Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Kosmetik adalah zat yang digunakan untuk meningkatkan penampilan
tubuh manusia . Kosmetik termasuk perawatan kulit krim, lotion, bedak,
parfum, lipstik, kuku dan cat kuku kaki, mata dan riasan wajah, gelombang
permanen, lensa kontak berwarna, warna rambut, semprotan rambut dan gel,
deodoran, produk bayi, minyak mandi, gelembung mandi, mandi garam,
mentega dan jenis lain.
Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk
mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan
estetika dalam tata rias wajah. Sediaan pewarna bibir terdapat dalam
berbagai bentuk, seperti cairan, krayon, dan krim. Pewarna bibir modern
yang disukai adalah jenis sediaan pewarna bibir yang jika dilekatkan pada
bibir akan memberikan selaput yang kering. Dewasa ini, pewarna bibir cair
dan krim tidak banyak dijumpai dalam peredaran, yang banyak digunakan
adalah pewarna bibir dalam bentuk krayon. Pewarna bibir krayon lebih
dikenal dengan sebutan lipstik.
Lipstik merupakan pewarna bibir yang dikemas dalam bentuk batang
padat (stick) terdiri dari zat pewarna yang terdispersi dalam pembawa yang
terbuat dari lilin dan minyak, dalam komposisi yang sedemikian rupa
sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikehendaki.

Hakikat fungsinya adalah untuk memberikan warna bibir menjadi merah,


semerah delima merekah, yang dianggap akan memberikan ekspresi wajah
sehat dan menarik.
Mewarnai bibir pada masa kuno kembali ke periode prasejarah.
Sekarang penggunaan produk lipstick meningkat dan pilihan nuansa warna,
tekstur, berkilau, telah berubah dan menjadi lebih luas. Hal ini diamati dari
fakta-fakta ratusan yang lipstik dipasarkan untuk memenuhi permintaan untuk
wanita (Chattopadhyay, 2005).

BAB II
ISI
II.1 Pengertian dan Manfaat Lipstick
Lipstik merupakan suatu kosmetik dekoratif yang berfungsi untuk
memberi warna pada bibir, sehingga dapat memberi efek mempercerah
wajah dan sekaligus untuk melembabkan serta melindungi bibir dari radiasi
sinar ultraviolet (Mitsui, 1997).
Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang
terbuat dari campuran lilin dan minyak dalam komposisi yang sedemikian
rupa sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki.
Suhu lebur lipstik yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang
mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38 0 C. Tetapi karena harus
memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya,
terutama suhu daerah tropik, suhu lebur lipstik dibuat lebih tinggi, yang
dianggap lebih sesuai diatur pada suhu lebih kurang 62 0 C, biasanya berkisar
antara 55-750 C (Ditjen POM, 1985).
Kosmetik rias bibir selain untuk merias bibir ternyata disertai juga
dengan bahan untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang
merusak, misalnya sinar ultraviolet. Ada beberapa macam kosmetika rias
bibir, yaitu lipstik, lip crayon, krim bibir (lip cream), pengkilap bibir (lip gloss),
penggaris bibir (lip liner) dan lip sealer (Wasitaatmadja, 1997).

II.2 Jenis- Jenis Lipstick


Jenis lipstik dikemas dalam tabung berbentuk padat, dan berbentuk
cream serta tersedia dalam berbagai warna. Jenis lipstick terdiri atas :
1. Satin
Yaitu lipstik dengan tekstur sangat lembut, dan dikemas dalam bentuk
stik atau liquid (cairan) Lipstik ini dapat menutupi bibir dengan sempurna
serta memberi efek kilap tetapi tidak berminyak.
2. Semi-gloss
Yaitu lipstik yang tidak begitu mengkilap, berminyak dan dikemas dalam
bentuk stik atau krim padat.
3. Matte
Yaitu sejenis lipstick yang tahan lama, tidak mengkilat, mengandung
pelembab, dan dapat memberi kesan halus pada bibir. Lipstik ini dikemas
dalam bentuk stik.
4. Laqcuer
Yaitu lipstik yang berbahan dasar gel, bening, dan dikemas dalam
kemasan botol. Lipstik ini dapat memberi kesan halus dan lembut (sheer).
5. Treatment
Yaitu lipstik yang terdiri atas campuran antara pewarna bibir dan
vitamin, dikemas dalam bentuk stik, bertekstur lembut, mengandung
pelembab, dan memberi efek kilau.

