Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Penelitian ciri-ciri fisik dapat digunakan untuk mengetahui asal-usul suatu bangsa, tetapi harus diketahui bahwa ciri fisik dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Terdapat juga beberapa ciri tertentu seperti ukuran serta letak posisi gigi geligi yang lebih dipengaruhi oleh faktor genetik daripada faktor lingkungan (Mundiyah, 1998). Maloklusi adalah bentuk oklusi yang menyimpang dari bentuk standar namun dapat diterima sebagai bentuk yang normal. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi maloklusi antara lain adalah keturunan, lingkungan, pertumbuhan dan perkembangan, fungsional dan patologi (Wheeler, 2002). Ukuran bentuk gigi serta rahang sangat bervariasi pada setiap manusia. Pengukuran antropologi rahang serta ukuran gigi dari berbagai populasi adalah bervariasi pada setiap ras. Informasi ini sangat penting dalam membantu menegakkan diagnosis serta perawatan terhadap maloklusi tersebut (Proffit & Henry, 2000). Disebabkan meningkatnya keperluan terhadap kepentingan estetika dan penampilan dental, banyak orang yang termotivasi untuk mendapatkan perawatan ortodonti. Hal ini mendasari kebutuhan organisasi public health dan pakar epidemiologi untuk menciptakan suatu alat epidemiologi untuk menstratakan estetik dari segi dental dan tahapan kebutuhan perawatan ortodontik dalam skala nominal yang dapat diterima lingkungan sosial (Bernabe, 2006). Dental Aesthetic Index (DAI) adalah suatu indeks ortodonti yang berasaskan definisi standar sosial yang berguna dalam survey epidemiologi untuk menemukan kebutuhan perawatan ortodonti di kalangan masyarakat dan juga sebagai alat screening untuk mendeterminasikan prioritas subsidi terhadap perawatan ortodonti (Jenny & Cons, 1996). 1.2 Rumusan Masalah
1

1. Apakah yang dimaksud dengan indeks maloklusi? 2. Bagaimana cara pengukuran Dental Aesthetic Index (DAI)? 3. Bagaimana epidemiologi maloklusi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui tentang indeks maloklusi 2. Untuk mengetahui dan memahami cara pengukuran Dental Aesthetic Index (DAI) 3. Untuk mengetahui epidemiologi maloklusi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga 1.4 Manfaat 1. Mengetahui dampak kasus maloklusi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga 2. Mengetahui epidemiologi maloklusi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga 3. Mengetahui tentang indeks maloklusi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Maloklusi Maloklusi adalah suatu kondisi yang menyimpang dari relasi normal gigi terhadap gigi lainnya dalam satu lengkung dan terhadap gigi pada lengkung rahang lawannya. Maloklusi merupakan keadaan yang tidak menguntungkan dan meliputi ketidakteraturan lokal dari gigi geligi seperti gigi berjejal, protrusif, malposisi atau hubungan yang tidak harmonis dengan gigi lawannya (Zenab, 2010). Maloklusi adalah Keadaan gigi yang tidak harmonis secara estetik mempengaruhi penampilan seseorang dan mengganggu keseimbangan fungsi baik fungsi pengunyahan maupun bicara. Maloklusi umumnya bukan merupakan proses patologis tetapi proses penyimpangan dari perkembangan normal (Proffit & Fields, 2007). Maloklusi adalah akibat dari malrealasi antara pertumbuhan dan posisi serta ukuran gigi. Maloklusi diklasifikasikan menurut relasi molar pertama (I,II dan III), atau sebagai relasi normal, pranormal, dan pasca normal. Maloklusi juga bisa dibagi menjadi maloklusi primer yang timbul pada gigi-geligi yang sedang berkembang dan maloklusi sekunder yang timbul pada orang dewasa akibat tanggalnya gigi dan pergeraka gigi tetangga (Thomson, 2007). 2.1.1 Klasifikasi Maloklusi Menurut klasifikasi Angle, maloklusi dibedakan menjadi 3 kelas yaitu 1. Maloklusi Kelas I Angle Maloklusi kelas I Angle merupakan maloklusi yang paling sering dijumpai dengan prevalensi lebih dari lima puluh persen. Terdapat relasi antero posterior yang normal yang tercermin pada gigi anterior meskipun relasi gigi posterior tidak selalu memiliki relasi kelas I atau netroklusi. Sering disertai kelainan gigi berdesakan.
3

