.

Permasalahan. 75 IV..…….1 Anggaran …………………………………………………………………………………. 99 6.1 Isu dan Permasalahan ……………………………………………………….……. 1. 7.……… 2..1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1..………. 4. 2. Daftar Gambar …………………………………………………………………………….……. 7.1 Visi dan Misi ………………………………………………………………………. V.…… 4. 79 79 79 85 91 VI.1 Pemantauan dan Evaluasi ………………………………………………………. 73 3. Gambaran Umum Kebencanaan ……………………………………………………….2 Tujuan …………………………………………………………………………………….4 Proses Penyusunan …………………………………………………………………..……… 4. Program …………………………………………………………………………………….2 Pelaporan . 1. Kebijakan Penanggulangan Bencana ………………………………………. Anggaran dan Pendanaan ……………………………………………………….2 Tantangan dan Peluang ……………………………………………………. 2.1 Ancaman (Hazard)……………………………………………………………………. Tantangan dan Peluang …………………………………………. Pendahuluan ……………………………………………………………………………………… 1.2 Penataan Kelembagaan ……………………………………………………..………... Pemantauan.3 Risiko Bencana ………………………………………………………………………… i ii iii iv 1 2 3 3 5 6 9 9 26 31 III.5 Kaidah Pelaksanaan ………………………………………………………………… II. 102 VII..DAFTAR ISI Sambutan ……………………………………………………………………………………………… Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………….…….3 Kedudukan Dokumen dan Landasan Hukum …………………………… 1. I.3 Kebijakan dan Strategi ………………………………………………………..………………………………………………………………………………. Lampiran 105 105 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2 Pendanaan ……………………………………………………………………………….2014 ii . Daftar Tabel …………………………………………………………………………………………. Evaluasi dan Pelaporan ……………………………………………. 99 6. 73 3.…….2 Kerentanan dan Kapasitas ……………………………………………….

.

. Tabel 2.. 51 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan …. 42 Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir …………………………………….. 27 Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 19902007 (BPS..9. 15 Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) ………………………………………………… 18 Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 ……...1.15.. 107 Tabel 2. Tabel 2... 46 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan …………………………….5. Tabel 6. 2007) ………………………………………………………………. 101 Format pemantauan dan evaluasi …………………………………….. Tabel 2. 2008)..1. Tabel 2.13. Tabel 2..3...2.11. 65 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 69 Program dan fokus prioritas dalam Renas PB …………………… 93 Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB 99 Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB ………………………………………………………………………….. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .16.4.. 36 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi ……………………………..2014 iii . 61 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman …………………………………………………………………….1..2... …………………………………………………… 10 Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.......... 25 Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau ……………………………………………………………. BNPB) …………………. Tabel 5. 40 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah ……………………….8...7. 55 Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi ………………………………………. Tabel 7. Tabel 2.. Tabel 2.. Tabel 2.10.. Tabel 2... Tabel 2.... 28 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 31 Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami ..DAFTAR TABEL Tabel 2. Tabel 2... Tabel 2...1. Tabel 2. Tabel 6.6. Tabel 2. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.14.12.

.

.2. Gambar 2..5....1.6......... Gambar 2........... 2007) .... Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis …………………… Sistem Penanggulangan Bencana Indonesia ………………… Pilihan tindakan dalam manajemen risiko bencana ……… 9 11 13 14 16 17 19 20 21 22 22 23 91 93 Gambar 2.. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG. Gambar 2.. BNPB) ………………………………………………… Posisi munculnya siklon tropis di Indonesia (BMKG) . PU) ……………………………………………………………………………… Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) …………… Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) .7.10.....1..... Gambar 2... Zona Bahaya Erosi di Indonesia …………………………………….... Gambar 2.8...... Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. 2007)…………...........2014 iv .. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Gambar 2. BNPB) …………….......9... Gambar 2..11. 2008) …………………………………………………………………………… Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia dalam periode 1801-2006 (Puspito....3...Bakosurtanal.2.........DAFTAR GAMBAR Gambar 2... Gambar 5.... Gambar 5.. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI...4...12.... Gambar 2.. Zona kerentanan gerakan tanah di Indonesia (ESDM)… Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG.. Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI...... Gambar 2..... Gambar 2.

.

.

.

Dalam abad yang sama. Gelombang hawa dingin membuat tahun 1816 menjadi “tahun yang tidak memiliki musim panas” dan menyebabkan gagal panen di banyak tempat serta kelaparan yang meluas.708 korban jiwa dan nilai kerusakan yang ditimbulkannya mencapai lebih dari Rp 48 triliun. sebuah gempabumi besar terjadi di dalam laut sebelah barat Pulau Sumatra di dekat Pulau Simeuleu. Tahun 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa. Gempabumi ini memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 225. Di Indonesia sendiri gempabumi dan tsunami mengakibatkan sekitar 165. Sebagian dari material vulkanik ini membentuk lapisan di atmosfir yang memantulkan balik sinar matahari ke atmosfir. Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dalam Perang Dunia II. Sepanjang abad XX hanya sedikit bencana yang menimbulkan korban jiwa masif seperti itu. Banjir yang hampir setiap tahun menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya.BAB I PENDAHULUAN 1. Selain bencana-bencana berskala besar yang pernah tercatat dalam sejarah.2014 1 . Nusa Tenggara Barat. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tempat terjadinya dua letusan gunungapi terbesar di dunia.1 LATAR BELAKANG Indonesia adalah sebuah negeri yang rawan bencana. bumi tidak menerima cukup panas dan terjadi gelombang hawa dingin. Bencana yang paling mematikan pada awal abad XXI juga bermula dari Indonesia. Indonesia juga tidak lepas dari bencana besar yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit. Erupsi Krakatau diperkirakan memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT.7 juta ton abu dan material vulkanik. Karena sinar matahari yang memasuki atmosfir berkurang banyak. meletus dan mengeluarkan sekitar 1. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . kira-kira 13.000 jiwa di sebelas negara dan menimbulkan kehancuran hebat di banyak kawasan pesisir di negara-negara yang terkena. Pada tanggal 26 Desember 2004.

Rencana ini menggambarkan kondisi yang diinginkan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam 5 (lima) tahun mendatang mengenai penanggulangan bencana.2014 . Program-program kegiatan dalam Renas PB disusun berdasarkan visi misi penanggulangan bencana dan rencana tindakan yang harus diambil sesuai dengan manajemen risiko. analisis risiko bencana sampai dengan program kegiatan dan fokus prioritas yang akan diambil termasuk keterlibatan Kementerian/Lembaga dan besarnya anggaran yang dibutuhkan. Dalam pelaksanaannya perlu dipadukan dalam 2 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Demikian pula kekeringan yang semakin sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Renas PB layaknya proposal dari pemerintah memuat upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang efektif. Indonesia memerlukan suatu rencana yang sifatnya terpadu. Untuk menghadapi peningkatan potensi dan kompleksitas bencana di masa depan dengan lebih baik. penanganan kondisi tanggap darurat yang efisien dan upaya pemulihan yang tepat sasaran. selain mengancam produksi tanaman pangan juga kian mempermiskin penduduk yang mata pencahariannya tergantung pada pertanian. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana yang selanjutnya disebut Renas PB. merupakan wujud dari upaya pemerintah terkait untuk merumuskan program-program kegiatan dan fokus prioritas penanggulangan bencana. terkoordinasi dan menyeluruh. dimulai dari identifikasi ancaman bencana. Penyusunan Renas PB merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Rencana ini menjadi salah satu bagian kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang merupakan prioritas 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II yang disebut sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana.kota-kota di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo dan beberapa daerah lain di Indonesia menimbulkan kerugian material dan non-material senilai triliunan rupiah. perkebunan dan peternakan. Renas PB adalah sebuah dokumen resmi yang memuat data dan informasi tentang risiko bencana yang ada di Indonesia dalam kurun waktu antara 2010-1014 dan rencana pemerintah untuk mengurangi risiko-risiko tersebut melalui program-program kegiatan.

dan seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana di Indonesia agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana secara terencana.2 TUJUAN Tujuan penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20101014 adalah: 30 Mengidentifikasikan daerah berisiko tinggi dari berbagai bencana yang ada di Indonesia dan menyusun pilihan tindakan yang perlu mendapat perhatian utama. terpadu. Dengan demikian. Untuk memastikan terlaksananya perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana. berikut program kegiatan. Ringkasan isi Renas PB diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang memuat kebijakan dan program pembangunan serta rencana kerja Pemerintah. maka Renas PB diintegrasikan ke dalam RPJMN 2010-2014. 40 Memberikan acuan kepada kementerian dan lembaga pemerintah. Kementerian/Lembaga pemerintah pusat akan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . fokus prioritas dan anggaran indikatif yang diperlukan. 1.perencanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. pemerintah setiap tahun akan menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai penjabaran dan operasionalisasi RPJMN yang memuat kerangka regulasi. 1.2014 3 . dokumen Renas PB selanjutnya menjadi arah dalam melakukan pengarusutamaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan bencana. perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas utama dalam RPJMN dan terpadukan ke dalam program-program pembangunan dalam dokumen tersebut. Secara khusus. kerangka anggaran dan rincian program.3 KEDUDUKAN DOKUMEN DAN LANDASAN HUKUM Renas PB merupakan rencana pemerintah lintas sektor yang berlaku selama lima tahun. Dengan mengacu RPJMN. terkoordinasi dan menyeluruh.

Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). dan masukan melalui berbagai media publik. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. 1. konsultasi publik. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis.2014 . media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. Di masa yang akan datang. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 4 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku.

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. 2. 4. 5.2014 5 . pemerintah daerah. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Kementerian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. lembaga pemerintah. Kementerian.1. 6. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 3.

lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 6 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . konsultasi publik. dan masukan melalui berbagai media publik. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). 1. Di masa yang akan datang. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan.2014 . terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No.

yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . lembaga pemerintah. Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Kementerian. 4. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.1. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.2014 7 . Kementerian. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). pemerintah daerah. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 3. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 2. 6. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. 5.

8 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

.

.

Jawa.1 Ancaman Gempabumi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan.2014 9 . Daerah rawan gempabumi di Indonesia tersebar pada daerah yang terletak dekat zona penunjaman maupun sesar aktif.Asia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempabumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatra. Daerah yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .1 ANCAMAN (HAZARD) 2.1. 2008). Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG. Penunjaman lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Euro.1. Bali dan Nusa Tenggara. Ketiga lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Euro-Asia. sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng. belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara.BAB II GAMBARAN UMUM KEBENCANAAN 2. Gambar 2.

pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua.207 100 > 1.1. Tabel 2. Nusa Tenggara. Lembang. Beberapa sesar aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar Sumatra. Nusa Tenggara Barat. sesar aktif di daerah Banten. Sedangkan daerah di Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatra.8 7 7. Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Daerah Istimewa Yogyakarta. menyajikan data beberapa kejadian gempabumi di Indonesia dengan jumlah korban jiwa yang besar. Kepulauan Maluku dan sistem sesar aktif lainnya yang belum terungkap. 2.2 Ancaman Tsunami Gempabumi yang disebabkan oleh interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan deformasi dasar laut yang mengakibatkan gelombang pasang dan tsunami apabila terjadi di samudera. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG. Kepulauan Maluku dan Pulau Papua.9 8. Lampung Bengkulu Pulau Nias Yogyakarta dan Jawa Tengah 2.2 MMI VIII IX IX IX X VIII VIII Korban Jiwa (org) 250 354 213 l.2. 3. Jawa Tengah. Sorong. Ransiki. menyajikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 10 . 2008) No. Cimandiri.000 > 5. Provinsi Jawa Barat. 1. Tahun 1896 1926 1943 1994 2000 2005 2006 Magnitudo (Mw) 7. 7.7 6. Gambar 2.700 Daerah Pulau Timor Sumatra Barat Yogyakarta dan Jawa Tengah Liwa. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini. Pulau Sulawesi.2. Opak. 4. Kepulauan Maluku. Baribis. pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara. Busur Belakang Flores. Tabel 2.terletak dekat zona penunjaman adalah pantai barat Sumatra. Bali. 5. Indonesia menjadi rawan terhadap ancaman tsunami. Jawa Timur.1. Palu-Koro. pantai selatan Jawa. Bali. 6.

Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia i dalam periode 1801-2006 (Puspito. Arno (1985) da Ismail (19 old an 989). G Gambar 2. Cox (1970).kejadian be encana tsunam di Indonesi dalam kuru waktu anta tahun mi ia un ara 1801-2006. dan sel lanjutnya diperbaharu dengan da ui ata-data kejadian tsunami terkini.2014 11 . sebelum tahun 1970 tidak dilaporkan dengan baik sedangkan kejadian n k. 9 oleh letusan h gunungapi dan 1 oleh tanah longso Sebagian besar data kejadian or. en 1969). Kem i nia u mudian data tersebut dibandingka dengan data yang dikum an mpulkan oleh Berninghause (1966.2. Berdasarkan i pengolahan data tersebut. n 110 100 kejadia di antarany disebabkan oleh gempa an ya abumi. 2 p 2007) Data histori tsunami di Indonesia pad periode an is da ntara tahun 16 600-1998 telah dikom mpilasi dari ka atalog gempa destruktif (t a termasuk di d dalamnya tsunami) di seluruh dun oleh Utsu (1992). tsunami yang terjadi se etelah tahun 1970 telah d diteliti dan di ilaporkan dengan lebi baik. ih Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . tercatat telah terjadi 1 kejadian tsunami.

3. Di Jawa Timur letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5. Soputan dan Lokon. letusan tahun 1930 mengakibatkan 1. Bali. letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang menewaskan 4.951 korban jiwa di Jawa Barat. Gunung-gunungapi aktif yang tersebar di Pulau Sumatra.011 korban jiwa dan letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menewaskan 2. 2006) ada beberapa kejadian letusan lain yang menimbulkan korban jiwa besar. Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava. Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku merupakan sekitar 13% dari sebaran gunungapi aktif dunia. Gunung Merapi di Yogyakarta mempunyai perulangan letusan cukup pendek. Sulawesi Tengah pada tahun 1983 terjadi letusan dahsyat Gunung Colo yang mengakibatkan hancurnya sumbat lava serta membumihanguskan sekitar 2/3 wilayah Pulau Una-Una tempat lokasi Gunung Colo. Selain letusan-letusan besar seperti letusan gunung Tambora yang menewaskan lebih dari 92 ribu jiwa dan Krakatau lebih dari 36 ribu orang pada abad XIX.000 orang. Dalam beberapa tahun ke depan potensi risiko bencana gunungapi yang perlu mendapat perhatian ada 70 gunungapi diantaranya adalah Gunung Merapi. Nusa Tenggara. Berdasarkan sejarah.369 orang korban jiwa dan letusan tahun 1972 menewaskan lebih dari 3.3 Ancaman Letusan Gunungapi Terkait dengan zona penunjaman lempeng-lempeng besar yang telah diuraikan. Sedangkan kawah gunungapi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo. Sedangkan di wilayah Yogyakarta letusan Gunung Merapi tahun 928 mengakibatkan Kerajaan Mataram hancur. Jawa. 12 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . kubah lava runtuh dan menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar Gunung Merapi. Gambar 2.2.2014 .000 korban jiwa.190 korban jiwa dan letusan tahun 1966 dengan 210 korban jiwa.2. berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG. memperlihatkan sebaran gunungapi di Indonesia. antara lain letusan Gunung Kie Besi di Maluku Utara pada tahun 1760 yang menewaskan 2. Indonesia memiliki lebih dari 500 gunungapi dengan 129 di antaranya aktif. Di Teluk Tomini.

Sulawesi Tengah (2007). Sumatra Barat (2008) dan terakhir di Situ Gintung. Hampir semua pulau utama di Indonesia memiliki beberapa kabupaten dan kota yang rawan pergerakan tanah. 2007) 2. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. secara geologis Indonesia juga menghadapi ancaman gerakan tanah. yakni Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur. seperti terjadi di Nias (2001) dan Bohorok Sumatra Utara (2005). Hampir setiap tahun Indonesia mengalami kejadian gerakan tanah yang mengakibatkan bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . kecuali Pulau Kalimantan yang hanya memiliki dua kabupaten yang rawan.3.4 Ancaman Gerakan Tanah Selain ancaman gempabumi. 179 orang luka-luka dan 250 buah rumah hancur/rusak.Gambar 2. atau yang pada umumnya dikenal sebagai tanah longsor.2. tsunami dan letusan gunungapi. Korban dan kerugian besar pada umumnya terjadi pada gerakan tanah jenis aliran bahan rombakan atau banjir bandang. Banten (2009).2014 13 . yang mengakibatkan 82 orang tewas. 103 orang hilang.

yaitu musim pa ua anas dan mus hujan den sim ngan ciriciri perubah cuaca.2. kondisi kerentanan bang gunan dan in nfrastruktur. ini dapat menimbulka ancaman-ancaman y an yang bersifat hidrot meteorolog seperti banjir dan ke gis ekeringan. kondisi batuan yang tidak kompak dan mudah mengalami d k degradasi umumnya lebih mudah untuk terjadi gerakan tana Hal ini dip ah. Di samping a h k kan itu. 2007).Gambar 2. Daerah yan memiliki re ng elief morfolog kasar denga lereng-lere yang gi an eng terjal secara umum lebih rawan untuk terjadi gerak tanah.4. suhu. perburuk lagi oleh curah hujan yang tinggi d y dan gempa y yang sering t terjadi di Indonesia. tingkat ekono omi. an kerentanan gerakan tana di Indonesi ah ia. Peta zona keren ntanan gerakan tanah di Indo n onesia (PVMBG. wilayah Indonesia t terletak di da aerah iklim tr ropis dan memiliki du musim. Gambar 2. dan kapasitas daerah seca ara umum.2014 . 2. dan arah angin yang c han cukup ekstrim Kondisi m.5 Ancam Banjir man Secara geog grafis. Secara umu tingkat r um risiko bencan gerakan t na tanah di Kabupatan/ /Kota di Indonesia dite entukan oleh keberadaa lajur an pegunungan Tingkat ris n.4 menyajika zona 4. Da aerah-daerah dengan risiko tingg terhadap ancaman ba gi anjir tersebar di seluruh wilayah r 14 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . siko dipengar ruhi pula oleh kondisi kerentanan berbagai un nsur lainnya seperti kepadatan dan kerentanan pe enduduk.

BNPB) Jumlah Kejadian Banjir dan Dampaknya 1. tersumbat sampah serta hambatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 15 . Daya tampung sistem pengaliran air tidak selamanya sama.605 3303 Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal. Jumlah Kejadian 2.mengungsi 2.901 58.640 1685 126.927 396 126. dan (c) Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan. sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap.hilang . Dampak: 2. Sulawesi Selatan dan Papua bagian selatan. Beberapa kota tertentu seperti Jakarta.907 242. Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI. daerah pantai utara Jawa bagian barat.651 57.479 841 83.4 Sawah (ha) 2.346 4760 36.382 72.028 94. tanggul dan bangunan pengendali banjir Tabel 2. Kalimantan bagian barat dan selatan.2 Rumah Rusak 2.3 Fasos/Fasum 2.603 1005 206 104 180.Indonesia.562 568.087 972 180. begitu pula daerah aliran sungai tertentu seperti daerah aliran sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa dan daerah aliran sungai Benanain di Nusa Tenggara Timur. terutama di daerah pantai timur Sumatra bagian utara.240.meninggal .5 Jalan (km) 2001/02 150 2002/03 186 2003/04 143 2004/05 182 Total 661 185 18 388.1 Korban Manusia . (b) Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai.2.197 6774 905. Berdasarkan sumber airnya.435 217 230 106 102.790 1.649 94.285 201 604. tetapi berubah akibat sedimentasi.973 54. air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam tiga kategori: (a) Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia. penyempitan sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia. Semarang dan Banjarmasin secara historis juga sering dilanda banjir.

