Anda di halaman 1dari 11

Judul Proposal

: Analisis Zat Pewarna Berbahaya pada Lipstik

Nama/ NPM

:Iin Febrianti Rydo Pratama P. Silvia Rebecca Devy Novinda Dinar Azzahra

/ 260110090074 / 260110090075 / 260110090076 / 260110090077 / 260110090078

Dosen pembimbing

: Dra. Wiwiek Indriyati, M.Si.,Apt

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Setiap orang akan sependapat bahwa dasar kecantikan adalah kesehatan. Orang sakit tentunya tidak akan terlihat cantik. Sehat dalam arti luas adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial. Kulit sehat berarti kulit yang tidak menderita suatu penyakit, baik penyakit yang mengenai kulit secara langsung ataupun penyakit dalam tubuh yang secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan kulitnya. Penampilan kulit sehat dapat dilihat dari struktur fisik kulit berupa warna, kelenturan, tebal dan tekstur kulit (Wasitaatmadja, 1997). Tak ada wanita yang tak pernah memakai lipstik. Bahkan ada sementara wanita yang memandangnya sebagai sebuah kebutuhan. Tak akan merasa nyaman kalau tidak memakainya. Lipstik digunakan terutama oleh para wanita untuk menambah warna pada wajah sehingga tampak lebih segar, membentuk bibir, serta memberi ilusi bibir lebih kecil atau besar tergantung warna yang digunakan. Lipstik merupakan kosmetik paling berbahaya karena pemakaiannya pada bibir memungkinkan sebagian bahan tertelan bersama ludah atau makanan ataupun minuman yang dikonsumsi. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka lipstik

seharusnya aman dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya. Salah satu parameter untuk mengetahui lipstik tersebut aman atau tidak adalah dengan menganalisis kandungan zat berbahaya di dalamnya (Supriyadi, 2006).

1.2.

Rumusan Masalah
Bagaimana cara memisahkan zat yang akan dianalisis dari bahan pembawa lipstik? Bagaimana metode analisis yang tepat untuk menguji zat berbahaya dalam lipstik? Berapa kadar zat berbahaya dalam lipstik yang dianalisis?

1.3.

Tujuan Mengetahui cara memisahkan zat yang dianalisis dalam sediaan lipstik dari bahan pembawanya Mengetahui dan memahami metode analisis yang tepat untuk menguji zat berbahaya dalam lipstik Mengetahui kadar zat berbahaya dalam lipstik yang dianalisis

II.

TINJAUAN PUSTAKA Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan untuk digosok, dilekatkan,

dituangkan, dipercikkan, atau disemprotkan pada badan atau bagian badan manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menembah daya tarik atau mengubah rupa, dan tidak termasuk golongan obat. Defeisi tersebut jelas menunjukkan bahwa kosmetika bukan satu obat yang dipakai untuk diagnosis, pengobatan maupun pencegahan penyakit (Wasitaatmadja,1997). Menurut Direktorat Jenderal POM Departemen Kesehatan RI membagi kosmetik menjadi : 1. Preparat untuk bayi 2. Preparat untuk mandi

3. Preparat untuk mata 4. Preparat wangi-wangian 5. Preparat untuk rambut 6. Preparat untuk rias (make up) 7. Preparat untuk pewarna rambut 8. Preparat untuk kebersihan mulut 9. Preparat untuk kebersihan badan 10. Preparat untuk kuku 11. Preparat untuk cukur 12. Preparat untuk perawatan kulit 13. Preparat untuk proteksi sinar matahari (Wasitaatmadja, 1997). Persyaratan Kosmetik Kosmetik yang diproduksi dan atau diedarkan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Menggunakan bahan yang memenuhi standar dan persyaratan mutu serta persyaratan lain yang ditetapkan. b. Diproduksi dengan menggunakan cara pembuatan kosmetik yang baik. c. Terdaftar pada dan mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM RI) (Wasitaatmadja, 1997). Kosmetika Dekoratif
Kekhasan kosmetik dekoratif adalah bahwa kosmetik ini bertujuan semata-mata untuk mengubah penampilan, yaitu agar tampak lebih cantik dan noda-noda atau kelainan pada kulit tertutupi. Kosmetik dekoratif tidak perlu menambah kesehatan kulit. Kosmetik ini dianggap memadai jika tidak merusak kulit (Tranggono, 2007).