2. Maloklusi Kelas II 2.1. Divisi 1 Angle Tanda tanda maloklusi ini dapat berupa keadaan keadaan berikut a b. c. Insisivi rahang atas proklinasi Jarak gigit bertambah Insisivi bawah retroklinasi yang bias terjadi bila ada kebiasaan menghisap jari, atau kadang kadang insisivi bawah proklinasi yang merupakan kompensasi kelainan skeletalnya sehingga pada keadaan ini jarak gigit bias tidak terlalu besar. d. e. Tumpang gigit sangat bervariasi yang kemungkinan dipengaruhi relasi skeletnya tetapi kebanyakan menunjukkan pertambahan. Relasi molar pertama permanen biasanya kelas II Gambaran khas maloklusi ini adalah insisivi sentral atas retroklinasi sedangkan insisivi lateral bias juga retroklinasi atau kadang kadang proklinasi terutama apabila terdapat gigi gigi yang berdesakandirahang atas. Insisivi bawah yang dalam keadaan retroklinasi menyesuaikan letak dengan insisivi atas sehingga kadang kadang terjadi letak gigi berdesakan diregio insisivi. Jarak gigit biasanya hanya sedikit bertambah karena letak mandibula lebih posterior dikompensasi dengan insisivi sentral atas yang retroklinasi. 3. Maloklusi Kelas III Angle Maloklusi ini ditandai adanya gigitan silang anterior dan rahang bawah setidak tidaknya setengah lebar tonjolan lebih ke mesial dari rahang atas. Posisi insisivi bawah retroklinasi yang merupakan kompensasi terhadap kelainan relasi rahang bawah terhadap rahang atas dalam jurusan sagital. 2.2 Maloklusi Kelas II Divisi 2 Angle

Gambar 1. Klasifikasi Angle (diunduh dari: doktergigionline.com)

Keterangan: a. b. c. d. Maloklusikelas I Angle Maloklusikelas II Divisi 1 Angle Maloklusikelas II Divisi 2 Angle Maloklusikelas III (Rahardjo, 2009). Biasanya lengkung geligi atas pendek dalam jurusan anteroposterior sehingga terjadi desakan pada posterior. Lengkung geligi bawah lebih panjang sehingga sering terlihat diastema diantara gigi bawah. Bila terdapat gigitan terbuka yang parah, hanya molar terakhir yang beroklusi (Rahardjo, 2009). 2.1.2 Akibat Maloklusi Gangguan yang berasal dari maloklusi primer adalah sebagai berikut: 1. Gigi-gigi sangat berjejal mengakibatkan rotasi gigi-gigi individual atau berkembangnya gigi dalam atau di luar lengkung. Gangguan ini mengakibatkan interferensi tonjol dan aktivitas pergeseran mandibula, walaupun pada gigi-geligi yang sedang berkembang adaptasi dari pergerakan gigi umumnya bisa mencegah timbulnya gangguan tersebut. Gangguan lain yang diakibatkannya adalah relasi oklusal yang kuran gstabil (tonjol terhadap tonjol ketimbang tonjol terhadap fossa) dan kelainan gingival karena tidak memadainya ruang untuk tempat epithelium interdental.
5

2.

Meningkat atau berkurangnya overlap vertikal atau horizontal yang bisa mengakibatkan fungsi insisivus yang tidak stabil atau perlunya seal bibir yang adaptif.

3. 4.