Kekeringan diartikan sebagai berkurangnya persediaan air sampai di bawah normal yang bersifat sementara. Berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi pada meningkatnya debit banjir.2014 . baik di atmosfer maupun di permukaan tanah.5. Penyebab kekeringan adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang ditimbulkan oleh 16 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 2008) 2. Gambar 2.2.6 Ancaman Kekeringan Selain ancaman banjir. Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG. karena jika terjadi curah hujan tinggi. Bakosurtanal.lainnya. ancaman alam yang bersifat hidro-meteorologis lain yang sering menimpa Indonesia adalah kekeringan. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi dan melampaui kapasitas pengaliran. sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan terjadi banjir. PU.

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kekeringan mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan air bagi kegiatan manusia. Kalimantan Tengah. dan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. pola pengoperasian irigasi serta pengelolaan sumber daya air di permukaan lainnya. Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) Wilayah Indonesia yang rawan kekeringan meliputi beberapa kabupaten/kota di Sumatra Barat. Bengkulu.6. Gambar 2. Kepulauan Bangka Belitung. Maluku Utara dan Papua. Kepulauan Riau. Gambar 2. memperlihatkan zona bahaya kekeringan di Indonesia. Lampung.fenomena El Niño. Gangguan pola tanam yang serius pada gilirannya akan mengancam keamanan pangan masyarakat. Sulawesi Utara. Sulawesi Barat. pola pengairan. hampir seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa kecuali di bagian paling timur.2014 17 . Kalimantan Selatan. Jambi. Kalimantan Barat. Riau.6. Kalimantan Timur. Sulawesi Selatan. Kekeringan membawa akibat serius pada pola tanam. Sumatra Selatan.

Jawa. Jawa.198 ha 18 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dapat mengganggu negara-negara tetangga sehingga berpotensi menganggu hubungan kenegaraan Indonesia dengan negara-negara tetangga tersebut. Jawa. Bali. 1 2 Tahun Wilayah Luas Areal Terbakar 3.750. Sulawesi.600. Bali. Daerah di Indonesia yang rawan kebakaran hutan dan lahan terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan yang memiliki areal perkebunan dan pertanian dalam skala besar serta beberapa kabupaten/kota diantaranya di Sulawesi. Sumatra. Sulawesi dan Maluku 500.2. Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) No.3. dan Pulau Jawa. Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kalimantan.2014 .2. baik untuk usaha pertanian.7 Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Terkait dengan ancaman kekeringan. Kebakaran hutan menimbulkan berbagai dampak kesehatan dan sosialekonomi.000 ha 32.000 ha 3 4 5 6 1982/1983 Kalimantan Timur 1987 Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia dalam rangka membuka lahan. Sulawesi dan Papua 2006 Sumatra.000 ha 9. Nusa Tenggara.000 ha 5. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan. kehutanan maupun perkebunan dan ditunjang oleh adanya fenomena alam El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menimbulkan kekeringan.400. Nusa Tenggara. Kalimantan dan Sulawesi 1994 Sumatra dan Kalimantan 1997/1998 Sumatra. Bali. Tabel 2.000 ha 66. Nusa Tenggara dan Timor 1991 Sumatra.

Dari data tersebut tampak bahwa semua pulau-pulau utama Indonesia rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan.Gambar 2. yaitu perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh kekuatan air. Erosi juga merusak daerah-daerah aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan palung sungai serta bendungan-bendungan yang ada. Bali.7. pengaruh gaya berat atau organisme hidup. Risiko erosi tinggi di Indonesia tersebar di Pulau Sumatra.2. Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) 2.8 Ancaman Erosi Indonesia juga menghadapi ancaman erosi. Sementara itu Tabel 2. Gambar 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . menunjukkan beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang besar di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir.2014 19 .3. es.7. memperlihatkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. angin. dan dengan demikian mempengaruhi fungsi dan usia bendungan. Proses erosi terutama dapat mengakibatkan penipisan lapisan tanah dan penurunan tingkat kesuburan. Jawa. karena butiran tanah yang mengandung unsur hara terangkut limpasan permukaan dan diendapkan di tempat lain.

2014 . 20 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2. Makassar. kompor meledak.9 Ancaman Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran gedung dan permukiman penduduk sangat sering terjadi di Indonesia. terutama pada musim kemarau. Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku serta Papua. Ancaman muncul akibat kecerobohan manusia dalam membangun gedung atau perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan bangunan yang berlaku. Daerah-daerah di Indonesia yang perlu diwaspadai untuk ancaman ini meliputi kota-kota di DKI Jakarta. Pekanbaru. Sulawesi. Medan. Bekasi. merupakan beberapa penyebab umum kebakaran pada gedung dan permukiman. Zona Bahaya Erosi di Indonesia 2.Kalimantan. Palembang. Padang. api lilin/lampu minyak yang menyambar kasur. Bogor. Denpasar dan kota-kota lain yang setara tingkat kepadatannya di samping kawasan industri padat penduduk yang menggunakan bahan-bahan bakar dan bahan berbahaya. Semarang. Perlu diwaspadai juga kota-kota besar yang memiliki jumlah penduduk sangat tinggi seperti Surabaya. Tangerang. Gambar 2.8. Bandung. Korsleting listrik. Depok dan sekitarnya yang sangat padat penduduk.

Kota Padang dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat. Maluku dan Irian Jaya. Gambar Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 2007 ) 2.Gambar 2. Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Gelombang ekstrim adalah salah satu penyebab abrasi yang terjadi dengan cepat. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.10 Ancaman Gelombang Ekstrim dan Abrasi Terkait perubahan iklim global. Untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa. Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan. Daerah-daerah yang menghadapi risiko tinggi bencana abrasi meliputi Aceh Selatan dan Kota Banda Aceh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI-BNPB.9. Sumatra. Kota Medan. Gelombang ekstrim yang melanda Indonesia berada di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan posisi siklon tropis. Untuk wilayah di sebelah utara khatulistiwa daerah yang berpotensi terkena gelombang ekstrim adalah Pantai Sulawesi Utara. daerah yang memiliki potensi tinggi terkena gelombang ekstrim adalah wilayah pantai utara Pulau Jawa.2. Indonesia semakin sering menghadapi ancaman gelombang ekstrim dan abrasi kawasan pesisir pantai. Kota Jakarta Utara.2014 21 . Gelombang ekstrim pada umumnya ditimbulkan oleh siklon tropis.

memp perlihatkan posisi munculn siklon tro nya opis di Indone esia. dan Gambar 2. Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI-BNPB.2. 2007) bar i 22 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 11.1 menunjukk indeks zonasi abrasi di Indonesia.11.2014 .10. kan bar i klon tropis di In ndonesia (BMK KG) Gamb 2. Posisi munculnya sik Gamb 2.10.

Tingginya kecepatan angin puting beliung dapat menimbulkan kerusakan dalam bentuk robohnya atap bangunan ringan. Gambar 2. atau kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban tewas serta kerugian harta benda.2. tiang listrik dan pohon-pohon.2. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis 2. pengoperasian atau kelalaian manusia dalam menggunakan teknologi. memperlihatkan daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terlanda badai tropis.2014 23 . topan dan badai tropis juga mulai banyak mempengaruhi Indonesia.11 Ancaman Cuaca Ekstrim Cuaca Ekstrim seperti angin puting beliung.12 Kegagalan Teknologi Kegagalan teknologi juga sudah mulai mengancam Indonesia. baliho. kecelakaan industri. Salah satu kegagalan teknologi yang memicu bencana alam yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2. pencemaran bahan kimia berbahaya atau bahan radioaktif. terutama terkait dengan meningkatnya dampak perubahan iklim global. dan kawasan Indonesia bagian timur yang sangat rawan terlanda badai tropis dari arah benua Australia. Kejadian ini dapat menimbulkan dampak berupa kebakaran. Ancaman yang paling sering terjadi adalah angin puting beliung yang umumnya terjadi pada musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun dari musim kemarau ke musim hujan.12. Gambar 2. Kegagalan teknologi dapat diakibatkan oleh kesalahan desain.12.

selain jumlah korban tewas yang sangat besar setiap tahunnya. 24 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 2. dan korban luka-luka lebih dari 75. lokasi kejadian. Jawa Barat. Jawa Tengah dan Jawa Timur. dengan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman yang menjamin keselamatan para pengguna dan mendorong perilaku berlalu-lintas yang aman dan berbudaya. demam berdarah dan malaria.2. mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat hidup sehat dan higienis secara memadai. Bukit Asam. Beberapa kejadian Flu Burung sudah teridentifikasi di Sumatra Utara dan Barat. menunjukkan distribusi penderita diare saat Kejadian Luar Biasa yang dirinci berdasarkan waktu. Sawahlunto. Dalam hal kegagalan teknologi.000 jiwa. Kerugian material dari kejadian ini tentunya amat besar.sampai kini belum teratasi adalah kegagalan pengeboran di Sidoarjo yang menimbulkan luapan lumpur dari perut bumi. Tabel 2. Lampung. Banten. yang dalam sepuluh tahun belakangan ini jumlahnya telah melebihi jumlah korban tewas akibat Tsunami Aceh-Nias tahun 2004. Sumatra Barat. antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2007. Selain Flu Burung. mengakibatkan 32 korban jiwa dan luka parah/ringan 13 orang. Berjangkitnya penyakit dapat mengancam manusia maupun hewan ternak dan berdampak serius dalam bentuk kematian dan terganggunya roda perekonomian.4. Kecelakaan tambang seperti ledakan gas metana (CH4) yang terjadi di tambang batubara P.216 jiwa.2014 . Indonesia terutama juga sering mengalami kejadian diare. Perhatian khusus perlu diberikan pada keselamatan di jalan raya.T. tanggal 16 Juni 2009.600 kejadian dengan melibatkan lebih dari 130. perhatian serius perlu diberikan pada jumlah korban jiwa dan kerugian yang sangat besar yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi. jumlah penderita dan jumlah kematian yang ditimbulkannya. DKI Jakarta.000 kendaraan dan mengakibatkan korban tewas mencapai 19.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Epidemi dan wabah penyakit merupakan hal yang potensial timbul di Indonesia. Data statistik tahun 2008 dari Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya mencapai 56.

seperti di Ambon.622 3.26 Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pada periode 1968-2006 cenderung mengalami peningkatan. 2. Penderita 4.60 2. 1988. Konflik sosial dan kedaruratan kompleks memerlukan penanganan yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .051 10. Kalimantan Barat dan beberapa tempat lain.980 3. Puncak DBD terjadi pada tahun 1973. 1998 dan 2005.661 Jml.14 Konflik Sosial Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam etnis dengan bahasa dan budaya yang beraneka ragam pula.Kematian 100 94 128 53 127 277 46 CFR (%) 2.789 4.52 1. Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit DBD dari tahun 2002 terus meningkat sampai tahun 2004 dengan adanya KLB. yang di beberapa tempat dapat berlangsung lama dan berkepanjangan. kemudian meningkat kembali di tahun 2006 menjadi 330 Kabupaten/Kota.51 2. Perbedaan kepercayaan dan perbedaan tingkat kesejahteraan yang mencolok dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyulut konflik sosial. Situasi ini dikenal sebagai kedaruratan kompleks.2014 25 . Pemilihan kepala daerah belakangan mulai menimbulkan konflik dan kerusuhan antara berbagai kelompok pendukung calon tertentu.428 5. dan sedikit menurun di tahun 2005 dari 334 Kabupaten/Kota menjadi 326 Kabupaten/Kota.77 1.Tabel 2. tetapi di sisi lain terkadang menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial. Poso.4.62 2.2. Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Provinsi 12 15 22 17 11 16 8 Jml. banjir atau kebakaran hutan. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri.26 1. yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjelma menjadi konflik sosial. Konflik sosial yang diakibatkan oleh ulah manusia dapat berinteraksi dengan satu atau lebih kejadian alam seperti letusan gunungapi.314 5.

sehingga masyarakat senang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut. Mereka adalah warga masyarakat yang rentan karena tinggal terlalu dekat dengan sumber ancaman. 26 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi. Begitu pula untuk ancaman-ancaman lainnya: masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi. masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya memang merupakan dataran banjir. Hingga kini tercatat sekitar 5 juta orang yang tinggal di wilayah sekitar tubuh gunungapi (PVMBG. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir Podes tahun 2008 adalah sebanyak 231. 2007).5.3%.2014 . termasuk kejadian-kejadian konflik yang pernah terjadi di masa lampau. Unsur kerentanan lainnya adalah tingkat kepadatan penduduk.640. Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk di pulau-pulau di negeri ini.960 dengan laju pertumbuhan penduduk antara tahun 2000-2005 tercatat sebesar 1. Renas PB perlu mengulas isu kerawanan sosial dan kedaruratan kompleks dengan mengkaji potensi-potensi kerawanan sosial apa saja yang dapat timbul di Indonesia. daerah rawan letusan gunungapi adalah daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunungapi. mata air dan pemandangan yang indah. penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di lerang-lereng yang labil. Keterlambatan dalam penanganan dapat berakibat pada eskalasi tingkat intensitas dan keluasan konflik.segera dan seksama. Daerah seperti ini pada umumnya mempunyai daya tarik dalam rupa tanah yang subur untuk bercocok tanam. Tabel 2.2 KERENTANAN DAN KAPASITAS Salah satu aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas dari pusat ancaman. Dengan demikian. mereka yang rentan terhadap gempabumi adalah yang tinggal di dekat patahanpatahan/sesar aktif. 2. Dalam kedua situasi ini perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok-kelompok minoritas yang biasanya sangat terpengaruh oleh dampak situasi yang kurang menguntungkan ini.

9 7.9% dari seluruh daratan yang dimiliki Indonesia.8 17. lapangan kerja. Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau Luas Wilayah (%) Penduduk (%) 1930 68.9 4. menimbulkan kerentanan karena Pulau Jawa selain memiliki banyak ancaman alam termasuk gempabumi dan letusan gunungapi.7 3. Pulau 30.5 7.9 19 4.5 100 1990 60 20.6 7. dengan 7 jiwa untuk Provinsi Papua dan 8 jiwa untuk Provinsi Papua Barat yang paling jarang penduduknya. Selain itu. juga menghadapi ancaman kerawanan sosial.3 100 1971 63.6 6.9 5.1 7 7.9 Madura 2. Sulawesi 9.2 7. Jawa 6.7 7 7. dan bercampurnya masyarakat multi etnis dan budaya di pulau-pulau utama tersebut.4 lainnya 6.5. maka tingkat kerawanan sosial akan menjadi lebih tinggi.3 21.5 100 1985 60.2 4.3 5.2014 27 . Bandingkan bahwa pada saat yang sama rata-rata kepadatan penduduk Indonesia per km2 hanya 124 jiwa.1 7.6 100 Pulau 1. diinformasikan bahwa hampir dua per tiga penduduk Indonesia (58. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .5. Kalimantan 28.6 100 2008 58.2 7.4 7.3%) tinggal di Pulau Jawa dan Madura. Sumatra 24.9 19. Begitu pula dengan tingkat pertambahan penduduk yang relatif tinggi. jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan berpotensi meningkatkan kerawanan sosial di Indonesia.1 7.3 5.menyajikan distribusi persentase luas dan penduduk Indonesia berdasarkan pulau.3 7. Dengan terbatasnya daya dukung sumberdaya dan lingkungan. Total 100 Sumber: diolah dari BPS Pada Tabel 2.2 100 1980 61. yang hanya merupakan 6.7 13.5 3. terdapat konsentrasi penduduk sangat tinggi di DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk 10. diikuti oleh Pulau Sumatra.852 orang per km2 pada tahun 2008.5 4. Menumpuknya populasi penduduk di Pulau Jawa dan Madura.3 100 1961 65 16.1 4. Tabel 2.

60 15.20 14.300 penduduk miskin.30 26. Data BPS tahun 2007 menyebutkan bahwa Indone sia saat ini memiliki 37.00 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 Tahun Kota Desa Kota+Desa 27.30 37.00 20.2014 .10 39.90 29.40 37.20 17. Banyak warga desa yang tidak memiliki keahlian datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan.00 10.Unsur kerentanan lainnya adalah kemiskinan.10 22.60 49.40 37.20 8. Tabel 2.70 31.49 23.10 26. dan sebaliknya.10 13. jumlah penduduk miskin di perkotaan terus mengalami peningkatan dari tahun 1978-2006.17 35. Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah orang miskin terbanyak.30 8.00 30.60 12.90 17. Jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah pedesaan Indonesia lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di daerah perkotaan.81 14.00 50.50 47.90 24.26 %. dimana secara sosial ekonomi Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan.00 40.61 13.60 17. karena diasumsikan tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana.50 2002 2003 2004 2005 2006 2007 28 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .40 34.70 9. Wilayah yang mempunyai banyak penduduk miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya. Kecenderungan ini tentunya perlu ditangani dengan baik karena kemiskinan di perkotaan dapat berinteraksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan menimbulkan risiko bencana yang tinggi.56 12.30 25.50 25.30 38.6. tercatat pada Juli 2006 mencapai 7.4 juta orang atau 20. sehingga memperbesar angka kemiskinan di perkotaan.29 %.30 24. pada kurun waktu yang sama perkembangan jumlah penduduk miskin di pedesaan mengalami penurunan.60 12.80 9.168. 2007) 60. Keadaan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat urbanisasi. Namun. Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 1990-2007 (BPS.70 25.40 11. sedangkan provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar adalah Provinsi Papua yang mencapai 39.90 38.90 32.

upaya penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. sosial dan/atau ekonomi.-. Kerentanan wilayah dan penduduk terhadap ancaman dapat berupa kerentanan fisik. Angka kematian bayi pada tahun 2005 adalah sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran. terpadu dan menyeluruh. Indonesia masih terus mengembangkan diri. tingkat pendidikan. kemiskinan dan tenaga kerja. Dengan kata lain. Dengan berdirinya BNPB di tingkat pusat dan BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Dari segi ekonomi. Kerentanan sosial-ekonomi bersifat generik dan berlaku untuk semua jenis ancaman. indikator building code untuk gempa bumi. sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7. tergantung jenis ancaman dan masing-masing ancaman menggunakan indikator spesifik. Dari segi kesehatan. kesehatan.Data Badan Pusat Statistik tahun 2007 menyebutkan bahwa dari segi pendidikan.47 tahun. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tahun 2007 adalah Rp 15.370. Sementara itu.050. produk domestik regional bruto (PDRB). Kerentanan fisik bersifat spesifik.2014 29 . Dalam hal kapasitas menghadapi bencana. Kerentanan sosial ekonomi yang digunakan dalam menghitung indeks kerentanan dalam Renas PB antara lain menggunakan indikator laju pertumbuhan ekonomi. pendapatan asli daerah. sampai dengan tahun 2007 wajib belajar sembilan tahun belum tercapai sepenuhnya. usia harapan hidup orang Indonesia adalah 68.628. dari segi pengeluaran penduduk. pengeluaran per kapita riil disesuaikan untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp 624. Masih dibutuhkan kerja Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .87 %.7 tahun. misalkan tsunami code untuk tsunami. Dipandang dari segi kelembagaan kapasitas ini meningkat jauh dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan dibentuknya badan independen yang menangani bencana. Lama pendidikan sekitar tujuh setengah tahun ini setara dengan pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama. Asumsi yang digunakan adalah bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas mengenai bencana. tingkat melek huruf orang dewasa di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 91.-. maka tingkat kerentanannya semakin rendah. kepadatan dan jumlah penduduk. indikator penduduk yang tinggal di kawasan rawan bahaya (KRB) untuk ancaman letusan gunungapi dan sebagainya.

dijalankan oleh staf yang cukup dan kompeten. Sejumlah Perguruan Tinggi telah memiliki pusat studi bencana atau lembaga lain yang setara seperti misalkan Institut Teknologi Bandung. Universitas Tadulako dan Universitas Syiah Kuala. Kapasitas juga dilihat dari potensi masyarakat dalam menangkal dampak negatif bencana. pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan kelompok-kelompok siaga bencana. mampu berkoordinasi dengan baik dengan instansi-instansi lain. Di tingkat nasional telah dibentuk Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB). Lembaga-lembaga semacam ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. dan forum-forum pengurangan risiko bencana serupa lainnya. dan didukung dengan kebijakan penanggulangan bencana yang bermutu tinggi. Institut Teknologi Surabaya. Masyarakat seperti ini mengetahui bahaya apa yang mengancam mereka dan bagaimana cara mengurangi risiko bahaya-bahaya ini. Platform Nasional untuk pengurangan risiko bencana (Planas PRB). Universitas Airlangga. jaringan sosial dan organisasi masyarakat yang kuat. Adanya kearifan lokal dalam tanggap bencana. termasuk mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko. Universitas Gadjah Mada. Diharapkan bahwa dengan terbentuknya forum-forum tersebut akan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah. Keberadaan lembaga-lembaga di tingkat masyarakat yang memiliki kegiatan kebencanaan juga berpotensi untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana.keras untuk mewujudkan instansi penanggulangan bencana yang independen. 30 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . melalui gladi dan simulasi bencana. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Universitas Jember.2014 . Universitas Andalas. memiliki sumber daya dan alokasi anggaran yang memadai. dan memiliki simpanan aset atau sumber daya memadai untuk menghadapi situasi ekstrim. Institut Pertanian Bogor. Kapasitas masyarakat dapat dikatakan tinggi bila masyarakat mampu membangun rumah dan permukiman yang memenuhi standar keamanan bangunan. budaya gotong-royong dan solidaritas juga merupakan unsur yang membangun kapasitas.

