Anda di halaman 1dari 17

BUDIDAYA JAGUNG MANIS Ditulis Oleh Ir.

KUSMAYADI, Widyaiswara Muda Friday, 30 September 2011 Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi karena dibeberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industry di Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun industry pakan ternak khusus pakan ayam. Dengan semakin berkembangnya industry pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakin meningkat pula. Usaha Peningkatan Produksi jagung di Indonesia telah digalakan melalui dua program utama yakni : (1) Ekstensifikasi (perluasan areal) dan (2) Intensifikasi (peningkatan produktivitas). Program peluasan areal tanaman jagung selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah, baik sawah irigasi maupun lahan sawah tadah hujan melalui pengaturan pola tanam. Usaha peningkatan produksi jagung melalui program intensifikasi adalah dengan melakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan. Usaha tersebut nyata meningkatkan produktifitas jagung terutama dengan penerapan teknologi inovatif yang lebih berdaya saing (produktif, efisien dan berkualitas) telah dapat menghasilkan jagung sebesar 7 9 ton/ha seperti ditemukannya varietas unggul baru dengan tingkat produktivitas tinggi yaitu jagung manis JAGO F 1 yang berpotensi 2 tongkol/tanaman dengan potensi hasil 35 50 ton/ha. Melalui kajiwidya, widyaiswara mencoba melalui proses belajar atau berlatih sendiri dengan jalan mencoba mengerjakan sendiri, mengalami, mengamati, mencatat dan menganalisis suatu penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk Memelihara Tanaman Jagungdengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi kerja sesuai dengan bidang keahliannya. 1. Persiapan Lahan. Pengolahan tanah dimaksudkan untuk menyediakan media tumbuh bagi tanaman agar dapat menyerap hara dalam jumlah optimum. Untuk tanah yang relatip berat pengolahan dilakukan agak intensif, sedangkan pada tanah yang relative ringan pengolahan minimum dapat dilakukan. Pengolahan lahan pertama dimulai 15 hari sebelum tanam, yaitu membalikkan atau membajak tanah, selama satu minggu tanah dibiarkan untuk memperbaiki aerasi dan drainase tanah serta membunuh organism tanah yang bisa mengganggu tanaman. Satu minggu kemudian dilakukan pengolahan tanah kedua dengan meratakan tanah dan membentun bedengan penanaman. Diantara bedengan dibuat saluran air atau parit dengan lebar 60 cm. Pada tanah yang kurang subur diatas petakan-petakan penanaman dibuat lubang tanam dan disebar pupuk kandang 0,5 kg/lubang tanam 2. Penanaman. Penanaman dilakukan pada petakan-petakan yang sudah dibentuk. Pada saat tanam, tanah harus lembab tetapi tidak becek, jarak tanam yang digunakan 25 cm X 75 cm. Tanah ditugal dengan kedalaman 2 cm pada musim hujan, dan 4 cm pada musim kering. Bila kondisi lahan optimum gembur, aerasinya dan drainase baik digunakan satu benih perlubang, tetapi jika kondisi lahan kurang optimum digunakan 2 benih per lubang tanam. Untuk menghindari serangan serangga ditaburkan Karbofuran disekitar benih. 3. Pemeliharaan Penyulaman dapat dilakukan pada umur satu minggu setelah tanam. Periode kritis persaingan