6. Pensil Bibir atau Lip Liners


Pensil bibir untuk memperjelas bentuk bibir. Bentuk pensil bibir hampir
sama dengan pensil alis, namun memiliki variasi warnanya yang lebih
beragam.

7. Pelembab Bibir atau Lipbalm


Sebelum memakai lipstik, sebaiknya bibir diolesi dengan lipbalm yang
berfungsi untuk melembabkan dan membantu mencegah bibir pecah-pecah
serta terkelupas.

8. Lipgloss
Efek glossy atau mengkilat pada bibir, dapat diperoleh dengan
menggunakan lipgloss atau lip sheener sehingga bibir terlihat halus, lembut
dan mengkilat. Lipgloss dipakai setelah menggunakan lipstik.

II.3 Komponen Penyusun Lipstick


Komponen utama dalam sediaan lipstik Adapun komponen utama
dalam sediaan lipstik terdiri dari minyak, lilin , lemak dan zat warna
1. Minyak
Minyak yang digunakan dalam lipstik harus memberikan kelembutan,
kilauan, dan berfungsi sebagai medium pendispersi zat warna. Zat warna
6

adalah senyawa aktif dari formula lipstik.Minyak yang sering digunakan


antara lain minyak jarak, minyak mineral, dan minyak nabati lain. Minyak
jarak merupakan minyak nabati yang unik karena memiliki viskositas yang
tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan staining-dye dengan baik. Minyak
jarak merupakan salah satu komponen penting dalam banyak lipstik modern.
Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan dalam menunda
pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada saat pencetakan, sehingga
dispersi pigmen benar benar merata (Balsam, 1972).
2. Lilin
Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang kuat pada lipstik
dan menjaganya tetap padat walau dalam keadaan hangat. Campuran lilin
yang ideal akan menjaga lipstik tetap padat setidaknya pada suhu 50 dan
mampu mengikat fase minyak agar tidak keluar atau berkeringat, tetapi juga
harus tetap lembut dan mudah dioleskan pada bibir dengan tekanan
serendah mungkin. Lilin yang digunakan antara lain carnauba wax, candelilla
wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil alkohol. Carnauba wax
merupakan salah satu lilin alami yang yang sangat keras karena memiliki titik
lebur yang tinggi yaitu 850 C . Biasa digunakan dalam jumlah kecil untuk
meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik (Balsam, 1972).
Paraffin wax dapat membuat sediaan lipstik menjadi lemah dan rapuh
pada jumlah yang besar, namun pada jumlah sedikit dapat meningkatkan
kehalusan dan mengkilapnya lipstik saat digunakan (Lauffer, 1972). Oleh
7

sebab itu, paraffin wax harus dikombinasikan dengan basis wax lain untuk
memperbaiki sifatnya. Salah satu yang dapat dikombinasikan dengan paraffin
wax adalah carnauba wax. Dalam jumlah kecil, carnauba wax dapat
menaikkan kelembutan dan kekuatan lipstik sehingga tidak menjadi mudah
patah dan rapuh, juga dapat menaikkan titik leleh dan memudahkan pada
saat proses pencetakan. Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami dari
sayuran yang terkeras, dan memiliki titik leleh tinggi yaitu 85C (Lauffer,
1972). Kombinasi terbaik dari basis paraffin wax dan carnauba wax dalam
sediaan lipstik dapat diperoleh dengan menggunakan metode Simplex Lattice
Design. Metode tersebut dapat digunakan untuk optimasi formula pada
berbagai jumlah komposisi bahan yang berbeda sehingga menghasilkan
formula optimum yang memiliki sifat-sifat fisik yang diharapkan. Metode ini
cepat dan praktis karena dapat menghindarkan penentuan formula secara
coba-coba (trial and error) (Armstrong and James, 1996; Bolton, 1997)
3. Lemak
Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang
berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang
lembut, meningkatkan kekuatan lipstik, dan dapat mengurangi efek
berkeringat dan pecah pada lipstik. Fungsinya yang lain dalam proses
pembuatan lipstik adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak
dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak padat
yang biasa digunakan dalam basis lipstik adalah lemak coklat, lanolin, lesitin,
8

minyak nabati terhidrogenasi dan lain-lain (Jellineck, 1976). 4. Zat warna Zat
warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu staining dye dan pigmen.
Staining dye merupakan zat warna yang larut atau terdispersi dalam
basisnya, sedangkan pigmen merupakan zat warna yang tidak larut tetapi
tersuspensi dalam basisnya. Kedua macam zat warna ini masingmasing
memiliki arti tersendiri, tetapi dalam lipstik keduanya dicampur dengan
komposisi sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang diinginkan
(Balsam, 1972).
4. Zat tambahan
Zat tambahan dalam sediaan lipstik Zat tambahan dalam lipstik adalah
zat yang ditambahkan dalam formula lipstik untuk menghasilkan lipstik yang
baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi dengan syarat
zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil, dan
dapat bercampur dengan bahan-bahan lain dalam formula lipstik. Zat
tambahan yang digunakan yaitu antioksidan, pengawet dan parfum (Senzel,
1977).
1.