7.3 RISIKO BENCANA 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Tenggara Bireun Gayo Lues Kota Banda Aceh Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Samosir Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.2014 31 Sumatra Utara . rencana penanggulangan bencana gempabumi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.1 Risiko Gempabumi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gempabumi di Indonesia (Lampiran 2).7.2.3.

Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Agam Kep.2014 . Mentawai Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Solok Lima Puluh Koto Padang Pariaman Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Solok Selatan Tanah Datar Kerinci Empat Lawang Kota Pagar Alam Lahat Oku Selatan Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Kota Bengkulu Lebong Muko-muko Rejang Lebong Seluma Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut 32 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kota Bandung Kota Cimahi Kota Sukabumi Sukabumi Tasikmalaya Cilacap Kebumen Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Blitar Jember Kediri Lumajang Malang Pacitan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Situbondo Sumenep Trenggalek Tulungagung Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang Badung Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Kota Denpasar Tabanan Bangli Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 33 .

2014 .Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Sumbawa Barat Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Luwu Timur Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sangihe Kepulauan Sitaro Kepulauan Talaud Kota Bitung Kota Manado Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol 34 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 35 .Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Boalemo Bone Bolango Gorontalo Gorontalo Utara Kota Gorontalo Pohuwato Buru Kota Ambon Maluku Tengah Maluku Tenggara Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kepulauan Sula Tidore Manokwari Raja Ampat Biak Numfor Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Pegunungan Bintang Sarmi Supiori Tolikara Waropen Yapen Waropen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

8.3. Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Barat Daya Aceh Selatan Aceh Singkil Kota Subulussalam Mandailing Natal Nias Nias Selatan Tapanuli Tengah Kota Sibolga Padang Pariaman Agam Pasaman Barat Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Kota Padang Panjang Kota Padang Muko-Muko Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Seluma Kaur Kota Bengkulu Lampung Selatan Lampung Barat Tanggamus Kota Bandar Lampung Sumatra Utara Sumatra Barat Bengkulu Lampung 36 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . rencana penanggulangan bencana tsunami dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.2 Risiko Tsunami Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana tsunami di Indonesia (Lampiran 2).8.2. Tabel 2.

2014 37 .Banten Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Pandeglang Serang Lebak Kota Cilegon Sukabumi Cianjur Garut Ciamis Tasikmalaya Kota Banjar Cilacap Purworejo Kebumen Wonogiri Bantul Kulonprogo Gunung Kidul Lumajang Banyuwangi Trenggalek Tulung Agung Pacitan Blitar Jembe Malang Badung Tabanan Jembrana Karangasem Klungkung Gianyar Lombok Timur Lombok Barat Sumbawa Bima Dompu Kota Bima Kupang Timur Tengah Selatan Sikka Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Ende Ngada Manggarai Manggarai Barat Flores Lembata Alor Timur Tengah Utara Belu Rote Ndau Sumba Timur Sumba Barat Paser Penajem Paser Utara Berau Kutai Kertanegara Kutai Timur Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Baru Tanah Laut Tanahbumbu Mejene Mamuju Utara Banggai Buol Donggala Poso Toli-Toli Parigimoutong Tojo Unauna Morowali Bolaang Mongondow Minahasa Minahasa Selatan Kepulauan Sangihe Kepulauan Talaud Buton Konawe Konawe Selatan 38 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Sulawesi Selatan Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kolaka Kolaka Utara Muna Bombana Wakatobi Sinjai Bantaeng Bulukumba Bone Jeneponto Takalar Wajo Luwu Luwu Utara Luwu Timur Gorontalo Boalemo Pohuwato Bonebolango Maluku Tengah Seram Barat Seram Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat Buru Halmahera Barat Tidore Kepulauan Kepulauan Sula Halmahera Timur Halmahera Utara Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Jayapura Merauke Nabire Biak Numfor Yapen Waropen Sarmi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 39 .

3 Risiko Letusan Gunungapi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana letusan gunungapi di Indonesia (Lampiran 2).2.9. rencana penanggulangan bencana letusan gunungapi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bener Meriah Sigli Aceh Tengah Karo Kabajahe Tapanuli Selatan Agam Pasaman Barat Solok Tanah Datar Kerinci Merangin Lahat Muara Enim Musi Rawas Rejang Lebong Lampung Barat Lampung Selatan Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Cianjur Garut Kuningan Majalengka Sukabumi Tasikmalaya Sumatra Utara Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat 40 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.2014 .3.9.

2014 .Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banjarnegara Banyumas Boyolali Brebes Klaten Magelang Pemalang Purbalingga Tegal Wonosobo Sleman Banyuwangi Blitar Bondowoso Jember Kediri Lumajang Malang Mojokerto Pasuruan Probolinggo Pandeglang Serang Bangli Karang Asem Badung Bima Lombok Timur Dompu Ende Flores Timur Manggarai Manggarai Barat Ngada Sikka Kalabahi Kota Bitung Minahasa Minahasa Selatan 41 Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

4 Risiko Gerakan Tanah Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gerakan tanah di Indonesia (Lampiran 2). Tabel 2.2014 .10. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Bener Meriah Bireun Gayo Lues Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Sumatra Utara 42 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Maluku Maluku Utara Minahasa Utara Kota Tomohon Kep.10. Talaud Sangihe Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Halmahera Barat Halmahera Utara Kota Ternate 2.3. rencana penanggulangan bencana gerakan tanah dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Mentawai Kota Bukit Tingggi Kota Padang Lima Puluh Koto Pasaman Solok Kerinci Empat Lawang Lahat Oku Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Lebong Rejang Lebong Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut Kota Sukabumi Kuningan Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 43 .Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Utara Toba Samosir Kep.

Jawa Tengah Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Banjarnegara Banyumas Pekalongan Purbalingga Wonosobo Kota Batu Pacitan Pasuruan Probolinggo Sumenep Trenggalek Lebak Bangli Buleleng Jembrana Karang Asem Tabanan Bima Dompu Kota Bima Lombok Barat Lombok Timur Sumbawa Belu Ende Flores Timur Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Sikka Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Murung Raya Malinau Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sitaro 44 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kota Bitung Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Bone Enrekang Gowa Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Pinrang Sinjai Soppeng Tana Toraja Kolaka Utara Konawe Utara Kota Kendari Bone Bolango Gorontalo Majene Mamasa Mamuju Polewali Mandar Buru Maluku Tengah Tidore Kaimana 45 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Papua Kota Sorong Manokwari Raja Ampat Sorong Teluk Wondama Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Paniai Pegunungan Bintang Puncak Jaya Sarmi Tolikara Yahukimo Yapen Waropen 2.5 Risiko Banjir Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana banjir di Indonesia (Lampiran 2).2014 .3. Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Bireun Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhoksumawe Nagan Raya Asahan Batubara Sumatra Utara 46 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .11.11. Tabel 2. rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.

2014 .Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Lampung Kepulauan Bangka Belitung Dki Jakarta Jawa Barat Deli Serdang Kota Medan Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Serdang Bedagai Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Agam Pasaman Barat Kota Padang Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hulu Siak Batanghari Kota Jambi Muaro Jambi Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Kota Palembang Kota Prabumulih Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Lampung Tengah Tulangbawang Belitung Belitung Timur Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bekasi Ciamis 47 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Cirebon Indramayu Karawang Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bandung Bandung Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Banyumas Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Kebumen Kendal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Tegal Kudus Pati Pekalongan Pemalang Purworejo Semarang Tegal Bantul Kulon Progo Bangkalan Banyuwangi Bojonegoro Gresik Jombang Kodya Pasuruan Kota Mojokerto Kota Surabaya Lamongan Lumajang 48 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Malang Mojokerto Pasuruan Sidoarjo Situbondo Tuban Trenggalek Kota Tangerang Serang Tangerang Klungkung Kota Denpasar Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Singkawang Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Kota Waringin Timur Sukamara Banjar Barito Kuala 49 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Barat Papua Hulu Sei Selatan Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Tanah Bumbu Tanah Laut Tapin Bulungan Kota Tarakan Kota Manado Bone Gowa Kota Makassar Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Sidenreng Rappang Soppeng Takalar Tana Toraja Wajo Buton Buton Utara Konawe Selatan Kota Baubau Boalemo Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Kota Sorong Sorong Sorong Selatan Asmat Boven Digoel Kota Jayapura Mappi 50 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Merauke Mimika Nabire Waropen

2.3.6 Risiko Kekeringan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kekeringan di Indonesia (Lampiran 2), rencana penanggulangan bencana kekeringan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan PROVINSI Sumatra Barat KABUPATEN/KOTA Agam Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Padang Pariaman Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Tulangbawang Way Kanan
Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014 51

Riau

Jambi

Sumatra Selatan Bengkulu Lampung

Kepulauan Bangka Belitung

Kepulauan Riau

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Bangka Bangka Barat Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Kota Pangkal Pinang Bintan Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Utara Bandung Bandung Barat Bekasi Bogor Cianjur Cirebon Garut Karawang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya Majalengka Purwakarta Subang Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang

52

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur

Blora Boyolali Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Karanganyar Kebumen Kendal Klaten Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Kudus Magelang Pati Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Rembang Semarang Sragen Sukoharjo Tegal Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunungkidul Kulon Progro Bojonegoro Jombang Kediri Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Madiun
53

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Banten

Nusa Tenggara Timur

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Magetan Nganjuk Ngawi Pacitan Pamekasan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Sumenep Trenggalek Tuban Tulungagung Kota Cilegon Kota Tangerang Pandeglang Serang Tangerang Sumba Barat Daya Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Waringin Barat Kota Waringin Timur Hulu Sei Tengah Kota Baru Tabalong Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kutai Kartanegara Kutai Timur

54

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Tabel 2.7 Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (Lampiran 2). rencana penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.13.2014 55 Sumatra Utara . Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Utara Bener Meriah Bireun Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Asahan Batubara Dairi Deli Serdang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3.13.Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Maluku Utara Papua Kota Manado Kota Makassar Pangkajene Kepulauan Polewali Mandar Tidore Kota Sorong 2.

Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan 56 Humbang Hasundutan Karo Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Serdang Bedagai Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Lima Puluh Koto Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Sawahlunto Sijunjung Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hilir Rokan Hulu Siak Batanghari Bungo Kerinci Merangin Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Tebo Banyuasin Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau Jawa Barat Jawa Tengah Empat Lawang Lahat Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Oku Selatan Oku Timur Bengkulu Utara Muko-Muko Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tulangbawang Way Kanan Bangka Bangka Barat Bangka Selatan Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Bintan Karimun Lingga Natuna Cirebon Indramayu Karawang Kuningan Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Boyolali Demak Grobogan Jepara 57 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Karanganyar Kendal Klaten Kudus Magelang Pati Semarang Sragen Sukoharjo Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Sleman Banyuwangi Bondowoso Madiun Magetan Nganjuk Ngawi Ponorogo Situbondo Lebak Pandeglang Serang Tangerang Banten Badung Bangli Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Tabanan Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa 58 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Barito Selatan Barito Timur Barito Utara Gunung Mas Kapuas Katingan Lamandau Murung Raya Pulang Pisau Seruyan Sukamara 59 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Balangan Barito Kuala Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Hulu Sei Utara Tabalong Tapin Kutai Barat Kutai Kartanegara Malinau Nunukan Pasir Penajem Paser Utara Buol Donggala Morowali Parigi Moutong Tojo Una-Una Toli Toli Bantaeng Barru Bone Bulukumba Enrekang Gowa Jeneponto Luwu Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Selayar Sidenreng Rappang Sinjai Soppeng Takalar Tana Toraja Ajo Bombana Buton Buton Utara 60 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

rencana penanggulangan bencana erosi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3.Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Kolaka Konawe Konawe Selatan Konawe Utara Muna Boalemo Bone Bolango Gorontalo Utara Pohuwato Majene Mamasa Mamuju Mamuju Utara Polewali Mandar Maluku Tenggara Barat Merauke 2.8 Risiko Erosi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana erosi di Indonesia (Lampiran 2). Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara KABUPATEN/KOTA Kota Sabang Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Nias Selatan Padang Sidempuan Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 61 .14.14. Tabel 2.

Garut Indramayu Kota Banjar Kota Bekasi Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Tasikmalaya Sukabumi Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang Cilacap Karanganyar Kebumen Kota Magelang Kota Surakarta Kota Tegal Magelang Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunung Kidul Kulon Progo Bangkalan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .Sumatra Barat Bengkulu Lampung Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur 62 Toba Samosir Kota Sawahlunto Tanah Datar Bengkulu Selatan Kota Metro Bandung Bogor Ciamis Cianjur Cirebon.

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Bondowoso Kota Blitar Kota Pasuruan Kota Madiun Kota Mojokerto Pacitan Pamekasan Ponorogo Probolinggo Sampang Trenggalek Kota Cilegon Kota Tangerang Lebak Karang Asem Klungkung Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Sambas 63 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Sanggau Sekadau Sintang Banjar Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Tarakan. Kutai Timur Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Bantaeng Enrekang Gowa Jeneponto Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Tana Toraja Buton Kota Baubau Gorontalo Majene Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Halmahera Timur Tidore 64 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

15. rencana penanggulangan bencana kebakaran gedung dan pemukiman dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.9 Risiko Kebakaran Gedung dan Pemukiman Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran gedung dan pemukiman di Indonesia (Lampiran 2).2014 65 Sumatra Utara Sumatra Barat .2.15.3. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Besar Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Timur Aceh Utara Lhokseumawe Pidie Simeulue Agam Asahan Dairi Deli Serdang Kota Medan Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Mandailing Natal Pakphak Barat Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Lima Puluh Koto Padang Pariaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.

Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Kepulauan Riau Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Selatan Pekanbaru Danau Kerinci Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Palembang Lahat Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Timur Pagar Alam Prabumulih Bengkulu Selatan Kota Bengkulu Rejang Lebong Kota Batam Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Bandung Bekasi Bogor Cianjur Garut Karawang Kota Bandung Purwakarta Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas 66 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 67 .Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Blora Boyolali Brebes Grobogan Purwodadi Jepara Karanganyar Kendal Klaten Kota Semarang Kota Surakarta Magelang Pemalang Purbalingga Rembang Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Kota Surabaya Mojokerto Serang Tangerang Buleleng Gianyar Jembrana Karangasem Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Mataram Sumbawa Kota Kupang Kupang Lembata Ngada Timor Tengah Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Papua Landak Pontianak Barito Utara Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Timur Murung Raya Palangka Raya Pulang Pisau Banjar Banjarmasin Hulu Sei Utara Kotabaru Tanah Laut Balikpapan Berau Kutai Kutai Barat Kutai Timur Samarinda Tarakan Minahasa Utara Kota Palu Bone Gowa Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Luwu Timur Pinrang Soppeng Tana Toraja Wajo Buton Kota Kendari Jayapura 68 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Nanggroe Aceh Darussalam 2. Nusa Tenggara Barat 7. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nangroe Aceh Darussalam Riau KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bireun Kota Sabang Simeuleu Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . DKI Jakarta 5.16. Jawa Timur 12.16. Jawa Tengah 11. Sumatra Barat 4.3. rencana penanggulangan bencana cuaca ekstrim dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.2. Banten 9. Daerah Istimewa Yogyakarta 10. Sumatra Utara 3.10 Risiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gelombang ekstrim dan abrasi di Indonesia (Lampiran 2).3. Nusa Tenggara Timur 6.11 Risiko Cuaca Ekstrim Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana cuaca ekstrim di Indonesia (Lampiran 2). Tabel 2. rencana penanggulangan bencana gelombang ekstrim dan abrasi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada provinsi berikut: 1. Jawa Barat 8. Sulawesi Selatan 2.2014 69 .

Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bandung Bogor Cianjur Cirebon Semarang Cilacap Tegal Pekalongan (Kabupaten-kabupaten sepanjang pantai utara). Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Jember Pasuruan Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang 70 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

DKI Jakarta. Kalimantan Selatan. Malaria juga masih merupakan masalah besar di Indonesia. Malaria Konfirmasi 3. Daftar prioritas penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB): 1. Sumatra Barat.2014 71 . Sulawesi Utara.3. Pneumonia 5. Jawa Timur. Ada 424 kabupaten/kota (73. Jawa Barat. terkait kecelakaan transportasi darat.6%) yang endemik malaria. Lampung.3.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Flu Burung berpotensi terjadi di Provinsi Sumatra Utara. Tersangka Pertusis 13. Gorontalo dan Provinsi Papua Barat. Jaundice Akut 8. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Selatan. Diare Akut 2. perlu dipetakan daerah-daerah yang terutama sangat rawan. Nusa Tenggara Timur. Tersangka Demam Dengue 4. Kasus gigitan hewan penular rabies 15. Kalimantan Tengah. Diare Berdarah 6. Tersangka Demam Tifoid 7.12 Kegagalan Teknologi Indonesia masih perlu mengadakan pemetaan lebih lanjut atas daerahdaerah yang memiliki industri atau instalasi kritis yang rawan terhadap kejadian kegagalan teknologi. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 14. Tersangka DBD 9. Jawa Tengah. 2. Bali. Tersangka Campak 11. Selain itu. Tersangka Flu Burung pada Manusia 10. Tersangka Kolera Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat. sehingga hampir separuh (45%) penduduk Indonesia berisiko tertular Malaria. Demam yang tidak diketahui sebabnya 17. Banten. mengingat tingginya jumlah korban jiwa yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi darat. Sulawesi Tengah. Tersangka Difteri 12.2. Kalimantan Timur. Tersangka Anthraks 16.