Persyaratan Kosmetik Dekoratif Persyaratat untuk kosmetik dekoratif antara lain adalah : a. Warna yang menarik.

b. Bau harum yang menyenangkan. c. Tidak lengket. d. Tidak menyebabkan kulit tampak berkilau. e. Tidak merusak atau mengganggu kulit (Tranggono, 2007). Lipstik Lipstik adalah pewarna bibir yang dikemas dalam bentuk batang padat (roll up) yang dibentuk dari minyak, lilin dan lemak. Bila pengemasan dilakukan dalam bentuk batang lepas disebut lip crayon yang memerlukan bantuan pensil warna untuk memperjelas hasil usapan pada bibir. Sebenarnya lipstik adalah juga lip crayon yang diberi pengungkit roll up untuk memudahkan pemakaian dan hanya sedikit lebih lembut dan mudah dipakai. Lip crayon biasanya menggunakan lebih banyak lilin dan terasa lebih padat dan kompak. (Wasitaatmadja, 1997) Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak, dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikehendaki. Suhu lebur lipstik yang ideal yang sesungguhnya diatur suhunya hingga mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38C. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca disekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, maka suhu lebur lipstik dibuat lebih tinggi yang dianggap lebih sesuai dan diatur pada suhu lebih kurang 62C, atau bisanya berkisar antara 55-75C. (Depkes RI, 1985)

Komposisi lipstik Adapun bahan-bahan utama pada lipstik adalah sebagai berikut : a. Lilin Misalnya carnauba wax, paraffin waxes, ozokerite, beewax, candellila wax, spermaceti, ceeresine. Semuanya berperan pada kekerasan lipstik b. Minyak

Fase minyak dalam lipstik dipilih terutama berdasarkan kemampuannya melarutkan zat-zat eosin. Misalnya minyak castrol, tetrahydrofurfuril alcohol, fattyacid alkylolamides, dihydric alcohol, beserta monoethers dan monofatty acid esternya, isopropyl myristate, isopropyl palmitate, butyl stearate, paraffin oil. c. Lemak Misalnya, krim kakao, minyak tumbuhan yang sudah dihidrogenasi (misalnya hydrogenated castrol oil), cetyl alcohol, oleyil alcohol, lanolin. d. Acetoglycerides Direkomendasikan untuk memperbaiki sifat thoxotropik batang lipstik meskipun tempertur berfluktuasi, kepadatan lipstik tetap konstan. e. Zat-zat pewarna Zat pewarna yang dipakai secara universal didalam lipstick adalah zat warna eosin yang memenuhi dua persyaratan sebagai zat warna untuk lipstik, yaitu kelekatan pada kulit dan kelarutan dalam minyak. Pelarut terbaik didalam eosin adalah castrol oil. Tetapi furfuryl alcohol beserta ester-esternya terutama stearat dan ricinoleat memiliki daya melarutkan eosin yang lebih besar. Fatty acid alkylolamides jika dipasang sebagai pelarut eosin, akan memberikan warna yang intensif pada bibir. f. Surfaktan Surfaktan kadang-kadang ditambahkan dalam pembuatan lipstik untuk memudahkan pembasahan disperse partikel-partikel pigmen warna yang padat. g. Antioksidan h. Bahan pengawet Bahan pengawet (fragrance) atau lebih tepat bahan pemberi rasa segar (flavoring) harus mampu menutupi rasa bau dan rasa kurang sedap dari lemak-lemak dalam lipstik dan menggantinya dengan bau dan rasa yang menyenangkan. (Trenggono,2004) Bahan Pewarna Lipstik Pewarna yang digunakan dalam kosmetika umumnya terdiri atas 2 jenis yaitu:

a. Pewarna yang dapat larut dalam cairan (solube), air, alkohol dan minyak. Contoh warna kosmetika ialah pewarna asam (acid dyes) yang merupakan golongan terbesar pewarna pakaian, makanan dan kosmetika. Unsur terpenting dari pewarna ialah gugus azo; solvent dyes yang larut dalam air atau alkohol, misal merah DC, merah hijau No.17, violet, kuning, xanthenes dyes yang dipakai dalam lipstick, misalnya DC orange, merah dan kuning. b. Pewarna yang tidak dapat larut dalam cairan (insoluble), yang terdiri atas bahan organik dan inorganik, misalnya lakes, besi oksida Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Nomor 00386/C/SK/II/90 bahwa zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya dalam obat, makanan, dan kosmetika yaitu:

