencana pembangunan Program-program pengurangan risiko bencana sedapat mungkin dipadukan ke dalam rencana pembangunan di tingkat pusat dan daerah. dalam hal ini BNPB. Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah masing-masing. Koordinasi dan kerjasama juga akan ditingkatkan antara instansi dan aparat pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang handal. baik ke dalam RPJM. saat tanggap darurat dan saat pemulihan pasca bencana. 2. Pemberdayaan perguruan tinggi Strategi ini bertujuan untuk memberdayakan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dan mengembangkan pengetahuan serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. RKP. 3. Renstra dan Renja Kementerian/Lembaga. RKPD dan Renja Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Bagaimanapun juga komunitas merupakan pihak yang pertama-tama berhadapan dengan risiko bencana. Mengingat Indonesia begitu luas dan memiliki penduduk yang tersebar di ribuan pulau. terutama untuk menghadapi tanggap darurat. kaum minoritas dan mereka yang terpinggirkan. Keberadaan satuan ini akan meningkatkan kapasitas tanggap bencana Indonesia secara signifikan. 6. yang berbasis di Lanud Abdul Rahman Saleh. Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRCPB) Dalam menghadapi bencana yang berdampak besar. Mengingat kapasitas tanggap darurat pemerintah yang masih terbatas. 5. adalah lebih efektif bila kapasitas penanggulangan bencana dibangun di tingkat komunitas. melalui program-program spesifik yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dan anak. kerelawanan akan didorong pada semua tataran dan lapisan masyarakat. Di tingkat nasional ada dua SRC-PB induk yang dibentuk.2014 . yang berbasis di Lanud Halim Perdana Kusuma. dan satu di Malang. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat Selain memanfaatkan perguruan tinggi daerah. Satuan ini memiliki anggota pilihan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bidang keahlian. Selain itu perhatian juga akan diberikan untuk masyarakat miskin. adalah lebih ekonomis dan efektif membangun kapasitas masyarakat. satu di Jakarta. strategi yang dilakukan adalah membentuk Satuan Reaksi Cepat (stand-by force) untuk penanggulangan bencana. sementara satuan yang bermarkas di Malang akan melayani kawasan Indonesia Timur.4. Program pengurangan risiko untuk kelompok dengan kebutuhan khusus Pendekatan khusus juga akan diterapkan untuk mendorong kesetaraan gender dalam program-program kebencanaan dan pengurangan risiko. Untuk tujuan ini. serta para penyandang cacat maupun 88 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . strategi lain yang juga akan digunakan adalah pembangunan kapasitas masyarakat di daerah rawan yang menghadapi risiko bencana yang tinggi. Satuan yang bermarkas di Jakarta akan melayani kawasan Indonesia Barat.

Peningkatan peran dunia usaha Kalangan dunia usaha diharapkan dapat berkontribusi lebih besar lagi dalam menggalang dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). nasional maupun internasional kian berperan besar terutama pada saat tanggap darurat dan pasca bencana. 8. Kalangan dunia usaha juga dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui keterlibatan aktif dalam forum-forum pengurangan risiko bencana seperti melalui Platform Nasional PRB ataupun forum-forum serupa di tingkat daerah. terutama untuk mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat masyarakat. agar program-program pengurangan risiko bencana tidak meningkatkan kerentanan mereka.2014 89 . baik LSM lokal. terutama yang bergerak dalam bidang finansial. dapat berkontribusi melalui upaya-upaya pengembangan mekanisme transfer risiko seperti asuransi bencana dan perangkat-perangkat serupa lainnya. Peningkatan peran LSM dan organisasi mitra pemerintah Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini. 7. Terkait dengan pengurangan risiko.kelompok dengan kebutuhan khusus lainnya. Pemerintah akan bekerja sama lebih erat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mitra lainnya dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. sektor swasta. Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi. pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang relawan dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. termasuk melalui penyelenggaraan pelatihan-pelatihan dan peningkatan kapasitas relawan. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . tetapi sebaliknya mendukung ketangguhan mereka terhadap bencana. Terkait dengan itu.

2014 .90 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

BAB V PROGRA AM Renas PB m memuat prog gram dan fok prioritas sebagai dasa dalam kus ar membuat kegiatan penanggulangan bencana. Program me n erupakan penjabaran dari visi da misi serta pilihan tind an a dakan sesuai dengan i manajemen risiko. ar perencanaa kelembaga an.1. Hal ini didukun oleh 3 (tig misi yang diemban pi ng ga) yaitu memb bangun sistem penanggul langan benca untuk me ana elindungi bangsa dar ancaman bencana me ri elalui pengur rangan risiko dengan menyelengg garakan penanggulangan b bencana secar terencana. aan. Sistem ini d dibangun untu menjawab permasalaha yang dihad uk b an dapi saat ini (Bab III) dan diterje emahkan ke dalam progr ram-program sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . ra terkoordina dan menye asi eluruh. G Gambar 5. Visi penanggulang bencana (Bab VI) sec n gan cara jelas menyebut cita-cita unt tuk menjadik kan bangsa y yang tangguh dalam menghadap bencana. terpadu.2014 91 . Sis stem Penanggu ulangan Bencan Indonesia na Sistem pen nanggulangan bencana I n Indonesia ya ang saat ini tengah dibangun memiliki 5 (lima) pila berupa sub-sistem legislasi. pendana dan peng aan gembangan k kapasitas.

atau dikenal dengan mitigasi. Kegiatan sebelum terjadi bencana/pra bencana sering disebut dengan pengurangan risiko bencana. maka yang terakhir dilakukan adalah menerima risiko (risk acceptance) dan melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan. Selain program-program pengurangan risiko bencana juga terdapat program pada saat bencana dan pasca bencana. Ketujuh program di atas merupakan program yang dilakukan sebelum terjadi bencana. Program pada saat bencana adalah 8) program tanggap darurat dan program pasca bencana disebut 9) program rehabilitasi dan rekonstruksi. Pertama-tama dilakukan tindakan untuk memisahkan potensi bencana yang mengancam dengan elemen berisiko (element at risk). dan 4) peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lain dalam pengurangan risiko bencana. Apabila ketiga tindakan tersebut sudah dilakukan tetapi masih ada risiko. 2) perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu. Mitigasi ini dapat dilakukan secara struktural maupun non-struktural. pendidikan dan pelatihan. Paradigma pengurangan risiko bencana merubah pola pikir yang responsif menjadi preventif dengan pendekatan manajemen risiko. Tindakan ini dikenal dengan pencegahan (risk avoidance). Bila pengurangan risiko sudah dilakukan dan masih tetap ada risiko. Apabila suatu wilayah mempunyai risiko tinggi maka upaya pengurangan risiko dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan. dan 7) kesiapsiagaan. Dengan demikian Renas PB mempunyai 9 (sembilan) program. Tindakantindakan dalam manajemen risiko di atas dijabarkan dalam program yaitu: 5) pencegahan dan mitigasi bencana. sehingga dalam pembuatan rencana aksi pengurangan risiko bencana hanya menggunakan 7 (tujuh) program tersebut. 92 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Apabila antara potensi bencana dengan elemen berisiko tersebut tidak dapat dipisahkan (harus bertemu) maka upaya yang dilakukan adalah pengurangan risiko (risk reduction).berikut : 1) penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan. dilakukan pengalihan risiko ke pihak lain (risk transfer) misalnya melalui sistem asuransi bencana. 3) penelitian. 6) peringatan dini.

Prog gram dan fokus prioritas dalam Renas PB s No.Gam mbar 5. masyarakat maupun lem t mbaga usaha sebagai rencan aksi. rotap Penangg gulangan Benca yang memuat ana Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sebagai ren ncana. Pilihan tindakan dala manajemen risiko bencan am n na Selanjutnya agar le a ebih terarah. na Program da fokus priori dalam Renas PB adalah sebagai beri an itas h ikut : T Tabel 5. program m-program tersebut dideskripsik kan menjadi fokus priorit tas.2014 93 . Gambaran prioritas ini sebagai ara ahan dalam menyusun k kegiatankegiatan ya akan dilak ang ksanakan oleh pelaku penanggulangan bencana h yang multi stakeholder. sehingga leb terfokus.2.1 Penyusu unan peraturan perda dan pr n. Renas PB menggamb P barkan progra dan fokus prioritas am dalam lima tahun men a ndatang. Seca umum R ara Renas PB me empunyai sembilan pr rogram dan empat puluh t tujuh fokus pr rioritas. Fokus p prioritas dima aksudkan untuk mem mberikan gam mbaran priori itas dari mas sing-masing p program.1. Secar khusus ra setiap program memiliki fokus prioritas sebelum d dideskripsikan menjadi n kegiatan-ke egiatan yang akan dilaksan nakan oleh Ke ementerian/L Lembaga. Sehingga dih bih harapkan tidak terjad suatu kegia di atan dilakuka oleh lebih dari 1 (satu) instansi an ) atau ada suatu kegiatan yang tidak dilakukan oleh s y satupun instansi. 1. PR ROGRAM Penguatan peratu uran FOKUS PRIO ORITAS 1.

4 1. pendidikan dan pelatihan 1.7 1.1 3.2 1.2 3. Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Standarisasi pedoman-pedoman dan acuan penanggulangan bencana Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lembaga Pengkoordinasian penganggaran Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 94 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Satuan Reaksi Cepat Daerah) Penguatan kapasitas manajemen PB di daerah Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) dan penyediaan relawan yang memadai Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana Pembentukan Regionalisasi Depo Logistik.3 mekanisme PB.9 2.3 1. kewenangan dan sumber daya.2 3. termasuk pembagian tugas. Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian. 3.8 2.6 1.1 2.perundanganan dan kapasitas kelembagaan 1. serta koordinasi Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.2014 .5 1.