18. Sulawesi Tenggara 9. Papua 11. misalkan di wilayah-wilayah terpencil yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia. Jika menggunakan indikator sejarah konflik dan banyaknya jumlah pengungsi di wilayah. Maluku dan Maluku Utara 7.3. daerah-daerah yang rawan konflik di Indonesia terutama adalah Provinsi: 1. Sulawesi Barat 10. Tersangka Tetanus 2. Struktur sosial yang menciptakan ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan. Klaster penyakit yang tidak diketahui 19. Begitu pula jurang yang lebar antara penduduk yang miskin dan yang kaya. dapat mengobarkan konflik sosial. Nanggroe Aceh Darussalam 2. ada juga potensi konflik regional dan internasional. Papua Barat 72 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kalimantan Tengah 5. Sulawesi Tengah 8. bila sudah sampai pada puncaknya. Konflik lokal seperti yang pernah merebak di beberapa tempat di tanah air masih mungkin pecah kembali. Tersangka Tetanus Neonatus 21. Nusa Tenggara Timur 6. Kalimatan Barat 4. Sumatra Utara 3. Tersangka Meningitis/Enchepalitis 20.14 Konflik Sosial Indonesia saat ini masih menghadapi potensi konflik. Selain konflik sosial internal di tingkat masyarakat. pengangguran yang meluas dan tingkat kemiskinan yang tinggi potensial melahirkan bibit-bibit konflik.2014 .

.

.

Data tentang jumlah korban meninggal dan mereka yang luka-luka serta jumlah rumah yang hancur total. Perbedaan data dalam hal jumlah korban terluka dan jenis luka yang dialami korban akan mempersulit alokasi tenaga medis dan perlengkapan medis. Kinerja yang belum optimal seperti belum terpadu dan menyeluruhnya koordinasi dan kerjasama dalam menghadapi situasi tanggap darurat masih terlihat. terutama dalam hal pengerahan tenaga pencarian dan penyelamatan serta dalam koordinasi pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi para korban. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah. masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait di Indonesia belum siap dalam menghadapi bencana sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh bencana. fasilitas dan infrastruktur publik yang rusak akan menghambat penghitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang selanjutnya akan memperlambat pemulihan seluruh aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh.1 ISU DAN PERMASALAHAN Salah satu isu yang dihadapi dalam bidang penanggulangan bencana adalah kinerja yang masih belum optimal. Tampaknya pemahaman dan kesadaran bahwa risiko bencana dapat dikurangi melalui intervensi-intervensi pembangunan masih minim. TANTANGAN DAN PELUANG 3. termasuk obat-obatan.BAB III PERMASALAHAN. yang dibutuhkan untuk upaya pemulihan kesehatan warga yang menjadi korban. rusak berat dan rusak ringan kerap kali ada beberapa versi yang saling berbeda satu sama lain. Begitu pula dengan perbedaan data dalam hal rumah. Upaya pemulihan pasca bencana juga belum maksimal. Tanggap darurat bencana seringkali berlangsung dengan agak tidak teratur. UndangRencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Isu lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah orientasi kelembagaan penanggulangan bencana di Indonesia yang pada umumnya masih lebih terarah pada penanganan kedaruratan dan belum pada aspek pencegahan serta pengurangan risiko bencana.2014 73 .

24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memang telah merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif (terpusat pada tanggap darurat dan pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan). tsunami dan letusan gunungapi. yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa. tetapi dalam pelaksanaannya masih sedikit program-program pengurangan risiko bencana yang terencana dan terprogram. Dalam banyak kejadian bencana terakhir di Indonesia belum terlihat adanya kiprah yang signifikan dari tim-tim siaga bencana komunitas. untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko yang berdasarkan ilmu pengetahuan. dan pihak swasta. Ketangguhan dan kesiapsiagaan ini dapat dicapai melalui gladigladi dan simulasi bencana di tingkat komunitas yang dilaksanakan secara rutin dan teratur. Diperlukan adanya upaya 74 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . belum memiliki data dan informasi terinci tentang ancaman yang mereka hadapi berikut tingkat intensitasnya yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Banyak daerah yang menghadapi ancaman alam seperti gempabumi. Isu lain yang masih dihadapi adalah kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengurangi risiko bencana.2014 . termasuk pemanfaatan sistem-sistem peringatan dini yang berbasis teknologi. Jumlah korban dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana akan dapat dikurangi secara signifikan dengan adanya masyarakat dan pemerintah daerah yang tangguh dan siaga bencana. penting untuk mengembangkan tim-tim siaga bencana di tingkat masyarakat. termasuk yang paling dominan biasanya dari angkatan bersenjata. Informasi semacam ini sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. karena masyarakatlah yang pertama-tama berhadapan dengan bencana dan dampak-dampak negatifnya.undang No. Hal lain yang tampak mencolok dari berbagai kejadian bencana adalah masih dominannya peranan pemerintah dan pihak-pihak dari luar komunitas dalam situasi darurat bencana. Pemberitaan media biasanya didominasi oleh kisah tim-tim reaksi cepat dari berbagai instansi pemerintah. Mengingat Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tidak semuanya mudah dijangkau. Risiko bencana dapat dikurangi melalui program-program pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko serta penataan ruang yang berdasarkan pemetaan dan pengkajian risiko bencana.

politik dan kesehatan. Kelompok miskin dan minoritas atau marjinal juga perlu diperhatikan dalam situasi bencana.2 TANTANGAN DAN PELUANG Perubahan paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif berupa pengurangan risiko bencana yang terkandung dalam Undang-undang No. karena mereka ini biasanya merupakan kelompok yang paling rentan. masih sangat abu-abu. mudah bagi kita untuk mengabaikan mereka yang miskin dan terpinggirkan. Program-program kebencanaan harus dirancang agar tidak menambah kerentanan kelompok-kelompok ini. Setiap terjadi bencana. siapa berbuat apa belum jelas. yang sering terabaikan dalam situasi bencana. 24 Tahun 2007 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Hal seperti ini perlu dibuat suatu rencana penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai pelaku penanggulangan bencana. Pada beberapa kegiatan malah dilakukan oleh beberapa instansi. Isu yang tidak kalah pentingnya adalah belum adanya perencanaan penanggulangan bencana yang komprehensif. apa yang harus dilakukan kadang masih bingung. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana masih menghadapi tantangan. 3. Ketidaksetaraan gender ini akan berpengaruh pada nasib perempuan dalam situasi bencana. ekonomi. Perempuan di Indonesia masih tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan. ilmu dan teknologi kebencanaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai lembaga yang diamanatkan Undang-undang No. Posisi yang tidak setara akan diperburuk oleh kebutuhan khusus perempuan dalam situasi bencana. Semua ingin membantu. tetapi kadang kala tidak tahu apa yang dilakukan. karena perempuan biasanya tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mendahulukan anak-anak dan keluarganya. Dalam situasi bencana dengan banyak kebutuhan yang beraneka ragam. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah isu gender dan kelompok-kelompok marjinal.2014 75 . sehingga terjadi tumpang tindih produk yang berbeda satu dengan yang lain yang malah membingungkan pengguna (pemerintah daerah). Apalagi pada saat sebelum terjadi bencana. termasuk kelompok warga miskin.melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitianpenelitian.

peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tetap (protap) kebencanaan sampai ke tingkat pemerintahan yang paling rendah. masih banyak aparat pemerintah yang perlu diberi pendidikan dan pelatihan kebencanaan agar dapat melaksanakan pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko dan menyelenggarakan tanggap serta pemulihan bencana dengan baik. Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja tetapi juga rehabilitasi dan rekonstruksi. Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan penanggulangan bencana. diharapkan akan terbangun mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu.tentang Penanggulangan Bencana dengan fungsi merumuskan dan menetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien. dan mendorong koordinasi dan kerjasama antar pihak yang baik. dan mengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. Banyak tim siaga bencana komunitas yang perlu dibentuk dan diberi sumber daya yang memadai. 76 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. dan menyeluruh masih berusia sangat muda. Tantangannya saat ini adalah mensosialisasikan paradigma baru tersebut agar menjelma menjadi kebijakan.2014 . Selain itu. efisien dan handal. apalagi BPBD di daerah-daerah. Tantangan pada fase tanggap darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik pelaku penanggulangan bencana. simulasi dan pelatihan kebencanaan. upaya pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses belajar. di pihak pemerintah sendiri masih banyak daerah yang perlu ditingkatkan dalam hal kelembagaan penanggulangan bencana dan kelengkapannya. Dengan pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bahaya. Tantangan berikutnya adalah besarnya kebutuhan pengembangan kapasitas dalam penanggulangan bencana. banyak komunitas yang perlu menerima gladi. Ibarat proses pendidikan di sekolah. efektif. terpadu. “Roh pengurangan risiko bencana” perlu terus didorong agar merasuki para pembuat kebijakan dan semua kebijakan serta program pembangunan di Indonesia.

Di tengah kebutuhan pengembangan kapasitas yang besar. sampai saat ini regulasi penanggulangan bencana terus-menerus disempurnakan. anggaran dan sumber daya yang diperuntukkan untuk program-program pengurangan risiko bencana masih sangat terbatas. yang diikuti dengan pengesahan Peraturan-peraturan Pemerintah. Sebagian besar anggaran sampai saat ini masih lebih teralokasikan pada tanggap darurat dan pemulihan bencana. Peraturan Menteri dan Peraturan Kepala BNPB yang merupakan turunan Undang-undang. ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda pengurangan risiko bencana.2014 77 . terpadu. dengan kehadiran BNPB dan BPBD. Lepas dari besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Peluang pertama adalah semakin kondusifnya lingkungan kebijakan yang mendukung pengurangan risiko bencana. penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana menjadi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Peluang selanjutnya adalah semakin bertumbuhnya perhatian dunia pada isu pengurangan risiko bencana. dalam perumusan program-program pengurangan risiko bencana tampaknya perlu dilaksanakan proses penyusunan prioritas yang benar. Di tingkat nasional ketertarikan berbagai pihak pada isu PRB ini terwujud dalam terbentuknya Platform Nasional PRB dan forumforum serupa di daerah. menyeluruh dan efektif-efisien. Terkait dengan lingkungan kebijakan pengurangan risiko bencana yang kian mendukung. penanggulangan bencana akan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. Pembentukan badan-badan penanggulangan bencana independen di berbagai tingkat pemerintahan ini akan lebih menjamin tertanganinya isu penanggulangan bencana dan isu terkait lainnya dengan baik. Peraturan Presiden.Sedang tantangan pada rehabilitasi dan rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip membangun kembali lebih baik (build back better). Dimulai dengan lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Selain itu. peluang berikutnya adalah sudah terbentuknya BNPB dan semakin banyaknya provinsi-provinsi dan kabupaten/kota yang membentuk BPBD. Dengan adanya platform dan forum-forum ini. Mengingat tantangan-tantangan ini. terutama terkait dengan kecenderungan perubahan iklim global yang dampaknya kian memburuk.

2014 . termasuk sektor swasta dan perguruan tinggi. mendukung pengurangan risiko bencana. Selain itu komitmen antar negara. dan tidak hanya menjadi urusan pemerintah semata. masyarakat dan lembaga usaha baik berupa upaya pengentasan kemiskinan. sebagai contoh dalam koridor negara asia tenggara (ASEAN) dengan membentuk AHA Center dan latihan bersama penanggulangan bencana yang dikenal dengan ARDEX sebagai implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response). fasilitasi pendidikan dasar maupun meningkatkan kesehatan masyarakat. Bentuk-bentuk kerjasama lintas sektor baik antar pemerintah. Hal ini tentunya akan semakin memperkuat pelaksanaan pengurangan risiko bencana di Indonesia. Komitmen pelaku penanggulangan bencana untuk bersama-sama dalam penanggulangan bencana ini merupakan peluang lain.urusan berbagai pihak. 78 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

BNPB bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana. Lembaga ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat. terkoordinasi dan menyeluruh. Kepolisian Republik Indonesia. 3. efektif dan efisien. Basarnas dan PMI.2014 79 . Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana. BNPB merupakan Lembaga Pemerintah non-Kementerian yang dipimpin oleh pejabat setingkat menteri.1 VISI DAN MISI Visi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: “Ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana” Misi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: 1. terpadu. Untuk penanganan pengungsi. 2. serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian. Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko. Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal. 4. lembaga utama yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).2 PENATAAN KELEMBAGAAN Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Lembaga dan instansi terkait. BNPB Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .BAB IV KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA 4. dan menyeluruh. terpadu.

Di daerah lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). BPBD dibentuk di setiap provinsi dan dapat dibentuk di kabupaten/kota. LAPAN. Kementerian Agama. 3/2008) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Untuk bencana-bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup BNPB bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Pembentukan BPBD mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perka BNPB No. LIPI serta didukung juga oleh perguruan tinggi. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian.2014 . selain bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga teknis. Pembentukan BPBD di 80 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti Kementerian Riset dan Teknologi. LIPI dan perguruan-perguruan tinggi di seluruh Indonesia. BPBD dibentuk baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sedangkan untuk bencana-bencana terkait aspek biologis seperti wabah. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri No. dengan Kementerian Pekerjaan Umum. media massa dan pihak-pihak terkait lainnya. epidemi dan kejadian luar biasa. Untuk penelitianpenelitian kebencanaan dalam berbagai bidang. di daerah BPBD bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan PB dan penanganan pengungsi serta melakukan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan PB. Untuk pengembangan sistem peringatan dini. BNPB bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara khusus menangani ancaman tertentu. BPPT. Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BMKG. Untuk pemetaan daerahdaerah rawan.bekerja sama dengan Kementerian Sosial. Kementerian Pertanian. 46/2008). Seperti juga BNPB di tingkat pusat. Kementerian Kehutanan. BPPT. BNPB terutama dibantu oleh Kementerian Riset dan Teknologi. dan BMKG untuk bencana-bencana hidrometeorologis. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan BMKG untuk bencana-bencana geologis. Untuk pendidikan kebencanaan BNPB bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. 46/2008. 46 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Permendagri No.

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . program dan kegiatan PRB di tingkat pusat. Forum ini antara lain melibatkan pemerintah daerah beserta PMI di Kabupaten Klaten. Adanya forum-forum PRB semacam ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah di seluruh Indonesia. Bagi daerah-daerah yang belum membentuk BPBD. Konsorsium Pendidikan Bencana.tingkat provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda atau peraturan kepala daerah. selaras dengan tujuantujuan Kerangka Aksi Hyogo. Selain badan penanggulangan bencana pemerintah.2014 81 . sebuah perguruan tinggi dari Yogyakarta dan beberapa lembaga donor. Di tingkat daerah juga sudah terbentuk forum-forum serupa seperti Forum Merapi. agar dapat mendukung tercapainya tujuan-tujuan PRB Indonesia dan terwujudnya ketahanan dan ketangguhan bangsa terhadap bencana. fungsi-fungsi penanggulangan bencana dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani urusan kebencanaan. untuk tingkat kabupaten dan kota. Di tingkat pusat telah dibentuk Forum Perguruan Tinggi untuk PRB. dan lain-lain. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kegunungapian (BPPTK). Boyolali. dari 33 provinsi yang ada sudah 16 provinsi membentuk BPBD. ada pula platform-platform atau forum PRB sektoral yang dibentuk oleh para pihak berkepentingan menurut sektor atau isu-isu tertentu. di tingkat pusat dibentuk Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB). dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia baru 21 kabupaten/kota yang memiliki BPBD. sebuah forum yang didirikan untuk memfasilitasi kerjasama dalam pengelolaan Gunung Merapi secara menyeluruh pada aspek ancaman. Sampai dengan akhir bulan Oktober tahun 2009. Magelang dan Sleman. Planas PRB yang dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 20 November 2008 berupaya mewadahi semua kepentingan terkait kebencanaan serta membantu menyelaraskan berbagai kebijakan. yakni sebuah forum independen untuk mendorong serta memfasilitasi kerjasama antar pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia. Forum Mitigasi Bencana Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakatnya. Sementara itu. Selain Planas PRB di tingkat pusat. paguyuban masyarakat Pasag Merapi.

2014 . Kementerian Pertahanan mendukung pengamanan daerahdaerah yang terkena bencana. Kementerian Luar Negeri mendukung program-program dan kegiatan penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional. peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut: 1. saat dan pasca bencana. Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. 7. 3. 82 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Secara garis besar. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan bencana lintas kementerian dan lembaga. 4. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai. 9. Kementerian Hukum dan HAM mendorong peningkatan dan penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan. 8. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi. 6. 5. 11. 2. Kementerian Pertanian merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian. 10. Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan kebutuhan transportasi. baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana. Kementerian Keuangan penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra.

dan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. tahap tanggap darurat. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik. Kementerian Sosial merencanakan kebutuhan pangan.2014 83 . advokasi dan deteksi dini dalam pencegahan bencana terkait lingkungan hidup.12. 19. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana. dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis. 13. Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan dan mengendalikan pengadaan fasilitas dan sarana komunikasi darurat untuk mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana. 20. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 14. 16. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal merencanakan dan mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang berdasarkan kajian risiko bencana. 18. 17. Kementerian Lingkungan Hidup merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif. 21. sandang. serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana. Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang peka terhadap risiko bencana. Kementerian Pendidikan Nasional merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan. Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan programprogram usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan. 15. Kementerian Riset dan Teknologi melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada situasi tidak terjadi bencana.

36. Kementerian Perumahan Rakyat mengkoordinasikan pengadaan perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial khususnya dari satelit. 31. 30. klimatologi dan geofisika. 25. Bakosurtanal merencanakan dan mengendalikan pemetaan risiko bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis. 28. BMKG membantu dalam bidang pemantauan potensi bencana yang terkait dengan meteorologi. 29. Kepolisian Republik Indonesia membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi. 34. pemanfaatan dan pengendalian bahaya nuklir. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik.22. LIPI membantu dalam bidang pengkajian ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. 32. 27. Tentara Nasional Indonesia membantu dalam kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap darurat bencana. BPPT membantu dalam bidang pengkajian dan penerapan teknologi khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. BATAN membantu dalam bidang pemantauan. BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun panduan penanggulangan bencana.2014 . pemanfaatan dan pengendalian bahaya akibat tenaga atom. 23. 26. BPN membantu dalam bidang penyediaan data-data pertanahan. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mendukung perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana. 84 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 35. 24. Bapeten membantu dalam bidang pemantauan. Basarnas mendukung BNPB dalam mengkoordinasikan dan menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR). 33.

sesuai amanat Pasal 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. ketertiban dan kepastian hukum. Tanggung jawab ini. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan peraturan-peraturan pemerintah serta peraturan presiden turunan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. Dalam situasi normal atau dalam situasi tidak terdapat bencana. nondiskriminatif. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sementara prinsip-prinsip penanggulangan bencana mencakup prinsip cepat dan tepat. sesuai ketentuan Pasal 6.2014 85 . transparansi dan akuntabilitas. kelestarian lingkungan hidup. dan ilmu pengetahuan dan teknologi. disebutkan bahwa asas-asas pokok dalam penanggulangan bencana meliputi asas kemanusiaan. Pasal 3. berdaya guna dan berhasil guna. pemberdayaan. keadilan. kemitraan. kebersamaan. pemulihan kondisi dari dampak bencana. meliputi pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. dan non-proletisi. Dalam pasal selanjutnya. adalah berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan keserasian. keselarasan. prioritas. keseimbangan. koordinasi dan keterpaduan. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. Peraturan Pemerintah No. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia. dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia diatur terutama melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.4.