Antioksidan Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan bahan tak


jenuh lain yang rawan terhadap reaksi oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E
adalah antioksidan yang paling sering digunakan. Antioksidan yang
digunakan harus memenuhi syarat (Wasitaatmadja S, 1997):
Tidak berbau agar tidak mengganggu wangi parfum dalam kosmetika
Tidak berwarna
Tidak toksik

2.

Tidak berubah meskipun disimpan lama.


Pengawet Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di dalam sediaan
lipstik sebenarnya sangat kecil karena lipstik tidak mengandung air. Akan
tetapi

ketika

lipstik

diaplikasikan

pada

bibir

kemungkinan

terjadi

kontaminasi pada permukaan lipstik sehingga terjadi pertumbuhan


mikroorganisme. Oleh karena itu perlu ditambahkan pengawet di dalam
formula lipstik. Pengawet yang sering digunakan yaitu metil paraben dan
3.

propil paraben.
Parfum Parfum digunakan untuk memberikan bau yang menyenangkan,
menutupi bau dari lemak yang digunakan sebagai basis, dan dapat
menutupi bau.
II.4 Bahaya Lipstick
Semakin banyaknya merek lipstik yang beredar di pasaran, membuat
kita harus semakin waspada karena bayak merek kosmetik yang memaki
bahan kimia berbahaya dalam proses pembuatan lipstik. Bahan berbahaya
tersebut dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Bahan kimia
berbahaya tersebut adalah :
1) Aluminium jadi seperti warna-warna danau (lakes colors) dan minyak ter
(dari batubara). Untuk individu yang sensitive, dalam penggunaan warnawarna yang didapat dari batubara-tir ini akan menyebabkan gejala-gejala
seperti mual, kepala pusing, problem kulit, kecapaian, perubahan
pikiran/perasaan, atau alergi.

10

2) BHA (Butylated Hydroxyanisole) :

Yaitu Sintetis antioxidants sama

dengan bahan pengawet yang dipakai untuk campuran, pada umumnya


penggunaan bahan pengawet pada lipstick adalah salah satu zat yang
menyebabkan kanker.
3) Lead. Lipstik diketahui memiliki kandungan Lead yaitu suatu bahan
logam yang berguna untuk menjaga agar lipstik tahan pengoksidan udara
atau tahan air (waterproof). Dalam dunia kedokteran, diketahui LEAD
sebagai bahan logam yang menyebabkan kanker. Semakin tinggi
kandungan LEAD, semakin besar juga resiko terkena penyakit kanker
jenis apa saja. Setelah dilakukan penelitian justru merek-merek
terkenalah yang memiliki kandungan LEAD tertinggi. Lipstik menjadi lebih
tahan lama di bibir dan itu merupakan pengaruh LEAD sebagai bahan
logamnya. Tidak hanya berbahaya bagi bibir, namun ternyata juga
berbahaya bagi makanan yang akan di konsumsi, udara yang dihirup dan
air liur yang di telan, paling tidak melewati zat ataupun gas ammonia
yang hasilkan dari LEAD tersebut. Salah satu cara untuk mengetes
apakah terkandung lead atau tidak pada lipstick yaitu dengan cara:
o Goreskan lipstik beberapa kali ke tangan
o Gunakan cincin emas, minimal 18 karat lalu sapukan ke goresan
lipstik tersebut
o Jika warna lipstik berganti menjadi warna yang lebih gelap atau
kehitam-hitaman

dan

kusam,

maka

mengandung logam LEAD yang tinggi.

11

diketahui

lipstik

Anda

4) Bahan pewarna Merah K.10 (Rhodamin B) dan Merah K.3 (CI Pigment
Red 53 : D&C Red No. 8 : 15585). Rhodamin B merupakan pewarna
yang dipakai untuk industri cat, tekstil, dan kertas. Zat warna ini dapat
menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat
karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) serta Rhodamin dalam
konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Rodamin B
merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, tidak berbau,
berwarna merah keunguan, dalam bentuk larutan berwarna merah terang
berpendar (berfluorescensi).
II.5 Persyaratan Lipstick yang Baik
Adapun persyaratan untuk lipstik adalah sebagai berikut (Tranggono
dan Latifah, 2007):
1.
2.
3.
4.