Penyimpangan garis median atas dan bawah yang menandai adanya interferensi insisivus atau interferensi tonjol pada segmen posterior Kurangnya perkembangan jaringan dentoalveolar pada segmen posterior, uni-, atau bilateral, dan mengakibatkan overclosure mandibula, jika bilateral, dan kurangnya oklsi fungsional unilateral jika terbatas pada satu sisi dan menimbulkan open bite.

5. 6.

Pertumbuhan tulang yang terlalu besar pada regio kedua kondilus yang sedang berkembang akan menghasilkan gigitan terbuka anterior. Celah palatum dan defek terkait

Maloklusi sekunder : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Fungsi unilateral dan fungsi yang berkurang Supra- dan infrakontak Hilangnya kurva oklusal Relasi tonjol yang tidak stabil Interferensi tonjol Perubahan posisi interkuspa Overclosure mandibula Parafungsi (bruksisme) Atrisi permukaan oklusal Impaksi makanan dan plunger cusp Gangguan gigi tiruan, (Thomson, 2007)

2.2 Indeks Maloklusi Klasifikasi maloklusi, misalnya klasifikasi Angle berguna untuk mengelompokkan suatu maloklusi sehingga memudahkan seseorang untuk mengingat gambaran maloklusi tersebut. Meskipun demikian, klasifikasi maloklusi masih
6

mempunyai kekurangan. Kekurangan klasifikasi maloklusi adalah keparahan suatu maloklusi tidak dapat diketahui meskipun terletak dalam satu kelas, ataupun seandainya digunakan untuk menilai keparahan maloklusi sifatnya subjektif. Suatu upaya dilakukan untuk mengurangi derajat subjektivitas penilaian suatu maloklusi dengan menggunakan indeks maloklusi. Indeks adalah sebuah angka atau bilangan yang digunakan sebagai indikator untuk menerangkan suatu keadaan tertentu atau sebuah rasio proporsional yang dapat disimpulkan dari sederetan pengamatan yang terus-menerus. Dengan menggunakan suatu indeks, dapat dinilai beberapa hal menyangkut maloklusi, misalnya prevalensi, keparahan maloklusi, dan hasil perawatan. Indeks maloklusi mencatat keadaan maloklusi dalam suatu format kategori atau numerik sehingga penilaian suatu malklusi bia objektif (Rahardjo, 2009). Syarat suatu indeks maloklusi adalah sebagai berikut: 1. Valid artinya indeks harus dapat mengukur apa yang akan diukur 2. Dapat dipercaya (reliable) artinya indeks dapat mengukur secara konsisten pada saat yang berbeda dan dalam kondisi yang bermacam-macam, serta pengguna yang berbeda-beda. Kadang-kadang ada yang menyebut reliable sebagai reproducible 3. Mudah digunakan 4. Diterima oleh kelompok pengguna indeks (Rahardjo, 2009). Banyak indeks maloklusi telah dihasilkan, diantaranya indeks-indeks di bawah ini berikut penciptanya: Irregularity Index (Little), Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR, Salzmann), Occlusal Index (Summers), Dental Aesthetic Index (DAI, Cons, dkk), Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN, Shaw, dkk), Peer Assessment Rating Index (PAR Index, Richmond, dkk), dan Index of Complexity, Outcome, and Need (ICON, Daniels dan Richmond). Ada index yang mudah digunakan, misalnya HMAR yang dapat digunakan langsung pada pasien dan ada juga yang rumit yang menggunakan model geligi dan tabel-tabel untuk menilai maloklusi, misalnya Occlusal Index (Rahardjo, 2009).
7