2014 misi . perguruan tinggi dan LSM. Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana dilaksanakan melalui penyusunan peraturan. Dalam situasi ini BNPB dan BPBD dapat mengatur instansi-instansi sektoral dalam operasi tanggap darurat. Dalam situasi normal.pusat dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangan masing-masing. Dalam situasi darurat BNPB dan BPBD menjalankan fungsi komando. BNPB dan BPBD di tingkat daerah lebih menjalankan fungsi koordinasi dan pelaksana kegiatan pencegahan. dengan BNPB/BPBD sebagai koordinator pelaksanaannya. Pelaksanaan penanggulangan bencana di pusat maupun daerah akan memerlukan koordinasi dengan semua sektor dan unsur masyarakat. mitigasi dan kesiapsiagaan. Melalui langkah-langkah ini diharapkan upaya 86 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . misalnya saja. Dalam situasi pasca bencana BNPB dan BPBD kembali menjalankan fungsinya dalam hal koordinasi dan pelaksana kegiatan-kegiatan pemulihan. Persiapan logistik untuk mencukupi kebutuhan penduduk yang mengungsi dalam situasi darurat menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Sosial. prosedur-prosedur tetap (protap) dan rencana-rencana penanggulangan bencana dari tingkat pusat sampai daerah. seperti pengadaan sistem peringatan dini letusan gunungapi akan melibatkan Kementerian ESDM melalui Badan Geologi dan pemerintah daerah melalui BPBD. Sosialisasi sistem peringatan dini dan pelatihan penggunaannya akan melibatkan dinas pendidikan. Kegiatan mitigasi struktural seperti membangun tanggul penahan banjir dan jalur-jalur evakuasi. koordinasi dan sekaligus pelaksana kegiatan tanggap darurat. Pembagian peran di antara para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana juga akan menjadi hal yang diatur melalui Renas PB ini. Strategi yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan penanggulangan bencana Indonesia adalah sebagai berikut: 1. sementara fungsi-fungsi yang menjadi tanggung jawab instansi-instansi sektoral tetap dilaksanakan oleh sektor masing-masing. menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum. Beberapa kegiatan pengurangan risiko bencana tertentu akan memerlukan kerjasama antara berbagai instansi.

Pemberdayaan perguruan tinggi Strategi ini bertujuan untuk memberdayakan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dan mengembangkan pengetahuan serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. dalam hal ini BNPB. RKPD dan Renja Satuan Kerja Perangkat Daerah.penanggulangan bencana akan memperoleh arah yang jelas dan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah masing-masing. Dalam era desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat. RPJMD. saat tanggap darurat dan saat pemulihan pasca bencana. Pemaduan program pengurangan risiko ke dalam rencana pembangunan Program-program pengurangan risiko bencana sedapat mungkin dipadukan ke dalam rencana pembangunan di tingkat pusat dan daerah. Dengan demikian program dan kegiatan pengurangan risiko tidak akan berdiri sendiri tetapi terpadu ke dalam program pembangunan reguler. Koordinasi dan kerjasama juga akan ditingkatkan antara instansi dan aparat pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang handal. 2. 3.2014 87 . Selain itu upaya khusus juga akan dilaksanakan untuk membentuk dan meningkatkan kapasitas badan-badan penanggulangan bencana dan instansi terkait di pusat dan daerah dalam menghadapi situasi pra-bencana. baik ke dalam RPJM. Renstra dan Renja Kementerian/Lembaga. Strategi ini diharapkan akan membantu mewujudkan pembangunan yang lebih tahan terhadap risiko bencana dan menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap bencana. BNPB akan membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas penanggulangan bencana bagi daerah. Oleh karena itu. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . RKP.

sementara satuan yang bermarkas di Malang akan melayani kawasan Indonesia Timur. serta para penyandang cacat maupun 88 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 6. Mengingat Indonesia begitu luas dan memiliki penduduk yang tersebar di ribuan pulau. Di tingkat nasional ada dua SRC-PB induk yang dibentuk. yang berbasis di Lanud Abdul Rahman Saleh. yang berbasis di Lanud Halim Perdana Kusuma. 5. Untuk tujuan ini. adalah lebih efektif bila kapasitas penanggulangan bencana dibangun di tingkat komunitas. Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRCPB) Dalam menghadapi bencana yang berdampak besar. kaum minoritas dan mereka yang terpinggirkan. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat Selain memanfaatkan perguruan tinggi daerah. kerelawanan akan didorong pada semua tataran dan lapisan masyarakat. melalui program-program spesifik yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dan anak. Satuan yang bermarkas di Jakarta akan melayani kawasan Indonesia Barat. Selain itu perhatian juga akan diberikan untuk masyarakat miskin. Satuan ini memiliki anggota pilihan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bidang keahlian. Mengingat kapasitas tanggap darurat pemerintah yang masih terbatas.2014 . dan satu di Malang. satu di Jakarta. Bagaimanapun juga komunitas merupakan pihak yang pertama-tama berhadapan dengan risiko bencana. Program pengurangan risiko untuk kelompok dengan kebutuhan khusus Pendekatan khusus juga akan diterapkan untuk mendorong kesetaraan gender dalam program-program kebencanaan dan pengurangan risiko.4. terutama untuk menghadapi tanggap darurat. adalah lebih ekonomis dan efektif membangun kapasitas masyarakat. strategi yang dilakukan adalah membentuk Satuan Reaksi Cepat (stand-by force) untuk penanggulangan bencana. strategi lain yang juga akan digunakan adalah pembangunan kapasitas masyarakat di daerah rawan yang menghadapi risiko bencana yang tinggi. Keberadaan satuan ini akan meningkatkan kapasitas tanggap bencana Indonesia secara signifikan.

Pemerintah akan bekerja sama lebih erat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mitra lainnya dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. 7.kelompok dengan kebutuhan khusus lainnya. pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang relawan dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana.2014 89 . 8. Peningkatan peran dunia usaha Kalangan dunia usaha diharapkan dapat berkontribusi lebih besar lagi dalam menggalang dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . agar program-program pengurangan risiko bencana tidak meningkatkan kerentanan mereka. Kalangan dunia usaha juga dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui keterlibatan aktif dalam forum-forum pengurangan risiko bencana seperti melalui Platform Nasional PRB ataupun forum-forum serupa di tingkat daerah. Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi. termasuk melalui penyelenggaraan pelatihan-pelatihan dan peningkatan kapasitas relawan. nasional maupun internasional kian berperan besar terutama pada saat tanggap darurat dan pasca bencana. sektor swasta. Terkait dengan pengurangan risiko. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). dapat berkontribusi melalui upaya-upaya pengembangan mekanisme transfer risiko seperti asuransi bencana dan perangkat-perangkat serupa lainnya. terutama yang bergerak dalam bidang finansial. tetapi sebaliknya mendukung ketangguhan mereka terhadap bencana. baik LSM lokal. terutama untuk mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat masyarakat. Peningkatan peran LSM dan organisasi mitra pemerintah Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini. Terkait dengan itu.

90 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

.

.

pendana dan peng aan gembangan k kapasitas. G Gambar 5. Sis stem Penanggu ulangan Bencan Indonesia na Sistem pen nanggulangan bencana I n Indonesia ya ang saat ini tengah dibangun memiliki 5 (lima) pila berupa sub-sistem legislasi. Hal ini didukun oleh 3 (tig misi yang diemban pi ng ga) yaitu memb bangun sistem penanggul langan benca untuk me ana elindungi bangsa dar ancaman bencana me ri elalui pengur rangan risiko dengan menyelengg garakan penanggulangan b bencana secar terencana. Sistem ini d dibangun untu menjawab permasalaha yang dihad uk b an dapi saat ini (Bab III) dan diterje emahkan ke dalam progr ram-program sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Visi penanggulang bencana (Bab VI) sec n gan cara jelas menyebut cita-cita unt tuk menjadik kan bangsa y yang tangguh dalam menghadap bencana. ra terkoordina dan menye asi eluruh.2014 91 .1. Program me n erupakan penjabaran dari visi da misi serta pilihan tind an a dakan sesuai dengan i manajemen risiko. terpadu. ar perencanaa kelembaga an. aan.BAB V PROGRA AM Renas PB m memuat prog gram dan fok prioritas sebagai dasa dalam kus ar membuat kegiatan penanggulangan bencana.

Pertama-tama dilakukan tindakan untuk memisahkan potensi bencana yang mengancam dengan elemen berisiko (element at risk). Apabila suatu wilayah mempunyai risiko tinggi maka upaya pengurangan risiko dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan. Kegiatan sebelum terjadi bencana/pra bencana sering disebut dengan pengurangan risiko bencana. Paradigma pengurangan risiko bencana merubah pola pikir yang responsif menjadi preventif dengan pendekatan manajemen risiko. sehingga dalam pembuatan rencana aksi pengurangan risiko bencana hanya menggunakan 7 (tujuh) program tersebut. Ketujuh program di atas merupakan program yang dilakukan sebelum terjadi bencana. Bila pengurangan risiko sudah dilakukan dan masih tetap ada risiko. Program pada saat bencana adalah 8) program tanggap darurat dan program pasca bencana disebut 9) program rehabilitasi dan rekonstruksi. atau dikenal dengan mitigasi. Apabila antara potensi bencana dengan elemen berisiko tersebut tidak dapat dipisahkan (harus bertemu) maka upaya yang dilakukan adalah pengurangan risiko (risk reduction).2014 . dan 7) kesiapsiagaan. 3) penelitian. Selain program-program pengurangan risiko bencana juga terdapat program pada saat bencana dan pasca bencana. dan 4) peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lain dalam pengurangan risiko bencana. Mitigasi ini dapat dilakukan secara struktural maupun non-struktural. 6) peringatan dini. dilakukan pengalihan risiko ke pihak lain (risk transfer) misalnya melalui sistem asuransi bencana. pendidikan dan pelatihan. maka yang terakhir dilakukan adalah menerima risiko (risk acceptance) dan melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan. Apabila ketiga tindakan tersebut sudah dilakukan tetapi masih ada risiko. Tindakantindakan dalam manajemen risiko di atas dijabarkan dalam program yaitu: 5) pencegahan dan mitigasi bencana. Dengan demikian Renas PB mempunyai 9 (sembilan) program.berikut : 1) penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan. 2) perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu. Tindakan ini dikenal dengan pencegahan (risk avoidance). 92 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

sehingga leb terfokus.2. Prog gram dan fokus prioritas dalam Renas PB s No.2014 93 .1. PR ROGRAM Penguatan peratu uran FOKUS PRIO ORITAS 1. na Program da fokus priori dalam Renas PB adalah sebagai beri an itas h ikut : T Tabel 5.1 Penyusu unan peraturan perda dan pr n. Seca umum R ara Renas PB me empunyai sembilan pr rogram dan empat puluh t tujuh fokus pr rioritas. Pilihan tindakan dala manajemen risiko bencan am n na Selanjutnya agar le a ebih terarah. program m-program tersebut dideskripsik kan menjadi fokus priorit tas.Gam mbar 5. 1. Gambaran prioritas ini sebagai ara ahan dalam menyusun k kegiatankegiatan ya akan dilak ang ksanakan oleh pelaku penanggulangan bencana h yang multi stakeholder. Secar khusus ra setiap program memiliki fokus prioritas sebelum d dideskripsikan menjadi n kegiatan-ke egiatan yang akan dilaksan nakan oleh Ke ementerian/L Lembaga. rotap Penangg gulangan Benca yang memuat ana Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sebagai ren ncana. Fokus p prioritas dima aksudkan untuk mem mberikan gam mbaran priori itas dari mas sing-masing p program. Sehingga dih bih harapkan tidak terjad suatu kegia di atan dilakuka oleh lebih dari 1 (satu) instansi an ) atau ada suatu kegiatan yang tidak dilakukan oleh s y satupun instansi. masyarakat maupun lem t mbaga usaha sebagai rencan aksi. Renas PB menggamb P barkan progra dan fokus prioritas am dalam lima tahun men a ndatang.

Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Standarisasi pedoman-pedoman dan acuan penanggulangan bencana Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lembaga Pengkoordinasian penganggaran Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 94 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2 1. serta koordinasi Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops. kewenangan dan sumber daya.8 2.7 1. Satuan Reaksi Cepat Daerah) Penguatan kapasitas manajemen PB di daerah Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) dan penyediaan relawan yang memadai Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana Pembentukan Regionalisasi Depo Logistik.2014 .9 2.5 1. pendidikan dan pelatihan 1.2 3. termasuk pembagian tugas.2 3.1 3.6 1. Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.3 mekanisme PB. 3.3 1.1 2.perundanganan dan kapasitas kelembagaan 1.4 1.

7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.4 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB 5.7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan 4. Peringatan dini 3.2 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana 5.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 4.3 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5. anak dan kelompokkelompok marjinal 5.3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan 4.2 Pengembangan forum pengurangan risiko bencana (PRB) di daerah 4.4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah 3.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 3.7 Penelitian dan Pengembangan 6.1 Pemetaan risiko bencana 5.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan 4. Pencegahan dan mitigasi bencana 6.5 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana 5.4.1 Pembangunan Sistem Peringatan Dini 95 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 3.1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 4.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) 4.6 Penerapan upaya mitigasi struktural dan nonstruktural 5.

Kesiapsiagaan 8. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 9.3 Pembentukan Satuan-satuan Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional 7.1 Kaji cepat bencana 8. penyelamatan dan evakuasi 8.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan 7.2014 . Tanggap darurat 7.7.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar 7.4 96 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2 9.5 Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui antara lain pendidikan-pelatihan. hunian sementara.2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggap darurat 7.6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara 7. pengembangan teknologi informasi 7.9 Penyusunan rencana kontijensi 7.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan 7. Rehabilitasi dan rekonstruksi 9.3 Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. air bersih dan sanitasi 8.2 Pencarian.1 Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Pemulihan sarana-prasarana publik dan 9.3 9. sandang.10 Peningkatan Penyuluhan. layanan kesehatan.1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur 7.4 Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 8. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 8.8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi real-time untuk tanggap darurat.

Secara umum. Dalam 5 (lima) tahun kedepan BNPB merencanakan akan mempunyai kepanjangan tangan di daerah dengan membangun Regionalisasi Depo Logistik. Maksud regionalisasi ini adalah untuk mendukung logistik dari daerah berisiko tinggi.5 9. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai Dalam Tabel 5.2014 97 .2 sampai dengan 5. Pada program no. 5. Fokus prioritas dengan membentuk Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) merupakan implementasi program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana.9. 5 sampai dengan 9 merupakan program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. Pusat Pelatihan dan Pusdalops pada 12 lokasi. termasuk diantaranya penyiapan relawan penanggulangan bencana sebanyak 10.5.000 personil. Selanjutnya program no. masing-masing fokus prioritas mempunyai sasaran (Lampiran 3-17) yang menggambarkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan untuk menjawab isu dan permasalahan yang dihadapi. 1 sampai dengan 4. 5 (pencegahan dan mitigasi) sebenarnya terdapat program yang sifatnya generik ditunjukkan fokus prioritas no. Sasaran juga mengindikasikan lokasi-lokasi yang harus diprioritaskan karena memiliki risiko tinggi terhadap suatu ancaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan regionalisasi pelatihan penanggulangan bencana dengan pendekatan kearifan local.6 rekonstruksi rumah warga korban bencana Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui antara lain pendidikanpelatihan.1. dapat dilihat bahwa program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana adalah program no.

bencana. sehingga dalam penyusunan Renas PB masing-masing instansi mempunyai peranan penting. Hal yang paling penting dalam melaksanakan program-program Renas PB adalah kesepakatan dan keterlibatan seluruh instansi. Sedangkan instansi terkait berperan sebagai instansi penunjang yang membantu instansi utama dalam mencapai sasaran. terpadu dan menyeluruh. Lokasi-lokasi ini merupakan hasil dari analisis risiko bencana dengan mempertimbangkan bahaya. sehingga Renas PB adalah wujud kesepakatan bersama dalam mencapai sasaran yang diinginkan dalam lima tahun ke depan. kerentanan dan kapasitas (Bab II). 98 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . BMKG dan Bakosurtanal. instansi utamanya adalah Kementerian PU. Instansi utama dalam program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana terdiri dari 1 (satu) instansi. dimana instansi utama bisa lebih dari 1 (satu) instansi.000 (Lampiran 8). Hal tersebut berbeda dengan instansi utama pada program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. Tiga instansi ini telah memulai dengan membuat MoU atau kesepakatan mengenai pembuatan peta risiko bencana banjir. Dalam hal ini sebagian besar instansi utamanya adalah BNPB sebagai perwujudan Pasal 13 huruf b UU No. Sebagai contoh dalam mencapai sasaran terwujudnya peta risiko bencana banjir skala 1:50. Instansi utama merupakan instansi yang mempunyai peran utama dan mengkoordinasi instansi terkait. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu keterlibatan berbagai institusi (Kementerian/ Lembaga) sebagai instansi utama dan instansi terkait. Semangat bahwa penanggulangan bencana adalah urusan bersama dituangkan dalam penyusunan Renas PB. 24 Tahun 2007 bahwa BNPB mempunyai fungsi pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana.

.

.

50 14.012.16 368.475.. 1.000.008. PROGRAM Penguatan peraturan perundanganan dan kapasitas kelembagaan Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian. 9.(dua belas triliun delapan ratus sembilan puluh lima miliar dua belas juta rupiah).677.665.06 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 3.BAB VI ANGGARAN DAN PENDANAAN 6. 6.1 ANGGARAN Anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana ini adalah Rp.855.80 1.415. 4.000.50 822. pendidikan dan pelatihan Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB Pencegahan dan mitigasi bencana Peringatan dini Kesiapsiagaan Tanggap darurat Rehabilitasi dan rekonstruksi TOTAL 5.060.60 No.000.00 24.50 2. 8. Tabel 6.475.000. Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp. Atau rata-rata pertahun Rp.1.00 64. 2.(enam puluh empat triliun empat ratus tujuh delapan puluh lima miliar enam puluh juta rupiah). 64. 6.895. 7.) 30.638.2014 99 . 12.00 7.

-.000.665. Dana tersebut akan digunakan untuk pembentukan 1.600.-.000.000 guru. 24. Dana ini akan dialokasikan untuk pembiayaan 3.855. yang akan dipergunakan untuk kegiatan penyusunan Renas PB dan rencana penanggulangan bencana serta pengarusutamaan rencana penanggulangan bencana ke dalam rencana pembangunan di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota.2014 .-.000. 2.Dalam program penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan diperlukan dana Rp. peningkatan penerapan teknologi untuk dalam penanganan 14 macam bencana (termasuk pengembangan sistem peringatan dini).000.-.000. pembentukan 33 Pusat Studi Bencana di berbagai perguruan tinggi. pendidikan dan pelatihan diperlukan dana Rp 368. pembentukan kelompokkelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan. serta penusunan penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana.638.000. 30. pembentukan sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota dan 5 lokakarya tahunan tentang PRB berbasis komunitas. Program perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu diperlukan dana Rp.100 desa siaga bencana di 33 provinsi. penyusunan peraturan pemerintah dan peraturan daerah tentang pengelolaan sumberdaya alam yang rawan di 33 provinsi.000. pelatihan 4.500. penguatan peran media dalam menumbuhkan 100 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .000. Dana ini akan digunakan untuk penyusunan pedoman tata ruang dan tata guna lahan.000.000 penelitian di 33 Perguruan Tinggi di Indonesia. Program peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB dengan alokasi dana Rp.500.160.000. 6.000. pendidikan publik guna meningkatkan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota.-. Program pencegahan dan mitigasi diperlukan dana Rp. penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana. terbentuknya kantor regional. penguatan BPBD di 33 Provinsi dan 275 kabupaten/kota. pembentukan 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan. Program penelitian. yang akan dipergunakan diantaranya meningkatkan sumberdaya manusia dalam penanggulangan bencana berupa pelatihan terhadap staf BPBD Provinsi.

14. peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan.-.677. Program tanggap darurat Rp 1. asuransi bencana di tiap provinsi.500..000.2014 . penyediaan stok logistik kebutuhan dasar. pemulihan sarana dan prasaran publik serta pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis korban bencana. Program peringatan dini Rp.-.000. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan mobilisasi sumberdaya.diantaranya untuk pembentukan 2 SRC-PB yang berkedudukan di Malang dan Jakarta dan akan dibentuk juga 12 SRC di 12 kantor regional.0 1. 4. 822.000.dialokasikan untuk pemasangan sistem peringatan dini di provinsi yang rawan bencana.800. peningkatan peningkatan akses komunikasi di kantor pusat dan 33 provinsi.000. Tabel 6.) 12. penyediaan kebutuhan hunian darurat.000.000. Hal ini mengingat pada bencana gempa bumi pembangunan sarana dan prasara publik pada umumnya memerlukan pembangunan kembali.008. 1. JENIS BENCANA Gempabumi Tsunami Gunungapi Gerakan Tanah ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp.6 101 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat dengan melatih 2. Dana terbesar dialokasikan untuk bencana gempa bumi.489. pengumpulan dan evakuasi korban padsa saat terjadi bencana Pembiayaan terbesar terdapat pada program rehabilitasi dan rekonstruksi Rp.000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan.111.5 931.0 4. penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi.007. dan sosialisasinya. Program kesiapsiagaan dengan alokasi dana Rp 7. Penggunaaan dana tersebut diantaranya adalah untuk pengkajian kerusakan dan kerugian.415.000. 2. pembuatan modifikasi cuaca. 3.2. Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB No.000.

000.000.5 241.489. dan dukungan dunia usaha serta lembaga donor.2)..000. terutama paska gempabumi di Jawa Barat bagian selatan dan Sumatra Barat sebesar Rp.atau rata-rata pertahunnya kurang dari Rp. anggaran rencana penanggulangan bencana akibat kegagalan teknologi dan konflik sosial adalah yang terkecil yaitu masing-masing sebesar Rp.-.5. 14.800.150.5 210.(estimasi).497. 8.000.500. Begitu pula. 12.000.0 151. 7. 32. 151. 156.2 474.000. 10.5 23.dan Rp. 13. anggaran penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah yang berasal dari dana APBD dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah.500.463..5 156.000.000. 9.0 650. 102 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 11.5 197. Anggaran yang berasal dari dana APBN dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Kementerian/Lembaga untuk menjamin agar upaya penanggulangan bencana dapat berjalan secara berkesinambungan.000.8 Apabila diklasifikasi berdasarkan jenis bencana (Tabel 6.000.2 PENDANAAN Sumber pendanaan untuk pelaksanaan rencana penanggulangan bencana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).000. 6.8. 12. maka rencana penanggulangan bencana gempabumi memiliki anggaran yang paling besar yaitu Rp. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).5 380.5 312. Banjir Kekeringan Kebakaran Hutan dan Lahan Erosi Kebakaran Gedung&Perumahan Gelombang Ekstrim & Abrasi Cuaca Ekstrim Kegagalan Teknologi Epidemi & Wabah Penyakit Konflik Sosial TOTAL 2.untuk 5 (lima) tahun atau ratarata pertahun sebesar Rp..2014 .000.- 6..000. Di lain pihak. Hal ini disebabkan pada program rehabilitasi dan rekontruksinya masih mengalokasikan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah pasca bencana yang belum selesai. 2.

dunia usaha ataupun dari dana masyarakat sendiri. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk kegiatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . BNPB dan/atau BPBD sesuai tugas pokok dan fungsinya. anggaran kegiatan penanggulangan bencana juga dapat berasal dari bantuan donor. tanggap darurat dan pasca bencana. Artinya. Pendanaan yang berasal dari APBN mengacu pada sistem penganggaran yang diatur melalui keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan. Pemerintah Daerah. Bantuan dana dari pihak asing. Di samping pendanaan dari pemerintah. Dalam situasi tidak terjadi bencana. tetapi terintegrasi ke dalam anggaran yang terkait dengan kepentingan penanggulangan bencana. Dalam situasi ada potensi terjadinya bencana. Artinya. harus disampaikan atau dikirimkan secara langsung kepada BNPB. yang mengacu pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP). sementara itu program penanggulangan bencana yang bersifat umum dibiayai melalui anggaran BNPB. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana. pelaksanaan program dan kegiatan dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 ini harus disesuaikan dengan nomenklatur anggaran terkait penanggulangan bencana dari Kementerian/Lembaga.2014 103 . Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk program-program pengurangan risiko bencana. sebagian besar sumber daya dan pembiayaan untuk kegiatan penanggulangan bencana terpadu ke dalam kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Programprogram di dalam Renas PB yang spesifik instansi dibiayai dari anggaran masing-masing instansi bersangkutan. dana penanggulangan bencana digunakan oleh Pemerintah. Dana penanggulangan bencana digunakan untuk tahap tidak ada bencana.Anggaran untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan merupakan dana tambahan (on top) terhadap anggaran Renstra Kementerian/Lembaga. Mekanisme pendanaan yang berasal dari anggaran non-pemerintah diatur sesuai aturan masingmasing lembaga atau instansi.

Pemerintah daerah mengajukan permohonan untuk dana ini kepada pemerintah pusat melalui BNPB.kesiapsiagaan. pemerintah mengalokasikan dana siap pakai (on-call budget) yang harus selalu tersedia untuk kebutuhan saat tanggap darurat. Balai/Balai Besar Kementerian/Lembaga) mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. pemerintah mengalokasikan dana bantuan sosial berpola hibah yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah. 104 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan peraturan perundangan turunannya (Peraturan Menteri/Kepala Lembaga bersangkutan) dengan mengacu kepada rencana penanggulangan bencana di daerah.2014 . Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. Kepolisian. Sedangkan untuk tahap pasca bencana. Pengajuan anggaran kegiatan penanggulangan bencana dari instansi vertikal di daerah (TNI. pembangunan sistem peringatan dini dan kegiatan mitigasi bencana. Untuk mengantisipasi situasi tanggap darurat. Kanwil.

.

.

70 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.BAB VII PEMANTAUAN. Kep-102/Mk. 60 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. 292/M. 7. 40 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan dan sasaran pembangunan. EVALUASI DAN PELAPORAN Pemantauan (monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan agar sesuai dengan rencana yang telah disusun.2/2002 dan No.2014 105 . 80 Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas No.1 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan Renas PB dan mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul agar dapat diambil tindakan sedini mungkin. Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan realisasi penyerapan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Ppn/09/2002 tentang Sistem Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Proyek Pembangunan. Kep. 50 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan yang tercantum di dalam Renas PB ini dilaksanakan dengan mengacu pada perangkat hukum berikut: 30 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan.

Keterlibatan aktif unsur luar dapat diakomodasi dalam bentuk kelompok kerja yang dikoordinasikan oleh pemerintah. Pemantauan pelaksanaan Renas PB dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masingmasing. Kegiatan pemantauan juga dapat melibatkan masyarakat (misalkan melalui Platform Nasional PRB). Koordinasi.. LSM dan kelompok profesional. kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Renas PB serta mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatankegiatan pengurangan risiko bencana. yakni tingkat seberapa jauh program/kegiatan mencapai hasil dan manfaat yang diharapkan. Pemantauan dapat dilaksanakan antara lain melalui kunjungan kerja ke program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. kinerja program serta hasil-hasil yang dicapai. Kapasitas dan Keberlanjutan dari pelaksanaan suatu rencana program/kegiatan. tepat lokasi dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal. yakni derajat hubungan antara barang/jasa yang dihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output). Pemantauan harus dilakukan secara berkala untuk mendapatkan informasi akurat tentang pelaksanaan kegiatan. ditinjau secara berkala setiap 2 106 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Laporan hasil pemantauan disusun setiap enam bulan sekali (semester). dan pengecekan laporan pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko yang dikaji berdasarkan rencana kerja yang tercantum dalam Renas PB. Selain untuk menemukan dan menyelesaikan kendala yang dihadapi.2014 . pelaksanaan pemantauan sebaiknya juga menilai aspek Konsistensi. yaitu kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) dapat diselesaikan tepat waktu. realisasi pencapaian target keluaran (output) dan kendala yang dihadapi. Efektivitas. rapat kerja atau pertemuan dengan pelaksana kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan dan kendala yang ditemui. Konsultasi.. dan Kemanfaatan.dana. Selain ketiga asas tersebut. Pasal 6 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar “Rencana penanggulangan bencana. Pelaksanaan pemantauan (dan juga evaluasi) dilaksanakan dengan memperhatikan asas Efisiensi.

1. keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. evaluasi juga menjamin adanya tanggung-gugat (akuntabilitas) dan membantu meningkatkan efisiensi serta efektivitas pengalokasian sumber daya dan anggaran. Di samping membandingkan antara target dan pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Renas PB. Kedua cara ini dapat saling mendukung dalam memberikan informasi yang bermanfaat untuk Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . kinerja program pengurangan risiko bencana yang tercantum dalam Renas PB diukur juga berdasarkan kemanfaatan serta keberlanjutannya. Tabel 7. objektif dan transparan. evaluasi juga dapat dilakukan dengan mengkaji dampak yang ditimbulkan melalui pelaksanaan Renas PB. Pada hakikatnya evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). Evaluasi berkala ini bertujuan untuk menilai hasil yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan pengurangan risiko bencana serta efektivitas dan efisiensi program dan kegiatan tersebut.(dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana”. menyeluruh. Kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis. Selain dinilai berdasarkan efektivitas dan efisiensinya. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumber daya yang digunakan serta indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan dan/atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. Evaluasi pelaksanaan Renas PB dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang atau jasa dan terhadap hasil (outcome) program yang dapat berupa dampak atau manfaat bagi masyarakat dan/atau pemerintah. Format pemantauan dan evaluasi Sumber Pendanaan Keterangan (Tindak Lanjut) Kegiatan Alokasi Sasaran (Target) Pencapaian (Realisasi) APBN Lain-lain Selain berguna untuk memperbaiki pengelolaan program di masa yang akan datang.2014 107 . Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana program berikutnya.

Evaluasi dapat melibatkan pihak luar. Pada akhir tahun kelima akan diadakan sebuah evaluasi akhir menyeluruh yang hasilnya akan dituangkan dalam sebuah laporan akhir yang selain berisi laporan kegiatan dan pencapaiannya juga berisi kajian atas keberhasilan/kegagalan dari semua program dan kegiatan pengurangan risiko yang telah dilaksanakan selama kurun waktu Renas PB. Laporan disusun setiap tahun dan satu salinan dari laporan ini dikirim kepada BNPB untuk disatukan dengan laporan tahunan tingkat nasional. 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 7. evaluasi pelaksanaan Renas PB juga dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.2 PELAPORAN Pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana harus dilaporkan dalam sebuah laporan tertulis. Seperti pemantauan. tetapi tetap di bawah koordinasi instansi pemerintah terkait. BNPB akan mengkoordinasikan sebuah peninjauan atau evaluasi tengah program yang melibatkan semua Kementerian/Lembaga dan pihak terkait lainnya. Harapannya adalah agar semua laporan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dapat terdokumentasi dengan baik dan secara resmi dikeluarkan oleh BNPB. Pada akhir tahun kedua dan keempat pelaksanaan Renas PB.2014 . Laporan hasil evaluasi disusun setiap satu tahun sekali.kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan Renas PB. Laporan juga akan berisi rekomendasi tindak lanjut bagi instansi/lembaga tertentu jika diperlukan.

.

.

Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan bencana. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. hilangnya rasa aman. tanggap darurat dan rehabilitasi. kerusakan atau kehilangan harta. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna. mengungsi. dan gangguan kegiatan masyarakat.Lampiran 1. pengurusan L-1 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lampiran . harta benda. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang mengurangi risiko timbulnya bencana. pemenuhan kebutuhan dasar. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. kegiatan pencegahan bencana. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. kerugian harta benda dan dampak psikologis. jiwa terancam. kerusakan lingkungan. luka. sakit. perlindungan. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. Daftar istilah dan pengertian-pengertian (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia.

adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana.(9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) pengungsi. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. yang selanjutnya disebut Pemerintah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. yang selanjutnya disingkat BNPB. yang selanjutnya disingkat RPJP. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. penyelamatan. tegaknya hukum dan ketertiban. yang selanjutnya disingkat RPJM. Rencana Pembangunan Jangka Panjang. yang selanjutnya disingkat BPBD. yang selanjutnya disebut Rencana L-2 Lampiran . Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. serta pemulihan prasarana dan sarana publik. sosial dan budaya. adalah lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. Bupati/Walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Pemerintah Pusat.

yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode I (satu) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP). adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode I (satu) tahun.(18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL). yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. adalah dokumen perencanaan kementerian/lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga. adalah dokumen perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode1 (satu) tahun. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. adalah dokumen perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (RenjaKL). atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah Lampiran L-3 .

L-4 Lampiran 2. Peta-Peta Risiko Bencana " Lampiran .

Lampiran " L-5 .

L-6

Lampiran

"

Lampiran

"
L-7

L-8

Lampiran

"

Lampiran

L-9

"

L-10

Lampiran

"

Lampiran

L-11

"

L-12

Lampiran

"

Lampiran

L-13

"

L-14 Lampiran " .

Lampiran L-15 " .

L-16 " Lampiran .

" Lampiran L-17 .

L-18 " Lampiran .

" Lampiran L-19 .

L-20 " Lampiran .

" Lampiran L-21 .

Kementerian Sosial . protap Penanggulangan Bencana tersusun di tingkat pusat dan 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .LIPI .Bakosurtanal . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk kategori program-program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana. serta 350 miliar L-22 Lampiran . Perda.TNI . serta koordinasi Peraturan. Satuan Penguatan BPBD di 33 provinsi dan terbentuknya BPBD di 275 kabupaten/ kota.BNPB Instansi terkait: .KRT .Polri . 1. Sasaran.Basarnas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri 25 miliar 1. termasuk pembagian tugas.KementerianE SDM .BMKG .1 Penyusunan peraturan.2 Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.Kementerian Kesehatan . NO.BPPT . Fokus Prioritas.Lampiran 3. kewenangan dan sumber daya.Kementerian PU .Kementerian kehutanan .BNPB Instansi terkait: . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) PROGRAM : PENGUATAN PERATURAN PERUNDANGAN DAN KAPASITAS KELEMBAGAAN 1. perda dan protap Penanggulangan Bencana yang memuat mekanisme PB.PMI Instansi utama: . Sandingan Program.

BNPB 16.5 Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana 1.Kementerian Perhubungan .BNPB Instansi terkait: .3 Diklat penguatan kapasitas manajemen PB di daerah tersedianya sarana pendukung sesuai standar minimum 3.Basarnas .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi terkait: .BMKG .PT Instansi utama: .6 Pembentukan Regionalisasi Depo 33 Pusat Studi Bencana didirikan di Perguruanperguruan Tinggi di seluruh Indonesia 16.BPPT .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian PU .PMI Instansi utama: .Reaksi Cepat Daerah) 1.5 miliar Terbentuknya 12 kantor regional 30.Kementerian ESDM .000 staf teknis/pelaksana BPBD provinsi dan SKPD terkait menerima pelatihan teknis PB .5 miliar 1.300 orang pejabat BPBD di 33 provinsi memperoleh pelatihan manajemen PB 40.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .000 miliar Lampiran L-23 .LIPI .Kementerian Pendidikan Nasional .Kementerian kehutanan .Kementerian Sosial .Kementerian PAN Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri .4 Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) 200 miliar 1.BNPB Instansi terkait: .

KRT .Kementerian PU . Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Instansi terkait: .Basarnas .Kementerian ESDM .9 Pengkoordinasian penganggaran 20 Koordinasi sinkronisasi pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana 10 miliar 20 koordinasi penganggaran sektor penanggulangan 10 miliar L-24 Lampiran .BSN .Kementerian Perhubungan .8 Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lemb aga 1.PMI .Kemenko Kesra Instansi terkait: .KementerianE SDM .BPPT .TNI .BNPB Instansi terkait: .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Sosial .BMKG .BMKG Instansi utama: .Polri 20 SNI pedoman dan acuan penanggulangan bencana Instansi utama: .Kemenko Kesra 10 miliar 1.LIPI .Logistik.Bulog .7 Standarisasi pedomanpedoman dan acuan penanggulangan bencana 1.

PROGRAM : PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA YANG TERPADU 2.000 penelitian diadakan di 33 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia Instansi utama: .2 Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini 3.BPPT .Kementerian ESDM .1 Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah 2.BNPB Instansi terkait: . PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 3.bencana Instansi terkait: .1 Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana 3.BNPB Instansi terkait: .KNRT Instansi terkait: .Kementerian Pendidikan Nasional .LIPI . RPJMD.Kementerian Kelautan dan Perikanan 150 miliar Iptek dikembangkan dan diaplikasikan untuk 14 ancaman utama 128 miliar Lampiran L-25 .16 miliar 3.Bappenas Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri 6.BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana 2. Renstra K/L.2 Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Tersusunnya Renas PB dan Rencana Penanggulangan Bencana di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota PRB dalam RPJM.BNPB .Bappenas 18 miliar Instansi utama: .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi utama: . Renstra SKPD di 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: . PROGRAM : PENELITIAN.

Kementerian Sosial 5 miliar 5.BMKG ..Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BMKG .Kementerian Luar Negeri .Kementerian PU .4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah Kurikulum sekolah di tingkat pusat dan daerah mengandung muatan Penanggulangan Bencana 275 sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota menerapkan program kesiapsiagaan bencana Pelatihan 4.000 guru dan tokoh masyarakat di 33 provinsi Instansi utama: .KementerianE SDM .BNPB Instansi utama: .Kementerian PU . lokakarya internasional dua tahun sekali 10 miliar L-26 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .BNPB 3.BNPB Instansi terkait: .Kementerian kehutanan .5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 20 miliar 3.6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 5 lokakarya tahunan PRB-BK diselenggarakan di tingkat nasional.5 miliar 3.Depdiknas Instansi terkait: .BNPB .BNPB Instansi utama: .3 Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 3.

Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kesehatan .Polri .PMI 3.Kementerian PU ..LIPI .Kementerian Kesehatan .PMI 50 miliar Lampiran L-27 .TNI .TNI .KNRT .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .Bakosurtanal .Polri .Dephut .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .BMKG .Kementerian Sosial .LIPI .KRT .BPPT .Basarnas .Basarnas .BPPT .7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan Peningkatan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota akan masalah kebencanaan Instansi utama: .Kementerian ESDM .BNPB .