Rhodamin B Rhodamin B merupakan zat warna golongan xanthenes dyes. Rhodamin adalah bahan kimia yang digunakan untuk pewarna merah pada industri tekstil dan plastik. Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang berasal dari metanlinilat dan dipanel alanin yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah. Rhodamin B sering disalah gunakan untuk pewarna pangan (kerupuk,makanan ringan,es-es dan minuman yang sering dijual di sekolahan) serta kosmetik dengan tujuan menarik perhatian konsumen. Rhodamine B

(C28N31N2O3Cl) adalah bahan kimia sebagai pewarna dasar untuk berbagai kegunaan, semula zat ini digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan sifatnya yang berfluorensi dalam sinar matahari (Budavari, 1996).

Monografi Rhodamin B

Nama umum Nama Kimia

: Rumus Bangun Rhodamin B :N-[9-(carboxyphenyl)-6-(diethylamino)-3H-xanten-3-

xylidene]-N- ethylethanaminium chlorida Nama Lazim : Tetraethylrhodamine; D&C Red No. 19; Rhodamine B

chlorida; C.I. Basic Violet 10; C.I. 45170 Rumus Kimia BM Pemerian Kelarutan : C28H31ClN2O3 : 479 : Hablur hijau atau serbuk ungu kemerahan : Sangat mudah larut dalam air menghasilkan larutan merah

kebiruan dan berfluoresensi kuat jika diencerkan. Sangat mudah larut dalam alkohol; sukar larut dalam asam encer dan dalam larutan alkali. Larutan dalam asam kuat membentuk senyawa dengan kompleks antimon berwarna merah muda yang larut dalam isopropil eter (Budavari, 1996).

Penggunaan

: Sebagai pewarna untuk sutra, katun, wol, nilon, kertas, tinta,

sabun, pewarna kayu, bulu, dan pewarna untuk keramik China. Jug digunakan sebagai pewarna obat dan kosmetik dalam bentuk larutan obat yang encer, tablet, kapsul, pasta gigi, sabun, larutan pengering rambut, garam mandi, lipstick, pemerah pipi (Budavari, 1996). Penggunaan rhodamin B pada makanan dan kosmetik dalam waktu lama akan mengakibatkan kanker dan gangguan fungsi hati. Namun demikian, bila terpapar rhodamin B dalam jumlah besar maka dalam waktu singkat akan terjadi gejala akut keracunan rhodamin B. Bila rhodamin B tersebut masuk melalui makanan akan mengakibatkan iritasi pada saluran pencernaan dan mengakibatkan gejala keracunan dengan urine yang berwarna merah maupun merah muda. Selain melalui makanan ataupun kosmetik, rhodamin B juga dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, jika terhidup terjadi iritasi pada saluran pernafasan. Mata yang terkena rhodamin B juga akan mengalami iritasi yang ditandai dengan mata kemerahan dan timbunan cairan atau udem pada mata. Jika terpapar pada bibir dapat menyebabkan bibir akan pecahpecah, kering, dan gatal. Bahkan, kulit bibir terkelupas (Yulianti, 2007).

III.

METODE PENELITIAN

1. Uji Pendahuluan Pada uji ini ditimbang lipstick 300 mg dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 4 mL methanol, lalu diaduk sampai larut dan tercampur rata. Setelah itu dilihat adanya fluoresensi, duiji dengan cahaya matahari berpantul dengan latar belakang hitam. Adanya fluoresensi kuning kehijauan menandakan positif Rhodamine B. 2. KLT Larutan A (sampel), ditimbang lipstick 500 mg dimasukkan dalam cawan porselen, kemudian ditambahkan asam klorida 4N 0,5 mL, 1 mL paraffin cair dan sedikit natrium sulfat anhidrat. Setelah itu dipanaskan di atas penangas air sampai

