Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang I.1.1 Perkembangan Kota dan Kawasan Tepian Sungai (Riverfront) Dalam suatu kawasan menurut Trancik , baik itu permukiman maupun lingkungan lainnya selalu ada keterkaitan antara figure ground, linkage, dan place. Ketiga teori tersebut berbeda namun memiliki peran yang penting sebagai strategi dalam merancang kawasan yang terintegrasi. Figure ground

menekankan pada konfigurasi solid-void yang merupakan pola kawasan, kualitas ruang luar sangat dipengaruhi oleh figure bangunan yang melingkupinya. Sedangkan linkage terbentuk berupa garis yang menghubungkan satu elemen dengan lainnya. Teori ini digunakan untuk mengatur sistem keterhubungan yang nantinya akan membentuk struktur ruang kawasan. Teori linkage ini dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan arahan dalam penataan suatu kawasan (lingkungan). Teori place ditekankan bahwa kota tidak hanya terletak pada konfigurasi fisik morfologi, tetapi integrasi antara aspek fisik morfologi ruang dengan masyarakat atau manusia. Tujuan utama dari teori ini adalah bahwa urban design pada dasarnya bertujuan untuk memberikan wadah kehidupan yang baik untuk penggunaan ruang kota baik publik maupun privat. Pada dasarnya, kota akan selalu mengalami perkembangan baik fisik maupun non fisik. Perubahan ini disebabkan salah satunya dengan adanya pertumbuhan penduduk kota. Di satu sisi pertambahan penduduk kota mendorong peningkatan jumlah fasilitas fisik kota. Tuntutan akan pemenuhan fasilitas kota serta adanya keterbatasan lahan di perkotaan, menyebabkan pemanfaatan ruang kota mengalami dilema. Pemanfaatan ruang yang tidak terkendali dan aktifitas penduduk adalah salah satu faktor yang mempengaruhi turunnya kualitas hidup suatu kota. Penggunaaan lahan yang tidak sesuai serta pertumbuhan fisik yang tidak terkendali banyak terjadi di kawasan bantaran sungai. Pada awalnya sungai merupakan daerah yang subur. Kawasan dengan karakteristik yang berbeda ditunjang dengan ekosistem air yang baik. Sampai saatnya kawasan bantaran sungai menjadi salah satu alternatif ruang hunian karena semakin padatnya ruang kota. Alih fungsi lahan bantaran sungai semakin marak sehingga semakin

SIDHI PRAMUDITO | MDKB 26 | 321933

tidak terkendalinya pemanfaatan ruang. Hal ini merupakan salah satu masalah dihadapi oleh kota yang memiliki daerah aliran sungai.
Pemanfaatan kawasan bantaran sungai pada saat ini memiliki

kecenderungan tidak terkontrolnya penggunaan ruang, kepadatan, serta fungsi ekologis yang mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan fisik serta kualitas air sungai. Permukiman kumuh di sepanjang bantaran sungai merupakan suatu pemandangan yang "biasa dan pada akhirnya menimbulkan masalah yang sangat serius. Kawasan bantaran sungai, menghadapi masalah yang serius seperti kepadatan bangunan yang tinggi dengan prasarana lingkungan yang minim, kualitas visual yang terkesan "kumuh, kerawanan terhadap bahaya banjir dan tanah longsor, serta pembuangan sampah rumah tangga yang mencemari sumber daya air sungai. Adanya permasalahan yang muncul di kawasan bantaran sungai mendorong pemerintah maupun warga untuk mervevitalisasi kawasan bantaran sungai. Beberapa pertimbangan untuk revitalisasi kawasan tepian air adalah alasan ekonomi, sosial, budaya, lingkungan hidup, pelestarian dan pengurangan risiko atau mitigasi bencana yang semuanya mengarah pada prinsip

pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Dengan berbagai pendekatan tersebut nantinya nilai kawasan bantaran sungai dapat meningkat, baik lingkungan maupun masyarakatnya.