4.2 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana 5. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB 5.1 Pembangunan Sistem Peringatan Dini 95 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .1 Pemetaan risiko bencana 5.6 Penerapan upaya mitigasi struktural dan nonstruktural 5.3 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5.7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan 4.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) 4. Peringatan dini 3. anak dan kelompokkelompok marjinal 5.4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah 3.5 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana 5. Pencegahan dan mitigasi bencana 6.1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 4.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 3.7 Penelitian dan Pengembangan 6.6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 3.4 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5.2 Pengembangan forum pengurangan risiko bencana (PRB) di daerah 4.7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan 4.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan 4.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 4.2014 .

hunian sementara. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 8.2 9.3 Pembentukan Satuan-satuan Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional 7.2 Pencarian.2014 . layanan kesehatan.1 Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Pemulihan sarana-prasarana publik dan 9.9 Penyusunan rencana kontijensi 7.1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur 7. pengembangan teknologi informasi 7.2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggap darurat 7.7. Tanggap darurat 7.6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara 7.10 Peningkatan Penyuluhan. Rehabilitasi dan rekonstruksi 9. sandang. air bersih dan sanitasi 8.8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi real-time untuk tanggap darurat.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan 7.4 96 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 9.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan 7.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar 7.3 Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.1 Kaji cepat bencana 8. penyelamatan dan evakuasi 8.5 Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui antara lain pendidikan-pelatihan. Kesiapsiagaan 8.3 9.4 Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 8.

5 (pencegahan dan mitigasi) sebenarnya terdapat program yang sifatnya generik ditunjukkan fokus prioritas no. Pada program no. Pusat Pelatihan dan Pusdalops pada 12 lokasi. Secara umum. Selanjutnya program no. Maksud regionalisasi ini adalah untuk mendukung logistik dari daerah berisiko tinggi. Dalam 5 (lima) tahun kedepan BNPB merencanakan akan mempunyai kepanjangan tangan di daerah dengan membangun Regionalisasi Depo Logistik. 1 sampai dengan 4.2 sampai dengan 5.5.1. dapat dilihat bahwa program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana adalah program no.9. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai Dalam Tabel 5. 5. termasuk diantaranya penyiapan relawan penanggulangan bencana sebanyak 10.5 9.2014 97 .6 rekonstruksi rumah warga korban bencana Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui antara lain pendidikanpelatihan. dan regionalisasi pelatihan penanggulangan bencana dengan pendekatan kearifan local. Sasaran juga mengindikasikan lokasi-lokasi yang harus diprioritaskan karena memiliki risiko tinggi terhadap suatu ancaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . masing-masing fokus prioritas mempunyai sasaran (Lampiran 3-17) yang menggambarkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan untuk menjawab isu dan permasalahan yang dihadapi. Fokus prioritas dengan membentuk Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) merupakan implementasi program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana. 5 sampai dengan 9 merupakan program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana.000 personil.

Instansi utama merupakan instansi yang mempunyai peran utama dan mengkoordinasi instansi terkait. sehingga Renas PB adalah wujud kesepakatan bersama dalam mencapai sasaran yang diinginkan dalam lima tahun ke depan. Lokasi-lokasi ini merupakan hasil dari analisis risiko bencana dengan mempertimbangkan bahaya. Sedangkan instansi terkait berperan sebagai instansi penunjang yang membantu instansi utama dalam mencapai sasaran. 98 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Semangat bahwa penanggulangan bencana adalah urusan bersama dituangkan dalam penyusunan Renas PB. Instansi utama dalam program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana terdiri dari 1 (satu) instansi. Hal yang paling penting dalam melaksanakan program-program Renas PB adalah kesepakatan dan keterlibatan seluruh instansi. dimana instansi utama bisa lebih dari 1 (satu) instansi. Sebagai contoh dalam mencapai sasaran terwujudnya peta risiko bencana banjir skala 1:50. sehingga dalam penyusunan Renas PB masing-masing instansi mempunyai peranan penting.2014 . Hal tersebut berbeda dengan instansi utama pada program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. Tiga instansi ini telah memulai dengan membuat MoU atau kesepakatan mengenai pembuatan peta risiko bencana banjir. BMKG dan Bakosurtanal. Dalam hal ini sebagian besar instansi utamanya adalah BNPB sebagai perwujudan Pasal 13 huruf b UU No.000 (Lampiran 8). terpadu dan menyeluruh.bencana. 24 Tahun 2007 bahwa BNPB mempunyai fungsi pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu keterlibatan berbagai institusi (Kementerian/ Lembaga) sebagai instansi utama dan instansi terkait. instansi utamanya adalah Kementerian PU. kerentanan dan kapasitas (Bab II).

.

.

000. Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp.BAB VI ANGGARAN DAN PENDANAAN 6.00 64.060. 6.(enam puluh empat triliun empat ratus tujuh delapan puluh lima miliar enam puluh juta rupiah).415.000. 6. 4.50 822.00 7.(dua belas triliun delapan ratus sembilan puluh lima miliar dua belas juta rupiah). pendidikan dan pelatihan Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB Pencegahan dan mitigasi bencana Peringatan dini Kesiapsiagaan Tanggap darurat Rehabilitasi dan rekonstruksi TOTAL 5.008. 9.000.60 No.80 1.475. 1. 7.000.50 14.677.1. 12.2014 99 .00 24. PROGRAM Penguatan peraturan perundanganan dan kapasitas kelembagaan Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.1 ANGGARAN Anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana ini adalah Rp.012.855. 2.) 30. 64. Tabel 6.06 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .475. 3..665. 8.638.50 2.16 368. Atau rata-rata pertahun Rp.895.

Program perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu diperlukan dana Rp. pembentukan 33 Pusat Studi Bencana di berbagai perguruan tinggi.100 desa siaga bencana di 33 provinsi.638. 6. Program pencegahan dan mitigasi diperlukan dana Rp.665.000 penelitian di 33 Perguruan Tinggi di Indonesia.000 guru. serta penusunan penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana.Dalam program penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan diperlukan dana Rp. yang akan dipergunakan untuk kegiatan penyusunan Renas PB dan rencana penanggulangan bencana serta pengarusutamaan rencana penanggulangan bencana ke dalam rencana pembangunan di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota.500. penguatan peran media dalam menumbuhkan 100 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . pendidikan publik guna meningkatkan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota.-.600.000. pelatihan 4.000. 2.000.000.-.000.000. Program penelitian. 24.160. pendidikan dan pelatihan diperlukan dana Rp 368. Dana ini akan digunakan untuk penyusunan pedoman tata ruang dan tata guna lahan.500. pembentukan sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota dan 5 lokakarya tahunan tentang PRB berbasis komunitas. pembentukan 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan.000. 30. terbentuknya kantor regional.-. penyusunan peraturan pemerintah dan peraturan daerah tentang pengelolaan sumberdaya alam yang rawan di 33 provinsi.000. penguatan BPBD di 33 Provinsi dan 275 kabupaten/kota. penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana.-. Program peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB dengan alokasi dana Rp.855. Dana ini akan dialokasikan untuk pembiayaan 3. pembentukan kelompokkelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan. peningkatan penerapan teknologi untuk dalam penanganan 14 macam bencana (termasuk pengembangan sistem peringatan dini).2014 .-. Dana tersebut akan digunakan untuk pembentukan 1. yang akan dipergunakan diantaranya meningkatkan sumberdaya manusia dalam penanggulangan bencana berupa pelatihan terhadap staf BPBD Provinsi.000.000.000.

0 4. 4.677.000.2..-.) 12.0 1.000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan.000. Dana terbesar dialokasikan untuk bencana gempa bumi. 822. pengumpulan dan evakuasi korban padsa saat terjadi bencana Pembiayaan terbesar terdapat pada program rehabilitasi dan rekonstruksi Rp.5 931.diantaranya untuk pembentukan 2 SRC-PB yang berkedudukan di Malang dan Jakarta dan akan dibentuk juga 12 SRC di 12 kantor regional. 3.415. penyediaan kebutuhan hunian darurat. Program kesiapsiagaan dengan alokasi dana Rp 7.000.111.2014 .6 101 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Penggunaaan dana tersebut diantaranya adalah untuk pengkajian kerusakan dan kerugian. penyediaan stok logistik kebutuhan dasar. peningkatan peningkatan akses komunikasi di kantor pusat dan 33 provinsi.000. dan sosialisasinya. Program peringatan dini Rp.008.000. penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi.000. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan mobilisasi sumberdaya.489.000. Tabel 6.500.budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat dengan melatih 2. JENIS BENCANA Gempabumi Tsunami Gunungapi Gerakan Tanah ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp. peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan.800. Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB No.dialokasikan untuk pemasangan sistem peringatan dini di provinsi yang rawan bencana. 14. Program tanggap darurat Rp 1. 1. asuransi bencana di tiap provinsi. Hal ini mengingat pada bencana gempa bumi pembangunan sarana dan prasara publik pada umumnya memerlukan pembangunan kembali. 2.-.000. pembuatan modifikasi cuaca.007. pemulihan sarana dan prasaran publik serta pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis korban bencana.