Melapisi bibir secara mencukupi


Dapat bertahan di bibir selama mungkin
Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket
Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir 5. Melembabkan

bibir dan tidak mengeringkannya


5. Memberikan warna yang merata pada bibir
6. Penampilannya harus menarik, baik warna maupun bentuknya
7. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak bopeng atau
berbintik-bintik, atau memperlihatkan hal-hal lain yang tidak menarik.
II.5 Evaluasi
A. Pemeriksaan titik lebur lipstik Penetapan suhu lebur lipstik dapat
dilakukan dengan berbagai metode. Ada dua metode yang biasanya
12

digunakan yaitu metode melting point dan metode drop point. Metode
melting point menggunakan pipa kapiler sedangkan metode drop point
menggunakan pelat tipis. Syarat lipstik melebur pada metode melting
point adalah 600 C atau lebih, sedangkan untuk metode drop point adalah
diatas 500 C. Penetapan suhu lebur lipstik dilakukan untuk mengetahui
pada suhu berapa lipstik akan meleleh dalam wadahnya sehingga
minyak

akan

penyimpanan

keluar.
lipstik

Suhu
yang

tersebut

menunjukkan

selanjutnya

berguna

batas

dalam

suhu
proses

pembentukan, pengemasan, dan pengangkutan lipstik (Balsam, 1972).


B. Pemeriksaan kekuatan lipstik Evaluasi kekerasan lipstik menunjukkan
kualitas patahan lipstik dan juga kekuatan lipstik dalam proses
pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan. Evaluasi ini dapat
dilakukan untuk mengetahui kekuatan lilin dalam lipstik (Balsam, 1972).
Pengamatan dilakukan terhadap kekuatan lipstik dengan cara lipstik
diletakkan horizontal. Pada jarak kira-kira inci dari tepi, digantungkan
beban yang berfungsi sebagai pemberat. Berat beban ditambah secara
berangsur-angsur dengan nilai yang spesifik pada interval waktu 30 detik,
dan berat dimana lipstik patah merupakan nilai breaking point
(Vishwakarma, et al., 2011).
C. Uji oles, dilakukan secara visual dengan cara mengoleskan lipstik pada
kulit punggung tangan kemudian mengamati banyaknya warna yang
menempel dengan perlakuan 5 kali pengolesan pada tekanan tertentu
seperti biasanya kita menggunakan lipstik (Keithler, 1956).
13

D. Penentuan pH sediaan Penentuan pH sediaan dilakukan dengan


menggunakan alat pH meter. Sampel di buat dalam konsentrasi 1% yaitu
1 gram sampel dalam 100 ml akuades (Rawlins, 2003).
E. Pemeriksaan stabilitas sediaan Pengamatan terhadap adanya perubahan
bentuk, warna, dan bau dari sediaan lipstik dilakukan terhadap masingmasing sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke 1,
5, 10 dan selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke-30 (Vishwakarma, et
al., 2011).

BAB III
PENUTUP
III.1

Kesimpulan
Dewasa ini, lipstik merupakan salah satu alat kosmetika yang

dianggap cukup penting bagi sebagian besar wanita. Lipstik digunakan untuk
mewarnai bibir sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah
& memberikan ekspresi wajah yang menarik.

14

Lipstik yang beredar di masyarakat terdapat dalam berbagai jenis,


merk, dan warna. Lipstik memiliki banyak manfaat, yaitu selain untuk
memberi warna bibir yaitu dapat digunakan sebagai pelembab sehingga bibir
tidak kering.
Terdapat beberapa kriteria

penggunakan lipstik yang baik adalah

lembut pada saat yang dioleskan, mempunyai aliran tiksotropik pada saat
penyebaran lipstik pada bibir dan membentuk lapisan film yang melekat
pada bibir. Pemilihan basis lipstik menentukan keseragaman, kualitas lipstik
pada saat pembuatan dan penyimpanan. Kualitas lipstik bergantung pada
sifat reologi komposisi basis lemak yang digunakan.
III.2

Saran
Sebaiknya konsumen selektif dalam memilih produk lipstik karena

dewasa ini terdapat sebagian lipstik yang mengandung zat- zat kimia yang
berbahaya bagi kesehatan.

15