cuplikan meleleh. Kemudian ditambahkan 2,5 mL methanol dan diaduk agar tercampur rata dan disaring dengan kertas saring. Beningan digunakan untuk identifikasi. Larutan B (baku) ditimbang 25 mg zat warna baku Rhodamine B dilarutkan dalam 25 mL methanol. Larutan C dibuat dengan mencampurkan kedua larutan A dan B. Ketiga larutan kemudian ditotolkan pada pelat silica panjang 10 cm dan lebar 5 cm. Lempeng kemudian dimasukkan dalam bejana berisi eluen yang telah dijenuhkan. Eluen yang digunakan dapat berupa Eluen I terdiridari etil asetat: methanol: amoniak 9% (15 : 3 : 3) atau Eluen II yaitu Etil Asetat : n-butanol : amoniak (20:55:25). Bejana ditutup rapat dan dielusikan. Lempeng kemudian dilihat di bawah sinar UV 254 nm dan dibandingkan warna serta letak Rf sampel dengan baku. Hasil dinyatakan postif bila warna baku sama dengan sampel dan perbedaan Rf 0,2 (Depkes, 1988).

3. UV-Vis Pembuatan Larutan Rhodamin B 1000 ppm Ditimbang 50 mg pewarna Rhodamin B BPFI, dimasukkan dalam labu ukur 50 ml. ke dalam labu ukur ditambahkan metanol secukupnya kocok hingga homogen. Kemudian larutan dicukupkan dengan metanol hingga garis tanda dan dihomogenkan. Pembuatan Larutan Rhodamin B 50 ppm Dipipet 2.5 ml larutan Rhodamin B 1000 ppm dengan menggunakan pipet volum dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml lalu ditambahkan metanol sampai garis tanda Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan Rhodamin B Dipipet 2 ml larutan Rhodamin B dengan menggunakan pipet volume atau dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml (konsentrasi 2 ppm), lalu ditambahkan metanol sampai garis tanda dan dihomogenkan. Diukur serapan maksimum pada panjang gelombang 400-800 nm dengan menggunakan blanko. Blanko yang digunakan adalah metanol.

Penentuan Linieritas Kurva Kalibrasi Dibuat larutan rhodamin B dengan konsentrasi 1; 1.5; 2; 2.5; dan 3 ppm dengan pelarut metanol. Diukur serapannya pada panjang gelombang serapan maksimum yang diperoleh sebelumnya dengan menggunakan blanko. Uji Kuantitatif Sampel Sejumlah lebih kurang 2 gram cuplikan lipstik, diletakkan di dalam cawan penguap, ditambahkan 16 tetes HCl 4 M, ditambahkan 30 ml metanol, dilelehkan di atas penangas air. Disaring dengan kertas saring berisi natrium sulfat anhidrat dengan membuang 2-5 ml filtrat pertama. Dilakukan berulang-ulang sampai larutan hasil leburan lipstik jernih. Filtrat ditampung dalam labu ukur 50 ml, ditambahkan metanol sampai garis tanda dan dihomogenkan. Dipipet 2 ml filtrat hasil leburan kemudain dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml. Ditambahkan metanol sampai garis tanda dan dihomogenkan. Serapannya diukur pada panjang gelombang 544 nm. Perhitungan kadar Rhodamin B dalam sampel digunakan rumus K= Keterangan: Cs V Fp B = Kadar Rhodamin B sesudah pengenceran (mcg/ml) = Volume Sampel = Faktor Pengenceran = Berat sampel

DAFTAR PUSTAKA Budavari, S. 1996. The Merck Index. Edisi 12. WhiteHouse USA: Merck & Co. Inc. Depkes, RI. 1985. Farmakope Indonesia. Jakarta: Ditjen POM. Gritter, R. J. 1991. Pengantar Kimia. Terbitan Kedua. Bandung: Penerbit ITB. Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sastrohamidjojo, H. 1985. Kromatografi. Edisi Pertama. Yogyakarta: Penerbit Liberty. Supriyadi. 2006. Analisis Logam Kadmium, Timbal, dan Krom pada Lipstik Secara Spektrofotometri Serapan Atom. LIPI. ISSN 0216 163X Tranggono. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengantar Kosmetik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Wasitaatmaja, S. M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medis. Jakarta: UI Press. Yulianti, N. 2007. Awas! Bahaya Dibalik Lezatnya Makanan. Edisi Pertama. Yogyakarta: Andi Offset.