500.2014 .000. Anggaran yang berasal dari dana APBN dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Kementerian/Lembaga untuk menjamin agar upaya penanggulangan bencana dapat berjalan secara berkesinambungan.5. dan dukungan dunia usaha serta lembaga donor. Begitu pula.-. Hal ini disebabkan pada program rehabilitasi dan rekontruksinya masih mengalokasikan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah pasca bencana yang belum selesai.000. 12. Di lain pihak.000.497. anggaran penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah yang berasal dari dana APBD dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah. anggaran rencana penanggulangan bencana akibat kegagalan teknologi dan konflik sosial adalah yang terkecil yaitu masing-masing sebesar Rp.dan Rp.000.2 PENDANAAN Sumber pendanaan untuk pelaksanaan rencana penanggulangan bencana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).000. 13. 2.000. 12.atau rata-rata pertahunnya kurang dari Rp.(estimasi).5 380. terutama paska gempabumi di Jawa Barat bagian selatan dan Sumatra Barat sebesar Rp. 151.500. 102 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .489.000. 9. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). 7. 156.2 474..463.8.5 23. 32.000. Banjir Kekeringan Kebakaran Hutan dan Lahan Erosi Kebakaran Gedung&Perumahan Gelombang Ekstrim & Abrasi Cuaca Ekstrim Kegagalan Teknologi Epidemi & Wabah Penyakit Konflik Sosial TOTAL 2.800. 6.- 6.0 151. 14.000.5 197.150.5 156.000.0 650.8 Apabila diklasifikasi berdasarkan jenis bencana (Tabel 6. 8.5 241.5 312. maka rencana penanggulangan bencana gempabumi memiliki anggaran yang paling besar yaitu Rp.untuk 5 (lima) tahun atau ratarata pertahun sebesar Rp.2).000.000. 10. 11..5 210...000.

2014 103 . Mekanisme pendanaan yang berasal dari anggaran non-pemerintah diatur sesuai aturan masingmasing lembaga atau instansi. anggaran kegiatan penanggulangan bencana juga dapat berasal dari bantuan donor. Artinya. Artinya. tanggap darurat dan pasca bencana. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk kegiatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dalam situasi tidak terjadi bencana. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk program-program pengurangan risiko bencana. BNPB dan/atau BPBD sesuai tugas pokok dan fungsinya. Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. Dana penanggulangan bencana digunakan untuk tahap tidak ada bencana. dana penanggulangan bencana digunakan oleh Pemerintah. Programprogram di dalam Renas PB yang spesifik instansi dibiayai dari anggaran masing-masing instansi bersangkutan. pelaksanaan program dan kegiatan dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 ini harus disesuaikan dengan nomenklatur anggaran terkait penanggulangan bencana dari Kementerian/Lembaga. Dalam situasi ada potensi terjadinya bencana. Di samping pendanaan dari pemerintah. sebagian besar sumber daya dan pembiayaan untuk kegiatan penanggulangan bencana terpadu ke dalam kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. yang mengacu pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Bantuan dana dari pihak asing. Pemerintah Daerah. Pendanaan yang berasal dari APBN mengacu pada sistem penganggaran yang diatur melalui keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan. tetapi terintegrasi ke dalam anggaran yang terkait dengan kepentingan penanggulangan bencana. dunia usaha ataupun dari dana masyarakat sendiri. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana. sementara itu program penanggulangan bencana yang bersifat umum dibiayai melalui anggaran BNPB. harus disampaikan atau dikirimkan secara langsung kepada BNPB.Anggaran untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan merupakan dana tambahan (on top) terhadap anggaran Renstra Kementerian/Lembaga.

Pemerintah daerah mengajukan permohonan untuk dana ini kepada pemerintah pusat melalui BNPB. Untuk mengantisipasi situasi tanggap darurat. Balai/Balai Besar Kementerian/Lembaga) mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 104 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan peraturan perundangan turunannya (Peraturan Menteri/Kepala Lembaga bersangkutan) dengan mengacu kepada rencana penanggulangan bencana di daerah. Sedangkan untuk tahap pasca bencana.2014 .kesiapsiagaan. pemerintah mengalokasikan dana bantuan sosial berpola hibah yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah. Pengajuan anggaran kegiatan penanggulangan bencana dari instansi vertikal di daerah (TNI. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. Kanwil. pemerintah mengalokasikan dana siap pakai (on-call budget) yang harus selalu tersedia untuk kebutuhan saat tanggap darurat. pembangunan sistem peringatan dini dan kegiatan mitigasi bencana. Kepolisian.

.

.

Ppn/09/2002 tentang Sistem Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Proyek Pembangunan. 70 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. 60 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan dan sasaran pembangunan. 80 Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas No. 292/M. Kep. EVALUASI DAN PELAPORAN Pemantauan (monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan agar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan realisasi penyerapan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan yang tercantum di dalam Renas PB ini dilaksanakan dengan mengacu pada perangkat hukum berikut: 30 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan. 40 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.BAB VII PEMANTAUAN. Kep-102/Mk.2/2002 dan No. 50 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. 7.2014 105 .1 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan Renas PB dan mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul agar dapat diambil tindakan sedini mungkin.

Selain untuk menemukan dan menyelesaikan kendala yang dihadapi. dan Kemanfaatan. kinerja program serta hasil-hasil yang dicapai. Pelaksanaan pemantauan (dan juga evaluasi) dilaksanakan dengan memperhatikan asas Efisiensi. realisasi pencapaian target keluaran (output) dan kendala yang dihadapi. Keterlibatan aktif unsur luar dapat diakomodasi dalam bentuk kelompok kerja yang dikoordinasikan oleh pemerintah.2014 . kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Renas PB serta mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatankegiatan pengurangan risiko bencana. Pemantauan dapat dilaksanakan antara lain melalui kunjungan kerja ke program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. tepat lokasi dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal. yakni tingkat seberapa jauh program/kegiatan mencapai hasil dan manfaat yang diharapkan. pelaksanaan pemantauan sebaiknya juga menilai aspek Konsistensi. Laporan hasil pemantauan disusun setiap enam bulan sekali (semester). LSM dan kelompok profesional. rapat kerja atau pertemuan dengan pelaksana kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan dan kendala yang ditemui. dan pengecekan laporan pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko yang dikaji berdasarkan rencana kerja yang tercantum dalam Renas PB. Kapasitas dan Keberlanjutan dari pelaksanaan suatu rencana program/kegiatan. Selain ketiga asas tersebut. Konsultasi.. Koordinasi.dana. Pemantauan pelaksanaan Renas PB dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masingmasing. Pasal 6 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar “Rencana penanggulangan bencana. Kegiatan pemantauan juga dapat melibatkan masyarakat (misalkan melalui Platform Nasional PRB). ditinjau secara berkala setiap 2 106 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .. yakni derajat hubungan antara barang/jasa yang dihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output). Efektivitas. yaitu kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) dapat diselesaikan tepat waktu. Pemantauan harus dilakukan secara berkala untuk mendapatkan informasi akurat tentang pelaksanaan kegiatan.

Evaluasi pelaksanaan Renas PB dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang atau jasa dan terhadap hasil (outcome) program yang dapat berupa dampak atau manfaat bagi masyarakat dan/atau pemerintah. Kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis.2014 107 . Di samping membandingkan antara target dan pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Renas PB. keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar.(dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana”. evaluasi juga menjamin adanya tanggung-gugat (akuntabilitas) dan membantu meningkatkan efisiensi serta efektivitas pengalokasian sumber daya dan anggaran. Tabel 7. Format pemantauan dan evaluasi Sumber Pendanaan Keterangan (Tindak Lanjut) Kegiatan Alokasi Sasaran (Target) Pencapaian (Realisasi) APBN Lain-lain Selain berguna untuk memperbaiki pengelolaan program di masa yang akan datang. evaluasi juga dapat dilakukan dengan mengkaji dampak yang ditimbulkan melalui pelaksanaan Renas PB. Pada hakikatnya evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). Kedua cara ini dapat saling mendukung dalam memberikan informasi yang bermanfaat untuk Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . objektif dan transparan. Selain dinilai berdasarkan efektivitas dan efisiensinya. Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana program berikutnya. kinerja program pengurangan risiko bencana yang tercantum dalam Renas PB diukur juga berdasarkan kemanfaatan serta keberlanjutannya. Evaluasi berkala ini bertujuan untuk menilai hasil yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan pengurangan risiko bencana serta efektivitas dan efisiensi program dan kegiatan tersebut.1. menyeluruh. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumber daya yang digunakan serta indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan dan/atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program.

kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan Renas PB. Laporan juga akan berisi rekomendasi tindak lanjut bagi instansi/lembaga tertentu jika diperlukan. BNPB akan mengkoordinasikan sebuah peninjauan atau evaluasi tengah program yang melibatkan semua Kementerian/Lembaga dan pihak terkait lainnya. Evaluasi dapat melibatkan pihak luar. Harapannya adalah agar semua laporan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dapat terdokumentasi dengan baik dan secara resmi dikeluarkan oleh BNPB. Seperti pemantauan. 7. Pada akhir tahun kelima akan diadakan sebuah evaluasi akhir menyeluruh yang hasilnya akan dituangkan dalam sebuah laporan akhir yang selain berisi laporan kegiatan dan pencapaiannya juga berisi kajian atas keberhasilan/kegagalan dari semua program dan kegiatan pengurangan risiko yang telah dilaksanakan selama kurun waktu Renas PB. Laporan disusun setiap tahun dan satu salinan dari laporan ini dikirim kepada BNPB untuk disatukan dengan laporan tahunan tingkat nasional. 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Laporan hasil evaluasi disusun setiap satu tahun sekali.2 PELAPORAN Pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana harus dilaporkan dalam sebuah laporan tertulis. Pada akhir tahun kedua dan keempat pelaksanaan Renas PB. tetapi tetap di bawah koordinasi instansi pemerintah terkait. evaluasi pelaksanaan Renas PB juga dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.