2.3 Dental Aesthetics Index (DAI) Dental Aesthetics Index (DAI), dikembangkan di Amerika Serikat dan diintegrasikan ke dalam Studi Kolaborasi Internasional Oral Health oleh Organisasi Kesehatan Dunia. DAI dapat membantu untuk menentukan apakah pasien perlu untuk dirujuk ke dokter spesialis, hal ini dapat mengurangi jumlah pasien yang melakukan konsultasi awal ke dokter gigi atau ortodontis (Hamamci, et al., 2009). DAI digunakan untuk mengevaluasi komponen estetika dan anatomi maloklusi, tetapi DAI tidak memberikan informasi apapun tentang bagaimana maloklusi mempengaruhi citra diri dan kualitas hidup pasien dari segi fungsi kesejahteraan subjektif dan harian (Paula, 2009). Dental Aesthetics Index (DAI), yang diadopsi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengevaluasi 10 karakteristik oklusal, yaitu overjet, negatif overjet, kehilangan gigi, diastema, anterior open bite, crowding anterior, diastema anterior, lebar penyimpangan anterior (mandibula dan maksila) dan hubungan anteriorposterior. DAI memiliki empat tahapan keparahan maloklusi, yaitu skor yang lebih rendah dari atau sama dengan 25 (kebutuhan perawatan tidak ada atau sedikit), skor antara 26 dan 30 (perawatan elektif), skor antara 31 dan 35 (sangat menginginkan perawatan) dan skor lebih besar dari 36 (wajib melakukan perawatan) (Cardoso, et al., 2011). Dental Aesthetic Index (DAI) adalah suatu indeks ortodonti yang berasaskan definisi standar sosial yang berguna dalam survey epidemiologi untuk menemukan kebutuhan perawatan ortodonti di kalangan masyarakat dan juga sebagai alat screening untuk mendeterminasikan prioritas subsidi terhadap perawatan ortodonti (Jenny & Cons, 1996). 2.3.1 Cara Pengukuran Dental Aesthetics Index (DAI) Dalam DAI ada 10 komponen yang perlu diukur, yaitu: 1. Gigi hilang (Insisif, Kaninus, dan Premolar). Rongak pada gigi yang hilang tersebut masih terlihat. Perhitungan dimulai dari premolar kedua kanan sampai premolar kedua kiri. Dalam satu rahang harus ada sepuluh gigi. Gigi hilang
8

dihitung per gigi, misalnya yang hilang satu gigi, diberi skor 1, yang hilang 2 gigi diberi skor 2, dan seterusnya. Jika kurang dari sepuluh harus dicatat sebagai gigi hilang, kecuali jika ruang antar gigi sudah menutup, masih ada gigi sulung, ada gigi hilang yang sudah diganti dengan protesa 2. Berdesakan pada gigi anterior termasuk gigi yang rotasi dan gigi yang terletak tidak sesuai lengkung (Gambar 1). Bila tidak ada berdesakan maka diberi skor 0; bila pada salah satu rahang ada berdesakan diberi skor 1; bila pada kedua rahang ada berdesakan diberi skor 2

3. Ruang antar gigi (rongak) pada gigi anterior. Dilihat dari kaninus kanan sampai kaninus kiri. Jika tidak ada ruang antar gigi atau setiap gigi kontak dengan baik diberi skor 0; jika dalam satu rahang ada ruang antar gigi diberi skor 1; jika pada kedua rahang ada ruang antar gigi diberi skor 2 4. Diastema sentral. Dicatat jika ada diastema sentral pada rahang atas dan diukur dengan ukuran millimeter kemudian dicatat sesuai jarak yang ada (mm). Jika tidak ada diastema sentral diberi skor 0 5. Ketidakteraturan terparah pada maksila. Diukur pada salah satu gigi yang paling tidak teratur (termasuk rotasi) dengan menggunakan jangka sorong, dengan ukuran millimeter. Jika gigi terletak rapi dan tidak ada berdesakan atau rotasi diberi skor 0; 6. Ketidakteraturan terparah pada mandibula (Gambar 2). Diukur pada salah satu gigi yang paling tidak teratur (termasuk rotasi) dengan menggunakan jangka sorong, dengan ukuran millimeter. Jika gigi terletak rapi dan tidak ada berdesakan diberi skor 0;

Gambar 2. Pengukuran ketidakteraturan gigi dengan menggunakan jangka sorong

7. Jarak gigit anterior pada maksila (Gambar 3). Pengukuran ini dilakukan pada posisi oklusi sentries. Yang dicatat hanya pada bagian yang jarak gigitnya besar (lebih dari normal (> 2mm)). Jika semua gigi insisif bawah hilang dan terdapat gigitan terbalik, tidak perlu dicatat. Bila jarak gigit normal diberi skor 0 (Jarak gigit normal= 2mm);