tanaman dan gulma terjadi sejak tanam sampai sepertiga atau seperempat dari daur hidupnya. Penyiangan pertama dilakukan pada umur tanaman 15 hari setelah tanam dan harus dijaga agar tidak merusak atau mengganggu akar tanaman. Penyiangan kedua dilakukan sekaligus pembumbunan pada waktu pemupukan kedua. Pembumbunan dilakukan untuk memperkokoh batang, memperbaiki drainase dan mempermudah pengairan. Dosis pemupukan yang dilakukan oleh pengkaji dengan menggunakan pupuk organic (Phonska) yaitu : Umur Jenis pupuk Dosis / Tanaman 15 HST Phonska 10 gram/lubang 45 HST Phonska 10 gram/lubang 4. Panen. Tanaman jagung JAGO F1 adalah jagung manis hibrida dengan warna bilir kuning, besar, teksturnya padat dan lembut dengan rasa yang lebih enak. Tanaman tersebut dapat dipanen pada umur 70 75 HST untuk konsumsi segar. Berat bersih tongkol tanpa klobot 300 350 gram (menurut PT East West Seed Indonesia). Sedangkan menurut pengkaji dari hasil kajiwidya, berat bersih tanpa klobot 300 gram, berat bersih jagung pakai klobot mencapai 500 gram/biji.

Tanaman Jagung 60 HST

Saat Panen

Hasil Panen

500 gram/biji pakai klobot

300 gram/biji tanpa klobot.

ENDAHULUAN Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3). II. SYARAT PERTUMBUHAN Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi,

pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA A. Syarat benih Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam). B. Pengolahan Lahan Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung. C. Pemupukan Dosis Pupuk Makro (per ha) Waktu Urea TSP (kg) (kg) Perendaman benih 120 Pupuk dasar 80 25 20 - 40 tutup/tangki ( siram merata ) 2 minggu 115 Susulan I (3 minggu) 55 4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram) KCl (kg) 2 - 4 cc/ lt air Dosis POC NASA

4 minggu 115 Susulan II (6minggu) -

4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram ) 4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram )

Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis 1 botol/1000 m2 dengan cara : - alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan. - alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan. D. Teknik Penanaman 1. Penentuan Pola Tanaman Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan : a. Tumpang sari ( intercropping ), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo. b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll. c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ): pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang. d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) : penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu. 2. Lubang Tanam dan Cara Tanam Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Panen <>E. Pengelolaan Tanaman 1. Penjarangan dan Penyulaman Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan

melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. 2. Penyiangan Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari. 3. Pembumbunan Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. 4. Pengairan dan Penyiraman Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung. F. Hama dan Penyakit 1. Hama a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein) Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA b. Ulat Pemotong Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI. 2. Penyakit a. Penyakit bulai (Downy mildew)

Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh) Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO c. Penyakit karat (Rust) Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO. d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut) Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA . e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam. Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810,

dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. G. Panen dan Pasca Panen 1. Ciri dan Umur Panen Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis. 2. Cara Panen Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung. 3. Pengupasan Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh. 4. Pengeringan Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering. 5. Pemipilan Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung. 6. Penyortiran dan Penggolongan Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.

CV. TANIJAYA UNGGUL

(Gambar) Permintaan Penawaran

NK33
NK33 merupakan benih jagung hibrida yang sangat populer di Indonesia, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Utara dan Sulawesi. NK33 diproduksi oleh Syngenta di Klaten, Jawa Tengah. Potensi hasil hingga 12 ton jagung kering pipil per hektar.
Negara Asal: Kemas & Pengiriman: Indonesia 1 KG
Bottom of Form

bersertifikat Label ungu Harga Rp. 10.000,- / kg ( kemasan 5 kg ) Jenis Benih Pokok ( BP ) ket : kadar air : 11,1 % Benih Murni : 99,9 % Benih warna lain : 0,0 % Kotoran benih : 0,1 % Daya tumbuh : 91 % Diposkan oleh Marketing di 04:14 Label: benih jagung komposit, benih jagung komposit varietas bhisma, bibit jagung berlabel, bibit jagung komposit, Jagung Komposit bersertifikat Varietas Bhisma

Pupuk kandang

Pupuk kandang Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam.[4]. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urine) hewan.[4] Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro.[4] Pupuk kandang padat (makro) banyak mengandung unsur fosfor, nitrogen, dan kalium.[4] Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum.[4] Kandungan nitrogen dalam urine hewan ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen dalam kotoran padat.[4] Pupuk kandang terdiri dari dua bagian, yaitu:[4]
1. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan secara

perlahan oleh mikroorganime sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi.[4]
2. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan

mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam.[4] Pupuk kandang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan - bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik.[4] Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bia optomal.[4] Pupuk kandang yang telah siap diaplikasikan memiliki ciri dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang.[4] Jika belum memiliki ciri-ciri tersebut, pupuk kandang belum siap digunakan.[4] Penggunaan pupuk yang belum matang akan menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan bisa mematikan tanaman.[4] Penggunaan pupuk kandang yang baik adalah dengan cara dibenamkan, sehingga penguapan unsur hara akibat prose kimia dalam tanah dapat dikurangi.[4] Penggunaan pupuk kandang yang berbentuk cair paling bauk dilakukan setelah tanaman tumbuh, sehingga unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang cair ini akan cepat diserap oleh tanaman.[4]

[sunting] Pupuk hijau


Pupuk hijau adalah pupuk organik yang berasal dari tanaman atau berupa sisa panen. Bahan tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau setelah dikomposkan.[4] Sumber

pupuk hijau dapat berupa sisa-sisa tanaman (sisa panen) atau tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau, seperti sisasisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air (Azolla).[4] Jenis tanaman yang dijadikan sumber pupuk hijau diutamakan dari jenis legume, karena tanaman ini mengandung hara yang relatif tinggi, terutama nitrogen dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya.[4] Tanaman legume juga relatif mudah terdekomposisi sehingga penyediaan haranya menjadi lebih cepat.[4] Pupuk hijau bermanfaat untuk meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah, sehingga terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan produktivitas tanah dan ketahanan tanah terhadap erosi.[4] Pupuk hijau digunakan dalam:[4]
1. Penggunaan tanaman pagar, yaitu dengan mengembangkan sistem pertanaman lorong,

dimana tanaman pupuk hijau ditanam sebagai tanaman pagar berseling dengan tanaman utama.[4]
2. Penggunaan tanaman penutup tanah, yaitu dengan mengembangkan tanaman yang

ditanam sendiri, pada saat tanah tidak ditanami tanaman utama atau tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman pokok bila tanaman pokok berupa tanaman tahunan.
[4]

[sunting] Kompos

Kompos Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi.[5] Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa.[5] Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas.[5] Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan azola.[5] Beberapa kegunaan kompos adalah:[5]
1. Memperbaiki struktur tanah.[5] 2. Memperkuat daya ikat agregat (zat hara) tanah berpasir.[5] 3. Meningkatkan daya tahan dan daya serap air.[5] 4. Memperbaiki drainase dan pori - pori dalam tanah.[5] 5. Menambah dan mengaktifkan unsur hara.[5]

Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman.[5] Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan menurunnya temperatur kompos (di bawah 400 c).[5]

[sunting] Humus

Humus Humus adalah material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan dan ranting-ranting tanaman yang membusuk (mengalami dekomposisi) yang akhirnya mengubah humus menjadi (bunga tanah), dan kemudian menjadi tanah.[6] Bahan baku untuk humus adalah dari daun ataupun ranting pohon yang berjatuhan, limbah pertanian dan peternakan, industri makanan, agro industri, kulit kayu, serbuk gergaji (abu kayu), kepingan kayu, endapan kotoran, sampah rumah tangga, dan limbah-limbah padat perkotaan.[6] Humus merupakan sumber makanan bagi tanaman, serta berperan baik bagi pembentukan dan menjaga struktur tanah.[6] Senyawa humus juga berperan dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air.[6] Selain itu, humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah, menaikan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik.[6] Kandungan utama dari kompos adalah humus.[6] Humus merupakan penentu akhir dari kualitas kesuburan tanah, jadi penggunaan humus sama halnya dengan penggunaan kompos.[6]

[sunting] Pupuk organik buatan


Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang diproduksi di pabrik dengan menggunakan peralatan yang modern.[7] Beberapa manfaat pupuk organik buatan, yaitu:[7]
1. Meningkatkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.[7] 2. Meningkatkan produktivitas tanaman.[7] 3. Merangsang pertumbuhan akar, batang, dan daun.[7] 4. Menggemburkan dan menyuburkan tanah.[7]

Pada umumnya, pupuk organik buatan digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman, sehingga terjadi peningkatan kandungan unsur hara secara efektif dan efisien bagi tanaman yang diberi pupuk organik tersebut.[7]

[sunting] Manfaat

Berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan pertanian intensif menurun produktivitasnya dan telah mengalami degradasi lahan, terutama terkait dengan sangat rendahnya kandungan karbon organik dalam tanah, yaitu 2%.[8] Padahal untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan karbon organik sekitar 2,5%.[8] Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan.[8] Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan.[8] Sumber bahan untuk pupuk organik sangat beranekaragam, dengan karakteristik fisik dan kandungan kimia yang sangat beragam sehingga pengaruh dari penggunaan pupuk organik terhadap lahan dan tanaman dapat bervariasi.[8] Selain itu, peranannya cukup besar terhadap perbaikan sifat fisika, kimia biologi tanah serta lingkungan.[8] Pupuk organik yang ditambahkan ke dalam tanah akan mengalami beberapa kali fase perombakan oleh mikroorganisme tanah untuk menjadi humus.[8] Bahan organik juga berperan sebagai sumber energi dan makanan mikroba tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tersebut dalam penyediaan hara tanaman.[8] Penambahan bahan organik di samping sebagai sumber hara bagi tanaman, juga sebagai sumber energi dan hara bagi mikroba.[8] Bahan dasar pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman sedikit mengandung bahan berbahaya.[8] Penggunaan pupuk kandang, limbah industri dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos berbahaya karena banyak mengandung logam berat dan asam-asam organik yang dapat mencemari lingkungan.[8] Selama proses pengomposan, beberapa bahan berbahaya ini akan terkonsentrasi dalam produk akhir pupuk.[8] Untuk itu diperlukan seleksi bahan dasar kompos yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun (B3).[8] Pupuk organik dapat berperan sebagai pengikat butiran primer menjadi butir sekunder tanah dalam pembentukan pupuk.[8] Keadaan ini memengaruhi penyimpanan, penyediaan air, aerasi tanah, dan suhu tanah.[8] Bahan organik dengan karbon dan nitrogen yang banyak, seperti jerami atau sekam lebih besar pengaruhnya pada perbaikan sifat-sifat fisik tanah dibanding dengan bahan organik yang terdekomposisi seperti kompos.[8] Pupuk organik memiliki fungsi kimia yang penting seperti:[8]
1. Penyediaan hara makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur) dan

mikro seperti zink, tembaga, kobalt, barium, mangan, dan besi, meskipun jumlahnya relatif sedikit.[8]
2. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah.[8] 3. Membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti

aluminium, besi, dan mangan.[8]

[sunting] Pelestarian lingkungan

Tanaman penutup tanah (cover crop) dapat digunakan sebagai pupuk organik. Penggunaan pupuk organik saja, tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ketahanan pangan.[9] Oleh karena itu sistem pengelolaan hara terpadu yang memadukan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik perlu digalakkan.[9] Sistem pertanian yang disebut sebagai LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) menggunakan kombinasi pupuk organik dan anorganik yang berlandaskan konsep good agricultural practices perlu dilakukan agar degredasi lahan dapat dikurangi dalam rangka memelihara kelestarian lingkungan.[9] Pemanfaatan pupuk organik dan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas lahan dan produksi pertanian perlu dipromosikan dan digalakkan.[9] Program-program pengembangan pertanian yang mengintegrasikan ternak dan tanaman (crop-livestock) serta penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (cover crop) sebagai pupuk hijau maupun kompos perlu diintensifkan.[9] pemupukan : - Kimia Kebutuhan pupuk kimia pada tanaman jagung adalah, urea sebanyak 175 kg, TSP sebanyak 60 kg, dan KCL sebanyak 75 kg per hektar. Pupuk untuk jagung diberikan 2 kali, yaitu 1/3 takaran urea dan semua TSP dan KCL diberikan pada saat tanam, sisanya 2/3 takaran Urea diberikan pada usia 5 minggu setelah tanam. - Golden Harvest Pemberian Golden Harvest diulang setiap 2 minggu sekali setelah tanam dengan dosis minimal 1 liter per hektar.

Kondisi akibat kekurangan pupuk pada tanaman jagung dan kondisi akibat pengaturan air yang kurang baik serta kenali hama dan penyakit yang menyerang tanaman jagung Presentation Transcript
1. UntukPanganKamiBerkarya!DisusunOleh : GandaSasmitaZiemen (4 April 2011) 2. KONDISI AKIBAT KEKURANGAN PUPUK PADA TANAMAN JAGUNG DAN KONDISI AKIBAT PENGATURAN AIR YANG KURANG BAIK SERTA KENALI HAMA DAN PENYAKIT YANG MENYERANG TANAMAN JAGUNG

3. PEMUPUKANPemupukansangatpentingbagiperkembangandanpertumbuhantanaman. Pemupukanberartimemberikanunsurharamaupunnutrisitambahan yang kurangatautidakterdapatdalamtanahgunamengoptimalkanpertumbuhan, perkembangandanhasilpanentanamanjagung.KomposisiUnsur Hara yang DibutuhkanTanamanJagung 4. PemupukanTanamanJagungPupukorganik (alami)Pupukorganik (alami) tetapdiperlukanbagitanahmeskipuntanahcukupsubur. Karenaselainmemberikanunsurharajugadapatmemperbaikisifatfisiktanah. Pupukorganikdapatberupa : kotoransapi, kotoranayam, maupunkomposPupukbuatan /anorganikMerupakanpupukbuatanpabrik yang diprosesdarikombinasizatkimia. Pupukbuatanterdiriataspupuktunggalseperti : Urea, SP-36, KCl, ZA danpupukmajemukseperti Grand S-15, Grand-K, Tanigro, KaliMagS 5. FOSFOR (P)Berperandalammembentukperakaran, buah & bungaKekuranganPosfor: Warnadaunhijautua/kelabu, perkembanganakarterhambat & tulangdaunmudaberwarnahijaugelapPERAN UNSUR HARA PADA TANAMAN JAGUNGNITROGEN (N)BerperandalampertumbuhanvegetatiftanamanKekuranganNitrogen : Perkembanganakar & tunas mudaterhambatKelebihanNitrogen : Warnadaunhijautua, tajukterlalurimbunsehinggamudahterserangpenyakitdanprosentaseklobot yang terbukalebihbanyak 6. KALIUM (K)Berfungsisebagaiaktivator & berperandalamfotosintesisKekuranganKalium: Daunmengering & jikadibelahtampakwarnacoklatpadabukunya, pengisianbijikurangsempurna & bijitidakbisamenancapditongkolnyadenganbaikKelebihanKalium: Memunculkankekurangan Ca & MgKALSIUM (Ca)Berperandalammengaturpergerakan air dalamtubuhtanaman & pertumbuhanselBerperandalampembuatan protein & menetralkanasamorganik yang dihasilkandarimetabolismeKekurangan Ca : Pertumbuhanujung/pucukdanbulu - buluakarterganggu 7. MAGNESIUM (Mg)Berfungsisebagaiaktivatorbeberapaenzimsertaberperandalamfotosintesis & transportasienergididalamtanamanKekuranganMagnesium :Hanyaunsurhara ringan seperti nitrogen yang terangkat (karenaenergi yang dihasilkansedikit) Garisgariskuning/putihsejajardengantulangdaunBercakkuningpadadauntuatetapiuraturatdauntet aphijauSULFUR (S)Berperansebagaipenyeimbangsenyawa lainKekuranganSulfur :PertumbuhantanamanterhambatGariskuning/putihsejajartulang (daunkuningsepertiterbakar) 8. BESI (Fe)Berperansebagaipembawaelektronpadaprosesfotosintesis & respirasiKekurangan Fe : Klorosis (menguningnyadaunmuda)Kelebihan Fe : Menimbulkanbercaknekrotikdidaun (aplikasisemprot)MANGAN (Mn)SebagaiaktivatorenzimuntuksintesisasamlemakKekuranganMn : KlorosispadadaunmudaatautuaKelebihanMn : Lambatnyapertumbuhantanaman 9. SENG (Zn)Sebagaiaktivatorenzimdalampembentukanhormon IAA (zatpengaturtumbuh)Kekurangan Zn : jarakantarruaspendek, daunkecil & mengkerutKelebihan Zn : klorosis (miripkekurangan Fe) TEMBAGA (Cu)Berperandalampembentukanenzim : Ascorbic acid oxydase, Lacosa,

ButiridCoenzimA.dehidrosenamKekurangan Cu : daunmudaberwarnahijaugelap, dauntuaklorosisKelebihan Cu : kerusakanakar, pertumbuhantanamanterhambat & kerdil 10. PENGENDALIAN HPTApabilaterlihattanda-tandaadanyaseranganhamadanpenyakit, segeralakukanpenyem-protandenganinsek-tisidasesuaijenispes-tisida yang dianjurkan. 11. Tanamanjagung yang terseranghamacabuk (Aphids sp). Biasanyamenyerangpadatanaman yang berpengairantehnisterutamasaatmusimkemarau 12. KENALI HAMA DAN PENYAKIT YANG MENYERANG TANAMAN JAGUNGHama ulatdaun yang seringmenyerangtanamanjagungmuda. BiasanyamenyerangpadafasepertumbuhanSalahsatubentukseranganulatdaundimanadaun menjadirusakterutamadaunmuda. 13. Penyakitbulai yang menyerangtanamanjagungmuda. Pengaruhnyaadalahjagungtidakberbuah.Penyakitmosaik virus padajagung yang menyebabkantanamanmenjadikerdil 14. Jagung yang terkenapenyakit karat daundimanapertumbuhanjaditerhambatdanprosesfotosintesakurangsempurnaTanamanjagung yang terserangbercakdaun, dimanadaunterdapatflekflekkecildandaunmenjadiputihdankering. 15. Tanaman yang banyaktergenang airTanamanjagung yang rusakkarenadrainasekurangbaikPenyebab :PengolahanLahantidak rata sehinggamenimbulkancekunganpadatanahPembuatanDrainase yang kurangbaikCurahHujan yang terlalutinggi 16. GambardiatasadalahProfilTanamanJagung yang Kekurangan Nitrogen 17. BEBERAPA CONTOH GANGGUAN PADA TANAMAN JAGUNGPenyakithawardaun yang disebabkanjamurHelminthosporiumsp. yang dimulaidenganbercakkecildanberangsur-angurberkembangkeseluruhdaun.Kekeringan yang menyebabkantanamanberwarnahijaukeabu-abuan, daundaunmenggulingsebesarpensilGangguan yang disebabkanzatkimia yang menyebabkanujungdantepidaunsepertiterbakar. Jaringandaunmatidandaunnyabertopiputih 18. Udarakeringmenyebabkanpembentukanrambutlambat, persariantidaksempurnapadasaatpembentukanbiji.TongkoljagungakibatkekuranganNitrog en padasaatkritis, ditandaidengantongkolnyakecil, kadar protein rendahdanujungtongkoltidakberbijiAkibatkekuranganFosforditandaidengantongkolnyake cil, keringbengkokdenganpembentukkanbijitidaksempurna. 19. KekuranganunsurKaliumditandaidenganpembentukantongkol yang tidaksempurnadimanaujungtongkoltidakberbijipenuh, danbijinyajarangAdanyarambutberwarnahijausaattongkolmasakmenunjukkantanamanterl alubanyakdipupuk Nitrogen dantidakseimbangdenganunsurharalainnya