.

.

hilangnya rasa aman. Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna. jiwa terancam. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. harta benda. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan bencana.Lampiran 1. kegiatan pencegahan bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang mengurangi risiko timbulnya bencana. kerusakan lingkungan. perlindungan. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. luka. dan gangguan kegiatan masyarakat. Daftar istilah dan pengertian-pengertian (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. pemenuhan kebutuhan dasar. tanggap darurat dan rehabilitasi. pengurusan L-1 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lampiran . sakit. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. kerusakan atau kehilangan harta. kerugian harta benda dan dampak psikologis. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. mengungsi.

Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. yang selanjutnya disingkat RPJM. adalah lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. yang selanjutnya disingkat BNPB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. yang selanjutnya disebut Rencana L-2 Lampiran . Badan Nasional Penanggulangan Bencana. yang selanjutnya disingkat RPJP. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. Pemerintah Pusat. yang selanjutnya disebut Pemerintah. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. serta pemulihan prasarana dan sarana publik. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bupati/Walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.(9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) pengungsi. adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. penyelamatan. tegaknya hukum dan ketertiban. sosial dan budaya. adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga. yang selanjutnya disingkat BPBD. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Rencana Pembangunan Jangka Panjang.

Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (RenjaKL). Rencana Pembangunan Tahunan Nasional. adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. adalah dokumen perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah Lampiran L-3 . yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP). adalah dokumen perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode1 (satu) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode I (satu) tahun.(18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL). Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. adalah dokumen perencanaan kementerian/lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode I (satu) tahun. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

Peta-Peta Risiko Bencana " Lampiran .L-4 Lampiran 2.

Lampiran " L-5 .

L-6

Lampiran

"

Lampiran

"
L-7

L-8

Lampiran

"

Lampiran

L-9

"

L-10

Lampiran

"

Lampiran

L-11

"

L-12

Lampiran

"

Lampiran

L-13

"

L-14 Lampiran " .

Lampiran L-15 " .

L-16 " Lampiran .

" Lampiran L-17 .

L-18 " Lampiran .

" Lampiran L-19 .

L-20 " Lampiran .

" Lampiran L-21 .

KementerianE SDM .KRT .Kementerian Dalam Negeri 25 miliar 1.TNI .Kementerian kehutanan . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk kategori program-program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana.PMI Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi terkait: . Sandingan Program.BMKG . kewenangan dan sumber daya. serta 350 miliar L-22 Lampiran . Fokus Prioritas. Perda. Satuan Penguatan BPBD di 33 provinsi dan terbentuknya BPBD di 275 kabupaten/ kota.BNPB Instansi terkait: . NO. perda dan protap Penanggulangan Bencana yang memuat mekanisme PB. termasuk pembagian tugas.Kementerian Kesehatan .Polri . 1.Basarnas .Bakosurtanal .BPPT . protap Penanggulangan Bencana tersusun di tingkat pusat dan 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: . Sasaran. serta koordinasi Peraturan.2 Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.Lampiran 3. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) PROGRAM : PENGUATAN PERATURAN PERUNDANGAN DAN KAPASITAS KELEMBAGAAN 1.Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .LIPI .1 Penyusunan peraturan.

PMI Instansi utama: .BNPB 16.5 miliar Terbentuknya 12 kantor regional 30.Basarnas .6 Pembentukan Regionalisasi Depo 33 Pusat Studi Bencana didirikan di Perguruanperguruan Tinggi di seluruh Indonesia 16.PT Instansi utama: .Kementerian Pendidikan Nasional .Kementerian kehutanan .BPPT .Kementerian PAN Instansi utama: .BMKG .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .000 staf teknis/pelaksana BPBD provinsi dan SKPD terkait menerima pelatihan teknis PB .5 Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana 1.LIPI .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Sosial .3 Diklat penguatan kapasitas manajemen PB di daerah tersedianya sarana pendukung sesuai standar minimum 3.Kementerian Komunikasi dan Informasi .000 miliar Lampiran L-23 .Kementerian Dalam Negeri .300 orang pejabat BPBD di 33 provinsi memperoleh pelatihan manajemen PB 40.Reaksi Cepat Daerah) 1.4 Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) 200 miliar 1.BNPB Instansi terkait: .5 miliar 1.BNPB Instansi terkait: .Kementerian ESDM .Kementerian Perhubungan .

BSN .Kementerian Sosial .BPPT . Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Instansi terkait: .LIPI .BNPB Instansi terkait: .9 Pengkoordinasian penganggaran 20 Koordinasi sinkronisasi pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana 10 miliar 20 koordinasi penganggaran sektor penanggulangan 10 miliar L-24 Lampiran .Kemenko Kesra 10 miliar 1.BMKG .Kementerian ESDM .PMI .TNI .Kemenko Kesra Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kelautan dan Perikanan .KementerianE SDM .Logistik.Basarnas .8 Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lemb aga 1.KRT .Kementerian PU .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana Instansi utama: .Polri 20 SNI pedoman dan acuan penanggulangan bencana Instansi utama: .Kementerian Perhubungan .Bulog .BMKG Instansi utama: .7 Standarisasi pedomanpedoman dan acuan penanggulangan bencana 1.

Kementerian Pendidikan Nasional Instansi utama: .Bappenas Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: . Renstra SKPD di 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana 2.Kementerian ESDM .BPPT . PROGRAM : PENELITIAN. PROGRAM : PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA YANG TERPADU 2.1 Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana 3.16 miliar 3.Kementerian Pendidikan Nasional .2 Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Tersusunnya Renas PB dan Rencana Penanggulangan Bencana di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota PRB dalam RPJM.Bappenas 18 miliar Instansi utama: .BNPB . PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 3.bencana Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan 150 miliar Iptek dikembangkan dan diaplikasikan untuk 14 ancaman utama 128 miliar Lampiran L-25 . Renstra K/L.000 penelitian diadakan di 33 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia Instansi utama: .2 Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini 3.KNRT Instansi terkait: .LIPI .1 Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah 2.BNPB Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri 6. RPJMD.

000 guru dan tokoh masyarakat di 33 provinsi Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi utama: .BNPB 3.BNPB Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: .Depdiknas Instansi terkait: .5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 20 miliar 3.Kementerian Sosial 5 miliar 5.3 Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 3.Kementerian Luar Negeri .BMKG ..5 miliar 3.KementerianE SDM . lokakarya internasional dua tahun sekali 10 miliar L-26 Lampiran .Kementerian PU .BNPB .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian PU .BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan .6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 5 lokakarya tahunan PRB-BK diselenggarakan di tingkat nasional.Kementerian kehutanan .4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah Kurikulum sekolah di tingkat pusat dan daerah mengandung muatan Penanggulangan Bencana 275 sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota menerapkan program kesiapsiagaan bencana Pelatihan 4.

Kementerian Kesehatan .Polri .BPPT .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Polri .BMKG .KNRT .BPPT .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas .Kementerian Sosial .Kementerian ESDM .TNI .Bakosurtanal .LIPI .KRT ..Kementerian Kehutanan .PMI 50 miliar Lampiran L-27 .PMI 3.Dephut .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .TNI .7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan Peningkatan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota akan masalah kebencanaan Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .LIPI .Basarnas .BNPB .Kementerian PU .

Kementerian LH Instansi terkait: .Polri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH 5 miliar 4.Kementerian LH Instansi terkait: .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian ESDM .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian PU .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .BNPB .2 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5 miliar 4.Kementerian ESDM .Kementerian Hukum dan HAM .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri .Kejaksaan .1 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan Sumber Daya Alam yang rawan di 33 provinsi Instansi utama: . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 4.3 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana Tingkat kepatuhan terhadap peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5 miliar L-28 Lampiran .BNPB .4.

Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan 4. PROGRAM : PENINGKATAN KAPASITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PARA PEMANGKU KEPENTINGAN LAINNYA DALAM PRB 5.rekomendasi tata ruang berbasis risiko bencana pada provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi Instansi Utama : .BNPB 10 miliar 33 forum pengurangan risiko bencana terbentuk Instansi utama: .BNPB 6.Kementerian ESDM .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .2 Pengembangan forum pengurangan 2.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian ESDM .BPN .Kementerian Kehutanan .Kementerian PU .000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan Instansi utama: .BMKG .4 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana .Kementerian Dalam Negeri ..Bappenas .6 miliar Lampiran L-29 .Pedoman tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko skala 1:50.Kementerian PU Instansi terkait: .1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 5.Deptan .000 .Kementerian LH 140 milyar 5.Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Pendidikan Nasional .5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan Terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan 74 miliar L-30 Lampiran .Kementerian Kelautan dan Perikanan 5 miliar 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan 5.Kementerian Kesehatan .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi utama: .Kementerian Pertanian .3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan di 33 provinsi Instansi terkait: .100 Desa siaga bencana terbentuk di 33 provinsi 110 miliar 5.PMI .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .risiko bencana (PRB) di daerah 5.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Sosial .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Sosial .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Negara UKM Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .BMKG .Kwarnas Pramuka Instansi utama: .