Gambar 3. Jarak gigit anterior pada maksila

8. Jarak gigit anterior pada mandibula (protrusi mandibula) (Gambar 4). Dicatat jika ada protrusi mandibula yang paling parah, tapi jika ada gigitan terbalik satu gigi karena gigi tersebut rotasi tidak perlu dicatat;

10

Gambar 4. Jarak gigit anterior pada mandibula

9. Gigitan terbuka anterior (Gambar 5). Yang dicatat hanya gigitan terbuka terbesar dalam ukuran millimeter. Jika tidak ada gigitan terbuka diberi skor 0;

Gambar 5. Gigitan terbuka vertikal anterior

10. Relasi molar anteroposterior dan deviasi terbesar dari normal baik kanan maupun kiri. Penilaian berdasarkan relasi molar pertama permanen atas dan bawah. Nilai 0 untuk relasi molar yang normal, nilai 1 jika molar pertama bawah kanan atau kiri setengah tonjol distal atau mesial dari molar pertama atas dan nilai 2 jika molar pertama bawah kanan atau kiri satu tonjol penuh atau lebih atau distal dari molar pertama atas (Azman, et al. 2010).

11

Gambar 6. Relasi molar anteroposterior (Mulyana, 2010)

Skor DAI diciptakan dari jumlah total sepuluh komponen yang telah dikalikan dengan bobot masing-masing kemudian hasil penilaian ditambahn dengan konstanta (13) (Azman, et al. 2010).
Tabel 1. Koefisien Regresi (Mulyana, 2010)

12

Hasil skor tiap kasus dikelompokkan sesuai dengan keparahan maloklusinya. Pengelompokan maloklusi berdasarkan skor DAI: <25 maloklusi ringan 26-30 maloklusi sedang 31-35 maloklusi parah >36 maloklusi yang sangat parah (Azman, et al. 2010).

13

BAB III HASIL PENGUKURAN 3.1 Hasil Pengukuran Sampel yang digunakan: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga angkatan 2010 dan 2011 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 NAMA Nora KR Amalia P Retno W Yolan T Amelia M Ragil P Maretha Gabriella Ain Kevin Adinda I Wahyu L Aida NF Rahma Cyntia O Rizky M Cana U Aldian GN Aryo N Ni Made Staclyn O Firdi T Rizki K Febtrias Iyanda V Greace Elda Fipriency Nia Eci 1 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0
12

2 0 0 0

3 0 1 0

4 0 3 0

KOMPONEN 5 6 7 0 0 0 3 0 0 0 0 6 4 4 8 8
10

8 0 0 0
12

9 10 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 6 3 0 0 0 0 6 3 6 3 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 3 0 6 0 0 3

JUMLAH KETERANGAN 0 7 6 50 28 15 0 0 29 26 26 18 21 19 17 3 25 17 6 9 16 6 20 12 21 0 19 3 50 17
Normal Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi sangat parah Maloklusi sedang Maloklusi ringan Normal Normal Maloklusi sedang Maloklusi sedang Maloklusi sedang Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi ringan Normal Maloklusi ringan Maloklusi ringan Maloklusi sangat parah Maloklusi ringan

2 0 0 2 1 0 0 2 2 1 2 0 2 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 0 0 1 0 2 1 0 0 1 2 2 2 0 0 2 1 2 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0

0 5 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 10 3 3 8 3 3 1 1 0 3 2 0 3 12 0 3 5 0 7 6 0 1 0 3 3 0 0 3 1 0 1 1 0 4 3 0 3 3 0 4 0 6 3 2 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 5 0 3 0
14