Kementerian Hukum dan HAM .BNPB Instansi terkait: .1 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan Sumber Daya Alam yang rawan di 33 provinsi Instansi utama: .2 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Polri .Kementerian LH 5 miliar 4.BNPB . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 4.Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian PU .3 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana Tingkat kepatuhan terhadap peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5 miliar L-28 Lampiran .Kementerian ESDM .4.Kementerian LH Instansi terkait: .Kejaksaan .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .

Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB 10 miliar 33 forum pengurangan risiko bencana terbentuk Instansi utama: .2 Pengembangan forum pengurangan 2..BNPB 6.Kementerian LH 140 milyar 5.000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan Instansi utama: .BMKG .000 .BPN .rekomendasi tata ruang berbasis risiko bencana pada provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi Instansi Utama : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Deptan .Pedoman tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko skala 1:50. PROGRAM : PENINGKATAN KAPASITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PARA PEMANGKU KEPENTINGAN LAINNYA DALAM PRB 5.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .Bappenas .Kementerian PU .4 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana .Kementerian Kehutanan .Kementerian ESDM .1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 5.6 miliar Lampiran L-29 .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan 4.Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian ESDM .

100 Desa siaga bencana terbentuk di 33 provinsi 110 miliar 5.Kementerian Negara UKM Instansi terkait: .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi utama: .Kementerian Sosial .Kementerian Pendidikan Nasional .risiko bencana (PRB) di daerah 5.Kwarnas Pramuka Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan 5 miliar 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan 5.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 1.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan Terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan 74 miliar L-30 Lampiran .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BMKG .PMI .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Pertanian .Kementerian ESDM .3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan di 33 provinsi Instansi terkait: .Kementerian Sosial .

Meningkatnya kapasitas kaum perempuan.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) Asuransi bencana di tingkat pusat dan daerah untuk perumahan Instansi utama: .Polri .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian PU . anak dan kelompokkelompok marjinal 6. anak dan kelompok marjinal dalam menghadapi bencana di wilayah berisiko tinggi 150 miliar PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 6..3 Pembentukan Satuan-satuan 50 miliar 120 miliar Lampiran L-31 .7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.500 miliar 5.Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BNPB 2.BNPB Instansi terkait: .1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur Dua SRC PB Nasional di Jakarta dan Malang mengadakan latihan rutin dan ditingkatkan kapasitasnya dalam merespons bencana Implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response) 12 Satuan Reaksi Cepat (SRC PB) Instansi utama: .Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggapa darurat 6.000 miliar 6.Bappenas Instansi utama: .Kementerian Sosial Instansi utama: .BNPB 5.KPDT .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian 5.BNPB Instansi terkait: .BNPB .TNI .Kementerian Pemberdayaan Perempuan Instansi terkait: .

200 miliar L-32 Lampiran .Kementerian PU 300 miliar 6.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar Tersedianya stok logistik kebutuhan dasar 6.Kementerian Kesehatan Instansi terkait: .PMI Instansi utama: .Bulog Instansi utama: .BNPB .Polri .TNI .BNPB .7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan Bandara dan pelabuhan di 12 provinsi yang paling rawan 1.6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara Tersedianya kebutuhan hunian darurat dan sementara 150 miliar 6.Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional terbentuk di 12 kantor regional Instansi terkait: .Kementerian PU Instansi terkait: .BNPB .Kementerian Kesehatan .Basarnas .Kementerian Kesehatan .5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan Tersedianya kebutuhan dasar kesehatan untuk menghadapi kedaruratan 50 miliar 6.TNI .BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi terkait: .Polri .PMI Instansi utama: .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan Instansi terkait: .

Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 100 miliar 41.011.Kementerian Sosial .BNPB Instansi terkait: . pengembangan TI Sistem informasi bencana real-time terbentuk di pusat dan di 33 provinsi Instansi utama: .6.8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi realtime untuk emerjensi.26 miliar Lampiran L-33 .

BMKG .Bakosurtanal .LAPAN Instansi Utama : . Pemetaan kawasan rawan bencana.BNPB Instansi Terkait : .Penyuluhan.Lampiran 4. Penelitian dan Pengembangan .150 miliar 3.LIPI Instansi Terkait : . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 400 miliar NO. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gempabumi.000 .Kementerian PU .BPPT .LIPI Instansi Terkait : .BPPT . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : . dan pemantauan gempabumi . Sasaran. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BMKG .Peta risiko bencana gempabumi skala 1 : 50.100 penelitian dan pengembangan mengenai 150 miliar L-34 Lampiran .LIPI . pelatihan dan gladi mekanisme pengurangan risiko bencana 1.Kementerian ESDM .Kementerian Sosial .23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi . 1.BNPB . Sandingan Program. pemetaan risiko bencana.Terpasangnya 400 strong motion accelograph yang tersebar di seluruh Indonesia Instansi Utama : .BMKG 2.Kementerian ESDM .Bakosurtanal . Fokus Prioritas.BPS .

Kementerian Dalam Negeri LIPI .Bakosurtanal .23 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gempabumi 2.Kementerian ESDM .Kementerian ESDM .pengurangan risiko bencana gempabumi per tahun . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .BMKG .BMKG .BNPB Instansi Terkait : . Peningkatan Penyuluhan. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN Penyusunan rencana kontijensi .BPPT .5 miliar 2. 1.BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .LIPI .Bakosurtanal .TNI/POLRI Instansi Utama : .50 gladi kesiapsiagaan terhadap gempabumi pada wilayah berisiko tinggi terhadap 85 miliar Lampiran L-35 .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial 11.Kementerian ESDM .200 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .LAPAN .BPPT .KRT .LAPAN .Pembentukan national board of earthquake disaster prevention .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .

Kementerian PU Instansi Terkait : .gempabumi . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4. layanan kesehatan.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal . Kaji cepat bencana 2.Polri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.TNI .5 miliar 3.Basarnas 10 miliar 12.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . sandang.POLRI SRC-PB Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar L-36 Lampiran .TNI .Basarnas Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara.Polri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan . Pencarian.LAPAN .Kementerian Sosial .BPPT . penyelamatan dan evakuasi 3.

PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. Bappenas.Bappenas .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .Kementerian ESDM 5.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . .Kementerian Keuangan .BMKG Selesainya rehabilitasi dan rekonstruksi gempabumi Jawa Barat dan Sumatra Barat . Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar Lampiran L-37 . .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU 50 miliar 4..Kementerian Sosial .Bappenas.BNPB. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 8.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .000 miliar (estimasi) 2.BNPB .Kementerian Kesehatan .BNPB .

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan 3. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian PU - BNPB - Kementerian Perumahan Rakyat - Kementerian Kesehatan - Kementerian Pendidikan Nasional - Kementerian Budpar - Kementerian Agama - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU 10 miliar

4. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana

2.500 miliar

5. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan, pembangunan sistem dan

20 miliar

50 miliar

L-38

Lampiran

infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BMKG TOTAL 12.489 miliar

Lampiran

L-39

Lampiran 5.
Sandingan Program, Fokus Prioritas, Sasaran, Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Tsunami.
KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 310 miliar

NO. 1.

FOKUS PRIORITAS

SASARAN

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pemetaan kawasan rawan bencana, pemetaan risiko bencana dan pemantauan tsunami

- Peta risiko
bencana tsunami skala 1 : 50.000 - Terpasangnya 25 buoy tsunami yang tersebar di seluruh Indonesia

Instansi Utama : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Terkait : - LIPI - Bakosurtanal - BPPT - Kementerian PU - BNPB Instansi Utama : Non struktural : - Kementerian ESDM Struktural : - Kementerian PU Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian Kelautan dan Perikanan - LIPI - BPPT - KRT - BNPB - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan

2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural

- 25 provinsi yang
mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami

625 miliar

L-40

Lampiran

3. Penelitian dan Pengembangan

- 100 penelitian
dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana tsunami per tahun

Instansi Utama : - KRT - LIPI - Kementerian Kelautan dan Perikanan - BMKG Instansi Terkait : - Kementerian ESDM - BPPT - Bakosurtanal - LAPAN - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : - BNPB Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Dalam Negeri - LIPI - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Bakosurtanal - LAPAN - BPPT - TNI - Polri Instansi Utama : - BNPB

50 miliar

2.

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi

- 25 rencana
kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami

50 miliar

2. Penyuluhan, pelatihan dan gladi mekanisme
Lampiran

- 100 penyuluhan
dan pelatihan pada wilayah

42.5 miliar

L-41

LIPI .Bakosurtanal .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian ESDM .Polri Instansi Utama : .5 miliar 237.KNRT Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .TNI .Kementerian Sosial .LAPAN .BMKG .Polri .25 gladi kesiapsiagaan terhadap tsunami pada wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .BPPT . Pencarian. penyelamatan dan evakuasi L-42 Lampiran .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan BNPB SRC-PB Instansi Utama : .BMKG .tanggap darurat berisiko tinggi terhadap tsunami .LIPI .Bakosurtanal .LAPAN .Basarnas 10 miliar 12. PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.BPPT .Kementerian Dalam Negeri .TNI .5 miliar 3. Kaji cepat bencana tsunami 2.Kementerian Dalam Negeri . Membangun system peringatan dini bencana tsunami . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Terbangunnya sistem peringatan dini 25 provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami 4.

Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Polri . air bersih dan sanitasi Instansi Utama sandang pangan: .Kementerian Kesehatan 3. hunian sementara.Kementerian Perhubungan Instansi Utama : . air bersih.Kementerian Kesehatan .Polri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi utama layanan kesehatan : .TNI .Kementerian Komunikasi dan Informasi 20 miliar 4. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar Lampiran L-43 . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Perhubungan .Polri .TNI .Basarnas .Kementerian Sosial Instansi utama hunian.Instansi Terkait : . sanitasi : . layanan kesehatan. sandang.PMI .

5.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Bappenas .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian PU .BMKG 50 miliar BNPB . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Kementerian Perumahan Rakyat 10 miliar 2.Bappenas.500 miliar L-44 Lampiran .BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 3. .Kementerian Sosial .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.

Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .008.BNPB .Kementerian Dalam Negeri . .Bappenas.4.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.5 miliar Lampiran L-45 . Peningkatan kapasitas rehabilitas dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BMKG 20 miliar 50 miliar TOTAL 4.

dan pemantauan gunungapi . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 56 miliar NO.LAPAN .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gunungapi.BPPT .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .LIPI .BMKG .40 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gunungapi per tahun 60 miliar L-46 Lampiran .Peta risiko bencana gunungapi skala 1 : 50.000 .KRT .Bakosurtanal . Pemetaan kawasan rawan bencana. Fokus Prioritas.Kementerian Kesehatan . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. 1. Sasaran. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BMKG .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian ESDM 2.Lampiran 6.70 wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi 245 miliar 3.Terpasangnya instrument pemantau aktivitas gunungapi pada 70 gunungapi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . pemetaan risiko bencana.BNPB Instansi Utama : . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian PU .Kementerian ESDM .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Sosial . Sandingan Program.BPPT .

PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.BMKG .LAPAN 210 miliar 3.- BPPT Bakosurtanal LAPAN LIPI Kementerian Kesehatan . Pengamatan dan peringatan dini gunungapi Terbangunnya sIstem pengamatan guna menunjang sIstem peringatan dini di 70 gunungapi Instansi Utama : .70 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gunungapi 35 miliar Lampiran L-47 .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .TNI .Kementerian Kesehatan .BNPB .BNPB Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .Polri Instansi Utama : .Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian Sosial .LIPI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial . Penyusunan rencana kontijensi . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Pendidikan Nasional 2.

ESDM .BNPB Instansi Terkait : . Pencarian.TNI . penyelamatan dan evakuasi 7. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Kesehatan . hunian sementara.LIPI .5 miliar 4. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi .TNI .5 miliar 10 miliar 3.Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .BMKG . Kaji cepat bencana gunungapi 2. air bersih dan sanitasi 20 miliar L-48 Lampiran .Polri SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri 37.Kementerian Sosial . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . layanan kesehatan.30 gladi kesiapsiagaan terhadap gunungapi pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : .Basarnas Instansi Terkait : . sandang.Kementerian Dalam Negeri . Penyuluhan.Polri .LAPAN .TNI .Polri 2.Bakosurtanal ..BPPT .Kementerian Kesehatan .BPPT .

Kementerian Kesehatan . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities Instansi Utama : .Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Polri .Kementerian Kesehatan - Lampiran L-49 . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian PU 4. .TNI .Kementerian Perhubungan ..Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .BNPB .BMKG 10 miliar 5. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.BNPB .Bappenas.Basarnas . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 50 miliar .

Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian ESDM .BNPB ..Kementerian ESDM .Bappenas.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri 10 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM 2. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Keuangan .Bappenas . Pengkajian kerusakan dan kerugian . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui L-50 100 miliar 20 miliar 50 miliar Lampiran . .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .BNPB . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.Bappenas .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Keuangan .pendidikanpelatihan.Kementerian ESDM .BMKG TOTAL 931 miliar Lampiran L-51 .

Lampiran 7.LIPI Instansi Terkait : .BMKG . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 26 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah per tahun 260 miliar 3. Sasaran.BPPT .BPPT .BNPB . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 180 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. NO.Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gerakan Tanah.Kementerian PU .BNPB .Kementerian PU .LAPAN Instansi Utama : . Pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dan pemetaan risiko bencana gerakan tanah Peta risiko bencana gerakan tanah skala 1 : 50.LIPI . 1. Fokus Prioritas.Kementerian PU 2.Kementerian ESDM .000 Instansi Utama : .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .BMKG Instansi terkait : . Penelitian dan Pengembangan - 100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gerakan tanah per tahun 50 miliar L-52 Lampiran .LIPI . Sandingan Program.Kementerian Sosial .Bakosurtanal .

BPPT .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Kesehatan . Pemantauan gerakan tanah pada jalur jalan atau wilayah vital dan strategis - Terbangunnya sistem peringatan dini 26 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Utama : .2.BNPB 3 PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian PU .Kementerian Sosial .LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan .LAPAN .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Polri Instansi Utama : .BNPB . PROGRAM : PERINGATAN DINI KRT BPPT Bakosurtanal LAPAN Kementerian Sosial Kementerian Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Kementerian Perhubungan 200 miliar 1.BMKG .KRT . Penyusunan rencana kontijensi 26 rencana kontijensi pada tingkat provinsi 13 miliar Lampiran L-53 .Bakosurtanal .

Kementerian ESDM .Kementerian Perhubungan .BNPB Instansi Terkait : .berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Terkait : .TNI .LIPI . Penyuluhan.BMKG .6 miliar 2.BMKG .Kementerian Dalam Negeri .LAPAN .LAPAN .LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Polri Instansi Utama : . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat - - 100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 25 gladi kesiapsiagaan terhadap gerakan tanah pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 4.BPPT . Kaji cepat bencana gerakan tanah 10 miliar L-54 Lampiran . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Bakosurtanal .BPPT .TNI .Kementerian ESDM .Polri SRC-PB 43.Kementerian Kesehatan .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar 5.Kementerian Perhubungan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .TNI . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Basarnas Instansi Terkait : . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .Bappenas 10 miliar 3.Polri .TNI . hunian sementara. layanan kesehatan.Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU Instansi Utama : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui Lampiran 50 miliar L-55 . sandang.BNPB .Kementerian Kesehatan .Basarnas .2.Kementerian PU . Pencarian.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Terkait : .Polri .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .

Kementerian Keuangan 25 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-56 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Bappenas . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .Bappenas .Kementerian Sosial .Kementerian PU .pendidikanpelatihan.BMKG .Kementerian ESDM . Pengkajian kerusakan dan kerugian 10 miliar 3.Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .Kementerian ESDM .BNPB . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai .

BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .BMKG 150 miliar 20 miliar 50 miliar TOTAL 1.. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian ESDM 4.Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .BNPB . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. .Kementerian Sosial .111.Kementerian PU .6 miliar Lampiran L-57 .Kementerian Perumahan Rakyat .Bappenas.Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .

Pengenalan dan penentuan risiko bencana banjir .Lampiran 8. Penelitian dan Pengembangan . Sandingan Program. 1. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BPPT .BPPT .BPPT Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Banjir.LIPI .LAPAN Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian PU .100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana banjir per tahun 50 miliar L-58 Lampiran .Bakosurtanal Instansi Terkait: .Bakosurtanal . NO.BMKG . Fokus Prioritas. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 200 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian ESDM .Kementerian Kesehatan 2.000 Instansi Utama : .Peta risiko bencana banjir skala 1 : 50.BMKG .LIPI .Kementerian PU Instansi Terkait : .BNPB . Sasaran.LAPAN .30 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap banjir 1.BMKG .500 miliar 3.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pendidikan Nasional 2. PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi .BMKG .Kementerian Sosial .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BMKG .30 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap banjir 15 miliar Lampiran L-59 .Kementerian PU Instansi terkait: .TNI .Polri Instansi Utama : .BPPT .BNPB .Kementerian ESDM .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .KRT .LIPI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Terbangunnya sistem peringatan dini 30 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .LIPI . Pembangunan Sistem Peringatan Dini banjir .Bakosurtanal ..LAPAN .Kementerian Kesehatan 90 miliar 2.Kementerian PU .

25 gladi kesiapsiagaan terhadap banjir pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian ESDM .5 miliar 10 miliar 3. sandang. L-60 20 miliar Lampiran . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Kesehatan .Basarnas Instansi Terkait : . Kaji cepat bencana banjir 2. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. Pencarian.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Bakosurtanal .Polri SRC-PB Instansi Utama : .5 miliar 3.LAPAN .TNI .LIPI .Kementerian PU .BPPT .Kementerian Sosial 42.Kementerian Sosial . Penyuluhan. penyelamatan dan evakuasi 7.100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir .TNI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Perhubungan .BNPB Instansi Terkait : .Polri .Polri 2..Kementerian Dalam Negeri .TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.

Kementerian Perhubungan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Bakosurtanal 10 miliar 4.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan . Pengkajian kerusakan dan kerugian 50 miliar .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .BNPB . .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas .BMKG . layanan kesehatan.BNPB .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.hunian sementara.Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 5.Bappenas.Bappenas .TNI .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU Instansi Utama : .Polri .Kementerian PU 10 miliar Lampiran L-61 .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi Instansi Terkait : .

.Kementerian Kesehatan 2.Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 75 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 10 miliar 50 miliar TOTAL 2.Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .Bappenas. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.Bakosurtanal 10 miliar 3.Bappenas .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.150 miliar L-62 Lampiran .Kementerian PU .BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .BMKG . .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Kementerian Perumahan Rakyat .BNPB .

LIPI .BPPT . Fokus Prioritas.LIPI .Kementerian PU .Lampiran 9.Kementerian Sosial . NO.24 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 240 miliar Lampiran L-63 .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BNPB .Peta risiko bencana kekeringan Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian PU .BMKG .Kementerian Kehutanan . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Pertanian .Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .BPPT .BNPB 2.Kementerian ESDM .Kementerian ESDM .LAPAN Instansi terkait : .5 miliar 1. Sandingan Program.Kementerian Pertanian . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kekeringan.BMKG . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana kekeringan . Sasaran.

LIPI .BNPB .LIPI .Depdiknas Instansi Utama : ..KRT .5 miliar penyuluhan L-64 Lampiran .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .Kementerian Kesehatan 3.LAPAN .Bakosurtanal . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian Pertanian .Kementerian Sosial .BPPT .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 7.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana kekeringan per tahun Instansi Utama : .Kementerian Pertanian .Bakosurtanal 25 miliar 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.LAPAN . Informasi dan .Kementerian ESDM .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .

layanan kesehatan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Bakosurtanal . air bersih dan sanitasi 20 miliar 2.Kementerian Kesehatan .2 miliar . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.LIPI .TNI .Kementerian PU Instansi Utama : .Polri Instansi Utama : .3.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian ESDM . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Kehutanan . hunian sementara.Kementerian Perhubungan . sandang.BNPB .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .LAPAN . Penyusunan rencana penanggulangan kedaruratan LAPAN BPPT TNI Polri 7.24 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap kekeringan Instansi Utama : .BMKG .BPPT .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Kementerian PU 4. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 15 miliar Lampiran L-65 .

Kementerian PU .BNPB .Kementerian Pertanian .Bappenas .Bappenas..BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-66 Lampiran . .Kementerian Perhubungan 3.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Keuangan 30 miliar 10 miliar 2.Kementerian Keuangan .Bappenas .Kementerian Kehutanan .BMKG .Kementerian Sosial . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.

Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 650.Bappenas.2 miliar Lampiran L-67 .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik .Kementerian PU .Kementerian Pertanian TOTAL 250 miliar 4.BNPB .Kementerian Pertanian . .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kehutanan .Kementerian LH 3.Kementerian Pertanian .Kementerian LH ..Kementerian PU .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.

Kementerian Kehutanan . NO.Peningkatan pengawasan pengelolaan lahan gambut untuk tidak dibakar .10 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan per tahun . Sasaran.Lampiran 10.000 .Fasilitasi penyiapan lahan tanpa bakar untuk petani tradisional 100 miliar L-68 Lampiran .SPBK (sistem peringkat bahaya kebakaran) skala 1 : 50. Sandingan Program.BMKG . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 50 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Polri Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan.BNPB .Kementerian Pertanian .Kementerian PU . Pemetaan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan .TNI .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian LH .Kementerian Pertanian .LAPAN 2. 1.BNPB . Fokus Prioritas.Patroli dan pengawasan melaui udara dan darat Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BPPT .LIPI .Bakosurtanal .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .LAPAN Instansi Utama : .

Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Bakosurtanal .Kementerian LH . Pembangunan Sistem Peringatan Dini kebakaran hutan dan lahan .Pemanfaatan material yang sering dibakar Instansi Utama : .LAPAN .BNPB 26 miliar 4.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .BMKG .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .Kementerian Pertanian . Penyusunan rencana kontijensi .LIPI . Penelitian dan Pengembangan .LIPI Instansi utama: .Terbangunnya sistem peringatan dini 10 provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 30 miliar 3.3.10 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi 5 miliar Lampiran L-69 .Polri Instansi Utama : .LAPAN .Sinkronisasi upaya pencegahan dan mitigasi ancaman asap lintas bantas negara ASEAN 50 miliar 2.BNPB Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan .BPPT .Kementerian Pertanian .LAPAN .BPPT .BNPB .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran hutan dan lahan per tahun . Implementasi AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Polution) .TNI . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.

BPPT .BMKG .BMKG .TNI .Polri Instansi Utama : .BNPB .dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Mobilisasi sumberdaya melalui darat.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . Operasi Pemadaman .Kementerian Kesehatan .LIPI .Kementerian Kehutanan . udara.Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian . Peningkatan Penyuluhan.Pembuatan 25 miliar L-70 Lampiran . dan air .BPPT .Kementerian LH 18.Kementerian Kesehatan . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Bakosurtanal .Kementerian Sosial .10 gladi kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 4.Kementerian Kehutanan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri Instansi Utama : .LAPAN .LAPAN .TNI .5 miliar 2.BNPB .Kementerian Sosial .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan .

Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Pertanian . hewan. penyelamatan dan evakuasi .Kementerian PU Instansi Utama : .Evakuasi manusia.Basarnas . air bersih dan sanitasi .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU . sandang.Kementerian Kehutanan 10 miliar 2.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .BPPT Instansi Utama : .Polri .Kementerian Dalam Negeri .Polri .Pengumpulan dan pendistrbusian bantuan 10 miliar Lampiran L-71 .Kementerian Dalam Negeri .Dephub . dan aset-aset yang bernilai strategis 3. layanan kesehatan. Patroli.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. Pencarian.TNI .modifikasi cuaca (hujan buatan) Instansi Terkait : . hunian sementara.

Kementerian LH 40 miliar 5.BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Bappenas .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .Kementerian Kesehatan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .4.Kementerian Dalam Negeri .BNPB .BMKG .Bappenas.Kementerian Keuangan .Kementerian Pertanian .Kementerian PU .Kementerian PU . .Kementerian Keuangan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-72 Lampiran . Inventarisasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar 2.Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas .Kementerian PU .BNPB .Kementerian Kehutanan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.

Kementerian LH . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. .BMKG .5 miliar Lampiran L-73 . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 40 miliar 474.Kementerian Pertanian .BNPB .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik dan reboisasi .Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan TOTAL 50 miliar 4.3.Kementerian PU .Bappenas.Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Kehutanan .BNPB .

Kementerian PU Instansi Terkait : . Penelitian dan Pengembangan - 15 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko erosi per tahun 15 miliar L-74 Lampiran . Sasaran. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap erosi per tahun 230 miliar 3. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Erosi.Kementerian LH Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS 1.Kementerian LH Instansi Utama : . NO.Kementerian Kehutanan . Fokus Prioritas.Kementerian Pertanian .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan 2.LIPI .Lampiran 11.Bakosurtanal . Pengenalan dan pemantauan risiko erosi Peta risiko bencana erosi Instansi Utama : .Bakosurtanal .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan .BPPT . SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 40 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Pertanian . Sandingan Program.Kementerian Pertanian .LAPAN .

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. hunian sementara. Penyuluhan.Kementerian Kesehatan . sandang.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU 3 miliar 3. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. Pencarian.TNI .Kementerian Perhubungan .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian LH .Kementerian PU Instansi Utama : . air bersih dan sanitasi 2 miliar Lampiran L-75 . penyelamatan dan evakuasi 1.Kementerian ESDM 2. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap erosi Instansi Utama : .5 miliar 2..Kementerian Sosial Instansi Terkait : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Polri .Kementerian Sosial .Kementerian Kehutanan .Kementerian Perhubungan . layanan kesehatan.

Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Pertanian .Kementerian PU .BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB .Kementerian Pertanian .BNPB .Bappenas .BNPB .Kementerian Kehutanan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.5 miliar L-76 Lampiran . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.Kementerian Kehutanan .Kementerian LH .Kementerian LH 30 miliar 4.Kementerian Keuangan .Bappenas . .Kementerian PU .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian PU . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.3.5 miliar 2.

3.Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 380.Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 25 miliar 4.Bappenas.Kementerian Pertanian .Kementerian PU .5 miliar Lampiran L-77 . Pemulihan saranaprasarana publik - .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Pertanian .BMKG .Kementerian PU .Kementerian LH . .Kementerian Kehutanan .Kementerian Keuangan .

25 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman per tahun 125 miliar 3. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 20 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .5 miliar 2.Kementerian Perumahan Rakyat . Sasaran. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . 1.Lampiran 12. Pengenalan risiko kebakaran gedung dan permukiman .Peta risiko bencana kebakaran gedung dan permukiman Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Gedung dan Permukiman.Kementerian PU .BNPB 2. Fokus Prioritas.LIPI . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .BPPT .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Bakosurtanal . Sandingan Program.25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran gedung dan permukiman per tahun 12.Kementerian LH Instansi Utama : . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian PU .10 rencana kontijensi pada 5 miliar L-78 Lampiran . NO. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.

Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian PU .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi kebakaran gedung dan permukiman 3.Basarnas 10 miliar Lampiran L-79 .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .TNI .Kementerian Dalam Negeri . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Perhubungan .Polri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Operasi Pemadaman Instansi Utama : .TNI .Polri .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .TNI .tingkat provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman Instansi Terkait : .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas . Penyuluhan.Basarnas 10 miliar 2.Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Polri .Kementerian Sosial .

penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Bappenas.Kementerian Keuangan .TNI/POLRI . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan . layanan kesehatan.Dephub .BNPB .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .BMKG 5 miliar 3.Kementerian Sosial .Bappenas .Kementerian PU 2.Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Kementerian PU .Dephub .Kementerian Kesehatan .BNPB . sandang. air bersih dan sanitasi 10 miliar 4. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 30 miliar 1.Kementerian PU Instansi Utama : . Pencarian.5 miliar L-80 Lampiran . Pengkajian kerusakan dan kerugian - .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.2.Kementerian Dalam Negeri . .Kementerian Keuangan .

5 miliar Lampiran L-81 .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .5 miliar 3.Bappenas.BNPB .BMKG 2.BNPB. Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 4.Kementerian Sosial .Bappenas .Kementerian Perumahan Rakyat 2.Kementerian PU .Kementerian Perumahan Rakyat . .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar TOTAL 312.. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perumahan Rakyat .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .

LIPI .Kementerian PU . Sasaran.LIPI . NO.Kementerian Kelautan dan Perikanan .BPPT .5 miliar L-82 Lampiran .LAPAN Instansi Terkait : . Fokus Prioritas.BPPT 2.12 propinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim 90 miliar 3.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian LH .LAPAN .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BPPT .Lampiran 13.BMKG Instansi Utama : .Peta resiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Instansi Utama : .BMKG Instansi Terkait : . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian PU . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Gelombang Ekstrim dan Abrasi.Bakosurtanal .BMKG .Bakosurtanal . Sandingan Program.25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko gelombang 12. 1.LAPAN Instansi Terkait : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM: PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pengenalan dan pemantauan risiko gelombang ekstrim dan abrasi .BMKG . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .

penyelamatan dan evakuasi 10 miliar Lampiran L-83 .Bakosurtanal . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Pencarian.BMKG Instansi Utama : .BMKG .Bakosurtanal .12 provinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim Instansi Utama : ..Kementerian LH .BMKG .BMKG .Kementerian LH .Basarnas 12 miliar 3.LIPI .ekstrem dan abrasi per tahun . Pemantauan dan penyuluhan .BPPT .Kementerian PU .LAPAN Instansi Terkait : .LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Utama : .BNPB . Penyuluhan dan pelatihan .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Kelautan dan Perikanan 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian LH .Kementerian PU .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gelombang ekstrem dan abrasi 3 miliar 4.Kementerian Kelautan dan Perikanan .

Kementerian Keuangan 20 miliar 3.Polri Instansi Terkait : .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Bappenas.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kesehatan .BNPB . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1. . hunian sementara.Kementerian PU . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan . sandang.Kementerian Sosial . air bersih dan sanitasi Instansi Utama : .Kementerian PU 2.TNI ..BMKG .5 miliar L-84 Lampiran . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 5. layanan kesehatan. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU Instansi Terkait : .

Pemulihan sarana-prasarana publik dan reboisasi 25 miliar 4.Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 2.. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 241. .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Bappenas.Kementerian PU .Kementerian LH .5 miliar 3.Kementerian LH .Bappenas .Kementerian Keuangan .Kementerian LH 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .5 miliar Lampiran L-85 .BNPB .BNPB .BMKG .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .

NO.LIPI .BPPT . Penelitian dan Pengembangan .Lampiran 14. Sasaran. Pengenalan dan pemantauan risiko cuaca ekstrim . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Cuaca Ekstrim.BMKG Instansi Terkait : . 1. Fokus Prioritas.14 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim per tahun 35 miliar 3.Kementerian PU .Kementerian LH 2.LIPI .Kementerian LH Instansi Utama : .LAPAN Instansi Terkait : .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .BMKG . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Bakosurtanal . Sandingan Program.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU .Peta risiko bencana cuaca ekstrim Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BPPT .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko cuaca ekstrim per tahun 10 miliar L-86 Lampiran .LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU .BNPB .Bakosurtanal .

Pemantauan dan penyuluhan di 14 propinsi Instansi Utama : .LAPAN Instansi Terkait : . sandang.Kementerian Kesehatan .Kementerian PU . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.TNI .Kementerian LH Instansi Utama : .BMKG .BMKG . penyelamatan dan evakuasi 10 miliar 2. Pencarian.Kementerian PU 35 miliar 2.Kementerian Sosial . air bersih dan sanitasi Lampiran 10 miliar L-87 . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Sosial . hunian sementara.Basarnas .Kementerian LH Instansi Utama : .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan . Pemantauan dan Penyuluhan .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.DKP .LAPAN Instansi Terkait : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim 3 miliar 4. layanan kesehatan.BNPB . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . Penyuluhan.Polri Instansi Terkait : .

Kementerian LH .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH 1.BMKG . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU .Kementerian PU .BPPT 30 miliar 2.5 miliar .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH .Kementerian Keuangan .Instansi Terkait : .BMKG . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran 5.Bappenas . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.Bappenas . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .LAPAN .5 miliar 3.BNPB .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik 25 miliar L-88 Lampiran . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Perhubungan 3.Kementerian Keuangan .BMKG .

4.Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BMKG . .Kementerian Dalam Negeri .LAPAN .BNPB .Kementerian PU .Bappenas.BPPT TOTAL 30 miliar 197 miliar Lampiran L-89 .

Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kegagalan Teknologi. Sandingan Program.LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Bapeten .Bakosurtanal .Wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi per tahun 7. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 10 miliar 1.5 miliar L-90 Lampiran .BATAN 2.Kementerian Perindustrian . Sasaran.BPPT . NO. Pengenalan dan pemantauan risiko kegagalan teknologi Peta risiko bencana kegagalan teknologi Instansi Utama : .Kementerian PU .Kementerian LH .Kementerian PU .BATAN .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Kementerian Perindustrian .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Lampiran 15.Bapeten .LIPI . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BPPT . Fokus Prioritas.

Kementerian Perindustrian .Kementerian PU .BPPT .Kementerian Perindustrian 5 miliar 2. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri .Kementerian LH .Bapeten Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas . Penelitian dan Pengembangan .3.5 miliar 3.Polri . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi 1.Kementerian Sosial .10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kegagalan teknologi per tahun Instansi Utama : .TNI .Bapeten . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .TNI .BATAN .BPPT Instansi Terkait : .BATAN Instansi Utama : .LIPI .Kementerian Perindustrian . Penyuluhan.Kementerian Perhubungan . Operasi Penanganan 10 miliar Lampiran L-91 .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian PU .BNPB Instansi Terkait : .

BNPB . sandang. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. Pencarian. layanan kesehatan.Polri .Kementerian Sosial .Bapeten 2. penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara. . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai L-92 30 miliar Lampiran .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .LAPAN 5 miliar 3.Basarnas . air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan ..Kementerian Perindustrian .BATAN .Kementerian Kesehatan .Bappenas.Kementerian Perhubungan .

Kementerian Keuangan .BPPT .BPPT . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1..BNPB .Kementerian Sosial .BNPB .5 miliar 2.LIPI .LIPI .Kementerian Dalam Negeri .5 miliar Lampiran L-93 .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.Bappenas .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Bapeten 4.Kementerian Perhubungan TOTAL 2.Kementerian PU .BATAN .Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 161. .Kementerian Perindustrian .Kementerian PU . Pengkajian kerusakan dan kerugian .BNPB .LAPAN .Kementerian PU .Bappenas.

Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Lampiran 16.BPPT .Kementerian PU .LAPAN .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian LH Instansi Utama : .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit per tahun 30 miliar 2. Pengenalan dan pemantauan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit .BNPB ANGGARAN INDIKATIF 8 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L Instansi Utama : . NO.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 50 miliar 3.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : . Fokus Prioritas. Penyusunan rencana kontijensi .Peta risiko bencana epidemi dan wabah penyakit 2. 1.5 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap epidemi 2. Sasaran. Penelitian dan Pengembangan . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Epidemi dan Wabah Penyakit.Kementerian Dalam Negeri . Sandingan Program.5 miliar L-94 Lampiran .Kementerian Kesehatan .LIPI .

Polri . Penyuluhan.Basarnas Instansi Terkait : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial . hunian sementara.30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Sosial Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan . sandang.Kementerian Dalam Negeri .TNI .dan wabah penyakit Instansi Terkait : . air bersih dan sanitasi 20 miliar Lampiran L-95 . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : . Pencarian.5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 3.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Dalam Negeri . layanan kesehatan.Kementerian Kesehatan 10 miliar 2.Kementerian Sosial .Kementerian PU 10 miliar 2.

.Bappenas.BPPT .Bakosurtanal TOTAL 30 miliar 4.Kementerian PU .Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Perindustrian .Kementerian Perindustrian .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 20 miliar 30 miliar 210. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Perhubungan .LAPAN .Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.3.LIPI .Kementerian Keuangan .LIPI .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .BNPB .5 miliar L-96 Lampiran .Kementerian Kesehatan .BPPT .LAPAN . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 2.Kementerian PU .Bappenas.

Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Lampiran 17. NO.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .LIPI .Peta risiko bencana konflik sosial Instansi Utama : .Kementerian Komunikasi dan Informasi .TNI .5 miliar Lampiran L-97 .5 miliar 3. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Konflik Sosial. Penyuluhan.10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko konflik sosial per tahun 5 miliar 2.Polri . Sandingan Program. Fokus Prioritas. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar 1. Penelitian dan Pengembangan .BNPB 2. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Polri . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Pengenalan dan pemantauan risiko konflik sosial .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Wilayah berisiko tinggi terhadap konflik sosial per tahun 7. Sasaran.TNI .

Kementerian Perindustrian .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan 10 miliar 3.Polri .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . sandang. penyelamatan dan evakuasi 5 miliar 3.Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .TNI .Kementerian PU . hunian sementara.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . layanan 10 miliar L-98 Lampiran .Basarnas Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Basarnas Instansi Terkait : .terhadap konflik sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Polri .TNI/POLRI . Operasi Penanganan 2. Pencarian.LIPI Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.

Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui 30 miliar Lampiran L-99 .Bappenas.Kementerian Sosial .Kementerian Komunikasi dan Informasi . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Bappenas .Kementerian Sosial 2.Kementerian PU .Kementerian PU .kesehatan.BNPB .5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri 30 miliar 4.BNPB .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .LIPI . .Kementerian Sosial .Bappenas.Kementerian Keuangan . Pengkajian kerusakan dan kerugian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Polri .Kementerian Perhubungan . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.BNPB . air bersih dan sanitasi . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Keuangan .

Kementerian Keuangan .LIPI .pendidikanpelatihan.Kementerian Komunikasi dan Informasi .TNI .Polri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 156.5 miliar L-100 Lampiran .

Klimatologi dan Geofisika Badan Nasional Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Badan Pertanahan Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Pusat Statistik Badan Standarisasi Nasional Demam Berdarah Dengue Data dan Informasi Bencana Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian/Lembaga Kejadian Luar Biasa Konsorsium Pendidikan Bencana Kawasan Rawan Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Peraturan Kepala Peraturan Menteri Dalam Negeri Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana Palang Merah Indonesia Pengurangan Risiko Bencana Prosedur Tetap Pekerjaan Umum Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi L-101 .Lampiran 18. Daftar singkatan Bakosurtanal Bapeten Basarnas BATAN BMKG BNPB BPBD BPN BPPT BPS BSN DBD DiBI ESDM K/L KLB KPB KRB LAPAN LIPI LSM PDB PDRB Perka Permendagri Planas PRB PMI PRB Protap PU PVMBG Lampiran Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Badan SAR Nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional Badan Meteorologi.

L-102 Lampiran .