I.1.2

Kawasan Tepian Sungai (Riverfront) sebagai Bagian dari Kota Yogyakarta Ketika dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I, Kota Yogyakarta

pada awalnya dibatasi secara fisik oleh dua sungai besar, yaitu Winongo dan Code. Wilayahnya kemudian berkembang ke timur hingga Sungai Gajah Wong dan kini bahkan melewati ketiga sungai tersebut. Sungai Winongo, Code dan Gajah Wong menjadi bagian kota yang sangat penting dan sebagaimana yang berkembang di berbagai kota besar di Indonesia bahkan Asia, kawasan tepian sungai kemudian digunakan untuk area bermukim yang tidak berizin dan berkembang ke arah kumuh dan liar. Tingginya minat masyarakat untuk tinggal di kota menjadikan pemilihan lahan untuk hunian terabaikan, kawasan rawan bencana pun tetap diminati asalkan berada di kota.

SIDHI PRAMUDITO | MDKB 26 | 321933

Sungai Code merupakan sungai yang mengalir di pusat kota Yogyakarta. Pertumbuhan penduduk kota yang semakin padat, mendorong warga untuk bermukim di bantaran Sungai Code pada awalnya. Letak Sungai Code di pusat kota, dekat dengan berbagai fasilitas semakin menarik warga untuk bermukim di bantaran sungai ini. Sampai pada akhirnya Sungai Winongo yang berada di sisi barat kota Yogyakarta juga mengalami hal yang serupa. Saat ini Sungai Code yang memiliki potensi lebih unggul dan sudah banyak mendapat perencanaan dalam menata kawasannya, seperti dengan adanya rumah susun sebagai fasilitas hunian warga, dan beberapa penataan elemen lainnya. Sedangkan Sungai Winongo yang notabene berada di kota Yogyakarta dan memiliki masalah yang serupa kurang mendapat penanganan yang optimal. Sungai Winongo sendiri terletak di sisi barat kota Yogyakarta. Pertumbuhan penduduk kota yang cepat mengakibatkan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai, bahkan pertumbuhan mengarah ke kawasan bantaran sungai, termasuk Sungai Winongo. Kondisi fisik Sungai Winongo sendiri sebenarnya sedikit berbeda dengan Sungai Code yang sama-sama berada di kota Yogyakarta. Sungai winongo terletak di ketinggian 11 meter dari permukaan air laut 7059,317 LS dan 110018,791 BT, serta letak administrasi di kecamatan Kretek kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pada dasarnya, karakteristik fisik Sungai Winongo yang utama adalah mempunyai Bifucation Ratio besar, sehingga dapat dibilang cepat banjir bila terjadi hujan lebat tetapi cepat surut, terdapat tebing sungai yang bervariasi, dari yang landai hingga terjal. Pada prinsipnya, model pembangunan Sungai Winongo secara fisik dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu wilayah sungai dengan tebing relatif terjal dan wilayah Sungai dengan tebing landai atau datar. Karakter fisik tersebut dapat dijadikan sebagai dasar utama dalam pembangunan fisik wilayah Sungai Winongo. Dalam mengembangkan kawasan bantaran Sungai Winongo,

pemerintah sebenarnya telah menyiapkan strategi dan beberapa sudah terlaksana, yaitu program Winongo Asri. Kondisi perumahan yang padat, medan yang terjal dan curam menjadi kendala dalam penataan kawasan publik di pinggir Sungai Winongo. Pengembangan kawasan ini menjadi lambat dan memakan biaya karena kendala aksesibilitas. . Akses antar kampung terputusputus dan tidak saling terhubung. Seperti paparan sebelumnya akses merupakan

SIDHI PRAMUDITO | MDKB 26 | 321933

bagian yang penting dalam keberhasilan pengembangan suatu kawasan. Akses yang terputus-putus disebabkan karena struktur ruang kawasan yang tidak teratur. Sehingga dalam program pengembangan Winongo Asri perlu dicari masalah utama kaitannya dengan struktur ruang kawasan (hubungan ruang terbangun dengan sistem akses). Jika dapat diketahui korelasi tersebut maka akan sangat mudah dalam pelaksanaan program Winongo Asri nantinya.