1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur Dua SRC PB Nasional di Jakarta dan Malang mengadakan latihan rutin dan ditingkatkan kapasitasnya dalam merespons bencana Implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response) 12 Satuan Reaksi Cepat (SRC PB) Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: .7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.Kementerian Pemberdayaan Perempuan Instansi terkait: .Kementerian PU .Polri .Kementerian Keuangan . Meningkatnya kapasitas kaum perempuan.BNPB 2.Kementerian Pertanian 5.Bappenas Instansi utama: .Kementerian Sosial Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri ..KPDT . anak dan kelompokkelompok marjinal 6.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .3 Pembentukan Satuan-satuan 50 miliar 120 miliar Lampiran L-31 . anak dan kelompok marjinal dalam menghadapi bencana di wilayah berisiko tinggi 150 miliar PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 6.Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Sosial .500 miliar 5.BNPB 5.BNPB .2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggapa darurat 6.BNPB Instansi terkait: .TNI .6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) Asuransi bencana di tingkat pusat dan daerah untuk perumahan Instansi utama: .000 miliar 6.Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .

Kementerian Perhubungan Instansi terkait: .4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar Tersedianya stok logistik kebutuhan dasar 6.TNI .PMI Instansi utama: .PMI Instansi utama: .Polri .BNPB .Kementerian Kesehatan .Basarnas .Kementerian Kesehatan .TNI .Polri .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Bulog Instansi utama: .6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara Tersedianya kebutuhan hunian darurat dan sementara 150 miliar 6.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan Tersedianya kebutuhan dasar kesehatan untuk menghadapi kedaruratan 50 miliar 6.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan Bandara dan pelabuhan di 12 provinsi yang paling rawan 1.Kementerian PU 300 miliar 6.BNPB .Kementerian PU Instansi terkait: .200 miliar L-32 Lampiran .BNPB .Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional terbentuk di 12 kantor regional Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Kesehatan Instansi terkait: .Kementerian Sosial Instansi terkait: .Kementerian Sosial .

011.6.Kementerian Komunikasi dan Informasi .8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi realtime untuk emerjensi.BNPB Instansi terkait: .26 miliar Lampiran L-33 . pengembangan TI Sistem informasi bencana real-time terbentuk di pusat dan di 33 provinsi Instansi utama: .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 100 miliar 41.

Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . Sasaran.100 penelitian dan pengembangan mengenai 150 miliar L-34 Lampiran . Penelitian dan Pengembangan . Sandingan Program.Kementerian PU .Lampiran 4.BPPT .150 miliar 3.Kementerian PU .BMKG .23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Terpasangnya 400 strong motion accelograph yang tersebar di seluruh Indonesia Instansi Utama : .Peta risiko bencana gempabumi skala 1 : 50.Bakosurtanal .LIPI Instansi Terkait : .BMKG 2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gempabumi.Kementerian ESDM .LIPI . dan pemantauan gempabumi .BPS . Fokus Prioritas.Kementerian ESDM .LAPAN Instansi Utama : . pelatihan dan gladi mekanisme pengurangan risiko bencana 1.BNPB . 1.BMKG .Penyuluhan.Bakosurtanal . pemetaan risiko bencana. KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 400 miliar NO.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .000 . Pemetaan kawasan rawan bencana.BNPB Instansi Terkait : .LIPI Instansi Terkait : .BPPT .

Kementerian Dalam Negeri .Pembentukan national board of earthquake disaster prevention .LAPAN .Kementerian ESDM .KRT .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .TNI/POLRI Instansi Utama : . 1. Peningkatan Penyuluhan.Bakosurtanal .pengurangan risiko bencana gempabumi per tahun .BPPT .200 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .BMKG .BMKG .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .50 gladi kesiapsiagaan terhadap gempabumi pada wilayah berisiko tinggi terhadap 85 miliar Lampiran L-35 .5 miliar 2. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Sosial 11.LIPI .LAPAN .23 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gempabumi 2.BPPT .Kementerian Kesehatan . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Dalam Negeri LIPI .Bakosurtanal .

TNI .Kementerian PU Instansi Utama : . layanan kesehatan. Kaji cepat bencana 2. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Perhubungan .TNI . penyelamatan dan evakuasi 3.Kementerian Kesehatan .gempabumi .Polri . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.Bakosurtanal . hunian sementara.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar L-36 Lampiran .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri . Pencarian.Kementerian Perhubungan .Kementerian PU Instansi Utama : .POLRI SRC-PB Instansi Utama : .Basarnas 10 miliar 12.BPPT .LAPAN .5 miliar 3.TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . sandang.

Bappenas.Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Kesehatan .Kementerian PU 50 miliar 4. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 8.BNPB.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .BNPB . Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar Lampiran L-37 . . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan . .BMKG Selesainya rehabilitasi dan rekonstruksi gempabumi Jawa Barat dan Sumatra Barat .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .000 miliar (estimasi) 2. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian ESDM 5..Kementerian Sosial .

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan 3. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian PU - BNPB - Kementerian Perumahan Rakyat - Kementerian Kesehatan - Kementerian Pendidikan Nasional - Kementerian Budpar - Kementerian Agama - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU 10 miliar

4. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana

2.500 miliar

5. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan, pembangunan sistem dan

20 miliar

50 miliar

L-38

Lampiran

infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BMKG TOTAL 12.489 miliar

Lampiran

L-39

Lampiran 5.
Sandingan Program, Fokus Prioritas, Sasaran, Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Tsunami.
KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 310 miliar

NO. 1.

FOKUS PRIORITAS

SASARAN

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pemetaan kawasan rawan bencana, pemetaan risiko bencana dan pemantauan tsunami

- Peta risiko
bencana tsunami skala 1 : 50.000 - Terpasangnya 25 buoy tsunami yang tersebar di seluruh Indonesia

Instansi Utama : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Terkait : - LIPI - Bakosurtanal - BPPT - Kementerian PU - BNPB Instansi Utama : Non struktural : - Kementerian ESDM Struktural : - Kementerian PU Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian Kelautan dan Perikanan - LIPI - BPPT - KRT - BNPB - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan

2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural

- 25 provinsi yang
mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami

625 miliar

L-40

Lampiran

3. Penelitian dan Pengembangan

- 100 penelitian
dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana tsunami per tahun

Instansi Utama : - KRT - LIPI - Kementerian Kelautan dan Perikanan - BMKG Instansi Terkait : - Kementerian ESDM - BPPT - Bakosurtanal - LAPAN - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : - BNPB Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Dalam Negeri - LIPI - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Bakosurtanal - LAPAN - BPPT - TNI - Polri Instansi Utama : - BNPB

50 miliar

2.

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi

- 25 rencana
kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami

50 miliar

2. Penyuluhan, pelatihan dan gladi mekanisme
Lampiran

- 100 penyuluhan
dan pelatihan pada wilayah

42.5 miliar

L-41

LAPAN .tanggap darurat berisiko tinggi terhadap tsunami .25 gladi kesiapsiagaan terhadap tsunami pada wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami Instansi Terkait : .Polri .Polri Instansi Utama : .BMKG .Bakosurtanal .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kesehatan BNPB SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas 10 miliar 12.Terbangunnya sistem peringatan dini 25 provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami 4. Kaji cepat bencana tsunami 2.Bakosurtanal . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Sosial .LIPI . penyelamatan dan evakuasi L-42 Lampiran .BMKG .BPPT .5 miliar 3.LIPI .TNI .Kementerian Sosial .TNI . Pencarian.BPPT .KNRT Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .5 miliar 237.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .LAPAN .Kementerian ESDM . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Membangun system peringatan dini bencana tsunami .

Polri .Kementerian Komunikasi dan Informasi 20 miliar 4.Kementerian Perhubungan Instansi Utama : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Polri .Kementerian Sosial Instansi utama hunian.Kementerian PU Instansi utama layanan kesehatan : . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar Lampiran L-43 .PMI . sanitasi : .TNI .Kementerian Kesehatan 3.TNI .TNI .Kementerian Sosial .Basarnas . air bersih.Kementerian Perhubungan . layanan kesehatan. hunian sementara.Kementerian Dalam Negeri .Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Terkait : . sandang.Kementerian Kesehatan . air bersih dan sanitasi Instansi Utama sandang pangan: .Polri .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Dalam Negeri .BNPB .BMKG 50 miliar BNPB .Kementerian PU .Kementerian Keuangan . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 2.BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian PU . .Kementerian Kesehatan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 3.Kementerian Perumahan Rakyat 10 miliar 2. Pengkajian kerusakan dan kerugian .Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.5.500 miliar L-44 Lampiran . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Bappenas .Bappenas.BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .

Bappenas.BNPB .Kementerian Sosial .BMKG 20 miliar 50 miliar TOTAL 4.008.Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .4.5 miliar Lampiran L-45 . . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas rehabilitas dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.

Sasaran. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gunungapi. FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU .BNPB Instansi Utama : .LIPI .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Lampiran 6.Peta risiko bencana gunungapi skala 1 : 50. Pemetaan kawasan rawan bencana.BPPT .Kementerian Sosial . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . 1.Bakosurtanal .Kementerian ESDM .Kementerian Kesehatan .KRT . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 56 miliar NO.Kementerian LH Instansi Utama : .BMKG .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .70 wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi 245 miliar 3. Sandingan Program. dan pemantauan gunungapi .LAPAN .40 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gunungapi per tahun 60 miliar L-46 Lampiran .Terpasangnya instrument pemantau aktivitas gunungapi pada 70 gunungapi Instansi Utama : .000 .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BPPT .Kementerian Dalam Negeri .BMKG . pemetaan risiko bencana. Penelitian dan Pengembangan . Fokus Prioritas.Kementerian ESDM 2.