0 0 10 8 0 6 0 6 0 0 8 10 0 0 0 0 0 5 18 0 12 0 8 14

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32

2 0 0 0 0 0

31

Etasia

0 0 0

24

30

Maloklusi sedang

Keterangan tabel: o Komponen 1 = kehilangan gigi o Komponen 2 = berdesakan o Komponen 3 = diastema o Komponen 4 = diastema sentral o Komponen 5 = ketidakteraturan terparah pada maksila o Komponen 6 = ketidakteraturan terparah pada mandibula o Komponen 7 = jarak gigit maksila o Komponen 8 = jarak gigit mandibula o Komponen 9 = gigitan terbuka anterior o Komponen 10 = relasi molar anteroposterior

15

16

BAB IV KESIMPULAN

Dental Aesthetics Index (DAI) digunakan untuk mengevaluasi komponen estetika dan anatomi maloklusi. DAI merupakan suatu indeks ortodonti yang berasaskan definisi standar sosial yang berguna dalam survey epidemiologi untuk menemukan kebutuhan perawatan ortodonti. Dari data yang diambil dari 31 sampel mahasiswa fkg unair, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 12,9% sampel memiliki oklusi normal dan 64,51% sampel dengan maloklusi ringan. Kedua klasifikasi ini tidak membutuhkan perawatan orthodonti. Dan juga terdapat pula 16,12% sampel dengan maloklusi sedang, 0% maloklusi parah dan 6,45% yang memiliki maloklusi sangat parah sehingga dikategorikan wajib melakukan perawatan ortodonti.

17

DAFTAR PUSTAKA Azman, A.A.M., Sjafei, A., dan Winoto, E.R. 2010. Malocclusion Severity Representation Using Dental Aesthetic Index Among Ethnic Malays in Johor Bahru Malaysia. Orthodontic Dental Journal Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2010; 47 Bernabe E. Flores Mir C. 2006. Orthodontic Treatment Need In Peruvian Young Adults Evaluated Thorugh Dental Aesthetic Index. The Angle Orthodontist; 76:3:417 Cardoso, Chrytiane F, et al. 2011. The Dental Aesthetic Index and Dental Health Component of the Index of Orthodontic Treatment Need as Tools in Epidemiological Studies. Int J Environ Res Public Health. 8(8): 32773286. Hamamci, Nihal, et al. 2009. Dental Aesthetic Index Scores and Perception of Personal Dental Appearance Among Turkish University Students . Vol 31 pp: 168-173. Jenny, J. dan Cons, N.C. 1996. Establishing Malocclusion Severity Levels on Dental Aesthetic Index (DAI) Scale. Australian Dental Journal; 41 (1): 43. Mulyana, DH. 2010. The Use of Index of Orthodontic Treatment Need and Dental Aesthestic Index. Orthodontic Dental Journal, Vol. 1 No.2 Mundiyah, Moktar. 1998. Dasar Dasar Ortodonti Perkembangan dan Pertumbuhan Kraniodentofasial. Bagian I Ruang Lingkup Ortodonti. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan. Ikatan Dokter Gigi Indonesia. Persatuan Dokter Gigi Indonesia. p. 3-15. Paula, Delcides F. 2009. Psychosocial Impact of Dental Esthetics on Quality of Life in Adolescents. Vol. 79, No. 6, pp. 1188-1193. Proffit, W.R. dan Fields, H.W. 2007. Mosby Inc., St. Louis. h. 151-158 Proffit, W.R. dan Henry, W.Fields Jr. 2000. Contemporary Orthodontics. 3rd Edition. USA: Mosby. p. 2-21, 113. Rahardjo, Pambudi. 2009. Ortodonti Dasar. Surabaya: Airlangga University Press
18

Contemporary Orthodontics. 4th Edition.

Thomson, Hamish. 2007. Oklusi Edisi 2. Jakarta : EGC Wheeler, RC. 2002. Wheelers Dental Anatomy, Physiology and Occlusion. 6th Edition. USA: W.B. Saunders-AITBS Publisher India. Pp.237, 378 422. Zenab, Yuliawati. 2010. Perawatan Maloklusi Kelas 1 Angle Tipe 2 . Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Bandung, Indonesia

19