I.1.3

Aksesibilitas, Visibilitas, dan Pergerakan Akses merupakan hal yang penting dalam keberhasilan pembangunan

suatu kawasan. Akses memiliki peran dalam menentukan hubungan suatu kawasan ke kawasan lain (lokal-global) atau hubungan spasial antar satu area dengan area lain. Di samping itu, akses juga berperan sebagai salah satu pembentuk urban structure, dalam urban spatial design disebut linkage. Urban structure merupakan perwujudan dari pola/tatanan sebuah ruang kawasan. Dengan kata lain, akses merupakan hal penting dalam menyusun tatanan/pola sebuah kawasan. Tatanan menentukan ruang terbangun (built environment) sebagai ruang gerak dan aktivitas masyarakat. Akses yang berupa jalan merupakan jaringan yang membentuk sebuah konfigurasi di dalam sebuah sistem (movement framework). Sebagai sistem ruang gerak (movement framework) akses harus dapat menyediakan berbagai macam pilihan bagi orang dalam perjalannya. Selain itu akses juga harus memiliki kejelasan hubungan antar ruang jalan (lokal-global). Movement framework merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan guna memudahkan dalam perencanaan suatu model yang cocok untuk meningkatkan suatu kualitas kawasan baik dari perencanaan lingkungan terbangun dan aktivitas warga. Terdapat 3 tipe jalan dalam pemukiman yaitu jalan kampung, jalan rukunan, dan jalan inspeksi. Jalan kampung merupakan jalan utama yang menghubungkan pemukiman dengan kawasan lain. Jalan rukunan merupakan jalan yang terletak di dalam pemukiman yang menghubungkan setiap rumah. Sedangkan jalan inspeksi merupakan jalan yang dalam hal ini sepanjang bantaran sungai yang menghubungkan pemukiman dengan pemukiman lain sepanjang sungai. Jalan rukunan memang sebuah fenomena khas dalam pemukiman kampung. Jalan yang tadinya berfungsi sebagai penghubung antar

SIDHI PRAMUDITO | MDKB 26 | 321933

hunian bertambah fungsinya sebagai ruang publik. Interaksi warga terjadi pada ruang sosial ini dan mendukung munculnya komunitas. Ruang sosial khususnya pada kampung bantaran sungai terbentuk secara alami karena terbatasnya ruang yang tersedia sehingga diperlukan suatu strategi dalam perencanaan penataan kawasan. Visibilitas menurut Wikipedia adalah jarak pandang yang dapat terlihat dengan jelas. Salah satu syarat dalam ruang jalan yang aksesibel adalah ketertembusan (permeable). Jalan yang permeable akan memberi banyak peluang bagi penggunanya untuk mencapai ke berbagai tujuan. Permeabelitas dapat dicapai salah satunya dengan cara mengetahui nilai visibilitas. Dalam hal ini Space syntax menurut Widi (2011:3) menggunakan pendekatan niliai aksesibilitas dari sudut pandang keterlihatan (visibility), dimana membandingkan bidang visual yang dilihat dari berbagai tata letak ruang serta menghitung dan menginformasikan lokasi pengguna secara visual. Bidang visual disebut juga sebagai isovits adalah sebuah ruang yang terlihat langsung dari sebuah titik. Setiap titik dalam tata ruang memiliki nilai ruang aksesibilitas yang diberikan. Nilai ini mencerminkan sebuah kompleksitas rute dari semua titik ke titik yang lain dalam sebuah sistem. Kompleksitas visual ini mempengaruhi gerak dalam 2 cara, yaitu 1). Lokasi yang terintegrasi pada umumnya lebih mudah diakse sehingga dapat dicapai dengan rute sederhana dari lokasi lain, 2). Lokasi yang terpisah dalam sistem akan sulit dicapai dari lokasi lain. Akibat dari itu lokasi yang terintegrasi akan lebih potensial untuk dipilih sebagai bagian rute untuk menarik banyak pergerakan. Hal ini merupakan kombinasi dari sebuah gerak sebagai tujuan atau transit yang memberikan nilai aksesibilitas spatial sehingga membantu dalam memperkirakan potensi kawasan. Pergerakan/movement dalam Widi (2011:4) menjadi hal yang menarik kaitannya dengan aksesibilitas khusunya pejalan kaki (pedestrian) karena merupakan faktor utama penggerak sebuah kawasan. Menurut Hiller (1984) dalam Darjosanjoto (1999:8) gerak dari pejalan kaki akan sangat berpengaruh terhadap bentuk tata letak kerangka garis (grid layout) dan faktor pengaruh lainnya ialah adanya atraktor yang berupa bangunan, pertokoan, dll. Peran gerak dari pejalan kaki akan sangat mempengaruhi aktivitas yang akan dan telah ada dari suatu ruang baik linear space maupun square.