Kementerian ESDM Instansi Terkait : .70 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gunungapi 35 miliar Lampiran L-47 .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BNPB .LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Polri Instansi Utama : .LAPAN 210 miliar 3.BNPB Instansi Terkait : .- BPPT Bakosurtanal LAPAN LIPI Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Kesehatan . Penyusunan rencana kontijensi .BMKG .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM . Pengamatan dan peringatan dini gunungapi Terbangunnya sIstem pengamatan guna menunjang sIstem peringatan dini di 70 gunungapi Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian Pendidikan Nasional 2.Kementerian Sosial . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Sosial .Bakosurtanal .BMKG .

Bakosurtanal .ESDM . hunian sementara.BPPT . air bersih dan sanitasi 20 miliar L-48 Lampiran . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .BPPT .LAPAN .5 miliar 4.Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri 37.Polri . penyelamatan dan evakuasi 7.30 gladi kesiapsiagaan terhadap gunungapi pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi Instansi Utama : .Kementerian Sosial .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi .Polri 2.BMKG .Kementerian PU Instansi Utama : . Kaji cepat bencana gunungapi 2.BNPB Instansi Terkait : .Polri SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan . Penyuluhan.TNI . sandang.5 miliar 10 miliar 3. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. layanan kesehatan.TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan . Pencarian.TNI .Kementerian Dalam Negeri .LIPI ..Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .

BNPB .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri ..Kementerian Dalam Negeri . .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Bappenas. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 50 miliar .Kementerian PU Instansi Terkait : .BMKG 10 miliar 5.Basarnas .TNI .Kementerian Kesehatan - Lampiran L-49 .Kementerian PU 4. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .Polri .Bappenas .Kementerian Perhubungan .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Sosial . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian ESDM . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities Instansi Utama : .BNPB .

Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan ..Kementerian PU . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri 10 miliar 3. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui L-50 100 miliar 20 miliar 50 miliar Lampiran .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian ESDM .Kementerian PU .BNPB .Kementerian ESDM 2.Kementerian ESDM .Bappenas.Bappenas . .Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Kementerian Kesehatan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 4.Bappenas .Kementerian Perumahan Rakyat . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Sosial .

pendidikanpelatihan.BMKG TOTAL 931 miliar Lampiran L-51 .Kementerian ESDM .Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .

Pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dan pemetaan risiko bencana gerakan tanah Peta risiko bencana gerakan tanah skala 1 : 50.Kementerian PU .Bakosurtanal .Kementerian Sosial . NO.LIPI Instansi Terkait : . Fokus Prioritas. Sasaran.BMKG .BPPT .LIPI .Kementerian ESDM Instansi Terkait : . 1.Lampiran 7.Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .LAPAN Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan - 100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gerakan tanah per tahun 50 miliar L-52 Lampiran . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gerakan Tanah.LIPI .BMKG Instansi terkait : .Kementerian ESDM .000 Instansi Utama : .Kementerian ESDM .BPPT . Sandingan Program. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 26 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah per tahun 260 miliar 3.BNPB .Kementerian PU 2.BNPB . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 180 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU .

LAPAN .2.BMKG .KRT .BNPB 3 PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Pemantauan gerakan tanah pada jalur jalan atau wilayah vital dan strategis - Terbangunnya sistem peringatan dini 26 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .LIPI . PROGRAM : PERINGATAN DINI KRT BPPT Bakosurtanal LAPAN Kementerian Sosial Kementerian Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Kementerian Perhubungan 200 miliar 1.BPPT .Kementerian Sosial .TNI . Penyusunan rencana kontijensi 26 rencana kontijensi pada tingkat provinsi 13 miliar Lampiran L-53 .Polri Instansi Utama : .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Kelautan dan Perikanan .

Kementerian Sosial .berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Terkait : .LIPI .Polri Instansi Utama : .LAPAN .Kementerian PU .BPPT .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Komunikasi dan Informasi .TNI .LAPAN .BNPB Instansi Terkait : .LIPI . Penyuluhan.Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan .BPPT . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.6 miliar 2.Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .BMKG .Kementerian ESDM .Kementerian Perhubungan .BMKG .TNI . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat - - 100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 25 gladi kesiapsiagaan terhadap gerakan tanah pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 4. Kaji cepat bencana gerakan tanah 10 miliar L-54 Lampiran .Polri SRC-PB 43.Kementerian Sosial .

Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.Kementerian Sosial .Polri . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar 5.Kementerian Perhubungan .Basarnas Instansi Terkait : .2.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Utama : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui Lampiran 50 miliar L-55 .Basarnas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . sandang. penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : . hunian sementara.Kementerian Dalam Negeri .TNI .Polri .Bappenas 10 miliar 3.BNPB .TNI . Pencarian. layanan kesehatan.

Bappenas .Kementerian Keuangan 25 miliar 2. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai .BNPB .Kementerian Sosial . Pengkajian kerusakan dan kerugian 10 miliar 3.Bappenas . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-56 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .Kementerian PU .Bappenas .Kementerian Keuangan .BNPB .BMKG .Kementerian Kesehatan .pendidikanpelatihan.Kementerian ESDM .Kementerian Keuangan .Kementerian ESDM .Kementerian PU .Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .

.Kementerian Sosial . .Kementerian ESDM . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.Kementerian Kesehatan .Kementerian Perumahan Rakyat . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .Bappenas.Kementerian Sosial . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Kementerian Keuangan .Kementerian PU .BNPB .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM 4.6 miliar Lampiran L-57 .Kementerian PU .BMKG 150 miliar 20 miliar 50 miliar TOTAL 1.111. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .

Kementerian ESDM .100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana banjir per tahun 50 miliar L-58 Lampiran . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Banjir.500 miliar 3.BPPT .BNPB .BMKG . Penelitian dan Pengembangan .BMKG . Pengenalan dan penentuan risiko bencana banjir .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian PU . Sasaran.LAPAN Instansi Utama : .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan 2. Fokus Prioritas.BPPT .BPPT Instansi Terkait : .Peta risiko bencana banjir skala 1 : 50.Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .LIPI .Lampiran 8.000 Instansi Utama : .LIPI .Bakosurtanal .30 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap banjir 1.Bakosurtanal Instansi Terkait: . NO. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 200 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sandingan Program. 1.BMKG .LAPAN .Kementerian Sosial .

LAPAN . Penyusunan rencana kontijensi .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .BPPT .Kementerian Pendidikan Nasional 2.Bakosurtanal .Kementerian Sosial .KRT .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Polri Instansi Utama : .TNI ..Kementerian Kesehatan 90 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian PU Instansi terkait: .Terbangunnya sistem peringatan dini 30 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .Kementerian ESDM . Pembangunan Sistem Peringatan Dini banjir .Kementerian Dalam Negeri .BMKG . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BNPB .LIPI .30 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap banjir 15 miliar Lampiran L-59 .Kementerian Kelautan dan Perikanan .LIPI .Kementerian PU .Kementerian Sosial .

penyelamatan dan evakuasi 7.Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi Terkait : .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Komunikasi dan Informasi .LIPI .100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir ..Kementerian Perhubungan .Polri 2.Kementerian ESDM . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Sosial .5 miliar 10 miliar 3. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.25 gladi kesiapsiagaan terhadap banjir pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : . sandang.LAPAN .BPPT .Kementerian Dalam Negeri .Polri .BMKG .5 miliar 3.Kementerian Kesehatan . L-60 20 miliar Lampiran . Kaji cepat bencana banjir 2.Polri SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian PU .TNI .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Bakosurtanal .Kementerian Sosial 42. Penyuluhan.TNI . Pencarian.TNI .

BNPB .Kementerian Kesehatan . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 5.Bappenas.Bakosurtanal 10 miliar 4.TNI .Kementerian Perhubungan .Kementerian Keuangan . layanan kesehatan.Basarnas . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan . Pengkajian kerusakan dan kerugian 50 miliar .Kementerian Perhubungan .Polri .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU 10 miliar Lampiran L-61 .BNPB .Kementerian Keuangan . air bersih dan sanitasi Instansi Terkait : . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.hunian sementara.Kementerian Sosial .Bappenas .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 10 miliar 50 miliar TOTAL 2.Kementerian Keuangan ..Bappenas .Kementerian Sosial . .Kementerian Perumahan Rakyat .BNPB .Bakosurtanal 10 miliar 3. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BNPB .Kementerian Keuangan .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .150 miliar L-62 Lampiran .Kementerian Kesehatan 2.BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.Kementerian PU .BMKG . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 75 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian Sosial .

Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kekeringan.Kementerian PU . Fokus Prioritas. NO.Lampiran 9.BNPB 2.Bakosurtanal .BNPB .LAPAN Instansi terkait : .LIPI .Kementerian Pertanian .LIPI .24 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 240 miliar Lampiran L-63 .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan .BMKG .BMKG .BPPT . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BPPT .5 miliar 1.Kementerian Pertanian .Kementerian ESDM .Kementerian ESDM .Kementerian PU . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana kekeringan . Sandingan Program.Kementerian Sosial . Sasaran.Peta risiko bencana kekeringan Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5.

LAPAN .BNPB .Kementerian Kesehatan .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 7.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan 3.KRT .Kementerian Sosial .5 miliar penyuluhan L-64 Lampiran .Kementerian Kehutanan ..Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . Informasi dan .BMKG .BPPT .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana kekeringan per tahun Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan .LIPI .Kementerian Pertanian .Kementerian ESDM .LAPAN .Kementerian ESDM .Depdiknas Instansi Utama : .Bakosurtanal 25 miliar 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.

air bersih dan sanitasi 20 miliar 2. layanan kesehatan. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .BPPT .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 15 miliar Lampiran L-65 . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Polri Instansi Utama : .Kementerian PU 4.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Utama : .Bakosurtanal .3.24 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap kekeringan Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Penyusunan rencana penanggulangan kedaruratan LAPAN BPPT TNI Polri 7.BNPB .Kementerian Sosial . hunian sementara.TNI .LAPAN .Kementerian Perhubungan .LIPI .2 miliar .Kementerian Kehutanan . sandang.BMKG .

.Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian Kesehatan .BNPB .BNPB .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-66 Lampiran . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Kehutanan .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan 30 miliar 10 miliar 2.Kementerian Pertanian .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Bappenas .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Sosial ..Bappenas .Bappenas.Kementerian Perhubungan 3.

Kementerian PU .Kementerian LH .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik .Kementerian Keuangan .Kementerian LH 3.Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian TOTAL 250 miliar 4.BNPB ..Bappenas. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 650.Kementerian PU .Kementerian Kehutanan .BNPB .2 miliar Lampiran L-67 .Kementerian Kehutanan .BMKG . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Pertanian . .

BNPB .Bakosurtanal .BMKG .Polri Instansi Terkait : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 50 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Kehutanan . Fokus Prioritas.BMKG .BNPB .LAPAN Instansi Utama : .TNI .BPPT . Pemetaan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan .Patroli dan pengawasan melaui udara dan darat Instansi Utama : . Sasaran. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan.Kementerian LH .LAPAN 2.Kementerian Dalam Negeri . Sandingan Program. 1.Kementerian Pertanian .SPBK (sistem peringkat bahaya kebakaran) skala 1 : 50.Lampiran 10.Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .LIPI .000 .Kementerian PU .10 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan per tahun .Fasilitasi penyiapan lahan tanpa bakar untuk petani tradisional 100 miliar L-68 Lampiran .Peningkatan pengawasan pengelolaan lahan gambut untuk tidak dibakar . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . NO.

TNI .LIPI Instansi utama: .BNPB .Sinkronisasi upaya pencegahan dan mitigasi ancaman asap lintas bantas negara ASEAN 50 miliar 2. Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Pertanian .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran hutan dan lahan per tahun .Kementerian LH .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. Penyusunan rencana kontijensi .Polri Instansi Utama : . Implementasi AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Polution) . Pembangunan Sistem Peringatan Dini kebakaran hutan dan lahan .LIPI .LAPAN .BPPT .3.LAPAN .10 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi 5 miliar Lampiran L-69 .Pemanfaatan material yang sering dibakar Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BMKG .Terbangunnya sistem peringatan dini 10 provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 30 miliar 3.Kementerian Pertanian .LAPAN .BNPB Instansi Utama : .BPPT .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .BNPB 26 miliar 4.Bakosurtanal .Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Kesehatan .Kementerian LH 18.Polri Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .LAPAN . Peningkatan Penyuluhan.BPPT .Kementerian Kehutanan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Pembuatan 25 miliar L-70 Lampiran .Polri Instansi Utama : .BMKG .Kementerian Sosial .10 gladi kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 4.50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan .Kementerian Dalam Negeri .dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan Instansi Terkait : .Bakosurtanal .TNI .BPPT .Kementerian Sosial .LAPAN . udara. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .LIPI .BMKG .TNI . dan air . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.BNPB .5 miliar 2.Mobilisasi sumberdaya melalui darat.Kementerian Pertanian . Operasi Pemadaman .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Pertanian .

Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan 10 miliar 2.Kementerian PU .modifikasi cuaca (hujan buatan) Instansi Terkait : .TNI . dan aset-aset yang bernilai strategis 3. hewan.Kementerian Sosial .TNI .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Polri .Pengumpulan dan pendistrbusian bantuan 10 miliar Lampiran L-71 . penyelamatan dan evakuasi .Kementerian Dalam Negeri .Dephub .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi .Kementerian PU . Pencarian.Kementerian Kesehatan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Evakuasi manusia.BPPT Instansi Utama : . hunian sementara.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian . sandang.Basarnas .Kementerian Perhubungan .Polri . layanan kesehatan. Patroli.

Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan . Inventarisasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar 2.Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .Kementerian PU .Kementerian Kehutanan .BMKG .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian LH 40 miliar 5. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-72 Lampiran .4.Kementerian Pertanian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .BNPB .Bappenas .BNPB .BNPB .Kementerian Pertanian .Bappenas .Kementerian Keuangan .Kementerian PU . .Kementerian Keuangan .Bappenas. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.

BNPB .Kementerian Kehutanan TOTAL 50 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian Kehutanan . .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian Pertanian . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian LH . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 40 miliar 474.5 miliar Lampiran L-73 .3.BMKG .Bappenas.BNPB .Kementerian Pertanian .Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik dan reboisasi .

Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Erosi.Kementerian Pertanian . Pengenalan dan pemantauan risiko erosi Peta risiko bencana erosi Instansi Utama : .LAPAN .Kementerian Kehutanan 2.Kementerian PU Instansi Terkait : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap erosi per tahun 230 miliar 3.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .Kementerian LH Instansi Utama : .Bakosurtanal .Kementerian LH Instansi Utama : .LIPI . NO. Fokus Prioritas. FOKUS PRIORITAS 1.Kementerian Kehutanan . Sandingan Program.BPPT .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan . SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 40 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Lampiran 11. Penelitian dan Pengembangan - 15 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko erosi per tahun 15 miliar L-74 Lampiran . Sasaran.

Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian PU 3 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri . penyelamatan dan evakuasi 1.Polri .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Pencarian.Kementerian ESDM 2.Kementerian Kehutanan . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. hunian sementara. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi 2 miliar Lampiran L-75 .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap erosi Instansi Utama : .TNI .BNPB Instansi Terkait : . layanan kesehatan.Kementerian LH . sandang..5 miliar 2.Kementerian Pertanian . Penyuluhan.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Keuangan .Kementerian Pertanian .BNPB .Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.Kementerian LH .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .3.BNPB .Kementerian LH 30 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Bappenas .Kementerian Keuangan .BNPB .BMKG . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.5 miliar 2.Kementerian PU .5 miliar L-76 Lampiran .Bappenas.Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .

BMKG .BNPB .Kementerian Pertanian .Kementerian PU . .Bappenas.Kementerian LH .Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik - .Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 25 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.5 miliar Lampiran L-77 .Kementerian Keuangan .Kementerian Kehutanan .3.Kementerian Kehutanan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 380.Kementerian Pertanian .

Kementerian PU .Kementerian Perumahan Rakyat . Fokus Prioritas.10 rencana kontijensi pada 5 miliar L-78 Lampiran .Kementerian PU .Kementerian PU Instansi Terkait : .BNPB 2.Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .25 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman per tahun 125 miliar 3.LIPI .Lampiran 12.Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .BPPT . Sasaran. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Sandingan Program. 1.Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .5 miliar 2. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Peta risiko bencana kebakaran gedung dan permukiman Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 20 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. NO. Penelitian dan Pengembangan . Penyusunan rencana kontijensi . Pengenalan risiko kebakaran gedung dan permukiman .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran gedung dan permukiman per tahun 12.Bakosurtanal .Kementerian LH Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Gedung dan Permukiman.

Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Basarnas 10 miliar 2. Operasi Pemadaman Instansi Utama : .Kementerian Sosial . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Polri .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman .Polri .Basarnas .Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan . Penyuluhan.TNI .Kementerian Sosial .tingkat provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman Instansi Terkait : .TNI .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi kebakaran gedung dan permukiman 3.Polri .TNI .Kementerian Kesehatan .Basarnas 10 miliar Lampiran L-79 .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian - . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 30 miliar 1.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU 2. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Basarnas Instansi Terkait : .Bappenas.2.Kementerian PU .TNI/POLRI .Kementerian Keuangan . sandang.5 miliar L-80 Lampiran .Kementerian PU Instansi Utama : .BNPB .Kementerian Sosial .BMKG 5 miliar 3.Dephub . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. air bersih dan sanitasi 10 miliar 4. Pencarian.Bappenas .Kementerian Kesehatan .Dephub .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4. layanan kesehatan. hunian sementara.

Kementerian PU .Kementerian Perumahan Rakyat 2.Kementerian Perumahan Rakyat . .Bappenas. ..5 miliar Lampiran L-81 .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .BMKG 2.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BNPB .5 miliar 3. Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 4.Kementerian Kesehatan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian PU .Bappenas .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar TOTAL 312.BNPB .BNPB.

Bakosurtanal .LAPAN Instansi Terkait : . NO.BMKG Instansi Terkait : .5 miliar L-82 Lampiran . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Gelombang Ekstrim dan Abrasi.LIPI . Pengenalan dan pemantauan risiko gelombang ekstrim dan abrasi . Sasaran. Fokus Prioritas.BPPT .LIPI .Peta resiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Instansi Utama : .Kementerian PU .BMKG .Kementerian LH . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM: PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan . Penelitian dan Pengembangan . 1.BMKG .LAPAN Instansi Terkait : .BMKG Instansi Utama : .Bakosurtanal .Lampiran 13.Kementerian PU .BPPT .Kementerian Kelautan dan Perikanan .12 propinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim 90 miliar 3.BPPT 2.Kementerian LH Instansi Utama : .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko gelombang 12. Sandingan Program.LAPAN . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .

BNPB .12 provinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim Instansi Utama : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Bakosurtanal .BMKG .BPPT .Bakosurtanal .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gelombang ekstrem dan abrasi 3 miliar 4. penyelamatan dan evakuasi 10 miliar Lampiran L-83 .BMKG .LIPI .BMKG Instansi Utama : . Pemantauan dan penyuluhan .LIPI . Pencarian.LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian LH .Kementerian LH .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. Penyuluhan dan pelatihan . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BNPB Instansi Terkait : .Basarnas 12 miliar 3.BMKG .Kementerian PU ..Kementerian PU .ekstrem dan abrasi per tahun . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Utama : .Kementerian LH .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan 20 miliar 3. . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian PU Instansi Terkait : .Bappenas .BMKG .Kementerian PU 2.Kementerian Kelautan dan Perikanan .5 miliar L-84 Lampiran . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. Pengkajian kerusakan dan kerugian 1. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 5.Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian PU . hunian sementara. air bersih dan sanitasi Instansi Utama : .TNI .Kementerian Dalam Negeri .. sandang. layanan kesehatan.Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Polri Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan ..Kementerian Dalam Negeri .5 miliar Lampiran L-85 . Pemulihan sarana-prasarana publik dan reboisasi 25 miliar 4.Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 2. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi . .Kementerian LH . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 241.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Bappenas.Kementerian Keuangan .Kementerian LH .Kementerian PU .BMKG .BNPB .Kementerian LH 2.Kementerian PU .Bappenas . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .BNPB .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian PU .5 miliar 3.

FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU .LIPI . Fokus Prioritas.Bakosurtanal .BNPB . Sandingan Program.Kementerian LH 2.Lampiran 14.BMKG Instansi Terkait : .Bakosurtanal . Sasaran.Kementerian LH Instansi Utama : . NO. 1. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Kementerian Perhubungan . Pengenalan dan pemantauan risiko cuaca ekstrim .Kementerian PU .LIPI .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko cuaca ekstrim per tahun 10 miliar L-86 Lampiran .BPPT .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU .BMKG .LAPAN Instansi Terkait : .Peta risiko bencana cuaca ekstrim Instansi Utama : .14 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim per tahun 35 miliar 3.LAPAN Instansi Terkait : .BMKG . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Cuaca Ekstrim.

Kementerian Dalam Negeri .Basarnas .Kementerian LH Instansi Utama : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian PU Instansi Utama : .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim 3 miliar 4.Kementerian PU . hunian sementara. sandang. Pencarian.TNI .Polri Instansi Terkait : .BMKG . Pemantauan dan Penyuluhan .LAPAN Instansi Terkait : .BNPB .Kementerian LH Instansi Utama : .LAPAN Instansi Terkait : . air bersih dan sanitasi Lampiran 10 miliar L-87 .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan . Penyuluhan. penyelamatan dan evakuasi 10 miliar 2.2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. layanan kesehatan.Pemantauan dan penyuluhan di 14 propinsi Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Sosial .DKP .Kementerian Sosial .Kementerian PU 35 miliar 2. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .BMKG .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .5 miliar .Kementerian LH 1.Bappenas .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .BMKG .Kementerian Dalam Negeri . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran 5.Kementerian LH .5 miliar 3.Kementerian PU .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian LH . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BNPB .LAPAN .BNPB .Kementerian Perhubungan 3. Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .BPPT 30 miliar 2.BMKG .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik 25 miliar L-88 Lampiran .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Instansi Terkait : .Bappenas .

Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .BMKG .Kementerian Keuangan .Bappenas. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .BPPT TOTAL 30 miliar 197 miliar Lampiran L-89 . .LAPAN .4.

Kementerian Perindustrian .BPPT . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kegagalan Teknologi. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Bapeten .LIPI .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .5 miliar L-90 Lampiran .Kementerian PU .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : . NO.Lampiran 15.Kementerian PU .Kementerian Perindustrian .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .BATAN 2.Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .Wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi per tahun 7.BPPT .Kementerian LH . Sasaran.Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sandingan Program.LIPI .BATAN . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 10 miliar 1.Bapeten . Fokus Prioritas. Pengenalan dan pemantauan risiko kegagalan teknologi Peta risiko bencana kegagalan teknologi Instansi Utama : .

5 miliar 3. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi 1.Kementerian LH .Kementerian Perhubungan .BATAN Instansi Utama : .Kementerian Perindustrian 5 miliar 2.Polri .3.BPPT . Penyuluhan.Bapeten .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian Perindustrian . Operasi Penanganan 10 miliar Lampiran L-91 .Bapeten Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.LIPI .BNPB Instansi Terkait : .LIPI .Kementerian Perhubungan .BATAN .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian PU . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Sosial .Kementerian Perindustrian .Basarnas .Polri .Kementerian PU .10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kegagalan teknologi per tahun Instansi Utama : .TNI .BPPT Instansi Terkait : .

air bersih dan sanitasi 10 miliar 4..Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian Keuangan . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : .Polri .Kementerian Perindustrian . sandang.LAPAN 5 miliar 3.Kementerian PU .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara.Kementerian Perhubungan . .Kementerian Kesehatan .TNI .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . layanan kesehatan.Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Bapeten 2.BATAN .Bappenas. Pencarian.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai L-92 30 miliar Lampiran .

LAPAN .5 miliar 2. Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.Bappenas.Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Perhubungan ..Kementerian PU .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Perhubungan TOTAL 2.Kementerian Perindustrian . .Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 161.Kementerian PU . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BNPB .BPPT .Bapeten 4.Kementerian Dalam Negeri .BATAN .LIPI .BPPT .5 miliar Lampiran L-93 .Kementerian Keuangan .LIPI .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.

NO.5 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap epidemi 2. 1. Sasaran.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit . Sandingan Program.20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit per tahun 30 miliar 2. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BPPT .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Peta risiko bencana epidemi dan wabah penyakit 2. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Epidemi dan Wabah Penyakit.5 miliar L-94 Lampiran .Kementerian LH Instansi Utama : . Fokus Prioritas.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian PU . Penelitian dan Pengembangan .Wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 50 miliar 3.LAPAN .BNPB ANGGARAN INDIKATIF 8 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .LIPI .Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Lampiran 16.

TNI . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . sandang. hunian sementara.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 3. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .dan wabah penyakit Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU 10 miliar 2.BNPB Instansi Terkait : . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Basarnas Instansi Terkait : .Polri . Pencarian.Kementerian Sosial .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan 10 miliar 2. layanan kesehatan.Kementerian Sosial Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi 20 miliar Lampiran L-95 . Penyuluhan. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Utama : .

Bappenas.Kementerian Sosial .Bappenas. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 2.LIPI .BPPT . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .LAPAN .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Perindustrian .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan . .Kementerian Keuangan .LAPAN .5 miliar L-96 Lampiran .Kementerian PU .LIPI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan . .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal TOTAL 30 miliar 4. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 20 miliar 30 miliar 210.BPPT .BNPB .Kementerian Perhubungan .Kementerian Perindustrian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .3.Bakosurtanal .

Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . Pengenalan dan pemantauan risiko konflik sosial . Penyuluhan.Peta risiko bencana konflik sosial Instansi Utama : .Polri . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .5 miliar Lampiran L-97 .Wilayah berisiko tinggi terhadap konflik sosial per tahun 7.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .BNPB 2.Polri . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Konflik Sosial.5 miliar 3.TNI . NO.Kementerian Komunikasi dan Informasi .LIPI .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . Fokus Prioritas. Sandingan Program.Kementerian Komunikasi dan Informasi . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko konflik sosial per tahun 5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.TNI . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi 1. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar 1.Lampiran 17. Sasaran.

Polri .Kementerian Sosial .Kementerian PU Instansi Utama : . hunian sementara.LIPI Instansi Utama : . sandang. Operasi Penanganan 2.Kementerian Sosial . Pencarian.Kementerian Perhubungan .TNI .Basarnas Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.TNI .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan 10 miliar 3.Kementerian PU .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . layanan 10 miliar L-98 Lampiran .Kementerian Perindustrian .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .TNI/POLRI .Kementerian Dalam Negeri .Polri . penyelamatan dan evakuasi 5 miliar 3.terhadap konflik sosial Instansi Terkait : .

Kementerian Sosial .BNPB .kesehatan.Kementerian Komunikasi dan Informasi .Bappenas. Pengkajian kerusakan dan kerugian . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Sosial 2. .Kementerian Sosial .Kementerian PU .LIPI . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui 30 miliar Lampiran L-99 .Polri .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3. .Bappenas.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .5 miliar 2.Kementerian PU . air bersih dan sanitasi .BNPB .TNI .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri 30 miliar 4.

Kementerian Komunikasi dan Informasi .5 miliar L-100 Lampiran .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 156. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .LIPI .TNI .pendidikanpelatihan.Polri .

Lampiran 18. Klimatologi dan Geofisika Badan Nasional Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Badan Pertanahan Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Pusat Statistik Badan Standarisasi Nasional Demam Berdarah Dengue Data dan Informasi Bencana Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian/Lembaga Kejadian Luar Biasa Konsorsium Pendidikan Bencana Kawasan Rawan Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Peraturan Kepala Peraturan Menteri Dalam Negeri Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana Palang Merah Indonesia Pengurangan Risiko Bencana Prosedur Tetap Pekerjaan Umum Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi L-101 . Daftar singkatan Bakosurtanal Bapeten Basarnas BATAN BMKG BNPB BPBD BPN BPPT BPS BSN DBD DiBI ESDM K/L KLB KPB KRB LAPAN LIPI LSM PDB PDRB Perka Permendagri Planas PRB PMI PRB Protap PU PVMBG Lampiran Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Badan SAR Nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional Badan Meteorologi.

L-102 Lampiran .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful