Anda di halaman 1dari 18

Pemeriksaan N.

Kranialis
23FEB
Pemeriksaan saraf merupakan salah satu dari rangkaian pemeriksaan neurologis yang terdiri dari; 1). Status mental, 2). Tingkat kesadaran, 3).Fungsi saraf kranial, 4). Fungsi motorik, 5). Refleks, 6). Koordinasi dan gaya berjalan dan 7). Fungsi sensorik Agar pemeriksaan saraf kranial dapat memberikan informasi yang diperlukan, diusahakan kerjasama yang baik antara pemeriksa dan penderita selama pemeriksaan. Penderita seringkali diminta kesediaannya untuk melakukan suatu tindakan yang mungkin oleh penderita dianggap tidak masuk akal atau menggelikan. Sebelum mulai diperiksa, kegelisahan penderita harus dihilangkan dan penderita harus diberi penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan untuk dapat menegakkan diagnosis. Memberikan penjelasan mengenai lamanya pemeriksaan, cara yang dilakukan dan nyeri yang mungkin timbul dapat membantu memupuk kepercayaan penderita pada pemeriksa. Penderita diminta untuk menjawab semua pertanyaan sejelas mungkin dan mengikuti semua petunjuk sebaik mungkin. Suatu anamnesis lengkap dan teliti ditambah dengan pemeriksaan fisik akan dapat mendiagnosis sekitar 80% kasus. Walaupun terdapat beragam prosedur diagnostik modern tetapi tidak ada yang dapat menggantikan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Saraf-saraf kranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan tengkorak melalui lubang-lubang pada tulang yang dinamakan foramina, terdapat 12 pasang saraf kranial yang dinyatakan dengan nama atau dengan angka romawi. Saraf-saraf tersebut adalah olfaktorius (I), optikus (II), Okulomotorius (III), troklearis (IV), trigeminus (V), abdusens (VI), fasialis (VII), vestibula koklearis (VIII), glossofaringeus (IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII). Saraf kranial I, II, VII merupakan saraf sensorik murni, saraf kranial III, IV, XI dan XII merupakan saraf motorik, tetapi juga mengandung serabut proprioseptif dari otototot yang dipersarafinya. Saraf kranial V, VII, X merupakan saraf campuran, saraf kranial III, VII dan X juga mengandung beberapa serabut saraf dari cabang parasimpatis sistem saraf otonom. II. 1. DEFINISI Saraf-saraf kranial dalam bahasa latin adalah Nervi Craniales yang berarti kedua belas pasangan saraf yang berhubungan dengan otak mencakup nervi olfaktorii (I), optikus (II), okulomotorius (III), troklearis (IV), trigeminus (V), abdusens (VI), fasialis (VII), vestibulokoklearis (VIII), glosofaringeus (IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII). Gangguan saraf kranialis adalah gangguan yang terjadi pada serabut saraf yang berawal dari otak atau batang otak, dan mengakibatkan timbulnya keluhan ataupun gejala pada berbagai organ atau bagian tubuh yang dipersarafinya. II. 2. ANATOMI DAN FISIOLOGI 1)SARAF OLFAKTORIUS (N.I) Sistem olfaktorius dimulai dengan sisi yang menerima rangsangan olfaktorius. Sistem ini terdiri dari bagian berikut: mukosa olfaktorius pada bagian atas kavum nasal, fila olfaktoria, bulbus subkalosal pada sisi medial lobus orbitalis. Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang serabut-serabutnya berasal dari membran mukosa hidung dan menembus area kribriformis dari tulang etmoidal untuk bersinaps di bulbus olfaktorius, dari sini,

Saraf troklearis mempersarafi otot oblikus superior untuk menggerakkan mata bawah. sedangkan yang berasal dari lapangan visual nasal tidak menyilang. Serabut-serabut dari lapangan visual temporal (separuh bagian nasal retina) menyilang kiasma. 2)SARAF OPTIKUS (N. IV) Nukleus saraf troklearis terletak setinggi kolikuli inferior di depan substansia grisea periakuaduktal dan berada di bawah Nukleus okulomotorius. V) Saraf trigeminus bersifat campuran terdiri dari serabut-serabut motorik dan serabut-serabut sensorik.traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus frontal dan berakhir di lobus temporal bagian medial sisi yang sama. Nukleus otonom atau nukleus Edinger-westhpal yang bermielin sangat sedikit mempersarafi otot-otot mata inferior yaitu spingter pupil dan otot siliaris. Serabut-serabut sensorik saraf . Sistem olfaktorius merupakan satu-satunya sistem sensorik yang impulsnya mencapai korteks tanpa dirilei di talamus. Emosi yang menyertai rangsangan olfaktorius mungkin berkaitan ke serat yang berhubungan dengan talamus. Sisa serabut yang meninggalkan kiasma berhubungan dengan penglihatan dan berjalan di dalam traktus optikus menuju korpus genikulatum lateralis. Akibat dari dekusasio serabut-serabut tersebut pada kiasma optikum serabut-serabut yang berasal dari lapangan penglihatan kiri berakhir di lobus oksipital kanan dan sebaliknya. Bau-bauan yang dapat memprovokasi timbulnya nafsu makan dan induksi salivasi serta bau busuk yang dapat menimbulkan rasa mual dan muntah menunjukkan bahwa sistem ini ada kaitannya dengan emosi. 5)SARAF TRIGEMINUS (N. Serabut motorik mempersarafi otot masseter dan otot temporalis. ini melewati foramen optikum di dekat arteri optalmika dan bergabung dengan saraf dari sisi lainnya pada dasar otak untuk membentuk kiasma optikum. superior. Dalam perjalanannya serabut-serabut tersebut memisahkan diri sehingga serabut-serabut untuk kuadran bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk kuadaran atas melalui lobus temporal. dan inferior. Serabut-serabut saraf ini. 4)SARAF TROKLEARIS (N. hipotalamus dan sistem limbik. kedalam dan abduksi dalam derajat kecil. Serabut utama yang menghubungkan sistem penciuman dengan area otonom adalah medial forebrain bundle dan stria medularis talamus. II) Saraf Optikus merupakan saraf sensorik murni yang dimulai di retina. III) Nukleus saraf okulomotorius terletak sebagian di depan substansia grisea periakuaduktal (Nukleus motorik) dan sebagian lagi di dalam substansia grisea (Nukleus otonom). Saraf ini merupakan satu-satunya saraf kranialis yang keluar dari sisi dorsal batang otak. otot oblikus inferior dan otot levator palpebra superior. dimana terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf okulomotorius. 3)SARAF OKULOMOTORIUS (N. Serabut-serabut untuk indeks cahaya yang berasal dari kiasma optikum berakhir di kolikulus superior. Nukleus motorik bertanggung jawab untuk persarafan otot-otot rektus medialis. Dari sini serabutserabut yang berasal dari radiasio optika melewati bagian posterior kapsula interna dan berakhir di korteks visual lobus oksipital. Orientasi spasial serabut-serabut dari berbagai bagian fundus masih utuh sehingga serabut-serabut dari bagian bawah retina ditemukan pada bagian inferior kiasma optikum dan sebaliknya.

Di antara otot ini dan otot stiloglosal. jantung dan paru-paru. keduanya terletak pada daerah foramen jugularis. 8)SARAF VESTIBULOKOKLEARIS (N. saraf vagus mempersarafi semua visera toraks dan abdomen dan menghantarkan impuls dari dinding usus. 11)SARAF ASESORIUS (N. otot frontal. Serabut-serabut untuk keseimbangan mulai dari utrikulus dan kanalis semisirkularis dan bergabung dengan serabut-serabut auditorik di dalam kanalis fasialis. hidung. maksilaris. saraf glosofaringeus mempunyai dua ganglion. dari sini terdapat transmisi bilateral ke korpus genikulatum medial dan kemudian menuju girus superior lobus temporalis. serabut vestibutor berjalan menyebar melewati batang dan serebelum.trigeminus dibagi menjadi tiga cabang utama yatu saraf oftalmikus. Daerah sensoriknya mencakup daerah kulit. Serabut motorik saraf fasialis mempersarafi otot-otot ekspresi wajah terdiri dari otot orbikularis okuli. IX) Saraf Glosofaringeus menerima gabungan dari saraf vagus dan asesorius pada waktu meninggalkan kranium melalui foramen tersebut. dura dalam fosa kranii anterior dan tengah bagian anterior telinga luar dan kanalis auditorius serta bagian membran timpani. 10)SARAF VAGUS (N. tonsil dan sepertiga posterior lidah. Serabut-serabut untuk pendengaran berasal dari organ corti dan berjalan menuju inti koklea di pons. Gigi maksilar dan mandibula. VI) Nukleus saraf abdusens terletak pada masing-masing sisi pons bagian bawah dekat medula oblongata dan terletak dibawah ventrikel ke empat saraf abdusens mempersarafi otot rektus lateralis. otot stilohioideus. saraf berlanjut antara arteri karotis interna dan vena jugularis interna ke otot stilofaringeus. X) Saraf vagus juga mempunyai dua ganglion yaitu ganglion superior atau jugulare dan ganglion inferior atau nodosum. Setelah melewati foramen. dahi. 7)SARAF FASIALIS (N. Fungsi sensorik berasal dari Nukleus sensorik yang muncul bersama nukleus motorik dan saraf vestibulokoklearis yang berjalan ke lateral ke dalam kanalis akustikus interna. sinus. Radiks kranial adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak dekat neuron dari saraf vagus. Serabut sensorik menghantar persepsi pengecapan bagian anterior lidah. otot buksinator. otot oksipital. otot digastriktus posterior serta otot platisma. Serabut-serabut ini kemudian memasuki pons. otot stapedius. VIII) Saraf vestibulokoklearis terdiri dari dua komponen yaitu serabut-serabut aferen yang mengurusi pendengaran dan vestibuler yang mengandung serabut-serabut aferen yang mengurusi keseimbangan. Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang . 9)SARAF GLOSOFARINGEUS (N. XI) Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis. wajah. mukosa mulut. 6)SARAF ABDUSENS (N. saraf berlanjut ke basis lidah dan mempersarafi mukosa faring. dan mandibularis. VII) Saraf fasialis mempunyai fungsi motorik dan fungsi sensorik fungsi motorik berasal dari Nukleus motorik yang terletak pada bagian ventrolateral dari tegmentum pontin bawah dekat medula oblongata. yaitu ganglion intrakranialis superior dan ekstrakranialis inferior.

kalau penderita mengalami cedera kepala sedang atau berat. Untuk menguji saraf olfaktorius digunakan bahan yang tidak merangsang seperti kopi. Penglihatan perifer diperiksa dengan tes konfrontasi atau dengan perimetri / kompimetri. parfum atau rempah-rempah. II) Pemeriksaan meliputi penglihatan sentral (Visual acuity). Gerakan tangan Normal gerakan tangan bisa dilihat pada jarak 2 meter tetapi bisa melihat pada jarak 1 meter berarti visusnya kurang lebih 1/310. . penglihatan perifer (visual field). Kemudian pasien diminta untuk memberitahu saat mulai terhidunya bahan tersebut dan kalau mungkin mengidentifikasikan bahan yang di hidu.Saraf Olfaktorius (N. XII) Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada setiap sisi garis tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua menghasilkan trigonum hipoglosus. Tes Konfrontasi Jarak antara pemeriksa – pasien : 60 – 100 cm Objek yang digerakkan harus berada tepat di tengah-tengah jarak tersebut. Ketajaman penglihatan normal bila baris yang bertanda 6 dapat dibaca dengan tepat oleh setiap mata (visus 6/6) Jari tangan Normal jari tangan bisa dilihat pada jarak 3 meter tetapi bisa melihat pada jarak 2 meter. jika tidak terdapat ruangan yang cukup luas. refleks pupil. dan gerakan tangan. tembakau. I) Saraf ini tidak diperiksa secara rutin. pemeriksaan fundus okuli serta tes warna.Saraf Optikus (N. Pemeriksaan Penglihatan Perifer Pemeriksaan penglihatan perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf optikus dan lintasan penglihatan mulai dair mata hingga korteks oksipitalis. 12)SARAF HIPOGLOSUS (N. Letakkan salah satu bahan-bahan tersebut di depan salah satu lubang hidung orang tersebut sementara lubang hidung yang lain kita tutup dan pasien menutup matanya. b. hipoglosus dan genioglosus. jari tangan. Saraf hipoglosus merupakan saraf motorik untuk lidah dan mempersarafi otot lidah yaitu otot stiloglosus. Pemeriksaan penglihatan sentral (visual acuity) Penglihatan sentral diperiksa dengan kartu snellen. maka perkiraan visusnya adalah kurang lebih 2/60. otot sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke samping dan otot trapezius memutar skapula bila lengan diangkat ke atas. dan atau dicurigai adanya penyakit-penyakit yang mengenai bagian basal lobus frontalis. ii. II. a.mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan bagian atas otot trapezius. i. PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. Kartu snellen Pada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam meter antara pasien dengan tabel. pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan cermin. tetapi harus dikerjakan jika terdapat riwayat tentang hilangnya rasa pengecapan dan penciuman. 3.

Syarat pemeriksaan lapang pandang pemeriksa harus normal. Ptosis dicurigai bila salah satu kelopak mata memotong iris lebih rendah dari pada mata yang lain. Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur ini pada sisi lainnya. Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata (pada keadaan diam) sudah dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi conjugate ke satu sisi. Semua vena-vena ini keluar dari diskus optikus. Ptosis. atas dan bawah dimana mata lain dalam keadaan tertutup dan mata yang diperiksa harus menatap lururs kedepan dan tidak boleh melirik kearah objek tersebut. Caranya adalah dengan mengikuti perjalanan vena retinalis yang besar ke arah diskus.Gerakan bola mata. Perimetri / kompimetri Lebih teliti dari tes konfrontasi Hasil pemeriksaan di proyeksikan dalam bentuk gambar di sebuah kartu. Ptosis Pada keadaan normal bila seseorang melihat ke depan maka batas kelopak mata atas akan memotong iris pada titik yang sama secara bilateral. Gerakan bola mata dan Pupil 1. c. Refleks Pupil Saraf aferen berasal dari saraf optikal sedangkan saraf aferennya dari saraf occulomotorius. Respon cahaya konsensual Jika pada pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya mengecil dengan ukuran yang sama. Pada keadaan normal pupil yang disinari akan mengecil. iv. III) Pemeriksaan meliputi .Saraf okulomotoris (N. atas. atau bila pasien mendongakkan kepal ke belakang / ke atas (untuk kompensasi) secara kronik atau mengangkat alis mata secara kronik pula. Respon cahaya langsung Pakailah senter kecil. v. dan bawah. sekligus ditanyakan adanya penglihatan ganda (diplopia) dan dilihat ada tidaknya nistagmus. Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan jari atau ballpoint ke arah medial.Objek yang digunakan (2 jari pemeriksa / ballpoint) di gerakan mulai dari lapang pandang kahardan kiri (lateral dan medial). iii. arahkan sinar dari samping (sehingga pasien tidak memfokus pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah salah satu pupil untuk melihat reaksinya terhadap cahaya. kekeruhan lensa (katarak) dapat mengganggu pemeriksaan fundus. Putar lensa ke arah O dioptri maka fokus dapat diarahkan kepada fundus. Pemeriksaan fundus occuli (fundus kopi) Digunakan alat oftalmoskop. Bila retina sudah terfokus carilah terlebih dahulu diskus optikus. 2. . Ada dua macam refleks pupil. optikus. Tes warna Untuk mengetahui adanya polineuropati pada n.

mandibula. maksila.Refleks cahaya langsung (bersama N.Bentuk dan ukuran pupil ii. II) 3.Pupil Pemeriksaan pupil meliputi : i. Bersamaan dengan gerakan bola mata tersebut maka kedua pupil akan mengecil (otot siliaris berkontraksi) (Tejuwono) atau pasien disuruh memandang jauh dan disuruh memfokuskan matanya pada suatu objek diletakkan pada jarak d. Juga lakukan tes pada daerah di atas dahi menuju belakang melewati puncak kepala. IV) Pemeriksaan meliputi 1. Pasien disuruh mengatakan “ya” setiap kali dia merasakan sentuhan kapas pada kulitnya. Mula-mula tes dengan ujung yang tajam dari sebuah jarum yang baru. II) 2. karena hilangnya sensasi temperatur terjadi pada keadaan hilangnya sensasi nyeri.Saraf Troklearis (N. Sensibilitas Ada tiga cabang sensorik.strabismus konvergen 3.gerak mata ke lateral bawah 2.diplopia e. 2. yaitu oftalmik. Refleks pupil Meliputi pemeriksaan : 1.Motorik Pemeriksaan dimulai dengan menginspeksi adanya atrofi otot-otot temporalis dan masseter. motorik dan refleks 1. pasien ditanya apakah terasa tajam atau tumpul.Bila seseorang melihat benda didekat mata (melihat hidungnya sendiri) kedua otot rektus medialis akan berkontraksi. Kemudian . Pemeriksaan dilakukan pada ketiga cabang saraf tersebut dengan membandingkan sisi yang satu dengan sisi yang lain.Refleks pupil akomodatif atau konvergensi 15 cm didepan mata pasien dalam keadaan normal terdapat konstriksi pada kedua pupil yang disebut reflek akomodasi. Gerakan kedua bola mata ini disebut konvergensi.3.Refleks cahaya tidak alngsung (bersama N. pasien tetap menutup kedua matanya dan lakukan tes untuk raba halus dengan kapas yang baru dengan cara yang sama. Temperatur tidak diperiksa secara rutin kecuali mencurigai siringobulbia. Daerah yang menunjukkan sensasi yang tumpul harus digambar dan pemeriksaan harus di lakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam.Saraf Trigeminus (N. sensibilitas. V) Pemeriksaan meliputi. Hilangnya sensasi nyeri akan menyebabkan tusukan terasa tumpul. Juga dilakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam. Jika cabang oftalmikus terkena sensasi akan timbul kembali bila mencapai dermatom C2. Pasien menutup kedua matanya dan jarum ditusukkan dengan lembut pada kulit.Perbandingan pupil kanan dan kiri pupil sebesar 1mm masih dianggap normalPerbedaan iii.

strabismus konvergen dan diplopia tanda-tanda tersebut maksimal bila memandang ke sisi yang terkena dan bayangan yang timbul letaknya horizonatal dan sejajar satu sama lain.Tes kekuatan otot 1.VII. Refleks bersin (nasal refleks) Refleks masseter Untuk melihat adanya lesi UMN (certico bultar) penderita membuka mulut secukupnya (jangan terlalu lebar) kemudian dagu diberi alas jari tangan pemeriksa diketuk mendadak dengan palu refleks. kemudian dari arah lain kapas disentuhkan pada kornea mata. Respon normal akan negatif yaitu tidak ada penutupan mulut atau positif lemah yaitu penutupan mulut ringan. Kemudian pasien disuruh membuka mulutnya (otot-otot pterigoideus) dan pertahankan tetap terbuka sedangkan pemeriksa berusaha menutupnya. Ekspresi muka (sedih. takut. kejang tetanus/rhisus sardonicus tremor dan seterusnya ). Kemudian bandingkan kekuatan dan kecepatan refleks tersebut kanan dan kiri saraf aferen berasal dari N. grimacing. 2. .pasien disuruh mengatupkan giginya dan lakukan palpasi adanya kontraksi masseter diatas mandibula. VI) Pemeriksaan meliputi gerakan mata ke lateral.Langsung Pasien diminta melirik ke arah laterosuperior.Mengangkat alis. b. Lesi unilateral dari cabang motorik menyebabkan rahang berdeviasi kearah sisi yang lemah (yang terkena). f. misal pasien diminta melirik kearah kanan atas maka kapas disentuhkan pada kornea mata kiri dan lakukan sebaliknya pada mata yang lain. 3. bandingkan kanan dan kiri.Saraf abdusens (N. VII) Pemeriksaan saraf fasialis dilakukan saat pasien diam dan atas perintah (tes kekuatan otot) saat pasien diam diperhatikan : Asimetri wajah Kelumpuhan nervus VIII dapat menyebabkan penurunan sudut mulut unilateral dan kerutan dahi menghilang serta lipatan nasolabial. g.Menutup mata sekuatnya (perhatikan asimetri) kemudioan pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut bandingkan kekuatan kanan dan kiri. Sebaliknya pada lesi UMN akan terlihat penutupan mulut yang kuat dan cepat. V tetapi eferannya (berkedip) berasal dari N. gembira. yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen atau eferen). tetapi pada kelumpuhan nervus fasialis bilateral wajah masih tampak simetrik Gerakan-gerakan abnormal (tic facialis.Saraf fasialis (N. seperti topeng) .Tak langsung (konsensual) Sentuhan kapas pada kornea atas akan menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan sebaliknya kegunaan pemeriksaan refleks kornea konsensual ini sama dengan refleks cahaya konsensual. Refleks Pemeriksaan refleks meliputi Refleks kornea a.

Saraf Vestibulokokhlearis (N. kesulitan menelan dan disartria(khas bernoda hidung / bindeng). dibelakang telinga. dan audiogram. 6. h. . Pada tuli saraf anda masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. kemudian pasien disuruh menyebut “ah” jika uvula terletak ke satu sisi maka ini menunjukkan adanya kelumpuhan nervus X unilateral perhatikan bahwa uvula tertarik kearah sisi yang sehat.Memperlihatkan gigi (asimetri) 4. X) Pemeriksaan N. anamnesis meliputi kesedak / keselek (kelumpuhan palatom). dan bila bunyi tidak lagi terdengar letakkan garpu tala tersebut sejajar dengan meatus akustikus oksterna. Pasien disuruh membuka mulut dan inspeksi palatum dengan senter perhatikan apakah terdapat pergeseran uvula.meniup sekuatnya. VIII) Ada dua macam pemeriksaan yaitu pemeriksaan pendengaran dan pemeriksaan fungsi vestibuler 1)Pemeriksaan pendengaran Inspeksi meatus akustikus akternus dari pasien untuk mencari adanya serumen atau obstruksi lainnya dan membrana timpani untuk menentukan adanya inflamasi atau perforasi kemudian lakukan tes pendengaran dengan menggunakan gesekan jari. asam. Keadaan ini disebut Rinne negatif. tes romberg dan berjalan lurus dengan mata tertutup. detik arloji.Bersiul dan menculu (asimetri / deviasi ujung bibir) 5. Sentuh bagian belakang faring pada setiap sisi dengan spacula. 2)Pemeriksaan Fungsi Vestibuler Pemeriksaan fungsi vestibuler meliputi : nistagmus.Menarik sudut mulut ke bawah. IX) dan saraf vagus (N. bandingkan kekuatan uadara dari pipi masing-masing. Sekarang lakukan tes refleks muntah dengan lembut (nervus IX adalah komponen sensorik dan nervus X adalah komponen motorik). IX dan N X. terjadi kontraksi palatum molle secara refleks. Stapedius yang melayani otot stapedius maka suara-suara yang diterima oleh telinga pasien menjadi lebih keras intensitasnya. dixxon – Hallpike) yaitu tes untuk postural nistagmus. . Tes Weber Garpu tala 256 Hz diletakkan pada bagian tengah dahi dalam keadaan normal bunyi akan terdengar pada bagian tengah dahi pada tuli saraf bunyi dihantarkan ke telinga yang normal pada tuli konduktif bunyi tedengar lebih keras pada telinga yang abnormal. jangan lupa menanyakan kepada pasien apakah ia merasakan sentuhan spatula tersebut (N. Dalam keadaaan normal. asin yang disentuhkan pada salah satu sisi lidah.3. Jika konraksinya tidak . Audiogram digunakan untuk membedakan tuli saraf dengan tuli konduksi dipakai tes Rinne dan tes Weber. karena secara klinis sulit dipisahkan maka biasanya dibicarakan bersamasama. pahit. Tes Rinne Garpu tala dengan frekuensi 256 Hz mula-mula dilakukan pada prosesus mastoideus. i. IX) setiap kali dilakukan.Hiperakusis Jika ada kelumpuhan N. Dalam keadaan norma anda masih terdengar pada meatus akustikus eksternus.Tes sensorik khusus (pengecapan) 2/3 depan lidah) Pemeriksaan dengan rasa manis. head tilt test (Nylen – Baranny.Saraf glosofaringeus (N.

Pasien diminta menjulurkan lidahnya yang berdeviasi ke arah sisi yang lemah (terkena) jika terdapat lesi upper atau lower motorneuron unilateral. Fasikulasi dapat unilateral atau bilateral. tes juga rasa kecap secara rutin pada sepertinya posterior lidah (N. Anosmia unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari trauma vegio orbital. dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral juga dapat merusak penciuman. Tumor garis tengah dari fosa kranialis anterior. (N. KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS. Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi “countre coup”. Proses penciuman dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dn mencapai pusat penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan mengakibatkan anosmia. XI) Pemeriksaan saraf asesorius dengan cara meminta pasien mengangkat bahunya dan kemudian rabalah massa otot trapezius dan usahakan untuk menekan bahunya ke bawah.Saraf Hipoglosus (N. dan gangguan kepribadian jenis lobus orbitalis. dia mungkin mengeluh . yang dapat menghasilkan trias berupa anosmia. dan peradangan selaput otak didekatnya. tentukan adanya atrofi dan fasikulasi (kontraksi otot yang halus iregular dan tidak ritmik). Pasien mungkin tidak menyadari bahwa indera penciuman hilang sebaliknya. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan penciuman berupa: Agenesis traktus olfaktorius Penyakit mukosa olfaktorius bro rhinitis dan tumor nasal Sembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman. j. Inspeksi lidah dalam keadaan diam didasar mulut.ada dan sensasinya utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus X. terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis). Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik). tetapi pada rhinitis kronik. k. XII disebut kelumpuhan pseudobulbar. Sinusitas etmoidalis. osteitis tulang etmoid. dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat hilang untuk seterusnya. kemudian disuruh batuk . biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. kemudian pasien disuruh memutar kepalanya dengan melawan tahanan (tangan pemeriksa) dan juga raba massa otot sternokleido mastoideus.I) Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut anosmia. 1)Saraf Olfaktorius. IX. II. sindr foster kennedy. Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina feribrosa. Kombinasi lesi UMN bilateral dari N.Saraf Asesorius (N. kemudian pasien disuruh berbicara agar dapat menilai adanya suara serak (lesi nervus laringeus rekuren unilateral). XII) Pemeriksaan saraf Hipoglosus dengan cara.4. IX). Lesi UMN dari N XII biasanya bilateral dan menyebabkan lidah imobil dan kecil. X. Pada anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman.

penyakit leber. c. karena kemampuannya untuk merasakan aroma. astrositoma) 3. ke atas dan lateral. traktus optikus. N. Gambaran kliniknya berupa buta ipsilateral. Berbagai macam perubahan pada bentuk lapang pandang mencerminkan lesi pada susunan saraf optikus. sehingga kalau lumpuh. dengan pupil ke arah bawah dan lateral. kortek penglihatan. 2)Saraf Optikus (N. kebawah dan keluar. famitral. misal: retinitis pigmentosa. Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi. disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis. kerusakan biasanya terjadi di perifer. Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut. b. 4. Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan oleh: 1. Juga mengakibatkan gangguan fungsi parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi.Papiledema (khususnya stadium dini) Papiledema ialah sembab pupil yang bersifat non-infeksi dan terkait pada tekanan intrakkranial yang meninggi. tumor hipfise. meningioma. paralisis otot . Perubahan tersebut seperti tertera pada gambar 1.III) Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial. hipertensi intakranial benigna.Tumor serebri (kraniofaringioma. Trombosis vena sentralis retina. Bila terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan. suatu sarana yang penting untuk pengecapan menjadi hilang. ataksia friedrich.II) Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. kelopak mata akan jatuh ( ptosis) Kelumpuhan okulomotorius lengkap memberikan sindrom di bawah ini: 1.Ptosis.Trauma Kepala 2. Orang yang buta kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang.Kelainan pembuluh darah Misalnya pada trombosis arteria katotis maka pangkal artera oftalmika dapat ikut tersumbat jug. hipertensi stadium IV. iskemia. maka buta semacam itu dinamakan hemiopropia. radiatio optika. tak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi.Neuritis optik. 3. 3)Saraf Okulomotorius (N. 2.Atrofi optik Dapat disebabkan oleh papiledema kronik atau papilus. sehingga reaksi pupil akan berubah.Pupil yang melebar. istilah untuk buta ialah anopia atau anopsia.Fiksasi posisi mata. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang. dapat disebabkan oleh lesi desak ruang. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata. Kerusakan atau terputusnya jaras penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu kiasma optikum. karena tak adanya perlawanan dari kerja otot rektus lateral dan oblikus superior.Infeksi. glaukoma.tentang rasa pengecapan yang hilang. antara lain hidrocefalus. Pada pemeriksaan funduskopi dapat dilihat hal-hal sebagai berikut: a.

yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. 4)Saraf Troklearis (N. mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior. 6)Saraf Trigeminus (N. Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu. fraktur basis kranialis. VI) Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral. V) Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea. 7)Saraf Fasialis (N. IV) Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah dan kemedial. 5)Saraf Abdusens (N. sinusistis. karsinoma nasofaring dan lesi orbital. mata tampak melihat lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap cahaya (oftalmoplegia totalis). biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks. a).tunggal menandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus okulomotorius. Infark seperti pada arteritis dan diabetes. mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral. Lesi LMN : . Lesi kompresif seperti tumor serebri. ketika pasien melihat ke arah nasal. Kelainan berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus. Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus. sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata yang lain. Jika pasien melihat kebawah dan ke medial. dan rasa baal pada wajah sebagai tandatanda dini. Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal dicetuskan oleh pembuluh darah. anevrisma arteri karotis interva atau arteri komunikantes posterior. trombosis sinus kavernosus. Karena tegangan abnormal yang kuat pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya. Penyebab kerusakan diperifer meliputi. meningitis basalis. VII) Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain: Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi vaskuler. neurosifilis. Paralisis bilateral dari otot-otot mata biasanya akibat kerusakan nuklear. perdarahan dan tumor. mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering disebabkan oleh trauma. mutiple sklerosis. b). ketika pasien melihat lurus ke atas. Paling sering oleh arteri serebelaris superior yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin. Penyebab paling sering dari paralisis nukleus adalah ensefelaitis. Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah meningitis. Ketika pasien melihat lurus kedepan atas.

Pada vestibuler meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis. sepsis dan adult respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. Cairan atau makanan tidak dapat ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke paru-paru. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain: Gangguan pendengaran. Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia. Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain : Lesi batang otak (Lesi N IX dan N. Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi. ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir. Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah. Tuli konduktif dapat disebabkan oleh serumen. dan otitis media. toksisitas misal aspirin. 8)Saraf Vestibulokoklearis Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo). streptomisin atau alkohol. gangguan air mata dan ludah. otitis media. bibir tertarik kesisi yang sehat. Gangguan Keseimbangan dengan penyebab kelainan vestibuler Pada labirin meliputi penyakit meniere. Pada fosa posterior. intoksikasi streptomisin. labirinitis akut. 9)Saraf Glosofaringeus (N. X dapat mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru. berupa : Tuli saraf dapat disebabkan oleh tumor. dan keganasan parotis bilateral. terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). X) Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. tetapi ini sangat jarang. misal neuroma akustik. sudut mulut turun. IX) dan Saraf Vagus (N. Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit. Degenerasi misal presbiaksis. Trauma. fraktur. sindv rubella kongenital dan sifilis kongenital. Pada batang otak meliputi lesi vaskuler. IX dan N. kelopak mata tidak bisa ditutup. Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bell’s palsy. meliputi tumor. Refleks kornea pada sisi sakit tidak ada. Gangguan nervus IX dan N. otoskleroris dan penyakit Paget. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda timpani atau nervus lingualis. mabuk kendaraan. meliputi neuroma akustik.Penyebab pada pons. gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis). infeksi misal. dan meningitis kronik. lesi vaskuler dan siringobulbia. sindroma Rumsay Hunt. Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi. meningioma. misal fraktur pars petrosa os temporalis. mononeuritis multipleks. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. tumor serebelum atau tumor ventrikel IV demielinisasi. X) Syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata) .

Pada lesi unilateral. XI) Gangguan N. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut. Pada kerusakan N. gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang.Pasca operasi trepansi serebelum Pasca operasi di daerah kranioservikal 10)Saraf Asesorius (N. XII) Kerusakan nervus hipoglossus dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak. 11)Saraf Hipoglossus (N. Kelainan pada nervus asesorius dapat berupa robekan serabut saraf. . kelainan pembuluh darah. Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral. tumor dan syringobulbia. XII pasien tidak dapat menjulurkan. gangguan menelan dan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut. lidah akan membelok kearah sisi yang sakit saat dijulurkan. tumor dan iskemia akibatnya persarafan ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot sterokleidomastoideus). menarik atau mengangkat lidahnya. Saat istirahat lidah membelok ke sisi yang sehat di dalam mulut.

Sistem syaraf pusat1 .Sedangkan kriteria pemeriksaan fisik yang penting adalah meliputi :a. palpasi. kemudian ke dada. K a j i L O C ( l e v e l o f c o n s i o u s n e s s ) a t a u t i n g k a t k e s a d a r a n : d e n g a n m e l a k u k a n p e r t a n y a a n tentang kesadaran pasien terhadap waktu. pernapasan dan tekanan darah)b. Observasi keaadaan umum pasien dan perilakunyac. Pemeriksaan fisik Dari hasil wawancara maka perawat akan dapat lebih terfokus kepada satu sistem tubuh yang terkaitd e n g a n p e n ya k i t ya n g d i d e r i t a k l i e n . Sangat direkomendasikankita mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut Sangat baik jika kita sebagai perawat memulai pemeriksaan fisik dari kepala dan leher. U m u m n y a s e m u a b e r u r u t a n . p e r k u s i d a n a u s k u l t a s i . suhu tubuhdan vibrasi/getaran juga dapat dipalpasi. perkusi dan auskultasia. durasi. tipe dan pengobatannya4. k e c u a l i pengakajian dilakukan setelah fisik di abdomen Inspeksi yang auskultasi dilakukan inspeksi. Kaji tingkat kenyamanan. Kaji adanya perubahan penglihatan dan pendengarand. dan penting untuk mengkaji sistem pernapasan. jantung dan system pencernaan. S e d a n g k a n p a l p a s i d e n g a n menggunakan tangan kita untuk merasakan tekstur kulit. Tehnik yangd i l a k u k a n m e l i p u t i i n s p e k s i . genital area. p a l p a s i . Tanda-tanda vital / vital sign (suhu. Sedangkan auskultasi denganmenggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara organ tubuh. Berbeda dengan perkusi yang digunakan untuk mendengar suarayang dipantulkan jaringan tubuh di bawah kulit atau struktur organ. sehingga pendokumentasiannya dapat dilakukan melalui pendekatan sistem tubuh. Pengakajian head to toe seluruh sistem tubuh dengan memaksimalkan tehnik inspeksi. melalui p e n g a m a t a n l a n g s u n g . A d a 2 m e t o d e p e n d e k a t a n d a l a m p e m e r i k s a a n f i s i k ya i t u pendekatan sistem tubuh dan pendekatan head to toe (ujung kepala – ke kaki). Kaji status mental3. Dalam hal ini dapat saja beberapa sistem tubuh dapat dievaluasisekaligus. Suara yang dihasilkan dari ketukantangan kita dapat dinilai dari timpani atau resonan dan dull atau flat . daerah pelvis. Wawancara (Interview)2.Proses pengkajian fisik keperawatan meliputi tiga tahap :1. danterakhir di ekstremitas (tangan dan kaki). meraba adanya massa di bawah kulit. adanya nyeri dan termasuk lokasi. tempat dan orang2. t e r m a s u k d e n g a n p e n d e n g a r a n d a n p e n c i u m a n . nadi. dan abdomen. Kaji fungsi sensoris dan tentukan apakah normal atau mengalami .

Kaji adanya hilangrasa. Tentukan posisi yang tepat dan nyaman untuk meningkatkan fungsi pernapasan pasien10. Kaji adanya keluhan SOB (shortness of breath)/sesak napas. irama. rasa terbakar/panas dan baal.k emerahan di mata atau kulit. Palpasi posisi trakea dan adanya subkutan emphysema5. dyspnea dan orthopnea. dan adanya gangguan spinal4. phlebitis. perdarahan saluran cerna.Palpasi dada untuk menentukan lokasi titik maksimal denyut jantung6. I n s p e k s i m e m b r a n m u k o s a d a n w a r n a k u l i t . Kaji apakah klien memiliki riwayat merokok (jumlah per hari) dan berapa lama telah merokok 11. Sistem Pencernaan1. b. kontur.Palpasi adanya edema di ekstremitas dan wajah9 .11. Sistem Kardiovaskular 1. cracles atau ronkhi)6. Inspeksi fungsi otot bantu napas. kekuatan otot.5. pergerakan dan postur 6.c. Inspeksi keadaan umum abdomen : ukuran.5. frekuensi dan adanya sputum/dahak.Kaji nadi tanda penurunan kekuatan/pulsedeficit2 . Kaji respiratory rate. durasi. Auskultasi bunyi jantung S1S2 di titik tersebut.gangguan. Kaji catatan obat terkait dengan sistem pernapasan dan test diagnostik d. Kaji fungsi motorik seperti : genggaman tangan. warna kulit dan pola . : frekuensi.Cek suhu tubuh dengan metode yang tepat. ukuran rongga dada. Kaji adanya keluhan batuk. termasuk diameter anterior dan posterior thorax. l i h a t t a n d a s i a n o s i s ( p u c a t ) a t a u k e m e r a h a n 8. Kaji adanya kejang atau tremor 7. Sistem Respirasi (Pernapasan) 1. atau bronkial) dan kaji juga adanya bunyi paru patologis (wheezing.8. adanya bunyi jantung tambahan. P e r i k s a j a r i i t a b u h d a n a d a n y a j a r i p e n g i s i a n k a p i l e r d p e m e r i k s a a n k u k u 10. Kaji keadaan umum dan pemenuhan kebutuhan respirasi2. dengan membuat posisi semi fowlers4. irama dan kualitasnya3.7 . P e r i k s a t e k a n a n d a r a h : k e s a m a a n a n t a r a t a n g a n k a n a n d a n k i r i a t a u p o s t u r a l h i p o t e n s i 3. kualitas (keras dan lemah) serta murmur dan bising. Inspeksi membran mukosa dan warna kulit9. atau palpasi kulit. Kaji obat-obatan yang mempengaruhi sistem kardiovaskular dan test diagnostik. bronkovesikular. konsistensidan jumlahnya dan apakah disertai darah7. Kaji catatan penggunaan obat dan diagnostik tes yang mempengaruhi SSP. cek warna.Kaji adanya tanda- tanda perdarahan (epistaksis.Inspeksi vena jugular seperti distensi. Auskultasi seluruh area paru dan kaji suara paru normal (vesikular.

Kaji adanya nausea dan vomitus5. adanyamassa atau asites4. Kaji riwayat pengobatan dan test diagnostik terkait sistem integumentg. kekuatan otot4. kondisi stoma dan kulit disekitarnya. kering)2. Auskultasi abdomen untuk mendengarkan bising usus3. Kaji warna kulit. mood klien dan tanda depresi3. dan kemampuan klien untuk menelan7. Inspeksi penggunaan condom catheter. Sistem Physikososial1. yang nantinya dikaitkan dengan fungsi (permanenatau temporal). edema. Kaji adanya kekakuan sendi dan nyeri sendi3.pembuluh vena(venous pattern)2. output/jumlah urine 24 jam. Kaji riwayat penyalah gunaan obat. emosional dan kopingmekanisme6. pembatasan diet dan toleransi terhadap diet6. narkoba. Kaji tingkat kecemasan. tujuan dan rencana intervensi . kram atau spasme2. cek postur tubuh 5. keras atau distensi. Kaji adanya nyeri otot. dan keadaan umum kulit (jaundice. Kaji adanya perubahan selera makan. Kaji kebutuhan pembelajaran dan penyuluhan kesehatan3. Sistem Integumen1. silikon kateter atau urostomy atau supra pubik kateter 5. Palpasi adanya nyeri. Kaji kembali obat dan pengkajian diagnostik yang pasien miliki terkait sistem GIe. ROM (range of motion). Pendokumentasian : yang meliputitahapan perumusan diagnosa keperawatan. alkohol. drain. Kaji perasaan pasien tentang kondisinya dan penyakitnya2. Kaji kemampuan pasien duduk. adanya nyeri tekan. kekeruhan dan ada/tidaknyasedimen2. odor 3. serta riwayat infeksisaluran kemih3. dan kesediaan alat10. dekubitus. pruritus. Kaji resiko terjadinya luka tekan dan ulkus5. seksual abuse. Sistem muskuloskeletal1. warna. Kaji pola dan gaya hidup klien yang mempengaruhi status kesehatan5. Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait dengan sistem perkemihanf. Kaji pemenuhan support sistem4. Kaji ulang pengobatan dan test diagnostik yang terkait sistem musculoskeletali. turgor. Kaji adanya perubahan berat badan8. Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK. Palpasi abdomen untuk menentukan : lemah. adanya dysuria dan hematuria. dsb4. Kaji integritas kulit dan membrane mukosa. bekas operasi/skar. Kaji pergerakan ekstremitas tangan dan kaki. Kaji kebiasaan pola BAK. DokumentasiSemua informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pemeriksaan fisik harusdidokumentasikan dalam catatan pengkajian keperawatan klien. kering. Sistem Perkemihan1. Palpasi adanya distesi bladder (kandung kemih)4. Inspeksi adanya ileostomy atau kolostomi. Kaji pola eliminasi : BAB dan adanya flatus9. Kaji adanya tanda-tanda fraktur atau dislokasi6. berdiri. jumlah. dan penurunan suhu6. berjalan. Kaji adanya luka. Kaji tipe diet. folleys catheter.

Adapun suara-suara yang dijumpai pada perkusi adalah :Sonor : suara perkusi jaringan yang normal. PalpasiPalpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. PerkusiPerkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri kanan) dengan tujuan menghasilkan suara. ukuran.Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong. mengidentifikasi masalah klien danmengambil data dasar untuk menentukan rencana tindakan keperawatan.2. simetris. vibrasi.kelembaban. Fokus pengkajian fisik keperawatan adalah pada kemampuan fungsional klien. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara. Cahaya yang adekuat diperlukan agar perawat dapat membedakan warna. misalnya daerahcaverna paru.3. perkusi daerah hepar. maka perawat mengkaji apakah gangguan tersebut mempengaruhiklien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau tidak. bentuk. Tangan dan jari-jari adalah instrumenyang sensitif digunakan untuk mengumpulkan data. . kulit kebiruan(sianosis). ukuran.Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama palpasi :· Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai. turgor. krepitasi (patah tulang). klien mengalamigangguan sistem muskuloskeletal. warna. bentuk. misalnya di daerah paru-paru pada pneumonia.Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah jantung. misalnya tentang : temperatur. oedema. InspeksiAdalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan. Misalnya . bentuk dankebersihan tubuh klien. pada klien asthma kronik. Dan perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya. posisi.· Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering· Kuku jari perawat harus dipotong pendek.Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi. dan lain-lain. terdapat struma di leher.keperawatan.Misalnya : adanya tumor. bentuk dan konsistensi jaringan.Tujuan dari pemeriksaan fisik dalamkeperawatan adalah untuk menentukan status kesehatan klien. Perawatmenggunakan kedua tangannya sebagai alat untuk menghasilkan suara. dan lain-lain. Contoh : mata kuning (ikterus). Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh.PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk mendapatkan data objektif dari riwayatkeperawatan klien.Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat.· Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir.Ada 4 teknik dalam pemeriksaan fisik yaitu :1.