SIDHI PRAMUDITO | MDKB 26 | 321933

I.1.4

Space Syntax dan Ruang sebagai Konfigurasi Pengertian yang bersumber dari spacesyntax.com, space syntax adalah

seperangkat teknik untuk menganalisis konfigurasi dari berbagai macam jenis ruang, khususnya konfigurasi ruang yang merupakan aspek penting dalam hubungan sosial manusia baik di dalam bangunan dan kota. Ruang merupakan aspek kunci dimana kehidupan sosial dan budaya berlangsung. Pengaturan ruang selalu memunculkan pola ruang yang oleh Hiller disebut sebagai konfigurasi ruang. Konfigurasi berhubungan dengan ruang-ruang yang saling berkaitan satu sama lainnya, tidak hanya berdiri sendiri tetapi juga dengan memperhatikan pola keseluruhan yang terbentuk (Peponis, 1997). Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, sebuah konfigurasi ruang akan membentuk pola tatanan ruang atau urban structure. Salah satu pendukung terbentuknya urban structure adalah adanya movement framework. Adanya sebuah korealsi yang berbanding lurus antara akses (movement framework) dan urban structure (built environment) berpengaruh terhadap urban life (quality of life). Dari fenomena yang terjadi di bantaran Sungai Winongo dimana akses yang merupakan hal penting sebagai pembentuk konfigurasi ruang tidak terdefinisi dengan baik. Di dalam suatu sistem ruang/spatial pemukiman di bantaran Sungai Winongo khususnya Kampung Ngampilan belum saling terhubung sehingga menjadi kendala dalam pengembangan kawasan.

Pendekatan dengan menggunakan space syntax dapat digunakan untuk mengungkapkan fenomena yang terjadi. Metode yang digunakan adalah kuantitaif, dengan metode ini maka data yang didapat adalah data terukur secara numeric sehingga dapat dengan mudah dianalisis dan dibandingkan dengan data yang didapat di lapangan. Space syntax merupakan kesatuan antara metode dan teori. Teori dan metode yang menjadi satu memudahkan untuk menganalisis sehingga didapat sebuah kesimpulan temuan yang akurat. Space syntax dapat melihat ruang mana yang terintegrasi atau terpisah dalam sebuah sistem sehingga memudahkan dalam memprediksi dan mencocokan dengan keadaan lapangan sehingga didapat ruang yang potensial untuk dikembangkan.

SIDHI PRAMUDITO | MDKB 26 | 321933

I.2 Rumusan Masalah 1. Pertumbuhan penduduk kota yang cepat dan padat mengakibatkan kawasan bantaran sungai, khususnya Sungai Winongo menjadi alternatif tempat hunian 2. Fenomena yang terjadi, tumbuh pemukiman liar dan tak berizin, diikuti pemanfaatan ruang yang tidak tertata, kualitas ruang terbangun (built environment) menjadi rendah karena pemanfaatan lahan yang tidak terencana 3. Jalan yang memiliki fungsi utama sebagai jalur sirkulasi bertambah fungsinya sebagai ruang aktifitas bersama warga, sehingga ruang yang aksesibel menjadi faktor penting menjadi hidup atau mati sebuah penggal jalan dalam pemukiman 4. Jalan seharusnya merupakan sebuah sistem yang terhubung menerus dalam pemukiman, namun akses yang di Kampung Ngampilan, Sungai Winongo kurang aksesibel ditambah dengan aktifitas bersama warga, maka digunakan space syntax untuk mengungkap fenomena yang terjadi

I.3 Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana hubungan aksesibilitas dan ruang terbangun (built environment) sebagai konfigurasi jalan kampung? 2. Bagaimana arahan perancangan baik sistem sirkulasi/akses

maupun built environment bantaran kampung Sungai Winongo yang sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas kawasan guna

meningkatkan kualitas hidup lingkungan?

SIDHI PRAMUDITO | MDKB 26 | 321933